Chapter 14 – final
Setelah Yunho dan Jaejoong berciuman cukup lama dan tidak menyadari kalau mereka juga ditonton secara diam-diam oleh teman-teman, Ahra, Cho Ahjumma, para maid, dan para bodyguard, mereka sedang menikmati makanan yang dibuat Yunho.
"Enak. Ini benar kamu yang masak?" tanya Jaejoong dengan tatapan tidak percayanya.
"Tentu saja Boo! Enak kan? Ternyata aku pintar memasak juga hahaha," ucap Yunho dengan nada besar kepala.
Jaejoong hanya diam dan meminum tehnya, tapi tidak lama dahinya berdenyit tapi tetap meminum teh itu.
"Aku percaya kalau ini buatanmu sekarang. Coba tehnya," kata Jaejoong sambil menyerahkan tehnya kepada Yunho.
"Apa yang salah?" kata Yunho sambil menyesap teh yang dia buatkan itu.
Teh ajaib. Begitu diminum langsung disemburkan kembali.
"Bagaimana rasanya? Ajaib ya. Baru kali ini teh rasanya asin," kata Jaejoong sambil menyuapkan roti tawar panggangnya kepada Yunho untuk menetralkan rasa asin pada teh itu.
"Padahal aku memasukan gula tadi," kata Yunho sambil mengerutkan dahinya dan mengunyah roti panggangnya.
"Gula atau garam?" tanya Jaejoong dengan nada sedikit meledek.
"Tentu saja gula. Dia berbentuk kristal dan sedikit halus kan?" tanya Yunho memastikan.
Tawa Jaejoong pecah begitu mendengarkan penuturan Yunho.
"Ya! Itu garam. Kalau gula, di rumah kami ini memakai gula pasir halus. Kamu ini, makanya jangan asal tuang," kata Jaejoong sambil terkekeh.
Dahi Yunho berdenyit. "Mana aku tau. Aku kan bukan tuan muda rumah ini," katanya sambil mempoutkan bibirnya.
"Hahaha, kamu kan bisa menanyakannya kepada Cho Ahjumma atau Ahra noona," kata Jaejoong sambil kembali terkekeh melihat tingkah Yunho.
"Masa aku menanyakan mengenai bumbu dapur kepada noona dan ahjumma? Aku malu," kata Yunho sambil masih mempoutkan bibirnya.
Jaejoong meraih dagu Yunho, mencium bibir hati itu, melumatnya, dan menekannya lembut.
Yunho tidak menepis ciuman Jaejoong. Dia menikmati sapuan bibir lembut Jaejoong. Dia juga memegang kendali dalam ciuman itu. Sekali-kali dia menjilat bibir manis Jaejoong.
"Tidak apa, sekarang rasanya lebih manis," kata Jaejoong sambil terkekeh setelah melepas ciumannya dengan Yunho.
"Bibirmu lebih manis Boo," kata Yunho juga sambil ikut terkekeh.
Mereka berdua menikmati sarapan mereka sampai Ahra datang.
"Wah wah, kalian romantis sekali," kata Ahra sambil merenggangkan ototnya.
"Ah noona, noona sudah sarapan?" tanya Jaejoong sambil tersenyum ke arah Ahra.
"Sudah kok. Ah, noona hari ini mau pergi berbelanja untuk keperluan ibu hamil. Aku mau kalian menemaniku. Bagaimana? Kalian ada waktu kan?" tanya Ahra sambil tersenyum manis. Wajahnya lebih berseri sekarang.
"Tentu noona. Kami tidak ada kegiatan hari ini," kata Yunho sambil mengedipkan sebelah matanya kepada noonanya. Sepertinya sebuah kode.
Jaejoong tidak menyadari kalau itu adalah sebuah kode.
"Ok, sekarang kalian mandi lalu kita pergi. Aku juga mau mandi," kata Ahra sambil jalan ke dalam rumah.
"Ayo Boo kita mandi. Mau mandi bersama?" tanya Yunho sambil terkekeh.
"Ya, tapi nanti akan ada berita di koran 'seorang laki-laki ditemukan pingsan sambil naked di kamar mandi kekasihnya karena terkena getokan sikat wc.' Kan tidak lucu Yun," kata Jaejoong dengan muka polosnya.
"Ya! Masa aku pingsan hanya karena terkena sikat wc?" pekik Yunho tidak terima.
"Mau coba?" tantang Jaejoong sambil menarik Yunho ke kamar mandi kamarnya.
"Ya! Tidak! Kita mandi sendiri-sendiri saja," katanya sambil berjalan ke kamarnya.
Jaejoong terkekeh melihat tingkah kekasihnya itu.
"Aku tidak mungkin menggagalkan rencana hanya karena aku pingsan kan?" gumam Yunho sambil masuk ke kamarnya.
.
.
Di sinilah mereka, sedang memilih susu ibu hamil, krim ibu hamil, dan perlengkapan lainnya.
"Noona, banyak sekali pilihan krimnya. Noona mau yang mana?" tanya Jaejoong sambil melihat-lihat krim kulit untuk ibu hamil.
"Yang itu saja, yang alpukat. Aku suka wanginya," kata Ahra sambil menunjuk krim dengan gambar alpukat.
"Ah, baiklah. Sekarang apalagi noon?" tanya Jaejoong sambil mendorong trolly.
"Hmm aku rasa aku ingin membeli vitamin untuk ibu hamil. Aku perlu tambahan vitamin. Itu dimana ya? Bisa kamu carikan untukku Jaejoong ah?" pinta Ahra.
"Ah, baiklah. Hei Yun, dorong trollynya," kata Jaejoong sambil memberikan trolly belanjaan mereka kepada Yunho.
Yunho yang daritadi mendengarkan lagu hanya mengangguk.
Jaejoong POV
Ah vitamin ya. Aku bingung vitamin yang mana. Lebih baik aku bawakan semuanya jadi noona bisa memilih vitamin mana yang cocok.
Aku ambil dulu keranjang yang terletak di depan supermarket dan berjalan ke arah vitamin.
Aku tanya kepada SPG yang berjaga di area vitamin.
Dia menunjuk deretan atas bagian rak vitaminyang berjejer. Banyak sekali vitamin ibu hamilnya.
Aku ambil semuanya masing-masing satu dan menaruhnya ke dalam keranjang. Cuku banyak sampai memenuhi setengahnya. Ada vitamin A, C,D,E, Omega 3, dan lainnya.
Lalu aku kembali ke Ahra noona dan Yunho.
Saat aku kembali, kulihat mereka sedang berbisik-bisik dengan serius.
Aku hanya berdiri di belakang mereka dan memberikan mereka untuk berbicara.
Aku tidak cukup tertarik dengan apa yang mereka bicarakan jadi aku hanya diam saja dan mengamati sekeliling sampai Ahra noona mengucapkan namaku.
"Ya noona?" sontak aku menyahut setelah namaku disebut. Refleks yang tidak tepat.
"Ah Jaejoong ah, sudah kembali rupanya. Itu semua vitaminnya?" tanya Ahra noona sambil menunjuk keranjangku dan dengan muka yang kaget tentunya. Sebegitu kagetnya kah melihatku?
"Ah iya benar. Aku tidak tau yang mana, jadi aku ambil semuanya," ucapku sambil memberikan keranjang berisi vitamin itu.
"Sejak kapan kamu ada di belakang kami?" tanya Yunho sambil menunjukan muka kagetnya.
"Hmm mungkin sekitar 3 menit yang lalu. Tapi aku tidak mendengar pembicaraan kalian kok. Aku tau kalian butuh waktu berdua sebagai kakak adik," ucapku sambil mendorong trolly yang ada di depan Yunho.
"Ah, baiklah. Ayo kita bayar belanjaannya," ucap Ahra noona sambil menaruh vitamin-vitamin yang sudah dia pilih ke dalam trolly.
"Ayo," kataku sambil mendorong trolly.
.
.
"Ah, Yunho, Jaejoong, aku punya kejutan untuk kalian," ucap Ahra noona sambil mengeluarkan dua lembar kain, "tapi mata kalian harus ditutup."
"Kejutan apa noona?" tanya Yunho yang matanya ditutup terlebih dahulu oleh Ahra noona.
"Kalau aku beritahu, nanti namanya bukan kejutan,"kata Ahra noona sambil mengeratkan ikatan penutup mata.
Begitu juga aku, mataku ditutup oleh Ahra noona lalu kami dituntun oleh Ahra noona ke suatu tempat.
Aku tidak tahu akan dibawa kemana, tapi sepertinya tempat ini sangat besar.
Yang aku ingat tadi noona menutup mata kami berdua setelah kami measukan semua barang ke mobil yang kami parkir di sekitar distrik pusat perbelanjaan.
Di sekitar pusat perbelanjaan ini banyak toko perhiasan, baju, tas, dan fashion lainnya. juga ada gereja, restoran, hotel, dan lain-lain.
Pintunya sepertinya sangat berat untuk dibuka.
Tanganku makin erat mengenggam tangan Ahra noona, aku takut ditinggalkan olehnya.
Noona menuntunku dengan hati-hati dan perlahan.
Kami menaiki sekitar 3 undakan anak tangga dan berhenti.
"Noona, ini dimana?" tanyaku sambil meraba sekeliling tapi yang kudapat hanya udara kosong.
"Rahasia Jaejoong ah hehehe," kata Ahra noona sambil menggenggam tangaku erat dan menbali menuntunku.
"Noona, pelan-pelan," ucap Yunho.
Aku hanya terus melihat kegelapan sampai aku berhenti di suatu titik.
Tubuhku diputar ke arah kanan.
Tanganku dilepas oleh Ahra noona.
"Noona?" kataku sambil meraba sekitarku untuk mencari tangan Ahra noona. Tidak ada jawaban, sunyi.
"Noona? Noona di mana? Aku boleh membuka mataku?" tanyaku sambil melepas kain yangada di depan mataku.
Ketika kubuka mataku, cahaya putih langsung masuk ke dalam retinaku. Rupanya aku menghadap cahaya matahari. Kulihat ada siluet hitam di depan mataku.
Kukerjapkan mataku berulang kali, untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retinaku.
Kulihat orang yang selama ini mengisi hari-hariku dari aku lahir sedang menatapku dalam.
Aku hanya memerjapkan mataku berulang kali. Aku bingung. Ada apa dengannya sampai menatapku dalam dalam seperti itu.
"Appa? Ada apa?" tanyaku sambil menatap mata Appaku.
"Joongieku sayang kamu sudah besar nak," ucap Appa sambil mengelus kepalaku ,"dan kamu berhak berbahagia."
"Ah iya, kok Appa di sini!? Katanya Appa di Jepang? Kok ada di sini?" tanyaku bingung.
"Ssst sudah, nanti Appa jelaskan," ucap Appa sambil perlahan membuka pintu yang ada di depanku.
Aku tidak mengerti dengan ucapan Appa. Aku hanya diam sambil melihat pintu di depanku terbuka semakin lebar.
Orang yang pertama kulihat adalah Yunho.
Dia berdiri di sebrang sana, menghadapku, berdiri di depan altar.
Ini.. aku di gereja.
Appa mengandeng tanganku dan menuntunku masuk ke dalam ruangan kebaktian.
Aku bingung, sebenarnya ada apa.
Kulihat YooSu dan MinKyu berada di depanku, membentuk barisan dan mengiriku masuk ke dalam ruangan bersama Appa.
Mereka menyebarkan kelopak bunga mawar di sepajang kami berjalan.
Suara dentingan piano dari lagu yang aku suka mengalun lembut. Wedding dress.
Kulengokkan kepalaku dan mendapati kakak pertamaku sedang memainkan piano untukku.
Lalu aku melihat semua kakak perempuanku yang lain berada di kursi dalam ruangan bersama suami mereka dan anak-anak mereka. Kulihat juga Lee Ahjussi, Sooman Sunbae, Cho Ahjussi, dan Cho Ahjumma, serta beberapa maid dan body guard di sini.
Ada apa ini?
Ahra noona menyerahkan bouquet bunga lili ke tanganku dan menyuruhku membawanya.
Aku terheran-heran,
Tunggu, jangan bilang aku akan menikah.
Tidak. Belum saatnya. Mana mungkin aku menikah sekarang.
Tidak bisa. Aku tidak bisa. Aku belum siap.
Aku coba melepaskan genggaman tanganku yang digenggam erat oleh Appa.
Aku meronta. Tidak tahan, aku berteriak.
"Tidak! Aku tidak bisa!" teriakku membuat semua orang membatu. Keadaan menjadi hening.
Yunho membelakan matanya tidak percaya.
"Aku tidak bisa, maaf..." ucapku sambil menundukan kepalaku, aku risih ditatap oleh mereka semua seperti itu.
Aku tertunduk ke bawah dan Appa menarik daguku.
"Jawab Appa, kamu tidak bisa apa?" tanya Appa. Kulihat kilatan kekecewaan di sana.
"Aku tidak bisa Appa.. aku belum siap untuk menikah," ucapku sambil kembali menundukan kepalaku.
"Kenapa belum siap? Bukannya kalian saling mencintai?" tanya Appa sambil mengeratkan genggamannya di bahuku.
"Tapi Appa..."ucapku sambil sedikit meringis kesakitan.
Aku tidak berani menatap mereka semua yang ada di ruangan itu. Aku merasakan dingin di seluruh tubuhku.
Seseorang mendekatiku. Aku memundurkan tubuhku sedikit.
Dia membawaku dalam pelukannya. Mengecup kepalaku. Wangi ini. Wangi khas kekasihku yang paling aku cintai.
"Tidak apa Boo kalu kamu tidak siap. Aku menerimanya," ucapnya di telingaku. Aku menggeliat. Kueratkan pelukanku. Ketekan wajahku ke dada bidangnya.
Tak terasa air mata ini menetes.
Bukan air mata penyesalan. Cintanya, cintanya yang begitu besar untukku. Aku terharu dengan ucapannya.
Dia benar-benar menerimaku apa adanya.
Dia merenggangkan pelukannya. Kulihat bekas air mataku menempel pada kemeja kotak-kotak biru muda dan hijau yang dia kenakan hari ini.
Dia mengecupi kepalaku berulang kali. Mengelus lembut punggungku. Khas Yunho. Selalu bisa membuatku tenang dengan cara ini.
"Yun..." ucapku dengan nada serak.
"Hmm?" gumamnya sambil tersenyum dan menatap wajahku.
"Saranghae," kataku sambil mendaratkan bibirku ke bibir hatinya. Aku menekan bibirnya lembut.
Kami melepaskan ciuman kami dan melihat ke dalam mata satu sama lain. Waktu terasa berhenti.
Yang aku lihat adalah kesungguhan yang dalam matanya. Cintanya yang dalam untukku. Rasa sayangnya untukku. Ketulusannya yang tiada tara.
"Nado saranghae," ucapnya sambil mengecup keningku lembut.
Aku menutup mataku saat dia mencium keningku. Merasakan setiap inci bibirnya yang menempel pada keningku.
Sampai aku buka mataku dan kembali kepada kenyataan kalau aku membuat dia kecewa.
"Tidak apa," ucapnya sambil mengelus kepalaku dengan lembut. Dia tau apa isi pikiranku.
"Bukan begitu.." ucapku sambil menundukan kepalaku.
"Lalu?" tanyanya sambil mengangkat daguku perlahan.
"Aku... aku belum siap... aku belum siap menjadi seorang umma," ucapku sambil menggigit bibir bawahku.
Yunho terdiam selama beberapa saat. Aku bingung dibuatnya. Apa dia shock?
Lalu dia berbalik dan tertawa terbahak-bahak diikuti yang lainnya, termasuk Appaku yang tadi terlihat marah ketika aku menolak untuk berdiri di deepan altar.
"Hahahaha Joongie," kata Appa sambil terbahak-bahak.
"Ya Appa! Kenapa tertawa?" tanyaku sambil memanyunkan bibirku.
"Ya ampun Joongie, kamu tidak akan langsung hamil," kata Umma sambil menghampiriku.
"Umma, tapi kan pasti nanti Yun minta bayi. Yun kan pervert, belum jadian saja sudah menciumku. Saat tidur denganku, dia selalu mencium bibirku dan -," ucapanku terpotong saat Yunho membekap mulutku dengan tangannya.
"Apa?tidur dengan Yunho!?" pekik seorang Ahjumma, "tidak bisa, mereka harus segera dinikahkan segera mungkin."
"Umma, Jaejoong belum mau," ucap Yunho dengan nada merengek.
"Umma tidak mau tau, ayo cepat nikahkan," kata Ahjumma Jung.
"Appa juga setuju," kata Jung Ahjussi sambil berjalan ke arah kami.
"Boo, bagaimana ini," kata Yunho sambil mengeluarkan tampang memelas.
"Salahmu. Ayo tanggung jawab," ucapku sambil menariknya ke altar.
"Tapi kan kamu tidak mau menikah denganku," jawabnya sambil sedikit menarik tanganku, "aku tidak mau memaksamu."
Aku hentikan langkahku.
Aku berbalik dan aku tatap matanya.
"Aku mencintaimu. Aku percaya padamu kalau kamu tidak akan membuatku hamil sebelum aku lulus kuliah. Kamu bisa pegang kepercayaanku?" kataku dengan tegas.
Dia cukup terdiam. Menatap mataku dengan dalam seakan menyapu semua keraguan yang ada di dalam diriku.
"Ya, akan aku jaga dengan baik kepercayanmu," jawabnya dengan tegas dan menarikku ke altar.
Semua yang ada di ruangan tersenyum senang termasuk keempat orang tua kami. Keempat? Tentu saja, karena kami sebentar lagi akan bersatu.
Acara dilanjutkan. Semuanya berjalan sebagaimana mestinya. Sampai janji suci itu terucap dan kami saling menyematkan cincin pernikahan kami, tanda kalau kami sudah saling terikat satu sama lainnya.
Suara tepuk tangan memenuhi ruangan ini. Bisa kulihat semua keluargaku berbahagia.
Kakak-kakakku dan semua kakak iparku menyalamiku. Para keponakanku juga ikut bergembira.
Kami memang menikah tanpa mengundang banyak orang, tapi kami mengundang orang-orang yang sangat penting dalam hidup kami.
Para maid dan body guard yang ikut masuk ke dalam ruangan ini juga menitikan air mata mereka.
Cho Ahjumma juga ikut menangis bersama Umma dan Umma Jung, sedangkan Appa Jung menepuk-nepuk punggung Appaku karena Appaku menangis.
Inilah kami. Kami sudah menyatu.
Aku tidak peduli dengan perkataan orang lain yang mengatakan hubungan kami terlarang.
Hubungan kami sudah sah di mata Tuhan dan semua orang yang menerima kami apa adanya.
Tidak ada yang bisa memisahkan kami selain maut.
Tidak ada yang bisa membuat kami tumbang.
Tidak ada lagi keraguan di depan kami.
Hanya ada kami yang berbahagia.
Dan kami berjanji untuk saling mencintai selamanya, walaupun raga kami sudah tidak menyatu dengan jiwa kami. Sampai kapanpun, kami akan menjaga cinta ini.
Selamanya.
.
Jaejoong POV End
.
.
"Yun, kamu jahat," kata Jaejoong sambil memanyunkan bibir cherrynya, " Umma juga, Appa juga. Umma Jung, Appa Jung, Junsu, Yoochun, Changmin, Kyu, Cho Ahjumma, Ahra Noona, dan yang lainnya juga."
Mereka yang ada di ruangan tertawa melihat tingkah Jaejoong.
"Ya hyung! Kalau kami beritahu, namanya bukan kejutan," kata Changmin.
"Betul hyung. Bagaimana? Terkejut tidak?" timpal Kyu.
"Cukup terkejut. Kalian benar-benar mengerjaiku. Tapi aku senang, terima kasih ya," ucap Jaejoong sambil tersenyum manis.
"Sama-sama hyung. Selamat ya hyung. Doakan aku dan Junsu segera menyusul kalian," ucap Yoochun sambil menarik Junsu ke sampingnya.
"Ya! Chunnie! Aku malu," ucap Junsu sambil memukul pundak Yoochun pelan.
"Enak saja hyung, aku duluan dengan Kyu," ucap Changmin sambil menggenggam tangan Kyu.
"Ya! Changmin! Kita berpacaran saja tidak!" ucap Kyu dengan nada tidak terima.
"Tidak usah pacaran. Kita langsung menikah saja. Kamu mau?" Penuturan Changmin membuat semua orang yang ada di ruangan menjadi terkaget-kaget.
"Ya! Kamu membuatku malu!" ucap Kyu sambil menundukan kepalanya.
"Kamu mau kan?" ucap Changmin sambil mengangkat wajah Kyuhyun dan menatap matanya dalam.
Kyu terdiam. Semua orang di ruangan itu juga terdiam.
"Aku mau. Tapi awas kalau kamu menghamiliku," ucap Kyuhyun sambil menjedotkan dahinya ke dahi Changmin.
"Ya! Kyu!" teriak Changmin karena Kyuhyun kabur.
Semua yang ada di ruangan tertawa.
"Mereka benar-benar pasangan yang unik," ucap Yunho sambil merangkul pinggang Jaejoong.
Muka Jaejoong langsung berubah merona karena perlakuan Yunho.
"Kenapa wajahmu merona tuan muda?" goda Cho Ahjumma.
Jaejoong semakin menundukan wajahnya. Tingkahnya sangat lucu sampai Yunho merangkul Jaejoong.
"Yun, kamu yang merencanakan semuanya?" tanya Jaejoong.
"Bukan, Ahra noona yang merencanakan semuanya," ucap Yunho sambil tersenyum ke arah Ahra.
Ahra hanya menunjukan senyum tulusnya.
"Terima kasih Ahra noona," ucap Jaejoong sambil memeluk Ahra.
"Sama-sama Jaejoong ah. Aku hanya ingin kalian cepat terikat dalam janji suci karena kalian berdua sudah saling mencintai satu sama lain. Aku menanyakannya kepada Kim Ahjumma dan Kim Ahjussi serta Appa dan Umma Jung mengenai pernikahan kalian dan mereka semua setuju. Terlebih lagi sebenarnya mereka sudah berkenalan selama mereka di Jepang. Aku menyiapkan semuanya, tapi khusus cincin, itu Cho Ahjumma yang memilihkan. Yunho hanya aku beritahu mengenai rencana ini dan dia setuju. Dia sempat meragukan acara ini tapi syukurlah hari ini berjalan dengan lancar," jelas Ahra.
"Terima kasih banyak Ahra noona," ucap Jaejoong sambil memeluk Ahra.
"Sama-sama Jaejoong ah. Setelah ini, jangan lepaskan Yunho ya. Dan kamu Yunho, jaga Jaejoong dengan baik," ucap Ahra sambil menatap keduanya dalam-dalam.
"Dan noona harus selalu sehat demi uri baby," ucap Yunho sambil mengelus perut Ahra.
"Dan terus berjuang, noona. Noona pasti bisa menghadapinya," ucap Jaejoong ikut mengelus perut Ahra.
"Tentu dan pasti," ucap Ahra sambil tersenyum.
"Ahra akan tinggal dengan kami untuk sementara," ucap Mrs. Jung sambil merangkul Ahra.
"Betul, kami akan merawat Ahra sampai masalahnya dengan suaminya selesai," ucap Mr. Jung sambil mengelus rambut Ahra.
"Aku titip noona, Appa, Umma," ucap Yunho sambil mengenggam tangan Ummanya.
"Hahaha anak ini. Kami yang harus bilang, titip Yunho ya, Jaejoong ah. Kalau dia macam-macam, geplak saja kepalanya," ucap Mrs. Jung sambil mengelus rambut Yunho.
"Tentu Umma. Aku akan menjaganya dan melakukan apa yang Umma katakan," ucap Jaejoong sambil terkekeh.
"Yunho, kami titip Jajeoong ya," ucap Mrs. Kim, "jangan lupakan janjimu."
"Tentu Umma," jawab Yunho.
"Jangan apa-apa kan Jaejoong sampai kalian lulus kuliah," ucap Mr. Kim sambil terkekeh.
"Appa!" ucap Jaejoong dengan muka yang merona kembali.
Semuanya dibuat tertawa termasuk keluarga dari para kakak-kakak Jaejoong.
"Yunho ah, jaga adik kecil kami ya. Awas kalau tidak, kami yang akan maju," ucap Kim Hyerin, anak pertama dari Mr. dan Mrs. Kim, sementara yang lain memasang smirk.
"Hahahaha tentu saja noona," jawab Yunho dengan nada sedikit takut. Pasalnya, sepertinya semua kakak perempuan Jaejoong juga jago bela diri.
"Tuan muda, selamat," ucap Lee Ahjussi dan Sooman berbarengan.
"Tuan muda, kami turut berbahagia," ucap Cho Ahjumma yang disertai anggukan dan senyuman dari Cho Ahjussi.
"Terima kasih semuanya," ucap Jaejoong sambil mengembangkan senyum manisnya.
"Baiklah, ayo kita makan malam. Aku lapar," ucap Mr. Jung disertai anggukan yang lainnya, "Yunho, jangan lupa hubungi Changmin dan Kyu untuk bergabung."
"Ok Appa."
Selesailah acara yang membahagiakan hari itu dengan makan malam bersama semua anggota keluarga.
Mereka berbahagia menyambut pasangan yang baru resmi sah menjadi suami dan istri itu dan berdoa hubungan mereka kekal selamanya.
Mereka memilih untuk meraih kebahagiaan mereka sendiri.
Kebahagiaan kekal.
.
.
Satu bulan sudah berlalu.
Masalah Ahra sudah selesai. Suaminya memilih untuk tetap bersama dirinya dan membesarkan anak mereka yang usia kandungan Ahra sudah hampir memasuki bulan ketiga.
Yoochun dan Junsu sedang menikmati masa pacaran mereka dan ingin melanjutkan ke hubungan yang lebih serius setahap demi setahap.
Changmin dan Kyuhyun masih suka bertengkar kecil, namun mereka saling mencintai. Mereka sedang mempersiapkan pernikahan sampai ke resepsi.
Yunho dan Jaejoong sekarang berada di rumah yang mereka beli berdua, menghabiskan waktu mereka berdua. Hanya mereka berdua bersama dengan Jiji.
Mereka saling mencinta sampai kapanpun itu, bahkan sampai akhir hayat menjemput, cinta mereka tetap kekal.
.
Fin
.
Huaaaa akhirnya ff ini selesai! Maaf saya baru update karena saya sibuk mengurusi kerjaan hehehe.
Semoga akhirnya tidak mengecewakan ya. ^^
Terima kasih kepada reader yang selalu membaca, mereview, dan menantikan chapter per chapter ff ini ^^
Maaf kalau di ff ini, terlebih chapter terakhir ini kalau ada typo atau ada yang aneh-aneh hehehe
Saya sedang merencanakan pembuatan ff baru, semoga bisa secepatnya rampung. ^^
Thanks for all, readers ^^ *deep bow*
Balasan Review:
Dipa Woon hanya 14 chapter. Chapter ini selesai. MinKyu? Di sini terjawab wkwkwwk XD terima kasih sudah mengikuti ceritanya sampai habis ^^
YunHolic : namanya juga Yunho wkwkw XD terima kasih sudah mengikuti ceritanya sampai habis ^^
yunjaelover : semoga kali ini sweet ya heehehe terima kasih sudah mengikuti ceritanya sampai habis ^^
Yzj84 sekali-kali Yunho harus hamil (?) hahahaha XD terima kasih sudah mengikuti ceritanya sampai habis ^^
meybi makin rame makin asik kkk ^^ terima kasih sudah mengikuti ceritanya sampai habis ^^
SimviR thank you supportnya ^^ terima kasih sudah mengikuti ceritanya sampai habis ^^
ichigo song Ahra ikhlas kok heehhe ^^ terima kasih sudah mengikuti ceritanya sampai habis ^^
NaraYuuki tulus kok hehehe ^^ terima kasih sudah mengikuti ceritanya sampai habis ^^
JungJaema iya syukurlah mereka berbaikan hehe ^^ terima kasih sudah mengikuti ceritanya sampai habis ^^
Kang Shin Ah terima kasih supportnya ^^ terima kasih sudah mengikuti ceritanya sampai habis ^^
BooFishy maaf ya lama hehehe ^^" terima kasih sudah mengikuti ceritanya sampai habis ^^
runashine88 hahaha iya ini udah update ^^ terima kasih sudah mengikuti ceritanya sampai habis ^^
nataliakim8624 iya betul hehehe ^^ terima kasih sudah mengikuti ceritanya sampai habis ^^
RedsXiah hehehe biasalah Yunho (?)terima kasih sudah mengikuti ceritanya sampai habis ^^
Vic89 iya betul hehehe ^^ terima kasih sudah mengikuti ceritanya sampai habis ^^
