Take Me To The Beginning

Chapter 14

[Break]

Warning : YAOI, BL, SEMI RATED M, MPREG!

Story : Chanbaek – Other cast SM

{CB}

Pagi menjemput dengan cepat, suhu tubuh Sehun mulai menurun. Tapi Baekhyun justru merasa demam Sehun berpindah pada nya. Ia meraba kening nya sendiri, kemudian merasakan panas yang menyengat.

"Apa aku demam ?" ia bergumam pelan. Mungkin ini akibat dari kurang tidur, karena terjaga semalaman.

"Baekhie.." Yoona memasuki ruangan rawat cucu nya dengan banyak bawaan di dalam paperbag.

"Aku sakit ma…" Yoona mengernyit, kemudian ikut meraba kening anak nya penuh rasa was-was.

"Kau demam juga ?" Baekhyun hanya mengangguk.

"Cepat mandi, dan periksa ke dokter. Jika kau sakit siapa yang akan merawat Sehun." Baekhyun berjalan ke arah kamar mandi. Membawa satu stel pakaian yang sudah disediakan Yoona.

Tapi perut nya berubah bergejolak saat bau pasta gigi menguar. Baekhyun mual hebat setelah menyikat gigi nya.

"Hueeekk…. Hueekkk…. Argghh ! Mama.." Yoona mengetuk pintu kamar mandi yang di kunci Baekhyun. Segera masuk setelah anak nya membuka pengait kunci.

"Kau ini kelelahan, stress juga pasti." Yoona sedikit mengomel, tapi tangan nya tidak berhenti memijat tengkuk Baekhyun. Anak nya itu masih berjongkok di depan kloset.

"Kenapa bau pasta gigi sekarang sangat aneh ma ? Padahal merk nya sama seperti yang biasa ku pakai di rumah." Yoona berpikir sejenak sebelum akhir nya menjawab "Kenapa menyalahkan pasta gigi ? Kau mual dan demam karena kelelahan. Apa demam tinggi membuat mu jadi mengigau seperti Sehun ?" Baekhyun masih terus mual hingga di rasa badan nya sangat lemas. Darah nya seolah berhenti mengalir, itu terlihat dari wajah nya yang pucat, dan bibir merah nya yang ikut memutih.

"Cepat ganti baju, dan periksakan ke dokter di lantai bawah." Baekhyun bangkit dengan lemah di bantu Yoona.

"Tolong jaga Sehun sebentar ya ma. Saat bangun nanti panggil suster untuk meminta makan Sehun."

"Chanyeol sudah perjalanan kemari. Ia mengambil flight dini hari setelah di kabari oleh Hyungsik." Baekhyun merasa hati nya sudah mati. Ia tidak peduli apakah ada atau tidak ada Chanyeol. Seperti nya 3 minggu ini mulai membuat nya terbiasa dengan ketiadaan Chanyeol. Ya.. Chanyeol yang membuat Baekhyun harus membiasakan diri untuk sendiri. Sama seperti saat Baekhyun belum mengenal Chanyeol. Rasa nya hampa dan biasa.

"Ma… Apa mama akan memarahi ku ?" Yoona memicingkan mata nya saat Baekhyun mulai berucap sungguh-sungguh.

"Ma.. Bukan kah saat kita sudah merasa tidak nyaman pada suatu hal. Kita harus meninggalkan sesuatu itu ?"

"Bicara apa kau ini ?! Kau ingin memperburuk keadaan cucu ku ?! Bicarakan baik-baik. Apa arti 7 tahun kalian, di banding 3 minggu yang sia-sia ini ?" Yoona melirik Baekhyun yang mulai berkaca-kaca.

"T-tapi aku lelah ma.. Aku sudah tidak nyaman, jika aku bertahan hanya demi Sehun. Lantas apa kabar perasaan ku ? Aku tau, ini egois. Tapi ma…" Yoona berjalan pelan menghampiri Baekhyun yang berdiri di ujung. Memeluk anak nya hangat, memberi sedikit elusan. Efek nya sangat hebat, itu membuat tangis Baekhyun pecah. Jika 3 minggu ini ia masih mampu menahan semua sendiri, maka tidak untuk hari ini. Baekhyun tidak sekuat itu.

"Kau hanya perlu tempat untuk menangis. Menangis lah.." tangis nya semakin keras, terkadang di selingi teriakan yang menyakitkan.

"Tidak ma, hiks. Ini tidak cukup hanya dengan menangis. Rasa nya sangat aneh… Aku bahkan tidak merasakan apapun. Aku tidak bisa merasakan cinta lagi, aku tidak bisa merasakan kemarahan lagi. Hati ku mati ma.. Mati, hiks." pilu tangis Baekhyun, pada akhir nya tidak bisa membuat Yoona melakukan apapun. Selain memasrahkan semua keputusan pada anak nya.

"Ambil lah keputusan yang bijak. Aku hanya ibu mu, bukan berarti bisa mengatur segala hidup mu. Tapi mama mohon.. Jika mungkin bisa membuat perasaan mu kembali, tetap lah bersatu." Baekhyun berubah tenang, mengangguki nasihat ibu nya.

{CB}

"Sejak kapan mual dan demam mu ?" dokter dengan marga Lee itu terus menulis sesuatu pada buku riwayat penyakit milik Baekhyun.

"Baru tadi pagi." kemudian berhenti dan menatap Baekhyun dalam.

"Sebelum nya tidak merasakan hal yang sama ?" Baekhyun hanya menggeleng, menunggu dengan gugup kira nya sakit apa yang sedang diderita.

"Kau sudah mempunyai anak sebelum nya ?"

"Iya, satu. Lelaki berusia 6 tahun, sekarang sedang di rawat disini karena sakit." dokter Lee tampak mengangguk.

"Aku tidak yakin, tapi menurut gejala sakit mu. Seperti nya kau memang hamil. Jika kau tidak keberatan, aku bisa memberi mu rujukan ke spesialis kandungan." Baekhyun tidak bisa berkonsentrasi lagi setelah kata 'hamil' menjadi satu-satu nya yang mengisi otak.

Tidak mungkin secepat ini kan ? Ia masih sangat ingat, hanya sekali ia berhubungan dengan Chanyeol dan itu 3 minggu lalu.

"Beri aku rujukan.." Baekhyun harus memastikan, ia harus mengetahui keadaan yang sebenar nya.

.

.

.

Amplop putih dengan garis cokelat itu di remat Baekhyun kuat. Perasaan nya ikut teremas setelah membaca hasil tes dari dokter kandungan.

POSITIF

Ini mungkin akan menjadi kabar baik bagi Sehun, tapi ini juga menjadi kabar buruk untuk Baekhyun. Saat dia ingin melepaskan Chanyeol, ternyata ada satu alasan yang membuat nya harus terikat lagi.

Baekhyun meraba perut nya sebentar, merasakan ada satu nyawa yang hidup di sana. Tidak sebahagia saat mengandung Sehun. Tapi cinta yang diberikan sama besar pada calon bayi nya ini.

Antusias nya menghilang, ia tidak salah tentang perasaan nya yang mulai mati. Bahkan hasrat untuk memberi tahu semua orang tentang kehamilan nya tidak ada sama sekali.

{CB}

Mungkinkah ia egois ? Atau ia memang tak permah bisa mengerti seberapa keras usaha Chanyeol untuk mendapat kesuksesan ? Baekhyun memilih pulang ke rumah, saat membuka pintu ruang rawat Sehun dan melihat Chanyeol sudah berada di sana.

Senyum Sehun ketika berada di dekat Chanyeol, dan fakta lain bahwa ia tengah hamil, membuat bimbang semakin tak tertahan.

"Bekhyun ?" Chanyeol gemetar menyaksikan penampakan di depannya. Lelaki yang biasanya berceloteh tanpa henti itu kini tampak seperti mawar layu yang harus segera disiram air.

Baekhyun duduk di tepi ranjang dengan pandangan jauh menerawang. Berbalut kemeja putih milik Chanyeol yang terlalu besar untuk ukuran badan nya. Wajah pucat nya sama sekali tak mengurangi kecantikannya.

"Kau pulang ?" Suara nya parau. Senyum itu meskipun tampak menawan, namun menyiratkan kepedihan yang tak tertolong.

"Chanyeol..." baekhyun berdiri menghampiri Chanyeol.

"Sudah makan ?" Baekhyun membuka satu per satu kancing jas kerja Chanyeol. Dilanjutkan membuka dasi, kemudian kemeja. Menyisakan celana kain Chanyeol saja.

Chanyeol masih terdiam seperti orang bodoh, ia takut salah mengambil langkah. Chanyeol sekarang lebih memilih mati daripada harus menyaksikan lelaki kesayangannya seperti ini.

"Chanyeol..." baekhyun mengelus dada Chanyeol perlahan.

"Apa arti nya aku bagimu ?"

"Apa aku sudah tidak menarik lagi ?"

"Apa aku sudah jelek ?"

"Apa aku terlalu banyak membebani mu ?"

Suara itu berayun sangat pelan, dan tenang. Tapi Chanyeol merasa setiap kata nya seolah tusukan pisau yang mencabik-cabik hati.

Chanyeol menggeleng-gelengkan kepalanya cepat. Ia menangis menyaksikan Baekhyun yang seperti ini. Ia ingin Baekhyun yang meronta-ronta, dan mengumpat kasar seperti biasanya. Itu lebih baik, dari pada Baekhyun yang nampak tenang dan tetap tersenyum seolah tak terjadi apapun.

Chanyeol sama sekali tidak bisa mengukur seberapa dalam luka yang sudah ia ciptakan. Emosi Baekhyun yang seperti ini sangat menyakitkan baginya.

"Tidak Baek, kau selalu jadi yang terbaik. Maaf kan aku sayang, maaf.. Hiks"

"Hei, jangan menangis" Baekhyun mengusap dengan lembut air mata suaminya.

"Pukuli aku Baek, beri aku umpatan paling kasar. Atau bunuh aku supaya membuat hatimu lebih lega. Hiks.."

Baekhyun menggeleng lembut, kemudian merengkuh tubuh tinggi itu kedalam pelukannya. Mereka menangis bersama, membagi apapun yang bisa di bagi.

"Aku mencintaimu, Sehun juga mencintaimu. Tapi kita harus pergi. Chanyeol..."

"B-baek... Apa maksudmu ?"

"Kita harus pergi agar tidak saling menyakiti." mata bulan sabit itu biasanya menyimpan kehangatan tapi sekarang berubah menjadi bongkahan es dalam sekejap.

"Tidak Baek, kau tidak boleh kemana-mana." Chanyeol semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku memang sudah tidak ada di hatimu sejak kau memutuskan menyibukkan diri dengan segala yang kau miliki. Aku tidak kemana-mana, tapi kau yang menyingkirkan aku dari sana." Baekhyun menunjuk dada bagian kiri Chanyeol.
"Kau dan Sehun selalu ada disini Baek. Di hati ku." Chanyeol tidak bisa menghentikan aliran air mata nya. Betapa ia begitu bodoh.

"Aku lelah, sangat lelah. Bahkan untuk marah pun aku tidak bisa. Chanyeol mari kita sudahi… Mari kita berjalan di jalur masing-masing. Dengan kau yang tak akan pernah menyakitiku. Dan begitupun sebaliknya."

Baekhyun jatuh merosot ke lantai. Dingin lantai menyapa. Karena memang ia hanya mengenakan celana dalam. Kemeja milik Chanyeol yang terlalu besar untuk nya, sudah cukup menutupi setengah dari paha nya.

"Chanyeol aku tidak bisa merasakan apapun lagi. Melihat Sehun menggigil dan terus memanggil nama mu. Sedangkan kau sendiri entah ada dimana. Mungkin saat itu adalah puncak nya. Puncak seluruh rasa ku yang mulai mati."

"Kalau begitu aku akan memeluk mu.. Aku akan mengembalikan rasa mu." Chanyeol ikut terduduk di atas lantai. Memeluk sekali lagi tubuh mungil suami nya. Hangat menyengat, karena suhu tubuh Baekhyun yang tinggi.

"3 minggu ini aku seolah yang berjuang sendiri. Menunggu mu pulang. Menunggu mu merindukan ku. Dan bodoh nya, aku bahkan menunggu kau berkata bahwa kau mencintaiku."

"Aku mencintai mu, aku merindukan mu, aku menyayangi mu Baekhyun." gelengan di sela pelukan nya, membuat Chanyeol tersadar. Luka yang ia buat sudah terlalu dalam.

Chanyeol melepas pelukan nya, menangkup wajah Baekhyun. Memberi kecupan mulai dari kening, hingga jatuh ke bibir.

Semua inchi wajah Baekhyun terasa panas, tapi Chanyeol tidak peduli. Ia terus melumat bibir tipis Baekhyun, terus berusaha meskipun Baekhyun sama sekali tidak merespon ciuman nya.

"Katakan cara apa lagi agar membuat seluruh rasa dan emosi mu pada ku kembali Baek ?" Chanyeol berucap sedikit terengah setelah melumat bibir suami nya. Sedangkan Baekhyun hanya mematung, mengabaikan bibir nya yang memerah.

"Mari saling menjauh… Aku butuh waktu, jika sampai waktu yang ku tentukan ternyata masih sama. Maka, mari berpisah."

Ini hukuman, Chanyeol mendapat balasan atas 3 minggu yang terabaikan. Chanyeol harus merasakan sakit yang sama seperti Baekhyun.

{CB}

Baekhyun benar-benar menjauhi Chanyeol. Sejak memutuskan untuk meminta waktu. Ia mengemasi seluruh barang milik nya dan juga Sehun. Chanyeol tidak bisa menahan, ia pantas mendapatkan konsekuensi untuk kebodohan nya sendiri.

"Mom.. Kenapa kita tinggal di rumah nenek ?" Baekhyun hanya tersenyum tipis.

"Karena rumah kita sedang di renovasi.. Jadi sementara waktu kita tinggal disini." Sehun tidak tau apa itu renovasi. Tapi ia hanya mengangguk.

"Dad kenapa tidak ikut tinggal disini ?"

"Ehmmm.. Renovasi rumah harus di awasi, jadi dad harus berada di sana."

.

.

.

Baekhyun menjalani aktivitas nya seperti biasa. Rasa mual di awal kehamilan memang sedikit mengganggu. Ia bahkan harus menahan mual jika ada Yoona atau Heechul. Karena takut kehamilan nya di ketahui.

Ia tidak tau bahwa setiap jam makan siang Chanyeol akan berdiri di seberang toko buku nya. Sekedar melihat lelaki mungil kesayangan nya. Chanyeol tampak berantakan, tidak menjalani hidup dengan baik. Tidak makan dengan teratur, atau istirahat cukup.

Saat ia menemui Sehun pun, tidak pernah ada Baekhyun di sana. Baekhyun sengaja menghindari nya.

Chanyeol memberanikan diri memasuki toko buku Baekhyun. Jika selama ini ia hanya berdiri mengamati. Maka hari ini tidak, karena tiba-tiba perasaan nya berubah tak enak.

"Di mana Baekhyun ?" Krystal terlonjak mendapati Chanyeol yang tiba-tiba datang entah darimana.

"Bos.. Ada di ruangan." tanpa babibu, Chanyeol melangkah panjang menuju ruang kerja Baekhyun.

Kosong, tidak ada siapapun di sana. Sampai terdengar suara seperti orang muntah. Di dalam kamar mandi, dan itu adalah suara Baekhyun.

"Baekhyun ?" seperti de javu, Chanyeol pernah melihat pemandangan ini 7 tahun lalu. Saat Baekhyun bersimpuh di depan kloset. Dengan nyawa yang hampir setengah melayang karena pucat.

"Chanyeol pergi lah.. Aku belum berkata bahwa masa jeda kita selesai." suara nya parau.

"Kau kenapa ? Katakan pada ku !"

"Aku baik-baik saja, hanya tak enak badan karena kelelahan."

"Jangan bohong Baek. Katakan kau kenapa ?" Baekhyun masih bersikeras tidak mau membuka mulut tentang keadaan nya. Ia malah bangkit mengabaikan Chanyeol, seolah tak ada siapapun di sana.

"BAEKHYUN KAU KENAPA ?! KATAKAN SIALAN !" Chanyeol terlalu jengkel dengan kekerasan hati Baekhyun. Ia tak bermaksud kasar, hanya saja Chanyeol benar-benar khawatir.

"LIHAT AKU ! KAU KENAPA ?!" tubuh lemah Baekhyun di kunci pada dinding. Chanyeol selalu mengikuti kemanapun pergerakan mata Baekhyun. Sampai kontak mata terjadi.

"A-aku tidak apa-apa.."

Masa jeda mereka sudah berjalan hampir 2 bulan. Masing-masing dari mereka saling mengamati. Baekhyun merasakan teriris saat melihat keadaan Chanyeol yang sangat kacau. Kantung mata, wajah lelah, dan nampak kurus.

Sedangkan Chanyeol merasa menjadi kepala keluarga paling buruk di dunia. Wajah pucat Baekhyun, dan badan nya yang tampak lemah membuat ia goyah. Chanyeol melanggar janji nya untuk menjauhi Baekhyun, ia bahkan membuang jarak mereka dengan melumat bibir tipis kesukaan nya. Chanyeol memeluk Baekhyun erat.

"Chanyeol kau melewati batas."

"Saat kau memutuskan untuk menjauhi ku, apa kau tidak menjaga diri mu dengan baik ? Kau bahkan sangat kurus. Harus nya kau bahagia kan ?"

"Aku makan dengan baik, dan aku bahagia."

"Tidak sadarkah kau jika seperti ini sama saja kita merusak diri kita. 2 bulan ini aku tersiksa. Tidakkah kau merasakan juga ?" Chanyeol masih tidak melepaskan penjara nya pada tubuh Baekhyun. Ia rindu, sangat rindu hingga ingin mati.

"Baek… Apa perasaanmu untukku belum kembali ? Kapan kita sudahi ini ?"

"Sampai aku yakin, pergi lah Chanyeol jangan melanggar kesepakatan kita."

{CB}

Seumur hidup nya, timun adalah musuh terbesar. Dan apa yang terjadi sekarang ? Baekhyun sangat menginginkan acar timun. Ingin sekali, hingga secara tak sadar ia meminta Yoona untuk memasak nya.

"Timun ?" Yoona memang memasak kan untuk Baekhyun. Tapi itu tidak mengurangi rasa penasaran nya. Pasal nya, ia sangat tau apa saja yang di sukai hingga di benci Baekhyun.

Yoona merasakan keanehan, di lirik nya perut Baekhyun yang sedikit membuncit. Sangat samar. Kemudian di satukan dengan keanehan lain seperti mual saat di rumah sakit 2 bulan lalu. Atau akhir-kahir ini Baekhyun akan meninggalkan meja makan dengan alasan kenyang. Tapi wajah nya terlihat seperti orang kesakitan.

"Kau menyembunyikan sesuatu ?" Yoona mendikte Baekhyun yang sedang asyik menikmati acar timun di meja makan.

"Menyembunyikan apa ma ?" Pikiran nya belum terhubung dengan maksud Yoona karena acar timun masih menjadi fokus utama.

"Sejak kapan kau menyukai timun ?"

"Uhukk… uhukk… uhukkk." Baekhyun hampir menyemburkan seluruh isi mulut nya, jika saja Yoona tidak menyodorkan segelas air.

"Sehun kemana ma ? aku akan menghampiri Sehun dan papa di kamar."

"Jangan mengalihkan pembicaraan Park Baekhyun !" pergerakan Baekhyun di tahan oleh ibu nya. Ia kembali terduduk di posisi semula, dengan tatapan Yoona yang siap menghakimi.

"A-aku…. Ma, kumohon jangan beritahu Chanyeol atau siapapun. Ak-aku hamil." Yoona tidak bisa menahan diri nya untuk tidak murka. Bagaimana Baekhyun bisa menjadi sangat ceroboh dengan menyembunyikan kehamilan nya dari semua orang ?

"Siapa ayah nya ?"

"Tentu saja Chanyeol ma, aku tidak pernah berhubungan dengan siapapun."

"Mama bertambah yakin, kau ini ibu paling egois. Chanyeol berhak tau. Jika kau emosi dengan Chanyeol jangan korbankan anak mu." Baekhyun menahan lengan Yoona yang hendak bangkit untuk meninggalkan nya sendiri di meja makan.

"Mama… maafkan aku. Ak-aku hanya…."

"Hanya mementingkan perasaanmu sendiri. Aku tau kalian sama-sama tidak bahagia dengan keadaan seperti ini. Kau hancur, Chanyeol hancur. Hamil dalam keadaan tertekan seperti mu bisa berdampak buruk pada janin. Kau tau kan ?"

"Aku bahagia seperti ini ma…" Yoona tersenyum miring, masih tidak menemukan cara untuk menghancurkan kekerasan hati anak nya.

"Berapa usia kandungan mu ?"

"T-tiga bulan.."

"Gugurkan !" Baekhyun menatap Yoona hampir menjerit. Air mata nya tidak mampu di tahan lagi.

"Kau bilang bahagia seperti ini kan ? gugurkan kandungan mu. Untuk apa kau melahirkan nya. Jika pada akhir nya, hanya kau suruh melihat kedua orang tua nya berpisah ?"

"Bukan seperti itu ma.. Hiks." Baekhyun menggeleng keras, memeluk perut ibu nya. Yoona pun ikut menangis. Ini bukan ide yang bagus, bukan juga keinginan Yoona. Tapi Yoona hanya ingin membuka mata anak nya, agar berhenti berkeras hati.

"Pulang lah Baekhyun. Aku mengusir mu." Baekhyun menggeleng. Semakin keras menangis.

"Beri aku waktu ma… maaf kan aku."

"Sampai kapan ? sampai kau melahirkan ? mengapa meminta maaf padaku ? kau harus nya meminta maaf pada Chanyeol dan anak-anak mu. Baekhyun, semua orang berumah tangga pasti memiliki pasang surut nya. Tidak ada kah kata maaf untuk Chanyeol ? Mama pun sempat marah dengan nya, itu manusiawi. Tapi anak-anak mu butuh ayah nya."

"Mama.. beri aku waktu sedikit lagi." Yoona tidak menjawab. Mereka saling terdiam, tersisa isakkan Baekhyun yang teredam perut Yoona.

"Beritahu Chanyeol.. Beritahu Sehun.. Kau tau, setiap hari ia menanyakan. Kapan rumah nya selesai di renovasi. Kapan adik nya akan berada di perut mu. Kapan mommy dan daddy nya bersama. Menghabiskan akhir pekan bertiga." suara Yoona berdayu lembut. Tangan nya tidak berhenti membelai surai anak nya.

"Aku takut Chanyeol akan mengulangi nya lagi ma.. Hiks."

"Hukuman yang kau beri selama 2 bulan ini sudah lebih dari cukup. Kau akan melukai dirimu sendiri pada akhirnya. Katakan jika kau merindukan nya ?"

"Aku rindu dia ma… Rindu sekali. Melihat keadaan nya yang mengerikan dengan kantung mata dan badan kurus. Hati ku ikut sakit." semua isi hati nya mengalir. Menyisihkan rasa egois yang selama ini menguasai.

"Perasaanmu sudah kembali. Hati mu tidak lagi mati. Katakan jika kau mencintai nya ?"

"Aku mencintai nya ma.."

"Pulanglah Baek.. Pulang dan selamatkan dia."

{CB}

Seperti biasa, malam hari sebelum tidur adalah saat paling menyenangkan bagi Sehun. Dimana ia bebas bercerita dan berbagi dengan ibu nya.

"Mommy.. Apa adik sudah ada di perut ?" Baekhyun mendekap erat tubuh mungil anak nya. Tersenyum jahil, menambah penasaran Sehun.

"Apa janji yang ingin Sehunie berikan jika adik ada di perut ?" Sehun nampak berpikir.

"Tidak ada… Sehunie bingung harus menjanjikan apa ?" Baekhyun melonggarkan pelukan nya, menatap mata anak nya dalam.

"Tolong jangan beritahu daddy ya.. Ini kejutan, okay ?" Sehun mengangguk antusias.

"Adik sudah ada di perut mom. Sudah 3 bulan." antara percaya atau tidak Sehun tidak bisa berkata apapun. Rasanya sangat bahagia, tidak bisa di jelaskan dengan kata-kata selain tersenyum lebar dan semakin mendekap ibu nya. Mereka berbaring di atas ranjang dengan damai.

"Sehunie akan memiliki adik.."

"Iya.. Sehunie akan menjadi oppa, atau hyung mungkin ?"

"Oppa… Sehunie ingin menjadi oppa untuk adik perempuan." taunya Baekhyun malah tertawa.

"Apapun asal adik sehat ya.. Lelaki atau perempuan Sehunie wajib menjaga adik dan menyayangi nya." Sehun hanya mengangguk dengan mata sayu bersiap untuk terlelap.

"Mommy, kapan kita pulang ?"

"Tunggu dad datang untuk menjemput."

Malam nya di lewati dengan terjaga kembali. Baekhyun memeluk Sehun dan mengelus perut nya bersamaan. Tiba-tiba ia membayangkan Chanyeol datang dan mendekap mereka hangat.

"Apa dia sudah makan ? Apa dia sudah tidur ?" rasa rindu tersusup menjadi sebuah kekhawatiran. Bayangan tentang suami nya yang berkantung mata, dengan wajah lelah dan tubuh mulai mengurus. Membuat Baekhyun menangis, ia ingin kembali.

{CB}

Di seberang sana, Chanyeol berdiri menjulang seperti biasa. Mengamati toko buku milik suami nya. Berharap Baekhyun akan segera keluar dan menampakkan diri. Tak apa melihat dari kejauhan. Setidaknya rasa rindu nya terobati.

Chanyeol melirik jam tangan nya, pukul 5 sore. Saat dimana Baekhyun akan keluar toko. Menjadi orang terakhir yang akan mengunci pintu toko. Hati Chanyeol bergemuruh, memikirkan kiranya hari ini Baekhyun mengenakan baju berwarna apa ? Apapun itu Baekhyun selalu terlihat menawan seperti biasa.

"H-hai.." Baekhyun terlonjak saat tangan nya sedang sibuk memutar kunci tiba-tiba suara bariton Chanyeol menginterupsi.

"Sejak kapan kau disini ?" dilirik nya Chanyeol yang berdiri canggung. Masih tampan sekalipun guratan lelah itu menyiratkan, betapa Chanyeol amat kesepian.

"Setiap hari aku disini. Mengamati mu disana." Chanyeol menunjuk seberang jalan, tempat nya berdiri menunggu Baekhyun setiap sore nya.

"Kau jadi penguntit ?"

"Jika aku berkata itu caraku untuk mengobati rindu, apa kau percaya ?" Baekhyun memcicingkan mata, mencari kebohongan yang mungkin di buat Chanyeol, tapi tidak ia temukan.

"Aku harus pulang.. Sehun pasti sudah menunggu." rasanya sangat canggung. 2 bulan ini mereka terpisah oleh jeda, dan setiap bertemu pasti Baekhyun menjadi orang pertama yang pergi menghindar.

"Ch-chanyeol… Apa yang kau lakukan ?" Chanyeol berjongkok di bawah kaki Baekhyun. Merangkai tali sepatu Baekhyun yang bahkan ia sendiri tak sadar jika sudah lepas.

"Lain kali jangan ceroboh. Kau bisa terjatuh jika menginjak tali sepatu mu sendiri." Chanyeol tidak berniat untuk bangkit. Mereka sama mengunci pandangan. Dilihat dari sisi manapun Baekhyun memang cantik, sekalipun dilihat dari bawah sini.

"Tidakkah kau ingin mengatakan sesuatu pada ku Baek ?"

"Berdiri lah Chanyeol, semua orang memperhatikan kita." Chanyeol hanya menggeleng, Baekhyun kembali mendengus.

"Kau ingin aku mengatakan apa ?"

"Aku tidak tidur dengan baik selama 2 bulan ini. Tolong katakan kau mencintai ku agar aku bisa terlelap dan mimpi indah." Baekhyun tidak lekas menjawab. Di tatapnya Chanyeol lagi.

"Aku hamil."

"Aku ingin kau mengatakan kau men- APA ?!" Baekhyun mendengus lagi. Apa kurang tidur membuat Chanyeol berubah menjadi tuli ?

"Aku hamil."

"J-jadi k-kau.. Maksud ku.. Ha- tidak. Apa k-kau ?" Chanyeol tergagap. Tidak lagi berjongkok namun sudah terduduk di tanah. Wajah nya nampak kebingungan, mengabaikan Baekhyun yang memasang muka datar saja.

"Dumbo… Apa kau akan berada disitu terus ?" Baekhyun yang hendak berlalu pergi, menjadi urung saat tangan nya di tahan oleh Chanyeol.

"Sudah berapa bulan ?" Chanyeol mendongak, masih duduk di atas tanah.

"3 bulan."

"Jadi saat kau mual tempo hari di dalam kamar mandi toko ?"

"Iya… Chanyeol, tidak berniatkah kau untuk berdiri dari sana ? Kita seperti sedang syuting drama." Chanyeol memeluk perut Baekhyun dengan antusias, hampir membuat Baekhyun terjungkal kebelakang jika saja respon tubuh nya lambat.

"Ayo pulang. Ayo pulang sekarang Baekhyun." Chanyeol mencium perut suami nya berkali-kali. Disana, di dalam perut itu. Ada satu lagi nyawa yang akan memanggil nya daddy kelak.

"Dasar dumbo sinting !" antara malu, senang, dan berbung-bunga. Baekhyun merasa panas menjalari pipi nya. Chanyeol selalu tak terduga untuk menjadi romantis.

"Aku benci pada mu Dumbo !"

"Aku juga mencintai mu ibu dari anak-anak ku." berbicara dengan Chanyeol yang idiot memang selalu membuang energi.


-tbc-


* Selamat hari kamis manis. tinggal beberapa chapter depan kita akan ketemu END :) Maafkan kalo alur nya membosankan. aku bener-bener kangen sama genre family. Terima kasih untuk yang sudah mengikuti ff ini dari awal. semoga kebahagiaan dan kesehatan selalu menyertai kalian.

* Jika ada typo harap di maklumi, saya hanya manusia biasa

* Terimakasih untk yg sdh FAV, FOLL, REVIEW :* KU CINTA KALIAAAANN.

Thankseu - Salam CBHS