Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
WARNING! Typo(s), OOC, Gaje, Crack Pairs, Alur dan Konflik yang tak jelas serta Penempatan tanda baca yang tidak sesuai, dan banyak sekali kesalahan-kesalahan lainnya.
Thanks a lot untuk para reviewer dan yang telah fave&follow fict ini
Final Chapter : Happily Ever After
Ketiganya duduk terdiam, tak ada yang menginginkan untuk membuka mulut mereka. Satu-satunya pria yang duduk di sebelah wanitanya memilih untuk membuang muka ke sembarang tempat, daripada harus berurusan dengan kerumitan hidup lagi dan lagi, Uchiha Sasuke menghela napas panjang.
Sementara itu Ino yang duduk di tengah-tengah mereka tengah berperang dengan kata hatinya, ia merasa iba dengan gadis Uzumaki yang duduk di sampingnya ini, ia memandang lembut sosok berambut merah itu, gadis itu hanya menundukkan kepalannya dalam-dalam. Uchiha Ino tersenyum dan memeluk gadis itu hangat membuat sosok pria dan wanita yang tengah ia peluk itu terbelalak, "Terimakasih telah memastikan ia selamat, Karin-san! Terimakasih telah mencintainya dalam kondisi apapun, terimakasih karena kau selalu mendukung keputusan yang ia ambil, terimakasih karena kau telah setia mengikuti bayang-bayangnya, kini . . . serahkan semuanya padaku, aku akan memikul tanggung jawab itu!" ucap Ino melepaskan pelukannya pada Karin, wanita itu masih memasang senyuman di wajahnya, senyuman paling tulus yang pernah Karin lihat dalam hidupnya, "Aku tahu bagaimana rasanya berada di posisimu, lihatlah! Sebenarnya apa daya tarik darinya?" Ino menunjuk sang suami yang memasang wajah stoic namun diam-diam penasaran juga dengan apa yang akan dikatakan oleh sang istri kemudian.
"Seingatku tak ada yang menarik darinya dulu, wajah dingin yang ingin sekali ku tonjok, rambut bak ekor ayam yang mencuat tinggi dan ahh! Wajah sok tampan itu!"
Hey! Bukankah dulu ia sangat mengidolakan dirinya? Apa-apaan Ino ini?
Sasuke akan memerotes apa yang dikatakan sang istri namun Ino buru-buru melanjutkan perkataannya, ia menggenggam punggung tangan Karin, "Sampai pada saat jidat mengajakku untuk bersaing untuk mendapatkannya, saat itu juga aku mulai bersikap seolah aku ini sangat menggilai seorang Uchiha Sasuke hanya untuk membangkitkan kepercayaan diri jidat yang sangat payah dulu, namun nampaknya saat ini ia terlampau percaya diri, hahaha!"
Uh? Jadi ini alasan Ino sebenarnya? Bersikap 'annoying', berisik dan selalu mengikutinya itu hanya untuk membangkitkan semangat dan mental Sakura?
"Jadi, kau dulu benar-benar tak pernah menyukainya?" tanya Karin mulai mendongakkan kepala untuk bertemu dengan aquamarine milik Ino.
Ino mengangguk, "Namun seiring berjalannya waktu, perasaan itu mulai tumbuh dan membuat dadaku sesak dan sakit, sejak forehead benar-benar berlebihan menanggapi persaingan itu, ahhh! Aku membenci diriku karena bisa jatuh cinta padanya, Karin! Kau benar-benar tau 'kan rasanya? Setidaknya kau pernah setim dengannya, sama seperti jidat dia benar-benar beruntung pernah mengisi hati dan hari-hari Sasuke-kun!" keluh Ino pada Karin yang tak menghiraukan keberadaan Sasuke di sampingnya membuat wanita Uzumaki itu mau tak mau tersenyum dengan ekspresi wajah Ino yang mengerucutkan bibirnya, "Tapi pada akhirnya kau yang mendapatkan diri dan hatinya, bukan? kau bahkan mengandung keturunannya, hal yang sejak dulu kuinginkan!"
Ino tersenyum, "Kau benar! Apa kau rela?" goda Ino pada wanita itu.
"Sama sekali tidak rela Nyonya Uchiha!" Karin menghela napas panjang, "Lalu apa yang bisa kuperbuat untuk mendapatkan Sasuke-kun dan merebutnya dari dekapanmu?" seringai Karin pada Ino yang hanya di jawab dengan gelak tawa sang wanita yang baru saja menyandang nama Uchiha di belakang namanya itu.
"Berani merebutnya dariku? Mati kau, Uzumaki Karin!" dengus Ino kemudian lagi-lagi tertawa dan memeluk wanita disampingnya erat, "Berjanjilah kau akan bahagia, Karin-chan!"
Karin menganggukkan kepala, tersenyum cerah dan membalas pelukan Ino tak kalah eratnya, baru pertama kali ia merasakan bagaimana ketulusan seseorang padanya, bagaimana hangatnya seorang Ino yang dikenal dengan kecerewetannya ini, "Maukah kau menjadi temanku?"
Haaaa?
Karin dan Sasuke menganga tak percaya, Karin melepas pelukannya pada Ino demikian pula dengan Ino, mereka saling berpandangan, "Tidak baik untuk selamanya merawat rasa kebencian di dalam hatimu, bukan? kita mulai semua dari awal!"
Karin terdiam sesaat, sejenak ia memandang Sasuke yang menganggukkan kepala padanya, ia tersenyum, "Teman!"
"Ya! Teman! Hahaha!"
Rasanya tidak terlalu sulit bukan untuk memaafkan? Jika persahabatan lebih indah mengapa harus memilih untuk memusuhi? Jika memaafkan itu mudah mengapa begitu sulit untuk meminta maaf?
Semuanya harus berakhir bahagia! Tidak boleh ada seorangpun yang bersedih di hari pernikahannya!
"Sekarang waktunya untukku meminta maaf pada kalian! Maafkan aku Sasuke-kun, maafkan aku Ino-chan."
'Chan'? Karin memanggilnya dengan memakai sufiks 'Chan'? ahhhh~ Ino tersenyum lembut pada sosok berkacamata di sampingnya, tangannya lembut membelai perutnya yang baru saja 'ditendang' dengan sedikit keras oleh bayinya "Hahaha~! Tak ada yang perlu dimaafkan Karin-chan!" ucap Ino dengan sedikit meringis, "Ughhh, Wow!"
"Ada apa? Apa kau baik-baik saja?" Sasuke mendadak terserang panik dengan ekspresi Ino yang demikian, Karin pun dibuat sama khawatirnya dengan Sasuke, "Aku tidak apa-apa! Hanya saja Kazuki terlalu aktif hari ini, huh!" Ino menghela napasnya panjang, sepertinya bayi yang ada di dalam perutnya ini benar-benar sudah terbangun, terbukti dengan bagaimana ia bersirkus ria di dalam perut ibunya.
"Kazuki?"
"Nama anak kami, Karin-chan!" jawab Ino yang masih membelai lembut perut besarnya, ia memandang suaminya dan mengangguk "Ahhh! Mungkin Kazuki-kun lapar! Aku harus segera mengisi perutku! Sasuke-kun aku harus segera menenangkan anakmu ini!" ujar Ino yang dengan berhati-hati beranjak dari duduknya dan berjalan menjauh meninggalkan Sasuke dan Karin berdua.
"Maafkan aku, Karin!"
"Huh?" Karin memandang Sasuke tak percaya, seorang Uchiha Sasuke mengucapkan kata maaf padanya? Apa ini hanya mimpi?
"Maafkan aku tidak pernah bisa membalas perasaanmu, saatnya memulai semua dari awal! Ino benar, semua harus di awali dengan kebahagiaan, bukan? terimakasih karena kau selalu ada dan mendukungku, dulu."
Karin menyunggingkan senyumnya, ia mengangguk pada pria yang sempat ia jadikan pria idaman itu, "Maafkan aku karena telah dibutakan oleh cinta padamu, Sasuke-kun! bahagiakan istri dan anak-anakmu nanti, kau telah berubah huh~? Kau sekarang lebih hangat, hahaha!"
Karin tertawa?
Pemandangan yang jarang sekali Sasuke lihat yang membuatnya mau tak mau tersenyum pada wanita itu, "Aku harus banyak belajar tentang kehangatan! Aku akan segera mempunyai anak, Karin!"
"Ya! Kau harus belajar lebih giat Sasuke-kun, jika tak ingin membuat anakmu nanti takut padamu, hahahaha."
"Ku rasa kau benar!"
Keduannya kini terdiam. Menarik napas mereka dalam-dalam "Karin/Sasuke-kun." ucap mereka bersamaan.
"Kau dulu!" perintah Sasuke pada Karin.
"Aku ingin memelukmu untuk terakhir kalinya, . . . boleh?"
Sasuke mengangguk, "Itulah yang juga kuinginkan Karin!"
Keduannya kini saling berpelukan erat, tak dapat dipungkiri Sasuke bahwa Karin memang sempat mengisi hari-harinya dan sedikit ruang dihatinya, dialah yang pertama melakukan hal itu dengannya, pasti akan terbentuk suatu perasaan bukan?
"Aku tak pernah menyesal dan sangat bahagia bahwa kau adalah yang pertama untukku, Sasuke-kun!"
"Dan terimakasih telah memberikannya padaku, tapi maafkan aku karena aku tidak akan pernah bisa untuk bersamamu! Berbahagialah, cari seseorang yang akan membahagiakanmu!"
Karin mengangguk. Air mata mulai merembas dari kedua matanya.
"Terimakasih Sasuke-kun."
Dari kejauhan nampak Sakura yang memandang tak suka adegan Sasuke dan Karin, sejak tadi ia memerotes Ino karena membiarkan suaminya berduaan saja dengan wanita itu, "Tenanglah, Forehead! Dia juga bagian dari kita sekarang."
Huh? Benarkah ini Ino? setenang inikah dia sekarang? Jika karena kehamilannya membuatnya bersikap demikian maka sebaiknya Sasuke menghamilinya setiap tahun, huh~.
Sakura menahan tawanya yang membuat Ino mengerutkan dahinya heran, "Ada apa? Kau kenapa, Jidat?"
"Hahaha … aku hanya berpikir jika kau bisa setenang ini karena kehamilanmu, maka sebaiknya Sasuke-kun menghamilimu saja setiap tahun," Tanpa rasa berdosa Sakura tertawa terbahak, yang membuat Ino ingin sekali murka namun urung karena ada suatu keharusan yang mesti ia lakukan sekarang, sebelum terlambat, "Hei! kau mau kemana, Pig?"
"Urggghh~ aku ingin ke toilet Sakura, tidak lucu rasanya jika aku harus mengotori baju pengantinku!" ucap Ino tergesa namun tetap dengan langkah hati-hati menuju kamar mandi.
Sakura tersenyum dan menggelengkan kepalanya, Kazuki benar-benar membuat Ino kerepotan, sebentar-sebentar menduduki kandung kemih sahabatnya itu, membuatnya bolak-balik pergi ke toilet.
"Sepertinya gen Ino yang cenderung akan turun pada Kazuki!"
"Uh? Shika-kun . . ."
Shikamaru mengangguk dan menyunggingkan senyuman pada gadisnya.
"Kau berharap orang lain?" goda Shikamaru pada sang kekasih yang kemudian dihadiahi sebuah cubitan di pinggangnya membuat pemuda Nara itu memekik dan memegangi bagian tubuhnya yang baru saja mendapatkan 'hadiah' menyakitkan itu. Shikamaru mendengus kesal, "Aku juga mencintaimu, Shika-kun!" Sakura terkikik geli kemudian mengecup singkat pipi sang kekasih membuat pemuda jenius itu merona karena ini dilakukan di hadapan umum.
Hinata dan Kiba tersenyum penuh arti melihat Sakura dan Shikamaru yang nampak berbahagia, keduanya saling bertatapan, semburat merah muda nampak menghiasi wajah wanitanya "Ada apa Hinata-chan?"
"Eum, Kiba-kun . . ."
"Ya?"
Kiba tahu benar bahwa ada sesuatu yang disimpan oleh Hinata saat ini, pria Inuzuka itu kemudian mengacak pucuk kepala Hinata gemas "Ada apa, Hinata-chan? pasti ada yang kau sembunyikan dariku!"
Hinata tersenyum dan menganggukkan kepala, "Kiba-kun, bagaimana jika kau akan menyusul Sasuke-kun?"
Kiba terdiam sebentar nampak tak peduli namun beberapa saat kemudian, "Apaaaa?" pekiknya, membuat beberapa tamu dan Ino yang memang baru datang dari kamar mandi memicingkan matanya pada sosok pria pemilik Akamaru itu.
Hinata tersenyum pada sang suami dan Ino yang mendekati dirinya, "Ada apa?"
"Me-Me-menyusul Uchiha? Apa maksudnya?"
"Dia hamil, Baka!" dengus Ino kesal kemudian memeluk Hinata erat, "Ahhhh~ Selamat Hinata-chan! semoga anak kalian tidak mewarisi sifat ayahnya yang sangat payah itu!" Ino terkikik geli sementara itu Kiba terbelalak tak percaya, dia akan menjadi seorang ayah? Dia akan menjadi orang ke-2 dari Rookie 9 yang akan menjadi orangtua?
Brughhhhh
Tubuh Kiba terhuyung dan terjatuh.
"Ooops!" Ino dan Hinata tertawa bersamaan, "Sepertinya ia terlalu bahagia Hinata-chan!"
Hinata mengangguk, wanita Inuzuka itu kemudian duduk untuk mensejajarkan diri dengan Kiba, "Kau tidak sedang bermimpi, Kiba-kun! aku sudah melakukan serangkaian tes bersama Sakura-chan!" Hinata tersenyum membuat Kiba mau tak mau memeluk wanitanya erat, "Terimakasih Hinata-chan!"
Hinata mengangguk dan memandang Ino yang tengah tersenyum memandang dirinya dan Kiba.
"Selamat untuk kalian berdua!"
Hari ini sungguh membahagiakan bukan? selain dirnya namun kebahagiaan juga didapatkan sahabat-sahabatnya, Hinata dan Kiba sama seperti dirinya dan Sasuke, kini tengah mempersiapkan kelahiran anak pertama, melihat sudut lain pesta pernikahannya ia dapat memandang Forehead dan Shika yang terlihat sangat bahagia saling berbisik dan melemparkan lelucon yang ia yakini bahwa itu pasti bukan lelucon yang lucu, di sudut lain ia melihat Suaminya, Karin dan Naruto telah asyik mengobrol, entah mengobrol apa namun mereka sangat menikmati kebersamaan mereka saat ini.
Ia melihat Kurenai-sensei bersama Mirai kecil sedang berbincang dengan Iruka-sensei, Kakashi-sensei dan Anko-sensei.
Orangtuanya juga beberapa orangtua sahabat-sahabatnya berkumpul dan nampak gembira, namun ia merasa sedih untuk Naruto karena hanya Minato dan Kushina yang tidak berada di sana.
Buru-buru Ino menghapus air mata harunya.
Semuanya berakhir indah untuknya sangat indah. Tidak ada yang diinginkan olehnya lagi selain kebahagiaan seperti ini.
Terimakasih Tuhan.
.
.
.
.
"Kau benar-benar bertambah berat, Kazuki-kun!" Ino tersenyum membelai lembut perutnya, ia kini berada di kamarnya, bersiap untuk tidur.
Hah~ ia menghela napasnya panjang-panjang, mengenakan jubah tidurnya ia kemudian melangkahkan kakinya menuju ranjang, menyibak selimut tebal yang dan masuk ke dalamnya.
Ahhh~ kasur yang empuk! Kakinya terasa sangat sakit akibat lama berdiri tadi.
Sasuke yang baru saja masuk ke dalam ruangan menyipitkan matanya memandang sang istri yang masih terjaga, ia kira Ino sudah tidur mengingat begitu lelahnya ia karena pesta tadi, "Kau belum tidur?"
Ino menggelengkan kepala, wanita Uchiha itu malah menyibak selimutnya, memandang kakinya "Kakiku . . . kau berjanji akan memijitnya tadi!" ucap Ino, menata bantal untuk ia kenakan untuk menyandarkan punggunnya yang juga terasa sakit, mengandung benar-benar penuh perjuangan! Keluhnya dalam hati.
Sasuke sendiri hanya mengangguk mengerti, kemudian mendekati sang istri dan naik ke atas ranjang, mengangkat kedua kaki Ino ke pangkuannya.
Yah! Pemandangan langka, seorang Uchiha Sasuke kini tengah memijit kakinya penuh dengan kelembutan, wajahnya mengisyaratkan kebahagiaan dan ia tersenyum?
"Kau sudah meminum Ginger Tea yang dibuatkan ibu, tadi?"
Ino mengangguk. Mengusap perutnya pelan ia kini memandang sang suami lembut, "Sasuke-kun . . ."
"Hn . . ."
"Kemarilah!"
"Tapi kakimu masih sakit, bukan?" Sasuke masih tetap memijit kaki sang istri tanpa melihat sang istri yang kini memasang wajah cemberut, benar-benar menyebalkan, ini 'kan malam pertama mereka menjadi sepasang suami dan istri! Padahal, beberapa minggu lalu setelah ia dipukuli ayahnya saja ia nampak bernapsu, namun sayang ia tak menanggapi napsu Sasuke waktu itu karena ia mengantuk.
Dasar hormon sialan. Umpat Ino dalam hati. Kesal karena merasa diacuhkan oleh Sasuke.
"Uh? Kau kenapa?"
"Aku tidak apa-apa!" ucapnya kesal.
"Hn?" Sasuke mengernyitkan dahi heran, seingatnya baru saja ia tersenyum dan sekarang cemberut, apa ia telah berbuat satu kesalahan atau bagaimana?
Sasuke menghentikan kegiatannya memijit kaki sang istri kemudian dengan hati-hati ia menggeser kaki Ino dari pangkuannya kembali ke ranjang, dirinya kini mendekati sang istri dan meletakkan bantal untuk dirinya sendiri bersandar, "Ada apa?" tanya Sasuke khawatir, ia memandang aquamarine Ino cemas, kemudian mengalihkan pandangannya ke bagian bawah, perut Ino yang nampak sekali besar, "Apa dia baik-baik saja?" Sasuke meletakkan tangan besarnya pada perut Ino dan membelainya lembut, dapat ia rasakan tendangan sang anak yang kuat, membuat Ino meringis kesakitan.
Sasuke tersenyum dan menciumi perut sang istri, Ino tersenyum dan membelai lembut rambut jabrik Sasuke yang telah memanjang, "Dia akan menjadi ninja hebat!"
"Hahaha!" Ino mengangguk, "Kau benar, dia akan mewarisi kemampuanmu Tuan Uchiha!"
Tentu saja anak ini akan mewarisi kemampuannya, dia akan menjadi seorang Uchiha dan akan sehebat dirinya.
"Ino . . ." Sasuke mengalihkan pandangannya pada Ino, dengan lembut ia mencium bibir sang istri, "Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu Sasuke-kun." tangan Ino dengan nakalnya membelai bagian bawah tubuh Sasuke, membuat pria itu mengerang tertahan.
"Hekhh, Kau nakal ya!"
"Hormon sialan!" Ino melepaskan tangannya dari bagian bawah Sasuke. ufft ia mengerucutkan bibirnya kesal.
Sasuke tersenyum penuh arti, "Kau mau? Apa kau tidak lelah? Tapi sayangnya aku tidak akan membiarkanmu untuk beristirahat malam ini Ino-chan! kau telah memulainya dan sukses membangunkannya!" Sasuke melihat bagian bawah tubuhnya.
Sial! Ino menyesali apa yang sudah dimulainya tadi namun ia juga tak mampu menolak karena ia juga sangat menginginkannya.
Deru napas terdengar dari keduanya, decapan dan decitan ranjang menjadi tanda betapa panasnya kegiatan yang tengah mereka lakukan sekarang.
Keduanya nampak larut dalam buaian kenikmatan yang menyelubungi mereka.
Tak ada sepatah katapun terucap, melainkan hanya desahan-desahan yang terdengar menggema di ruangan yang nyatanya terasa sangat panas itu.
…
"Uchiha Sasuke 1 dan Uchiha Ino 0." Goda Sasuke pada sang istri yang kini tengah kepayahan setelah aktivitas mereka, geez~ Ino memutar bola matanya bosan kemudian mengambil jubahnya dan mengenakannya kembali.
"Kau mau kemana?"
"Aku lapar, Sasuke-kun!" keluh Ino pada sang suami, "Maukah kau memasakkan sesuatu untukku?"
Ino sudah beranjak dari ranjangnya, dengan manja ia menarik-narik tangan Sasuke untuk memaksanya bangun dari tempatnya tidur.
"Hn~ sebentar! Aku akan memakai celanaku dulu, apa kau menginginkan ronde berikutnya di dapur, huh?" Sasuke lagi-lagi menggoda Ino, membuat wanitanya itu merona bak udang rebus karena malu, "Hentikan itu, Sasuke-kun!"
Hah~ apa-apaan Sasuke itu? ia melangkahkahkan kakinya untuk keluar dari kamar dengan hati-hati ia menuruni anak tangga demi anak tangga rumah yang didirikan Sasuke untuknya, dan akhirnya ia kini berada di dapur, membuka lemari pendingin dan menyantap cake yang kemarin sempat di belinya, setidaknya ini mampu mengganjal perutnya yang kelaparan.
"Uhmmm~ lezatnya!"
"Kau benar-benar kelaparan, huh?" Sasuke melihat jam dinding yang tergantung di dinding, angka menunjukkan jam 2 dini hari, ia menghela napas panjang sebelum akhirnya mengambil beberapa sayuran dan daging dari lemari pendingin dan memotongnya kecil-kecil.
"Maafkan aku, Sasuke-kun! harusnya kau kini sudah tidur tapi kau malah memasakkanku makanan sekarang."
"Hn~! Aku harus memuaskan istri dan anakku, bukan?"
Sasuke tersenyum simpul dan kembali berkonsentrasi pada masakannya.
Moment yang indah menutup hari yang indah bukan?
Sasuke menggelengkan kepala dan tersenyum penuh arti mengingat kejadian di kamar tadi. 1 bulan tanpa mendapatkan 'jatah' dan malam ini benar-benar memuaskannya.
"Ino-chan . . ."
"Ya?" Ino menghentikan aktivitasnya sejenak untuk menyantap cake cokelatnya untuk melihat sang suami, "Aku juga mencintaimu jika kau mau mengatakan bahwa kau mencintaiku!" Ino terkikik geli sedangkan Sasuke hanya menganggukkan kepala "Hn~"
Hn, hn, hn terserahlah dia mau apa, namun sekarang ino benar-benar bahagia, sangat bahagia, ini benar-benar nyata bahwa prianya kini tengah berada di depannya juga sedang memasak untuknya.
Keluarga Uchiha akhirnya memiliki penerus dan dia bangga dapat menjadi bagian dari kebangkitan klan yang nyaris 'punah' ini. ia memandang perut besarnya dan membelainya lembut.
Cepatlah lahir, nak! Ayahmu akan sangat mencintaimu, ibu juga akan sangat mencintaimu! Tumbuhlah dengan baik di dalam sana sampai jumpa 2 bulan lagi, Kazuki-kun sayang.
.
.
.
.
"Katakan padaku Naruto-kun, mengapa kau mengirim Sasuke-kun dalam misi ini? kau tahu sendiri bukan bahwa sebentar lagi Kazuki-kun akan lahir?!" Ino mencengkram kerah baju yang dikenakan Naruto, Naruto sendiri hanya pasrah menghadapi Nyonya Uchiha yang sedang murka.
"Tenanglah Ino-chan! tenang!" perintah Naruto memijit lembut kedua pundak sahabatnya itu, Ino terdiam sejenak dan akhirnya melepaskan tangannya dari kerah Naruto, ia menghela napas panjang dan mendudukkan dirinya kembali pada sofa, kedua tangannya mengusap perutnya yang benar-benar sudah terlihat sangat besar itu.
Sudah 2 bulan semenjak pernikahan Sasuke dan Ino, dan usia kandungan wanita itu kini tengah memasuki bulan ke 9 lebih 2 hari, hari-hari mendebarkan untuknya pun akan segera datang, ia sangat membutuhkan Sasuke namun Hokage ini malah mengirim Sasuke ke dalam misi, ahhhhh! Naru-baka!
"Maafkan aku Ino-chan! tidak ada pilihan lain untukku selain mengirim Sasuke karena ku rasa hanya dia yang mampu untuk menyelesaikan misi ini! dia akan sampai besok atau paling cepat hari ini, kau tak perlu khawatir!"
"Aku tidak mengkhawatirkan dirinya, Baka! Aku tahu dia pasti akan baik-baik saja, tapi bagaimana dengan Kazuki-kun? kau kira dia akan dapat menunggu, jika nanti dia memutuskan untuk keluar?" Ino terisak. Lagi-lagi kecemasannya memuncak di tambah lagi dengan hormon yang mempermainkan suasana hatinya, Ya Tuhan!
Haaaaah~ Naruto menjadi serba salah dengan posisinya saat ini, "Aku … aku minta maaf Ino-chan!"
Ino menghapus air matannya dengan kasar, "Hormon sialan! Ahhh~ aku terlalu berlebihan! Maafkan aku Naruto-kun, aku tak bermaksud untuk marah-marah seperti ini, tapi menjelang kelahiran Kazuki-kun aku benar-benar didera kepanikan berlebih, aku …"
mendengar pernyataan Ino itu membuat Naruto tersenyum, ia berjalan mendekati sahabatnya itu dan mendudukkan diri di sebelahnya, "Aku tahu Ino-chan!" Naruto mengacak lembut pucuk kepala sang Nyonya Uchiha.
"Ughhhh~"
"Ada apa?"
"Aku tak tahu bahwa ia akan datang secepat ini, ku rasa ia sudah tak sabar, enghh~!"
Naruto membulatkan matanya, "Apa?"
"Kontraksi Naruto-kun, aku akan melahirkan."
"Apa?" Naruto berteriak tak percaya, "Aku harus bagaimana? Ahhh Ino-chan aku harus bagaimana?"
Naruto berdiri berjalan mondar-mandir kebingungan namun Ino sendiri hanya tersenyum dengan kelakuan sang sahabat itu, "Kirim orang untuk mengabari Sasuke-kun! ahhh~ ku kira semalam hanya kontraksi biasa namun ternyata ia akan segera datang Naruto-kun!"
"Aa … aku, aku akan menyuruh seseorang untuk membawa Teme pulang secepatnya, kau di sini! Jangan panik, Ino-chan!" Naruto berlari keluar dari ruangannya, hahaha nyatanya Ino kini dapat menguasai diri agar tidak panik, ia melatih pernafasannya sambil menahan sakit yang menderanya.
"Ahh~ kenapa kau memutuskan akan keluar shari ini, Kazuki-kun …?" Ino membelai perut besarnya, rasa sakit semakin menyerangnya, keringat mengucur dari tubuhnya.
"Ino-chan! aku sudah mengabari Sakura-chan dan orangtuamu, aku akan membawamu ke Rumah Sakit."
"Tentu saja kau yang akan membawaku ke sana Naruto-kun! siapa lagi?!" Ino meringis menahan sakit dan rasa mulas pada perutnya, wanita Uchiha itu kini berada pada dekapan Naruto, Hokage ke-7 Konoha itu membopong sang Kunoichi medis melompati beberapa atap bangunan Rumah penduduk sipil Konoha, hingga akhirnya kini mereka berada di Rumah Sakit, dengan langkah tergesa ia membawa Ino ke kamar yang sudah di siapkan oleh sahabatnya di tim 7 itu.
"Sakura-chan ….!" Naruto terengah sementara Ino tengah mencengkram jubahnya kencang.
"Letakkan dia di sini Naruto!" perintah Sakura pada Naruto, ia kemudian menghampiri Ino, "Kau tidak apa-apa, Pig?"
"Hufft~! Aku mengalami kontraksi semalam, Forehead . . . tapi ku kira itu hanya kontraksi palsu seperti biasa, tapi eunghhhh~"
Sakura mengangguk mengerti, "Kau keluarlah sebentar, Naruto! aku akan membantunya untuk mengganti pakaiannya!"
"Baiklah, Sakura-chan!"
Naruto melihat kembali Ino yang nampak menahan sakit, ahh dia benar-benar tidak tega melihat kondisi wanita itu, jika saja ia bisa menggantikan kesakitan itu. dengan langkah gontai ia membuka knob pintu kamar dan di luar telah ada Inoichi dan Shion, istrinya juga Shikamaru, Choji, Hinata dan Kiba, Naruto tersenyum pada mereka dan menghampiri Inoichi yang nampak sekali khawatir.
"Paman ….!" Sapanya.
"Hokage-sama . . ., bagaimana keadaan Ino-chan? apa dia akan segera melahirkan? Dimana pria kurang ajar itu sekarang?"
"Paman, tenanglah! Ino-chan ditangani langsung oleh nenek Tsunade dan Sakura-chan! ia pasti akan baik-baik saja, Sasuke-teme sedang ku kirim untuk menjalani misi, maafkan aku!" Naruto menghela napas panjang, "Aku tidak tahu bahhwa Ino-chan akan melahirkan lebih cepat dari yang diprediksikan sebelumnya."
Mendengar pernyataan Naruto itu mau tak mau Inoichi hanya bisa pasrah dan mendudukkan kembali tubuhnya, raut kepanikan nyatanya memang menghiasi wajah pria paruh baya itu. sementara itu Shion tersenyum pada Hokage desanya itu, "Terimakasih telah membawa Ino-chan kemari secepatnya, Hokage-sama ."
"Itu sudah menjadi tugasku, Bibi." Naruto melihat sekeliling dan menghampiri Shika yang berdiri di sebelah bangku yang diduduki oleh Choji, mereka berdua nampak sekali cemas.
Naruto tersenyum penuh arti, Guru Asuma kau pasti bangga di sana …
…
Ino terlihat mencengkram sprei ranjang tempatnya berbaring, "Pig, kau pasti bisa!" bisik Sakura pada sahabatnya."
"Tapi … Sasuke-kun …"
"Dia pasti sedang dalam perjalanan pulang, kau tenang saja!"
"Baiklah, Ino!" ucap Tsunade memasang sarung tangan ke kedua tangannya, "Kau siap untuk melahirkan, Kazuki-kun ingin segera keluar dan kau harus segera 'mendorong' jika tak ingin terjadi apa-apa pada Kazuki-kun."
"Taa Taapi Shishou …" ujar Sakura yang memandang Ino dengan iba, sahabatnya itu menggelengkan kepala tak mau, "Aku tidak mau melakukannya sebelum Sasuke-kun datang!"
"Dan menyakiti Kazuki, huh?!" pekik Tsunade tak sabar, "Kau jangan egois! Sudah berapa lama kau menunggu kehadirannnya Ino?!"
"Tsunade-sama .,.. ughhhh~ aku tidak siap! Akkkkhhh!" pekiknya tertahan, sementara tangannya mencengkram dashboard ranjang rumah sakit, peluh membasahi tubuhnya, ia tetap berdiri pada pendiriannya.
"Jangan keras kepala, Pig! Ayo kau bisa!"
Ia benar-benar sudah tak bisa menahan rasa sakitnya, wanita Uchiha itu akhirnya menyerah dan mengangguk setuju, sementara Tsunade sudah memposisikan dirinya untuk membantu kelahiran Kazuki.
Braaaaaakkkkkk!
Lelaki berambut hitam legam itu membuat semua mata di ruangan itu menatapnya dengan kilatan lega, "Kau datang tepat waktu, Uchiha!" seringai Tsunade pada lelaki Uchiha itu, dengan masih terengah ia mendekati wanitanya.
"Maafkan aku terlambat!" bisiknya, mengecup lembut dahi Ino, satu tangan wanit itu kini mencengkram erat tangan sang suami, "Ku kira aku akan melahirkan tanpamu, Sasuke-kun. . .! ughhhhh~"
"Aku sudah berada di sini, hn!"
"Bayi kalian sudah tak bisa menunggu, Ino! Sasuke! lanjutkan lovey dovey kalian nanti saja!"
Sakura terkikik geli sedangkan Sasuke tetap dengan topeng stoic-nya terlihat tenag namun pada kenyataannya ia benar-benar gugup, melihat istrinya yang berjuang untuk melahirkan anak mereka seperti ini.
Ahhhhhhhhh! Tangannya benar-benar terasa sakit. Mungkin tulang-tulang tangannya akan hancur saat proses persalinan ini berakhir.
Sungguh ia tak peduli, selama Ino merasa nyaman dengan kehadirannya untuk mendampinginya melahirkan ia tak akan peduli dengan tangannya nanti, "Kau pasti bisa, Ino-chan!" bisiknya.
Ino nampak kepayahan, kelelahan dan kesakitan.
"Satu dorongan lagi, Ino!"
"Akkkkkkkkhhhhhh …."
Satu dorongan kuat dari Ino dan berakhir dengan tangisan kencang bayi pertama mereka, "Oh dia tampan sekali."
Tsunade tersenyum dan mengangkat bayi yang masih berlumuran darah itu, "Kazuki-kun!" ucap Ino lemah, air matanya menetes demi melihat putra pertamanya itu.
Uchiha Sasuke 1 dan Uchiha Ino 1. Seri.
"Kau mau memotong tali pusarnya, Sasuke-kun?" tawar Sakura pada Sasuke yang nampak tegang, ia memandang istrinya yang tersenyum sebagai tanda agar ia menerima tawaran Sakura itu.
Dengan kikuk pria itu memotong tali pusar putranya yang terhubung dengan plasenta milik Ino, ia mengamati putranya yang menangis, nampak mungil di gendongan Tsunade, "Sakura! kau bersihkan Ino dan akan ku bersihkan Kazuki-kun!"
"Baik Shishou . . ."
"Tapi aku ingin melihat putraku, Tsunade-sama!"
"Aku tidak akan membawanya kabur Ino! Aku hanya akan membersihkannya di sini!"
Sasuke benar-benar tidak dapat berkonsentrasi kali ini, Chakra miliknya dapat dirasakan seluruh ninja yang berada di Konoha. Ia benar-benar bahagia tanpa mampu mengontrol chakra miliknya sendiri.
Uchiha Kazuki telah lahir, penerusnya, pewaris Uchiha yang pada awalnya tak terpikirkan bahwa Ino lah yang akan memberikannnya keturunan dan sekarang … ia memandang wanitanya yang nampak lemah di ranjang, bahkan senyuman masih mengembang pada wajah wanita itu padahal keadaannya sekarang benar-benar miris, rambut panjangnya terurai berantakan dan basah karena peluhnya sendiri, kondisi yang ia ketahui paling di benci istrinya yang sangat mempedulikan penampilan itu.
Namun kali ini wanita itu membunuh keegoisannya dan tak mempedulikan penampilan dirinya demi Kazuki, anak mereka! Hal yang benar-benar Sasuke bangga dari seorang Ino.
Seorang Uchiha baru telah lahir malam ini, seorang Uchiha yang akan dibesarkan dengan penuh cinta dari kedua orangtuannya, Uchiha yang benar-benar berbeda.
.
.
.
.
12 Tahun Kemudian . . .
Kyaaaa~ Kazuki-kun tampan sekali . . .
Dia sagat mempesona bukan?
Ino terkikik geli mendengar teriakan-teriakan dari anak-anak perempuan seusia putranya yang hanya mendengus kesal, memasang wajah stoic khas ayahnya. Mengingatkannya akan masa lalunya bersama Sakura, ia kemudian mengacak rambut putranya gemas, "Kau memang benar-benar tampan, nikmatilah popularitasmu, nak!"
"Ibu . . .!" protesnya, "Mereka sangat berisik, aku tidak suka!" keluh pemuda yang baru saja lulus dari akademi Ninja dan memiliki Shikamaru sebagai Sensei-nya itu.
Lagi-lagi Ino yang kini sedang berjalan menenteng beberapa bahan makanan yang baru mereka beli itu tertawa dengan kelakuan anaknya, hah~ dia benar-benar seorang Uchiha dengan segala kedinginan yang ia miliki, namun pada satu waktu dia juga mampu bersikap lembut dan hangat.
Kazuki benar-benar unik, ia mewarisi rambut hitam legam sang ayah, garis wajah yang sama dengan milik Sasuke namun iris matanya berwarna biru seperti miliknya, ia berhasil membangkitkan Sharingan miliknya saat usianya 10 tahun dan dia sangat overprotective terhadap adiknya yang lahir hanya berbeda 4 tahun darinya itu, Uchiha Saichi kini telah menginjak usiannya yang ke-8 dan sukses membuat kakaknya harus mengikuti gadis itu kemana saja ia pergi.
Rambut pirang panjang, dengan iris mata onyx milik sang ayah, senyum yang menghangatkan seperti ibunya nyatanya mampu menyihir anak laki-laki seusianya untuk mendekati gadis kecil yang masih polos itu.
"Kau benar-benar mirip ayahmu, huh!"
"Tentu saja! aku 'kan anaknya, Ibu . . .?"
"Ya . . .!"
"Terimakasih karena telah melahirkanku ke dalam keluarga sesempurna keluarga kita."
"Oww~ Kazuki-kun . . .!"
Ino memeluk putra kesayangannya dengan satu tangannnya yang terbebas, erat dia memeluk sang putra yang tingginya sudah sepundaknya itu, "Terimakasih juga karena kau telah tumbuh menjadi anak yang luar biasa, Kazuki-kun! kau pandai, kau kuat dan kau menyayangi kami semua."
"Semua itu karena ayah dan ibu!"
Ino tersenyum, ia melepaskan pelukannya pada Kazuki dari dalam rumah Saichi berlari menuju kakak dan ibunya yang sedang berpelukan, "Kazuki-nii, Ibuuuuuuuuuuuuu~" teriak gadis kecil itu riang dan memeluk kaki ibunya, "Saichi-chan . . . apa kau menjadi anak yang baik selama ibu dan Kazuki-nii berbelanja?" Ino menundukkan kepalanya dan menyerahkan barang belanjaan pada Kazuki, wanita itu kemudian mencubit gemas kedua pipi gembil sang putri, "Tentu saja! tanyakan saja pada ayah!"
"Benarkah itu, Sasuke-kun?"
Sasuke mengangguk dan tersenyum. Ia benar bahagia melihat gambaran keluarganya saat ini.
Uchiha kini telah sempurna dengan kehadiran Ino, Kazuki dan Saichi.
.
.
.
.
THE END
Well finally done . Maaf kalau endingnya mengecewakan dan tidak sesuai harapan.
Sekali lagi terimakasih atas review, flame dan semacamnya, aku sangat menghargainya :D
Enjoy ^^
#VALE
