Hallo Minna #kisshug

Ohayou.. Konnichiwa.. Konbanwa..

Hana tidak bisa menentukan kapan publish. Tapi Hana berusaha secepat mungkin karena banyak ide cerita baru belum Hana corat-coret di HP hehehe. Hana harap readers review tentang NaruHinanya saja yaah. Kalau mau flame setidaknya yang membangun atau langung PM Hana aja.

Hana menulis fic ini disela-sela kesibukan Hana mengerjakan tugas kuliah sekaligus kerja dan berbisnis.

Ingin ngobrol dan lebih dekat dengan Hana bisa melalui sosmed yah. Sosmed Hana akan kasih di PM. Udah banyak yang ngobrol sama Hana di sosmed. Makasih buat ulfa, lia, shonia, dll.

BALASAN REVIEW

Guest: iya ini udah dilanjut kok. Makasih sudah review yaah :)

rionaldo: makasih. Ini sudah lanjut kok :)

Named indra: iya ini sudah lanjut :)

piupiuchan: ini sudah lanjut kok :)

otomspartax97: iya makasih juga sudah baca :)

Salsabilla12: hayoo ditebak yaah Salsa-chan :D ini sudah upload :)

megahinata: yang datang bukan Karin hehehe.. Kenapa yaah Hinata dingin sama Naruto #ikutan kepo :D

Okee cukup sampai disini cuap"nya mari langsung menuju ke cerita.

Selamat menikmati !

.

.

#_#

.

.

Disclaimer of Masashi Kishimoto

Pairing NaruHina

Rated M lebih dominan Romance

Warning: OOC, GeJe, berantakan, typo dimana-mana, jauh dari kata sempurna, lemonnya akan berjalan sesuai dengan keadaan dan jalan cerita.

HAPPY READING

Chapter sebelumnya

Kami memasuki sebuah kamar. Naruto langsung sibuk dengan ponselnya sedangkan aku hanya duduk manis di ranjang. Naruto menoleh padaku dan keluar dari kamar. Aku yang bosan menuju ke kamar mandi. Aku benar-benar tak habis pikir, dibathup sudah ditaburi bunga mawar. Aku jadi malas dan kembali ke kamar.

"Sudah selesai?" tanya Naruto yang langsung membuatku terlonjak kaget.

"Bisa tidak berhenti membuatku terkejut?" sewotku.

"Tidak bisa." jawabnya lalu berjalan menjauhiku dan menuju ke ranjang.

"Kemarilah hime!" ajaknya sambil menepuk sisi kanannya.

"Tidak."

"Aku akan menjelaskan semuanya." ujarnya dengan wajah penuh percaya dirinya dan kakiku melangkah mendekati sisi kanannya dan duduk.

Bruuk~

Tanpa seijinku dia merebahkan kepalanya di atas pahaku setelah aku duduk di sampingnya.

"Ini adalah sebuah pulau yang akan aku kelola nanti. Pulau ini menjadi wisata untuk sepasang kekasih atau suami istri yang baru menikah. Makanya semua yang ada disini aku desain seromantis mungkin." Naruto mulai menjelaskannya.

"Hn." hanya itu responku.

"Aku punya impian untuk mengelola pulau ini bersama istriku kelak. Membawanya kesini, menikmati fasilitas yang aku desain sendiri." dia memejamkan matanya.

"Ooh." aku hanya menjawab seperti biasanya.

"Kamar ini memang kamar khusus aku buat sendiri. Lihatlah ke jendela." aku hanya diam saja tak menjawab tapi menoleh ke arah jendela.

Aku baru saja sadar bahwa pemandangan di luar dapat dilihat dari kamar ini. Bahkan pegunungan, taman bunga, orang yang sedang berjemur di pantai semua dapat dilihat hanya dari kamar ini tanpa perlu keluar kamar.

"Selain itu, tepat dibawah lantai kamar ini, banyak terumbu karang yang indah beserta ikannya. Kau bisa membukanya dengan menekan tombol di dekat kamar mandi itu." aku mendengarkan semua penjelasannya dan mengikuti instruksinya dan benar saja, aku melihat sebuah tombol disana yang menyerupai cat kayu.

"Kau tau hime, kau adalah wanita pertama yang aku bawa kesini. Kaulah yang akan melahirkan anak-anakku. Kau juga yang akan menjadi istriku. Kaulah wanita yang akan memuaskanku di ranjang dan aku akan membuatmu selalu menyebut namaku saat di ranjang."

Blush..

Penjelasan Naruto membuatku malu. Aku memalingkan wajah agar semburat di pipiku tidak diketahuinya.

"Hime~" aku menoleh saat dia memanggilku.

Tanpa sadar, wajah kami saling mendekat. Nafas kami berbaur menjadi satu. Hidung kami saling bersentuhan. Bibir kami akan bersentuhan sebelum-

Braak!

Pintu kamar dibuka tanpa permisi.

"Naru- ups, maaf aku mengganggu."

Kami langsung memisahkan diri. Naruto kembali duduk di ranjang. Aku melihat gadis tadi masih berdiri di ambang pintu melihat kami dengan tersenyum.

Chapter 14

Hari Kedua Liburan

Hinata dan Naruto kembali duduk di atas ranjang. Naruto sangat kesal dengan orang yang mengganggunya tapi saat dia melihat siapa yang mengganggu, amarahnya sirna.

"Shion-chan?" sapa Naruto.

"Hai Naruto-kun. How are you, today?" Shion masuk ke kamar tanpa permisi.

"Fine. What are you doing in here, Shion-chan?" tanya Naruto dengan logat Inggrisnya.

"Ehem." Hinata berdehem.

"Oh maaf, aku tidak tau kalau kau bersama calon istrimu, Naruto-kun." Shion menatap Hinata meremehkan.

"Shion-chan, dia bukan calon istriku. Dia sudah menjadi istriku." Naruto tersenyum ke arah Hinata.

"Tentu saja sayang. Kau memang suami idaman. Aku tidak akan melepaskanmu. Cup~" Hinata mencium pipi Naruto di depan Shion.

"Shion-chan, apa yang kau lakukan disini?" tanya Naruto lagi sambil memeluk Hinata. Mereka seolah sepasang suami istri yang tak terpisahkan padahal hanya Naruto yang menganggap seperti itu. Sedangkan Hinata, dia hanya ingin membuat Shion pergi dari tempat ini secepatnya dan cemburu padanya. Selain itu, dia tidak ingin apa yang sudah dimilikinya menjadi milik orang lain.

"Aku lagi ada pemotretan disini. Temanya baju renang terbaru. Saat manajer mengatakan bahwa kau ada disini juga, aku langsung menemuimu. Aku langsung menuju ke kamarmu. Aku kira kau sendirian, ternyata kau bersama nyonya Uzumaki atau Namikaze yaah?" jelas Shion panjang lebar.

"Hahaha.. Dia akan menjadi nyonya Namikaze, Shion." Naruto mempertegas marga Hinata saat menikah nanti.

"Ya..ya..ya.. Kalau begitu aku permisi dulu yaah. Kita akan bertemu lagi nanti." Shion pergi meninggalkan kamar itu. Tapi sebelum dia keluar, dia berhenti di depan pintu. "Oya, nanti siang datanglah ke pantai. Kami akan melakukan pemotretan disana. Nanti malam, kami juga akan melakukan pemotretan gaun couple. Datanglah Naruto-kun, Hyuuga-san." setelah itu, Shion benar-benar pergi dari kamar itu.

HINATA POV

"Hime, mau keluar?" tanya Naruto setelah keadaan hening sejenak.

"Tidak." aku memalingkan wajah. Bukannya malu, tapi dada ini rasanya sesak mengingat kejadian barusan.

"Kalau begitu aku akan keluar sebentar. Nanti siang, kita akan makan siang disini dan langsung memenuhi undangan Shion-chan. Apa kau keberatan, hime?" ucap Naruto.

"Hn." jawabku.

"Aku anggap iya." setelah mengatakan itu, aku mendengar suara pintu yang dibuka dan ditutup.

Sepeninggal Naruto, aku rebahan di kamar ini. Tapi, karena lagi bad mood aku berjalan kearah kamar mandi. Tidak, aku tidak mau mandi. Tujuanku adalah benda kecil yang menempel pada dinding. Aku menekannya dan tiba-tiba lantai kayu itu terbelah. Aku tak tau bagaimana caranya, tapi perlahan-lahan lantai itu terbelah semakin lebar dan menampilkan wisata bawah laut yang penuh dengan terumbu karang yang indah serta ikan yang tinggal di sekitarnya. Aku benar-benar terpesona. Tanpa sadar, aku berjalan mendekati lantai kayu itu. Aku mencoba untuk menyentuh terumbu karang yang ada dibawahku. Tapi-

Tuk..

Tanganku menyentuh kaca. Ternyata selain berlantai kayu, ternyata dibawah kayu ada kacanya yang tebal. Mungkin ini hanya berlaku di kamar si pemilik pulau ini. Aku memandangi wisata bawah laut yang disajikan secara gratis dengan pandangan takjub.

Tok..tok..tok..

Aku membuka mata mendengar suara pintu diketuk. Aku mengerjap-ngerjapkan mata dan memandang sekeliling. Ternyata, aku tadi ketiduran.

"Hinata-sama." seseorang memanggil namaku sambil mengetuk pintu.

"Iya tunggu sebentar." jawabku sambil berjalan menuju pintu.

Cklek..

Aku membuka pintu dan kulihat seorang pelayan sedang tersenyum padaku.

"Ada apa?" tanyaku langsung.

"Maaf atas kelancangan saya. Saya hanya menyampaikan pesan dari Namikaze-sama. Beliau meminta anda memakai gaun yang ada di dalam sini dan berdandan secantik mungkin. Malam ini anda dan Namikaze-sama akan ke pemotretan Shion-san." jelas pelayan itu sambil menyerahkan kotak kado. Aku segera menerimanya dengan kening berkerut heran.

"Lalu, dimana sekarang kuning bodoh itu?" tanyaku yang langsung mendapat respon kebingungan dari pelayan tersebut. Aku segera menambahkan, "Maksudnya Namikaze Naruto dimana sekarang?"

"Tadi Namikaze-sama pergi ke pantai bersama Shion-san." jawab pelayan itu.

"Baiklah. Kau boleh pergi." tanpa menunggu pelayan itu hilang dari hadapanku, aku langsung menutup pintu. Ada yang aneh dengan diriku. Mendengar kuning bodoh itu pergi bersama Shion membuat dadaku kembali terasa sesak.

Aku melihat jam dinding, pukul 2.30 pm. Itu artinya sudah lewat dari jam makan siang. Naruto melupakan janjinya untuk makan siang. Aku langsung berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu, keluar sebentar untuk mencari restoran untuk mengisi perutku yang dari tadi pagi kosong.

Hanya butuh 15 menit untukku tampil santai dengan badan yang sudah segar sehabis mandi. Aku berjalan keluar kamar dengan membawa kunci. Aku mencari restoran yang disediakan di pulau ini dan aku menemukannya. Aku memilih duduk didekat jendela yang langsung mengarah pada pantai.

"Permisi, nona muda. Anda ingin memesan apa?" tanya seorang pelayan cowok sambil menyodorkan buku menu.

"Kau mengenalku?" tanyaku sambil menatap daftar menu.

"Tentu saja. Semua orang disini mengenal anda nona. Namikaze Hinata istri dari Namikaze Naruto." jawab pelayan itu tanpa sungkan.

"Siapa yang mengatakannya?" aku beralih menatapnya.

"Tentu saja tuan muda Namikaze Naruto sendiri." jawabnya lagi.

"Aku ingin makan masakan yang spesial disini juga minumannya." aku langsung mengalihkan pembicaraanku. Pelayan cowok tadi menulis sesuatu dibuku kecilnya dan setelah itu permisi untuk pergi.

Aku memandang kearah pantai dan tanpa sadar, aku melihatnya. Ya, si kuning bodoh itu sedang berpelukan dengan Shion. Apa-apaan itu. Aku hendak akan meninggalkan restoran, pelayan tadi menghampiriku dan menghidangkan pesananku.

"Hmm.. Toneri-san, bisa kau temani aku makan? Aku sekalian ingin bertanya apa saja menu yang ada di restoran ini." ujarku saat dia sedang sibuk menata pesananku diatas meja. Aku sedikit melirik ke tag namenya yang ada dibajunya.

"Kalau begitu, akan saya panggilkan kepala koki yang bertanggung jawab." jawabnya setelah selesai menata pesananku.

"Tidak..tidak.. aku hanya ingin ditemani dirimu." aku langsung menyantap makananku dengan Toneri yang menjelaskan semua menu yang ada dilist.

END HINATA POV

Hinata menyantap makanannya tanpa peduli sekitar. Sebenarnya Hinata menyadari bahwa dari tadi sejak Toneri duduk bersamanya ada yang mengawasinya. Dia pura-pura tak menyadarinya.

"Toneri-san, terima kasih sudah menemaniku." ujar Hinata setelah selesai makan dan membungkuk memberi hormat. Hinata juga membungkuk kearah pelayan yang memperhatikannya.

"Oya, bisa minta tolong panggilkan oranh yang bertanggung jawab atas restoran ini?" tanya Hinata pada Toneri.

"Yang bertanggung jawab disini ada 2 yaitu Iruka-san dan tuan muda sendiri. Apa perlu saya menghubungi Iruka-san atau memanggil tuan muda, nona?" jawab dan tanya Toneri balik.

"Tidak perlu. Kau temani aku sekarang!" perintah Hinata yang langsung berjalan menuju keluar. "Keluarlah! Atau aku akan memecatmu." ancamannya membuat Toneri langsung mengikutinya.

Hinata berjalan menyusuri pantai. Dia sengaja menjauhi kerumunan orang yang sedang melakukan pemotretan. Tidak ada yang bicara diantara Toneri maupun Hinata. Hinata menyadari kalau dari arah kerumunan pemotretan itu ada sepasang mata yang mengawasinya dengan intens. Hinata tak ambil pusing bahkan terkesan acuh tak acuh.

"Aku menyuruhmu mengikutiku untuk menjelaskan semua yang kita lalui, bukan?" Hinata memecah keheningan.

"Ma..maaf nona. Saya hanya merasa-"

"Jika kau merasa takut pada tuan mudamu, bukankah masih ada nona mudamu, hmm?" potong Hinata. Toneri yang mendengarnya hanya meneguk ludahnya susah payah dengan perubahan sikap Hinata.

"A..ano-"

"Sudahlah. Aku mau ke kamar dulu. Kau ikutlah denganku. Ada yang ingin aku lakukan." Hinata langsung memutar arah menuju kamarnya yang langsung diikuti Toneri.

NARUTO POV

Aku meninggalkan Hinata sendirian di dalam kamar. Shion langsung menyeretku tanpa penjelasan.

"Shion-chan, tunggu!" Aku menahan langkahnya.

"Tunggu apa lagi Naru-kun?" Shion menghadapku.

"Kita mau kemana? Aku tidak bisa meninggalkan Hinata sendirian." tanyaku.

"Kita akan melakukan pemotretan seperti biasanya saat di London." jawabnya polos yang membuatku mengangkat alisku bertanda bingung. Sedangkan dia hanya memandang dengan memohon.

"Shion-chan, aku ngerti maumu. Cuma kan sekarang aku lagi liburan bersama Hina-" ucapanku terpotong dengan pertanyaan Shion yang membuatku kalah.

"Apa kau melupakanku~" jika Shion sudah mengatakan hal ini aku akan kalah dan ujung-ujungnya hanya menurutinya sampai dia sendiri yang bosan.

"Baiklah." aku pasrah dan mengikuti tarikannya.

Sebelum itu, aku mengetik sesuatu di ponsel pintarku. Mengirim pesan untuk mengantarkan baju pesananku untuk Hinata nanti malam pada salah satu pelayanku.

Shion adalah model internasional. Semua orang bahkan mengenalnya. Dia baik. Dia tidak sombong terhadap para fansnya. Bahkan dia mendapatkan kebebasan untuk berpasangan dengan siapa saat pemotreran jika itu tema pasangan. Hal itulah yang membuatnya selalu memilihku sebagai pasangannya dan juga menyebabkan berita kalau kita pacaran. Ada juga yang mengatakan kalau kita akan menikah. Sebenarnya, Shion itu adalah model yang bekerja secara profesional. Walaupun bukan aku yang menjadi pasangannya dia tetap mau. Selain sebagai model, dia juga menjadi aktris dan bintang iklan. Kayaknya kalau diceritakan tentang Shion pasti akan panjang. Intinya dia adalah sahabatku yang bersikap kekanak-kanakan.

Sesampainya di lokasi pemotretan, aku langsung mengganti kostum yang sudah disediakan. Aku memandang sekitar dan melihat bahkan kamarku dan Hinata berada di depan lokasi. Shion langsung menarikku dan kami berpose seperti yang diarahkan sekali-kali melihat kearah jendela kamarku.

"Naru-kun, kau lihat apa?" tanya Shion tiba-tiba.

"Tidak ada." jawabku sekenanya.

"Kalau begitu profesionallah." Nah, ini dia Shion yang selalu serius saat bekerja.

Saat sedang sibuk pemotretan, aku kembali melihat kearah jendel. Mank saphireku melihat Hinata. Dia berdiri di dekat jendela. Dia seperti menatapku juga. Aku sedikit melonggarkan pelukanku pada Shion dan mundur.

"Naru-kun?" panggilan Shion mengalihkan pandanganku.

"Kenapa menjauh?" tanya Shion lagi. "Baiklah kita istirahat 5 menit." lanjut Shion.

"Naruto-kun kenapa tadi menjauh?" tanya Shion setelah mereka duduk berdua di tepi pantai.

"Maaf, tadi aku hanya kurang konsentrasi." jawabku sekenanya. Entah kenapa, aku hanya tidak ingin Hinata melihatku berpelukan bahkan bersentuhan badan dengan orang lain.

"Naru-kun pasti capek karena perjalanan jauh. Maaf yah, Naruto-kun. Aku hanya tidak ingin disentuh oleh pria lain." ujarnya memelas.

"Iya tidak apa-apa kok Shion-chan. Nah, gimana kalau kita lanjut lagi pemotretannya biar aku bisa istirahat."

"He'em." dia hanya mengangguk setuju.

Selanjutnya sesi pemotretan kembali berlanjut. Aku melihat ke arah jendela kamarku, disana Hinata sudah tidak ada. Aku kembali fokus pada pemotretan. Tapi hal itu tak bertahan lama, saat aku lihat Hinata keluar dari kamar. Aku memperhatikannya dari jauh sambil tetap fokus pada pemotretan.

Hinata berjalan dengan santainya sambil melihat pemandangan sekitar. Tak jarang mata kami sering bersirobok tapi Hinata seolah tak peduli. Aku melihatnya memasuki restoran. Aku melihat dia sangat dekat dengan Toneri. Aku menyadari sikap Toneri yang awalnya enggan karena tatapanku. Aku melihat Hinata sepertinya meminta Toneri untuk jalan-jalan. Aku terus mengawasi mereka berdua sampai akhirnya Hinata kembali ke kamar dengan Toneri tetap mengikutinya.

Aku mulai waspada saat Toneri mengikuti Hinata. Aku hendak berjalan menghentikan langkah Toneri, tapi..

"Naruto-kun, bagaimana setelah ini kita latihan pemotretan untuk selanjutnya?" tanya Shion yang membuatku mengalihkan perhatian.

"Sepertinya aku tidak bisa Shion-chan." aku menatap Shion yang mulai menatapku dengan tatapan memohon. "Ayolaah Shion. Aku janji, nanti malam akan datang kok." janjiku.

"Baiklah. Tapi kau harus janji untuk itu." Shion memajukan jari kelingkingnya dan aku langsung menyambutnya dengan tersenyum.

"Aku janji." ujarku.

Setelahnya, aku langsung menuju ke kamar. Aku sudah tak melihat lagi Toneri dan Hinata. Aku semakin mempercepat langkahku. Sampai akhirnya aku tiba di depan pintu kamar.

Aku yang hendak membuka pintu, tiba-tiba pintu terbuka dan terlihatlah Toneri disana.

"Minggir kau!" perintahku sambil mendorongnya keluar dari kamar. Tanpa menoleh padanya, aku langsung menutup pintu kamar dengan membantingnya.

END NARUTO POV

HINATA POV

Aku mendengar Toneri keluar dari kamarku. Tapi, aku juga mendengar suara Naruto disana. Aku tak tau apa yang terjadi diluar karena sekarang aku sedang mempersiapkan diri untuk hadir ke acaranya Shion.

Braak!

Suara pintu yang ditutup dengan keras membuatku terkejut. Aku segera cepat-cepat menyelesaikan mandi dan segera mengetahui apa yang terjadi di luar.

"Hyuuga! Cepat kau keluar!" teriak Naruto. Aku baru pertama kali dipanggil Hyuuga oleh Naruto.

Tanpa memikirkan apa yang terjadi selanjutnya, aku segera memakai yukata mandi yang disediakan di kamar mandi ini dan keluar.

"Ada apa?" tanyaku saat melihat Naruto berdiri di tengah ruangan.

"Hyuuga, aku kira kau adalah wanita terhormat yang bisa menjaga diri." ucapan Naruto membuatku tak mengerti.

"Apa maksudmu?" tanyaku.

"Kau sama seperti wanita jalang lainnya yang mengundang seorang cowok ke kamar kita padahal kau tau, kau sudah memiliki seorang suami. Kau berkain dibelakangku." cerca Naruto. Aku sekarang mulai paham apa yang dimaksudnya.

Aku sekarang mengerti akan apa yang terjadi selanjutnya. Aku yang awalnya tenang-tenang saja mulai terpancing emosi saat dia merendahkanku.

"Kau bukan suamiku." ucapku penuh penekanan.

"Kau akan menikah denganku. Seharusnya kau bisa menjaga dirimu. Kau itu sama seperti wanita jalang." Naruto semakin marah dan aku semakin murka sampai pada akhirnya.

Plaak

Aku menamparnya. Aku benar-benar menamparnya tanpa ada rasa sesal sama sekali.

"Kau sama sepertiku. Bahkan kau lebih hina dariku. Jangan merasa sok suci bahkan menganggap dirimu seorang suami yang baik. Kau lebih menjijikkan. Kau dengan suka rela meninggalkanku dan datang ke pemotretan bersama Shion. Bertelanjang dada bahkan berpelukan mesra dengannya. Asal kau tau, tuan muda Namikaze Naruto yang terhormat. Toneri bersamaku karena aku ingin dia menemaniku berjalan-jalan sekaligus menjelaskan ini dan itu. Awalnya dia menolak karena menghormatimu, tapi aku memaksanya karena KAU. Iya, karena KAU meninggalkanku untuk wanita lain bahkan melupakan janjimu sendiri." aku menumpahkan semua yang ada dipikiranku.

Setelah itu, aku langsung pergi meninggalkan kamar itu dengan hanya memakai yukata mandi. Aku sudah tak peduli. Aku benar-benar ingin pulang saat ini tanpa menunggu lusa. Aku sudah muak bersamanya.

Aku berjalan menuju ke restoran. Ternyata disana sudah banyak pengunjung. Tanpa menghiraukan tatapan mereka, aku langsung berjalan menuju kasir dan menyuruh mereka untuk menyiapkan sebuah kamar untukku.

"Tapi nona, bukankah?"

"Lakukan apa yang dia mau." perintah seorang pria paruh baya.

"Iruka-san?" tanyaku.

"Iya nona Hinata. Ini saya." jawab Iruka sambil tersenyum.

"Bagaimana bisa?" tanyaku bingung.

"Saya akan menceritakannya saat nona sudah mendapatkan kamar. Saya juga sudah memerintahkan untuk membawa semua barang nona." Iruka membawaku ke salah satu kursi yang terdekat. Tiba-tiba seorang pelayan berbisik pada Iruka-san yang langsung dijawab anggukan kepala.

"Nona, ayo kita ke kamar." ajaknya

"Hinata. Tolong panggil aku Hinata." jawabku sambil tersenyum.

"Baiklah. Kau boleh memanggilku paman. Apa kau setuju, Hinata-chan?" dia mengulurkan tangan.

"He'em paman Iruka." aku menyambut uluran tangannya dan kami pun pergi ke kamar.

Sesampainya di kamar, Iruka menyuruhku untuk memasuki kamar lebih dulu.

"Ne Hinata-chan, kamu masuk saja duluan. Paman masih ada urusan di luar." pinta Iruka dan aku hanya menurutinya.

"Ano, paman. Tolong jangan bilang pada Naruto kalau aku ada disini." aku menghentikan langkahnya.

"Tentu saja. Selamat sore." dan setelah itu Iruka menghilang dari pandanganku.

Aku langsung memasuki kamar itu dan mengganti pakaian. Aku langsung merebahkan diri di kasur. Kamar yang aku tempati sekarang sangat beda dengan kamar Naruto. Tapi cukup membuatku tenang. Aku mulai memejamkan mata sampai terdengar suara.

Tok..tok..tok..

"Maaf nona Hinata, saya disini hanya untuk mengantarkan pakaian anda."ujar seseorang yang berada diluar itu.

Aku mengernyitkan kening bertanda heran. Bagaimana tidak heran kalau pakaianku sudah lengkap berada disini dan seseorang mengantarkan pakaianku yang lain.

"Iya tunggu sebentar." aku beranjak dari kasur dan membuka pintu.

"Ini pakaian anda, nona. Saya juga diperintahkan oleh Iruka-san untuk mengantarkan tiket ini. Iruka-san juga bilang maaf karena tidak bisa memberikan langsung. Banyak yang harus dia urus saat tuan muda tidak turun tangan." jelas pelayan itu.

"Tuan muda?" tanyaku.

"Iya nona."

"Memang kemana dia?" tanyaku penasaran.

"Saya kurang tau. Tapi dari gosip yang saya dengar, tuan muda sedang berselisih dengan nona muda yang membuat mereka pisah kamar. Padahal beberapa minggu lagi mereka menikah." ujar pelayan itu.

"Kau mengenal nona muda itu?" dia menggeleng. "Lalu kenapa kau mengatakan mereka akan menikah?" aku mulai berasumsi jika pelayan ini tidak mengenalku.

"Iruka-san yang bilang kalau mereka akan menikah beberapa minggu lagi. Maaf nona, saya pelayan baru disini. Tapi dari gosip yang saya dengar, namanya Hinata Hyuuga. Dia adalah pewaris tunggal dari Hyuuga Corp. Dia katanya cantik dan baik. Katanya mereka berselisih karena adanya nona Shion model internasional. Katanya, nona Hinata ada diantara kita. Tapi, aku belum pernah bertemu dengannya hari ini." pelayan itu bercerita dengan berapi-api dan asumsiku benar, dia adalah pelayan baru.

"Baiklah terima kasih sudah bercerita dan mengantarkan pakaian ini. Apa yang kau inginkan saat bertemu dengan nona Hinata?" tanyaku yang sambil tersenyum. Pelayan ini benar-benar polos.

"Tentu saja minta tanda tangan. Dengan punya tanda tangan nona Hinata, aku bisa pamer kalau aku sudah bertemu dan berbicara dengannya." jawabku jujur.

"Baiklah. Kau tunggu sebentar." aku masuk ke dalam kamar. Mencari kertas dan pena. Aku melihat diatas nakas ada note dan pena. Aku menandatangani lembar awal note itu dan merobeknya. Aku kembali keluar. Aku melihat pelayan itu masih menantiku.

"Maaf lama, ini aku berikan padamu. Lain kali, kenalan dulu sama orang yang kamu ajak bicara yah." aku melihatnya mengernyitkan kening dengan mengambil kertas yang aku berikan. "Kenalkan, namaku Hinata Hyuuga." lanjutku dan langsung menutup pintu sambil tersenyum. Untuk sesaat aku tak mendengar apapun tapi-

"Kyaaaa~ nona Hinata, terima kasih atas tanda tangannya. Sekali lagi terima kasih. Kyaaa~ kau yang terbaik dan tercantik. Nona Shion kalah. Aku akan mendukungmu nona." teriaknya dan aku hanya terkikik mendengarnya.

Aku meletakkan makan malam di nakas. Aku juga meletakkan baju bukan lebih tepatnya gaun diatas kasur. Aku melihat tiket yang ada kertasnya. Seperti ini tulisannya:

Datanglah Hinata-chan. Aku tahu kau sedang bertengkar dengan Naruto-kun. Tapi, datanglah karena undanganku.

Iruka

Aku langsung paham untuk apa gaun ini. Ini gaun tadi yang diantar pelayan untuk aku pakai saat acara malam nanti bersama Naruto. Aku hendak mengabaikannya tapi dering ponselku berbunyi.

"Moshi-moshi. Ada apa paman?" jawabku saat kulihat Iruka yang menelfon.

"Hinata-chan, aku tahu kamu tak mau ke acara nanti malam. Tapi, kumohon datanglah atas undanganku. Apa kau tega membiarkan pamanmu ini sendirian diacara yang penuh anak muda, hmn?" tanya Iruka diseberang sana tanpa basa basi.

"Baiklah. Aku akan datang." putusku.

"Terima kasih Hinata-chan. Oya, terima kasih juga sudah memberikan tanda tanganmu pada fansmu itu. Bye." sambungan terputus.

Aku melihat jam yang ada di dinding. Pukul 6 pm. Aku langsung mengganti baju dengan gaun pemberian dari Naruto. Aku juga memakai make up yang elegan tapi tidak mencolok. Aku mencoba menata rambutku sedemikian indah dan sesuai dengan gaun yang aku kenakan. Setelah semua selesai, aku melakukan sentuhan akhir yakni, memakai aksesoris dan parfum. Tak lupa sepatu high heels. Aku kembali melihat jam dan hal itu membuatku terkejut. Aku telat 30 menit dari acara pembukaan. Aku segera keluar kamar dengan penampilan yang sempurna, bagiku.

END HINATA POV

Saat MC akan membacakan acara selanjutnya, tiba-tiba seseorang memasuki ruangan. Semua mengalihkan perhatian kepada seseorang itu. Semua mata memandang takjub bahkan saking takjubnya tak ada suara yang terdengar. Hanya ada suara ketukan high heelsnya dengan lantai marmer.

Seorang wanita berjalan memasuki ruangan saat melihat ada bangku kosong yang memang khusus untuknya. Wajah yang cantik mempesona dengan make up yang elegan tapi tidak mencolok. Rambut yang dibuat keriting gelombang dengan dua sisi kanan dan kirinya dibiarkan lurus. Gaun pesta warna biru tanpa lengan dengan model dress yang bagian bawahnya menjuntai hingga menutupi kaki. Gaun yang penuh dengan taburan mutiara dan sebuah pita berwarna putih disamping gaun membuat gaun itu tampak elegan. Matanya amethystnya memancarkan aura kebangsawanan. Ya, dialah Hinata Hyuuga.

Hinata berjalan begitu anggun diatas karpet merah. Dia berjalan menuju satu-satunya kursi yang kosong di ruangan itu.

"Naruto-kun, boleh aku duduk disampingmu?" tanya Hinata saat mengetahui kalau kursinya disamping Naruto. Dia tau harus bersikap mesra malam ini karena banyak wartawan meliput.

"Tentu saja, hime." Naruto berdiri mempersilakan Hinata duduk dan hal itu tak luput dari sorotan media.

"Terima kasih sudah datang dan memakai baju itu, Hinata-chan." bisik Naruto setelah kembali duduk. Acara pun kembali berlanjut.

"Iruka-san yang memintaku." jawab Hinata dengan wajah tersenyum. Naruto hanya membalas dengan tersenyum kecut.

Malam ini adalah acara dimana Shion sedang melakukan jumpa pers serta perayaan 3 tahun Shion berada di dunia entertaiment. Pertanyaan demi pertanyaa dijawab dengan sangat indah oleh Shion, sampai pada pertanyaan yang membuat semua orang yang berada disana terkejut.

"Nona Shion, apa hubungan anda dengan Naruto Uzumaki?" tanya wartawan.

Shion yang mendapat pertanyaan itu tidak langsung menjawab. Dia hanya tersenyum dan kemudian menjawab, "Tanya saja pada orangnya. Naru-kun ada disini."

Mendengar jawaban Shion, sang MC mempersilahkan Naruto untuk ke depan.

"Hime, ikutlah denganku." ajak Naruto pada Hinata yang tampak tak peduli.

"Kau yang dipanggil bukan aku." jawab Hinata tak peduli.

"Hyuuga, jangan membuatku melakukan hal yang bisa membuat citra kita dan keluarga jelek di depan publik." Naruto mengatakan dengan nada yang menahan amarah.

"Jangan sekali-kali memanggil nama keluargaku dengan nada seperti itu." Hinata beranjak berdiri.

"Ne Naru-kun, kau dipanggil. Boleh aku ikut juga?" tanya Hinata dengan nada manis sambil menggandeng tangan Naruto.

"Tentu saja, hime. Ayo sayang!" Naruto membawa Hinata menuju ke tempat Shion. Hal itu tak luput dari sorot kamera.

"Naruto-sama, apa hubungan anda dengan nona Shion?" tanya wartawan tadi sesaat setelah NaruHina duduk di kursi.

"Tentu saja kami hanya berteman. Oh tidak, kami lebih dari teman. Kami adalah sahabat." jawab Naruto dengan tersenyum.

"Lalu, kenapa anda tadi meninggalkan Hinata-sama demi melakukan pemotretan dengan nona Shion." wartawan tadi melanjutkan pertanyaannya.

"Kami juga melihat Hinata-sama berjalan bersama seorang pria yang ternyata pelayan di tempat ini. Kenapa anda tidak memisahkan Hinata-sama?"

"Bagaimana tanggapan anda, Hinata-sama tentang hubungan Naruto-sama dengan nona Shion?"

"Hinata-sama, bukankah kalian datang kemari untuk berbulan madu. Lalu kenapa sampai ada kejadian seperti ini?"

"Apa sebenarnya kalian bertunangan hanya untuk kepentingan kalian masing-masing?"

"Atau kalian melakukan penipuan public?"

Berbondong-bondong wartawan memberikan pertanyaan yang membuat Naruto harus menelan ludah. Dia tak habis pikir, jika meninggalkan Hinata dan menuruti Shion membuat para wartawan curiga bahkan beranggapan yang tidak-tidak. Suasana kembali hening.

"Menurutku hubungan persahabatan adalah tempat dimana kita bisa menjadi diri kita sendiri. Jika Shion-san meminta Naruto melakukan pemotretan bersama, mungkin dia beranggapan bisa menjadi dia apa adanya bersama suamiku. Bahkan tema pemotretan tadi terbilang cukup vulgar. Aku tau kalau Shion-san seorang model yang profesional. Memang kebanyakan foto vulgar bersama Naruto-kun, tapi ada juga fotonya bersama model pria lain." jawab Hinata yang membuat Naruto tersenyum.

"Kami memang berbulan madu, tapi seperti kata istriku, Shion membutuhkan aku. Kami tidak melakukan penipuan public walau kita bisa. Kami saling mencintai masing-masing. Memang awalnya kami dijodohkan. Tapi semakin lama, cinta diantara kita mulai tumbuh. Tadi aku yang meminta istriku untuk minta ditemani salah satu pelayan disini." lanjut Naruto.

"Satu pertanyaan dari saya, apa kalian pisah kamar?" tanya salah satu wartawan perempuan.

"Kenapa anda bertanya seperti itu?" Naruto balik bertanya.

"Maaf Naruto-sama kalau pertanyaan saya menyinggung perasaan anda. Tapi dari kacamata saya, kedatangan anda dan Hinata-sama tidak bersamaan. Bahkan arah kalian datang pun juga berlawanan. Hinata-sama, apa semua perkataan saya benar?" jelas wartawan itu sekaligus meminta dukungan Hinata.

"Tanyalah pada Naruto-kun." jawab Hinata. Dia tahu bahwa Naruto yang berada disebelahnya berusaha mati-matian menahan amarah.

Cuap~

Tanpa permisi Naruto mencium Hinata di depan para wartawan. Hal ini tak luput dari sorotan media. Sepertinya malam ini adalah malam milik Naruto dan Hinata bukan Shion. Sejak tadi, merekalah yang menjadi sorotan media. Semua yang ada disana terkejut bahkan flash dari kamera tak berhenti membidik mereka yang sedang berciuman.

Naruto melepaskan ciumannya dan kembali mencium bibir Hinata sekilas.

"Iya, kami pisah kamar sejak tadi sore karena masalah cemburu. Benar kan, hime?" jawab Naruto.

"Tentu saja, Naruto-kun." Hinata membenarkan perkataan Naruto. "Aku mencintaimu, sayang." lanjut Hinata sambil tersenyum dan melirik kearah Shion yang tampak kesal.

"Aku juga mencintaimu, sayang." balas Naruto sambil mencium Hinata dan mendapat sambutan dari sang empu.

Percayalah bahwa yang dilakukan Naruto dan Hinata malam ini hanya akting. Tanpa mereka tahu akibat dari drama mereka, sepasang suami istri sedang tersenyum-senyum sendiri.

"Minato-san, apq kau melihat anak-anak kita di TV?" tanya Hiashi melalui ponsel pintarnya. Dia sedang berada di kamar bersama dengan istrinya. Mereka sedang menonton TV yang menyiarkan anaknya.

"Tentu Hiashi-san. Bagaimana kalau kita mempercepat pernikahan mereka. Kushina yang melihat mereka begitu mesra ingin segera mempunyai cucu. Apa kau keberatan, Hiashi-san?" jawab Minato. Seperti yang dilakukan Hiashi, Minato sedang menonton acara anaknya. Tapi bedanya, Kushina tidak menemaninya.

"Sama sekali tidak. Begitu juga dengan istriku. Kita akan melakukan jumpa pers setelah menentukan tanggal pernikahan mereka. Kita akan membuat kejutan untuk anak-anak kita. Kita akan bertemu di tempat biasa. Apa kau setuju, Minato?"

"Baiklah kami setuju, Hiashi-san. Kalau begitu selamat malam." Setuju Minato.

"Baiklah. Nanti aku kabari waktunya. Selamat malam." sambungan berakhir.

"Kau benar-benar hebat menahan suaramu agar tetap tenang, Minato-kun." ujar Kushina.

"Uuh~ diaml aah~ Kushinaah~. Akuh~ menang." jawab Minato setelah meletakkan ponselnya.

"Baiklah, aku menyerah." ucap Kushina keluar dari balik selimut dan berbaring tanpa busana menantang suaminya.

"Kau benar-benar istri yang pengertian." Minato langsung menindihi Kushina.

Kushina benar-benar tidak menemani Minato karena dia sedang sibuk dengan 'senjata' suaminya.

Kembali ke NaruHina

Pernikahan Naruto dan Hinata telah direncanakan oleh orang tua mereka. Tinggal menunggu saat orang tua masing-masing mengundang mereka dan mengatakan jumpa pers bersama-sama.

Acara jumpa pers Shion telah usai. Sebentar lagi dia akan melakukan pemotretan bertema gaun couple. Sudah ada model pria yang akan menemani Shion malam ini. Tapi dia menginginkan melakukan pemotretan bersama Naruto. Apalagi, salah satu gaunnya adalah bridge.

Manager Shion mencoba berbicara dengan Naruto tapi keduluan sang fotografer. Fotografer Shion juga meminta Naruto dan Hinata untuk menjadi salah satu model malam ini. Shion yang mendengar penjelasan managernya hanya diam. Dia tidak bisa menolaknya jika itu permintaan dari atasannya. Bahkan tadi sebelum managernya datang, Shion sudah mendapatkan kabar ini.

Lokasi pemotretan

"Selamat malam semuanya. Perkenalkan nama saya Daniel biasa dipanggil Dani. Malam ini, saya mendapat permintaan dari atasan untuk membawa Naruto-sama dan Hinata-sama juga dalam pemotretan malam ini. Saya mohon keprofesionalannya." ujar sang fotografer sambil berojigi.

Hening sesaat. Tiba-tiba Naruto dan Hinata memasuki ruang pemotretan. Naruto menggandeng tangan Hinata. Hinata memberikan senyuman manisnya pada semua kru dan beberapa wartawan dan fans Shion.

"Baiklah. Naruto-sama, ijinkan saya menjelaskan beberapa hal disini." ijin sang fotografer.

"Tak perlu meminta ijin dariku. Kami disini adalah seorang model. Jadi, perlakukan kami seperti mereka juga dan jangan pakai embel-embel -sama." jawab Naruto.

"Terima kasih Naruto-san. Pemotretan malam ini bertema "kaulah pilihanku". Kita akan melakukan beberapa adegan. Yang pertama para model memakai gaun couple. Yang kedua para model pria melamar si cewek dan gaun berganti. Yang ketiga para model memakai gaun pengantin. Untuk pose dan yang lainnya bisa dibicarakan dengan pasangan masing-masing di ruangan wardrobe. Saya akan memberikan waktu 30 menit mengganti pakaian dan berdiskusi. Shion-chan dan Samuel-kun, gaun kalian sudah kami berikan pada manager masing-masing. Kalian hanya perlu membuat pose seromantis mungkin tapi natural. Untuk Naruto-san dan Hinata-san kami sudah menyiapkan gaun kalian di kamar Hinata-san. Iruka-san yang memintaku. Dia juga sudah mengurus keperluan kalian." sang fotografer menjelaskan panjang lebar. Dia benar-benar bersikap sangat profesional. Tentu saja, dia kan fotografer bertaraf Internasional.

"Baiklah." jawab para model, minus Hinata yang hanya menganggukkan kepala.

Di kamar Hinata

Di dalam kamar itu sudah ada beberapa orang, salah satunya Iruka.

"Iruka-sensei, aku butuh penjelasan." ucap Naruto saat baru tiba di kamar Hinata.

"Naruto-kun, aku tak punya penjelasan. Kalian hanya perlu tampil mempesona dan memikirkan pose kalian saat di depan kamera. Nah, sekarang pakai ini!" Iruka menyerahkan baju pada Hinata dan Naruto.

Sedangkan Naruto, dia hanya menurut begitu juga dengan Hinata. Hinata berganti pakaian di dalam kamar, sedangkan Naruto di dalam kamar mandi. Iruka, tentu saja dia menunggu di luar.

Hinata sudah memakai gaunnya. Dia sudah mulai di make over dan Naruto keluar dari kamar mandi. Dia juga sedikit di make up dan dirapikan bajunya. Naruto sibuk dengan ponselnya sambil menunggu Hinata selesai di make up. 20 menit Hinata selesai dipermak. Gaun yang dia pakai sewarna dengan rambutnya dengan panjang sampai mata kaki. Memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sempurna. Terdapat belahan di kanan dan kiri sampai ke paha. Rambutnya dibiarkan seperti tadi hanya ditambah jepitan rambut bunga lavender. Make up sedikit ditambah. Naruto memakai baju kasual yang sewarna dengan baju yang dipakai Hinata. Hinata dan Naruto keluar dari kamar tanpa kata. Iruka yang sedang berada diluar sangat terpesona dengan penampilan calon tuan dan nona mudanya ini.

"Kalian benar-benar perfect. Oya, baru saja Minato-sama menghubungiku. Beliau bilang kalau dia dan keluarga Hyuuga menonton acara kalian. Jadi, tolong nanti berposelah sebaik mungkin yah. Kalian kan sudah latihan tadi." ujar Iruka. "Baiklah, mari kita kembali ke tempat pemotretan. Malam ini, aku akan menjadi manager kalian." Iruka berjalan mendahului tanpa peduli dengan ekspresi mereka.

Sesampai di tempat pemotretan, semua kembali terpesona dengan penampilan pasangan NaruHina setelah tadi terpesona pada pasangan SS, ShionSamuel.

Pasangan SS melakukan pemotretan pertama. Semua berdecak kagum saat melihat pose mereka yang sangat alami bahkan seolah mereka sepasang kekasih sungguhan. 15 menit waktu pemotretan mereka telah usai. Saat ini giliran NaruHina.

"Aku berharap penuh pada kalian." Iruka memberikan semangat.

"Ayo hime. Sekarang giliran kita." ajak Naruto menggandeng tangan Hinata.

"Hn." hanya itu respon yang diberikan Hinata.

Pemotretan pertama untuk pose pertama NaruHina memilih anak tangga. Hinata menaiki tangga, Naruto juga menaiki tangga. Sang fotografer stand by dengan kameranya. Ditangga Naruto dan Hinata berhadapan. Naruto bersandar di pinggir anak tangga. Hinata berjalan mendekati Naruto dan menyenderkan badannya ke dada bidang Naruto, tangannya dia bawa untuk memeluk leher Naruto seolah hendak berciuman, lalu dia menoleh pada Naruto dan tersenyum.

Jepret..jepret..

Naruto duduk di anak tangga dan Hinata duduk dipangkuannya. Hinata menyilangkan kakinya sehingga pahanya terlihat. Naruto segera memeluk Hinata dan Hinata membalas memeluk leher Naruto. Jarak mereka tinggal sedikit.

Jepret..jepret..

Naruto kemudian mencium bibir Hinata dan semakin mempererat pelukannya.

Jepret..jepret..

Pose selanjutnya, mereka memilih sofa. Hinata duduk dibawah sofa sedangkan Naruto tiduran diatas sofa. Hinata mendongakkan kepalanya saat Naruto memanggilnya dan Naruto kembali mencium bibir Hinata. Naruto benar-benar ketagihan dengan rasa bibir Hinata.

"Ini pose terakhir kita disesi pertama. Jadi, tolong berikan yang terbaik." ujar sang fotografer.

Pose kali ini, pasangan NaruHina dan SS akan melakukan pemotretan bersama. Obyek para model adalah sofa. Naruto dan Hinata berhadapan dengan sangat dekat satu sama lain. Mereka saling menempelkan dahi dan tersenyum. Sedangkan Samuel memeluk Shion, Shion meletakkan tangannya di dada bidang Samuel.

Jepret..jepret..

NaruHina kembali ke kamar Hinata. Mereka kembali berganti kostum. Rambut Hinata kali ini disanggul dan mahkota kecil menghiasinya. Hinata memaka kebaya modern yang menjuntai hingga mata kaki berwarna biru langit. Gaun itu berekor panjang dibelakangnya. Kalung berbandung batu sapphire menghiasi leher jenjang Hinata. Naruto memakai baju sewarna dengan gaun yang dikenakan Hinata. Mereka keluar dari kamar tanpa latihan atau pun berbicara.

Seperti pemotretan pertama, pasangan Shion dan Samuel lah yang melakukan pemotretan pertama dilanjutkan pasangan NaruHina. Pemotretan kedua berlatar belakang di sebuah restoran. Beberapa fans para model mendukung pemotretan kali ini. Mereka berperan sebagai pengunjung.

Giliran pemotretan pasangan NaruHina. Naruto memeluk Hinata dari belakang tanpa menoleh pada kamera. Ekor dari gaun Hinata ditata agar memanjang sehingga menutupi sepatu yang dikenakan Naruto.

Jepret..jepret..

Pose kedua, Naruto bersimpuh dengan memegang tangan Hinata dan menciumnya. Hinata tersenyum dengan wajah merona.

Jepret..jepret..

Pose ketiga, Naruto memeluk Hinata dari depan. Dia sedikit membaringkan tububnya diatas meja, sehingga tubuh Hinata condong ke depan. Hinata bertumpu pada kedua kakinya. Wajah mereka sangat dekat. Mereka tersenyum seolah ada interaksi diantara mereka.

Jepret..jepret..

Pemotretan kedua selesai. Hinata dan Naruto kembali ke kamar tanpa peduli ocehan Iruka. Naruto sedikit membanting pintu kamar Hinata.

"Aku minta siapa saja, bawa semua barang Hinata ke kamarku nanti saat pemotretan ketiga dimulai." Naruto memberi perintah pada orang yang ada disana. "Berikan bajunya!" lanjutnya. Entah apa yang membuat Naruto marah-marah.

Iruka yang mendengar suara keributan, langsung masuk ke dalam kamar.

"Ada apa ini?" tanyanya heran melihat wajah ketakutan dari orang-orang kepercayaannya. Apalagi aura dalam kamar seperti kuburan.

"Iruka-sensei, perintahkan bawahanmu untuk menyiapkan kepulanganku ke Jepang bersama Hinata. Besok siang kita akan berangkat." perintah Naruto lagi.

"Besok pagi." ralat Hinata yang sedang di make up.

"Ah iya, kita akan pulang pagi-pagi sekali." Naruto membenarkan perkataan Hinata.

*flashback selesai pemotretan kedua*

Naruto menggandeng tangan Hinata sampai menuju kamar. Dalam perjalanan senyap tak ada pembicaraan. Sedangkan Iruka seperti tadi masih berbicara dengan sang fotografer.

"Aku ingin kita pulang." ujar Hinata.

"Iya, kita akan pulang lusa." jawab Naruto.

"Aku ingin kita pulang besok. Jika kau masih ingin tetap disini dan bersenang-senang dengam Shion-san silahkan. Aku tak peduli. Aku akan pulang sendiri." ujar Hinata.

"Jadi kau masih mau bahas masalah tadi?" tanya Naruto yang mulai terpancing amarahnya.

"Aku hanya ingin pulang. Jika kau ingin tetap disini silahkan. Mumpung belum jauh, lakukan jumpa pers dan katakan pada semua orang bahwa kita membatalkan pertunangan kita." Hinata berbicara tanpa menoleh pada Naruto.

"Baik. Kita pulang besok." Naruto langsung masuk ke kamar dengan membanting pintu. Sedangkan Hinata memasuki kamar dengan ekspresi yang datar.

*end flashback*

Pemotretan ketiga kali ini bertema wedding. Tentu saja, Hinata dan Naruto harus memakai gaun pengantin. Hinata memakai gaun pengantin tanpa lengan yang panjangnya sampai menutupi high heelsnya dengan ekor yang memanjang. Gaun yang dia pakai berwarna putih. Gaun itu semakin tampak indah dengan adanya mutiara yang mengelilingi bagian pinggang. Bagian roknya mengembang. Bahkan Hinata harus mengangkatnya jika berjalan saking berat dan panjangnya gaun yang dia pakai. Rambutnya kali ini dibuat lurus dan disanggul. Mahkota mutiara menghiasi rambutnya. Perhiasan mutiara tak lupa menambah kemewahan gaun yang dipakainya. High heels kaca. Tak lupa sarung tangan serta sebuket bunga ada dalam genggamannya. Naruto memakai tuxedo putih dan bagian saku atas adanya bunga mawar. Celana putih dan sepatu putih. Naruto terpesona dengan penampilan Hinata. Naruto mengulurkan tangan pada Hinata dan disambutnya. Mereka keluar dari kamar dengan beberapa orang untuk membantu menjinjing ekor gaun yang Hinata kenakan. Naruto membawakan bunga yang Hinata pegang. Mereka berjalan ke lokasi pemotretan.

Pemotretan ketiga kali ini, para model lah yang menentukan tempatnya. NaruHina memilih melakukan pemotretan di kamar Naruto. Sesampai di kamar, mereka ditinggal berdua karena sang fotografer sedang melakukan pemotretan pasangan Shion-Samuel.

"Aku akan meninggalkan kalian berdua disini. Jangan membuat keributan atau pun bertengkar. Aku akan mengatakan kalau kalian sudah siap. Paham?" ujar Iruka kemudian pergi meninggal mereka.

Suasana hening setelah kepergian Iruka. Tak ada sepatah kata yang terucap dari bibir mereka. Naruto mulai sibuk dengan ponselnya.

"Hime, apa kita besok akan kembali?" tanya Naruto.

"Hn." respon Hinata. Merasa bosan, Hinata beranjak berdiri dari posisi duduknya di atas ranjang

"Kau mau kemana, hime?" tanya Naruto.

"Hn."

"Ayolah hime, aku minta maaf karena tadi marah-marah. Sebaiknya kau diam disitu saja, gaunmu itu sangat berat. Biar aku yang melakukannya." Naruto meletakkan ponselnya dan berjalan menuju Hinata dan nenyuruhnya kembali duduk. "Kau ingin apa?" tanya Naruto lagi.

"Melihat pemandangan bawah laut." jawab Hinata datar.

"Baik. Kau tetap duduk disana." Naruto langsung berjalan menuju tombol rahasia. Sekali tekan, lantai kayu kamar itu terbelah dan tampaklah pemandangan laut yang indah.

Hinata segera berdiri lagi, tapi dicegah oleh Naruto. Bukan apa, gaun yang Hinata pakai sangat berat sampai-sampai tadi dibantu beberapa orang untuk membantu Hinata berjalan.

"Aku ingin melihatnya, kuning!" rengek Hinata.

"Eeh kuning?" tanya Naruto.

"Iya, kau kuning, jelek, baka, mesum, dan nyebelin." jawab Hinata sambil berusaha berdiri dengan menjinjing gaun bagian depannya.

"Hahahahhaha.. apa kau berfikir aku seperti itu?" Naruto tiba-tiba tertawa.

"Tentu saja. Kau mau bantu tidak?" Hinata kesal karena Naruto tidak berhenti tertawa.

"Baiklah." Naruto berdiri di belakang Hinata, membawa ekor gaun yang panjang dan berat. Sedangkan Hinata menjinjing gaun bagian roknya. Hinata duduk tepat dibawah pemandangan laut itu. Dia menyamankan duduknya dengan gaun yang ia pakai. Naruto menata ekor gaun Hinata.

Tiba-tiba Naruto tidur di pangkuan Hinata.

"Hei!" Hinata menolak.

"Sebentar saja, hime. Aku sudah lama tidak merasakan tidur dipangkuan mama. Aku yang terlalu sibuk dengan urusan perusahaan. Aku sangat merindukannya." cerita Naruto sambil memejamkan matanya.

Jepret..jepret..

Naruto dan Hinata terkejut mendengar suara bidikan kamera.

"Maaf atas kelancangan saya. Saya kira barusan adalah momen yang bagus jadi saya langsung membidiknya. Sekali lagi saya minta maaf." ujar sang fotograer memasuki kamar Naruto.

"Tidak apa-apa. Apa kita bisa memulainya sekarang?" tanya Naruto.

"Bisa Naruto-san." sang fotografer stand by dengan kameranya.

"Hime, apa perlu bantuanku untuk berdiri?" Naruto mengulurkan tangannya yang langsung disambut tangan Hinata.

Jepret..jepret..

"Maafka-"

"Tak perlu meminta maaf. Lakukan apapun yang menurutmu bagus dalam pose kita. Jika sudah cukup katakan saja." Naruto memotong perkataan sang fotografer.

Naruto membantu Hinata berdiri. Dia juga menata ekor gaunnya agar bisa membuat Hinatanya tidak kesulitan berdiri dan berjalan.

"Aku mencintaimu, hime." Naruto tiba-tiba memeluk Hinata dari belakang.

Jepret..jepret..

Dan mencium pipinya sedangkan Hinata merona

Jepret..jepret..

Hinata membalas pelukan Naruto dan mencium bibir Naruto. Mereka berciuman.

Jepret..jepret..

Sang fotografer memberikan buket bunga pada pasangan NaruHina. Naruto dan Hinata saling berhadapan dan memegang buket bunga sambil tersenyum.

Jepret..jepret..

Naruto duduk di atas kasur dan memberi isyarat pada Hinata untuk menghampirinya. Hinata berjalan perlahan dan sedikit kesusahan dan Hinata menginjak kainnya sehingga membuat dia terjatuh.

"Aww." rintih Hinata.

"Hime, kau tidak apa-apa?" tanya Naruto khawatir. Dia memeriksa pergelangan kaki Hinata.

Jepret..jepret..

"Baiklah. Aku akan menggendongmu. Pegangan yang kuat dipundakku. Kau paham kan, hime?" Naruto menyelipkan tangan kanannya diantara lutut. Tangan kirinya, dia selipkan pada punggung Hinata. Naruto menggendong Hinata ala bridal style.

Jepret..jepret..

Naruto mendudukkan Hinata diatas ranjang mereka. Dia membuka sepatu Hinata.

Jepret..jepret..

"Bisa kita selesaikan pemotretan ini?" tanya Naruto.

"Tentu saja. Tapi, bisakah kalian berpose tidur terlentang diatas ranjang dan saling berhadapan dan rasakan kalian adalah pasangan yang paling bahagis dan beruntung." minta sang fotografer.

"Tapi kaki Hinata-chan lagi sakit. Kau tau kan?" Naruto mulai kesal.

"Naruto-kun tak apa. Hanya satu foto ini saja kan?" tanya Hinata.

"Iya nona muda." jawab sang fotografer tegas sambil menganggukkan kepala. Dia benar-benar takut jika sampai membuat Naruto murka dan berakibat dengan karirnya sebagai seorang fotografer.

"Naruto-kun, bisa bantu aku berbaring?" Naruto langsung dengan sigap membantu Hinata.

Naruto menaiki sisi ranjang yang lain. Mereka melakukan pose yang diminta sang fotografer.

Jepret..jepret..

"Terima kasih atas keprofesionalan tuan dan nona muda. Sekali lagi saya minta maaf dan mengucapkan terima kasih sudah mau menjadi model kami." sang fotografer berojigi.

"Sama-sama Dan-san. Oya, bisa minta tolong panggilkan Iruka-sensei atau pelayanku yang stand by di luar juga tak apa." Naruto duduk diatas kasur sedangkan Hinata tetap berbaring.

"Baik, tuan muda." setelah itu sang fotografer keluar dari kamar.

Naruto beranjak dari kasur dan membuka tuxedonya serta semua yang ia pakai. Dia mengambil kaos dan celana pendek di dalam almarinya.

"Ada apa, Naru-kun?" tanya Iruka yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar tanpa permisi.

"Panggil pelayan untuk membantu Hinata membuka gaun menyebalkan itu. Siapkan juga air panas karena kakinya terkilir tadi." Naruto langsung ke kamar mandi untuk berganti pakaian. Sedangkan Iruka cengo.

Iruka segera mematuhi perintah tuan mudanya. Seorang pelayan masuk ke dalam kamar dan membantu Hinata melepas gaunnya.

"Maaf nona, semua baju nona sudah dipindahkan ke dalam pesawat. Saat ini hanya ada pakaian di dalam almari tuan muda. Apa perlu saya ambilkan?" tanya sanh pelayan dan Hinata sebagai jawaban hanya menganggukkan kepala.

Pelayan itu mengambil lingerie hitam. Hinata hanya pasrah sudah. Jujur, dalam hatinya dia benci sekali karena harus menurut tanpa ada bantahan karena kakinya yang terkilir.

Sang pelayan keluar saat Naruto selesai mandi. Iruka mengetuk pintu dan Naruto langsung mengambil baskom yang dibawa Iruka. Dia tak sudi membiarkan tubuh calon istrinya dilihat orang lain, meskipun itu gurunya sendiri.

"Sebaiknya kamu mandi dulu, hime. Biar aku bantu." sontak Hinata langsung memasang mode siaga. "Aku hanya membantumu sampai ke bathup, tak lebih dari itu." lanjut Naruto.

"Baiklah." Hinata mengulurkan tangannya.

Naruto segera menggendong Hinata menuju kamar mandi. Dia sudah lebih dulu menyiapkan air. Dia memasukkan Hinata ke dalam bathup dengan hati-hati. Naruto juga meletakkan sabun serta handuk di depan Hinata agar mudah di jangkau oleh Hinatanya.

"Aku akan keluar. Jika sudah selesai, bisa tekan tombol yang ada di samping bathup itu." setelah mengucapkan hal itu, Naruto pergi dari kamar mandi.

.

.

#_#

.

.

%TBC%

Selesai chapter 14 nya dengan banyak halangan. Gimana ada yang bisa menebak kalau seperti ini liburan ala NaruHina :D

Yups, lanjut chapter 15. Tetap review yaah minna-san :)