Part 14
"Harry?"Draco menggeliat, tangan kanannya pegal. Masuk akal, karena semalaman ia biarkan menjadi bantal. Untuk pemuda kesukaannya ia berfikir bahwa ia bisa melakukan apa saja.
Tanpa mengeluh.
Tapi lengannya yang pegal berkata lain. Kau tidak hidup di negri dongeng pangeran! Kesemutan tetap kesemutan namanya di dunia ini..
Draco Malfoy pada akhirnya dibuat kesal sendiri dengan pertentangan batinnya. Jadi, pria romantis itu sulit, itu kesimpulan yang dia dapat.
Ngomong-ngomong soal romantisme, Kemana perginya kekasihnya? Manusia satu itu… kebiasaan sekali tiba-tiba menghilang jika mereka habis tidur bersama. Apa tiba-tiba James Potter datang dan memergoki mereka?
Tidak. Tidak. Draco menggeleng pelan. Kalau itu terjadi, ia pasti sudah ditendang keluar rumah dalam keadaan telanjang bulat. Suasana sedamai ini tidak mungkin tercipta kalau kejadian seperti itu benar-benar terjadi. Tapi setidaknya Harry tak lagi menendanginya ketika tidur, sepertinya kelelahan dengan permainan mereka sebelumnya. Baguslah, kepegalan Draco tidak ditambah dengan nyeri-nyeri karena tertendang dan terpukul Harry yang sedang tidur.
Draco mengelilingkan pandangannya yang sudah jauh lebih jernih dibandingkan tadi ketika baru benar-benar terbangun. Dan baru sadar kalau baju-bajunya yang bergelatakan di lantai tadi malam sudah menghilang, begitupun tumpukan baju kotor Harry. kecuali celana dalamnya, Harry sudah menyiapkan baju pinjaman untuk Draco pakai nanti, terlipat rapi di kaki ranjang.
Draco jadi tersenyum sendiri. Rasanya seperti punya istri.
Atau setidaknya kira-kira beginilah rasanya, bagaimana pun Draco belum pernah menikah jadi tidak tahu pasti.
Itu… atau mungkin sebenarnya tidak jauh beda dengan kehidupan Draco yang biasanya, toh Draco di manor luasnya sudah ada yang menyiapkan busana setiap pagi. Dan kaos katun polos berwarna putih juga celana jeans biru dongker pilihan Harry bisa dikatakan pilihan payah dibandingkan pilihan-pilihan maid di manornya.
"Sudah bangun?"Draco menahan tawa melihat penampilan Harry. Ia memakai apron bunga-bunga, milik Lilly. Draco tahu karena kemarin ibu Harry juga menggunakan apron yang sama ketika ia menemani wanita itu memasak makan malam. Setidaknya apron itu tidak terlalu kebesaran seperti yang dipinjamkan nenek Harry.
Tapi bukan soal itu saja, setelan dibalik apron itu yang jauh lebih janggal. Sebuah sweater tebal berwarna merah dengan inisial H yang dirajut menggunakan warna kuning terang , dan celana khaki hijau tua. Draco seperti melihat pohon natal berjalan. "Kau sedang demam Harry? Ini musim panas.. Kenapa pakai sweater..?"Draco akhirnya berhasil berujar setelah menelan tawanya. Takut kekasih barunya tersinggung dan belum apa-apa mereka sudah bertengkar hebat.
Walau sebenarnya bertengkar dengan Harry sudah jadi rutinitas.
Harry mendengus,"Kau pikir salah siapa ini?" Harry mendekat beberapa langkah dan menurunkan sedikit bagian leher sweater yang menutupi lehernya. Ada kissmark disana.
"Itu.. perbuatanku?"Draco berkata dengan tampang tidak yakin. Karna memang ia lupa semalam membuat 'tanda' di leher kekasihnya. Yah.. ia ingat menjamah banyak bagian dari tubuh Harry semalam. Tapi sama sekali tidak ingat soal kissmark di leher Harry yang cukup jenjang.
"Kau pikir semalam aku tidur dengan siapa?" Tanya balik Harry. Emerald sendu itu kini berganti dengan emosi sebal pada lelaki ini. Pagi-pagi begini sudah ngajak ribut saja, pikir Harry.
"Ya.. siapa tahu itu Kau bikin sendiri?"Ujar Draco yang kemudian menyesal karena membayangkan bagaimana seorang manusia normal macam Harry bisa men-kissmark lehernya sendiri. Selama beberapa saat di kepala Draco berputar adegan dimana leher Harry bisa melentur dan memanjang sampai titik tertentu, dan kemudian dengan kemampuan itu yang terfikir oleh Harry adalah men-kissmark lehernya sendiri. Draco jadi merasa konyol karena mengatakan kalimat barusan. "Ok. Sorry.."Ujarnya buru-buru sebelum Harry selesai dengan tarikan nafasnya dan bersiap menyemburkan kemurkaan.
Harry menarik nafas sekali lagi setelah mendengar permintaan maaf Draco. "Sudahlah. Lagipula hari ini memang sedikit mendung.."Draco memandnagi heran Harry yang mengatakan kebohongan payah. Di luar terang benderang begitu,langit sebelah mana yang pemuda ini sebut mendung?
" Ayo Bangun!"Harry menarik tangan kanan Draco yang sebenarnya masih kesemutan dan setengah mati rasa. Maka menjeritlah pangeran malfoy kita. "Kau kenapa?"Harry jadi panik sendiri dan begitu saja menghempaskan tangan Draco.
"Awww!"Draco menjerit sekali lagi. "Kau ini bisa lembut sedikit tidak sih? Tanganku kesemutan tau!"
"Ya mana aku tahu!"Sembur Harry dengan sedikit sirat rasa bersalah di matanya. "Kenapa bisa kesemutan?"Draco menatap sebal Harry. Harry Cuma bisa mengangkat bahu. Ia tidak punya petunjuk soal lengan Draco itu.
"Terserah.. Pokoknya cepat bangun dan mandi. Lalu segera pergi dari sini, aku harus beres-beres rumah.."Ujar Harry dingin menambah kadar kekesalan Draco pada kekasihnya ini.
"Kau ini benar-benar tidak bisa bersikap manis ya?"Ujar Draco lalu bangun perlahan-lahan dari tempat tidur itu. Menyabet handuk yang disediakan Harry di hiasan ranjang, menggunakan tangan kiri. Ia memperhatikan Harry menatap sekilas keluar jendela ketika membereskan buku-buku di meja belajarnya.
Ia terlihat cemas.
Seperti mengkhawatirkan sesuatu. Draco bisa merasakannya.
"Kau kenapa?"pertanyaan itu keluar begitu saja. Draco bahkan tidak sempat memproses ulang untuk memanipulasi kalimatnya agar tak seblak-blakan barusan.
Harry berbalik,"Tidak ada."ujarnya dingin. Positif, pikir Draco. Harry pasti sedang memikirkan sesuatu yang negative. Apa tentang mereka? Tentang hubungan mereka?
"Ibumu sedang apa?"Entah kenapa Draco masih ingin bertahan disitu. Sambil melilitkan handuk pinjaman ke bagian bawah tubuhnya yang telanjang. Draco merasa masih bisa mengorek sesuatu dari punggung yang berbalik padanya itu.
"Barusan saja berangkat ke LSMnya.. Untungnya aku bangun lebih dulu dari, Mum. Jadi, kita tidak kepergok.."nadanya mengambang. Ada lanjutan dari kalimat itu yang Harry tak sampaikan. Draco masih menghadapi dingin yang sama di wajah Harry dengan dingin yang ada di punggung ringkih pemuda itu.
Punggung ringkih yang dipaksakan Harry untuk menahan berbagai beban. Sendiri.
Mungkin karena Harry sendiri tidak tahu siapa yang bisa ia andalkan. Jadi, ia memilih memikulnya sendiri.
"Harry.."pemuda itu berbalik. Masih emerald sendu, seakan kebahagaian malam kemarin hanya sekedar gerimis di padang tandus. Tak ada, tak berbekas apa-apa. "Jika ada sesuatu yang menganggumu, Kau harus bicara. Padaku atau pada seseorang lain yang kau pikir bisa membantumu."
Harry tersenyum untuk kalimat Draco, menghilangkan sendu di mata itu meski hanya sepersekian detik,"Sudah.. Mandi Sana.."ujar Harry dengan nada mengomel yang main-main.
"Iyaaaa.."Draco menyahut malas. Lalu menggegaskan sedikit gerakannya menuju kamar mandi.
Harry memperhatikan tubuh Draco menghilang dibalik pintu. Selama beberapa detik ia hanya bisa menarik nafas dan memperhatikan pintu yang terbuka itu. Entah kenapa ia berharap Draco cepat kembali dan memeluknya. Ia tidak mengerti kenapa menjadi semelankolis ini.
Lalu ada getar tak sabar sebuah telephon genggam. Milik Draco. Kini ada di saku celana Harry. sebelumnya benda itu tergeletak di lantai begitu saja di dekat celana dan baju-baju Draco. Ceroboh sekali, pikir Harry. Hampir saja benda itu ia injak karena dering mengganggunya.
Siapa lagi sekarang? Harry bertanya-tanya. Tadi pagi ia tak sengaja terbangun karena telephon genggam Draco berdering. Panggilan dari ibunya, lalu ketika Harry menengok benda segenggaman tangan itu, Handphone Draco sudah penuh dengan banyak pesan dari teman-temannya yang mengundangnya ke pesta semalam, dan pesta selanjutnya nanti malam. Ia tahu tidak sopan membuka pesan pribadi orang lain. Tapi ia terlalu penasaran.
Getar dan nada mengganggu dari benda yang tak lebih besar dari penghapus papan tulis itu, berkesan tidak sabar. Harry tanpa sadar entah mengapa marah pada benda itu. Pada benda yang bisa menghubungkan Draco dengan dunia luar. Dunia di luar dirinya dan kamarnya yang tak seberapa luas. Sebuah dunia kecil yang Draco katakan masih akan menjadi rahasia.
Mungkin Harry cemburu pada dunia luar.
Mungkin saja begitu. Dan ketika ia menyadari kemungkinan itu. Harry merasa kerdil. Tak berdaya macam kurcaci di tengah-tengah perang antara troll dan raksasa. Tidak terlihat. Dengan mudah terinjak-injak. Dan meskipun Draco bilang ia harus membicarakan apapun yang ada dalam pikirannya, apa Draco akan mengerti keegoisan ini?
Ketidaknyamanan Harry kini?
Sepertinya tidak. Ini jauh lebih mudah bagi Draco. Harry yakin. Draco bisa dengan mudah merasa bosan padanya pada satu titik nanti. Dan melupakan Harry begitu saja. Seperti yang sering dilakukannya pada banyak gadis sebelum Harry.
Bagaimana dengan Harry? Aku tidak akan bisa melupakan Draco.
Harry menarik nafas dan bergegas merapikan ranjangnya. Menyimpan alat komunikasi pengganggu milik Draco itu, di meja kecil dekat ranjang. Lalu keluar sambil membawa sampah dari kamarnya. Melewati begitu saja kamar mandi dengan bunyi air dan siulan bermelodi merdu, Draco sepertinya menikmati mandinya. Harry tadi buru-buru turun ke ruang bawah tanah untuk menyalakan pemanas air. Kasihan kalau si Tuan Muda Malfoy itu ia paksa mandi air dingin lagi.
Setelah pergi keluar dan membuang sampah tepat sebelum truk petugas pengangkut sampah sampai di jalanan rumahnya. Harry menuju dapur, setelah mencuci tangan ia menengok sup jagungnya. Sudah cukup wangi , ia menambahkan beberapa rempah lagi. Ketika ia berbalik dari supnya dan hendak memanggang roti ada Draco dengan rambut basah, mengenakan baju yang ia pinjamkan. Biasanya baju itu terlihat lusuh kalau Harry yang pakai. Begitu Draco yang gunakan kaus itu jadi nampak sedikit bersinar.
"Masak apa?"
"Lihat saja sendiri.."Ujar Harry dingin sambil menolak bertatapan langsung dengan iris kelabu itu.
"Aku kan tanya baik-baik.."ada nada bingung di suara Draco. Tapi akhirnya ia mendekat sendiri menengok panci, sambil tetap sibuk tangannya mengeringkan rambut.
Harry buru-buru menjauh ketika Draco mendekatinya, wangi mint dari shampoo Harry rasanya menguarkan aroma lain yang lebih menggoda ketika Draco yang menggunakannya. Harry jadi mengusap-usap hidungnya, takut penciumannya mengelabuinya.
"Kau ini kenapa sih?"kalimat Draco tidak naik nada suaranya, tidak juga ada nada khawatir yang hangat. Datar saja. Harry merunduk ketika sepersekian detik mata mereka bertemu. Draco tidak mengerti. Ujarnya dalam hati.
Setelah ini ia akan pergi. Dan tidak ada kepastian sama sekali kapan mereka bisa berduaan lagi. Libur musim panas sudah akan berakhir, senin nanti sekolah sudah dimulai kembali. Mereka tidak akan bisa berbincang di Hogwarts. Mereka akan sibuk untuk persiapan ujian kelulusan. Draco akan sibuk dengan kejuaraan sepakbola musim dingin dan orkestranya. Sementara Harry dan lab fisikanya.
Seandainya diizinkan, ia ingin mengurung Draco untuk dirinya sendiri. Paling tidak untuk hari ini.
"Kau aneh Harry.." draco mendekati pemuda berkacamata bundar itu. Sedikit banyak tahu bahwa pemuda itu sedang dalam kegundahan hebat. Walau entah apa, Draco berharap bisa mereduksi kegundahan itu meskipun hanya sedikit. Sedikit saja dan ia tidak akan meminta apa-apa.
Yah, mungkin tambahan senyum Harry. Dan ia berjanji tidak akan minta apa-apa lagi.
Pemuda yang kalah tinggi merasakan usapan kagok di kepalanya. Selalu begini, Draco memang payah soal menunjukan afeksi. Sentuhan sayangnya terasa canggung. Berbeda ketika ia menyentuh Harry untuk merangsangnya, atau menciumi tubunya, entahlah Draco jago sekali kalau masalah satu itu.
"Sekarang malah senyum-senyum sendiri? Serius! Kau 'Sehat' kan?" Draco membuat tanda kutip tak kasat mata dengan jarinya di kata 'sehat'.
Harry tersenyum, Draco terdengar mencemaskannya. Setidaknya Harry memiliki moment-moment kecil ini untuk ia kenang. Jika tiba-tiba pangerannya tersadar dari perasaannya dan kemudian menjauhinya bagaikan sebuah kutukan.
"Tidak apa-apa.. Ayo makan.. Kau mau rotinya dipanggang?"
Draco mengangguk, lalu duduk. Memperhatikan Harry, moodnya sudah berubah lebih baik dibandingkan beberapa menit lalu. Manusia satu ini, cepat sekali pulihnya ya? Pikir Draco. Tapi baguslah, Draco tahu diri kalau dia payah dalam hal menghibur seseorang yang cemas. Karena ia juga tipe yang cenderung terlalu realistis. Kadang-kadang ia berharap memiliki kemiripan dengan Harry-melihat terkadang betapa bertolakbelakangnya mereka menimbulkan rasa frustasi-, tapi rasanya ia menyesal sekarang menyadari bahwa kemiripan dalam pemikiran realistis sama sekali tidak menolong mereka. Dua remaja lelaki yang menjalin hubungan romansa, pemikiran realistis mereka tidak banyak membantu untuk bertahan. Seseorang di antara mereka harusnya tipe yang lebih positif dalam memandang segala sesuatu soal dunia yang kejam ini.
Tapi.. Ya sudahlah. Mau dibagaimanakan lagi. Draco jelas tak bisa dirubah adatnya dan Harry tidak kalah keras kepalanya dengan dia.
Draco membuang nafas lelah,"Kakekku bilang anak muda tidak baik membuang nafas pesimis macam begitu.."Harry menyajikan sup jagung Draco dan roti panggangnya. "Butternya dioles setelah rotinya terpanggang.."ujar Harry seperti pelayan restoran yang bangga mengingat pesanan pelanggannya.
Draco terkekeh,"Aku mencium bawang putih.." ujar Draco protes, ketika membaui aroma supnya.
"Cuma sedikit.. mana ada sup tidak pakai bawang? Jangan manja.." Harry yang kesal melemparkan delikan sebal. Ditanggapi dengan kekehan ringan milik Draco.
"LSM ibumu masih program kerja gereja ya?"Draco bertanya ketika Harry baru akan duduk setelah menaruh secangkir susu putih untuk masing-masing mereka.
"Ya."jawab Harry singkat.
"Mengurusi apa?"
"Macam-macam."
"Semacam?"
"Anak-anak yang menderita kanker dan berasal dari keluarga kurang mampu.."Jawab harry setelah mendesah. Harry tidak yakin pertanyaan-pertanyaan Draco tentang keluarganya ini mengarah kemana. Apa pemuda di hadapannya ini masih dalam misi 'mengenal lebih dekat' atau apa, Harry tidak yakin.
"Kelihatannya kalian keluarga yang cukup religius?"Harry yang sudah mengangkat sendoknya dan bersiap menyuap menghentikan gerakannya. Ia mengernyit heran dan menatap Draco masih dengan kernyitan itu. Bertanya-tanya dalam pikirannya kenapa tiba-tiba hal ini mengganggu pemuda di hadapannya?
"Iya.. begitulah.. Kau ingin protes karena anak laki-laki sebuah keluarga religius menceburkanmu ke dunia homosexual?"Harry berkata dalam satu nafas. Ia jadi ingat Cedric kemarin. Nada gusarnya persis seperti ini. Dingin yang kentara sebalnya.
Draco menggeleng sambil terkekeh,"Bukan.. Aku cuma mau tanya kenapa kalian jarang berdoa sebelum makan?"
Mulut Harry membentuk huruf 'O', dan kemudian ada ekspresi tak enak hati karena barusan mengeluarkan sikap tersinggung yang tak perlu pada Draco. " Kami tidak setaat itu kurasa.."
"Kalian bukan Lutheran?"Draco melanjutkan lagi.
Harry sedikit canggung dengan pembicaraan soal keyakinan macam begini. Ia menggeleng,"Kau mau aku berdoa sebelum kita makan?"Harry bertanya akhirnya.
Draco berfikir sebentar. "Biar aku saja… Aku punya sebuah ayat yang kusuka.."ujarnya antusias. Aneh untuk Harry. seingatnya keluarga Malfoy bukan keluarga yang taat, meskipun tidak sepenuhnya liberal.
Dan ayolah.. Draco Malfoy memimpin doa sebelum makan? Apa besok dunia kiamat? Harry menggeleng lalu mengikuti gerakan Draco yang mengepalkan kedua tangannya di depan dada dan menutup mata.
Suara Draco mulai mengalun,"Yesus berkata kepadanya untuk kedua kalinya,"Simon anak Yohanes, Apakah engkau mengasihi Aku?" Jawab Petrus kepadanya," Benar Tuhan. Engkau tahu, bahwa Aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya," gembalakanlah domba-dombaku..".
"Amin.."Harry membuka mata dan melihat Draco tersenyum girang.
"Aku tidak tahu kalau aku masih hapal.."
"Aku tidak tahu kalau ferret berbulu domba sepertimu hapal sepotong ayat.."
"Sialan.."Draco mulai menyendok supnya dan makan.
"Kenapa Kau suka ayat itu?"
"Karena ada kata dombanya.."jawab Draco serius tanpa sedikit pun nada bercanda dalam suaranya.
"Alasan macam apa itu?!"Ujar Harry diikuti kekehan keduanya atas percakapan tak jelas barusan. Harry memperhatikan bagaimana Draco masih dalam tata karma kebangsawanannya. Dan bahwa ia masih Draco yang sama yang ia kenal. Bicara seenaknya dengan nada angkuh yang sudah secara genetik sepertinya ada disana.
Tapi kenyataan bahwa ia punya sisi religius dan bahwa ketika memang perlu ia bisa bersikap lembut pada Harry seperti tadi malam. Harry berkata pada dirinya sendiri bahwa mungkin ia bisa bertahan dengan hal-hal ini. "Kenapa belum dimakan? Terpesona padaku? Aku membuatmu jatuh cinta lagi ya?"Tanya Draco dengan percaya diri akut.
Harry menatap pemuda itu sinis. Tanpa menjawab apa-apa ia melahap satu potong roti panggang. Hingga mulutnya penuh. Lalu memonyongkan bibirnya sebal. Draco Cuma terbahak, dia tidak tahu kalau lelaki yang menggoda di ranjang ini bisa sebegini konyol di meja makan. Draco tahu Harry bukan tipikal yang menjaga image tertentu. Dan mungkin itu sebabnya ia merasa nyaman bersama Harry, karena Harry memperlihatkan berbagai sisi yang dimilikinya pada Draco. Bahkan yang terburuk sekalipun. Membuat Draco merasa bahwa ia juga aman untuk menunjukkan berbagai sisi yang dimilikinya pada Harry.
"Ngomong-ngomong.. untuk ukuran anak aktivis gereja Kau kelihatannya jarang sekali bicara soal Tuhan?"Draco tiba-tiba mengalihkan topik.
"Tuhan bukan bahan obrolan yang menggairahkan, kurasa.. Lagipula yang akitivis gereja itu ibuku. Tidak ada urusannya denganku."
"Tapi Kau percaya Tuhan?" Harry kembali berhenti menyuap. Menatap Draco yang iris abunya kini memandang lurus ke emeraldnya.
"Tentu.. Aku memperlajari fisika lagipula.."
"Kukira mereka yang mempelajari sains sampai botak rata-rata malah seorang atheis.."mendengar kata botak Harry refleks mengusap rambutnya.
Harry membuat tampang mencibir,"Prejudice.. Menurutku semakin kau mempelajari bagaimana alam semesta bekerja, bagaimana atom-atom membentuk diri mereka, atau planet-planet tetap berada dalam jalur lintasan mereka masing-masing. Mereka seperti menaati sesuatu, kekuatan yang lebih besar. Dan menurutku, itu yang kita sebut Tuhan."
Iris abu Draco membesar. Ada yang membuatnya terpesona dengan cara Harry menyampaikan pendapatnya. Tidak terlalu argumentatif, tidak juga persuasif. Tapi Draco tahu kalimat Harry mempengaruhinya. " Sorry soal prejudicenya.. Tapi.. Kau juga menganggap semua orang kaya itu sombong.."Draco memasang tampang sok-sok tersinggung.
Dasar pangeran opera sabun.. Harry mencibir dalam hati.
"Yah, memang ada beberapa pengecualian soal itu.."Harry menganggukan kecil kepalanya sambil menelan sisa sup di mulutnya. "Tapi bukan berarti Kau masuk dalam pengecualian.."ujarnya kalem
"Kau ini tidak bisa bersikap manis sedikit pada kekasihmu ya?"kalimat itu keluar begitu saja. Lancar tanpa hambatan apa-apa. Dan Draco juga merasa itu bukan kalimat berat sampai-sampai harus membuat Harry terhenyak.
Pemuda berkacamata itu diam. Sepotong kata 'kekasih' yang Draco lontarkan tanpa maksud apa-apa. Tanpa tedeng aling-aling. Adalah sebuah pernyataan murni.
Harry membiarkan bibirnya membentuk senyum.
Kami kekasih? Ujarnya lagi dalam hati. Ia tidak bisa mengendalikan rasa hangat yang mekar di dalam dadanya. Kekasih ya? Ulangnya lagi meyakinkan diri sendiri.
"Hari ini.."lalu berhenti. Harry menghentikan kalimatnya, tapi itu juga mengalihkan atensi Draco dari sarapannya.
"Apa? Hari ini kenapa?"
Harry menggeleng. Ia tetap tidak bisa ternyata. Ia hanya ingin meminta Draco menemaninya seharian ini. Pergi berdua ke suatu tempat di dekat sini atau mungkin diam di rumah dan menonton dvd dari film-film lama favorit Harry? Tapi ia tidak bisa mengatakan apa-apa.
Draco menatap pemuda itu selama beberapa saat. Ia kembali ke wajah gusar itu. Menunjukan bahwa perasaannya kini dirundung masalah. Draco tidak bisa bertanya,'kau kenapa?' karena itu tidak membuat Harry memberikan jawaban. Jadi, Draco akan mencoba menebak.
"Kau mau pergi ke suatu tempat hari ini?"Harry membelalak.
"Kenapa Kau tahu aku akan menanyakan itu?"
"Aku bertanya duluan Harry.. Apa Kau tidak pernah diajari untuk menjawab lebih dulu sebelum balik melontar pertanyaan pada lawan bicaramu?"Draco berlagak seperti guru tata karma di kelas kepribadian.
"Maaf.."Draco mengernyit. Tumben Harry cepat menyerah dan langsung meminta maaf seperti ini? "Rasanya aneh saja.. Aku tahu beberapa kali Kau seperti bisa membaca pikiranku. Tapi tidak tahu kalau Kau sudah sejago itu sekarang.."Harry mengatakan itu sambil tak melepas ekspresi manis dari wajahnya.
Draco sebenarnya ingin mengiyakan pernyataan Harry dan menyombongkan diri. Tapi sepertinya itu akan dengan cepat menghilangkan ekspresi manis Harry saat ini,"Jadi? Mau pergi kemana?"
"Aku masih harus membereskan kamarku.."Harry tampak tidak yakin.
"Aku bantu.."
"Aku juga belum menjemur cucianku.."
"Aku tunggu.."
"Bagaimana dengan ajakan pesta sore nanti dari teman-temanmu?"
"AKu tidak berminat."
"Ibumu sepertinya kahwatir.. Dia menelponmu berkal—"
"Aku akan menelponnya nanti. Percayalah, dia tidak sekhawatir itu. "
Harry menarik nafas. Menatap iris keabuan yang berusaha meyakinkannya. Bahwa tidak apa-apa jika ia ingin sedikit egois hari ini dan menghabiskan seharian ini bersama Draco.
Itu bukan sesuatu yang salah. Atau abnormal. Atau menentang kodrat. Atau tabu untuk ia inginkan.
Mereka sepasang kekasih sekarang. Is it really allright? Harry bertanya-tanya.
"Harry, Dengar… Hanya karena kukatakan 'kita' masih rahasia. Bukan berarti aku tidak ingin bersamamu."
Harry menggeleng,"Aku mengerti soal itu. Tapi.."
"Kau mau kemana?"Draco bertanya sekali lagi. Nadanya lebih mendesak.
Harry memalingkan pandangannya dari iris abu itu. Menatap sup jagungnya yang mendadak menguarkan bau bawang putih lebih pekat dari sebelumnya. "Kebun binatang?"ujarnya tak yakin. Lalu ia mendengar suara kekehan mengejek milik Draco.
"Susah sekali.."ujar Draco sambil diselingi kekehan. "Kebun binatang? Kenapa tidak bilang dari tadi? Apa sejak tadi ini yang membuat wajahmu merengut, hmm?"
"Ouh.. Diamlah.."Harry yakin ada semu merah di pipinya yang terasa panas saat ini. Ia yakin sekali. Tapi menunduk dan memakukan pandangannya pada sup jagungnya yang mulai dingin tak banyak membantu. Draco tetap tahu bahwa Harry setengah mati menahan malu.
"Tapi.."Harry membuka mulut lagi. "Kurasa tidak usah.. London Zoo terlalu jauh jaraknya dari sini.. dan ini sudah terlalu siang.. Lagipula aku tidak bisa pergi ke tempat seramai itu dengan dandanan begini kan?"Harry mendengar Draco menghembuskan nafas lelah. Kedua iris beda warna bertemu. Harry menurunkan kerah sweater yang menutupi lehernya, dan mark Draco masih nyata ada disana.
Harry benar, terlalu mencolok jika ia berpergian jauh dengan dandanan ala pohon natal berjalan macam begini.
"Jadi mau bagaimana?"
"Mungkin.." Sebaiknya Kau pulang.. Harry tidak berani mengatakannya. Ia takut jika Draco mengiyakannya. Bagaimana bisa begini? Harry laki-laki kan? Kenapa ia begitu khawatir kebersamaannya dengan Draco akan membawa ketidakberuntungan untuk pemuda itu? Tapi disaat yang sama juga tidak ingin ditinggalkan olehnya.
"Kau mulai lagi.."Draco memandangi kerutan di dahi Harry. "Serius Harry.. Hari ini, Kau mau pergi kemanapun aku akan ikuti kemauanmu.."Draco tidak mengatakannya dengan nada manis penuh rayuan. Nadanya jauh lebih mirip seperti panggilan boarding pesawat yang penuh kepastian dan formalitas.
Bukannya Harry menginginkan rayuan, tapi ia berfikir bahwa jika saja Draco terlihat lebih manis sekarang itu akan lebih meyakinkannya. Namun kemudian harga diri lelakinya menamparnya. Are you a woman or what?!
Harry merasionalkan pikirannya,"Kita ke supermarket saja.. Ibuku menitipkan beberapa belanjaan.." Kalau hanya ke supermarket di sekitar sini, mungkin tidak masalah. Hari libur begini orang-orang sering belanja hanya menggunakan baju rumah. Harry tidak akan terlihat terlalu mencolok.
"Ok.."ujar Draco. Kali ini ia memamerkan senyum di wajah tampan aristokratisnya. Harry menunduk sekali lagi. Menggumam pada sup jagungnya yang mulai dingin sambil berusaha menyembunyikan rona merah pudar di pipinya. Come on, Dude.. it's just a smile..
"Thank you.."
"Seriously Harry?"Draco terbahak melihat semu merah dan nada malu-malu yang dikeluarkan pemuda di hadapannya. Tidakkah sikap Harry jadi terlalu cute pagi ini? Draco berfikir. Ia tidak meneriaki Draco untuk bangun, atau tak membiarkan Draco mandi air dingin, menyiapkan sarapan, meminjamkannya baju-meskipun seadanya. Dan sekarang ia bersemu merah ketika mengajaknya berbelanja? Tidakkah mereka terlihat seperti pasangan yang baru menikah?
Harry mengedarkan pandangan seakan mencari petunjuk untuk mengingat sesuatu, lalu mulai menggumam,"Aku harus beli sabun dan pasta gigi, juga beberapa bumbu dapur.."terlihat jelas berusaha mengabaikan tatapan mengejek Draco yang menggodanya dan fokus untuk melanjutkan menghabiskan sarapannya.
"Mungkin lotion dan kondom juga bisa kau masukan ke daftar belanjaanmu",sup dalam mulut Harry hampir menyembur keluar. Ia tersedak mendengar gumaman santai Draco yang menyambar gumaman tak tuntasnya tadi.
"Apa?!"
Draco tersenyum dengan senyum liciknya,"Kita harus lebih berhati-hati dalam berhubungan intim, Kau tahu kan maksudku?"senyuman Draco makin melebar. "Setidaknya Kau harus membeli lotion.. Kalau lubangmu lecet setiap kali milikku memasuki—"
"Draco!"Harry menutup telinganya. "Ok beli.. Tapi Kau tidak perlu membicarakan hal seperti itu di meja makan kan?" Draco terbahak. Lalu melepaskan serbet makannya. Ia sudah selesai dengan sarapannya dan beranjak ke dapur membawa mangkuk dan sisa makanannya. Sambil berjalan ia menyempatkan mengacak rambut Harry yang masih menutup telinganya dan memanyunkan bibirnya.
Harrynya jadi begitu mengasyikan untuk digoda.
Tidak lama Harry menyusul pemuda itu. Berdiri di samping Draco yang sedang mencuci mangkuk,"Harusnya kau biarkan saja.. Nanti aku yang cuci.."meskipun masih dengan wajah cemberut Harry mengatakan itu dengan tulus.
Draco terkesima menatap pemuda ini. Harusnya ada batasan untuk menjadi semanis ini untuk seorang laki-laki kan?
"Harry.."Draco melepaskan piring yang sedang dibilasnya.
"Hmm.."
"Aku bahagia."Draco memasang senyum terbaik yang dimilikinya. Harry menoleh pada wajah tampan itu dan balik tersenyum. Lalu senyum itu berubah jadi seringaian licik.
Harry mengusapkan busa sabun cucian piring pada wajah Draco,"Bodoh.."Cuma itu jawaban Harry. Dan Pangeran Malfoy kita dibuat jengkel setengah mati.
Aku tarik ucapanku, Harry Potter sama sekali tidak manis.
"RONALD WEASLEY! Cepat turun! Ini ada Hermione!"
"Ya, Mum.. Aku dengar.."Ron keluar dari kamarnya sambil sibuk memasukan buku ke ranselnya. Catatan fisika milik Harry, ia meminjamnya untuk ujian sebelum musim panas dan baru ingat untuk mengembalikannya sekarang.
"Hai!" Hermione datang dengan rok blue jeans selutut dan blus putih dengan lengan ¾. Ia mengikat ekor kuda rambutnya dan poni belah pinggir. Gadis itu tersenyum manis sekali pagi ini.
Mereka bilang para wanita terlihat semakin cantik ketika ia punya pasangan?
"Malah bengong.. Sini, Aku bawa kabar terbaru dari Harry.."Ron mengikuti isyarat Hermione untuk duduk di bagian kosong sofa panjang ruang tamu yang sedang didudukinya. Ruang tamu keluarga weasley menyambung dengan ruang makan, sekatnya hanya lekukan dinding yang lebih menjorok keluar. Rumah itu tidak luas tapi cukup tinggi. Bukan tipe mewah atau luxury, tapi cukup nyaman untuk ditinggali.
"Kenapa anak itu?"
Hermione terkekeh kaku, meminta agar telinga Ron mendekat ke bibirnya. Ron bisa merasakan tarikan nafas gadis itu ketika ia akan mulai bicara,"Mereka jadian".
Mata Ron membelalak. Wajahnya menampakan raut kebingungan, jadi untuk sekedar memastikan ia bertanya, "mereka itu.. maksudmu..?"
"Harry.. yah..Dan Kau tahulah siapa.."Hermione menunjuk keningnya. Memberi petunjuk soal siapa yang mereka bicarakan. Dan Ron tentu ingat kejadian itu. Ia hanya memastikan lagipula.
Ron masih ingat jelas kejadian, pengalaman pertamanya menyaksikan percintaan sesama jenis dengan mata kepalanya sendiri. Sialanya lagi, yang menjadi pelakunya adalah sahabat karibnya, Harry. Dan musuh bebuyutan mereka, Draco Malfoy.
Seandainya Hermione tidak menahannya saat itu ia benar-benar ingin meninju Draco telak di hidungnya. Detik itu ia berfikir bahwa Draco hanya melakukan pelecehan seksual pada sahabatnya, tapi karna Hermione menahannya. Ia melihat Harry disana, berdiri dalam kesedihan yang begitu dalam.
Detik berikutnya Ron sadar. Ia bukan sahabat yang cukup baik hingga melewatkan saat-saat terberat sahabatnya dengan cinta pertamanya yang tak normal.
"Bengong lagi.. Jadi pergi?"
Ron membuang nafas,"Aku mengajakmu menemui Harry untuk mentraktir kalian berdua. Tapi aku baru tahu soal kabar ini.. Apa kau yakin ingin menemuinya?"
"Kau pikir 'mahluk itu' sedang bersamanya?"
"Kemungkinan besar. Aku tahu.." Ron merasa tidak enak menggunakan frasa 'mahluk itu' untuk menyebut Draco. Tapi juga terlalu canggung untuk menyebutkan nama Draco secara gamblang. Jadi ia berhenti sesaat.
"Sebut saja namanya, sepertinya rumahmu sepi hari ini?"Ron mengangguk. Memang sedari tadi hanya ada Ron dan ibunya di rumah. Jadi tidak ada yang merecoki keduanya sedari tadi.
"Aku satu tim dengan dia sejak kelas satu, jika aku perlu mengingatkanmu. Dan jika ia baru saja berhasil mendapatkan gadis baru yang ia inginkan. Biasanya ia tidak akan melepaskan gadis itu, setidaknya selama satu minggu awal. Itu jika mereka bertahan sampai seminggu. Ia akan terlihat sangat jatuh cinta, tergila-gila, dan meyakinkan. Aku tidak tahu soal dia dan Harry."Ron memelankan suaranya di ujung kata-katanya. "Tapi setidaknya aku yakin ia tidak akan melepaskan Harry selama seminggu ini… Atau setidaknya sehari ini.."
Hermione malah Nampak tidak tenang,"Maksudmu Harry sama saja seperti gadis-gadis itu? Hanya benda yang menjadi obsesinya untuk sementara waktu?"
"Aku tidak bilang begitu.. Maksudku, ada dua atau tiga orang gadis dimana Draco terlihat memastikan diri akan tetap bersama mereka, hubungannya bahkan bertahan sampai 1 bulanan.. "
"Kalau begitu Harry sudah memecahkan rekor.."Hermione terlihat sedikit lega.
"Bukannya mereka baru jadian kemarin?"
Hermione mengangguk,"Tapi Draco sudah mendapatkan Harry dari sekitar 2 bulan yang lalu. Sejak ciuman pertama mereka sampai sekarang."
"Tapi saat itu kan mereka belum jelas."
"Sampai kapanpun keduanya mungkin tidak akan pernah benar-benar jelas.. Ayolah Ron.. mereka berdua laki-laki. Tidak akan ada kejelasan harapan dalam hubungan seperti itu.."Hermione lalu melirik ke ruang makan yang menyatu dengan dapur. Memastikan suaranya tadi tidak terdengar Mrs. Weasley yang masih asyik berdendang sambil memanggang biscuit butter.
"Ini.." Hermione memberikan ponselnya pada Ron. "Harry mengirim ini tadi pagi." Sebuah pesan singkat. " Ia mengucapkan terima kasih atas pemakluman kita, berkata bahwa ia sangat bahagia sampai rasanya ia bisa mati karena kebahagiaan itu. Dan menyampaikan maafnya padamu karena tidak bisa ikut kemarin. Dan bahwa Draco menginap di rumahnya."
"Hermione."Ron menenangkan suara terburu-buru gadis itu. "Aku bisa membaca pesan ini, ok? Lagipula Kalau Kau tahu kalau dia menginap? Mereka pasti sedang berduaan."
Hermione mendesah lelah,"Karna itu kita harus bertemu Harry. Melihat bagaimana Draco memperlakukannya. Melihat bagaimana perkembangan situasi mereka. Berapa lama kira-kira.."Hermione ragu sesaat,"hal konyol ini akan bertahan?"
Ron tersenyum,"Kau tahu, Kau sama saja denganku, mengkhawatirkan Harry. Lebih-lebih malah. Itu sebabnya aku tidak ingin pergi ke rumahnya dan melihat betapa bahagianya Harry untuk kemudian melihat bagaimana terpuruknya dia..." Ron melepas pandangannya dari handphone Hermione,"Jika Draco sampai mencampakannya kemudian."
"Bagaimana jika keterpurukan itu datang lebih cepat?"
"Kau pikir hari ini juga mereka akan berpisah..?"
Hermione menggeleng,"Ini hanya.. Dengar, mungkin Kau lupa tapi Aku satu junior highschool dengan si Malfoy menjengkelkan itu. Dan dia playboy kelas kakap yang bisa pacaran dengan seorang gadis hanya dalam waktu beberapa jam.."
"Jadi?"
"Ya, Kita ke Harry."
"Yakin?"Hermione menatap lurus pacarnya itu. Diamnya mengiyakan, meyakinkan. Ron menarik nafas. "Ok.. Aku pamit dulu ke Mum.."
Hermione menatap ke foto keluarga Weasley yang berupa tempelan dari berbagai macam foto yang dibingkai dalam sebuah bingkai kayu mahoni tua, yang sepertinya daur ulang. Hermione melihat bekas cat lama dan cat baru yang tak saling menutupi secara sempurna. Tapi berbagai foto dari mulai Bill yang masuk tk pertama kali sampai Bill yang baru menikah bulan kemarin, menyatu. Secara artistic keabstrakan itu menjadi kesatuan yang mengesankan kehangatan. Dibandingkan saudara-saudaranya yang lain foto Ron paling sedikit dalam bingkai itu. Hermione menyukai salah satunya, Ia memakai sweater merah, topi ulangtahun dan belepotan kue cokelat-ulangtahun ke 7. Manis sekali.
"Sedang menatap apa? Ayo pergi.."
"Tidak apa-apa. Aku hanya baru menyadari bahwa Harry tidak pernah bercerita soal masa kecilnya.."
Ron mendesah,"Harry tidak begitu suka masa kecilnya. Ia kehilangan kakaknya, Kau tahu kan? Lalu keluarganya.." Ron mengangkat bahu, kalimatnya menggantung. Hermione tersenyum memaklumi. Lalu menggandeng tangan Ron menuju pintu keluar.
" 'Mione.. Hati-hati ya.. Ron jangan merepotkan pacarmu.."Mrs. Weasley muncul dari dapur. Apronnya belepotan tepung.
"Yes, Mum.."lalu keduanya pergi. Menuju rumah Harry dengan dengan bergandengan tangan. Dengan kepala yang dipenuhi kekhawatiran.
Tiba-tiba saja Ron tertawa sekali, tawa tak yakin yang tiba-tiba keluar tanpa diminta. Hermione memandang aneh kekasihnya,"Kenapa?"
"Kita ini.. Macam Ayah dan Ibunya Harry saja.."ada nada putus asa disana. Hermione lalu terkekeh dan mengangguk. Lalu keduanya mengeratkan lagi pegangan tangan mereka.
Di sisa libur musim panas ini seharusnya mereka berdua bisa fokus berudaan setelah terpotong jadwal pertandingan liga Hogwarts yang menyibukan Ron. Tapi sekarang mereka malah sama sekali tidak bisa mengalihkan pikiran mereka dari Harry. Pemuda satu itu, dia harus belajar menjauh dari kemungkinan yang membuatnya berada dalam masalah. Agar dua sahabatnya ini bisa pacaran dengan tenang.
Tanpa disadarinya, Harry kita dianugrahi cinta yang tak pernah ia kira ia miliki dari orang-orang di dekatnya.
Mungkin bukan Harry saja.
Manusia.
Semua manusia.
Terkadang tak menyadari sebesar apa cinta yang di sekelilingnya.
"Uhmm.. Ya. Aku baik-baik saja, Mum.. ini bukan pertama kalinya aku menginap tanpa ada kabar kan?"Draco terkekeh kaku mendengar sindiran ibunya yang tajam di sebrang sana. Berbeda dengan kebanyakan ibu-ibu lainnya, Narcissa Malfoy lebih sering memilih kata-kata yang terdengar manis tapi menusuk hati untuk memperingati anaknya tentang kelakuannya. "Lain kali aku akan ingat itu, Mum.."
Draco menutup telephonnya bertepatan dengan Harry yang muncul membuka daun pintu kamarnya. Tanpa bicara apa-apa Harry memasuki kamar itu. Sekilas tersenyum simpul pada Draco yang tengah memasukan lagi handphonenya ke dalam saku celananya, tanpa sempat membalas senyum Harry. Harry membawa setumpuk baju yang sudah ia setrika rapi. Draco memperhatikan saja pemuda itu dengan cekatan membuka lemarinya dan memasukan baju yang sudah disetrikanya, setiap jenis baju dipisah di bagian rak tertentu. Baju luar di rak paling atas, piyama di paling bawah, rak kedua paling bawah jaket dan celana jeans, dan ada sebuah laci untuk pakaian dalam.
"Kau sebenarnya rajin ya? Tapi kenapa kemarin kamarmu seperti kapal pecah?"Draco berkomentar sambil merebah di ranjang Harry.
"Aku merapikan kamarku, tapi dalam sekejap entah bagaimana kamarku dengan sendirinya berantakan lagi. Kadang-kadang membuat frustasi."Draco menyeringai melecehkan, untungnya yang dilecehkan sedang memunggungi Draco jadi tak ada protes apa-apa dari pemuda itu.
Dan hal itu entah mengapa mengganggu Draco.
Ia bangun lagi, memperhatikan pemuda itu yang hanya berjarak satu meter darinya. Lengan Draco bisa saja dengan mudah menggapai Harry dan memeluk tubuh pemuda itu. Tapi Harry sepertinya tak begitu menyukai lovey dovey, sejak tadi pagi Draco sempat beberapa kali berusaha mencuri ciuman dari Harry, tapi pemuda itu menghindar. Dan ketika ia berusaha merayunya, pemuda itu malah mengarahkannya kearah canda dengan lelucon-lelucon payahnya. Draco tidak keberatan sebenarnya. Mengingat mereka berdua sama-sama lelaki, jadi mungkin bermesraan adalah sesuatu yang menggelikan untuk Harry.
Tentu urusan sex terpisah dari hal ini. Harry sangat terbuka soal itu. Sekali lagi Draco berkata dalam hati, mungkin karena Harry lelaki.
Lagipula Harry masih mengeluarkan reaksi semu merah di permukaan wajahnya ketika Draco menggodanya. Meskipun yang itu ia tutupi mati-matian juga. Mungkin ini bukan soal menjadi lelaki, mungkin Harry hanya masih terlalu malu dengan perkembangan ini?
Tapi di luar semua itu, kerapuhan pemuda itu rasanya bertambah di mata Draco. Seakan jika Draco terlalu memaksakan bergerak, berusaha bermesraan. Pemuda itu akan kabur sejauh mungkin darinya atau pecah berhamburan seperti kaca. Yang mana pun Draco tak menyukai imajinasinya. Draco tahu banyak hal bermasalah soal hubungan mereka sejak awal. Bahkan ketika ada titik terang sekalipun, rasanya itu tak membawa mereka kemana-mana.
"Berhenti menatapku, Draco.."Harry bergumam pelan sambil merapikan celana dalamnya ke dalam laci. Entah bagaimana Harry tahu Draco menatapnya meskipun tanpa ia berbalik, dan memergoki Draco menatapnya? Pantulan cermin jelas bukan jawabannya karna Draco yakin sudut mereka saat ini tidak tertangkap cermin.
"Apa jika aku berhenti menatapmu, aku boleh menyentuhmu?"Harry tersenyum simpul, Draco tahu meskipun pemuda itu memunggunginya. Harry pasti akan berusaha menetralisir semu merahnya dengan senyum simpul, ketidaknyamanannya dengan kekehan tumpul.
Perlahan Harry berbalik, menghabisi jarak selangkah demi selangkah menuju Draco. Draco tak bereaksi apa-apa kecuali mengikuti tatapan Harry yang seperti memenjara iris abunya. Lelaki itu berdiri di hadapannya sekarang. Berdiri sangat dekat sampai Draco bisa merasakan helaan nafas Harry di ubun-ubun kepalanya.
"Apa Kau takut?"Tanya Draco. Harry menggeleng dengan senyum sendu andalannya. Lengannya terangkat , telapak tangannya menyisir helaian platina Draco ke belakang. Kening Draco terekspos, Harry memijat pelan bagian tengah kening Draco menggunakan ibu jarinya. Draco memejamkan mata sesaat. Lalu jemari Harry menelusuri lekuk wajah pemuda blondie itu. Draco membuka matanya dan memandangi wajah si pemilik jemari.
"Kau tampan.."Harry melepas jari-jarinya dari wajah Draco setelah inspeksi indra perabaan itu.
"Apa itu barusan?"kernyitan heran mengalur di kening Draco. Wajah Harry menunduk sedikit, mencium kerutan di kening itu. Emeraldnya nampak sendu luar biasa.
Harry tersenyum simpul, lebih manis dari senyum sendunya. Tapi kesedihan yang menggantung di pelupuk matanya akan selalu ada. "Kita harus belanja."ucap Harry sambil menegakan kembali kepalanya, kemudian membalikan badannya. Draco ikut bangkit, mengacak rambut cokelat Harry lalu berjalan mendahului pemuda itu tanpa sepatah katapun.
Sebuah gesture yang seakan mengatakan bahwa, Draco mengerti. Teramat mengerti soal kekhawatiran Harry. Dan bahwa Harry tak perlu khawatir.
"Mana catatan belanjaannya? Kau sudah tambahkan pesananku kan?"Kata Draco dengan nada memerintah yang angkuh khas malfoy.
"Mana mungkin aku menuliskan kondom di catatan belanjaan dari ibuku, Malfoy.."Harry geleng-geleng sebal pada sikap Draco. Draco menyeringai saja melihat ekspresi sebal Harry. Ketika Draco sampai di ujung tangga bel pintu depan berbunyi. Draco menatap ke atas menunggu instruksi pemilik rumah.
Harry mengangguk,"Tolong bukakan.."ujarnya dengan nada kelewat sopan. Mereka hanya berjarak beberapa anak tangga, tapi rasanya pemuda itu begitu jauh dari jangkauan.
Draco mengangkat bahu,'masa bodohlah..' lelah juga ia lama-lama. Meyakinkan Harry bukan urusan kengototan tapi kesabaran. Waktu yang menjawab, begitu kalau kata pepatah. Masalahnya adalah Draco bukan tipe pemuda yang sabar, ia meragukan sekali kemampuan itu ada dalam dirinya.
Tapi meninggalkan Harry? Draco menggeleng. Sama tidak mungkinnya.
Lamunan Draco terbentur kesadaran ketika ia sudah berada tepat di depan pintu. Ia sudah akan memutar kunci bergantungan kura-kura dan miniature menara Eiffel, entah apa hubungannya kura-kura dan menara Eiffel? 2 gantungan kunci itu seperti representasi dari dua kepribadian berbeda yang disatukan, tapi sama sekali tidak melebur. Sekali lagi Draco bertanya dalam benaknya, apa hubungannya kura-kura dan menara Eiffel?
Ia berhenti berusaha terganggu, ketika tiba-tiba ada yang menarik kaus pinjamannya dari belakang. Ketika ia menoleh ada Harry yang terengah-engah. Sepertinya berlari menuruni tangga untuk dapat sampai di belakang tubuh Draco secepatnya.
"Aku Cuma buka pintu Harry.. Tidak kemana-mana ,"Draco berujar entah mengapa dengan mimik bahagia dan nada yang ceria. Harry mengejarnya, tiba-tiba fikiran Draco memproses itu sebagai sesuatu yang membuatnya bahagia luar biasa.
"Apa Kau akan tetap disini meskipun melihat dunia luar?"Harry tiba-tiba bertanya. Nadanya serius sekali, membuat Draco berharap ada nada jenaka di dalamnya. Karena pertanyaanya bukan pertanyaan yang lumrah kau dengar ketika kau akan membukakan pintu untuk tamu yang datang. Tidak, sebenarnya sulit bagi Draco menemukan situasi yang cocok untuk pertanyaan macam begitu.
Jadi setelah berfikir sesaat Draco menjawab,"AKu tidak akan meninggalkanmu, jika itu maksud dari pertanyaanmu."Harry tersenyum miris. Draco sekali lagi bisa menerjemahkan dengan sederhana apa yang ia risaukan.
Harry melirik gantungan kunci, pendengarannya masih menangkap suara tak sabar bel rumah yang berbunyi,"Apa kau tahu kapan menara Eiffel mulai dibangun?"
Draco mengernyit, wajahnya berkata. 'Tidakkah itu tidak penting saat ini?' Setelah pertanyaan yang tidak cocok di situasi macam apapun, sekarang sebuah pertanyaan yang jelas-jelas tak biasanya akan Kau tanyakan di saat seperti ini. Draco ingin menjawab,'Harry aku hanya membuka pintu'. Tapi kedengaran terlalu jahat, jadi Draco tidak mengatakan apapun selama beberapa saat.
Tapi ia menghela nafas. Menyentuh tengkuk Harry yang tertutupi bagian leher sweater. Pemuda itu menurunkan bagian itu dan mengekspos bagian leher Harry dan kissmark yang dibuatnya,"Entahlah.."ujar Draco sambil wajahnya mendekati leher berkulit putih itu. Putih yang berbeda dengan milik Draco, tidak pucat, mungkin cenderung tan? Pikir pemuda itu sambil mengecup kissmark di leher Harry.
Ada desahan kecil lolos dari bibir Harry. Draco kemudian berbisik,"Pada dasarnya Draco, tidak memiliki apa-apa selain jiwa. Tapi Kau memiliki cinta dan membaginya padaku, aku hidup saat ini. Jadi, jangan pernah berfikir untuk meninggalkanku atau aku akan meninggalkanmu. Karna yang manapun.."kalimat itu menggentung. Harry merasakan helaan nafas yang teramat berat di lehernya. Kepala Draco bergerak, pada posisi di mana kedua iris pemuda itu tidak bisa saling menghindar. "Draco pasti mati.."bisik pemuda blondie itu dengan suara yang lebih lirih.
"Harry? Kau di rumah?"Suara teriakan bass Ron dan bunyi bel yang makin tinggi intensitasnya menyadarkan keduanya.
Ada kerutan kesal di wajah Draco ketika harus melepaskan tatapannya pada emerald Harry,"Ya, sebentar Ron!" jawab Harry yang lalu nyengir kuda, meminta pemakluman Draco. Draco mendengus sebagai jawaban.
Kunci berputar, kenop pintu diturunkan. Pintu membuka. Draco menggenggam tangan Harry di sampingnya. Mereka seperti bersiap menghadapi pertempuran dengan dunia luar. Dunia di luar mereka berdua.
"Lama sekali sih?"dan serangan pertama dari dunia luar adalah celoteh keluhan dari bibir Hermione.
"Maaf.. maaf.. Aku sedang membereskan cucian tadi, Draco malas bergerak.."Harry membukakan lebih lebar pintu masuk rumahnya, agar kedua sahabatnya itu bisa masuk lebih cepat. Draco memandang sinis, tidak suka pada jawaban Harry.
"Tega sekali.. memangnya Kau tidak nonton ramalan cuaca hari ini? Ini hari terpanas menurut prakiraan cuaca. Tega sekali Kau membiarkan dua sahabatmu terpanggang di luar begitu.."celoteh yang lebih panjang keluar dari bibir Ron yang masuk sambil mengipas-ngipas menggunakan tangannya. Lalu kemudian ia sadar ada mahluk lain selain Harry disana, "Ouh! Hai Kapten.."ujarnya berusaha akrab meskipun tetap kikuk mendengarnya.
Draco membersihkan tenggorokannya sebelum mengeluarkan suara,"Hai."suara kaku dan ekspresi datar. Itu saja yang keluar dari mulutnya. Situasi akward berkembang.
Jadi, Harry berusaha menyelamatkan mereka dari kebekuan,"Kalian mau kencan?"ujarnya dengan suara menggoda, sambil menepuk punggung Ron. Dan tersenyum jenaka kea rah Hermione.
"Ya.. begitulah.."Hermione yang menjawab sambil nyelonong masuk ke ruang keluarga Harry. "Tapi Ron bilang dia mau mengembalikan buku fisikau dulu."para remaja lelaki yang tertinggal di depan pintu itu satu persatu ikut masuk mengikuti Hermione. Harry paling belakangan karena sebagai tuan rumah ia harus mengunci pintu terlebih dahulu.
Ketika Harry sampai di ruang keluarga Hermione melanjutkan bicara,"Jadi aku pikir kenapa kita tidak double date saja dengan kalian?"usulan itu keluar dengan nada antusias yang tinggi. Tapi untuk Harry dan Ron yang kenal baik bagaimana Hermione, raut muka gadis itu Nampak dipaksakan untuk terlihat antusias. Dan bukan Draco tak bisa menebak keterpaksaan di raut muka Hermione, pemuda itu lebih memikirkan track record sejarah hubungan antara ia dan Hermione, juga dengan Ron. Mereka sama sekali tidak akrab.
Dan meskipun ia kini 'pacaran' dengan sahabat mereka itu tak menghapus kenyataan bahwa Draco adalah tokoh antagonis bagi mereka.
"Kurasa tidak.. aku sedang malas memilih baju yang pantas untuk double date.."meskipun wajah antusiasnya terkesan berpura-pura, tapi raut kekecewaan yang kini ada di wajah Hermione jelas bukan kepalsuan.
"Ouh Ayolah.. Masa perlu aku bantu pilihkan? Ini saat yang jarang terjadi, kita bisa merayakan kemenangan kemarin dan.."Hermione berhenti, seperti merapikan letak senyumannya agar lebih pantas dilihat,"bersatunya kalian.."ujarnya dengan senyum yang dianggapnya pantas tadi. Meskipun tidak begitu meyakinkan Harry berusaha keras untuk tidak mentertawakan.
Harry berfikir sejenak, bertatapan dengan Draco yang nampak tak perduli. Sambil berkacak pinggang dan bersandar pada dinding, iris pemuda itu terlihat pasrah. Menyerahkan keputusan sepenuhnya pada Harry. Sial.. pikir Harry. ia berharap mendapat bantuan alasan dari Draco untuk menolak ajakan Ron dan Hermione.
"Ayolah.. Kita sudah lama tidak jalan-jalan bersama.."Akhirnya Ron buka suara satu kalimat utuh yang pendek dan padat. Tidak ada merajuk yang berlebihan, tapi Harry tahu jika menolaknya Ron akan kecewa luar biasa.
Dan seperti biasa, Harry benci ketika berada di posisi mengecewakan orang.
"Kalian mau pergi kemana memang?"ada nada menawar di kalimat Harry, tapi Hermione langsung menoleh sambil tersenyum kea rah Ron. Sedikit banyak Harry sudah bisa dikatakan setuju dengan rencana ini.
"London Eye!"Jawab sepasang kekasih itu serempak dan kompak, hanya lebih dulu Hermione sepersekian detik tapi suara mereka nyaris keluar seperti satu gema yang sama.
Harry menggaruk kepalanya dan menoleh pada Draco,"Bukan pilihan buruk.. Tapi Kau harus ganti baju.."ujar pemuda blondie itu menjawab pertanyaan di wajah Harry. Harry mendesah lemas.
Hermione mendadak bangkit, lalu mendekati Harry,"Aku bantu pilihkan.." sambil menarik tangan sahabatnya itu, Hermione menyempatkan diri mengangguk sebagai ungkapan terima kasih.
Ditinggal oleh kedua orang tadi, dua orang yang tersisa di ruang keluarga milik keluarga Potter itu diam-diaman dalam waktu lama. Sambil mendengarkan suara cerewet Hermione dan keriuhan yang entah apa terjadi di kamar Harry. Ron duduk di sofa besar ruang keluarga itu dan membuka toples berisi kue jahe berbentuk pita yang cantik, terpanggang kecoklatan dengan pas.
"Mau?"tawar pemuda berambut merah itu pada Draco yang masih lebih memilih berdiri dan bersandar pada dinding.
"Kalian biasa ya? Keluar masuk kamar Harry?"setelah mengangkat ringan sebelah telapak tangannya sebagai penolakan, Draco mendadak membuka percakapan.
"Bisa dibilang.. Hermione biasanya malas masuk kesana karena kamar Harry benar-benar mirip kapal pecah. Tapi jika Harry sudah merapikannya ia tidak akan keberatan."
Draco tersenyum tipis, mengangguk-anggguk perlahan entah untuk apa."Apa kalian datang kesini untuk memastikan Harry baik-baik saja?"
Untuk sesaat Ron terkikik geli. Merasa ada yang ganjil tentang pertanyaan yang Draco ajukan padanya. Tapi cekikikan itu lumayan membantu atmosfer ruangan itu, seakan ada kelembaban dan kehangatan yang mulai bertumbuh. Sebelumnya dua pemuda itu seperti masing-masing berdiri di lapisan es tipis. Tidak mau bergerak banyak. Tidak mau bicara apa-apa. Seakan jika salah sedikit saja lapisan es tipi situ akan retak, pecah, mereka akan tercebur ke lautan berisi air dingin dengan suhu dibawah nol derajat. Seketika terkena hipotermia dan mati tenggelam.
Jadi, kehangatan yang mengudara akibat kekehan Ron benar-benar disyukuri oleh seorang Draco Malfoy saat ini.
"Kami khawatir pada Harry, ya tentu saja."Ron berhenti sesaat untuk menelan hasil kunyahan kue jahenya,"Kami selalu khawatir pada Harry soal segala hal. Masalahnya adalah kami tidak pernah menghadapi yang seperti ini sebelumnya. Harry berpacaran dengan seorang laki-laki, dan laki-lakinya adalah musuh bebuyutan kami. Mungkin bisa Kau bayangkan sendiri bagaimana khawatirnya kami?"ujar Ron yang kemudian menjadi hati-hati dalam menggigit potongan berikutnya dari kue jahe ketiganya.
Draco menyisir rambutnya dengan jemari. Sambil perlahan-lahan menarik nafas, ia rasa ia bisa membayangkan apa yang dirasakan Hermione dan Ron. Seseorang seperti Harry dan seseorang seperti dirinya jelas bukan pasangan yang lazim. Ditambah dengan kenyataan bahwa keduanya memiliki dunia yang jauh berbeda satu sama lain. Dan posisi Harry jelas jauh lebih tidak menguntungkan jika Draco hanya main-main. Draco adalah kekasih pertama, manusia pertama di dunia ini yang berani Harry usahakan sedemikian rupa, agar bisa bersama, bahkan hanya untuk kenangan sesaat. Jika kemudian Draco ternyata hanya mempermainkannya. Bukan tidak mungkin Harry akan terluka lebih luar biasa dari yang Draco kira.
Draco memikirkan itu secara seksama selama beberapa lama. Membuat percakapan pendek barusan terpotong disana, di kalimat terakhir Ron.
Draco mulai menyadari lebih detail mengapa ia tidak akan mudah mendapat kepercayaan para sahabat Harry. Dan terlebih ia berkata pada Harry, mereka masih rahasia. Harry tidak keberatan. Tapi jika Ron atau Hermione mendengar soal masalah ini, mereka pasti tidak terima habis-habisan. Draco mengerti bahwa memperlakukan hubungannya dengan Harry sebagai suatu rahasia terdengar seperti Draco sedang berusaha menutupi bisnis illegal yang janggal bahkan di dunia pasar gelap.
Hubungan tanpa masa depan, dengan status tanpa kepastian.
Tapi Draco tidak punya pilihan untuk saat ini. Sungguh. Setidaknya untuk sekarang ini. Draco harus mengumpulkan keberanian dan menumpulkan kepengecutan.
Ia hanya berharap semoga Harry bisa bertahan cukup lama menghadapinya.
Sementara di sisi lain, tepatnya setelah menaiki tangga dan masuk kepintu kedua setelah tangga. Kita akan masuk ke kamar Harry yang rapi, untuk saat ini, walaupun kini di ranjangnya bertumpuk beberapa kaus kasual dan kemeja yang nampak santai untuk pergi berjalan-jalan di hari minggu siang, kamar Harry tetap masih masuk dalam kategori rapi. Jalan-jalan di hari sabtu siang bersama sahabat dan kekasih baru, pasti terdengar sempurna. Terlebih itu hanya dua hari sebelum libur musim panas usai. Semua baju yang terhampar itu masih bagian dari isi lemari Harry karena itu tidak ada masalah soal selera. Tapi sampai detik ini Harry masih tetap setia dengan sweater tebal yang sama, kita pastikan masalahnya bukan soal selera pakaian.
"Kenapa tidak bilang Kau tidak bisa keluar rumah karena 'tanda bodoh' di lehermu itu?" Hermione berkacak pinggang. Setelah mengeluarkan beberapa pasang baju dan celana dan menyiapkan aksesoris seadanya milik Harry. Hermione baru diberitahu bahwa Harry tidak bisa memakai baju yang dipilihkannya.
"Bagaimana kalau pakai plester saja?"usul gadis cerdas itu akhirnya dengan anda putus asa. Ia tidak punya solusi lain yang lebih baik dari itu. Ada solusi lain yaitu Harry tetap memakai sweater merah menyalanya itu, tapi Hermione tidak akan mau berjalan dengan pria berbaju sweater rajut tebal di hari terpanas musim panas tahun ini.
"Bukannya malah akan terlihat lebih mencolok dan mencurigakan?"
"Tapi Kau bukan selebritis juga sih.. Tidak akan ada yang terlalu memperhatikan.."Ujar Hermione berusaha meyakinkan,"kurasa.."tambahnya dengan nada yang jauh lebih rendah daripada kalimat sebelumya.
Harry memainkan kepalanya ringan seakan berusaha berfikir lebih keras, tapi juga tidak terlalu keras. Setelah menimang-nimang beberapa saat ia berjalan menuju lemarinya dan membuka laci dimana ia menyimpan pakaian dalam, ada kotak plastic kecil disana berisi obat asma dan plester, juga obat mag yang sepertinya sudah kadaluarsa. Itu saja isi kotak P3K Harry. Ada kotak P3K lain di dapur jadi Harry tidak perlu khawatir, ia yakin ibunya mengisi kotak itu lebih lengkap daripada kotak ini. Tapi mungkin sebaiknya ia membeli persediaan obat mag. Sambil berfikir begitu ia membawa satu strip plester mendekat ke cermin, Hermione mengikutinya dan memandangi proses penutupan 'tanda' dari Draco oleh plester yang harga satuannya sama dengan permen lollipop kecil rasa soda kesukaan Harry.
Setelah selesai memasang plester itu, Harry mengernyit. Tidak buruk juga kelihatannya. Kenapa tidak terpikirkan olehnya dari tadi? Plester murahan ini bisa menjadi solusi praktis dibandingkan menggunakan sweater tebal merah seharian di hari terpanas musim panas ini. Harry lalu memandangi Hermione untuk beberapa saat dengan penuh kekaguman.
Yang dipandangi menoyor kening pemuda berambut hitam itu ringan,"Sudah, pilih bajunya sana!"
Harry kemudian memilih kaus berkerah berwarna abu dengan tempelan saku yang disudut kanannya tercetak huruf Q. Mungkin itu lambang dari merk kaus itu, kaus katun yang ringan dan nyaman dipakai, tapi jelas bukan merk yang terkenal. Lalu memilah celana jeans biru dongker mana yang paling nyaman untuk digunakan. Setelah itu ia berjalan ke sudut, seakan mengerti dengan sendirinya Hermione duduk di ranjang Harry. membelakangi pemuda itu yang sedang berganti baju. Mereka sahabat yang cukup dekat sampai Hermione tidak perlu keluar dari kamar itu, ketika Harry ganti baju. Tapi gadis itu juga masih tahu diri untuk tidak menonton Harry berganti pakaian.
"Boleh Tanya sesuatu?" tiba-tiba Hermione berkata begitu setelah keheningan lumayan panjang karena Harry sedikit kesulitan membuka sweaternya, bagian lehernya terlalu kecil untuk ukuran kepalanya.
"Apa?"jawab harry singkat sambil mengambil nafas, setelah bebas dari sweater rajut itu.
"Waktu itu, ketika Draco sakit perut akibat minuman yang dibelikan Crabe.. Kalau Aku tidak salah lihat sebelumnya minuman itu akan diberikan padamu kan?"
Harry mengernyit. Tidak mengerti kenapa sahabat perempuannya ini tiba-tiba menanyakan fakta itu saat ini. "Ya."sekali lagi Harry menjawab singkat.
Hermione lalu menyeringai, Harry tahu gadis itu menyeringai meskipun tidak melihatnya. Sepertinya ia baru saja berhasil menyinkronkan suatu fakta dengan satu fakta lain. "Jadi, dengan kata lain ia menyelamatkanmu?"
Harry selesai dengan urusan ganti bajunya, lalu kemudian mulai memunguti dan melipat kembali baju-baju yang Hermione bentangkan di ranjangnya. "Kalau Draco yang Kau maksud. Ya, dia menyelamatkanku."
Lalu ada helaan nafas lega. Kemudian Hermione berbalik dan mulai membantu Harry melipat kembali baju-bajunya. "Kalau begitu aku tidak perlu khawatir kan?"
Harry mengernyit lagi, garis kerutan di dahinya lebih tegas dari kernyitan sebelumnya. Seakan pertanyaan ini lebih membingungkan dari yang sebelumnya,"Soal?"
"Draco hanya bermain-main denganmu."ujar Hermione dingin. Tidak ada nada hati-hati, tidak berkesan berusaha menjaga perasaan Harry sebagai kekasih pemuda itu kini. Sesuatu yang sesungguhnya bisa sangat dimengerti jika kemudian Harry sadar sepenuhnya riwayat percintaan macam apa yang dimiliki pemuda ini.
Terlebih Harry laki-laki.
Terlebih sebelumnya mereka adalah rival abadi.
Kesan permainan konyol macam apa ini? Tidak bisa Harry tepis.
"Aku tidak menakut-nakutimu Harry. Tapi jika terjadi sesuatu, Kau harus langsung bicara pada kami."Harry tersenyum. Sekali lagi ia dimanjakan oleh kekhawatiran khas di iris cokelat Hermione.
Itu sebabnya mereka ada disini saat ini. Harry mendadak mengerti.
"Mulai beroperasi tahun 1999, tapi kemudian baru dibuka untuk publik pada awal tahun 2000. London Eye adalah sebuah roda pengamatan yang terbesar di dunia -setidaknya saat ini- setinggi 135 meter atau 443 kaki. Terdiri dari 32 kapsul pengamatan,London Eye berputar di atas Sungai Thames, sekali putaran memakan waktu sekitar 30 menit."Hermione mengangkat dagunya bangga. Draco memandang sinis keangkuhan gadis itu tapi bersusah payah menahan dirinya untuk tidak mulai mengejeknya.
Walaupun Draco sendiri merasa Harry terlihat sedikit sebal dengan tingkah ensiklopedia berjalan yang barusan Hermione keluarkan. Kalimat panjang barusan adalah buntut dari kebosanan ketiga remaja yang hanya bisa bengong di dalam salah satu gerbong kereta bawah tanah London. Mereka menuju stasiun Westminster, salah satu stasiun terdekat untuk mencapai roda pengamatan itu.
Jadi, Harry yang mulai bosan memperhatikan Ron yang sudah tertidur sejak 5 menit pertama perjalanan akhirnya menantang Hermione dengan bertanya siapa arsitek pembangun London Eye. Dan Hermione menyebutkan dengan lengkap keenam arsitek yang terlibat dalam pembangunan London Eye itu. "David Marks dan Julia Barfield adalah arsitek utama pembangunan rancangan ini, kemudian mereka dibantu oleh Malcolm Cook, Mark Sparrowhawk, Steven Chilton, dan Nic Bailey",ujarnya tanpa jeda mengambil nafas. Setelah selesai ia tersenyum dan menantang Harry untuk bertanya lagi. Jadi, Harry meminta Hermione menceritakan apapun yang ia ketahui tentang London Eye. Dan muncullah deskripsi singkat barusan.
"Bagaimana caramu mengingat semua itu?!"Harry bertanya sekedar retorika. Hermione pun mengerti, jadi ia hanya memeletkan lidah mengejek pada teman karibnya itu. Mereka berempat duduk di bangku panjang kereta bawah tanah, gerbong yang mereka tumpangi nyaris kosong. Hanya mereka dan seorang lelaki tua yang mengenakan kaus katun berkerah dan menggunakan celana olahraga serta sepatu tenis. Usianya sekitar 50 tahun, mungkin lebih. Bangku di sampingnya terisi oleh tas olahraga lumayan besar. Sambil bersidekap lelaki tua itu menutup matanya, mungkin tertidur, mungkin tidak. Memperhatikan lelaki tua itu, Draco jadi merasa suasana kereta terasa melamban. Ia mulai menguap pelan.
"Hei.. Kau jangan tidur juga.."Harry menyikutnya sambil kemudian menunjuk Hermione yang kini terkantuk kantuk, mulai bersandar di pundak Ron. Pemuda itu mendengkur dengan mulut yang membuka lebar.
"Kalau tidak di kendaraan pribadi biasanya aku tidak akan bisa tidur."Harry mengatakannya dengan nada mengeluh.
"Manja.."cibir Draco sambil mendengus pelan dan kemudian menepuk pundaknya.
Harry memandangi heran pemuda itu. Maksudnya jelas, mudah dimengerti. Draco ingin agar Harry juga tidur di pundaknya, seperti tempo hari ketika mereka menaiki bis malam London. "Tidak mau?"Tanya Draco dengan nada menawarkan khas pramuniaga toko elektronik.. setelah diam-diaman selama 20 detik Harry menolak tawaran Draco dengan gelengan kecil dan menegakan duduknya lalu memandang ke depan, ke bangku di sebrang bangku mereka.
Kami rahasia. Ujar Harry dalam hati. Ia sengaja memindahkan pandangannya dari Draco. Akan terlalu mudah membaca isi pikirannya bagi Draco jika ia melihat ke dalam mata Harry. Setidaknya dengan begini Draco bisa ia kelabui sementara waktu.
Draco mengambil posisi yang sama seperti lelaki tua di sudut gerbong sana. Bersidekap dan menutup mata. "Bangunkan kami kalau sudah sampai.."pesan Draco sebelum benar-benar memejamkan mata. Perjalanan dalam kereta sebenarnya tidak akan sampai setengah jam, mungkin 10 menit lagi juga mereka sampai. Menurut Harry itu waktu yang tanggung untuk dipakai terlelap.
Dan dia memang tidak akan bisa terlelap.
"Ini pertama kalinya naik London Underground.."tiba-tiba saja Draco bersuara.
"Bukannya mau tidur?"Harry menoleh pada pemuda itu. Tapi mata Draco menutup tanpa sedikit pun ketegangan, persis sekali tidur. Membuat Harry ragu-ragu apa barusan Draco hanya mengigau? Harry lalu menoleh ke beberapa arah. Merasa kesepian ia memandangi dua sahabatnya. Ia mendengar bunyi nafas tenang milik Hermione. Gadis itu tidur dengan kening mengkerut sesekali. Sepertinya memikirkan sesuatu yang rumit dalam tidurnya. Harry hanya berharap ketika bangun nanti mood gadis itu tidak berubah jadi buruk karena tidur sepotongnya disinggahi mimpi tentang hal-hal merepotkan.
Selama memperhatikan suara pelan nafas Hermione, Harry menunggu jawaban dari Draco. Ia yakin bahwa kalimat barusan terlalu rapi jika dikeluarkan oleh seseorang yg mengigau. Mungkin pemuda itu hanya tidak ingin menjawab pertanyaan barusan. Jadi Harry berusaha bersandar lebih santai pada kursinya, memperhatikan Draco yang menutup mata. Entah tidur atau tidak.
Wajah itu berbungkus kulit putih pucat, dan meskipun badannya tinggi dan tegap menurut Harry wajah Draco terlalu tirus dan mungil. Mungkin jika ia bukan berasal dari keluarga kaya dan bangsawan, tipe wajah Draco jauh lebih pantas untuk dijadikan sasaran bullying daripada Harry. Jika begitu keadaannya, mungkin mereka akan menjadi kawan senasib? Harry mengkhayal liar.
Tapi Draco jelas lebih menarik wajahnya dibanding Harry. Begitu pemuda itu berfikir. Dia punya hidung mancung yang elok dan bentuk wajah yang bagus. Jika Draco seorang gadis Harry mungkin akan memasukannya ke dalam dafatar gadis-gadis yang sebaiknya Harry hindari untuk dijadikan sasaran jatuh cinta. Menurut pengamatan Harry gadis-gadis dengan keelokan rupa seperti ini akan punya kehidupan yang merepotkan. Untungnya Draco laki-laki, meskipun fakta kelelakian Draco juga tidak banyak membantu Harry. Harry tersenyum sendiri, lanjut mengamati lagi. Bibirnya tipis, tidak terlalu tipis tapi bentuknya menarik untuk dipandangi-sexy jika boleh Harry menambahkan kata itu. Terlebih jika mereka sedang bercumbu dan Draco mengambil jeda di antara ciuman mereka lalu menjilat bibir tipis itu.
Harry menegakan punggungnya dan terburu-buru mengalihkan pandangan. Apa yang barusan kupikirkan? Harry menyentuh pelipisnya, memijatnya sebentar.
Ada suara hembusan nafas yang seperti dipaksa berlomba keluar dari berbalik, melihat Draco juga menegakan punggungnya. Matanya terbuka dan iris abunya menatap hangat. Dan tiba-tiba saja tangan Harry ia genggam."Tidak apa-apa.."ucapnya ketika merasakan Harry berusaha menarik tangannya. Harry menatap pemuda itu dengan tatapan memohon untuk dilepaskan, setengah berharap bahwa seperti biasa, Draco akan berkata bahwa tidak masalah karena tidak ada yang melihat mereka. Dengan begitu posisi Harry sebagai rahasia menjadi jelas. Dengan begitu Harry bisa bertahan dalam hubungan mereka sekarang ini.
Tapi Draco tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menyeringai menyebalkan lalu kemudian mengacak rambut Harry dengan tangan satunya. Setelah itu ia kembali bersandar pada tempat duduknya, menengok ke jendela di belakang mereka yang hanya menunjukan pemandangan gelap terowongan bawah tanah.
"Kadang-kadang aku menonton drama tv remaja.. biasanya jika Bibi Bellatrix datang ke rumah untuk menjagaku saat libur musim panas. Aku tidak terlalu ingat judulnya, tapi ada sebuah drama tv yang ceritanya lumayan dan aku sedikit antusias ketika menontonnya. Ada satu episode dimana si tokoh utama mengajak pacarnya pulang menggunakan London Underground . Kau tahu judul acara itu?"Harry sudah berhenti berusaha melepas genggaman tangan Draco. Ia mendesah, kemudian berusaha mengingat-ingat. Ada banyak Drama TV remaja dengan cerita semacam itu, cirri-ciri yang Draco berikan tidak terlalu spesifik menurutnya.
"Kurasa Kau bertanya pada orang yang salah, Draco. Aku bukan penonton drama tv remaja.. Sebenarnya jarang sekali nonton TV kecuali acara berita.."mata keduanya bertemu. Harry menyadari detik itu bahwa cekungan mata Draco memiliki warna kulit yang lebih gelap dibandingkan bagian lain kulit wajahnya. Meninggalkan kesan dalam setiap kali memandang ke mata keabuannya yang cemerlang.
Menatapnya seperti menatap langit mendung tak berawan.
Kau tidak menemukan harapan disana.
Kau tidak menemukan asa di dalamnya.
Tapi mungkin ada ketenangan. Membuat Harry membayangkan hari minggu yang mendung, ia akan duduk di dalam kamar sambil membaca buku ensiklopedianya. Atau mungkin bergelung selimut mendengarkan lagu-lagu kesukaannya. Sambil menatap rinrik-rintik yang mulai jatuh lewat jendela kamarnya. Yah, itulah suasana yang dihadirkan mata kelabu Draco ketika Harry memandangnya.
Ketika Harry sadar dari khayalannya, wajah Draco sudah berjarak sangat dekat dengan miliknya. Kelabu dingin yang menjekmakan ketenangan, menjanjikan keheningan total. Pemuda itu membasahi bibirnya dengan jilatan singkat baru kemudian mengecup Harry kilat. Lalu dengan gugup menjauhkan wajahnya, ia kembali menyamankan punggungnya pada sandaran kursi.
Di luar kereta, pemandangan gelap dinding-dinding beton jaringan kereta bawah tanah masih menjadi satu-satunya hal yang bisa dilihat oleh Draco yang kini menatap keluar. Menghindari tatapan bertanya-tanya yang Harry berikan padanya.
"Hei.."Harry memanggil dengan kaku. Tangannya masih digenggam Draco dengan erat, bukan genggaman yang memaksa lagi memang. Cukup longgar jika sekarang Harry ingin melepasnya. Tapi toh ia tidak melakukannya, meskipun Draco memberikan kebebasan pilihan pada Harry.
"Naik London Eye-nya mau bareng mereka atau kita masing-masing saja?"Harry bersuara. Ia menetralisir kegugupannya dengan pertanyaan pengalihan. Ia bisa merasakan detakan nyaman urat nadi Draco pada genggaman tangannya. Denyut kehidupan keduanya yang tergenggam, berirama dalam setangkup asa atas nama kebersamaan.
Harry merasa nyaman menunggu Draco yang menanti momentum tepat untuk menjawab pertanyaannya.
"Tergantung, jika banyak pengunjung lebih baik naik sama-sama, lagipula kalau banyak pengunjung pengelola pasti akan memastikan setiap kapsul pengamatannya terisi secara maksimal."
"Kau sepertinya cukup tahu banyak soal London eye ini?"terka Harry. "Walau tidak sedetail Hermione sih.."
Draco berdehem pelan,"Bagaimana ya? Begini, aku pernah kesana sekali ketika minggu pertama peresmian dan belum dibuka untuk umum. Biasa, para kaum bangsawan dan pengusaha tertentu diundang untuk meningkatkan pamor dan menambah penanaman modal untuk promosi dan pengelolaan awal. Waktu itu dalam tur daripada menjelaskan tentang keunggulan secara pengetahun dan arsitektur saja mereka berusaha mempromosikan keuntungan ekonomis bangunan itu di masa depan sebagai suatau obyek wisata dan ikon baru bagi London."
Harry mengangguk dua kali, dengan wajah seakan baru mengingat suatu fakta penting Harry berkata begini,"Benar juga.. Kau termasuk ke dalam kalangan tertentu yang memiliki akses lebih mudah untuk banyak hal."
"Jangan mulai, Harry.. "Draco terdengar tersinggung. Merasa pemilihan kosakata Harry seakan mengejek dan menuduh. Tapi seperti biasa pertengkaran kecil mereka dihentikan oleh senyum jahil salah satu dari mereka. Untuk saat ini senyum jahil itu milik Harry.
"Kau benar-benar tidak tahu judul drama tv yang aku tanyakan?"Harry menggeleng.
"kenapa memangnya? Sepertinya penasaran sekali?"
"Soalnya waktu pertama kali lihat kursi di kereta bawah tanah disitu, dan kelihatannya tidak nyaman sekali. Anehnya pasangan remaja itu kelihatan luar biasa bahagia duduk disini. Tapi setelah dicoba, tidak seburuk itu."
Mata Harry membulat sedikit, seakan terkejut dengan kalimat Draco barusan. Atau memang dia benar-benar terkejut. Entahlah Draco juga tidak mengerti. Tapi ia menyukai ekspresi komikal yang Harry kenakan di wajahnya sekarang, jadi ia menahan dirinya untuk tidak terlalu mudah tersinggung. "Sebenarnya, tadi ketika Ron mengajak naik kereta bawah tanah aku sudah takut kau akan menolak dan kalian akan mulai bertengkar."
Draco tersenyum melecehkan pada kalimat meragukan Harry,"Sudah kubilang, aku mungkin manja tapi bukan berarti tidak tahu diri. Jika itu untuk bersamamu aku akan berusaha menyesuaikan diri."
Lalu pandangan menyelidik Harry menjadi pusat perhatian Draco kini,"kenapa?"ujar si pemuda blondie, tak nyaman ditatap menyelidik.
Pemuda berkacamata bundar itu nyengir kuda, menggeleng sekali. Lalu berkata begini,"Tidak. Aneh saja Kau bersikap manis begini."
Tiba-tiba saja genggaman tangan Draco mengerat lagi. Emosi dari genggaman tangan itu terasa menguat. Tidak lagi memberi kebebasan kehendak jika Harry berfikir untuk melepaskan. Draco seakan berkata bahwa ia tidak akan mengizinkan Harry melepaskannya. Harry memang tak berkomentar apa-apa. Tidak ingin mulutnya yang biasa berkata sesuka hati kemudian mengungkapkan hal macam-macam dan memporakporandakan suasana.
Lelaki tua di barisan bangku depan menggeliat. Draco baru yakin bahwa pria itu tertidur ketika ia kini menguap tanpa membuka mata, dan sepertinya kembali tertidur.
Sedari tadi, Harry mungkin tidak merasakannya. Draco berusaha menantang dirinya sendiri untuk menjadi berani. Menggenggam tangan Harry. Di tempat umum seperti ini. Itu berat sekali. Meskipun hanya seorang kakek-kakek yang mungkin memergoki.
Bagi Draco itu berat sekali.
Terutama ia tidak yakin jika kakek itu benar-benar tertidur atau tidak. Bisa saja kakek itu tidak benar-benar tertidur dan ketika membuka mata melihat ketika mereka berciuman tadi. Lalu menatap sinis ke arah Draco. Setengah diri Draco berharap itu terjadi. Ia ingin tahu bagaimana ia akan bersikap setelah ini, jika seseorang memergoki mereka.
Severus Snape, Blaise Zabini, Ron Weasley, Hermione Granger. Sedikit nama yang mengetahui hubungan ini dan Draco tak perduli ketika mereka tahu. Mungkin sedikit terganggu soal ayah baptisnya. Tapi selebihnya Draco baik-baik saja.
Mungkin itu pertanda baik.
Mungkin sebentar lagi ia cukup berani untuk mengaku pada seluruh dunia.
Mungkin saja.
"Kau memikirkan apa?" Harry dengan tampang khawatir melepas perlahan genggaman tangan Draco. Lalu menempelkan punggung telapak tangannya pada dahi Draco.
"Kau."jawab Draco singkat, dingin, tidak penuh perasaan semacam yang ada di film-film romantic. Tapi Harry bersemu merah sedikit pipinya. Lalu cemberut tidak jelas dan kembali duduk tegak sambil mengalihkan pandangan ke bagian lain gerbong kereta. Draco terkekeh selama beberapa saat.
Lalu ia diam. Menatap punggung ringkih seorang pemuda di sampingnya.
Tanpa sadar, tiba-tiba saja mereka sudah sampai. Harry sibuk membangunkan Ron dan Hermione. Lalu dengan ricuh mereka terburu-buru keluar dari kereta. Berjalan keluar dari stasiun, Ron dan Hermione bergandengan tangan, sementara Draco dan Harry hanya berjalan berdampingan. Tangan keduanya hanya berjarak sekitar 5 cm. Tapi keduanya tak menyatukan tangan.
Begitu keluar ke kerumunan manusia.
Menemui dunia nyata.
Draco dan Harry menyadari realitasnya.
Merasakan betapa tabunya hanya untuk sekedar bergandengan tangan.
Mereka mungkin bisa mengobrol, tertawa dan bertengkar sesuka hati mereka sama seperti Ron dan Hermione.
Tapi tidak bergandeng tangan.
Ah.. Begini dunia nyata.. Draco memandang Harry yang menjauh mengejar Ron yang menantangnya untuk berlomba sampai lebih dulu ke tempat pembelian tiket.
"Boys.." keluh Hermione sebal tapi tak lama kemudian tertawa ringan melihat Harry berhasil mengalahkan Ron setelah aksi tarik-menarik baju dari belakang ketika Ron berhasil lari mendahului Harry, benar-benar aksi curang ala bocah.
Draco merasa asing dengan kebahagiaan atmosfer hangat ini. Draco mungkin sering berada di keramaian. Tapi tidak pernah benar-benar memiliki teman seperjuangan macam trio konyol di hadapannya saat ini.
"Kau melamun.."Harry menjejalkan sebuah tiket ke genggaman tangan Draco. Itu kontak fisik pertama mereka sejak keluar dari kereta tadi. Mereka bertatapan sesaat. Harry membaca kekhawatiran, kecemasan, kegamangan di wajah lelaki angkuh itu. "Tidak apa-apa."ujar Harry. Sambil mengusahakan sebuah senyum.
Entah untuk apa, kalimat penghiburan itu. Tapi Draco Cuma tersenyum tipis dan kemudian menjejeri langkah Harry yang sudah berjalan lebih dulu menuju antrian panjang menaiki London Eye. Seperti perkiraan Draco, hari libur seperti ini pengunjung London Eye lumayan membludak. Kebanyakan, adalah pasangan muda-mudi yang Nampak kasmaran dengan caranya masing-masing.
Draco merasa konyol ketika ia berada disini dengan kekasihnya. Tapi tidak bisa seperti pasangan lain.
"Biso kok naik Cuma berdua-berdua.."ujar Harry pada Draco ketika pemuda itu sampai di sampingnya. Hermione dan Ron berada dua baris di depan mereka.
"Ok."Draco berusaha untuk memperlebar sudut senyumnya. Tapi rasa iri pada pasangan lain menggerogoti antusiasmenya. Ia memikirkan kencan pertama Harry dan dirinya bisa lebih layak. Ia memikirkan untuk membawa Harry dengan salah satu mobil mewah di garasinya dan memesan ruangan private di sebuah restoran kelas atas.
Mereka akan lebih leluasa, dan tak perlu terpapar perasaan kecemburuan social macam saat ini.
"Jangan cemberut."Harry memotong lamunan Draco. "Setelah masuk ke kapsul itu, kita Cuma berdua."Kata Harry sesantai mungkin. Namun tampang sok santainya itu tak bisa mengelabui detakan jantungnya.
Draco terkekeh. Lalu mengacak rambut berantakan Harry. "Aku tahu, Bodoh!" Draco kemudian mendapat protes dan dengusan sebal karena Harry sudah mengusahakan dengan susah payah agar tatanan rambutnya terlihat lebih rapi hari ini. Lalu Draco membicarakan soal pertandingan arsenal minggu lalu dengan Liverpool. Harry menyela dengan cerita soal di hari yang sama ia sedang membaca bahwa perempuan hanya memproduksi 400 sel telur sepanjang hidupnya. Yang ditimpali Draco dengan hipotesis sok ilmiah mengapa perempuan lebih bersifat defensive daripada laki-laki yang mengeluarkan jutaan sel sperma setiap harinya. Lalu topic berpindah pada suara Draco yang ternyata lebih buruk dari perkiaraan Harry ketika menyanyikan Symphaty for the devil. Lalu kemudian Draco menantang balik Harry untuk bernyanyi, dan tentu saja suara Harry juga tidak cukup bagus untuk dipuji menurut Draco. Lalu mereka bertengkar, lalu terkekeh bersama.
Obrolan ringan tidak penting mengisi waktu mereka selama menunggu antrian panjang itu.
Ini dunia nyata. Harry dan Draco sadar begitu memasukinya.
Menghadapinya akan sulit. Memberontak tanpa persiapan mental yang cukup sama saja bunuh diri.
Draco dan Harry mengerti.
Maka tampak bagi orang lain kini, mereka hanya sekedar dua remaja pria yang melakukan hal-hal konyol bersama. Beberapa gerombol gadis di barisan belakang mereka melirik-lirik. Mungkin berfikir untuk mendekati salah satu dari remaja pria ini.
Tapi Draco dan Harry tak tertarik.
Mereka akan belajar mengelabui mulai saat ini. Di dunia nyata ini.
Kami akan berdua sampai saat terakhir.
Di samping gereja tua itu adalah sebuah bangunan sederhana yang kukuh, dengan warna cat putih gading pada dinding. Pintu besar bangunan sederhana bertingkat dua itu membuka hari ini. Banyak orang lalu lalang. Beberapa berpakaian santai, beberapa nampak seperti petugas UGD rumah sakit— bergerak gesit dalam satuan komando langkah yang tertata apik. Mondar-mandir orang-orang ini diselingi beberapa manula yang datang sepertinya dengan pakaian terbaik mereka. Berjalan perlahan dibantu tongkat atau ada salah satu 'mereka yang mirip petugas UGD' datang memapah.
Di tempat parkir ada sebuah pohon dedalu besar, bukan pohon yang lazim ditemui di daerah ini. Tapi pohon itu berdiri rimbun dan terasa angkuh, nampaknya mau tak mau berada disitu sebagai tempat berteduh. Banyak langkah lalu lalang membawa berbagai barang, persiapan dan sajian untuk makan siang. Seorang wanita berambut merah alami tersenyum riang sambil memastikan gelungan rambut panjangnya tak jatuh. Menyambut tamu-tamunya yang terdiri dari manula-manula dari sebuah panti jompo di sekitar situ. Ia kemudian membantu seorang nenek untuk meniti tangga di depan pintu masuk yang tak lebih dari lima anak tangga.
Nampaknya sang nenek lelah sekali setelah meniti tangga dan meminta diambilkan air minum. Perempuan berambut merah yang digelung, tersenyum dan mengangguk sambil menuntun sang nenek duduk di sofa tamu. Lalu mengambilkan air dingin dari dispenser yang di taruh di samping meja daftar sang nenek minum, wanita itu undur diri dari situ. Masih ada tugas lain yang menunggu.
"Sibuk Lilly?"Lilly Potter berbalik untuk mengonformasi suara siapa yang barusan ia dengar. Sambil tersenyum dan melupakan beban berat kardus berisi jus kalengan di tangannya, ia mendekati pria itu.
"Severus?"lalu tertawa sekali. "Ada apa kesini?"sambil senyum di bibirnya tak ia sudahi sama sekali.
"Memastikan Kau tidak bekerja terlalu berat.."ujar lelaki berwajah murung itu dengan sedikit senyum tumpul. Detik berikutnya beban di tangan sang wanita berganti ke tangannya.
"Ok.." kata Lilly mengangguk dengan ragu kemudian menunjukan Severus kemana minuman itu harus dibawa. Sambil jalan menuju taman asri di belakang bangunan itu, Lilly menjelaskan acara yang sedang diadakan lembaganya hari ini. Ia bekerja sama dengan sebuah panti jompo di daerah itu untuk mengadakan semacam pesta musim panas, acara hiburan bagi para manula yang sudah dilupakan oleh masyarakat bahkan mungkin juga keluarganya. Padahal tidak sedikit dari mereka yang dulunya punya kedudukan cukup bagus di masyarakat. Beberapa dosen atau guru dengan pengabdian luar biasa pada sekolahnya, beberapa mungkin polisi, pengacara , jaksa— praktisi hukum, olahragawan yang sudah bertahun-tahun pensiun dan banyak bidang lain. Mereka berasal dari kalangan menengah yang punya pendidikan dan harga diri cukup tinggi. Sulit menerima bahwa kini mereka tersingkir dari dunia yang mereka geluti. Bahkan anak atau cucu mereka yang berjanji sering-sering menjenguk tak kunjung muncul. Atau bahkan beberapa dari mereka tak punya keluarga sama sekali yang cukup dekat untuk bisa berjanji akan berkunjung. Dengan kondisi fisik yang makin menurun dan ingatan yang mengabur, hidup benar-benar terasa seperti menghitung mundur. Karena itu acara sebulan sekali ini diharapkan bisa membangkitkan gairah mereka untuk tetap hidup. Sampai benar-benar waktu yang meminta mereka mundur.
Severus sebenarnya tidak bertanya apa-apa. Tapi dulu memang beginilah mereka bersahabat, Lilly akan banyak bicara dan bercerita. Severus akan banyak diam dan mendengarkan. Tapi terkadang jika Lilly butuh saran dan nasihat, Severus bisa jadi cukup bijaksana.
"Lembagamu sendiri? Apa kalian tidak punya focus untuk mengurusi hal-hal tertentu?"itu kalimat pertama Severus setelah penjelasan panjang dari Lilly.
Lilly dan Severus melewati aula tempat para manula sekarang sedang bernyanyi bersama. Sedikit mengernyit Lilly balik bertanya,"Darimana Kau tahu kalau lembagaku tidak hanya mengurusi para warga negara senior ini?" warga negara senior adalah istilah lembut yang Lilly pergunakan dengan tulus untuk menghormati para orangtua ini.
Tapi bukan perbedaan istilah Lilly dengan miliknya yang mengganggu Severus. Pertanyaan berbalik pertanyaan ini mengingatkan pada Harry Potter jika berada di kelasnya. Jika ia menyasar menanyakan berbagai pertanyaan yang kemungkinan besar tak diketahui remaja itu ia justru balik bertanya pada Severus. Severus menyalahkan James dalam hati soal –menurutnya- betapa buruk pendidikan tata karma Harry. Tapi barusan saja, Severus mengonfirmasi bahwa Lillylah yang bertanggung jawab atas kebiasaan Harry itu.
"Dengar-dengar.. kalau tidak salah waktu itu kau dan teman-temanmu ini menyelenggarakan acara penggalangan dana untuk pasien kanker anak-anak."
"Kau masih setia baca Koran setiap pagi secara teliti?"ujar Lilly mengingat-ingat sebuah kenangan di masa remajanya bersama pemuda pemurung ini. Ia tahu Severus maniak membaca Koran, terutama bagian lowongan kerja. Ia dulu ingin sekali cepat bisa mandiri dan meninggalkan rumah orangtuanya secepat mungkin.
Acara yang dibicarakan severus sempat dimuat di Koran local, kemungkinan besar Severus membacanya disana.
Severus mengangguk teramat perlahan seakan jika ia sedikit saja terlalu tergesa kepalanya akan lepas dari lehernya,"Sekitar awal tahun ini.. Salah satu potongan wawancara seorang anak penderita kanker otak.. aku lupa siapa namanya, tapi aku nyaris menangis membacanya."
"Apa yang dikatakannya memang?"
"Aku Cuma bisa ingat bagian akhir. Dia bilang 'Terima kasih karena memikirkan kami. Sampai jumpa di musim panas nanti, itu jika aku berhasil menjalani kemotherapy. Tapi bahkan jika aku tidak berhasil, aku berharap kalian tetap menjadi orang-orang baik yang memikirkan orang-orang seperti kami.' "
Lilly mengangguk, mengalihkan tatapan penuh matanya yang tadi memandangi Severus ke arah lain lalu mengembangkan senyum,"Syukurlah.. Kau masih Severus yang sama.."ujar wanita itu. Untuk sesaat Severus tersihir, hatinya berdesir. Ia tak yakin apa itu desir yang sama dengan yang dimilikinya bertahun-tahun lalu sebelum cintanya berpaling.
Tapi ia yakin bahwa hatinya merasakan sesuatu.
Kemudian Lilly disibukan dengan persiapan makan bersama di taman, sementara ada seorang anggota LSM itu, wanita bertubuh mungil dnegan kacamata yang nampak ringan dan stylish –menemani Severus. Ia bagian humas, dan dengan rajin memeberikan penjelasan kepada Severus tentang seluk beluk dan sejarah terbentuknya lembaga itu. Ia tersenyum meyakinkan, senyum bisnis yang membuat Severus merasa tidak nyaman. Sepertinya ia berfikir bahwa Severus adalah salah satu dari sedikit orang yang tertarik untuk memberikan sumbangan pada kegiatan amal lembaga ini. Sambil duduk-duduk dengan wanita muda bertubuh mungil di belakang panggung ia mendengar suara Lilly yang penuh semangat memberikan beberapa patah kata untuk menyemarakan suasana hangat yang mulai terbentuk sejak tadi.
Begini keikhlasan bekerja. Pikir Severus.
Bahkan wanita mungil dengan senyum bisnis tak menyenangkan-bagi Severus- ini pun ada disini untuk alasan kemanusiaan. Dan Severus ada disini untuk alasan yang sama sekali tak bisa dikatakan menyenangkan.
"Maaf membuatmu harus menemani temanku, Jean.."ujar Lilly yang 10 menit kemudian akhirnya muncul di belakang panggung setelah mempersilahkan para tamu undangan untuk menyantap makan siang.
Wanita mungil yang disebut Jean itu kemudian tersenyum. Basa-basi sedikit, senyum sekali lagi pada Severus dan pergi dari situ. Severus kemudian duduk di bangku plastic bersebrangan dengan Lilly yang bersandar pada meja yang berisi berbagai macam pernik sound system.
"Apa yang membawamu kemari?"Lilly akhirnya bertanya setelah beberapa detik mereka habiskan dalam diam.
"Hanya tiba-tiba terfikir untuk mampir.."
"Kau tinggal di daerah mana sekarang..?"
"Dekat Hogwarts."Lilly mengangguk-angguk. Menyerap informasi baru itu dengan wajah serius.
Lalu sambil tersenyum Lilly meneguk sedikit jus jeruk yang dibawanya tadi ketika muncul,"Bukannya itu cukup jauh dari sini untuk alasan sekedar mampir?" Lilly terkekeh sedikit melihat wajah Severus sendiri jadi Nampak tak yakin. "Pasti ada sesuatu yang sangat luar biasa sampai membuat manusia gua seperti mu mau menjalankan mobil keluar rumah di hari minggu yang panas terik begini?"
Severus dengan perawakannya yang kini lumayan besar dan tinggi merasa menciut ditatapi oleh emerald Lilly. Emerald yang sama dengan milik anaknya Harry. emerald yang membuatnya terkesima sejak pertama kali mereka bertukar pandang. Dan senyum tulus yang tak memiliki perbandingan. Severus ingat, setelah kimia, senyum Lilly adalah hal berikutnya yang membuatnya tergila-gila.
Tapi hari ini ia datang untuk merusak senyum bahagia yang dibagikan Lilly kepada para warga negara senior yang dihormatinya. Ia berfikir untuk memberitahukan soal Draco dan Harry. Tidak, Bukan lagi berfikir.. ia sudah memutuskan. Meskipun begitu berhadapan langsung ia tak kuasa untuk berkata apa-apa.
Dan ia juga ingin membongkar rahasia antara keterhubungan dirinya dan kematian Myrthle.
Meskipun itu artinya akan membongkar urusan Severus dengan James juga pada akhirnya. Lilly berhak tahu kebenarannya.
"Hei.."Lilly menjentikan jari tepat di wajah Severus. "Jangan pasang tampang bermasalah begitu.. Ini mungkin acara yang tidak cocok untuk umurmu, tapi tetap saja ini pesta. Jangan bertampang murung begitu.." Lilly maju dan mengusap pundak Severus. Tersenyum luar biasa tulus.
"Aku ingin mengatakan sesuatu."kalimat itu keluar kaku. Bagai sudah disetting sedemikian rupa sehingga keluar tanpa titian emosi setitik pun di dalamnya.
"Apa? Kenapa mendadak serius begitu?"di dahi Lilly ada sedikit kerutan, Lilly yang dicintainya tak lagi semuda dulu. Tiba-tiba Severus menyadari itu. Bahwa manusia yang kita cintai menua, Severus juga mulai menyadari staminanya yang sudah jauh lebih turun dibandingkan dulu.
Pikiran soal penuaan, lalu kematian. Maknanya bagai garis linear, tidak berbantah. Tidak ada jalan kembali, untuk mengulang.
Pikiran soal garis lurus yang tak terelakan itulah, yang membawa Severus datang kemari hari ini.
Ia tidak ingin menyimpan selamanya rahasia soak kematian Myrthle.
Ia juga ingin secepatnya memastikan akhir hubungan antara Draco dan Harry.
Yang pasti, ia tak ingin membawa pulang penyesalan untuk kesekian kalinya.
"Mrs. Potter.. Makan dulu!" seorang gadis berkuncir ekor kuda muncul dari arah taman, membawakan beberapa potong daging kalkun yang dimasak dengan berbagai bumbu lalu dipanggang dengan saus beraroma rempah yang kuat. Severus tidak terlalu yakin apa nama masakan yang kini tersaji di piring yang dibawakan gadis itu.
"Ah iya.. Terima Kasih, Daisy.."Lilly menerima dua piring yang ada di atas nampan itu. Menyerahkan yang satunya untuk Severus. "Kau harus cicipi ini.." kemudian Lilly membaui sajian yang ada di piringnya. "Aku lupa namanya, tapi ini makanan dari timur tengah. Aslinya dimasak dengan ayam, tapi kami ganti kalkun supaya lebih sehat.."kemudian Lilly bicara panjang lebar soal leptin, zat tertentu dalam darah manusia yang mengikat lemak. Dan ayam sendiri mengandung leptin cukup tinggi sehingga mudah membuat gemuk, terutama untuk orang-orang bergolongan darah B.
Severus menelan pengakuannya lagi bersama daging kalkun itu. Ia pernah berkali-kali berusaha menemui Lilly untuk menceritakan kejadian kecelakaan Myrthle yang sebenarnya. Fakta yang ia ketahui tapi ia tutupi sekian lama. Tapi ia hanya berakhir berdiri di tempat parker kantor tempat kerja Lilly, atau memandangi Lilly dari sebrang gereja. Ia tidak pernah berani datang ke rumah. Terlalu riskan jika ia harus menyatakan kenyataan ketika bertemu James.
Kemungkinan besar ia pasti mundur sebelum mengatakan apa-apa.
Tapi hari ini berbeda. Ia akan mengatakannya.
Tidak, ia harus mengatakannya.
Severus menarik nafas dan memandang Lillynya. Ketika akan bicara, Lilly memandangnya dan tersenyum padanya.
Setelah selesai mengunyah sebuah suapan Lilly bicara,"Aku bersyukur Kau mampir hari ini.."Istilah yang wanita itu gunakan adalah syukur, bukan sekedar bahagia, bukan sekedar senang. Syukur adalah rasa bahagia yang melibatkan kerendahan hati kepada tuhan.
Severus bukan seorang yang mengerti sekali soal keimanan, tapi ia tahu bagi wanita seperti Lilly keimanannya adalah bagian paling krusial dalam kehidupannya. Lalu ditutup dengan sebuah senyum tulus dan ucapan,"Terima kasih."
Severus kehilangan daya dan tekadnya untuk mengatakan kebenaran.
Kebenaran yang akan menyakiti Lilly dan senyum tulusnya.
Setelah selama 30 menit berada dalam kapsul pengamatan, Ron dan Hermione yang keluar lebih dulu sekitar 6 menit menyodori Harry dan Draco masing-masing sepotong hotdog. Mereka memakannya sambil jalan-jalan perlahan. Memperhatikan beberapa wahana air di sekitar sungai Thames yang juga dipenuhi pengunjung. Suasana ramai, beberapa pasangan muda-mudi, beberapa adalah suami istri beserta anak-anak mereka, beberapa lagi adalah kakek nenek yang berjalan santai menikmati minggu siang.
Ada beberapa gerombol anak laki-laki atau beberapa gerombol anak perempuan. Saling pandang dari jauh dan berusaha menemukan pasangan yang tepat. Tapi tidak terlalu banyak yang seperti Harry dan Draco, dua pemuda itu jauh terlihat seperti pengawal Ron dan Hermione, berjalan beberapa langkah di belakang, berjalan tegap dan berwajah tegang- itu karena mereka ingin bergandengan tangan tapi tak bisa. Itu karena mereka tiba-tiba menyadari bahwa dunia nyata memang tak seindah yang bisa mereka bayangkan.
"Mau kemana lagi?"Harry bertanya pada Hermione yang masih setia bergandengan tangan dengan Ron. Sementara Draco tertinggal sedikit di belakang langkah ketiga orang ini.
"Kami sih mau nonton film di dekat sini.. Mau ikut?"trio itu berhenti. Harry berpaling sedikit ke belakang, menatap Draco dengan pandangan bertanya. Draco membuat gerakan dengan tangannya seakan mempersilahkan Harry sekali lagi mengambil keputusan.
Harry lalu diam beberapa saat untuk menimbang-nimbang.
Dalam diamnya Harry, Ron dan Hermione pun dibuat diam. Terkesima dengan cara komunikasi nonverbal kedua musuh bebuyutan ini yang berkembang luar biasa pesat. Hermione bahkan ragu ia dan Ron bisa melakukan komunikasi tanpa suara seperti itu, soalnya Ron seringkali tidak peka dengan bahasa tubuh.
Sesuatu yang sempat membuat Hermione frustasi ketika berusaha menunjukan perasaannya, sebelum mereka pacaran. Dan tidak dapat tanggapan apa-apa dari Ron.
"Sepertinya tidak, aku harus belanja pesanan ibuku."
Ron dan Hermione berpandangan sekilas. Lalu Hermione bicara dengan nada datar,"Bisa kami bicara bertiga dulu?"Draco secara total menjadi mahluk asing di antara mereka. Tapi ia juga tidak bisa apa-apa, karena pada dasarnya ia memang mahluk asing.
Draco mengangguk. Ron menarik Harry menjauh smeentara Hermione mengikuti beberapa langkah di belakang mereka. "Kalian kenapa sih?"Harry melepaskan cengkraman Ron di lengan atasnya.
"Kami khawatir."Ujar Ron pendek. Tanpa basa-basi, tanpa keragu-raguan yang biasanya selalu terpancar di wajah komikalnya."Kalian tidak merasa konyol sesame lelaki menjadi pasangan kekasih? Lagipula ini Draco Malfoy, Harry!" Ron bicara lagi.
"Kukira kalian mendukungku?"
Hermione menarik nafas. Menahan agar Ron tidak melanjutkan kalimat lain keluar. Jika dua sahabat ini yang saling bicara saat ini, mereka akan berujung pada perdebatan tidak karuan. "Ya, Kami mendukungmu. Tapi kami juga tidak bisa membiarkanmu bertahan pada hubungan yang tidak memiliki kejelasan seperti ini."
"Tidak jelas bagaimana?"ada nada tersinggung di titian setiap kata yang keluar dari mulut Harry.
"Apa Draco bisa membawamu jika ada acara bersama teman-temannya? Apa Draco bisa mengenalkanmu pada orangtuanya? Apa Draco Malfoy bisa lebih memilihmu daripada dunia yang dimilikinya sekarang?"Hermione menarik nafas. Harry menggeleng pelan. Draco memang tidak bisa, setidaknya tidak saat ini. Walaupun Harry tidak bisa membayangkan di suatu saat nanti ketika mereka dewasa Draco akan bisa mengakuinya.
"Mengerti maksudku? Dengar Harry.. Aku, Ron.. Kami bahagia, kalau Kau bahagia. Tapi jangan menyiksa dirimu terlalu lama. Aku tahu Kau berfikir tidak masalah menjadi rahasia dari seluruh dunia selama Draco mengakui keberadaan perasaannya untukmu dan perasaanmu untuknya. Tapi dunia tidak berputar dengan cara seperti itu Harry. Kau tahu sendiri, Galileo baru diakui benar ketika pernyataan secara nyata soal bumi itu bukan pusat alam semesta disaksikan sendiri oleh manusia."
"Jangan bawa-bawa Galileo.."ujar Harry tersinggung atas nama salah satu penemu kesukaannya.
"Ok. Tapi Maksudku.. pikirkanlah lagi.. Kami bisa merasakan bahwa Kau dan Draco sudah punya kesepakatan sendiri. Dan kami tahu betul bahwa Kau tidak keberatan untuk menderita demi manusia satu itu. Tapi Tolong.. pikirkan juga perasaan kami sebagai sahabatmu."
Lalu Ron tersenyum dan menepuk pundak Harry. "Pikirkanlah.."itu saja ucapnya. Lalu ia menundukan pandangan bahkan ketika bersalaman sekilas dengan Draco untuk berpamitan. Hermione tersenyum tipis saja, bahkan pada Harry juga.
Jadi, pada akhirnya mereka berpisah. Hermione dan Ron menuju bioskop di pusat perbelanjaan dekat situ, sementara Draco dan Harry kembali menaiki kereta bawah tanah untuk pulang ke daerah rumah Harry. Draco tak bertanya apa yang mereka bicarakan. Mungkin ia juga sudah bisa menebaknya, terka Harry. Mungkin ia ingin menunggu Harry siap dengan sendirinya untuk bicara. Atau mungkin juga malas saja tahu apa yang mereka bicarakan. Entahlah, Harry tak pandai menerka-nerka, Draco yang kukuh dalam diam.
Jadi masih dalam jarak dekat, tangan mereka tak saling jangkau untuk kemudian saling menggenggam.
Bibir keduanya mengatup. Di antara riuh berbagai macam manusia bicara, berbagai macam suara tawa.
Sampai di stasiun suara riuh tak juga berkurang. Meskipun stasiun bawah tanah cukup ramai, gerbong yang kini Harry dan Draco tempati kosong sama sekali. Kecuali mereka berdua, tidak ada mahluk hidup lain di sekitar situ. Ditambah suasana canggung yang tercipta. Mereka diam-diaman tak menemukan topik pembicaraan yang masuk akal.
"Aku lapar."Keluh Harry begitu mereka duduk dan kereta mulai bergerak. Akhirnya keluhan asal yang keluar untuk memecah kebekuan.
"Telat. Kenapa tidak tadi beli sesuatu di kios stasiun?"Draco mengernyit heran pada kelakuakn kekasihnya. Harry cengengesan ditanggapi dingin oleh pemuda Malfoy itu.
"Sinis sekali jawabnya? Bilang sesuatu yang lebih menyenangkan untuk didengar kan bisa.. semacam'sabar ya.. nanti kalau sudah sampai aku belikan sesuatu'"kernyitan di kening Draco malah bertambah parah.
"Kau kemasukan apa?"ujarnya sambil geleng-geleng kepala kemudian bersandar pada kursinya.
Harry mendengus. Tidak mendapat reaksi yang diinginkannya. Tapi lalu tersenyum, setidaknya mereka akhirnya bertukar suara. Ia lalu ikut-ikutan bersandar. Kemudian mulai bersenandung dengan volume yang teramat kecil. Draco tidak terlalu yakin apa lagunya. Tapi sepertinya lagu kuno yang tak begitu dikenalnya.
"Lagu apa?"
"Cat Steven, Morning Has Broken.."
"Iya? Rasanya nadanya tidak begitu.."Lalu Draco bersiul dengan nada yang menurutnya benar.
"Itu juga benar."Kata Harry. "Versiku Cuma keliru sedikit.."ucap Harry berkelit. Lalu sebelum Draco mulai protes dan mengejeknya Harry bertanya begini sekedar pengalihan,"Kau bisa mainkan lagu ini dengan piano?"
Draco yang dipotong sebelum keluar kalimat hinaannya, berfikir sebentar,"Sudah lama tidak main piano. Tapi kurasa aku bisa mainkan lagu ini. Nadanya tidak terlalu rumit, ketukan tiga per empat."Harry sedikit menyipit matanya. Tidak terlalu mengerti mengapa ketukan tiga per empat disebut Draco sebagai nada yang tidak rumit.
Ia suka musik, tapi tidak bergelut di dalamnya. Jadi sama sekali tidak punya pengetahuan yang cukup untuk mengerti pembicaraan paling sederhana soal bagaimana music dimainkan.
"Soalnya ini lagu himne Kristen dari Abad ke-19.."
Harry terlihat sedikit kaget,"Bukan Cat Steven yang ciptakan?"
"Bukan.."Draco menggeleng. "Eleanor Farjeon, penulis puisi dan drama anak-anak.. yang menulis liriknya.."Harry membentuk huruf 'o' dengan mulutnya lalu mengangguk-angguk paham.
"Cat Steven juga punya lagu tentang kereta.."tiba-tiba Draco mengeluarkan kalimat yang berkesan mengingat-ingat.
"Peace Train.. bla.. .. Apa gitu.. Aku lupa judul selanjutnya.."Harry menimpali. Setelah bertukar pandang beberapa saat, keduanya tidak menemukan petunjuk dan menyerah untuk memikirkan judul selanjutnya. "Kau suka Cat Steven juga? Kukira kita sama sekali tidak punya kesamaan soal selera music.."Harry berujar riang.
Draco mengimbanginya dengan senyuman,"Dia aneh soalnya.."Harry mengangguk-angguk setuju.
"Masih ingat lagu yang tentang kereta itu?"Draco Nampak mengingat sebentar. Lalu mulai bersenandung.
"Now I've been happy lately..
Thingking about the good things to come
And I believe it could be, something good has begun"lalu Draco berhenti.
"Lupa ya?"Harry terkikik mengejek ke arah Draco. Draco menatap sinis pemuda itu.
"Memangnya kau tahu terusannya?"
Harry menggeleng,"judulnya saja lupa.. Tapi seingatku yang berusaha disampaikan lagu itu adalah pesan perdamaian.."
Lelaki berambut platina tersenyum tipis, mengangguk sedikit. "Cat Steven itu beda dengan para penyanyi rock n roll lain pada jamannya. Bicara soal perdamaian, kemanusiaan, cinta kasih pada sesama.. Aneh kemudian dia menghilang."
"Ku dengar dia masuk agama baru.."
"Gossip saja kau tahunya.. ketukan tiga per empat saja keningmu penuh kerutan.."Harry memalingkan muka kesal, terkena sindiran telak. Ia tak bisa balas, ya.. karena memang benar. Ia benar-benar payah soal nada rasanya. Meskipun begitu ia cukup yakin dengan selera musiknya.
"I've been happy lately.."Draco menggumamkan sepotong syair lagu itu. Lalu membiarkan kepalanya beristirahat di pundak Harry.
"Because morning has broken?"Harry menyambungkannya dengan judul lagu sebelumnya yang mereka bicarakan, lalu terkekeh salah tingkah. Tapi Draco tak menjawabnya. Ia menutup mata, samar-samar Harry bisa menatap bayangan mereka di jendela sebrang. Walaupun citra visualnya terganggu gerakan kereta yang cepat, dan gelap di luar kereta.
Baginya tidak ada yang salah.
Seorang pemuda berambut platina bersandar pada bahu pemuda berambut hitam.
Kekontrasan mereka menimbulkan kesan kontradiksi yang indah bagi Harry. Secara alami, ia tidak bisa melukiskan perasaan lain selain cinta yang mereka miliki.
Euphoria sesaat tak akan terasa setenang ini.
Ia tak gelisah berada digerbong kereta bawah tanah, terjaga sendiri.
Di sebelahnya ada Draco menemani. Tidak masalah untuk saat ini. Begini saja sudah terasa bagai mimpi. Harry tidak bisa meminta lebih lagi. Ia sudah cukup tamak. Ia tidak bisa memaksa-maksa Draco untuk memberinya pengakuan. Keadaan jelas tidak memungkinkan. Mungkin tidak akan pernah memungkinkan.
Tapi siapa perduli? Suatu hari nanti mungkin Draco tidak akan bisa menolak perintah untuk menikah dengan seorang gadis yang dijodohkan orangtuanya. Dan harus meninggalkan Harry. Harry menggigit bibir. Dadanya terasa sesak, bohong jika ia akan rela begitu saja melepas Draco pergi.
Tapi mau bagaimana lagi.
Setidaknya saat ini, Draco ada disini. Jadi jangan pikirkan hal-hal lain. Ia hanya akan memikirkan rambut pirang dan rambut hitam mereka berdua. Kontras yang alami, yang indah bagi Harry.
Sambil memikirkan bayangan rambut pirang Draco yang terang dan rambut hitamnya yang gelap, tanpa sadar waktu melampaui mereka begitu saja. Kereta melambat di stasiun yang mereka tuju, Harry tersenyum jahil dan tanpa membangunkan Draco bangkit begitu saja. Membuat yang bersandar pada bahunya, oleng badannya dan hampir ambruk. Beruntung Draco segera sadar dan membuka mata.
Lalu dengan kesal berteriak,"HARRY!" dan menyusul pemuda dengan senyum jahil menghiasi wajahnya berlari keluar dari kereta. Diperhatikan beberapa penumpang lain yang akan masuk ke dalam gerbong yang sudah mereka tinggal kosong.
"Sialan!"umpat Draco ketika akhirnya berhasil menarik baju Harry dan membuat tubuh pemuda yang lebih kecil bertumbukan dengan tubuhnya. Draco sudah bergerak seakan-akan melayangkan tinju, tapi Harry bukannya ketakutan tapi malah tertawa cekikikan tak berhenti-berhenti.
"Sorry..Sorry.."ujarnya sambil cengengesan tanpa sama sekali merasa bersalah. Draco melihat sekeliling. Dengan wajah dingin menarik Harry kea rah toilet pria. Begitu sampai ia mendorong Harry memasuki salah stau bilik dan mengunci pintunya.
"Aww!" protes Harry yang badannya kini disudutkan ke dinidng dengan posisi yang tidak nyaman. "Cuma bercanda Draco.. Jangan murka begitu.."
"Siapa yang murka?"ujar Draco dengan wajah bingung yang dibuat-buat. Lalu mencium Harry perlahan, menjilat bibir Harry dan membukalah bibir kemerahan pemuda berkacamata bundar. Ciuman berlangsung selama 30 detik. Sementara harry mengambil nafas karena diserang tiba-tiba. Draco tersenyum licik,"Aku Cuma terangsang ."ujarnya lalu melepaskan cengkramannya pada Harry. Membuka pintu dan mengabaikan tatapan heran seorang pemuda seumuran mereka. Melihat kemudian ada Harry yang keluar dengan wajah kusut dan nafanya terengah-engah, Harry melirik sekilas tapi buru-buru berbalik, takut wajahnya dikenali.
Ini memalukan sekali.
Sambil merengut dan memikirkan bagian mana dari hampir terjeduk besi pegangan kursi kereta yang bisa membuat Draco terangsang, Harry berjalan dengan tungkai kaki yang membuat suara menghentak. Sengaja berusaha terkesan kesal.
Ia menyusul Draco yang sudah berjalan menuju salah satu kios di dekat situ. Membeli roti dan kopi kalengan. Menyerahkan rotinya untuk Harry,"Kau lapar kan tadi?"Harry tak jadi memprotes perbuatan Draco barusan.
Ia bahkan sudah lupa kalau ia lapar tadi. Tapi Draco mengingatnya. Apa yang ada di otak pemuda ini sebenarnya?
Lalu keduanya berjalan beriringan. Memperhatikan beberapa muda-mudi lain yang bergandengan tangan. Tidak masalah, mereka bisa berciuman di toilet terdekat, pikir Harry.
Keluar dari tangga utara stasiun bawah tanah itu, Draco dan Harry berjalan perlahan-lahan menyusuri daerah pemukiman tak terlalu padat. Dua persimpangan jalan lagi ada sebuah took serba ada, itu tujuan mereka. Draco tidak tahu seperti apa took serba ada yang Hary maksud, ia belum pernah kesitu, karena itu Harry berjalan sedikit lebih cepat temponya dari Draco.
Ini masih sekitar lingkungan rumah Harry. Ada beberapa pohon yang tak terllau besar di pinggir jalan yang mereka lewati, mungkin pohon ek. Draco berfikir, tapi ia belum pernah melihat pohon ek yang masih muda begini, diameternya rata-rata tak lebih dari 20 cm. sepertinya baru ditanam beberapa tahun lalu. Karena terllau asik memperhatikan pohon-pohon muda itu, Harry harus menarik Draco ketika ia berjalan terus dan tidak memperhatikan Harry yang sudah mau berbelok.
"Ouh.. Ini.."biasanya Draco ketika datang ke rumah Harry pergi di antar supir, tidak biasanya sih.. diantar supir hanya sekali ketika mereka akan berangkat ke rumah Harry. kejadian sekali waktu itu tidak bisa disebut kebiasaan.
Harry mengambil troli berukuran sedang lalu mendorongnya meluncur ke bagian buah-buahan. Memilih-milih pisang,"Yang ini bagus. Besar dan panjang."
Harry memperhatikan wajah Draco selama beberapa saat, sepertinya pemuda itu tidak sadar baru saja mengatakan sebuah kalimat yang penuh ambigu dengan lantang, dan ia memegang pisang lagi. Seorang ibu gemuk dengan baju terusan berwarna merah memandangi mereka dengan tatapan menuduh. Harry jadi harus senyum cengengesan meminta pemakluman ibu itu.
"kenapa sih?"ujar Draco tanpa rasa bersalah sama sekali membuat bibir Harry rasanya keram karena harus cengengesan tidak jelas.
Harry mengambil pisang lain di dekatnya dan membawanya ke tempat timbangan, meninggalkan Draco yang masih membawa-bawa sesisir pisang pilihannya. "Kenapa yang itu?"
"Yang kau pegang itu sudah mulai cokelat kulitnya, paling Cuma bertahan 3 atau 4 hari.. aku butuh yang bisa tahan seminggu.."Ujar harry kalem. Ia tak mau membahas soal ketidak pekaan Draco barusan.
Selesai menimbang pisang mereka pergi ke bagian perdagingan, Harry membeli sosis dan daging cincang. Lalu beranjak ke tempat bumbu, membeli bawang putih, merica dan beberapa bumbu dapur lain yang tak begitu Draco hapal namanya. Ia jadi kesal sendiri, melihat Harry begitu mahir menimang-nimang dan mencari bumbu yang kelihatan segar. Draco jadi ingin belajar memasak. Mungkin ia akan meminta mommynya nanti untuk mendaftarkannya ke kursus masak dengan chef terkenal.
Lalu Harry membeli tissue, sabun detergent dan pindah ke bagian kosmetik. Memilih-milih parfum,"Kau suka yang mana?"Harry sudah mengambil parfum yang biasa dipakainya.
"Coba yang ini.."ujar Draco dengan wajah datar menyemprotkan sedikit tester sebuah parfum ke leher Harry yang tidak tertutup plester. Ia membauinya dekat sekali dengan leher Harry. Harry bisa merasakan tarikan dan hembusan nafas Draco disana. Mati aku.. pikir Harry yang kemudian celingak-celinguk takut-takut ada yang memergoki adegan ini.
"Tidak bagus.."Draco membuka tester parfum lain dan menyemprotkannya sedikit ke pergelangan tangan Harry, menarik pergelangan tangan ke dekat hidungnya, membauinya, lalu menggeleng lagi.
Ketika Draco sedang memilih-memilih sampai jongkok-jongkok segala di rak paling bawah. Harry menarik tangan Draco agar pemuda itu bangkit, lalu menunjukan botol parfum yang sudah dipilihnya. Lalu dengan tampang investigative menilai parfum di tangan Harry. Ia membukanya dan menyemprotkan pada bagian leher Harry yang tertutup plester.
Tanpa komentar apa-apa ia mengangguk. Harry memutar bola mata tak habis pikir dengan kejadian barusan. Ketika sudah akan belok ke kasir, Draco menahan lengan atas Harry.
"Beli kondom?"tanyanya dengan volume yang lumayan lantang dan wajah yang kelewat menantang untuk Harry tendang.
Tanpa komentar apa-apa, Harry belokan trolinya menuju rak-rak obat-obatan, meskipun tidak yakin apa kondom itu semacam obat. Harry yakin sekali bisa menemukannya di rak-rak panjang tersebut. Dalam diam Harry menunjuk tumpukan kondom berbagai merk yang memenuhi sebidang rak di jajaran itu.
"Pilih sendiri.."Kata Harry sebal. Draco terkekeh. Lalu memilih asal. Sambil cengengesan dengan wajah tampannya, Harry berjalan menuju kasir sambil mengingatkan dirinya kalau Draco masih bagian keluarga kerajaan. Masih salah satu keturunan bangsawan.
Para aristokratis itu harusnya juga mengajarkan bahwa cengengesan di depan rak kondom adalah suatu tindakan yang melanggar norma asusila.
Suatu hari nanti Harry akan mengusahakannya, pembelajaran mengenai norma asusila macam begitu. Begitu pikiran melanturnya sambil menunggu di antrian kasir. Draco berdiri di belakangnya sambil memegangi dua buah pak kondom. Ia bilang ia akan bayar sendiri.
Bagus juga sih, entah apa komentar ibunya kalau melihat ada tulisan merk alat kontrasepsi di struk belanja yang Harry berikan.
Setelah selesai membayar. Sambil berjalan pelan, Draco mengangsurkan salah satu pak yang dibelinya pada Harry,"Apa?" tanyanya sinis.
"Simpan satu di kamu. Siapa tahu butuh buat keadaan darurat."
"Kamu kira ini bisa dipakai buat memadamkan kebakaran."
"Tapi kan safety first, Harry.."ujar Draco yang beralasan asal-asalan. Harry diam akhirnya dan menerimanya. Tidak mau meneruskan perdebatan.
Tidak sampai 10 menit mereka sampai di jalanan rumah Harry. Lingkungan sekitar rumah Harry adalah rumah-rumah kelas keluarga menengah ke atas dengan kawasan yang Nampak asri dan terjaga. Siang yang panas mulai berangsur-angsur berubah suasananya, menjadi sore dengan terik sisa-sisa. Hari terpanas musim panas ini akan segera berakhir.
Keadaan yang sepi, dan pikiran soal hari terpanas ini akan segera berkhir, mendorong Draco untuk sedikit nekat di penghujung hari. Ia meraih telapak tangan Harry, yang hanya berjarak sekitar 5 cm dari miliknya.
"Draco!" Harry berujar dengan nada peringatan.
"Sebentar saja.. Sampai Kau masuk rumah. "Sekilas bertemu tatap. Mata bicara lebih dalam dari yang bisa diwakili aksara. Harry menghembuskan nafas perlahan, menenangkan degup jantungnya.
"Ok." Tak ada siapapun memang sampai Harry dan Draco hampir mencapai rumah Harry. Tinggal dua rumah lagi ketika Draco menahan langkah Harry. Pemuda yang kalah tinggi mau tak mau ikut berhenti. Wajah tirus Draco mendekat, sebelum menutup mata Harry melihat Draco menjilat bibir bawahnya sekilas.
Sebuah kecupan kilat. Friksi yang sama sekali tak berkesan nikmat, lebih seperti membagi hangat.
Harry bisa merasakan bibir bawah Draco lebih basah. Ketika terlepas, sebuah mobil hitam melaju kilat melewati jalanan itu. Seperti terburu-buru mengerjar sesuatu atau lari dari kejaran sesuatu. Tidak hirau sama sekali dengan kedua mahluk yang bermesraan di jalanan umum.
"Mereka melihat kita tidak?"di suara Harry ada sedikit nada panik.
Draco memandang mobil yang sudah hilang di belokan. "Sepertinya tidak. Heran hari minggu begini masih ada yang buru-buru begitu.." Mereka bertatapan sekilas, lalu berusaha membereskan ekspresi di wajah masing-masing. Harry menghilangkan semu merah dan Draco menarik nafas dalam-dalam. Kemudian kembali melanjutkan perjalanan.
Lalu keduanya sampai di depan rumah Harry.
"Tidak masuk?"
"Aku harus pulang bagaimana pun juga. Inginnya sih menginap lagi dan mencoba barang yang baru kubeli."ujar Draco dengan senyum menggoda.
Harry memutar bola matanya,"Pisang maksudmu?" nadanya sinis sekali.
"Suka pura-pura tidak tahu."
Harry menyeringai sebal,"Memang tidak tahu." Ujarnya dengan wajah meyakinkan.
"Sudahlah. Bye.."Draco melambai sekilas. Harry Cuma membuat gerakan hormat kilat yang sok asik. Draco tidak protes tampang sok cool Harry barusan karena tiba-tiba saja handphonenya berdering. Maka sambil berjalan menjauh ia tidak berbalik, menjawab telephon. Dan terlihat serius memberi instruksi dimana supir keluarganya harus menjemput.
-Kembali ke 5 menit lalu-
"Kau tidak perlu repot-repot mengantarku tahu.."Ujar Lilly sambil cengengesan minta dimaklumi pada Severus.
"Mobil tua itu sudah sering bermasalah begini ya?"Yang Severus maksud adalah mobil Chevrolet hijau tua keluarga Potter. Ada dua mobil di garasi itu, ada sebuah Toyota yang jauh lebih muda umurnya. Tapi kesukaan Lilly adalah mobil hijau itu. Dan memang mesin keluaran tahun 1996 tidak bisa cukup diandalkan. Tiba-tiba saja radiatornya mengepulkan asap tadi ketika Lilly menyalakan mesin hendak pulang, "Kau masih saja sentimentil pada barang-barangmu.."
"Kaya sendirinya tidak.. Depan belok kiri!"
"Aku tahu, Lilly.."ketika berbelok mobil itu, Severus bisa melihat dua orang remaja pria yang rasa-rasanya ia kenali cukup baik siluetnya. "Draco dan Harry.."bisiknya penuh misteri.
Lilly melongok ke jendela. Beberapa meter di depannya ia bisa melihat anak lelakinya dan sahabat barunya itu bergandengan tangan akrab, Lilly terkikik geli,"Kaya bocah saja pegangan tangan begitu.. Pelankan mobilnya, aku ma—"kalimat Lilly terpotong, melihat adegan berikutnya ketika kedua pemuda itu tiba-tiba berhenti berjalan, kemudian berciuman.
Severus terbelalak, refleks ia menginjak pedal gas.
Melewati rumah yang menjadi tujuan Lilly. Selama beberapa saat, sambil tetap berusaha fokus pada jalanan. Severus mencuri pandang kea rah Lilly. Ekspresi wanita itu tak terbaca. Ia duduk lemas, seperti tersedot ke dalam jok yang didudukinya. Emeraldnya yang tadi berkilauan riang kehilangan cahaya.
Tidak, bukan kehilangan cahaya. Lebih mirip terjadi pemadaman. Severus masih melihat tanda-tanda cahaya itu akan menyala kembali. Ketika Lilly sudah bisa menguasai diri. Emerald itu bersinar, tersirat luka, tapi tetap bersinar seperti biasa.
"Lilly.."akhirnya Severus memberhentikan mobil, setelah menyimpang lumayan jauh beberapa blok dari lingkungan rumah Lilly.
"Lilly?"panggilnya lagi. Wanita yang kini rambut merahnya tergerai itu menengok lamat-lamat. Sambil perlahan-lahan menarik senyum dengan sudut yang tumpul.
"Apa Kau hari ini datang sebenarnya untuk mengatakan ini?"pertanyaan mendadak Lilly membungkam Severus. Sejak dulu ia tak bisa berbohong pada tatapan emerald Lilly.
Tapi pada emerald Lilly yang terluka. Rasanya dibuat Severus jauh lebih tak berdaya lagi.
"Kau ingin memperingatkanku sebagai guru? Darimana Kau tahu..?"
"Lilly.."suara Severus keluar serak.
"Tidak apa-apa, ceritakan saja.."suaranya terdengar ditegar-tegarkan."Tidak mau bicara? Kalau begitu aku turun disini.."
"Tidak biar kuantar.."Severus buru-buru buka mulut. Panik luar biasa.
Lilly menggeleng. Menarik nafas. Lalu menggeleng,"Maaf, kurasa janji kubuatkan makna malam hari ini kita cancel dulu. Aku harus bicara dengan anakku.."wanita itu dengan gerakan gesit membuka safety belt, lalu meraih tas cangklongnya di jok belakang.
Tersenyum tipis. Berkata terima kasih dengan suara teriris.
Severus hanya bisa menyaksikan Lilly menyetop taksi.
Pulang sendiri.
Ah.. ia menyesal lagi.
TBC
Halo? Ada orangkah? Masih pada hidup kan kalian? Muehehehe.. Maaf mengakhiri part ini dengan ending tragis begini. Ga tragis sih… Cuma nyesek mungkin.
Sorry.. Sorry.. ngejar target supaya bisa beres di part 21… Jadi deh…
Terlambat 8 hari, janjinya sebulan, harusnya tanggal 4 februari udah publish. Tapi baru bisa beres sekarang. Typoo udah diperiksain, tapi seperti biasa, pasti ada aja yang lolos dari filter jadi mohon dimaklum. Terima kasih buat yang udah review di chapter sebelumnya… saya apresiasi sekali.. jadi mau dijawabin satu-satu deh.. boleh ya..
Nam Min Seul: Haha.. iya ih.. tau aja mereka bakal melewati jalan terjal mendaki. Tapi mau gimana lagi sih, cerita kan harus dibikin asik. Sedih seneng, marah terharu, harus ganti-ganti. Soal masalah liat nanti deh, banyak atau enggaknya. Baca part ini juga udah munculkan satu masalah baru..hehehe Komen terus ya.. Makasih..
SimbaRella: Kenapa dengan JPSS? Saya tidak mengerti dengan istilah yehet-yehet? *kurang gaul* iya..ya.. kaga usah dibilang tbc atau end kalau ujung2nya bilang bakal ditamatin di chap 21.. ga itu mah becanda aja..-_-v kematian Myrthle? Hmm.. liat suasana deh ya.. gara-gara ngejar target chap 21 juga alur cerita jadi rubah-rubah di kepala saya.. M-preg?! Euh.. ini tipe real life sih.. mungkin nanti kali ya kapan-kapan saya bikin ff yang M-preg..:P Thanks udah baca..
Kutoka Mekuto: Iya bener harus syukuran kayaknya ya.. yang tadinya mau saya bikin jadian di part 7 atau 8.. malah melebar jadi ke part 13..hahaha.. kalian reader2 yang sabar sekali.. Yah, terus soal rahasia, mau ga mau sih. Keadaan mereka ga memungkinkan buat ngumumin pake toa juga..XD
Makasih soal pengertian buat Soal bilang I love you.. kayaknya sama banyaknya ah.. coba baca lagi deh.. Draco bilang dua kali kalau ga salah di part kemaren..
Kazuki Natsu: Waaah.. rajin sekali baca ulang part sebelumnya. Pasti rajin baca buku pelajaran juga ya? Anak rajin, reader yang patut dicontoh-termasuk oleh author yang kadang males baca ff panjang..XD—
Sudah ketemu kata-kata Draco yang kamu suka? Scene favorit cium keningnya yang di part 12 atau yang di ranjang yang part 13? Suka bagian Harry yang nakal-nakal ya? *tos* meskipun pingin bikin Harry tetep kerasa cowoknya, tetep aja kepancing pingin bikin Harry jadi uke naughty gitu deh..hehehe
Fili Finaly: Saya memang suka makan cokelat sih.. tapi lagi diet, mudah-mudahan aja jadi ga mengurangi kemanisan ff ini *Apa hubungannya Woy!* #abaikan
Saya juga turut bahagia akhirnya bisa nulis mereka jadian.. entah kenapa jari tuh ngetik kayanya pingin bikin Drarry idupnya susah mulu..-_-a Ga kuat sama bagian 'itu'nya wah.. berarti Anda belum sebejat saya..hahaha Yah, kalau rintangan sih, jangan ditanya deh.. pokoknya ikutin aja kelanjutan hubungan mereka..:)
-SeLu: Makasih… Padahal sempet deg-degan chapter kemaren ga pada begitu suka soalnya banyak ngomongin sepakbola. Rata-rata readers sini kan cewe, siapa tahu jadi pada dilewatin. Soalnya dulu juga pernah bikin ff di fandom lain dan kebanyakan ngomongin sepakbola, readernya banyak yang bilang bingung. Yeah! Akhirnya hubungan mereka berstatus,,haha Untunglah pada suka JxS ternyata.. soalnya di fandom ini couple itu jarang muncul, padahal lumayan hot kata saya sih mereka.. ya kan?haha
ScarheadFerret: Yo! Hallo.. Siapapun Anda, saya berterima kasih buat ketelitian Anda soal typo saya.. Ah, andai aja kita lumayan deket dan Anda bisa bantuin saya ngedit ff ini.. editor-editor saya spesialisasi di fandom lain. Sementara saya itu emang tipe penulis serampangan jadi harus ada yang bantuin beresin tulisan..:P Yang di part kemaren sepakbola, mungkin lapangannya kerasa kecil karena yang bolak-balik lari pemain itu-itu juga.. soalnya males ngarang nama lagi sih..huehuehue
Dan buat lemon..hahahahaha.. saya juga ga nyangka bisa nulis Lemon. Dulu waktu pertama kali nulis ff ga pernah kebayang bisa bikin adegan begituan.. Ah.. jadi nostalgia.. ketika masih menjadi author nan polos dan bertahan di Rate T.. Thanks buat reviewnya..
Guest *siapapun Anda*: Saya juga seneng akhirnya bisa bikin dua karakter ini saling ngomong apa adanya. Terlanjur bikin karakter Harry dan Draconya njelimet, jadi bingung sendiri gimana bikin mereka jadiannya.. *author macam apa?-_-"
Yup. Bakalan banyak badai buat hubungan mereka, lihatlah nanti gimana otak saya berkembang. Mudah-mudahan ga terlalu miring biar tuh dua chara ga terlalu menderita..hehe
Luna Ginerva: Yes! Akhirnya.. bener banget.. Akhirnya… Setelah berbagai frustasi karena bingung sendiri kenapa mereka ga jadian-jadian. XD
Gimana part ini? Sweet kah? Mudah-mudahan masih mau nunggu up date berikutnya..:)
Aurelia Adhysa: Makasih..:) Kenapa baru review sekarang..T.T Ayo yang lebih rajin reviewnya biar tambah semangat,hehehe Udah baca dari First Kiss? Great. Berarti tau awal ceritanya ya.. saya sebenernya pingin bikin survey.. kira-kira yang baca ff ini sebelumnya baca First Kiss dulu kah? Atau langsung baca ff ini terus baru nyadar ini adalah sequel kah? Tapi kayaknya ga perlu deng..hehe
Gimana part di atas? Makin GJ ga mereka?:p Syukurlah.. suka juga JPSSnya.. sempet galau sebenernya buat bikin pair itu.. Ok deh… konflik terselubung sih gampang lah.. Thanks reviewnya..:)
FriendShit: Pertama, saya bingung sebenernya mau komen apa soal review panjang anda. Dan itu buat Chapter 12 lagi, pas Review chapter 13nya situ reviewnya pendek bgt.. Kan saya yang mau balesnya jadi galau..-_-a
Kedua, saya mau nanya dulu.. Anda lakikah? Saya ga pernah bayangin soalnya ada cowo yang baca ff ini. Rasanya jadi malu sendiri udah bikin adegan-adegan begituan antara dua cowo yang dibaca cowo. Saya ga nyalahin selera Anda.. Cuma.. ya gitu deh.. saya jadi merasa bersalah aja..*abaikan *Authornya labil*
Ketiga, Yang saya tengkep dari cerita Anda di review yang buat chap 12 adalah Anda punya pacar, pacar yang baik. Tapi Anda ngekhianatin dia dengan melakukan sesuatu yang membuat anda merasa ga pantes buat tetep jalan sama dia? Dan itu bikin anda ngerasa trauma buat mulai hubungan baru lagi? *koreksi ya kalau saya salah tengkep* Well, kalau cerita ini membuat Anda merasa terhubung dengan kisah itu, Saya tersanjung. Gimanapun buat penulis, yang paling menyenangkan adalah ketika tulisannya masuk ke dalam sanubari pembacanya. Terakhir saya ga dalam posisi ngasih saran memang, tapi kalau boleh saya bilang, belajarlah berani, seperti Draco yang pada akhirnya belajar untuk melawan ketakutannya soal keadaan dan kecemasannya akan masa depan. Jadi, kalau nanti Anda ketemu dengan seseorang yang bener-bener Anda cintai, ya cintailah.. Jangan terlalu banyak disesalkan masa lalu, jangan terlalu dicemaskan masa depan.. Btw.. Makasih reviewnya..:)
Hwaiting93: Yeaaaaaaah.. Akhirnya.. part 13 kemaren tuh ibaratnya kayak bisul pecah ya..? semua orang kayaknya lega bgt mereka jadian.. Walaupun di part ini saya bikin sesek lagi.. Ok.. Skip..
Suka JPSS? Ah.. untunglah pada suka dengan bagian JPSSnya.. udah takut aja adegan mereka malah bakal ngeganggu feel Drarrynya.. iya nih.. Mau ga mau kalau bikin Drarry bersatu harus ngrobanin Cedric.. Sorry ya bikin Anda nyesek..-_-v Ok, segitu aja.. Makasih..:)
AYP: Hai! Pertama, saya selalu degdegan nunggung review dari kamu.. soalnya review kamu tuh Cuma paling dua kalimat. Tapi selalu ada, salah satu reader setia.. Saya apresiasi sekali..:) Diusahakan sih End chap 21.. mau focus novel sama dikepala udah tuing-tuing berbagai macam ide lain..hehehe Makasih yah reviewnya..:)
.1 : Yep.. jadian juga akhirnya tuh dua mahluk nyusahin..hahaha.. saya juga lega banget akhirnya bisa bikin mereka jadian. Dan iya sih.. jalan mereka ga akan mulus.. *tengok chapter di atas
Saya setuju.. buat JamSev.. Jamesnya emang sadis sih.. ga ngerti juga kenapa saya bikin karakternya jadi gitu.. Maafin yah..hehe
Mittaris 1: I don't know why you love complicated thing.. But Thank you for review..:)
Dan buat semua yang udah pernah review FF ini.. Makasih banyak.. Maaaf sebelumnya saya adalah Author yang ga rajin buat balesin review satu-satu. Buat yang sebelumnya sering review tapi udah ga review lagi.. reviewlah chap ini.. ya? Ya? Ya? Hehehe..
Buat Meyla, Brownviolet, Starhyo, Blanket, CCLove Ruki, Ayashaa.. dan nama-nama lain yang sempet saya baca di kolom review terus menghilang tak pernah muncul lagi.. ayo muncul! Biar next chap saya bisa bales obrolan kalian di Author note berikutnya..:)
