"ARE YOU READY, KIDS?!"

"AYAY, KAPTEN!"

"I CAN'T HEAR YOU~!"

"AYAY KAPTEN!"

"OOOOOUU—"

"RUKIAA! MATIIN TIPI! PERGI SEKOLAH SONO!" teriak Byakuya dari luar kamar Rukia. Gadis itu mendecih kesal, kemudian bangkit dan mematikan televisi yang menyala di depannya itu. Dia kemudian melengos pergi ke kamar mandi.

Setting berganti. Sekarang layar telah berubah menjadi gambar rumah di atas bukit, yang dihiasi langit biru. Gambar tersebut dapat diketahui dengan jelas bahwa digambar oleh anak-anak, dan diwarnai dengan krayon.

"A ... Karin!" sebuah suara yang tidak diketahui asalnya terdengar. Dari bawah setting, muncul seorang perempuan berambut hitam pendek. Ya, itu Karin.

"Haaai~" kata Karin dengan wajah tersenyum lebar. Dia lalu melihat ke belakangnya. "Bujug buset?! Kenapa settingnya gambar anak-anak?! Penata panggungnya mana?!"

"Naskah, woi! Naskah!" teriak sebuah suara aneh entah darimana.

Karin menggaruk-garuk rambutnya bentar. Ia kemudian memasang pose imut sambil mengedipkan sebelah mata.

"Para Pencuri Wifi season kedua, hajimaru, yo~"

Ini bukan Yuru Yuri, woi.


Hak Cipta: BLEACH © Tite Kubo. Hal-hal lain yang punya hak cipta punya penciptanya masing-masing. Saya cuma orang jahil yang minjem hasil karya yang udah jadi buat diubah sesuka hati. Yah, namanya juga fanfiksi.

Peringatan: Semuanya udah tahu ini AU dan OOC, 'kan? Udah tahu juga kalo ini make bahasa gaul, 'kan? Yaudah, jadi nggak perlu pake warning-warningan lagi.

Para Pencuri Wifi R2: Second Rebellion (Ini bukan Code Geass, woi)
Episode #13: Dimulainya Legenda Selanjutnya —


[Selasa, 20 Juli 2016. Pukul 09.30 AM — Ruang Klub WIFI]

"WATDEPAK?!" teriak Toushiro frustasi sambil ngegebrak pintu masuk ruangan klub. Ishida dan Ulquiorra yang lagi lomba minum Susu Ultra langsung nyembur saking kagetnya.

"Apanya yang watdepak?! Lagian, itu bahasa dari mana coba?!" ujar Ishida sambil mencari-cari tisu untuk mengelap mulutnya. Ulquiorra sendiri hanya mengelap mulutnya menggunakan tangan.

"Kenapa nggak ada yang bilang kalo kita harus main lagi di fanfik ini?!" teriak Toushiro sambil ngegebrak meja.

"Jangan salahin gue! Gue juga nggak tahu!" ujar Ishida sambil angkat bahu.

— "Sepertinya, ada produser baru yang mencari sisa-sisa staf produksi PPW season pertama, dan karena rating acara ini yang jumlah pembacanya sampai 100 orang per chapter, dan banyak surat yang meminta kelanjutannya, maka akhirnya season keduanya dibuat."

"Ulquiorra, elo barusan ngomong panjang banget. Gue kagum. Sumpah," sewot Toushiro. Dia kemudian menggaruk-garuk rambutnya, lalu menggebrak meja sekali lagi. "KITA UDAH BERHASIL MENYINGKIRKAN SI KIRA KAJUKI SIALAN ITU! Sekarang, ayo kita cari siapa produser barunya, DAN KITA GELITIKI DIA SAMPAI MAU MENGHENTIKAN ACARA INI!"

"Itulah masalahnya, Hitsugaya Toushiro," ujar Rukia yang bersandar di pintu masuk dengan kerennya. Rukia melipat tangannya di atas perut, kemudian mengibaskan rambutnya ala iklan shampoo. "Produser barunya nggak bisa dilacak keberadaannya."

"SIAPA?! Siapa namanya?!" tanya Toushiro teriak-teriak kepada Rukia. Rukia menghela nafas, kemudian menjawab.

"— Namanya ... Elpiji."

Krik. Krik. Krik.

"Itu beneran nama?" tanya Toushiro tidak percaya.

Rukia tidak menanggapinya, kemudian duduk di bangku putarnya, dan menempelkan kepalanya ke meja.

"Cih. Tadinya gue kira kita bakal bebas, mengingat kita semua udah dapet fanfik lain yang menceritakan kita di tahun 2019. Tapi ternyata kita malah harus menceritakan apa yang belum sempat diceritakan di sini ..."

Toushiro jatuh terduduk menghantam tanah dengan dramatis. Pandangan matanya mengarah nun jauh ke atas. Dia menggenggam tangannya, kemudian berteriak dengan seluruh jiwa,

"TERUTUK KAU ELPIJI!"

Elpiji...

Piji...

Ji...

Suara Toushiro terus menggema di ruangan yang seharusnya tidak mungkin bisa menimbulkan gema itu. Terus bergema, hingga akhir zaman. Tapi akhir zamannya hanya bohong.

Ya. Mereka tidak tahu. Mereka tidak tahu, apa yang akan terjadi besok. Mereka tidak tahu, kapan cerita mereka akan berlanjut. Mereka tidak tahu, kapan cerita mereka akan berakhir.

Mereka tidak ada yang tahu...

... Kalau sebenarnya Elpiji adalah Kira Kazuki yang berganti nama.


"Sekarang kita mau ngapain?" tanya Ishida yang terkapar tidak berdaya di atas meja. Dia menatap layar tabletnya dengan bosan. "Gue udah mainin ulang seluruh lagu yang gue punya, dan ranking gue sendiri juga udah naik ke ranking tiga. Paling dua bulan lagi gue bisa jadi ranking satu. Ngebosenin, ah~"

'Niat ini anak mau bilang bosen atau mau pamer?' pikir anggota yang lain. Toushiro mengelus-elus jidatnya, berpikir. Mencari sesuatu yang bisa dilakukan.

"Ngetik novel estafet aja, yuk," ujar Toushiro. Rukia memandang dengan penuh tanya,

"Novel estafet? Maksudnya ngetik novel sambil lari, terus nyerahin laptop ke orang berikutnya gitu?" tebak Rukia gaje. Toushiro langsung menyanggahi, kemudian berkata dengan bijaknya.

"Itu, lho. Yang kayak di episode OVA Boku wa Tomodachi ga Sukunai yang season pertama."

"Ah. Gue tahu itu. Yang Sena disiksa habis-habisan sama Yozora, 'kan? Yang entah kenapa akhirnya malah jadi novel BL antar robot," ujar Hirako nyambung. Ishida juga ikutan nyambung.

"Gue juga tahu itu. Gue paling ngakak pas bagian si Maria ngetik. Dikit-dikit keinjek eeq. Dikit-dikit kena eeq burung. Dikit-dikit eeq. Apaan coba."

"— Iya, maaf gue nggak suka nonton anime," potong Rukia dengan perempatan di jidat. Ketiga cowok pecinta anime yang sedang ngobrol tadi langsung terdiam.

"Lagian, gue nggak terlalu suka sama anime harem. Plis, dah. Maksutnya apaan coba, satu cowok yang dikelilingi banyak cewek, tapi si cowoknya cuma mau temenan doang? Bodoh banget, nggak? Gue curiga jangan-jangan si Kodaka itu sebenarnya homo."

— 'Nggak suka nonton tapi malah tahu sedetil itu,' pikir ketiga cowok tadi dengan ekspresi aneh. Toushiro kemudian memutar laptopnya, menunjukkannya ke arah Rukia yang duduk di depannya.

"Gue tahu satu anime yang mungkin elo suka," ujar Toushiro pelan. Rukia lalu menatap heran,

"Nama animenya ... Free!."

Bruush!

Hirako yang lagi minum air langsung nyembur. "Ah ... Iya, sih. Ntu anime lagi booming banget di kalangan para cewek. Fansub gue juga megang proyek itu. Meskipun bukan gue yang jadi translatornya, sih. Gue megang proyek yang lain."

"Apa?" tanya Toushiro. Hirako menunjuk dirinya sendiri.

"Gue megang proyek Love Lab. Soalnya charanya moe-moe semua. Mana berbau yuri lagi."

"Apa gue nanya, maksud gue," ujar Toushiro sambil ketawa ngakak sambil mukul-mukul meja karena teknik trollingnya yang satu ini selalu berhasil.

"Nih," ujar Rukia sambil muter balik laptop Toushiro ke hadapan pemiliknya.

"Eh? Kenapa? Nggak suka?" tanya Toushiro dengan wajah heran.

"Suka, kok. Tapi gue udah nontonnya sampe tamat."

"Sampe tamat?! Episodenya aja baru empat, kok!" ujar Toushiro. Rukia hanya berlalu begitu saja.

Toushiro menghela nafas sesaat, kemudian menggerakkan jarinya di atas touchpad laptopnya, membuka Microsoft Word 2015. Setelah terbuka, dia berkata pada teman-temannya.

"Oke. Ayo kita suit buat urutan ngetiknya."

"Gue terakhir aja," ujar keempat anggota yang lain barengan. Toushiro sweatdrop di tempat. Toushiro akhirnya memutuskan sendiri,

"Oke. Kalo gitu, urutan nulisnya gue, Rukia, Ishida, Hirako, baru Ulquiorra. Ngetiknya satu paragraf per satu orang aja, ya."

"Terserah." ujar keempat anggota yang lain lagi-lagi secara bersamaan. Toushiro mulai mengernyitkan dahi. Keempat anggota yang lain lalu menarik bangkunya untuk duduk di dekat Toushiro.

Toushiro mulai mengetik di atas keyboard laptop tercintanya;

[Pada suatu hari, hiduplah seorang ksatria yang tampan, gagah berani, rajin menabung, tidak durhaka terhadap orangtua, dan TINGGI bernama Hitsugaya Toushiro. Dia hidup bahagia hingga akhir jaman. Tamat.]

"TAMAT?! Kecepetan, woi! Hapus bagian 'bahagia hingga akhir jaman'nya!" teriak Rukia tidak setuju. Dia kemudian menarik laptop Toushiro, dan menekan backspace beberapa kali. Kemudian menuliskan paragraf berikutnya;

[Sebagai ksatria yang terhormat, Hitsugaya Toushiro selalu mengabdi kepada seorang putri cantik jelita yang bertubuh TINGGI semampai bernama Kuchiki Rukia. Hitsugaya Toushiro selalu melayani Kuchiki Rukia, membersihkan sepatunya, mencuci bajunya, dan terkadang, Hitsugaya Toushiro melakukan fap-fap menggunakan kaos kaki Kuchiki Rukia.]

Toushiro menjitak Rukia dari belakang. "Mau lo apaan, nyet?! Gue nggak pernah fap-fap pake kaos kaki elo! Paling nggak, ganti jadi celana dalam atau beha kenapa?!"

Rukia hanya mengangkat bahu, dan menatap Toushiro dengan pandangan sinis, kemudian mengucapkan satu kata yang menusuk hati.

"Najis."

Jleb.

"Elo bales dendem, ya?!" teriak Toushiro sambil mendorong laptopnya ke Ishida.

Rukia teriak-teriak gaje, "Eh, tapi gue belum selesai! Kenapa dikasih begitu aja?!"

Toushiro hanya menjawab dengan ringan, "Soalnya, elo najis."

Jleb.

"Kalo gitu, giliran gue, ya ..." gumam Ishida pelan sambil memejamkan mata. Dia menarik nafas dalam-dalam, mengkonsentrasikan pikiran, kemudian meletakkan kesepuluh jarinya di atas keyboard laptop Toushiro.

[Namun dibalik semua itu, tokoh utama yang sebenarnya adalah seorang pangeran berkuda putih yang tampan dan dengan gagah berani mampi mengusir para monster dan naga jahat, bernama Ishida Uryuu. Dia adalah salah satu dari ketujuh manusia pilihan]—

"Udah. Giliran gue," serobot Hirako sambil menarik laptop Toushiro seenak jidat. Ishida menatap kesal dengan pandangan 'kenapa-ini-harus-terjadi-padaku~'. Hirako kemudian langsung menekan enter dan mengetik paragraf baru.

[Hitsugaya Toushiro kemudian berpetualang nun jauh ke negeri seberang, atas perintah Yang Mulia Putri (hoek) Kuchiki Rukia]—

"Kenapa harus pake 'hoek'?!" protes Rukia sambil nyekik Hirako dari belakang. Hirako langsung kalap, dan ngapus kata (hoek)nya, kemudian langsung mengetik kembali.

[Selama perjalanan, Hitsugaya Toushiro dibekali oleh pedang Kaisar Kesepuluh pemberian Kakek dari Kakeknya Nenek Buyutnya Tantenya Hitsugaya. Di dalam perjalanan itu, dia bertemu dengan seorang musuh yang tampan jelita bernama Shirexiva Nero Jixetroph Hillarious Rallew Costeria atau singkat saja Shinji Hirako. Toushiro kemudian mati secara terhormat demi kedamaian dunia di tangan Shinji Hirako, dan dunia menjadi damai sejak Shinji Hirako menikahi tantenya Kuchiki Rukia. Tamat.]

"Oh! Ceritanya bagus. Setidaknya gue mati secara terhormat. Mirip-mirip kayak Lelouch," ujar Toushiro sambil mengelus dagu. Rukia juga mengangguk-angguk saja,

"Gue suka bagian elo kawin sama tante gue. Karena sebenarnya gue nggak punya tante. Jadi gue sama sekali nggak merasa tersinggung."

Ishida sudah menghilang entah kemana. Mungkin dia sedang jajan keluar.

Ulquiorra sweatdrop tanpa ekspresi karena dia belum dapat giliran. Dia kemudian langsung merebut laptop Toushiro, dan menghapus kata tamat, kemudian langsung melanjutkan ceritanya.

[Tapi ternyata, Hitsugaya Toushiro belum mati. Dia ternyata telah menjadi seorang immortal karena telah membunuh Ayahnya yang memiliki Code. Dan sejak itu, Toushiro menjadi seorang pengguna Geass yang abadi. Beratus-ratus tahun kemudian, Toushiro belum mati. Dia telah tumbuh menjadi pemuda yang bekerja di bengkel, dan memiliki adik seorang personel JKT48. Dia kemudian bertemu cowok berotot yang ngaku-ngaku bukan manusia, yang memberinya kekuatan untuk berubah menjadi Bima Ksatria Garuda. Dan akhirnya, dia terus menyelamatkan dunia hingga Doraemon diciptakan di dunia. THE END.]

Rukia cengo. Hirako terdiam. Ishida yang baru balik hanya memasang ekspresi kosong. Toushiro entah kenapa malah nepuk-nepuk pundak Ulquiorra sambil cengar-cengir tidak jelas.

Sungguh. Entah kenapa Toushiro merasa senang melihat anggotanya begitu menghormati dirinya.

"Toushiro, elo nonton Blood Lad, nggak?" tanya Hirako sambil menatap layar laptop besarnya dengan pandangan dingin. Seolah membicarakan hal serius.

"Blood Lad? Gue sempet denger. Tapi belum tertarik download. Itu anime musim summer ini, 'kan?" jawab Toushiro sambil menatap layar laptopnya dengan mulut setengah terbuka. Jangan tanya dia sedang nonton apa.

"Iya. Ceritanya tentang vampir otaku. Lalu ada cewek ber-oppai besar yang tiba-tiba nyasar ke dunia iblis. Lalu dia dimakan oleh iblis yang mirip-mirip kayak Zetsu dari Naruto. Lalu akhirnya ntu vampir nyari cara untuk ngidupin ntu cewek."

"Vampir? Vampirnya ganteng? Gue males kalo ternyata itu lebih mirip Twilight Saga the Animation. Lagian, seinget gue vampir itu setan China yang lompat-lompat gitu. Kalo yang kayak kelelawar gitu namanya Drakula. Gara-gara si Etwad Cullun itu aja gambaran vampir jadi salah arah."

"Toushiro, ngatain karya orang itu nggak baek. Coba elo buat novel, terus dikatain, mau nggak?"

"Gue mau. Jadi nanti gue bisa ngebuat fanpage hater gue menjadi bahan lelucon gue kelak," jawab Toushiro acuh tak acuh. Dia lalu meminum Teh Gelas milik ishida yang terkapar begitu saja. Ishidanya sendiri lagi konsentrasi main Osu!. "Lagipula, apa gerangan elo ngomongin Blood Lad?"

"Ada karakter yang sumpah-ciyus-demi-hantu mirip banget sama elo. Namanya Wolf. Cuma beda poni doang sama elo," jawab Hirako antusias.

Toushiro langsung menanggapi dengan sama antusiasnya. "Benar-benar cuma beda poni doang?"

"Iya! Sama ... Beda tinggi badan."

"Sekali lagi elo nyinggung tinggi badan gue, jangan harap gue ngebiarin elo tidur di ruang klub ini lagi."

"Sekali lagi elo ngancem gue, jangan harap elo bisa minum Coca Cola punya gue secara gratis," balas Hirako tidak mau kalah. Toushiro langsung memasang wajah ala meme 'You win this time'.

"Ulquiorra, elo ada visual novel yang bagus nggak di PSP elo? Kalo bisa yang R-18, dan ada adegan yurinya," tanya Toushiro ke Ulquiorra. Itu adalah pertanyaan yang laki banget.

Ulquiorra mengangkat wajahnya dari PSP. Menggerakkan kedua tangannya di PSPnya sejenak, kemudian menyerahkannya ke Toushiro. Beserta dengan headsetnya. Toushiro menerimanya dengan suka hati.

Toushiro cuma cengar-cengir, "Oke. Makasih."

Dan Toushiro pun berjalan meninggalkan bangku putar warna merah dan laptopnya yang sedang mendownload di atas meja, dan lebih memilih untuk bermain sambil tiduran di atas sofa. Semoga dia tidak melakukan self-service disini.


"Ulquiorra, gue bawa catur. Main, yuk," ucap Rukia sambil mengeluarkan catur dari dalam lemari yang ada di situ. Di dalam situ ada pakaian-pakaiannya Hirako, kotak kaset PSPnya Ulquiorra yang tidak terpakai, dan kumpulan mainan gaje punya Toushiro yang dia pungut. Catur itu juga sebenarnya barang temuan Toushiro dan Rukia di dekat parit. Karena masih bagus, akhirnya mereka cuci dan disimpan di ruang klub.

Ulquiorra mengangguk, kemudian mereka berdua bermain catur di atas meja.

Hirako sedang mengerjakan proyek menerjemahkannya, sedangkan Ishida masih bermain Osu! dengan kecepatan jari dewanya dengan serius. Toushiro? Sedang main PSP sambil senyum-senyum sendiri.

Hari yang tenang seperti biasa. Apa yang akan hari esok siapkan untuk mereka?

Tidak ada yang yang tahu. Bahasa Jepangnya, dare mo shiranai. Bahasa Inggrisnya, The World God Only Knows. Iya. Yang terakhir itu judul anime. Namanya juga lagi ngelawak.

Ah. Benar-benar. Hari yang tenang.

BRUAAK!

Pintu masuk dibuka secara paksa oleh seorang perempuan berdada besar dari luar. Sang penasihat klub yang jarang dapat giliran main, Rangiku sedang berdiri dengan ngos-ngosan disana.

"Gawat!" teriaknya sambil mengambil nafas dalam-dalam. Rangiku kemudian berjalan menuju kulkas, mengambil Coca Cola punya Hirako yang lain, kemudian meminumnya dengan cepat. Hirako hanya terdiam di tempat.

Setelah selesai minum dan perhatian kelima anggota klub terpusat kepada sang guru, akhirnya Rangiku mulai menjawab.

"... Kepala Sekolah kita ... Telah meninggal dunia akibat serangan jantung."


~ Bersambung ~


Dialog From Next Episode:

— "Seseorang telah menggunakan Death Note untuk membunuh Kepala Sekolah."

— "Kita kedatangan kepala sekolah yang baru. Namanya ..."

— "Aku, Aizen vi Britannia, memerintahkan kalian untuk ..."


Catatan Penulis:
Pertama-tama, saya mau ngucapin terima kasih buat yang sudah ripiu sampe sekarang. Tadinya ini chapter bakal dipublish secara terpisah, tapi setelah diingat-ingat, perjuangan saya dalam mengumpulkan trio Rev, Fav, dan Fol, akhirnya saya memutuskan untuk tetap lanjut disini. Siapa yang bilang saya males nyentang 'accept guidelines' pas mau publish cerita baru?!

Oke. Yang nggak tahu apa itu Blood Lad, Yuru Yuri, Boku wa Tomodachi ga Sukunai, Code Geass, TWGOK, dan Love Lab silahkan luangkan waktu anda untuk menggunakan jasa Mas Gugel.

Di pembukaan itu, saya ngeparodi-in pembukaannya Yuru Yuri. Itu, lho. Yang manggil-manggil, 'Akarin~'. Nggak tahu? Masa bodo. #dibuang

Kenapa banyak refrensi Code Geass di chapter ini? Karena saya lagi demen sama ntu anime. Bisa dibilang, fanfik ini mencerminkan anime yang sedang saya gandrungi. Wete-ep.

Dan, siapa yang bilang saya ganti pen-name cuma demi joke di chapter ini?! Itu hanya keisengan belaka. Eh. Tapi kalo iseng berarti sengaja, ya...

Karena saya lagi males buat filler ataupun cerita yang habis dalam satu chapter, maka chapter depan ceritanya langsung masuk ke arc. Karena murid baru sudah terlalu mainsetrum, maka saya make kepala sekolah baru. Wakaka.

Dan, mulai sekarang, fanfik ini akan dikerjakan secara paralel dengan sekuelnya yang judulnya kayak gerbong kereta api itu. Jarang-jarang, ada prekuel dan sekuel yang dikerjain barengan, kan? Kalian boleh ngasih saya hadiah sekarang. Tapi apdetnya mood-mood-an. Kalo lagi napsu ngerjain satu, ya, yang lain terbengkalai. Sabar aja. Penulisnya aja sabar ngetik dikit-dikit, masa' pembacanya nggak sabar.

Buat nama panggilan, silahkan panggil saya Kira, Kazuki, atau Mas Kajuki seperti biasa. Tapi kalo mau manggil Elpi-sama atau Piji-sama juga nggak apa-apa, kok.

Akhir kata, sampai jumpa.

Saraba!