Disclaimer : Naruto bukan milik saya
Don't like don't read
Warning : Bahasa tidak baku, EYD tidak sempurna, karakter OOC
.
CHAPTER 14
.
Sasuke menghampiri Hinata yang sedang asyik menonton drama di layar TV yang berada di ruang tamu dan duduk di sampingnya.
"Naruto dan Sakura tidak bisa datang untuk makan malam besok." Kata Sasuke dengan datar.
"Eh? Mengapa?"
Sebenarnya Hinata tidak keberatan jika mereka berdua tidak datang ke rumah ini. Ia masih jengkel dengan sikap Naruto tadi sore!
Jika diibaratkan, Naruto justru menghukum batu yang melukai kepalanya dan bukannya menyalahkan orang yang melempar batu itu.
Naruto dan Sakura seharusnya menyalahkan Sasuke bukannya Hinata! Sasuke sendiri yang memutuskan untuk menikahi Hinata, ini semua bukan salahnya! Hinata juga jadi korban disini.
"Sakura ada pemotretan besok sedangkan Naruto ada rapat penting mendadak."
"Oke." Hinata menganggukkan kepalanya ketika mendengar penjelasan Sasuke.
Hinata melirik ke arah Sasuke yang kini turut menonton drama. Lalu matanya beralih ke foto pernikahan ekstra besar yang ia pajang di dinding tidak jauh dari tempat mereka duduk. Sampai saat ini Sasuke tidak mengomentari foto itu. Jika Sasuke tidak memprotes itu berarti Sasuke tidak keberatan dengan foto itu.
"Kenapa kau menonton tayangan sampah seperti ini?"
Hinata kembali menoleh ke arah Sasuke. Apa katanya barusan?
"I-ini bukan sampah! I-ini a-adalah drama yang me-mengisahkan perjuangan cinta dua orang yang terpisah karena status sosial mereka yang berbeda." Dengan bersemangat Hinata kembali melanjutkan perkataannya. "Si pria adalah seorang yang tampan, populer, dan kaya raya sedangkan si wanita hanyalah seorang wanita berwajah biasa yang miskin. Kisah mereka sangat menyentuh."
Sasuke mendengus. "Itu sangat tidak masuk akal."
"A-apanya yang tidak ma-masuk akal?"
"Semuanya. Pria itu sangat bodoh. Seharusnya ia mencari seorang istri dengan status yang sepadan dengannya. bukannya memilih wanita miskin yang bahkan tidak cantik."
Hinata sangat tersinggung mendengar komentar Sasuke.
"Si pria jatuh cinta pada wanita itu karena si wanita sangat berbeda! Untuk pertama kalinya pria itu bertemu dengan wanita yang tidak tergila-gila dengan status atau harta yang ia miliki. Cintanya tulus!"
"Pria itu hanya tertarik pada wanita itu karena ia baru pertama kali bertemu dengan wanita yang tidak memujanya. Bagaimana jika suatu saat nanti pria itu bertemu dengan seseorang seperti itu tapi jauh lebih cantik dan terpandang. Pasti ia akan mencampakkan wanita miskin itu."
"Kau! Mengapa kau bicara seperti itu?!" Hinata sangat kesal karena Sasuke menghina drama kesukaannya.
"Itu kenyataannya." Jawab Sasuke dengan santai.
"Si pria mencintainya karena hati wanita itu tulus dan jujur!"
"Bagaimana jika hati wanita itu berubah?"
"Eh?!"
"Hati manusia bisa berubah. Mungkin saat ini wanita itu masih tulus dan jujur. Tapi bagaimana jika hati wanita itu berubah? Mungkin saja setelah beberapa tahun bersama si pria dan menjadi terbiasa hidup dalam kemewahan maka hatinya akan berubah jadi tamak. Siapa tahu pria itu semakin lama menjadi bosan dengan wanita itu dan mencampakkannya."
"Um…" Sejujurnya Hinata tidak pernah berpikir sampai sejauh itu.
"Semua tayangan ini adalah sampah. Mereka hanya menjual mimpi. Dalam dunia nyata tidak mungkin pria kaya raya jatuh cinta pada gadis miskin yang jelek. Mereka menciptakan drama ini untuk membuat penontonnya bisa bermimpi hidup dalam kemewahan seperti itu."
Hinata lalu berpikir keras.
"Kau tahu…" Hinata menoleh ke arah Sasuke. "Jika dipikir-pikir kau itu hampir mirip dengan si pria dalam drama itu."
"Apanya yang mirip?" Kata Sasuke dengan sedikit tersinggung.
"Kalian berdua sangat dingin dan arogan. Kalian juga sangat kaya dan memiliki jabatan tinggi. Kalian juga sangat tampan sehingga disukai-"
"Jadi menurutmu aku ini sangat tampan huh." Potong Sasuke.
Wajah Hinata langsung memerah. "Bu-bukan i-itu poin pentingnya! Ma-ma-maksudku-"
"Jadi kau diam-diam mengagumiku." Goda Sasuke.
"Ka-kau memang tampan oke?! ITU ADALAH FAKTA! Jika aku membantah hal itu artinya ada sesuatu yang salah dengan penglihatanku."
Sasuke menyeringai puas.
Hinata menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan."Pokoknya… ka-kalian be-berdua disukai oleh banyak orang hanya karena status dan wajah kalian. Terutama kau Sasuke! Ji-jika ka-kau itu adalah seorang pria miskin dengan wajah jelek maka tidak ada wanita yang sudi melirikmu."
"Oh…" Kata Sasuke dengan tertarik. "Termasuk kau?"
Hinata berpikir sebentar lalu menganggukkan kepala dengan tegas. "Tentu saja! Wajahmu adalah hal yang paling menarik dari dirimu. Seandainya saja kau jelek dan ditambah lagi dengan sikap brengsekmu itu maka akupun tidak sudi melirikmu."
Alis Sasuke berkedut.
Hinata lalu melanjutkan perkataannya. "Jika kau jelek pasti Sakura juga tidak akan melirikmu."
Sasuke menghela nafas. "Terserah apa katamu, Hinata."
"Itu memang kenyataannya! Orang-orang mengagumimu karena kau adalah pria tampan yang mengenakan setelan mahal dan mengendarai mobil mewah."
Sasuke tampak berpikir dengan serius.
.
.
Beberapa hari kemudian Sasuke menghampiri Hinata yang sedang mencuci piring di dapur setelah selesai sarapan.
Hinata terheran-heran melihat penampilan Sasuke hari ini. Ia lalu menyelesaikan mencuci piring dan berbalik menghadap ke arah Sasuke.
"Uh… Sasuke? Me-mengapa kau berpenampilan seperti itu?"
Sasuke mengenakan celana jeans yang telah pudar dan sepatu yang terlihat usang. Ia juga memakai kaos hitam biasa dan jaket hitam murahan.
Sasuke hanya mengangkat pundaknya.
"Ka-kau tidak bekerja?"
"Tidak. Ayo pergi."
"Kemana?"
"Berjalan-jalan. Perkataanmu tempo hari membuatku penasaran."
"Um… a-apakah i-ini a-artinya ka-kau mengajakku pergi berkencan?" Tanya Hinata dengan malu-malu.
"Ini bukan kencan. Aku hanya penasaran apakah orang lain akan tetap memperhatikanku dengan penampilanku yang seperti ini."
"Po-pokoknya ini kencan!"
"… aku akan pegi sendiri." Kata Sasuke sambil melangkah pergi.
"Ah! Tu-tunggu…" Hinata lalu meraih lengan Sasuke. "Aku ikut!"
"Hm. 10 menit."
"Eh?"
"Jika kau tidak turun dalam 10 menit aku akan langsung pergi."
"Oke! A-aku akan bersiap-siap."
Sembilan menit kemudian Hinata sudah siap. Ia menganakan celana jeans dengan kaus putih dan jaket berwarna ungu. Ia juga mengenakan flat shoes berwarna hitam dan membawa tas kecil berwarna putih.
"Pakai ini." Kata Hinata sambil menyodorkan syal berwarna biru muda pada Sasuke.
"Untuk apa?"
Hinata lalu mengalungkan syal itu ke leher Sasuke dan mengaturnya sedemikian rupa.
"U-untuk menyembunyikan wajahmu. Ka-kau memang berpenampilan biasa tapi dengan wajah ta-ta-tampanmu itu ka-kau akan tetap menarik perhatian."
"Kau sangat jujur." Kata Sasuke dengan datar.
"A-aku hanya me-mengatakan yang sebenarnya!"
"Mm."
Hinata mengerucutkan bibirnya. "Kita juga tidak boleh naik mobil."
"Aku tahu."
.
.
"Kenapa kita harus naik bus, lebih baik taksi."
"Hush, jangan menggerutu Sasuke."
Saat ini Sasuke dan Hinata sedang berdiri di halte bus.
"A-apa kau pernah naik bus?" Tanya Hinata.
"Dulu."
"Kapan?"
"Tidak ingat."
Hinata tertawa kecil. Dari kejauhan nampak bus yang semakin mendekat.
"Busnya sudah sampai."
"Mm."
"Ayo." Tanpa berpikir panjang Hinata memegang tangan Sasuke untuk menyeretnya masuk.
Ketika Hinata hendak memasuki bus tiba-tiba tubuhnya membeku. Wajahnya pucat pasi dan detak jantungnya tidak beraturan.
Ia takut.
Bagaimana ia bisa lupa, di kehidupan sebelumnya ia kehilangan nyawanya saat sedang menaiki bus.
Tubuhnya berkeringat dingin, termasuk pula telapak tangannya yang saat ini masih memegang tangan Sasuke.
Melihat sikap aneh Hinata, Sasuke menyeretnya menjauh. Mereka berdua tidak jadi menaiki bus.
Dengan tatapan kosong Hinata memandangi bus yang saat ini bergerak menjauh.
Tuk!
"Eh?" Ketukan di dahinya menyadarkannya dari memori buruk yang telah ia lupakan.
"Ada apa Hinata?"
Hinata menatap mata hitam Sasuke yang memancarkan kekhawatiran.
"Ti-tidak ada apa-apa!"
Sasuke memandangi wajah Hinata dengan serius. "Wajahmu pucat pasi. Tanganmu juga dingin."
Hinata lalu tersadar jika ia masih memegang tangan Sasuke. Dengan secepat kilat ia melepaskannya.
"A-aku tidak apa-apa."
Sasuke masih tetap memandangi wajah Hinata.
"Sungguh." Kata Hinata sambil berusaha meyakinkan Sasuke.
Sasuke menghela nafas. "Kita naik taksi."
"Baik…"
.
.
Setelah melupakan 'insiden bus' tadi, Hinata kini kembali riang.
"Ayo Sasuke!"
Sasuke membenamkan wajahnya di syal sambil menggerutu. "Kenapa kita harus mengunjungi kebun binatang."
Hinata terkekeh. "Mengapa tidak."
"Ini sangat memalukan. Bagaimana jika ada yang mengenaliku."
"Kau berlebihan Sasuke. Apa salahnya dua orang dewasa mengunjungi kebun binatang?"
Sasuke tetap menggerutu.
"Cerialah sedikit, Sasuke. Kau dulu pasti juga merasa ceria saat mengunjungi kebun binatang."
"Aku tidak pernah."
"E-eh? A-apa maksudmu?"
"Aku tidak pernah mengunjungi kebun binatang. Ini yang pertama." Kata Sasuke dengan nada datar.
Hinata menatap Sasuke dengan iba. "Kau sungguh malang sekali Sasuke. Pasti masa kecilmu dulu tidak menyenangkan." Mata Hinata mulai berkaca-kaca membayangkan Sasuke kecil yang tidak pernah mengunjungi kebun binatang sekalipun.
Tuk! Tuk! Tuk!
Sasuke mengetuk dahi Hinata dengan ujung jarinya.
"Apa maksud perkataanmu itu huh."
"A-aku merasa prihatin denganmu. A-aku turut merasa sedih." Hinata menyeka air matanya.
"Tidak pernah bukan berarti tidak bisa." Kata Sasuke dengan nada jengkel. "Aku bisa saja mengunjungi kebun binatang. Tapi aku tidak mau."
"Me-mengapa?! Setiap anak kecil pasti suka mengunjungi kebun binatang!"
"Kecuali aku."
Hinata mencibirkan bibirnya. "Lalu apa yang kau lakukan untuk bersenang-senang?"
Sasuke menyeringai. "Mendaki gunung, camping, bermain ski atau ice skating, mengunjungi pantai dan main selancar, pergi berkuda, menonton pertandingan olahraga atau balapan, atau pergi ke danau dan berenang."
Hinata menganggukkan kepala, ia sangat kagum mendengar perkataan Sasuke.
Ia bahkan belum pernah melakukan kegiatan seperti itu.
"O-oh… tapi menurutku setiap anak kecil wajib mengunjungi kebun binatang." Kata Hinata dengan serius.
"Mengapa?"
"Untuk edukasi. Jika aku punya anak nanti, aku juga akan mengajaknya kesini."
"Anak? Lalu siapa yang akan jadi ayahnya?" Tanya Sasuke sambil tersenyum jahil.
Wajah Hinata kini berubah menjadi semerah tomat. "Sa-Sa-Sasuke!" Dengan refleks tangannya memukul lengan pria itu.
"Ah… jadi aku yang akan menjadi ayahnya. Sungguh cita-cita yang tinggi, Hinata." Kata Sasuke sambil menyeringai.
"Aaahhh!" Hinata kini beralih menutup telinganya. Ia tidak ingin mendengar celotehan pria itu.
Dan Sasuke tertawa.
Untuk pertama kalinya Hinata menyaksikan Sasuke yang sedang tertawa.
Hinata terpaku. Matanya tidak berkedip melihat Sasuke yang tengah tertawa terbahak-bahak.
Pria itu tertawa dengan keras. Matanya tertutup rapat namun bibirnya melukiskan tawa. Tubuhnya sedikit terbungkuk dan terguncang karena tawanya.
Pria itu sangat tampan.
Terlebih ketika tertawa.
Hati Hinata bergetar. Ia ingin mengabadikan momen dihadapannya ini.
Tak lama kemudian tawa Sasuke berhenti. Hinata berusaha mengendalikan perasaannya.
"A-aku a-akan mengunjungi singa!" Kata Hinata sambil berjalan menjauh.
Tak lama kemudian Sasuke berjalan menyusulnya. "Kenapa singa?"
"Aku ingin menyentuh surainya."
"Kau tidak takut."
"Um… ti-tidak kok."
"Sungguh?"
"Te-te-tentu saja!"
.
.
"Kau bilang ingin menyentuh surai singa." Kata Sasuke dengan nada datar.
"I-ini singa!"
"Itu bayi singa. Tidak ada surainya."
"Tetap saja ini singa!" Kata Hinata.
Hinata lalu mengelus tubuh bayi singa itu. Lembut sekali~
"Kau ingin menggendongnya?" Tanya si pawang.
"E-eh?! Bo-boleh?"
Si pawang mengiyakan sambil meletakkan bayi singa itu ke gendongan Hinata.
Hinata tertawa. "Sasuke! Cepat ambil ponselku yang ada di tas. Aku ingin berfoto dengan bayi singa."
Sasuke justru melipat tangannya di dada.
"Sasuke! Ku-kumohon…"
Dengan menghela nafas Sasuke mengambil ponsel Hinata.
"Ponselnya tidak aku kunci. Cepatlah Sasuke! Bayi singa ini mulai berontak."
Sasuke lalu menghadapkan kamera ponsel ke arah Hinata.
Hinata lalu tersenyum ke arah ponsel. Tapi bayi singa di gendongannya itu justru menjilati tangannya dan membuatnya tertawa.
Dan Sasuke memotret Hinata yang sedang tertawa bahagia.
"Sudah?"
"Mm."
"Bagaimana?"
"Wajahmu terlihat jelas."
Komentar macam apa itu? Hinata lalu mengembalikan bayi singa yang ada di gendongannya pada si pawang.
Tanpa Hinata ketahui, Sasuke mengirimkan foto itu ke ponselnya.
.
.
Setelah puas berjalan-jalan di kebun binatang, kini mereka berada di restoran untuk makan.
"Haruskah kau membeli boneka singa?"
"I-ini sangat lucu… dan imut."
"Sebenarnya berapa usiamu huh?"
"Ti-tidak ada sa-salahnya jika wanita dewasa me-menyukai sesuatu yang imut." Kata Hinata sambil menepuk-nepuk boneka singa bersurai hitam yang duduk di kursi kosong yang ada di sebelahnya.
Sasuke menggelengkan kepalanya dengan pasrah.
Ketika hidangan mereka telah tiba, Hinata langsung memakannya dengan riang.
"Ini rasanya aneh." Kata Sasuke.
"Be-benarkah? Ini enak kok."
Hinata lalu melirik makanan yang ada di hadapan Sasuke. Menu yang mereka pesan sama, lalu apa masalahnya?
"Bukan makanannya. Tapi situasi ini."
"Apanya yang aneh?"
"Sama sekali tidak ada yang memperhatikanku." Gumam Sasuke.
Ah, Hinata paham sekarang.
"Tentu saja! Saat ini kau adalah pria yang biasa-biasa saja, sama seperti yang lainnya. Nah… ternyata kau sebenarnya tidak istimewa."
Sasuke mendelik tajam ke arah Hinata yang pura-pura mengacuhkannya.
Tak lama kemudian ada dua orang pria tampan yang memasuki restoran itu. Dua orang pria itu sangat tampan dan memakai setelan jas yang terlihat mahal. Kini pandangan mata semua orang tertuju ke arah dua pria itu.
"Lihat! Penampilan adalah yang terpenting." Bisik Hinata pada Sasuke. "Semua orang kini memperhatikan dua pria itu hanya karena mereka tampan dan berpenampilan keren."
"Aku mengenal dua orang itu. Mereka bekerja di divisi keuangan. Mereka terlihat sombong meski jabatan mereka rendah."
"Me-meskipun jabatan mereka rendah tapi orang-orang tidak mengetahui itu. Yang mereka lihat adalah dua pria tampan yang sukses."
Sasuke mendengus.
Tak lama kemudian ada dua orang wanita cantik yang turut duduk di meja mereka dan mengajaknya berkenalan.
"Lihat! Bahkan ada dua wanita cantik yang mendekatinya." Hinata terkekeh. "Kau sama sekali tidak diperhatikan."
"Melihat wajah sombong mereka membuatku muak."
"Kau hanya cemburu karena tidak ada yang melirikmu."
Sasuke lalu mencubit pipi Hinata. "Semakin lama kau semakin berani bicara ternyata."
"Aw! Sakit… Sasuke, le-lepaskan!"
.
.
"Ah… akhirnya sampai juga di rumah." Kata Hinata sambil bernafas lega. Ternyata berjalan-jalan membuat tubuhnya letih.
"Hey Hinata." Panggil Sasuke.
Hinata yang hendak menaiki tangga kini menghentikan langkahnya dan beralih menatap Sasuke.
"Ternyata tidak buruk juga." Kata Sasuke dengan nada datar.
"Apanya?"
"Menjadi seseorang yang biasa."
Hinata tersenyum.
Kini Sasuke berjalan mendekati Hinata.
Dan mencium bibirnya.
Hinata mematung.
Sasuke menciumnya dengan lembut, sangat sangat lembut.
Namun itu cukup untuk membuat darahnya berdesir.
Setelah ciuman itu selesai mereka berdua saling bertatapan. Ekspresi Sasuke masih terlihat tenang sedangkan wajah Hinata kini berubah semerah tomat.
"Sa-Sa-Sasuke?" Bibir Hinata terasa kelu.
"Terima kasih untuk kencan kita hari ini." Kata Sasuke sambil melangkah pergi dan menaiki tangga.
Hinata masih berdiri mematung.
.
.
Kehidupan yang dijalani Hinata saat ini sudah berbeda jauh dengan alur cerita di novel yang pernah ia baca dulu. Inti dari buku novel yang pernah dibaca Hinata fujioka adalah hubungan percintaan antara Sasu-Saku, karena Hinata sudah ikut campur dgn hubungan mereka maka tidak ada kisah cinta antara Sasu-Saku saat ini. Jadi bisa dibilang alur cerita sudah berubah jauh dan Hinata sudah tidak bisa memprediksi jalan ceritanya.
Karena sudah mulai terbiasa dengan Sasuke, cara bicara Hinata kini sudah mulai tidak terbata-bata lagi.
