Title: "HERE I AM"
Pair: KaiSoo-EXO Kai-EXO Kyungsoo
Words: 3,5K
Genre: disgustingly fluffy. you will vomit. I swear.
.
.
.
hell.o.
.
.
.
Ia melangkahkan kakinya ke sebuah lorong menuju ballroom di hotel terkenal itu. Dilengkapi dengan persenjataannya, dia siap untuk pergi ke acara dimana dia akan bertemu dengan pujaannya tersebut. Senyumnya mengembang, dia sudah bisa membayangkan bagaimana pria itu bersinar di bawah cahaya gemerlap pentas—dan dia tidak sabar untuk itu. Tas ransel yang cukup berat tersebut sesekali dia tarik agar tidak terjatuh. Terkadang dia tertawa heran, meruntuki segala macam kebodohan dan kenekatannya kali ini. Memang, setelah sekian lama pergi merantau ke negara orang membuatnya merasa asing dengan apapun yang ada di sekitarnya. Secara tiba-tiba, langkahnya terhenti, tepat ketika dia menyadari apakah lelaki itu akan mengenali dirinya seperti dulu.
Dia menghela nafasnya, membiarkan semua keraguannya luntur. Dia melihat benda yang tergantung di lehernya itu, dengan sebuah harapan, jika kali ini, kesempatan ini, tidak akan berakhir sia-sia. Mungkin, jika mungkin lelaki itu tidak mengenalinya ataupun melihat dirinya, paling tidak dia bisa merekam memorinya, walaupun untuk hari itu saja.
Tempat itu sudah ramai. Tentu saja. Do Kyungsoo. Lelaki yang akan dia temui itu memang sedang menjadi buah bibir di kalangan masyarakat. Dengan suaranya yang sangat lembut itu tentu, dan pasti, membuat semua orang jatuh cinta. Kepribadiannya yang menyenangkan juga sudah menjadi nilai tambah baginya. Jongin mengenal semuanya dengan baik. Dengan sangat amat baik hingga terkadang dia meyakini jika dia lebih mengenal Kyungsoo daripada dirinya sendiri.
Jongin menggenggam undangan yang sebenarnya ditujukan pada sahabatnya, Sehun. Karena dia kembali ke Korea setelah sekian tahun, maka Sehun dengan senang hati merelakan undangan itu untuk Jongin. Ingin sebenarnya, di dalam hatinya, dia menemui Kyungsoo dengan cara yang lain. Tapi dia tahu, Kyungsoo bukanlah orang yang mudah ditemui seperti dulu. Dia sudah berubah, bukan berubah ke dalam hal yang buruk, hanya saja, Kyungsoo berubah menjadi seseorang yang sulit untuk diraih. Dan hal ini membuat Jongin sedikit berputus asa.
Dia berhasil masuk ke dalam ballroom tersebut. Dimana dia mendapati orang-orang di sekitarnya mengenakan pakaian resmi seperti pada acara formal sewajarnya. Memang, acara itu bukan acara yang biasa. Sebuah konser dimana hanya beberapa orang diundang—yang bagi Kyungsoo sudah berjasa untuk semua karya dan popularitasnya saat ini. Sejenak, Jongin merasa apa yang dipakainya tidak sepadan dengan yang lain. Tapi dia membiarkannya, toh dia tetap bisa masuk walaupun beberapa mata tertuju padanya.
Dan tentu saja, beberapa dari orang disana mengenal dirinya. Seorang fotografer terkemuka yang berhasil membanggakan Korea dengan segenap karyanya. Apalagi dengan sebuah kamera berlensa 55 hingga 300 milimeter yang tergantung di lehernya membuat orang dengan mudah mengetahuinya. Beberapa orang disana menyalaminya dan bertanya dalam rangka dia datang. Jawabannya mudah. Jongin mengatakan bahwa dirinya adalah fans berat dari Do Kyungsoo. Penyanyi ballad yang sedang mengadakan konsernya tersebut. Dia juga menambahkan bahwa dia sudah menyiapkan segala macam senjatanya untuk mengambil gambar dari Kyungsoo—sejenak Jongin merasa dirinya seperti seorang fansite Oppa untuk idol-idol di luar sana.
Ia duduk di meja paling belakang dari ballroom itu. Dia sengaja menukar tempat duduknya agar mendapatkan view yang paling baik untuk panggung. Jongin sudah membayangkan dimana Kyungsoo akan bernyanyi dan bagaimana ekspresi yang akan ditampakkan lelaki itu. Bayangan-bayangan dan imajinasi itu membuatnya menjadi seorang lelaki bodoh, karena senyumnya yang melengkung dengan sendirinya di sudut bibir miliknya.
Dia menunggu sembari menyetel kameranya. Mencoba mengambil secara candid orang-orang yang ada disana sembari mengatur aperture dan shutter speed yang tepat untuk cahaya kuning dari lampu ballroom tersebut. Ketika semua dirasa benar, dia mulai mengambil obyek-obyek yang layak, bahkan sudut tembok dari ballroom tersebut tak luput dari tangkapan lensanya. Jongin tersenyum sembari meneliti hasil kerjanya, setelah sekian lama berkutat dengan fotografi landscape dan nature, ternyata dia masih tidak kehilangan sentuhannya pada object photography seperti ini. Dia masih menjadi seseorang yang berbakat untuk mengambil gambar. Masih, dan akan selalu menjadi orang yang berbakat pada bidangnya.
Sang pembawa acara mulai membacakan susunan acara—dan hingga akhirnya memanggil seseorang yang sedari tadi dinantikan oleh Jongin. Kyungsoo. Lelaki itu mengenakan pakaian serba putih yang tidak terlalu kontras dengan warna kulitnya yang pucat. Jongin melengkungkan bibirnya, seraya bergumam jika Kyungsoo tidak pernah berubah. Setelah lebih dari tujuh tahun tidak bertemu, lelaki itu masih saja sama. Bahkan Jongin takjub dengan wajah Kyungsoo yang sama sekali tidak bertambah dewasa. Kyungsoo juga masih sama seperti dulu, berbadan ringkih. Walaupun saat ini, Jongin mengakui jika Kyungsoo lebih berisi. Terlihat lebih manly, tapi Jongin sangat amat tahu betapa manjanya Kyungsoo jika sudah berada di belakang pentas.
Dia mulai membidik obyeknya sembari mengatur seberapa banyak cahaya yang harus masuk ke dalam tangkapan lensanya. Setelah mencoba beberapa kali, dia mulai menemukan ritme pekerjaannya. Sesekali Jongin melihat preview hasilnya, dan dia merasa puas. Bagaimana tidak, dengan bakat mengambil gambar dan obyek indah yang dia incar, semuanya terlihat sempurna. Entah, Jongin sendiri tidak mengerti, apakah itu sempurna menurutnya atau memang semua itu terlihat sempurna.
Jongin tidak pernah bosan merekam setiap gerakan dari Kyungsoo. Dia sudah mengambil sekitar 300 foto untuk 15 menit pertama dari konser. Dan sekarang, dia memutuskan untuk berhenti sejenak. Dia juga ingin menikmati bagaimana dengan indahnya Kyungsoo melantunkan semua lagu-lagunya. Dia memejamkan matanya, membiarkan otaknya memutar semua masa lalu mereka dimana mereka tumbuh menjadi remaja yang menikmati masa muda sebelum cita-cita memisahkan mereka. Jongin masih ingat, dengan kamera professional pertamanya dia selalu mengambil gambar Kyungsoo ketika melakukan apa saja. Bahkan ketika Kyungsoo melakukan hal konyol sekalipun. Jongin tidak melupakan itu. Sama sekali tidak.
Sesaat hatinya terkoyak ketika Kyungsoo menjawab pertanyaan dimana dia, pernah memiliki cinta pertama. Seorang teman dari sekolah menengah yang sekarang pergi untuk menempuh masa depannya. Kyungsoo mengatakan bahwa dia merindukan orang itu, orang yang sudah membawa pergi hatinya dan entah kapan akan kembali memeluknya. Kyungsoo tersipu ketika ditanya siapa orang yang dia sebutkan selama ini. Dan lelaki itu hanya menjawab bahwa hanya dia beserta sang obyek yang mengetahui semua rahasia mereka. Hanya mereka, dan sampai entah kapan mereka akan menyimpan rahasia itu.
Jongin memutar cincin yang ada di jari manisnya. Tatapan kosongnya itu berubah sendu ketika mengingat semua keraguannya. Keraguan yang membuat dirinya enggan untuk melangkah. Namun dia bertekad jika kali ini dia tidak akan gagal. Dia ingin memperjelas semuanya dan menghendaki apa yang harus menjadi miliknya. Posesivitas hatinya memang sudah terlampau parah, dan dia merasa sudah bukan saatnya menjadi seorang pengecut begitu.
Hatinya menghangat, ketika mendengar Kyungsoo menyatakan bahwa dia selalu menunggu cinta pertamanya pulang. Dia mengatakan bahwa dia merindukannya. Sangat merindukannya hingga terkadang hatinya merasa sakit. Kyungsoo ingin mengatakan bahwa otaknya selalu memperintahkan dirinya untuk membenci cinta pertamanya, karena dia tidak pernah menanyakan dan menyatakan bagaimana kabarnya. Tapi Kyungsoo juga mengatakan bahwa dia seorang love-fool, yang dengan bodohnya menunggu seseorang yang tidak tahu akan kembali atau tidak.
Jongin merasa kecewa. Kecewa dengan dirinya sendiri yang tidak pernah berani melangkah lebih cepat untuk menjauhi zona aman. Lebih dari tujuh tahun dia baru kembali ke tanah kelahirannya untuk meraih salah satu cita-citanya yang tertunda. Memiliki apa yang harus menjadi miliknya. Menandai seluruh teritori yang ingin dia tinggali di masa yang akan datang. Selama ini dia selalu melunturkan asanya sendiri. Tapi malam itu, semangatnya kembali berapi.
Dia kembali menenteng kameranya dan berjalan menuju sudut ruang dimana dia bisa mengambil gambar dengan baik tanpa harus mengganggu lainnya. Sesekali dia mengatur fokus lensanya yang buram, dan tersenyum kita sudah menemukan titik dimana sang obyek terlihat nyata. Dia melakukannya dengan nyaman, apalagi dibawah gelapnya ballroom yang cahayanya hanya tertuju pada sang pemilik acara, Kyungsoo. Dia menikmati bagaimana lantunan piano itu diselingi dengan suara tangkapan lensanya. Baginya, bagi Jongin, itu sebuah musik tersendiri bagi telinganya. Semua rencananya berjalan lancar, sebelum Kyungsoo menatap tepat ke arah lensanya selama beberapa saat. Jongin menurunkan kameranya sebelum lensa kamera itu tergantikan oleh lensa matanya. Dia melihat Kyungsoo mengerutkan alisnya, dan melupakan kapan dia harus menyanyi. Mungkin Kyungsoo ingin meyakinkan dirinya sendiri dengan apa yang dia lihat saat ini. Hingga akhirnya, Jongin, sedari tadi berdiri di balik terangnya gelap, bergerak pergi, dan memutuskan untuk menjadi seorang pengecut untuk yang kesekian kalinya lagi. Ah, bukan. Pergi untuk merencanakan hal yang lain lagi.
.
.
.
"Aku bersumpah aku melihatnya malam itu, Baek." Ucap Kyungsoo yang kesal. Iya, kesal karena Baekhyun, manajernya, tidak percaya dengan apa yang dia lihat malam itu—sekitar dua minggu yang lalu. Malam dimana dia melihat lelaki yang selama ini ia tunggu kedatangannya. Sayangnya, setelah dia melakukan kontak mata itu, dia tidak pernah menemukannya lagi.
"Tapi setelah itu kau tidak menemukannya, Soo. Jangan menjadi orang yang terlalu delusi—"
"Aku tidak seperti itu! Aku benar-benar melihatnya."
"Kau merindukannya?" Kyungsoo mengangguk, "Aigoo… aku tahu bagaimana rasanya itu."
"Kau menyebalkan."
Baekhyun tertawa kecil sebelum mengusap rambut Kyungsoo itu, "Stop moping around, Silly. Lebih baik kau melakukan hal yang lebih baik daripada harus membayangkan seorang Kim Jongin begini."
"Tapi aku tidak punya jadwal hingga bulan depan." Gerutu Kyungsoo.
"Hmm…" Baekhyun mengeluarkan sebuah kertas kecil, "Aku punya tiket sebuah photo exhibition. Milik seorang fotografer bernama Kai. Kau ingin datang?"
"Apa itu Jongin?" tanya Kyungsoo antusias.
"Kai, Soo. Fotografernya bernama Kai. Aku dengar dia baru saja kembali ke Korea setelah dua tahun menetap di Kanada—"
Kyungsoo mendengus kesal, "Tapi Jongin pergi selama tujuh tahun—dan dia ada di Paris! Bukan di Kanada!" gerutunya.
"Soo, sudah kubilang ini bukan Jongin. Ini Kai."
Kyungsoo melirik ke arah Baekhyun dengan bibir yang mengerucut, "Aku akan datang. Tapi aku tidak mau sendirian."
"Aku dan Chanyeol juga akan datang—"
"Dan aku menjadi orang ketiga," dia menenggelamkan wajahnya ke bantal kesayangannya, "lagi." Kyungsoo memperhatikan tiket yang sekarang sudah di tangannya itu, "Where is the love? Here I am." Gumamnya sembari membaca tema dari photo exhibition tersebut.
Tanpa Kyungsoo sadari Baekhyun terkikik karena tingkahnya. Mungkin karena Kyungsoo terlalu sibuk memikirkan siapa lelaki yang mirip dengan Jongin itu sehingga tidak menyadari jika Baekhyun segera mengirimkan pesan pada seseorang. Mungkin, Kyungsoo terlalu sibuk dengan otaknya yang berisi dengan Jongin. Cinta pertamanya yang selalu dengan bodohnya dia nantikan untuk kembali.
Selama tujuh tahun lamanya Kyungsoo menunggu Jongin. Dia meyakini Jongin akan datang dan bersamanya lagi. Terkadang orang-orang di sekitarnya mengatakan dia seseorang yang tolol, karena menunggu orang yang tidak pernah mengirimkan kabar padanya. Tapi entah, entah mengapa Kyungsoo memiliki sebuah keyakinan jika Jongin akan pulang. Selama bertahun-tahun dia menyibukkan dirinya dengan cita-citanya—hingga sukses seperti sekarang, hanya untuk menghilangkan Jongin di otaknya. Tapi pada akhirnya, semua lagu yang dia ciptakan tetap sama. Tentang seseorang yang menunggu cinta pertamanya kembali.
.
.
.
Empat hari setelahnya, Kyungsoo dengan perasaan kesal duduk di bangku penumpang dimana Chanyeol mengendarainya. Dia sudah menduga akan seperti ini, menjadi orang ketiga di acara kencan Chanyeol dan Baekhyun. Dia tidak mengerti, manajernya itu selalu membawa dirinya jika bertemu dengan kekasihnya. Mungkin itu motivasi agar Kyungsoo beranjak dari masa lalunya. Tapi hey, Kyungsoo saja masih meyakini jika masa lalunya akan kembali.
Saat ini dia berdiri di depan sebuah gedung dimana banyak orang mengisi ruangan itu. Banyak di antara mereka mengalihkan perhatian yang semula menuju ke arah gedung berpindah ke dirinya. Tentu saja, seorang penyanyi ballad yang sedang naik daun itu mendatangi sebuah photo exhibition yang dia sendiri saja tidak mengetahui siapa fotografernya. Foto-foto milik Jongin saja dia tidak begitu tahu yang mana—karena mungkin dia tidak begitu mengerti tentang seni fotografi.
Matanya terbelalak ketika melihat foto pertama yang terpajang di baris paling awal. Foto dimana dia mengenakan seragam sekolah menengah atas, dan sedang duduk di bangku taman sekolahnya sendirian. Dia mengenali betul latar belakang foto itu. Bahkan dia masih ingat apa yang dia lakukan kala itu—dia sedang belajar untuk menyiapkan ujian akhirnya. Foto itu diambil dari kejauhan. Bahkan Kyungsoo yakin jika dia tidak mengetahui ada seseorang mengambil gambarnya.
Di baris kedua dia melihat dirinya yang terduduk di bawah pohon besar yang dia yakini ada di samping danau belakang sekolahnya. Dia terlihat sedang mengenakan earphone di telinganya dan ini menandakan bahwa dirinya sedang sibuk dengan dunianya sendiri. Kyungsoo memang begitu, memilih untuk tenggelam di antara musik kesukaannya tanpa memperdulikan apa yang ada di sekitarnya.
Dia melihat dirinya menatap tepat ke arah kamera. Dia masih ingat, kala itu dia harus melakukan rehearsal untuk pentas akhir tahun yang selalu diadakan sekolahnya. Dan karena itulah dia mengenal siapa siswa laki-laki yang selalu membawa kamera kemana pun dia pergi itu. Iya, karena kejadian itu, dia mengenal Jongin. Siswa laki-laki yang juga selalu sibuk dengan dunianya sendiri; seperti dirinya.
Mata Kyungsoo mulai menghangat. Apalagi ketika melihat bearis-baris foto setelahnya. Dia mendapati dirinya sedang tertawa dengan lepasnya dan menghadap ke arah kamera. Dia masih ingat kejadian itu, dimana dia memenangkan kompetisi menyanyi besar untuk yang pertama kalinya. Di sebelah foto itu, dia melihat dirinya lagi, ketika sedang menulis di kertas origami yang berceceran dimana-mana. Di saat itu, dengan bodohnya, dia merasa semua keinginannya akan terkabul, jika dia, melipat semua harapannya menjadi bintang-bintang kecil dan akan membukanya satu-persatu nanti.
Baris-baris berikutnya dia melihat dirinya lagi. Dia tertawa nanar ketika mendapati dirinya layaknya merengek sembari merentengkan kedua tangannya layaknya meminta si pemegang kamera untuk mengangkatnya agar bisa berdiri. Kyungsoo ingat peristiwa itu. Ketika dia belajar bermain sepak bola dan dia terjatuh hingga lututnya berdarah. Dan setelah itu dia bersumpah untuk tidak melakukan olahraga semacam itu lagi.
Dia terus berjalan sembari melihat-lihat semua foto yang menampilkan dirinya sendiri tersebut. Dia juga melihat bagaimana si fotografer mengambil gambar ketika Kyungsoo berdiri menghadap sebuah panggung besar. Dia masih ingat, itu kencan pertama mereka. Kencan pertama ketika melihat sebuah konser band luar negeri yang sangat disukai oleh Kyungsoo. Foto berikutnya Kyungsoo menoleh dan tersenyum ke arah sang fotografer layaknya menampilkan bahwa dia merasa bahagia di kencan pertama mereka.
Foto berikutnya ketika mereka melewatkan salju pertama mereka bersama. Kyungsoo, dengan baju hangatnya tertawa—hingga kedua mata bulatnya menghilang—sembari menikmati tumpukan salju yang bersarang di atas kepalanya—yang sebelumnya diletakkan oleh si pengambil gambar. Dan foto setelahnya adalah ketika kencan kedua mereka di sebuah kedai kopi, foto itu tidak menampilkan wajah Kyungsoo, tapi hanya menampilkan telapak tangannya. Iya, telapak tangan yang tergenggam oleh tangan si fotografer yang Kyungsoo sangat ingat bagaimana dia dengan susah payah mengambil gambarnya.
Kyungsoo ingin menangis ketika sudah sampai di salah satu sudut dimana dia melihat dirinya merentangkan tangan kanannya seakan mencegah sang fotografer untuk pergi. Tepat dimana si pengambil gambar bertolak untuk mengejar cita-citanya sebagai seorang fotografer professional—dan meninggalkan dirinya yang akhirnya meraih masa depannya. Dia masih ingat bagaimana si fotografer berusaha menenangkan dirinya yang saat itu menangis sejadi-jadinya. Tentu, disaat mereka baru berkencan dan menginjak bulan ketujuh, mereka harus terpisah untuk masa depan yang lebih baik. dan mulai di hari itu, Kyungsoo dengan bodohnya menunggu. Walaupun pada akhirnya dia hampir menyerah sebelum melihat sosok yang sangat familiar beberapa hari sebelumnya.
Foto-foto itu layaknya meninggalkan sebuah cerita yang terpotong di tengah konflik. Gambar setelahnya menampilkan tempat-tempat yang sangat familiar bagi Kyungsoo. Bukan, Kyungsoo tidak pernah mengunjunginya. Tapi dia pernah bercita-cita untuk pergi kesana. Beberapa tempat yang pernah menjadi lokasi mimpinya ketika dia masih benar-benar naif. Beberapa gambar menampakkan seseorang yang duduk sendirian atau sedang menunggu di halte bis. Foto-foto itu seakan bercerita bahwa sang fotografer merasa kesepian dan meminta agar Kyungsoo menunggu kepulangannya.
Kyungsoo terus berjalan dengan air mata yang sudah berada di tepi kelopaknya. Dia mengamati setiap tangkapan memori yang ada disana, yang seakan sedang mengatakan bahwa sang fotografer akan kembali walaupun dia tidak tahu kapan waktu itu tiba. Hingga, pada akhirnya, semua keraguan Kyungsoo selama dua minggu itu terjawab. Dia melihat dirinya sedang menyanyi tepat, tepat seperti konser miliknya. Dia meneliti setiap sudut ruangan besar tersebut dan hanya mendapati dirinya di malam itu. Setiap senyuman hingga tatapan kosong terpapar disana. Dan persis di tengah ruangan itu, Kyungsoo bisa melihat dirinya sedang menatap tepat ke arah kamera dengan ekspresi layaknya mencari sebuah jawaban. Dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya karena masih belum percaya dengan apa yang ada di benaknya saat ini.
KLIK!
Kyungsoo menoleh dan mendapati sebuah lensa kamera mengarah padanya. Dia belum beranjak hingga kamera itu turun dan menampilkan si pemiliknya.
"Kau menyukainya?"
Pertanyaan pertama yang didengar oleh Kyungsoo setelah tujuh tahun lamanya. Kyungsoo mengangguk, dan tersenyum. Walaupun matanya berair karena dia merasa bahwa dia merindukan fotografer itu. Kai, Kim Jongin, berdiri di hadapannya dengan sebuah kamera yang digenggam oleh kedua tangannya erat. Kyungsoo melihat banyak yang berubah dari lelaki itu. Terlihat bagaimana garis wajah itu menjadi tegas dibandingkan tujuh tahun yang lalu. Rambut Jongin yang dulu Kyungsoo ingat berwarna hitam sekarang berwarna kecoklatan. Badan Jongin yang dulu sangat kurus sekarang terlihat lebih tegap. Dan yang paling mencolok adalah Kyungsoo yang terlihat sangat kecil jika dibandingkan Jongin saat ini. Jongin berubah. Berubah ke arah yang lebih baik.
Jongin menggantungkan dan memutar kameranya hingga sekarang berada di punggungnya. Dia melangkahkan kakinya ke arah Kyungsoo yang masih terdiam di depan foto miliknya. Jongin tersenyum ketika mendapati Kyungsoo yang menampilkan sebuah sorot mata seakan tidak mempercayai apa yang ada di hadapannya itu. Memang, selama tujuh tahun Jongin hanya minta Kyungsoo menunggu. Tanpa ada komunikasi yang baik dan bahkan mungkin bisa dibilang dia menghilang dari kehidupan lelaki yang ada di hadapannya. Jongin memiliki maksud tersendiri. Dia bersikap seperti itu agar suatu saat nanti, dia, yang sudah berdiri dengan kakinya sendiri, akan membawa Kyungsoo dan melindunginya dengan daya yang ia punyai. Dia ingin memantaskan dirinya terlebih dulu. Hanya itu yang Jongin inginkan selama ini.
"Kau membenciku, pasti." Ucap Jongin yang sekarang menatap ujung telapak kakinya.
"Jongin—"
"Tapi aku punya alasan, Soo." Jongin mendongakkan kepalanya dan kemudian meraih tangan kiri Kyungsoo, "Aku tahu kau kecewa karena seakan-akan aku meninggalkanmu begitu saja, tapi—" dia menggenggam tangan Kyungsoo dengan sangat erat, "aku hanya ingin memantaskan diriku untuk bisa mendampingimu jika saatnya tiba. Aku hanya ingin tidak dianggap remeh oleh orang lain. Aku ingin kau merasa bangga dengan diriku. Maka dari itu aku berusaha dengan keras untuk meraih cita-citaku dan… aku ingin menyokong semua kehidupanmu walaupun sekarang aku pikir itu tidak perlu. Karena kau bisa berdiri dengan kakimu sendiri. Aku minta maaf padamu, Soo…"
Jongin mengambil dan menghembuskan nafasnya sebelum berkata lagi, "Aku melakukan ini hanya untuk menebus semua kesalahanku walaupun aku yakin tidak akan sebanding dengan apa yang telah ku perbuat selama ini. Tapi—" dia berlutut dan membuat semua orang disana terkejut—termasuk Kyungsoo, "aku berterima kasih karena kau yang membuatku bersemangat untuk mengejar masa depanku. Aku berterima kasih kepadamu karena kau benar-benar menungguku. Aku juga berterima kasih karena kau merindukanku. Aku juga berterima kasih karena kau menjadi inspirasiku untuk berkarya selama ini," Jongin meraih sebuah kotak dari saku celananya, "Do Kyungsoo, will you be my object of my photograps forever?"
Kyungsoo menggelengkan kepalanya, "Aku tidak mau."
Jongin mendengar semua orang disana terkejut dengan jawaban Kyungsoo. Sejenak dia merasa usahanya benar-benar sia-sia. Tapi dia merasa jawaban Kyungsoo wajar, karena dia, Kyungsoo, mungkin merasa ditinggalkan selama ini.
Kyungsoo tertawa disela isakannya, "Aku tidak mau jika kau mengambil gambarku disaat aku menangis begini," dia menggerakkan jemarinya, "pasangkan cincin itu untukku."
Lelaki yang berlutut itu membelalakkan kedua matanya sebelum akhirnya menyadari apa yang baru saja Kyungsoo katakan, "Tuhan! Aku ingin menangis sekarang…" ucapnya sembari memasangkan cincin dengan tangan yang gemetar. Dia berdiri, sebelum akhirnya membenamkan lelaki mungil itu ke dalam pelukannya, "Terima kasih, Soo… terima kasih…" dia mengecup pucuk kepala lelaki itu berkali-kali, "Maafkan aku, Soo. Aku tidak tahu harus berkata apa saat ini—"
"Jangan meninggalkan aku lagi." Gumam Kyungsoo yang tertelan di baju yang dikenakan oleh Jongin.
"No. I won't make you waiting for me again. Aku berjanji."
Mereka bertahan dengan pelukan yang erat. Pelukan yang menampilkan bagaimana sebuah kerinduan yang selama ini mungkin tertahan. Mungkin, Kyungsoo membenci Jongin. Karena sudah membuat dirinya menunggu selama tujuh tahun lamanya. Tujuh tahun bukan waktu yang sebentar. Karena selama tujuh tahun bisa saja dia pergi bersama orang lain dan meninggalkan Jongin yang sudah meninggalkannya. Tapi Kyungsoo mempercayai ucapan Jongin yang memintanya menunggu tepat disaat dia akan pergi. Tujuh tahun lalu, mungkin Kyungsoo terlalu menjadi seorang love-fool. Tapi setelah lebih dari tujuh tahun lamanya, dia tetap menjadi seorang love-fool untuk lelaki yang sekarang mengusap kepalanya tersebut. Lelaki itu mengucapkan kata maaf berulang kali. Kyungsoo tahu rasa penyesalan sudah merebak ke dalam diri lelaki itu. Tapi saat ini, Kyungsoo tahu apa arti kata menunggu.
Mungkin menunggu memang membosankan. Menunggu terkadang juga tidak memberikan hasil yang baik. Menunggu mungkin bisa saja mengecewakan, tapi kali ini Kyungsoo membuktikan bahwa tidak selamanya menunggu berakhir dengan sebuah kekecewaan. Karena apa yang dia tunggu kembali menjadi miliknya.
Kyungsoo, yang masih berusaha mengatur nafasnya itu melepas pelukannya sebelum berkata, "So, Jongin, where is my love?"
"Your love? Here I am."
.
.
.
END.
Gue ga bisa nulis se fluffy fluffy nya astaga ini apa~
Banyak banget draft yang belom e upload gegara sibuk dan semacamnya.
Wkwk lagian gada yang nungguin juga. Okay. TT
Bye.
p.s. I swear I live for Kim Myungsoo.
And I hate KaiSoo. They've made me dying for missing their moments.
Their wild child, DerpMyungsoo.
