A VOICE TO YOU

Chapter 14 FINAL : Thanks for Hate and Your Love

Walaupun telat, Nao mengucapkan Selamat hari raya idul fitri, bagi yang merayakan.

Sebelumnya maaf karena updatenya terlalu lama, dikarenakan banyaknya kesibukan duniawi terutama suasana lebaran. Terimakasih juga untuk para readers yang setia menunggu fic gaje Nao ini, selamat membaca chapter terakhir yang Nao jamin, sangat panjang.

WARNING : "Chapter ini panjang, karena 2 chapter jadi satu, So don't like don't read"

Balasan Review

Stayawake123 : Terimakasih, selamat membaca last chapter ya . . .

Fic of Delusion : Entahlah, aku sih Cuma menulis apa yang ada di imajinasiku saja, tapi ternyata malah alurnya molor. Jadi kalau menurut cjapter 13 harusnya masih 2 chapter lagi, tapi setelah difikir mending aku pendekin saja, dan yah . . . di chapter ini akan aku percepat saja alurnya. Dan Terimakasih banyak atas dukungannya,

Ochana : Iya kan? Aku memang sengaja kok, soalnya pembalasan chapter awal. Makasih sudah mau menunggu, selamat membaca dan terimakasih juga atas penyemangatnya, ujianku lancar kok . . .

KuroNalu : Kita sama, aku juga berfikir begitu. Ini fiction, didalamnya ada fiction lagi. Ini dia last chapter, kutunggu revienya ya . . .

Mihawk607 : iya makasih atas penyemangatnya, aku terus semangat kok

Kuuderegirl3 : benarkah? Aku tersanjung mendengarnya, makasih banyak kalau kamu berfikir begitu. Kenapa ciuman di gelap-gelapan? Yah . . . karena biar seru aja, hehehe

Cemilan : banyak yang bilang begitu kok, bikin deg-degan gimana gitu . . . makasih banyak kalau kamu suka, makasih juga sudah mau ceking tiap hari, yup! Aku semangat!

ACKeeiluen : Begini, sejak awal pembuatan fic ini aku merencanakan aksi bunuh dirinya Lucy, tapi semakin kesini kok kayaknya nggak ada scene yang pas. Tapi syukurlah kesampean di chapter 13. Sedia tissue kalau begitu, atau mau bersender di pundak author? Hehehe *Lupakan. Aku juga sama, ini cerita nyelekit, bikin ngilu, nyesek, dan kadang bikin melting sendiri. Genre-nya aja Drama/Hurt-Comfort, jadi harus mendramatisir dan penuh akan adegan melo-nya dong. Terimaksih atas dukungannya, selamat menikmati scene-scene di last chapter ya . . .

Putri aqua : Karena author sangat sibuk putri-san, iya kok aku janji. Ini dia . . . Okey deh, ujiannya sukses kok tinggal tunggu hasil, sebenernya banyak kesalahan setelah kubaca-baca lagi, maaf. Tidak lama kok dia pergi Cuma beberapa tahun aja, sampai mereka dewasa.

Nafikaze : kenapa? aku nggak pernah berfikir seperti itu, tapi maaf jika author mengatakan kata-kata yang kurang berkenan, sungguh author minta maaf sebesar-besarnya.

Aoi Shiki : Iya last chapter, setelah ini rencananya Nao mau buat fic NaLu bertemakan Vampire. Yang sepertinya ceritanya belum ada di fic ini, nantikan saja ya . . .

Nakumi : Iya, mereka akan pisah bertahun-tahun sampai mereka dewasa. tidak apa asalkan kamu tetap menikmatinya,

Puja : Itu si Natsu sudah ngaku kan? Tinggal Lucy-nya yang bagaimana. Silahkan menemukan jawabannya di chapter ini, douzou . . .

Fridom friday : silahkan anda temukan jawabannya di last chapter ini, hehe

Guest : iya, sankyu

Chibi-chan : makasih, iya next kok. Ini dia, selamat membaca,

Apri883 : OK OK, author juga sebenarnya nggak sabar mau namatin ini fic,

Hannah : Iya iya, maaf kalau lama updatenya, yang penting author gak ingkar janji. Selamat membaca last chapter, kutunggu reviewnya.

Hrsstja : iya, semua pertanyaan anda akan author jawab di chater ini, jadi selamat menyimak . . . semoga terhibur

.

.

.

Fairy Tail milik Hiro Mashima-sensei

.

.

.

"Aku mencintaimu" bisik Natsu kemudian. Lucy menegang, apa yang baru saja ia dengar? Apakah Natsu baru saja mengungkapkan perasaannya? Kenapa ada rasa aneh menjalari setiap nadinya? Dan menggelitik perutnya? Kenapa detak jantungnya meningkat saat ini juga? ia sudah bersumpah akan menjauh dari Natsu setelah ini, tapi kenapa kata-kata Natsu baru saja seolah menahannya? Atau ia yang tidak rela meninggalkan Natsu. Ia masih dalam keterkejutannya hingga sebuah sentuhan halus kembali menyentuh bibirnya. Ia tahu betul siapa yang melakukannya. Lucy terdiam, ia tidak sanggup bergerak seolah ia memang menerimanya. Natsu menciumnya dengan lembut. Para penonton menyalakan ponsel, sebagian dari mereka terkejut melihat adegan apa yang mereka saksikan. Natsu melepaskan ciumannya dan seketika lampu menyala. Lucy menutup matanya perlahan, berusaha kembali dalam drama. Akhirnya ia terkulai lemas dalam dekapan Zen.

"Elsa, Aku mencintaimu. Jangan seperti ini, buka matamu. Tidak apa jika kau menatapku dengan penuh kebencian, tapi kumohon bukalah matamu. Aku mohon . . . hiks Elsa" kata Natsu terbata-bata. Dipeluknya Elsa dengan erat.

"Aku mencintaimu" kata Zen aka Natsu

...

Tepuk tangan menghiasi seantero aula, semua penonton berdiri dan menyeka air mata mereka yang mengalir akibat terlalu mengkhayati adegan drama. Tirai tertutup, di balik tirai Lucy membuka matanya, ia menjauhkan dirinya dari dekapan Natsu dan berusaha untuk tidak menatap Onyx hitam yang memabukkan itu. Jantungnya masih berdetak dengan kencang akibat ciuman lembut Natsu tadi. Dengan tergesa-gesa Levy segera masuk guna mengetahui apa yang tengah terjadi disaat lampu mati, namun langkahnya terhenti tak kala melihat Lucy yang pergi meninggalkan Natsu begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun. Sedangkan yang ditinggalkan hanya mampu memegangi dada kirinya yang tiba-tiba terasa sakit. Apakah ini penolakan? Natsu sungguh merasa sakit sekarang ini, ia berfikir jika ia mengatakannya maka masalah akan selesai, setidaknya ia merasa lega. Tapi yang ia dapat? Kekecewaan? Terluka? Penyesalan? Ditatapnya punggung Lucy hingga gadis itu menghilang melewati Levy. Tahu situasi, Levy-pun mengkodekan Natsu untuk masuk.

Tirai kembali terbuka. Lampu aula dinyalakan penuh, di panggung, seluruh pemeran Drama sudah berdiri, mereka bergandengan tangan. Levy selaku sutradara maju kedepan untuk menyampaikan sepatah dua patah kata.

"Terimakasih telah menyempatkan diri untuk menonton Drama kami. Kami segenap kelas 1-5 mengucapkan terimakasih dan maaf sebesar-besarnya jika dalam penampilan kami, kami melakukan kesalahan" kata Levy

"Terimakasih banyak" kata Levy lagi dengan badan membungkuk diikuti yang lain

Tepuk tangan kembali menghiasi gedung aula. Jude tersenyum melihat putri semata wayangnya, yang ia tahu kini tengah dilanda rasa dilema antara mengikuti dirinya dan bersiap meninggalkan teman-temannya atau tinggal dengan teman-teman yang menyayanginya dan membiarkan ayahnya. Selama ini, Lucy belum pernah memiliki banyak teman seperti sekarang, karena satu-satunya teman Lucy adalah si anak kecil berambut spike pink. Mengingat apa yang terjadi diantara mereka, hati Jude bagai dililit benang tak kasat mata. Sakit, sungguh sakit. Raut wajahnya berubah serius, Taurus yang berada disampingnya tentu melihat hal tersebut, ia menyentuh pundak Jude.

"Anda baik-baik saja?" tanya Taurus

"Aku baik, sangat baik" jawab Jude berbohong

"Tuan, kita harus segera pergi, Virgo sudah menunggu" kata Taurus kemudian

Jude-pun beranjak dari kursinya. Lucy melihatnya, tatapannya berubah sendu, entah kenapa ia jadi sedikit ragu untuk mengikuti ayahnya. Tanpa ia sadari, sepasang mata Onyx hitam mengawasinya, diikutinya arah pandangan gadis blonde yang kini dicintainya, satu hal yang dapat Natsu simpulkan adalah ada sesuatu diantara Lucy dan ayahnya yang ia tidak ketahui.

Para penonton mulai bubar, aula mulai kosong. Kini tinggallah anak kelas 1-5 dan anggota OSIS yang mengucapkan selamat atas kesuksesan mereka. Diantara mereka tentunya ada Erza Scarlet, Jellal Fernandes dan anggota lain yang juga menjadi fans berat Lucy, siapalagi kalau bukan Hibiki Latis dan kawan-kawan. Mereka bertiga mengerumuni Lucy. meminta foto layaknya Lucy adalah primadona. Sting yang menjadi tokoh ketiga harus menelan pahit karena mengingat adegan terakhir dalam drama. Diingatnya kembali adegan terakhir disaat lampu mati.

Flashback

Lampu mati. Semua tentu panik. Laxus-sensei menghubungi security. Para penonton heboh. Begitupula dengan para pemeran Drama, Sting mengangkat kepalanya tapi tak melihat apa-apa.

Natsu memeluk tubuh Lucy. Lucy bingung, bukankah harusnya mereka menghentikan Drama ini. hingga tiba-tiba sebuah dialog diucapkan Natsu, Dialog yang lagi-lagi melenceng dari naskah.

"Luce . . ." panggil Natsu lembut

Bukankah Natsu harusnya memanggil nama Elsa? Ada apa ini? Lucy sungguh tidak habis fikir.

"Aku mencintaimu" bisik Natsu kemudian.

Dibalik panggung Sting yang kebetulan sedang membawa ponselnya, mengarahkan layar ponsel ke arah panggung. Betapa terkejutnya ia melihat adegan atau lebih tepatnya kejadian dihadapannya. Untuk kesekian kalinya ia merasa hancur, hatinya saja belum sepenuhnya pulih namun kini harus diremas lagi. Sakit, ia memegangi dada kirinya yang serasa terlilit. Matanya berkaca-kaca menahan sakit yang terus menghujaninya. Sebegitu kejamkah tuhan padanya hingga harus merasakan cinta sepahit ini?

Flashback End

Sting tersenyum getir. Ditatapnya Lucy dari jauh, pandangan penuh cinta dan luka. Tanpa ia sangka Lucy-pun menoleh, mempertemukan mata caramelnya dengan saphire milik Sting kemudian tersenyum. Sungguh, hati Sting merasa hangat karenanya. Maka dari itu ia tidak pernah menyesal jatuh cinta pada Lucy, gadis yang mampu membuatnya keluar dari batas dirinya dan meruntuhkan segala pertahanan diri seorang Sting Eucliffe.

Sementara Natsu, ia duduk sambil diam-diam menatap Lucy dengan pandangan penuh kekecewaan, sedih, terluka, dan penasaran. Kecewa karena tidak mendapat balasan, sedih karena cintanya bertepuk sebelah tangan, terluka karena dirinya mungkin tidak dianggap dan . . . penasaran apa yang sebenarnya dirahasiakan Lucy sekarang. Diketuk-ketukkannya kaki pada lantai dan dipangkunya dagu dengan kedua telapak tangan yang disatukan. Pelan, perlahan namun detik-detik berikutnya ia mulai mempercepatnya, entah kenapa ia mulai gelisah. Kenapa perasaannya tidak enak? Iya ia memang sedang terluka, tapi ini berbeda. Perasaan tidak enak itu seperti perasaan saat ia diusir Lucy kecil waktu itu, perasaan saat Lucy meninggalkannya didalam kedinginan. Alis Natsu mulai bertaut, raut wajahnya berubah serius. Otaknya mulai memproses dan berfikir apa yang terjadi, namun belum sempat ia selesai dengan hipotesanya, sebuah sentuhan di pundak membangunkannya.

"Hei, Natsu. Kami ingin mengambil fotomu bersama Lucy. Bisakah kau kesana?" pinta Ren

"Hn?" Natsu menoleh, belum bisa mencerna perkataan Ren

"Aku bilang maukah kau berdiri disamping Lucy, kami ingin mengambil foto kalian untuk majalah edisi bulan depan" kata Ren lagi

"Oh" jawab Natsu kemudian ia berdiri dan menghampiri Lucy

Ketika Natsu sudah sampai di samping Lucy, gadis itu memalingkan wajahnya. Sakit, lagi-lagi ia merasa sakit. Jadi memang benar ia tidak dianggap, padahal tadi ia yakin Lucy menerima ciumannya tanpa memberontak. Padahal tanpa Natsu ketahui, sebenarnya Lucy menyembunyikan wajahnya yang entah kenapa mulai memanas, dan degup jantungnya yang mulai berpicu melebihi batas normal. Melihat Natsu saja sudah memberikan seribu efek, apalagi harus berdekatan seperti sekarang, entah jutaan efek menghujani hati dan benaknya. Dan, jika tetap seperti ini ia akan sulit untuk pergi. Ia harus pergi, harus. Sudah cukup ia merasakan sakit karena Natsu, jika ia tetap bertahan maka perasaannya akan berubah. Degup jantung yang menyenangkan ini mungkin akan berubah kembali menjadi degup kebencian. Ia tidak ingin hal itu, ia harus kuat. Ia harus pada pendiriannya yaitu ... pergi.

"Hei, Lucy. Bersikap sedikit baiklah pada Natsu, karena dia Drama ini juga sukses" kata Erza yang sudah bersiap dengan kameranya

Lucy dan Natsu mulai berpose dengan kikuk, padahal baru beberapa saat lalu mereka bermesaraan dalam tanda kutip acting. Natsu harus berdehem untuk beberapa kali guna menangkan kegundahannya.

"Bukan seperti itu. Natsu, Lucy kumohon kalian saling berhadapan dan bergandengan tangan" pinta Erza dan kedua orang yang dimaksud mulai memposisikan, mengingat mereka tak mau jika harus berurusan dengan pukulan maut Erza Scarlet

"Kurang pas, ah! Natsu kau harus menyandarkan dahimu pada Lucy" pinta Erza dengan wajah innocent

Jellal yang berada dibelakang sang kekasih hanya tersenyum simpul, jika sudah seperti ini Erza tidak akan bisa dihentikan. Jika ditanya apa motifnya? Entahlah tanya saja pada yang bersangkutan, Erza Scarlet.

Wajah Natsu memerah, haruskah ia melakukannya? Pose itu tidakkah terlalu romantis? Bagaimana kalau Lucy melihat wajahnya yang semerah kepiting rebus? Dan jika berada di posisi itu juga, mau tak mau ia melihat wajah Lucy dengan jarak hanya beberapa centi saja, akankah ia bisa? Wajah itu, mata itu, hidung itu, pipi itu, dan bibir itu adalah godaan tersendiri untuknya. Bagaimana kalau nanti ia terbawa suasana dan kembali mencium Lucy? Natsu masih belum beranjak hinga tangan Lucy menarik tubuhnya untuk mendekat. Betapa terkejutnya ia ketika sadar dahinya sudah menempel pada dahi Lucy. Teman-teman sekelas mereka bersorak, Loki menggigit jari, Gray menyeringai penuh arti, Rogue melirik Sting dan Sting mematung ditempat.

Natsu terbelalak, matanya terbuka lebar. Lucy yang semula memejamkan matanya, perlahan membuka matanya. Menampilkan indahnya bola mata caramel itu, untuk sesaat Natsu tak bisa berkutik, ia mulai gugup. Bagaimana ini? Lucy menatapnya? Sedangkan Lucy, dalam hati ia merasa sangat malu, bagaimana tidak? Natsu nenatapnya, bola mata memabukkan itu membiusnya. Matanya bahkan tak sanggup untuk sekedar berkedip. Rona merah tipis mulai menjalari pipi pualamnya. Lampu camera berkilat.

"Lagi" kata Erza

Nafas Lucy mulai memburu, dan nafas itu berhembus menggelitik hidung Natsu dan membuat wajahnya tambah memerah. Perlahan ia memejamkan matanya, berusaha mengontrol diri dan menahan gejolak yang terus membeludak. Meresapi betapa hangatnya dahi Lucy, dan merasakan betapa lembutnya kulit dan nafas gadis itu. Lampu camera kembali berkilat, dan Erza tersenyum puas.

"Good Job" kata Erza

Natsu membuka matanya dan mulai melepaskan tautan tangannya pada tangan gadis blonde dihadapannya. Entah kenapa ada rasa tidak rela jika harus melepaskan genggaman hangat itu. Dulu ia sangat membenci gadis ini, keberadaannya saja membuatnya muak apalagi sentuhannya. Miris menyadari semua ini adalah karma untuknya. Memang benar jika cinta dan benci itu beda tipis, seperti drama yang mereka mainkan. Keduanya bagaikan satu bagian dua sisi.

"Oh ya, sekadar pengumuman untuk menghargai kerja keras kalian malam ini kita akan mengadakan pesta. Jam 7 nanti semuanya harap berkumpul kembali disini. Semua siswa diharap hadir" kata Jellal tiba-tiba

"ASYIKKK" semuanya bersorak minus ketiga tokoh utama kita

Lucy tertunduk, pesta? Bahkan sebentar lagi pesawatnya akan berangkat.

"Tapi kenapa tiba-tiba?" tanya Levy kurang setuju

"Ini kan kejutan" jawab Jellal pasti

"Setidaknya beritahu jauh-jauh hari biar Levy kecil kami menyiapkan gaun" kata Loki

"Kau mencibirku?" kata Levy memicingkan matanya pada teman Oranye-nya

"Ampun Levy" kata Loki mengangkat kedua tangannya layaknya ditodong polisi, semuanya tertawa melihat mereka

Canda tawa menghiasi mereka, ramai sungguh ramai. Tapi diam-diam Lucy pergi, ia masuk ke ruang ganti dan berganti pakaian. Ditatapnya gaun yang beberapa saat lalu menjadi saksi pernyataan cinta Natsu padanya. Setelah kiranya rapi, iapun pergi dengan memastikan tidak ada satupun yang melihatnya. Diluar gerbang sekolah Sang ayah, Taurus dan Virgo sudah menunggu. Mereka tersenyum kearahnya, tanpa banyak bicara ia masuk mobil diikuti mereka bertiga. Mobil BMW hitam itu mulai menjauh, meninggalkan Fairy Academy yang sudah sepi. Mata Lucy terus menatap keluar jendela, pandangannya menerawang. Merasakan gelagat aneh putrinya, Jude-pun angkat bicara.

"Kau baik-baik saja Lucy?" tanya Jude

"Iya ayah" jawab Lucy

"Kalau kau tidak ingin pergi katakan saja tidak" kata sang ayah

Lucy menoleh, menatap ayahnya dengan pandangan penuh luka, air mata sudah memenuhi pelupuk matanya.

"Ayah, sudah kubilang kan bawa aku pergi. Dan jika aku menolak, aku ingin ayah menyeretku untuk tetap pergi" kata Lucy dengan mata berkaca-kaca

"Iya ayah akan membawamu. Jadi jangan pernah mengatakan kata-kata itu lagi, sayang" kata Jude merengkuh bahu Lucy dari samping dan menyenderkan kepala putrinya pada pundaknya.

Lucy menangis, air matanya mengalir dengan deras. Jude mengelus kepala Lucy berusaha menenangkan dan mengatakan kalau semua akan baik-baik saja, namun bukannya reda tangis Lucy malah semakin keras. Pasalnya perlakuan sang ayah mengingatkannya pada seseorang yang beberapa saat lalu mengungkapkan perasaannya. Ya, Natsu Dragneel. Pemuda yang mendekapnya disaat ia ingin melarikan diri, pemuda yang mencegahnya bunuh diri dan pemuda yang sudah merebut hatinya. Hatinya.

"Aku akui Natsu, aku jatuh cinta padamu" kata Lucy dalam hati

"Tapi aku tidak ingin jatuh cinta padamu. Karena aku tidak ingin kecewa dan terluka untuk yang kesekian kalinya. Tidak! lebih tepatnya aku takut untuk jatuh cinta padamu. Karena semuanya terlalu rumit untukku. Dan jika mengingat kejahatan yang telah kau lakukan padaku, maka cinta ini tak lain hanyalah sebuah efek samping dari rasa benciku" kata Lucy dalam hati

"Tapi ini juga terlalu egois jika dikatakan sebagai efek samping dari kebencian, karena sejak awal bertemu denganmu entah kenapa aku sudah merasakan getarannya. Walaupun seiring berjalannya waktu itu berubah" kata Lucy lagi dalam hati

Nyonya Grandine, Wendy pulang kerumah. Mereka heran kenapa rumah sangat sepi, dipanggilnya Capricorn, sang kepala pelayan datang dengan kepala menunduk. Belum sempat Nyonya Grandine membuka pembicaraan, Capricorn sudah memotongnya dengan menyerahkan selembar surat pada sang nyonya. Nyonya Grandine menerimanya dan segera membukanya. Matanya membulat sempurna.

Dear Grandine and Igneel

Terimakasih, terimakasih sudah mau merawat putriku

Terimakasih sudah memberikan kasih sayang pada putriku yang tidak bisa aku berikan padanya karena keegoisanku waktu itu

Terimakasih juga sudah menyembuhkan putriku

Maaf jika aku berpamitan lewat surat, ini juga karena aku terpaksa mengingat permintaan Lucy

Grandine, Igneel . . .

Aku akan pergi bersama dengan Lucy, aku akan memulai hidup baru bersamanya

Maaf aku teralu egois dengan membawanya secara mendadak,

Sebenarnya ini tidak mendadak, aku yang sudah berbohong pada kalian waktu itu, maafkan aku

Maaf juga jika aku sudah banyak merepotkan kalian,

Jaga diri kalian baik-baik

Best Regards

Jude Heartfilia

TES

Nyonya Grandine menitikkan air mata. Ia tidak menyangka kalau ia sudah dibohongi oleh kedua marga Heartfilia itu. Bagaimanapun Lucy juga putrinya, bagaimana mungkin Jude se-egoist itu? dan kenapa mereka harus pergi tanpa pamit? Sebenarnya apa yang terjadi pada mereka? Tidak, koreksi, pasti ada yang telah terjadi pada Lucy hingga meminta ayahnya membawanya secara diam-diam. Kamar Lucy, pasti gadis itu meninggalkan sesuatu untuk menjawab segala pertanyaannya. Dengan tergesa-gesa Grandine naik ke lantai dua dan menuju kamar Lucy.

Kamar Lucy, hanya cahaya remang-remang dari lampu tidur yang menyala. Tanpa menghidupkan lampu utama, Grandine segera mencari-aari barang bukti di meja belajar Lucy. Tangannya menyentuh sebuah buku diary berwarna pink yang mungkin sengaja ditinggalkan, dibukanya segera diary itu, Grandine memicingkan matanya kemudian terbelalak. Tangannya bergetar mendapati fakta yang tertulis disana. Jadi Lucy pergi karena Natsu? jadi selama ini tanpa ia ketahui Lucy dengan apik menyembunyikan fakta kalau Natsu menyiksanya? Tidakkah semua itu keterlaluan? Menyayat tangan? Mengguyur air dingin? Memfitnah? Menghempaskan digudang? Kaki Grandine lemas, ia merosot dan terduduk dilantai, Wendy masuk dan mengguncang-guncangkan tubuh sang ibu.

"Tuhan, hukum aku atas kejahatan putraku" kata Grandine dalam hati

"Ibu-ibu, sadarlah" kata Wendy

Di bandara international Fiore, Lucy sudah duduk dikursi VIP bersama sang ayah dan kedua pelayan setia keluarganya yang duduk tak jauh dari mereka. Matanya memandang luar masih dengan menerawang. Matanya sembab. Dan tepat pukul 05.00 PM pesawat yang ditumpanginya mulai lepas landas.

"Selamat tinggal, Natsu" kata Lucy dalam hati

Sementara itu, Natsu pulang kerumah guna bersiap untuk pesta perayaan malam ini, namun ketika ia membuka rumah sang ibu sudah menyambutnya dengan raut wajah yang murung.

"Ibu, ada apa? Kenapa suasananya seperti ini? mana Lucy?" tanya Natsu

"Natsu" kata sang ibu menatap Natsu dengan pandangan kesal, marah, dan terluka, perlahan mata Grandine mulai berkaca-kaca, tentu hal itu membuat sang putra mengernyitkan dahi tanda tak paham.

"Ibu, kenapa? apa ada sesuatu yang buruk?" tanya Natsu lagi

"Dia meninggalkan buku hariannya untukmu" jawab sang ibu dengan nada bergetar, Wendy yang setia menemani sang ibu hanya mampu tertunduk menyembunyikan air matanya yang siap tumpah kapan saja, ia juga tidak menyangka kalau kakaknya tega melakukan hal itu pada seorang gadis hingga membuatnya pergi.

"Apa maksud ibu?" tanya Natsu lagi, masih tak paham. Tak ada jawaban lagi selain uluran surat dari sang ibu. Tangannya menerima surat itu dengan gemetar dan was-was, entah kenapa perasaannya tidak enak sekarang. Dibukanya surat itu, dan sedetik kemudian matanya membulat sempurna dan detik berikutnya ia sudah berlari menuju kamar Lucy.

BRAK

Pintu kamar Lucy kembali terbuka. Natsu mencari sesuatu seperti yang ibunya maksudkan, disentuhnya buku harian Lucy dengan tangan gemetar.

"Apa dia pergi? Apa dia benar-benar pergi?" tanya Natsu dalam hati

Dibukanya buku harian itu dengan pelan, seolah buku harian itu sangat rapuh. Lembaran pertama mulai ia baca.

Hari ini aku tinggal bersama keluarga Dragneel, Disini aku merasakan kembali apa itu hangatnya keluarga. Namun satu hal yang membuatku kecewa adalah, putra keluarga ini menganggapku sebagai 'parasit'

NYUTT

Seutas benang berhasil melilit hati Natsu, sakit. Ia tentu ingat saat itu, saat ia bertemu kembali dengan Lucy. Saat ia mendeklarasikan kebenciannya dan menutup matanya.

Aku bersyukur diizinkan sekolah lagi. Namun naas bagiku karena teman sekelasku membenciku karena aku tidak bicara. Memang apa salahnya aku tidak bicara? mereka bahkan tidak tahu alasanku tidak bicara.

Hari kedua disekolah, Natsu menghantamku dengan bola basket. Walaupun itu tidak sengaja harusnya ia meminta maaf. Apa aku terlalu egois jika menginginkan kata maaf darinya? Meski bibirku mengatakan baik-baik saja, tapi sejujurnya hatiku tidak baik-baik saja, aku sedih, dan merasa kecewa. Loh? Kenapa aku kecewa?

Natsu menyiksaku lagi, tapi aku tidak membencinya. Mungkin dia hanya perlu waktu untuk menerimaku di keluarga ini

Praktek memasak membuatku melihat sisi lain dari dirinya, ia ternyata bisa bercanda dan tersenyum. Meskipun bukan karenaku dan bukan untukku, entah kenapa aku merasa hangat dan seakan sangat rindu melihatnya. Andai saja ia selalu menunjukkan senyumnya, andai saja ia tersenyum padaku. Ah, apa yang aku fikirkan?

Tidak masalah jika tanganku tersayat dan tubuhku diguyur air dingin ditengah malam. Tapi tidak bisakah ia tidak memfitnahku? Gara-gara dia aku dibenci semua orang, gara-gara dia aku harus berkutat dengan tumpukan sampah dibawah teriknya matahari selama berjam-jam. Apa aku membencinya? Jawabannya tidak, aku hanya kecewa, ya lagi-lagi aku kecewa.

Aku kehilangan gantungan berhargaku. Disaat aku terpuruk, aku melihat langit berubah menjadi mendung seolah ikut berduka atasku. Dan disana, di depan lobi, aku berdiri memandang hujan. Tanpa kusadari Natsu berdiri disampingku, ia terlihat sangat berantakan, dan seperti biasanya hanya kata-kata kasar yang terlontar dari mulutnya, sakit? Iya memang sakit. Tapi melihat wajahnya lebam dan pakaiannya sangat kusut, kukeluarkan sebuah payung dan plester untuknya. Sungguh, aku tidak tega melihatnya seperti itu . . . meski harusnya jika orang lain memandang kami, akulah yang terlihat sangat menyedihkan karena bajuku sangat kotor dan bau

Aku tidak pernah membencinya sekalipun. Tapi ia selalu menguji kesabaranku, harus bersabar bagaimana lagi aku? Apa aku juga harus bersabar jika aku dihempaskan digudang? Ditinggalkan sendirian dan ketika terbangun sudah dirumah sakit? Haruskah aku sabar? Atau haruskah aku membencinya, aku tak tahu. Aku hanya kesal dan marah padanya . . .

Aku membencinya, aku membenci Natsu. untuk pertama kalinya aku bicara setelah sekian lama, tapi kalimat pertamaku adalah 'aku membencimu'. Aku tidak akan seperti ini jika kau tidak menghinaku sampai kedalam hati dan mengkorek-koreknya, kau yang membuatku menjadi seperti ini

Aku membencimu, berharap kau pergi dari hadapanku tapi yang kudapat kau malah berbalik kearahku, merengkuhku seolah aku ini sangat rapuh atau seolah kau merasa iba dan kasihan? Atau merasa bersalah?

Aku membencimu, tapi seberapa keras aku meyakinkan diri dan mengingat semua kejahatanmu padaku, rasanya sangat sesak. Cahayamu perlahan melunturkan kegelapan hatiku, dan apa boleh kuakui kalau aku mulai goyah?

Kau kejam, kau jahat, aku membencimu. Tapi kenapa sentuhanmu itu sangat lembut dan hangat? Apa benar itu tangan yang sudah menyiksaku?

Natsu menciumku. Ciuman pertamaku, dia mengambilnya dengan cara yang sangat brengsek! Aku membencimu

Aku bertaruh dengan Natsu, awalnya aku ingin sekali menang dan membuatnya menjauh dariku. Tapi kenapa aku ragu? Kenapa rasanya aku tidak rela kalau ia menjauh? Apakah ini benar? Haruskah aku mengalah?

Aku terkejut, apa penglihatanku tidak salah? Aku menemukan photo masa kecilnya bersama diriku semasa kecil. Photo dimana keduanya saling tersenyum bahagia, apa ini dia dan aku? Kenapa ia bisa memilikinya? Siapa dia sebenarnya? Kenapa aku merasa sangat takut sekarang ini?

Aku bermain Drama bersama Natsu. sungguh, sebenarnya aku tidak ingin tapi apalah dayaku. Mama, lidahku kelu jika harus mengatakan kata 'aku mencintaimu' meski itu hanyalah acting

Aku bingung dengan perasaanku, aku membencinya tapi ia malah mendekapku dan menhalangiku bunuh diri. Dia bahkan tak segan-segan menciumku lagi hanya untuk menenangkanku yang mulai menggila

Aku takut, aku takut jika aku jatuh cinta pada Natsu

Natsu sangat egois! Tapi aku juga egois karena meninggalkannya tanpa mengucapkan apapun. Tapi kurasa ini lebih baik karena jika aku mengatakannya aku tak akan sanggup menatap Onyx hitam nan memabukkan itu . . . apa mungkin aku sudah jatuh cinta padanya?

Bertanya pada diriku untuk yang kesekian kalinya, apa aku sudah jatuh cinta padamu? Jawabannya adalah aku tidak tahu, kadang aku merasa iya dan kadang aku merasa tidak

Aku berharap bisa melupakanmu, Natsu

Good Bye Natsu, Thanks for hate and love me

TES

TES

TES

Kaki Natsu seraya tak bertulang, ia merosot dan terduduk dibawah, tangannya terkulai dengan masih menggenggam buku harian Lucy. Pandangan matanya menjadi kosong dan air mata membanjiri pelupuk mata hingga pipinya. Air mata yang mengalir seolah hujan yang menghujani bumi setelah kemarau panjang. Sangat pedih, seperti luka yang ditorehkan air garam kemudian dikorek lagi dan lagi. Selama ini ia sudah berusaha menutupi luka itu, luka akibat perbuatan kejinya sendiri, namun sekarang luka itu kembali terbuka bahkan menganga lebar. Apakah ini akhirnya? Apa ia dan Lucy harus berakhir seperti ini? setelah ia jatuh cinta pada Lucy, setelah ia mengungkapkan perasaannya, Lucy malah meninggalkannya dengan seribu luka?

Tiga hari berlalu . . .

Kediaman Dragneel. Nyonya Grandine dan Igneel berdiri di depan pintu kamar Lucy. Igneel membuka pintu perlahan, dengan langkah yang sangat hati-hati ia dan istrinya masuk. Didekatinya putra sulungnya yang meringkuk dilantai sambil memeluk buku harian Lucy. sudah tiga hari ia seperti itu.

"Natsu, ayo turun, kita sarapan. Kau sudah tiga hari tidak makan dan minum" kata sang ayah

HENING

"Natsu, jangan seperti ini sayang, ayo kita turun. Perhatikan kondisimu. Natsu sayang, ayolah ibu mohon" bujuk sang ibu

Masih hening, Natsu menulikan pendengarannya. Ia malah semakin meringkuk dan memeluk erat buku harian Lucy. Matanya terpejam dan air mata masih setia menetes dari kelopak matanya.

"Jika kau tetap seperti ini, setidaknya berbaringlah dikasur" kata Igneel pasrah

"Apa aku bisa tidur dengan tenang setelah berhasil menyakiti dan mengusir seseorang yang sangat kucintai?" tanya Natsu kemudian dengan suara sangat lirih dan serak, namun masih bisa didengar oleh kedua orang tuanya

"Kesalahan ini anggaplah sebagai pelajaran untukmu, dengan begini kau bisa lebih menghargai lagi apa itu yang namanya perasaan" jawab Igneel bijak

"PER-GI" kata Natsu kemudian mengusir orang tuanya

"Natsu" panggil Grandine sendu

Natsu bangkit.

"AKU BILANG PERGI!" teriak Natsu sambil bangkit dan menunjuk pintu. Sontak saja Igneel dan Grandine terkejut, kenapa dengan putra mereka? Setelah tiga hari diam kenapa sekarang malah seperti ini? Grandine bergetar, ia benar-benar takut sekarang

"PERGI ATAU AKU AKAN MENENDANG KALIAN DENGAN PAKSA!" teriak Natsu lagi

Igneel memejamkan mata mendengar makian sang putra kesayangannya. Ia mendekap Grandine dan berusaha menenangkannya. Dibawanya Grandine keluar, ia tahu kalau sekarang ini Natsu sangat tertekan. Grandine tak henti-hentinya menangis karena sikap Natsu barusan, ia menangis didekapan sang suami.

"Natsu, anata. Natsu. Aku takut, kenapa Natsuku jadi seperti itu? apa Natsuku akan baik-baik saja?" isak Grandine

"Apa tak bisa kau mencari Lucy dan membawanya kembali?" pinta Grandine yang dijawab gelengan oleh Igneel

"Maafkan aku, mereka tidak ditemukan" jawab Igneel. Ya, sebelumnya Jude mengatakan akan pergi tapi ia tidak menyebutkan tujuan kepergiannya. Dan Igneel sendiri tidak habis fikir temannya itu bisa membohonginya dan beracting dengan apik dihadapan mereka. Ia tersenyum miris.

Fairy Academy. Kelas 1-5 sedikit gaduh, pasalnya ketiga teman mereka tidak masuk selama tiga hari tanpa keterangan. Pertama Lucy, kedua Natsu dan ketiga adalah Sting. Rogue sendiri yang nerupakan sepupu Sting tidak tahu menahu alasan ketidakhadirannya, padahal ia yakin Sting tidak pergi kemanapun selain dirumah.

Kediaman Eucliffe. Sting duduk menopang kepala dengan kedua tangannya. Sesekali ia memukul-mukul kepalanya. Namun tidak ada yang berubah, ia tetap tidak mengerti. Tiga hari lalu ia mendapat kabar dari sang ayah kalau beliau akan mengambil dinas luar dan kemungkinan akan lama kembali. Tapi tentu bukan itu masalahnya, melainkan alasan dibalik dinas luar itu. Weisslogia Eucliffe harus menggantikan posisi dokter kepala di Weisslogia Hospital cabang London untuk beberapa tahun kedepan dikarenakan Dokter kepala disana pensiun dan rumah sakit sedang dalam krisis terlebih ada pasien gawat darurat yang harus dioperasi secepatnya. Pasien itu adalah . . . .

Jude Heartfilia, dengan Leukimia akut dan membutuhkan operasi sum-sum tulang belakang segera. Dan sang pendonor adalah Lucy Heartfilia.

"Bagaimana mungkin? Kenapa bisa begini? Kenapa aku tidak menyadarinya?" gumam Sting

"Jadi gosip kalau Jude-san itu sakit adalah benar? Jadi Hertfilia Corp akan hancur begitu saja? Bagaimana kalau Jude-san tidak tertolong dan Lucy hidup sendirian? Atau jika Jude-san tertolong, bagaimana mereka akan hidup tanpa uang?" gumam Sting lagi dengan gelisah

"Lucy pergi diam-diam, pasti ada yang ia sembunyikan. Natsu, apa yang terjadi diantara kalian hingga Lucy memutuskan untuk pergi? Aku harus pergi, Lucy membutuhkanku. Ia pasti sedang menangis sekarang" gumam Sting kemudian dan ia berdiri

Seminggu berlalu

Teman-teman Natsu seperti Loki, Gray, levy, Lisanna, Juvia, Erza, Jellal datang menjenguk. Mereka disambut ramah oleh ibu Natsu, tapi satu hal yang dapat mereka simpulkan adalah suasana rumah Dragneel terasa mendung. Apa yang terjadi? Itulah yang terngiang-ngiang dibenak mereka, hingga Grandine membuka pembicaraan.

"Natsu, ia sedang tidak ingin diganggu" kata Grandine

"Kenapa? apa ia sakit?" tanya Lisanna, mantan tunangan Natsu

"Ya, dia sangat sakit. Tapi . . ." kata Grandine tertahan, menyebabkan kedutan di dahi teman-teman Natsu terlihat jelas

"Bukan fisik" lanjut Grandine

"Bibi, ceritakan apa yang terjadi, Lucy juga tidak masuk seminggu ini. kumohon, katakan sejujurnya" pinta Levy dengan sopan

Mata Grandine mulai berkaca-kaca, mengingat kepergian Lucy tanpa pamit hingga menyebabkan putranya depresi seperti sekarang membuatnya sangat sakit. Lidahnya tiba-tiba kelu, dan hanya air mata yang menetes. Erza mendekat dan menepuk pundak Grandine. Setelah tenang, akhirnya Grandine mulai menceritakan semuanya, betapa terkejutnya mereka mendapati fakta itu.

"Jadi selama ini Natsu menyiksa Lucy?" tanya Lisanna tidak percaya

"Ya, bibi juga tidak bisa mempercayainya tapi itulah faktanya. Bibi menyesal karena berhasil ditipu oleh mereka berdua" jawab Grandine

Gray tertunduk, ia memang sudah lama mengetahuinya dari Natsu sendiri. Tapi ia tidak pernah menyangka kalau Lucy akan pergi, padahal Natsu sudah berusaha keras mengubah sikapnya dan mulai melupakan dendamnya. Tapi ketika sahabatnya sudah mencintai gadis itu, gadis itu malah pergi?

"Apa mereka punya masalah yang disembunyikan hingga seperti itu?" tanya Erza

"Bibi juga tidak tahu" jawab Grandine

"Aku tahu" kata Gray tiba-tiba

Sore itu, mereka mendengarkan segala cerita Gray. Mengenai fakta dibalik kebencian Natsu pada Lucy, alasan dibalik penyiksaannya, semuanya. Natsu yang frustasi, diluar kendali seperti orang gila dan fakta kalau Natsu mencintai Lucy. Lebih tepatnya fakta Natsu selalu mencintai Lucy, baik dulu maupun sekarang. Sepanjang cerita, mereka hanya mampu tertunduk dan memeras dada kiri mereka yang ikut merasakan sakit.

"Aku akan menemuinya" kata Lisanna

"Percuma, kau akan diusir juga nak" kata Grandine

"Jika diusir aku akan mencoba lagi dan lagi" jawab Lisanna

"Aku melakukan ini bukan karena aku masih mencintainya. Tapi karena aku peduli padanya sebagai seorang teman" lanjut Lisanna dan melangkah menuju kamar Lucy yang ditempati Natsu sekarang.

Gelap. Itulah kesan pertama yang Lisanna rasakan setelah masuk ke kamar. Dihidupkannya saklar lampu, dan terlihatlah sosok surai pink yang meringkuk dilantai dengan memeluk sebuah buku harian. Didekatinya Natsu dengan hati-hati, disentuhnya pundak Natsu dengan lembut. Dan benar saja, Natsu terlonjak kaget dan menoleh seketika, tapi ketika Onyx hitamnya menatap manik birunya, ia terlihat kecewa kemudian membuang muka lagi dan bersiap memejamkan mata namun perkataan Lisanna menghentikannya.

"Kenapa? kau kecewa karena aku bukan Lucy?" tanya Lisanna

"Pergi" usir Natsu dengan datar

"Kau pengecut Natsu, kalau kau mencintainya harusnya kau menahannya pergi" kata Lisanna

"Berisik! Tahu apa kau tentang perasaanku? Jangan sombong hanya karena kau pernah mampir dihatiku!" jawab Natsu ketus

Sakit, Lisanna berusaha untuk tersenyum dan tidak memasukkan kata-kata Natsu kedalam hati meski kata-kata itu sudah berhasil menghunusnya sampai tembus ke jantung.

"Kalau kau ingin menyiksa diri, kenapa tidak bunuh diri sekalian? Dengan begitu kau tidak merasakan sakit?" cibir Lisanna lagi dengan menggigit bibirnya, ia tahu memprovokasi Natsu adalah hal terbaik untuk sekarang ini.

Natsu bangkit, ia duduk dan ditatapnya Lisanna dengan pandangan membunuh. Tentu yang ditatap bergetar ketakutan.

"Kalau begitu, bunuh aku" pinta Natsu dengan suara yang mantap

"Natsu" panggil Lisanna

"Kau bilang dengan mati aku tidak merasakan sakit, jadi kumohon bunuh saja aku. Setidaknya hukum aku karena telah melukainya, menyiksanya dan mempermainkannya, juga membuatnya pergi. Bunuh, kumohon Lis . . . bunuh aku" kata Natsu dengan mata yang penuh dengan air mata, ia mulai mendekat ke Lisanna dan mencengkeram bajunya

"Kau menyayangiku kan? Kalau begitu kabulkan permintaanku ini, bunuh aku, Lis . . ." rengek Natsu dengan nada penuh luka

"Ya, aku menyayangimu, sangat, tapi sebagai seorang teman" jawab Lisanna dalam hati

"Aku akan membunuhmu, tapi apa kau tidak akan menyesal? jika kau mati, bagaimana jika Lucy kembali? Kau bilang kau mencintainya?" tanya Lisanna dengan air mata yang menyeruak keluar

"Ya, aku mencintainya. Tapi ia sudah pergi, jadi untuk apa aku hidup. Dan jika aku tetap hidup dan ia kembali apa yang akan aku dapat? Dia membenciku, kau tahu, dia membenciku" kata Natsu sedih

"Setidaknya hiduplah agar ia bisa balas dendam padamu nantinya. Dan jika saatnya tiba kalian bisa saling memaafkan dan belajar bersama apa itu yang namanya cinta" jawab Lisanna dengan bijak

Natsu mengendurkan cengeramannya. Ia menangis terisak-isak seraya memukul dadanya yang tak henti-hentinya melilit dan seakan robek. Lisanna memeluk Natsu dengan lembut, setelah sekian lama akhirnya ia bisa kembali memeluk seseorang yang pernah singgah dihatinya, jantungnya berdegup tapi ia tahu kalau degupan itu bukanlah cinta. Melainkan kasih sayang dari teman untuk seorang teman.

... 7 Tahun Kemudian ...

Seorang gadis bersurai coklat panjang dengan mata caramel berpose dengan apiknya di depan camera. Sang fotografer tak hent-hentinya memujinya. Semua busana yang ia kenakan sangat cocok dengannya. Seorang gadis yang berumur sekitar 23 tahun dengan rambut berwarna scarlet serta mengenakan kacamata mengangguk-angguk tanda ia puas. Puas karena design-nya bisa begitu sesuai dengan sang model. Pemotretan selesai, sang model melangkah keluar dari area pemotretan dan melenggang menuju sang gadis scarlet.

"Pemotretan yang bagus, Lui" kata gadis scarlet

"Hmm . . . setelah ini kau harus menepati janjimu, Erza" kata Lui

"Dasar, kau banyak berubah, Lucy" bisik Erza kemudian, Lui yang dipanggil Lucy seketika melotot, sedangkan Erza hanya menyeringai sambil membenahi kacamatanya yang sebenarnya sama sekali tidak bergeser dan meninggalkan Lucy.

"Jangan memanggilku seperti itu disini, Erza" umpat Lucy

"Ha'i Ha'i" jawab Erza

Ruang CEO Heart Magazine. Lucy sudah mengganti pakainnya dengan kemeja kerja yang dimasukkan ke dalam rok selutut yang melekat pas dengan tubuhnya, tentunya dengan dua kancing kemeja yang sengaja dibuka. Menampilkan kalung berhias permata dengan liontin bulan yang memeluk matahari. Ya, kalung milik Natsu yang disimpannya untuk Lucy namun dibuang karena terlalu marah pada sang adik yang memakainya tanpa izin. Entah kenapa kalung itu sekarang sudah bertengger manis di leher jenjang Lucy. Lucy duduk membenahi rambut wig coklatnya yang panjang. Di meja kerjanya, terdapat name tag CEO Heart Magazine, Lui Heart. Ya, Lucy mengubah namanya menjadi Lui Heart sekarang. Ia mengarahkan jari jemari lentiknya pada mouse dan matanya menyipit ketika membuka e-mail dari Erza. Dibukanya e-mail itu yang isinya foto sekaligus berita tentang . . .

1 Januari 2022 - Pewaris Dragneel Corp, Natsu Dragneel menandatangani kontrak kerja dengan Fernandes Hotel

4 Maret 2022 - Natsu Dragneel dikabarkan dekat dengan adik CEO Elfman Strauss

12 Desember 2022 - Natsu Dragneel mengaku tidak menjalin hubungan apapun dengan perempuan dikarenakan ingin mengejar karir, ia juga menyatakan tidak mau memiliki kekasih atau menikah sebelum bertemu kembali dengan cinta pertamanya

11 Mei 2023 - Dragneel Corp dinyatakan sebagai investor terbesar di tahun ini, Natsu Dragneel tersenyum dihadapan pers

21 Mei 2023 - Natsu Dragneel mengelak memiliki gangguan psikologi berupa depresi akut

25 Mei 2023 - Ferdra Hotel and Resort selesai dibangun di pusat kota London dan akan diresmikan 11 Juli 2023

Lucy tersenyum, akhirnya setelah sekian tahun ia bisa mendapat kabar tentang pemuda yang sudah memporak-porandakan hatinya. Baru beberapa detik ia tersenyum, sebuah panggilan masuk membuyarkan senyumnya, ia mendengus kesal acaranya terganggu. Di tekannya tombol hijau di layar touchscreen-nya.

Erza : Kau sudah menerimanya?

Lucy : Sudah, tapi kau malah menggangguku

Erza : Hei, apa kau tengah mengagumi wajah tampannya yang sudah dewasa?

Lucy : Cih! Aku hanya ingin memastikan apa ia hidup menderita saja, tidak ada alasan khusus. Lagipula berita apa ini? 4 Maret 2022 dan 12 Desember 2022? Kau fikir aku butuh yang seperti ini? huh?

Erza : Protes saja! kalau kau tidak suka yang cari sendiri! Kau kan kaya! Kau bisa menyewa paparazi atau detectif handal untuk memata-matainya!

Lucy : Aku akan dimarahi Sting kalau sampai ketahuan, kau tahu?

Erza : Kau saja yang takut ia marah, faktanya Sting tak pernah marah padamu kan? Hei, jangan permainkan perasaannya, kalian sudah bertunangan, Apa kau ingin merusaknya?

Lucy : Tentu tidak! aku hanya akan bermain sebentar dengan si 'Pinky' itu. Aku akan menunjukkan padanya kalau aku sekarang berubah, aku bukanlah Lucy Heartfilia yang dengan bodohnya mau terjerat jaring-jaring cinta palsunya. Aku Lui Heart, CEO Heart Magazine dan Model kelas dunia. Oh ya, apa kau berhasil mensponsori wardrobe (maaf jika penulisan atau istiah salah) mereka?

Erza : Jangan sebut namaku Erza Scarlet kalau begitu saja tidak bisa. Jadi kau yakin akan menghadiri undangan itu?

Lucy : Lihat saja nanti

Erza : Baiklah, aku hanya akan menonton saja. Tapi ingat, aku tidak mau mendengar curhatanmu kalau kau terperangkap dalam permainanmu sendiri. Dan aku mengirimkan satu bonus untukmu . . .

Lucy : OK

Lucy mematikan telfon dan menghela nafas, ia mengalihkan pandangannya ke arah foto yang bertengger di meja kerjanya. Ya, foto pertunangannya dengan Sting Eucliffe, sang Dokter kepala dan CEO Weisslogia Hospital sekarang. Wajahnya memerah mengingat moment itu, ia tidak pernah menyangka kalau sebentar lagi marganya akan berubah menjadi Eucliffe. Ia masih dalam fantasinya, hingga tiba-tiba seseorang mengetuk pintu ruangannya tepat dengan email baru dari Erza. Lucy memposisikan diri dan duduk dengan seriusnya. Seseorang masuk, gadis bersurai biru gelombang dengan manik biru pula, memakai seragam rapi dan membawa beberapa berkas, ia memiliki name tag Juvia L.

"Lui-sama, ini berkasnya. Setelah ini anda ada rapat dengan departemen perencanaan untuk membahas wawancara ekslusif dengan Dragneel dan Fernandes Corp sampai pukul 12.00 siang, Setelah makan siang anda ada pertemuan dengan pihak Produksi sampai pukul 02.00 siang, selanjutnya anda memilih gaun yang akan dikenakan di undangan peresmian, dan malamnya anda ada makan malam dengan client sampai pukul 10.00 malam" jelas Juvia dengan lancar

"Kau tidak memberiku waktu untuk istirahat?" tanya Lucy dengan lesu

"Anda tidak menyimak dengan baik? anda mendapat istirahat jam makan siang" jawab Juvia

"Kalau begitu siang ini siapkan aku mobil, aku ingin makan diluar" pinta Lucy seraya menyerahkan dokumen yang sudah ia tanda tangani

"Tentu, Lui-sama" jawab Juvia menerima dokumen pemberian Lucy

Juvia undur diri, setelah pintu tertutup Lucy menyeringai. Juvia bahkan tidak mengenalinya meski sudah 2 tahun menjabat sebagai sekretarisnya.

Hari ini Lucy benar-benar menjalani semua aktivitasnya sesuai schedule yang sudah diatur oleh sang sekretaris yang merupakan teman SMA-nya. Hingga jam makan siang Lucy kabur dengan memicu mobil sport merahnya keluar dari Heart Magazine. Ia memicu mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata, berbelak-belok melewati pengendara lain dan membiarkan sumpah serapah para pengendara yang kaget akan aksinya. Dan, sampailah ia di Weisslogia Hospital, ia memarkirkan mobilnya asal dan keluar kemudian masuk ke rumah sakit. Ketika di Lobi, para pegawai mulai berkasak-kusuk, sang model kelas dunia berada di hadapan mereka. Jangan lupakan wajah Lucy yang tak henti-hentinya menebar senyum dan sapaan pada semua orang yang ditemuinya. Ia naik lift dan menuju lantai teratas.

Sting menyandarkan punggungnya yang serasa mau copot karena terlalu lama berkutat dengan dokumen dan memutar kursinya menghadap keluar jendela. Ah, ia lebih menyukai berkutat diruang operasi daripada dengan lembaran hitam putih itu. Matanya mulai terpejam, namun kemudian terbelalak saat menyadari ada sentuhan dipundaknya. Otomatis ia terlonjak kaget.

"Lucy?" Sting menaikkan satu alis mendapati tunangannya berdiri dengan manis dihadapannya

"Hmm? Kau terkejut?" tanya Lucy membuat Sting sweatdrop

"Aku hampir jantungan gara-gara kau, kukira sekretarisku yang datang memberi setumpuk pekerjaan" keluh Sting

"Makanya beli jantung cadangan sesegera mungkin" canda Lucy seraya menyedakepkan kedua tangannya didada

"Hei" Sting tidak terima

"Bercanda" kata Lucy menjulurkan lidahnya

"Kau sudah makan? Ayo makan, mumpung aku ada waktu" pinta Lucy

"Kau ada waktu atau kau kabur agar dapat waktu?" selidik Sting

"Aku benar-benar dapat waktu, jadi ayolah" rengek Lucy, dan Sting-pun luluh

Akhirnya mereka berdua makan bersama di restoran tak jauh dari Weisslogia Hospital, semua orang memandang mereka dan tak segan-segan mengabadikan moment itu dengan mengambil beberapa foto. Lucy tak menghiraukannya, itu sudah hal biasa baginya. Sting tersenyum tipis mengingat kepribadian Lucy berubah Drastis, ia lebih percaya diri, berani dan sedikit pemberontak sekarang. Tapi Lucy tetaplah Lucy, gadis yang ia cintai. Lucy bercerita banyak hal tentang pekerjaannya begitupula dengan Sting, mereka tertawa dan bahagia bersama. Melihat senyum Lucy, entah kenapa dada Sting rasanya sakit. Sudah 7 tahun sejak saat itu, tapi kenapa ia merasa kalau senyum Lucy itu palsu?

Flashback

Setelah tiba di London, Sting segera menuju ke rumah sakit ayahnya. Disana, ia menanyakan pada receptionist dimana ruang operasi pasien bernama Jude Heartfilia. Dan, disinilah ia, berdiri sendirian membawa beberapa tas yang cukup besar dan menunggu sang ayah keluar dari ruang operasi. 4 jam berlalu, Weisslogia keluar dan terkejut melihat putranya.

"Sting?" panggil sang ayah

"Ayah, bagaimana? Apa Jude-san selamat? Apa operasinya berhasil? Apa Lucy baik-baik saja?" tanya Sting bertubi-tubi

Weisslogia mengangguk sembari tersenyum. Ia menghela nafas karena kelakuan putranya semakin liar dan mirip sang ibunda. Diusapnya kepala Sting pelan dan meninggalkannya karena ini masih jam kerja.

"Ayah perlu bicara nanti denganmu" kata Weisslogia kemudian pergi

Kini, Sting menunggui Lucy yang terkulai lemas di ranjang rawat inap setelah keluar dari ruang operasi, kata sang ayah keadaannya stabil dan ia baik-baik saja. tapi sudah seharian ia menunggu Lucy tak kunjung sadar. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi dan akan kembali esoknya.

Esoknya, Jude sudah sadar, ia menemui putrinya di ruangan rawatnya tapi Lucy masih tertidur. Jude mulai merasa ada yang tak beres. Ia segera memanggil Weisslogia dan Weisslogia-pun bertindak. Lucy koma, Sting shock mendengar kabar tersebut. Selama satu bulan penuh Sting setia menemani Lucy di rumah sakit meski sudah dilarang Jude dan sang ayah. Dan tepat satu bulan itu Lucy membuka matanya, namun ketika ia membuka matanya . . .

Lucy terbangun, ia mengerjabkan matanya. Langit-langit terlihat putih, dimana ia? Kepalanya tiba-tiba saja sakit, segala memori berputar dikepalanya, semuanya. Ingatan dimana ia bertemu anak kecil bersurai pink, menghabiskan waktu bersama, berjanji bersama, dan melukainya. Mengusirnya, serta memintanya untuk enyah, kemudian kecelakaan maut itu. semua itu sangat jelas, dan anak itu bernama . . .

Natsu

Lucy memegangi kepalanya, tidak mungkin. Bagaimana mungkin? Ia pasti sedang berhalusinasi. Dipukul-pukulnya kepalanya dengan keras, dan ia mulai menjambak-jambak rambutnya, berusaha mengenyahkan ingatan itu dari otaknya, namun semakin ia berusaha semakin jelas pula ingatan itu. Perlahan kenangan akan siksaan Natsu dan kebaikan Natsu ikut menghantuinya bagaikan kaset kusut. Semuanya berputar begitu cepat. Lucy berteriak.

BRAK

Sting membuka pintu dengan raut wajah sangat panik. Dibuangnya kantung belanjaan yang tadi ia bawa, buah-buahan menggelinding kesana kemari.

"Lucy, ada apa? Ada apa? Hei! Jangan pukul kepalamu seperti itu!" cegah Sting

"TIDAK! AKU TIDAK MAU MENGINGATNYA! TIDAK!" teriak Lucy

"Apa memangnya? Kau mengingat apa?" tanya Sting

"AKU BENCI INGATAN INI! AKU BENCI DIRIKU! ARGGGGHHHH!" teriak Lucy kemudian ia mendorong Sting kelantai dan melemparnya dengan barang-barang yang ada

Weisslogia dan Jude masuk, Jude berusaha mendekati Lucy tapi ia malah terkena lemparan botol yang hampir saja mendarat di wajahnya kalau ia tidak segera menghalanginya dengan lengan. Legannya berdarah, Lucy menangis. Ia mengucap maaf berkali-kali, dan mulai terisak-isak. Tahu kemungkinan yang terjadi, Weisslogia segera mengambil jarum suntik dan membius Lucy.

Sejak saat itu Lucy menjalani rehabilitasi selama satu tahun, yang membuatnya tertinggal dalam sekolah. Sting selalu menemaninya meski ia selalu diusir dengan tidak etisnya. Bahkan Lucy tak segan memukul atau menghajar Sting sampai babak belur. Tapi seiring berjalannya waktu, Lucy mulai sembuh dan bisa menerima kenyataan akan ingatannya dan semua yang terjadi antara dirinya dan Natsu. Dan saat itu pula ia mulai mengakui keberadaan Sting, ia meminta maaf pada pemuda itu karena perilakunya.

"Maafkan aku, Sting" kata Lucy

"Aku tidak pernah marah atau benci padamu, Lucy" jawab Sting

"Sebagai permintaan maafku, maukah kau bertunangan denganku?" pinta Lucy

Ya, Lucy yang memulai pertunangan mereka. Awalnya Sting tidak setuju karena ia tahu jauh dilubuk hati Lucy, tidak pernah ada tempat spesial untuknya. Karena sudah ada seseorang yang menempatinya, tapi gadis itu kekeh kalau ia tidak mencintai Natsu dan menginginkan Sting. Mengingat betapa keras kepalanya Lucy, dan tidak ingin melihat gadis itu bersedih akhirnya dengan berat hati Sting menerimanya. Sejak saat itu, Lucy selalu tersenyum padanya. Ia tidak pernah menangis atau sekedar bersedih. Sting tentu senang dengan kemajuan ini, bolehkan ia sedikit egois kali ini saja? bolehkan ia memiliki gadis itu?

Heartfilia Corp bangkrut. Tapi untung saja Jude masih memiliki sedikit saham di Heart Magazine. Lucy mengganti namanya dan merubah penampilannya kemudian mengejar sekolahnya melalui program akselerasi. Setelah lulus SMA, ia langsung dikontrak oleh Heart magazine sebagai modelnya meski harga kontraknya tidak seberapa. Lucy bersyukur karena dengan itu ia bisa melanjutkan kuliahnya. Ia kuliah melalui program akselerasi pula, 3 tahun ia sudah menamatkan gelar S2-nya. Heart Magazine berada pada masa kritis, sang ayah sedang kembali ke Magnolia. Terpaksa ia menggantikan sang ayah untuk rapat Dewan di Heart Magazine sebagai salah satu pemegang saham. Disanalah Lucy tampil, ide briliiantnya mampu mengangkat Heart Magazine dari keterpurukan. Tak lama setelah itu ia diangkat sebagai CEO.

Flashback End

"Oh ya Lucy, apa kau akan hadir di acara itu?" tanya Sting seraya meminum Jus Lecy-nya

"Tentu, kenapa? kau tidak diundang ya?" goda Lucy

"Hei, jangan meledekku. Aku punya banyak sekali schedule yang harus diselesaikan" jawab Sting dengan cemberut, entah kenapa perasaannya tidak enak

"Iya, aku diundang. Akan sangat tidak sopan jika aku tidak hadir" jawab Lucy kemudian

"Oh ya, aku harus pergi, aku harus ke percetakan sekarang atau aku akan terlambat. Sampai bertemu Sting" kata Lucy dan mengecup pipi kanan Sting kemudian melenggang pergi. Tentu yang dikecup blushing berat, ia benar-benar malu sekarang ini.

Ditempat lain, seorang pemuda bermantel Hitam, berkaca mata hitam, bertopi coklat dengan surai pink yang sedikit mencuat keluar serta syal kotak-kotak aneh berjalan keluar dari bandara. Ia menoleh kanan kiri memastikan keadaan aman. Ia menyetop taksi dan segera masuk.

"Anda mau kemana?" tanya pengendara Taxi

"Jalan saja" jawab sang pemuda

Pemuda aneh itu menurunkan syal yang menutupi mulutnya dan membuka kacamatanya. Ia adalah Natsu, ia tersenyum melihat pemandangan kota London. Rasanya menyenangkan bisa menghirup udara luar. Kapan lagi ia bisa refresing? Sekali-kali tidak apa kan? Dilihatnya layar iklan yang menampilkan banyak iklan dengan model yang sama. Jantung Natsu tiba-tiba berdetak dengan cepat, nafasnya mulai memburu dan wajahnya memerah. Aneh, getaran apa ini? Natsu memegangi dada kirinya, berdesir. Apa ia akan menggila lagi? Dengan segera ia merogoh saku dan meminum sebutir pil penenang guna menenangkan detak jantungnya, namun tak ada reaksi berarti. Jantungnya terus berdegup melihat model di layar iklan itu, rasanya sangat tidak asing. Dan rasa rindu yang selama ini ia rasakan sirna sudah, tunggu. Siapa sebenarnya dia?

"Pak, siapa dia?" tanya Natsu menunjuk layar iklan

"Dia, oh . . . Lui Heart. Dia adalah model kelas Dunia, tidak mungkin anda tak mengenalnya?" tanya sang pengendara Taxi balik

Natsu hanya tersenyum menjawabnya.

"Dan dia adalah CEO Heart Magazine" lanjut supir Taxi

Barulah Natsu terkejut, ia menajamkan matanya dan mengeryitkan dahi memandangi wajah Lui yang tersenyum ceria dengan mata caramel yang berbinar-binar. Ya, memang tidak asing, seperti Lucy fikirnya. Tapi mengingat Lucy tak dapat ditemukan selama ini, ia tersenyum seraya menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin. Selama ini, selama ia menjabat sebagai CEO Dragneel Corp, saat itu juga ia mulai mencari Lucy kembali, meminta bantuan Loki yang sudah menjadi Kepala Kejaksaan di Fiore tapi hasilnya nihil. Heartfilia memang sangat hebat, bisa menyembunyikan diri dengan sangat baik.

Setelah sekian lama berkeliling, mereka sampai di kompleks pertokoan, Taxi yang Natsu tumpangi berhenti. Natsu turun seraya menjinjing kopernya, diedarkannya pemandangan didepannya. Sudah berapa lama ia tidak melihat hal seperti ini, terakhir kali adalah saat ia mencari Lucy dulu, saat ia mengingkari janji kencan mereka dan membawa kembali Lucy yang mencoba bunuh diri. Dadanya kembali terasa nyeri, diusapnya bagian dada kirinya pelan, mengambil nafas dan menghembuskannya. Sudah berapa tahun sejak saat itu? tapi perasaannya tetap sama, rasa sakit, rasa sesal, rasa rindu selalu berkecambuk jadi satu. Perlahan ia mulai berjalan dengan memaksakan senyum agar ia terlihat baik-baik saja dan hasilnya ia bisa tersenyum. Ya, senyum palsu yang berhasil ia pelajari semenjak keluar dari rehabilitasi.

Flashback

"Setidaknya hiduplah agar ia bisa balas dendam padamu nantinya. Dan jika saatnya tiba kalian bisa saling memaafkan dan belajar bersama apa itu yang namanya cinta" jawab Lisanna dengan bijak

Natsu mengendurkan cengeramannya. Ia menangis terisak-isak seraya memukul dadanya yang tak henti-hentinya melilit dan seakan robek. Lisanna memeluk Natsu dengan lembut, setelah sekian lama akhirnya ia bisa kembali memeluk seseorang yang pernah singgah dihatinya, jantungnya berdegup tapi ia tahu kalau degupan itu bukanlah cinta. Melainkan kasih sayang dari teman untuk seorang teman.

Lisanna keluar dari kamar Natsu, diluar Grandine sudah menunggu dengan was-was, pasalnya ia tadi mendengar teriakan sang putra. Dilontarkannya senyum pada Grandine.

"Ia sudah tidur bibi, kurasa ia sudah lebih baik. Tapi, jika seperti ini terus psikisnya bisa terganggu. Natsu, ia menyalahkan dirinya sendiri atas kepergian Lucy walaupun sebenarnya sebagian memang salahnya" jelas Lisanna dengan senyuman getir, matanya berkaca-kaca. Sakit rasanya melihat Natsu terpuruk seperti itu.

...

Sudah satu bulan Natsu dirawat di rumah sakit jiwa karena menjalani rehabilitasi. Sebelumnya Grandine dan suaminya, Igneel memutuskan membawa Natsu ke psikiater mengingat kondisinya yang tidak menentu, tentu dengan dukungan fakta-fakta yang dikatakan oleh Gray sang teman dekatnya. Betapa terkejutnya mereka mendapati pernyataan dari dokter kalau Natsu mengalami depresi dan gejala awal psikopat. Semua yang Natsu lakukan adalah sebagai pelampiasan amarah, kebencian, dan dendamnya pada Lucy kecil. Namun ketika semuanya sudah berhasil dilakukan, ia malah terpuruk, menyalahkan diri sendiri, menyiksa diri dan bahkan mulai mencoba bunuh diri demi menghukum dirinya sendiri. Semua itu tak lain karena efek dari Depresi yang berkelanjutan.

Satu bulan dirawat, tidak berpengaruh banyak bagi Natsu, ia sudah tidak mencoba bunuh diri, namun ia masih terus menyalahkan diri sendiri dan belum mau bicara pada siapapun kecuali sang dokter dan Lisanna.

Tiga bulan dirawat, Natsu sudah mau bicara pada orang lain.

Empat bulan dirawat, Natsu mulai tersenyum.

Enam Bulan dirawat, Natsu sudah mulai bisa mengontrol diri dan menerima semuanya, ia bisa berfikir dengan jernih dan dinyatakan sembuh.

Karena 6 bulan rehabilitasi dan bersembunyi, akhirnya Igneel memutuskan Natsu mengikuti program akselerasi di Amerika untuk mengejar ketertinggalannya. Dan dalam 2 tahun ia bisa lulus sebagai lulusan terbaik diangkatannya. Ia bahkan mengambil program akselerasi pula untuk kuliahnya agar ia bisa selalu lebih sibuk. Karena setiap ada waktu senggang, ia akan kembali merasa bersalah dan kembali tertekan. Tanpa siapapun ketahui, ia kembali pada dokter yang mengobatinya dulu dan meminta obat penenang.

Flashback End

Natsu berjalan dengan fikiran yang tidak berada pada tempatnya. Trotoar cukup padat, membuatnya harus sesekali menghindari pejalan kaki agar tidak menabrak mereka. Namun naas, karena otaknya sedang tidak fokus dan akibat menghindari pejalan kaki, ia malah menubruk seseorang hingga orang itu jatuh terduduk. Dengan segera ia berjongkok, menyamai orang, ralat - gadis yang sudah ia tabrak.

"Anda tidak apa-apa, nona?" tanya Natsu

Gadis itu mendongakkan kepalanya, matanya membulat seperti terkejut melihat sosok Natsu. sedangkan yang ditatap mengernyitkan dahi.

"Anda baik-baik saja?" tanya Natsu lagi

Gadis itu berambut coklat, bermata caramel dengan memakai Topi Pet atau Flatcap berwarna merah maroon dengan mantel coklat yang belepotan terkena ice cream.

"Kau fikir aku baik-baik saja?" tanya gadis bermata caramel dengan tajam

"Maafkan saya" kata Natsu mengulurkan tangannya, namun ditepis kasar oleh gadis itu. gadis itu berdiri dan segera melepaskan mantelnya kemudian dilepmarkannya mantel itu pada Natsu dengan sangat kasar. Natsu mengambil mantel yang menutupi wajahnya lalu berdiri dan menatap gadis dihadapannya dengan pandangan tidak mengerti.

"Cuci itu" perintah sang gadis

"Maaf nona, Tapi bisakah saya . . ." kata Natsu langsung dipotong

"Lui, panggil aku Lui" kata Lui aka Lucy

"Dia mirip Lui sang model itu" kata Natsu dalam hati

"Nona Lui, tapi saya tourist disini, jadi bisakah anda mempermudahnya? Saya akan mengganti mantel nona . . ." kata Natsu dan langsung dipotong lagi

"Berisik! Aku bilang cuci ya cuci" teriak Lucy

"Dia pasti bukan Lui, jelas sekali ia hanya peniru" kata Natsu dalam hati

"Tapi saya . . ." jawab Natsu dan dipotong dengan . . .

"Hiks, Hiks" Lucy mulai menangis. Seketika mereka jadi bahan tontonan, para pejalan kaki memandang Natsu dengan rasa tidak suka

Dasar, jahat sekali dia membuat perempuan menangis

Dasar pria kejam

Natsu salah tingkah, perempat siku-siku mulai bertengger didahinya. Habis sudah kesabarannya, gadis dihadapannya benar-benar menyebalkan, tidak tahukan ia kalau dirinya sedang menikmati liburan? Sungguh merusak suasana saja. Ia mengambil nafas dan menghembuskannya pelan, sabar.

"Hentikan acting anda, nona" kata Natsu dengan mengatupkan giginya, gemas

Lucy berhenti menangis seketika, actingnya terbongkar. Ia menaikkan satu alisnya dan bersidekap, tak lupa ia menatap Natsu dengan pandangan meremahkan.

"Cucikan itu dan kembalikan padaku besok" ulang Lucy

"Berapa yang anda inginkan?" tanya Natsu mengubah sikapnya, ia benar-benar marah. Perempuan ini diberi hati meminta jantung.

"Kau fikir aku wanita murah hingga minta uang?" tanya Lucy meninggikan suaranya dan kembali menyedot perhatian. Tentu Lucy salah paham dengan maksud Natsu

Hei lihat, pria itu kurangajar sekali

Dasar Pria Brengsek! Beraninya dia melakukan itu pada perempuan dimuka umum

Cibiran demi cibiran kembali didengar kedunya. Natsu tak habis fikir, Lui benar-benar rubah betina. Beraninya dia mempermalukan seorang Dragneel dimuka umum. Tunggu saja . . .

"Entahlah, tapi saya rasa itu hanyalah taktik anda mengingat sulitnya mendapat uang dijaman sekarang. Mereka biasanya ber-acting seperti anda, memeras pria yang terlihat mapan atau memfitnahnya. Kurasa dengan tubuh anda itu tak sulit. tapi maaf saja, saya tidak tertarik" balas Natsu, kali ini ia menyeringai merasa menang, dan benar saja. Wajah Lui memerah sempurna, ia pasti tidak menyangka kalau Natsu berani membalasnya.

"Apa? Kau menghinaku tuan? Dengar ya, aku bukan wanita macam itu. aku kan hanya memintamu mencuci mantelku. Tidakkah perkataan anda berlebihan? Dan apa? Dengan tubuh sepertiku tidak sulit? benar tidak sulit. Tapi maaf saja, saya tidak tertarik dengan pria berotot palsu seperti anda" tanya Lui kesal

"Percaya diri sekali anda, nona. Berapa tarif anda?" tantang Natsu

"Kau menghinaku?" tanya Lui

"Anda yang salah paham hingga pembicaraan menjadi seperti ini. Dan maaf saja, tapi anda yang memulai menghina saya duluan dengan meminta saya mencuci mantel anda padahal saya sudah berniat memberi ganti rugi. Anda juga tak memberi kesempatan saya bicara" balas Natsu

"Apa? Hei! Kau yang jalan tanpa melihat-lihat, ini jalan umum. Memang kau kemanakan pandanganmu? Kau bisa saja kulaporkan dengan tuduhan ketidaknyamanan pubik" balas Lui tak menerima kalau dirinya salah paham

"Laporkan saja, saya juga akan menuntut anda karena sudah melecehkan saya karena telah berani melempar saya dengan mantel" balas Natsu

"KAU!" Lui mulai geram

"Apa?" tantang Natsu yang tidak sadar kalau ia tengah marah sekarang

Dengan bibir peach yang bergetar, ia mengangkat salah satu kakinya dan mengayunkannya tepat di tulang kering Natsu.

DUAKK

"Brengsek kau!" umpat Lui

"Apa kau bilang? Dasar wanita aneh! Weirdo!" balas Natsu

Lucy kembali menendang Natsu dan meninggalkannya begitu saja. Sedangkan yang ditinggalkan mengaduh kesakitan dan mengeluarkan sumpah serapahnya. Sungguh, hari ini harusnya jadi hari liburan indahnya tapi kenapa jadi seperti ini? oh kamisama . . .

56 Leonard, Lucy menaiki Lift dan sampai dilantai 10. Ia segera menuju kamar apartemennya, 110. Betapa herannya dia melihat apartemen sebelahnya. Para jasa angkut barang sedang memasukkan perabotan rumah. Lucy mendengus kesal, moodnya sedang tidak baik saat ini. Ia masuk dengan membanting pintu.

Di dalam, ia melempar sepatu heel mahalnya asal dan melempar tasnya ke sofa. Ia menuju dapur yang dilengkapi mini bar dan mengambil air minum dari kulkas. Ia meneguk air seperti orang kesetanan, hingga air itu membasahi baju dan lehernya. Diletakkannya botol air yang sudah kosong dengan kasar, dan kemudian ia remas kuat-kuat.

"Kenapa harus sekarang? Dragneel bodoh itu! Pinky itu! cih! Membuatku marah saja. setelah bertahun-tahun tidak bertemu denganku, kenapa dengan reaksinya itu?" geram Lucy

"Nona, anda baik-baik saja?" kata Lucy menirukan gaya bicara Natsu

"Sejak kapan dia baik pada perempuan? Setahuku dia tidak pernah melakukan itu, bahkan padaku saja dia sangat kasar. Hoh! Ya ampuunn . . . pasti dia sekarang menjadi pecinta wanita" umpat Lucy

"Apanya yang tidak ingin menikah setelah bertemu cinta pertamanya, dia bahkan tidak mengenaliku! Dasar bodoh! Kurangajar! Menyebalkan" umpat Lucy lagi

Satu detik

Dua detik

Tiga detik

"Tunggu, tidakkah ini kabar baik? Natsu tidak mengenaliku, dengan begini rencanaku akan berjalan lancar. Aku bisa mempermainkannya sesuka hatiku, oh kamisama . . . keberuntungan macam apa ini?" kata Lucy lagi seraya senyum-senyum

"Malam ini, pesta bir" teriak Lucy

Malam semakin larut. Jalanan 56 Leonard street masih ramai, tapi di kamar Lucy sendirian. Ia minum berbotol-botol wine seraya memutar musik dengan keras, melipakan janji makan malamnya dengan clinet demi merayakan tibanya hari pembalasan Lucy Heartfilia. Apartemen yang semula rapi menjadi sangat berantakan, bungkus makanan berceceran sana-sini, kulit buah, cup ramen dan sebagainya.

Sedangkan disebelah, seorang pemuda bersurai pink tengah mandi, memperlihatkan otot-otot kekarnya yang makin terlihat menawan dibawah guyuran air shower, ia mengusap mukanya, namun tiba-tiba ia teringat sumpah serapahnya pada gadis berambut coklat bermata caramel yang mengaku bernama Lui. Pemuda itu tersenyum mengingat tendangan Lui tadi membuatnya kesakitan dan mengumpat, namun senyumnya lenyap tak kala ia melihat pantulan dirinya. Ia mengumpat? Sejak kapan? Apa karena gadis itu? yang benar saja. Tapi setelah diingat lagi, sudah 7 tahun ia tidak pernah marah, ia selalu sabar dan menyikapi apapun dengan bijak, karena amarah hanya akan mengingatkannya pada Lucy. Karena pelampiasan amarahnya gadis itu terluka dan pergi.

Natsu keluar dari kamar mandi, mengenakan piyama merah dan duduk di kasur. Diambilnya sebuah foto di meja, foto dirinya dengan Lucy kecil dihamparan bunga. Ia terenyum mengingat memori indah waktu itu.

"Dihatiku yang kesepian, aku terus mengingat kenangan lalu tentangmu. Aku semakin mabuk saat kelamnya malam, entah bagaimana aku merasakan suatu kesedihan. Aku merindukanmu, Lucy . . ." kata Natsu dalam hati

Esoknya. Alarm di ponsel berdering dengan keras, Lucy yang tidur di sofa mengerang. Tangannya meraba-raba meja guna mencari biang keladi yang dengan tidak tahu dirinya mengganggu tidurnya. Ia mendapatkan ponselnya kemudian melemparnya asal hingga ponsel itu tercerai berai, baterai, casing, kartu SIM sudah kemana-mana. Jam terus berputar, hingga tanpa ia sadari sudah menunjukkan pukul 09.00. Lucy bangun, rambut blondenya berantakan kemana-mana, ia mengusap matanya dan berusaha menajamkan matanya. Ditengoknya jam dinding yang baru menunjukkan pukul . . .

09.10

"Sial! Aku terlambat! Kenapa alarmku tidak bunyi sih! Padahal jelas-jelas sudah kusetting dengan volume full. Juvia pasti membunuhku kalau begini . . ." umpat Lucy kemudian dengan segera ia mandi dan bersiap tak sampai 10 menit. Ia memasukkan kemeja kerja kedalam rok kerja ketatnya asal dan menyambar blazernya. Ia keluar apartemen.

"Wig-ku! Ya ampuuunnn" kata Lucy dan kembali lagi mengambil wig coklatnya dan mengenakannya dan kembali keluar.

Sedangkan Natsu, kini ia tengah berjalan melewati lobi apartemen. Para pegawai apartemen berbisik-bisik melihat ketampanan dan pesona Natsu. Wajah dewasa, dengan rambut spike pink, mata onyx, kulit tan dan jangan lupakan tubuh atletisnya yang masih saja terlihat jelas walau mengenakan setelan jas. Ia keluar apartemen dan disambut oleh sang sekretaris, Ren. Namun wajah Ren tampak kesal, ia menatap tajam sang bos.

"Wajah yang kurang bagus untuk mengucapkan selamat pagi" cibir Natsu seraya tersenyum

"Anda membeli apartemen tanpa memberitahu saya? Padahal saya sudah memesan hotel, tidakkah anda tahu saya mencari anda kemana-mana? Terlebih ponsel anda baru aktif pagi ini" kata Ren dengan kesal

"Hei, jangan panggil anda. Aku kan sudah bilang, kau teman sekolahku dulu, kita seumuran. Ya kan? Jadi Ren, bisakah kau lupakan kejadian itu? atau kau ingin aku traktir sarapan? Mau makan apa?" kata Natsu

Ren malah mengernyitkan dahi. Heran melihat tingkah bosnya, setahunya Natsu Dragneel sang CEO Dragneel Corp adalah seseorang yang pendiam dan sedikit cuek. walaupun disisi lain ia bijak dan tidak pernah marah pada bawahan. Tapi pagi ini, Natsu tak lain seperti sosok anak kecil yang sedang berusaha menyuap seseorang. Tidakkah ia kekanakan?

"Apa ada hal baik sedang terjadi?" tanya Ren

"Tidak. kau yang terlalu paranoid" jawab Natsu merajuk seraya masuk ke mobil

Ren masuk mobil dan mulai menghidupkan mesin. Ia menjalankan mobil perlahan dan menyerahkan tablet pada si bos.

"Schedule hari ini sudah diatur, silahkan anda baca"

"Hoh, sudah kibilang kan aku ingin libur terlebih dulu? Kau ingin menyiksaku?" tanya Natsu

"Jellal ingin bertemu anda pagi ini dan memintaku merubah schedule anda karena ada hal yang harus anda lakukan bersamanya" jelas Ren

Natsu menghela nafas.

"Jadi, apa benar telah terjadi sesuatu?" tanya Ren

"Kubilang kan tidak" jawab Natsu

"Kau tidak bisa bohong, Natsu. Tidakkah kau bercermin pagi ini? apa perlu kubelikan cermin yang besar?" tanya Ren mengubah gaya bicaranya

"Hadap kedepan!" perintah Natsu dengan menekankan tiap katanya, ia berusaha menghindari pertanyaan Ren

"Mana mungkin, aku seperti biasa saja. memangnya itu aneh? Dasar" umpat Natsu dalam hati

"Tunggu, aku mengumpat lagi?" tanya Natsu dalam hati

Tiba-tiba Natsu terkekeh. Lui benar-benar gadis ajaib, bisa merubahnya walau hanya beberapa menit mereka bertemu. Persis seperti Lucy. Nyeri, sesak kembali Natsu rasakan. Ia mengusap dadanya perlahan. Semua itu tak lepas dari penglihatan Ren.

Lucy keluar dari Apartemen, sudah 09.25.

"Tunggu, kenapa aku disini? Harusnya kan aku ke parkiran!" umpat Lucy. ia segera menuju parkiran, dirogohnya kunci mobil di saku jasnya tapi tidak ada.

"Ketinggalan" kata Lucy lagi

"Arrgg! Kenapa bisa? Baiklah naik taxi saja" kata Lucy

Kini Lucy sedang berusaha menyetop Taxi. Dirogohnya dompet di saku jasnya tapi tak ada.

"Hlo, dimana?" tanya Lucy

Dirogohnya kembali ponselnya, tapi nihil.

"Sial! Tadi kan kubanting!" umpat Lucy

Dilepaskannya blazer, digulungnya lengan kemejanya dan dilepaskannya heelnya.

"Yosh! Lari saja! kalau tidak aku akan benar-benar terlambat!" kata Lucy dalam hati

Alhasil Lucy berlari marathon menuju kantor tanpa alas kaki dan menenteng heel. Sepanjang jalan semua orang menatapnya aneh, tak lupa mereka mencibirnya sebagai peniru Lui yang sengaja ingin menarik perhatian. Sedangkan di tempat lain Natsu tengah terjebak dilampu merah.

"Oh ya, kenapa Jellal memintaku bertemu di Heart Magazine?" tanya Natsu

"Ia bilang nanti akan dijelaskan" jawab Ren

Tiba-tiba Lucy berlari melewati trotoar didekat lampu merah dimana mobil Natsu berada. Mata pemuda pink itu menyipit melihat penampakan dipagi hari seperti ini. Mobil kembali melaju, melewati Lucy yang sedang berlari marathon. Natsu mengernyitkan dahi ketika melewati gadis berambut coklat itu, hingga tiba-tiba . . .

"Berhenti" kata Natsu tiba-tiba. Ia segera keluar dan bersandar dengan angkuh dimobil, menunggu Lui berlari melewatinya. Ia akan membalas perlakuan Lui kemarin. Ren hanya geleng-geleng dengan sikap si bos yang berubah drastis, sepertinya ada sesuatu menarik yang sudah menyedot perhatian Natsu. benar saja, Lui berlari mendekat . . .

"Sedang marathon, nona?" goda Natsu, seketika Lui berhenti. Ia menoleh dan memandang sinis Natsu

"Kita bertemu lagi, Pinky! Aku sedang sibuk, jadi menyingkir atau kutendang seperti kemarin lagi" ancam Lui dan bersiap berlari lagi

"Galaknya . . ." cibir Natsu, seketika Lui menoleh dan melotot

"Diam kau Pinky! atau kujahit mulutmu itu!" kata Lui kasar mengacungkan kepalan tangan kanannya

"Tuan, kita akan terlambat" kata Ren menurunkan kaca mobil

Lucy menoleh kebelakang Natsu, dilihatnya supir Natsu yang tergolong muda dan tampan. Oh ya ampun, itu adalah Ren sang fans beratnya semasa SMA. Ia-pun menyeringai.

"Ini mobilmu?" tanya Lui dan dijawab anggukan oleh Natsu

"Bagus" kata Lui dan tanpa permisi menggeser badan Natsu dan masuk mobil

"Antarkan aku, nanti kubayar. Tolong" pinta Lui

Natsu segera masuk dan memberondongi Lui dengan berbagai macam pertanyaan. Memangnya siapa dia hingga harus membiarkan Lui menumpang mobilnya dan mengantarkannya ke tujuan? Memangnya ia taxi online? Diusirnya Lui, namun gadis itu kekeh tak mau keluar. Ditariknya tangan Lui namun gadis itu ternyata kuat. Alhasil terjadilah aksi tarik menarik antara ia dan Lui. Lui emosi, ditariknya tangan kanannya dengan sekuat-kuatnya hingga Natsu tertarik dan jatuh tepat diatasnya. Wajah mereka sangat dekat, bibir mereka hampir bersentuhan, deru nafas Lui bisa Natsu rasakan. Nafas yang teratur dan hangat, deru nafas sama seperti milik seseorang yang selalu ia rindukan. Sedangkan Lui, ia tidak sanggup bergerak, mata Onyx Natsu sunggu membiusnya. Mereka tetap seperti itu sampai suara Ren menginterupsi.

"Ehem" Ren pura-pura batuk

Keduanya membenahi diri, salah tingkah. Wajah Lucy kembali memerah, ia mengalihkan pandangannya dan menggibaskan tangannya seperti orang kepanasan.

"Oh, ada apa denganku? Ingat, Aku hanya ingin mempermainkannya, ya mempermainkan dan balas dendam, hanya itu. tak lebih" kata Lucy dalam hati

"Kenapa denganku? Aku benar-benar hampir terbawa suasana dan menciumnya. Sadarlah, dia bukan Lucy" kata Natsu dalam hati

Ren menjalankan mobil.

"Anda mau kemana nona?" tanya Ren

"Heart Magazine. Dan kumohon, cepat. Ada pertemuan penting pagi ini jadi cepat ya" jawab Lucy dan memerintah

"Kau bekerja disana?" tanya Natsu tak percaya dan melihat penampilan Lui dari atas sampai bawah, berantakan. Ya . . . walaupun patut ia akui gadis disampingnya itu masih tetap cantik.

"Kau kira aku pengangguran?" tanya Lucy

"Hei!" teriak Natsu tidak terima, ia kan bicara baik-baik, gadis ini benar-benar pandai membuatnya naik darah. Kalau ia tidak mengingat sopan santun dan belas kasihan maka ia akan menendang gadis disampingnya ini keluar. Masa bodoh dengan hukum.

Sampailah mereka di Heart Magazine. Lui keluar begitu saja tanpa membenahi pakaian atau sekedar membawa heelnya. Ia membungkuk berterimakasih pada Ren dan pergi tanpa berterimakasih pada sang pemilik mobil.

"Hei!" teriak Natsu lagi

"Tuan, Sepatu nona itu tertinggal" kata Ren

"APA?" kata Natsu

Lui masuk ke kantor dengan penampilan yang tidak karuan terlebih bertelanjang kaki. Sungguh hal yang biasa bagi mereka. Lui memang seorang CEO dan model ternama, ia sering mengenakan pakaian yang hanya satu-satunya di dunia tapi ia juga memiliki sisi serabutan dan masa bodoh. Juvia yang menunggu di lobi sudah bersiap diri karena . . . Lui melemparkan blazer padanya.

"Carikan aku pakaian dan ponsel baru" perintah Lui dan masuk Lift diikuti Juvia

...

Pukul 10.30 Meeting Room kelas 1, Heart Magazine. Ruang Meeting yang hanya mampu menampung 4-6 orang dengan dekorasi ala kerajaan Inggris. Jellal dan Natsu tengah menunggu sang CEO. Jellal menjelaskan bahwa mereka akan membujuk sang CEO untuk menjadi model mereka dalam peluncuran hotel dan resort Ferdra Hotel. Jellal berpendapat bahwa menjadikan Lui Heart sebagai ambassador mereka akan sangat menguntungkan.

"Lui?" tanya Natsu

"Sama dengan nama gadis itu" kata Natsu dalam hati

"Lui Heart" kata Jellal menambahkan

"Lui Heart?" tanya Natsu

"Kalau yang ini sepertinya pernah dengar, dimana ya? Ah, aku ingat papan iklan! Benar! Lui Heart sang Model kelas dunia dan CEO Heart Magazine. Sungguh disayangkan ada seseorang yang memiliki nama dan wajah sama hingga merusak kesanku padanya" kata Natsu dalam hati

Pintu terbuka, Jellal sudah bersiap. Ia memang sudah sering bekerjasama dengan Lui, maka dari itu ia tahu seberapa sulitnya meyakinkan Lui untuk bekerjasama terlebih memintanya sebagai ambassador. Lui masuk dengan balutan dress selutut berwarna cream ketat yang melekat sempurna ditubuhnya, ditambah blazer hitam nan mewah yang hanya dikenakan dibahu, rambut yang dikucir satu dibelakang, dan heel berhias berlian berwarna emas. Sungguh mewah dan menawan. Dan jangan lupakan kalung cantik berliontin bulan memeluk matahari yang selalu ia kenakan. Natsu tercengang, bukan karena kecantikan Lui melainkan kalung dilehernya. Lui duduk dengan anggunnya di kursi seberang, berhadapan dengan kedua CEO Tampan bersurai biru dan pink. Sedangkan Juvia berdiri di belakang Lui.

"Lama tak bertemu, Jellal" sapa Lui

"Kau terlihat semakin cantik saja, Lui" puji Jellal terus terang

"Kau semakin pintar mengumbar kata-kata, Jel-lal-kun" jawab Lui seraya tersenyum jahil

Mata Natsu tak bisa lepas dari kalung yang dikenakan Lui. Kalung itu, bukankah miliknya? Dan seingatnya ia sudah meminta Wendy untuk membuangnya? Kenapa bisa? Apa ini kebetulan? Apa Lui tidak sengaja membeli kalung yang sama seperti miliknya? Atau . . . Natsu mengarahkan pandangannya ke arah wajah Lui. Ia memandanginya lama hingga sang empunya menegurnya . . .

"Jellal, apa ini rekan bisnis yang kau katakan? kenapa ia memandangiku seperti itu?" tanya Lui

Jellal menyikut Natsu, seketika sang empunya sadar.

"Maaf" jawab Natsu sopan seraya menundukkan kepala

"Dia, kau tahu kan, Natsu Dragneel dari Dragneel Corp." Kata Jellal

"Ah, anda rupanya. Tidak kusangka akan bertemu anda lagi, Pinky-san" kata Lui kemudian

Jellal mengernyitkan dahi, ia tidak paham apa yang terjadi. Sedangkan Natsu ia masih mencerna keadaan juga. Pinky? Hanya satu orang yang berani menyebutnya seperti itu, siapa lagi kalau bukan gadis pemarah nan bossy, Lui. Tunggu, Lui yang ia maksud kan si gadis yang mirip Lui Heart, gadis yang dengan seenaknya menumpang mobilnya. Natsu terhenyak, ditatapnya Lui dengan pandangan terkejut.

"KAU?" tanya Natsu

"BINGO! Terimakasih atas tumpangannya, dan jangan lupa kembalikan mantelku yang kemarin" kata Lui

"Jadi, kau Lui Heart itu?" tanya Natsu kemudian, ia kesal karena merasa dibodohi dan dibohongi terlebih oleh seorang gadis.

Lui menggangguk senang. Jellal memandangi keduanya, kemarin?

"Kalian saling kenal?" tanya Jellal

"TIDAK!" jawab Natsu

"YA" jawab Lui

"Hei, yang mana yang benar?" tanya Jellal

"Lupakan itu, aku sibuk jadi segera saja, Jellal. Kenapa kau mengajukan kontrak kerjasama yang isinya aku sebagai ambassador?" tanya Lui kemudian. Natsu memandangnya tidak suka, ia belum selesai. Namun ia menyeringai, otaknya baru saja mendapatkan sebuah ide.

"Kau tentu tahu alasanku kan" jawab Jellal

"Aku menolak. Sebagai gantinya aku punya banyak model untuk kau kontrak, kau bisa pilih salah satu dari mereka. Aku akan membantumu menghubungi Heart Entertainment" tawar Lui

"Kami tidak bisa jika bukan kau. Kami sudah menghubungi Heart Entertainment dan mereka mengizinkan kami untuk menjadikanmu ambassador kami" jelas Jellal

"Dasar ayah! Akan kulengserkan dia nanti" umpat Lucy dalam hati

"Aku menolak" jawab Lui pasti

"Kami akan membayarmu sesuai yang kau minta. Maka dari itu kami membawa investor utama kami" kata Jellal

"Kenapa kita harus mengontrak model yang tidak mau diajak kerjasama? Setenar apapun dia, seberkelas apapun dia kalau dia tak mampu bersikap profesional kenapa harus? Aku tidak mau membuang uangku untuk hal seperti itu" kata Natsu, ia penasaran dengan tanggapan Lui selanjutnya

Jellal melotot. Lui tentu tersindir, ia dibilang tidak profesional? Apa Investor dihadapannya sangat percaya diri hingga tak menyadari seberapa berpengaruhnya dia?

"Saya akan berusaha tidak memasukkan hati candaan anda" kata Lui menanggapi

"Saya serius, waktu kami tidak banyak. Sekali lagi saya menawarkan, jika anda bersedia, kami akan memberikan satu kamar VVIP untuk anda huni selama 2 tahun tanpa membayar dan selama 2 tahun pula anda bisa menikmati fasilitas kami tanpa biaya. Jika tidak, mohon berikan alasan kenapa anda menolaknya" kata Natsu

"Saya menolak, ada banyak hal yang harus saya urus sebagai CEO. Pekerjaan model akan saya ambil jika kontraknya tidak terlalu mengikat" jawab Lui

"Bagaimana kalau dengan menjadi ambassador kami anda tidak perlu terikat kontrak dengan yang lain sebagai model? Tentu kami akan mengusahakan semuanya sesuai dengan schedule anda sebagai CEO" tawar Natsu lagi

"Setuju" jawab Lui tanpa ragu. Diam-diam Natsu tersenyum puas karena merasa sudah menang.

"APA? Dia setuju? Mudah sekali? sebelumnya aku membujuk hal yang sama tapi ia tidak mau, apa karena Natsu? dasar Lucy" kata Jellal dalam hati

"Kuanggap kau setuju, Lui. Kau tidak bisa membatalkan kontrak atau kau membayar dendanya" kata Jellal

"Tenang saja, aku bukan orang yang akan mengingkari janji" jawab Lui

"Tapi aku ingin menambahkan satu lagi kesepakatan. Kalau aku jadi ambassador, aku ingin model pria-nya adalah Dragneel-san" kata Lui

"APA?" Natsu berteriak. Ia tidak habis fikir akan kembali diserang setelah menjatuhkan lawan. Kesialan apa lagi yang menimpanya.

"Maaf, saya tidak setuju dengan kesepakatan tambahannya" kata Natsu

Jellal menghela nafas, ini keputusan Natsu. Ia sudah pusing dari tadi, diambilnya teh hangat yang tersedia dimeja.

"Kalau begitu akan saya bocorkan pada khalayak publik tentang ajakan tidur anda kemarin" kata Lui

Seketika Jellal menyemprotkan minumannya. Ia tersedak-sedak, Juvia mengambil tissu dan menyerahkannya pada Jellal untuk membersihkan jas dan kemejanya yang sedikit basah.

"Ap-apa yang kalian bicarakan?" tanya Jellal

"Apa yang anda maksud?" tanya Natsu dengan informal

"Kau tidak ingat? haruskah aku mengingatkannya? Jelas-jelas anda menanyakan berapa tarif . . ." tanya Lucy

"Baik, cukup. Aku setuju. Dan jangan pernah katakan yang aneh-aneh atau kau akan kutuntut" ancam Natsu

"Kau juga akan kutuntut atas tuduhan pelecehan seksual" kata Lui santai

"Kau yang akan kupenjarakan atas tuduhan pencemaran nama baik dan pidana berlipat" balas Natsu

"Kalau begitu kita sama-sama saja dipenjara, dan akan kuhajar kau nanti disana" jawab Lui seraya menandatangani kontrak

Perempatan siku-siku muncul didahi Natsu. Lui benar-benar menguji kesabarannya, andai saja ia bukan perempuan, mungkin sudah ia banting diatas matras atau menghajarnya meski itu didalam mimpi.

Malamnya Lui pulang setelah bekerja seharian tentu diantar oleh Juvia. Ia mengeluh karena Sting selalu sibuk dan hampir tidak ada waktu untuknya. Apa memiliki calon suami sorang dokter harus semenyiksa ini? ia berjalan dengan gontai, sekali lagi ia melepas heelnya. Sungguh lelah hari ini. Pintu lift hendak tertutup, namun Lui dengan segera menekan tombol dan lift kembali terbuka. Betapa terkejutnya ia mendapati sosok dihadapannya. Natsu. Natsu mendengus, kenapa lagi dengan hari ini? kenapa Lui selalu berada didekatnya seperti virus? Diliriknya Lui yang berpakaian elegant tapi bertelanjang kaki. Mereka saling diam hingga pintu lift terbuka di lantai 10. Mereka berdua keluar, Natsu melirik Lui tak suka.

"Kau mengikutiku?" tanya Natsu

"Harusnya aku yang mangatakannya. Aku ini selebriti juga, kau yang menguntitku!" kata Lui tidak terima

Natsu hanya menghela nafas kasar dan menuju apartemennya yang bersebelahan dengan Natsu. Mereka menoleh, saling menatap, kebetulan apa lagi ini? batin Lui. Tapi tentu tidak dengan Natsu, harinya sudah rusak karena Lui apalagi nanti kedepannya? Ia kan diharuskan tinggal di London selama 1 tahun untuk mengatasi perusahaan cabang dan kerjasama dengan Fernandes. Tidak mungkin ia pindah, mengingat betapa sulitnya mendapat apatemen mewah dan sesuai seleranya di negara ini.

"Kita bertetangga rupanya" kata Lui dengan cengirannya

Natsu mendengus dan masuk kedalam seraya membanting pintu. Yang ditinggalkan hanya tersenyum senang. Namun ketika masuk, moodnya seketika berubah.

"ASTAGA! Ulah siapa ini?" tanya Lui menyadari keadaan apartemennya

Ponsel Lui berdering, lebih tepatnya ponsel baru dengan nomor yang sama. Panggilan dari Erza. Lui menggangguk tanda setuju, ia meyambar kunci mobilnya dan kembali keluar. Erza mengajak Lui untuk minum bersamanya, Erza tengah bosan. Mereka minum-minum sampai larut malam. Lui bercerita tentang pertemuannya dengan Natsu dan kejadian yang dialaminya hingga membuat Natsu menahan amarah.

"Kau tahu Erza, dia sangat lucu ketika menahan marah. Tak kusangka ia bisa menghilangkan kebiasaannya memukulku dulu" kata Lui ditengah mabuknya

"Kubilang jangan bermain dengan perasaan Lucy, kau tahu kan dulu Natsu juga begitu?" kata Erza

"Aku berbeda, aku hanya ingin menyiksanya sedikit saja, membuatnya marah tiap hari dan memastikan ia menderita" jawab Lui dalam mabuknya

"Tapi . . hik, dia tampan hik jugaaaaaaaaaa" kata Lui kemudian pingsan

"Kau mabuk Lui, ayo kita pulang" kata Erza

Erza memanggil Supir pengganti dan meminta untuk mengantarkan Lui pulang karena ia juga dalam keadaan mabuk. Akan sangat berbahaya jika ia berkendara terlebih ini hampir tengah malam. Lui sampai di apartemennya dengan selamat. Ia terhuyung-huyung masuk ke lift. Dan disinilah ia berdiri. Di depan apartemennya. Ditekannya tombol disamping pintu apartemennya. Ia mengganti passwordnya dengan setengah sadar. Kemudian ia terduduk karena tidak kuat berdiri. Tak lama kemudian

Password anda salah, mohon masukkan kembali password anda

Password anda salah, mohon masukkan kembali password anda

Password anda salah, mohon masukkan kembali password anda

Password anda salah, mohon masukkan kembali password anda

Natsu yang tengah tidur merasa terusik. Siapa malam-malam begini membuat ulah dengan pintu apartementnya. Pasti orang itu sudah gila. Dengan kesal ia segera menuju ke pintu dan dilayar monitor menunjukkan Lui yang tengah mencoba menekan-nekan tombol password di pintunya. Natsu menghela nafas kasar, ia mengacuhkannya dan beranjak pergi. Terserah jika ia dibilang tega, bukannya tega hanya saja ia malas melayani orang mabuk. Hei, ia saja seorang pria tidak suka namanya minum alkohol. Namun langkahnya berhenti dikarenakan . . .

"Pintu ajaib, terbukalah!" racau Lui

"Hei, kau bercanda denganku ya? Apa kau ingin merasakan tendangan mautku? Baiklah. Aku ini atlet taekwondo berbakat. Jangan remehkan aku" kata Lui mulai bersiap

Natsu terbelalak. Bisa-bisa pintunya rusak kalau begitu, dengan segera ia membuka pintunya dan Lui yang berlaripun menubruknya hingga ia terjengkang kebelakang.

UKH

Punggungnya sakit, diatasnya sangat berat. Dilihatnya surai coklat, siapa lagi kalau bukan Lui. Gadis sangat kurangangajar. Beraninya ia menimpa pemuda single nan tampan macam dia, jika ada yang melihat bakal jadi bahan utama di muka publik. Ia menggeser tubuh Lui dan membuangnya kesamping. Dipegangnya punggungnya yang mungkin memar akibat berbenturan dengan lantai.

"Hei, bangun" kata Natsu seraya menggoyang-goyangkan tubuh Lui

"Sebentar lagi, Sting. Aku masih mau tidur" kata Lui

"Sting?" Tanya Natsu tidak paham

"Apa ini kebetulan lagi?" tanya Natsu dalam hati

"Hei, pulanglah ke rumahmu. Aku tak mau jadi bahan utama di internet besok jika menampungmu. Cepat bangun dan pergi. Kau bisa kutuntut atas tuduhan ketidaknyamanan" kata Natsu dengan geram, bagaimana ia tidak geram, sudah berapa kali ia dibuat kesal oleh ulah Lui? Padahal baru dua hari mereka kenal.

"Sting jahat. Sebentar lagi" kata Lui semakin nyenyak tidur dilantai

"Aku bukan Sting, jadi cepat pergi, nona Lui Heart" kat Natsu dengan sabarnya

Lui mengulurkan kedua tangannya.

"Gendong" pinta Lui

"APA?" perempat siku-siku kembali muncul di dahi Natsu. Akhirnya ia mengalah dan menggendong Lui ke depan apartemennya.

"Berapa passwordnya?" tanya Natsu

"190615 hik" jawab Lui. Natsu menekan password tapi . . .

Password anda salah, mohon masukkan kembali password anda

Ditekan lagi

Password anda salah, mohon masukkan kembali password anda

Lagi . . .

Password anda salah, mohon masukkan kembali password anda

Habis sudah kesabarannya. Dilihatnya Lui yang berantakan dan tidak berdaya, dirogohnya ponselnya guna menghubungi seseorang bernama Sting, namun naas ponselnya dipassword juga. Kesialan apa lagi ini? Ia menghela nafas dan kembali membawa Lui ke apartemennya. Ia menidurkan Lui disofa dan menyelimutinya. Ketika ia menyelimuti Lui, ada perasaan aneh kembali menghampirinya, desiran halus mulai mengalur dihatinya. Jantungnya berdegup lebih kencang, diamatinya wajah Lui dengan seksama. Dengan Ragu ia menyentuh rambut Lui, lembut. Wajah Lui, lembut . . .

"Wajahnya, matanya, hidungnya, bibirnya, semuanya mirip Lucy. Apa ini efek karena terlalu merindukanmu hingga otakku sudah mulai tak waras lagi?" tanya Natsu dalam hati

"Hiks, aku membencimu" kata Lui dalam tidurnya dengan meneteskan air mata

Natsu terbelalak. Apa yang baru saja ia dengar? Kenapa hatinya seraya dililit benang kembali hanya karena satu kalimat Lui? Kenapa rasanya seperti mendengar kembali perkataan Lucy saat itu? apa Lui adalah Lucy? atau apakah Lui gadis yang dikirim tuhan untuknya, dan untuk menghukumnya? Tidak, ini terlalu mustahil jika disebut kebetulan. Ditatapnya Lui seksama, diusapnya wajah Lui dan didekatkannya wajahnya pada Lui, deru nafas teratur Lui dapat ia dengar. Perlahan Natsu semakin mendekatkan wajahnya dan mencium Lui dengan lembut. Ia memejamkan mata, merasakan betapa manis dan lembutnya bibir Lui ditambah sensasi wine yang telah Lui minum.

Esoknya. Alarm Lui kembali berdering. Natsu yang sedang menyiapkan sarapan untuk dirinya merasa berisik. Ia mendekat dan mendapati Lui tengah meraba-raba meja mencari ponsel. Namun ketika ia mendapatkannya, ia melemparnya tepat kearah Natsu. Dengan sigap Natsu menangkapnya. Ia mematikan alarm dan geleng-geleng kepala mendapati betapa anehnya Lui. Sikap sembrononya benar-benar menjauhkan kesan Lucy pada dirinya. Tunggu, semoga saja ia tidak ingat kejadian semalam. Akan sangat memalukan jika Lui ingat ia menciumnya saat tidur.

"Hei, pemalas. Bangun. Bangun dan pulang sana" kata Natsu membangunkan Lui

Lui bangun dengan malas, rambut coklatnya berantakan. Ia merasa mual, dengan segera ia menuju westafel dan muntah. Natsu mengernyit tanda tak suka. Tanpa sopan santun, Lui mengambil botol air di kulkas, meneguknya habis dan meremas botolnya.

"Fiuh, serasa hidup kembali" kata Lui

"Hlo, kau? Kenapa kau dirumahku?" tanya Lui

"Aku yang harusnya bilang kenapa semalam kau menekan-nekan password rumahku" kata Natsu memperagakan Lui semalam

"Eh?" Lui menaikkan satu alisnya tanda tak paham

Kini Natsu mendorong Lui keluar dari apertemennya. Lui berontak, setidaknya Natsu memberikan ia sarapan.

BLAM

Pintu tertutup. Namun kembali terbuka, tangan Natsu terulur memberikan jas, ponsel dan heel milik Lui. Lui cemberut dan merebut semuanya. Natsu kembali menutup pintu dengan keras. Lui tak ambil pusing toh lumayan juga sudah membuat Natsu uring-uringan dipagi buta. Ia tersenyum sembari menekan password apartemennya. Namun . . .

Password anda salah, mohon masukkan kembali password anda

"Are? Bagaimana mungkin?" kata Lui dan kembali menekan passwordnya namun hasilnya sama. Jangan-jangan ia mengganti password saat ia mabuk, bagaimana ia bisa masuk ke dalam? Ok tenang, ia bisa mengubungi Juvia. Namun belum sempat ia menekan tombol call, baterainya habis dan ponselnya mati. Ia mengeram kesal, tidak mungkin ia seberantakan ini menemui security. Ia pasti dikira habis dianiaya, berantakan sih boleh tapi beda ceritanya kalau habis mabuk. Akan jadi berita besar nanti. Ia kembali menekan bell pintu Natsu. Natsu melihat dari monitor, Lui nyengir minta tolong.

Sejak saat itu, Lui sering sekali menjahili dan membuat kesal Natsu. Seperti memintanya membenarkan saluran air, mengusir kecoa yang sebenarnya tidak ada atau memijat kakinya dengan alasan kram tidak bisa jalan bahkan sekedar mengambil ponsel. Mereka juga sering bersama berangkat ke kantor dengan dalih mobilnya rusak dan Lui minta diantarkan. Mereka juga menjalani pemotretan bersama dan iklan bersama untuk Ferdra Hotel. Tidak sedikit juga yang membicarakan kedekaan keduanya. Terlebih Lui suka sekali mengekori dan menempel pada Natsu layaknya lem. Sudah berkali-kali Natsu mencoba melarikan diri namun Lui seperti paranormal yang bisa menemukannya dengan mudah. Lui tahu kebiasaan Natsu, apa yang ia suka bahkan tahu kalau Natsu tidak suka kacang. Padahal setahu Natsu tidak ada orang lain yang tahu selain anggota keluarganya. Ia menjuluki Lui sebagai nenek sihir. Meski tak dapat dipungkiri, semenjak Lui mengganggu hidupnya ia mulai bisa mengobati kekosongan hatinya. Disisi Lain, Lucy mulai lupa tujuan awalnya, ia sudah terbiasa dengan aktivitas barunya yaitu mengganggu Natsu. Ia juga tidak memperdulikan nasihat Erza yang selalu memintanya untuk berhenti.

Dan seperti sekarang ini, ia harus menunggui Lui berdandan hanya untuk menghadiri acara peresmian Ferdra Hotel dan Resort. Natsu sudah menunggu dengan tidak sabar di luar pintu apartemen Lui. Digedornya pintu Lui sesekali meminta gadis - ralat nenek sihir itu untuk cepat. Lui keluar, ia mendengus kesal. Sedangkan Natsu terpana. Hari ini Lui mengenakan Wig sebahu berwarna blonde. Tidak, sosok dihadapannya bukan Lui sekarang. Dipandangan Natsu kini Lui adalah Lucy. Tubuhnya bergetar, matanya mulai berkaca-kaca, tangannya terulur dan disentuhnya pipi Lui dengan lembut.

"Eh? Kau kenapa?" tanya Lui dengan sengaja, ia tahu kalau Natsu tengah terguncang sekarang

"Kau menyadari betapa cantiknya nenek sihir ini? huh?" cibir Lui yang langsung menyadarkan Natsu dari alamnya. ia merutuki dirinya sendiri karena hampir saja ia lupa diri dan kelepasan.

Di pesta, banyak yang hadir. Para bawahan Lui, lebih tepatnya Heart Magazine meliput berita secara ekslusif karena hanya mereka yang diizinkan masuk kedalam. Lui tampil serasi bersama Natsu. Pakaian mereka senada yang memang dirancang khusus oleh Erza Scarlet untuk acara ini. Semua tamu undangan membicarakan mereka yang terlihat serasi, mereka juga memuji Natsu yang bisa mendapat kesempatan emas menjadi pendamping Lui sebagai ambassador. Tak hanya itu, Natsu juga begitu perfect berpose didepan camera dan bisa menyeimbangi Lui yang model kelas dunia. Ia hanya nyengir kaku, mereka semua tidak tahu betapa mengerikannya model tercinta mereka. Ingin sekali ia mengumbar fakta Lui agar popularitasnya merosot. Huh, mungkin hanya akan tercapai didalam mimpi. Mereka bergandengan layaknya pasangan menyambut tamu hingga salah satu tamu yaitu Elfman Strauss sang mantan calon kakak iparnya bertanya pada Lui.

"Kapan kau dan Sting menikah, Lui?" tanya Elfman

"Entahlah, aku dan dia masih sibuk. Aku masih ingin mengejar karir, Elfman-san" jawab Lui. Bagaimana mungkin ia mengatakan sejujurnya kalau Sting belum melamarnya.

"Hei, kau ini kan cantik. Kalau Sting mencampakkanmu aku bisa mencarikan yang lebih baik dari dia" goda Elfman yang kemudian ia disikut oleh sang istri, Evergreen yang menggenggam tangan anak laki-laki berusia 5 tahun. Anak itu menatao takjup Lui. Lui tersenyum, melepaskan genggamannya dilengan Natsu dan menunduk.

"Kau tambah tinggi ya, Gary" puji Lui

"Tentu saja, Lui-san" jawab Gary malu-malu. Lui gemas dan menggendung Lui. Kemudian ia mendekat kearah Natsu dan memamerkannya.

"Natsu, bagaimana? Aku sudah pantas menjadi seorang ibu?" tanya Lui

"Tentu, kau kan sudah tua" jawab Natsu asal dan mengundang gelak tawa orang-orang sekitar, mereka tak menyangka kalau Natsu pandai bercanda padahal sebenarnya ia memang sedang mencibir Lui. Lui mendengus, kesal.

"Gary, apa bibi Lui cantik?" tanya Lui dan Gary mengangguk

"Cium bibi dong" pinta Lui dan otomatis dituruti oleh bocah 5 tahun itu. Lui tertawa saking senangnya, sedangkan Natsu menatap tajam Gary. Beraninya bocah itu mencium gadisnya, tunggu. Gadisnya? Sejak kapan? Ia sadar kalau Lui akan menikah dengan Sting atau siapalah itu yang namanya mirip dengan temannya. Natsu meledek Lui dan begitu pula sebaliknya, semua tak henti-hentinya tertawa begitupula dengan Jellal dan Erza yang memandang dari jauh.

"Bagaimana kalau Natsu tahu?" tanya Jellal

"Entahlah, hanya mereka yang tahu. Biarkan semuanya mengalir dengan sendirinya" jawab Erza

Tiba-tiba . . .

"Lui" panggil seseorang

Lui menoleh masih dengan menggendong Gray. Betapa terkejutnya ia melihat Sting berpakaian rapi dan mendekat kearahnya. Natsu terbelalak, ia tidak menyangka kalau Sting yang dimaksud Lui memang benar teman sekelasnya dulu. Saingan cintanya. Sting datang dan langsung mengecup pipi Lui. Lui blushing berat, ia malu pada tamu undangan. Gary menunduk malu. Evergreen meminta Gary dari gendongan Lui. Membiarkan kedua padangan itu.

"Bagaimana kau bisa datang?" tanya Lui

"Aku kan juga diundang" jawab Sting santai

"Kau tidak bilang padaku" kata Lui tak terima

"Maaf" jawab Sting seraya tersenyum dan menarik tangan Lui untuk berada didekatnya. Tentu ia melakukannya dengan sengaja. Bisa dilihat kalau Natsu memandangnya tidak suka. Namun pemuda itu tetap mendekat dan menyapanya. Mereka bertukar sapa. Dalam hati Natsu ingin sekali bertanya tentang Lucy namun matanya sudah gelap sekarang. Difikirannya sekarang yang ada hanyalah Lui. Lui Heart seorang.

"Sting, kumohon lepaskan tanganmu" bisik Lui, entah kenapa ia kurang nyaman. Apa karena ia sudah biasa dengan Natsu? TIDAK MUNGKIN! Ia hanya ingin bermain saja, hanya itu. tapi apa? Kenapa rasanya berat melihat tatapan mata Natsu yang seolah mengintimidasinya?

Pesta berakhir. Sting mengantar Lui pulang, mereka tiba di depan halaman apartemen. Sting melepas sabuk pengamannya. Lui menunuduk, ia merasa bersalah. Sting tidak bicara sedari tadi setelah mereka bertemu Natsu. Begitupula dengan Natsu yang mengacuhkannya setelah bertemu dengan Sting. Suasana macam apa ini?

"Senang melihatmu bisa menatap Natsu dengan baik-baik saja" kata Sting kemudian

"Kita tidak ada hubungan apa-apa" kata Lui menanggapi

"Kau tahu alasanku belum melamarmu sampai sekarang?" tanya Sting, Lui-pun menoleh. Menatap Tunangannya dengan seribu tanda tanya.

"Karena dihatimu tidak pernah ada ruang untukku. Seberapa keras aku mencoba tapi kau tidak bisa atau memang tidak mau membuangnya" kata Sting dengan nada penuh luka

"Tidak, Aku tidak mencintai Natsu. Kau tahu kan aku sudah tidak ada perasaan untuknya?" elak Lui

"Benarkah? Kau bahkan tidak pernah membalas ciumanku. Apa kau tak sadar? Setiap kali kita berciuman aku hanyalah menjadi pihak aktif?" kata Sting dengan suara serak menahan air mata yang siap meludak.

Ia tahu kedekatan Lui dan Natsu belakangan ini, maka dari itu ia selalu berdalih sibuk. Selama itu ia berusaha meyakinkan pada dirinya kalau Lui mencintainya, namun di pesta tadi, melihat mereka saling mencibir. Jujur, ia iri. Apa memang ia hanyalah pelampiasan? Sejak awal ia sudah tahu ini, bahwa Lui aka Lucy tidak pernah bisa memberikan hatinya untuk orang lain selain Natsu. Tapi kenapa sekarang ia menyesalinya? Harusnya ia segera melamar Lucy dan menikahinya sebelumnya. Namun ia memilih menunggu waktu yang tepat sampai Lucy benar-benar mencintainya. Tapi apa? Fakta mengatakan tidak akan pernah. Mata Lucy berkaca-kaca, ia sadar ia salah. Ia memang egois, harusnya ia melihat Sting sebagai seseorang yang selalu ada untuknya. Perlahan cairan bening itu menetes membasahi pipinya, sudah lama sejak ia terakhir menangis.

"Maaf" hanya satu untai kata yang mampu Lucy ucapkan, ia tertunduk dan terisak. Melihat Lucy yang seperti itu, Sting jadi merasa bersalah. Seharusnya ia tidak mengatakannya, semua hanya membuat Lucy kembali terluka. Gadis itu bergetar, ia kembali rapuh. Dengan perlahan Sting mendekatkan dirinya dan mengecup puncak kepala Lucy. Lucy menegang, air matanya semakin deras menyadari betapa Sting sangat mencintainya. Lucy mendongakkan kepala, matanya bertemu dengan saphire Sting, mereka terpaku. Mata Sting semakin sayu, ia mendekatkan dirinya pada Lucy, semakin dekat dan dekat. Ia bersiap mencium Lucy, namun tinggal beberapa centi saja, entah kenapa Lucy memalingkan wajahnya. Sting tersenyum getir mendapati dirinya ditolak. Sebenarnya bukannya Lucy tidak mau, tapi ia tidak siap. Karena seperti yang Sting katakan tadi, ia belum bisa membalas ciuman Sting.

"Maaf" ucap Lucy sekali lagi

"Tidak apa, jangan difikirkan" kata Sting

"Sting, beri aku waktu 2 minggu. Hanya 2 minggu, aku akan menyelesaikan semuanya. Semua masalahku dengan Natsu. Setelah itu mari kita menikah" kata Lucy melamar Sting

Sting terbelalak.

"Bagaimana jika tidak bisa selesai?" tanya Sting balik

"Aku akan pergi dari kehidupan kalian berdua" jawab Lucy pasti

"Jangan bercanda. Aku lebih baik memilih kau bersama Natsu daripada membiarkanmu pergi. Tapi bukan berarti aku berharap demikian" kata Sting membuat Lucy bergetar, dipegangnya kedua pundak Lucy

"Berjuanglah, aku akan menerima apapun keputusanmu kelak. Tapi berjanjilah jangan pernah katakan selamat tinggal atau menghilang dari hadapanku. Mengerti?" kata Sting dan Lucy-pun mengangguk dengan air mata yang mengalir tambah deras

Tanpa mereka sadari, sebuah mobil berhenti tak jauh dari belakang mereka. Menyaksikan adegan demi adegan kedua insan yang saling mencintai. Natsu menggenggam setirnya dengan erat. Tidak mungkin Sting bersikap sebegitu protektifnya pada seorang gadis kecuali Lucy. Tapi gadis itu bukanlah Lucy, darimanapun Natsu melihatnya, itu bukan Lucy. Karena setahunya Lucy tidak pernah bisa menatap matanya dengan berani, Lucy-nya adalah sosok yang lembut, sedikit pemberani, dan manis. Ia akan memerah jika terlalu lama menatap dirinya. Tapi, Lui tidak seperti itu meski wajahnya sangat mirip dengan Lucy.

"Ada apa denganku? Kenapa aku merasa sangat marah? Kenapa? apa aku jatuh cinta? Apa aku mengkhianati Lucy? tidak, aku hanya mencintai Lucy seorang. Bukan Lui, bukan!" gumam Natsu

"Tapi, kenapa ini?" tanya Natsu memegangi dada kirinya yang kembali terasa sakit

Natsu mengendarai mobilnya melewati mobil Sting dan masuk ke parkiran. Berlama-lama memandangi mereka hanya akan memperburuk dirinya. Lui keluar diikuti Sting, sebelum berpisah mereka sempat berpelukan. Sting mengusap rambut wig blonde pendek Lui kemudian mereka berpisah seraya melempar senyum getir.

Lui berjalan melewati Lobi dan menekan tombol lift karena baru saja lift itu hendak tertutup. Perlahan, lift kembali terbuka, tepat dihadapannya berdirilah Natsu. Pandangan matanya bingung, terluka dan sendu. Ia terlihat sangat frustasi, rambutnya berantakan dan matanya sayu. Ingin rasanya Lui mengucapkan satu kalimat, namun lidahnya kelu. Suaranya tiba-tiba tercekat di tenggorokan. Mulutnya kering dan bibirnya bergetar. Dalam hati, ia-pun berkata . . .

Perasaan yang tersembunyi mulai berteriak

Mengikrarkan janji dalam kuncian pandangan ini

Aku mencoba mencari keajaiban

Dalam kegelapan yang tak berujung

Jika aku terus berada disini, seperti ini

Aku takkan bisa melihatmu kembali

Suara hatiku memanggilmu

Namun kata-kata itu masih belum terucap

Dan aku hanya dapat mengungkapkannya dalam hati

Tepat setelah itu pintu lift kembali tertutup. Meninggalkannya seorang diri. Andai saja ia lebih kuat dan meneriakkan namanya, akankah semuanya berubah? Akankah semuanya selesai dan ia bisa kembali pada Sting? akankah? Namun hati Lui bimbang. Ia mulai ragu, apakah benar ia ingin memperjuangkan cintanya untuk Sting atau membiarkan Natsu menjeratnya kedalam jaring-jaring cinta nan menyakitkan.

Natsu frustasi. Ia mengambil cuti selama 2 minggu. Sang ayah tidak mempermasalahkannya, masih ada Ren yang menangani pekerjaan. Setiap hari ia hanya berdiam diri dikamar. Makan, nge-game tidak jelas, tidur, olahraga sampai kelelahan. Tak jarang juga Lui menekan-nekan bel rumahnya, menelfonnya dan mengiriminya banyak pesan untuk mengajaknya keluar. Tak ada satupun yang Natsu tanggapi, ia harus melupakan Lui. HARUS! Dan ini sudah 3 hari berlalu, Lui tak pernah lelah, ia bahkan sering berjongkok dan membawa bantal serta guling di depan pintu Natsu guna menarik perhatian tapi tetap diacuhkan. Karena kesal Natsu mencabut jaringan telfon rumah dan mematikan ponselnya. Setelah olahraga, Natsu menghidupkan laptop dan video calling masuk. Tertanda ID Ice Prince, siapa lagi kalau bukan Gray Fullbuster.

Natsu : Tumben sekali, ada apa? Kau menggangu liburku, Ice Freak

Gray : Habis olahraga ya? Lihat tuh keringatmu . . . kau sedang frustasi, kurasa sangat tepat momentnya.

Natsu : Jangan basa-basi, ada apa?

Gray : Aku hanya ingin menyapa, apa tidak boleh? Kau sensitif sekali, tidak biasanya.

Natsu : Bukan urusanmu

Gray : Itu urusanku, bagaimana kalau temanku sang Dragneel kembali ke rumah sakit?

Natsu : Tidak akan, kau fikir aku remaja labil yang dengan mudahnya depresi? aku sudah melewati masa-masa itu

Gray : Hei, hei. Santai kawan . . . masalah wanita ya?

Natsu : Sudah kubilang bukan urusanmu

Gray : Setelah 7 tahun akhirnya kau tertarik lagi dengan perempuan. Ceritakan, gadis mana yang membuatmu tertarik? Huh?

Natsu : Lui Heart

Gray : APA? LUI HEART? KAU GILA?!

Natsu : Kenapa kau berteriak?

Gray : Hei, dengar. Kau tidak tahu tunangannya? Hari ini Lui mengadakan konferensi pers. Ia akan mengumumkan pada khalayak umum kapan pernikahannya. Ia akan menikah, kau tahu? ME-NI-KAH

Natsu : Aku tahu. Tapi kan mereka belum menikah, hanya akan . . .

Gray : Kusarankan kau segera berobat

Natsu : Bagaimana aku bisa berobat saat Lui tidak mau pergi dari depan pintu apartemenku! Dia sudah seperti seonggok virus yang menempeli pintuku!

Gray : HAHAHAHAHAHA, kurasa kau harus menemuinya. Sepertinya itu memang mendesak

Natsu : Kau tak tahu? Dia pandai ber-acting, dia model papan atas. Selebriti dunia. Sering sekali dia menipuku dengan alasan ini itu hanya untuk menuruti kemauannya. Tidak! aku tidak akan keluar meski dia nangis darah sekalipun!

Gray : Kau tega sekali. Bagaimana jika karena kau ia tidak jadi menikah dan pergi dari hadapanmu seperti Lucy?

Natsu terdiam, ia mencerna kata-kata Gray. Dengan segera ia menutup laptop. Membiarkan Gray dengan sumpah serapahnya. Lui sudah bersiap dengan pakaian elegant-nya. Ia berdiri di depan pintu Natsu cukup lama, 30 menit lagi. Ia harus segera pergi. Dipandanginya tiket opera ditangannya, Opera One Partition Two Sides. Ia sudah bersiap pergi, namun lankahnya terhenti karena Natsu membuka pintu. Dengan semangat Lui mendekat dan membuka pintu. Dilihatnya Natsu yang bermandikan keringat, tubuh atletisnya hanya dibalut kaos lengan buntung dan tak lupa ia hanya mengenakan celana training pendek. Sungguh menawan, untuk sesaat Lui terpesona.

"Apa?" tanya Natsu sinis

"Ini" kata Lui menyerahkan selembar tiket opera

"Apa ini?" tanya Natsu

"Aku akan mengatakannya sekali jadi dengar baik-baik, Kutunggu kau besok di sana jam 07.00 malam. Jangan terlambat ya . . ." kata Lui dan beranjak pergi. Mata Natsu tak lepas dari pakaian yang dikenakan Lui, sangat modis dan elegan, dia pasti akan ke sebuah acara, tidak mungkin ia ke kantor dengan pakaian berlebihan seperti itu kecuali menemui klien bisnis.

"Kau mau menghadiri Pers?" tanya Natsu dingin

"Tidak, aku membatalkannya. Tapi bagaimana kau tahu?" tanya Lui polos

Natsu tak menjawab dan membanting pintunya. Lui cemberut tapi kemudian ia tersenyum, setidaknya usahanya tidak sia-sia. Ia akan melakukan hal yang ingin ia lakukan dengan Natsu seperti berkencan dan jalan-jalan. Mengganti waktu 7 tahun dengan 2 minggu miliknya. Setelah itu ia akan mengakui semuanya dan menyelesaikan perasaannya.

Di Magnolia, Gray tengah bervideo call dengan Juvia. Kekasih hati yang baru ia pacari selama 2 tahun ini. Awalnya Juvia terkejut karena disaat bekerja ia mendapat email dari Gray setelah sekian tahun. Saking senangnya Juvia bahkan bersedia lembur selama seminggu. Mereka dekat dan tak lama setelah itu jadian. Disitulah Juvia bercerita tentang pekerjaannya sebagai sekretaris sekaligus manager Lui Heart. Betapa terkejutnya Gray. Beralih ke masa kini, Gray bercerita tentang Natsu. Muncul kecurigaan pada benak mereka kalau Lui adalah Lucy.

Esoknya pukul 05.30 sore Lui sudah berdandan cantik. Ia mengenakan kemeja putih lengan tanggung dibalut rok peach selutut. Sepatu flat peach dan kali ini ia tidak mengenakan wig. Ia keluar diam-diam dan pergi duluan. Sedangkan Natsu, ia berolahraga seraya mendengarkan musik dengan volume keras. Bahkan matanya sama sekali tidak melirik jam dinding yang terus berputar.

Di luar gedung Opera Lui menunggu. Sudah sekitar 1 jam ia menunggu, sebantar lagi Opera akan dimulai. Ponselnya berdering, tertanda pesan dari Erza

Erza : Jangan memaksakan diri

Lui tersenyum getir membacanya. Ia tidak sedang memaksakan diri, hanya sedang berjuang saja. Kenapa Erza, Jellal bahkan Juvia sangat mengkhawatirkannya. Terlebih semalam ia juga mendapat telfon dari sang ayah agar tidak terlalu memaksakan diri. Sebenarnya siapa yang menjalani? Lui hanya menghela nafas. Jam terus berputar, para penonton sudah masuk, tinggal 10 menit lagi tapi Natsu tak datang. Lui mencoba menelfon tapi tak aktif. Apa ia yang terlalu berharap? Kalau Natsu seperti ini maka ia yang akan sulit. Sulit karena memakan waktu yang lama untuk kembali pada Sting. Dengan gontai Lui masuk ke gedung, ia duduk sendirian menyaksikan Opera One Partition Two Sides. Natsu selesai mandi, jam sudah menunjukkan pukul 07.00 malam. Ia mengambil pakaiannya acak dan mengenakannya. Dengan santainya ia melenggang mengambil air sambil menghidupkan televisi. Tak tahukah ia ada seseorang yang tengah menunggunya?

"Aku hanya akan mengatakannya sekali jadi dengar baik-baik. Aku . . . tetap akan menepati janjiku padamu sesuai permintaanmu. Kutunggu Minggu nanti di Cafe Mermaid Heel jam 10.00 pagi" kata Lucy

"Aku akan mengatakannya sekali jadi dengar baik-baik, Kutunggu kau besok di sana jam 07.00 malam. Jangan terlambat ya . . ." kata Lui

Natsu membelalakkan mata, ia melihat jam, sudah jam 07.08 malam. Tidak, kenapa ia bisa melupakan janji itu? janjinya dengan Lui, janji yang mengingatkannya dengan janjinya dulu saat Lucy mengajaknya berkencan. Dulu ia membiarkan Lucy, sengaja tidak datang karena terlalu marah hingga Lucy menunggunya seharian dan menghilang . . . mencoba bunuh diri. Tidak, itu tidak akan terulang kembali, ia memang marah pada Lui, lebih tepatnya pada dirinya sendiri yang mulai menyukai kehadiran Lui. Tapi ia tidak akan mengingkari janjinya, cukup sekali ia melakukan kesalahan, ia tidak mau mengulangi kesalahan yang sama atau ia benar-benar menjadi orang terkejam didunia. Natsu berganti pakaian, mengenakan jaket dan menyambar tiket beserta kunci mobilnya.

Jalanan macet. Tidak biasanya, Natsu mengeram kesal. Sudah 15 menit berlalu, Lui pasti menunggunya. Gadis itu memang sangat berbeda dari Lucy tapi kebodohan mereka sama. Bersedia menunggu orang lain meski belum tentu orang yang ditunggu akan datang. Seperti saat Lui menungginya di depan pintu selama berjam-jam tiap harinya. 07.39 Natsu sampai pada tempat yang dituju. Ia segera masuk dan mengedarkan pandanganya mencari sosok gadis berambut coklat, ia melirik nomor kursi di tiketnya dan mulai mencarinya. Ia heran, kenapa kursi Lui diduduki oleh orang lain, gadis yang duduk disana berambut blonde panjang. Ia duduk, tepat saat itu sebuah suara yang sangat familiar menyapa gendang telinganya.

"Kau terlambat, Natsu" kata Lui seraya menoleh. Natsu terbelalak, apa ia salah lihat? Kenapa dengan Lui? Kenapa Lui menjadi Lucy dalam sekejap? Bagaimana mungkin? Bibir Natsu serasa berat

"Kenapa? apa aku mengingatkanmu pada seseorang?" tanya Lui

"Lihat kedepan, bagian bagusnya akan dimulai" kata Lui, Natsu tak mampu berkata-kata, ia melihat adegan didepan dan betapa terkejutnya menyadari apa yang ia saksikan. One Partition Two Sides versi Opera. Dan didepan sana, Zen tengah menyiksa Elsa. Dada Natsu seraya nyeri bagai dililit ratusan benang tak kasat mata. Lui meliriknya, reaksi yang sangat ia prediksi. Reaksi yang membuatnya ikut merasakan sakit.

"Bagaimana? Apa kau ingat saat itu? saat kau menyiksaku tanpa belas kasihan?" tanya Lui aka Lucy dalam hati

Adegan demi adegan disuguhkan oleh para pemain, membuat para penonton ikut merasakan kepedihan cerita. Disaat Zen Paris tersiksa antara membunuh Elsa atau mempertahankannya. Tapi selama itu pula Lui terus melirik Natsu, menyaksikan adegan demi adegan perubahan mimik Natsu dan setersiksa apa ia.

"Apa sakit? Walaupun itu hanya kesalahpahaman, tidak bisakah kau berfikir jernih saat itu?" tanya Lucy dalam hati

"Kau membenciku tapi tak membiarkanku untuk pergi, aku membencimu tapi kau tak membiarkan aku berlama-lama merasakannya" lanjut Lucy

"Dan disaat aku sudah lelah . . ." kata Lucy tertahan

Adegan terakhir dalam Opera. Adegan yang sedikit berbeda dari Drama yang pernah mereka mainkan. Kedua pemain mengucapkan kata cinta bersamaan kemudian berciuman, namun tak lama kemudian Elsa menghembuskan nafas terakhirya. Ironis. Tepat saat itu pula Natsu meremas dada kirinya, Lui menyeringai puas. Akhirnya ia melihat dengan mata kepala sendiri kalau Natsu menderita.

Setelah melihat Opera, Lui mengajak untuk bermain ke game centre. Natsu masih dihantui memori saat dirinya bermain Drama dengan Lui. Tubuhnya bergerak tapi tidak dengan fikirannya. Bahkan sampai mereka selesai bermain game dan Lui mengajak jalan-jalan. Natsu masih dalam fikirannya, ia benar-benar kalut. Ia tidak menyangka kalau Lui mengajaknya melihat Opera itu, diliriknya Lui dengan tatapan curiga. Apa maksudnya? apa maunya?

"Natsu, Natsu lihat? Mereka jual jimat! Ayo kesana" ajak Lui menarik-narik lengan Natsu

Mereka berdua berdiri di hadapan pedagang kaki lima yang menjual jimat dari beberapa negeri seperti Jepang, Cina, Korea. Mata Lui berbinar-binar, diambilnya sebuah jimat dari jepang bertuliskan aksara 'Un'

"Apa ini tulisannya?" tanya Lui pura-pura tidak tahu

"Orang jepang membacanya Un yang berarti keberuntungan" jawab si pedagang

"Aku ambil satu, berapa?" tanya Lui

"3 Pound" jawab pedagang

"Mahal sekali, 1 Pound ya?" tawar Lui

"Nona, 2 Pound kalau begitu" tawar pedangan

"1,5?" tawar Lui

"2" jawab pedagang

"Baiklah" kata Lui pasrah dan mengeluarkan uang 2 Pound Sterling

"Ini untukmu" kata Lui menyerahkan jimat yang baru dibelinya pada Natsu

"Kenapa? kau kan yang beli, jika aku butuh aku akan beli" jawab Natsu datar. Lui tak mau menerima penolakan, ia meraih tangan Natsu dan meletakkan jimat keberuntungan itu disana.

"Anggap ini sebagai pemberia seorang teman, dan jadikan ini salah satu benda berhargamu" kata Lui dan melenggang pergi

"Apa dia kekasihmu?" tanya pedagang

"Dia cantik, tapi tidak seharusnya kau bersikap dingin padanya, didalam dia sangat rapuh bahkan akan hancur dengan sekali sentuhan. Jadi jaga dia baik-baik" kata pedangan seraya tersenyum

DEGH

Natsu kembali teringat saat ia hampir menginjak jimat keberuntungan milik Lucy. Padahal ia sendiri yang memberikannya saat merek kecil dulu. Tunggu, kenapa sikap Lui seolah seperti balasan Lucy untuknya? Diikutnya Lui dengan segera, ia harus memastikan sesuatu. Sejak tadi ia merasa Lui semakin aneh. Sikapnya semakin mirip dengan Lucy. diikutinya Lui sampai mereka masuk ke taman kota. Disana tidak terlalu ramai. Daun-daun tertiup oleh angin malam. Lui menghentikan langkahnya. Membiarkan angin berhembus menembus pakaian dan menusuk pori-pori. Mereka saling diam untuk beberapa saat hingga suara Lui memecahkan keheningan.

"Hei, Natsu" kata Lui

"Apa menurutmu tentang bulan?" tanya Lui tiba-tiba tanpa menoleh ke belakang

"Cahaya yang menyinari malam" jawab Natsu ala kadarnya, namun Lui menggeleng

"Bukan bulan yang menyinari, tapi matahari. Meski malam ia terus menyinari langit, meski jika malam ia hanya bisa memantulkan cahayanya lewat bantuan bulan" jawab Lui

"Kau tahu istilah The Moon That Embrace The Sun?" tanya Lui

Natsu terhenyak. Perkataan Lui baru saja mengingatkannya pada cerita sang nenek. Dimana bulan selalu memeluk matahari demi bisa menyinari malam yang gelap. Meski matahari jauh, dimanapun ia berada bulan tak gentar untuk selalu memeluk dan mendampinginya. Lagi, apa ini hanya kebetulan? Seingatnya ia tidak pernah menceritakan kisah itu pada siapapun kecuali Lucy kecil. Tapi bisa saja kan cerita itu dongeng yang diceritakan para nenek ke cucunya? Lui berbalik, ia menatap Natsu dan merogoh kalung dilehernya, ia menunjukkan liontin yang ia kenakan.

"Seperti ini" kata Lui

"Ini hanya ada satu-satunya didunia" kata Lui lagi

Natsu semakin terpaku. Katakan jika ini salah, sebelumnya ia berfikir jika itu hanya kebetulan Lui memiliki design kalung yang sama. Tapi jika ia mengatakan satu-satunya, maka pasti ia adalah . . .

"Lucy?" panggil Natsu setelah lama bungkam

"Lucy? siapa dia?" tanya Lui pura-pura polos

"Kau bersikap aneh dari tadi. Dan ya, aku akui kau memang mengingatkanku pada seseorang. Cinta pertamaku, Lucy. Lucy Heartfilia" aku Natsu. angin-pun berhembus, meniup helain rambut blonde Lui, mereka terpaut dengan jarak lima meter.

"Seberapa mirip dia denganku?" tanya Lui lagi

"Hampir semuanya" jawab Natsu

"Kurasa tidak. karena Lucy yang kau maksud bukan orang sepertiku, Lucy adalah gadis lemah lembut, pemalu tapi kadang sedikit pemberani. Ia juga selalu menyendiri dan menerima apapun yang orang lain lakukan padanya. Berbeda denganku. Aku tidak bisa untuk lemah lembut atau pemalu. Aku juga bukan penyendiri dan menerima begitu saja apa yang orang lain lakukan padaku" kata Lui panjang lebar

Mata Natsu membulat sempurna.

"Aku juga bukan gadis naif yang tidak akan membenci seseorang yang selalu menyiksaku. Dan aku tidak akan berterimakasih pada seseorang yang sudah membenciku kemudian mengatakan cinta padaku" aku Lui kemudian

"Tapi aku . . ." kata Lui dengan mata berkaca-kaca

"Aku tetap tidak bisa melupakan seseorang yang sudah menempati hatiku meski itu karena sebuah kebencian" kata Lui dengan cairan bening yang membasi kedua belah pipinya

"Aku, selalu meyakinkan pada diriku bahwa aku membencimu. Membalaskan semuanya tapi dengan bodohnya aku malah terjerat. Sudah kesekian kali aku terjerat bahkan . . . sekarang, hingga kurasa tidak ada tempatku untuk kembali" kata Lui lagi

"Aku membencimu, aku ingin sekali melupakanmu. Tapi kau selalu menghantuiku disetiapku memejamkan mata" kata Lui dan terisak, ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan

"Aku membencimu, Natsu" kata Lui kemudian

"Lucy?" panggil Natsu dengan suara serak, sungguh ingin sekali ia memeluk Lucy saat ini tapi akal sehatnya mengatakan tidak

"AKU BUKAN LUCY! LUCY SUDAH LAMA MATI SEJAK 7 TAHUN LALU!" teriak Lui

"Jika kau ingin memukulku pukul saja aku, jika kau ingin menghukumku, hukum saja aku. Bahkan jika kau ingin membunuhku, bunuh saja aku" pinta Natsu

"Aku menunggumu selama 7 tahun demi menerima pembalasan dendammu. Aku bertahan hidup dan merawat tubuhku agar kau bisa menyiksaku kelak" lanjut Natsu

Hati Lucy seakan ditusuk ribuan jarum kecil tak kasat mata, sakit. Jadi, selama ini Natsu menunggunya dalam derita? Jadi pembalasan dendamnya sia-sia karena faktanya pemuda itu memang membiarkan dirinya hidup hanya untuk menerima pembalasan dendamnya? Kekejaman apa lagi ini? kenapa tuhan sekan mempermainkannya? Lucy merasa kalut, tubuhnya bergetar. Ada rasa menyesal karena sudah mempermainkan Natsu dan membohonginya.

"Ya! Aku sudah melakukannya berkali-kali dimimpiku!" teriak Lui berusaha mengelak rasa bersalah itu

"Tidak dimimpi, tapi disini" kata Natsu

"Kau gila?" isak Lui menahan hunusan di hati yang semakin menyiksanya

"Ya, aku sudah gila" jawab Natsu

"Egois" kata Lui

"Kau lebih egois dengan membohongiku" balas Natsu

Lui terisak. Natsu tak berani mendekat. Mereka hanya saling menangis tanpa ada salah satu yang mau mengalah untuk menenangkan. Biarkan malam sebagai saksi bisu pertemuan kembali mereka.

2 minggu berlalu. Sejak malam itu Lui tidak pernah pulang ke apartemen. Nomor ponselnya tidak aktif, bahkan ketika Natsu mencarinya ke kantor Juvia mengatakan Lui sedang dinas luar kota. Ketika ia menemui Sting di kantornya, Sting mendengus kesal dan mengatakan kalau Lui tidak bersamanya. Disaat itu juga Sting mengatakan semuanya. Semua tentang Lucy, alasan ia mengubah namanya. Itu semua karena ia sudah mengingat kembali ingatannya, Sting juga bercerita bahwa Lucy depresi berat hingga direhabilitasi. Disitu juga, Natsu mengatakan hal serupa. Ia juga depresi bahkan sampai sekarang kadang depresi itu masih sering kambuh. Betapa terkejutnya Sting mendapati fakta itu.

"Maaf jika aku terlalu egois, harusnya aku memikirkanmu. Aku hanya memikirkan Lucy saat itu. Aku sungguh tidak tahu kau juga tersiksa" kata Sting

"Itu masa lalu, jika aku tidak seperti itu mungkin aku tak mampu mencapai titik ini" jawab Natsu

"Kau memang lebih pantas menyandingnya" kata Sting

"Terimakasih sudah ada untuknya, terimakasih sudah menjaganya" ucap Natsu

"Natsu, bisakah kau mendekat dan berdiri disampingku? Ada yang ingin kupastikan" pinta Sting dan dituruti oleh Natsu. Sting berdiri dan meninju wajah Natsu dengan keras hingga membuatnya jatuh terjengkang kebelakang.

"Apa-apaan kau ini?" tanya Natsu memegangi bibirnya yang sobek

"Itu untuk kau membiarkan Lucy pergi waktu itu. Jika saja kau tak pengecut dan mengejarnya mungkin Lucy tidak akan seperti itu" kata Sting

Natsu tersenyum. Matanya berkaca-kaca, antara merasakan sakitnya pukulan Sting dan merasakan nyeri karena teringat kepergian Lucy saat itu.

"Jadi, dimana ia sekarang?" tanya Natsu

"Aku tidak tahu. Pergilah ke Heart Entertainment dan tanyakan pada paman Jude" jawab Sting dan Natsu-pun pergi

Sepeninggalan Natsu, Sting mendapat telfon dari sang ayah.

Weisslogia : kau baik-baik saja?

Sting : Ya, mungkin aku butuh waktu beberapa tahun untuk melupakan semua ini

Weisslogia : Kau tak baik-baik saja

Sting : Aku sudah tak baik-baik saja sejak Lucy tiba-tiba menghilang. Dan aku tambah tidak baik saat Natsu datang menemuiku dan mengakui semuanya. Aku serasa menjadi orang jahat diantara mereka

Weisslogia : Kau sudah menjalani peranmu dengan baik nak, saatnya kau merelakan Lucy dan mencari kebahagianmu

Sting : Aku tidak yakin bisa bahagia tanpa dia, ayah

Tanpa fikir panjang Natsu segera memicu mobilnya keluar Weisslogia Hospital dan melesat menuju Heart Entertainment. Ia tidak menyangka kalau Joe Heart adalah paman Jude. Karena paman Jude mengubah warna rambutnya menjadi coklat. Sungguh ayah dan anak memiliki acting yang mumpuni. Natsu tersenyum getir menyadarinya. Sepersekian jam ia sampai ditempat tujuan, ia segera meminta receptionist untuk menunjukkan ruangan Joe Heart dan dituruti. Pintu dibukakan oleh maid berambut pink yang tak lain adalah Virgo. Didalam sudah ada sekretaris yang kalau tidak salah ia kenal sebagai Taurus dan tentunya ayah Lucy.

"Dragneel-san, tumben" kata Joe mengalihkan suasana yang tiba-tiba mencekam akibat kedatangan Natsu

BRAKK

Natsu menggebrak meja Jude. Ditatapnya Jude dengan tajam, mencari kebohongan disana. Dan Ya, Jude tengah menyembunyikan sesuatu.

"Dimana Lucy?" tanya Natsu dengan tajam

"Saya tidak mengerti maksud anda" jawab Jude berdalih

"Jangan berbohong, paman Jude Hertfilia" kata Natsu menekankan tiap suku katanya

"Dia pergi" kata Jude

"Kemana?" tanya Natsu

"Tidak tahu, ia bilang ingin pergi tapi tidak mengatakan tujuan. Ia juga bilang untuk tidak menghubungi dan mencarinya atau ia akan benar-benar menghilang" jawab Jude dengan gemetar

"Ap-apa?" tanya Natsu tidak percaya

"Sebenarnya apa yang sudah kau lakukan pada putriku? Selama 7 tahun dia baik-baik saja tanpamu. Tapi setelah kehadiranmu moodnya selalu sangat baik, tapi karenamu juga dia ingin pergi. Apa yang terjadi?" tanya Jude menyelidik

"Aku tidak melakukan apapun, hanya memintanya untuk menghukumku atas apa yang sudah aku lakukan padanya. Tapi ia hanya menangis tanpa mau menuruti permintaanku" jawab Natsu dengan pandagan sayu

"Hime akan berangkat pukul 11.00 siang, jika pergi sekarang Natsu-san pasti masih bisa bertemu dengannya" kata Virgo kemudian

"Bandara?" tanya Natsu, semuanya mengangguk

Natsu mengeram frustasi. Ia menginjak gasnya full dan memicu mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata. Hampir menyerempet para pengendara lain, dan meliuk-liuk melewati padatnya jalanan. Masa bodoh dengan polisi dan hukum, kala itu ia membiarkan Lucy pergi dan terpuruk. Tapi kali ini, mesiki nyawa taruhannya ia tidak akan membiarkan Lucy pergi, sudah 7 tahun ia merindukannya. Diingatnya kembali kenangan Lucy sebagai Lui yang selalu mengganggunya setiap hari dengan berbagai hal tidak penting, cara ia bicara padanya. Gaya bahasanya yang selalu memunculkan perempatan siku-siku didahinya, semunya. Betapa bodohnya ia tidak menyadarinya sejak itu. Ia juga mengingat malam dimana Lucy mengakui siapa dirinya dan disaat ia menemukan apertement Lucy kosong. Ia sampai dibandara dan memarkirkan mobil asal. Ia segera berlari kesana kemari, mencari sosok berambut blonde. Ia tahu Lucy tidak mungkin mengenakan wig coklat karena ia akan dikenali sebagai Lui Heart jika seperti itu dan akan mengundang wartawan. Sesekali ia menabrak orang dan membungkuk meminta maaf. Tak sedikit juga orang yang berkasak-kusuk melihat ia yang berantakan dan tidak karuan. Nafas Natsu memburu, lututnya sudah lemas. Ia berdoa pada tuhan jadwal penerbangan ditunda. Benar saja, 10 menit kemudian awan mulai mendung dan menandakan hari akan hujan. Jadwal keberangkatan awak penerbangan semua ditunda sampai hujan reda. Natsu tersenyum senang sekaligus miris. Ia senang karena tuhan mengabulkan permohonannya dan miris mengingat hujan yang selalu menemaninya disaat ia terpuruk. Seperti kala itu, kala ia sangat membenci Lucy dan tidak ingin melihatnya, gadis itu berdiri disampingnya, memandanginya seolah pandangan itu bisa menelanjanginya. Kala hujan pula, ia mendekap Lucy setelah sekian lama tidak bertemu. Memintanya untuk pulang meski dulu ia tidak menginginkannya. Natsu menegapkan tubuhnya, menggenggam erat jimat pemberian Lucy dan mulai kembali berlari. Ia mengacak rambutnya karena tak dapat menemukan Lucy.

Ketika dunia jadi gelap, hujan turun diam-diam

Masih seperti itu

Hari ini tanpa ragu diriku terjebak didalam fikiranku

Kutahu ini adalah akhir, penyesalan yang tertinggal

Kutahu aka begitu

Karena diri yang tak berguna ini tak bisa

Merengkuhmu dengan keriduan

Lucy duduk dikursi yang berada didekat kaca sendirian. Dipandanginya hujan yang seolah meledek kepergiannya. Apa ia akan ditahan? Akankah Natsu datang? Lucy tersenyum getir dan menggeleng, tidak mungkin. Hingga tiba-tiba . . .

"Lucy" teriak suara seseorang

"Aku mulai berhalusinasi" kata Lucy tersenyum dengan mata berkaca-kaca

"LUCY HEARTFILIA!" teriak suara yang sangat ia kenali, Lucy-pun menoleh dan melihat Natsu berdiri jauh darinya. Matanya terbelalak, tidak mungkin . . . .

Natsu semakin mendekat, Lucy berdiri hingga jarak mereka terpaut 5 meter. Mata keduanya saling mengunci. Perlahan tapi pasti Natsu mulai mengkikis jaraknya.

"Jangan mendekat" pinta Lucy dengan suara bergerar namun Natsu malah menyeringai

"Natsu kumohon berhenti" pinta Lucy dan Natsu-pun berhenti

"Kenapa?" tanya Lucy

"Aku yang harusnya tanya kenapa? kenapa kau pergi? Untuk menghindariku?" tanya Natsu

"Aku tidak mau tersiksa lagi, sudah cukup. Aku tak kuat jika harus berada disampingmu, itu hanya akan menyiksaku" jawab Lucy

"Tidak apa jika kau tersiksa tapi aku pastikan aku akan selalu mengobatimu. Meski kau enggan, atau bahkan kau menolaknya, aku tak akan gentar" kata Natsu dan melangkah mendekat selangkah demi selangkah

"Aku tak bisa. Jika kau terus seperti ini aku bisa-bisa mencoba bunuh diri" ancam Lucy dan Natsu berhenti melangkah lagi

"Kurasa sudah cukup kita mencoba melukai diri kita. Kini saatnya kita untuk saling mengobati dan menerima semuanya" kata Natsu dengan bijak

"Menerima? Apa kau bisa menerima karena aku telah memintamu untuk enyah dan mengkhianati kepercayaan atau bisa kusebut cintamu kala itu? aku bahkan tak menyadari kalau kau juga tersiksa tapi dengan egoisnya aku malah ingin membuatmu semakin menderita. Kau masih mau menerimanya? Huh?" tanya Lucy dengan nada yang bergetar, air matanya semakin deras, ia tertunduk

"Apa kau juga bisa menerima apa yang sudah aku lakukan padamu kala itu, menyiksamu, menyakitimu, mempermainkanmu dan bahkan membuatmu menangis" tanya Natsu balik seraya melangkah kembali mendekat

"Aku menerima karena semua itu adalah salahku. Aku pantas mendapatkannya. Maaf jika aku kekanakan dan mempermainkamu bahkan membuatmu tersiksa dengan sengaja mengingatkan kau pada sosok Lucy. Aku . . . . hanya akan memastikan apa kau juga menderita, apa kau merasakan apa yang aku rasakan. Kau harusnya tidak seperti ini, kau harusnya membiaranku pergi dengan berteriak aku membencimu seperti dulu. Dengan begitu semua selesai dan aku bisa melupakanmu" kata Lucy dan ia mendongakkan kepala. Betapa terkejutnya ia mendapati Natsu sudah berada dihadapannya dan wajah Natsu tepat berada satu jengkal dengan wajahnya

"Ini belum selesai. Kau tidak akan pernah bisa melupakanku karena aku . . ." kata Natsu meraih kepala bagian belakang Lucy dan menempelkan bibirnya ke bibir ranum Lucy. Lucy terbelalak. Natsu menciumnya lembut, seingatnya dulu sebelum mereka berpisah Natsu juga menciumnya. Tepat saat Drama itu . . . perlahan Lucy memejamkan mata dan membalas ciuman Natsu. Merasa ciumannya dibalas, Natsu memperdalam ciumannya diraihnya pinggang Lucy dan ditariknya Lucy semakin dekat. Mereka jadi bahan tontonan dibandara, banyak orang yang mengabadikan moment itu dan sebagian bersorak. Natsu melepaskan ciumannya, ia tersenyum pada Lucy.

"Aku mencintaimu" kata Natsu kemudian

Lucy hendak membuka matanya tapi dengan segera Natsu meletakkan jari telunjuknya pada bibir Lucy.

"Aku belum selesai" kata Natsu

"Lucy . . . anggap kita sudah impas, kau menyakitiku dan aku menyakitimu, aku balas dendam padamu dan kaupun balas dendam padaku. Aku membuatmu menangis dan kau membuatku menangis pula" kata Natsu

"Mungkin ini cara pendewasaan kita dimana kita harus melaluinya. Karena masa-masa itu kita menjadi seperti sekarang, karena masa itu pula aku sadar betapa sangat berharganya kau dihidupku. Maka, demi menghargai masa-masa itu . . . . Lucy Heartfilia atau Lui Heart, maukah kau menikah denganku?" kata Natsu dengan mantap

Lucy terperangah. Semakin banyak orang mengerumuni mereka dan mengambil gambar. Karena Lui Heart sang model kelas dunia tengah dilamar. Lucy masih terpaku, Natsu tahu ini bukan saat yang tepat mengingat ia tidak merencanakannya sama sekali. kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya. Ia bahkan tak membawa cincin. Ditariknya kemejanya dan ia menarik benang dari kemeja. Diraihnya tangan kanan Lucy, dengan perlahan ia menautkan benang itu di jari manis Lucy dan mulai mengikatnya. Natsu tersenyum karena Lucy tak berusaha menolaknya.

"Apa kau bersedia?" tanya Natsu setelah selesai menutkan benang dijari manis Lucy. Lucy memandangi jarinya tak percaya. Ditatapnya Natsu dengan pandangan yang sulit diartikan

"Aku . . ." jawab Lucy ragu

"ber-se-di-a" jawab Lucy dengan suara sangat pelan dan hanya didengar oleh Natsu. Natsu tersenyum dan menyeringai, ditariknya dagu Lucy dan ditatapnya gadisnya dengan pandagan menantang.

"Aku tidak dengar" kata Natsu berbohong

"Aku sudah mengatakannya kan? Itu masalahmu jika tidak dengar" elak Lucy dan menepis tangan Natsu, namun tangan yang ia gunakan untuk menepis malah jadi senjata bagi Natsu. Ia menarik tangan Lucy dan kembali menempelkan bibirnya seraya menggumamkan . . .

"Aku mendengarnya" kata Natsu lirih dan mencium Lucy lagi, kali ini bukan ciuman lembut. melainkan ciuman penuh cinta dan gairah yang tertahankan selama bertahun-tahun. Lucy tersenyum dan membalas ciuman itu, bandara jadi ramai. Semua orang bersorak gembira merayakan keberhasilan Natsu melamar Lucy. Sedangkan kedua sejoli tetap memadu kasih dengan ciuman panjang.

Aku merindukanmu sepanjang hari

Apa kau melihat air mataku?

Cinta yang kufikir sudah lenyap

Kembali datang

Memori yang patah itu tersambung kembali

Ciuman yang dulu membuat jantung berhenti berdetak

Menjadi sebuah benih yang tumbuh dan mekar

Dulu aku hanya mampu berbisik

Berbisik dalam hati bahwa aku mencintamu

Apa kau dengar suaraku kala itu?

Terimakasih untuk tidak melupakanku

Terimakash untuk tidak menghapus perasaanmu padaku

Sekali lagi, izinkan aku menyuarakan suaraku untukmu

Dan tuhan tolong dengarkan aku

Bahwa aku, Natsu Dragneel jatuh cinta dan mencintai Lucy Heartfilia

Dan aku, Lucy Heartfilia mencintai Natsu Dragneel disetiap nafas dan denyut nadiku

Thanks for hate and love me

END

.

.

.

.

.

.

EPILOG

Disebuah aula berbintang tujuh di Ferdra Hotel. Kedua pasangan yang baru saja menikah tampak bahagia dengan saling bergandengan dan bercengkerama bahkan sesekali bercanda dan saling menyikut. Seorang wanita bersurai perak sebahu, beriris biru mendekat ditemani anak balita berusia 3 tahun. Ia menjabat tangan Natsu dan Lucy bergantian. Betapa sangat senangnya ia melihat keduanya.

"Hei, kalian harus segera menyusul agar Bill punya teman" goda Lisanna

"Aku sih tidak keberatan" jawab Natsu

"Ne, bagaimana kalau malam ini kita mulai projectnya?" canda Natsu pada Lucy yang dihadiahi pukulan maut pada tulang keringnya. Natsu mengaduh kesakitan, Lisanna tertawa sedangkan putra Lisanna, Bill ketakutan. Natsu senang merasa ada yang mendukung meski itu anak kecil.

"Kau lihat Lucy? kau menakuti Bill" kata Natsu

"Kalau aku punya anak akan kupastikan tidak menuruni sifatmu satu ini" kata Natsu dan menggendong Bill

Bixslow datang mendekat, ia bertanya pada istrinya apa yang terjadi. Lisanna tak menjawab dan hanya menunjuk Natsu yang meledek Lucy. ia ikut tertawa menyaksikan betapa uniknya pasangan itu. Igneel, Grandine dan sang besan Jude memandang dari jauh. Mereka turut bahagia karena Natsu dan Lucy berhasil bersatu setelah melewati proses yang panjang. Sting datang bersama keluarganya. Ia menjabat tangan Lucy lama, begitupula dengan Lucy. Natsu tak suka ia memberikan Bill pada ayahnya dan memisahkan keduanya.

"Dia istriku, jangan menyentuhnya tanpa izinku, blonde" kata Natsu

"Jangan menyebutku blonde kalau istrimu juga blonde" balas Sting

"Bilang saja kau iri" kata Natsu dan mengaitkan lengannya pada leher Lucy

"Malam ini kami akan memulai project membuat Victor Dragneel" kata Natsu

Seketika muncul perempatan siku di dahi Sting. Ia menghela nafas menyikapi sikap Natsu yang berubah overprotektif. Gray bersama Juvia mendekat diikuti Levy dan Gajeel.

"Juvia benar-benar terkejut Lui, eh Lucy. kau membohongiku selama bertahun-tahun. kau tahu? Aku malu memberikan suffix –sama padamu" kata Juvia

"Kan kau yang malu, bukan aku" jawab Lucy dan Juvia menggembungkan pipinya

"Kau benar-benar hampir membuatku jantungan Lucy, tak kusangka Lui Heart adalah kau terlebih tiba-tiba kau menikah dengan Natsu. sungguh, aku hampir saja melabrakmu karena mengambil seseorang yang berharga dari sahabatku" kata Levy dan Lucy hanya tersenyum malu

Loki sang kepala kejaksaan Fiore datang bersama kedua anak buahnya. Hibiki dan Eve. Mereka mengucapkan selamat. Tak lupa Loki, Hibiki, Eve menangis karena tak rela Lucy menikah. Natsu menahan kekesalannya, Lucy istrinya. Masih bisa-bisanya mereka bercanda seperti itu. Dari jauh Wendy mengamati bersama gadis bernama Michele. Gadis seusia kakaknya yang entah kenapa bisa akrab dengannya. Mata Michele tak lepas dari Sting, Weney menyeringai melihatnya. Sedangkan kakek-nenek Natsu, Zeref dan Mavis menyambut tamu di yang tak henti-hentinya datang. Mereka turut bahagia karena Natsu kecilnya sudah dewasa dan mendapatkan istri yang diidamkannya sejak kecil.

Setelah pesta usai . . .

Natsu duduk berdua saling membelakangi di Apartemen Natsu. Mereka saling canggung, Lucy meneguk ludahnya kasar. Natsu merasa kepanasan.

"Etto, Lucy. Bagaimana kalau kau menoleh. Aku tak suka melihat punggungmu. Kau terlihat jelek dari belakang" canda Natsu dan dihadiahi lemparan bantal oleh Lucy

"Dasar menyebalkan!" teriak Lucy

Alhasil mereka bermain lempar bantal hingga Lucy terkena lemparam bantal dan hampir jatuh terjengkang dari kasur. Namun Natsu Berhasil menangkapnya membuat wajah keduanya sangat dekat. Natsu menyeringai, Lucy tahu apa yang Natsu fikirkan . . .

"KYAAKKK!" teriak Lucy

Paginya . . .

Lucy terbangun dari tidur nyenyaknya, bisa ia rasakan kulit hangat milik sang suami yang baru dinikahinya kemarin. Ia mendongakkan kepala melihat betapa polosnya wajah Natsu jika tengah tertidur. Ia tersenyum mengingat apa yang sudah terjadi. Sungguh ia tidak menyangka bahwa jimat keberuntungan pemberian Natsu kecil akan menghantarkannya kedalam kebahagiaan. Dulu, ia memang berharap bahagia tapi ia tidak tahu kebahagiaan apa itu, tapi ia mengerti sekarang. Kebahagiaan yang sangat ia harapkan adalah terus dicintai oleh orang yang ia cintai. Ia kembali membenamkan diri kedalam dada bidang nan hangat sang suami, Natsu yang merasakan pergerakan Lucy memeluknya hangat. Lucy kembali tidur dengan senyum yang tak luntur sedangkan diam-diam Natsu yang sebenarnya sudah bangun ikut tersenyum. Ia berterimakasih karena dipertemukan dengan tulang rusuknya yang akan selalu menemaninya sampai ajal menjemputnya.

HAPPY ENDING

Akhirnya selesai . . . .

Maaf jika ceritanya terlalu panjang, niatnya sampai chapter 15 tapi berhubung sudah janji tamat di chapter 14 jadinya begini. Maaf jika ada yang tidak puas dengan ceritanya. Tapi Nao berharap kalian menyukainya. Maafkan jika ada banyak kesalahan penulisan juga.

Terimakasih pada semua para readers yang mau membaca, mereview, memfollow dan memfavorit fic ini. Hountouni Arigato Gozaimasu . . .

Kutunggu review kalian semua . . .

Dan sampai bertemu lagi nanti di fic kedua Nao berjudul "Good Morning, Vampire"

Best Regards

Nao Vermillion