Disclaimer : All Characters belong to Masashi Kishimoto

A/N : Dear Readers, Terima kasih telah mampir dan menyimak tulisan saya, Review kalian memotivasi saya untuk menyelesaikan kisah ini. setelah menghasilkan 50ribu kata, 14 chapter, 7ribu view dan 50 comment, Saya merasa senang.

Chapter ini sedikit panjang karena ini adalah chapter terakhir. Author hanya bisa minta maaf bila ada banyak kekurangan dalam penulisan, plot, maupun narasi. semoga saja kalian masih mendapatkan feel-nya


Under The Spot Light

Sai & Ino Story

.

Chapter 14

.

Akhir dari kesendirian

.

.

.

Awal musim semi yang Indah di Konoha, Pohon Sakura di areal pemakaman mulai berbunga. Lebih banyak wartawan yang datang untuk meliput dari pada pelayat yang mengantar kepergian seorang pelukis berbakat ke peristirahatan terakhirnya. Tidak tampak wajah-wajah sendu maupun tangisan kesedihan karena tidak seorang pun benar-benar mengenal pria yang kini tinggal nama.

Wartawan berharap Yamanka Ino akan muncul di pemakaman mantan tunangannya. Artis itu hilang empat bulan lalu tanpa jejak. Tapi anehnya keluarga wanita itu tidak terlihat panik atau melapor pada polisi. Mereka menduga Yamanaka Ino bersembunyi. Pertanyaanya Mengapa wanita itu harus bersembunyi. Apa yang disembunyikan?. Wartawan bisa mencium bau skandal besar tapi mereka tidak menemukan apapun. Mereka mencoba mengejar Sai Shimura untuk mendapatkan keterangan tapi pria misterius itu selalu mengurung diri dirumahnya. Terdengar isu dia tengah mengalami depresi berat lalu kecelakaan yang merenggut nyawanya terjadi. Hal ini membuat lebih banyak spekulasi beredari tentang hubungan sang artis dan sang pelukis.

Sakura tampak terguncang, Dia tidak begitu mengenal Sai tapi pria itu beberapa kali menolongnya. Dia sedih mengetahui hidup Sai begitu tragis dan wanita berambut pink itu pun memikirkan Ino sahabatnya yang pergi dan tidak pernah mengontaknya lagi. Apa yang akan Ino rasakan bila dia tahu Sai meninggal. Apa sahabatnya masih perduli dengan pria yang kini terkubur tujuh kaki di dalam tanah? Sakura berharap Ino segera mengabarinya. Karena dia merasa kesepian.

Yamato dan Kakashi berdiri tak jauh dari sana, Mereka mengenakan jas dan kaca mata hitam.

" Apa ini tidak berlebihan Kakashi?"

"Dia sendiri yang bilang sebaiknya Sai Shimura mati, jadi aku membantunya"

"Menurutmu ini yang terbaik?"

"Situasi sudah sangat menyulitkannya. Kurasa keputusannya benar"

"Bila saja Sai tidak terlibat dengan wanita itu, Kita tidak akan direpotkan seperti ini" Gerutu Yamato.

"Yang penting sekarang Sai sudah bisa tenang" Ayo kita kembali ke Kantor. Masalah Akatsuki masih mengangguku.

"Ya sudahlah" Kedua pria itupun melangkah meninggalkan kompleks pemakaman.

.

.

Empat bulan kemudian

Kakashi duduk di ruang meeting memutar-mutar bolpoint di tangannya. Pria berambut perak itu tampak sedang berpikir. Dia baru saja menyelesaikan teleconference dengan petinggi militer dan dewan pertahanan. Mereka semua setuju mengirimkan satu skuardon pasukan untuk menginfiltrasi markas Akatsuki . Mengirimkan pesawat pengebom tidak akan efektif karena sebagian besar penyimpanan senjata dan fasilitas penting organisasi itu terletak di bawah tanah. Tapi ini akan menjadi misi berbahaya. Menurut data Itachi paling tidak markas itu dihuni oleh seratus orang dan Konoha hanya akan mengirimkan dua puluh lima orang pasukan elitnya.

Yamato berdiri di hadapannya dengan sejumlah dokumen "Persiapan penyerangan markas Akatsuki sudah siap"

"Kau pikir dia akan sanggup memimpin misi ini Yamato? Dia hampir tidak punya pengalaman dalam pertempuran skala besar"

"Bila itu yang kau pikirkan, Apa kau punya kandidat lain yang lebih hebat? Selain dirimu tidak ada yang orang lain yang pernah mengecap perang. Dia adalah yang terbaik untuk saat ini"

"Aku hanya khawatir Yamato, Kemungkinan misi ini gagal sekitar tujuh puluh persen aku merasa sedikit bersalah mengirimkan pasukan hanya untuk mati" Pria itu mengalami konflik batin. Apakah mengorbankan dua puluh lima orang untuk menjaga keselamatan enam juta penduduk konoha adalah hal yang layak di lakukan.

"Jangan pesimiss dulu Kakashi, Siapa tahu kenyataan di lapangan tidak seburuk perkiraanmu. Itachi bilang rata-rata pasukan Akatsuki yang menjaga markas adalah rekrutan baru yang sedang dilatih jadi aku rasa kemampuan mereka di bawah pasukan elite kita"

Kakashi berdiri dan melangkah keluar "Aku akan mencarinya di tempat latihan dan menjelaskan misi ini"

Mata kelabu Kakashi Hatake menemukan anak buahnya sedang berlatih hand combat dengan salah seorang prajurit. Pria berambut hitam itu basah dengan keringat, Lawannya melayangkan pukulan yang dengan sigap dia tahan. Mengunakan momentum pukulan lawan dia berhasil membanting prajurit itu ke lantai meskipun badan musuhnya jauh lebih besar. Kakashi sadar anak buahnya yang satu ini memang kompeten dan punya track record sempurna. Yamato benar tidak ada yang lebih baik dari anak buah yang dia didik sendiri.

"Kakashi-San" Pria itu membungkuk memberi salam pada sang atasan.

Setelah dia kembali dari Ame pria itu banyak berubah. Dia mendatangi Kakashi dan meminta atasannya untuk memalsukan kematiannya dengan alasan identitasnya yang telah dikenal banyak orang menghalanginya gerak langkahnya sebagai agen rahasia. Setelah itu Sai benar-benar berkomitmen pada pekerjaanya. Kakashi tidak tahu ini baik atau buruk tapi pria itu kembali menjadi dirinya yang lama. Seorang prajurit sempurna yang dingin, logis, taktis dan kejam.

"Sai, Ikut denganku. Ada misi yang harus kau kerjakan"

Sai berjalan mengikuti mentornya ke arah kantor pribadi Kakashi.

"Misi apa?" Pria berkulit pucat itu bertanya

"Kau akan memimpin pasukan elite menerobos markas Akatsuki. Apa kau sanggup Sai?"

"Tentu saja" Jawabnya datar.

Ini merupakan sebuah prestasi untuk Sai diperkenankan memimpin pasukannya sendiri. Artinya kedua mentornya mempercayai kemampuannya.

Ponsel Kakashi berdering, Sai tidak mendengarkan percakapan mentornya tapi dia bisa lihat raut muka Kakashi berubah dan terlihat resah. Setelah mengakhiri panggilan tersebut Kakashi meminta Yamato datang ke kantornya.

Pimpinan Dinas Intelejesi itu menghempaskan dirinya ke kursi dan menarik nafas panjang. Dia sakit kepala. Rencana yang sudah dibuat berbulan-bulan harus dirubah lagi. Sialan Tobi dan timmingnya Sekarang dia harus fokus mengingkatkan keamanan Konoha daripada mengempur markas Akatsuki.

"Ada apa Kakashi?" Yamato langsung tahu sesuatu yang buruk terjadi dari raut wajah sang pimpinan

"Batalkan penyerangan, Kita harus meningkatkan keamanan dalam Kota. Pastikan semua orang yang keluar masuk Konoha terdata, Siagakan personel lebih banyak di area public dan pemerintahan"

"Mengapa Kakashi-San?, Bukankah sudah delapan bulan Akatsuki tidak melakukan aktifitas?"

"Karena Tobi dan Sasuke akan datang ke Konoha" Jawabnya tegas. "Kita akan menunggu Itachi datang untuk mejelaskan detailnya"

Ketika hari menjelang sore Itachi akhirnya berada di Kantor Kakashi. Tiga pasang mata menatap pria yang muncul dengan setelan bisnis itu meminta penjelasan.

"Seseorang meningalkan pesan di meja kerjaku tadi pagi dan aku yakin itu dari Sasuke atau Tobi. Dia bilang hari pembalasan akan segera tiba dan memintaku datang ke Konoha" Sadar akan hubungan Sai dan Ino. Itachi tidak menceritakan bahwa Ino diculik oleh Sasuke.

"Jadi apa pendapatmu?, Mungkinkah kita mencegah serangan mereka?" Kakashi tanpa sadar mengetuk-ngetukkan jarinya di meja. Sementara Sai dan Yamato menyimak.

Itachi mengeleng "Tobi dan Sasuke sama sekali tidak terlihat di markas Akatsuki. Anggota yang lain bahkan memintaku mencari Tobi. Tidak ada yang tahu rencana mereka"

"Jadi lagi-lagi kita hanya bisa menunggu korban berjatuhan sebelum bertindak" Ucapnya Sarkastik, Sai kesal mengapa Sasuke dan Tobi begitu licinnya. Sampai-sampai selama delapan bulan ini tak satu informasi barupun tentang mereka didapatkan. Dia sudah melakukan banyak penyidikan keberadaan merekapun tidak dapat diketahui seolah-olah Tobi dan Sasuke ditelan bumi.

"Sai, Kita tidak bisa mencegah jatuhnya korban baik sipil atau militer tapi bila kita cerdas kita bisa mengurangi jumlah korban. Aku yakin mereka masih akan menggunakan metode penyanderaan dan pengeboman. Yang belum aku ketahui apa yang diinginkan Tobi dari Konoha?"

Itachi sependapat dengan Yamato, Tobi sangat misterius bahkan untuk anggota Akatsuki lainnya "Tidak ada yang tahu siapa dia sebenarnya"

"Ok, Jadi langkah kita menghadapi Tobi adalah Menunggu, Kepung, Lumpuhkan, Habisi. Kita akan melakukan serangan frontal kali ini dan jangan sampai mereka lolos lagi"

"Bagaimana bila mereka memanfaatkan sandera untuk meloloskan diri?" Sai bertanya

"Biarkan saja, Satu atau dua orang mati tidak apa-apa tapi jangan sampai mereka lolos lagi karena bila kita tidak menghentikan mereka sekarang mereka akan kembali lagi dengan serangan yang lebih besar dan memakan lebih banyak korban"

Mereka mengerti segala cara harus dihalalkan untuk menghentikan Tobi karena bila mereka lengah sedikit saja Konoha akan dihancurkan.

.

.

.

Tiga hari tiga malam Ino habiskan dijalan. Penculiknya sama sekali tidak terlihat lelah mereka melakukan perjalanan dengan mobil dan kereta cepat. Syukur Sasuke masih berbaik hati memberikannya makan dan pakian. Wanita pirang itu merasa lelah meskipun sepanjang malam tidur di kereta bersyukur perutnya tidak apa-apa. Dia khawatir semua goncangan dalam perjalanan ini membuat bayinya terlahir dini.

Setibanya di stasiun pusat Konaha, Sasuke mengandeng Ino keparkiran kemudian mengecek handphonenya. Lalu pria itu menuntun Ino ke arah sebuah mobil sedan hitam yang terlihat biasa saja. Anehnya mobil itu tidak terkunci, Kuncinya masih tersangkut di kontaknya. Sepertinya mobil itu sengaja ditinggalkan disana. Tentu saja Ino sadar Sasuke tidak bekerja sendirian. Tapi ia masih tidak mengerti mengapa Sasuke menculiknya dan membawanya ke Konoha. Sepanjang perjalanan mereka diam. Ino tidak berani berbuat banyak karena menghawatirkan keselamatan bayi yang di kandungnya. Jadi dia menuruti saja perintah Sasuke.

Sasuke menginjak pedal gas melewati padatnya pusat kota. Wanita itu berpikir mengapa Sasuke tidak terlihat takut sama sekali berkeliaran di Konoha, Bukankah dia sudah di tetapkan menjadi buronan setelah membunuh Ayah Hinata. Polisi pasti sadang mencari-carinya.

"Kemana kau membawaku?" Ino penasaran kemana pria itu akan membawanya. Karena Ia merasa Sasuke menyetir keluar dari kota.

"Hn" Jawabnya singkat.

Sasuke fokus pada kemudi melibas jalan asphalt sempit yang berkelok-kelok. Mereka memasuki area hutan pinus dan pria dengan gaya rambut pantat ayam itu berhenti di depan sebuah villa yang terbuat dari kayu. Bila Ino tidak dalam kondisi diculik dia akan mengatakan tempat ini sangat romantis. Tapi dalam kondisi begini Ino merasa takut. Dia tidak tahu apa yang pria itu lakukan padanya. Tak seorang pun akan menemukan Ino atau mayatnya di tempat terpencil ini bila pria itu berencana membunuhnya.

Sasuke menyeret Ino masuk ke dalam dan mengunci pintu. Rumah itu tampak berdebu sepertinya sudah lama tidak di tinggali. Di atas perapian dia melihat photo seorang remaja merangkul bocah berusia enam tahun. Mereka tertawa dan membawa jor-an pancing. Ino langsung sadar itu photo Sasuke dan kakaknya. Mereka terlihat bahagia.

"Sasuke jelaskan padaku mengapa kau membawaku kesini?"

Pria itu menepuk-nepuk sofa yang berdebu sebelum akhirnya duduk. "Untuk memancing Itachi, Kau tahu aku punya dendam untuk dibalaskan"

"Mengapa kau pikir kakakmu perduli padaku?"

Sasuke megambil selembar photo dari saku celananya dan melemparkannya pada Ino. Wanita itu memungut photo yang dilempar Sasuke dan rona merah menjalari wajahnya.

"Kami tidak punya hubungan apa-apa" Ucap Ino cepat.

"Apapun katamu Yamanaka, Itachi kerap menghabiskan waktunya denganmu itu artinya sesuatu"

Sasuke berdiri dan memojokkan tawanannya. Ino berjalan mundur karena dia merasakan aura berbahaya terpancar dari tubuh pria itu. Pungung wanita itu menabrak lemari tua. Dia tidak bisa lari kemana-mana. Sepasang mata onyx yang menatapnya berkilat keji. Ino merinding ketika tangan Sasuke meraih dagunya. Memaksa Ino untuk memandang mata sehitam jelaga yang dipenuhi kebencian.

Dengan suara serak Sasuke berbisik "Apa kau terobesesi padaku Yamanaka?, Kebetulan sekali dua pria yang kau pilih mirip denganku"

"Kau delusional Sasuke" Ino memejamkan mata. Tidak ingin merasa terintimidasi oleh tatapannya.

Sasuke mulai menjamah wanita itu. Bibirnya menyentuh leher Ino. Jatung wanita berambut pirang itu berdetak kencang. Kepanikan mulai menguasai pikirannya Ino meronta dan mengeliat berusaha melepaskan diri dari himpitan pria itu.

"Humph" Sasuke berguman dan melepaskan Ino "Sayang sekali Yamanka kau bukan tipe-ku aku jadi tidak bernafsu"

Ino menarik nafas lega, Energi meninggalkan kakinya dan dia pun terduduk di lantai.

Sasuke membaca pesan yang masuk ke ponselnya dan kemudian meyeringai 'Jadi besok ya' Dia merebahkan badannya di sofa yang berdebu. Dia melirik Ino yang masih duduk dilantai, Dia merasa tidak perlu waspada karena wanita itu tidak akan bisa lari kemana-mana.

.

.

Pria bertopeng spiral dengan pakian serba hitam menghentikan mobilnya di sebuah jembatan. Dia bersender dengan santai di pintu mobil menunggu kemunculan Sasuke Uchiha sambil mempermainkan pistolnya. Untuk mencegah kecurigaan Tobi sudah membuat anak buahnya menyebar disekitar Konoha dan mereka akan berkumpul ditempat yang sudah dia tentukan. Mobil sedan hitam berhenti Sasuke turun dan menyeret Yamanka Ino keluar.

"Kau mendapatkannya?" Pria bertopeng itu menoleh ke arah Ino

"Tentu saja, Apa rencanamu hari ini Tobi?"

"Kita akan menduduki gedung DPR Konoha, Saat ini mereka sedang mengadakan sidang dengan pemerintah. Kita bisa mengacaukannya. Aku akan menembaki pejabat-pejabat sialan itu satu persatu"Ucap Tobi dengan girang.

Sasuke sama sekali tidak tertarik. Dia hanya menanti saat berhadapa satu lawan satu dengan Itachi dan Ino mendadak pucat pasi mendengar rencana Tobi.

"Ayo kita pergi Sasuke, Aku punya banyak senjata di bagasi"

Sasuke mendorong Ino duduk di kursi belakang mobil yang dikendarai Tobi, Tangan wanita itu terikat Sementara Sasuke duduk di sebelah Tobi yang menyetir dengan kencang menuju pusat kota Konoha.

.

.

Hari ini hari dimulainya festival musim panas. Penduduk kota memenuhi jalanan yang kini dipenuhi stand-stand makanan dan panggung hiburan. Mereka sepertinya telah melupakan terror yang terjadi delapan bulan yang lalu. Suasana begitu ramai dan para penggunjung terlihat menikmati festival tahunan ini.

Di depan panggung ribuan orang sedang berkumpul menyaksikan penyanyi idola remaja beraksi, teriakan riuh para fans yang di dominasi gadis remaja membahana ketika lima orang cowo ganteng mulai bernanyi dan menari. Mereka tidak curiga melihat ada beberapa om-om berwajah sanggar yang ikut membaur di antara mereka. Sampai akhirnya suara letusan pistol menghabisi nyawa beberapa orang gadis.

Awalnya tidak ada yang mendengar suara tembakan karena bisingnya music dan teriakan para fans. Ketika korban yang jatuh semakin banyak barulah jeritan mereka menjadi panic dan histeris. Mereka mulai berlarian untuk menyelamatkan diri dan banyak juga yang terinjak-injak. Peluru berhamburan dari berbagai arah, tidak memperdulikan siapa korbannya.

Anak buah Tobi tidak segan-segan menembaki para pengunjung yang tidak berdosa itu. Mereka hanya memikirkan berapa uang yang akan mereka dapat dari sang boss. Mereka diminta untuk membuat kekacauan untuk mengalihkan perhatian polisi dan militer dari rencana utama Tobi dan dengan senang hati mereka lakukan. Di tengah kepanikan pengunjung festival sebuah bom meledak menghancurkan panggung utama. Jeritan dan tangisan terdengar. Orang-orang ini tak kenal belas kasihan

Kejadian tersebut langsung didengar Kakashi. Dia memerintahkan Yamato untuk turun mengurus para penjahat yang berkeliaran di tempat festival.

"Kakashi-San mengapa hanya mengirimkan Kapten Yamato, Saya juga bisa membantu" Sai marah karena dia tidak diminta untuk turun ke lapangan.

"Sai, Kita bicara soal Tobi, Seperti kejadian sebelumnya dia akan muncul di tempat lain. Jadi aku minta kau dan Itachi mempersiapkan pasukan kalian. Yamato bisa mengatasi terrorist yang muncul di tempat festival bersama anggota lainnya"

Dan analisa Kakashi benar, Tak lama kemudian siaran langsung rapat antara Gubernur dan anggota dewan mengalami Interupsi. Tampak di layar televisi sekelompok orang bersenjata menduduki gedung wakil rakyat tersebut mereka semua mengenakan topeng.

Para anggota dewan terdiam dan tegang. Gedung ini dijaga banyak polisi dan tentara bila mereka berhasil masuk ini berarti penjaga diluar telah terbunuh. Tobi mendekati wanita berambut pirang berdada besar yang tadinya berpidato di podium. Dia mengacungkan pistolnya ke wajah cantik wanita itu. Tobi tahu mereka sedang di tonton jutaan warga Konoha.

"Gubernur, Saya kemari untuk menyampaikan tuntutan, Serahkan pemerintahan Konoha pada organisasi Akatsuki, Bila tidak sesuatu yang mengerikan akan terjadi, Di mulai dengan kematian tikus-tikus ini" Ujar pria itu menembak salah seorang anggota dewan yang duduk paling depan.

"Mengapa kami harus menyerah pada Akatsuki?" Nona Tsunade mengerahkan keberaniannya untuk berbicara pada penyerangnya

"Karena kalian telah gagal, Kami menginginkan revolusi, Kami menginginkan kestabilan dan satu-satunya cara adalah dengan menaklukan semua kota di bawah perintah kami dan itu dimulai dari Konoha" Mereka semua beranggapan pria bertopeng spiral itu gila.

Tobi masih melanjutkan pidatonya "Aku kemari untuk balas dendam, Kalian ingat mengirimkan pasukan lima belas tahun yang lalu ke wilayah Negara Air, Kalian bilang kami dikirim untuk membebaskan masyarakat dari pemberontak. Kenyataannya Kalian memanfaatkan kami untuk menguasi tambang emas yang dulunya dikelola oleh mereka yang kalian labeli sebagai pemberontak. Kalian para politisi busuk dan jendral korup memanfaatkan para tentara dan rasa patriotismenya untuk melakukan pekerjaan kotor kalian. Ketika kalian mendengar Fugaku Uchiha tidak mau berkompromi, menentang perintah Danzo Shimura. kalian langsung berkonspirasi membunuhnya. Berapa orang rekanku yang mati sia-sia? Aku kehilangan kepercayaanku pada pemerintah. orang-orang picik macan kalian pantas mati" teriak pria itu kesal. Dunia ini begitu busuk lebih baik di hancurkan saja.

Sai, Itachi dan Kakashi menonton siaran itu. Mereka semua mengambil senjata dan mempersiapkan diri untuk mengepung musuh. Kakashi berpikir siapa sebenarnya Tobi mungkin dia mengenalnya Karena lima belas tahun yang lalu dia juga ikut dalam misi tersebut. Misi dimana dia kehilangan sahabat dan moralitasnya.

Dari duapuluh lima orang dalam timnya hanya dia sendiri yang selamat dari serangan griliyawan. Tangannya berlumuran dosa karena dia juga ikut membunuh warga sipil yang tidak bersenjata. Kakashi tidak akan lupa detik-detik dia menembak sahabatnya sendiri Obito Uchiha.

Dia pria yang idealist dan terlalu positif, Dia selalu mencoba mencari kebaikan dalam diri seseorang. Malam naas itu Obito menolak menjalankan perintah untuk melakukan genosida tapi atasan mereka tidak mau merubah perintah dan Obito yang marah menyerang kapten mereka. Kakashi mencoba menghentikannya tapi dia malah tanpa sengaja menembak Obito

"Kalian sudah siap?" Kakashi bertanya pada Itachi dan Sai.

Mereka berdua mengangguk, Kedua pria itu juga memiliki pikiran sendiri. Itachi berpikir apa dia telah di bodohi oleh pemerintah Konoha dan Danzo Shiimura untuk membunuh orang tuannya sendiri. Sekarang dia meragukan apa yang telah dia lakukan atas nama cinta dan kedamaian, Apakah dia juga hanya bidak politik yang dikorbankan orang-orang atas.

Sementara Sai sudah tidak heran dengan fakta bahwa Ayah angkatnya adalah orang yang keji dan kotor. Semenjak pria itu mengambilnya dari panti asuhan hidup Sai lebih buruk dari pada di Neraka. Berapa Nyawa yang telah dia habisi untuk kepentingan pria tua itu. Dia bahkan menghabisi Shin hanya untuk menunjukan pada Sai dia tidak akan pernah bisa punya pilihan. Sai tetap bertahan hidup karena dia berharap suatu hari hidupnya akan lebih baik.

Wajah Sasuke Uchiha muncul di televisi. Pria itu tampak menodongkan pistol pada wanita pirang yang sedang dicari-cari oleh awak media.

"Itachi Uchiha, Keluarlah dan hadapi aku bila kau ingin wanita ini selamat" Sasuke berharap Itachi menonton siaran langsung ini dan segera muncul di hadapannya.

"Ino" Itachi menggumankan nama wanita itu, Dia menyesal membuat Ino terlibat dalam masalah ini.

Sai yang juga melihat hanya diam tidak berekspresi, Pikirannya mencoba menganalisa apa yang terjadi antara Ino, Itachi dan Sasuke. Sai meninggalkan wanita itu karena ingin menjauhkannya dari bahaya dan meskipun dia telah menjauh ternyata wanita itu masih terkena masalah juga. Sai melirik Itachi yang sedang menyetir di sebelahnya ingin dia bertanya mengapa Sasuke menculik Ino untuk memancing Itachi.

Musuh hanya menculik dan membunuh orang-orang yang kau anggap berharga. Apa Itachi mengaggap Ino seseorang yang penting?. Sai memarahi dirinya bukan saatnya untuk memikrkan Yamanka Ino. Hanya satu hal yang harus dia kerjakan sekarang. Menghabisi musuh dan menyelamatkan sandera.

Itachi merasa tidak enak dengan Sai "Maafkan aku Sai, Ino tanpa sengaja terlibat denganku. Aku tahu kau mantan kekasihnya"

Hati Sai yang telah hancur tiba-tiba bisa merasakan sakit kembali mengetahui Ino ternyata bersama Itachi di ame, Bukankah seharusnya Ino sedang berbahagia dengan pemuda berambut orannye yang dia lihat mengapa jadi terlibat dengan Itachi. "Aku tidak punya urusan lagi dengan Yamanaka Ino, Lagipula pertunangan itu hanya pura-pura" Sahutnya dingin.

.

.

Kakashi memerintahkan ratusan personel polisi dan militer bersiaga di sekitar gedung DPR, dan area satu kilometer dari tempat itu juga disterilkan. Itachi dan Sai memeriksa denah gedung DPR dan berharap mereka menemukan celah untuk masuk kedalam tanpa ketahuan. Kakashi sudah memutuskan tidak apa-apa bila jatuh korban asal Tobi dan Sasuke bisa ditangkap. Tidak selamanya kejahatan bisa dilumpuhkan dengan bersikap baik.

"Sai kita bisa memanjat masuk lewat jendela lantai tiga" Ucap pria berambut panjang itu.

"Saat ini rapat tengah berlangsung di Ruang sidang lantai dua. Kecil kemungkinan anak buahnya bersiaga di lantai tiga. Bilapun ada penjaga disana kita bisa megatasinya"

"Berapa orang yang harus kita bawa? Apa lima orang cukup? Kita tidak bisa menyelinap diam-diam dengan banyak orang mereka akan curiga"

"Ok, Setuju. Kita bergerak dalam sepuluh menit"

Sai, Itachi dan tiga orang lainnya berjalan mengendap-ngendap melintasi area taman untuk mencapai sisi belakang gedung. Tidak terlihat anak buah Tobi berjaga di luar. Mereka bergerak dengan cepat dan senyap. Sai mulai memanjat dan memecahkan salah satu jendela di lantai tiga.

Mereka semua mengengam senjatanya dan menelusuri koridor demi-koridor tidak tampak anak buah Tobi disini. Lantai ini kosong. Seharusnya ada karyawan administrasi yang berkantor di sini. Mungkin Tobi mengumpulkan semua orang di lantai dua untuk memudahkan pengawasan.

Itachi bergerak menuju tangga darurat, Tampak seorang pria bertopeng dan bersenjata berjaga di depan pintu masuk. Pria itu tidak melihat Itachi muncul karena membelakanginya. Itachi bergerak layaknya seorang Ninja hanya dalam sepersekian detik pria berambut panjang itu merangkul sang penjaga dari belakang dan menjepit lehernya diantara lengan dan sikunya untuk mempersempit jalan nafas si penjaga. Dengan satu sentakan suara 'Krek' terdengar dan pria bertopeng itu tersungkur dilantai dengan posisi kepala tidak normal.

Mereka masuk dan berjalan mengendap-endap menuju ruang sidang. Sebisa mungkin mereka mencoba untuk tidak membuat suara atau menembak. Sai mengamati area dibelakang mereka. Masih tidak ada musuh.

Mereka bersembunyi di balik tembok. Dari tempat itu mereka dapat melihat tiga orang dengan senapan Shotgun berdiri di depan satu-satunya pintu masuk ke ruang sidang. Satu peluru tidak akan membunuh musuh dan bila suara tembakan terdengar dijamin keberadaan mereka akan ketahuan.

Mereka tidak tahu pasti berapa jumlah musuh yang bersiaga di dalam. Sai dan Itachi menyimpan senjata apinya. Mereka meraih Pisau bersiap menyerang. Itachi melirik rekannya dan melemparkan granat asap ke arah musuh mereka. Musuh yang tidak siap tampak kebingungan karena mereka tidak melihat apapun di tengah pekatnya asap berwarna abu-abu yang memenuhi ruangan. Mereka terlambat sadar sekelompok tentara sedang berdiri diantara mereka.

Dengan satu sabetan Sai merobek leher anak buah Tobi. Rekan rekannya yang lain juga melakukan hal yang sama mereka membunuh dengan sebilah pisau combat. Tubuh para penjahat terkulai di lantai berlumuran darah.

Sai segera mengontak Kakashi via ear piece nya "Kakashi-San, Kondisi sudah bersih. Penyergapan bisa dilakukan."

"Roger" Jawab Kakashi.

Pria berambut perak itu memimpin lima puluh orang masuk ke areal gedung DPR. Mereka menemukan mayat para polisi dan tentara serta pasukan Tobi tergelak di gerbang hingga lantai satu. Sepertinya tadi terjadi pertempuran alot. Kakashi mensiagakan pasukannya di lantai satu. Mereka tidak akan masuk dan menyerang lewat satu-satunya pintu karena itu sama saja dengan bunuh diri. Mereka harus memancing pasukan Tobi keluar.

Situasi dalam ruang sidang masih mencekam. Tidak ada yang berani membuat suara. Tobi bisa melihat ada yang aneh, Asap masuk dari celah pintu dan sialnya asap itu membuat alarm sistem kebakaran berbunyi dan air pun mulai mengucur dari sprinkle yang dipasang di langit-langit ruangan. Sontak para tawanan menjadi panik. Mereka mulai berguman dan berteriak.

Sasuke masih berwajah tenang menghadapi Kondisi ini, Sementara Ino memilih untuk duduk bersembunyi di bawah meja. Wanita itu takut, lelah dan stress dia teringat kejadian dengan Deidara dan Sasori tapi kali ini tidak ada Sai yang melindunginya. Ino tidak ingin mati ingin hidup dan bertemu anaknya. Ino gemetaran dan menangis. Ia ingin melahirkan anak ini, Ia ingin mereka selamat.

Sasuke menunduk untuk mengecek tawanannya yang diam di bawah meja

"Yamanaka, Kau pikir meja kayu ini mampu melidungimu?, Bila baku tembak terjadi kau pasti akan mati terkena peluru nyasar" Pria itu menyeringai.

Ino tidak berkata-kata, Dia hanya menatap Sasuke. Wajah wanita itu pias seolah darah telah meninggalkan tubuhnya

"Jadi kau ketakutan, Berdoalah Itachi akan datang menyelamatkanmu"

Tobi memerintahkan anak buahnya membuka pintu, mereka kemudian menembak membabi-buta tapi tidak seorangpun berada disana kecuali tiga mayat rekan mereka.

Empat orang anak buah Tobi memutuskan untuk keluar melakukan pengecekan begitu mereka berada selangkah dari pintu hujan peluru memberondong mereka. Salah seorang rekan Sai menembakan senjata otomatis pada empat pria itu.

Kericuhan pun terjadi,Suara tentetan tembakan dan Bunyi Alaram kebakaran membuat ratusan sandera mulai putus asa. Mereka pikir sedang terjebak dalam kebakaran dan kelihatannya penjahat ini tidak membiarkan mereka pergi. Jadi mereka mulai melawan dengan senjata apa adanya karena bila mereka diam mereka juga akan mati. Mereka melempari anak buah Tobi dengan berbagai macam object yang ada di sekitar mereka dan mencoba mengerubuti serta memukuli orang-orang bersenjata itu

Anak buah Tobi sibuk menembaki para politisi yang mulai menyerang dan tidak memperhatikan keberadaan team yang dipimpin Itachi. Kesempatan Ini digunakan Sai dan Krunya untuk menyelinap ke dalam kekacauan. Itachi, Sai dan Rekan-rekannya mulai menembaki semua pria bertopeng yang mereka lihat. Jumlah mereka tidak banyak. Tak lama Kakashi dan pasukannya datang mengepung dan menghabisi sisa pasukan Tobi. Hanya Tobi dan Sasuke yang masih berdiri puluhan pistol membidik mereka. Sementara anggota lainnya membatu evakuasi sandera. Dalam ruangan itu bergelimpangan mayat. Tobi dan Sasuke terpojok dan dikelilingi pasukan bersenjata.

Mereka berdua terkepung tapi Tobi dan Sasuke masih punya dua Sandera. Tsunade dan Ino. Sasuke melihat Itachi berdiri di antara polisi dan Kakaknya balas memandang. Seringai di bibir Sasuke tidak menghilang. Pria itu menarik Ino dari persembunyiannya dan menodongkan pistol dipelipisnya. Suasana begitu menengangkan.

Tobi melihat pria berambut perak yang tengah membidikkan pistol padanya. Kemudian dia menaggalkan topengnya.

Kakashi terkejut, "Obito?"

"Sepertinya semua pengkianat berkumpul disini Sasuke"

Sasuke memfokuskan pandangannya pada Itachi yang sudah lima belas tahun tidak dilihatnya. Ekspresi kakaknya terlihat Dingin dan keras. Pria yang dia tatap bukanlah pria yang ketika dia masih kecil selalu mengendongnya pulang dari taman. Tapi wajah orang yang menembak ayah ibunya.

"Lepaskan Ino, Sasuke" Pinta pria berambut panjang itu.

"Jadi kau benar-benar datang untuk wanita ini? Bagaimana bila aku membunuh dia dan anak kalian di hadapanmu? Apa kau akan kesal Itachi"

Ino tidak mampu berkata-kata, Wanita berambut pirang itu menatap Sai dengan mata basah dengan pandangan tidak percaya. Sai masih hidup. Ino tidak bisa bergerak. Lengan sasuke menguncinya. Sai balas menatapnya entah mengapa Ino merasa jiwa pria itu sedang tersiksa.

Apa yang dikatakan Sasuke membuah badai berkecamuk dalam dirinya. Seharusnya Sai tidak lagi memikirkan Yamanka Ino. Terserah wanita itu bersama dengan siapa. Ino tidak pernah jadi miliknya jadi mengapa dia merasa marah saat ini. Marah pada Itachi dan marah pada wanita itu.

"Tolong Sasuke, Kau bisa membunuhku tapi lepaskan Ino. Dia tidak ada hubungannya dengan ini" Itachi memohon.

"Obito, Sasuke menyerahlah kalian sudah terkepung" Kakashi mengancam mereka.

Tidak menggubris ucapan pria berambut perak itu, Obito langsung menembak Kakashi dengan tembakan beruntun. Jarak mereka yang begitu dekat membuat Kakashi tidak mungkin berkelit

"Bagaimana rasanya ditembak oleh sahabatmu sendiri? Kau pengecut dan penjilat Hatake. Aku mempercayaimu tapi kau membunuhku. Terima kasih sudah menyadarkanku kebaikan itu tidak ada"

Pria berambut perak itu jatuh, darah segar mengucur dari luka tembaknya tapi Kakashi Hatake merasa lega seperti sebuah beban besar yang selalu dia bawa terangkat dari pundaknya. Mungkin ini karma yang harus dia terima. Dia pikir dirinya telah membunuh Obito dan dia hidup dalam penyesalan dan kini dosa masa lalunya telah nya terbayar

Sai, Itachi dan Anak buah lainnya hanya bisa termanggu. Mereka tidak tahu harus melakukan apa tanpa pimpinan mereka. Lagi pula Nona Tsunade masih di tangan Tobi dan Kapten Yamato tengah mengurusi terrorist di tempat lain. Bila Itachi dan Sai mengingat perintah Kakashi-seharusnya mereka langsung menembak Tobi dan Sasuke di tempat. Tapi mereka tidak sampai hati mengorbankan Ino. Mereka hanya bisa terdiam saat Tobi menyeret Tsunade sebagai perisainya membiarkan anggota Akatsuki itu lewat.

Nona Tsundade mengeliat dan meronta mencoba membebaskan diri dari Tobi.

"Lepaskan Aku" Teriak wanita itu.

Tobi mencengkram wanita itu lebih erat hingga mereka tiba di pintu keluar "Diam, Aku akan membunuhmu nanti"

Sasuke masih berdiri di tempatnya menyandera Ino. Dia hanya fokus berpikir bagaimana dia bisa bicara pada Kakaknya. Dia ingin tahu apa yang dia dengar dari Kakashi benar, Apa kata-kata Tobi benar. Apa Konoha hanya memperalat Itachi. Banyak pertanyaan yang ingin dia ketahui. Ia mengejar Itachi untuk mencari sebuah kebenaran.

"Sasuke, Kau tidak ikut denganku?" Tobi berteriak tapi Pria berambut gelap itu tidak bereaksi.

"Sepertinya aku harus membantumu menghabisi pengkhianat klan Uchiha" Lanjut anggota Akatsuki itu membidikan pistol ke arah Itachi.

Mendengar suara letusan Sasuke bergerak reflex melepaskan Ino dan berlari ke arah Itachi yang berdiri tiga meter jauhnya. Peluru Tobi menghantam punggung Sasuke dan merobek paru-parunya. Cairan kental berwarna merah mengalir dari bibirnya dan dia kesulitan bernafas. Itachi meraih adiknya.

"Sasuke?" Panggilnya dengan khawatir

"Nii-san, tidak seorang pun boleh membunuhmu selain aku" Ucap Sasuke terbata-bata.

"Maafkan aku, Aku hanya ingin kau selamat dan menjalani hidup mu dengan tenang tapi malah jadi begini" Itachi menatap adiknya yang sekarat dengan penuh penyesalan.

Sasuke merasa tercekik, Udara meninggalkan paru-parunya. Dia sudah tidak mampu bernafas lagi

"Apa kau menyayangiku?"

"Tentu saja" Seharusnya dulu dia memberitahu apa yang terjadi pada Sasuke, Bukan meninggalkan adiknya tanpa penjelasan. Itachi takut Sasuke tidak bisa menerima pemikirannya tapi yang terjadi dia malah membuat Sasuke hidup dalam kegelapan dan tersesat.

Banyak hal yang sebenarnya Sasuke ingin tahu sayang waktunya sudah habis, tapi dia telah mendapatkan jawaban yang paling ingin dia dengar selama ini. Itachi menyayanginya. Pria itu kehabisan nafas dan menutup matanya

"Sasuke" Teriak Itachi sambil memeluk tubuh adiknya yang setiap detiknya menjadi semakin dingin.

.

.

Tak jauh dari dari tempat Itachi meratapi kematian adiknya, Yamanka Ino terduduk lemas perutnya terasa sakit luar biasa dan dia merasakan cairan mengalir membasahi pahanya. Wanita itu Shock berat dengan semua yang dia lewati. Sepertinya semua guncangan yang dia alami mempengaruhi bayi dalam perutnya.

Sai mendekati Ino dan berlutut di hadapan wanita itu. Menatap lurus pada sepasang iris aquamarine yang dia rindukan. Sai tahu dia salah bukankah tidak boleh menginginkan milik orang lain. sekarang Ino milik Itachi tapi dia masih ingin bersama wanita itu dan mencoba menutup kekosongan yang dia rasakan semenjak Ino pergi.

Ino sangat lega melihat Sai di hadapannya. Dia memeluk pria berkulit pucat itu dengan erat. Berada di dekatnya selalu membuat Ino merasa aman.

"Sai, Aku senang kau masih hidup"

Mata hitam Sai membulat terkejut dengan reaksi Ino. Pria itu membeku di tempatnya tidak menyangka Ino akan memeluknya.

Merasakan tubuh pria itu menjadi kaku karena pelukannya Ino jadi ragu dan melepaskannya, Ino lupa mungkin Sai tidak ingin disentuh olehnya.

"Maaf" Ujar wanita itu lirih.

Sai tetap menatap mata Ino, Sedikit kecewa karena tidak lagi merasakan hangat tubuh wanita itu mendekapnya. "Ino, Aku minta maaf telah memintamu pergi. Sekarang aku sudah memahami perasaanmu"

Ino mendesah "Aku juga ingin minta maaf padamu karena telah merahasiakan sesuatu. Aku tidak ingin kecewa lagi Sai"

"Aku mengerti Ino, Aku telah menyakitimu"

Sai membantu Ino berdiri dan kemudian wanita itu memengangi perutnya. Dahinya mengerenyit menahan sakit.

Pria itu menyadari ekspresi Ino. "Ada apa Ino? "

Sai menduga Ino kesakitan tapi tidak ada tanda-tanda luka, Dia tidak punya pengetahuan sedikpun tentang wanita hamil.

"Uhh" Ino meringis. "Sepertinya bayinya akan lahir" tidak kuat berdiri Ino duduk di kursi yang ada di dekatnya. Sai menghubungi seseorang via ear piecenya meminta paramedic menangani Ino.

Ino menarik nafas panjang seperti yang telah dia pelajari di kelas ante-natal dan Sai menatapnya dengan khawatir. Tanpa dia sadari. Dia telah mengengam tangan Ino.

Ino ragu untuk memberitahu Sai tapi dia harus memberitahu pria itu sekarang. Karena Ino tidak tahu kapan lagi mereka bisa bertemu

"Sai,Bayi dalam perutku ini adalah anakmu"

Ucapan Ino membuat Sai bingung "Bukannya Sasuke bilang ini anak Itachi-san?"

Ino menggeleng "Tidak, Sasuke salah. Aku tidak pernah intim dengan Itachi"

"Lalu pria berambut oranye itu?"

Dahi Ino mengkerut, Satu-satunya pria berambut oranye yang dia kenal hanya Yahiko. Sekarang Ino yang terkejut "Kau mencariku ke ame?"

"Iya, Aku hendak minta maaf dan memintamu kembali tinggal di rumahku, tapi aku melihatmu berpelukan dengan pria berambut oranye itu. Jadi aku pergi tanpa menemuimu. Aku hanya ingin kau bahagia Ino" Ucapnya jujur.

Air mata mengalir di pipi Ino "Kau sangat bodoh Sai…benar-benar bodoh. Dia Yahiko temanku"

Sebersit harapan tumbuh di hati Sai "Apa mungkin kau masih mencintaiku Ino?"

"Tentu saja, Aku tidak pernah berhenti mencintaimu, Kau memang bodoh"

Sai memeluk wanita itu dan mencium keningnya "terima kasih, Ino. Aku sempat berpikir kau melupakanku"

"Sepertinya kau harus menyapa anak kita" Ino membawa tangan pria itu ke perutnya

"Ini papa mu, Sebentar lagi kau berjumpa dengan kami"

Sai merasa takjub ketika telapak tangannya merasakan gerakan dari perut Ino dan kali ini Lagi-lagi Ino merasakan sakit yang menusuk di area pinggang, perut dan panggulnya

"Sai, Aku harus ke rumah sakit sebelum air ketubannya habis"

"Tenang Ino paramedis sudah disini, Mereka akan membantumu"

Reuni mereka berakhir ketika Itachi yang telah mengatasi gelombang emosinya memanggil pria berkulit pucat itu

"Sai, Kita harus mengejar Tobi sebelum kehilangan jejak" Pria itu segera keluar gedung meningalkan tubuh adiknya tergeletak di lantai.

Sai berbalik untuk menyusul Itachi tapi Ino meraih tangannya. Pria itu menoleh dan memandang Ino dengan tanda tanya.

"Sai, pulanglah pada kami. Aku menunggumu" Ino engan melepaskan tangan pria itu. Ia tidak ingin berpisah lagi.

"Ino, Aku berjanji akan kembali. Kali ini kita akan selalu bersama" Dan Sai pun tersenyum.

Bukan senyum palsu yang biasa dia berikan tapi sebuah senyum yang berasal dari hati. Pria itu pun berlari menyusul Itachi yang sudah pergi duluan. Meninggalkan Ino yang kini telah ditangani oleh tim medis.

.

.

" Apa Tobi sudah terlacak?" Itachi terhubung dengan Markas pusat. Tobi telah meninggalkan gedung DPR sekitar lima belas menit yang lalu dengan membawa Nona Tsunade

Itachi tampak serius dan mengemudi dengan kencang.

"Ok Baik, Aku mengerti" Pria itu menjawab komunikasi dari markas.

Mantan Anggota Akatsuki itu memutuskan bicara pada rekannya "Tobi bergerak menuju Desa Oto, Kita harus menghentikannya"

Sekarang semua ada ditangan mereka berdua untuk menyelesaikan ini "Apa kita masih bisa mengejarnya"

"Ya, Kalung Nona Tsunade berisi pelacak, Jadi markas bisa memantau lokasi Tobi selama Nona Tsunade bersamanya"

Mereka pun berkendara dalam diam. Atmosfer kecanggungan menyelimuti mereka.

"Sai, Aku minta maaf soal Ino"

"Mengapa minta maaf padaku ?" Sai heran mengapa Itachi harus minta maaf padanya.

"Aku membuat wanita itu dalam bahaya padahal dia sedang mengandung Anak-mu"

"Jadi benar, Bayi itu anakku?"

"Ya, Ino selalu memikirkanmu, Meskipun saat dia bersamaku. Mungkin dia merasa aku mirip denganmu"

"Jadi kalian memang dekat" Sai tidak sedikitpun memandang Itachi

"Aku mengangap Ino orang yang penting bagiku"

"Aku mengerti, tapi aku mencintai Ino"

Percakapan kedua pria itu berakhir disana. Mereka menemukan mobil yang di kendarai Tobi terparkir di pinggir jalan dengan kondisi pintu terbuka. Kedua agen rahasia itu turun dari mobil memepersiapkan senjata melangkah untuk memeriksa kondisi mobil itu dan dalam mobil mereka menemukan Mayat Nona Tsunade.

"Tobi membunuh Nona Tsunade, Kita kehilangan jejaknya"

"Dia tidak mungking berlari jauh Itachi, Minta pasukan untuk datang menyisir area ini. Kita akan mencarinya"

"Baiklah" Itachi pun mengontak Markas pusat dan menginformasikan apa yang telah terjadi.

Sai kembali kedalam mobil mengambil pistol dan amunisi. Mungkin Tobi meninggalkan jejak yang bisa dia ikuti. Itachi mengikuti rekannya.

"Sai, Apa kau baik-baik saja, Bukankah Ino saat ini akan melahirkan kau bisa kembali dan membiarkan aku melakukan tugas ini?"

"Tugas adalah tugas Itachi-San, Setelah ini selesai aku akan kembali padanya, tapi bila terjadi sesuatu padaku bisakah kau menjaga Ino"

"Mengapa memintaku?"

"Karena kau juga mencintainya"

Sudut bibir Itachi terangkat "Sejak kapan kau paham soal perasaan?"

Sai tersenyum "Sejak aku mengenal Yamanka Ino"

Mereka berdua pun berjalan mengikuti sisa jejak kaki di tanah berlumpur yang mungkin saja milik Tobi.

.

.

Ino mengerang kesakitan, Badannya terasa seperti ditabrak truk leibh buruk daripada itu sudah dua jam dia menderita seperti Ini dan menurut para suster Ini tergolong cepat karena dia sudah memasuki bukaan terakhir yang perlu dia lakukan sekarang hanyalah mengejan

"Nona, Kau harus menari nafas dan mendorong bayinya" Pinta sang perawat

"Errgh..." Ino mengeluarkan segenap kekuatannya. Setelah Ini ino berjanji pada dirinya tidak akan hamil lagi.

"Tarik nafas panjang Nona dan mulai mendorong"

"Sai, Dasar kau brengsek!" Umpat wanita itu disela-sela rasa sakitnya

Selama tiga puluh menit Ino kesakitan dan memaki-maki Sai sambil berusaha mengeluarkan bayinya, Tenaganya sudah mulai habis dan keringat membanjiri tubuhnya.

Dokter kembali menyemangatinya "Nona, Kepalanya sudah terlihat"

Ino kembali mengumpulkan tenaganya "Urrghhhh" Ino merasakan kewanitaanya tertarik melebar ketika kepala bayi lewat dan luar biasa sakit rasanya.

"Satu dorongan lagi Nona dan kami bisa menariknya"

Ino pun berusaha, dan semua itu terbayar ketika terdengar tangisan bayi memenuhi ruangan.

Dokter memotong tali pusarnya dan menunjukan bayi yang terlahir sehat dan sempurna itu pada sang Ibu yang lelah dan meringis, Ino langsung jatuh hati melihat putranya, Kulitnya masih merah dan kriput tapi Ino bisa melihat helaian halus berwarna pirang memahkotai kepalanya,

Dokter membersihkan bayi Ino sebelum membiarkan sang Ibu mengendongnya. Dan wanita berambut pirang itu merasa luar biasa bahagia memeluk buntalan kecil yang tak henti-hentinya menangis. Andai saja Sai berada di sini semua akan sempurna.

.

.

Tobi merasa lelah. Dia bersandar di batang pohon pinus yang besar. Dia melarikan diri ketengah hutan, Apa yang terjadi pada dirinya. Seorang pimpinan organisasi revolusioner sekarang harus bersembunyi seperti tikus. Semua rencananya telah gagal bila Tentara Konoha tidak membunuhnya maka Madara yang akan membunuhnya. Hidupnya telah lama berakhir, Dia tidak benar-benar merasa hidup sejak lima belas tahun yang lalu.

Tanpa dia duga peluru menyerempet bahunya. Tobi tidak melihat siapapun tapi dia menembak ke arah peluru itu berasal. Tobi kembali berlari dan Dia sekarang bisa melihat dua orang mengejarnya. Pria itu melepaskan tembakan tidak terarah. Setelah sepuluh menit berlari mereka tiba di pinggiran hutan. Sebuah padang rumput yang dipenuhi bunga liar menanti mereka.

Tobi terekspos di ruang terbuka tidak ada satu bendapun yang bisa menyembunyikannya. Sai tiba dan menodongkan senjatanya pada Tobi. Ini terlihat seperti adegan duel para Koboi.

"Menyerahlah" Teriak Pria berambut hitam legam itu.

Tobi malah tertawa seperti orang gila. Luka di bahu kanan Tobi membuatnya sulit untuk membidik tapi dia tidak akan menyerah begitu saja dan pria itu pun menarik pelatuk pistolnya.

Sai terlambat bertindak, Peluru menghujam sisi kanan perutnya. Dengan menahan Sakit Sai melepaskan rentetan tembakan. Satu peluru Sai mengenai lengan kanan Tobi. Pria itu manjatuhkan pistolnya. Sai memegangi perutnya yang terluka. Itachi yang membackup Sai muncul dari belakang dan menyelesaikan Tobi dengan menembak tepat di jantung pria itu. Pria itu terkapar di antara bunga-bunga Liar.

Itachi mendekati Sai memeriksa luka rekannya "Kau baik-baik saja Sai?"

"Satu peluru tidak akan membunuhku Itachi-San, Tolong minta markas pusat mengirim helikopter kemari. Aku harus ke rumah sakit"

Itachi melakukan apa yang rekannya minta, Kurang dari sepuluh menit Sebuah Helikopter tiba dan mendarat di padang rumput itu. Itachi membantu Sai naik.

Darah merembes perlahan-lahan dari lukanya tapi Sai harus bertahan. Dia harus kembali pada Ino.

Tak lama mereka sampai di rumah Sakit Konoha. Sai meminjam jaket pilot helikopter itu untuk menutupi lukanya, Ia tidak ingin Ino shock melihat kondisinya. Itachi memapah Sai berjalan menuju ruang perawatan Ino.

"Sai jangan keras kepala, Kau harus dirawat dulu"

"Tidak Itachi-san aku mengkhawatirkan Ino"

Itachi tahu satu peluru tidak akan membuat seseorang mati, tapi kehabisan darah bisa membuat orang mati.

Itachi membukakan pintu ruang perawatan. Ino yang sedang duduk di ranjang bersama bayinya menoleh dan menemukan dua orang pria berambut hitam berdiri di pintu

Wanita itu tersenyum melihat Sai pulang.

.

.

.

Dengan tertatih-tatih dia berjalan mendekati Ino dan bayi mereka, Dia berdiri di sisi ranjang mengagumi bayi mungil yang sibuk menyusui dengan mata terpejam.

Itachi menunggu diluar membiarkan dua orang itu menikmati privasinya.

"Sai kau baik-baik saja?" Sai terlihat lebih pucat

"Aku tak apa-apa Ino, Apa kau sudah memberinya nama?" Sai mengulurkan jari telunjuknya

"Namanya Inojin dia tampan kan?, Inojin papa datang" Seolah merespon kata-kata Ino. Bayi mungil itu mengengam jari Sai dengan tangan mungilnya dan membuka matanya.

Sai tersenyum menatap manik aquamarine yang terlihat seperti Ino "Mata anak ini seperti dirimu"

"Yap, Hanya mata dan rambutnya Sai, Sisanya mirip dirimu"

Sai merasa sangat bahagia. Dia tidak pernah bermimpi semua ini akan terjadi. Sekarang dia punya keluarga untuk pulang. Dia tidak akan akan lagi sendirian dan kesepian. Dia dicintai dan merasakan emosi. Seketika Pandangan matanya mulai buram, Kulitnya menjadi semakin pucat, Sai merasakan detak jantungnya semakin cepat. apa dia kehabisan waktu. Apa dia akan mati, Dia tidak ingin mati sekarang ketika dia merasa hidupnya mulai sempurna.

Mata sehitam jelaga menatap sepasang manik aquamarine. Ino wanita yang merubah dunianya. Wanita yang menjadi inspirasinya, Wanita yang merupakan segalanya dalam hidupnya. Penerimaan dan cinta wanita itu membuatnya merasa seperti manusia normal. Sai medekatkan wajahnya pada Ino dan mencium wanita itu dengan bibir bergetar, Dia merindukan manis dan lembutnya bibir Ino.

Diantara nafas nya yang pendek-pendek Sai berbisik di Bibir wanita itu, "Yamanaka Ino, aku mencintaimu dan terima kasih atas segalanya"

Ino menyadari ada sesuatu yang tidak beres karena Sai tampak luar biasa pucat dan tangannya dingin. Darah mulai merembesi jaket yang dikenakannya. Sai kehilangan kesadaran

'Thud' Tubuhnya jatuh ke lantai

"SAIi...SAI... BANGUN SAI...TOLONG!" Ino berteriak panik dan bayi Inojin pun menangis dengan keras.

.

.

.

"NOT UNTIL I MET YOU

Not until I felt your sunshine,
Did I realize that I had been in the shade.
Not until I saw all your colors,
Did I realize that mine had faded.
Not until I heard your dreams,
Did I realize that I was still sleeping.
And not until I experienced my life with you,
Did I realize that I was barely
Breathing."
― Suzy Kassem,

.

.

Tidak perduli dimanapun dirku berada, Cintaku akan selalu bersamamu

.

.

TAMAT


Apakah para reader menginginkan epilog?