A/N: Okay~, setelah lama man-main di fandom One Piece~ (belum puas sih, tapi…), biar adil sama Naruto ^^; sekarang luna apdet lagi deh, cerita ini. Entah kenapa semangat luna buat nulis fandom Naruto agak2 turun… Ya, sudahlah. Bagi yang sudah lama nunggu, ini dia capter baru~ Slakan DINIKMATI! XD

Disclaimer: Kishimoto Masashi masih menjadi pemilik dan pengarang Naruto, belum ada pergantian apapun...

Warning: seperti biasa—shounen ai (SaiNaru, SasuNaru…), bahasa kasar dan AU


The Legend of Nine Tails Phantom Thief

Chapter 13: Uciha on Move! Troublesome ex-Fiancé!

Sudah sebulan berlalu sejak insiden peledakan bom oleh si Pencuri Misterius Ookami si Serigala Malam. Kehidupan di kota Konoha sudah kembali tenang dan perlahan-lahan, berita tentang Ookami pun sedikit memudar. Hal itu juga berlaku bagi para siswa di SMA Konoha. Mereka kembali menjalani kegiatan belajar mereka dengan tenang.

Yah, seharusnya seperti itu, tapi masih dapat dilihat di kelas Sasuke dan kawan-kawan, dua bangku kosong yang dulunya dihuni oleh seorang siswa berambut pirang bermata biru dan siswi berambut panjang yang terkenal galak dengan warna mata dan rambut mirip dengan si siswa.

Sasuke melirik ke arah bangku kosong yang seharusnya diduduki si bocah pirang, Naruto. Sampai sekarang, tetap nggak ada kabar dari sobat sejak kecilnya itu. Iruka juga nggak bilang apa-apa karena dia sendiri belum mendapat kabar dari rumah sakit yang merawat Naruto.

Sakit apa dia sampai butuh waktu sebulan untuk sembuh?—pikir Sasuke penasaran.

Saat Sasuke pulang dari rumah Naruto terakhir kali, ia bertemu Shikamaru, Kiba, dan Shino yang sedang dalam perjalanan ke rumah Naruto. Ia juga memberikan info pada mereka supaya nggak perlu repot-repot datang ke rumah Naruto itu karena dia sedang dirawat di rumah sakit.

Wajah ketiga teman sekelas Sasuke itu terlihat sangat kaget dan cemas saat mendengar kata-katanya. Lalu mereka mulai membahas sesuatu yang berkaitan dengan adegan peledakan bom Ookami. Karena penasaran, Sasuke mengorek info juga dari mereka. Katanya ada kemungkinan Naruto juga jadi salah seorang korban peledakan bom itu. Sasuke merasa ini sangat aneh. Jelas-jelas Iruka berkata penyakit Naruto memburuk, nggak mungkin dia jalan-jalan dengan keadaan begitu, kan?

Atau jangan-jangan, Iruka berbohong biar Sasuke nggak cemas? Sasuke hanya bisa berspekulasi karena semua kemungkinan bisa diperhitungkan.

Saat bel istirahat siang berbunyi, para siswa pun mulai menyebar. Ada yang ke kantin, ada yang ke toilet, ada juga yang tetap tinggal di kelas. Namun, meskipun kegiatan mereka tak berubah, entah kenapa mereka merasa ada sesuatu yang kurang. Kelas itu jadi terlalu tenang dan rasanya mereka kurang bersemangat. Bahkan Karin yang biasanya langsung menguntit Sasuke begitu ada kesempatan pun tak melakukan apa-apa.

"Kok rasanya kelas kita jadi aneh, ya?" Kiba nyeletuk dengan alis berkerut.

"Aneh gimana?" tanya Shikamaru sambil menguap.

"Apa Kau nggak merasa apa-apa? Rasanya aneh banget, nih! Ngaak ada mood! Nggak rame! Nggak ada niat apa-apa! Membosankan!" seru Kiba emosi. Dia memang paling nggak suka suasana muram seperti itu, apalagi di sekolah yang seharusnya menjadi pusat keramaian dan kesenangan.

"Kalau memang bosan, sana cari berita, Kiba," Sasori berkata sambil menepuk pundak Kiba dan tersenyum ringan, mencoba menyemangatinya.

"Itulah, Sasori, entah kenapa aku nggak mood mencari berita! Rasa-rasanya sumber inspirasiku hilang," kata Kiba sambil mendesah lemas. "Kenapa aku ngerasa aneh gini, ya? Apa yang kurang sih?" Kiba berdecak pelan sambil menggigit kuku ibu jarinya dengan wajah sedikit tersiksa.

Sasori menghela nafas panjang juga dan melihat ke arah Shikamaru yang hanya angkat bahu.

"Apa mungkin gara-gara Naruto nggak kelihatan, ya? Dia kan mood-maker kelas kita," tiba-tiba Haku ikut bicara. Si cewek, …cowok maksudnya, yang cantik banget itu pun menghela nafas bosan sambil memegang pipi kirinya dengan gerakan yang feminin, entah kenapa sedikit terpuruk juga.

"Mungkin juga. Kakashi-sensei juga nggak banyak mengoceh seperti biasanya waktu mengajar," Shino menyahut sambil membolak-balik halaman buku komputer yang tak konsentrasi dibacanya. Entah kenapa dia juga merasa ada yang kurang dan itu sedikit mengganggunya.

"Itu sudah pasti karena nggak ada lawanya, kan? Yang setia menanggapi ocehan aneh Kakashi-sensei cuma Naruto, sih," dan Sasuke pun ikut-ikutan berkomentar.

Kontan mereka semua setuju begitu mendengar suara Sasuke yang terdengar paling senewen di antara mereka semua, kalau mood kelas mereka jadi jelek gara-gara Naruto nggak ada di sana. Padahal bocah itu kerjanya cuma cari ribut dan nyusahin orang, tapi kalau dia nggak ada…rasanya semua jadi nggak semangat. Teutama para cowok yang mengidolakanya yang terlihat paling nggak menyenangkan situasinya.

Sasori mengehela nafas panjang, merasa agak bersalah pada teman-temannya yang sedang bad mood. Ternyata Naruto itu populer sekali meskipun sendirinya nggak sadar; dan saat ini Sasori tengah memonopoli selebritis sekolah itu di rumahnya karena masa penyembuhan Naruto belum beres. Kalau mereka tahu apa yang terjadi…Sasori bakal dibunuh nggak ya?

Begitu memikirkanya, si rambut merah itu langsung merinding. Mungkin dia bisa melepaskan Naruto lebih cepat dari jadwal. Toh patah tulangnya sepertinya sudah sangat membaik, tapi kalau perban-perban itu belum bisa dilepas, Naruto belum boleh sekolah. Dia kan seharusnya nggak luka apa-apa, hanya sakit demam biasa…yang nggak sembuh-sembuh dalam sebulan.

Memangnya ada penyakit macam itu?—Sasori jadi salah tingkah sendiri saat memikirkanya. Padahal sendirinya dokter, tapi belum pernah mendengar penyakit dengan gejala dan tanda seperti itu. Apa dia bikin-bikin alasan saja ya? Penyakit dengan virus baru, gitu? Kalau virusnya bisa dikembangkan, bisa jadi hak paten mahal tuh…

Waduh, sasori malah mikir yang aneh-aneh. Si rambut merah menghela nafas dan geleng-geleng kepala. "Apa kita pergi saja ke rumahnya dan cari info?" usul Sasori kemudian.

"Ah, kurasa kesana pun kita nggak bakal dapat apa-apa," sahut Sasuke kemudian. "Kemarin Kak Iruka bilang belum ada kabar dari rumah sakit yang merawat Naruto," lanjut Sasuke dengan alis tertekuk, sedikit khawatir.

"Apa sakitnya sampai separah itu ya?" Kiba ikutan khawatir juga mendengarnya.

"Sasuke, Kau telpon rumah Naruto tiap hari?" tanya Shikamaru sambil mengangkat alis matanya dengan heran.

Ugh…maunya sih begitu, tapi nanti malah dianggap mengganggu—pikir Sasuke dengan sebulir keringat terjatuh dari belakang kepalanya.

"Ya enggak, lah, Shikamaru. Masa' tiap hari? Aku bukan stalker, tahu. Aku telpon seminggu sekali kok," kata Sasuke sambil menghela nafas panjang.

"Oh, begitu…," Shikamaru memasang wajah aneh. Apa hanya perasaanya…tapi Sasuke kelihatan nggak puas?

"Yah, emang sepi kalau nggak ada Naruto, sih ya?" Haku setuju sambil menghela nafas panjang juga.

"Ngomong-ngomong…," Shino tiba-tiba bersuara lagi. "Ada seorang lagi yang sama-sama nggak kelihatan, ya?" Lalu cowok berkaca mata hitam itu melirik ke arah bangku kosong di tengah kelas.

"Ino juga sudah sebulan nggak masuk, ya," Kiba berkomentar.

"Apa cuma kebetulan? Sehari setelah Naruto absen, Ino absen juga. Terus mereka sama-sama lama nggak masuk," Shikamaru berpikir keras.

"Ah, kalau tentang Ino…kata Kak Itachi sih dia terlibat peledakan bom sebulan lalu itu dan lagi dirawat di rumah sakit, sih," Sasuke menyahut tanpa menoleh ke arah teman-temanya dengan expresi datar.

Keheningan sesaat pun meliputi kelas sebelum. "APUAAAAAAA!?" teriakan horor dari Kiba, Haku, dan Shikamaru menggelegar. Kaca mata Shino sampai melorot lagi dan wajahnya terlihat sangat kaget dengan alis terangkat. Sasori hanya bisa pura-pura terkejut, tapi dengan tampang meyakinkan.

"Tunggu dulu, Sasuke! Kau tahu tentang hal itu dan nggak ngomong apa-apa selama ini!?" protes Haku nggak terima.

"Heeei! Apa-apaan cara bicara nggak penting itu, Sasuke!? Kaya' ngomongin cuaca saja! Itu berita besar lho! Anak kelas kita ternyata ada yang terlibat dengan kasus itu! Harusnya Kau panik sedikit, kan!?" Kiba pun mulai berceloteh dengan berapi-api.

"Sasuke…Kau itu terlalu cuek," kata Shikamaru dengan pandangan mata tak percaya. Shino mengiyakan dengan yakin di belakangnya.

"Tapi, waktu itu Sasuke sendiri juga terlibat, kan? Kau cerita ke kami cukup detil soal pertarungan Kyuubi dan Kyuubi palsu," kata Sasori lagi. "Apa Kau melihat Ino di sana?" lanjutnya bertanya.

"Aku nggak lihat Ino. Kata Kakak dia dibawa ke rumah sakit oleh seseorang dan orang itu yang memberi keterangan," kata Sasuke dengan wajah sedikit tidak enak. Mungkin dia memang harus menyebutkan semuanya begitu dia tahu, ya? Teman-temanya nggak disangka-sangka ternyata para pencemas sih.

"Apa Kau tahu siapa yang membawa Ino ke rumah sakit?" Haku bertanya.

"Nggak, katanya langsung pergi begitu menyerahkan Ino ke RS," jawab Sasuke lagi.

"Tahu di mana RS-nya? Gimana kalau kita jenguk?" Sasori memberi usul lagi.

"Ide bagus, tuh! Ayo kita jenguk Ino!" seru Kiba langsung setuju.

"Kapan mau pergi? Kalau hari ini aku nggak bisa, lho. Ada janji dengan Zabusa-sensei soalnya," Haku tersenyum ceria mengingat-ingat acaranya hari ini.

"Kalau begitu besok saja," Sasuke menyarankan.

"Oke, kalau begitu besok pulang sekolah kita kumpul di gerbang dan berangkat sama-sama," Shikamaru mencatat janji itu di buku sakunya. "Shino, Kau juga ikut?" tanya Shikamaru sembari menoleh ke arah Shino.

"Memangnya boleh ramai-ramai ke rumah sakit? Mending dibagi jadi dua gelombang, yang hari ini sama besok," saran Shino.

"Benar juga, RS nggak bakal mengijinkan kita masuk kalau datang ramai-ramai," Sasori setuju. "Kalau begitu yang pergi hari ini Aku, Sasuke, dan Kiba. Shino, Shikamaru, dan Haku besok, gimana?" lanjut Sasori.

"Oke," Shikamaru, Kiba, dan Haku mengangguk bersamaan. Shino dan Sasuke mengangguk setuju.

SASUNARUSASUNARUSASUNARUSASUNARUSASUNARUSASUNARUSASUNARUSASUNARUSASUNARU

Begitulah… dengan keputusan bersama, Sasuke, Sasori, dan Kiba kemudian pergi ke RS Pusat Konoha. Saat di perjalanan Sasuke berulang kali melirik ke arah Sasori. Sepertinya ada sesuatu yang ingin dikatakanya pada si bocah berambut merah itu, tapi karena Kiba juga ada di sana, Sasuke jadi agak ragu apa boleh mengatakan hal seperti itu di sini. Yah, bukanya Sasori bermaksud menyembunyikan sesuatu atau apa, tapi kata-kata Sasori waktu mereka bicara di atap itu sedikit mengganggunya.

Sasori tentu saja sadar dengan tatapan penasaran Sasuke, tapi dia pura-pura nggak tahu. Bakal repot kalau Sasuke bertanya macam-macam soal Kyuubi pas Kiba ada di sana juga. Bisa-bisa rahasia kalau dia punya hubungan dengan Kyuubi terbongkar di sana.

Sesaat setelah mereka sampai di RS, mereka melihat seseorang yang seharusnya nggak ada di sana. Cewek berseragam sekolah SMA Konoha dengan rambut pink panjang dan mata emerald yang indah berdiri dengan wajah sedikit khawatir, menatap papan pencatatat pasien rawat inap dan dokter yang menangani mereka hari ini.

"Itu Sakura kan?" Kiba nyeletuk dengan wajah kaget.

"Kenapa ada di sini, apa dia sakit?" tanya Sasori pura-pura kaget juga.

Waduh, kenapa orang itu malah ke sini, sih? Kan sudah kubilang supaya diam saja di rumah dengan tenang? Bisa kacau kalau dia ngomong macam-macam selagi Sasuke dan Kiba ada di sini!—pikir Sasori sedikit panik. Eh…tapi Sakura nggak kenal wajahku, sih. Waktu itu kita cuma berhubungan lewat telpon. Lagian suaraku juga sedikit diubah, jadi mungkin nggak bakal ketahuan…

"Apa dia tahu kalau Ino dirawat di sini, ya?" kata Sasuke heran.

"Lha, dari mana dia tahu? Lagian, kenapa dia nggak bilang-bilang, sih? Oya…belakangan ini Sakura sering murung dan nggak ngejar-ngejar Sasuke lagi, ya? Apa gara-gara Ino nggak ada?" celoteh Kiba mengeluarkan segala informasi di otaknya sambil memegang dagu, berpikir dengan keras.

"Daripada repot, tanya langsung saja gimana?" kata Sasori sambil tersenyum salah tingkah, sebulir keringat muncul di pipinya. Kalau mikir nggak usah keras-keras kenapa? Nggak…dia terlalu banyak mikir…

"Sakura," Sasuke tiba-tiba memanggil teman sekelas mereka itu tanpa memberi peringatan pada Sasori dan Kiba, membuat mereka berdua sedikit kaget.

Sakura menoleh ke arah Sasuke dan kawan-kawan dengan wajah terkejut, sedikit terbelalak. "Sa-Sasuke-kun…?" sapanya kaget. "Sasori dan Kiba juga…? Kenapa ada di sini?" tanya Sakura sedikit was-was.

"Malah kami yang mau tanya, Sakura. Kenapa di rumah sakit? Kau sakit?" tanya Kiba heran.

"Umm…," Sakura melirik ke arah lain, kelihatan sedikit sulit memberi alasan.

"Atau mau menjenguk Ino?" Sasuke memberi alternatif pertanyaan Kiba. Sakura mengangkat wajahnya dan menatap Sasuke dengan tatapan aneh tak percaya. Ekspresinya seolah-olah bertanya 'Kok bisa?' pada cowok berambut ekor ayam hitam itu. "Kakak memberi tahuku tempat Ino dirawat. Dia terlibat peledakan bom oleh Ookami soalnya, jadi kakakku tahu," Sasuke menyadari kekagetan Sakura dan menjelaskan sedikit.

"Oh…," Sakura menghela nafas. Entah kenapa di mata Sasuke barusan cewek itu seperti menghela nafas lega. "Begitu, iya ya. Kakak Sasuke-kun kan polisi. Aku juga datang menjenguk Ino, kok. Dapat kabar dari orang tua Ino sesudah dia absen tiga hari," kata Sakura sambil tersenyum.

"Eeh, berarti Kau sudah lama tahu? Harusnya Kau mengabari kami lebih cepat, Sakura. Jadinya kan Kita tak perlu terlalu khawatir," kata Kiba sedikit protes dan cemberut.

"Maaf, Kiba. Luka Ino sedikit parah soalnya, terutama luka bakarnya. Jadi dia nggak mau dilihat siapa-siapa. Terutama oleh cowok," lanjut Sakura dengan wajah sedikit merasa bersalah.

"Luka bakar?" tanya Sasori sedikit kaget. Yang kaya' begitu harusnya nggak ada… Apa waktu itu Ino terkena ledakan cukup keras sampai luka bakar segala? Sasori mengerutkan alisnya dengan wajah sedikit cemas.

Sasuke melihat ke arah Sasori dan menyadarinya. "Tapi dia baik-baik saja, kan? Bagaimana dengan kesadarannya?" tanya Sasuke kemudian.

"Iya, dia sudah sadar dan cerewet lagi, kok," Sakura tertawa kecil. "Hanya saja luka bakarnya perlu waktu buat sembuh. Jadi sementara ini, mungkin Ino masih bakal diopname cukup lama," lanjut Sakura memberikan info.

Kiba, Sasuke, dan Sasori saling pandang. "Kalau begitu mungkin ini bukan ide bagus," kata Kiba sambil menghela nafas dan menggaruk-garuk lehernya dengan tampang menyesal.

"Sebaiknya kita pulang saja. Yang penting kita tahu Ino sudah sadar dan sehat," Sasuke setuju dan mengangguk.

Sasori terdiam sejenak, masih memasang wajah cemasnya yang sedikit berlebihan menurut Sasuke, tapi kemudian dia ikut mengangguk. " Kalau begitu bilang ke Yamanaka supaya cepat sembuh, ya," kata Sasori sambil tersenyum.

"Pasti akan kusampaikan. Makasih sudah menyempatkan diri menjenguk Ino, ya," Sakura balas tersenyum manis dan ketiga cowok itu melambaikan tangan sembari membalikan badan dan keluar dari rumah sakit.

Sakura menghela nafas lega sambil tersenyum. Dia, mereka, Ino dan Sakura…memiliki teman-teman yang sangat baik sekarang. Sakura berjalan kembali ke kamar Ino.

"Sakura?" Ino melihat ke arah Sakura dengan heran karena sahabat karibnya, sekaligus putri yang ingin dia lindungi itu masuk ke kamar sambil tersenyum-senyum sendiri.

"Coba tebak siapa yang datang," kata Sakura dengan wajah menggoda.

"Apa, sih?" Ino jadi sedikit merinding melihat wajah usil cewek berambut pink itu.

"Sasuke-kun dan Kiba, lalu si anak baru Sasori-kun," kata Sakura sambil terkikik senang.

"Serius? Aww, aku nggak mau ketemu Sasuke-kun dengan wajah begini~," kata Ino sambil menyentuh perban di wajahnya, sangat menyayangkanya. Dia pengen juga ketemu pangeran di sekolahnya itu.

"Sudah kuminta pulang, kok. Sampai Ino sembuh, hanya aku yang boleh melihat Ino," kata Sakura dengan senyum percaya diri. Lalu dia melihat ke bawah dan menggenggam tangan Ino. "Lalu…kali ini aku yang akan melindungi Ino," lanjut Sakura lagi dengan lembut sebelum dia mengangkat wajahnya dan memandang mata Ino dengan tatapan yakin, penuh resolusi dan kesungguhan.

"Sakura…," Ino membalas genggaman Sakura dengan erat sebelum tersenyum. "Kita saling melindungi, kok," kata Ino dengan yakin juga.

"Aku nggak akan memaafkanmu kalau Kau meninggalkan aku sendirian, Ino," kata Sakura lagi dengan serius, mendekatkan wajahnya yang cemberut itu sampai dahinya menyentuh dahi Ino.

"Aku nggak akan meninggalkan Sakura meskipun Sakura menginginkanya," kata Ino lagi masih dengan senyuman kalemnya. "Selamanya…aku akan ada di sisi Sakura…," lanjut Ino sambil memejamkan matanya dengan ekspresi yang sangat lembut.

"Janji, kan…?" Sakura juga memejamkan matanya dan mencoba merasakan kehangatan kulit Ino di balik perban-perban itu.

"Janji…," bisik Ino dengan penuh sayang.

SASUNARUSASUNARUSASUNARUSASUNARUSASUNARUSASUNARUSASUNARUSASUNARUSASUNARU

"Apa cuma perasaanku ya? Sakura jadi kelihatan sedikit beda," kata Kiba sambil mencoba menebak apa yang aneh.

"Dia jadi kelihatan lebih feminin?" tanya Sasori, atau tepatnya meminta dukungan atas pendapat dan tebakanya.

"Ah, betul… Dia jadi kelihatan kalem nggak, sih?" Kiba meringis.

"Barangkali dia juga capek karena cemas," kata Sasuke.

"Mungkin juga," Kiba setuju dan Sasori mengangguk. "Ah, aku lupa!" tiba-tiba Kiba berteriak, mengejutkan Sasuke dan Sasori.

"Kenapa, Kiba?" tanya Sasori heran.

"Aku harus mengambil stok batu baterai dan kaset Video-Cam ku! Aku duluan ya, Sasuke, Sasori!" Kiba langsung lari secepat kilat setetelah melambai pada Sasuke dan Sasori sambil berkomentar, "-tokonya keburu tutup soalnyaaa!" begitu.

"Dasar," Sasuke menghela nafas dan tersenyum kecil. Lalu kedua cowok itu pun melanjutkan perjalanan pulang mereka. Tentu saja, sekarang menyadari kalau hanya berdua saja dengan Sasori, Sasuke merasa ini kesempatan yang bagus untuk bertanya.

Sasuke melirik ke arah Sasori hanya untuk mendapati Sasori menatapnya dengan tatapan mengetahui. "Dari tadi Kau melirik ke arahku, Sasuke. Ada yang ingin Kau tanyakan?" tanya Sasori sambil tersenyum.

"Uuh, Kau sadar, ya…," desah Sasuke agak malu.

"Yah, kalau dilirik-lirik begitu siapa yang nggak sadar, sih? Terus, ada yang bisa aku bantu?" tanya Sasori lagi.

"Ini tentang percakapan kita di atap waktu pertama kali kita bicara," kata Sasuke sambil mencoba mencari kata-kata yang tepat. "Waktu itu Kau mengatakan sesuatu tentang Kyuubi yang melindungi Uchiha. Itu maksudnya apa?" tanya Sasuke dengan wajah penasaran.

Waktu itu… setelah percakapan itu, Kyuubi dan aku terlibat dengan Ookami. Demi melindungiku, Kyuubi sampai mempertaruhkan nyawa begitu… Apalagi waktu itu mereka…Ookami mengatakan hal yang aneh. Tentang Kyuubi dan Uchiha… ada apa sebetulnya dengan hal ini?—pikir Sasuke keras dengan bingung. Dia sudah mencoba memikirkan berbagai teori, tapi tetap saja itu tak masuk akal. Ada suatu hal aneh yang tersembunyi dan dia sangat ingin mengetahuinya.

Sasori menatap Sasuke dengan tatapan misterius lagi. "Dengan pengalamanmu, tentu Kau mengerti," kata Sasori sambil menoleh ke arah lain, tak menatap wajah Sasuke lagi. "Bukankah Kau sendiri yang cerita kalau Kyuubi memperaruhkan nyawa untuk melindungi Uchiha," lanjut Sasori lagi dengan tatapan jauh sebelum dia memejamkan mata dan membukanya lagi hanya untuk menatap mata penasaran Sasuke. "Maksudnya, ya seperti itu. Aku hanya ingin menegaskan kalau Kyuubi itu bukan musuh Uchiha." Sekarang Sasori tersenyum manis lagi ke arah Sasuke.

"Jadi…maksudnya Uchiha dan Kyuubi hadir bersisian?" tanya Sasuke lagi masih belum mengerti. Dilihat dari sudut manapun sosok Kyuubi yang pencuri dan Uchiha yang polisi sangat berlawanan. Mana mungkin mereka bisa hadir bersisian?

"Coba Kau tanyakan pada Itachi dan kalau dia juga tak tahu, ayah kalian seharusnya masih menyimpan file kasus-kasus yang tengah ditanganinya sebelum beliau meninggal," kata Sasori memberi petunjuk.

"Ayah? Apa hubunganya dengan ayah?" tanya Sasuke agak kaget. Sasori tak mengatakan apa-apa soal itu dan hanya tersenyum. "Sasori…siapa Kau sebetulnya?" tanya Sasuke dengan curiga. Sekarang dia yakin kalau Sasori bukan Kyuubi. Sasuke sudah memeluk dan merasakan Kyuubi dengan kulitnya meskipun dia tak melihat wajahnya, tapi perasaanya sangat berbeda saat sedang bersama Sasori.

Kyuubi adalah orang lain yang tak diketahuinya tapi Sasuke akan sadar kalau saja dia bisa menyentuh sosokna lagi. Sasuke tidak tahu, tapi dia merasa familiar dengan perasaan itu. Saat dia memeluk Kyuubi, dia pernah merasakan perasaan itu di suatu tempat, ketika dia menyentuh sesorang, meskipun Sasuke tak ingat siapa itu.

"Aku hanya orang yang banyak tahu dan tertarik dengan Kyuubi, itu saja," kata Sasori tanpa merubah roman wajahnya.

Sasuke tahu kalau Sasori orang hebat dari kakaknya, tapi bukan hanya itu. Ia merasa keberadaan Sasori adalah keberadaan yang paling dekat dengan Kyuubi dan rasanya dia tak rela dengan itu. Sasuke juga ingin tahu lebih banyak tentang Kyuubi. Dia ingin lebih mengenalnya. Siapa Kyuubi sebetulnya? Ada hubungan apa dia dengan Uchiha? Kenapa dia mempertaruhkan nyawa demi Uchiha?

"File-file lama ayah… Apa aku akan menemukan sesuatu kalau memeriksanya?" tanya Sasuke dengan suara penuh harap.

"Fugaku-san pasti menyimpan petunjuk penting. Mungkin Kau bisa selangkah lebih dekat dengan kebenaran setelah mengetahuinya," kata Sasori sambil membalikan badan dan pergi meninggalkan Sasuke sendiri.

Sasuke melihat kedua tanganya dengan tatapan penasaran. "Kyuubi…."

SASUNARUSASUNARUSASUNARUSASUNARUSASUNARUSASUNARUSASUNARUSASUNARUSASUNARU

Naruto sedang…mengalami masalah besar.

"Hei, aku tahu Kau khawatir…tapi itu bukan alasan Kau boleh nempel begitu padaku, Sai! Dengar nggak sih!?" Naruto berteriak berang karena Sai sama sekali nggak menggubrisnya dan terus saja menempel padanya seperti perangko sedangkan Naruto berusaha mengelupasnya dari sisinya seperti kulit kedua saja.

"Bicara apa, sih, Naruto? Sebagai seorang tunangan, wajar dong kalau aku selalu ada di sampingmu," kata Sai masih sambil memeluk bahu Naruto sekarang, dengan mesra. Berkata seolah-olah itu semua hal yang sangat wajar.

Cerita zaman kapan itu? TK?—Naruto cuma bisa menghela nafas panjang dengan wajah kesal. Nggak ada kata-kata yang bisa menembus kepala narsistik kurang ajar macam Sai. Lagian ini semua salah Naruto juga, sih. Dia merasa telah menuai apa yang ia tanam sendiri.

Naruto cuma merasa bosan ada di bawah tanah hotel tempat Sasori menginap terus. Dia hanya mau menghirup udara segar sedikit dan jalan-jalan, menggerakan otot sebentar saja. Lagian dia yakin nggak bakal ketahuan siapa-siapa, soalnya masih jam sekolah, jadi semuanya pasti masih ada di kelas. Eh…nggak tahunya kepergok Sai yang lagi pulang belanja. Nasibnya lagi jelek nih…

Naruto nggak tahu kalau Sai ada di dekat-dekat situ. Dia nggak dapat kabar dari Iruka kalau Sai datang berkunjung. Bukanya Naruto benci Sai atau sejenisnya, hanya saja…Sai itu orangnya sedikit menyusahkan. Apalagi dia masih terang-terangan menunjukan minatnya pada Naruto meski pertunangan mereka cuma main-main… yah bukan hanya main-main sih. Naruto sebetulnya ingat waktu Sai datang ke rumahnya.

Sai punya wajah yang begitu cantik dan lucu, hanya saja dia nggak berekspresi seperti boneka. Waktu bertemu dan bicara dengan Sai untuk pertama kalinya, Naruto langsung punya kesan tak menyenangkan tentangnya. Namun…lama-kelamaan Naruto jadi sayang juga padanya. Soalnya dia punya sisi khusus yang hanya diketahui Naruto. Sai bukan orang yang manja dan dia sulit mengatakan perasaanya tanpa membuat orang lain marah. Intinya dia itu sangat ceplas-ceplos dan nggak memahami situasi di sekelilingnya. Sai juga sulit tersenyum karena kondisi keluarganya tak begitu baik.

"Aku akan menjaga Sai seumur hidup!"

Naruto jadi teringat janji sembarangan yang diucapkanya ketika ia brumur delapan tahun. Melihat pertengkaran orang tua Sai yang ujung-ujungnya menyebabkan Sai terluka di dahi kananya, Naruto sangat marah pada paman dan bibinya yang seenaknya saja begitu.

Waktu itu seru sekali karena Naruto mengajak Sai kabur setelah mengata-ngatai kelakuan orang tua Sai yang lebih parah dari bocah. Tangan Sai yang saat itu digenggam Naruto serasa begitu kecil dan lemah, dan seolah bergantung sepenuhnya pada Naruto. Saat itu Sai juga berbagi cerita rahasia yang tak pernah sekalipun dikatakanya pada siapapun padanya, tentang seorang kakak yang tak punya hubungan darah, tapi sangat dekat denganya.

Sai telah memberikan hatinya untuk kakak yang belum pernah dilihat Naruto. Lalu Sai juga memperlihatkan buku gambar rahasia yang hanya boleh dilihat Sai dan kakaknya. Sai menyelesaikan gambar terkahir yang belum sempat diselesaikanya karena kakak yang dikatakanya meninggal. Lalu…selesai menggambarnya, Sai memberikan buku gambar itu pada Naruto sambil tersenyum dari lubuk hatinya.

Waktu melihat senyum sunguh-sungguh Sai untuk pertama kalinya, Naruto merasa tak keberatan meski harus hidup dengan Sai seumur hidup.

Yah…tapi namanya juga anak kecil. Pikiranya masih nggak bisa ditebak. Siapa sangka Sai betul-betul melamar Naruto beberapa hari kemudian? Sai memberikan hatinya pada Naruto ketika dia memberikan harta karunya itu. Harusnya Naruto menyadarinya lebih cepat, tapi…waktu itu dia baru delapan tahun dan Sai juga baru sembilan tahun! Mana bisa Naruto mengerti jalan pikiran Sai saat itu!? Tentu saja, Naruto sangat sayang padanya, tapi itu cuma rasa sayang pada seorang sepupu, saudara, dan nggak lebih!

"Sai, kita ini sama-sama cowok lho!" protes Naruto masih mencoba melepaskan diri dari Sai. "Sudah begitu, kita kan sepupu!"

"Kan sudah kubilang aku nggak peduli dengan hal-hal kecil begitu," Sai memencet hidung Naruto sambil tersenyum manis.

"Itu bukan hal kecil, bodoh! Dilihat dari sudut manapun itu hal besar! Lagian kenapa Kau ada di Konoha, sih? Sekolahmu di Nee bagaimana?" tanya Naruto sambil menampik tangan Sai dari hidungnya. Bisa gawat kalau hidungnya jadi pesek gara-gara dipencet-pencet oleh Sai.

"Aku sudah keluar dari Nee. Sekarang aku tinggal di rumah Naruto, kok," jawab Sai jujur.

Naruto tersentak kaget dengan itu. "Hei…apa terjadi sesuatu?" tanya Naruto agak khawatir. "Apa ada masalah dengan paman dan bibi lagi?" Naruto menatap Sai sungguh-sungguh khawatir sekarang.

Dengar-dengar hubungan Sai dengan orang tuanya masih kurang baik dan ayah-ibunya juga masih sering bertengkar meskipun tidak sampai melempar-lempar barang berbahaya seperti ketika Sai masih kecil.

Mendengar pertanyaan Naruto, sesaat ekspresi menghilang dari wajah Sai, tapi lalu dia tersenyum manis lagi. "Mereka masih langgeng kok," jawab Sai singkat.

Naruto mengerutkan alisnya saat melihat senyum palsu yang sering diapakai Sai. Kontan Naruto menyentil dahi Sai dengan wajah sebal. "Harusnya Kau tahu kalau wajah itu nggak mempan padaku, Sai," kata Naruto cemberut.

Sai melihat Naruto dengan wajah heran sebelum menghela nafas sambil tersenyum betulan. "Maaf," kata Sai dengan wajah sedikit menyesal.

"Hei…Kau boleh cerita apapun padaku, lho. Meskipun kita bukan tunangan, aku sayang Sai seperti kakakku sendiri, kok," kata Naruto sambil menggandeng tangan Sai.

"Kata-katamu 'meski kita bukan tunangan' itu rasanya nggak perlu, deh," kata Sai sedikit salah tingkah.

"Meski Kau bilang begitu, tetap saja kita bukan tunangan," balas Naruto penuh duri.

"Pelit," kata Sai sambil menjulurkan lidah.

"Biar saja pelit. Habisnya kepalamu juga nggak benar, sih," lanjut Naruto tanpa ampun.

Sai jadi cemberut dibuatnya. "Ya sudah, begitu saja terus. Kudoakan nggak punya pacar seumur hidup," kata Sai lagi sambil membuang muka.

"Kau…cuma mau mengganti topik pembicaraan, kan? Aku nggak akan terpancing, Sai!" Naruto menuding Sai dengan peraya diri. "Ayo katakan apa yang terjadi di rumahmu, Sai!" Naruto menarik lengan Sai, sedikit memaksanya. Soalnya kalau tidak begitu, seumur hidup pun bocah menyusahkan tanpa ekspresi itu bakal menyimpanya dalam hati sampai dia meledak suatu saat nanti.

Sai tampak ragu-ragu saat melihat kesungguhan Naruto. Perlahan-lahan, wajahnya jadi nggak bersekspresi lagi. Wajah itu adalah wajah dasar Sai ketika dia akan mengatakan sesuatu yang betul-betul berat pada Naruto. Sai mungkin nggak bisa tersenyum menyembunyikan perasaanya dari Naruto, tapi dia nggak lantas bisa menangis di depanya juga. Ini adalah tanda SOS dari Sai yang paling dekat dikenali Naruto sejak kecil.

"Ayah dan ibu…sudah memutuskan untuk bercerai," kata Sai pelan dan datar. Naruto membelalakan mata saat mendengarnya. Wajahnya menyiratkan sejuta pertanyaan 'mengapa,' 'kok bisa,' dan 'apa yang terjadi.' "Ayah mendapat panggilan tugas dari pimpinan organisasi tempat dia bekerja dan katanya harus pindah ke luar negeri. Ibu nggak setuju dan mereka bertengkar lagi. Lalu ibu bertanya mana yang akan dipilih ayah, pekerjaanya atau keluarga," lanjut Sai bercerita.

"Lalu…paman Danzou bilang apa?" tanya Naruto lagi meskipun jawabanya sudah jelas.

"Tentu saja pekerjaanya seratus kali lebih penting. Ayah kan memang begitu," kata Sai dengan tatapan kosong. "Ibu tak tahan lagi dan mengajukan surat cerai…dan aku…disuruh memilih mau ikut yang mana," lanjutnya pelan.

"Hei…," Naruto hendak mengatakan sesuatu, tapi terpotong saat Sai tiba-tiba memeluknya.

"Aku nggak mau ikut salah satunya," kata Sai pelan. "Aku sudah bosan dan muak…aku capek. Aku…mau menghilang saja," lanjut Sai dengan suara nyaris hilang.

"Jangan berkata begitu, Sai!" Naruto mencegkeram baju di punggung Sai kuat-kuat. "Kau masih punya aku dan Iruka! Kau sama sekali nggak sendirian! Kalau Kau menghilang juga seperti orang tuaku, aku nggak akan memaafkanmu!" teriak bocah pirang itu dengan wajah sedikit marah.

Sai yang mendengarnya sedikit terkejut dan melepaskan pelukanya dari Naruto untuk melihat ekspresi wajah Naruto yang tampak sedih dan marah. "Naruto…," desahnya pelan dengan wajah sendu.

"Kau boleh tinggal bersama aku dan Iruka kalau memang nggak mau ikut paman atau bibi. Sai sudah hampir 18, kan? Itu umur yang cukup buat hidup mandiri," kata Naruto dengan wajah yakin.

"Naruto…," Sai tampak berterima kasih sekarang. "Kalau boleh sekalian sih, aku mau sekamar sama Naruto juga," kata Sai dengan wajah senang.

"Kalau itu nggak, deh. Kan ada banyak kamar tamu," kata Naruto dengan wajah salah tingkah lagi.

"Eeh, aku mau kamar Naruto," lanjut Sai lagi sedikit memaksa.

"Kalau begitu silakan pakai kamarku dan aku bakal pindah ke kamar lain," balas Naruto dengan duri lagi.

"Naruto peliiit!" kata Sai sambil cemberut lagi dengan wajah sedikit sebal.

"Kau ini…sudah dikasih hati, minta ampela lagi. Dasar…," Naruto mengela nafas panjang dengan sebulir keringat jtuh dari belakang kepalanya.

Sai tersenyum lagi mendengar gerutu Naruto, tapi dia merasa jauh lebih baik sekarang dibanding beberapa saat yang lalu. Kemudian, untuk membuat harinya jauh lebih ceria lagi, Sai memutuskan untuk kembali menempel ke Naruto seperti lintah. Meskipun Naruto masih memprotesnya terus seperti anak kecil, dia membiarkan Sai di sisinya dan nggak mencoba kabur darinya lagi.

Naruto memang anak yang sangat baik…—Sai tersenyum senang, makin cinta saja pada sepupunya yang satu ini.

SASUNARUSASUNARUSASUNARUSASUNARUSASUNARUSASUNARUSASUNARUSASUNARUSASUNARU

Uchiha Itachi tengah mengutak-atik data di komputer lama peninggalan ayahnya. Memang komputer itu sudah nggak dipakai lebih dari sepuluh tahun, tapi bukan berarti sudah nggak berfungsi. Itachi memang sudah membaca hampir semua file penting kasus kejahatan yang ditangani ayahnya semasa hidup untuk belajar menjadi polisi yang hebat, tapi ada satu file yang biar bagaimanapun juga dia coba, belum pernah bisa ia buka karena dilindungi password yang luar biasa susahnya dicari.

Menurut petunjuk di buku harian ayahnya, password file itu adalah nama dari seseorang yang penting baginya. Itachi sudah mencoba memakai nama ibunya, dirinya sendiri dan Sasuke, tapi ternyata masih salah. Dulu Itachi menyerah setelah memasukan nama keluarga Uchiha yang terakhir dan ternyata tetap salah, tapi kalau diingat-ingat sekarang, saat itu ayahnya juga menangani kasus di luar negeri. Mungkin nama orang luar yang berhubungan dengan kasus yang ditanganinya.

Itachi membuka list nama kenalan ayahnya di luar negeri. Ada begiu banyak sampai mata Itachi serasa juling membacanya. "Uh…satu di antara nama-nama ini pasti…," Itachi menggeleng kepalanya dan mulai bekerja untuk menyingkat waktu.

Mungkin saja ini hanya instingnya, tapi Itachi merasa kasus Ookami kali ini sangat aneh. Menurut cerita Sasuke saat dia terjebak di atap bersama Kyuubi and Ookami, sepertinya kasus ini jauh lebih dalam dari kelihatnya. Ini bukan kasus pencurian, perampokan atau peledakan biasa. Ada sesuatu yang jauh lebih… lebih besar lagi di belakangnya, dan kalau instingnya tepat, ayahnya pasti menyimpan sesuatu yang bisa menjadi petunjuk karena beliau sudah lama berkutat dengan kasus-kasus yang melibatkan Kyuubi.

"Kyuubi mempertaruhkan nyawa melindungiku, dan mereka mengatakan hal yang sangat aneh. Aku berani sumpah Ookami menyebut nama Uchiha di tengah-tengah pembicaraan mereka! Pasti ada sesuatu antara Uchiha dan Kyuubi dan Ookami juga…!"

Itachi teringat akan percakapanya dengan Sasuke saat di rumah sakit. Memang sedikit aneh, sih, kalau melihat kelakuan Kyuubi selama ini. Kenapa hanya Uchiha yang selalu dikabari oleh Kyuubi mengenai aksinya? Lalu entah kenapa Uchiha selalu menemukan kasus kejahatan di balik pencurian Kyuubi. Seolah-olah…Kyuubi mencuri di tempat-tempat yang ada rahasianya. Kejahatan yang tak bisa disentuh polisi…seolah-oleh dibongkar oleh Kyuubi. Seolah-olah…Kyuubi membuka jalan bagi Uchiha untuk menyingkap kabut kejahatan yang tak bisa ditembus mereka. Apalagi Kyuubi tak pernah tertangkap dan tak pernah melukai orang. Kalau Itachi boleh berkomentar dengan bebas…Kyuubi itu lebih mirip agen polisi rahasia yang bergerak bebas tanpa batasan hukum.

Seandainya saja ada petunjuk yang lebih…Itachi bisa memutuskan apakan Kyuubi itu kawan atau lawan…

"Ugh, kenapa nggak ketemu-temu sih!?" Itachi sudah hampir mneyerah setelah memasukan nama ke-1500. Berapa banyak nama yang dikenal ayahnya sih? Itachi mencoba skimming nama-nama itu dan entah kenapa matanya tertarik saat memnaca sebuah nama yang sepertinya tak asing bagi Itachi.

"Uzumaki…Kushina?" Itachi mngerutkan dahinya. Itu bukan nama orang luar, tapi kenapa diletakkan di list luar negeri? Apa ayahnya bertemu orang ini di luar negeri? Lagian nama itu… "Uzumaki…? Namanya kok mirip nama Naruto, ya?" tanya Itachi agak bingung.

Berapa banyak sih, orang bernama Uzumaki di dunia ini?—pikir Itachi merasa aneh.

Yah, mungkin ini cuma kebetulan, tapi nggak ada salahnya mencoba. Itachi merasa bodoh, tapi sudahlah. Meskipun jadinya bukan juga. Dia sudah yakin bakal gagal tapi kemudian komputer ayahnya bereaksi aneh yang mengejutkan Itachi sampai ke tulang.

"Password accepted"

Tulisan warna hijau di layar komputer membuat Itachi ternganga. "Nggak mungkin…! Ini…maksudnya apa, sih?" sang Uchiha kakak benar-benar kehilangan kata-kata saat melihat keberhasilan nama Uzumaki Kushina membuka password file paling rahasia ayahnya, lebih dari Sasuke dan Itachi, lebih dari Mikoto, ibu mereka. Ayahnya menganggap orang ini lebih penting dari mereka? Itachi merasa tak percaya dengan itu.

Siapa sebetulnya Uzumaki Kushina ini?—pikir Itachi sambil memandangi tulisan list di tanganya dengan wajah berkerut. Mungkin saja Itachi sudah menemukan sesuatu yang gila tentang ayahnya. Itachi sangat hormat padanya, dan kalau file ini ternyata menyembunyikan semua rahasia ayahnya yang tidak pernah diketahu keluarganya… berpikir begitu saja Itachi sudah merinding. Dia jadi merasa tak ingin melihatnya, tapi dia penasaran kalau memang ada petunjuk tentang Kyuubi di situ.

"Eei, persetan dengan rahasia ayah! Aku hanya menjalankan tugas polisi!" Itachi meyakinkan dirinya dan membuka file itu akhirnya. Hanya ada satu folder dengan judul "Rahasia Atlantis" di sana. Itachi menelan ludah sebelum men-double click folder tersebut dan bersiap-siap untuk yang terburuk. Namun, yang ditemukanya dalam folder itu jauh lebih besar melampaui apa yang dia perkirakan…

"Apa-apaan… Apa maksudnya ini!?" Itachi tak kuasa menahan rasa shok-nya saat membaca file kasus beserta catatan rahasia peninggalan ayahnya tentang kasus tersebut.

SASUNARUSASUNARUSASUNARUSASUNARUSASUNARUSASUNARUSASUNARUSASUNARUSASUNARU

"Sai…panas nih," Naruto mengeluh lemas karena lengan Sai memeluk lehernya dengan begitu posesifnya. Dia tahu Sai sedang dalam mood untuk menyentuh sesuatu, tapi bukan berarti dia bebas memeluknya di tengah jalan begitu. Hari sudah mulai sore dan orang-orang yang pulang kerja banyak yang jalan kaki di sana, melihat interaksi Naruto dan Sai dengan sedikit aneh. "Sai, orang-orang ngelihatin, tuh! Malu tahu!" Kalau Sai nggak berjenti juga, dia bakal membanting Sai dengan ilmu judonya.

"Aku nggak malu, kok, dilihat jalan berdua sama Naruto," kata Sai sambil memejamkan mata dengan santai.

"Yang malu itu aku! Ayo lepas—!" Naruto sudah mulai berontak lagi dengan wajah sebal, dan dari sisi orang lain yang melihatnya, Sai seperti sedang melakukan pelecehan pada Naruto.

Lalu Sasuke…memutuskan itu waktu yang tepat untuk muncul di tempat itu dan melihat pemandangan yang sangat panas itu. Naruto yang terlihat kesulitan dengan wajah setengah memerah dan Sai yang terlihat bernafsu menyerangnya, petir kontan menyambar kepala Sasuke.

"Hei KAU!" Sasuke sudah kehilangan akal sehatnya saat dia berlari ke arah Naruto dan Sai. Lalu sambil berteriak, dia menyambar tubuh Naruto dari cengjeraman si iblis genit Sai, dan sukses menyelamatkanya dari pelecehan yang bakal dilakukan orang kurang ajar itu.

Saat sadar dia ada di pelukan siapa sekarang, Naruto memasang wajah horor. Sa—SASUKE!? Kalau wajah Naruto bisa lebih pucat dari ini, dia bakal mendapat penghargaan dari wali kota.

"Wah, Uchiha ternyata. Nggak bagus, lho menggangu kencan orang lain," Sai berkomentar dengan senyum menyebalkanya sesaat setelah selesai terkejut karena tiba-tiba saja Naruto dicuri darinya.

"Jangan ngomong sembarangan, dasar mesum! Apa yang Kau lakukan pada Naruto, kurang ajar!?" Sasuke menunjuk-nunjuk Sai dengan wajah sangat emosi sedang Naruto sudah hampir pingsan saking kagetnya di lenganya yang satu lagi.

"Biacara apa, sih, kami kan tunangan, wajar dong kalau bersikap mesra sedikit," kata Sai sok santai dengan senyum menggodanya itu.

"Masih juga ngomong sembarangan begitu! Cowok mana bisa bertunangan dengan cowok! Lagian itu kan hanya permainan orang tua kalian berdua! Yang Kau lakukan itu pelecehan tahu! Sudah jelas Naruto nggak suka!" Sasuke memprotes dan mearahi kelakukan Sai yang sembarangan dengan galak.

Naruto masih juga shok dengan kemunculan tiba-tiba Sasuke, tapi diam-diam dia berterima kasih juga karena Sasuke khawatir padanya. Tapi dia musti ngomong apa habis ini, untuk menjelaskan situasinya yang seharusnya ada di RS tapi malah jalan-jalan berdua dengan Sai di tempat kaya' begitu…!? Jelas saja Naruto kebingungan. Namun…,

Lho…? Sasuke kenal sama Sai ya?—pikir Naruto heran, dan dia hendak bertanya pada Sasuke saat,

"Aku jadi mau lihat orang tua yang membesarkan orang kurang ajar sepertimu…!"

-mendengar kata-kata Sasuke yang terakhir, darah langsung naik ke kepala Naruto, ia lupa dengan rasa shok dan rasa ingin tahunya kenapa Sasuke bisa kenal Sai. "SASUKE!!" Kontan Naruto berteriak sangat keras dan marah, mengejutkan nggak hanya Sasuke tapi Sai juga.

Sasuke melepaskan Naruto dengan kaget. Naruto menatap Sasuke dengan mata berapi-api karena marah. "A-apa, sih…?" tanya Sasuke tak mengerti.

Naruto langsung mencengkeram kerah baju Sasuke dengan kasar dan mendelik ke arahnya dengan tatapan galak. "Kalau Kau ngomong lebih dari itu, aku nggak akan mengampunimu!" wanti Naruto dengan segala ancaman yang bisa ia keluarkan saat itu.

Sasuke membelalakan mata dengan kaget dan nggak bisa berkata apa-apa dengan ancaman itu. Naruto melihat sobatnya begitu shok dan melepaskanya perlahan, membalikan badan dan berjalan pergi. "Ayo, Sai," kata Naruto sambil menggandeng tangan Sai yang sama kagetnya dengan Sasuke.

"Ah, iya…," Sai melirik Sasuke untuk yang terakhir sebelum ikut berjalan juga, mengikuti Naruto yang menarik tanganya dengan tangan gemetar.

"T-tunggu dulu!" Sasuke berteriak dan hendak memprotes, tapi…

"Jangan mendekat!" teriak Naruto mencegah dengan keras, membuat Sasuke berhenti berjalan. "Aku nggak mau melihat wajahmu untuk sementara," lanjut Naruto sembari melanjutkan perjalananya dengan Sai.

"A—!?" Sasuke benar-benar nggak ngerti. Dia bermaksud menolong Naruto, kenapa Naruto malah marah begitu!? Lagian, kenapa dia menggandeng tangan Sai begitu, sih!? Sasuke saja nggak pernah diperlakukan begitu meskipun dia teman sejak kecil.

Nggak mungkin… Apa Naruto serius mneyukai Sai seperti itu!?—Sasuke langsung shok dan wajahnya memucat sepuluh kali lipat. Dia nggak percaya ini, nggak mungkin ini terjadi. Kenapa Naruto…!?

"Lagipula…bukanya seharusnya dia ada di rumah sakit!? Kenapa malah kencan dengan si brengsek itu, siiih!?" Sasuke benar-benar nggak terima dengan semua ini. Selain nggak ngerti, ia menolak mengakui kalau Naruto lebih menyukai Sai dibanding dia.

Kenapa…kenapa aku jadi aneh begini, ya? Naruto suka pada siapa itu bukan urusanku…tapi kenapa dia segitunya sama si-Sai kurang ajar itu, sih!? Lagian…kenapa aku sama sekali nggak terima dengan itu…!?—Sasuke jadi garuk-garuk kepalnya dengan sangat bingung.

Sekarang Uchiha Sasuke, 17 tahun, sedang mengalami gejolak perasaan yang sama sekali belum dipahami hatinya yang polos dan malang itu….

Sementara itu Naruto dan Sai tengah berjalan dalam keheningan yang menyesakan. Sai memandangi punggung Naruto yang berjalan di hadapanya dengan tatapan agak khawatir. Baru kali ini dia melihat Naruto semarah itu. Yah…waktu kecil dia juga pernah marah begitu pada ayah dan ibu Sai sih…

"Aku jadi ingin lihat orang tua yang membesarkan orang kurang ajar sepertimu…"

Sai teringat dengan kata-kata Sasuke dan mendadak dia sadar. Jangan-jangan…

"Naruto, terima kasih, ya," tiba-tiba Sai bicara dan Naruto tersentak kaget karenanya. Naruto berhenti berjalan dan melepas genggamanya dari tangan Sai. "Kau marah padanya karena aku, kan?" lanjut Sai dengan senyum mengerti.

"Orang nggak sensitif seperti dia pantas menerimanya," kata Naruto sedikit menggerutu dengan wajah masih sebal dan marah. Dia nggak sangka Sasuke bakal ngomong begitu pada Sai, benar-benar nggak punya hati, si Sasuke brengsek itu!

"Yah, dia nggak tahu situasi keluargaku, sih," kata Sai lagi dan tiba-tiba jadi batu dan menimpa kepala Naruto saat dia sendiri menyadari hal itu.

Benar juga…—Naruto jadi mau nangis karena menyesal. Dia sudah berkata hal yang jahat pada Sasuke, tapi… Sasuke juga sih… Meskipun dia nggak tahu, bukan berarti dia boleh bicara begitu soal orang tua orang lain! Nggak sengaja melukai karena nggak tahu itu kan bodoh banget!

"Nggak apa-apa tuh, jadi bertengkar dengan teman sejak kecil?" tanya Sai sambil mengelus kepala Naruto yang wajahnya kelihatan menderita karena sudah mengatakan hal yang buruk pada sobatnya dan kelihatan sangat menyesal karenanya.

"Aku akan minta maaf nanti…," kata Naruto sambil mendesah lemas.

Sai tersenyum lega melihatnya. Yah, memang dia nggak suka Uchiha itu karena dia jelas ada hati sama Naruto, tapi bukan berarti dia mau Naruto membencinya. Bagi Naruto, Sasuke adalah sobat sejak kecil yang berharga, dan dia nggak mau Naruto jadi sedih karena hubunganya dengan Sasuke memburuk. Yah, kalau menggodanya saja mungkin bukan hal yang buruk sih. Wajah Sasuke waktu marah agak menarik juga sih, Sai jadi pengen menjahilinya.

"Oh ya, bukanya Naruto seharusnya ada di RS, kenapa malah jalan-jalan di luar sih?" tiba-tiba Sai sadar dengan itu.

Telaaat~!—pikir Naruto sambil jatuh tersungkur. Yah…penjelasan buat Sai aku lakukan di rumah saja deh…. Umm, tapi lebih baik aku telpon Sasori dulu sebelum dia panik aku nggak ada di kamar….

Lain kali Naruto nggak bakal bertindak sembarangan kalau tahu bakal tertimpa masalah beruntun begini…

SASUNARUSASUNARUSASUNARUSASUNARUSASUNARUSASUNARUSASUNARUSASUNARUSASUNARU

Di suatu tempat yang jauh dari Konoha… Di sebuah gedung tua bergaya Eropa, berkumpulah orang-orang dewasa dengan pakaian aneh, jas panjang hitam dengan motif awam merah dipadu dengan celana panjang hitam juga. Delapan orang dengan pakaian serupa itu duduk melingkari meja bundar dalam sebuah ruangan yang hanya diterangi cahaya lilin.

"Bagaimana dengan Ookami?" Salah seorang dari delapan orang itu bertanya dengan suara datar. Rambut pirangnya yang berantakan sedikit bersinar temaram tersapu cahaya lilin di hadapanya.

"Masih dalam perawatan, rehabilitasi kakinya bakal makan waktu," jawab salah seorang dari tujuh lainya yang berambut hitam dan memakai masker hitam di wajahnya.

"Dasar nggak berguna. Siapa sih, yang menyuruh serigala mesum kurang ajar itu menangani maslah ini?" salah seorang dari enam lainya dengan rambut kecoklatan klimis menggerutu.

"Diam, Kau sendiri yang nggak mau turun tangan," kata si rambut pirang. Lalu dia menghela nafas. "Lalu bagaimana dengan Pink Puma-nya?" lanjutnya bertanya.

"Sayang, itu barang palsu," seorang di sebelanya dengan rambut kebiruan mengeluarkan kristal berwarna pink yang serupa dengan Pink Puma dan memecahkanya dengan tangan.

"Fake rupanya. Hebat juga bisa membuatnya semirip itu," sorang yang lain lagi dengan rambut pirang panjang berkata sambil bersiul rendah.

"Lalu, bagaimana Ookami bisa gagal begitu?" seorang lagi dengan tubuh besar dan rambut putih kebiruan yang berantakan berkata.

"Bukanya gara-gara itu ya? Si rubah yang suka mengendus mangsa orang lain," seorang lagi dengan wajah separuh putih dan separuh hitam bicara.

"Rupanya wanita itu masih hidup, ya? Berarti Ookami gagal menjalankan tugasnya yang dulu itu," kata si pirang sambil berdecak kesal.

"Bagaimana menurutmu, Pemipin? Apa kita akan melacak si rubah yang mengganggu rencana kita?" tanya seorang lagi dengan rambut hitam dan separuh matanya tertutup.

"Kau ada ide siapa rubah itu, Danzou?" tanya si pirang yang dipanggil peminpin olehnya.

Danzou hanya tersenyum dengan wajah yang licik dan menakutkan seolah mengetahui semuanya. "Ada yang bisa ditanyai tentang hal itu," katanya dengan penuh percaya diri.

End of Chapter 13

Tbc…


A/N: Huwooo! Sedikit-sedikit sudah mulai terbongkar! Kira-kira apa yang ditemukan Itachi di file lama ayahnya, ya~? Organisasi bagian depan Akatsuki masih belum ditentukan, lho! Apa perusahaan dagang saja? Atau perusaan lain? Ada ide nggak, pembaca? Luna terima ide nih! Bantu luna mengembangkan cerita ini yaa~ XD Gimana menurut kalian dengan chapter ini? Heheh, interaksi SaiSasuNaru agak dipaksain nggak sih? Yah, pendapat selalu diterima kok. Eniwei, review ^_^ Karena itu yang membuat cerita ini tetap hidup. Tanpa review, cerita ini nggak bisa lanjut, betul deh. Yah, jumpa lagi chapter depan!

With Love,

Lunaryu~~~