[Re-Make] A Romantic Story About Serena
.
Cast : Wu Yifan ,Huang Zitao ,and others.
.
Rated : M
.
Disclaimer : alur cerita ini akan sama persis dengan aslinya yaitu A Romantic Story About Zitao by Shanty Agatha.
.
Gs. Typo(s).
.
.
.
.
"Tidak enak," Sehun mengernyit, menggelengkan kepalanya, menghindari sendok berisi bubur sayuran yang disuapkan Zitao kepadanya.
Hari ini adalah tiga minggu sejak Sehun tersadar dari komanyaa, kondisinya sudah mulai membaik, dia sudah bisa duduk, sudah bisa mengucapkan lebih dari satu kalimat, dan alat-alat penunjang kehidupannya sudah mulai dilepas satu persatu, dokter sendiri memuji perkembangan Sehun yang luar bisaa pesat, tekad lelaki itu kuat, maka ketika dia berniat untuk sembuh dia akan merasakannya sepenuh hati.
"Kau harus memakannya," gumam Zitao sedikit geli dengan kemanjaan Sehun yang seperti anak-anak, "ini menyehatkanmu"
"Rasanya seperti muntahan," Gumam Sehun, tapi akhirnya menurut membuka mulutnya, menerima suapan Zitao lalu mengernyit ketika menelan.
Ekspresinya membuat Zitao tergelak, tapi kemudian Sehun meraih tangan Zitao yang tidak memegang sendok, ekspresinya berubah serius,
"Zitao, tak terbayangkan rasa terimakasihku padamu...aku tidak tahu bagaimana mengungkapkan cintaku, aku... Para dokter dan perawat menceritakan perjuanganmu untukku..."
"Stttt," Zitao meletakkan sendoknya dan menyentuhkan jemarinya di bibir Sehun, "Perjuangannya sepadan, kau akhirnya bangun kan?"
"Tapi...," ekspresi kesedihan menghantam Sehun, "aku... Aku mungkin tidak akan bisa berjalan lagi. Aku mungkin lumpuh selamanya, aku hanya akan menjadi bebanmu..."
"Sehun," Zitao menyela sedikit marah, "Kau tidak boleh memvonis dirimu sendiri, kesembuhanmu yang luar bisaa ini juga diluar prediksi dokter bukan? Kita pasti bisa kalau kita berjuang dengan tekad dan keyakinan kuat bersama-sama, meskipun begitu...," Suara Zitao berubah sendu, "meskipun pada akhirnya kau lumpuh selamanya pun, aku akan tetap bahagia bersamamu... Kau tahu selama ini aku selalu berdoa apa? Aku berdoa yang penting kau sadar, aku tidak peduli yang lain, Tuhan sudah mengabulkan doaku Sehun... Tidakkah itu cukup?"
Mata Sehun tampak berkaca-kaca.
"Kau tidak tahu betapa aku mencintaimu..."
Suara di pintu itu mengalihkan perhatian mereka, Zitao dan Sehun menoleh bersamaan, lalu Zitao tersenyum, Dokter Luhan ada di sana, dalam kunjungannya yang bisaa, sekarang bahkan dokter Luhan sudah mulai akrab dan berteman dengan Sehun.
"Mr. Yifan ini adalah atasanku di tempat lamaku bekerja," jelas Zitao cepat begitu melihat kebingungan di mata Sehun.
"Tempatmu sekarang bekerja Zitao, kamu masih bekerja di sana," sela Yifan tajam.
Zitao ternganga mendengar bantahan Yifan itu, kehabisan kata-kata, sementara lelaki itu tersenyum datar pada Sehun,
"Kami sempat mengalami sedikit kesalahpahaman. Saya menuduh Zitao melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak dia lakukan, Tetapi saya sekarang sudah menyadari kesalahan saya," Yifan menatap Zitao penuh arti, "Dan dengan rendah hati, saya meminta Zitao kembali kepada saya," kata-kata itu diucapkan dengan datar dan santai, tapi entah kenapa arti yang tersirat di dalamnya membuat pipi Zitao merona.
Luhan langsung berdehem memecah kecanggungan,
"Bagus, kita akhirnya menyelesaikan segala kesalahpahaman," gumamnya ceria, "Nah sekarang aku ingin memeriksa kondisimu Sehun"
"Saya tidak pernah merasa lebih baik dokter," Sehun tersenyum, perhatiannya teralih dari Yifan dan Zitao.
"Dan akan lebih baik lagi, aku yakin mengingat pesatnya kondisimu," Luhan tersenyum, lalu menatap Zitao dan Yifan, "Kalian bisa keluar sebentar ? aku ingin memeriksa kondisi Sehun,"
Dan dalam diam Yifan dan Zitao melangkah keluar ruangan. Mereka masih berdiri diam di lorong ruang perawatan.
"Well dia tampak sehat," gumam Yifan kemudian, menyandarkan tubuhnya di tembok dan menatap Zitao tajam,
Zitao menganggukkan kepalanya.
"Dia tidak akan bisa berjalan lagi kan?," sambung Yifan jahat.
Zitao membelalakkan matanya mendegar kekejaman dalam suara Yifan,
"Yifan! Jahat sekali kau!," mata Zitao tampak berkaca-kaca, "Dokter Luhan bilang masih ada kesempatan bagi Sehun untuk sembuh, dan aku percaya dia akan sembuh"
"Sampai berapa lama lagi Zitao ? kau harus menunggu dalam waktu yang tak pasti lagi, Kenapa mencintai seseorang harus penuh pengorbanan seperti itu ?," Yifan mendeses kesal, "Dan kata Luhan dia juga mungkin tidak bisa berfungsi sebagai laki-laki normal…"
"Yifan!" Zitao setengah berteriak, menghentikan kata-kata Yifan, pipinya memerah mendengar ucapan Yifan yang begitu vulgar.
Yifan mengangkat bahunya tanpa rasa bersalah,
"Aku cuma mengungkapkan apa yang dikatakan Luhan kepadaku," tiba-tiba dia mendekat dan merengkuh pundah Zitao, "Bagaimana Zitao? Bagaimana jika dia tidak dapat berfungsi sebagai lelaki normal ? padahal aku tahu….," mata Yifan menyala-nyala, "Aku tahu betapa kau gadis kecil yang penuh gairah, betapa kau menyambut setiap sentuhanku dengan gairah yang sama, betapa kau menyukainya…. Bagaimana kau nanti bisa tahan tidak merasakan itu semua….tidak disentuh.. tidak di…"
"Hentikan!" Kali ini Zitao benar-benar berteriak, matanya berkaca-kaca. Membuat Yifan terdiam dan tidak melanjutkan kata-katanya. Zitao tampak begitu rapuh sekaligus begitu kuat dengan wajah pucat pasi dan mata berkaca-kaca seperti itu, membuat Yifan ingin melumatnya…
"Kau terlalu picik kalau selalu memandang sebuah kasih sayang hanya dari kemampuan melakukan hubungan fisik," desis Zitao tajam, "aku mencintai Sehun, aku hanya butuh kehadirannya di sampingku, itu saja…. Kalaupun.. kalaupun dia nantinya tidak bisa memelukku dengan bergairah, aku tidak peduli, yang penting dia hidup dan ada di sisiku, aku tidak butuh yang lain lagi…."
"Tidak butuh yang lain lagi?," Kata-kata Zitao yang penuh cinta kepada Sehun itu menyulut kemarahan Yifan, dengan kasar direngggutnya Zitao ke dalam pelukannya, "Kalau begitu bagaimana dengan yang ini?"
Dengan tanpa diduga-duga, Yifan mencium bibir Zitao, pertama kasar, meluapkan kemarahannya di sana, melumat bibir Zitao dengan menyakitkan seolah ingin menghukumnya. Oh! betapa dia ingin menghukum perempuan ini karena menyakitinya! Oh betapa dia merindukan perempuan ini.
Ciumannya melembut ketika merasakan bibir perempuan yang sangat dirindukannya, yang sudah lama tidak disentuhnya, yang sudah lama tidak dirasakannya. Kerinduannya meluap, dipeluknya tubuh Zitao erat-erat, dilumatnya bibirnya dengan seluruh gairahnya, dipujanya bibir itu.
Zitao yang tidak menyangka akan dicium dengan seintens itu semula hanya terpaku, lalu dia memejamkan matanya, aroma Yifan, kemaskulinannya menyeruak di dalam dirinya. Membangkitkan kenangan lama akan kedekatan mereka, dan secara alami, Zitao membalas pelukan dan lumatan Yifan.
Entah berapa lama mereka berciuman sampai kemudian Yifan melepaskan tautan bibir mereka, terengah-engah.
Dengan lembut Yifan menunduk, masih berpelukan, dahinya menyatu dengan dahi Zitao, napas mereka yang panas menyatu, bibir mereka masih berdekatan.
Kemarahan Yifan mereda seketika oleh ciuman itu, kini dadanya dipenuhi oleh perasaan lembut yang menyesakkan dada,
"Jangan bilang kau tidak merindukan sentuhanku," bisik Yifan lembut,
Zitao memejamkan mata berusaha menggeleng,
"Aku tidak merindukannya," erangnya mencoba melawan,
Yifan menundukkan kepalanya, menghujani telinga dan leher Zitao dengan ciuman-ciuman lembut seringan bulu, membuat tubuh Zitao gemetaran,
"Teruslah berbohong", bisik Yifan di telinga Zitao, "Tapi tubuhmu tidak bisa membohongiku, tubuhmu merindukanku Zitao, dan aku merindukanmu," bisik Yifan di sela-sela kecupannya.
Zitao mengerang, mencoba melawan kebenaran yang menyiksanya. Dia merindukan Yifan, dia memang merindukan lelaki itu. Sering di malam-malam dia berbaring di sendirian di sofa rumah sakit, menunggui Sehun. Dia merindukan Yifan, merindukan pelukannya yang melingkari perutnya dengan posesif, merindukan lengannya yang selalu menjadi bantal tidurnya, merindukan desah napas teratur Yifan di telinganya ketika tertidur pulas. Tapi Zitao menahannya, mencoba mengenyahkannya. Perasaan itu tidak boleh ditumbuhkan. Dia sudah mempunyai Sehun, Sehunnya, tunangannya. Kekasih yang dicintainya. Kekasih yang ditunggunya tanpa putus asa selama dua tahun. Kekasih yang sekarang sedang berjuang untuk pulih kembali demi dirinya.
Air mata mengalir deras di pipi Zitao,
"Aku merindukanmu Yifan," pengakuan itu, pengakuan yang sama sekali tidak di duga-duga Yifan membuat gerakan lelaki itu yang sedang mencumbu Zitao terpaku.
Yifan langsung menegakkan tubuhnya, mengangkat dagu Zitao agar menatapnya,
"Apa? Katakan sekali lagi, katakan," Yifan mendesak ketika Zitao menghindari matanya. "Katakan sekali lagi Zitao, aku perlu mendengarkan lagi"
Zitao menarik napas panjang, lalu menatap mata biru yang berbinar-binar itu,
"Aku merindukanmu Yifan," gumamnya lagi, lebih pelan dan bergetar.
"Demi Tuhan," Yifan memejamkan matanya lama, lalu memeluk Zitao, "Betapa aku ingin mendengar pengakuan itu darimu."
Mereka berpelukan lama, menikmati saat-saat yang penuh dengan keheningan itu, sampai kemudian Yifan menjauhkan pelukannya dan menatap penuh tekad,
"Kita harus berbicara dengan Sehun"
"Jangan!," Zitao langsung berteriak mencegah dan ketakutan, "Jangan Yifan!"
Mata Yifan berkilat-kilat,
"Kau harus menentukan perasaanmu Zitao, aku atau Sehun. Salah satu dari kami harus mendapat kepastian tentang perasaanmu," gumamnya tegas.
Zitao menangis lagi, tangannya bergerak lembut, mengelus pipis Yifan, lelaki itu langsung memejamkan matanya,
"Yifan… Mungkin aku juga menyayangimu, mungkin aku juga mencintaimu. Tapi Sehun lebih membutuhkan aku, tanpa aku dia tidak punya siapa-siapa lagi. Sedangkan kau, kau lelaki yang hebat, kau bisa mencari banyak penggantiku, kau pasti masih bisa hidup tanpa aku," gumam Zitao lembut.
Ketika Yifan membuka matanya, kesakitan dan kepedihan yang terpancar di dalamnya begitu mengiris hati Zitao,
"Jadi aku dikalahkan karena aku hebat?," suara Yifan terdengar begitu pedih, "Apakah aku harus luka parah seperti Sehun dulu biar kau memilihku?"
"Yifan!," Zitao berseru spontan, terkejut, "Jangan pernah… jangan pernah berpikir seperti itu, kau… kau pasti bisa memahami keputusanku,"
Yifan melihat air mata Zitao yang mengalir dan mengusapnya lembut, Kemudian Yifan merangkum pipi Zitao dengan kedua tangannya, menghadapkan wajah mungil pucat pasi itu agar mau menatap matanya.
Mereka bertatapan. Yang satu penuh air mata, yang lain penuh tekad, saling memandang dalam keheningan,
Lalu sebuah senyum kecil muncul di bibir Yifan,
"Dasar perempuan kecilku yang bodoh, kau tidak perlu mengatakan apa-apa lagi. Cukup dengan kau bahagia. Itu saja, kau mengerti? Sekarang hapus air matamu itu dan tersenyumlah."
.
.
.
Sejak saat itu Yifan seolah-olah menghilang dari kehidupan Zitao, Zitao merenung dalam mobil rumah sakit yang membawa mereka pulang ke apartemen.
Hari ini Sehun sudah boleh pulang dari rumah sakit, bersama Luhan dan Suster Likun mereka pulang ke apartemen. Suster Likun memutuskan untuk tinggal sementara membantu Zitao, dan Luhan sudah berjanji akan berkunjung setiap hari untuk mengecek kondisi Sehun dan melakukan terapi rutin.
Kata Dokter Luhan, Yifan memutuskan mengambil tugas perjalanan ke eropa dan mungkin akan kembali dalam waktu yang lama.
Dada Zitao terasa nyeri, ketika sekali lagi mengakui kenyataan itu kepada dirinya sendiri, Oh ya, dia merindukan Yifan, sangat merindukannya. Ternyata cinta memang bisa tumbuh tanpa direncanakan. Zitao mencintai Yifan. Dia tidak tahu kapan perasaan ini bertumbuh. Dia hanya tahu dia mencintai Yifan, itu saja.
"Aku tidak menyangka bosmu yang kelihatannya sombong itu bisa begitu baik, meminjamkan apartemennya," Sehun memecah keheningan, menatap Zitao dengan sedikit menyelidik, dia bertanya-tanya karena akhir-akhir ini Zitao begitu murung,
"Aku yang membujuknya," Luhan yang duduk di kursi depan cepat-cepat menjawab, tahu bahwa Zitao pasti kebingungan dengan pertanyaan Sehun itu, "Yifan adalah sahabat suamiku, aku bilang merawatmu penting bagiku, karena kamu adalah salah seorang yang selamat dari kecelakaan yang menewaskan suamiku. Jadi Yifan mau meminjamkan apartemen itu, toh apartemen itu tidak terpakai"
Diam-diam Zitao dan Suster Likun menarik napas lega mendengar kelihaian dokter Luhan menjawab.
Mereka sampai di apartemen, dan Zitao mendorong kursi roda Sehun memasuki ruangan itu.
Begitu mereka masuk tanpa sadar Zitao mengernyit, semua kenangan itu seolah menghantamnya. Di sini, di apartemen ini dia menghabiskan waktu berdua dengan Yifan, makan malam bersama, bercakap-cakap bersama…
"Apartemen yang sangat bagus, kita beruntung Zitao, bos mu sangat baik," Sehun mendongakkan kepalanya ke belakang menatap Zitao sambil tersenyum,
Mau tak mau Zitao memaksakan senyuman di bibirnya. Kuatkah ia berada di sini? Apalagi di kamar itu... Zitao melirik kamarnya, tempat Yifan juga menghabiskan sebagian besar waktunya di sana. Tidak! dia tidak mau masuk lagi ke kamar itu!
Dengan cepat dan efisien mereka menyiapkan segalanya sehingga Sehun selesai di terapi dan beristirahat di kamarnya. Suster Likun menjaganya sebentar, lalu berpamitan untuk kembali ke rumah sakit, berjanji akan pulang dan menginap di sini nanti malam.
Setelah memastikan Sehun tertidur pulas, Luhan menyeduh teh dan mengajak Zitao duduk di ruang depan.
"Dia sudah kembali dari eropa," Luhan membuka percakapan, menatap Zitao dari atas cangkir kopi yang diteguknya.
Seketika itu juga hati Zitao melonjak, tahu siapa yang di isyaratkan sebagai 'dia' itu.
"Apakah dia baik-baik saja?," Tanya Zitao pelan.
Luhan tersenyum miring mendengar kelembutan dalam suara Zitao,
"Kau itu baik hati ya, sudah menerima arogansinya yang tidak tanggung-tanggung, tetapi masih saja mencemaskannya," dengan pelan Luhan meletakkan cangkirnya, "Yah, dia baik-baik saja, sedikit kurus, terlalu memaksakan diri dan jadi pemarah seperti beruang terluka, tak ada yang berani menyinggungnya dan mendekatinya dalam radius 100 meter kalau dia sedang mengeluarkan aura pemarahnya, bahkan direktur keuangan memilih berhubungan dengannya via telepon," Luhan terkekeh. Lalu wajahnya berubah serius melihat kesedihan Zitao, "Yah….. dengan melupakan fakta kalau akhir-akhir ini dia lebih seperti mayat hidup daripada manusia, sepertinya dia baik-baik saja"
Zitao memalingkan wajahnya dengan pedih,
"Dia menderita Zitao." desah Luhan kemudian, "Aku tidak pernah melihatnya seperti ini sebelumnya"
"Sudah.." Zitao tidak tahan lagi mendengarnya, penderitaan Yifan serasa mengiris-iris hatinya, "Sudah aku tidak mau mendengar lagi"
Luhan menarik napas,
"Tapi tadi dia memintaku menyampaikan pesan kepadamu"
Kata-kata Luhan yang menggantung membuat Zitao menoleh, tertarik,
"Pesan ?"
Luhan menggangguk,
"Ya, sebuah pesan… malam ini jam delapan, ditunggu di restorannya ," lalu Luhan menyebutkan nama sebuah hotel
Dan Zitao mengernyit, hotel tempat pertama kali dia bersama Yifan.
.
.
.
Zitao merasa tidak nyaman, pakaiannya terlalu bisaa-bisaa saja untuk ukuran hotel yang mewah ini. Dia berdiri dengan kikuk di lobby, tak tahu harus berbuat apa
Entah dorongan apa yang membuatnya datang menemui Yifan malam ini. Dia tahu dia nekat, seperti memancing iblis untuk membakarnya. Tapi dia tidak bisa menahan diri. Dia ingin bertemu Yifan, walaupun mungkin ini untuk terakhir kalinya.
"Bisa dibantu nona ?," Lelaki petugas hotel itu datang menghampiri, sepertinya melihat kebingungan Zitao,
"Eh saya… saya Zitao….saya sudah ditunggu…"
"Nona Zitao," petugas itu berubah sopan dan membungkukkan tubuh, "silahkan, anda sudah ditunggu, mari saya antar"
Dengan ragu Zitao melangkah mengikuti petugas hotel itu, memasuki restoran yang tertata dengan mewah dan elegan.
Dan di sanalah Yifan, duduk dengan pakaian resminya, mata Yifan sudah melihatnya ketika dia memasuki ruangan. Dan tidak lepas memandanginya dengan tajam setelahnya.
Ketika Zitao mendekat, Yifan berdiri dengan sopan lalu duduk lagi setelah Zitao duduk,
Hening sejenak, masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Terimakasih sudah datang," gumam Yifan lembut,
Zitao mengangguk, matanya berkaca-kaca melihat kelembutan tatapan Yifan.
"Mungkin ini untuk terakhir kalinya, mungkin setelah ini aku tidak akan datang lagi," gumam Zitao pelan.
Yifan menggangguk,
"Setelah ini aku tidak akan pernah memintamu datang lagi."
Hening lagi. Sampai pelayan membawakan makanan pembuka, mereka makan malam dalam diam.
Sampai kemudian Yifan menuangkan anggur ke gelas Zitao,
Zitao mengernyit,
"Aku tidak pernah minum alcohol"
Yifan tersenyum menggoda, senyum pertamanya malam itu,
"Tenang saja, aku akan menjagamu. Kemungkinan terburuknya mungkin kau diperkosa saat mabuk"
Pipi Zitao langsung merona dan Yifan terkekeh.
Anggur itu mencairkan segalanya, suasana menjadi hangat, dan percakapan mereka mengalir lancar, Yifan menceritakan tentang perjalanannya ke Eropa dan Zitao mendengarkannya dengan penuh minat.
Sampai kemudian, Yifan menggenggam tangan Zitao lalu mengecupnya, "Aku ingin memelukmu"
Hanya satu kalimat, tapi Zitao mengerti. Dia menganggukkan kepalanya. Entah kenapa dia menyetujuinya. Mungkin karena anggur itu sudah mempengaruhi pikiran normalnya. Yang pasti Zitao juga ingin merasakan pelukan Yifan.
Dengan lembut Yifan menghela Zitao, melangkah ke lantai atas,
Ketika Yifan membuka pintu kamar, Zitao menatap Yifan bingung, dan Yifan tertawa menyadari kebingungan Zitao,
"Yah kamar yang sama,Kuakui... aku memang agak sedikit sentimental," Yifan mengangkat bahu, pipinya sedikit merona, "Kupikir… tempat saat pertama akan cocok untuk menjadi tempat saat terakhir kita"
Zitao tersenyum lembut, dan membiarkan Yifan membimbingnya memasuki kamar,
Mereka berdiri dengan canggung, sampai Yifan mengeluarkan sebuah kotak dari sakunya,
"Aku membawa cincin keluargaku, cincin yang diberikan turun-temurun untuk pengantin perempuan," dengan tenang dia membuka kotak itu dan menunjukkan cincin dengan berlian biru yang mungil dan cantik, "Aku ingin memberikannya kepadamu"
"Tidak!" Zitao langsung berseru keras, menolak, "Jangan Yifan, itu… itu cincin yang sangat penting, itu untuk pengantin wanitamu!"
"Bagiku, kaulah pengantin wanitaku," Yifan menarik tangan Zitao, memaksa memasangkan cincin itu ketangannya, lalu menggenggamnya erat-erat ketika Zitao berusaha melepaskan cincin itu, "Aku ingin kau memilikinya"
"Yifan," Zitao merintih penuh penderitaan, penuh air mata, Dan Yifan mengusap air matanya lembut, mengecup air matanya lembut,
"Zitao," bisiknya seolah kesakitan, lalu mencium bibirnya dengan lembut dan penuh perasaan, "Astaga...Zitao...Zitao...Betapa aku merindukanmu…"
Ciumannya semakin dalam, semakin bergairah, semakin penuh kerinduan, tak tertahankan.
.
.
.
Yifan melepaskan ciumannya dan menatap Zitao lembut,
"Kau mabuk ya?," senyumnya. Merasa senang karena Zitao membalas ciumannya dengan sama bergairahnya.
Zitao hanya merangkulkan tangannya erat-erat di leher Yifan, merasakan benaknya melayang-layang. Sepertinya dia memang mabuk, karena sekarang dia merasa bebas dan begitu nyaman bersama Yifan.
Yifan terkekeh geli,
"Aku senang kalau kau mabuk, kau begitu penurut dan tidak takut-takut," dengan lembut Yifan mengecup telinga Zitao, mencumbunya dengan penuh kelembutan, "biarkan aku mencintaimu malam ini Zitao."
Dengan lembut Yifan menghela Zitao ke atas tempat tidur dan mengecupi wajahnya penuh perasaan, "selama ini kita berhubungan seks...tapi malam ini aku berjanji, kita akan... bercinta,"
Yifan menggerakkan tangannya menurunkan gaun Zitao dan mulai mengecupi pundaknya, tersenyum senang ketika mendengar desahan Zitao,
"Hmm, kau senang sayang? Kau menyukainya?," dengan penuh perasaan di kecupinya semua permukaan kulit Zitao.
Zitao merasa dirinya melayang-layang, pengaruh alkohol, ditambah kemesraan Yifan yang luar bisaa membuatnya merasa di awang-awang, dibukanya matanya, dan samar-samar dilihatnya Yifan mengecupi jemarinya, ketika Yifan menatapnya, mata laki-laki itu tampak berkilauan,
Posisi mereka begitu intim, telanjang bersama dengan tubuh menyatu. Yifan mendesakkan dirinya lebih rapat, menikmati tubuh perempuannya yang melingkupinya. Dadanya serasa membuncah oleh perasaan hangat, ketika mata mereka bersatu dalam pesan yang tersirat
"Aku mencintaimu," bisik Yifan lembut. Dan Zitaopun melayang, terbawa oleh cinta Yifan.
Yifan memeluk tubuh Zitao yang lunglai dan terlelap, tubuhnya rileks setelah percintaan mereka. Tapi otaknya berpikir keras.
Dia sengaja membuat Zitao mabuk malam ini, agar Zitao tidak waspada, agar Zitao tidak menyadari, tidak menyadari apa yang sudah dia rencanakan jauh sebelumnya.
Dia tidak memakai pelindung saat mereka bercinta tadi. Dia berusaha membuat Zitao hamil.
Yifan memejamkan mata dan mengernyit ketika sengatan rasa bersalah menyerbunya. Dia telah memanipulasi ketulusan perasaan Zitao dengan menjebaknya. Tapi mau bagaimana lagi? Dia sudah berusaha melupakan Zitao. Tuhan tahu dia berusaha sangat keras, apa saja agar Zitao bahagia bersama Sehunnya yang sudah dipilihnya. Dia bahkan mengajukan diri untuk perjalanan bisnis ke luar negeri agar bisa melupakan Zitao. Tapi perempuan itu membayanginya, membuatnya gelisah dan tidak bisa berkonsentrasi. Yifan merasa dirinya nyaris gila ketika memutuskan akan pulang dan memutuskan untuk memiliki Zitao dengan cara apapun. Jika Zitao tidak mau memilihnya, maka Yifan akan memaksa Zitao memilihnya!
Dengan lembut Yifan mengecup dahi Zitao yang berbaring di lengannya. Sebelah tangannya meraba perut Zitao yang telanjang di balik selimut dan mengelusnya.
Anakku akan bertumbuh di sini, pikirnya posesif. Rasa memiliki dengan intensitas luar bisaa muncul tiba-tiba dalam hatinya ketika menyadari bahwa anaknya akan bertumbuh dan terbentuk di dalam rahim Zitao. Dengan lembut diusapnya perut Zitao, Yifan tidak bisa menahan diri, pelan-pelan diletakkannya kepala Zitao di bantal, lalu dia bergerak turun dan mengecup perut Zitao,
"Kau harus tumbuh di sana," bisiknya penuh tekad, "Kau harus tumbuh sehat dan kuat di sana, agar ayahmu bisa memiliki ibumu," Yifan berbicara sambil mengecup perut Zitao.
Kemungkinan bayi itu terbentuk dari percintaan mereka adalah 80%, Yifan sudah mempelajarinya dari semua referensi yang bisa ia dapat, ia mengetahui bahwa dari rata-rata umur mereka berdua kemungkinan Zitao hamil malam ini sangat besar, dan diam-diam dia sudah mencocokkan dengan siklus Zitao, dia tahu perempuan itu sedang dalam masa suburnya.
Ciuman-ciuman lembut di perutnya itu membuat Zitao terbangun, dia membuka mata dan menatap Yifan,
"Yifan?," Zitao bertanya-tanya kenapa Yifan mengecup perutnya.
Yifan tersenyum, senyum yang sedikit kejam menurut Zitao, tapi usapan tangan lelaki itu yang dilakukan sambil lalu di sepanjang kulitnya yang telanjang, terasa begitu lembut sekaligus menggoda,
"Aku bergairah lagi," gumam Yifan Serak, lalu bergerak naik dan mengecup bibir Zitao penuh gairah.
Yifan berbeda dengan tadi, pikir Zitao, kali ini sedikit lebih kasar, tidak menahan diri dan sangat posesif. Ciumannya begitu bergairah, melumat bibir Zitao kuat-kuat, lidahnya menjelajahi mulut Zitao dengan panas, tangannya mengusap tubuh Zitao penuh gairah,
"Kau milikku Zitao," gumam Yifan parau sebelum bercinta lagi dengan Zitao.
.
.
.
Zitao terbangun dalam pelukan Yifan. Matahari fajar sedikit menembus tirai putih jendela hotel itu, masih gelap dan dingin. Dengan nyaman Zitao makin bergelung dalam pelukan lelaki itu. Dan secara otomatis Yifan mengetatkan pelukannya, melingkarkan lengannya erat-erat di tubuh Zitao.
Zitao memejamkan matanya, menenggelamkan wajahnya di dada telanjang Yifan, menghirup aroma Yifan kuat-kuat dan menyimpannya rapat-rapat dalam memorinya. Tiba-tiba air mata merembes dari sela bulu matanya, dan Zitao menahannya agar tidak menjadi isakan.
Kenapa? Kenapa Tuhan membuatnya jatuh cinta lebih dulu kepada Yifan sebelum kemudian mengabulkan doanya agar Sehun terbangun dari komanya? Apa rencana Tuhan di balik semua peristiwa ini? Kenapa di saat Sehun benar-benar sudah bangun, hatinya sudah jatuh dimiliki oleh Yifan?
Zitao mengigit bibirnya agar tangisnya tidak semakin keras dan membangunkan Yifan, dia tidak boleh menangis. Ini semua sudah menjadi keputusannya. Dia sudah memiliki Sehun. Sehun yang mencintai dan dicintai olehnya sejak awal. Sehun yang sebatang kara dan tidak akan punya siapa-siapa kalau Zitao tidak ada di sampingnya. Sehun lebih membutuhkan Zitao dibandingkan Yifan. Tanpa Zitao, Sehun akan rapuh, sedangkan tanpa Zitao, Yifan akan tetap kuat. Yifan bisa mencari Zitao-Zitao yang lain dengan segala kelebihannya, sedangkan Sehun hanya memiliki Zitao.
Dia sudah memutuskan dalam hatinya, tapi kenapa hatinya tetap terasa begitu sakit? Rasanya seperti disayat-sayat ketika memikirkan Yifan, ketika ingatannya melayang pada setiap kebersamaan mereka. Kenapa rasanya masih terasa begitu sakit?
Dan malam ini Zitao memutuskan bertindak egois. Hanya malam ini ya Tuhan, ampuni aku, desah Zitao dalam hati. Dia tahu semua ini akan terjadi. Dia tahu jika dia datang menemui Yifan pada akhirnya mereka akan berakhir di ranjang dan bercinta. Zitao tahu itu semua akan terjadi, tapi dia tetap mengambil konsekuensi itu, dia butuh merasakan pelukan Yifan untuk terakhir kalinya, dan kemudian meyakinkan dirinya bahwa ini adalah perpisahannya dengan Yifan.
Pelukan Yifan tiba-tiba mengencang dan lelaki itu dengan masih malas-malasan mengecup dahi Zitao,
"Dingin?," tanyanya Serak.
Zitao mendongakkan wajah dan mendapati mata biru itu menatapnya. Lalu tersenyum lembut, dan menggeleng.
Yifan meraih dagu Zitao dan mengecupnya dengan kecupan singkat,
"Aku menyakitimu tidak semalam?"
Sekali lagi Zitao menggeleng dan menenggelamkan wajahnya ke dada Yifan, menahan air mata. Ini adalah saat berharganya. Berada dalam pelukan erat Yifan, merasakan kelembutan dan kemesraannya. Dia akan menyimpan kenangan ini dihatinya, biar di saat-saat dia merasa pedih dan merindukan Yifan, dia tinggal menarik keluar kenangan tentang pagi ini, dan hatinya bisa terasa hangat.
Seperti inilah dia akan mengenang Yifan nanti, lembut, penuh cinta dan memeluknya erat-erat.
Seolah mengerti pikiran Zitao yang berkecamuk, Yifan tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia hanya memeluk Zitao erat-erat dan mengusap punggungnya dengan lembut, mereka larut dalam keheningan dan usapan Yifan membuat Zitao setengah tertidur,
"Aku harap kau tidak menyesali malam tadi," bisik Yifan lembut, menggugah Zitao dari kondisi setengah tidurnya.
Zitao mendongakkan kepalanya lagi dan menatap Yifan lembut,
"Kau tahu aku tidak menyesal," tangannya dengan hati-hati mengusap wajah Yifan, takut akan reaksi Yifan karena dia tidak pernah melakukannya sebelumnya. Tapi Yifan langsung memejamkan mata, menikmati setiap usapan Zitao dengan penuh perasaan.
Merasa mendapatkan izin, dengan lembut Zitao menggerakkan tangannya, meraba wajah Yifan. Mulai dari dahinya, lalu ke alisnya yang tebal, ke mata yang terpejam itu, ke bulu mata tebal yang hampir menyentuh pipi ketika Yifan terpejam, ke hidungnya, ke tulang pipinya yang tinggi, ke rahangnya yang mulai ditumbuhi bakal janggut, hingga ke bibirnya yang tipis tapi penuh, bibir yang tak terhitung lagi sudah mengecupnya berapa kali.
"Zitao," Yifan mendesah, mengernyitkan keningnya merasakan usapan lembut Zitao di wajahnya, tangannya lalu menahan jemari Zitao di bibirnya dan mengecupnya, mata birunya membuka dan menatap Zitao bagai api biru yang menyala,
"Apapun yang akan terjadi nanti, aku akan membuat kau mensyukuri malam ini," gumam Yifan misterius.
Zitao mengernyitkan kening mendengar kata-kata Yifan yang penuh arti. Apa maksud Yifan?
Tapi sebelum Zitao bisa berpikir lebih lanjut, Yifan sudah meggulingkan tubuh Zitao dan menindihnya. Bercinta lagi dengannya.
TBC
Lagi pengen balesin review walaupun makasain :')
Skylar Otsu : ini udah panjang belum? Wkw, keknya salah wkwk, si tonggos napsuan sih, di chap ini udh 2 kali malahan.
Yonsy Fajar S : maaf banget kalo updatenya lama huhuhu, dikit lagi aku ujian apalah banyak tugas :(
LVenge : masih mau bilang yifan kasian? :')
DBSJYJ : zizi pasti pilih gue lah wkwk. Duh makasih banget jadi malu kamu mau nungguin remakean penuh typo ini :(
Anisa591 : zitaw cintanya sama saya lahh, gue malah kasian sama zitao nya...bukan yifan wkw
TKsit : iya setuju kasian sama sehun nya :(
SN23056800 : frontal banget ya ? Maaf:( boleh juga sih... ini bukan janji yaa
Re-Panda68 : maaf banget gabisa update cepet :( di usahain pasti buat update cepet, iya itu yang kemaren typo parah, bukan typo sih jatuh nya , ga nyadar aja kalo itu namanya blm di ganti -_- wkwk
PreciousPanda : di certia aslinya serena (zitao) sama rafi (sehun) moment nya juga ga terlalu banyak :( aku cuman ngikutin yang ada di novelnya :(
Yasota : kalo end nya huntao kasian banget kris nya :( gatega ngeliat kris terpuruk
laylaazkia : banyak banget yg minta end ini jadi huntao haha, liat aja deh ya end nya gimana , ya walaupun udh kebaca, iya itu aku ga teliti banget -_-
Ammi Gummy : semuga harapan kamu terkabul ya :)
Mara997 : aww kita sehati ternyata haha
celindazifan, riskah9zt02, Aiko Vallery, dillahKTS90 : ini udah lanjut yyyy
Maaf banget buat yang gak kesebut di atas :( , dan mungkin ini banyek banget typo kali ya, soalnya aku ngerjainnya tengah malem wkwk.
makasih banyak yang udah mau baca fav foll rev ff inii mwahh
Salam cinta dari Zitao's seme :)
