Remake A Mask
.
Season 2
Beginning
.
Main Cast : Min Yoongi
Pair : YoonMin
Genre : Romance Mystery
.
Happy reading
Love and Peace :3
.
.
.
Mata Jimin menerawang jauh, menatap sayap pesawat yang sudah siap untuk lepas landas. Beberapa orang masih meletakkan barang di atas kabin dan para pramugari berlalu lalang untuk membantu penumpang.
Cincin emas itu masih setia melingkari jari manisnya, bahkan di saat sang pemilik lagi-lagi meragukan soal pernikahan. Jimin cukup senang dengan cara Yoongi melamarnya, begitu sederhana dan tiba-tiba. Bukankah itu gaya dari seorang Min Yoongi?
Tapi di lain hal, hatinya masih berteriak bahwa Yoongi itu sangatlah asing. Yoongi mengatakan bahwa ia akan menemui orang tua Jimin setelah namja mungil itu pulang dari Jepang. Semua akan menjadi lebih serius saat kasus ini selesai.
Dan fakta itu membuat perasaan Jimin semakin khawatir. Apa dia benar-benar harus menikah dengan Yoongi? Apa yang ia ketahui tentang Yoongi?
Akan tetapi dia merasa tidak perlu menolak lamaran dari lelaki pucat itu, mereka cocok di berbagai situasi. Saling berkomitmen dan tidak gampang pecah hanya karena masalah sepele. Hubungan mereka juga tenang bagaikan air. Jarang sekali Jimin dapat menemukan pasangan yang mengerti dirinya.
Dia juga sudah dewasa, Yoongi mungkin tidak akan menerima alasan Jimin yang sangat tidak masuk akal. Mungkin lelaki itu akan menggenggam tangan Jimin begitu kuat lalu berkata, "Apa maksudmu? Kita sudah cukup dekat, bukan?" Lalu ditambah dengan tatapan mata setajam elang.
Lagi-lagi Jimin menghela napas panjang, sebelum akhirnya ia terkesiap karena dering ponsel yang berbunyi. Jimin buru-buru mengangkat sambungan telepon itu seraya mendengar pengumuman dari pramugari; melarang menghidupkan beberapa alat elektronik—termasuk ponsel.
"Halo, Inspektur? Ada apa? Kami sudah berada di dalam pesawat." Jimin mengecilkan suara dan menundukkan kepala. Dia tidak mau ditegur oleh pramugari dengan bedak setebal sepuluh sentimeter itu.
"Batalkan keberangkatan kalian. Aku awalnya menelepon Ketua Hakyeon tapi kurasa ponselnya telah dimatikan. Kasus kalian biarkan tim dua yang menangani." Dahi Jimin mengerut, dia menatap ke arah samping dan melihat Ketua Hakyeon yang sedang membaca majalah lalu tertawa kecil bersama Jungkook.
"Apa maksudmu? Apa ada masalah?"
Salah satu pramugari melewati kursi Jimin lalu berdehem pelan. "Maaf Tuan, lima menit lagi kami akan lepas landas. Dimohon untuk mematikan ponsel Anda—" Suara pramugari itu terhenti di saat Jimin melepaskan seat belt dan berdiri dengan wajah terkejut setengah mati.
"Batalkan penerbangan, kami berlima akan turun sekarang."
"A—pa maksud Anda? Kita tidak bisa membatalkan penerbangan kecuali—"
Lagi-lagi Jimin menghentikan omongan pramugari manis itu dengan memampangkan lencana kepolisian disertai raut wajah yang serius.
"Hyung, kau kenapa?" Jungkook menatap Jimin dengan raut wajah khawatir. Sedangkan Jimin hanya bisa terdiam beberapa detik sebelum akhirnya dia menangkap tatapan tajam Kim Taehyung.
"Kim Seok Jin menghilang dari penjara."
.
.
.
Dua hari sebelum keberangkatan menuju Jepang.
Suara langkah kaki terdengar hingga ke ujung koridor. Seseorang yang menggunakan setelan jas lengkap berjalan seraya diiringi oleh dua orang polisi di belakangnya. Tangannya sedikit bermain, menyentuh setiap jeruji besi dengan senyum tipis.
Hingga ia berhenti di salah satu sel paling ujung, menatap seseorang yang sedang berbaring di tempat tidur seraya membaca buku dengan halaman depan bergambar kerajaan Eropa.
"Empat belas hari lagi, bukan? Hukuman mati," gumam lelaki yang ada di luar sel penjara. Membuat sang penjahat menutup bukunya dan menghela napas panjang.
"Yah, aku akan memikirkan cara agar tidak mati." Namja itu balas menjawab dengan nada main-main. Berdiri dari baringnya lalu meletakkan buku tersebut di atas tempat tidur.
Dengan satu kode, salah satu polisi langsung membuka pintu jeruji itu. Tanpa basa-basi dan tanpa takut pula, lelaki berambut minimalis dengan surai hitam mengkilat memasuki sel penjara seraya menyeringai tipis.
"Kau berhasil memancingnya kembali. Aku berterima kasih akan hal itu, Kim Seok Jin." Mendadak Jin langsung tertawa cekikikan. Suaranya begitu halus dan terkesan seperti hantu yang sedang terkekeh, membuat kedua polisi di luar sel merinding ketakutan.
"Jangan senang terlebih dahulu, aku tidak yakin masih berada di pihakmu." Mendengar hal itu, sang lawan bicara tersenyum tipis. Entah itu berarti buruk baginya atau malah menjadi lebih baik. Tetapi sejujurnya dia sudah cukup bersyukur karena dengan cara Jin sendiri dia bisa menemukan apa yang ia cari tanpa susah payah.
Sesuai permintaan, Jin memancing Min Yoongi datang ke wilayahnya dengan bunga itu. Mudah sekali.
"Semua uang telah kukirim ke rekeningmu—"
"Kau tahu aku tidak menginginkan uang, bukan?" Jin memotong pembicaraannya seraya berjalan menuju wastafel dan memainkan keran air.
Lelaki itu tersenyum tipis, "Sekarang bunuh mereka berdua. Kim Taehyung dan Min Yoongi. Aku akan membantumu keluar dari sini." Dia gila, membuat perjanjian sekali lagi dengan seorang psikopat seperti Jin?
Tidakkah ia tahu bahwa Jin bagaikan dua sisi koin? Bisa berubah keinginan hanya dalam sekejap dan dia bisa melakukannya dengan otak jenius itu.
"Jika kau ingin sekali membunuh mereka, kenapa tidak kau lakukan send— akh, tidak mau mengotori tangan, huh? Atau kau tidak bisa membunuhnya?" Tanpa sadar pertanyaan Jin membuat tangan lelaki itu terkepal erat. Merasa terhina sekaligus tidak bisa menjawab. Alhasil namja tersebut hanya meloloskan tawa kecil.
"Aku hanya menyukai kinerjamu. Aku menyuruhmu mencari Min Yoongi dan yang kau lakukan adalah menciptakan permainan begitu luar biasa yang dapat membuat sang jenius Kim Taehyung kebingungan. Apa yang akan kau lakukan jika aku menyuruhmu membunuh keduanya? Bukankah semua akan semakin seru?"
Jin langsung tersenyum bangga mendengar ucapan tersebut, membalikkan badan, dan langsung menatap lelaki itu tepat di kedua netranya. Begitu tajam dan mengintimidasi, namun namja tersebut sama sekali tidak menampakkan reaksi ketakutan.
"Aku minta maaf soal organisasimu. Tapi jika kau berhasil membunuh mereka berdua… bagaimana dengan bayaran sepuluh kali lipat?"
Merasa tergiur? Tidak juga.
Jin bukanlah orang yang melakukan sesuatu hanya karena uang, dia melakukan sesuatu karena ia suka. Bedakan kedua hal tersebut. Bahkan sekarang Jin sudah menyeringai. Tanpa sadar ia menjilat bibir bawahnya secara perlahan. Mungkin membayangkan betapa sedapnya daging seorang Min Yoongi atau Kim Taehyung? Entahlah.
"Kau tahu Jimin dan Yoongi? Mereka sangat kebetulan." Seakan mengganti topik, Jin memiringkan wajahnya dan tersenyum manis. "Pasangan yang cukup romantis ternyata. Tapi kurasa Jimin tidak pantas mendapatkan pasangan seperti Yoongi, apa yang biasa disebut orang normal?" Suara Jin terhenti, dia tampak berpikir sebentar sebelum akhirnya menjentikkan jarinya.
"Akh! Park Jimin terlalu baik untuk seorang pembunuh seperti Min Yoongi." Jin terkikik pelan saat melihat sang lawan bicara terkesiap. Tangan itu semakin terkepal menahan emosi, akan tetapi ia masih bergeming di tempat.
Setidaknya dia harus menahan emosi hingga waktu yang tepat. Dirinya masih ingin psikopat gila itu berada di pihaknya, dia masih ingin membunuh kedua orang itu.
"Kuharap kau bisa diajak bekerja sama untuk saat ini," tuntasnya seraya berbalik badan. Awalnya dia ingin keluar dari sel tersebut sebelum akhirnya berhenti bergerak. Tampak ia tersenyum tipis penuh kemenangan.
"Kau tahu Namjoon memanfaatkan situasi ini, bukan?" Tanpa perlu melihat reaksi Jin, lelaki itu tahu bahwa psikopat yang notabene mantan tunangan Hoseok sudah terpancing emosinya. "Mereka tampak sering bersama belakangan ini—"
Lelaki itu berjalan mendekati tempat tidur dan mengeluarkan salah satu buku baru berjudul Les Misérables dengan tangan terlapisi sarung tangan hitam. "Mungkin jika kau membunuh mereka berdua, aku akan memberikanmu Namjoon daripada buku ini," gumam lelaki itu sebelum akhirnya melangkah keluar dari sel penjara.
Membuat para polisi langsung terburu-buru mengunci jeruji besi itu dan menyusul ketertinggalannya. Sedetik kemudian terdengar suara teriakan dari dalam sel penjara Jin, pria itu emosi. Tanpa sadar menendang jeruji besi dengan penuh amarah.
Namun, beberapa saat selanjutnya teriakan itu tergantikan oleh tawa halus. Jujur, wajah tampan dengan aura gentleman itu mungkin akan membuatnya terlihat bagaikan lelaki tampan berjiwa suci dan memiliki kebaikan hati yang sangat luar biasa. Tapi apa ada yang masih bisa berpikir seperti itu di saat kedua netranya memantulkan hasrat ingin membunuh?
Contohnya seperti saat ini, entah apa lagi yang ia rencanakan di otaknya. Jin memiliki seribu satu cara di balik senyum baik hatinya itu. Daripada bidak catur yang dimainkan, Jin memilih posisi berbeda.
Dia memilih untuk menjadi satu-satunya yang memainkan setiap bidak catur di papan permainan tersebut. Menggerakkan keduanya dengan fakta bahwa dirinya lah yang menjadi pegangan sang hitam maupun putih.
Bukankah itu menyenangkan?
Jin tinggal memilih siapa yang akan ia menangkan di akhir permainan.
Tanpa sadar dia tertawa pelan. Mungkin setelah berhasil kabur, dia akan menemui Kim Taehyung sejenak.
.
.
.
TBC
