I do not own the story!
copyright © 2012 I Couldn't Care Less by fantasy_seoul (AFF)
translated by Xiao Wa (Jan 13, 2014)
Enjoy~
Chapter 13: The Wince Luhan vers.
o
o
o
(*Luhan*)
Kapan dia datang?
Luhan sudah duduk di kelas Etik Sosial selama 10 menit sekarang dan profesornya masih belum muncul. Seorang profesor terlambat untuk kelas Etik Sosialnya sendiri –ironis.
"Hei Luhan!" Dua dari teman sekelas perempuannya memanggil saat mereka duduk di sampingnya.
"Hi."
"Apa itu benar? Apa rumor itu benar?" Satu dari mereka bertanya.
"Apanya yang benar?" tanya Luhan balik, walaupun dia tahu rumor apa yang mereka maksud.
"Bahwa kau kencan dengan Oh Sehun –anak tinggi dengan tatapan dingin itu."
Para mahasiswa di Universitas sepertinya tidak punya hal yang lebih baik untuk dilakukan daripada memulai rumor bahwa dia berkencan dengan Sehun. Selain kehilangan beberapa fangirl, rumor itu tidak terlalu berpengaruh pada Luhan. Orang-orang akan saling berbisik ketika ia lewat, tapi gosip itu tidak membuat Luhan terlalu kecewa –lebih tepatnya ia berharap itu adalah kenyataan.
"Tidak. Itu tidak benar," jawab Luhan, mengganti perhatiannya ke tempat lain. Dia tidak nyaman berbicara tentang Sehun dengan orang lain.
"Lalu bagaimana kau menjelaskan kencan makan siangmu?" Mereka sekarang melihatnya dengan sungguh-sungguh, berharap dia akan terbuka dan mengatakan apa yang mereka ingin tahu.
"Teman tidak bisa makan siang bersama?" Luhan mendesah.
"Nah ya, mereka bisa. TAPI tidak ketika itu Sehun. Kalian berdua benar-benar teman? Untuk kenyataan?"
"Ya," kata Luhan, mencoba sebisanya untuk tidak terdengar gelisah. Kapan profesor sialan itu datang?
"Bagaimana mungkin?" Mereka menjerit.
Apa ini? Sebuah introgasi?
"Kenapa tidak," jawab Luhan ketus.
"Karena Sehun benar-benar berlawanan denganmu. Dia tidak sopan dan tidak ramah, sedangkan kau manis...dan...imut," satu dari mereka menjawab berdasarkan fakta.
"Jadi?" kata Luhan, suaranya masih tenang walaupun di dalamnya tidak.
"Jadi kau tidak bisa dekat dengannya! Dia berita buruk."
"Tak seorang pun tahu bagaimana kalian berdua bisa berteman."
Luhan mengejek, "Itu bukan urusan siapapun." Dia melipat tangannya menyilang di dada, berharap pesannya tersampaikan bahwa dia tidak mau menjadi bagian pembicaraan ini lebih lama.
Para perempuan itu tidak mengerti sinyalnya. "Bagaimanapun juga, kau harus tetap menjaga jarak atau kau akan berakhir tersakiti."
"Terima kasih atas perhatianmu," kata Luhan di antara gertakan giginya.
"Tentu saja. Tetap saja tidak ada sangkalan bahwa dia memperlakukanmu berbeda. Sekarang aku pikir –sebelum kau pindah ke sini, dia jarang makan siang di kafetaria."
Mata Luhan membesar. "Benarkah?"
"Ya. Jadi kau tidak bisa menyalahkan orang lain ketika dia tiba-tiba terlihat makan siang denganmu hampir setiap hari." Perempuan itu mengangguk.
"AHEM! Maaf aku terlambat! Bisakah aku mendapatkan perhatian kalian?" seru profesor keras sambil berjalan masuk, rambut tidak tersisir dan kemeja tidak diselipkan (sangat yakin dia ketiduran).
Setengah dari kelas mengerang atas kemunculannya, dan setengah lainnya bersorak. Luhan tidak keduanya. Dia terlalu penuh dengan pikiran tentang teman muda sekamarnya. Anak laki-laki yang tidak berhenti untuk membuat Luhan takjub setiap hari.
o
Dimana dia?...
Mata Luhan melihat kesekitar. Itu dia!
Luhan berjalan melewati ramainya kafetaria setelah menemukan Sehun. Oh, dia dengan orang...teman sekelas mungkin?
Luhan tidak yakin dia harus menyela (terlihat mereka membicarakan hal penting), tapi memutuskan sejak dia sudah setengah jalan ke sana, dia akan bertemu mereka. Dia belum pernah bertemu dengan teman-teman Sehun. Luhan bahkan yakin bahwa anak yang lebih muda tidak mempunyai teman di luar rumah.
Sekarang ia berdiri tepat di belakang 3 anak laki-laki yang duduk di depan Sehun –
"Itu bukan salahku bahwa anak pindahan Cina itu menyukaiku."
Luhan langsung berhenti. Matanya melebar. Dadanya mengerat. A-ap-a-apa?... Apa dia baru saja bilang... Sehun t-tahu?
Dia benar-benar tidak percaya pada kalimat yang datang dari anak lain, tapi apa yang ia katakan selanjutnya sangat melukai Luhan.
"Aku hanya dekat dengannya karena dia terlihat seperti anak anjing yang di buang jika aku menolak. Dan aku melanggar kekerasan pada binatang."
Anak lain mulai tertawa licik, tapi Luhan tidak mendengar mereka. Dia hanya mendengar denyut jantungnya.
Hanya dekat? Anak anjing yang dibuang? Bisa-bisanya dia...
Pandangan Luhan perlahan kabur. Dia sudah di ambang untuk menangis, tapi dia tidak mau anak yang lebih muda melihatnya menangis. Dia berputar untuk pergi, tapi setetes air mata sudah turun di pipinya.
Ia buru-buru berjalan keluar kafetaria, membuang nampan makanannya. Dia tidak dalam suasana untuk makan. Luhan lari ke toilet di luar kafetaria dan mengunci dirinya sendiri di stan terdekat.
Dan menangis.
Berdiri di depan cermin di luar stan, Luhan memandangi refleksinya yang menyedihkan. Matanya merah dan bengkak dan pipinya tertinggal bekas air mata. Ia tampak berantakan.
Luhan menggelengkan kepalanya. Aku akan baik-baik saja! Dia menyalakan keran dan mulai membasuh wajahnya. Aku baik-baik saja. Ini akan baik-baik saja.
Zzzzzzzz. Zzzzzzzz. Sebuah pesan –
Hyung, temui aku di tolit di luar kafetaria. Ini penting!
Itu dari Sehun.
Sehun.
Luhan mendesah. Dia belum siap untuk melihat anak yang lebih muda, tapi dia tahu ini harus diselesaikan. Cepat atau lambat, dia harus menghadapi Sehun. Itu tidak bisa dihindarkan.
Luhan mendongak pada refleksinya lagi dan berharap tidak terlihat terlalu jelas dia habis menangis.
Pintunya terbuka, dan dia mendengar langkah ragu-ragu –Sehun.
"Luhan hyung," anak yang lain memanggil pelan. Luhan, dengan sisa tenaganya, berbalik dan melihat anak yang lebih muda.
Luhan menatap tajam mata yang menatapnya...mencari sebuah jawaban.
"Apa yang terjadi dengan matamu? Apa kau baik-baik saja?" tanya Sehun dengan ekspresi khawatir.
Tidak. Sehun-ah, aku tidak baik-baik saja... Aku sangat tidak baik...Aku sakit.
Meskipun demikian, Luhan menghendaki dirinya untuk mengajukan pertanyaan yang ia begitu sangat ingin tahu jawabannya.
"Sejak kapan kau tahu?" suaranya terdengar bergetar. Luhan mengutuk dirinya sendiri dalam batin karena terdengar lemah, tapi tidak ada yang bisa ia lakukan untuk mencegah reaksi tubuhnya. Tangannya gemetar, tapi dia tidak peduli.
"Tahu apa?" tanya Sehun, bingung.
"Tentang aku menyuk—"
BANG. Pintunya terbuka paksa dan 3 anak laki-laki lain berjalan masuk. Siapa mereka?
Satu dari mereka melihat Sehun dan bertanya, "Apa princess ini menyulitkanmu Sehun?"
Princess? Luhan cepat memandang pada Sehun dan kembali ke 3 penganggu. Mereka pasti temannya.
Anak laki-laki itu mulai berjalan ke arah Luhan. Ada suatu ancaman tentang bagaimana cara mereka melihat padanya. Membuat punggungnya merinding. Ketakutan mulai menjalar dalam dirinya.
Mata ketakutan Luhan menembak ke arah Sehun, tapi anak itu fokus pada yang lain.
"Tidak apa-apa. Aku bisa menanganinya." Sehun menjawab. Menangani apa? Sehun, kenapa mereka disini?
Sebelum dia bisa berbicara, dia merasakan sepasang tangan keras mendorongnya kasar di dada, membuatnya mundur. Menabrak tembok.
"Oww," ia merengek. Tanpa disadari, matanya mulai berair. Dia memaksa dirinya sendiri untuk tidak menangis di depan berandalan ini.
S-Sehun...t-tolong...Sehun
Mata Luhan memohon kepada yang lebih muda, tapi Sehun hanya berdiri di sana. S-Sehun?
Anak yang mendorongnya melangkah mendekat, sangat dekat memandang rendah Luhan. Dia melihat pada Luhan; bukan lebih tepatnya ia sedang "memeriksa" dirinya.
"Aku akui kau cantik, tapi kau harus berhenti menempel pada Sehun. Kami tidak butuh kau "ber-gay" di sekolah. Pelajari tempatmu!" erang si berandalan. Luhan membeku.
Pelajari tempatmu! Pelajari tempatmu!
Tiga kata itu terulang sendiri di pikiran Luhan. Ini bukanlah pertama kali dia mendengar kata-kata itu. Ini bukan pertama kalinya seorang menggertak dengan kata itu padanya ketika ia didorong ke tembok.
Situasinya sekarang semakin menggerikan baginya. Rasa sakit yang sama.
Panik mencengkram Luhan dan badannya mulai bergetar sebagai respon.
ini tidak bisa terjadi...
Luhan menginginkan seorang untuk membantunya, tapi tidak seperti waktu yang lalu, orang yang ia butuhkan tidak melangkah masuk dan menolongnya.
Masih tertempel di tempatnya, Sehun tidak berusaha untuk menolong Luhan.
Kenapa Sehun?..Kau membiarkan mereka menyakitiku...?
"Ku sarankan kau melepaskannya," kata sebuah suara yang familiar. Luhan melirik ke arah pemilik suara dan melihat Kris dan Tao.
Anak laki-laki itu menjauh dari Luhan. Satu yang sudah mendorongnya berseru bahwa dia hanya memberi "peri Cina sebuah pelajaran," lalu dia berdebat kecil dengan Kris dan Tao lalu berlari keluar.
Luhan tidak benar-benar melihat semuanya –pikirannya berada di tempat lain.
Air mata yang sudah ditahan akhirnya lolos.
Tao beratanya, "Luhan hyung apa kau baik-baik saja?" Luhan tidak bisa menjawab, sebuah gumpalan menyangkut di tenggorokannya.
Dia mengeryit secara instinktif dan mundur.
"Apa kau mau kami antar ke rumah sakit?" tanya Kris.
Luhan menggelengkan kepalanya dan berlari keluar dari toilet.
Dia tidak bisa melihat apapun; air mata mengaburkan pandangannya, tapi dia tahu dia tidak mau berada di sana –di ruangan kecil yang mencekik itu.
Dia tidak bisa mendengar apapun kecuali detak jantungnya –berdetak kebingungan di dadanya sekarang, dia hanya ingin menghilangkannya.
Luhan berlari di lorong panjang dan mendorong pintu terbuka yang memimpinnya ke tangga darurat. Dia berlari melompati beberapa anak tangga sampai kakinya tidak bisa lagi membawanya.
Kelelahan, Luhan jatuh terduduk dalam diam, di tangga kosong. Dia menenggelamkan kepalanya di antara tangannya.
Luhan menghembuskan penderitaanya.
Memori yang menggerikan muncul kembali.
o
o
o
TBC~
A/N: Terima kasih atas reviewnya, juga buat yang sudah follow/favorite~ :D
Sebentar lagi memori Luhan akan terbongkar semua. Dan yang minta bagian romance fluff-nya lagi, nanti ada kok, dan jangan protes kalau sedih soalnya saya cuma penerjemah, isi di luar tanggung jawab saya -_,- cocok sama keadaan HunHan sekarang Q_Q *nangis*
X.W chat box:
Meriska-Lim: saya update secepat yang saya bisa, tengah malam pun saya update :'D
amoebbang: cuci muka nak, terus bobo~
Xiaolu whirlwinds telekinetics: *nangis bareng* T^T
ferinaferina: /Sehun pose/ yehet~
hunhanminute: nanti Luhan ingetin biar ga lupa baca lagi, ini udah lanjut '-')d
Bambaya: penasaran baca lagi,
Krystal Affxtion L: ini udah lanjut,
ohsrh: dan Luhan lari ke Xiumin *nangis* T^T
IkaIkaHun11: saya update secepat yang saya bisa. Sehun enggak cadel -Sehun.
Odult Maniac: Sehun anak pintar dan rajin - Sehun.
luluna99: ayo nangis, ini dari sisi Luhan,
CuteManlydeer: harus lebih dari insomnia kalau mau buat saya sakit :'D
Dyah260: panjang chapter sudah dari aslinya segini dan juga di luar tanggung jawab saya, saya kan cuma penerjemah ^^ ini lanjut,
VirXiaoLu: Fighting, Yehet~
Happybacon: iya dong, biar greget '-')d ini udah lanjut,
lacie-song: ya review begitu, saya juga nggak inget -_,-
NaizhuAmakusa: Yehet~
WinterHeaven: drama mode on~ Yehet~
hongkihanna: lol~ ini udah lanjut, yehet~
Oh Luhan: *nangis* T^T nanti saya buat fanfiction sendiri yang manis-manis, tapi nggak janji :p
my lulu: pelan-pelan hilangin kebiasaan insomnia-nya...
hunhanshipper: ini lanjut,
Lu-ie: drama mode on, yehet~
odultkai: saya update secepat yang saya bisa,
Neng: jangan cubit-cubitan -Sehun.
deerwolf: saya update secepat yang saya bisa,
guess who: *kipasin*
junia angel: nggak masalah, feel freeeeee, yehet~
irnaaa90: ga papa, yang pasti tetep review, yehet~
fangirl-shipper: yang penting sekarang udah baca, yehet~
Akihana Tsukina: ini udah lanjut, ga papa kok~
Ranpenita: Aku nggak jahat -Sehun.
deerpop: yehet~
ahra-chan: ini udah lanjut, yehet~
