Twin Swords

Naruto milik Masashi Kishimoto

Genre: Adventure & Friendshiep

Warning: Banyak Typo & Miss Typo ^_^

Rated: T

Chapter 14

.

.

Reon POV

"Hoi..!" Panggil sesorang penuh emosi. Pura-pura tidak dengar itulah yang kulakukan. Bukan tidak mau membalas tapi mengingat terdengar ada nada emosi aku malas menjawab karena sudah dipastikan akan diomeli. Tidak-kah dia mengerti! Hampir setengah tahun aku belum membaca sebuah komik lagi. Sejak Akatsuki merajalela aku kesulitan mendapatkan stok komik-komik terbaru untuk dibaca.

Entah apa korelasinya dengan pembuat komik dengan serangan Akatsuki, tapi yang jelas sejak Akatsuki samar-samar bergeliat komik jadi barang langka. Kemana perginya para pembuat komik? Apa mereka diculik Akatsuki? Apa komik-komik itu disita oleh Akatsuki? Konyol, tapi ini benar-benar jadi pertanyaan serius untuk diriku. Malangnya dunia terasa hampa bila benda itu lenyap dan menjauh dari keseharianku yang sudah sesuram lampu neon hampir mati.

Membiarkan rekanku yang emosian, aku memilih mengubah posisi membaca dari posisi duduk tegak menjadi bersandar dengan kaki diluruskan tanpa menjawab. Hanya gumaman kalimat "hn" trandmake bocah tomat yang kukeluarkan. Aku memang meniru, sekali-sekali tidak apa-apakan? Siapa tahu aku ketularan keren.

Memastikan aman aku melanjutkan membaca komik baruku. Dahan pohon itu cukup besar sehingga aku cukup yakin menumpu berat badanku. Aku cukup hati-hati agar aku tidak berakhir tragis seperti tokoh-tokoh di anime-anime, jatuh dari pohon karena dahan patah.

Itu tragis dan tidak elit.

BUAGH!

Apa yang kutakutkan terjadi juga. Tanpa sempat menghindari kepalaku dijitak secara seseorang. Rekanku ini benar-benar tahu kelemahanku. Keseimbanganku mudah sekali goyah dan tidak sempat mengingat berapa massa tubuhku, berapa kecepatan jatuhku apalagi sebesar apa energi kinetiknya aku tersungkur dengan cara tidak elit. Tahu-tahu saja sudah dipeluk tanah. Satu yang mulai kurasa.

"Sial..kepala ku pening."

"Hoi-hoi..sakit..!" Rutukku reflek sambil mengusap-usap bagian kepala yang sakit. Masih berbaring telentang, kutatap dalang dari penyebab jatuhku. Sosok menyebalkan bersurai pirang.

Sage Natsuma atau lebih akrab dipanggil dengan sebutan Ge. Dia juga anggota White lines, rekan karena faktor tetangga rumah, rekan karena satu kelas, rekan kepepet satu bangku dan rekan berbagi penderitaan saja, maaf bukannya pelit tapi aku tidak suka berbagi kebahagiaan dengannya karena aku bahagia dia bila sedang menderita. Begini-begini kami itu rival, ya rival masalah bola. Aku bahagia bila klub yang dibelanya kalah. Sayangnya lagi-lagi gegara akatsuki dunia jadi kacau sehingga sudah tidak ada pertandingan.

Eh? Satu hiburanku sudah hilang.

Aku heran kenapa ada sekelompok orang mau repot-repot jadi penjahat sedangkan dari teori, fakta, sejarah menunjukkan kalau kebaikan akan selalu menang melawan kejahatan. Sudah rugi waktu, harta, dapat dosa pula. Begini-begini aku percaya kehidupan itu hanya sekali dan kehidupan sesungguhnya adalah kampung akhirat. Aku juga percaya persoalan manusia ditempatkan di surga dan neraka bergantung pada amal dan ibadah di dunia. Err, mengingat mati sungguh aku belum siap karena belum mau bertobat untuk berhenti mencari komik-komik berlabel 'E." Kematian, aku masih berdosa soal ini. Aku belum bertemu temanku untuk meminta maaf soal berita kematian palsu yang aku buat bersama Ge. Salahkan saja aku terinspirasi dari sebuah kisah dongeng tentang dua orang yang diserang beruang. Salah satu diantaranya pura-pura mati untuk menyelamatkan diri, itu hanya cerita dongeng tapi nyatanya mampu menginspirasiku untuk mempertahankan hidup.

"Sakit ya? Tuh anak buahmu sekarat!" Bentaknya karena marah. Jujur aku sedikit lupa sedang ada dimana kalau tidak diingatkan. Membuntuti Sasuke, mengejutkan ternyata Uchiha itu langsung berhadapan dengan anggota Akatsuki yang diketahui bernama Sasori dan Deidara. Aku tidak begitu benar-benar memperhatikan pertarungan karena sekali lagi aku memanfaatkan waktuku untuk membaca komik laknat yang begitu menghipnotisku. Hei-hei aku bukan tidak peduli tapi aku berani bertaruh semangkuk ramen pasti Sasuke akan menang, entah bagaimana caranya.

"Kalau itu aku tahu, tapi kita belum bisa menghampiri." Jawabku selintas. Sekilas tadi dari kejauhan aku melihat bagaimana keadaan korban dari Sasuke, satu kata yang dapat kukatakan.

Mengenaskan.

Dugaanku Sasuke menggunakan senjata kimia untuk melawan Akatsuki. Well, cukup jenius juga.

"Kenapa belum bisa? Lalu nasib Sasuke?" Wajah dobe milik Ge makin terlihat dobe kalau bingung. Sulit dipercaya bocah sesableng dia mempunyai otak yang encer. Err..encer atau terlalu kacau ya? Mungkin benar kata orang-orang antara jenius dan idiot itu beda-beda tipis, setipis kulit lumpia.

"Kita harus menunggu sampai partikel-partikel itu benar-benar tidak mengkontaminasi udara. Soal Sasuke tenanglah dia akan masih bisa bertahan." Ucapku berasumsi. Untuk memastikan rekanku itu benar-benar baik-baik saja aku menoleh ke area dimana serbuk warna emas kecoklatan mulai berjatuhan lembut ketanah. Setelah dilihat lagi aku jadi ragu serbuk itu tidak beracun untuk tubuh, jika serbuk itu mengandung asam sulfat maka akan berbahaya bagi tubuh. Kalau begitu jika Sasuke tidak segera dievakusi dia bisa mati terlebih Uchiha itu banyak kehilangan darah.

Tapi, bagaimana cara mengevakuasinya? Baju yang kugunakan berlengan pendek, ini jauh tidak memenuhi standar untuk digunakan. Setidaknya jika ingin mendekati area itu harus memakai baju khusus yang menyelimuti dari kepala hingga kaki.

"Oh, ya aku bisa gunakan itu." Baru kuingat mungkin saja cakra penyembuh bisa menolongku. Ya, sebuah kemampuan hasil iseng-iseng percobaan aku bersama Ge saat waktu luang. Sebenarnya bisa mengeluarkan cakra sungguh diluar dugaanku, hampir tidak pernah menjajaki dunia seperti itu ternyata kami masih diberi kesempatan untuk mempunyai potensi lain selain adu argument. Ada kalanya faktor keberuntungan memang diperlukan, hasil dari doa memang tidak pernah sia-sia.

"Err..mungkin kau benar Sasuke harus ditolong sekarang juga. Kau disini saja biarkan aku yang mengevakuasi." Hendak melakukannya tiba-tiba aku merasa ragu lagi. Bagaimana kalau nanti aku ikut terluka? Aku takut Ge terlalu bodoh jika memberi pertolongan. Bisakah dia diandalkan?

"Lakukan…"

"Tidak…"

"Lakukan…"

"Tidak.."

"Lakukan…"

"Jangan bercanda!" Teriak Ge dengan nada tinggi. Lagi enak-enaknya menghitung kancing bocah itu sudah ribut. Belum pernah merasakan nikmatnya dicium sandal rupanya.

"Sabar dulu kenapa sih! Kalau gegabah mendekat akan bahaya tahu."

Baiklah-baiklah saatnya serius. Oh Tuhan, semoga aku tidak cepat tua jika terlalu berpikir serius. Bagiku sebenarnya ini hal yang sulit tapi aku harus mencoba. Berkonsentrasi keras serta memusatkan pikiran akhirnya cakra hijau perlahan mengalir dan menyelimuti tubuhku.

"Loh…Sejak kapan kau bisa menulurkan cakra keseluruh tubuh begitu? Mataku tidak minus kan?" Dasar Ge orang nyinyir. Tentu saja aku kesal.

"Grrr…tunggu setelah ini aku akan menghajarmu!" Geramku kesal tapi percuma. Meninggalkan dia yang kekanakan aku melangkah menuju area dimana Sasuke baru saja bertarung.

Kurang dari satu meter aku menghentikan langkahku sejenak untuk mengamati keadaan. Daun-daun menguning, mayat Deidara dan Sasori melepuh.

Tidak salah lagi, ini kristalisasi partikel asam sulfat.

"Ini menakutkan untuk jadi senjata." Gumamku kemudian melangkah untuk menolong Sasuke. Aku tidak bisa memprediksi apakah Konoha akan jatuh ke tangan Akatsuki atau tidak tapi yang jelas tindakan Akatsuki sudah melewati batas. Menjajah, menguasai dan melakukan pembunuhan. Sebentar lagi apa? Kerja rodi? Ini tidak bisa dibiarkan. Tampaknya kalau menghadapi akatsuki aku tidak akan jadi orang baik lagi.

.

.

"Reon Akigahara, salam kenal." Kata pemuda bersurai coklat madu dan beriris mata senada dengan warna rambut. Rambutnya yang tergolong agak panjang untuk ukuran lelaki sedikit terayun menutupi mata saat dia membungkuk sopan memperkenalkan diri dihadapan beberapa orang. Tanpa disadari olehnya beberapa gadis tampak terpesona akan wajah Reon yang tergolong feminim tapi terkesan berandal karena style rambutnya.

"Sage Natsuma, cukup panggil Ge." Lanjut sang pemuda bersurai pirang berpostur lebih tinggi sekitar lima centi dari Reon. Dia memiliki warna bola mata hitam layaknya Uchiha namun tentu saja sorotnya tidak sedingin klan bersimbol kipas. Dia ikut membungkuk untuk memperkenalkan diri pada orang-orang disana.

Tidak mengerti apa yang terjadi tahu-tahu salah satu diantara mereka telah dipeluk oleh seseorang. "Hikz..terimakasih telah menyelamatkan putraku. Entah apa yang akan terjadi jika kalian tidak menolongnya"

Reon membalas pelukan itu dengan menepuk bahu seorang wanita yang diketahui sebagai ibu Sasuke.

"Sama-sama bibi, Sasuke itu temanku jadi sudah seharusnya aku membantunya." Jawabnya lembut sambil menepuk-nepuk punggung dari ibu rekannya.

Keadaan semakin sulit sekarang, beberapa prajurit tertawan dan sisanya harus kabur seperti sekarang. Ternyata Konoha harus jatuh ketangan Akatsuki. Para prajurit Konoha dan sedikit bantuan dari Suna tidak mampu menghalau para musuh untuk menduduki Konoha. Faktor klasik, mereka kalah jumlah dan sedikit salah dalam mengambil strategi. Setelah hampir semalaman di hutan, menjelang fajar mereka beristirahat di hutan dekat Negara Angin. Tujuan mereka tidak lain adalah Sunagakure. Jumlah orang dalam rombongan tidak lebih dari lima puluh, sisanya sesuai titah Hokage mereka disebar untuk mengawal para penduduk untuk mengungsi.

Dari sudut lain mata safire seorang Yondaime Hokage ikut menatap pilu Mikoto yang sesenggukan memeluk Reon. Tangisan seorang orang tua saat anaknya terluka, Yondaime Hokage tahu betul rasa sedih itu. Keadaan Naruto dan Sasuke sama parahnya, Naruto belum sadarkan diri sampai sekarang. Tentang Naruto dan Konoha semuanya berkecamuk dalam kepala. Sebagai ayah dia merasa gagal melindungi anaknya dan sebagai pemimpin dia gagal mempertahankan wilayah. Nyala perapian sungguh tidak sama sekali menghangatkan jiwanya. Selain itu ada sesuatu yang lebih membuatnya takut jika Konoha dikuasai Akatsuki. Tidak sekedar masalah politik, sosial dan ekonomi tapi sesuatu yang lebih mengancam. Sesuatu yang terlarang.

Minato menggelengkan kepala untuk menepis segala dugaan. Dia meyakinkan dirinya anggota Akatsuki tidak tahu menahu hal itu dan lagipula Akatsuki hanya berorientasi pada kekuasaan seperti apa yang diperkirakan selama ini.

"Akatsuki tergolong organisasi muda, berorientasi materi dan kekuasaan. Kecuali….kecuali." Mata Minato membulat saat dia mengingat seseorang.

Mantan murid Hokage ke tiga, seorang smith gila dengan penemuan-penemuan senjata tidak wajar. Orang jenius dan ambisius dari Konoha yang gila akan kekuatan. Terkucilkan, terbuang dan terpaksa diusir karena eksperimen-eksperimen dalam membuat senjata sudah meresahkan. Orang yang dibuang oleh Konoha.

Orochimaru.

Wajar jika Minato mulai resah ketika mengingat nama itu. Bukankah tidak ada yang lebih berbahaya dari orang yang sudah dikuasai nafsu? Dia bisa melakukan apa saja untuk mencapai ambisinya.

"Hokage-sama?" Suara baritone membuatnya tersentak. Mencari sumber suara yang memanggilnya dia menemukan Fugaku Uchiha telah berdiri disampingnya menampilkan wajah cemas.

"Ahh, ada apa Fugaku?" tanya Minato lirih namun cukup didengar. Sebenarnya dia sedang tidak ingin diganggu tapi apa boleh buat.

"Tenanglah Hokage-sama, Konoha jatuh bukan salah anda, penduduk juga semuanya selamat. Aku yakin kita bisa merebutnya kembali." Nasehat Fugaku pada sang Hokage. Ada kalanya memang Fugaku sering menasehati Minato. Terlepas dari status Minato sebagai Hokage, Fugaku juga seorang sahabat.

Tangan sang Hokage disilangkan. "Ada hal lain yang lebih kutakutkan."

"Apa itu?" Fugaku jadi penasaran.

"Orochimaru." Fugaku mengangkat alisnya sebelah mendengar sebuah nama familiar meluncur dari bibir sang Hokage. Dia tidak mengerti kenapa smith dari organisasi Akatsuki lebih menganggu pikiran Yondaime.

"Kenapa?" Tanya lagi Fugaku untuk memperjelas.

"Akan kuceritakan tapi sebaiknya tidak disini." Ucap Minato pelan. Dia bangkit dari sandarannya kemudian memberi isyarat pada Fugaku untuk mengikuti. Dia tidak ingin pembicaraan ini didengar siapapun karena yang ada dalam pikirannya masih sebatas seandainya.

Rombongan ini pada akhirnya tiba di Suna setelah menempuh waktu cukup lama. Setibanya disana Naruto dan Sasuke segera dilarikan kerumah sakit. Keadaan dua remaja itu sungguh membuat khawatir kedua orang tuanya karena sampai sekarang mereka masih belum membuka mata. Dokter mengatakan keduanya terluka parah dan ini dianggap sebuah keajaiban karena Sasuke dan Naruto masih bisa bertahan hidup sampai mendapat penanganan serius. Keduanya berakhir di meja operasi dan kini setelah lima hari berlalu keduanya diperkirakan akan segera siuman.

"Apa Naruto-kun belum sadar juga?" Seorang gadis mulai resah mendapati kesekian kalinya membesuk masih mendapati pemandangan remaja bersurai pirang putra Yondaime belum membuka mata. Tangannya tanpa sadar meremas baju saat mendapat jawaban gelengan dari seorang pemuda Sunagakure. Gadis lavender klan Hyuuga itu kemudian melangkah untuk semakin mendekati ranjang Naruto. Rasa sedihnya menjalar dan semakin menjadi ketika menatap wajah Naruto. Seperti hari kemarin air matanya mulai menggenang lagi dimata iris sang lavender.

"Ya ampun aku tidak percaya melihat adegan sinetron ini setiap hari." Ujarnya pelan agar tidak terdengar oleh Hinata, si gadis paling rajin untuk menangisi Naruto selain ibu Naruto. Iris coklat madunya dialihkan lagi pada tumpukan kertas bergambar di meja lipat yang dia bawa khusus dari rumah. Tangannya mulai menggambar lagi.

"Lagi-lagi menangis." Siapa lagi yang bisa berkomentar seperti itu kalau bukan si Reon. Menurutnya Hinata itu terlalu sinetronis, datang-datang selalu menangis tidak jelas. Seharusnya jika Hinata peduli pada Naruto maka dia tidak akan hanya sekedar menangis, modal sedikitlah seperti Reon yang cukup bantu doa.

Semoga Tuhan tidak mengutuk pemikiran sang ketua white lines. Memangnya Hinata kurang apa? Hampir setiap hari selalu mendampingi Naruto. Makanan-makanan dimeja itu dari siapa kalau bukan dari Hinata. Untaian doa setiap malam apa dirasa kurang ditengah dengkuran halus Reon.

"Hinata-san apa anda sedang menangis lagi? Maaf tissunya sedang habis." Jika Hinata itu Sakura pasti bocah ini sudah terkena tonjok. Ini bukan masalah tissu atau apapun tapi masalah perasaan seorang wanita.

Tentu saja reflek muka Hinata memerah karena malu, apa artinya itu dia telah menghabiskan tissu?

"Go-gomene, ini tidak akan terjadi lagi." Ucap Hinata sambil menyeka air matanya tapi cairan bening itu masih saja mengalir.

Reon menghela nafas. "Kapan ya aku bisa ditangisi begitu, sekali-sekali juga boleh."

Hinata sedikit terkikik kecil mendengar rutukan Reon. Teman Naruto satu itu benar-benar aneh, tingkahnya selalu saja diluar pemikiran orang lain. Disituasi seperti ini dia justru membuat komik. Sudut ruangan kamar Naruto disulap menjadi tempat kerja Reon dalam menggambar. Entah komik apa yang sedang dibuat karena setiap ingin melihat komik itu selalu disembunyikan.

Reon cemberut ditertawai Hinata. "Hmmmm, tertawa saja terus."

"Go-gomene." Ucap gadis Hyuuga itu lagi.

Reon mendecih dan kembali ke gambar miliknya. Seperti biasa jika sedang menggambar mulut serampangan Reon akan tertutup rapat dengan pasang wajah papan layaknya Sasuke. Datar bak jalan tol. Sekilas ekor mata Hinata melirik Reon yang tiba-tiba senyum-senyum sendiri. Aneh, tapi Hinata sudah mulai biasa menghadapi sifat Reon.

"Hinata-san boleh aku minta pendapatmu?" Hinata menoleh pada Reon yang bertanya.

"Boleh, pendapat apa?" Tentu saja gadis itu secara baik hati mau membantu sang ketua White lines tanpa pikir panjang. Reon membawa beberapa lembar kertas bergambar.

"Aku membuat beberapa versi untuk gambar cover. Tolong pilih yang kau suka." Perintah Reon sembari menyerahkan gambar-gambarnya. Hinata mengangguk. Akhirnya setelah beberapa hari penasaran komik macam apa yang dibuat Hinata akan melihat seberapa jauh daya imajinasi rekan Naruto. Menebak-nebak komik macam apa Hinata akan tahu melalui covernya. Sekilas tadi iris lavendernya melihat gambar dua tokoh laki-laki dan perempuan. Hinata menebak komik itu akan bergenre romance.

Benarkah?

Hal itu terjawab saat dia melihat gambar untuk cover ditumpukan teratas. Ada sesuatu familiar dalam gambar itu. Sketsa wajah tokoh, tatanan rambut, postur tubuh itu mirip dirinya dan Naruto. Gadis lavender itu mengerjab beberapa kali untuk memastikan gambar indah dari goresan pensil itu benar-benar dirinya dan Naruto versi gambar.

Blush

Pose tokoh dalam gambar itu membuatnya malu. Gambar seorang gadis yang sedang dipeluk oleh seorang laki-laki dari belakang. Gadis itu menutup matanya seolah menikmati indahnya ciuman yang diberikan oleh lak-laki pada bagian pipi. Singkatnya itu adalah gambar Hinata yang dicium Naruto pada bagian pipi.

Gambar kedua.

Blush

Tidak semakin baik, bisa dibilang lebih parah. Gambar Naruto menggendong Hinata sambil mencium kening.

Gambar Ketiga

Hinata seperti kehabisan nafas. Gambar lebih frontal karena menampilkan Hinata dan Naruto berpelukan intim dan kedua bibir mereka hampir menyatu.

Reon Akigahara sukses membuat seorang Hinata Hyuuga hampir terkena serangan jantung karena gambarnya. Tangan Hinata yang digunakan memegang gambar gemetar menahan perasaan.

"Kyaaaaaaaaaaaaa!"

PLAK!

Lekingan suara Hinata berakhir dengan tamparan di wajah mulus Reon.

.

.

.

"Sekali-sekali terkena tamparan dari wanita kurasa ada bagusnya untukmu." Reon memicing tajam sosok pirang dihadapannya. Alih-alih prihatin sebagai teman Ge justru menikmati rutukan Reon. Itu salah Reon sendiri, kenapa juga harus membuat gambar seperti itu. Sekali-sekali kelakuan sembarangan Reon memang perlu ditegur.

"Diam kau, lebih baik kau ambilkan aku kompres. Aku jamin nanti kamu dapat pahala dari Tuhan kalau kau mau menolongku." Jawab Reon pada Ge. Malang nasib Reon pipinya benar-benar mulai bengkak dan nyeri.

"Kya-kya-kya tidak mau! Hinata-san adegan penamparannya diulangi lagi boleh? Aku tadi belum lihat." Kata Ge sambil menggeret kursi untuk di duduki. Cengiran lebar terukir lebar di bibirnya memandangi Reon yang masih mengusap-usap pipinya yang merah dan bengkak. Pasti sakit sekali ditampar oleh gadis setingkat chunin. Didorong saja Reon sudah roboh apa lagi ditampar.

"Ma-maaf sekali lagi. Bagaimana kalau aku saja yang ambilkan?" Pelaku penamparan, Hinata. Dia meminta maaf untuk kesekian kalinya. Dia menunjukkan sikap sangat merasa bersalah pada Reon yang tidak ia duga akan begitu kesakitan. Dia tidak menyangka Reon tidak menghindar.

"Tidak usah, aku yang salah. Aku minta maaf." Ujar Reon cepat.

"Ta-tapi, aku."

"Tenang saja! Jangan repot-repot Hinata-san nanti juga sembuh sendiri, Reon sudah kebal dengan semacam itu. Dilempar penghapus, kejatuhan pot, berdiri di lapangan berjam-jam, ditimpuk buku sudah jadi makanannya sehari-hari jadi kurasa tamparan seorang wanita itu tidak ada apa-apanya. Begitu, santai saja." Kata Ge santai layaknya kepala sekolah saat pidato. Suaranya dibuat-buat dengan irama naik turun dan wajahnya yang sok bijak benar-benar membuat Reon ingin menonjok. Dosa apa dia mempunyai teman seperti itu.

"Awas, kau akan kubalas suatu saat. Jika keadaan kacau ini usai kupastikan hidupmu akan kubuat tidak tenang." Ancam Reon pada sahabatnya.

"Waaa, aku takut. Sebaiknya sebelum kau membuat hidupku tidak tenang kau harus mengetahui ini." Ucap Ge pada Reon. Dia lalu menyerahkan dokumen yang memang harus disampaikan pada Reon sebagai ketua White lines.

Reon memajukan bibirnya mendapat map dari Ge. "Sudah kuduga ada udang dibalik batu. Apa ini PR dari Kazekage? Datang kesini jangan membawa map saja bagaimana? Membawa buah, kue, atau apapun boleh sumpah aku tidak akan menolak."

Ge pura-pura tidak kenal sajalah pada Reon. Sikap Reon itu ketahuan sekali kalau dia perhitungan. Ge pikir Reon akan jaga image dengan orang lain terlebih dihadapan wanita. Kalau begitu caranya mana ada gadis yang mau jadi pacar Reon? Apa dia tidak ingin melepas image buruk dia dan dirinya yang dikira hxxxxx?

"Enak saja, itu khusus kucetakan untukmu. Kurang baik apa, sudah kususun rapi, dikemas pakai map lagi."

Mengabaikan pertanyan tidak penting-nya dan jawaban dari Ge, Reon membuka map warna coklat itu. Lembar pertama adalah sebuah peta. Peta wilayah semua negara-desa. Wilayah Konoha sudah berwarna hitam artinya sudah dikuasai musuh, negara-negara disekitar Konoha memiliki warna abu-abu artinya sudah potensial untuk diduduki. Dia membuka lembar berikutnya, berisi identifikasi seluruh SDA di wilayah abu-abu dan keterkaitan kerjasama dengan Konoha.

"Ini jadi rumit." Komentar Reon.

Hinata yang jadi wanita satu-satunya disana karena penasaran mendekat pada mereka berdua. Cara kerja White lines, dia ingin tahu seperti apa cara kerja mereka mengingat keduanya berstatus anggota White lines yang aneh.

"Ge, apa kau sedang kehabisan uang?" Pertanyaan Reon berhasil mengangkat alis Ge dan Hinata secara bersamaan. Untuk apa menanyakan hal seperti itu.

"Ya, uangku sudah menipis gara-gara beasiswaku sudah tidak turun karena dianggap mati." Jawab Ge ketus.

Mulut Reon membentuk lengkungan 'o'. "Pantas saja ini peta hampir hitam semua. Pelit amat cetak petanya."

Ge diam saja mendengar penuturan Reon, kalau ditanggapi nanti makin menjadi.

"Apa divisi pengintai Suna sudah dikirim?"

"Kurasa setahuku sudah." Jawab Ge singkat.

"Baiklah, tidak ada yang bisa kita lakukan lagi selama belum ada gerakan dari Akatsuki. Kurasa bapak-bapak tua itu juga sudah bergerak." Reon menutup dokumennya secara enteng.

Dia mengalihkan pandangannya dari dokumen ke Ge dan Hinata. Kalau Ge pasti sudah memahami sifat dan karakternya dalam bekerja tapi Hinata gadis ini terlihat bingung akan sikapnya.

"Sa-Sage? Reon?" Suara selain mereka bertiga memanggil dua nama pemuda Sunagakure. Meski lirih mereka mampu mendengar suara bernada ketakutan. Rasa-rasanya mereka bertiga mengenal betul suara pemuda ini. Reflek mereka berpaling kearah ranjang. Tidak salah lagi itu Naruto. Namikaze Naruto sudah siuman.

.

.

"Masih berusaha mencari-cari buku dongeng itu?" Pertanyaan itu ditujukan pada seseorang yang tengah sibuk memilah ribuan buku diantara puluhan rak buku. Ratusan buku tak berdosa tergeletak begitu saja memenuhi lantai. Anehnya semua buku yang berserakan adalah buku-buku dongeng dari seluruh dunia. Tidak akan ada seorang pun yang akan memarahi pria ini atas tindakannya mengacak-acak buku perpustakaan karena kini perpustakaan milik Konoha sepenuhnya ada dalam pengusaan. Akatsuki tidak akan peduli dan mau repot-repot memelihara bangunan yang jadi sarang buku.

"Untuk apa kau kesini, kenapa kau tidak ikut bersenang-senang atas keberhasilan ini?" Pria itu mengalihkan pembicaraan. Badanya ia putar untuk menghadap kearah anggota Akatsuki yang setia dengan topeng warna orange. Mata ularnya berkilat nakal memandangi pemuda topeng, wajahnya terus menampilkan seringaian licik sementara tangan pucatnya asik menyusuri deretan buku.

"Untuk apa? Aku lebih suka menemanimu mencari buku dongeng epos itu, hmmm?." Ujarnya santai. Dia masih tidak beranjak dari tempatnya bersandar. Buku yang dimaksud Orochimaru, seperti lelucon. Sebuah dongeng kepahlawanan yang banyak menginspirasi anak-anak diseluruh dunia untuk bermimpi. Sebuah dongeng yang mampu mengusik keinginan para smith untuk menciptakan pedang semacam itu. Hanya sebuah dongeng dan impian Orochimaru adalah membuktikannya.

"Memangnya kau yakin Pedang Iblis Twin Swords itu ada?"

Bersambung

Terimakasih

UzumakiDesy, zhazha d'viana, Hayati JeWon, permata kedua 9, hanafid, yuzuru, altadinata, Guest, Uchiha Aira-chan, syidik NH, Hyull, fery icigokurosaki, rizkiirawan3, Guest, TuxedoHitamPutih, Dragon warior, Yuukio, The Bavarian, Blue-Temple Of The King, Saory Athena Namikaze, fazrulz21, annisa alzedy, Luca Marvell, castangle, reffast 1000cc, Itanatsu, uchiha drac, Yuki'NF MMH, monkey D nico , Uzumaki 21, Namikaze Ichilaw, Yuuki Igarashi, Guest, Guest, DarkYami Kugamawa, uzumakiseptian , Akira No Sikhigawa, Namikaze Sholkhan, Ken D. Uzumaki, zeinz Muhammad 1, Naminamifrid , leontujuhempat, Ae Hatake, fajar jabrik

Holla ketemu lagi di chapter ini. Akhirnya chapter keluar, benar-benar 18 minggu atau lebih ya lupa *nyengir kuda*. Semoga tidak lupa akan cerita ini, maaf bila kurang berkenan karena chapter yang berperan lebih banyak OC. Terimakasih yang sudah review, fave, follow dan mampir untuk membaca. Terimakasih bagi yang sudah menyarankan beberapa nama. Mungkin akan sampai 20 chapter, harapannya Desember ini sudah complete. Sekian dulu ya…kurang lebihnya mohon maaf. Kritik, Saran dan flame juga boleh. Sampai jumpa minggu depan di cerita lain. ^_^

Mind to Review?