Disclaimer; Naruto © Masashi Kishimoto
"Hanya sebuah fanwork, tidak mengambil keuntungan material apa pun dalam pembuatannya."
Memoirs
Tidak ada yang lebih menyebalkan dari perasaan 'tertangkap basah'.
Kakinya melangkah cepat dan panjang menuju kelasnya untuk menenangkan diri. Buku Sejarah yang seharusnya ada di tangan untuk direvisi malah tertinggal olehnya. Semua karena manga hentai itu. Ketika Sasuke berpikir untuk kembali, tapi berulang kali ia mengurungkan niat.
Ada dua alasan kenapa ia tak mau kembali ke perpustakaan; pertama karena Naruto pasti masih di sana untuk menertawainya. Kedua karena jika Naruto tak menertawainya, itu artinya pria itu berpikir bahwa Sasuke gay dan akan menjauhinya.
Uh. Sasuke mengepalkan jemari. Duduk di bangku, melipat tangan, pura-pura tidur.
Keinginannya untuk mengungsi ke planet lain timbul kembali. Hasrat ini memang tak lekang oleh waktu—dan keadaan. Tetapi kemudian ia mengangkat kepalanya, bergumam, seperti ada yang mengganjal di hati. Sejak kapan Sasuke harus peduli pandangan orang lain mengenai dirinya?
Ini hanya Naruto!
Pria yang dahulu punya eksistensi tak lebih dari daun kering di halaman sekolah.
Yeah. Benar.
Sasuke mengambil pulpen dan buku agendanya. Satu persatu ia menyusun jadwal kegiatannya hari ini. Atau, bagaimana caranya agar ia tak harus bersinggungan dengan si blonde selain di kelas. Perpustakaan adalah zona yang tidak aman untuk sekarang ini—setidaknya sebelum Naruto kembali.
Saat lantang pandangnya menangkap sekelebat bayangan. Entah kenapa otomatis mata memandang ke sana. Naruto masuk, tangannya memegang sesuatu yang sangat ia kenali—manga hentai omong-omong. Temannya, Kiba, berada tak jauh darinya sebelum mengalungkan tangan ke leher Naruto. Mereka serempak menatap Sasuke sambil tertawa, mulut merapalkan sesuatu—yang pasti lucu.
Mereka tertawa. Mereka melihat Sasuke.
Oh.
Tidak masalah meskipun ia marah. Sudah pasti mereka menertawakannya. Apa yang mungkin akan dibicarakan mereka?
Si es batu membaca manga hentai di perpustakaan?
Bagus sekali.
Sasuke bangkit dengan wajah tak bersahabat. Melewati Naruto dengan langkah panjang dan tanpa sengaja bahu mereka bersentuhan. Naruto berhenti dan menyapa, akan tetapi ia tak acuh sampai melewati ambang pintu. Ini sudah seperti yang ia rencanakan. Hari ini Sasuke hanya perlu menyelesaikan tugas dengan baik sesuai dengan jadwal yang baru saja ia buat.
Jadwal hari ini, seterusnya dan seterusnya.
Apa ini semacam perasaan takut?
Menggeleng, Sasuke tiba pada ambang pintu perpustakaan. Bel akan berdenting dalam hitungan menit, sehingga ia harus bergegas meminjam buku sebelum ruangan tertutup. Ia menganga begitu tiba di rak yang seharusnya menjadi destinasinya. Buku yang jatuh berserakan karena ulahnya, telah tersusun di tempat semula.
Sasuke cepat-cepat menarik tangga lagi, memanjat lagi.
"Hm?" gumamnya.
Ada yang mengganjal.
Tapi ap—
Detik selanjutnya ia tersentak karena alasan kedua yang sempat terpikirkan olehnya adalah salah.
Kenapa ia bisa lupa?
tbc ...
