Akhirnya bisa updet saat 'Suke ultah *ngelus dada*, harapan Fu cuma satu, semoga gak ada yang benci pair NaruSasu, apalagi setelah banyak fakta yang makin memperjelas jika Sasuke makin kayak Uke…haha. Nah, sekarang silahkan baca fic ini, haapy reading…

._._. X ._._.

You For Me by Fu-Chan..

Naruto jelas milik Masashi-Sensei..

Pair: NaruSasu

Warn: OOC, AU, Yaoi/BL/Sho-ai fic, typos. Don't like? Don't read!

._._. X ._._.

'Bangun..'Ruto.. Kau harus segera bangun...'

PIK

Reflek aku membuka kedua kelopak mataku. Bunga tidur yang baru saja kualami, membuatku ketakutan. Keringat bercucuran di keningku, bercampur dengan bulir air mata yang ntah kenapa bisa mengalir tanpa kusadari. Yah, mimpi itu membuatku takut. Takut kehilangan orang yang sangat aku sukai. Uchiha Sasuke.

Tak ingin terlalu larut dalam pikiran negatif tentang mimpiku barusan, aku lebih memilih beranjak dari atas kasur dan pergi keluar. Aku baru sadar, jika hari sudah pagi. Dan saatnya aku memulai aktifitasku, lagi...

.

.

#

.

.

"Pagi Naruto!"

Aku melihat sosoknya, sosok tunanganku, Sasuke. Ia tersenyum riang ke arahku. Dan kubalas dengan senyum yang tak kalah hangat.

"Hari ini, aku buatkan kau ramen spesial. Kau tau kenapa? Sebab, aku buat ini dengan resep yang kuperoleh dari Pak Teuchi langsung lho." Dia yang mengenakan apron warna merah nampak bangga menunjukkan semangkok makanan favoritku. "Semoga kau menyukainya, yah... walaupun tak seenak buatan Ichiraku yang asli." Jelasnya sambil meletakkan mangkuk tersebut ke atas meja.

Aku terbuai oleh kelincahannya dalam mengolah makanan, ia nampak sangat cekatan. Tapi, saat aku tersadar dari pesonanya, ternyata dia sudah menghilang dari hadapanku. Entah pergi kemana.

Mungkin, dia pergi keluar... Desisku saat itu. Agak sedih rasanya tak bisa melihatnya memasak. Tapi, daripada menyesali hal itu, aku memilih untuk menjernihkan pikiranku dengan pergi ke kamar mandi. Membersihkan diri dari keringat yang membuat sekujur tubuhku lengket. Dan menyegarkan pikiran-pikiran yang menganggu otakku.

.

.

#

.

.

Yah, mandi memang dapat membuat badan dan pikiranku menjadi fresh kembali. Dengan hanya melilitkan handuk dipinggangku, aku berniat kembali ke kamar, memilih-milih baju yang cocok kukenakan untuk hari ini dari dalam lemari. Sampai sebuah suara mengintrupsiku...

"Lebih baik warna hitam Naruto!"

Aku menengadahkan kepalaku, dari cermin di depanku, aku dapat menangkap sosok Sasuke yang duduk di atas ranjang di belakangku. Bola mata hitam miliknya mengamati tubuhku yang sedang memilah-milah baju.

"Kau sudah terlalu sering memakai warna orange, kupikir... kau harus mengganti warnanya untuk mencari suasana baru."

"Apa menurutmu, aku cocok memakai warna itu?" tanpa membalikkan tubuhku, aku coba bertanya padanya.

Dan ia yang masih mengenakan apron yang sama dengan kedua tangan disilangkan di dada membalas, "Hitam memang pertanda duka cita. Tapi, jika dilihat dari warna rambutmu yang kuning cerah itu, rasanya tidak akan ada duka yang menyenggolmu..haha," ia menjelaskannya sambil tersenyum ceria. Dan kubalas senyumnya dengan tak kalah lebar.

"Baiklah, 'nona'. Kukabulkan keinginanmu itu!" Dari cermin, kulihat ia makin ceria mendengar keputusan barusan. Yah, tak ingin membuatnya menunggu lagi, aku segera mengambil salah satu kaos berwarna hitam dengan gambar snowkel besar di tengahnya. Sedikit terburu-buru dan penuh rasa berdebar kukenakan baju itu, tapi, saat aku selesai memakai pakaianku dan ingin memperlihatkan betapa mempesonanya diriku, lagi-lagi sosoknya menghilang dari hadapanku. Senyumku mendadak memudar dari wajahku, sama seperti semangatku yang lenyap seketika.

"Lebih baik, aku jalan-jalan saja." Akhirnya aku memutuskan untuk pergi jalan-jalan. Kuraih tas selempang yang terletak di meja belajar, hanya sekedar untuk aksesoris pelengkap.

._._. X ._._.

"Aku mau es krim Naruto..."

Aku yang sedang menjejakkan diri di tengah keramaian, mendadak berhenti berjalan, aku balikkan badanku ke belakang.

"Sasuke?" Aku lihat, orang yang paling kucintai itu sedang berdiri disalah satu stand penjual es krim. Sambil tersenyum, aku dekati dia. Kupeluk pinggangnya dari belakang tanpa peduli pada orang-orang yang memandang risih ke arah kami, atau Sasuke yang berusaha melepaskan tanganku dari pinggangnya.

"Kau mau rasa apa?"

"Green Tea..." Jawabnya usai melepaskan diri dariku. Rasa yang tidak aku suka, tapi begitu diminati Sasuke. Memang bocah itu benci rasa manis, tapi Green Tea, menurutku... es krim rasa itu tidak cocok dengan lidahku. Tapi, khusus hari ini, aku ingin membuktikan jika aku suka apa yang Sasuke sukai.

"Es krim Green tea, 2 ya Pak..." Aku yang terlalu larut pada warna-warni es krim itu sampai tidak menyadari jika Sasuke, sudah

jauh berjalan di hadapanku. Dan seakan ditelan lautan manusia, sosoknya hilang begitu saja. Sedih dan sakit sekali rasanya saat melihat Sasuke pergi, menghilang, meninggalkanku.

._._. X ._._.

Taman Konoha, ntah kenapa aku mendadak merindukan tempat ini. Tempat dimana aku dan dia menghabiskan akhir pekan. Duduk dibangku panjang yang tak jauh dari air mancur sambil menceritakan banyak hal. Dari yang sepele, sampai perdebatan yang berujung pada Sasuke yang menolak mengajakku bicara. Walau hal tersebut terkesan biasa saja, tapi untukku, semua yang sudah kulewati bersama Sasuke adalah sesuatu yang luar biasa. Haa... Mengingat semua itu makin membuat dada ini terasa sesak, ada sesuatu yang membuatku ingin menangis.

"Kau tau Naruto, cinta adalah sesuatu yang paling sulit kupahami. Kapan cinta datang, kenapa cinta bisa merasukikuku, dan... kenapa aku bisa begitu mencintaimu. Aku tidak mengerti."

"Kau tau, cinta tak memerlukan alasan 'Suke. Kalau kau menyukaiku karena suatu hal, berarti kau tidak tulus mencintaiku, kau menyukaiku hanya karena suatu hal yang ada pada diriku."

"Tapi, aku juga ingin tau kenapa kau mau menjadikanku kekasihmu. Padahal, dulu kau sangat...uum, membenciku."

"Karena kau orang pertama yang dapat membuatku mengerti, jika kasih sayang adalah segalanya. Kau menunjukkanku banyak hal, kau mengajari sesuatu yang bahkan tak pernah terfikirkan sebelumnya olehku. Perjuanganmu dalam memperoleh kebahagian seakan menyadarkanku jika masalah yang menimpaku dan keluargaku bukanlah apa-apa. Dan yang paling penting, kau selalu bersamaku saat yang lain mulai menghidar dariku. Kau selalu mendukungku dan aku menjadi tenang karena semua perhatianmu. Aku bahagia jika bersamamu, sangat bahagia..."

"Aku juga, hidupku seakan lengkap jika kau berada didekatku, kau membuatku nyaman Naruto..."

Kau juga membuatku merasakan hal yang sama Sasuke, hingga saat kau tidak ada disisiku, membuatku merasa ada hal yang direbut paksa dariku... Dan itu sangat menyakitkan, sakit sekali...

.

.

.

.

"Hai Naruto!" Aku menelengkan wajahku ke arah kanan, kepingan biruku pun mendapati sosok saudara angkatku, Sai. "Bagaimana keadaanmu?" Laki-laki berkulit pucat itu duduk sejajar denganku, bola mata hitamnya memandangiku dengan cemas. Tunggu, bola mata hitamnya kembali mengingatkanku padanya. Warna gelap yang menjadi trademark Sasukeku. Juga warna yang mampu membuatku jatuh terjerat dalam pesonanya.

"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja," aku tertawa lebar, mencoba membuatnya puas dan lega usai mendengarkan kata-kataku. Tapi, apa yang kudapatkan? Dia makin malah menatap iba padaku. "Hey, ayolah! aku baik-baik saja Sai! Dan berhentilah menatapku seperti itu!" kataku sambil menepuk punggungnya. Dan usai menyuarakan kalimat terakhirku itu, keheningan seakan memeluk kami berdua.

"Tahun ini, banyak hal yang terjadi ya?" ungkapku untuk memecah keheningan. Aku memang tak melihatnya langsung, tapi aku dapat merasakan jika Sai kini menatatapku dengan penuh tanda tanya. "Dan dari semua itu, aku jadi mengerti satu hal... Semua yang kita dapat hanya bersifat sementara, kita hanya dititipi, dan tidak berhak memiliki. Sesuatu yang kupikir kekal dan hanya untukku, begitu mudah direbut kembali olehNya. Itu memang kuasaNya, dan aku tidak dapat berbuat apa-apa untuk mencegahnya, karena Dialah yang sepenuhnya berhak untuk menguasai seluruh makhluk yang diciptakanNya, tak terkecuali nyawa manusia..." aku menarik nafas dalam, lalu kuhembuskan perlahan, sengaja aku memberi jeda hanya untuk membuat saudaraku makin bingung dengan apa yang kukatakan.

"Dulu, aku berpikir jika harta adalah segalanya, dengan harta aku dapat memilik apapun yang aku inginkan. Tapi ketika Tuhan mempertemukanku dengannya, aku sadar jika materi adalah suatu hal yang tidak lebih mahal harganya daripada cinta. Maksudku, saat kau memiliki cinta, kau dapat merasakan kebahagian, duka, sakit hati, benci, cemburu, serta banyak hal. Cinta dapat menunjukan seperti apa indahnya kehidupan, dapat melepaskanmu dari kesendirian, walau kadang cinta juga yang membuatmu terpuruk jatuh dalam jurang penyesalan."

"Aku tidak mengerti kenapa kau berkata seperti itu Naruto? Terdengar melankolis..." desah Sai pada saat itu.

"Eh? Begitukah?" Aku menatap Sai dengan tampang paling bodoh yang pernah aku tunjukkan. "Hahaha, kau pasti tidak menyangka jika Namikaze Naruto yang bandel bisa bicara seperti tadi, benarkan?"

Sai mengalihkan pandangannya dariku, kelihatannya memandangi bocah-bocah lima tahun berlari kesana kemari lebih menarik baginya.

"Sejujurnya, aku setuju dengan apa yang kau katakan, tentang kepemilikan, harta, dan cinta. Tapi ada satu hal yang kau lupa Naruto..." Sai menggantungkan kalimatnya. "Ketiga hal itu memiliki satu candu yang sama, ketiganya sama-sama membuat siapa saja gila jika menyangkut hal itu."

Bola mata safirku membulat sempurna, apa yang dikatakan Sai benar juga. Ketika kau menginginkan seseorang atau apapun ingin menjadi milikmu seutuhnya, kau akan rela melakukan banyak cara untuk memperolehnya. Kau akan bersikap over bahkan tidak lagi mempedulikan mana yang benar dan tidak untuk mendapatkan sesuatu itu. Walau kau harus menyakiti orang-orang yang kau cintai.

Harta, kau akan gila oleh kilau materi hingga kau buta dengan sekitarmu, tidak peduli jalan bersih atau kotor, halal maupun haram, selama kau bisa mendapatkan limpahan materi, kau akan terus berusaha untuk meraihnya. Cinta... Ketika kau dipeluk oleh sebuah hal yang dapat dipastikan seperti apa rasanya, maka kau akan mulai masuk dalam jeratnya. Rasa ingin bersama, ingin membahagiakan, ingin selalu memiliki, makin lama makin membuatmu hancur. Kau tidak peduli dengan kesalahan yang diperbuatnya, atau dosa yang pernah kau lakukan padanya, kau menulikan diri dari sekitarmu karena cinta hingga kau lupa segalanya, kehidupanmu, cita-citamu, kebahagiaanmu.

"Yah... Ketiganya memang pernah hampir membuatku gila," balasku setengah mendesah. "Tapi ada satu hal yang benar-benar membuat gila sampai seperti ini..." berat sekali untuk menyebut namanya. "Uchiha Sasukeku..."

Sai menepuk pelan pundakku, seakan ingin menyemangatiku lewat tindakannya. "Sudah sore, bukankah kau harus bersiap-siap untuk-"

"Aku tau, dan tidak ada yang harus kusiapkan. Oya, baju yang kukenakan ini adalah pilihannya lho, tapi aku agak terlambat untuk memenuhi keinginannya," Ujarku sambil beranjak dari tempat dudukku, sejenak aku merenggangkan otot-ototku yang pegal sebelum berbalik menatap Sai yang tetap tak bergeming ditempatnya. "Satu lagi," Aku membalikkan badanku untuk menatap Sai yang baru saja berdiri. "Aku masih ingin mengunjungi satu tempat lagi, kau pergi saja dulu."

"Tapi, kalau ayah dan ibu mencarimu bagaimana?"

"Aku bukan anak kecil yang perlu dicemaskan Sai, dan aku janji tidak akan telat ke acara sespesial itu." Kataku coba meyakinkan Sai.

"Ya sudah, asal kau tidak terlambat saja!"

"Yup! Aku janji!" Aku mengacungkan jariku membentuk huruf V. Dan Sai nampak puas dengan jawabanku.

"Baiklah, ingat jangan terlambat Naru!" Begitu selesai dengan petuahnya, Saipun pergi meninggalkanku, dan aku yang juga mulai mengayunkan kakiku menuju ke arah sebaliknya.

._._. X ._._.

Pemakaman umum... Ya, disinilah aku berada. Berdiri seorang diri diantara deretan batu alam yang dijajarkan dengan rapi. Batu pualam dingin dengan ukiran nama-nama banyak orang, yang tertancap kuat diatas gundukan tanah berumput. Ya, disinilah rumah peristirahatan bagi mereka yang sudah tiada. Perlahan, aku mulai mencari sebuah nama diantara ratusan batu nisan disekitarku. Tak lama, karena aku segera menemukan namanya.

Bola mata biru menatap ke bawah, menyusuri huruf demi huruf yang terukir di atas batu nisan. Lalu, kutaburkan kelopak bunga sebagai hadiah lain dariku selain doa.

"Bagaimana kabarmu disana? Apa kau baik-baik saja? Terima kasih dengan apa yang kau berikan selama hidup di dunia, walau aku tak mengenalmu, kuharap kau bahagia... Sabaku Gaara..." Lirihku. Aku beralih pada makan disebelahnya. Tempat pembaringkan Hyuga Neji, yang ku ketahui sebagai kekasih Gaara. Orang yang juga mencintai Sasuke, hingga tega menyakitinya. Aku kembali berdoa untuk ketenangannya didunia abadinya, lalu menyebarkan warna-warni bunga tujuh rupa.

"Kau tau Neji, cinta memang dapat membutakan siapa saja, hingga membuat kita lupa pada apa yang seharusnya. Tapi aku tau, itu adalah caramu untuk mencintainya, meski apa yang kau lakukan sesuatu yang salah."

Kuhembuskan nafasku dengan berat, kupejamkan bola mataku, bersiap untuk melangkahkan kaki ke makam yang lainnya. Makam terakhir yang menjadi tujuanku saat ini. Dengan gundukan tanah yang masih baru juga rangkaian buket bunga yang masih bersandar di batu nisan berbentuk salib miliknya. Aku tersenyum miris ketika memandangi makan itu, seakan-akan ada sesuatu ditenggorokanku yang terasa menyumpal hingga membuatku kesulitan bernafas. Kupejamkan mataku erat, dengan kepala tertunduk serta jemari yang saling terkatup, aku mulai menyenandungkan doa. Doaku untuk dirinya.

Namun hal itu malah membuatku teringat akan masa-masa ketika ia bersamaku, ketika ia menggelayut manja dilenganku, dan betapa nyamannya aku ketika ia memeluk tubuhku. Ya, pelukannya terasa begitu hangat dan nyaman, sungguh menenangkan. Aku benar-benar masih bisa merasakan kehangatan tubuhnya menempel dipunggungku. Hembusan nafasnya di tengkuku, serta helai hitamnya yang menempel di pipiku. Rasanya benar-benar nyata, sangat nyata.

"Naru... Naruto..." Suaranya yang lembut ketika memanggilku mulai menari-nari dalam otakku. Tapi tunggu, ini bukan kehangatan gadis itu, kehangatan ini jauh lebih menyenangkan dari pada pelukan pura-pura wanita pecinta materi itu. Ini adalah pelukan yang lebih kusukai. Dan lagi, suara yang terus mendengung di telingaku ini bukanlah miliknya. Aku yakin sekali akan hal itu...

"Naruto..."

"Ng?" Aku membuka kedua kelopak mataku, apa yang aku rasakan ternyata bukan sekedar khayalan belaka, ternyata memang ada seseorang yang tengah memelukku sekarang, dan aku hafal betul siapa pemilik lengan putih pucat ini.

Aku melepaskan dekapan orang itu dengan lembut, hanya untuk memutar tubuhku agar aku dapat bertatap muka langsung dengannya, "Sasuke?" Ya, sosok orang yang paling aku cintai kini tengah berdiri dihadapanku, tersenyum lembut ke arahku, dengan bola mata hitam yang masih sama, gurat senyum yang juga tak berubah, hal yang membuatku tak bisa untuk melupakannya walau sebentar saja.

"Kenapa kau ada disini? Kaukan masih sakit?" Aku yang agak terkejut karena kehadirannya, kontan bertanya demikian.

"Aku sudah sehat kok, lagipula aku juga memang berencana mengunjungi makan teman-temanku," balasnya. Langsung saja kubingkai pipi pucatnya, dan kutempelkan dahiku di dahinya, "Tapi tidak harus sendirian beginikan, Sasuke-chan? Nanti, kalau dijalan ada apa-apa bagaimana?"

Sasuke tersenyum simpul, "Siapa bilang aku sendirian? Bukankah, sekarang aku bersamamu Namikaze-san? Aku aman jika denganmu, benarkan?"

Ya Tuhan, perasaan bahagia apa ini? Sungguh, aku merasa lengkap saat ia mengatakannya. "Ya, kita berdua sekarang, ada aku yang selalu bersamamu, begitupula kau yang selalu hadir untukku," kupeluk pinggangnya dan kusandarkan daguku dipundaknya. Menyamankan diri dalam hangat dekapannya. Ia elus punggungku penuh cinta, dan aku menyukainya. Padahal, beberapa waktu yang lalu aku berpikir jika ia akan pergi meninggalkan untuk selamanya. Aku berpikir jika aku tidak akan bisa untuk menatap wajah eloknya, memeluk tubuh rampingnya, dan melalukan banyak hal dengannya hanya karena kematian yang seakan-akan di ambang pintu kala itu. Tapi aku salah, pemikiran negatif itu tak pernah terjadi. Sasukeku selamat, ia terbangun dari 'tidur'nya karena sentuhan ajaib sang Kuasa.

"Kau untukku Sasuke..." Ucapku sebelum memagut bibirnya.

"Dan begitupula kau untukku..." sahutnya. "..Tapi, kau harus ingat tempat Naruto, kita berada dipemakaman umum!"

"Hahaha..." Aku melepaskan diri Sasuke, "Aku lupa!"

Akhirnya, kami berdua sama-sama memejamkan mata untuk mendoakan makam sahabat-sahabat kami. Hyuga Neji, Sabaku Gaara, dan mantan kekasihku Haruno Sakura yang beberapa waktu yang lalu meninggalkan karena over dosis. Ia pergi tepat ketika Sasuke sadar dari koma.

"Ayo kita pulang, sepertinya kita sudah sangat terlambat!" Aku membungkukkan punggungnya, menyiapkan diri untuk menggendong Sasuke yang memang belum boleh banyak beraktifitas.

"Aku bisa jalan sendiri Naru!"

"Oke, kalau kau tidak mau digendong di belakang..." aku menggantungkan kata-kataku, lalu...

"Hey, 'Ruto.. Turunkan aku!" Aku tutup telinga untuk tidak mendengar suara rontaannya ketika aku menggendongnya dengan gaya bridal. "Haha, itu karena kau tidak patuh, 'Nona'" balasku santai. Dan itu makin membuat wajah tampannya jadi makin kesal.

Naruto's POV END...

._._. X ._._.

Malam ini, akhirnya Naruto bisa lewati dengan bahagia bersama Sasuke. Di balkon tempat mereka menyendiri dari keramaian pesta yang di gelar oleh kedua belah pihak keluarga, mereka saling memeluk dan mencumbu. Merasakan suatu hal telah lama hilang, mencoba dan memulai semuanya dari awal lagi.

"You for me, and me for you..." Entah sudah berapa kali Naruto merapalkan kata-kata itu disela ciumannya. Seakan-akan, sekali saja tidak cukup untuk membuat Sasuke menjadi satu-satunya pemuda yang ia miliki. Menjadikan ia orang yang terakhir yang berhak untuk Sasuke. Padahal semua orang tau, jika sejak awal, mereka ditakdirkan bersama. Hanya saja, alur percintaan mereka sedikit luar biasa. Hubungan sesama jenis yang berawal dari harta dan keinginan untuk membalas budi, kini tumbuh dengan tulus tanpa ada alasan lain kecuali cinta.

"ennhh... aahhh..." Sasuke memejamkan kedua kelopak matanya, cumbuan Naruto di leher dan cuping telinganya membuatnya mabuk kepayang. Dan apa kalian tau, setuhan lembut inilah yang selalu Sasuke rindukan. Sentuhan yang membuatnya merasa nyaman.

"Suke... Sasuke..." Dan bagi sang Namikaze, menciumi aroma tubuh yang menguar dari sosok ramping dalam dekapannya seperti menceburkan diri dalam kolam Wine. Jernih, berbau wangi, dan membuatnya lupa diri. Sampai ia tidak peduli pada para tamu undangan yang menghadiri pesta istimewa itu. "Aku merindukan saat-saat seperti ini 'Suke. Saat kau memasrahkan seluruh milikmu padaku, dan ketika aku menyerahkan apa yang kupunya, untukmu," lirih Naruto sambil menjilat dan mengulum cuping telinga Sasuke.

"aahhh... aku, juga sama Naruto. Aku sudah lama tidak merasakan sentuhanmu..." desis Sasuke diantara desahannya yang terdengar lembut. "Ughh... ennghh..." Ia remas palang besi di depannya, ia gigit bibir bawahnya untuk menahan gejolak hasrat yang mulai meletup-letup di dalam tubuhnya ketika 'dirinya' dimanja dengan pijatan lembut yang stimulus oleh Naruto.

"Sasuke..."

"Hnnnh?"

"Sejak tadi pagi, aku selalu teringat tentangmu, dan aku masih tidak percaya jika kita bisa sedekat ini sekarang, rasanya seperti mimpi..." Naruto menyudahi aktifitasnya sesaat setelah tubuh pemuda itu mengejang dan mengeluarkan cairan kenikmatannya. Dan kini, ia sedang mencumbui rambut midnight blue Sasuke.

Sasuke sempat mengatur hela nafasnya sebelum memutar tubuhnya untuk bertukar pandang dengan pria bermarga Namikaze itu. Membingkai wajah tampan dengan tiga garis halus di masing-masing pipinya, hanya untuk meminimalkan jarak diantara keduanya. Sambil memejamkan mata, ia pagut bibir Naruto dengan bibirnya. Menekan bibir itu dengan lidahnya, sebelum melesakkan indra perasanya ke dalam rongga lembab si pirang. Tarian lidah Sasuke membuat Naruto turut memejamkan mata. Perlahan-lahan, ia yakin, jika apa yang terjadi saat ini bukanlah mimpi. Ini kenyataan yang sebenarnya, bukan bagian dari kisah khayalannya.

"Masih menganggap ini cuma mimpi, Namikaze-san?" Tanya Sasuke ketika ia menyudahi invasinya di mulut sang kekasih. Naruto menggeleng pelan sambil tersenyum ke arah pemuda raven yang lebih rendah darinya, "Tidak. Aku yakin jika ini bukan mimpi semata Sayangku..." ia akhiri kalimatnya dengan mengecup kembali bibir Sasuke, tapi kini keduanya saling beradu lidah, menari bersama hanya untuk saling bertukar saliva. Hingga...

"Ternyata kalian berdua ada disini..." Tanpa ragu, kedua pemuda yang sedang berciuman itu melempar pandang ke arah pria berkuncir yang sedang menatap heran plus sebal pada Naruto dan Sasuke.

"Nii-san?" Ya, pria itu adalah Uchiha Itachi. Kakak Sasuke.

Sambil berkacak pinggang pria yang lima tahun lebih tua dari Sasuke itu berujar, "Kalian kenapa ada disini? Bukankah kalian sendiri tau jika bintang utama pesta ini adalah kalian?" dengus Itachi, "Dan apa-apa'an pakaian kalian itu? Ini acara formal!" pupil kelamnya mengamati penampilan Naruto yang nampak maskulin dengan T-Shirt hitam dan sang adik yang hanya mengenakan kaos biasa yang dibalut dengan sweeter panjang dan syal. "Cepat ganti baju kalian, dan turun ke bawah lima menit lagai. Aku tidak ingin membuat tamu-tamu kita menunggu lama!" Naruto dan Sasuke tak sempat menyela atau memprotes semua perintah Itachi.

._._. X ._._.

Semua sanak saudara dan rekan-rekan kedua belak keluarga ada disini. Semuanya bahagia dan larut dalam suasana pesta yang mewah dan elegan. Dan jika kalian bertanya pesta apa yang Namikaze-Uchiha gelar, akan ada banyak sekali jawabannya. Pertama ini adalah pesta selamatan karena Sasuke sudah sembuh dan terbangun dari komanya. Kedua pemuda raven itu juga merayakan pesta ulang tahunnya tepat dihari ini, 23 july. Terakhir, pesta yang sengaja dirancang oleh Itachi dan pasangan barunya Hatake Kakashi ini juga sebuah pesta peresmian hubungan antara Namikaze dan Uchiha. Naruto dengan Sasuke. Yah, bukankah kita semua sudah tau jika kedua pemuda itu telah bertunangan sejak lama? Hanya saja sebelum pesta berlangsung, ada cobaan kecil yang menganggu.

"Selamat ulang tahun, Sasuke!" Naruto yang kini mengenakan kemeja orange yang dipadukan dengan jas berwarna hitam membingkai wajah Sasuke, mengecup kening pemuda itu usai menyematkan cincin berukiran namanya di jari manis Sasuke.

"Terima kasih Naru-" Sasuke menggenggam punggung tangan Naruto, merasakan sebuah perhiasan berbentuk lingkaran yang baru saja ia pasangkan di jemari pria itu membuatnya yakin jika tidak akan adalah lagi yang memisahkan keduanya kecuali maut. "Kau, adalah kado terbaik dalam hidupku..." ucapnya, bahagia. "Aku senang akhirnya cinta kita yang 'unik' ini dapat bersatu, aku... sangat bahagia karena sekarang semua orang sudah mengakui jika kau hanya untukku..."

Naruto mengangguk sambil menyeringai senang, "And you for me, 'Suke-chan..."

Disaksikan oleh banyak tamu yang hadir, kedua kembali menyatukan diri dalam sebuah ciuman singkat yang penuh arti. Ciuman yang menunjukkan betapa keduanya adalah pasangan yang amat serasi. Betapa mereka saling mencintai, dan pernyataan jika hanya maut yang dapat memisahkan mereka. Walau di awal hubungan mereka cukup sulit dan tragis, tapi akhirnya, mereka mendapatkan akhir yang layak. Kebahagiaan. Karena jika kau selalu percaya padaNya. Sesulit apapun cobaan yang kau lalui, kau akan yakin dapat melewatinya dengan mudah. Benar begitukan kawan?...

._._. X ._._.

Fu: Ahhh -narik rambut frustasi- ending gaje macam apakah ini? Sasuke jadi kayak cewek banget, tapi paling nggak dia nggak mati...

Sasuke: Akhir fic ini, selesai juga. Awas aja ya, kalo bikin fanfic dengan diriku yang super OOC -background petir-

Fu-nyengir gaje-: Kalo itu gak janji deh...

Naru: Last, ada yang mau kamu ucapin Fu...

Fu -ngambi catatan dari kantong-: Pertama-tama Fu mau mengucapkan terima kasih kepada Tuhan. Pada adik Fu yang masih dilarang baca rated M. SasShin-nee yang selalu menjadi tempat bertanya dan orang yang selalu kasih ide pas Fu butuh. Mimi yang entah kapan updet ficnya. Serta... Chiraeru el Zuwet , icha22madhen, Vipris, Misa Yagami Hitsugaya, Uchiha Uzumaki Hatake Hotaru, Arisa Adachi YunJaeShipper, CCloveRuki, Hime Uguisu, Jelly JellFish, dan semua reviwer dan flamer yang sudah baca fanfic Fu…Maaf kalo ga kesebut, tapi Fu senang bisa mengenal kalian dalam maya. Tanpa review teman-teman, mana mungkin fic ini bertahan sampai sekarang. Terakhir, jangan lupa baca fanfic Fu yang lain ya... Dan semoga suka dan terhibur...

NaruSasu: And, don't forget for review last this chapter all... Jaa...