Chanyeol membalikkan badannya, tatapan matanya menakutkan membuat baekhyun memasukkan kepalanya ke selimut. Namun, tak lama kemudian ia tertawa pelan dan mulai berbicara.
"Kau tak takut petir ?"
"Tidak."
Chanyeol menjawabnya dengan nada suara tidak ramah, jika orang lain yang mendengarnya mungkin sudah merasa sakit hati dan tidak akan melanjutkan kata katanya. Namun, kali ini berbeda. Wanita yang ada di hadapan chanyeol terus melanjutkan perkataannya. Chanyeol yang mengakui keberanian wanita itu tetap mempertanyakan hal hal sepele yang membuatnya kesal.
"Kenapa kau tidak takut ?"
"Karena aku tak pernah berkata kasar sehingga harus menerima hukuman di sambar petir"
"Hah? Tiap hari kau mengabaikanku, berteriak teriak padaku"
"Itu karena kau membuat orang lain menjadi matras mu"
Baekhyun berpikir keras, selama beberapa saat, berusaha menangkap maksud perkataannya. Ternyata kejadian yang dia maksud adalah kejadian saat ia mengambil buah kurma tempo hari.
"Ah, waktu itu.. waktu itu menyenangkan. Aku bisa mengambil buah kurma dengan tanganku sendiri."
Chanyeol hanya mendengus kesal mendengarkan cerita baekhyun. Suara petir mulai menggelegar lagi. Baekhyun menutup matanya. Ia lalu menempelkan dan membenamkan kepalanya di samping chanyeol.
"Kenapa kilat selalu datang lebih dulu daripada petir?"
"Itu karena kecepatan cahaya lebih cepat dari kecepatan suara. " Baekhyun bertepuk tangan bahkan tertawa riang.
"Kau pintar chanyeol ssi, lalu bagaimana ??"
"Bagaimana apanya?? Apa kau tidak tahu soal sains sama sekali jung seung won ?" Baekhyun menggelengkan kepalanya pelan.
"Ketika kilat keluar, ia pertama kali terlihat. Empat detik kemudian itu akan terdengar petir, itu berarti kecepatan suara dalam satu detik sekitar 340 meter. Apa kau mengerti sekarang ??"
Tak ada jawaban dari baekhyun. Chanyeol menatap istrinya. Ia tersenyum ketika melihat wanita itu tertidur saat mendengarkan penjelasannya yang panjang.
"Dasar, aku malah menidurkan si pembuat onar "
Bibir chanyeol mulai membentuk senyuman lembut, mata laki laki itu mengarah pada bibir istrinya yang sedikit terbuka. Ia merasakan seluruh tubuhnya bergetar seperti di aliri listrik. Chanyeol berusaha mengalihkan pikirannya. Namun, ia justru semakin tidak bisa mengendalikan napasnya ketika ujung hidungnya mencium aroma tubuh baekhyun.
Bisa gila aku kalau terus lama lama seperti ini...
Keesokan paginya Baekhyun berangkat ke kantor lebih dulu dan baekhyun yang saat ini berada di ruang sekertariat dan sedang bekerjasama dengan kepala bagian Moon dan juga sekertaris Min, Baekhyun memanggil sekertaris Min dengan panggilan Eonni, lalu ketika jam makan siang mereka berdua berbagi cerita.
"Seung won ssi sudah menikah?"
"Ya, sudah"
"Benarkah ? Padahal kau terlihat seperti gadis. Suamimu kerja apa ??"
Suamiku sekarang berada di ruang sebelah.
"Karyawan juga."
"Eonni, menurutmu Direktur Park itu orangnya seperti apa ?? Kita kan kerja bersamanya."
"Direktur Park, hmmm... direktur memiliki sifat yang sopan meskipun ia memikul beban berat perusahaan tapi ia memperlakukan karyawannya dengan baik. Para wanita begitu senang melihatnya. Direktur kita memang sangat tampan, iya kan??"
"Apakah ia tak punya kekasih ?"
"Hah? Kekasih ? Direktur kita sudah menikah. Tapi tetap saja ada wanita yang terus menerus saja mencarinya."
"Astaga, benarkah siapa wanita itu ??"
"Ini rahasia, jangan katakan pada siapapun ya ?? Kau tahu Kim Junmyeon ??. Wakil kepala Dae hwa Group ??"
"Iya tentu saja, laki laki yang rambutnya nampak seperti luwak itu ??" Sekertaris Min terkekeh mendengar perkataan Baekhyun.
"Ia punya seorang adik perempuan, sebenarnya hanya adik satu ayah. Yeri namanya. Dia masih muda. Dia sering sekali mencari Direktur park di kantornya."
Apa yang dimaksud Ye ri adalah perempuan yang berada di pesta waktu itu?? Luwak dan perempuan itu bersaudara ? Hah, Bagus sekali. Kakaknya Luwak dan adiknya si rubah.
Kepala Baekhyun mendidih, rubah itu bahkan datang ke kantor untuk mencari chanyeol.
Kopi panas yang diminum baekhyun membuat kepala baekhyun terasa semakin panas. Jika rumor yang ia dengar itu benar maka, sepertinya baekhyun harus mulai berhati hati. Baekhyun kembali ke tempatnya bekerja dan ketika para karyawan mulai meninggalkan ruangan dan turun untuk makan siang. Saat itu muncul rubah ekor sembilan yang berjalan menuju ruang direktur.
"Tak boleh masuk tanpa janji..."
"Seung won ssi, apa yang kau lakukan disini ?"
Aku ? seharusnya aku yang bertanya itu padamu, wanita rubah.. aaah seharusnya aku menebar garam untuk buang sial di depan rubah ini.
"Aku disini untuk berkerja, lalu apa yang kau lakukan disini ??"
"Bekerja ??" Ye ri memincingkan matanya dan menatap baekhyun dengan buas. Ye ri tidak dapat dihentikan, ia menghilang masuk ke ruangan chanyeol. Beberapa saat kemudian pintu ruangan chanyeol terbuka.
Chanyeol dan Ye ri pun keluar dari ruangan itu, sesaat chanyeol berhenti di depan meja istrinya dan membuka mulut, hendak mengatakan sesuatu tetapi chanyeol melihat bahwa istrinya itu mengabaikan dirinya. Akhirnya ia mengurungkan niatnya dan pergi tanpa berkata apa apa. Kejadian itu tidak luput dari pengamatan Ye ri. Ia lalu memalingkan wajah dan memberikan ejekan pada baekhyun. Ia menggandeng tangan chanyeol dan pergi bersamanya.
Chanyeol yang memperdulikan perasaan istrinya segera melepaskan tangan Ye ri begitu mereka keluar ruangan. Akan tetapi, baekhyun tidak melihat apa yang dilakukan chanyeol. Meskipun ia kini sedang makan siang bersama Ye ri, pikiran chanyeol melayang pada istrinya. Dulu memang chanyeol sering mengajak ye ri makan siang bersama dan mengikuti perkumpulan klub bersama namun sekarang, chanyeol justru tidak merasa nyaman dengan Ye ri yang terus menerus mendekatinya. Karena hal itu bisa saja melukai perasaan istrinya.
Chanyeol merasa kini istrinya sangat mencintai dirinya. Wajah seung won selalu terbayang dalam benak chanyeol.
"Oppa, kita pergi berlibur ya.. minggu depan ? Bagaimana ? Aku akan mempersiapkan semuanya."
"Tidak, aku tidak bisa pergi dan meninggalkan istriku. Jangan lakukan itu. Dan aku juga tak mau kau menghubungi aku lagi. Sekarang sekertarisku adalah istriku. Jadi berhentilah datang ke kantorku."
Dengan terbengong Ye ri memperhatikan chanyeol yang berdiri di meja kasir kemudian keluar dari restoran. Begitu laki laki itu menghilang dari pandangannya, mata ye ri seakan mengeluarkan percikan api.
"Istri ? Hah, istri katanya"
Kedua tangan Ye ri di letakkan di atas meja bergetar menahan marah. Tangannya yang gemetaran itu mengangkat cangkir kopi yang telah dingin dan meminumnya, matanya semakin berkilat menakutkan.
"Aku harus menemukan suatu cara"
Mata Ye ri memancarkan aura jahat.
Perasaannya sekarang begitu senang, ia mungkin bisa melompat lompat karena terlalu senang, sembari berjalan menuju ruangannya ia memperhatikan istrinya yang sedang duduk sendirian. Ia lalu mendekati meja baekhyun dan memanggilnya.
"Seung won, masuklah keruanganku.."
Baekhyun bergeming, ia hanya menatap chanyeol dengan tatapan mata mengkilat dan mulutnya tertutup rapat.
"Kau kenapa ?"
Chanyeol penasaran kenapa tiba tiba istrinya itu cemberut dan marah kepadanya.
"Kau menikmati makan siangmu??"
"Ng.. biasa saja, kau sudah makan siang ?"
"Belum, aku tak ada selera makan."
Baekhyun menatap chanyeol dan berbicara dengan nada kesal.
"Kau belum makan ? Kenapa ? Apa kau sakit ?"
"Apa menurutmu, ada seorang istri yang sikapnya biasa biasa saja saat melihat suaminya pergi makan siang dengan wanita lain sambil bergandengan tangan. Sayangnya aku bukan tipikal istri yang seperti itu." Baekhyun mulai memposisikan dirinya benar benar seperti istri chanyeol, saat itulah muncul senyuman di wajah chanyeol.
"Kau marah ?"
"Menurutmu, haruskah aku marah ?" Chanyeol terdiam. "Kenapa kau diam, haruskah aku tertawa 'hihihi' saat melihat kalian seperti itu? Aah, kau luar biasa park chanyeol."
Meski baekhyun marah marah seperti itu, sebenarnya ia merasa khawatir. Apa yang harus diperbuatnya jika Ye ri benar benar menyukai chanyeol.
"Maaf, aku tidak akan begitu lagi."
Kini perasaan baekhyun sedikit membaik begitu mendengar permintaan maaf chanyeol. Laki laki itu tidak beralasan.
"Chanyeol ssi, apa kau menyukai ye ri ?"
"Apa ? tentu saja tidak. Dia adik temanku, bagaimanapun juga bagiku dia hanya adik yang imut."
"Ck, sekalipun kau tidak pernah berkata imut padaku ! Kalau begitu, berjanjilah padaku. Kau tidak akan berkencan atau makan bersama ye ri atau pun wanita lain selain urusan kantor,"
"Baiklah, aku mengerti."
"Kau juga tak boleh bergandengan tangan, tanganmu hanya untukku karena kau adalah suamiku yang paling berharga"
Chanyeol tersentak mendengar pengakuan baekhyun, bahwa dirinya adalah suami yang berharga. Bibir laki laki itu tiba tiba membentuk senyuman lembut.
"Iya , aku berjanji padamu. Sebagai permohonan maaf, bagaimana kalau kita pergi berlibur."
"Hanya, berdua?"
"Ya."
"Asyiik."
Baekhyun melompat lompat karena terlalu senang. Chanyeol pun tersenyum puas, baekhyun kini perasaannya sangat senang memeluk chanyeol dan mencium pipinya.
"Thank you, chanyeol ssi. Sekarang aku bisa makan."
Baekhyun keluar dengan cepat dari ruangan chanyeol. Chanyeol menyentuh pipinya yang baru saja di cium baekhyun. Ia tersenyum senang dan berkata.
"Jung seung won, kau beratus ratus kali lipat lebih imut dari siapapun."
..
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hello dearest reader. im back, msh agak gk enak body sih tapi its ok lah. So, how is your saturday night girl?? Have fun and have a nice weekend. ;)))))))))
