Halo, saya kembali!

Maaf update lama. Lagi banyak krisis (biasanya juga krisis terus sih). Semoga bab ini memuaskan atau setidaknya 'tidak mengecewakan'. Saya baca semua review bab lalu, tapi sorry gak bisa bales :(

Oh ya, setelah berpikir keras, saya kira Karin gak perlu di cantumin dalam tag main cast, jadi saya hapus lagi. Dan sekedar pemberitahuan kalo sepertinya fic ini akan mencapai 20 bab atau lebih (tergantung pada pengembangan alur sih). Yang jelas gak akan sampai 30 bab kok :D

Yah, cukup dulu deh. Terima kasih sebanyak-banyaknya untuk yang read, review, fave, follow. Selamat membaca ^^


Warning: AU, super duper OOC, alur lambat, SasuKarin-GaaSaku, super duper aneh, dll.


BAB 14

Perang Dingin

"Keparat!"

Sasuke jatuh tersungkur dengan rasa sakit di beberapa bagian tubuhnya: pipi kirinya, tulang panggul sebelah kanannya, dan telapak tangannya terasa terbakar. Sasuke tak bisa lebih terkejut lagi karena kini Gaara merenggut kerah seragam sekolahnya, memaksanya bangkit.

"Bangun kau, pengecut!" Gaara kembali meraung, dan seketika itu juga Sasuke marah.

Sasuke segera melancarkan pukulan balasan padanya. Sasuke mendengar Sakura berteriak. Sebetulnya Sasuke sangat ingin memberinya beberapa tonjokan lagi karena telah berani menyebutnya pengecut, tetapi ia urungkan. Namun sayangnya, hal itu malah memberi Gaara kesempatan untuk menendang perutnya. Sasuke tak mau berpikir lagi di tengah napasnya yang tersengal; cecurut merah itu memang ingin mencari gara-gara dengannya, dan Sasuke akan meladeninya dengan senang hati.

Emosi yang memimpin gerak tubuh membuat serangan mereka berkali-kali lipat lebih kuat. Ada lebih banyak pukulan lagi yang saling mereka hujamkan. Sasuke tak memedulikan seluruh tubuhnya yang berdenyut sakit maupun teriakan Sakura.

"Kau tidak tahu apapun tentangku, brengsek!" sembur Sasuke sambil meninju perut Gaara.

Gaara terbatuk, matanya masih memandang Sasuke penuh kemurkaan, dia membalasnya dengan memelintir tangan Sasuke yang masih berada di dekat perutnya, "Kau memang bajingan kecil pengecut!"

Sasuke berputar ke depan dengan cepat, lalu menyikut wajah Gaara keras-keras, Sasuke tak tahu sikutannya mengenai bagian wajah Gaara yang mana. Tangan kanannya kini telah terbebas. Sasuke hendak memberi Gaara satu pukulan lagi ketika dia sedang berusaha mewaraskan dirinya, tetapi badannya telah terdorong menjauh secara tiba-tiba.

"Berhenti!"

Sakura memandangnya marah, terengah-engah dengan air mata masih bercucuran. Sasuke sedikit tak percaya terhadap apa yang dilihatnya saat ini: Sakura berdiri di depan tubuh Gaara seakan melindunginya dari Sasuke. Sakura yang memandangnya tajam dengan sikap defensif seperti ini entah bagaimana membuatnya lupa pada sakit di seluruh badannya.

"Kalian sungguh konyol!" teriak Sakura. "Aku tidak mengharapkan kalian bertingkah seperti berandalan!"

Sasuke memalingkan muka. Ia masih merasa marah, namun konyol di saat bersamaan. Tapi siapa yang mulai duluan? Lagipula, apa motif cecurut merah itu menyerang Sasuke? Sasuke merasa tak pernah punya masalah dengannya. Namun Sasuke segera menyadari sesuatu.

Apa cecurut itu menaruh hati pada Sakura? Dugaannya ini membuat kadar ketidaksukaannya pada Gaara meningkat menjadi benci.

Sudah kuduga, batin Sasuke sarkas.

Kemudian Sasuke beranjak pergi. Melihat Sakura begini lama-lama membuat sesuatu menggeliat tak nyaman dalam perutnya. Meskipun sebenarnya Sasuke ingin menonjok sekali lagi wajah cecurut merah itu ketika mendapatinya menatap Sasuke tajam disertai jari tengahnya teracung.

Fuck you too, bastard! Batinnya membalas.

Kemarahannya masih bergejolak di sepanjang perjalanannya. Ia sekarang baru ingat wajahnya babak belur saat melihat anak-anak lain yang lalu lalang melewatinya menatapnya dengan heran. Sasuke berusaha menebalkan wajahnya untuk sepuluh detik lagi sampai ia tiba di kelas.

Entah sebuah keberuntung atau bukan, tak lama setelah Sasuke duduk di kursinya, Yamato Sensei telah tiba di kelas sehingga Naruto dan anak-anak lain tak lagi bertanya-tanya padanya perihal wajah bonyoknya.

"Wajahmu kenapa, Sasuke?" sesuai dugaannya diikuti tatapan penasaran dari seluruh penjuru kelas.

"Ada insiden kecil tadi," jawab Sasuke.

"Kau berkelahi, ya?" tanyanya lagi, garis-garis keras di wajahnya semakin nampak, tatapan matanya bertambah tajam.

"Hn, tapi bukan masalah besar kok," jawab Sasuke. Dalam hatinya berdoa semoga ia tak mendapat masalah setelah ini.

"Ya sudah, lebih baik segera ke UKS, obati lukamu," perintah Yamato Sensei setelah menghela napas panjang. Kelihatannya guru fisika itu enggan darah tinggi.

Naruto kemudian bangkit dengan tergesa, "Sensei, biar saya yang menemaninya!"

Sasuke berdecak pelan. Pasti ini akan jadi kesempatan untuk Naruto menginterogasinya, dan nampaknya Sasuke tak akan bisa mengelak lagi. Badannya terasa lebih berat ketika Sasuke bangkit dari kursinya dan keluar kelas bersama Naruto.

"Kau benar-benar berantem? Dengan siapa sih?" cecar Naruto. Sasuke hanya mendengus, belum tahu harus mulai dari mana. "Teme, kau menyembunyikan sesuatu, kan dariku? Ayo cepat ja–eh, Sakura-chan?"

Sasuke langsung mendongak. Sakura menatap Naruto kikuk, seakan berhati-hati agar tidak refleks menatap Sasuke yang berada di sebelahnya. Bekas air mata masih terlihat di wajahnya.

"A-aku ke kelas dulu," kata Sakura cepat-cepat dan langsung berlalu melewati mereka.

"Sakura-chan kenapa, ya? Aneh," kata Naruto, bertanya kepada dirinya sendiri. "Oh ya, Sasuke, cepat jawab aku. Apa yang kau sembunyikan?"

"Ck, nanti saja di UKS," jawab Sasuke sebal.

Sasuke menghela napas kasar. Pada akhirnya Naruto juga akan tahu yang sebenarnya. Tepat ketika mereka melewati ambang pintu UKS yang sepi, Naruto segera mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan tadi.

"Ck, biarkan aku mengobati wajahku dulu, Dobe," tukas Sasuke sambil mengambil alkohol dan kapas dari kotak obat.

Ia menempelkan segumpal kecil kapas pada alkohol yang telah dituangkan di dalam baskom kecil, lalu ditepuk-tepuk sedikit pada luka di sudut bibir kirinya dan di hidung serta pelipisnya. Ia memilih mengobati lukanya sendiri dan Naruto yang bersikeras ingin membantu akhirnya disuruh memegangi cermin untuk Sasuke berkaca. Cermin yang memperlihatkan wajahnya yang kacau dengan ruam-ruam merah serta lecet dan berdarah di bagian wajah sebelah kiri.

"Sasuke, ayo ceritakan sekarang ada apa sebenarnya," kata Naruto di sela-sela ringisan Sasuke.

Sasuke kembali menghela napas, "Aku berantem dengan Sabaku Gaara."

"Sabaku Gaara?" kata Naruto terkejut. "Kau mengenalnya?"

Sasuke menaikkan sebelah alisnya, "Memang kau kenal juga?"

"Tentu saja, dia itu calon keeper baru di tim futsal-ku, lagipula bukankah dia adiknya Kankuro?" kata Naruto, terdengar lebih kepada dirinya sendiri. "Tapi–tapi," Naruto segera meneruskan, "bagaimana kau bisa berkelahi dengannya? Kalian punya masalah apa?"

"Aku berpikir sepertinya dia menyukai Sakura," jawab Sasuke.

Naruto segera memandangnya heran, "Memang apa hubungannya denganmu?"

Kegiatan Sasuke yang hendak menempelkan plester di lukanya terhenti. Ia bingung bagaimana mengatakannya, maka hanya, "Ceritanya panjang," yang bisa ia katakan.

"Aku punya banyak waktu mendengarkan dattebayo," kata Naruto bersidekap.

"Tapi aku malas," kata Sasuke. Ia jujur bahwa ia sedang malas bicara panjang lebar. Rahangnya yang sakit lebih mendominasi.

"Apa-apaan kau ini?" tukas Naruto memukul bahu Sasuke yang membuatnya langsung meringis.

"Sakit, tahu!" sembur Sasuke mengusap-usap bahunya.

"Makanya cepat ceritakan dattebayo!"

"Tanya Shikamaru saja," jawab Sasuke. "Dia tahu semuanya."

"APA?" Naruto melotot terkejut. "Ja-jadi, Shikamaru sudah tahu? Argh, Teme! Bagaimana bisa kau menceritakan pada Shikamaru, tapi padaku tidak? Aku juga sahabatmu dattebayo!"

"Maaf, maaf," gumam Sasuke. "Itu juga terpaksa aku memberitahunya. Sudahlah, pokoknya tanya saja padanya."

Kemudian geraman-geraman lain keluar dari mulut Naruto yang tak Sasuke hiraukan. Nampaknya beberapa jam ke depan lagi, teman-temannya akan segera tahu semuanya. Meskipun tidak sebesar dulu, tetapi ia tetap merasa khawatir apakah Naruto akan marah padanya atau tidak. Lalu, apakah ia siap jika nanti teman-temannya ikut memojokkannya seperti orang tua dan kakaknya serta teman-teman Sakura?

Hari itu berjalan dengan tidak nyaman untuk Sasuke. Setelah Yamato Sensei, Asuma Sensei ikut-ikutan penasaran terhadap wajahnya. Tak lupa bisik-bisik di kanan-kirinya ketika Sasuke berjalan di koridor bersama Naruto sepulang sekolah. Kendati luka-lukanya telah ditutupi plester, tapi ruam-ruam merah di beberapa bagian wajahnya tetap saja masih mengundang lirikkan dan bisikkan penasaran dari anak-anak yang melihatnya. Naruto di sampingnya jadi ikut dongkol melihat anak-anak lain menunjuk-nunjuk ke arah mereka, namun sayangnya dia tak bisa berbuat apapun.

"Sasuke," panggil Naruto ketika mereka tiba di parkiran.

"Hn?"

Naruto terlihat menimbang-nimbang, lalu berkata, "Kau benar-benar malas atau memang belum ingin menceritakannya padaku?"

"Hn?" Sasuke mengerutkan kening.

Naruto mendesis pelan, "Apa kau sungguh-sungguh membolehkan Shikamaru menceritakan semuanya padaku–pada yang lain juga?"

Oh, masalah itu, batin Sasuke. Bukannya tidak ingin, hanya saja Sasuke merasa belum siap menerima reaksi Naruto jika dia tahu yang sebenarnya. Naruto menyukai Sakura yang ternyata menyukainya. Pasti sangat menyakitkan dan sekarang Sasuke seolah merasakan sakitnya juga–ugh, begitukah rasanya jika mengetahui sahabatmu memiliki cinta yang bertepuk sebelah tangan?

Sialan, pantas saja Tenten dan Ino begitu sinis padaku, batinnya.

Sasuke segera disadarkan oleh guncangan ringan di pundaknya. Ia memandang Naruto yang masih menatapnya seperti tadi: harap-harap cemas bercampur penasaran.

"Kalau kau benar-benar ingin tahu," Sasuke menatapnya, "aku yang akan menceritakannya, tapi nanti. Kuharap kau mau bersabar sedikit lagi."

Kemudian Sasuke meninggalkan Naruto jauh ke dalam parkiran untuk mengambil motornya. Setelah ini ia akan ke apartemen Karin, memastikan apakah dia makan dan istirahat dengan benar. Ya, lagipula memang tak ada tujuan lain, kan? Namun baru saja Sasuke hendak memakai helm-nya, ponselnya berdering.

Obito Nii-san is calling

Sasuke segera mengangkatnya. Dalam hati bertanya-tanya; tak biasanya dia menelepon.

"Moshi-moshi, Sasuke," kata Obito di seberang.

"Ya, ada apa?"

"Etto, bisa kita bertemu?"

Sasuke berpikir sejenak sebelum akhirnya mereka sepakat. Kemudian ia segera menulis pesan untuk Karin bahwa ia akan tiba di sana satu jam lagi. Sasuke mulai menjalankan motornya menuju tempat pertemuannya, sekaligus memikirkan apa yang membuat Obito memintanya bertemu. Sejenak Sasuke berpikir apakah Obito sudah mengetahui kepergiannya dari rumah? Dan ia tahu pertanyaannya akan segera terjawab setelah ia duduk di hadapan Obito.

Laki-laki itu tersenyum–terlihat tidak tulus seperti yang biasa Sasuke saksikan. Segelas café breve dengan uap mengepul berada di hadapannya.

"Bagaimana harimu, Sasuke?" tanyanya membuka percakapan.

"Apa ada sesuatu yang penting?" sambar Sasuke.

Obito terkekeh pelan seakan baru menyadari kekhilafannya bahwa Sasuke tidak suka basa-basi yang tidak bermutu.

"Setidaknya pesanlah sesuatu terlebih dahulu," ucap Obito setelah menyelesaikan tawanya.

"Aku tidak bisa lama-lama," tolak Sasuke.

Obito menyeringai, "Hm, kau memang tak bisa dipaksa. Baiklah, aku sudah mendengarnya dari Itachi."

Bingo, tentu saja masalah itu, batin Sasuke. Meskipun ia masih belum bisa memprediksi tujuan Obito yang sebenarnya.

"Yah, aku tak bisa bilang perbuatanmu itu benar," kata Obito lagi, "tapi itu juga bukan sepenuhnya salahmu."

Sasuke semakin tak mengerti arah pembicaraan ini. Sasuke tetap diam, menunggu Obito bicara lagi.

"Baiklah, kupikir langsung saja–aku tahu kau sedang kesulitan," Obito menyesap minumannya. "Memikirkan bagaimana membiayai pengobatan pacarmu sekaligus biaya hidupmu. Aku tidak akan bersikap sama seperti orang tua dan kakakmu, itu artinya," Obito menaikkan kedua alisnya, "aku memihakmu."

"Lalu?" tanya Sasuke.

"Oh, ayolah, aku tahu kau mengerti maksudku, Sasuke," kata Obito tidak sabar.

Jadi, apa sebetulnya yang ingin dia lakukan? Sasuke bertanya-tanya dalam hati. Membicarakan kesulitan finansialnya dan berkata bahwa dia memihaknya. Apa itu maksudnya dia berniat membantu keuangannya, begitu?

Obito masih menatapnya, masih dengan kedua alis terangkat. Kemudian dia mengangguk perlahan, seolah mengetahui apa yang Sasuke pikirkan, "Ya, aku akan membantumu."

Hah? Serius? Batinnya. "Tapi–"

Kelanjutan kata-katanya kembali ditelan karena Obito segera menyela, "Aku tahu ayahmu tak memberikan uang sepeser pun, selain uang jajanmu minggu ini dan tabunganmu. Jadi, terima saja karena aku benar-benar bersimpati padamu."

Sasuke sedikit kaget sekalius heran. Namun, sesaat kemudian ia menjawab, "Maaf, Nii-san, aku tidak bisa."

"Tenang saja, aku tidak akan memberikannya secara cuma-cuma, Sasuke," tukas Obito.

"Bukan begitu," Sasuke menegaskan. "Aku tidak ingin melibatkan lebih banyak orang lagi ke dalam kekacauan yang aku buat."

Obito terdiam, seakan membenarkan ucapan Sasuke. Tetapi kemudian ia bicara, "Aku hanya ingin membantumu, itu saja."

"Aku sangat menghargainya," kata Sasuke, "tapi maaf, aku tetap tak bisa menerimanya."

-xx-

"Kau yakin lukamu akan baik-baik saja, Gaara-san?"

"Iya, aku bisa jamin besok sembuh dan bekasnya akan menghilang beberapa hari lagi. Jadi, cukup, jangan terlalu mengkhawatirkanku," jawab Gaara menegaskan.

"Aku minta maaf," ucap Sakura.

Ia memandang jemari tangannya yang tertaut di pangkuannya. Sungguh, ia merasa malu dan bersalah sekali, sampai-sampai ia tak cukup berani menatap matanya. Meskipun pada awalnya ia juga marah pada Gaara yang seolah ikut campur dan malah memperkeruh suasana, tetapi sekaligus ia berpikir kembali pada alasan Gaara melakukan hal seperti ini.

Tentu saja ini semua karenanya.

"Bukan salahmu," balas Gaara pelan. Gaara terlihat menahan dirinya untuk sesuatu, lalu kemudian ia berkata, "Bagaimana keadaanmu?"

Sakura segera mendongak, menatapnya tak percaya. Bagaimana bisa dia masih memikirkan orang lain, sementara wajahnya sendiri babak belur? Namun sedetik kemudian Sakura menjawab, "Aku sudah merasa lebih baik,"

–Tapi bohong.

Sakura hanya berusaha agar Gaara berhenti mencemaskannya, yang membuat rasa bersalah semakin mendesaknya. Gaara di hadapannya hanya memandangnya datar seakan mengetahui sandiwara Sakura tentang keadaannya saat ini–tapi Sakura enggan peduli.

"Hah, aku butuh angin segar," kata Gaara sambil menghela napas dan memalingkan muka ke luar jendela café, lalu kembali menatapnya, "mau jalan-jalan?"

Sakura langsung menyetujuinya. Mengingat pada kejadian yang telah terjadi, Sakura merasa harus menuruti apapun keinginan Gaara saat ini agar suasana hatinya menjadi lebih baik–atau sebetulnya agar suasana hatinya sendiri menjadi lebih baik.

Apapun itu, Sakura hanya sedang butuh penghiburan saat ini.

Sore itu dihabiskan dengan jalan-jalan di taman. Melihat-lihat pemandangan orang-orang berlalu-lalang yang bisa mereka jangkau. Kemudian menonton pertunjukkan break dance pinggir jalan yang menakjubkan. Gerakan-gerakan yang dilakukan sang penari benar-benar membuat Sakura bertepuk tangan takjub, begitupula halnya dengan penonton yang lain, bahkan ada di antaranya yang merekam dengan kamera ponsel. Seruan "wow" dan "wah" bersahut-sahutan disertai riuh tepuk tangan ketika sang penari mengakhiri tariannya. Penonton membubarkan diri setelah sebelumnya melemparkan uang koin maupun kertas ke arah sang penari yang masih tersenyum seraya membungkuk hormat. Sakura dan Gaara pun akhirnya berlalu dari sana.

"Sumpah, tadi itu bagus sekali!" seru Sakura yang masih belum melupakan kekagumannya akan pertunjukkan tadi.

Mereka melihat penjual es krim keliling dan segera saja Sakura langsung menghampirinya. Setelah membeli es krim rasa strawberry dan rasa cokelat untuk Gaara, mereka kembali melanjutkan jalan-jalan mereka.

"Kau percaya tidak kalau aku juga bisa melakukan yang seperti tadi?" tanya Gaara.

Sakura menaikkan alisnya, "Yang benar?"

Gaara mengangguk, "Biar kutunjukkan," dia menyodorkan es krimnya pada Sakura yang menatapnya bingung.

Kemudian Gaara mundur menjauh beberapa langkah dan mulai melakukan tarian yang mirip seperti salah satu gerakan di pertunjukkan tadi. Gaara membuat gerakan waving hands dengan indah seakan dia seorang penari profesional. Sakura terkesima.

"Sebenarnya ini bukan break dance, tapi poppin' dance," kata Gaara sambil tersenyum agak malu.

Gaara kini beralih pada gerakan lain yang lebih keren, yang tak sanggup Sakura jelaskan. Beberapa orang yang lewat mulai menaruh perhatian mereka pada gerakan Gaara. Sakura terpana, dan kini ia mulai bertepuk tangan sekaligus menahan pekikan takjubnya. Gaara melakukan gerakan-gerakannya dengan sangat bagus. Sakura sekarang benar-benar berpikir apakah dia seorang yang profesional dalam tarian?

Kemudian Gaara sampai pada gerakan tersulit yang pernah Sakura lihat sebelumnya, di mana Gaara menggerakan telapak kakinya cepat dengan bertumpu pada kekuatan jari kaki dan tumitnya. Sekarang Sakura baru menyadari bahwa semakin banyak orang yang memerhatikan tarian Gaara. Penonton ber-ooohh dan aaahh, tak jarang pula gadis-gadis seumurannya yang masih berseragam sekolah berteriak–nyaris–histeris melihat Gaara. Sakura yakin yang ada di pikiran mereka adalah cowok ganteng yang jago menari itu sungguh keren. Ya, meskipun wajahnya penuh luka, tapi Sakura akui bahwa ketampanan Gaara sama sekali tak berkurang.

Lalu Gaara mulai berganti gerakan menjadi moonwalk dance yang dipopulerkan oleh Michael Jackson, lalu berputar kembali ke tempat semula. Sakura tak bisa lebih tercengang lagi karena ia benar-benar mengakui bahwa Gaara adalah seorang penari yang baik. Kemudian tarian Gaara diakhiri dengan gerakan ala robot, yaitu memutarkan telapak kaki terlebih dahulu ke kanan, lalu dilanjutkan dengan paha dan panggul, lalu diteruskan lagi ke tubuh bagian atas, lalu terakhir kepalanya.

Tepuk tangan yang riuh rendah mengiringinya. Gaara membungkuk kecil pada para penonton dengan senyum bangga bercampur malu terpatri di wajahnya. Dia berbalik menatap Sakura dengan menggantikan senyumannya menjadi seringaian penuh kebanggaan. Sakura membalasnya dengan mengangguk beserta senyuman pengakuannya pada skill menari Gaara.

"Aku tidak tahu kau bisa menari sekeren itu, Gaara-san," kata Sakura setelah mereka berhasil membubarkan para penonton.

Gaara menjawab sehabis menjilat es krim cokelatnya, "Sejak umur sepuluh tahun aku sudah mulai belajar menari."

"Apa kau bercita-cita menjadi penari profesional?"

"Tidak juga."

"Lalu?"

"Hanya hobi saja," Gaara tersenyum. "Karena pada akhirnya aku akan tetap jadi pengusaha."

"Aaahh," Sakura mengerang, tersadar akan sesuatu, "menjadi penerus ayahmu, kan?"

Gaara mengangguk, "Itu karena Kankuro yang lebih memilih menjadi tukang kayu ketimbang pengusaha sehingga aku yang harus menanggung."

"Tukang kayu?" dahi Sakura mengerut. Tukang kayu apa maksudnya? Tukang kayu sungguhan? Masa orang macam Kankuro mau sih hidup susah dengan menjadi tukang kayu begitu? Sakura bertanya-tanya dalam hati.

Gaara terkekeh pelan, "Maksudku pemahat kayu. Yah, senimanlah bahasa kerennya."

"Ahahaha, begitu," Sakura tertawa setelah menyadarinya. "Aku kira tukang kayu beneran."

Sejenak Sakura hendak bertanya bagaimana dengan Temari yang merupakan anak sulung. Namun ia segera teringat bahwa Temari tidak terlalu menyukai menjadi wanita karir. Mimpinya adalah menjadi ibu rumah tangga yang baik, tapi bukan berarti ia tidak mau bekerja di luar, hanya saja Temari lebih mengutamakan perannya di rumah sebagai istri dan ibu.

"Bagaimana denganmu, Sakura-san?" tanya Gaara kemudian.

"Aku? Aku sih selalu berpikir untuk jadi dokter sejak kecil," jawabnya tersenyum. "Tapi kadang aku bingung karena orang tuaku memiliki restoran yang cukup besar, ditambah lagi aku adalah anak satu-satunya di keluargaku. Kalau nanti aku jadi dokter, siapa yang akan mengurus restoran nanti?"

"Hm, benar juga," kata Gaara. "Ya sudah, kalau begitu, cari saja laki-laki biasa yang bisa mengurus restoranmu, lalu jadikan suami. Hahahaha!"

Sakura segera menoleh, menatapnya tak percaya, "Laki-laki biasa seperti apa maksudmu? Yang tidak tampan, tidak pintar, dan tidak berpendidikan maksudmu?"

"Yah, kalau definisimu tentang pria biasa seperti itu, apa boleh buat?" balas Gaara dengan pandangan jahil.

Sakura meninju bahu Gaara pelan, "Enak saja. Aku tidak akan mau dengan cowok macam begitu."

"Akh, pukulanmu keras juga, ya," Gaara meringis pelan, memegangi bahunya.

"Hah? Masa sih? Aku menonjoknya pelan kok," Sakura segera memijat bahu yang ia tinju tadi dengan pandangan bersalah.

"Hihihi, aku bercanda!" ujar Gaara seraya membuat isyaratdamai dengan jarinya.

Sakura segera melepaskan tangannya dari bahu Gaara sambil merepet pelan, "Bagaimana jika aku memukulnya lagi dengan seluruh tenagaku?"

"Ugh, aku akan benar-benar masuk rumah sakit," Gaara berlagak kesakitan. Sakura mencibir lagi.

Setelah es krim habis, Gaara mengajaknya duduk di atas rumput taman. Katanya dia lelah berkeliling, apalagi setelah sebelumnya menari. Langit kini semakin teduh karena waktu telah menunjukkan pukul lima. Taman yang sebelumnya penuh dengan anak-anak kini telah menyepi, didominasi oleh remaja-dewasa.

"Langit dan udaranya lebih adem," kata Gaara. Kedua kakinya yang panjang diselonjorkan, badannya bertumpu pada kedua tangan di belakangnya.

Sakura enggan menjawab. Ia melipat kakinya, memeluk lututnya dengan kepala menengadah ke atas, memandang langit yang saat siang tidak sanggup dipandangnya.

"Kita seperti sedang kencan," kata-kata itu seketika membuat Sakura terlonjak. Gaara kini menatapnya, "Apa kau keberatan jika aku menganggap ini adalah sebuah kencan?"

Apa? Sakura seakan tak mampu berkata-kata. Gaara serius? Rasa tak nyaman itu naik lagi ke permukaan. Apa hal itu tak terlalu mengejutkan di situasi seperti ini? Bagaimana jika Gaara benar-benar menganggapnya begitu? Perasaan tak enak itu kini benar-benar menyeruak keluar.

Pandangan Gaara berubah. Laki-laki itu kini menatapnya penuh sesal, nampaknya dia mengetahui apa yang Sakura pikirkan–atau setidaknya menyadari bahwa pembicaraan ini sangatlah tidak tepat.

"Maaf–lupakan saja kata-kataku tadi," kata Gaara meralat.

Sakura terdiam. Bersyukur karena Gaara benar-benar khilaf atas ucapannya.

"Bagaimana kalau kita pulang sekarang?" usul Sakura.

Suasana semakin canggung dan Sakura benar-benar benci berada di dalamnya. Ia tahu sikapnya yang minta pulang malah semakin memperburuk suasana–lebih tepatnya membuat seolah-olah Gaara yang salah di sini. Namun sungguh, Sakura tak berpikir seperti itu. Ia mengakui semua yang terjadi hari ini adalah karena dirinya. Karena masalahnya dengan Sasuke. Dan Sakura tidak mau–bahkan tak ada niat sedikitpun–melibatkan Gaara lebih jauh.

Berusaha memperbaiki suasana mereka saat itu, akhirnya Sakura mengizinkan Gaara mengantarnya sampai depan rumah (yang bahkan Sakura sendiri tak ingat bahwa ini adalah rumah Sasuke). Namun Sakura harus benar-benar menjelaskannya pada Gaara. Gaara sangat membantunya hari ini, Sakura sangat bersyukur karena ajakan hang out Gaara membuatnya melupakan masalahnya–tentu saja Sasuke termasuk–sejenak. Ia berharap setelah hari ini, ia bisa membereskan masalahnya dengan Sasuke sampai tuntas tanpa perlu melibatkan Gaara lagi. Sudah cukup Gaara babak belur karena membelanya.

Tapi, memangnya apa lagi yang harus dibereskan, Sakura sayang? Bukankah semuanya sudah selesai? Sasuke sudah membuangmu, apa lagi yang perlu dituntaskan? Pikirnya sambil tertawa miris dalam hati.

"Aku harap kau mendukung keputusanku, Gaara-san," kata Sakura mengakhiri penjelasannya.

"Kau tahu," kata Gaara setelah terdiam beberapa saat, "aku hanya ingin menjadi orang pertama yang kau cari bila kau dalam masalah. Kau juga tahu kalau aku tak akan menyerah begitu saja, apalagi setelah aku melihat dengan jelas bagaimana Uchiha itu melukaimu."

Sakura terdiam. Ia benar-benar tak sanggup berucap.

"Jadi, bagaimana bisa aku berdiam diri, Sakura-san? Biarkan aku membantumu melewatinya. Kau akan tahu kalau aku masih jauh lebih bisa diandalkan dibanding Uchiha Sasuke."

Sungguh, Sakura enggan melanjutkan ini. Ia tidak bisa, ia masih belum ingin menyerah untuk mendapatkan Sasuke kembali ke sisinya, tapi–

"Ya, aku mencintainya. Aku tidak pernah mencintaimu."

Ya Tuhan, mengapa terasa sakit sekali? Sakura memejamkan matanya dalam-dalam, mati-matian menahan agar air matanya tidak menetes. Ia tidak mau menangis di depan orang lain lagi. Sakura tahu ia tak sekuat itu, tapi ia tetap benci terlihat lemah. Dan ia sudah cukup mengutuki kelemahannya setiap berhadapan dengan Sasuke.

Sakura membuka mata dan menarik napas dalam sebelum berkata, "Aku tak pernah melarangmu jika kau memang belum mau menyerah, tapi aku hanya memintamu untuk tidak ikut campur dalam masalahku dan Sasuke seperti kejadian tadi siang. Kumohon."

Sakura pasti terlihat jahat sekali sekarang, tapi ia tak peduli. Sakura masih bisa melihat dengan jelas gelagat penolakan Gaara, tetapi setelah beberapa saat berpikir, Gaara mengangguk singkat.

"Aku menghargai keputusanmu," kata Gaara, "tapi jangan lagi sembunyikan masalahmu karena aku pasti akan segera mengetahuinya, Sakura-san."

"Terima kasih," ujar Sakura sambil menunduk.

Kemudian yang ia lihat kini hanyalah punggung berbalut kemeja sekolah yang menjauhi gerbang tempatnya berdiri. Memerhatikannya dengan pandangan hampa sampai punggung itu menghilang dari jangkauan penglihatannya, lalu ia masuk ke rumah dengan langkah gontai.

-xx-

Insiden perkelahian Sasuke dan Gaara telah berhari-hari berlalu. Hari-hari itu pula Ibunya sering meneleponnya, menanyakan keadaannya sekaligus menyuruhnya pulang ke rumah. Kemudian Naruto juga mulai kehilangan kesabaran akan cerita Sasuke yang telah lama dinantikannya. Diikuti dengan Obito yang masih setia menawarkan bantuannya. Lalu dimulainya kemoterapi Karin yang terjadwal setiap dua minggu sekali. Terakhir, perang dingin telah terjadi antara dirinya dengan Sakura.

Hari-hari itu Sasuke lalui dengan sekolah, merawat Karin, belajar, tidur di rumah Shikamaru, sekolah, merawat Karin, belajar, tidur di rumah Shikamaru, dan terus begitu hingga tak terhitung. Saking tak terhitung, Karin dan orang tua Shikamaru mulai curiga.

"Aku sudah memerhatikan sejak lama," kata Karin ketika Sasuke sedang memeriksa infusnya, "kita sangat-amat-sering bertemu, Sasuke-kun."

Sasuke menoleh. Ia begitu mengerti maksud pembicaraan Karin dan ia langsung teringat perkataan Shikamaru tempo hari.

"Ibuku mulai bertanya-tanya kenapa kau menginap terus di rumahku," katanya sambil mengorek kupingnya dengan jari kelingking.

"Lalu kau jawab apa?"

"Aku bilang saja kami punya proyek besar untuk nilai kenaikan kelas nanti dan Ibuku tidak bertanya lagi," jawabnya enteng.

Itulah mengapa Sasuke sangat mengandalkannya. Namun untuk Karin kali ini, Sasuke tak tahu harus menjawab apa sehingga, "Apa maksudmu? Tentu saja kita sering bertemu."

Karin mengerjap beberapa kali, "Maksudku–kau sering sekali mengunjungku, baik di rumah ataupun di rumah sakit."

Sasuke masih mencoba untuk mengelak, "Lalu di mana salahnya?"

Karin memutar bola matanya, "Aku tahu kau tidak pikun, Sasuke-kun. Bahkan saat liburan musim panas saja kita hanya bertemu seminggu dua kali. Jadi, bagaimana bisa sekarang kau setiap hari menemuiku? Sampai malam pula."

"Karena kau sedang sakit," jawab Sasuke, "dan aku juga tahu kau tidak pikun, ingat kalau kau tinggal sendirian?"

"Dulu kau tidak pernah terlalu mengkhawatirkan tentang itu," sanggah Karin. "Dan, ya, aku sakit, tapi aku tidak suka jika kau sampai mengabaikan keluargamu hanya untuk menemaniku. Aku bisa menjaga diriku sendiri selama ini."

Sasuke mulai tidak sabar karena hampir kehilangan kata-kata. Ia duduk di kursi sebelah ranjang pasien Karin dan berkata, "Ini semua supaya kau cepat sembuh sehingga aku bisa cepat menagih janjimu untuk mendampingiku sebagai wanita yang sehat. Kau ingat?"

Seharusnya Sasuke tahu bahwa ia tak akan mudah dikalahkan dalam berargumen. Ia menyeringai bangga melihat Karin yang hanya bisa mingkem. Kemudian ia terpikir lagi sampai kapan ia begini. Mau sampai kapan ia menumpang tidur di rumah sahabatnya? Sasuke bahkan belum memikirkan tentang kerja sambilan, sedangkan uangnya sudah semakin menipis.

"Ji-san sedang sibuk tidak, ya?" gumaman Karin terdengar ke telinganya.

"Kenapa?" tanya Sasuke.

Karin terlihat ragu, "Mmm, saldoku tinggal sedikit. Aku bingung bagaimana membayar terapiku lagi nanti."

Oh, masalah uang lagi. Sasuke membatin sambil mendesah.

"Apa dia tidak pernah mengunjungimu atau meneleponmu?" tanya Sasuke. Dalam otaknya berpikir orang macam apa yang mengadopsi tetapi mengabaikannya, terlebih anak adopsinya dalam keadaan sakit?

"Terakhir bertemu dengannya sebulan yang lalu dan tiga hari yang lalu dia meneleponku, tapi cuma menanyakan keadaanku sekaligus memberitahu kalau Ji-san akan pergi lagi ke New Jersey untuk beberapa bulan," jawab Karin sendu.

Lihat? Paman macam apa dia?

"Nanti saja deh, di jam-jam segini pasti dia sedang sibuk," kata Karin meletakkan kembali ponselnya di nakas.

"Aku selalu penasaran dengan paman angkatmu," kata Sasuke. "Anehnya aku tidak pernah menemukan satu pun fotonya di apartemenmu, Karin."

Tiba-tiba wajah pucat Karin menjadi bertambah pias, "Sasuke-kun menggeledah rumahku, ya?"

Seketika Sasuke merasa seperti tersangka, "Kau membuatku terdengar seperti maling."

"Jawab aku, Sasuke-kun, kau tidak menggeledah kamarku, kan?" tanya Karin tak sabar bercampur ... ketakutan?

Memangnya apa yang dia takutkan? Ada apa di rumahnya? Ada apa di kamarnya?

"Memangnya ada apa di kamarmu?" tanya Sasuke heran. "Lagipula aku bukan orang seperti itu. Kau tentu mengetahuinya."

Karin kelihatan sangat lega, seperti Naruto saat mengetahui kalau Tsunade Sensei absen mengajar. Apa sebegitu takutnya Sasuke menggeledah kamarnya? Dan ini semakin membuat Sasuke penasaran tentang sesuatu yang ada di kamar Karin.

"Memangnya ada apa sih di kamarmu?" tanyanya sekali lagi.

"Bukan apa-apa, Sasuke-kun–tak perlu dipikirkan," jawab Karin cepat-cepat, namun tegas.

Dan Sasuke segera tahu kalau ia harus menutup mulutnya dan berhenti bertanya.

"Karena besok kau pulang, kupikir kau juga sudah bisa masuk sekolah," kata Sasuke setelah beberapa lama hening di antara mereka.

"Ya," jawab Karin riang, nampaknya berusaha mencairkan suasana. "Besok ada pelajaran seni dan aku harus cepat-cepat menyelesaikan tembikarku supaya tidak ketinggalan dari yang lain."

"Hn," balas Sasuke.

"Kalau tembikarmu sudah sampai mana, Sasuke-kun?" tanya Karin.

"Baru selesai proses pembakaran," jawab Sasuke.

Karin tertegun, "Wah, sudah sejauh itu, ya. Milikku bahkan bentuknya masih abstrak, huh."

"Aku bisa membantumu," tawar Sasuke.

"Tidak mau," sergah Karin. "Aku mau buat sendiri dari awal sampai akhir. Lagipula aku sudah punya desain sendiri kok, tenang saja."

Sasuke tersenyum miring, "Baguslah, kalau begitu."

Sore itu Sasuke habiskan dengan mendengarkan ocehan Karin tentang apa saja yang bisa ia ceritakan. Hingga Sasuke menyelesaikan makan malamnya di rumah sakit, ia akhirnya pamit. Dan kembali menumpang tidur di kamar Shikamaru. Sebetulnya saat-saat inilah yang paling Sasuke benci. Kesendiriannya membuatnya selalu memikirkan banyak hal.

Tak terkecuali Sakura.

Di tengah perang dinginnya, entah bagaimana pikiran Sasuke tentang Sakura malah terjadi lebih sering. Semakin lama acara-saling-menghindar yang mereka lakukan malah menambah intensitas pemikirannya tentang Sakura. Sesungguhnya kalau ditilik lebih dalam, Sakuralah yang menghindarinya karena Sasuke tak pernah berusaha menghindari Sakura. Ia melakukan aktivitasnya seperti biasa, namun sekalipun (sejak perkelahiannya dengan Gaara) Sasuke tak pernah melihat gadis itu lagi, selain di kelas.

Esok harinya pun masih sama. Sakura masih memperlakukannya seperti lalat. Menganggapnya tidak ada dan akan cepat-cepat menjauh jika berada di dekatnya, tanpa menatapnya sama sekali. Seperti sekarang ketika Sasuke mewakili kelompoknya untuk bertanya pada diskusi tentang Perang Dunia I dengan mata elang Asuma Sensei yang mengawasi.

Sakura yang bertugas menjadi penyaji kelihatan tidak sabar ketika menjawab pertanyaan Sasuke. Berusaha untuk secepatnya menyelesaikan jawabannya sekaligus menjelaskan secara rinci dan menyeluruh sehingga Sasuke tak memiliki celah untuk menginterupsi ataupun menyanggah.

Cih, apa-apaan dia? Sasuke membatin dengan tidak senang.

Kenapa kau harus merasa tidak senang? Bukankah bagus karena kau tak perlu menghadapi Sakura beserta air matanya lagi? Hah, bukan begitu, Sasuke?

Tapi, kenapa Sasuke tetap merasa tidak senang?

Entahlah. Mungkin karena ini sedang dalam suasana belajar sehingga terkesan tidak etis jika gadis itu tetap bersikap defensif terhadapnya. Bahasa profesionalnya mungkin 'tidak pantas mencampurkan urusan pribadi ke dalam urusan pekerjaan' (dalam hal ini belajar).

Ya, mungkin seperti itu.

Kuharap seperti itu.

Kemudian waktu istirahat tiba, Sakura masih berlaku sama. Gadis itu langsung keluar tepat saat bel berbunyi seraya menyeret Tenten bersamanya yang nampaknya kesusahan berjalan. Dan saat itu juga Sasuke berusaha lebih keras dari sebelumnya untuk tidak mengacuhkannya.

Hari ini adalah hari pertama Karin masuk sekolah sejak Sasuke menemukannya pingsan di dalam apartemen. Maka dari itu, Sasuke hanya bisa mengawasinya dari jauh, sementara Karin bercengkrama dengan teman-teman sekelasnya yang pasti sangat dirindukannya.

"Tak biasanya kau memerhatikan Karin terus ketika kita sedang berkumpul," kata Lee tiba-tiba. "Ah, ya," Lee kelihatan tersadar akan sesuatu, "aku serasa baru melihatnya lagi sekarang, apalagi dengan gaya rambutnya itu."

"Karin-san memang baru masuk sekolah sekarang," kata Sai. "Aku tidak tahu dia sakit apa sampai tidak masuk berminggu-minggu."

Sasuke langsung melirik Sai. Ia mulai waspada dengan pembicaraan ini.

"Jadi, sudah selama itu dia tak masuk?" Lee terkejut. "Hmm, apa teman-teman sekelasmu yang lain tidak ada yang tahu juga alasan Karin tidak masuk? Suigetsu misalnya?"

Sai menggeleng, "Tidak ada. Teman dekatnya pun tidak ada yang tahu. Selain itu, wali kelasku juga tidak pernah membahas tentang itu."

Seketika semua yang berbagi meja dengan Sasuke memasang tampang berpikir, kecuali Chouji yang masih sibuk makan, Sai yang kini berkutat kembali dengan buku gambarnya, dan Shikamaru yang nampak pulas.

"Nah, Sasuke," Kiba bersuara, "aku meragukan kalau kau juga tidak tahu tentang pacarmu sendiri. Jadi, apa yang terjadi dengannya sampai tidak masuk selama itu?"

"Itu ..." Sasuke menjawab bersamaan dengan otaknya yang berpikir keras, "... sudah jelas itu rahasia."

"Eh?" Kiba menaikkan sebelah alisnya. "Apa-apaan itu?"

"Kau tidak dengar kata-kata Sai tadi? Wali kelasnya yang tidak pernah membahas hal itu berarti sudah pasti kalau Karin tidak mau semua orang tahu tentang apa yang terjadi pada dirinya."

"Jadi, kau tahu atau tidak sebenarnya?" tanya Lee tidak sabar.

"Tahu," jawab Sasuke. "Tapi aku tidak boleh kasih tahu kalian atau siapapun. Jadi, jangan tanya-tanya lagi."

Kiba mencibir, "Terserahmu sajalah."

"Jangan lupa pulang sekolah kumpul di ruang olahraga, ya!"

Sasuke menoleh mendengar seruan Naruto tak jauh di belakangnya. Rahangnya mengeras segera setelah mengetahui lawan bicara Naruto. Sabaku Gaara yang bahunya kini ditepuk oleh Naruto.

"Ya sudah, aku ke sana, ya!" Naruto menunjuk ke arah meja Sasuke, dan begitu Gaara menangkap tatapan Sasuke, laki-laki itu balik memlemparkan pandangan kebencian yang sama pada Sasuke.

Pandangan benci yang tak dapat diketahui mana yang lebih besar antara satu sama lain.

Naruto nampaknya menyadari bahwa dia telah melemparkan bara api ke dalam serbuk kayu. Dia segera mendorong Gaara menjauh dari pandangan Sasuke, lalu cepat-cepat menghampirinya di meja.

Naruto mengaduh pelan sambil mendorong kepala Sasuke agar beralih pandangan.

"Hai, semua!" sapa Naruto pada yang lain.

"Hai," balas Kiba, "dari mana saja kau?"

"Aku habis dari..."

Sasuke benar-benar tak bisa menahan dirinya agar tidak kembali menatap Sabaku-sialan-Gaara. Pasalnya kini dia tengah menarik Sakura keluar dari kantin sekolah. Apalagi cecurut itu masih sempat-sempatnya menatap tajam ke arahnya. Sasuke tahu Sakura melihatnya menatap mereka, tapi dia memalingkan wajahnya–pura-pura tidak melihat.

Sasuke hampir saja menjatuhkan rahangnya sebelum tersadar dan akhirnya menggigit rahangnya keras-keras hingga giginya bergemeletuk.

Cih, apa-apaan dia? Belum puas dia berlagak sok pahlawan di depan Sakura? Dan sekarang dia seenaknya menarik-narik Sakura seakan gadis itu miliknya. Brengsek!

Sasuke merasa bahwa sedetik lagi ia akan bangkit dari duduknya dan mengejar mereka, tetapi–

"Oi, Sasuke Teme!"

–Sasuke terkejut karena Naruto berteriak tepat di telinga kirinya.

"Argh! Bisa tidak sih tidak usah berteriak di telingaku?" sembur Sasuke sambil mengusap-usap telinganya.

"Itu tidak penting!" seru Naruto tidak sabar. "Kau-Sasuke, sepertinya yang kau katakan itu benar!"

Sasuke masih memasang tampang bete-nya, "Apa?"

"Itu-itu-tentang Gaara yang kaukira menyukai Sakura-chan sepertinya benar!" tukas Naruto bertambah tidak sabar.

Memang benar, bodoh! Sasuke membatin kesal.

"Ya ampun! Sainganku bertambah!" Naruto meratap.

"Apa? Jadi, kau masih mengincarnya sampai sekarang?" tanya Kiba tak percaya. "Terus Hinata bagaimana?"

Naruto menjawab (masih dengan tampang melasnya), "Bagaimana apanya? Aku memang tidak ada apa-apa dengan dia. Huwaaa! Teme, bagaimana ini?" dan kembali meratap sekaligus merengek pada Sasuke yang jadi tambah ilfeel.

Sial, kau tidak membantuku sama sekali, Dobe! Sasuke membatin dengan gusar.

"Lepaskan aku, Dobe," Sasuke mendesis berbahaya. Sungguh, ia tak bisa mengendalikan suaranya karena amarah yang meletup-letup di dadanya.

Kemudian Sasuke bangkit. Ia segera menghampiri meja Karin dan langsung menariknya pergi dari sana. Ia tak menghiraukan pertanyaan-pertanyaan Karin dan terus menariknya sampai ke tujuan yang tak ia sendiri duga. Atap sekolah.

"Sasuke-kun, apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Karin setelah mereka sampai.

Sasuke tak menjawab. Karin meraih bahunya, lalu mengusapnya perlahan. Nampaknya dia tahu kalau Sasuke sedang marah. Karin terus melakukannya sampai beberapa lama–sampai Sasuke merasa sedikit lebih tenang.

Karin menghela napas, "Apa yang membuatmu marah?"

Sasuke bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin ia katakan yang alasan yang sebenarnya, sedangkan ia sendiri pun bingung dengan apa yang sebetulnya membuatnya marah.

Sabaku Gaara-kah?

Atau Sakura yang pergi bersamanya?

"Kalau tidak mau bilang juga tidak apa-apa," kata Karin tersenyum. "Tapi, sekarang marahmu sudah reda, kan?"

"Aku sudah lebih baik. Terima kasih," jawab Sasuke, mengambil tangan Karin yang mengusapnya, lalu mengenggamnya lembut.

-xx-

Sakura memandang pemandangan kota di bawah sana. Angin berhembus menyejukkan. Di saat-saat seperti ini membuatnya kembali teringat Sasuke. Waktu yang dulu mereka habiskan bersama di tempat ini. Sakura bertanya-tanya apakah semua itu bisa kembali terulang suatu saat, dan secepatnya ia membuang pertanyaan itu jauh-jauh dari benaknya.

Sakura tidak seharusnya berharap seperti itu.

Kemudian ia baru ingat bahwa ada orang lain di sampingnya yang seharusnya lebih pantas ia pikirkan. Sakura mulai membuka percakapan, "Ada perlu apa sampai membawaku ke sini?"

"Aku senang berada di sini," jawab Gaara.

"Hanya itu?" tanya Sakura, sedikit berharap bahwa Gaara memiliki topik pembicaraan.

"Ah," Gaara tampak tersadar, "sore ini mau pergi bersamaku?"

"Ke mana?"

"Ada festival makanan di Tokyo," jawab Gaara. "Aku tahu makanmu cukup banyak, makanya kupikir kau akan senang jika kuajak ke sana."

Tawaran yang cukup menggiurkan. Sakura segera berpikir apa yang akan dilakukannya sepulang sekolah dan tetiba ia langsung teringat bahwa hari ini orang tuanya pulang ke Jepang.

"Sepertinya aku tidak bisa ikut," kata Sakura penuh penyesalan. "Aku akan menjemput orang tuaku di bandara sore ini, maaf."

Gaara nampak maklum, "Kalau begitu, mungkin besok atau lusa kita bisa pergi karena festival itu berlangsung selama tiga hari. Itu pun kalau kau ada waktu."

Sakura tersenyum, "Ya, akan kuusahakan."

"Sepertinya bel masuk sudah berbunyi. Ayo kembali ke kelas," kata Gaara.

Sakura mengangguk dan berjalan terlebih dahulu. Ia berjalan pelan, sementara Gaara menyejajarkan dirinya di samping Sakura. Namun hal yang paling tidak Sakura inginkan terjadi. Di hadapannya, laki-laki rambut hitam kebiruan bersama gadis rambut merah.

Sasuke dan Karin.

Sakura menelan ludah, berusaha mengalihkan tatapannya dari mata hitam itu. Tapi–sungguh–sialnya, ia terlambat. Seharusnya ia segera menyadari bahwa akan sulit melepaskan diri dari tatapan itu. Sakura tahu ia ceroboh.

Sasuke, yang sebelumnya agak terkejut, masih menatapnya. Semakin lama, Sakura menyadari, semakin dalam tatapan itu. Seakan berusaha menerobos pikirannya dan memporak-porandakannya. Sial, ini tak bisa dibiarkan, batin Sakura.

Kini Sakura merasakan genggaman Gaara–yang entah kapan terjadinya–semakin menguat. Dan Sakura tak tahu harus bersyukur atau tidak ketika Gaara segera menarik dirinya bersamanya menjauhi Sasuke. Sakura masih tetap diam, mengikuti ke mana Gaara menariknya. Perasaannya masih campur aduk, berantakan.

"Kau baik-baik saja, Sakura-san?" tanya Gaara.

Sakura berusaha menenangkan dirinya sendiri saat itu, "A-aku tidak apa-apa. Lebih baik aku kembali ke kelas. Sampai jumpa."

Di perjalanan itu, Sakura berkali-kali menarik dan menghela napasnya kuat. Bersamaan pula dengan ingatan percakapan antara dirinya dan orang tuanya di telepon kemarin malam.

"Besok jangan lupa jemput kami di bandara jam empat sore. Ah, aku sangat merindukanmu, Saku-chan!" suara riang Ibunya terdengar.

"Aku juga, Kaa-san, sangat-sangat-sangat merindukan kalian! Aku tidak sabar untuk besok, Kaa-san!"

"Aku juga sama tidak sabarnya sepertimu, Saku-chan!" kata Ibunya sambil tertawa. "Oh ya, kau dan Sasuke baik-baik saja, kan? Ah, aku jadi kangen juga dengan menantuku itu, hahaha!"

Senyum Sakura memudar. Ya Tuhan, aku harus bagaimana? Sakura membatin pilu.

"A-aku dan Sasuke-kun baik-baik saja kok, tak perlu mencemaskan kami," jawab Sakura riang. Sakura tak bisa mengambil pilihan mengecewakan orang tuanya. Setidaknya untuk saat ini.

"Ah, baguslah," ucap Ibunya. "Aku yakin keluarga menantuku memperlakukanmu dengan baik, hihihi!"

"Ya, Kaa-san benar sekali," jawab Sakura masih dengan senyumnya. "Mereka sangat baik kepadaku, aku jadi betah tinggal di sana."

"Bagus sekali, kalau begitu!" timpal Ibunya senang. "Jadi, kalau kalian sudah lulus SMA nanti, aku akan sangat tenang jika kau kutinggalkan menetap di rumah mertuamu."

Sakura hanya bisa tersenyum miris.

"Ah, ya, aku bawa beberapa oleh-oleh untukmu, Sasuke, dan keluarganya," kata Ibunya lagi. Sakura bisa mendengar suara 'gresek-gresek' di sana. Mungkin suara plastik. "Jadi, usahakan kau bersama Sasuke saat menjemput kami nanti, ya."

"Apa?" Sakura kaget.

"Loh, kenapa? Ada yang salah kalau kau datang bersama suamimu, hm?" tanya Ibunya seakan menyadari keanehan Sakura. "Orang-orang paling hanya menganggap kalian sepasang kekasih saja. Ya, kalau kalian bertemu teman sekolahmu, bilang saja kalian sedang menjemput seseorang secara bersamaan. Beres, kan?"

Bukan itu masalahnya! Sakura membatin frustrasi.

"Y-ya, akan kuusahakan datang bersama Sasuke-kun," jawab Sakura akhirnya.

Sayangnya, sampai pulang sekolah tiba, Sakura belum memiliki rencana apapun untuk ini. Ia tidak yakin akan membawa Sasuke ke bandara, sedangkan berada di hadapannya saja ia tak sanggup. Sakura bingung.

"Tenten-chan, apa yang harus kulakukan?" Sakura mencoba meminta pendapat Tenten.

"Ini terlalu rumit, Sakura-chan," kata Tenten yang kelihatan sama putus asanya. "Aku tidak berani macam-macam kalau sudah berhubungan dengan orang tua."

Sakura mengerang, "Lalu aku harus bagaimana? Aku tidak mau membuat orang tuaku sedih di hari kepulangan mereka."

"Aku tahu itu, aku tahu, tapi ..." Tenten nampak berpikir keras. "Sepertinya untuk sekarang kau harus benar-benar membawa Sasuke, Sakura-chan."

"Tapi bagaimana caranya?"

"Aku tahu ini pasti sangat menyebalkan untukmu, tapi ini satu-satunya cara yang bisa dilakukan," kata Tenten. "Kau harus bisa mengesampingkan egomu untuk sementara ini."

Sakura tahu ia tak ada pilihan lain. Maka dari itu, di sinilah Sakura. Di ujung tangga, berdiri di hadapan Sasuke (setelah usaha yang cukup keras) untuk membicarakan masalah ini.

"Orang tuaku pulang hari ini," kata Sakura. "Mereka tidak tahu apapun sehingga mereka masih menganggap kita pasangan."

Sakura memberi jeda beberepa detik. Ia sedikit bingung bagaimana menjelaskannya.

"Aku tahu kau tidak suka ini–begitupun denganku, tapi aku memintamu untuk ..." Sakura mengepalkan telapak tangannya, "... untuk bersandiwara sampai waktu yang tepat bagi kita memberitahu mereka yang sebenarnya."

Sakura tidak tahu bagaimana ekspresi Sasuke sekarang. Sedari awal, bagian tubuh Sasuke yang ia lihat hanyalah badan tegapnya. Ia tak ingin mengambil risiko lagi dengan memandang wajah–apalagi matanya.

"Aku mengerti," Sasuke menjawab. "Aku yang akan membereskan semuanya."

Sakura menggigit bibirnya gelisah. Ia sendiri sebetulnya takut sandiwara ini akan membawa kekacauan baru dalam hidupnya.