Chapter 14
Seekor kupu-kupu hinggap di dahan yang disaput salju lalu terbang lagi. Sayap biru elektriknya mengepak-ngepak indah dan James ingin sekali menangkapnya. Ia memacu Nimbusnya untuk mengejar kupu-kupu itu. Tapi tiba-tiba salju turun bersama badai dan si kupu-kupu berubah menjadi Snitch.
James mempercepat laju Nimbusnya menembus badai ketika si Snitch memutari menara Griffindor. Dan ia agak terbantu Karena si Snitch melawan arah angin hingga ia tidak bisa terbang secepat biasanya.
Walau terbangnya agak terombang-ambing, James berhasil mendekati benda keemasan itu. Tangannya terjulur dan menggapai-gapai ketika ia merasa ada tangan lain yang menyentuhnya.
James tersentak saat membuka mata dan semuanya tampak buram. Ada yang melepas kacamatanya. Dia meraba-raba sekelilingnya dan menemukan benda itu di sebelah bantal.
Setelah semuanya tampak fokus kembali, ia baru sadar sedang berada di rumah sakit di Hogwarts. Tempat itu ramai sekali dengan para pasien, guru dan orang-orang yang hilir mudik. Fred dan Teddy terbaring di tempat tidur di kiri dan kanannya. Dan Ia melihat Ibunya duduk disisi lain tempat tidurnya memberikan senyuman menentramkan.
"Madam Pomfrey bilang Freddy dan Teddy akan baik-baik saja." Katanya sambil masih tersenyum ketika wajah James menyiratkan kekhawatiran. "Mereka sudah bangun tadi, tapi Madam Pompfrey memberikan ramuan penidur lagi."
"Mum, aku minta ma'af." Kata James buru-buru. "Aku tidak bermaksud melibatkan mereka semua dalam bahaya. Aku….."
James merasa ada sesuatu yang menggumpal di dalam dadanya. Disudut matanya ia melihat korban-korban lain yang berbaring di tempat tidur rumah sakit, mungkin mereka adalah para Auror yang ikut terlibat dalam pertempuran tadi. Dan kalau dilihat dari kualitas cahaya disekitar mereka, mungkin saat ini hari sudah subuh.
"Kau tidak bersalah sayang." Kata Ibunya sambil membelai rambutnya yang hitam berantakan. "Justru Ayahmu dan teman-temannya tidak akan berhasil membekuk para penjahat itu jika mereka tidak menerima pesanmu tadi."
"Yeah, dan sayang kau tidak bilang ingin menghajar Dolphine kepada kami James." Kata Albus yang kepalanya tiba-tiba menyembul dari balik bahu ibunya. Scorpius mengikutinya dan duduk di sisi tempat tidur Teddy yang masih terlelap. Sedangkan Lily langsung menubruk ibunya dan duduk di pangkuannya. Wajah mereka tampak sangat lelah dan mengantuk.
"Lebih baik kau berharap tidak terlibat dalam…"
"Tapi Mum, Mum akan berkata lain jika melihat apa yang mereka lakukan pada kami tadi sore." Bantah Albus dan James mendengus tertawa.
"Diam James." Tambah Albus.
"Terus terang aku akan sangat penasaran untuk mengetahui bagaimana mereka bisa menyihir kalian jika keadaanya tak seserius tadi." Kata James.
"Mereka menjadikan Hugo sebagai umpan dan kami diserang dari belakang tau." Kata Albus agak panas.
"Ooya, kemana Hugo dan Rossie?" Kata James sambil melirik nakal ke arah Scorpius yang masih diam saja. "Aku tak melihat mereka ikut mengerubungi tempat tidur pasienku dari tadi?"
"Mereka…" Kata Scorpius ragu tapi disela oleh Ginny.
"Paman Ron dan Bibi Hermione berpendapat bahwa lebih baik Hugo mendapat perawatan yang lebih serius di St. Muggo. Madam Pompfrey bilang kalau Hugo kecanduan. Dan Rose berkeras untuk menemaninya."
James baru ingin mengatakan sesuatu tentang Hugo ketika ada seseorang menyeruak ketempat tidur mereka.
"Oh, kau disini Ginny?" kata Profesor McGonagall. "Bagaimana Keadaan James?"
"Dia baik-baik saja Minerva." Jawab Ginny. "Dia sudah bangun, lihat."
"Oh, sukurlah James." Kata Profesor McGonagall lega. "Kami menerima pesan dari ayahmu untuk menyiagakan para guru karena para Auror sedang mengadakan penyergapan di Shrieking Shack. Dan dia mengatakan mungkin kau dan beberapa murid lain akan terlibat didalam kehebohan itu."
"Saya minta ma'af Profesor karena tidak memberitahu informasi ini pada para guru." Kata James merasa bersalah dan bersiap-siap menerima apapun yang akan dikatakan kepala sekolahnya. Tapi Profesor McGonagall mengalihkan pandangannya kearah tubuh Teddy.
"Aku tak menyangka Teddy Lupin sudah bergabung dengan para Auror sekarang." Katanya. "Bagaimana ia bisa terluka? Setauku dia adalah salah satu penyihir paling berbakat seangkatannya."
"Harry bilang Weatherby yang melakukannya." Jawab Ginny. "Teddy tadi berduel dengannya karena ternyata Weatherby terbukti membantu para penjahat itu memasukkan Narkoba ke Hogwarts."
Profesor McGonnagall sangat terkejut mendengar informasi ini.
"Bukankah Weatherby adalah Auror yang ditugaskan bersama Teddy untuk menjaga Hogsmead? Dan dia sempat beberapa kali menemuiku di kantorku beberapa minggu terakhir ini. Dia bilang demi kepentingan penyelidikan. Aku benar-benar tak menyangka."
Ekspresi Profesor McGonagall benar-benar tak bisa mempercayai fakta yang baru saja meresap ke dalam otaknya. Tapi memang seperti itulah kejadiannya. Ia kemudian menyihir sebuah kursi berlengan dari udara kosong, mempersilahkan Ginny untuk duduk lalu menyihir kursi lain untuk dirinya sendiri.
"James, ku dengar Mr Dolphine dan beberapa teman Slytherin-nya juga terlibat dalam kegiatan pengedaran Narkoba ini Di Hogwarts. Apakah kau bisa menceritakannya kepadaku?"
James agak terkejut karena tak menyangka akan di interogasi secepat ini. Hal yang paling ditakutinya sejak melihat wajah kepala sekolahnya datang menjenguknya.
"Erm…" James memulai dan semua wajah tertuju padanya siap mendengar dengan penuh perhatian.
Dia menguatkan diri dan berusaha mengingat semua kejadian detil yang bisa muncul dalam otaknya. Mulai dari kecurigaannya bersama Fred tentang wajah-wajah pucat yang sering ia lihat di koridor dan sudut-sudut kastil. Kemudian penyelidikan mereka yang dibantu oleh Albus, Rose dan Scorpius. Lalu bagaimana sore tadi mereka mengikuti Hugo dan Justin menerobos lorong dedalu.
"Tak berbeda sedikitpun dengan ayahmu." Sela Profesor McGonagall. James berkedip canggung tapi ia melihat kepala sekolahnya tersenyum memberikan semangat. "Oh, aku hanya ingat bagaimana mereka, Harry, Ron dan Hermione juga pernah menerobos lorong Dedalu untuk menolong Sirius Black dulu. Lanjutkan James!"
James penasaran dengan informasi tentang ayahnya, tapi akan ada banyak waktu di lain hari untuk bertanya. Dan ia pun melanjutkan bercerita pada saat Lily memberitahu mereka bahwa Albus dan Scorpius ditemukan pingsan dalam lemari sapu. Tentang Justin yang menghindari mereka dikoridor dan bagaimana ia dan Fred berhasil menyudutkan Justin di koridor rahasia dan memaksanya memberikan seluruh informasi mengenai narkoba.
"Apakah sudah ada yang menemukan Justin di tempat itu?" Tanya James kemudian, agak kaget sendiri dengan ingatan akan Justin yang terikat kutukan ikat tubuh sempurna di tempat yang jarang sekali dilewati orang lain.
"Oh, aku akan mengirim Mr. Filch untuk kesana." Kata Profesor Mcgonagall.
"Erm, ma'af Profesor." Kata James takut-takut.
"Ya..?"
"Kami tadi.., erm, saya tadi mengutuk Mr. Filch juga dengan mantra ikat tubuh sempurna Profesor. Kami bertemu dengannya di koridor dan waktunya sangat mendesak, jadi saya…"
James melihat ibunya sedang menatapnya dengan tajam seolah ingin meledak marah. Lily yang ada dipangkuannya menatap antara ibu dan kakaknya bergantian. Albus dan Scorpius berpandangan sejenak dan Profesor McGonagal mengeluh pelan.
"Oh, baiklah James. Kita akan berbicara lagi soal masalah ini." Katanya setelah berhasil menguasai diri.
Lalu dia bangkit diikuti Ginny.
"Lebih baik aku segera memberitahu seseorang untuk melihat keadaan Mr. Diggle dan Mr. Filch. Kau mau ikut minum teh di kantorku Ginny?"
Tapi sebelum Ginny menjawab, Madam Pomfrey datang membawa nampan berisi ramuan hijau mengepul.
"Aku tak ingat kapan terkhir kali rumah sakitku menjadi sebising ini." Katanya sambil meletakkan nampannya diatas meja disamping tempat tidur James. "Ku harap kalian yang tidak berkepentingan sebaiknya segera keluar agar aku bisa merawat pasienku dengan baik."
"Oh, ya. Tentu Minerva." Kata Ginny sebelum Madam Pompfrey mengoceh lebih banyak lagi. James tersenyum melihat ini. "Ayo anak-anak. Biar ku antar kalian ke menara Griffindor. James, Madam Pompfrey akan merawatmu dengan baik, begitu kan Pompy." Lanjut Ginny sambil tersenyum kearah matron rumah sakit yang berdiri berkacak pinggang di sebelah tempat tidur James.
Lalu Ginny berpesan kepada Madam Pomfrey agar memberi tahu George dan Caroline bahwa ia sedang di kantor Profesor Mcgonagall kalau mereka datang nanti dan mereka semua pergi.
"Harusnya aku tadi mencegah kalian pergi." Terdengar Madam Pomfrey ngedumel sambil mengaduk ramuannya. "Ayahmu dulu juga sering membuat kehebohan seperti ini. Tapi dia memang selalu begitu sejak pertama kali kedatangannya di Hogwarts. Tapi aku tak tau apakah dunia sihir bisa aman seperti ini jika tak ada dia."
James membiarkan saja Matron rumah sakit itu bekerja sambil ngedumel. Lebih aman jika ia tak menjawab walau ia sangat ingin mendengar cerita tentang orang tuanya saat masih sekolah dulu.
Tapi Madam Pomfrey tidak lama kemudian segera menyorongkan piala berisi ramuan hijau berasap itu ke tangan James.
"Habiskan dalam tiga tegukan tanpa bernafas!" Katanya galak sambil tetap bertolak pinggang.
James mengerlingnya sebentar lalu mulai menahan nafas dan menenggak ramuan itu dalam tiga tegukan. Ramuan itu terasa dingin di mulut James walau tampak berasap. Tapi tenggorokan dan bagian dalam perutnya serasa terbakar ketika ia menelannya.
Ia menggelengkan kepala sekali seolah mengusir lalat. Lalu tiba-tiba ia merasakan matanya dibanduli barbel seberat beberapa kilogram sebelum ruangan kembali memburam dan lenyap dari pandangannya.
Beberapa minggu kemudian, saat sarapan di aula besar Hogwarts, ujung meja paling kanan kembali di blokir oleh sekelompok murid berambut merah dan Hitam berantakan. Hanya ada satu anak berambut pirang diantara mereka dan ia sedang menikmati makanannya tanpa mempedulikan obrolan teman-temannya. Sementara itu Hugo sudah kembali dari perawatannya selama lebih dari dua minggu di St. Muggo dan wajahnya tampak lebih cerah.
Murid-murid Hogwarts yang lain mungkin baru seminggu ini berhenti membicarakan kejadian Heboh di Shrieking Shack, namun seperti biasanya, tak ada satupun cerita yang mendekati kebenaran karena hanya orang-orang tertentu saja yang menngetahui detil kejadiannya dan mereka selalu menghindar jika ada anak-anak lain mulai bertanya. Mungkin ini kejadian heboh pertama di Hogwarts setelah keruntuhan Lord Voldemort yang melegenda dan tentu saja pembicaraan mengenai masalah-masalah seperti ini bisa lebih panjang mestinya.
James dan Fred mendapat penghargaan atas pengabdian kepada sekolah dari kementrian sihir dan juga hadiah masing-masing duaratus angka untuk Griffindor.
Baru beberapa menit yang lalu, Profesor McGonagall mengumumkan bahwa pembangunan kembali bangunan Shrieking Shack akan dimulai hari ini. Sedangkan Mafia Muggle beserta gembongnya yang tertangkap telah diajukan dalam sidang di pengadilan Wizengamot.
"Apakah kau ada latihan lagi hari ini James?" Tanya Lily kepada kakaknya. "Aku butuh bantuanmu untuk mengerjakan tugas dari Profesor Binns."
"Erm, iya Lily. Aku ada latihan lagi hari ini." Jawab James sambil menyendok serealnya. "Kau bisa minta bantuan kepada Rose kalau mau. Benar kan Rose?"
"Erm, sebenarnya…" Rose ingin meolak. Tapi Lily merajuk.
"Ayolah Rose, aku hanya butuh sedikit tambahan penjelasan. Soalnya penjelasan dari Profesor Binns terlalu bertele-tele. Aku jadi mengantuk dan tidak paham."
Rose melempar pandangan membunuh kepada James sebelum berkata cukup lembut kepada Lily. "Baiklah Lily. Tentu saja aku akan membantumu."
James menyuap serealnya sambil tersenyum. Sebenrnya ia ingin membantu adiknya itu, tapi ia sedang perlu banyak latihan untuk menghadapi tim Quiddithc jalanan yang menantang Tim Quidditch Hogwarts. Dan karena Tim Qudditch Griffindor berhasil lolos seleksi yang diadakan sekolah, maka ia dan Tim-nya harus berlatih akstra keras agar tidak dipermalukan oleh Tim Tamu. Pertandingan akan diadakan pada akhir minggu ini.
Ketika James mendongak untuk membetulkan leher jubahnya yang mengglitik dagu, ia melihat anak-anak itu memasuki aula besar di giring oleh Profesor Longbottom. Dolphine, Winfrey, Roland, Diggle dan beberapa anak lain yang terlibat dalam kasus Narkoba. Dolphine Nampak menoleh sebentar ke arahnya, namun ia segera berjalan kmbali sambil menundukkan kepalanya sebelum duduk di meja tengah dekat meja para guru. James masih melihat beberapa bekas luka di wajah Dolphine. Mungkin dia ikut tertimbun reruntuhan Shrieking Shack karena waktu lantai itu runtuh, Dolphine dan teman-temannya sedang pingsan di lantai atas.
"Jadi juga mereka kembali ke Hogwarts rupanya?" kata Fred yang juga sudah sehat lagi setelah dikurung di rumah sakit selama hampir seminggu penuh oleh Madam Pomfrey. Luka di wajahnya sudah tak tampak lagi.
"Kupikir mereka dikurung di Azkaban bersama para penjahat lainnya." Kata Rose menatap mereka dengan tatapan marah. Dia masih belum bisa melupakan kelakuan mereka kepada Hugo.
"Dad bilang para Auror tidak bisa menaruh mereka di Azkaban karena mereka masih pelajar dibawah umur. Dad bilang para Auror hanya memberikan pengarahan dan sedikit Rehabilitasi atau apalah namanya agar mereka jera." Kata James.
"Yeah, sebaiknya mereka benar-benar jera atau kita yang akan membuat mereka jera." Kata Fred sambil mendelik kearah punggung Dolphine.
"Sudahlah, kita ada pelajaran ramalan pagi ini?" Kata James mencairkan situasi penuh dendam itu. "Akan perlu waktu hampir sepuluh menit untuk dapat mencapai menara utara. Ayo."
Lalu James mengambil tas mereka dan berangkat ke menara utara.
Scorpius juga Nampak bangkit dari kursinya.
"Erm, bolehkah aku bicara berdua denganmu sebentar saja Rose." Katanya sambil memberikan isyarat agar mereka mencari tempat yang lebih pribadi.
Rose Nampak ragu. Ia tau persis apa yang ingin di bicarakan Scorpius berdua saja dengannya. Dan ia merasa rikuh karena selama ini selalu menolak usaha Scorpius yang pantang menyerah.
"Aku akan menunggu kalian di kelas Profesor Longbottom." Kata Hugo sambil merapikan buku dan memasukkanya kedalam tas. "Ayo Lily, Hugo." Lanjutnya dan mereka pun pergi.
Scorpius dan Rose juga keluar menuju aula depan. Mereka memilih sudut aula yang terlindung oleh patung seorang ksatria agar tidak begitu menarik perhatian orang lain untuk menengok.
"Jadi bagaiman?" Kata Scorpius tanpa basa-basi lagi.
Rose memandang wajah Scorpius dengan tatapan sayu. Hatinya bergejolak. Ia tak ingin menyesal sekaligus membuat Scorpius kecewa. Pemuda itu begitu baik kepadanya dan seluruh saudaranya di Hogwarts ini. Dan bahkan Scorpius berani merendahkan diri serendah mungkin dihadapan teman-teman Slytherin-nya untuk tetap bisa bergaul dengan mereka yang seluruhnya Griffindor.
"Mestinya kau sudah tau jawaban ku sejak dulu Scorp." Kata Rose memberanikan diri. Dia bingung kenapa jantungnya berdetak begitu kencang. Padahal mereka biasa betemu dan ngobrol setiap hari tanpa harus merasa canggung.
Scorpius memandangnya penuh tanya dan tampak sangat penasaran.
"Ya..?" Dorong Scorpius agar Rose melanjutkan kata-katanya.
"Ermm.." Dan Rose masih saja mengulur waktu, membuat Scorpius juga semakin deg-degan sekaligus penasaran. Rose sedikit menunduk, tapi ia tetap tak bersuara.
Scorpius kembali memandang wajah Rose lekat-lekat, sebuah jawaban seperti jelas terpetak dalam wajah Rose yang cantik dan Scorpius segera paham.
"Sudahlah Rose." Kata Scorpius sambil melangkah pergi meninggalkan Rose yang masih berdiri terpaku. "Aku tau mungkin sangat berat bagimu untuk mengambil keputusan ini. Tapi kuharap kita bisa membicarakannya lagi lain waktu." Lanjutnya tanpa berpaling, lalu ia benar-benar meninggalkan Rose yang masih terdiam.
'Maaf Scorpy," Kata Rose dalam hati. "Aku ingin sekali mengatakan Ya. Tapi ma'af aku benar-benar tak bisa."
Kemudian ia menyusul Scorpius menuju rumah kaca.
Sabtu jam sebelas semua murid sudah berkumpul di stadion Quidditch untuk menyaksikan laga Tim Quidditch Griffindor yang di tantang oleh Tim Quidditch jalanan yang menamakan diri "The Biang Onar". Kabarnya, Tim ini berasal dari negeri yang jauh, yang melanglang buana untuk mengasah ketrampilan mereka di arena Quidditch agar mereka bisa mempopulerkan olahraga ini di Negara asalnya.
James berdiri menghadapi anggota Timnya, kali ini dengan tampang serius.
"Aku baru saja menerima nama-nama mereka dari Professor Mcgonagall." Kata James sambil merentangkan secarik parkemen.
"Mereka mempunyai tiga Cheaser cewek yang kabarnya bisa mencetak gol dengan kecepatan seperti tim nasional Irlandia. Mereka adalah Marchel, Mia dan Trista. Beeternya dua cowok, tapi mungkin kita bisa mematahkan leher mereka jika sedikit beruntung. Mereka bernama Atmo dan Imand. Sisanya cewek-cewek lagi. Fitri pada keeper dan Arumb yang paling kecil dipasang sebagai Seeker. Nama-nama yang sungguh aneh menurutku. Tapi kita akan melumat mereka dengan mudah guys…!" Lanjut James dalam sebuah pidato panjang hingga membuat Herper, pengganti Justin terangguk-angguk kantuk di lengan Fred.
Setelah berdo'a sebentar, mereka keluar dari kamar ganti dan di sambut dengan gemuruh tepuk tangan dan sorakan yang memacu adrenalin dari para supporter yang mengenakan sumua atribut asrama mereka masing-masing karena kali ini Griffindor bertanding atas nama Hogwarts. Madam Hoock telah menanti mereka di tengah lapangan bersama Hassan Mostafa, penyihir botak berkumis tebal yang didatangkan khusus untuk menjadi wasit dalam pertandingan ini.
Dan itu mereka, tim The Biang Onar keluar dari sisi lain lapangan dipimpin oleh, sepertinya menejer mereka. Wanita muda yang mengenakan jubah yang menutupi kepalanya, James jarang melihat penyihir berpenampilan seperti itu. Seperti kerudung yang lebih ketat. Salah satu anggota tim yang mengenakan seragam serba hitam juga mengenakan kerudung yang sangat mirip dengan kerudung yang di pakai menejer mereka.
Setelah sampai di tengah lapangan, suara sorakan agak mereda dan mereka berjabat tangan. Tidak seperti yang di bayangkan James, tampang orang-orang ini benar-benar terkesan lucu dengan senyum ramah yang menawarkan persahabatan. Dan dua cowok yang berada dalam tim itu satunya bertubuh cukup ceking dan yang satunya lagi bertubuh sedang. Fred akan mematahkan leher mereka dengan satu saja serangan Bludger pikir James senang.
"Anak-anak, ini adalah Madam Nadya bersama Tim mereka." Kata Madam Hoock sambil menepuk pundak sang menejer. "Ku harap kalian bisa bertanding dengan sportif."
Empat belas sapu meluncur ke angkasa menuju posisi masing-masing dan Madam Hoock serta Madam Nadya menyingkir ke tepi lapangan. Hassan Mostafa membuka kotak bola dan dua Bludger serta Snitch melambung tinggi di angkasa disusul Quiffle dan bunyi peluit sang wasit.
"Let's The Match Begin!"
_T.A.M.A.T_
