Dating With The Dark

Remake Novel dengan Judul yang sama

Karya Shanty Agatha

Park Jimin x min Yoongi

And other cast

Warning :

OOC, Typo(S), Gs, Mature Content

Rate M

Don't like don't read!

.

.

.

.

.

Chapter 14

[Masih Flashback]

Sementara itu dari atas tebing, tanpa diketahui oleh dua sosok manusia yang berpelukan itu, profesor Min berdiri mengamati dengan bingung campur lega. Bingung karena rasa bersalahnya menyeruak, membiarkan Yoongi jatuh begitu saja dalam pesona Jimin tanpa peringatan, tetapi sekaligus lega, lega karena Jimin tertarik kepada Yoongi. Kalau perasaan itu bisa tumbuh lebih dalam, itu mungkin bisa menyelamatkan nyawa Yoongi, Jimin sudah pasti tidak akan membunuh perempuan yang dicintainya bukan? Profesor Min rela melakukan apapun. Apapun, bahkan dengan taruhan nyawanya, asalkan Yoongi bisa selamat.

.

.

Hubungan mereka berdua berubah sejak ciuman di tepi sungai itu, Yoongi tidak menahan-nahan lagi rasa tertariknya yang bertumbuh dengan pesat kepada Jimin, begitupun sebaliknya, lelaki itu tidak bisa lagi menahan dirinya untuk menunjukkan rasa sayangnya kepada Yoongi. Mereka selalu menghabiskan waktu bersama, dan sangat menikmatinya. Kadang mereka hanya berdiam di rumah, tidak kemana-mana, duduk membaca dengan secangkir kopi panas di meja. Setelah lama, Jimin akan menarik Yoongi ke dalam pelukannya dan menciuminya, lalu mereka akan bercumbu.

Tetapi rupanya Jimin masih menahan diri untuk melakukan sesuatu yang lebih. Yoongi adalah perempuan polos yang belum berpengalaman, dan Jimin tidak mampu merusak kepolosan itu hanya karena ingin melampiaskan gairahnya. Dia sudah memikirkannya sejak lama. Mereka memang baru bertemu sebentar, tetapi dorongan gairah mereka dan keterikatan di antara mereka begitu kuatnya, membuat Jimin yakin bahwa Yoongi adalah tempatnya berlabuh.

Kemudian di suatu malam, ketika Yoongi pulang dia menemukan ruangan begitu gelap dan pekat, dahinya mengernyit. Apakah mati lampu? Tetapi lampu jalanan menyala terang di sekeliling kompleks, berarti tidak mungkin mati lampu. Lagipula kenapa rumah begitu

senyap, dimana Jimin dan ayahnya? Yoongi masuk ke ruang tengah, ruangan dengan karpet tebal dan sofa empuk, tempat dia sering menghabiskan waktu bersama Jimin, ruangan itu temaram, oleh cahaya lilin.

Yoongi melangkah semakin masuk ke tengah ruangan dan mendapati, pemandangan yang sangat indah dan mencengangkan. Sembilan buah lilin biru yang diatur dengan posisi setengah melingkar, begitu indahnya menguarkan cahaya keemasan dengan nuansa biru, menimbulkan bayangan bergerak di seluruh ruangan yang temaram, membuat Yoongi tersenyum.

"Kau menyukainya?" suara Jimin tiba-tiba terdengar dekat di belakangnya, membuat Yoongi terlonjak kaget, dia menoleh dan mendongakkan kepalnya, menatap Jimin yang menatapnya lembut, cahaya lilin telah menciptakan siluet di sana, hingga membuat Jimin kelihatan misterius.

Yoongi tersenyum, "Ini bagus sekali." Jimin lalu menghela Yoongi mendekati lilin-lilin itu, "Aku sebenarnya ingin membeli bunga mawar, sembilan tangkai bunga mawar untukmu, yang artinya 'saling mencintai selamanya'. Tetapi kemudian aku melihat lilin biru ini sangat indah, aku membayangkannya menyala di kegelapan, menyambutmu pulang, rasanya akan lebih romantis daripada ketika aku memberimu sembilan tangkai mawar merah." Ekspresi Jimin berubah serius, "Aku baru sebentar mengenalmu, tetapi aku tahu bahwa kau berbeda Yoongi, kau memiliki hatiku begitu saja tanpa aku menyadarinya." Yoongi merasakan dadanya sesak. Terharu sekaligus bahagia, air mata menggenang di sudut matanya, membuatnya tidak bisa berkata-kata. Kalimat Jimin itu….lelaki itu memang selalu bersikap lembut dan penuh sayang kepada Yoongi, tetapi belum pernah satu ungkapan cintapun terungkap, apakah ini...apakah ini adalah pernyataan cinta Jimin?

Lalu tiba-tiba saja, sebuah kotak beludru terbuka, dengan cincin emas yang berhiaskan berlian putih berkilauan di dalamnya ada di tangan Jimin, Yoongi menatap cincin itu, terpukau oleh keindahannya. Kemudian dia mengalihkan tatapan mata terkejut ke arah Jimin, ekspresi lelaki itu mengungkapkan maksudnya dan jantung Yoongi berdebar kencang.

Apakah Jimin...

"Yoongi, maukah kau menjadi isteriku?" Ucapan lamaran itu terucap dari bibir Jimin yang tipis dan indah, dengan suara serak dan penuh perasaan, membuat air mata Yoongi membanjir. Dia menganggukkan kepalanya, tanpa pertimbangan apa-apa lagi. Yang penting adalah Jimin

mencintainya, dan dia mencintai laki-laki itu. Perasaan mereka begitu dalamnya, dan mereka harus bersama.

"Ya Jimin. Aku mau…"

.

.

.

"Aku akan membawa Yoongi ke Italia untuk menikah." Jimin bergumam pada tengah malam, setelah yakin bahwa Yoongi terlelap dan tak akan bangun, dia menemui profesor Min yang masih mengerjakan penelitiannya di ruang kerjanya. Profesor Min yang tadi setuju untuk sembunyi sementara di ruang kerjanya sementara Jimin melamar Yoongi, menganggukkan kepalanya dengan serius.

"Itu bagus." Lelaki tua itu lalu menghela napas panjang, "Kurasa kau tahu kenapa aku menyetujui pernikahan ini." Jimin menganggukkan kepalanya, "Aku akan melindungi

Yoongi dengan nyawaku sendiri." Wajah Profesor Min tampak sedih, menyadari kalau Jimin tidak mau membunuhnya, organisasi itu pasti akan mengirimkan orang lain untuk menghabisinya. Tetapi setidaknya Yoongi tidak terlibat, setidaknya Yoongi berada di tangan orang yang paling kuat untuk melindunginya, itu sudah cukup untuknya.

"Terima kasih Jimin, aku bersyukur Yoongi akan menikah dengan seseorang sepertimu." Profesor Min mengucap restunya dengan lemah, merasakan sedikit pedih di dadanya karena Yoongi, puterinya satu-satunya sebentar lagi akan dijauhkan dari dirinya.

Kemudian Jimin menelepon Siwon dan menceritakan semuanya, membuat lelaki itu tercengang. "Maksudmu...kau akan membatalkan semua tugas itu karena kau jatuh cinta dengan anak perempuan si profesor?"

"Kau sudah mendengar sendiri tadi." Jawab Jimin tenang. Siwon tampak kehabisan kata-kata, lalu lelaki itu mendesah, masih tampak kaget, "Apakah kau yakin, Jimin? Kau tidak pernah gagal dalam tugasmu sebelumnya...Apalagi profesor dan puterinya ini adalah tugas yang sangat mudah...reputasi "Sang Pembunuh" akan tercoreng kalau itu terjadi."

"Aku tidak peduli dengan reputasi "Sang Pembunuh", dia sudah lama mati, kau tahu aku sudah membuatnya pensiun sejak lama, dan menjalani hidupku sebagai Park Jimin, hanya karenamulah aku mau membangunkan lagi "Sang Pembunuh", tetapi sayangnya aku tidak bisa melakukannya, Siwon. Aku mencintai Yoongi dan aku akan menjaganya."

"Bagaimana dengan sang profesor?" Jimin menghela napas panjang, "Aku sudah menawarkan untuk membawanya ke Italia untuk melindunginya, tetapi dia menolak. Dia ternyata mengidap kanker hati, umurnya sudah tidak lama lagi, jadi dia pasrah menunggu apapun yang akan dilakukan oleh organisasi itu kepadanya, lagipula dia berpikir kalau dia ikut ke Italia, dia akan membawakan bahaya terus menerus kepada Yoongi."

Siwon tercenung, lalu menghela napas panjang, "Oke, mau bagaimana lagi. Kau sepertinya benar-benar serius dengan perempuan yang satu ini. Aku akan menginformasikan bahwa aku gagal melakukan yang mereka minta kepada organisasi itu, dan bersiap untuk kehilangan kesempatan besar membangun kilang minyakku di negara itu." Suaranya tampak mencela tapi tidak marah, malahan Jimin mendengar senyum di dalam suaranya,

"Sebaiknya cepat kau bawa gadis itu pergi Jimin, penelitian sang profesor sangat penting dan rahasia dan begitu aku menginformasikan kepada organisasi itu bahwa kau sudah melepaskan tugasmu, mereka akan berusaha mengirimkan pembunuh lain tanpa melalui aku, yang mungkin lebih kasar dan menggunakan cara rendahan daripada dirimu."

.

.

.

"Kenapa ayah tidak bisa ikut ke Italia untuk menghadiri pernikahan kami?" Yoongi masih saja mengerutkan keningnya rupanya hal itu masih mengganjal di benaknya meskipun mereka telah melalui adu argumentasi dan penjelasan-penjelasan yang panjang sehingga menemukan kompromi, koper-koper sudah di packing rapi, dan mereka sedang menunggu taxi untuk mengantar ke bandara. Profesor Min tersenyum lembut, mengecup dahi puterinya itu dan menggelengkan kepalanya, dengan sabar mengulang kembali alasan yang selalu didengungkannya kepada Yoongi,

"Kau tahu ayah tidak bisa, ada pekerjaan yang mengharuskan ayah tetap tinggal. Lagipula kau bisa mengunjungi ayah nanti kalau sudah menikah." Profesor Min mengernyit dalam hatinya, memandang wajah Yoongi dalam-dalam, puteri kesayangannya yang mungkin tidak akan bisa dilihatnya lagi. Ada alasan lain lagi yang tidak diberitahukannya kepada Yoongi, kondisi kesehatannya benar-benar sudah buruk sekarang, mungkin karena gaya hidupnya yang tidak sehat, membuat tubuhnya yang sudah menua tumbang oleh berbagai penyakit, terakhir dia meriksakan diri, dokter sudah mendiagnosis dirinya mengidap kanker hati.

Yah, bagaimanapun juga umur manusia ada batasnya, setidaknya dia bisa meninggal dengan pengetahuan bahwa Yoongi dijaga di tangan yang tepat. Sebenarnya butuh waktu lama bagi Jimin untuk meyakinkan Yoongi supaya mau meninggalkan ayahnya di sini untuk menikah di Italia. Yoongi bersikeras mengajak ayahnya, bahkan dia meminta supaya mereka menikah di negara ini saja sehingga tidak perlu meninggalkan porfesor Min.

Ketika Jimin menyerah dengan kekeraskepalaan Yoongi, profesor Min turun tangan, dengan kasih sayang seorang ayah, dia menerangkan bahwa ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkannya di sini, bahwa dia terlalu tua dan lelah untuk menempuh perjalanan jauh, bahwa dia akan baik-baik saja di sini selama Yoongi berangkat ke Italia untuk menikah dan berbulan madu. Profesor Min menekankan bahwa setelah bulan madu mereka, Yoongi dan Jimin bisa pulang lagi kemari - itu mungkin merupakan kebohongan putihnya pada Yoongi karena jauh di dalam hatinya, profesor Min tahu bahwa Jimin mungkin tidak akan membawa Yoongi pulang lagi, demi keselamatan Yoongi. Pada akhirnya Yoongi mau mengerti semua penjelasan profesor Min dan mau berangkat ke Italia bersama Jimin meninggalkan ayahnya di sini.

Taxi mereka datang, dan Jimin yang sejak tadi membisu menyalami profesor Min dengan ekspresi datar, "Semoga kau baik-baik saja profesor." Gumamnya tenang, penuh makna. Profesor Min tersenyum, lalu tanpa di duga memeluk Jimin dengan cepat lalu menepuk bahunya, "Jaga Yoongi baik-baik." Pesannya. Yoongi menangis, memeluk ayahnya dan mencium ke dua pipinya.

"Ayah jaga diri ya, segera setelah menikah, aku akan pulang lagi bersama Jimin." Bisiknya dengan berurai air mata, tidak menyadari bahwa Profesor Min melempar pandangan ke arah Jimin, pandangan penuh pengetahuan bahwa mungkin saja Yoongi tidak akan pernah kembali ke negara ini.

.

.

.

Setelah menempuh perjalanan panjang, mereka mendarat di Bandar udara internasional, mereka melanjutkan perjalanan menuju ke Tuscany, kawasan yang terkenal dengan perkebunan anggur dan zaitun. Meskipun lelah, Yoongi sangat menikmati perjalanan itu dan merasa sayang jika sampai tertidur, dia sangat menyukai tempat, pemandangan, suasana, dan keindahan kota-kota kuno dan lading bunga matahari damai dan tak berujung di pedesaan. Jimin menjelaskan bahwa mereka sekarang berada di daerah antara Florence dan Siena yang juga mencakup wilayah anggur Chianti dan juga San Gimignano, di mana Jimin sendiri memiliki perkebunan anggur yang cukup luas di sana. Mereka harus menempuh sekitar 80 kilometer lagi menuju ke kota Lucca, sebuah kota yang berada di atas sebuah dataran tinggi dengan pegunungan Alpen menjulang di atasnya.

Selama beberapa jam kemudian, Yoongi akhirnya tertidur, dan baru terbangun ketika Jimin menyentuh bahunya dengan lembut, dia tertidur pulas di pangkuan Jimin, "Kita sudah sampai di kotaku." Gumam Jimin serak, menatap Yoongi dengan tatapan mata dalam dan bergairah. Yoongi terpesona. Kota ini hampir seperti bayangannya ketika melihat acara-acara yang membahas wisata Italia di televisi, kota ini terkenal oleh dinding yang dulunya merupakan benteng pertahanan, peninggalan dari arsitektur kuno yang megah, dan juga peninggalan bangunan bersejarah lainnya.

Tempat tinggal Jimin sendiri merupakan sebuah kastil yang indah bercat putih bersih, menjulang di tengah dataran rumput dan warna oranye pepohonan menjelang musim gugur. Mereka turun dari mobil dan beberapa pelayan pria langsung datang dan mengangkut barang-barang mereka. Yochun sang pelayan utama berdiri menyambut di depan, menatap Yoongi dengan senyum hangatnya.

"Selamat datang tuan Jimin, selamat datang nona Yoongi." Lelaki itu membungkukkan badannya dengan hormat. Jimin menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis, "Apakah persiapan pernikahan sudah siap?"

"Semua sudah disiapkan tuan, berkas-berkasnya sudah diletakkan di meja anda oleh pengacara anda, besok dijadwalkan pernikahan jam sepuluh di sini." Jimin menoleh, menatap ke arah Yoongi dan tersenyum meminta maaf, "Maafkan aku atas pernikahan yang tergesa-gesa ini. Tetapi aku sungguh ingin menikahimu, dan tidak ingin diperlambat oleh urusan persiapan pesta dan yang lainnya. Kita bisa menikah dulu, diam-diam, rahasia. Dan kemudian menikmati bulan madu kita dalam ketenangan, setelah waktunya tepat, baru kita umumkan pernikahan ini dan kemudian merancang pesta yang sangat besar untuk merayakannya dan mengundang semua orang yang perlu diundang."

Yoongi tersenyum, melemparkan tatapan mata memuja kepada Jimin, "Aku tidak peduli dengan pesta. Aku ingin segera menjadi milikmu, Jimin."

.

.

.

Dan begitulah, dalam upacara pernikahan yang sederhana, mereka terikat sebagai suami isteri, hanya disaksikan oleh Siwon, pengacara dan beberapa orang kepercayaan Jimin, lelaki itu melingkarkan cincin tanda kepemilikannya di jemari Yoongi, dan kemudian mengecup pengantinnya. Meskipun sederhana dan tidak dirayakan dalam keramaian, Yoongi sangat bahagia, dia tampak begitu cantik dan berbinar-binar sehingga Siwon pun menyenggol Jimin sambil mengamati Yoongi, "Tak heran kau begitu terpesona kepadanya, dia begitu cantik, dan

kecantikannya seperti dewi Italia yang luar biasa." Siwon menatap Yoongi dan mengerutkan keningnya, "Dia tidak seperti penduduk lokal negara itu pada umumnya, tidakkah kau memperhatikan rambutnya, tekstur wajahnya dan warna kulitnya itu? Aku merasa dia lebih mirip perempuan spanyol dengan rambut hitam yang tebal dan bentuk tubuh yang mungil itu."

Jimin mengamati Yoongi dengan tatapan mata puas, mengagumi kecantikan isterinya, miliknya. Lalu dia melemparkan tatapan mata mencela kepada Siwon, "Kau berani-beraninya mengomentari bentuk tubuh isteriku?" Siwon tertawa, "Hei, aku memuji isterimu. Dia memang luar biasa cantiknya, apakah ibunya atau ayahnya mungkin keturunan spanyol?" Jimin mengernyitkan keningnya. Tidak. Dia melihat sendiri foto Profesor Min dan mendiang isterinya. Tidak ada sedikitpun terlihat ada darah asing mengalir di tubuh mereka. Tetapi kata-kata Siwon ada benarnya juga, Jimin selama ini tidak pernah memikirkannya, tetapi jika dilihat dengan benar, Yoongi benar-benar tampak berbeda dari kedua orang tuanya. Dia akan menyelidikinya nanti.

Nanti. Karena sekarang, waktunya dia memiliki isterinya. Pesta sudah hampir usai, dan Jimin merangkulkan lengannya di pinggang isterinya, dengan bergairah dan penuh makna, hingga Yoongi tersenyum malu-malu, lalu mengikuti Jimin dihela menuju kamar besar mereka yang telah disiapkan, meninggalkan para tamu di belakang mereka. Kamar itu besar dan indah, cahayanya temaram, dan Yoongi melihat satu-satunya cahaya itu berasal dari sembilan lilin biru yang diatur setengah melingkar dengan indahnya di sana. Matanya menoleh ke arah Jimin dan tersenyum haru, teringat akan kenangan indah ketika Jimin melamarnya dalam buaian cahaya temaram dari sembilan lilin biru yang indah itu.

"Jiminh..." Yoongi mendesah ketika lengan Jimin melingkari pinggangnya dari belakang, lelaki itu menundukkan kepalanya dan mengecup sisi leher Yoongi, membuatnya menggelenyar, "Kau menyukainya?" Jimin berbisik serak, merasa puas ketika Yoongi menganggukkan kepalanya, "Aku berharap ketika kau melihat lilin berwarna biru itu, kau akan selalu mengingat betapa aku mencintaimu Yoongi, betapa aku sangat sangat menyayangimu dan ingin menjagamu selamanya."

Lelaki itu menurunkan gaun putih Yoongi yang indah, yang khusus dipesan untuk pernikahan mereka. Kemudian mengecupi pundak Yoongi dari belakang, membuat Yoongi mendongakkan kepalanya, pasrah dah bersandar kepada Jimin, suaminya. "Aku sangat ingin memilikimu. Kau membuatku hampir gila karena menahan gairahku, tetapi aku tidak ingin menodaimu, tidak sebelum kau resmi menjadi milikku." Jimin bergumam serak, mendongakkan kepala Yoongi dari belakang, kemudian melumat bibirnya dari sana. Kecupannya lembut, penuh penghargaan, membuat Yoongi merasa begitu dihargai, begitu dicintai sebagai seorang perempuan.

Jemari Jimin menyentuh buah dadanya yang hanya terlindung bra berwarna krem berenda yang mungil, karena gaun pengantinnya telah melorot sampai ke pinggang. Jimin membuka bra Yoongi dengan lembut, lalu jemarinya menangkup payudara Yoongi, memberikan kehangatan di sana sehingga tubuh Yoongi menggelinjang atas sensasi pertama yang dirasakannya.

Yoongi terkesiap ketika Jimin menggerakkan jemarinya sambil lalu namun penuh keahlian ke putting payudaranya, membuat puting itu menegang, menginginkan sentuhan lebih dan lebih lagi. Dan Jimin memberikannya, jemarinya memilin putting Yoongi dengan lembut, berhati-hati supaya tidak menyakitinya. Menikmati indahnya payudara isterinya yang begitu pas di tangannya. Kejantanan Jimin menegang dan siap untuk Yoongi, dia kemudian merengkuh tubuh mungil isterinya dan membawanya ke ranjang, dibaringkannya tubuh Yoongi dengan lembut, lelaki itu setengah menindih Yoongi, tangannya bertumpu pada tepi kepala Yoongi, kepalanya menunduk dan menatap mata Yoongi dengan mata teduhnya.

"Nanti rasanya akan sakit." Gumam Jimin dengan tatapan memperingatkan. Yoongi tersenyum, menatap wajah Jimin di atasnya, jemarinya terulur lembut dan membelai wajah Jimin, membuat lelaki itu menelengkan kepala dan mengecup jemarinya dengan mata terpejam, "Tidak apa-apa." Yoongi bergumam lembut, malahan membuat Jimin mengerutkan keningnya, "Aku belum pernah bercinta dengan perawan sebelumnya, semua orang bilang rasanya akan sangat sakit bagimu." Jimin menundukkan kepalanya dan mengecup dahi Yoongi dengan lembut.

"Apapun yang terjadi sayang, kau harus tahu bahwa menyakitimu adalah hal terakhir yang aku pikirkan." Lelaki itu lalu menunduk dan menghadapkan bibirnya ke bibir Yoongi, dia mengecup kehangatan bibir Yoongi dengan lembut, kemudian melumatnya, membuat Yoongi melingkarkan kepalanya di sekeliling leher Jimin, semakin merapatkan lelaki itu kepadanya. Bibir Jimin menjelajah, memberikan ciuman yang luar biasa lembut dan menggoda ke seluruh bibir Yoongi, lidahnya berpilin dengan lidah Yoongi, menggoda di sana, dan kemudian dengan sebelah tangannya, lelaki itu memelorotkan gaun Yoongi yang sudah berada di pinggang, menurunkannya hingga menuruni pinggulnya, Yoongi membantu dengan melemparkan gaun itu melalui kakinya.

Sekarang dia sudah berbaring, setengah telanjang dengan hanya mengenakan celana dalam krem berenda yang senada dengan branya yang sudah dibuang Jimin ke karpet tadi. Jimin menatap tubuh isterinya dan terpesona akan keindahan warna putih seperti susu di kulit isterinya. Jemarinya menelusuri di sana, kembali ke buah dadanya dan mencumbunya lembut, tangannya memilin puting payudara Yoongi dan membuatnya mengeras kembali.

Lalu lelaki itu mendekatkan bibirnya, meniupkan uap napasnya yang hangat di puting itu, membuat Yoongi tanpa sadar melengkungkan punggungnya dan meminta lebih, dan kemudian Jimin menjilatkan lidahnya menggoda di putting payudara Yoongi, menimbulkan sensasi seperti tersengat listrik di sana. Yoongi mendesah pelan, dan mendorong kepala Jimin makin mendekat, sampai kemudian lelaki itu menenggelamkan payudara Yoongi ke mulutnya dan menghisapnya pelan. Gairah yang luar biasa pekat langsung menyelubungi Yoongi, menimbulkan rasa aneh di pangkal pahanya. Tanpa sadar membuatnya mengangkat pinggulnya untuk semakin mendekatkan diri pada Jimin, mendekatkan diri pada kejantanannya yang makin terasa keras, mendesakkan diri ke pangkal paha Yoongi.

Jimin lalu membuka dasi dan kemejanya, dan melemparkannya begitu saja ke karpet. Tubuh mereka yang telanjang berpadu, dada mereka bersentuhan, kulit dengan kulit, panas dengan panas, gairah dengan gairah, menimbulkan sensasi aneh yang menyelimuti Yoongi, dia menggeliatkan tubuhnya, tidak tahu sensasi itu sebelumnya, hanya tahu bahwa dia ingin dipuaskan, entah dengan cara apa. Lalu Jimin menurunkan celananya sekaligus, dan membuat Yoongi terkesiap melihat kejantanan Jimin yang sudah siap untuk mata Jimin tajam agak berkabut oleh gairah, dia mengetahui Yoongi sedikit ketakutan, dan lelaki itu lalu mengecup ujung hidung Yoongi. "Kau akan bisa menerimaku, Sayang." Ciumannya turun ke leher, ke bahu dan ke payudara Yoongi, menghadiahi setiap bagian tubuh Yoongi dengan kecupan sayang. Lalu lelaki itu mengecup perutnya dan menyentuhkan lidahnya lembut, menimbulkan rasa panas dan menyengat di sana.

Dengan jemarinya, Jimin lalu menurunkan celana dalam Yoongi, hingga bergulung sebelah pahanya dan berdiam di sana. Yoongi memekik ketika Jimin membuka pahanya dan mencoba menutup pangkal pahanya, merasa malu luar biasa, tidak pernah sekalipun ada lelaki yang berbuat seintim ini dengannya. Tetapi Jimin malahan mengecup lembut jemari Yoongi yang menutup pangkal pahanya dan menyingkirkan jemari Yoongi itu, senyumannya kepada Yoongi benar-benar intens dan penuh rasa memiliki.

"Aku suamimu." Hanya satu kata, cukup satu kata untuk menunjukkan betapa Jimin memiliki setiap jengkal tubuh Yoongi, membuat tangan Yoongi lunglai, pasrah di samping tubuhnya, dan membiarkan Jimin menunduk, lalu mengecup kewanitaannya dengan lembut. Yoongi mengerang, meremas seprei dalam genggaman tangannya ketika kecupan Jimin di kewanitaannya makin intens, lelaki itu benar-benar menikmati seluruh sisi kewanitaan Yoongi, mencumbunya, mencecap setiap rasanya dengan lidahnya yang hangat, dan ketika menemukan titik kecil di sana, lelaki ini memberikan seluruh perhatiannya membuat Yoongi tidak bisa menahan erangannya, merasakan sensasi melayang akibat cumbuan Jimin di titik paling sensitif tubuhnya, titik yang bahkan tidak diketahuinya sebelumnya.

Yoongi sudah basah, panas dan siap. Jimin tahu itu. Dia kemudian menaikkan tubuhnya, setengah ragu apakah Yoongi benar-benar siap menerimanya untuk memasukinya. Disentuhkannya kejantanannya di sana, membuat Yoongi mengerang, menatap mata Jimin dengan ketakutan yang dalam. Jimin menatap Yoongi dengan tajam, mereka saling bertatapan, dan kemudian Jimin menyatukan tubuh mereka, membuat Yoongi mengerang karena rasa sakit yang amat sangat menyengatnya di bawah sana, jemarinya mencengkeram pundak Jimin dengan kuat, hampir mencakarnya. Merasakan betapa kencangnya kewanitaan Yoongi, Jimin

mengerang, napasnya terangah dan kepalanya menunduk, hidungnya menempel di hidung Yoongi, tatapannya lembut penuh cinta.

"Tahan sayang." Dan kemudian, dengan satu hentakan tanpa ampun, Jimin menyatukan keseluruhan dirinya ke dalam tubuh Yoongi, membuat perempuan itu memekik keras, menahan sakit dan perasaan aneh yang menyeruak di dalam dirinya. Mereka terdiam dengan napas terengah, saling bertatapan. Jimin memberikan kesempatan kepada Yoongi untuk menyesuaikan diri dengannya, dan ketika dirasakan betapa tubuh Yoongi telah santai menerimanya, Jimin menarik tubuhnya pelan-pelan membuat Yoongi mengernyitkan keningnya.

"Sakit ya?" Jimin berbisik lembut, mengecup pelipis Yoongi, mengecup hidungnya dan kemudian mengecup kernyitan di dahinya, berusaha menghilangkannya. Yoongi menghela napas panjang, sedikit nyeri dan tidak nyaman di bawah sana, tetapi kesadaran bahwa tubuhnya telah menyatu dengan tubuh Jimin dan dia telah termiliki oleh lelaki itu membuat dadanya mengembang penuh cinta, dia tersenyum kepada Jimin, senyum yang sangat mempengaruhi lelaki itu karena membuatnya tidak bisa menahan diri lebih lama.

Tubuhnya bergerak semakin lama semakin cepat, membawa Yoongi melewati batas yang tidak pernah berani dilompatinya sebelumnya. Rasa sakit dan pedih itu berbaur dengan kenikmatan, membuat Yoongi melayang, tubuhnya mengikuti ritme tubuh Jimin sampai kemudian lelaki itu mengerang dalam-dalam karena kenikmatan tak tertahankan yang menghujani tubuhnya, menyatukan dirinya sedalam mungkin, dan kemudian mencapai puncak pelepasannya, membawa Yoongi bersamanya.

Rasanya luar biasa nikmat, seperti dilemparkan ke dalam sumur yang sangat dalam dan nikmat penuh dengan stimulasi di setiap saraf tubuhnya. Darah Yoongi berdesir oleh derasnya aliran kenikmatan yang memenuhi setiap pembuluh darahnya, dia mengerang ketika mencapai orgasmenya, mengangkat pinggulnya menerima tubuh Jimin yang menghujamnya sepenuhnya dan merasakan pelepasan lelaki itu yang hangat dan panas jauh di dalam tubuhnya.

Jimin merebahkan tubuhnya di atas Yoongi, dengan tetap menahan diri agar tidak menimpakan berat tubuhnya kepada Yoongi, matanya menatap Yoongi dalam, mereka saling tersenyum penuh cinta, kemudian Jimin bergumam serak, "Isteriku, aku akan mencintaimu selamanya. Kehidupan mungkin hanyalah sebuah perjamuan dan kematian adalah hidangan penutupnya, tetapi aku berjanji kepadamu, aku akan terus mencintaimu hingga kita menikmati hidangan penutup kita."

Sebuah janji yang diwakili oleh sembilan lilin berwarna biru yang menyala redup menerangi ruangan.

Lambang janji cinta Jimin kepada Yoongi.

.

.

.

[Kembali ke masa sekarang]

Yoongi membuka matanya dan terkesiap menatap bingung pada ruangan di sekelilingnya. Bau obat yang kuat dan seluruh dinding bercat putih membuatnya tahu dia sedang berada di mana. Ada infus di lengannya, dan ketika meraba kepalanya, ada perban di sana, terasa sedikit nyeri ketika disentuh. Jantung Yoongi bergolak cepat dan air matanya mengalir dengan derasnya.

Dia sudah ingat semuanya...

Semuanya dari awal sampai akhir, dari pertemuan pertamanya dengan Jimin sampai perpisahannya akibat kecelakaan itu. Dan kemudian Yoongi teringat ekspresi sedih Jimin ketika dia menembaknya. Ekspresinya begitu terluka meskipun lelaki itu memanggilnya sayang. Yoongi menangis keras-keras penuh penyesalan, menyadari bahwa dia telah menembak suaminya sendiri. Menyadari bahwa dia mungkin telah membunuh suami yang amat sangat dicintainya.

Park Jimin adalah suaminya, belahan jiwanya yang selama ini terpisah jauh karena keadaan.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Yoongi udah inget semuanya, Ahh terharu ya, Jimin bener-bener bikin meleleh deh.. Duh Jim, Nuna mau dong digituin *ehh xD

Enaena nya pada puas gak bacanya? Haha, aku udah berkalikali bacanya tetep aja merinding haha

Nah, sekarang tinggal beresin urusan Jimin ama Yoongi nih, Tunggu chap selanjutnya yaa..

Ohya mau ngasih pengumuman nih hehe. Berhubung besok sampai hari senin aku ada Training di kabupaten, jadi maaf aku gak bisa posting sampai hari senin depan. Insya Allah hari hari selasa aku baru bisa update lagi, karna gak memungkinkan kalau aku bawa laptop kesana, udah berat ama baju dan perlengkapan lainnya. So.. maaf gak bisa nepatin janji buat update tiap hari, sampai senin depan gak lama kok cuma beberapa hari Hehe

Okedeh segitu aja ya..

See You again~

Gomawo…

Paipai

Dyah Cho