A Romantic Story About Eunhyuk
Remake Story
Disclaimer: Cerita milik Shanty Agatha, aku hanya mengganti pemainnya dengan KyuHyyk. ^^
Warning: Genderswitch
Happy reading
Sejak saat itu Kyuhyun seolah-olah menghilang dari kehidupan Eunhyuk, Eunhyuk merenung dalam mobil rumah sakit yang membawa mereka pulang ke apartemen.
Hari ini Donghae sudah boleh pulang dari rumah sakit, bersama Jinhee dan Suster Kim mereka pulang ke apartemen. Suster Kim memutuskan untuk tinggal sementara membantu Eunhyuk, dan Jinhee sudah berjanji akan berkunjung setiap hari untuk mengecek kondisi Donghae dan melakukan terapi rutin.
Kata Dokter Jinhee, Kyuhyun memutuskan mengambil tugas perjalanan ke Eropa dan mungkin akan kembali dalam waktu yang lama.
Dada Eunhyuk terasa nyeri, ketika sekali lagi mengakui kenyataan itu kepada dirinya sendiri. Oh ya, dia merindukan Kyuhyun, sangat merindukannya. Ternyata cinta memang bisa tumbuh tanpa direncanakan. Eunhyuk mencintai Kyuhyun. Dia tidak tahu kapan perasaan ini bertumbuh. Dia hanya tahu dia mencintai Kyuhyun, itu saja.
"Aku tidak menyangka bosmu yang kelihatannya sombong itu bisa begitu baik, meminjamkan apartemennya", Donghae memecah keheningan, menatap Eunhyuk dengan sedikit menyelidik, dia bertanya-tanya karena akhir-akhir ini Eunhyuk begitu murung,
"Aku yang membujuknya", Jinhee yang duduk di kursi depan cepat-cepat menjawab, tahu bahwa Eunhyuk pasti kebingungan dengan pertanyaan Donghae itu, "Kyuhyun adalah sahabat suamiku, aku bilang merawatmu penting bagiku, karena kau adalah salah seorang yang selamat dari kecelakaan yang menewaskan suamiku. Jadi Kyuhyun mau meminjamkan apartemen ini, toh apartemen ini tidak terpakai."
Diam-diam Eunhyuk dan Suster Heechul menarik napas lega mendengar kelihaian dokter Jinhee menjawab.
Mereka sampai di apartemen, dan Eunhyuk mendorong kursi roda Donghae memasuki ruangan itu.
Begitu mereka masuk tanpa sadar Eunhyuk mengernyit, semua kenangan itu seolah menghantamnya. Di sini, di apartemen ini dia menghabiskan waktu berdua dengan Kyuhyun, makan malam bersama, bercakap-cakap bersama….
"Apartemen yang sangat bagus, kita beruntung Eunhyuk-ah, bos mu sangat baik." Donghae mendongakkan kepalanya ke belakang menatap Eunhyuk sambil tersenyum.
Mau tak mau Eunhyuk memaksakan senyuman di bibirnya. Kuatkah ia berada di sini? Apalagi di kamar itu... Eunhyuk melirik kamarnya, tempat Kyuhyun juga menghabiskan sebagian besar waktunya di sana. Tidak! dia tidak mau masuk lagi ke kamar itu!
Dengan cepat dan efisien mereka menyiapkan segalanya sehingga Donghae selesai di terapi dan beristirahat di kamarnya. Suster Heechul menjaganya sebentar, lalu berpamitan untuk kembali ke rumah sakit, berjanji akan pulang dan menginap di sini nanti malam.
Setelah memastikan Donghae tertidur pulas, Jinhee menyeduh teh dan mengajak Eunhyuk duduk di ruang depan.
"Dia sudah kembali dari Eropa." Jinhee membuka percakapan, menatap Eunhyuk dari atas cangkir kopi yang diteguknya.
Seketika itu juga hati Eunhyuk melonjak, tahu siapa yang di isyaratkan sebagai 'dia' itu.
"Apakah dia baik-baik saja?" Tanya Eunhyuk pelan.
Jinhee tersenyum miring mendengar kelembutan dalam suara Eunhyuk.
"Kau itu baik hati ya, sudah menerima arogansinya yang tidak tanggung-tanggung, tetapi masih saja mencemaskannya," dengan pelan Jinhee meletakkan cangkirnya. "Yah, dia baik-baik saja, sedikit kurus, terlalu memaksakan diri dan jadi pemarah seperti beruang terluka, tak ada yang berani menyinggungnya dan mendekatinya dalam radius 100 meter kalau dia sedang mengeluarkan aura pemarahnya, bahkan direktur keuangan memilih berhubungan dengannya via telepon," Jinhee terkekeh. Lalu wajahnya berubah serius melihat kesedihan Eunhyuk. "Yah... dengan melupakan fakta kalau akhir-akhir ini dia lebih seperti mayat hidup daripada manusia, sepertinya dia baik-baik saja."
Eunhyuk memalingkan wajahnya dengan pedih.
"Dia menderita Eunhyuk-ah..." desah Jinhee kemudian, "aku tidak pernah melihatnya seperti ini sebelumnya."
"Sudah..." Eunhyuk tidak tahan lagi mendengarnya, penderitaan Kyuhyun serasa mengiris-iris hatinya, "sudah aku tidak mau mendengar lagi."
Jinhee menarik napas.
"Tapi tadi dia memintaku menyampaikan pesan kepadamu."
Kata-kata Jinhee yang menggantung membuat Eunhyuk menoleh, tertarik.
"Pesan?"
Jinhee menggangguk.
"Ya, sebuah pesan... malam ini jam delapan, ditunggu di restorannya," lalu Jinhee menyebutkan nama sebuah hotel.
Dan Eunhyuk mengernyit, hotel tempat pertama kali dia bersama Kyuhyun.
Eunhyuk merasa tidak nyaman, pakaiannya terlalu biasa-biasa saja untuk ukuran hotel yang mewah ini. Dia berdiri dengan kikuk di lobby, tak tahu harus berbuat apa.
Entah dorongan apa yang membuatnya datang menemui Kyuhyun malam ini. Dia tahu dia nekat, seperti memancing iblis untuk membakarnya. Tapi dia tidak bisa menahan diri. Dia ingin bertemu Kyuhyun, walaupun mungkin ini untuk terakhir kalinya.
"Bisa dibantu nona?" Lelaki petugas hotel itu datang menghampiri, sepertinya melihat kebingungan Eunhyuk.
"Eh saya...saya Eunhyuk...saya sudah ditunggu..."
"Nona Lee," petugas itu berubah sopan dan membungkukkan tubuh, "silahkan, anda sudah ditunggu, mari saya antar."
Dengan ragu Eunhyuk melangkah mengikuti petugas hotel itu, memasuki restoran yang tertata dengan mewah dan elegan.
Dan disanalah Kyuhyun, duduk dengan pakaian resminya, mata Kyuhyun sudah melihatnya ketika dia memasuki ruangan. Dan tidak lepas memandanginya dengan tajam setelahnya.
Ketika Eunhyuk mendekat, Kyuhyun berdiri dengan sopan lalu duduk lagi setelah Eunhyuk duduk.
Hening sejenak, masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Terimakasih sudah datang." gumam Kyuhyun lembut.
Eunhyuk mengangguk, matanya berkaca-kaca melihat kelembutan tatapan Kyuhyun.
"Mungkin ini untuk terakhir kalinya, mungkin setelah ini aku tidak akan datang lagi." Gumam Eunhyuk pelan.
Kyuhyun menggangguk.
"Setelah ini aku tidak akan pernah memintamu datang lagi."
Hening lagi. Sampai pelayan membawakan makanan pembuka, mereka makan malam dalam diam.
Sampai kemudian Kyuhyun menuangkan anggur ke gelas Eunhyuk,
Eunhyuk mengernyit.
"Aku tidak pernah minum alkohol."
Kyuhyun tersenyum menggoda, senyum pertamanya malam itu.
"Tenang saja, aku akan menjagamu. Kemungkinan terburuknya mungkin kau diperkosa saat mabuk."
Pipi Eunhyuk langsung merona dan Kyuhyun terkekeh.
Anggur itu mencairkan segalanya, suasana menjadi hangat, dan percakapan mereka mengalir lancar, Kyuhyun menceritakan tentang perjalanannya ke Eropa dan Eunhyuk mendengarkannya dengan penuh minat.
Sampai kemudian, Kyuhyun menggenggam tangan Eunhyuk lalu mengecupnya.
"Aku ingin memelukmu."
Hanya satu kalimat, tapi Eunhyuk mengerti. Dia menganggukkan kepalanya. Entah kenapa dia menyetujuinya. Mungkin karena anggur itu sudah mempengaruhi pikiran normalnya. Yang pasti Eunhyuk juga ingin merasakan pelukan Kyuhyun.
Dengan lembut Kyuhyun menghela Eunhyuk, melangkah ke lantai atas.
Ketika Kyuhyun membuka pintu kamar, Eunhyuk menatap Kyuhyun bingung, dan Kyuhyun tertawa menyadari kebingungan Eunhyuk.
"Yah... kamar yang sama... Kuakui... aku memang agak sedikit sentimental," Kyuhyun mengangkat bahu, pipinya sedikit merona. "Kupikir... tempat saat pertama akan cocok untuk menjadi tempat saat terakhir kita."
Eunhyuk tersenyum lembut, dan membiarkan Kyuhyun membimbingnya memasuki kamar.
Mereka berdiri dengan canggung, sampai Kyuhyun mengeluarkan sebuah kotak dari sakunya.
"Aku membawa cincin keluargaku, cincin yang diberikan turun-temurun untuk pengantin wanita," dengan tenang dia membuka kotak itu dan menunjukkan cincin dengan berlian biru yang mungil dan cantik. "Aku ingin memberikannya kepadamu."
"Tidak!" Eunhyuk langsung berseru keras, menolak. "Jangan Kyu, itu... itu cincin yang sangat penting, itu untuk pengantin wanitamu!"
"Bagiku, kaulah pengantin wanitaku," Kyuhyun menarik tangan Eunhyuk, memaksa memasangkan cincin itu ketangannya, lalu menggenggamnya erat-erat ketika Eunhyuk berusaha melepaskan cincin itu. "Aku ingin kau memilikinya."
"Kyu..." Eunhyuk merintih penuh penderitaan, penuh air mata. Dan Kyuhyun mengusap air matanya lembut, mengecup air matanya lembut,
"Eunhyuk-ah," bisiknya seolah kesakitan, lalu mencium bibirnya dengan lembut dan penuh perasaan. "Astaga... Eunhyuk... Eunhyuk-ah... Betapa aku merindukanmu..."
Ciumannya semakin dalam, semakin bergairah, semakin penuh kerinduan, tak tertahankan...
Kyuhyun melepaskan ciumannya dan menatap Eunhyuk lembut.
"Kau mabuk ya?" senyumnya. Merasa senang karena Eunhyuk membalas ciumannya dengan sama bergairahnya.
Eunhyuk hanya merangkulkan tangannya erat-erat di leher Kyuhyun, merasakan benaknya melayang-layang. Sepertinya dia memang mabuk, karena sekarang dia merasa bebas dan begitu nyaman bersama Kyuhyun.
Kyuhyun terkekeh geli.
"Aku senang kalau kau mabuk, kau begitu penurut dan tidak takut-takut," dengan lembut Kyuhyun mengecup telinga Eunhyuk, mencumbunya dengan penuh kelembutan, "biarkan aku mencintaimu malam ini Eunhyuk-ah..."
Dengan lembut Kyuhyun menghela Eunhyuk ke atas tempat tidur dan mengecupi wajahnya penuh perasaan, "selama ini kita berhubungan seks...tapi malam ini aku berjanji, kita akan... bercinta."
Kyuhyun menggerakkan tangannya menurunkan gaun Eunhyuk dan mulai mengecupi pundaknya, tersenyum senang ketika mendengar desahan Eunhyuk.
"Hmm, kau senang sayang? Kau menyukainya ya?" dengan penuh perasaan di kecupinya semua permukaan kulit Eunhyuk.
Eunhyuk merasa dirinya melayang-layang, pengaruh alkohol, ditambah kemesraan Kyuhyun yang luar biasa membuatnya merasa di awang-awang, dibukanya matanya, dan samar-samar dilihatnya Kyuhyun mengecupi jemarinya, ketika Kyuhyun menatapnya, mata laki-laki itu tampak berkilauan.
Posisi mereka begitu intim, telanjang bersama dengan tubuh menyatu. Kyuhyun mendesakkan dirinya lebih rapat, menikmati tubuh gadisnya yang melingkupinya. Dadanya serasa membuncah oleh perasaan hangat, ketika mata mereka bersatu dalam pesan yang tersirat.
"Aku mencintaimu." Bisik Kyuhyun lembut. Dan Eunhyuk pun melayang, terbawa oleh cinta Kyuhyun.
Kyuhyun memeluk tubuh Eunhyuk yang lunglai dan terlelap, tubuhnya rileks setelah percintaan mereka. Tapi otaknya berpikir keras.
Dia sengaja membuat Eunhyuk mabuk malam ini, agar Eunhyuk tidak waspada, agar Eunhyuk tidak menyadari, tidak menyadari apa yang sudah dia rencanakan jauh sebelumnya.
Dia tidak memakai pelindung saat mereka bercinta tadi. Dia berusaha membuat Eunhyuk hamil.
Kyuhyun memejamkan mata dan mengernyit ketika sengatan rasa bersalah menyerbunya. Dia telah memanipulasi ketulusan perasaan Eunhyuk dengan menjebaknya. Tapi mau bagaimana lagi? Dia sudah berusaha melupakan Eunhyuk. Tuhan tahu dia berusaha sangat keras, apa saja agar Eunhyuk bahagia bersama Donghae yang sudah dipilihnya. Dia bahkan mengajukan diri untuk perjalanan bisnis ke luar negeri agar bisa melupakan Eunhyuk. Tapi gadis itu membayanginya, membuatnya gelisah dan tidak bisa berkonsentrasi. Kyuhyun merasa dirinya nyaris gila ketika memutuskan akan pulang dan memutuskan untuk memiliki Eunhyuk dengan cara apapun. Jika Eunhyuk tidak mau memilihnya, maka Kyuhyun akan memaksa Eunhyuk memilihnya!
Dengan lembut Kyuhyun mengecup dahi Eunhyuk yang berbaring di lengannya. Sebelah tangannya meraba perut Eunhyuk yang telanjang di balik selimut dan mengelusnya.
Anakku mungkin sudah bertumbuh di sini, pikirnya posesif. Rasa memiliki dengan intensitas luar biasa muncul tiba-tiba dalam hatinya ketika menyadari bahwa anaknya mungkin sudah mulai bertumbuh dan terbentuk di dalam rahim Eunhyuk. Dengan lembut diusapnya perut Eunhyuk, Kyuhyun tidak bisa menahan diri, pelan-pelan diletakkannya kepala Eunhyuk di bantal, lalu dia bergerak turun dan mengecup perut Eunhyuk.
"Kau harus tumbuh di sana," bisiknya penuh tekad. "Kau harus tumbuh sehat dan kuat di sana, agar ayahmu bisa memiliki ibumu", Kyuhyun berbicara sambil mengecup perut Eunhyuk.
Kemungkinan bayi itu terbentuk dari percintaan mereka adalah 80%, Kyuhyun sudah mempelajarinya dari semua referensi yang bisa ia dapat, ia mengetahui bahwa dari rata-rata umur mereka berdua kemungkinan Eunhyuk hamil malam ini sangat besar, dan diam-diam dia sudah mencocokkan dengan siklus Eunhyuk, dia tahu gadis itu sedang dalam masa suburnya.
Ciuman-ciuman lembut di perutnya itu membuat Eunhyuk terbangun, dia membuka mata dan menatap Kyuhyun.
"Kyu?" Eunhyuk bertanya-tanya kenapa Kyuhyun mengecup perutnya.
Kyuhyun tersenyum, senyum yang sedikit kejam menurut Eunhyuk, tapi usapan tangan lelaki itu yang dilakukan sambil lalu di sepanjang kulitnya yang telanjang, terasa begitu lembut sekaligus menggoda.
"Aku bergairah lagi." gumam Kyuhyun serak, lalu bergerak naik dan mengecup bibir Eunhyuk penuh gairah.
Kyuhyun berbeda dengan tadi, pikir Eunhyuk, kali ini sedikit lebih kasar, tidak menahan diri dan sangat posesif. Ciumannya begitu bergairah, melumat bibir Eunhyuk kuat-kuat, lidahnya menjelajahi mulut Eunhyuk dengan panas, tangannya mengusap tubuh Eunhyuk penuh gairah.
"Kau milikku Eunhyuk-ah." gumam Kyuhyun parau sebelum bercinta lagi dengan Eunhyuk.
Eunhyuk terbangun dalam pelukan Kyuhyun. Matahari fajar sedikit menembus tirai putih jendela hotel itu, masih gelap dan dingin. Dengan nyaman Eunhyuk makin bergelung dalam pelukan lelaki itu. Dan secara otomatis Kyuhyun mengetatkan pelukannya, melingkarkan lengannya erat-erat di tubuh Eunhyuk.
Eunhyuk memejamkan matanya, menenggelamkan wajahnya di dada telanjang Kyuhyun, menghirup aroma Kyuhyun kuat-kuat dan menyimpannya rapat-rapat dalam memorinya. Tiba-tiba air mata merembes dari sela bulu matanya, dan Eunhyuk menahannya agar tidak menjadi isakan.
Kenapa? Kenapa Tuhan membuatnya jatuh cinta lebih dulu kepada Kyuhyun sebelum kemudian mengabulkan doanya agar Donghae terbangun dari komanya? Apa rencana Tuhan di balik semua peristiwa ini? Kenapa di saat Donghae benar-benar sudah bangun, hatinya sudah jatuh dimiliki oleh Kyuhyun?
Eunhyuk menggigit bibirnya agar tangisnya tidak semakin keras dan membangunkan Kyuhyun, dia tidak boleh menangis. Ini semua sudah menjadi keputusannya. Dia sudah memiliki Donghae. Donghae yang mencintai dan dicintai olehnya sejak awal. Donghae yang sebatang kara dan tidak akan punya siapa-siapa kalau Eunhyuk tidak ada di sampingnya. Donghae lebih membutuhkan Eunhyuk dibandingkan Kyuhyun. Tanpa Eunhyuk, Donghae akan rapuh, sedangkan tanpa Eunhyuk, Kyuhyun akan tetap kuat. Kyuhyun bisa mencari Eunhyuk-Eunhyuk yang lain dengan segala kelebihannya, sedangkan Donghae juga hanya memiliki Eunhyuk.
Dia sudah memutuskan dalam hatinya, tapi kenapa hatinya tetap terasa begitu sakit? Rasanya seperti disayat-sayat ketika memikirkan Kyuhyun, ketika ingatannya melayang pada setiap kebersamaan mereka. Kenapa rasanya masih terasa begitu sakit?
Dan malam ini Eunhyuk memutuskan bertindak egois. Hanya malam ini ya Tuhan, ampuni aku, desah Eunhyuk dalam hati. Dia tahu semua ini akan terjadi. Dia tahu jika dia datang menemui Kyuhyun pada akhirnya mereka akan berakhir di ranjang dan bercinta. Eunhyuk tahu itu semua akan terjadi, tapi dia tetap mengambil konsekuensi itu, dia butuh merasakan pelukan Kyuhyun untuk terakhir kalinya, dan kemudian meyakinkan dirinya bahwa ini adalah perpisahannya dengan Kyuhyun.
Pelukan Kyuhyun tiba-tiba mengencang dan lelaki itu dengan masih malas-malasan mengecup dahi Eunhyuk.
"Dingin?" tanyanya serak.
Eunhyuk mendongakkan wajah dan mendapati mata coklat itu menatapnya. Lalu tersenyum lembut, dan menggeleng.
Kyuhyun meraih dagu Eunhyuk dan mengecupnya dengan kecupan singkat.
"Aku menyakitimu tidak semalam?"
Sekali lagi Eunhyuk menggeleng dan menenggelamkan wajahnya ke dada Kyuhyun, menahan air mata. Ini adalah saat berharganya. Berada dalam pelukan erat Kyuhyun, merasakan kelembutan dan kemesraannya. Dia akan menyimpan kenangan ini dihatinya, biar di saat-saat dia merasa pedih dan merindukan Kyuhyun, dia tinggal menarik keluar kenangan tentang pagi ini, dan hatinya bisa terasa hangat.
Seperti inilah dia akan mengenang Kyuhyun nanti, lembut, penuh cinta dan memeluknya erat-erat.
Seolah mengerti pikiran Eunhyuk yang berkecamuk, Kyuhyun tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia hanya memeluk Eunhyuk erat-erat dan mengusap punggungnya dengan lembut, mereka larut dalam keheningan dan usapan Kyuhyun membuat Eunhyuk setengah tertidur.
"Aku harap kau tidak menyesali malam tadi." Bisik Kyuhyun lembut, menggugah Eunhyuk dari kondisi setengah tidurnya.
Eunhyuk mendongakkan kepalanya lagi dan menatap Kyuhyun lembut.
"Kau tahu aku tidak menyesal." tangannya dengan hati-hati mengusap wajah Kyuhyun, takut akan reaksi Kyuhyun karena dia tidak pernah melakukannya sebelumnya. Tapi Kyuhyun langsung memejamkan mata, menikmati setiap usapan Eunhyuk dengan penuh perasaan.
Merasa mendapatkan izin, dengan lembut Eunhyuk menggerakkan tangannya, meraba wajah Kyuhyun. Mulai dari dahinya, lalu ke alisnya yang tebal, ke mata yang terpejam itu, ke bulu mata tebal yang hampir menyentuh pipi ketika Kyuhyun terpejam, ke hidungnya, ke tulang pipinya yang tinggi, ke rahangnya yang mulai ditumbuhi bakal janggut, hingga ke bibirnya yang tipis tapi penuh, bibir yang tak terhitung lagi sudah mengecupnya berapa kali.
"Eunhyuk-ah..." Kyuhyun mendesah, mengernyitkan keningnya merasakan usapan lembut Eunhyuk di wajahnya, tangannya lalu menahan jemari Eunhyuk di bibirnya dan mengecupnya, mata cokelat nya membuka dan menatap Eunhyuk bagai api yang menyala.
"Apapun yang akan terjadi nanti, aku akan membuat kau mensyukuri malam ini." Gumam Kyuhyun misterius.
Eunhyuk mengernyitkan kening mendengar kata-kata Kyuhyun yang penuh arti. Apa maksud Kyuhyun?
Tapi sebelum Eunhyuk bisa berpikir lebih lanjut, Kyuhyun sudah meggulingkan tubuh Eunhyuk dan menindihnya. Bercinta lagi dengannya.
Eunhyuk membuka pintu apartemen dengan berhati-hati dan menemukan dokter Jinhee sedang duduk di ruang tamu sedang menyesap kopi dan menonton televisi.
Dokter Jinhee tersenyum penuh pengertian ketika menatap Eunhyuk. Saat itu jam 8 pagi, Eunhyuk sengaja meminta Kyuhyun memulangkannya pagi-pagi sehingga Donghae belum bangun. Semalampun ia berangkat setelah yakin Donghae sudah tertidur pulas.
"Donghae belum bangun." jawab dokter Jinhee tenang, menjawab pertanyaan di mata Eunhyuk.
Eunhyuk menarik napas lega.
"Dokter menginap di sini?" tanyanya pelan.
Jinhee mengangguk.
"Suster Kim memintaku menemani untuk berjaga-jaga, dan aku tidak keberatan, toh aku tidak ada acara apa-apa," Jinhee tersenyum lembut kepada Eunhyuk, "kuharap semalam bisa menyelesaikan segalanya."
Pipi Eunhyuk memerah mendengar ucapan Dokter Jinhee yang penuh arti itu,
"Dia agak marah tadi pagi saat saya buru-buru pulang demi Donghae", bisik Eunhyuk pelan.
Jinhee terkekeh sambil meletakkan cangkir kopinya.
"Dia memang begitu, tak usah pedulikan, aku yakin sebenarnya dia bahagia kau telah memberinya kesempatan," suara dokter Jinhee berubah serius, "dan setelah semalampun kau tetap pada keputusanmu Hyuk-ah?"
Eunhyuk tercenung mendengar pertanyaan itu, sejenak ragu, tapi lalu menganggukkan kepalanya mantap,
"Saya harus terus bersama Donghae, dia membutuhkan saya." jawabnya lembut.
"Kau selalu memikirkan orang lain, bagaimana dengan dirimu sendiri?" tanya dokter Jinhee tiba-tiba.
Dengan masih tersenyum Eunhyuk menjawab.
"Saya tidak apa-apa dokter, saya merasa bahagia karena semua orang bahagia."
Semua orang bahagia selain kau dan Kyuhyun. Pikir Jinhee miris ketika Eunhyuk berpamitan ke kamar untuk berganti pakaian. Jinhee tahu kalau Eunhyuk sama tersiksanya dengan Kyuhyun. Dan dia ingin berteriak marah kepada Eunhyuk, memarahi ketidakegoisan gadis itu, sekaligus bertanya sampai kapan Eunhyuk mendedikasikan hidupnya untuk kepentingan orang lain? Untuk kebahagiaan orang lain? Jinhee merasakan dorongan kuat untuk memaksa Eunhyuk berbuat egois, mementingkan kepentingannya sendiri, berusaha meraih kebahagiaannya sendiri. Tapi dia tahu Eunhyuk, dengan kebaikan hatinya yang luar biasa itu tidak akan mau melakukannya.
Dan tiba-tiba Jinhee teringat pertemuannya dengan Kyuhyun ketika lelaki itu baru pulang dari eropa beberapa hari lalu, mata Kyuhyun saat itu tampak penuh tekad, setengah gila dan menyala-nyala.
"Kalau dia tidak bisa memilihku, maka aku akan memaksanya memilihku."
Wajah Jinhee memucat mendengar nada final dalam ucapan Kyuhyun waktu itu.
"Astaga Kyuhyun, kau tidak sedang berencana melakukan tindakan kasar dan pemaksaan untuk memiliki Eunhyuk kan?" berbagai pikiran buruk melintas di pikirannya, seperti kemungkinan Kyuhyun menculik Eunhyuk dan membawanya pergi, atau kemungkinan Kyuhyun akan menyingkirkan Donghae dengan cara kasar. Itu semua bisa dilakukan Kyuhyun dengan kekejaman dan kekuasaannya. Dan Jinhee takut Kyuhyun kehilangan akal sehatnya dan memutuskan melakukan salah satu dari hal yang ditakutinya itu.
Kyuhyun menarik napas panjang,
"Aku akan membuatnya hamil anakku." gumamnya setelah jeda yang cukup lama.
Jinhee menganga mendengarnya.
"Apa?" Jinhee sudah mendengar cukup jelas tadi, tapi dia sama sekali tidak yakin dengan apa yang didengar telinganya, dia butuh mendengar lagi.
"Aku akan membuatnya mengandung anakku." gumam Kyuhyun penuh tekad.
"Kau sudah gila ya Kyu?" suara Jinhee meninggi menyadari keseriusan dalam suara Kyuhyun.
Tapi Kyuhyun sama sekali tidak terpengaruh dengan nada marah dan ketidak setujuan Jinhee dia tetap tenang dan berpikir.
"Jika Eunhyuk mengandung anakku, mengingat sifatnya, dia tidak akan mungkin menggugurkannya. Itu berarti dia akan mengakui hubungan kami kepada Donghae, dan aku akan menggunakan segala cara dengan menggunakan anak itu sebagai alasan agar aku bisa mengklaim Eunhyuk."
"Kau gila!" seru Jinhee tidak setuju, "apa kau tidak pernah memikirkan perasaan Donghae? Hatinya akan hancur, dan Eunhyuk juga akan menderita jika dia sadar dia telah menyakiti hati Donghae."
"Kau pikir mereka saja yang menderita hah?" sela Kyuhyun keras, membuat Jinhee tertegun, "aku juga menderita! Aku tidak bisa makan, aku tidak bisa tidur! Aku menjalani detik demi detik, menit demi menit penuh penyiksaan! Aku sama saja sudah mati akhir-akhir ini! Aku juga menderita, menyadari bahwa aku bisa memiliki Eunhyuk tetapi tidak bisa berbuat apa-apa untuk membuat gadis itu memilihku! Sebelum kepulanganku aku sudah bertekad akan melakukan ini! Tidak ada yang bisa mengahalangiku!
"Kyu," Jinhee melembut, mencoba meredakan emosi Kyuhyun, "aku mengerti perasaanmu, tapi bagaimana kalau nanti Donghae ternyata menerima kondisi Eunhyuk apa adanya dan kemudian Eunhyuk memutuskan membesarkan anak itu bersama Donghae?"
"Kalau itu terjadi aku akan menggunakan cara kekerasan," jawab Kyuhyun dingin, "aku akan memberikan ultimatum, Eunhyuk memilihku, atau aku akan merenggut anak itu darinya, kalau perlu aku akan menempuh jalur hukum."
"Kejam sekali." Jinhee bergumam spontan.
Kyuhyun mengangguk tidak membantah.
"Ya memang kejam sekali." jawabnya menyetujui, tanpa penyesalan dan tampak penuh tekad menjalankan rencananya.
Dan sekarang Jinhee duduk di ruang makan, mencoba menarik kenangannya kembali. Dengan pelan disesapnya kopinya lagi.
Semoga Tuhan melindungi Eunhyuk kalau Kyuhyun benar-benar membuatnya hamil malam kemarin. Semoga Tuhan mengampuninya karena dengan kesadaran penuh dia sudah mendukung rencana Kyuhyun.
TBC
