Chapter 14 – Bittersweet (5)
Summary
Akhir kilas balik tentang apa yang terjadi di antara Kyo Ga dan Leila. Ketika Kyo Ga bersikeras melindungi Tae Jun di hadapan Leila yang menghunuskan pedangnya ke arah Tae Jun, pada akhirnya Leila kabur dan terjun ke bawah jurang. Kyo Ga yang merasa kehilangan hanya bisa diam dan menatap langit. Sementara itu, di gang belakang Yasmine bertemu para tamu yang menunggunya.
Melihat Leila menghunuskan pedang ke arah Tae Jun, Kyo Ga berlari dan membentengi Tae Jun "hentikan, Leila!? Apa yang kau lakukan?".
"kau lihat sendiri apa yang sedang kulakukan? Aku ingin membunuhnya... minggir dari situ" sahut Leila menatap Kyo Ga dan Tae Jun dengan sorot mata tajam dan dingin.
"mana ada seorang kakak yang akan membiarkan adiknya mati terbunuh di depan matanya sendiri, kan?!" sahut Kyo Ga menautkan alis "apakah dia benar-benar Leila? sorot matanya begitu kejam dan dingin...".
"kakak, ya..." ujar Leila terkekeh "aku juga punya kakak laki-laki yang baik sepertimu, meski kami harus hidup terpisah sejak ayah kandung kami meninggal saat kami masih kecil dan kami berdua diambil oleh orang yang berbeda... aku sangat menyayanginya karena kakak kembarku adalah satu-satunya kakakku, tapi saat aku ingin menemui kakakku, ternyata dia malah mati dibunuh seseorang... sebagai adik kembar yang bisa dikatakan sebagai belahan dirinya, wajar jika aku ingin membalas dendam atas kematiannya, kan?".
Kyo Ga menautkan alis "maksudmu... adikku yang sudah membunuh kakakmu?".
"bukan aku!" sahut Tae Jun.
"benar, adikku tak mungkin melakukannya?!".
"kita lihat apa kau masih bisa bicara begitu, aku yakin kau belum pikun dan takkan kubiarkan kau bilang kalau kau sudah lupa apa yang telah kau lakukan..." ujar Leila bercerita, sama seperti kakaknya yang diadopsi oleh seorang kakek yang baik hati, ia juga diadopsi sahabat ibunya.
"sebelumnya aku pernah cerita... bahwa bibi Sakura memintaku untuk pergi menemui kakek yang mengadopsi kakakku, kan? bibi Sakura berpesan padaku...".
"Leila, temui seorang kakek yang bernama Son Mundok di Fuuga, dialah yang mengadopsi kakakmu sebagai cucu angkatnya".
"dan setelah aku menemui beliau, baru aku tahu kalau ternyata Son Hak adalah kakakku...".
Kyo Ga dan Tae Jun terbelalak, tentu mereka kenal nama yang disebutkan oleh Leila dan diakui Leila sebagai kakaknya.
"tapi... kau bilang kembar?" ujar Kyo Ga.
"tapi kau tak mirip dengannya" tambah Tae Jun.
"kami berdua adalah anak kembar non identik, wajar jika tak mirip karena aku mirip ibuku dan kakakku mirip dengan ayah kami... kedua orang tua kandung kami adalah orang yang baik, tapi mereka berdua mati terbunuh saat kami berdua masih kecil... karena itulah, saat aku berhasil membalas dendam kematian kedua orang tuaku, aku pergi menemui kakakku... tapi kenapa... apa salah kakak sampai dia harus mati terbunuh?!" ujar Leila mengacungkan pedang ke depan "cepat minggir, Kan Kyo Ga!?".
"aku tahu, ucapan maaf tak ada gunanya bagimu karena tak mengubah kenyataan bahwa kau jadi sebatang kara sekarang, karena itulah..." ujar Kyo Ga maju selangkah dan merentangkan kedua tangannya "silahkan bunuh aku sebagai gantinya, tapi lepaskan adikku...".
Leila terbelalak "yang harus kubunuh itu adikmu, bukan kau... minggir?!".
"tidak bisa!?".
"kubilang minggir?!".
"tidak!? Aku tak ingin ada keluargaku yang mati lagi tanpa aku bisa melakukan sesuatu!? Jika kau ingin balas dendam, jika kau ingin ada yang disalahkan atas kematian kakakmu, limpahkan itu semua padaku!?" ujar Kyo Ga memegang ujung pedang yang ia arahkan ke dadanya "tusuk aku sekarang... bunuh aku sebagai ganti adikku jika itu membuatmu puas, tapi jangan sentuh adik dan ibuku".
"kau bodoh... kenapa kau yang harus menebus atas apa yang dilakukan adikmu? kenapa kau selalu berusaha menanggung apa yang tak seharusnya menjadi tanggung jawabmu?" ujar Leila menjatuhkan pedangnya dan berlari keluar, melewati An Ri yang terduduk lemas di depan pintu.
Kyo Ga meminta Tae Jun dan Heuk Chi menjaga An Ri, lalu pergi menyusul Leila.
Di tengah pegunungan terjal di perbatasan wilayah suku angin dan suku api, prajurit suku api yang mengikuti Kyo Ga setelah mendengar apa yang terjadi, memanah kuda yang ditunggangi Leila sehingga kuda itu tersungkur ke jurang bersama Leila. Sebelum Leila jatuh ke jurang, Kyo Ga berhasil menangkapnya terlebih dahulu namun Leila kembali menghunuskan belati ke arah Kyo Ga sambil melangkah mundur.
"padahal aku sudah sengaja menabrakkan diri ke arah kalian tapi rencana ini harus tertunda karena amnesia yang merepotkan itu di luar perhitunganku... aku memang berniat menghabisi adikmu setelah mengancamnya, begitu kukatakan kalau aku akan membunuh ibumu, dia mau menuruti permintaanku untuk mengirim sinyal palsu agar tentara suku Langit tak menyerang kerajaan Xing... tapi pada akhirnya, aku tetap gagal... tahu begitu, harusnya kulakukan ini sejak awal, setelah melihatnya terjatuh dari sini...".
Mengetahui di tempat ini Leila melihat Hak dan Yona terjatuh dari jurang, Kyo Ga mendapat firasat buruk.
"berhenti, jangan melakukan hal nekad... kau masih bisa kembali..." ujar Kyo Ga mengulurkan tangannya ke depan.
"sejak awal, hanya ada satu jalan bagiku yaitu terus maju... tak ada jalan kembali bagiku sebab jika aku mundur, hanya ada kematian bagiku..." ujar Leila menggelengkan kepala dan tersenyum pilu meski air matanya membasahi wajahnya "selamat tinggal, Kyo...".
"LEILA!?" teriak Kyo Ga yang mengulurkan tangannya ke depan tanpa bisa meraih kembali tangan Leila, Leila terlanjur melompat ke bawah tebing.
Beberapa anak panah beracun yang terlanjur dilontarkan oleh prajurit suku api karena merasa Kyo Ga dalam bahaya, menancap tepat di tubuh Leila yang jatuh ke jurang. Hanya ada kalung milik Leila yang kini ada dalam genggamannya.
"yang membuatku begitu marah dan kecewa, bukan karena kau menipuku dan mendekatiku karena berniat balas dendam sejak awal... tapi karena lagi-lagi aku harus kehilangan hal yang berharga bagiku tanpa tahu apapun dan tanpa bisa berbuat apapun... kupikir aku mengerti, tapi ternyata... sama saja seperti yang terjadi dengan mendiang ayahku..." pikir Kyo Ga menyandarkan kepalan tangannya ke dahinya sambil menggenggam erat kalung milik Leila yang ada di genggaman tangannya.
"jadi... mendengar cerita adikmu, sejak awal kau memang berniat balas dendam?" ujar Kyo Ga bersandar di dinding sambil menatap langit "meski hanya sesaat, apa yang kupikirkan... sejak awal... bukankah sudah jelas kalau dia membenciku dan berniat balas dendam sejak awal? Aku adalah kakak dari orang yang telah membunuh kakaknya... jadi wajar jika ia berusaha mendekatiku...".
Sementara itu, Yasmine berhasil mengelabui para prajurit yang mengejarnya dengan cara lari ke Kuuto. Yasmine memang kabur ke hutan belakang kastil Hiryuu, lalu ia berganti kendaraan dengan memakai kuda yang ia larikan ke Kuuto. Berkat ini, sementara para pasukan pengejar mencarinya di hutan belakang kastil Hiryuu, tak ada yang menyangka kalau ia memutar jalan dan kembaku ke Kuuto.
Di Kuuto, ia bersikap seolah baru tiba sambil membawa kuda di Kuuto. Setelah ia menitipkan kuda di depan sebuah toko, ia masuk ke toko itu.
"kau lama sekali".
Yasmine melepaskan tudung jubahnya "kenapa bad mood begitu, Ogi? apa tamuku membuat masalah? Harusnya mereka sudah datang semua, kan?".
Ogi menghela napas dan menunjuk ke arah rombongan yang duduk di pojok "suasana tempat ini jadi suram karena tegang, nih".
Yasmine tertawa dan memberikan sekantung emas pada Ogi "maaf, aku akan segera membawa mereka pergi setelah kami bicara sebentar, jangan khawatir...".
"tampaknya kau bisa lebih memberi penghasilan yang menguntungkan dari kakakmu" ujar Ogi terkekeh melihat banyaknya bayaran yang ia dapat dari Yasmine.
"hanya untuk saat ini, entah jika nanti setelah kepemimpinan berganti lagi".
"hati-hati dengan mulutmu, nona".
"aku tahu..." ujar Yasmine menghampiri rombongan yang duduk di pojok "jadi, bisa kita pergi sekarang? aku tak heran jika Tao meminta Algira dan Vold untuk mengontakku, tapi tak kusangka... malah kau yang pertama mengontakku, Kou Ren?".
"langsung saja... dimana putri Yona dan rombongannya?" tanya Kou Ren.
"dan bagaimana kondisi mereka semua sekarang? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Tao.
"satu-satu tanyanya... baiklah, mulai dari mana, ya?".
