Berbanding terbalik dengan Yamaguchi yang jelas-jelas menyuarakan kesukaannya pada kentang goreng, Tsukishima justru memilih diam. Namun bukan juga jika Yamaguchi suatu siang membawakannya kue hasil eksperimen dia dan ibunya di depan Hinata dan Kageyama lantas Tsukishima akan menolak.
Tidak. Tsukishima akan tetap mengambil kotak makan itu dan dengan tenang melanjutkan penjelasan - serta sindiran - pelajaran kepada duo aneh dari Karasuno tersebut.
Lagipula siapa yang bisa menolak makanan manis dari Yamaguchi? Jika mereka berani membuka toko kue, Tsukishima jamin dialah yang akan menjadi pelanggan nomor satu mereka. Dia pu selalu percaya makanan dari rumah Yamaguchi selalu enak, dan kue-kue dari mereka tak kalah dengan buatan patissier restoran. Makanan buatan tangan mereka tak pernah mengecewakan karena, bagaimana tidak mungkin kue ini tidak manis jikalau pembuatnya bukan yang termanis?
Uhuk! Tsukishima berdehem. Membuyarkan pikirannya yang sudah terbang dibawa peri gula entah kemana.
Sedangkan Yamaguchi setelah membagikan kue yang juga diberikan ke 'murid' mereka kemudian mengambil duduk di samping Tsukishima. Sambil lalu tangannya menunjuk kertas milik Hinata dan mengatakan bahwa jawabannya salah.
"Kenapa?!" tanya Hinata tidak percaya.
Yamaguchi hanya terkekeh dan dilanjutkan dengan penjelasan. Dengan sabar, sahabat sekaligus cinta pertama Tsukishima memadupadan kata dengan lebih sederhana daripada yang Tsukishima lima menit lalu gunakan agar dua orang yang hanya pintar dalam voli itu mengerti.
Dia terus menjelaskan hingga tak sadar bahwa Tsukishima memperhatikannya. Pikirannya kembali dibawa terbang oleh peri gula dan mulai berandai-andai.
Yamaguchi adalah manusia termanis yang pernah dia temui dan Tsukishima bukan hanya membual. Dia dengan yakin menanam dalam-dalam julukan itu dalam benaknya. Juga dia tak pernah membual karena Tsukishima lah orang yang paling bisa mencicipinya.
Tangannya yang terkadang dingin bagai icing sugar yang ketika bersentuhan dengan kulitnya, Tsukishima merasa sejuk tapi kemudian meleleh. Kulit coklat yang harum bagai kayu manis namun beraroma strawberi segar membuat Tsukishima dilema untuk dapat menggapai dan menggitit, ataukah hanya boleh menciuminya saja. Bibir merah muda yang selalu diikuti senyum, kadang juga digigit, kadang dikulum kemudian berwarna merah cerah juga berkilau dilapisi saliva terlihat seperti permen lolipop anak-anak.
Lalu yang teraneh, Tsukishima pun menganggap bahwa airmata milik Yamaguchi terasa manis.
Dia pernah merasakannya di tahun lalu saat Yamaguchi takut mereka akan berpisah. Menangis sambil menggengam ujung baju Tsukishima. Tak ingin melepasnya. Hingga satu-satunya solusi yang terpikirkan di otak penuh gula Tsukishima - yang saat itu konslet dan bersirkuit pendek karena tak tahan melihat orang kesayangannya menangis - mencium pipi penuh jalur airmata Yamaguchi dan mengatakan, "Aku tidak akan pergi" dan "Kita akan bersama selamanya".
"Oi! Sinishima!"
Kepala Tsukishima terantuk akibat panggilan dari suara tersebut. Matanya teralih dari melihat Yamaguchi yang tersenyum canggung menjadi lirikan tajam ke arah Hinata.
"Apa?" tanyanya dengan nada kesal.
"Kau jangan lihat Yamaguchi saja! Kau juga harus mengajari kami! Memangnya kau tidak ingin ke kejuaraan nasional ha?"
Tsukishima mendengus. "Kalau otakmu tidak sampai, lantas aku bisa apa?" ejeknya.
