Author : Maafkan saya atas fic saya yang makin lama makin EDAN! ==
Rin : Udah lama kalee kalau fic kau ini ancur bin gila!
Len : Setuju *gaya cool*
Author : Aish! Kenapa sih kalian itu sinis amat ma aku, Author kalian di fic ini! *marah*
Rin + Len : Badan-badan kami, kenapa luu yang sewot? *kumat pakai bahasa luu gua*
Author : Terserah luu deh! Gua kaga' mao jadi author luu lagi!
Rin + Len : Ehh? Iya deh. Lanjutin fic ini ya? :) *puppy eyes*
Author : *enggak tahan* Iya2!
.
.
Disclaimer : Vocaloid bukan milik saya ! ^^
Warning : OOC, OOT, gaje, abal, de el el
Normal POV
Lho? Mereka kan?
"Mei-nee, kau ini jahat sekali ya!" ujar pemuda berambut merah magenta itu. Di sampingnya berdiri gadis berambut merah magenta sama sepertinya, tetapi dikucir dua ikal.
"Salah sendiri kalian ini lola sekali! Ya sudah! Cepat masuk," respon Meiko, kakak mereka berdua. Lalu, kedua anak kembar itu masuk dan duduk di kursi belakang.
Sedangkan gadis berambut honeyblond yang sudah duduk daritadi di kursi belakang, menatap tidak percaya kedua sosok itu.
Saat sang gadis berambut merah masuk, ia kaget. Sang pemuda juga tidak kalah kaget.
"Rin..."
"Teto..." Ucap kedua gadis itu bersamaan.
.
Beberapa detik kemudian~
"TETO-CHAN!" seru gadis yang bernama Rin.
"RIN-CHAN!" seru gadis yang bernama Teto. Teto duduk di samping Rin di sebelah kanan.
"Kenapa Rin-chan enggak cerita kalau ke sini?" tanya Teto. Rin tersenyum.
"Kalau mau tahu jawabannya, tanya KAITO-nii aja deh." Jawab Rin sambil menekankan kata Kaito-nii.
"Hehe.. Maafkan aku Rin-chan, Teto-chan. Aku hanya ingin membuat surprise aja kok!" jawab Kaito sambil cengar-cengir.
"Hmph!" respon Rin dan Teto bersamaan. Lalu, Kaito dan Meiko terkekeh.
"Kalau begitu, ayo kita berangkat!" seru Kaito, dan disambut dengan tawa Meiko.
Lalu, mobil itu melaju menuju taman.
Rin's POV
Kini, kami sampai di taman di pusat kota.
Hanahata
Itulah yang tertera dalam sebuah papan besar di taman tersebut. Hanahata, yang berarti Taman Bunga.
"Teto-chan!" panggilku pada gadis berambut magenta yang ada di sampingku.
"Ada apa?" tanya Teto sambil terus berjalan.
"Kenapa kau habis menangis?" tanyaku sambil mengerawang. Teto terlihat tersentak. Aku pun menghela napas.
"I-itu, itu karena.." Teto diam sejenak. Ia menutup matanya sebentar dan menoleh ke arahku.
""Te-ted memutuskan hubungan denganku," jawab Teto. Dari wajahnya, sangat terlihat bahwa ia menahan tangisnya.
"Na-nani?" ujarku kaget. Teto mengangguk.
"Kurang ajar sekali sih dia!" ujarku dengan kesal. Kaito dan Meiko yang mendengar ujaranku itu menoleh.
"Ada apa, Rin-chan?" tanya mereka berdua. Aku pun hanya cengar-cengir dan menggeleng.
"Kok bisa sih, Teto?" tanyaku lagi pada Teto.
"Dia bilang, dia enggak pantas jadi pacarku. Di-dia juga sudah menyukai gadis lain!" jawab Teto sambil menundukkan kepala.
Aku tahu, dia sekarang sangat sedih, dan terpukul.
"Aku tahu, Teto-chan. Kau yang sabar ya?" ujarku sambil mengelus punggung Teto. Teto mengangguk dan tersenyum lembut.
Setelah itu, kami berlima pun menghabiskan hari sampai sore di Hanahata.
.
.
Normal POV
Malamnya, mereka berlima sudah pulang. Yah, setelah jalan-jalan di taman mereka pergi lagi kemana-mana. Author saja tidak tahu.
"Kaito-nii, aku capek!" ujar Rin sambil merebahkan tubuhnya di sofa. Kaito tertawa dan langsung mendekati adik sepupunya itu.
"Bukan hanya kau, imouto.." jawab Kaito sambil mengacak-acak rambut Rin.
"Kalau begitu aku mau mandi dulu deh," lanjut Rin dan ia langsung pergi ke atas. Kaito mengangguk pelan.
Kaito langsung menyalakan televisi dan melihat-lihat berita apa kali ini.
Sedangkan di atas, Rin sibuk mandi. Tidak lama, ia keluar dengan piyama terpasang rapi di tubuh mungilnya.
"Ah! Capek," keluh Rin. Lalu, ia segera merebahkan diri di tempat tidur, dan memeluk bantal jeruknya.
'Piip piip piip'. Ponsel Rin berbunyi keras, membuat Rin yang tengah memejamkan matanya terkejut. Segera ia mengangkat telepon tersebut.
"Ehh, iya halo!" sapa Rin gelagapan.
"Halo Rin, kau sedang apa?" tanya orang dari seberang― Len Kagami.
"Ah, hai Len! Aku hanya tiduran kok. Ada apa? Tumben malam-malam telepon," respon Rin sambil terus memeluk bantal jeruknya.
"Tidak apa-apa sih. Hanya kangen," jawab Len. Di seberang sana, muka Len sudah merah merona bagaikan tomat matang. Tidak berbeda dengan Len, Rin pun juga begitu.
"Ap-pa sih! Baru juga sehari enggak ketemu," ujar Rin sambil membenamkan mukanya yang merah padam di bantal.
"Haha.. Emm, tadi kau kemana sih Rin? Aku melihatmu dan Kaito masuk mobil milik seseorang tadi pagi," tanya Len dengan nada, err khawatir?
"Oh, tadi aku jalan-jalan ke Hanahata dengan Kaito-nii dan Meiko-nii.. Dan adik-adik Mei-nii ikut lho! Coba tebak siapa mereka?" jelas Rin dengan semangat.
"Ah, aku menyerah. Aku tidak tahu," jawab Len. Rin bersorak penuh kemenangan.
"Mereka itu Teto dan Ted lho!" seru Rin. Len yang ada di seberang kaget.
"Hah? Jadi mereka calon saudaramu dong?" tanya Len. Rin mengangguk antusias.
"Iya! Seru kan?" jawab Rin senang. Len pun terkekeh pelan.
"Haha, ada-ada aja kau." Ujar Len. Rin hanya tersenyum.
"Nah, sekarang kan sudah malam, lebih baik kau tidur, Len. Konbanwa.." jawab Rin dan ia hendak memutus sambungan telepon.
"Eh tunggu!" cegah Len. Rin kembali langsung diam di tempat dan menunggu lanjutan Len.
"Good night, my honey.. Happy nice dream.. I love you," lanjut Len. Muka Len memerah lagi. Muka Rin sangat panas sekarang ini.
"Ye-yeah, I love you too.." jawab Rin dan langsung memutus sambungan telepon.
"A-ada-ada saja deh! Kau memang terbaik untukku, Len." Gumam Rin. Lalu, ia mendengarkan lagu dari ponselnya.
Tidak lama, ia bersenandung pelan.
Beberapa menit kemudian, ia terlelap dan tenggelam dalam alam mimpi.
.
.
"Kaito-nii! Aku berangkat sekolah dulu ya!" seru Rin sambil berlari. Kaito dari dalam rumah hanya geleng-geleng kepala.
Rin terus berlari hingga sampai di sekolahnya.
BRUK!
Tidak sengaja, ia menabrak seseorang.
"Aw," rintih Rin sambil berusaha berdiri.
"Lho, Rin-san?" tanya orang tersebut. Rin langsung mendongakkan kepalanya dan melihat siapa orang tersebut.
"Eh? Akaito-san?" seru Rin kaget. Sedangkan orang bernama Akaito itu tersenyum.
"Iya.. Ah, tidak perlu Akaito-san, cukup Akaito saja. Lagian aku masih 17 tahun kok." jawab Akaito. Rin terbelalak.
"Hee? 17 tahun sudah menjadi dokter? Hebat!" puji Rin sambil tepuk tangan seperti anak kecil. Ia tersenyum tulus sambil terus merapatkan kedua telapak tangannya.
"Haha, iya Rin-san. Dulu aku hanya sekolah di bangku SMP dan SMA masing-masing hanya setahun," jawab Akaito. Rin tersenyum.
"Pintar ya.. Ah, kalau begitu Akaito panggil aku Rin saja!" ujar Rin sambil tersenyum. Akaito mengangguk.
"Oh iya, aku minta maaf! Tadi aku buru-buru sih," lanjut Rin sambil menggaruk kepalanya.
"Baiklah. Tidak apa-apa kok. Kalau begitu aku antar saja ya?" tawar Akaito. Rin menggeleng cepat.
"Tidak perlu. Lagipula sekolahku dekat kok dari sini," jawab Rin. Akaito ganti menggeleng.
"Tidak tidak. Aku antar saja sebagai permintaan maaf. Ayo," ujar Akaito dan langsung menarik Rin ke suatu tempat.
Tempat parkir. (Yaiyalah!)
Sekarang, Rin dan Akaito sudah ada di dalam mobil. Tangan Akaito sibuk mengemudi mobil tersebut.
Dalam hitungan detik, mobil Akaito langsung melesat ke sekolah Rin.
"Tidak apa-apakah? Akaito kan sibuk sebagai dokter," tanya Rin sambil merapikan roknya.
"Tak apa. Lagipula jam kerjaku setiap sore sampai malam kok," jawab Akaito tenang. Rin hanya tersenyum tipis.
Selama perjalanan, mereka tenggelam dalam keheningan.
Tidak lama, sekolah Rin sudah ada di depan mata.
CKIIT! (Baca : Mobil berhenti)
"Ini 'kan sekolahmu, Rin?" tanya Akaito sambil tersenyum. Rin mengangguk dan langsung membuka pintu mobil.
"Iya.. Domo arigato, Akaito!" jawab Rin, lalu ia segera menutup kembali pintu dan berlari masuk ke sekolah.
Sepeninggal Rin, Akaito tersenyum, senyum sedih. Ia menatap punggung Rin dengan nanar.
"Yah, andai saja ia belum pergi, mungkin ia sudah sepertimu," gumam Akaito pelan. Lalu, ia segera meninggalkan sekolah Rin.
Tanpa sepengetahuan mereka berdua, sepasang mata sedang mengamati mereka dengan kesal.
.
.
.
Rin terus berlari. Lalu, ia berhenti di depan kelasnya.
"Untung saja ada dia!" gumam Rin dengan senang. Lalu, ia segera membuka pintu.
Sedetik sebelum itu, gerakan Rin terhenti.
"Dia siapa?" tanya seseorang dengan nada dingin. Rin menoleh ke kanan ke kiri. Lalu, ia mendapati seseorang.
"Ah Len, selamat pagi!" sapa Rin sambil tersenyum. Ternyata dia adalah Len. Len sedang menyandarkan tubuhnya di dinding dengan tatapan tajam lurus ke depan, tetapi bukan ke arah Rin.
"Tidak perlu berbasa-basi. Siapa tadi?" tanya Len to the point. Rin bingung sendiri.
"Dia siapa?" Rin balik tanya. Len menegakkan tubuhnya dan mendekati Rin.
"Tidak perlu berpura-pura bodoh deh!" bentak Len. Rin terperanjat. Ia menatap sosok pemuda berambut blonde di depannya itu dengan bingung.
"Aku tidak pura-pura! Dia siapa, Len?" tanya Rin.
"SIAPA YANG MENGANTARMU TADI?" Len balik tanya. Tetapi, nadanya tinggi dan ia terlihat sangat emosi. Dilihat dari wajahnya yang merah padam.
"Aku hanya diantar oleh Akaito, dokter yang merawatku dulu!" jawab Rin sambil menatap lekat-lekat Len.
"Kau selingkuh kan?" tuduh Len sambil mengacungkan telunjuknya tepat di depan wajah Rin.
"JANGAN BICARA YANG TIDAK-TIDAK KAGAMI LEN!" teriak Rin emosi.
"Aku tidak bicara yang tidak-tidak, Kagamine Rin! Kau selingkuh kan!" balas Len sambil mencengkeram bahu Rin.
"Aku tidak selingkuh! Mana mungkin aku bisa selingkuh!" balas Rin kesal.
"BUKTINYA KAU SEMOBIL DENGAN AKAITO! LALU KAU DUDUK DI SAMPINGNYA!" bentak Len. Emosinya mulai memuncak.
Rin langsung terkesiap.
Dari mana dia tahu? Apa dia membuntutiku?
"Me-memang aku duduk di sampingnya! Tetapi tidak ada salahnya kan! Dia hanya temanku kok!" bantah Rin gelagapan.
"Bohong! Aku tahu kok! Matamu berkata lain! Jadi ini balasan untukku! Apa kau sudah lupa bahwa aku ini PACARMU?" balas Len sambil terus mencengkeram bahu Rin.
Rin yang risih dipegangi terus menerus menepis tangan Len.
"Jangan mencengkeram bahuku seperti itu!" bentak Rin kesal.
"Oh, jadi ini perlakuanmu untukku? Baiklah! Mulai sekarang, jangan temui aku lagi!" teriak Len.
"A-aku ti― " belum sempat dilanjutkan, sudah dipotong oleh Len.
"Aku tahu! Aku memang tidak pantas untukmu, Kagamine Rin! Mulai detik ini, aku bukanlah kekasihmu lagi! Anggap saja kita tidak pernah berkenalan!" potong Len sambil membenarkan letak tasnya dengan amat kasar.
"Ta-tapi, kau tidak bisa memutuskan hubungan semudah itu!" jawab Rin. Matanya kini memerah, siap menangis.
"Itu untukmu, Nona Kagamine! Tetapi, tidak untukku! Aku sekarang ini bukanlah kekasihmu lagi!" ujar Len kasar.
"Kenapa? Kenapa kau begitu?" tanya Rin terbata. Len dengan angkuhnya menyibak poni yang menutupi wajahnya.
"Karena kau SELINGKUH! Sudah! Jangan ajak aku bicara lagi!" bentak Len angkuh. Lalu, ia berlalu dari hadapan Rin.
"OK! FINE! Aku tidak akan menganggapmu kekasih lagi! Aku benci denganmu, KAGAMI LEN!" teriak Rin. Dengan cepat, ia menyambar tasnya dan langsung berlari ke luar area sekolah.
Kaki Rin terus berlari. Airmata Rin mengalir deras.
Lalu, kakinya berhenti di sebuah tempat.
Padang bunga, tempat yang memulai kisah Rin dan Len dulu..
BRUK!
Rin jatuh terduduk. Mata azure miliknya menatap sedih hamparan bunga dan permadani hijau di depannya.
"Maaf, maafkan aku.. Aku tidak bermaksud seperti itu..." gumam Rin pelan. Airmata kembali mengalir.
Tangannya kini menahan tubuhnya. Ia menunduk.
Rambut pirangnya acak-acakan. Matanya sembab dan pipi Rin merah.
Tidak pernah ia kira bahwa hubungannya dengan Len akan berakhir secepat ini.
Dengan suara yang sedikit serak, ia menyanyikan sebuah lagu.
Kizuguchi ni fureta sono toki
Kimi wa kasuka ni furueteita
Yukusaki ga kawarazu ni
Tooi sora wo miteita
Mune ni nadoru kono itami no
Kotae ga hoshii wake janakute
Tada kimi ga iru kagiri
Yakusoku wo hatasu dake
Namida no ato ga kieru made
Hakanai kagayaki ga
Taeru koto nai youni
Tsuyoku dakishimeteru yo
Yuraginai omoi wa sou
Kimi to futari de tsumugu ashita e
Sono hikari saegiru mono
Furi harau kara
Koware iku sekai ga ima
Kodou no imi wo shimeshi hajimeta
Kokoro no naka kataku chikau
Kimi wo mamoru yo zutto...
Yuraginai omoi wa sou
Kimi to futari de tsumugu ashita e
Sono hikari saegiru mono
Furi harau kara
Koware iku sekai ga ima
Kodou no imi wa shimeshi hajimeta
Kokoro no naka kataku chikau
Kimi wo mamoru yo zutto...
"Maafkan aku.." gumam Rin lagi. Lalu, pandangannya kabur.
Dan di menit berikutnya, semuanya langsung berwarna hitam, dan hitam.
.
To Be Continued
.
Author : Yay.. Akhirnya selesai juga chapter 14nya..
Len : Dikit bener sih!
Rin : Iya! Lalu, kenapa Len jadi JAHAT?
Len : Kok jahatnya ditekan sih? ==;
Rin : Hehe
Author : Ben to yo! Yosh sak karepku, lha wong sing nggawe critane aku kok!
Len : Bahasa mana tuh?
Rin : Itu sih bahasa Ja...
Len : Apa?
Rin : Bahasa Jangkrik.. :D
Author : *jitak Rin* Udah ah. Review please minna-san.. :) Because, review is my energy! \(^0^)/
Len + Rin : Yaa.. REVIEW PLEASE!
