God Cheater

Cast : Super Junior 13 + 2

Summary : Dimulai dari penjara yang di penuhi orang-orang luar biasa yang tak terduga. Bagaimana jadinya jika mereka yang tak akur itu berkerjasama untuk keluar dari penjara yang memiliki pengamanan luar biasa? SJ FF

Rated: T

Disclaimer: FF ini milik seorang ika zordick. Ide cerita dan segala yang di dalamnya. Kecuali castnya.

Warning: Typos! AU, OOC, hati-hati dengan beberapa adegan. Gak suka ya.. tutup aja! Tapi yang baca wajib komentar (review)

Genre: Adventure, Crime

Warning tambahan: Kegilaan dan ketidak warasannya saja.

%ika. Zordick%

GOD AND US

Membisu…

Hanya terdengar derap langkah kaki yang kadang begitu jauh melangkah dengan terburu-buru. Suara nafas yang memburu juga terdengar di tengah keheningan ruangan yang terisi dua sel khusus yang berukuran cukup besar.

Seorang namja tampan meringkuk di sudut ruangan, pandangan matanya kosong. Hatinya di penuhi kecemasan yang mungkin tak berarti, mungkin karena dia tak bisa melakukan apapun sekarang ini. "Panas badannya terus naik sedari tadi" suara seorang namja cantik memecah keheningan. Terdengar menggema ke seluruh ruangan meski ia berbicara dengan suara yang terbilang relatif kecil.

Namja tampan di sudut ruangan enggan bergeming. Ia mendengar bahwa salah satu keluarganya sedang sekarat, tapi apa yang bisa ia lakukan. Bahkan pikirannya sekarang hanya tertuju pada sang tertua yang sedang di pisahkan dengan mereka. Hatinya juga merasa tak enak saat menyadari tak semua keluarganya bersama dengannya. Bagaimana dengan ke dua dongsaengnya yang menurutnya masih kecil, bagaimana dengan salah satu hyungnya yang bahkan tak bisa berbicara dengan benar, lalu bagaimana dengan dongsaeng cengengnya?

"Hae…" suara lain memanggilnya. Ia diam, sekelebat pikiran-pikiran buruk seolah mengambil alih pikirannya. TRAANGG… KRIEET… pintu baja berlapis-lapis itu mulai terbuka satu per satu. Menunjukkan sosok leader mereka yang bisa di bilang kacau. Matanya membengkak, tatapan matanya kosong bagai kehilangan jiwa. Tak ada tanda-tanda bahwa ia terluka, tapi mereka semua tahu leader mereka sedang sakit—di hatinya.

TRIING… pintu sel di hadapan mereka terbuka. Beberapa orang berwajah sangar dan berbadan besar menendang masuk leader yang begitu mereka segani dan sayangi ke dalamnya. "Tolong teman kami, dia sedang sakit. Bisakah kau memberikannya makanan dan obat" ujar sang namja cantik mendekat ke pintu selnya.

"MAU DIA MATI ATAU APA, ITU BUKAN URUSAN KAMI!" bentak salah satu diantara mereka.

"Kumohon!" namja bertubuh gempal memasang wajah memelasnya. Ia sungguh bersedia mengemis untuk mendapat sedikit pertolongan demi sang dongsaeng.

"Sudahlah hyung, anjing penjilat seperti mereka tak mengerti bahasa manusia. Kau harus menggunakan bahasa binatang agar mereka menolongmu" jijik sebenarnya. Henry—yang paling muda diantara mereka ambil bicara. Kenapa keluarganya harus mengemis untuk meminta sesuatu yang takkan pernah di kabulkan oleh manusia-manusia tak berprikemanusiaan itu.

"BRENGSEK!" pekik salah seorang dari mereka. Di bukanya cepat sel yang menampung kelima namja itu. Tak ada rasa takutpun yang tersirat di wajah seorang Henry Lau. Matipun ia tak peduli lagi. Ia terlalu sakit saat melihat keluarganya mati terlebih dahulu, lebih baik ia saja yang duluan.

Shindong—si namja bertubuh gempal menangkap kaki seseorang yang hendak menendang tubuh ringkih Henry. Bersujud di kaki itu, memohon layaknya seseorang yang tak punya harga diri. "Kumohon, teman kami akan mati. Kumohon~, berikan kami obat, jika kau berbaik hati bahkan segelas air putih pun tak apa. Ku mohon!"

Leeteuk tersentak. Mengapa ia semakin tak berguna sekarang? Apa ia ingin kehilangan dongsaengnya yang lain? Lidahnya bahkan terasa kelu untuk berucap, ia ingin memohon—membantu Shindong tapi tenggorokannya terasa tercekat. "MENYINGKIR KAU! DASAR MENJIJIKKAN!" seseorang itu menendang tubuh Shindong. Namja itu terjerambab, Henry berusaha menangkap tubuh Shindong. Membiarkan tubuhnya kecilnya yang terlebih dahulu menghantam dinding.

BUGGH…

Shindong buru-buru menyingkir dari tubuh Henry. "Henry—ah" panggilnya. Rasa takut menyeruak di dadanya. Ia sungguh melukai dongsaengnya. Ia juga tak berguna.

"HUWAAA" jeritan Leeteuk terdengar. Air mata itu kembali mengalir di pipinya. Dia menjambaki rambutnya sendiri. Ia merasa bersalah—sekali lagi dongsaeng-dongsaengnya terluka di hadapannya. "Kumohon, jangan sakiti mereka! Jangan berkorban lagi!" racaunya tak jelas. Ia persis seperti seorang yang gila.

Donghae—namja tampan di sudut ruangan mendongak. "Hyung~" akhirnya ia mengeluarkan suara. Matanya jelas menangkap sosok Leeteuk yang begitu hancur. Ia tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru selnya. Di lihatnya Shindong yang memohon dan Henry yang meringis menahan sakit. Heechul terus memegang tangan Sungmin yang terlihat dalam kondisi tidak baik-baik saja.

Deg…

Deg...

Kemana saja kau Lee Donghae?

Rasa sakit itu menusuk jantungnya. Ia segera bangkit dari tempat terpuruknya. GREEB…. Di raihnya kerah seragam seseorang yang hendak menyakiti keluarganya tersebut. BUGGH… di hantamkannya kepala seseorang tersebut ke dinding. Orang-orang berwajah sangar itu ingin segera menolong temannya, namun dengan cekatan Donghae menutup pintu sel yang di aliri listrik itu dengan tubuh yang ada di tangannya.

"ARGGHH" jeritan kesakitan terdengar. Donghae diam, tak bergeming. "Berikan kami segelas air, kalian tidak dengar? TEMANKU SEKARAT!" pekik Donghae.

"Calm down, Mr. Lee!" Donghae melepaskan tangannya saat mendengar seseorang seolah memanggilnya. Suara yang begitu ia kenal. Choi Siwon. "Tch!" Donghae berdecih. Kenapa wajah penghianat ini harus muncul lagi di hadapannya.

"Siwon, kumohon! Tolong Sungmin!" Shindong tak henti-hentinya memohon.

"DIAMLAH HYUNG!" teriak Donghae geram. Heechul tersentak, ini kali pertama Donghae membentak hyungdeulnya. "Aku jijik melihatmu Choi Siwon, sebaiknya kau pergi!"

"Hmm… maafkan aku, tapi sepertinya aku tak mengenal Choi Siwon—ssi. Berhentilah memanggilku dengan nama itu!" Dahi Heechul mengerut, orang yang bernama Choi Siwon ini tak mengenal dirinya sendiri? Ada apa sebenarnya ini? Apa Heechul kita yang cerdas melewatkan sesuatu?

Tak lama kemudian sesosok namja imut datang, senyuman indah terlihat di wajahnya yang jauh dari kesan seorang penjahat. "Ambilkan segelas air!" perintahnya pada bawahannya. Tak butuh waktu lama untuk mereka keluar dari ruangan, meninggalkan beberapa mantan penjahat mid building bersama dua God yang sedang merangkap menjadi hunter.

"Siapa kau?" suara Heechul terdengar begitu dingin. Menatap tajam wajah tampan seorang Choi Siwon. Siwon menyeringgai mengerikan, "Andrew, namaku Andrew" sebutnya santai, seolah itu memang dirinya.

"Kurasa namamu bukanlah sesuatu yang penting" Ren berbicara dengan nada sinis. Ia menyandarkan tubuhnya di dinding dekat sel. Di tatapnya dingin wajah cantik Heechul, "Beritahu kami di mana Kim Kibum" Taemin mengeluarkan suaranya kembali.

%ika. Zordick%

"Lebih cepat Bummie!" pekik Eunhyuk panik di saat tubuhnya ikut di banjiri darah segar dari tubuh Kangin. "Cek nafasnya bodoh!" Kibum berusaha mengendalikan truk yang dibawanya meski harus ia akui, ia cukup kerepotan karenanya.

"Nafasnya tidak ada lagi! AKU TAK MERASAKAN NAFASNYA LAGI!" Eunhyuk mulai tak sabaran.

"Shit!" umpat Kibum. Di injaknya pedal gas yang sebenarnya sudah kandas. Dia sesekali menoleh demi melihat keadaan Kangin. "AWAS!" jerit Eunhyuk saat konsentrasi Kibum pecah. Matanya membulat sempurna saat cahaya lampu lain menerpa wajahnya. Dia segera membanting stir ke kanan dan menyalip truk lain yang hampir menabrak mereka tersebut.

"Kita hampir sampai hyung, bertahanlah!" Eunhyuk mengguncang tubuh Kangin pelan. Di dekapnya tubuh dingin Kangin erat, mencoba memberi kehangatan yang mungkin sia-sia. Kibum membelokkan truknya, menubruk beberapa ambulans yang terparkir di halaman rumah sakit. Kibum tidak terlalu peduli. "Turun hyung!" ujarnya membuka pintu truk dan melompat turun. Eunhyuk segera menaikkan tubuh Kangin ke punggungnya. Ia juga ikut turun.

Mereka berlari di sepanjang koridor rumah sakit. Kibum berhenti di meja resepsionis rumah sakit. "Mana dokternya!" Kibum menggebrak meja. Beberapa orang dokter dan perawat segera datang. Mereka menunjukkan ruang UGD terdekat. "Turunkan dia di ranjang ini!" perintah sang dokter.

"Suster tolong alat pacu jantungnya!" perintah dokter lain. "Kalian keluar terlebih dahulu sebaiknya!" ujar seorang perawat pada Kibum dan Eunhyuk. "Kondisimu juga sepertinya tidak baik nak" Kibum tak bergeming dari tempatnya berdiri.

"Bummie, ayo kita keluar dulu!" ajak Eunhyuk menarik tubuh Kibum. Kibum menepisnya. Mata hitam kelamnya menatap tajam ke alat pendeteksi denyut jantung yang menggambarkan garis berlekuk yang semakin lama semakin datar. Horizontal—Kibum menggigit bibir bawahnya.

"Dia sudah pergi" ucap sang dokter.

%ika. Zordick%

"Hosh… hosh…" deru nafas itu terdengar memburu.

Kelam dan dinginnya malam sungguh tak berpihak pada mereka. Angin malam dekat langit seolah turut membantu membunuh dirinya—dia yang mungkin paling merasakan sakit di hatinya. Ia yang tak berguna. Ia yang seolah hanya peran pembantu dalam skenario pergulatan dunia yang berusaha menghancurkan keluarganya.

Bibirnya membiru dan menggelatuk karena dingin. Tapi tak ada gurat lemah di wajahnya. Ia seolah berubah menjadi seseorang yang begitu kuat. Yah.. kuat dengan dendam yang kini seolah mengambil alih seluruh jiwa dan hatinya. "Kau tidak apa-apa, bocah mesiu penipu?" Junhyung—musuh yang sekarang berada di pihak mereka menepuk bahunya. Sekali lagi ia menemukan panggilan sayangnya untuk sang eternal magnae.

Dia—Ryeowook kecil yang begitu baik hati dan polos menatap Junhyung, cukup membuat seorang yang kuat itu mengkeret takut. "Dimana markas Hunter? Beritahu aku!" terdengar dingin—suara hangat yang penjadi tombak kuat penyemangat keluarganya yang lain. Junhyung membisu, di liriknya KiKwang—temannya yang masih sibuk meraup oksigen sebanyak-banyaknya.

"Aku—" gelagapan. Ia merasa serba salah untuk memberitahu lelaki yang umurnya cukup terpaut jauh darinya. Ia harus melindungi seseorang di dalam sana. Sahabatnya—atau mungkin keluarganya. Hatinya juga ingin melindungi adik kecilnya yang sebenarnya tak tahu apapun. "Jika kau tak memberitahuku, akan kupastikan Seoul akan mengulang sejarah kelam Hiroshima dan Nagasaki" suara lirih Ryeowook membuat KiKwang tersedak ludahnya sendiri.

"Aku ataupun Junhyung hanya ingin melindungi adik kami. Yang Yoseob, kau tahu dia kan? Dia masih berusia tiga belas tahun dan markas Hunter adalah tempat teraman di dunia ini untuknya" suara itu bergetar menahan dingin ataupun menahan sebuah ketakutan yang tak ia ketahui datangnya dari mana.

"Kami mengerti, kami tidak akan tanyakan lagi!" Zhoumi menginterupsi, di bingkainya wajah Yesung yang pucat. Di bukanya pakaian basah yang dikenakan Yesung. Memeras pakaian itu agar kering. Seharusnya ia tak setuju dengan rencana Junhyung yang memilih kabur lewat laut. Lihatlah kondisi mereka sekarang—tragis dan akan ia jamin bahwa Ryeowook dan Yesung yang memang bertubuh lemah akan demam sebentar lagi. "Sudahlah Wookie!" pintanya selanjutnya.

Ryeowook menatap tajam Zhoumi. Hatinya seolah tertancap ribuan duri saat Junhyung dan Kikwang mengatakan soal 'adik' mereka. Zhoumi yang punya belas kasihan itu pun membantu mereka. "APA MAKSUDMU HYUNG? ADIKKU JUGA TAK KUKETAHUI KEBERADAANNYA SEKARANG" air mata itu akhirnya jatuh juga. Pertahanannya runtuh mengingat keberadaan dua dongsaengnya yang seusia dengan Yang Yoseob.

"Adikku juga berusia tiga belas tahun. Entah sekarang bagaimana mereka bertahan hidup. Ataukah mereka tak bisa. Mereka tak punya tempat aman di dunia ini. Mereka sendirian. Mereka terluka hyung! Bisakah mereka membantu adik kita seperti kita membiarkan adik mereka untuk memiliki tempat yang aman?" suara Ryeowook berubah semakin serak. Di pukulnya kuat dadanya, rasa sakit itu sungguh bergejolak membakar hatinya.

"Kyu~… Hiks… Bummie~… hiks… bagaimana mereka di sana hyung? Bagaimana nasib mereka? Mereka juga terlalu kecil untuk ini semua" lirih Ryeowook. Tangisannya pecah sudah. Kikwang terdiam. Benarkah diantara mereka ada semuda itu? Ya.. dia bahkan terkejut dengan keberadaan seorang Kim Ryeowook yang bisa terbilang amat muda. "Maafkan kami" gumam Junhyung mengepal tangannya kuat. Hatinya juga terasa teriris. Ia tak bisa membiarkan saat Yoseob—keluarganya bernasib sama seperti ini.

Kikwang menatap sendu Junhyung dan Ryeowook bergantian. Mungkin sekarang ialah yang paling tak berguna di tengah keluarganya. Yoseob yang berusaha menghidupi mereka, Junhyung yang selalu melindungi mereka lalu ia—apa yang pernah ia lakukan untuk ke dua keluarganya itu?

Ia menatap lurus ke arah laut, lampu dari kota memantul bersamaan dengan cahaya bulan yang amat cerah. Angin malam membuatnya menggelatuk tapi ia hiraukan. Bukankah hati orang yang di sampingnya jauh lebih dingin dari pada malam. Ryeowook—bocah yang cukup membuatnya terkejut ini lebih membutuhkan kehangatan di hatinya di bandingkan tubuhnya.

%ika. Zordick%

Deg….

Deg….

"Kita kehilangan dia" suara sang dokter seolah menggema di telinga Eunhyuk. Air matanya langsung jatuh. "HYUNGGG!" pekiknya dan berlari menuju jasad yang terbujur kaku itu.

Kibum masih sibuk menggigit bibirnya. Darah segar perlahan mengalir dari bibir merahnya. Wajahnya dan tubuhnya yang sedari tadi memang memandikan darah terlihat menjadi mengenaskan. "Biar kami obati lukamu nak" ucap dokter lain hendak menarik tangan Kibum.

"LEPAS!" bentaknya dingin. Tatapannya yang seolah mengalahkan tajamnya pisau mengintimidasi seluruh manusia yang barada di sana. Hening—hanya ada suara detik jam dan suara panjang alat pendeteksi denyut jantung yang seharusnya membuatnya sadar bahwa Kangin—salah satu hyungnya itu telah tiada.

"Hyung~" Kibum bergumam lemah. "Tuhan…" lirihnya. Dia berjalan dengan langkah yang amat pelan. Di gengamnya tangan Kangin yang terasa begitu dingin. Di usapnya secara kasar seolah memberi kehangatan.

Tes…

Tes…

Hanya dua tetes buliran bening itu jatuh dari pelupuk mata indahnya. Beberapa orang perawat bergerak melepas alat bantu medis di tubuh Kangin. Kibum masih betah menatap tangan besar yang selalu menghentikan tubuhnya di saat ia hendak menyakiti orang lain. Ia bisa melihat bekas luka yang ia buat di tangan besar itu.

"Jangan ada yang bergerak!" sekali lagi—Kibum seolah memerintah. Apa ia lupa, ia bukan berada di dalam organisasi GOD yang bisa ia perintah dengan seenak hatinya. Ia hanyalah orang biasa di dunia yang serba biasa tanpa begitu banyak rintangan seharusnya. "Atau ku habisi satu persatu orang yang berada di rumah sakit ini" dia sedang mengancam. Namun ancaman baginya adalah sebuah janji yang pasti akan ia tepati.

Bukankah ia seperti Hitler? Yah.. Kim Kibum adalah Hitler generasi baru yang jauh lebih modern. Jika ia hidup di jaman perang dunia dua. Ia bersumpah, ia akan mengambil alih kekuasaan Hitler. Menggumamkan di seluruh dunia akan namanya. Bukankah itu cita-citamu dahulu Kim Kibum hingga kau mengizinkan 'mereka' menggoreskan pisau di punggungmu—menggambarkan lambang 'Tuhan'?

Kemudian kau berubah—

Saat telinga, mata dan indra perabamu di tutup di dalam penjara dingin itu? Kau tak bisa mendengar, melihat ataupun merasakan dunia, kau merubah ideologi hidupmu. Kau bosan jika saat matamu terbuka, kau melihat mereka yang menatapmu untuk meminta belas kasihmu? Kau bosan saat telingamu mendengar suara yang mengagungkanmu agar mereka mendapat keamanan. Kau juga amat bosan saat indra perabamu merasakan sentuhan-sentuhan para penjilat yang meminta kedudukan darimu.

Kau merubahnya—

Kau menginginkan semua orang sepertimu hancur. Kau ingin menyingkirkan mereka satu persatu. Menghancurkan God yang mengukir sejarah hidupmu dengan kegelapan dan kesepian serta segalanya yang tak kau sukai. Kau ingin melenyapkan 1 % dari penduduk dunia yang memiliki kelainan sepertimu. Hanya kau yang berhak hidup. Hanya kau yang boleh duduk di kursi teratas dan menjadi kegelapan dunia. Tak ada yang lain.

Selanjutnya—

Kau berubah lagi.

Saat matamu melihat obsidian kecoklatan milik seseorang bernama Lee Donghae. Saat pendengaranmu mendengar suara milik seseorang bernama Leeteuk dan saat kulitmu di sentuh oleh Cho Kyuhyun. Kau sungguh merubah seluruh ideologimu. Saat dua belas orang lain itu berlari bersamamu menyelusuri koridor gelap untuk melihat dunia yang begitu kau rindukan untuk kau kacaukan.

Saat dirimu menghitung dengan benar jumlah kalian semua 13 + 2, kau merubah segalanya lagi. Tujuanmu adalah—

'Aku ingin normal dan hidup bersama mereka'

Bukankah begitu Kim Kibum?

Dan kau akan mendapatkan segalanya yang kau inginkan kan? Kau harus mendapatkannya. Tidak ada yang boleh kurang. Kau tak boleh merubah hitunganmu atau kau akan kembali ke awal. Menjadi Hitler. Atau kau akan membuat perjanjian yang pasti akan kau tepati, membunuh 1 % populasi dunia yang mengenaskan?

"Aku tak boleh kalah darimu Tuhan!" ucap Kibum tak jelas.

"Bummie~, apa yang kau lakukan?" Eunhyuk membelalakkan matanya saat Kibum mengambil alat pemacu jantung. Dia menyetel alat itu.

BUGGHH…

Di setrumnya jantung Kangin sekali lagi. "Hiduplah Hyung!" ucapnya.

"HENTIKAN KIBUM! JANGAN SAKITI JASAD KANGIN HYUNG LAGI!" teriak Eunhyuk menahan tubuh Kibum. "Lepaskan aku, monyet jelek!" pekik Kibum.

"Biarkan dia tenang di sana, Bummie!"

"DIA BUKAN KEKASIHMU YANG AKAN MEMASUKI SURGA!" Kibum sukses membuka luka lama itu lagi. Eunhyuk terdiam, jantungnya berdetak semakin tak karuan. Sekelabat bayangan wanita yang ia cintai di waktu yang amat singkat kembali menghantuinya. "Dia sama seperti kita, jika dia mati dia akan masuk neraka. Dia takkan tenang!" Kibum kembali memompa jantung Kangin. Ia seolah begitu ahli melakukan pertolongan itu.

"Ciezie—" lirih Eunhyuk menatap wajah Kangin.

"Aku juga bukan kau, yang menyerah demi kebahagian orang lain" Kibum menambah tegangan listrik. "Tuhan… aku bernegoisasi denganmu, jika dia hidup, aku akan menyelamatkan nyawa orang lain sebanyak jumlah orang yang ku habisi dengan tangan ini" racau Kibum makin tak karuan.

Eunhyuk melongo, bernegoisasi? Dengan Tuhan? Ia rasa adik kecilnya itu sungguh sudah gila.

"Aku akan melakukannya. Sungguh! Aku sedang tak memanipulasi apapun sekarang!" teriak Kibum makin gencar menyetrum jantung Kangin.

Tiit… tiiit… tiiit…

"Dii—dia Kembali?" pekik dokter yang paling muda berada di sana. Seringgaian terlihat di wajah Kibum. "Aku mendapatkannya"

%ika. Zordick%

Donghae balas menatap Taemin sengit. Saat bibir namja imut itu mengucapkan nama salah satu dongsaengnya. Atau perlu ditekankan ketidak sukaannya pada tiga orang yang sedang berada di luar sel penjara mereka ini. Dua orang God yang menyamar menjadi Hunter dan seorang penghianat—Choi Siwon atau Andrew, dia tak peduli. Atau… ahh—dia melakukan kesalahan, tiga orang penghianat, tidak ada orang yang setia yang menjabat di dua organisasi yang memiliki misi dan visi yang jelas jauh berbeda kan.

"Tck… Ada urusan apa kau dengan Kibum?" Donghae tersenyum meremehkan. Dia tak perlu takutkan? Toh… mati sekarang atau besok sudah sama saja dengan kondisi sekarang ini.

"Dia bagian dari kami" ucap Taemin melenyapkan ekspresi kebaikan dari wajahnya. Menatap Donghae lebih tajam. "Kembalikan dia!" kali ini Ren mengambil suara. Matanya kemudian mulai berkaca-kaca. "Kumohon, aku hanya tak ingin dia terluka" lirih Ren dengan suara yang jelas karena keheningan di ruangan tersebut.

"Diamlah Ren!"

"Kaulah yang mestinya diam, Taemin—ssi" Taemin beralih menatap Ren. "Kaulah yang menyebabkannya masuk ke dalam mid building! Apa kau lupa? Ini semua salahmu!"

Ren terdiam, dia menundukkan wajahnya. Bisa di lihat tetesan air mata yang jatuh ke lantai dengan begitu derasnya. Namja cantik itu jarang menangis. Dia juga jarang menyesal. Dia bahkan nyaris sempurna dan tak pernah melakukan kesalahan dalam pekerjaannya. Sekarang—ia dapat merasakan, inilah orang yang GAGAL. Orang yang telah melakukan kesalahan. Orang yang tak berguna.

"Hapus air matamu, jangan membuat God malu!" Taemin berbicara begitu dingin. Ia menatap Donghae kembali. "Beritahu aku dimana otak kami!"

"Dia sudah mati, berapa kali aku harus memberi tahu kalian" suara serak seseorang terdengar. Sungmin berusaha menopang tubuhnya untuk duduk dengan bantuan Heechul. Kepalanya sungguh tak dapat diajak kompromi, tapi ia harus melakukan sesuatu untuk membuka sesuatu yang sangat ingin ia ketahui. Tentang Kibum—Tujuan Kibum. Dan mengapa para God ini begitu membutuhkannya. Bukankah God begitu terkenal dan hebat? Untuk apa bocah kecil itu bagi mereka?

"Kau—mau mati?" suara Taemin tercekat. Terlihat ketakutan di wajahnya. Ia sungguh tak menginginkan Kibum mati rupanya.

Sungmin terkekeh, "Menurutmu bocah? Kurasa kau jauh lebih tahu"

Taemin menggenggam jeruji besi yang di aliri listrik itu. Cukup membuat semua yang melihatnya tercengang. Jemari yang tak di lapisi apapun itu menarik dengan santainya jeruji besi, membengkokkannya secara perlahan—seolah dia tokoh pahlawan yang amat menguasai listrik. GREEB… Ren menggenggam tangan Taemin, satu lagi orang di luar logika yang tahan akan arus listrik bertegangan tinggi yang mengalir di tubuh mereka.

"Kau bertingkah konyol, Bummie ku akan mati" lirih Ren seolah memohon.

"Bagaimana bisa—?" suara Donghae tercekat, ia tak percaya dengan dua manusia super di hadapannya ini. "Tch! Kau beruntung namja kelinci" suara Taemin terdengar ketus. Ia kemudian melepas genggaman tangannya. "Kau saja yang urus mereka, aku bisa membunuh mereka jika semakin lama di sini. Ayo! Andrew!"

"Hmm—" Siwon terdengar bergumam, "Tumben sekali kau tak memanggil ku dengan sebutan Siwon seperti yang lain"

"Aku tak tertarik memanggilmu dengan sebutan anak Tuhan itu" Taemin melangkah kakinya keluar dari ruangan itu bersama Siwon yang setia mengekorinya.

Ren memasuki sel dimana Donghae, Heechul, Henry, Shindong dan Sungmin berada. "Bisakah aku meminta namja itu?" tanyanya lembut. Donghae bangkit dan melempar bangkai manusia di tangannya. Ren menyeret namja tersebut melemparnya keluar ruangan dan kembali dengan segelas air di tangannya.

"Minumlah!" dia menyerahkannya pada Sungmin. "Kau terlihat amat tidak baik"

"Aku belum tertarik untuk mati dengan meminum racun" Sungmin menolak ketus. Ren tersenyum, "Tenanglah, ini tak beracun! Aku tak ingin kalian mati, jika itu terjadi Kibum akan mati di depanku" lirihnya dengan wajah yang menyiratkan kesedihan yang amat dalam.

Heechul menatap Ren. Sejujurnya ia amat kagum dengan ukiran sempurna wajah cantik bak wanita yang dimiliki oleh namja di hadapannya ini. Rambut blonde yang amat indah menambah kesan keelokan rupanya. Heechul berani bersumpah, jika Ren mengenakan pakaian wanita, ia akan mengiranya sebagai seorang wanita yang bagaikan bidadari.

"Apakah kau amat menyayangi Kibum?" Heechul memberanikan diri untuk bertanya. Bukankah orang ini sudah mengatakan ia tak akan membunuh siapapun diantara mereka. Ren menatap Heechul, ia tersenyum amat cantik dan kemudian mengangguk begitu antusias—persis seorang wanita yang sedang jatuh cinta.

Henry tertawa meremehkan, "Dia bukan menyayanginya saja hyung! Dia mencintainya!"

"Kau gay?" Donghae bahkan tak percaya dengan keberadaan manusia-manusia pecinta sesama jenis ini. Sekarang salah satu tokohnya berada di depannya. Demi gadis-gadis cantiknya yang selalu memperebutkannya, ia bersumpah, secantik apapun Ren yang berada di hadapannya ini, ia masih menyukai lekukan tubuh indah yang hanya di miliki seorang wanita.

"Mungkin begitu, dan sayangnya aku hanya mencintai Kibummie seorang, tak pernah yang lain" senyuman itu kini terasa amat getir. "Aku mungkin gila, tapi aku sungguh merasakannya. Sejak aku berusia 13 tahun aku tergila gila padanya yang masih berusia 6 tahun. Ia yang bahkan melindungiku dari para manusia-manusia setan itu. Dia yang menyelamatkanku dari penderitaan ini. Dia yang membawaku pada God dan mengukir lambang ini di punggungku"

Heechul mendekat, sungguh—ia tak pernah tega melihat wanita menangis. Oke! Sepertinya ia melakukan kesalahan, ia tak tega melihat lelaki yang mampu menyaingi kecantikan wanita ini menangis. "Kibum membalas cintamu?"

Ren menggeleng lemah, "Dia tak pernah, dia mencintai wanita, aku tahu itu meski terkadang aku jelas melihatnya melukai wanita itu"

"HaeRin… dia telah mati, Kibum sendiri yang membunuhnya" ungkap Henry membuat mata Ren membulat sempurna. "Kibum terluka karena mu, karena kau menfitnah wanita itu"

Air mata itu mengalir semakin deras. "Dia tak berdosa, aku yang salah" gemetar, suara seorang God itu nyaris hilang di telan tangisnya. Dia—masih memiliki hati. Dia tahu kesalahan yang telah ia lakukan. Perasaannya yang seolah lenyap karena cintanya. Dia yang seperti ini karena cinta. Cinta yang ia tahu tak pernah terbalaskan.

Heechul akhirnya memeluk Ren. Sungmin menyumpal mulut tajam Henry. "Kibum pernah mengatakan padaku, entah dia sadar atau tidak, dia menyayangimu. Dia ingin membawamu pergi. Ia ingin kau lepas dari jebakan manipulasinya"

"Aku tak ingin hyung!" Ren menangis. Pelukan ini memang tak sehangat pelukan Kibum kecil padanya dahulu. Inikah rasanya memiliki keluarga? Inikah rasanya diperdulikan orang lain? "Aku mencintainya. Aku tak ingin lepas darinya. Aku ingin berada di sampingnya meski ia takkan pernah abadi bersamaku."

Donghae terdiam. Cinta—yang ia dapatkan dari ribuan gadis tak pernah seperti ini. Cinta abnormal ini bahkan terasa jauh lebih suci. Seolah tanpa nafsu.

Cinta ini bukan karena nafsu, bukan karena mata ini yang melihat wujud. Tapi karena hati yang menyapa dan mencintai. Bukankah itu indah meski semua mengecam.

"Minumlah Ming! Aku yakin itu tak beracun" Shindong tersenyum lembut pada Ren. Ren balas tersenyum. Sungmin meminum air itu seteguk. "Minumlah Henry—ah" ucapnya kemudian. "Aku tidak butuh hyung!" sahut Henry acuh. Ia memang haus, ia harus akui itu. Tapi ia rasa Sungmin jauh lebih membutuhkannya.

"Kau tahu Henli, aku hanya butuh setetes jika itu cukup untuk kita semua. Kita semua harus hidup, minumlah ini! Ryeowook, Yesung hyung, Kangin hyung, Eunhyuk, Zhoumi, Kibum, Hangeng hyung, dan Kyuhyun ingin melihat kita. Maka—ayo hidup bersama!" ungkap Sungmin dengan senyuman yang begitu indah.

Henry meminum seteguk, kemudian memberikannya pada Shindong. "Mari hidup bersama hyung!" ujar Henry. Shindong meneguk air itu kemudian ia oper lagi ke Donghae. Donghae mengeguknya dan memberikannya pada Heechul. Heechul menerimanya dengan senang hati dan meminum air itu seteguk. Di berikannya air itu kemudian pada Ren. "Kibum mungkin ingin mendengar ungkapan hatimu yang tulus itu padanya meski ia takkan pernah membalasnya"

Ren tersenyum, ia meneguknya. Ia kemudian keluar dan dari sel itu dan masuk ke sel Leeteuk. Di serahkannya sisa air yang tinggal sedikit itu. "Minumlah! Aku berjanji akan mengeluarkan kalian dari sini" Leeteuk menatap Ren dengan seksama dan meminum air itu. "Meski Taemin mungkin akan membunuhku setelahnya"

%ika. Zordick%

Lampu raksa yang menerangi ruangan itu meredup. Bocah kecil yang menahan perih di punggungnya melempar lampu raksa yang ia pegang tersebut ke sembarang arah di ruangan kecil berdebu. "Hyung, kita akan pergi dari sini" bisiknya pada namja yang terbaring di sampingnya. Di pakainya salah satu jaket yang berukuran kebesaran yang tergantung di ruangan tersebut.

Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, menyapu ruangan sempit itu dengan obsidian miliknya. Di masukkan pisau serba guna milik Kibum ke saku jaketnya. Ia meringis saat di rasakannya kakinya yang memang terluka berdenyut sakit. Namun ia tak memperdulikannya. Ia ingin hidup, ia ingin berguna dan yang terpenting ia ingin bersama dengan keluarga yang menerimanya apa adanya.

Ia ingin bermain layaknya bocah seusianya. Ia ingin melihat dunia dengan lebih luas dan ia ingin tumbuh dewasa. Yang terpenting, ia ingin berguna.

Diguncangnya tubuh Hangeng pelan. Tidak ada respon apapun. "Huh~ apa yang harus kulakukan hyung?" tanyanya pada Hangeng yang jelas takkan menjawabnya.

Di naikkannya Hangeng ke punggungnya.

Dahulu, punggung Hangeng lah yang menggendongnya kan? Mungkin sudah saatnya untuk balas budi.

BRUUKK…

Belum satu langkah, Kyuhyun terjatuh dengan Hangeng yang menghimpit pungggungnya. "ARRRGHH" erangan itu terdengar. Punggungnya terasa amat perih, belum lagi kakinya. Aish! Dia mengutuk dirinya yang tak pernah mendengarkan Kangin dan Siwon untuk berolah raga bersama. Tck! Persetan dengan penghianat Choi Siwon.

"Kangin hyung~" lirihnya. Perasaannya terasa amat merindukan Kangin. "Kyunnie~" Kyuhyun melihat kesekelilingnya. Suara apa itu? Siapa yang memanggil namanya? Itu bukan suara Hangeng, malah seperti suara Kangin.

"Hyung! Kau ada disini!" pekik Kyuhyun girang saat matanya melihat sosok Kangin yang kini berkacak pinggang di hadapannya. "Tentu saja hyung di sini, babo! Hyung tak mungkin membiarkanmu menanggung ini sendiri kan" sahut sosok itu.

Kyuhyun tersenyum, "Kalau begitu hyung, bantu aku membawa Hangeng hyung!"pinta Kyuhyun. Kangin balas tersenyum, "Hyung akan membantumu dari belakang! Ayo angkat!" Kyuhyun dapat merasakan tubuh Hangeng di gendongannya meringan. Ia menaiki satu persatu anak tangga yang membawanya keluar dari ruangan bawah tanah itu.

Saat pintu bawah tanah itu terbuka, Kyuhyun bisa melihat sinar mentari pagi yang menyambutnya. "Baiklah hyung! Ayo kita pergi!" ajak Kyuhyun menoleh kebelakang, meminta Kangin untuk mengikuti langkahnya.

Namun—

Sosok itu hilang. Tak ada siapapun, hanya ada dia dan Hangeng yang ada di gendongannya. Ia menyapu kembali sekelilingnya dengan pandangannya. Hanya tersisa puing-puing dan abu pembakaran. Tidak ada lagi rumah tempat ia dan keluarganya berkumpul. Semua telah musnah.

BRRUUKKK—

Sekali lagi Kyuhyun kecil kita terjatuh. Ia menarik nafasnya saat dirasakannya perih di punggungnya, belum lagi berat tubuh Hangeng yang seolah memaksanya untuk terus diam. Namun—bukankah ia berjanji ingin berguna untuk yang lain. Bukankah ia ingin semuanya kembali seperti dulu? Ia menyeret Hangeng dengan sisa tenaganya.

Sepertinya Tuhan juga membantunya. Ia melihat sebuah gerobak kecil di dekat keping-keping sisa pembakaran. "JiFan~" suara Hangeng membuatnya terkejut. Ia kenal nama itu. Ia tersenyum menunjukkan senyum terindahnya. Ia tahu Hangeng sedang mengigau. Dia membungkuk formal ke arah gerobak itu. "Xie-xie ni" ucapnya lirih.

"Terima kasih, aku tahu kau ikut membantuku, JiFan—ssi. Aku akan membalasnya dengan menjaga Kibum, aku berjanji" ucap Kibum pada angin dingin yang bertiup di tempatnya berada. Membuatnya berhalusinasi—seseorang mirip Kibum tengah tersenyum padanya. Kyuhyun balas tersenyum dengan begitu manis. Kemudian, dengan sigap sekuat tenaganya di pindahkannya tubuh tak sadarkan diri Hangeng ke atas gerobak.

"Kau bisa Cho Kyuhyun!" teriaknya menyemangati dirinya sendiri mendorong gerobak itu dengan tenaga lemahnya dan luka di sekujur tubuhnya. "Kita pasti akan selamat hyung!" ucapnya kini menoleh sekilas pada Hangeng.

%ika. Zordick%

Seorang namja menggeliat di atas tempat tidur hangatnya. Mata sipitnya perlahan terbuka—melihat dunia berbeda yang mungkin tak seperti ia lihat sebelumnya. Sebuah tangan hangat menggenggam tangannya. Ia memiringkan kepalanya, melihat sang pemilik tangan yang dengan setia menjaganya sepanjang malam. Siapa gerangan? Orang yang begitu menyayanginya? Ibunyakah? Tidak.. ibunya sudah mati! Mati di dalam hatinya yang gelap.

"Engghh" orang itu mengerang saat tak sengaja ia menggerakkan tangannya yang di genggam orang itu. Orang itu mendongak, menunjukkan mata teduhnya yang memberikan kehangatan hati yang amat ia butuhkan. "Kau sudah bangun hyung? Syukurlah! Zhoumi hyung! Yesung hyung sudah bangun!" pekik orang itu—namja kecil berwajah manis.

"Arrggghhh" ia—Yesung mengerang saat dirasakannya kepalanya berdenyut sakit. Kelebatan bayangan masa lalu mengahantui pikirannya. Bagaimana keluarganya yang terpisah darinya. Keluarga yang menjaganya selama ini. Keluarga yang begitu membuatnya terlindungi sampai saat ini.

"Hyung.. kau baik-baik saja?" namja kecil—Kim Ryeowook terlihat panik. "Wook—" suara Yesung tercekat saat matanya menangkap sosok namja yang tak ia kenal. Tidak ia tahu—namja yang memukulnya. Ia bangkit, mendorong namja itu dan menyudutkannya ke tembok. "DIMANA KELUARGAKU BRENGSEK!" teriaknya mengerikan. Suara indah seolah belati yang membuat siapapun yang mendengarnya mengkeret takut.

"Hyungie~" Ryeowook menarik tubuh Yesung. Ini bukan hyungnya yang biasanya. Dia berbeda.

Zhoumi tiba belakangan. Matanya membulat takjub melihat Yesung. Dia cepat mendudukkan Yesung di ranjang. Memeriksa ke dua bola mata yang terbiasa kosong dan polos. Mata itu mengandung kemarahan, mengandung dendam yang bisa terlihat jelas oleh mata psikiaternya. "Ini luar biasa—" dia tak bisa menahan ketakjubannya.

"Dia sembuh" senyuman sumringgah terlihat di bibirnya. Dengan bangga ia mengatakan kata itu pada Ryeowook. Yesung menaikkan sebelah alisnya, kembali rasa sakit itu menyerang kepalanya. Bayangan wajah itu terlihat, dia tahu, dia bukan Yesung idiot yang tak bisa apapun seperti dulu. Dia akan melakukan sesuatu demi keluarganya.

"Ini sungguh kau Yesung hyung?" Ryeowook menatap Yesung kagum.

%ika. Zordick%

Krieett... Kreeteekk... Kreeteek...

Suara ban gerobak yang bergesekan dengan aspal terdengar. Jalanan di pagi buta memang ternyata membuat Kyuhyun kecil kita harus bernafas lega. Tidak adapun penghuni yang ia lihat. Hanya ada dia, Hangeng yang terus meracaukan sesuatu yang aneh dan gerobaknya. Ia tak bisa bayangkan jika ada orang yang menemukannya dengan kondisi yang mengenaskan. Dunia akan gempar, dia akan kembali di penjara dan kemungkinan terburuknya para musuh akan menemukannya.

BRRUKKK...

Kakinya tak bisa bergerak lagi. Dia terhempas jatuh, matanya mengabur. Ia melihat jalan yang ia lalui, lama ia berjalan dan sebanyak itu juga jejak darah yang ia buat. Ia sudah kehabisan darah. Ia sudah tak bisa melakukan apapun lagi. Ini menyakitkan~.

"Siapa dia?" sebuah suara menyapa gendang telinganya. Otaknya yang pintar langsung bekerja, ukiran seringgaian tipis terlihat dibibir pucatnya. Ia akhirnya sampai di saat keputusasaan sudah menderanya dengan amat sempurna. Tujuan yang di katakan Kibum, ia sudah menemukannya. "Kim Kibum! Aku Kim Kibum!" ucapnya dingin sedingin ucapan itu terdengar dari sang pemilik nama yang sebenarnya.

"God Kibum? Benarkah?" suara lain terdengar.

"BAWA DIA KE MARKAS! GOD KIBUM MEMANG BERUSIA BELIA!"

%ika. Zordick%

"Kau sudah bangun?" suara lembut membuat Kyuhyun membuka matanya. Dia tak menjawab, dia biasakan retinanya dengan cahaya di ruangan tertutup yang menjadi tempatnya berlindung. Seorang wanita dewasa yang amat cantik menatapnya lembut.

Siapa? Apa kibum mengenal wanita ini?

"Angela, aku salah satu orang yang memegang kunci yang memborgol tanganmu, Tuan"

Kyuhyun mengerang, ia dapat merasakan panas di punggungnya. "Obat itu sedang bereaksi tuan. Baiklah bisa beritahu aku siapa kau?" Kyuhyun ingat. Wanita inilah yang di suruh Kibum untuk ia temukan. Apakah ia harus jujur? "Aku Kim Kibum"

"Aku tahu kau bukan dia" wanita itu berucap lebih dingin. Sebuah belati tertodong di leher Kyuhyun. Bukankan itu artinya ia tak punya pilihan? "Lambang GOD di punggungmu, itu luka baru"

Kyuhyun menghela nafas. "Kibummie yang menyuruhku kemari. Aku harus bertahan hidup bersama Hangeng hyung sampai ia tiba. Ia berpesan begitu padaku"

Angela menyimpan kembali belatinya. Di tatapnya mata Kyuhyun dengan seksama. "Kau tenanglah, hanya aku yang tahu siapa kau di sini. Aku mengatakan pada mereka Kibum melakukan operasi plastik untuk mengamankan posisinya."

"Aku mengerti" Kyuhyun mengangguk. "Dan namja yang bersamamu itu, dia baik-baik saja" lanjut Angela. "Beritahu aku dimana Kibum, anggota God takkan bisa di tipu dengan mudah. Setidaknya aku akan bisa mempertahankan nyawa kalian sampai God Taemin dan God Ren mengetahui keberadaanmu di sini"

TBC

Bad Mission

"Kim Jongwoon, si penyanyi terkenal itu?"|"Kau harus bisa masuk ke organisasi itu Ryeowook agar kita mendapatkan kembali keluarga kita!"|"Hyung! Aku Siwon!"|"Apa yang harus kita lakukan?"|"Menunggu"|"Angela, Maafkan aku!"|"Dia mati karena aku!"|"AKULAH HITLER SELANJUTNYA!"|

Maafkan aku yang tak bisa membalas satu per satu review'an. Hahahahaha~ kurasa kalian tahu kenapa! Baiklah~ kita mulai dari God Cheater ch 14 ini. Selanjutnya akan entah apa yang akan ka update~.

Special Thanks for Sintha Indras Wari, Wiwi Zordick dan Bryan T Kim Kibum (pemilik FB gila yang memberiku inspirasi untuk satu tahun ke depan. Dan terima kasih yang tak bosan di ucapkan pada para JISI yang setia menunggu FF ini :'(

Untuk chap selanjutnya di usahakan takkan selama ini.. with love.. ika. Zordick.