Aku tidak pernah melihat orang ini di dalam Glade sebelumnya, berarti dialah anak baru itu, kan? Tapi siapa dia? Kenapa aku bisa menggambar wajahnya?

.

.

Disclaimer: The Maze Runner milik James Dashner, OC adalah milik author, author tidak mengambil keuntungan.

Warning: (mungkin) OOC, mengikuti alur Maze Runner dengan penambahan, sangat AR, author masih sangat baru mengenal fandom ini, author berusaha agar OC tidak mary-sue, Newt x OC.

A/N: Di fanfict ini Thomas, Teresa, Newt, Minho, Gally berumur 17 tahun. Gabungan dari buku dan film.

.

Stand By Me
Chapter 14

by Fei Mei

.

.

"Viana? Sayang? Ada apa?" Kudengar Newt bertanya kepadaku.

Aku masih tercengang melihat wajah Greenie yang baru, dan si Greenie tampak bingung karena aku menatapnya seperti itu. Newt menghampiriku, menyentuh lenganku dan melihat ke wajahku, lalu ia melihat sang Greenie.

"Oh, kau. Kau tidak seharusnya ada di sini sekarang," kata Newt pada anak baru itu.

"Aku ingin bicara denganmu, Newt, ada yang ingin kutanyakan—"

"Tidak sekarang, Greenie. Aku akan bertemu denganmu lagi saat pesta api unggun, oke?" kata Newt mengusir pemuda itu setelah memotong perkataannya.

Anak itu akhirnya mundur dan keluar dari pondok Med-Jack. Wajahku masih menegang. Tangan kiri Newt memegang bahuku, sedangkan tangan kanannya memegang pipiku, ia menanyakan 'ada apa' sampai aku begitu tercengang melihat wajah si Greenie. Kuputuskan untuk memberitahu Newt soal gambar-gambar yang kubuat, aku ajak dia ke kamar, dan dia mengikutiku.

Sampai di kamarku, aku langsung mengambil buku sketsa dan langsung memperlihatkan halaman ketiga yang kugambar. Dahi Newt berkerut dan bertanya apa benar aku yang menggambar wajah itu, wajah yang sama dengan wajah Greenie yang baru.

"Aku menggambar itu berhari-hari sebelum ia datang, Newt," kataku cemas."Kau coba saja lihat semua gambar yang kubuat, tidak ada satu wajah pun yang kukenal, tetapi di antara itu semua hanya wajah ini yang tak asing untukku. Tapi aku tidak tahu siapa."

"Apa mungkin orang-orang lain dengan wajah-wajah ini akan datang ke mari juga, seperti anak itu?" tanya Newt.

Aku mengangkat bahu, tanda tidak tahu. Newt meremas sebelah bahuku dengan pelan dan berkata bahwa aku tidak boleh terlalu memikirkan soal gambar itu, bilang bahwa mungkin itu hanya kebetulan. Kemudian pintu terbuka, kakakku ada di sana. Wajahnya agak garang. Kupikir kalau Alby tidak mengancam akan melempar keduanya ke labirin, kakakku pasti langsung menyerang Newt.

Kakak menghampiri kami, merampas buku sketsaku dengan kasar dari tangan Newt dan melihat gambarku di halaman ketiga. Wajah kakak tampak lebih kesal dari biasa.

"Ada apa, Gally?" tanya Newt.

"Aku membuntuti kalian berdua kemari dan menguping di pintu," jawabnya. "Tuh, kan, aku sudah curiga pada si Greenie itu. Newt, adikku yang tidak mengalami masa Changing saja bisa bilang kalau ia tidak asing dengan wajah si Wajah Dungu itu, pasti orang itu berbahaya!"

"Dia tidak melakukan apa-apa, Gally, dia menjadi bagian kita sekarang." Usai Newt berkata demikian, kakak mengembalikan buku sketsa kepadaku lalu berjalan garang keluar.

"Omong-omong," kataku. "Kalian tetap melempar pesta api unggun walau ada orang yang baru saja tersengat?"

"Itu tradisi," ujar Newt.

Kugumamkan 'oh' pelan. Lalu Newt mengajakku keluar karena kami telah mendengar suara musik dari luar, tanda pesta sedang dimulai. Ia menggandeng tanganku dan kami keluar dari kamar bersama-sama. Sampai di luar, kami berpisah. Newt memintaku untuk makan duluan dengan Minho atau Chuck, soalnya ia sudah janji pada si Greenie untuk menjelaskan hal-hal yang pernah dia jelaskan padaku di hari pertama.

Setelah itu aku menghampiri Chuck yang ternyata sedang antri untuk mengambil makan malam, aku tepat di belakangnya. Ia tersenyum dan menyapaku. Sambil mengantri, ia menceritakan padaku soal anak baru itu. Chuck bilang nama si Greenie adalah Thomas, dan menurutnya Thomas keren setelah mengobrol sedikit dengan pemuda itu. Aku tidak berani berpendapat apa-apa, tidak setelah melihat wajahnya sama dengan wajah yang kugambar.

Kakakku memang cukup menyebalkan selama aku tinggal di Glade, sangat berbeda dengan apa yang ada di mimpi-mimpiku. Tetapi untuk yang kali ini, aku tidak bisa menganggap kakakku menyebalkan walau ia tampak membenci Thomas. Aku bukannya benci pada Thomas, tapi aku terkejut dan penasaran kenapa aku menggambar wajahnya, kenapa wajahnya tak asing untukku.

Selesai makan, aku tetap mendengarkan celoteh Glader termuda ini. Newt masih bersama dengan Thomas, memberitahu si Greenie soal ini-itu. Kakakku sedang bergulat dengan Glader lain di dalam lingkaran, kupikir kakakku pasti sebenarnya ingin Newt yang datang ke lingkaran untuk menghadapinya.

Tidak lama kemudian Newt menghampiriku dan Chuck bersama Thomas. Pemuda pirang itu tersenyum kepadaku, dan aku membalas dengan senyuman kecil.

"Greenie, kau sudah kenal Chuck," kata Newt pada Thomas. "Gadis ini adalah Viana, dia adik Gally."

"Adik Gally?" tanya Thomas sambil menyerngit. "Kau bisa ingat hal lain selain nama sendiri? Terlebih lagi, kau adik Gally?"

"Bahkan yang Viana ingat pertama kali di Glade adalah bahwa kakaknya bernama Gally, seminggu kemudian dia baru ingat namanya sendiri," kata Newt sambil menyengir kepadaku.

Thomas mengangguk, kemudian tersenyum padaku. Sesungguhnya aku jadi agak risih menerima senyum itu. Tidak, bukan senyumnya itu senyum mesum seperti yang sesekali Ben berikan padaku, Thomas hanya tersenyum biasa kepadaku. Yang membuatku risih ya, itu lah, rasa penasaranku akan siapa dia sebenarnya.

"Jangan menatapnya seperti itu, Thomas," kata Chuck sambil agak tertawa. "Viana ini pacarnya Newt."

"Pacarmu? Wow," kata Thomas pada Newt.

Newt menyengir dan wajahku agak memanas saat mendengar perkataan Chuck. Sejujurnya aku agak lupa kalau tadi pagi Alby telah memberi ijin untukku dan Newt berpacaran. Lalu pemuda pirang ini menggandeng tanganku.

"Nah, kalau begitu aku dan pacarku undur diri. Kau ambil makan malammu dengan Chuck, ya, Greenie," kata Newt lalu menarikku meninggalkan tempat itu.

Ia membawaku ke menara pengawas, yang bentuknya seperti rumah pohon tak beratap, tempat yang pernah dia bawa aku ke sana di hari pertamaku. Newt duduk bersender tiang, ia menyuruhku duduk di depannya untuk bersandar di tubuhnya. Sesudah duduk, ia memelukku dari belakang, membiarkan puncak kepalaku menempel di bawah dagunya.

Kami menyaksikan langit Glade. Newt bilang langit itu adalah langit buatan, semua benda langitnya pun buatan: matahari, bulan, dan bintang. Hanya satu benda langit yang katanya tak pernah nampak, yaitu awan. Aku ingat dia pernah bilang tidak pernah ada hujan di Glade, tapi perairan di sini sangat bagus sehingga kebun tetap bisa dikerjakan tanpa hujan.

Walau buatan, aku masih bisa mengagumi cantiknya bintang-bintang palsu yang bertebaran di langit. Sambil aku menonton bintang-bintang itu, Newt mencium puncak kepalaku.

"Apa kau masih kepikiran soal Thomas?" tanya Newt.

Aku mengangkat bahu. Daritadi aku berusaha untuk tidak kepikiran tentang anak itu, tapi tiba-tiba Newt menyebut namanya dan aku jadi kepikiran lagi.

"Jangan terlalu kau pikirkan, oke? Tadi aku sempat mengobrol sedikit dengannya, dan tidak ada tanda-tanda bahwa ia berbahaya seperti yang Gally bilang," kata Newt. "Aku tidak menuduh kakakmu itu tukang fitnah, tapi aku hanya tidak bisa melihat tanda bahaya dari Thomas."

Kuanggukkan kepalaku. Lalu kudengar ada suara teriakan dari bawah. Itu bukan teriak ketakutan atau apa, itu hanya seperti sorakan. Aku dan Newt langsung melongokan kepala kami, melihat di daerah lingkaran yang kakakku buat ada Thomas di sana. Tunggu, maksudnya Thomas akan berkelahi dengan kakakku dalam lingkaran itu?

Newt mengajakku untuk turun dan menonton. Kubilang padanya untuk pergi menonton sendiri, sedangkan aku ingin istirahat di kamar. Ia mengangguk lalu mengecup pipiku, kemudian kami pergi ke arah yang berbeda.

.

.

Aku bermimpi.

Kulihat gadis kecil yang kupikir adalah diriku sendiri itu sedang menggambar di buku sketsa dalam kamar asrama. Entah ini sudah tahun berikutnya atau masih di tahun yang sama dengan pertama kali aku dan kakakku datang untuk tinggal di asrama. Aku coba melongokan kepalaku, melihat apa yang gadis kecil itu gambar. Ternyata ia menggambar seekor anjing. Aku tersenyum, gambar anak itu masih berantakan, tapi bentuknya sudah terlihat. Apa dulu aku senang pada hewan anjing?

Tiba-tiba pintu kamar diketuk dari luar.

"Siapa?" tanya gadis itu.

"Kakakmu!" jawab orang yang di luar.

Gadis itu mempersilakan kakak masuk. Kakakku tersenyum lebar saat ia masuk ke kamarku. Sepertinya aku yang masih kecil akan mendapat berita baik.

"Viana, di tahun ajaran kedua ini, katanya beberapa kamar asrama akan diisi sampai tiga orang," kata kakakku. Oh, ternyata ini sudah setahun kemudian. "Soalnya kamar yang ada itu kurang, jadi beberapa kamar yang terbilang luas akan dimasukkan satu ranjang lagi untuk anak baru."

"Oh, kutebak teman sekamar kakak yang ketiga sudah datang?" tanya gadis itu.

"Ya! Dia orang yang lucu, kau pasti senang dengannya!" kata kakak.

"Aku pasti senang dengannya?" Gadis itu menaikan sebelah alisnya. "Kak, kau selalu mengucapkan itu tiap kali mengenalkanku pada teman-temanmu: Newt, Minho, Aris, Jeff, Stanley, dan lainnya."

"Aku mengatakan itu karena mereka memang anak-anak keren yang kau pasti akan senang berteman dengan mereka," kata kakakku. "Ayo kukenalkan pada teman sekamarku itu."

"Baiklah, siapa namanya?" tanyaku sembari merapikan buku sketsa dan alat gambar, kemudian turun dari kursi.

"Namanya Thomas," kata kakakku.

.

.

Thomas. Mataku terbuka saat mendengar kakakku menyebut nama itu di mimpiku. Berarti aku, kakakku, dan Thomas pernah mengenal satu sama lain sebelum masuk Glade? Tidak hanya kami bertiga, tapi ada nama Newt, Minho, Jeff, Stanley, dan Aris. Apa mereka adalah orang yang sama yang kukenal di Glade? Newt, Minho, dan Jeff masih di Glade, Stanley dibuang ke labirin lebih dari sebulan lalu. Kemudian, siapa Aris? Aku tidak ingat ada nama Aris di Glade. Apa mungkin bulan depan atau entah berapa bulan ke depan Aris akan datang dari kotak?

Kemudian aku mendengar suara pintu kamarku diketuk seseorang dari luar.

"Viana? Kau sudah bangun?" tanya suara itu. Itu bukan suara yang asing, itu suara Newt.

Aku langsung melompat dari ranjang, membuka pintu untuknya. Tetapi bukan hanya Newt yang ada di depan pintuku, tapi ada Thomas juga. Keduanya tersenyum padaku. Mereka berdua panjang umur, karena aku baru membicarakan soal keduanya dalam otakku.

"Thomas akan menuliskan namanya di dinding. Aku akan menunjukkan dindingnya sekalian mengantarmu ke kamar mandi," kata Newt.

Mengangguk, aku langsung menyambar handuk dan ikut kedua pemuda ini keluar. Pertama-tama Newt mengantarku ke kamar mandi. Setelah aku masuk kamar mandi, kudengar suara langkahnya berjalan menjauh, berarti ia langsung membawa Thomas ke dindng labirin untuk menulis namanya.

Setelah mandi, aku langsung kembali ke kamar untuk menaruh handuk, lalu ke Wisma anak laki-laki untuk mengambil baju kotor. Saat aku datang ke Wisma itu, Alby sedang membangunkan para Glader. Aku naik ke lantai dua, mengambil baju kotor para Keeper, dan aku bertemu dengan kakakku.

"Adik," sapanya tanpa senyum.

"Selamat pagi, Kakak," sapaku sambil menyunggingkan senyum kecil.

"Dengar, soal buku sketsamu ... aku ingin kau menggambar lagi kapan pun saat kau senggang, aku ingin lihat wajah-wajah orang seperti Greenie itu yang lainnya," kata kakak, lalu ia langsung pergi.

Aku menatap punggungnya yang berjalan meninggalkanku. Dan aku jadi berpikir apa kakakku benar-benar membenci Thomas?

Masih berpikir, tiba-tiba kurasakan sebuah tangan besar memegang kepalaku dari belakang. Aku memutar tubuhku dan melihat itu adalah tangan Minho. Pemuda Asia itu tersenyum dan mengatakan 'selamat pagi', dan kubalas salamnya. Setelah itu Minho turun tangga. Huh, kenapa kakakku yang sekarang tidak bisa ramah seperti Minho?

Usai mengambil baju kotor, aku pergi ke kantin untuk mengantri ambil sarapan. Frypan memberiku salad buah pagi ini, lalu aku mencari meja yang kosong. Kudengar Chuck memanggilku, mengajakku makan di mejanya. Aku tersenyum dan berjalan menuju meja anak itu, aku baru mendapati bahwa selain Chuck, Thomas juga ada di meja itu. Aku langsung buru-buru duduk di samping Chuck dan mulai makan.

Chuck bilang bahwa semalam setelah pesta, ia dan Thomas mengerjai orang yang ada di kamar mandi, tapi ternyata orang yang di kamar mandi itu adalah kakakku.

"Dia tidak akan membunuhku, kan?" tanya Thomas padaku.

"Aku tidak tahu," jawabku. "Tapi kau pasti langsung dimasukan ke dalam daftar 'Glader yang tidak kusukai' milik kakakku."

"Omong-omong, kau adik Gally, kan?" kata Thomas. "Kenapa kalian tidak mirip?"

"Entah. Mungkin wajahku ikut mamaku, dan kakak ikut wajah papaku."

"Tidak hanya wajah, sikap kalian juga sangat berbeda. Gally terlihat begitu ... galak. Sedangkan kau begitu manis dan kecil, tipikal orang yang harus dilindungi," kata Thomas, masih memasang wajah bingung.

Apa iya aku dan kakakku terlihat begitu berbeda? Aku dan kakakku lahir dari ibu yang sama, harusnya ada kemiripan walau sedikit, kan?

Aku masih berpikir untuk mencari kesamaan antara aku dan kakakku sambil terus makan. Kemudian Alby datang dan bicara pada Thomas.

"Greenie, siap untuk tur?" ujar Alby.

Thomas mengangguk. Lalu Chuck tanya pada sang ketua, apa ia boleh ikut Thomas. Alby langsung menjewer telinga Glader termuda itu dan bilang bahwa ia harus membantuku mengerjakan pekerjaan Slopper. Thomas yang sudah selesai makan langsung ikut Alby keluar dari kantin, sedangkan Chuck memegangi telinganya yang memerah karena sakit dijewer Alby. Aku hanya tertawa kecil melihatnya.

.

.

Entah hanya perasaanku saja atau memang jemuran yang harus kugosok makin lama semakin sedikit. Tidak sedikit sekali, sih, tapi memang berkurang. Sehingga aku yang biasa menggosok baju selama dua jam, bahkan sekarang hanya satu setengah jam. Jam istirahatku dan Chuck sebelum makan siang pun jadi bertambah.

Usai membereskan Wisma, Chuck mengajakku untuk mengobrol dengan Thomas. Aku menolak, soalnya kakakku memintaku untuk menggambar lagi. Jadi aku ke kamar dan Chuck menghampiri Thomas.

Di kamar aku mulai menggoreskan garis-garis di atas halaman buku sketsaku. Tapi bentukan yang kubuat dari setiap garis yang kubuat itu berbeda dari biasanya, tidak seperti saat aku menggambar wajah orang. Aku tidak paham, seakan tanganku bergerak tanpa kuinginkan. Garis-garis itu tidak membentuk gambar apa pun, melainkan membentuk sebuah kata. Kata itu adalah WICKED.

Tunggu dulu, bukankah sekolah berasrama yang kudatangi dengan kakakku, di gedungnya ada tulisan WICKED besar-besar? Apa itu WICKED?

Aku menggeleng kepalaku, aku memaksa otakku berkonsentrasi. Kubuka halaman berikutnya, aku berusaha agar tanganku mau menggambar wajah orang lagi. Kucorat-coret halaman itu, berharap membentuk sebuah wajah orang. Tetapi tidak, lagi-lagi itu tidak membentuk wajah orang. Ya, itu terlihat seperti kepala orang, tapi wajahnya begitu berantakan. Ada apa ini? Kenapa aku tiba-tiba tidak bisa menggambar wajah lagi? Bagus, aku jadi merasa tidak bisa mengendalikan otakku sendiri.

Frustasi, aku masih membuka halaman baru, berusaha untuk menggambar lagi. Saat aku sedang menyorat-nyoret, aku dikejutkan dengan suara alarm. Aneh, kenapa alarm itu berbunyi? Maksudku, harusnya alarm itu berbunyi enam hari lagi, kan? Kemarin alarm baru berbunyi saat kotak datang membawa Thomas ke dalam Glade, tapi kenapa sekarang itu bunyi lagi? Yang lebih aneh, alarm yang berbunyi itu bukanlah alarm yang tiap minggu berbunyi, melainkan alarm yang menandakan adanya Greenie baru seperti saat Thomas datang kemarin.

Apa berarti ada Greenie lagi? Tapi bagaimana mungkin? Bukankah Greenie baru akan datang sebulan sekali? Kenapa ada dua Greenie dalam dua hari?

Segera aku keluar dari kamar untuk melihat kotak itu. Tidak hanya aku, tetapi Glader lain juga pada datang untuk melihat. Wajah mereka juga sama bingungnya denganku, karena berpikir ada Greenie lagi. Kulihat Thomas datang dengan Chuck, Greenie satu itu membuat ekspresi bingung, tapi kuyakin ia bingung akan apa yang sedang datang.

Newt dan Alby membuka pintu kotak, lalu Newt masuk ke dalamnya, lalu pacarku itu mengumpat karena kaget. Aku tidak tahu apa yang membuanya kaget, aku tidak kelihatan karena Glader yang hampir semuanya lebih tinggi dariku itu berdiri di hadapanku.

"Ada apa, Newt?" tanya Alby.

Newt tidak langsung menjawab. Butuh waktu beberapa detik kemudian sampai ia akhirnya menjawab. "Perempuan lagi."

Glader di depanku langsung ribut. Ada yang bilang 'Perempuan lagi?', 'Dia untukku!', 'Seperti apa rupanya?', 'Berapa umurnya?' dan sebagainya. Aku ikut bertanya-tanya dalam hati, seperti siapa perempuan itu dan apakah bulan lalu para Glader juga seperti ini saat Newt menemukanku dalam kotak.

"Tapi ada yang aneh," kata Newt kemudian, dan semua Glader pun terdiam. "Kupikir dia mati."

"Jangan menduga seperti itu, mungkin dia pingsan, seperti Viana dulu," kata Jeff. "Bawa dia keluar dulu."

Kakakku mengambil tali dan mengulurkannya ke dalam kotak. Newt membawa Greenie baru itu keluar kotak. Kulihat Alby menghampiri Thomas yang ada di dekat kotak, bertanya pada anak yang baru datang kemarin itu.

"Kau kenal perempuan itu?" tanya Alby, menurutku agak galak.

"Tidak, tentu saja aku tidak tahu dia. Aku tidak tahu siapa-siapa, kecuali kalian," jawab Thomas.

"Maksudku, apa dia terlihat tidak asing? Merasa pernah bertemu dengannya mungkin?" tanya Alby lagi.

"Tidak, benar-benar tidak," jawab Thomas sambil menggeleng.

"Ini tidak mungkin hanya kebetulan. Dua Greenie dalam dua hari, satu hidup dan yang satu mati. Belum lagi Viana pernah menggambar wajahmu sebelum kau datang ke sini kemarin," kata Alby dengan garang.

"Apa?" celetukku, mendengar namaku disebut-sebut.

"Gally cerita padaku bahwa kau pernah menggambar wajah-wajah yang tidak kau kenal dan tidak ada di Glade. Ia bilang salah satu wajah itu adalah wajah Thomas," kata Alby.

Huh, tentu saja itu kakakku yang bilang pada Alby, tidak mungkin Newt.

Lalu Newt akhirnya berhasil membawa gadis baru itu keluar dari kotak. Newt membuka mulutnya untuk berbicara, tapi sebelum ia sempat mengeluarkan suaranya, tiba-tiba gadis yang berbaring di tanah itu terbangun dan nafasnya terdengar sesak seperti orang habis berlari. Aku dan semua Glader terkejut melihatnya, tidak sedikit yang melompat mundur.

"Semuanya akan berubah," kata gadis itu. Setelahnya ia pingsan lagi. Ternyata benar kata Jeff, tadi ia hanya pingsan.

Newt menghampiri gadis itu. Mengambil kertas yang tergumpal di salah satu genggaman tangan gadis itu. Pemuda pirang itu membuka kertasnya dan membaca: "Dia adalah yang terakhir".

Semua penghuni Glade terdiam, tidak tahu harus melakukan apa. Kemudian Alby memanggil Clint dan Jeff untuk membawa gadis itu ke pondok Med-Jack, Clint langsung meminta aku ikut dengan mereka untuk memeriksa si Greenie.

"Peraturan nomor empat berlaku untuk gadis ini. Jika ada yang menyentuh Greenie ini, akan dihukum!" bentak Alby ketika Clint dan Jeff menggotong gadis itu. "Para Keeper! Kita akan langsung Gathering!"

Aku ikut ke pondok Med-Jack. Clint dan Jeff membaringkan gadis itu di ranjang, lalu Clint sendiri pergi untuk Gathering. Tinggal aku dan Jeff yang harus memeriksa gadis itu. Kuperhatikan wajah gadis itu. Dia sungguh cantik, bahkan untuk sedetik aku takut kalau Newt akan jatuh cinta padanya.

Tetapi ada yang aneh, sepertinya aku pernah melihat wajah itu. Tidak, ini tidak seperti kasus Thomas yang kupikir pernah bertemu dengannya. Aku serasa pernah lihat wajah itu, tapi dimana?

Oh! Aku ingat, aku pernah melihat wajahnya di buku sketsaku, tepatnya di halaman setelah gambar wajah Thomas. Aku pernah menggambar wajahnya setelah aku menggambar Thomas.

Siapa dia dan Thomas? Kenapa aku bisa menggambar mereka secara berurutan, lalu mereka juga datang berurutan?

.

.

~TBC~

.

.