step

Tittle : STEP (Indonesia Translated)

Cast : EXO

Translated by EzzaKwangLu

Original fic by 模糊度567

Note : saya mencoba menerjemahkan Fic ini ke dalam Bahasa Indonesia. Karena sejauh ini Fic ini masih dalam terjemahan Inggris dan Fic asli yang masih menggunakan bahasa Mandarin ^^ Maaf bila terdapat kesalahan dalam menerjemah, karena saya masih belajar. Dan semoga Fic ini dapat membantu :D

Disclaimer : Fic ini 100% bukan punya saya~ saya hanya membantu menerjemahkan Fic ini kedalam Bahasa Indonesia karena saya sangat suka dengan Fic ini yang pertama kali say abaca dalam terjemahan bahasa Inggris oleh XingXiu ^^ ~Dan saya sekarang beralih untuk menerjemahkan Fic ini dari Livejournal Lukais ^^

Maaf ya atas kekacauan terjemah di Chapter sebelumnya T_T saya akan berusaha menerjemah dengan kata-kata dan kalimat yang lebih mudah dimnegerti, karena Fic ini memang memakai bahasa yang tinggi 模糊度567 JJANG! XingXiu juga JJANG! Lukais Jjang!

Note : Maaf bila pada chapter ini sedikit kacau terjemahannya . apakah peminat Fic ini semakin menurun ?

DO NOT COPY THIS FIC ANYWHERE!

CHAPTER 12 – PART 2 -

~"Dalam tiap langkah, 15 tahun dari hidupmu akan terkuras"~

Kembali ke belakang panggung, manajer langsung marah, penata dan koordinator bersandar di tempat makeup, terdiam dan tidak jauh dari mereka duduklah CEO yang hadir untuk menandatangani surat kontrak produksi album di luar negeri.

Suasana menegang, manajer melihat Kris dan kemudian menunjuk hidung Chanyeol, "kami terdiam disini selama 10 menit! Dengan setiap satu menit yang tertunda, apakah kamu menyadari berapa banyak uang yang telah terbuang! "

"Jangan berteriak padanya, dia hanya mengikutiku." Ucap Kris, mendorong jari manajer turun saat orang yang sedang duduk di kejauhan melihat Kris dengan ketertarikan.

Melihat wajah Kris, manajer mengerutkan kening, "Detik berikutnya tidak boleh ditunda lagi, lanjutkan rekaman langsung ini." manajer mengisyaratkan sambil mengabaikan ekspresi menyakitkan yang tertulis di wajah Yixing, Jongin berjalan menuju Yixing yang sedang berlutut sebelum melihat ke arah Luhan, "apa yang terjadi dengan Yixing?"

Ekspresi Luhan menggelap, Jongin memiliki kata-kata di ujung lidahnya tapi sebuah suara tiba-tiba menggema di pintu, "apa yang kamu tunggu, naik ke atas panggung sekarang!"

"Dia tidak bisa menari, setidaknya untuk hari ini." Kata Luhan.

"Benar-benar tidak bisa menari?" Manajer berjalan mendekat dan mencengkeram bahu Yixing, "Tahanlah sebentar lagi, kontrak telah ditandatangani, tiket pesawat untuk besok telah dipesan, kamu akan menerima perawatan yang tepat ketika kembali Korea. "

Kerumunan menjadi diam, dengan keringat di dahinya, Yixing menutup mata dan mengangguk.

"Kamu sudah mengatakan itu lebih dari satu tahun sekarang," kata Kris, "dia adalah seorang penari, jika dia melukai dirinya sendiri secara permanen, apakah kamu mengambil hukuman? Apakah kamu punya asuransi untuk dia?"

"Menari adalah pilihannya," manajer melihat Kris, "tidak ada yang memaksa dia."

"Itu benar, tidak ada yang memaksa dia, dia memaksa dirinya sendiri." Kris berjalan mendekat dan menunjuk pinggang yang tidak bergerak Yixing dan lapisan handuk dibungkus di atas, "Di masa yang akan datang, jika dia cacat, itu karena dia yang memintanya!" Dia merobek handuk dan melemparkannya ke tanah, "berapa banyak uang yang penampilan ini hasilkan, berapa banyak persentase yang dia dapatkan, apakah itu cukup baginya untuk sembuh? "

"Kris." CEO yang duduk tiba-tiba berdiri dan mendekat, "jika kamu memiliki niat untuk mempertanyakan kontrak, sekarang bukanlah waktu dan tempat yang tepat. Dengan kata lain, jika kamu menolak untuk tampil sesuai jadwal, kamu akan melanggar kontrak. "Dia melihat Kris.

"Berhenti bicara, aku baik-baik saja." Yixing mengangkat kepalanya, berbicara dengan Kris.

"Kamu terkenal sekarang, kamu adalah seorang bintang besar, kamu sudah punya sayap untuk terbang, benarkan?" ucap orang yang berlawanan saat ia melangkah menuju Kris, tersenyum dan mengangkat kepalanya saat ia bertukar pandang dengan remaja yang jauh lebih tinggi darinya ini, ekspresinya bagaimanapun, tampak kecil seperti semut, "dengan panggung, duniamu adalah pada perintahmu, tanpa itu, kamu bukan apa-apa. Panggung ini diberikan kepadamu oleh perusahaan, perusahaan dapat; setiap saat, mencabut hak istimewa ini ".

Melihat wajahnya, Kris tetap diam untuk beberapa waktu.

"Sebuah nasihat serupa berlaku untukmu." Dia membuka mulutnya, "kekayaan yang memungkinkan perusahaan ini berfungsi diberikan oleh artis, suatu hari, ketika mereka berhenti, kamu hanya dapat menyanyi dan menari sendiri."

Memang, manusia tumbuh, pikiran mereka meluas dan kelihangan lebih banyak kontrol yang dapat dipegang, manajer menyilangkan tangan, "Kris, kamu sudah bicara terlalu banyak, dan kamu akan menyesalinya."

Kris tertawa dan melihat jendela. Di luar, orang banyak berlalu-lalang seperti biasa, berita hiburan sehari-hari bisa dibuang, seperti surat kabar yang telah berlalu.

"Mungkin." Kris melontarkan senyuman, "Namun, aku tidak akan pergi ke atas panggung hari ini, dengan cara itu, kita mungkin tidak akan tampil, aku benar." Dia duduk dan melingkarkan lengan di sekitar bahu Yixing.

"Baiklah, kamu tidak akan menari hari ini, itu bagus." Orang yang berlawanan tersenyum, "namun di masa yang akan datang, akan ada kesempatan bagimu untuk menari." Dia meihat Kris, dan keluar, manajer melihat seluruh orang dan ikut keluar.

Yixing meletakkan tangan di lututnya, Luhan mengangkat kepalanya, keduanya melihat Kris yang menundukkan kepalanya, diam.

Semuanya menjadi hening.

Berjalan mendekat, Jongin melipat tangannya ke dalam saku, "Aku tidak pernah mengakui bahwa kamu menarik." Dia tertawa, "tapi sekarang, kamu benar-benar tampan." Dia menjentikkan jarinya di depan Kris dan berjalan keluar.

Di sudut, penatarias dan asisten berbisik pelan.

"Sekarang ini anggota Cina kembali di pasar Cina, kenapa aku merasa seperti mereka telah membiarkan harimau kembali ke gunung?" ucap penata rias yang baru bekerja selama 2 bulan.

"Kita semua pernah mengalaminya, perusahaan harus mengambil tindakan pencegahan." asisten tertawa pelan.

Melirik asisten, penata rias diam sejenak dan berkata, "Orang itu, dan orang itu" Dia dengan tenang menunjuk Kris dan Luhan di kejauhan, "keduanya seperti pemburu;. Aku ingin tahu apa yang akan terjadi ketika mereka akhirnya bangkit kembali. "

"Lu?" Asisten menggeleng, "dia tampak seperti orang yang mengundurkan diri dengan sangat baik untuk kesengsaraan, tidak terlihat seperti itu."

"Di permukaan tentu saja dia terlihat seperti itu, kamu benar-benar berpikir dia akan mengundurkan diri untuk mereka?" Penata rias menggeleng, "Kamu bertemu dengan begitu banyak orang yang berbeda dalam satu hari, kamu benar-benar berpikir kalau kamu mengenal mereka dengan baik?"

"Ada satu orang yang aku pasti tidak akan mau permasalahkan." Asisten menunjuk Yixing.

"Haha, tekanan yang terbatas tidak pernah mengungkapkan kemunculannya." Penata rias melihat Yixing yang terletak agak jauh.

"Dia memiliki beban terbesar di antara mereka yang berasal dari luar negeri, dengan kata lain, dalam lingkaran kecil ini, dia dipisahkan dari teman-teman Cinanya." Penata rias meneruskan, "jika kamu melempar dia ke grup Korea, dia mungkin akan menutup dirinya. "

Asisten terdiam, menahan diri untuk memberikan pendapatnya.

"Selalu bersikap sopan dan hangat, profesional dan kooperatif," Penata rias tersenyum, "itu mengingatkanku pada salah satu senior mereka." Asisten lihat pada mata penata rias.

"Satu-satunya alasan kemunculan dapat ditekan karena belum menembus batas-batas itu," Penata rias melaanjutkan, "namun, jika hal ini berlangsung, itu akan segera terjadi."

"Kamu baru bersama mereka selama 2 bulan, tetapi kamu benar-benar tahu batas mereka?" Asisten bertanya.

"Bagaimana menurutmu, dalam perspektif penari." Penata rias tersenyum, "tidak seperti Kris hari ini, hari disaat ia belajar untuk mengatakan tidak, aku takut akan menjadi hari kepergiannya."

Sambil menggelengkan kepala, asisten menyilangkan lengannya, "haha, kami memang sedikit bosan, mereka harus memilih jalan mereka sendiri."

Penata rias melihat lagi para remaja yang familiar dikejauhan, dan seperti jumlah tak terhitung dari idola remaja yang dia temui pada pekerjaannya, datang dari berbagai negara dan memiliki latar belakang yang berbeda, mereka semua berkumpul di atas panggung, hanya untuk satu alasan; dan itu akan terbukti juga menjadi alasan mereka bubar.

Salah satu faktor yang tidak pernah berubah adalah panggung - salah satu yang memerlukan kebutuhan konstan untuk sesuatu yang segar dan antusiasme tanpa henti dari fans dibawah panggung, dengan interval naik dan turun, menyerupai orang-orang di atas panggung - beberapa datang, dan yang lain berlalu.

Fakta lainnya yang tersisa tentu saja, akan menjadi pekerjaan sehari-hari, mempercantik wajah yang sudah cantik, menonton saat usia muda mereka berkurang dengan usia, karena mereka menggunakan antusiasme mereka untuk menyembunyikan semua kelelahan, keajaiban Tuhan, semua terlalu indah, namun semua terlalu kejam .

Semua terlalu indah, namun semua terlalu kejam.

Berjalan ke atas, dia memberikani Chanyeol handuk besar dan menunjuk Kris, "Hapus air dari kepalamu, Jangan sampai kedinginan, kalian berdua."

"Terima kasih." Timpal Chanyeol saat dia mengambil handuk.

"Aku baik-baik saja, kamu tidak harus terus mengawasiku." Yixing tersenyum saat dia melihat sepasang mata yang tidak pernah meninggalkan penglihatan mereka kemudian berbicara kepada Kris, "kamu basah sejauh ini, Kamu tidak kedinginan? "

"kamu benar-benar tahu bagaimana cara untuk peduli pada orang kan," kata Luhan dengan sedikit penghinaan terhadap Yixing sebelum berbalik untuk melihat Kris sambil mengambil dua sweater dan melemparkan mereka ke Kris.

"Kamu ingin aku memakai ini?" Kris meneliti pakaian di tangannya dan tersenyum pada Luhan.

Berbalik secara bertahap, dia meringis, "Tidak, aku ingin kamu menyeka mulutmu dengan itu."

Menundukkan kepalanya dan tertawa, Kris memakai jaket perlahan, "ini terlalu kecil, Luhan."

Pada saat itu, Luhan yang diam tampaknya berada di ambang letusan, "baiklah kalau begitu, hanya pakai kembali pakaian basahmu."

Tawa Yixing dapat didengar di samping.

"Aku benar-benar tidak tahan dengan kalian berdua, di bawah situasi seperti ini ..." Tao menggeleng dan melempar jaketnya ke Kris.

Dengan dua jaket yang berbeda di tangan, Kris melihat Yixing, senyumnya lebih mempesona dari sebelumnya dengan lesung pipinya, dia bahkan tidak punya waktu untuk bersusah-payah tentang Luhan nya dan Tao yang mendekati jendela, berpura-pura melihat pemikiran yang mendalam.

Mungkin, tujuan akhir harus di sini.

Memberikan jaket Tao pada Chanyeol dan mengisyaratkan kepadanya untuk memakainya, dia kemudian menaruh jaket Luhan di pinggang Yixing dan duduk di sudut, menggigil dengan pakaian basahnya saat dia tertawa-tawa kecil.

?

Di luar, malam telah jatuh, udara dingin yang kuat, untuk terakhir kalinya, semua yang terbaik, Luhan.

Suara kamera secara bertahap berkurang dan berhenti.

"Ini selesai sekarang." Jam dinding berhenti di angka 11, sebuah gema perintah dari sudut dan ada suara kamera sedang ditarik kembali.

Kepala Luhan berdenyut berat dan menutup matanya, ia bersandar pada bahu yang lain. Dalam suasana damai, semua yang tersisa adalah suara napas mereka.

Selanjutnya, itu adalah suara dari kamera yang disingkirkan dan tas yang dikemas. Bergerak melewati mereka, sebuah suara terdengar, "itu sudah sulit bagimu, memperlakukannya sebagai pelajaran wajib bagi semua aktor. Juga, kamu lebih baik tidak melaporkan hal ini ke polisi, itu untuk kebaikanmu sendiri. " berjalan melewati mereka, aroma parfum asing mengisi udara.

Beberapa orang keluar dan membuka pintu mobil, satu lagi langkah kaki mendekat yang dapat didengar, melemparkan ponsel mereka kembali pada mereka, gema suara, "hubungi teman-temanmu, akan aman." Dan kemudian, suara dari mobil bergerak pergi dapat didengar.

Luhan berjuang dengan kesadaran terakhirnya, dia duduk hampir tak bergerak, di tanah sambil memeluk bahu Kris yang berada di sampingnya. Salah satu ponsel hidup, hanya mengungkapkan baterai nya yang lemah, memutar punggungnya, Kris mengambil ponsel yang lain dan menghidupkannya. Setengah perjalanan, Luhan menyambarnya, membuangnya keluar di tengah hujan lebat.

"Luhan, apa yang kamu lakukan?" Kris berlari keluar rumah untuk mengambilnya, dia membuka password ponsel itu.

"Kris ..." Luhan membentangkan lengannya, menggelengkan kepalanya tidak setuju (melarang), Kris melanjutkan untuk menelepom, menumpahkan kata-kata yang familiar/sama pada orang di ujung yang lain.

Memutar kepalanya, Kris melihat Luhan pingsan di samping kakinya dan melemparkan ponsel kembali kedalam saku sebelum membawa Luhan kembali ke rumah, "Bertahanlah, Yixing hampir sampai."

Sambil menggelengkan kepala dengan sekuat tenaga, Luhan meraih lengan Kris '. "Kamu tidak nyaman, bukan?" Kris menggosok dahinya dan melepaskan pakaiannya dan menaruhnya pada Luhan, memungkinkan dia untuk beristirahat di pahanya.

Mengamati dentingan dari jam tangan di dinding, Luhan merasa dirinya masuk ke tidur yang nyenyak.

"Tidak apa-apa." ucap Kris sama tak berdayanya saat ia menopangnya dengan lengannya, "jika foto-foto itu terungkap, aku akan melakukan klarifikasi."

Luhan menatap kosong, dia tidak berbicara.

"Jangan takut," Kris membelai rambut Luhan, "aku akan membuatmu keluar dari semua ini." Dia melihat Luhan yang masih diam sebelum menyentuh dahi panas anak itu lagi.

"Apakah tanganku dingin?" Tanya Kris.

Luhan mengangguk, memegang erat tangan yang lain.

Kembali menggenggam dan menggenggam tangannya yang agak terbakar /kepanasan, Kris menatapnya, "Jika kamu menyukinya, aku akan menyimpannya di sini selamanya."

Menyimpannya di sini selamanya, namun kamu pikir aku tidak menyadari.

Pada saat Yixing tiba, hujan turun lebih deras.

Saat dia menempatkan pakaian luar yang ia dibawa pada Luhan, ia melepasdan menyerahkannya ke Kris, Yixing membungkuk dan mengangkat Luhan sampai ke kursi belakang kiri taksi. Namun, tangan Luhan gemetar saat ia memegang pintu mobil.

"Aku akan mabuk mobil jika aku duduk di belakang." Luhan berbicara sambil tersenyum.

Yixing mengamati Luhan, wajahnya memerah karena alkohol dan ragu-ragu sebelum mengangkatnya ke kursi depan. Duduk, Luhan melihat mereka berdua melalui kaca spion, perasaan lega menyelimutinya.

Kris menurunkan kepala dan bersandar di sisi kiri mobil, dengan suara 'bang', Yixing menutup pintu dan berputar, masuk dari sebelah kanan. Luhan menepuk jendela depan dengan lembut.

"Kembali ke kota," timpalnya dengan gembira.

Aku tahu betul bahwa kita semua sudah berkorban untuk tidak akan kembali, satu-satunya hal yang dapat aku lakukan sekarang adalah mengorbankan satu set asuransi untuk semua usaha yang sudah kami lakukan.

Yixing, tebusan untuk asuransi ini, adalah hidupmu.

Tetesan air hujan jatuh di jendelan depan, penyeka sibuk bergerak bolak-balik. Mencondongkan badan ke depan untuk memeriksa Luhan, Kris bergumam, "tolong lebih cepat, Pak."

"Apa sebenarnya yang terjadi?" Yixing menoleh untuk melihat Kris.

"Tidak ada, kita akan berbicara ketika kita kembali." Kris mengusap wajahnya dan mengangkatnya untuk melihat ke luar jendela.

"Yixing," Luhan bersandar pada kursi dan berbalik sebelum melepas Rosario/tasbih dari pergelangan tangannya, "ini ... milikmu"

Berpegang pada Rosario/tasbih, Yixing membeku untuk beberapa detik, "Kamu tidak ingin memakainya lagi?"

"Kamu adalah pemilik yang sah," Luhan tersenyum, "setelah orang lain memakainya, itu tidak akan bekerja."

Yixing memegang manik-manik, matanya tertutup, Luhan berseri-seri saat ia memakaikan itu pada pada Yixing.

Kemudian, ia berbalik pada Kris.

"Hei." Luhan mengangkat lengannya tertatih-tatih dan menyentuhnya.

Kris menatapnya, bergerak mendekat. Di ujung, senyum Luhan yang muncul sedikit samar-samar.

"Kita berhasil." Luhan tertawa.

"Apa yang kamu katakan?" Kris melihat dengan bingung, memegang tangannya dengan lembut.

"Kita telah berhasil." Luhan berbisik pelan ke telinganya dan kemudian menarik tangannya menjauh dari Kris.

Masih duduk di kursinya, pandangan Luhan dipotong lagi dan lagi oleh penyeka kaca depan mobil. Saat mereka mendekati persimpangan jalan, truk berhenti di sana, menunggu kedatangan mereka.

Mengembara melalui jendela dan keluar pada kerja nyata, tetesan hujan menjadi sebuah lagu merdu yang memekakkan telinga. Sama seperti akhir yang tragis, melodi dan akhir hidupnya terus bermain sampai titik ini - akhirnya mencapai final/ujung nya. Memejamkan mata, kenangannya menyebar tak terkendali pada waktu singkat, terlalu banyak wajah dan terlalu banyak kejadian meletus di otaknya, beberapa hidup, yang lain tidak jelas, dan beberapa dia tidak pernah memberikan pikiran kedua.

Pada saat itu, terdengar oleh telinganya terlihat sedih; namun dia tidak merasakan semburat rasa sakit, semuanya sudah berakhir.

Mobil mendarat jauh dan terlalu rusak oleh pohon, Luhan mengamati orang-orang di mobil dan segala sesuatu di sekelilingnya. Kursi di samping kursi pengemudi truk terbuka, tapi tidak ada yang terlihat di dalam.

Beberapa waktu berlalu, kendaraan yang melintas mulai berhenti dan memeriksa, kemudian menelepon polisi. Sirene melengking ambulans tetap begitu akrab, Yixing di kursi belakang dan dirinya sendiri (Luhan) di kursi sebelah kursi pengemudi yang akan segera diangkat ke tandu.

Namun, dirinya di tandu dengan begitu, dinyatakan mati. –Luhan mati T_T-

Kris, apa yang terjadi, tidak menghambat tugas para dokter.

Adegan yang akrab. Terima kasih Tuhan, semua tidak memilukan saat ini.

?/?

Membuka matanya, Kris berbalik dan melirik dinding batu, kemudian pada semua uang dan ponsel di tangannya.

"Luhan!" Dia berteriak saat ia sampai ke kakinya, burung-burung di langit berkicau, seolah-olah sebagai jawaban.

Membungkuk, dia terengah-engah dan batuk keras. Tidak dapat mendukung dirinya yang telah kehilangan semua ketenangan, ia berlutut di tanah, air mata jatuh tak terkendali langsung ke tanah, merembes melalui tanah, bercampur dengan debu.

Perlahan berbaring, dia dengan lembut meraih tanah dan gulma dari tanah ...

Rasanya seperti dia memegang tangan orang lain.

Tidak apa-apa, aku akan mengurus semua itu, percayalah, kita telah menjadi mitra terbaik; dan akan, selamanya dan selalu. Bahkan jika aku satu-satunya yang tersisa.

Aku hanya butuh waktu ... Jangan melihat kepadaku.

/?

Yixing menatap seluruh rumah terisi dengan paku yang dilemparkan oleh Kris, di salah satu sisi ada IPhone putih milik Luhan, ponsel yang tepat telah dia cari selama berabad-abad.

"Aku butuh waktu sendiri." Dan Kris mendorongnya keluar dengan cepat.

Membuka album foto di ponsel, foto terbaru diambil hari ini, hari ulang tahun Luhan, itu menggambarkan hutan yang akrab dan di sudut terdapat panah merah dan sepatu Luhan.

"Yixing, jika aku pernah ingin mengunjungi tempat ini di masa yang akan datang, kamu harus menghentikanku, dengan cara apapun."

Dalam karyanya sangat terorganisir, petunjuk masih ada. Tubuh yang ditutupi pada tandu sebulan lalu, Rosario/tasbih yang dikembalikan kepadainya pada detik terakhir, dan sepasang sepatu hilang.

Terakhir diperbaharui: Clown, 17 Maret 2013.

Perlahan-lahan mendekati kamarnya, Yixing mengangkat brosur yang dibiarkan tergeletak tanpa sadar dari sebulan yang lalu, pemandangan spektakuler pegunungan masih tetap menarik. menghidupkan komputer, dia melangkah tepat ke jalur lama milik Luhan, mencari rute dan halaman web.

Di samping penjelasan rinci ada foto megah dan peta rute rinci, Yixing menggulung ke bawah:

Terakhir diperbaharui: Clown, 17 Maret 2013.

?/

Di rumah yang terang benderang, Clown tersenyum samar-samar pada Luhan, "Kamu kembali."

"Kali ini, aku bahkan tidak harus mengetuk sebelum masuk." Luhan berbalik untuk melihat pintu yang tidak terkunci.

"Tentu saja, kamu sudah membayar tiket masuk yang agak mahal." Clown menatap sambil menyerahkan sekelompok kunci, "penggantiku, terima kasih telah menggantikanku, dari hari ini dan seterusnya, kamu akan menjadi Clown."

"Sekelompok kunci ini akan terbuka hanya ketika seseorang mengetuk." Clown melanjutkan, "Lihatlah, koridor terang di luar adalah tempat di mana waktu sangat kabur, asalkan kamu mengatur matamu pada target tertentu dengan perbedaan kurang dari 60 hari, aku bisa membukanya untukmu setiap saat. Ini adalah alasan mengapa aku bisa membuka pintu untukmu pada tanggal 17 Maret bahkan ketika aku telah mengalami hari itu. " Clown menunjuk pintu yang terkunci di belakang Luhan.

"Ini adalah sebuah rumah yang terang benderang, dan juga penjara putih, kamu perlu untuk menarik penerusmu ke perangkap yang sama satu langkah (1 step) pada suatu waktu sampai hidupnya berakhir, jika tidak, kamu tidak akan pernah dibebaskan dari sini." Clown berbicara, melihat Luhan.

"Kamu juga akan berhak mendapatkan kesempatan untuk mengubah wajah dan suara dengan orang asing saat kamu kembali ke masa lalu dan membuat rencana untuk masa depan, juga akan menjadi salah satu darimu dan kesempatan memikat penggantimu. Perhatikan saranku, jangan disia-siakan. " ucap Clown, "Selain itu, aku takut penggantimu telah muncul. " Dan saat ia berbicara, ia menunjuk pada teropong, di dalamnya ada Yixing, mengambil uangnya dan dengan hati-hati menghitung untuk membeli tiket bus nya. "

"Siapa kamu?" Luhan mengucapkan dengan tenang.

"Aku ..." Clown menurunkan kepalanya dan tertawa, "Bagimu, aku mungkin hanya orang asing." Dia melirik Luhan, "Aku seniormu, sungguh," katanya sambil tertawa, seolah bercanda, "aku hanya tidak mendapatkan kesempatan untuk debut, beberapa dari kita tidak. "

Sama seperti malam hujan menunggu di restoran, seperti foto berciuman yang belum muncul.

Tidak memungkinkan untuk debut, mereka mulai menua. Semua demi hidup, mereka mulai melakukan pekerjaan yang mengerikan bagi perusahaan, dan saat mulai tumbuh, cara hidup mereka secara bertahap telah menjadi berpengalaman.

Menutup kamera, "itu sudah keras untukmu, cukup memperlakukannya sebagai kelas wajib bagi aktor." Dia mendekati sisi mobil dan melempar ponsel sebelum mengambil jaket kembali ke pondok, "Pakai pakaianmu" Ia berbicara kepada Kris, melihat Luhan yang dalam kondisi sedikit buruk.

Mulai menghidupkan mobil, dia, di ujung yang lain, terdengar suara familiar.

"Hyung? Aku sudah menunggu di dorm/asrama untuk waktu yang sangat lama dan mereka berdua masih belum muncul. " ucap Yun, menatap Yixing yang berdiri di dekat pintu, "Tapi Lay telah berdiri di sana sepanjang waktu. "

"Berhentilah menunggu, keduanya sudah masuk ke mobilku." Dia mengatakan, "itu selesai."

"Apakah mereka akan melapor ke polisi?" Tanya Yun.

"Mungkin tidak," dia melihat ke kursi belakang, "kedua ponsel ada di mobilku. Dapatkan mobil untuk menjemput mereka, jika tidak ada cara agar mereka dapat kembali, sewalah satu mobil, jangan menggunakan mobil perusahaan, katakan saja kamu melakukannya dengan niat baik. Ketika kamu masuk ke kota, berilah mereka uang dan jatuhkan mereka di mana saja. "

"Ok." Suara Yun terdengar, "hyung, kamu benar-benar bersimpati padaa mereka, apakah kamu medapatkan foto-fotonya?"

"Hentikan omong kosongmu," ia berbicara di ponsel, tersenyum, "Cepatlah." Berbicara, dia memegang uang.

Clown menatap damai pada pintu yang bersinar, "Aku pikir jika dia tidak tersiram air panas, dia akan memulai debutnya. Mengapa aku mengatakan semua ini kepadamu lagi, kamu mungkin tidak akan tertarik." Dia berbalik menghadap Luhan.

"Lanjutkan," Luhan terkekeh, "itu terjadi pada kita berdua juga."

Kecelakaan Yun adalah sesuatu yang dia dan rekannya tidak punya cara untuk merubah, meskipun sekian kali mereka mencoba. Dan pada kesempatan terakhir, dia akhirnya berhasil beralih tempat duduk. Setelah diambil seseorang dan duduk di taksi, ia merasakan rasa sangat lega dan berjalan menuju mobil yang rusak, ia berlari ke ujung yang kacau - kursi co-driver/disamping kursi supir truk.

Hujan turun, jendela depan truk tampak menjadi blur.

Akrab namun aneh jarak bayangan semakin jauh, "Clown?" Ia cemberut, orang di depan tidak menjawab.

"Aku sudah mengatakan ini sebelumnya, kamu dapat menggunakan wajah dan suara orang asing untuk mengubah sejarah dan bermain dengan masa depan untuk terakhir kalinya, seperti yang pendahuluku punya, dan seperti apa yang aku punya."

Dia telah lupa bagaimana dia telah memanggil dirinya ke lorong untuk menerima pukulan bukannya meminjamkan korek api. Mencabutnya dari batu giok dari orang yang tidak sadar, ia berubah menjadi orang yang berpakaian basah kuyup dan memakai topi. Dalam bayang-bayang kegelapan, dia masuk ke mobil buick hitam untuk terakhir kalinya.

"Hubungi teman-temanmu, jaga diri." Dia mengubah naskah dan dia berbalik.

"Aku minta maaf, aku menggunakan kematian Yixing untuk menggantikan Yun; juga untuk menggantikan diriku, bahkan jika diriku di sisi itu dan diriku sekarang tidak memegang hubungan apapun lagi." Clown melihat pintu.

Dia masih ingat, setelah semua itu, perpisahan di dalam kegelapan.

/?

"Semuanya ada di sini," dia memasukkan potongan batu giok yang melambangkan perdamaian dan harmoni dengan benang rusak ke tas kamera, menyerahkannya melalui jendela kepada Yun di mobil lain.

"Hati-hati."

"Kenapa kamu terdengar sangat aneh?"

Yun tidak dapat melihat orang di dalam kegelapan.

"Kita sudah menyelesaikan apa yang harus kita lakukan, mengapa kamu masih mengenakan topeng/maskermu ?"

"Oh ... bukan apa-apa." Dia menyembunyikan wajahnya lebih dalam ke dalam bayangan, "Aku akan pergi membeli sebungkus rokok." Katanya sambil membuka pintu mobil dan berjalan keluar. "Selamat tinggal." Dia mengatakan sambil membalikkan punggung.

Yun melihat dengan bingung saat ia berjalan ke toko yang nyaman, "Mengapa kamu mengucapkan selamat tinggal hanya untuk pergi membeli rokok?"

Pria itu tidak pernah keluar dari toko, beberapa menit kemudian, Yun menerima telepon dari rumah sakit, "Temanmu yang bernama Sung ada di rumah sakit sekarang dengan gegar otak, bisakah kamu datang untuk membayar biaya?"

"Rumah sakit?" Yun melipat alisnya dan mendongak ke arah toko.

Setelah menutup telepon, Yun bergegas ke toko tapi gagal menemukan sosok yang dicari. Dia membuka pintu toilet dan menemukan masker/topeng wajah tergeletak di lantai.

Clown perlahan berjalan menuju tebing cahaya. "Perubahan yang dibuat oleh step ini selamanya akan tetap dalam sejarah, dan tentu saja, step-step yang dibuat oleh orang lain masih bisa berubah sedikit. Tapi kali ini, kita bisa menentukan tanggal dan rentang waktu dari step, masih ingat kamera Samsung ungu ? Dan selebaran yang dicetak?" Dia tersenyum pada Luhan, "lihat, ini sendiri memiliki kemungkinan rendah untuk terjadi, tapi itu bekerja! Hidup ini terdiri dari kebetulan, benarkan?"

"Siapa prtnermu?" Kata Luhan, "Apakah aku mengenalnya ?"

"Sudah pasti," Clown tersenyum pada Luhan lagi, "Dia adalah pemilik Happy Times." Katanya.

Setelah hening sejenak, Luhan terkekeh, menggelengkan kepala, "Kamu bisa menentukan tanggal dan waktu kita melangkah mundur, kan?"

"Aku memiliki keterbatasan juga," katanya, "seperti aku tidak bisa mengirimkan kembali sebelum kalian bertemu, aku harus memberikan orang pertama yang melangkah/melakukan step dua kesempatan untuk membiarkan orang kedua melangkah/melakukan step." Ia berhenti sebentar, "Tidak, aku tidak seharusnya mengatakan "Aku" lagian, itu seharusnya kamu, kamu Clown. "

"Kemarilah, ayo ambil waktu untuk step terakhirmu," Clown menyapu nomor yang mengambang di layar, menunjuk ke skala yang menandai untuk mengontrol waktu, "kali ini kamu akan kembali ke lingkungan yang sudah kamu kenal, tapi ingat bahwa kamu hanya orang asing yang tidak ada, kamu tidak bisa bunuh diri untuk menggantikan kematianmu sendiri."

Luhan berjalan ke arah skala, memutar dengan minat yang sedikit, akhirnya dia mengambil hari secara acak menjelang akhir 2011.

"Apakah kamu yakin ingin melangkah/mengambil step kembali begitu cepat?" ucap Clown, "Apakah itu adalah hari yang istimewa?"

"Tidak ada yang istimewa," sisi bibir Luhan mengangkat, "Aku hanya ingin santai dan kembali untuk berkeliaran."

Clown menatapnya, "Ini adalah kesempatan terakhirmu."

Luhan meletakkan tangannya di saku, "Aku tahu," katanya sambil tertawa, "Aku berencana kembali untuk memberikan Yixing beberapa pukulan sehingga dia akan cukup bodoh untuk melakukan apa yang aku katakan padanya." Luhan mendekat kepadanya , "Bagaimana caraku kembali ?"

"Cukup dengan menepuk pintu." Ucap Clown.

"Aku mengerti. Lalu aku akan berada di jalanku." Luhan berkata saat ia berjalan menuju tebing yang bercahaya.

"Luhan." Clown memanggil dari belakang.

"Ya?" Luhan menolehkan kepalanya dalam cahaya yang bersinar. Clown berhenti sejenak, "Jangan salahkan aku." Dia mengangkat kepalanya untuk melihat Luhan.

Luhan melihat kembali pada tebing cahaya, "Seseorang harus tinggal di sini, kan?" Dia memberikan Clown sebuah seringaian lucu, berjalan menuju cahaya tanpa melihat ke belakang.

Menurunkan kepalanya, Clown melihat tebing yang bercahaya terang dan meletakkan kunci, botol parfum, dan pena di lantai.

?/:;;;; Luhan kembali ke masa lalu sebagai orang asing ?/

Luhan berdiri di jalan yang sibuk, memeriksa wajahnya dengan hati-hati dengan tangannya, tidak tahu apakah itu terlihat bagus atau tidak.

Sekelompok anak laki-laki berjalan di seberang jalan, kamu terlalu mencolok bahkan untuk traineer, dia berbalik ke samping dan menggeleng, terutama satu orang di depan yang bernama Luhan, apakah dia berusaha terlihat seperti preman ?

Mereka berjalan ke sebuah restoran, yang mereka selalu gunakan untuk pergi bersama-sama.

Duduk di meja yang ada di sudut, Luhan menonton kelompok orang di seberang ruangan saat mereka tertawa dan berbicara, dia mencari semua uang yang dia miliki di sakunya dan meletakkannya di meja, kemudian mulai membaca menu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Chanyeol dan Baekhyun selesai memesan makanan mereka, Tao duduk di sisi dengan matanya yang melebar berusaha sekuat tenaga untuk memahami percakapan mereka dalam bahasa Korea, Jongin bersandar di balik kursinya, sedikit memprotes makanan yang sudah Baekhyun pesan.

Apa yang aku lakukan?

Memainkan ponselku dengan bosan bersama Sehun.

Luhan memanggil pelayan, menunjuk ke menu, "Buka sampanye ini untuk mereka sebagai perayaan, untukku." Kata Luhan lembut, "Cukup berikan ini pada pria yang tinggi itu." ucapnya sambil menunjuk Kris.

"Apa yang mereka rayakan?" Pelayan bertanya sopan.

"Merayakan ..." Luhan tidak tahu menjawab apa, "Untuk merayakan hal besar tahun depan."

"Oke." Dia tersenyum, "Mau memesan sesuatu untuk dirimu sendiri?"

"Aku?" Luhan melihat menu sekali lagi, lalu menghitung berapa banyak uang yang telah dia keluarkan untuk membeli sampanye, "Aku ... eh ... Aku hanya ingin minum air."

Pelayan berhenti sejenak, "Baiklah, silakan tunggu sebentar."

Beberapa menit berlalu, pelayan berjalan menuju Kris dengan sebotol sampanye di tangannya, menunjuk ke arah Luhan, dan berbisik di telinganya.

Kris memutar kepalanya, melihat Luhan diseberang ruangan.

"Apakah kamu ingin membukanya sekarang?" tanya pelayan.

"Tunggu." Balas Kris.

"Apa itu Kris hyung?" Chanyeol bertanya.

"Orang asing itu membelikan kita sebotol sampanye." Kris berbalik untuk menjawab.

Sehun mengayunkan kakinya, duduk di sebelah Luhan, "Ada lebih dan lebih banyak orang aneh akhir-akhir ini."

"Ini tidak murah." Jongin memperhatikan botol.

"Lebih baik berhati-hati dengan hal-hal seperti ini." Junmyeon bergabung, "ini adalah periode sensitif."

Yixing memutar kepalanya untuk melihat orang asing yang ada di sudut, "Dia terlihat miskin, dia hanya memesan segelas air untuk dirinya sendiri."

Luhan menepuk kepalanya, "Inilah mengapa pria asing meremukkanmu, makanlah makananmu."

Kris memanggil pelayan lagi dan bertanya, "Berapa harga ini?"

Pelayan mengatakan nomor angka.

Berhenti sejenak, Kris berbicara lagi, "Tolong berterima kasihlah padanya untukku, kami menghargai pikirannya, ini belum dibuka sama sekali, kamu dapat mengembalikannya kepadanya."

"Uh ..." Pelayan berkata, "jangan membuat ini sulit bagiku."

Kris tersenyum dan melambaikan tangannya, melihat kebelakang saat dia bangun untuk berjalan mendekat kesana.

Luhan mulai bergerak tidak nyaman di sudut ruangan.

"Halo." Kris mengulurkan tangan kanannya dengan sopan.

"Halo." Luhan mengulurkan telapak tangannya yang berkeringat untuk bersalaman.

"Ini adalah sampanye yang kamu ingin buka untuk kami ?" Kris duduk.

Luhan mengangguk, menjalankan jari-jarinya sepanjang botol yang indah, "ya, sampanye," dia memberi Kris lirikan sekilas, "Untuk diminum ketika kamu senang."

Kris diam sejenak, melihat pria di depannya. "Terima kasih atas niat baikmu, siapa namamu?"

Luhan melihat pria di depannya, lidahnya seakan terikat, "Haha ... Aku ... " Dia gagap, "Aku, aku tidak punya nama ... "

"Tuan, kami menghargai apa yang kamu coba lakukan, kita ingin memesan satu dengan harga yang sama untukmu juga, tapi kami tidak membawa cukup uang." Kris tertawa, menurunkan kepalanya, "Jadi ini sampanyemu ku kembalikan, terima kasih."

Setelah berhenti sejenak, Luhan melihat ke meja dengan tertawa kecil, "Sama-sama."

"Lalu ... Maaf merepotkan." Kris bangkit, memberikan Luhan senyuman yang lain, kemudian berjalan kembali ke mejanya.

Luhan menghambiskan airnya sambil tersenyum, memanggil pelayan, "Aku siap untuk membayar." Dia mengeluarkan setumpuk uang tunai ke arahnya.

"Segelas air mu tidak memerlukan uang yang banyak." Kata pelayan canggung.

"Aku ... membeli sampanye." Luhan tersenyum padanya, bangun dengan sebotol sampanye di tangannya.

Dia berdiri di dekat pintu, berbalik untuk melihat meja yang penuh dengan orang untuk terakhir kalinya. Kris mendongak dari makan untuk bertemu dengan mata orang asing itu, lautan berbeda pelayan dan pelanggan berjalan antara mereka.

Rapikan rambutmu, itu berantakan.

Kris melihat saat orang asing itu tersenyum dan menunjukkan kepadanya dengan gerakan tangan. Pelayan berjalan lewat di depan matanya, ketika Kris melihat lagi, orang asing itu sudah tidak ada, hanya sebotol sampanye yang belum dibuka terduduk di samping pintu.

"Untuk diminum ketika kamu senang." Kris perlahan berjalan menuju pintu dan mengambil botol, seolah-olah ditarik oleh suatu kekuatan yang aneh, dia melihat keluar.

Jalan yang penuh dengan mobil dan pejalan kaki; dia melihat sekeliling, gagal untuk menemukan wajah yang akrab /Luhan.

/

Ketika Luhan kembali ke ruangan itu, Clown sudah lama pergi, hanya ada rantai kunci, pena dan botol parfum.

Tidak, dia salah bicara; Clown masih di sini, karena dia adalah Clown.

Berjalan mendekat ke teleskop, Luhan melihat seorang teman lama, mendaki gunung dengan kelelahan, dia tampaknya mencari sesuatu di hutan, dia berjalan keluar dengan palu, salah satu palu yang Luhan buang waktu itu.

Dia melihat sekeliling, mengambil paku dari sakunya, dan melangkah menuju panah merah. Teman lama itu memulai petualangan baru, beberapa saat kemudian, ia jatuh ke dalam tidur yang nyenyak.

Huruf-huruf merah di layar mengingatkan Luhan bahwa itu adalah waktu baginya untuk memilih waktu untuk wisatawan petualang yang baru itu.

Sudut mulutnya terangkat, Luhan memutar skala untuk 17 September 2012.

- /

Dia merasa seolah-olah dia tiba-tiba jatuh ke kursi, kerumunan berjalan bersorak disekitar Yixing, orang di sampingnya memeluknya, gendang telinganya akan pecah. "Sangat tercengang? Pergi!" Dia melihat ke sisinya, Luhan yang mendorongnya maju, Yixing akan ditarik di panggung, semuanya kabur.

MC mengatakan kata-kata yang sudah tidak asing, dia sudah menonton video mengharukan yang dimainkan di layar lebar di belakang mereka. Mata Tao merah berusaha menahan air matanya, K melambai semangat pada mereka di luar panggung.

Kris membuat pidatonya, Luhan mengatakan sesuatu juga, piala akan diteruskan kepadanya. Dia melihat ke bawah pada penghargaan pertama mereka, Yixing mengangkat kepalanya untuk mencari, minyipitkan matanya yang sudah berlinang air mata, memfokuskan pada titik yang tidak ada di suatu tempat di kejauhan.

Luhan, apakah itu kamu ?

"Giliranmu untuk mengatakan sesuatu." Kris memegang bahunya saat Luhan mendorongnya maju dengan pinggangnya, dia menatap mic di depan matanya, MC mencoba menenangkan kerumunan yang ada dibawah.

Yixing diam di depan mic.

Luhan, kamu mendengar, kan?

Yixing mendongak pada titik yang tidak ada di kejauhan lagi.

"Aku tidak pernah menganggap diriku pintar, aku tidak pernah bisa melihat sesuatu dengan jelas dengan cara mereka." Mengencangkan cengkeramannya pada piala penghargaan.

"Tapi aku benar-benar beruntung." Dia menurunkan kepalanya sambil tersenyum, "Hal paling beruntung yang terjadi padaku bukanlah memulai debut atau menjadi terkenal, tapi bertemu dengan kalian" dia melihat ke kejauhan.

"Jika aku memiliki kesempatan untuk melakukan hal-hal itu, aku masih akan pergi ke Korea pada tahun 2008," dia tersenyum, "Aku akan menunggu kalian di tempat yang sama, tidak peduli bagaimana hal-hal yang sulit, selama kamu ada di sisiku, aku senang." Para anggota di sampingnya menepuk bahunya.

"Jika aku memiliki kesempatan untuk melakukan hal-hal itu," suaranya bergetar saat ia melihat ke bawah, "Aku akan melakukan segalanya semampuku ..."

Suaranya menjadi tenang, cukup keras untuk dirinya sendiri yang mendengar.

"Melakukan sekuat tenaga, untuk memilikimu di sisiku lagi."

/

Lampu yang meemnuhi ruangan mengngatkannya tentang sebulan yang lalu, di sisi lain dari pintu putih, seseorang tersandung jejak mereka menuju ruangan.

Dong dong dong! Dia mengetuk pintu.

Dong dong dong! "Apakah ada orang di sana?" Dia bertanya dengan nada mendeteksi.

Duduk di sisi lain ruangan, Luhan memegang kunci-kunci perak di tangannya, menghadap tebing cahaya yang terang, dia tampaknya telah jatuh dalam mimpi yang indah.

"Apakah ada orang di sana?" Orang tersebut bersandar di pintu.

Dong dong dong! Dong dong dong! Dia terus mengetuk pintu dengan keras kepala.

"Ada sebuah pintu disebelah kirimu," kata Luhan dengan tenang, "Berjalanlah ke sana, itu tidak terkunci."

Orang di sisi lain terdiam sejenak, diikuti oleh suara ketukan cepat,

"Luhan! Kamu di sana?! Buka pintunya! "

Mengerutkan alis, orang di sisi pintu mulai berbicara, "Aku bukan Luhan, namaku Clown."

"Tidak" Orang di sisi lain dengan keras kepala mengulangi penilaiannya, "Kamu Luhan, kamu tidak bisa berbohong padaku."

mengedipkan bulu matanya yang panjang, Luhan menggeleng; tersenyum, "Kamu benar-benar ingin menyelamatkan Luhan? berjalanlah ke pintu itu dan dia akan hidup kembali."

Pria di sisi lain ragu-ragu, "Apakah kamu serius?"

Luhan tertawa, bermain dengan kunci-kunci di tangannya, "Tentu saja aku serius."

"Luhan ..." orang di sisi lain menekan dahinya di pintu, "Tolong buka pintunya, aku ingin melihatmu ..."

"Aku bukan Luhan, dan aku tidak memiliki kunci." Luhan menyandarkan kepalanya di pintu saat ia melihat seuntai manik-manik masuk dari bawah pintu.

"Apakah kamu ingat manik-manik ini? Kembalikan kepadaku ketika kamu kembali." Kata pria di luar pintu dengan tekad, "Jika kamu berbohong padaku, aku akan terus datang, aku sudah tahu bagaimana cara datang kesini. "

Luhan menyentuh manik-manik itu, dia tidak berbicara.

Diam mengisi udara, sementara, orang diluar menyandarkan punggungnya di pintu, "Aku merindukanmu."

Aku tahu.

Luhan duduk di lantai, bermain dengan mainan barunya.

"Kita semua merindukanmu," air mata Yixing jatuh ke tanah "Kamu harus kembali."

Luhan menganggukkan kepalanya, duduk di lantai, tetesan air mata perlahan meluncur dari sudut matanya tanpa suara.

Yixing perlahan berjalan menuju pintu kecil, ia menggosok matanya yang merah dan berbalik untuk berbicara dengan lembut, "Selamat tinggal, kami akan menunggumu." Dia menunggu jawaban, tapi tidak ada balasan yang ia tunggu; Ia berbalik, berjalan menuju pintu kecil.

Di luar, hening.

Seuntai manik-manik yang murah perlahan menyelinap ke lantai dari tangannya, duduk di sisi dalam pintu, anak itu mendongak, akhirnya membiarkan air matanya bebas dan mengalir menuruni pipinya sesuka mereka.

Maafkan aku karena tidak ingin mengucapkan selamat tinggal ...

Karena aku tahu, ini adalah perpisahan.

Selanjutnya akan aku update EPILOG dan AUTHOR's NOTE nya ya ^^