Legendary sword XIV.
.
xXx
.
Disclaimer Naruto © Masashi Kishimoto.
Genre : Adventure, Fantasy, Romance.
Rate : T.
Pair : Naruto x Sakura x ...
Warning : typo, mainstream, ooc, newbie, dll.
.
.
xXx
xXx
.
Chapter 14.
Dalam ruangan tertutup, diatas singgasana berbalut emas dan sutra, Kizashi dengan mahkota kebangsawanan miliknya duduk dengan kewibawaan tingkat tinggi, mengabaikan segala kewajiban sebagai seorang ayah dan hamba dari Tuhan.
Keheningan yang bertemu dengan keheningan, perasaan yang bertemu dengan perasaan, di siang hari yang sangat mendung dan amat sangat dingin.
Setiap mulut dalam keheningan itu mendesah berkeluh dengan cuaca yang sangat aneh dan belum pernah sama sekali mereka alami.
Anehnya lagi dihari yang sangat aneh dan dingin seperti ini raja memerintahkan setiap pejabat menteri dan seluruh keluarga mereka untuk berkumpul dalam ruangan sidang,
Raja duduk diatas singgasananya.
Para menteri dan pejabat duduk melingkar sedang dibelakang mereka para wanita tengah berdiri dibalik sekat yang transparan.
Setiap dari mereka tengah bersabar untuk menunggu kabar baik untuk Konoha. Ketika kehadiran yang sudah ditunggu sebagai sang penyelamat akan masuk melewati pintu persidangan.
Moment itu terus terbayang disetiap angan orang yang berada diruangan itu.
Terutama keinginan dan ambisi sang raja yang haus akan kekuasaan dan kehormatan.
Mata sang raja terus menatap tajam gerbang besar ruangan sidang yang berada tepat dihadapannya. Dalam hatinya yang sangat dalam Kizashi sangat berharap bahwa takdir dan ramalan akan memilih dia dan kerajaannya untuk mendapatkan kehormatan untuk menghancurkan kesewenang-wenangan dan ketidak adilan didunia.
Ketika gerbang ruangan terbuka seorang pilihan Tuhan itu akan berjalan dengan gagah menghadap padanya.
Dan tentu saja semua tahu akan hal itu, semua raja tahu akan ramalan sang penyelamat itu.
Saat itu tiba, saat penyelamat yang dipilih Tuhan itu bersujud di kakinya dan memohon pada sang raja Konoha, bersujud agar Kizashi bersedia membantunya dalam peperangan maha besar.
Maka disaat itu Kizashi akan membuktikan kekuatan yang ia miliki pada seluruh dunia, bahkan seorang yang telah dipilih Tuhan sekalipun akan tunduk dan merasa rendah di hadapan kekuatan nya.
Kizashi yang berada di singgasana miliknya terus tersenyum membayangkan kekuasaan dan apa yang akan didapatkan oleh nya dari seorang Naruto Namikaze, manusia buangan yang tak pernah tahu tentang kekuasaan,
Dia hanyalah mesin pembunuh.
Eforia itu benar-benar telah menguasai Kizashi, hingga rasanya ia sangat ingin mengungkapkan kemenangannya sebagai raja dunia setelah ini.
Jadi tanpa fikir panjang lagi Kizashi langsung berdiri dan diikuti seluruh mata diruangan sidang tersebut,
Semuanya menatap bingung pada sang raja.
"Bersiaplah semuanya setelah pintu terbuka, cita-cita kita akan tercapai, Konoha akan menjadi kerajaan penguasa dunia".
Kizashi terdiam sejenak lalu kembali melanjutkan kata-kata nya.
" Setelah perang suci ini, semua kerajaan dimuka bumi akan tunduk kepada kita ".
Suasana tampak hening, sudah biasa bagi seorang raja memberikan deklarasi tentang kekuasaan dan kekuatan.
Dan tak begitu sering ada yang ingin mendebat hal itu.
" Yang mulia". Inoichi mengangkat tangannya.
Setelah itu Inoichi langsung berdiri dan mengutarakan salam hormatnya kepada Kizashi.
"Tapi yang mulia, perang ini bukanlah milik Konoha, perang ini adalah milik tuan Naruto Namikaze murid dari Jiraiya-sensei. Itu artinya setiap keuntungan dan kerugian dalam perang ini adalah milik tuan Naruto, kalaupun seluruh dinasty akan tunduk pada satu kepemimpinan itu artinya yang berhak menjadi raja adalah tuan Naruto sendiri, dan Konoha tidak mungkin mendapat keuntungan sebesar itu dalam peperangan macam ini yang mulia".
Kizashi tersenyum penuh arti lalu memandang Inoichi dalam.
"Inoichi sepertinya kau lupa siapa Naruto, dia hanyalah anak buangan dari dinasty Namikaze, dia tidak paham dengan ilmu pengetahuan dia tidak paham dengan kekuasaan dan cara mengatur Negara, yang dia tahu hanyalah darah makan dan membunuh".
Kizashi perlahan melangkah menuju tempat Inoichi, tangannya ia tadahkan hingga seekor burung elang hinggap di lengannya.
Tak begitu lama langkah Kizashi berhenti lima langkah dari tempat Inoichi.
Kizashi lalu mengeluarkan sebuah pisau dan menimang nya.
" Inoichi kita tahu dari mata-mata kita tentang masalah internal di Uzushio.
Kita tahu tentang hubungan menteri Orochimaru dan Madara.
Aku adalah Orochimaru dan pisau ini adalah Naruto "
Tiba-tiba Kizashi langsung menusukkan pisau itu pada elang dihadapanya hingga elang itu mati seketika. Dan pisau itupun langsung dipatahkan dengan mudah oleh Kizashi.
Semua orang kebingungan apa maksud dari sang raja bahwa dia adalah Orochimaru dan pisau itu adalah Naruto.
"Dan elang itu adalah Minato"
"Kita tahu pisau itu dulunya hanyalah sebuah besi berkarat yang tak bernilai, tapi aku memerintahkan seorang pandai besi untuk merubah besi itu menjadi senjata yang hanya aku sajalah yang tahu kelemahannya.
Jadi saat tujuanku untuk membunuh elang ini tercapai pisau itu sudah tak ada gunanya untukku, dan agar tidak ada yang menggunakan pisau tajam itu aku harus menghancurkanya. Dan yang bisa menghancurkannya hanya aku karena hanya aku yang tahu titik lemahnya".
Kizashi kembali ke singgasananya.
Matanya menelusuri setiap orang disana satu persatu hingga mata tajamnya bertemu dengan emerald putrinya yang tampak berkaca.
" Sama seperti Naruto, dia hanyalah alat yang diasah oleh Madara untuk membunuh Minato, Orochimaru ingin menciptakan alat pembunuh yang hanya dia yang bisa menghentikanya, saat Minato mati maka Orochimaru akan membunuh Naruto.
Karena itulah tercipta Naruto Namikaze sebuah mesin pembunuh yang tak tertandingi ".
Mata Kizashi terus menatap putrinya, Kizashi dapat melihat disana mata itu sudah mulai meneteskan air bening, bibirnya sudah mulai bergetar.
" Jadi kita tak perlu repot membunuh Naruto, setelah Orochimaru membunuh Naruto, maka kita akan membunuh Orochimaru dengan alasan dia telah membunuh menantuku, dan dengan alasan itu seluruh hak yang dimiliki oleh Naruto akan diserahkan padaku selaku ayahnya".
Greddk...
Gerbang terbuka dengan lebar, senyum Kizashi tiba-tiba memudar setelah tahu bahwa orang dibalik gerbang itu bukanlah Naruto, melainkan utusannya yang mengirim surat kepada Naruto.
" Maaf yang mulia, tuan Naruto tidak bersedia untuk memenuhi perintah tuan, tuan Naruto juga mengatakan bahwa anda tidak memiliki hak untuk mengatur dan memerintahkannya".
Seketika kemarahan itu memenuhi hati Kizashi, "dia pikir dia mampu menghancurkan Uzushio sendirian".gumamnya.
.
xXx
.
Sakura berjalan agak terhunyung, matanya sembab menahan tangis, beberapa kali pelayan berusaha membantunya tapi dengan sangat kasar Sakura menepis tangan yang ingin menyentuh tubuhnya.
Para pelayan bahkan bingung dengan tingkah putri mereka yang sangat aneh, tiba-tiba saja menjadi sangat kasar.
Sehingga salah satu pelayan langsung berlari untuk mengadukan keadaan Sakura pada sang ratu.
Sesampainya Sakura dikamarnya sesegera mungkin Sakura melepaskan seluruh atributnya dari tubuh, atribut kerajaan itu terasa berat untuk tubuhnya yang lemah.
Sekarang dirinya hanya menyisakan helaian kain tipis ditubuhnya.
Tangisnya seketika pecah, air mata yang ia tahan semenjak di ruang sidang akhirnya dapat ia buang, Sakura benar-benar tak menyangka bahwa pandangan ayahnya pada Naruto tak ada bedanya dengan para penguasa lain yang menganggap Naruto hanyalah alat.
Sakura pikir ayahnya menganggap Naruto adalah keluarga mengingat Naruto adalah murid Jiraya-sensei yang mana itu adalah antara Naruto dan ayahnya adalah saudara seperguruan.
Tapi Sakura tak percaya bahwa ayahnya juga ingin memanfaatkan Naruto untuk kepentingan dirinya. Bahkan ayahnya memanfaatkan dirinya untuk mengambil harta Naruto.
Apakah ayahnya gila, dia ingin putrinya sendiri menjanda demi kekuasaan.
Sakura benar-benar tak habis pikir dengan ayahnya.
"Aku harus pergi, aku akan memberi tahu Naruto tentang siasat ayah kalau mereka hanya memanfaatkan Naruto".
.
xXx
.
Matahari mulai menampakan dirinya di sebelah timur memancarkan cahaya di seluruh tempat yang terbuka.
Hamparan pasir diluar kota Uzushio terlihat kering meskipun semalaman hujan deras mengguyur tanah itu berjam-jam.
Dibalik hamparan pasir yang sangat luas dihadapannya Naruto mampu melihat kota Uzushio yang berdiri kokoh disana,
Dengan tubuh yang terhentak-hentak diatas kudanya Naruto menatap tembok kota dengan benci.
Tak begitu lama kuda Naruto berhenti di hamparan pasir dihadapannya. Naruto pun turun dari punggung kuda miliknya untuk meminum air yang ia bawa.
Sekuat apapun dirinya, Naruto sadar dirinya hanyalah manusia biasa, semalaman penuh dia menunggangi kuda hingga pagi tentu saja tubuhnya merasakan lelah yang amat sangat.
Jadi Naruto putuskan bahwa dirinya akan beristirahat di sini, di hamparan pasir bersama terik matahari yang amat panas.
Lagipula Yildirim pasti juga kelelahan setelah semalaman berlari tanpa berhenti.
Naruto duduk diatas kain yang ia gelar diatas pasir menikmati hawa panas khas gurun disekeliling nya. Punggungnya ia sandarkan pada tubuh Yildirim yang tengah duduk juga, benar-benar posisi yang sangat menyenangkan dan nyaman meskipun panas menyengat kulitnya.
Tanpa sadar Naruto pun tertidur saking penat tubuhnya, tidur yang sangat pulas karena semalaman Naruto tidak tidur sama sekali.
.
.
Saat Matahari mulai muncul saat itulah sang putri kerajaan Konoha terlihat mulai lelah dengan kudanya.
Tubuhnya yang terbalut jubah bertudung merah maroon nampak ringkih dan terhuyung.
Wajahnya yang cantik beberapa kali meneteskan peluh diiringi nafas yang terengah-engah.
Di hamparan pasir yang begitu luas itu kuda putihnya ia hentikan untuk beristirahat, cukup melelahkan berkuda semalaman dengan mata yang terus mengeluarkan airnya.
Tapi bukankah matahari mulai meninggi, jika Sakura berhenti sekarang Sakura tidak akan dapat menemukan apa yang dia cari sekarang, Sakura tidak akan menemukan orang yang menjadi alasan kenapa ia harus pergi meninggalkan istananya yang nyaman.
Sejak tadi malam Sakura telah berusaha mengikuti instingnya untuk menemukan Naruto miliknya dengan berbekal tubuh dan tekad, bahkan tanpa makanan karena Sakura benar-benar marah pada ayahnya sehingga ia kekeh tidak mau memasukkan apapun kedalam perutnya.
Sudah sejauh ini jalan yang telah Sakura tempuh, tapi apa mau dikata tubuh gadis gulali itu merasa tersiksa dengan perjalanan dan suasana luar yang harus dilewatinya.
Tapi tetap saja Sakura berusaha terus memaksakan tubuhnya untuk bergerak mencari, karena instingnya mengatakan Naruto sudah sangat dekat dari dirinya.
Beberapa kali Sakura mengusap kaki kirinya yang terbuka, kaki itu nampak biru dan bengkak,
Beberapa kali pula Sakura meringis merasakan rasa sakit yang teramat pada kakinya, Sakura bahkan tidak tahu apa yang membuat kakinya terasa sakit seperti ini,
Yang Sakura ingat semalam ada semacam ranting pohon lunak yang jatuh dikaki kirinya.
Belum selesai kesulitan Sakura, tiba-tiba tanah sedikit bergerak dan pasir tampak mulai mengalir, Sakura yang kaget akhirnya melecutkan tali kudanya agar segera menjauh dari tempat dimana pasir tampak bergerak itu.
Tapi terlambat dengan sangat cepat pasir itu menghisap kuda Sakura tanpa memberikan kuda itu kesempatan mengucapkan kata-kata terakhir.
Sakura yang terjatuh langsung berpegangan pada batu yang dapat digapainya, sambil menatap kudanya yang terhisap di pasir bersama seluruh bekal yang ia bawa, seluruh uang dan pakaian miliknya.
Matanya melotot meratapi nasibnya yang sangat buruk, pikirkan saja apa yang bisa dilakukan seorang gadis manja yang serba terpenuhi kebutuhannya di instana, harus berjuang di alam liar.
Tapi belum habis lagi rasa keterkejutan Sakura tiba-tiba muncul seekor mahluk muncul dari pasir ditubuhnya terdapat garis biru abstrak, dan tubuhnya amat sangatlah besar.
Sudah disana mata Sakura semakin melebar dalam hatinya sudah mulai berdoa dan meminta maaf pada ayah dan ibunya karena kabur dari rumah.
Dan sekarang Sakura sudah berpikir disinilah dia akan mati sekarang.
Dengan penuh rasa putus asa Sakura akhirnya menutup matanya berharap dan menantikan apa yang akan Tuhan berikan padanya sekarang.
Monster itu meraung-raung dengan suara kasarnya, terdengar seperti raungan seorang yang tengah mabuk berat.
Saat raungan itu seketika mengencang, Sakura pun juga ikut mengeratkan kelopak matanya tak ingin sama sekali melihat nasib buruknya sekarang.
Tapi bukan rasa sakit yang Sakura rasakan, Sakura berpikir setelah raungan keras dan panjang itu mengalun ia akan merasakan rasa sakit yang sangat.
Tapi ternyata hal itu tak terjadi, Sakura merasakan sebuah energi yang tiba-tiba menyelimuti dan mengikat tubuhnya, seketika tubuhnya langsung tertarik entah kemana karena Sakura bahkan masih takut untuk membuka matanya.
.
.
" Sukaku, apa yang membuatmu berada disini, tidak seharusnya kau berada di tempat ini".
Sakura seketika membelalakan matanya ketika merasakan dekapan erat di perutnya, ya setelah tarikan itu Sakura merasakan bahwa dirinya jatuh pada tubuh yang langsung mendekapnya.
Dan lagi suara itu adalah suara seseorang yang tengah ia cari, suara berat khas yang sudah beberapa tahun ini tidak ia temui.
Sukaku tiba-tiba menyerang Naruto dengan pasirnya dan tentu saja Sakura yang berada di dekapan Naruto langsung berteriak ketakutan.
Tapi dengan cepat langsung menghindari serangan itu dengan sangat lincah nya.
"Sudah kuduga, kau sedang mabuk jadi bersiaplah untuk pulang".
Naruto langsung merapalkan jurusnya dan menhentakkan tangannya ke tanah, maka keluarlah kurama yang segera merangkul sukaku dan seketika menghilang dari hadapan Naruto dan Sakura.
.
.
Sakura yang masih berada di dekapan Naruto tetap tak mau bergerak, Sakura terus mengamati wajah tampan dihadapannya, wajahnya semakin tampan rambutnya semakin panjang melewati dagu serta seluruh otot di tubuhnya semakin keras.
Pedang Naruto yang semula dilemparkan ke mata sukaku kembali ke tangan Naruto.
Kemudian Naruto menatap Sakura yang tengah terpaku pada dirinya.
"Mau kemana kau sendirian". Ujar Naruto tanpa rasa.
Sakura segera tersadar dari lamunannya untuk segera menjawab pertanyaan Naruto.
" Aku mencarimu Naruto, jangan membunuh ayahmu... "
"Pulanglah, aku tidak perlu saran dan dirimu disini". Naruto langsung menyela kalimat Sakura, dan segera berpaling untuk pergi menemui yildirim kudanya seraya memasukkan pedang pada sarungnya.
" Tapi Naruto, setelah kau membunuh ayahmu kau akan ganti dibunuh"
Sakura berjalan tertatih mengikuti langkah lebar Naruto yang cepat, dan Sakura terus saja berteriak dibelakang Naruto.
"Naruto kumohon tunggu aku".
" Aku lapar Naru ".
" Aku tidak kuat disini Naru, jangan tinggalkan aku".
Air mata mulai menetes dipipi Sakura, kakinya semakin sakit karena harus mengikuti langkah Naruto.
'Sudah sejauh ini aku tidak boleh menyerah'. Batin Sakura.
Sementara itu Naruto tetap kekeh menulikan pendengarannya, Naruto tidak mau terhasut oleh Sakura, dia tak boleh berubah fikiran hanya karena seorang gadis, memang siapa yang mampu dan berani pada dirinya.
Naruto sama sekali tak ingin melihat kebelakang. Tatapannya tetap menatap tajam pasir dihadapannya.
Karena sudah tidak kuat lagi menahan rasa sakitnya, Sakura pun akhirnya meraung.
"Atau aku akan mati disini". Seketika Sakura terjatuh diiringi suara isak tangis sesenggukan nya yang terkesan menahan sakit.
Mendengar suara tubuh Sakura yang terjatuh, Naruto seketika terdiam berdiri menahan emosinya.
" Aku tidak mau kau mati, aku sayang padamu ". Ujar Sakura disela isak tangisnya.
Naruto tetap menahan dirinya untuk tidak peduli, Naruto pun kembali ingin melangkahkan kakinya hendak meninggalkan Sakura.
Baru ingin melangkahkan kakinya seketika Naruto langsung berbalik dan langsung menghampiri Sakura yang tersimpuh di pasir. Karena satu pekikan kesakitan Sakura.
Naruto sangat merasa sedih ketika ikut bersimpuh didepan Sakura, gadis cantik dihadapannya yang kacau tubuhnya tampak lelah berpeluh, tangannya mencengkram kaki kirinya sembari menangis kesakitan.
Melihat hal itu Naruto langsung menggendong tubuh kecil itu meski, Sakura memberontak meminta untuk dilepaskan.
" Aduh.. Sakit lepaskan aku, biar aku mati kau tak peduli padaku ". Rengek Sakura di gendongan Naruto.
" Sakit biar aku mati, aduh aku tidak mau mati sekarang ".
" Lepaskan".
Naruto terus diam tidak memperdulikan rengekan Sakura dan terus berjalan menuju kudanya.
Sesampainya di tempat Naruto segera ingin menaikkan Sakura sama keatas tubuh yildirim, tapi rontaan Sakura tentu menyulitkan Naruto.
Dan pada akhirnya karena Naruto sudah mulai emosi, Naruto pun langsung membentak Sakura dengan satu kata, dan ciut lah keberanian Sakura bagai kerbau ditusuk hidungnya.
.
xXx
.
Ketika sampai di dalam kota Uzushio, Naruto sesegera mungkin mencari tempat menginap untuk tempat beristirahat dirinya dengan Sakura.
Sementara itu Naruto yang mengendarai kudanya terlihat agak kerepotan dengan tubuh Sakura yang sudah mulai lemas, semenjak tadi Sakura terus menyandarkan kepalanya di dada bidang Naruto.
Sembari mengendalikan kudanya, Naruto beberapa kali membenarkan posisi Sakura yang seperti akan jatuh ke samping.
Tapi tak begitu lama akhirnya Naruto dengan mudah menemukan tempat menginap dan langsung membawa Sakura kedalam.
Pada akhirnya disinilah Naruto dan Sakura dalam sebuah kamar yang tidak terlalu besar, Sakura yang sangat lemas hanya dapat bersandar pada tembok.
Dan Naruto nampak sibuk dengan racikan herbal yang akan dia gunakan untuk menawarkan racun dikaki Sakura.
Beberapa kali Sakura bertanya pada Naruto, kenapa dengan dirinya dan beberapa pertanyaan lain juga Sakura ajukan pada Naruto.
Tapi Naruto tetap diam dan tetap fokus pada herbal yang ia buat, sebenarnya Naruto tahu bahwa kaki Sakura terkena racun ular yang tidak terlalu berbahaya, tapi nampaknya Naruto masih malas bicara barang sepatah katapun.
Setelah selesai dengan herbal nya Naruto beranjak dari tempatnya mendekati Sakura diranjang dan segera ikut duduk diranjang.
Tanpa berkata apapun Naruto langsung memberikan herbal itu dikaki Sakura lalu dibalut nya kain.
Naruto melihat keluar melewati jendela diruangan kamar itu dilihatnya matahari mulai tenggelam, dan Naruto baru menyadarinya bahwa perjalanannya ke kota begitu sangat lama.
Jadi mengingat hari sudah mulai gelap Naruto segera berdiri dan beranjak dari ranjang, bukan untuk keluar melainkan melucuti pedang dan jubah dari tubuhnya.
Dan yang terakhir Naruto melepas perisai ditangan kanannya sehingga menyisakan helai kain yang menutupi daerah selangkangan sampai ke kakinya saja.
Dan hari ini pula Naruto putuskan untuk menunda kunjungannya dirinya ke istana Uzushio.
Naruto menghembuskan nafasnya, kemudian berbalik dan menatap Sakura yang nampak lesu meskipun tidak separah sebelumnya.
"Buka jubahmu". Perintah Naruto mutlak pada Sakura.
Sakura yang melihat mata Naruto pun segera mengangguk dan melepas jubahnya.
Sedetik kemudian Naruto nampak sedikit terpesona dengan gadis dihadapannya, dengan tubuh lemah dan kain tipis menutupi tubuhnya serta keringat yang membuat kain itu agak sedikit basah, mengakibatkan mata Naruto dapat melihat lekuk tubuh indah gadis dihadapannya.
Tetapi Naruto segera membuang fikiran anehnya, dia tidak boleh memikirkan hal lain kecuali balas dendam.
Jadi tanpa menghiraukan godaan dihadapannya Naruto segera membaringkan tubuhnya disebelah Sakura. Naruto kembali menghela nafas lalu memiringkan tubuh membelakangi Sakura. Untuk segera menutup matanya.
"Naruto". Ujar Sakura sembari menegakkan tubuhnya untuk duduk. Kainnya agak sedikit merendah sehingga menampilkan belahan dadanya.
Naruto tetap memejamkan matanya meskipun dia tetap ingin mendengar suara merdu itu di telinganya.
" Berbalik lah Naru, aku ingin bicara padamu ".
Mendapat permintaan manja itu Naruto pun akhirnya luluh dan membalikkan badannya.
Didepan wajah Naruto sekarang adalah kain Sakura yang melambai mengusap wajahnya, aroma wanginya membuat fikiran Naruto kembali tenang.
" Apa yang ingin kau katakan? ". Ujar Naruto masih dengan nada dingin. Sembari menutup mata dan menghirup dalam wangi aroma menenangkan miliknya.
Sakura beringsut ke kasur memposisikan tubuhnya berbaring menghadap Naruto, sangat dekat mereka hingga satu sama lain dapat saling merasakan nafas masing-masing.
Tangan Naruto yang semula berada didepan kini tertindih oleh dada Sakura yang tidak terlalu besar, dan bahkan Naruto terlihat tidak memiliki niat untuk memindahkan tangannya.
" Aku mohon kau mengurungkan niatmu untuk balas dendam Naru ". Sakura memberanikan diri untuk menyibak rambut Naruto memperlihatkan Rinnegan ungu Naruto.
Sementara Naruto nampak diam dan sama sekali tak terganggu dengan apa yang Sakura lakukan, padahal itu sudah sangat lancang, bahkan Naruto terlihat menikmati apa yang Sakura lakukan.
"Kenapa? Apa kau sekarang bersama mereka dan menginginkan kematianku juga".
Sekarang Sakura bingung, kesannya dirinya adalah tersangka disini.
"Tidak,... Aku tidak mau kau mati, aku sangat menyayangimu, karena itu jangan mencarimu, jadi kenapa kau malah menuduhku seakan-akan aku adalah alat mereka". Sakura membalikkan tubuhnya membelakangi Naruto.
Sakura terlalu takut untuk bicara tinggi pada Naruto, karena itu ia memilih untuk memalingkan wajahnya daripada melewati batas.
Tubuhnya bergetar dan menangis, sejak tadi pagi Sakura mencoba menjelaskan rencana ayahnya Orochimaru serta Madara tentang dirinya.
Tapi Naruto tidak pernah meresponnya. Bahkan saat Sakura mengatakan bahwa Madara itu hanyalah suruhan Orochimaru untuk membuat Naruto sebagai boneka pembunuh, Naruto benar-benar emosi dan membentak Sakura sangat keras.
Dan Sakura masih sangat takut saat ini.
Melihat Sakura membelakangi dirinya Naruto merasakan ada sedikit rasa kecewa dalam hatinya.
Naruto kemudian mendekati Sakura dan mendekapnya.
"Maafkan aku Sakura, aku tidak sengaja membentakmu, saat itu kau menyinggung ayahku. Aku yakin kau pasti tahu bagaimana rasa tidak memiliki kasih sayang, dan ketika seseorang yang menyayangimu dengan tulus dibicarakan hal buruknya pasti semua orang akan emosi jika ada dalam situasi seperti itu, begitu juga aku Sakura ".
Sakura mengusap air matanya.
" Kumohon Sakura, setelah semua orang yang aku sayangi mati satu per satu aku bingung dan aku mulai benci pada Tuhan, setiap kasih sayang yang hilang itu menjadi alasan ku semakin benci pada Tuhan, aku tidak mau kasih sayang palsu lagi dai Tuhan. karena itu aku berpikir kau adalah.. Kau.. ".
" Aku adalah alat Tuhan untuk memberi penderitaan dengan memberimu kasih sayang palsu". Sakura menyahut dengan agak sinis.
Naruto memejamkan matanya menyesap aroma leher Sakura, hidungnya mulai menyibak belakang telinga Sakura.
"Bukan begitu sayang, aku hanya tidak ingin terganggu oleh apapun sebelum tujuanku tercapai, dan setelah melihatmu kembali dirimu setelah bertahun-tahun aku merasakan bahwa hatiku tidak mengizinkan ku untuk berperang tanpa izinmu. Karena itu tolong berikan aku izin, aku berjanji akan kembali ".
Sakura segera tersenyum dan membalikan tubuhnya menghadap Naruto.
" Baiklah aku akan memberimu izin dengan satu syarat " Ujar Sakura seraya menyentuh hidung Naruto dengan telunjuknya.
Naruto memejamkan matanya menikmati sentuhan Sakura.
"Apa itu? ".
" Aku ingin menikah denganmu malam ini juga".
Naruto tersenyum.
.-TBC-.
.
.
Note:
Kira-kira percintaan gimana ya gaes saya bingung.
Terima kasih buat yang sudah mau menyempatkan untuk sekedar membuka laman fanfic saya. Terima kasih buat yang like fic saya . Terima kasih yang follow. Terima kasih yang flame .dan terima kasih yang memberi review bagus.
.
Mohon review senior. kalo masih ada ketidak nyamanan membaca mohon review nya.
Setiap jejak anda di hal ini sangat berharga untuk saya.
..
...
...
...
...
...
..
REVIEWS.
...
