Eyes Of The Heart

(^_^)

Byun Baekhyun

Park Chanyeol

Xi Luhan

And Other

.

ChanBaek (GS)

Romance


Happy Reading :)


(Recommended Backsound : Seulgi - Always)

Chanyeol memasuki apartemennya dalam keadaan gelap. Tidak seperti biasanya, lampu ruang tamu dan ruang tengah apartemen tersebut dalam keadaan mati. Hanya daerah dapur yang memiliki penerangan. Di meja makan telah tertata beberapa menu makan malam. Hari ini dia memang pulang terlambat sebab ada beberapa berkas yang memang harus Chanyeol selesaikan hari ini juga.

Pria itu segera membawa langkahnya menaiki tangga menuju kamarnya, dan seperti dugaannya, wanita yang sejak tadi Chanyeol ingin lihat tengah bergelung di balik selimut dengan wajah terlelap.

Chanyeol melepas pakaian kerjanya, menyisakan celana kainnya dan segera menuju kamar mandi. Pria itu membersihkan dirinya dengan cepat. Hanya 15 menit waktu yang dibutuhkannya untuk mandi dan kini ia tengah berganti dengan pakaian santai. Celana pendek di atas lutut serta kaos putih polos membungkus tubuh tegapnya.

Pria itu lantas menghampiri Baekhyun yang terlihat sangat nyenyak dalam tidurnya. "Maaf aku pulang terlambat dan tidak menemanimu makan malam hari ini" Chanyeol berbisik lirih, tangannya sibuk mengelus lembut surai Baekhyun, selembut mungkin supaya tidak mengganggu lelap wanitanya.

Chanyeol mengecup kening Baekhyun sekilas dan beralih memberikan kecupan lembut pada perut membuncit wanita itu sebelum melangkah kembali menuju dapur.

Tanpa memanaskan makanan yang di buatkan Baekhyun, pria itu menyantap makan malamnya. Bibirnya mengulas senyum saat menangkap bekas gelas susu serta bekas piring yang digunakan Baekhyun disana. Setidaknya Baekhyun tidak melewatkan makan malamnya meskipun malam ini Chanyeol tak menemani.

Sejujurnya Chanyeol sangat menghindari lembur akhir-akhir ini. Usia kandungan Baekhyun sudah tinggal menghitung hari. Bahkan beberapa hari ini Chanyeol belum sempat mengabulkan permintaan Baekhyun yang ingin menengok Luhan setelah empat hari lalu kakak Baekhyun itu melahirkan.

Hampir setiap hari Yoora ke apartemen Chanyeol meskipun hanya sebentar, bagaimanapun perkiraan dokter bisa saja salah dan Baekhyun bisa melahirkan kapan saja mengingat usia kanduangannya yang sudah tua. Chanyeol sempat ingin menyewa seseorang untuk menjaga Baekhyun sebab tidak setiap waktu pula Yoora maupun Soojung atau Kyungsoo juga bisa kesini, Chanyeol takut terjadi apa-apa pada Baekhyun dan bayi mereka namun Baekhyun menolaknya. Wanita itu berkata jika dirinya sedikit kurang nyaman jika bersama orang asing.

Chanyeol segera kembali ke kamar setelah menyelasaikan makan malamnya dan mencuci piring serta membersihkan meja makan. Pria itu memeriksa ponselnya dan membalas beberapa pesan yang dianggapnya penting. Pria itu mematikan lampu dan menyisakan lampu tidur sebelum menaiki ranjang dan berbagi selimut dengan Baekhyun.

Chanyeol memiringkan tubuhnya untuk menghadap pada Baekhyun yang masih saja terlihat mungil meskipun dalam keadaan mengandung dan segera mengecupi seluruh wajah cantik wanita itu dengan lembut.

"Hay, baby.. selamat tidur, papa tidak sabar untuk segera bertemu denganmu" Puas dengan wajah Baekhyun, pria itu kini beralih pada perut Baekhyun dimana ada buah hatinya di dalam sana. Chanyeol mengecupi perut membuncit itu berkali-kali, berusaha selembut mungkin supaya tidak mengusik tidur Baekhyun. Namun sepertinya, selembut apapun Chanyeol melakukannya, wanitanya tetap saja akan terbangun akibat perbuatan Chanyeol.

"Chanyeol?" Suara lirih Baekhyun dengan nada sedikit serak khas bangun tidur menyapa indra pendengaran Chanyeol. Pria itu meruntuki kebodohannya sendiri sebab membangunkan Baekhyun dengan tidakan konyolnya.

"Sayang? Aku membangunkanmu?" Chanyeol kembali mensejajarkan wajahnya dengan wajah Baekhyun. Mengecup lembut kening wanita itu.

"Kapan kau pulang?" Baekhyun mengusap wajah Chanyeol yang terlihat diselimuti gurat kelelahan. Prianya pasti bekerja keras hari ini. Baekhyun tidak menyukainya.. Baekhyun tidak suka dengan noda hitam samar dibawah mata Chanyeol. Baekhyun tidak suka dengan raut kelelahan pria itu sebab ketampanan milik prianya terkikis meski hanya nol koma sekian persen.

"Sudah dari tadi.. tidurlah lagi" Chanyeol menikmati usapan telapak lembut Baekhyun pada wajahnya.

"Kau sudah makan malam?" Chanyeol mengangguk, matanya terpejam menikmati pijatan lembut Baekhyun pada pelipisnya.

"Aku sudah memakan masakanmu tadi, terimakasih" Chanyeol meraih satu telapak Baekhyun dan mengecupnya.

"Kenapa tidak membangunkanku? Aku bisa memanaskannya untukmu. Maaf, aku tidak sengaja tertidur"

"Tidak apa sayang, aku bisa memanaskannya sendiri jika mau" Chanyeol masih sibuk mengecupi satu persatu jari lentik Baekhyun, ia merindukan wanitanya sebab pagi-pagi sekali dia sudah harus berangkat dan pulang saat hari sudah larut. "Apa Baby rewel hari ini?" Itu adalah kebiasaan Chanyeol setiap malam. Sebelum mereka tidur, pria itu akan menanyakan tentang bayi mereka pada Baekhyun selama ia tinggal bekerja.

"Sedikit, beberapa kali dia menendang lebih kencang dari biasanya... tetapi kami baik-baik saja" Baekhyun mengamati wajah tampan Chanyeol yang kini tengah menatapnya juga. Menyimpan sebanyak mungkin yang Baekhyun bisa, sebelum waktu tidak akan lagi mengizinkan Baekhyun melihat pahatan sempurna itu.

"Benarkah? Apa kita perlu menemui dokter Minseok?" Baekhyun tersenyum hangat mendengar nada cemas Chanyeol.

"kami baik-baik saja papa. Dari pada kau mengajakku menemui dokter Minseok kenapa tidak mengentarkanku menjenguk Luhan hm? Aku ingin melihat keponakanku Chan~" Luhan sudah melahirkan, namun Baekhyun belum sempat melihat keadaan kakaknya dan juga keponakannya.

"Besok aku akan mengantarmu, aku janji. Setelah makan siang aku akan menjemputmu dan kita akan menengok Luhan, hm?" Baekhyun mengangguk antusias dengan senyuman yang membuat kedua matanya membentuk bulan sabit.

Chanyeol gemas dan segera menyerang Baekhyun dengan kecupan bertubi-tubi pada wajah Baekhyun, membuat wanita itu terkikik geli menerima semua perlakuan Chanyeol.

"Ini sudah larut sayang, tidak seharusnya aku mengajakmu bermain dan tertawa seperti ini. Chaa! Sekarang tuan putri harus tidur kembali" Chanyeol merengkuh tubuh Baekhyun ke dalam pelukannya. Tangannya dengan tanggap segera menata selimut yang menutupi tubuh mereka, memastikan jika wanitanya tak akan kedinginan.

"Jika aku tuan putri lalu Baby bagaimana?" Baekhyun mendongakkan kembali wajahnya untuk memandang Chanyeol.

"Baiklah, kalau begitu kau adalah permaisuri. Dan yang mulia permaisuri, anda harus segera tidur karena hamba yakin tuan putri yang ada di dalam sini sudah pasti sangat mengantuk"

"Kenapa bukan ratu?" Chanyeol berdecak kecil mendengar protesan Baekhyun lagi. Membuat ibu dari calon bayinya itu terkekeh kecil.

Suasana kembali hening.. Chanyeol memeluk tubuh Baekhyun, memastikan jika dinginnya udara malam tak akan pernah ia izinkan untuk mengusik tidur wanita itu.

"Chanyeol.." Hingga suara lirih Baekhyun kembali terdengar.

"Hm?" Chanyeol mengamati wajah Baekhyun yang sudah terlihat sangat mengantuk.

"Aku sudah memutuskan bahwa.." Baekhyun menjeda kalimatnya sesaat. "Kita akan bahagia bersama sampai waktu kehidupan kita di Dunia telah habis"

Chanyeol tercekat, matanya memanas. Andai Baekhyun tau jika Chanyeol juga menginginkan hal yang sama. "Tentu, tentu sayang" Pria itu berusaha sebisa mungkin menjaga nada suaranya agar Baekhyun tak menangkap suara getar disana. Hati Chanyeol terasa di remat dengan begitu keras mengingat betapa jahatnya dia pada wanita yang ada di dekapannya saat ini.

"Aku mencintaimu, Park Chanyeol" Suara Baekhyun terdengar sangat tulus. Chanyeol sudah sering mendengar kalimat itu dari Baekhyun, namun entah mengapa malam ini.. laki-laki itu merasa ketakutan mendengarnya.

"Baekhyun, percayalah.. aku mencintaimu lebih dari yang dirimu ataupun semua orang tau, sayang" Nyatanya Baekhyun sama sekali tidak menyadari jika pria yang kini tengah memeluknya erat tengah meloloskan air mata dari pelupuk matanya.

"Selamat malam papa" Baekhyun menyamankan posisinya setelah mengucapkan selamat malam pada Chanyeol. Setelahnya, wanita itu benar-benar memasuki alam bawah sadarnya sebab matanya benar-benar sudah tidak bisa manahan kantuk lebih lama lagi.

"Selamat malam, sayang. Papa mencintai kalian berdua, sangat" Chanyeol menggigit bibir bawahnya supaya isaknya tak lolos, Baekhyun tidak boleh tau jika dirinya tengah menangis.

.

.

.

"Hay" Jongin ragu-ragu menyapa seorang wanita yang kerap ia temui akhir-akhir ini. Lebih tepatnya tidak sengaja bertemu. Yaa, siapa lagi jika bukan Kyungsoo.

Wanita itu sudah menatap sengit pada Jongin yang baru saja sampai di depan kamar inap Luhan, dimana Kyungsoo baru selesai melakukan sambungan telepon dengan Baekhyun.

"Apa yang kau lakukan disini?" Wanita itu bangkit dari duduknya dan bertanya ketus pada Jongin. Dalam hati Jongin bertanya, kapan sekiranya wanita di hadapannya ini bersikap lembut padanya. Lagi pula jika di telusuri lagi, memangnya Jongin memiliki kesalahan apa sih' pada Kyungsoo? Kenapa wanita itu terlihat sangat tidak ramah terhadapnya?.

"Aku hanya ingin menjenguk istri Sehun" Jongin menjawab sembari menunduk segan. Sedikit merutuki kebodohannya. Kenapa ia tak menunggu Chanyeol dan Baekhyun saja tadi?.

Kyungsoo menlisik keadaan Jongin dari ujung rambut sampai ujung kaki. Pria itu tampak sangat canggung, tentu saja! Lagi pula siapa suruh dia datang sendiri sedangkan jika mengingat dengan benar hubungannya dengan Sehun tidak begitu baik.

"Ayo!" Kyungsoo meraih satu tangan Jongin yang terbebas untuk ia gandeng memasuki ruang rawat Luhan. Sedangkan sang pria hanya menurut dengan perasaan campur aduk yang di dominasi oleh debaran jantung miliknya yang berdetak lebih cepat dari biasanya, memandang tautan tangannya dengan tangan Kyungsoo.

Keduanya masuk ke dalam ruangan Luhan dan Jongin benar-benar merasa sangat canggung. Luhan tengah duduk bersamdar pada kepala ranjang rumah sakit dengan Sehun yang duduk di kursi yang ada di sebelah tempat tidur Luhan.

"H-hai" Jongin menyapa Sehun dengan tergagap, menyerahkan bunga yang ia bawa pada pria yang masih tetap Jongin anggap sebagai sahabat baiknya sampai saat ini. Apa yang dilakukannya tentu saja mengundang kikikan kecil dari dua wanita yang ada disana. Kyungsoo dan Luhan tidak dapat menahan tawanya melihat betapa canggungnya Jongin maupun Sehun saat ini.

"Kenapa kau memberikannya padaku?" Sehun juga merasakan kecanggungan yang luar biasa sebenarnya, namun pria itu berusaha menahan diri sebab ia tidak tega memandang Jongin yang terlihat sangat gugup saat ini. Bahkan sahabatnya itu sama sekali tidak salah, namun Sehun malah menjauhi Jongin hanya karena pria tan tersebut memilih untuk mendukung Chanyeol. Mengingatnya lagi, Sehun merasa jika dirinya benar-benar kekanakan.

"Oh? I-itu untuk putramu. Iya.." Kyungsoo lagi-lagi terkekeh melihat interaksi dua sahabat lama tersebut.

Sehun terkekeh dan bangkit dari duduknya. Menepis segala perasaan tak enak yang ia rasakan, tangannya terulur untuk menepuk pundak Jongin. "Mau melihat putraku?"

Jongin terkejut bukan main dengan sikap Sehun barusan, dalam hati pria tan itu merasakan kelegaan luar biasa sebab setelah bertahun-tahun ini adalah pertama kali Sehun melempar senyum seperti ini lagi padanya.

Lantas ia mengikuti Sehun menuju box bayi yang terletak di sisi lain kamar rawat itu. Luhan memang meminta bayinya untuk berada di ruangan yang sama dengannya.

"Oh putra kecil appa terbangun?" Di dalam sana, seorang bayi mungil dengan mata yang bersinar sangat indah menyapa indra penglihatan Sehun dan Jongin.

"Woaah! Dia sama sepertimu Sehun-ah!" Jongin memekik gemas melihat bayi mungil tersebut.

"Tentu saja! Aku yang membuatnya" Jongin terkekeh mendengar nada menggerutu milik Sehun, tak terkecuali juga Luhan dan Kyungsoo.

"Siapa namanya?" Jongin bertanya.

"Haowen, Oh Haowen" Sehun berjalan mendekati Jongin, sehingga kini Jongin benar-benar dapat melihat dengan jelas rupa bayi kecil milik Sehun dan Luhan. "Kau mau menggendongnya?" Jongin segera memundurkan langkahnya dan menggeleng berkali-kali.

"Itu berbahaya! Aku tidak pernah menggendong bayi, dia bisa saja tidak sengaja terluka" baik Luhan, Kyungsoo maupun Sehun terkekeh geli melihat wajah panik Jongin.

.

.

Di tempat yang sama namun di ruangan yang berbeda, Chanyeol dan Baekhyun tampak berbincang dengan dokter Minseok. Mereka tidak sengaja bertemu dan Chanyeol memaksa untuk sekalian memeriksakan kandungan Baekhyun lagi, mungkin untuk terakhir kali di bulan ini sebelum Baekhyun melahirkan.

"dia sangat sehat, dan posisinya udah benar. Ini tidak akan jauh dari perkiraan awalku Chanyeol-ah. Siapkan dirimu untuk menyambut putri kecil kalian. Dan Baek, dengar apa kataku, kau harus tetap meminum vitaminmu meskipun waktu melahirkanmu sudah dekat, jangan kelelahan, dengarkan apa kata suamimu, kau selalu susah di kasih tau kadang-kadang" mungkin karena sikap cerewet dokter wanita itu pula baik Baekhyun maupun Chanyeol cepat akrab dan berbicara santai dengan dokter bermarga Kim tersebut.

"aku selalu mendengarkan apa kata suamiku dokter, benar kan Yeol?" Baekhyun memandang penuh peringatan pada Chanyeol. ia hanya sedang tidak ingin mendengar ceramah panjang Minseok yang tidak akan usai hanya dalam waktu satu jam.

Chanyeol hanya pasrah dengan mengangguk mengingat betapa seramnya seorang Byun Baekhyun jika sudah merajuk.

"Oh benarkah? Lalu siapa yang bulan lalu membuat suaminya kelimpungan sebab tiba-tiba kabur bersama Luhan dari pagi sampai malam hanya untuk berbelanja tanpa berpamitan pula?! Astaga! Pantas saja kalian menjadi saudara, sifat kalian sama" Oh! Perkataan Minseok mengingatkan Chanyeol pada kejadian bulan lalu dimana baik dirinya maupun Sehun hampir di buat gila oleh kaka beradik itu.

"kami hanya bosan di rumah dan ingin jalan-jalan eonni" Baekhyun juga masih belum mau mengalah, apa lagi Luhan. Saat Sehun memarahi wanita itu bukannya takut dan jera malah sebaliknya Sehun yang di buat hampir memecahkan kepalanya sebab Luhan yang tidak berhenti menangis dan menyalahkan Sehun seharian.

"Yaa, yaa terserah kau saja lah. Lagipula tidak akan ada habisnya berdebat dengan wanita hamil. Benar kan Chanyeol?" Chanyeol mengangguk takut-takut sembari melirik Baekhyun yang sudah kembali melempar tetapan sengit padanya.

Baekhyun mendegus kesal, mengundang kekehan dari Chanyeol dan Minseok.

"Kalian mau menjenguk Luhan?" Minseok mulai merapikan meja kerjanya sembari bertanya pada pasangan Chanyeol dan Baekhyun.

"oh benar! Chanyeol ayoo~ aku ingin melihat keponakanku"

"ayo, aku juga akan kesana" Minseok berdiri dari tempat duduknya dan diikuti oleh Chanyeol dan Baekhyun.

Mereka segera menuju ruang rawat Luhan yang memang letaknya tak begitu jauh dari ruang kerja Minseok.

"berjalanlah pelan-pelan sayang, ruangannya tidak akan berpindah kemanapun" Chanyeol kembali mengingatkan Baekhyun untuk selalu berhati-hati, di belakang mereka dokter Minseok menggelengkan kepala melihat keantusiasan Baekhyun dan juga sifat protektif Chanyeol pada wanita itu.

Dan tepat ketika Baekhyun berhasil membuka pintu ruang rawat Luhan, suara wanita yang menjadi kakak Baekhyun itu memekikkan telinga penghuni ruangan. Beruntung Haowen adalah type bayi yang tidak mudah terkejut meskipun ada suara keras di dekatnya.

"Baekhyunie!" Luhan memekik girang, melihat wajah cantik adiknya yang sudah selama hampir dua minggu tidak ia lihat.

"astaga suaramu!" Kyungsoo menegur Luhan sedangkan Sehun hanya menggelengkan kepalanya sembari meniman-nimang Haowen yang berada di gendongannya.

"maafkan aku baru bisa menjengukmu hiks" Baekhyun memeluk tubuh Luhan dan menangis haru melihat keadaan kakaknya.

"hey kenapa menangis? Tidak apa, aku mengerti B" Luhan membalas pelukan adiknya dan menepuk-nepuk punggung Baekhyun guna menenangkan adiknya itu.

"B.." Sehun mendekat ke arah Baekhyun dengan menggendong Haowen.

Baekhyun mengalihkan atensinya pada Sehun kemudia pada makhluk mungil yang terlihat menguap lucu pada gendongan Sehun.

"dia sangat mirip dengan oppa" mata Baekhyun berkaca-kaca memandang paras tampan seorang bayi yang berada di gendongan kakak iparnya.

"mau menggendongnya?" Baekhyun mengangguk untuk kemudian menerima bayi tersebut dari Sehun.

Chanyeol memberikan bunga yang di bawa Baekhyun untuk Luhan pada wanita itu. "terimakasih Chanyeol" pria itu hanya tersenyum canggung pada Luhan.

Baekhyun, Kyungsoo, Minseok dan juga Jongin sudah sibuk bercanda dan mengagumi wajah tampan putra pertama Sehun.

"matanya seperti milik Luhan, benar kan eonni?" Baekhyun meminta pendapat Kyungsoo dan dibenarkan oleh wanita bermata bulat tersebut.

"Hallo Hao, ini pertama kali kita bertemu.. mau berjanji pada Imo? Jika sudah besar nanti, Hao harus menjaga eomma dengan baik yaa? Hao harus menjadi pria kuat seperti appa..Imo mengandalkan Hao" Entah hanya perasaan Luhan atau bagaimana, tetapi nada bicara Baekhyun tidak seperti biasanya. Ia seolah menangkap berjuta-juta hal tersembunyi di dalam pesan singkat yang Baekhyun berikan pada putranya.

Namun, rupanya bukan hanya Luhan.. Kyungsoo dan Sehun kini tengah saling menautkan pandangan, seakan mereka berdua memiliki sebuah pertanyaan yang sama dalam benak masing-masing.

.

.

.

Chanyeol dan Baekhyun pulang ke apartemen dengan beberapa kantong belanjaan yang sebagian terisi dengan perlengkapan bayi. Mereka memang sudah lama mencicil membeli perlengkapan lainnya sehingga tidak banyak lagi perlengkapan yang harus mereka beli.

"Watch your step baby" Chanyeol beberapa kali memperingatkan Baekhyun untuk memperhatikan jalan, sebisa mungkin untuk tetap waspada menjaga setiap langkah wanitanya.

Kedua tangannya telah penuh dengan kantong-kantong belanja mereka sehingga ia tak bisa untuk sekedar menggandeng tangan Baekhyun.

Sedangkan Baekhyun hanya tersenyum membalas segala perhatian Chanyeol, atau terkadang akan mendegus kesal sebab ia merasa jika Chanyeol terlau over protektif padanya.

Baekhyun membukakan pintu apartemen dan segera masuk bersama Chanyeol yang setia berjalan di sampingnya.

Suara televisi menyambut pendengaran mereka, membuat keduanya saling pandang dengan keryitan samar pada masing-masing keningnya.

Baekhyun melihat dua sepatu dimana salah satunya milik laki-laki, dan ia yakin jika itu bukan milik Chanyeol.

Kebingungan semakin menghinggapi pikiran mereka, Chanyeol dengan sedikit tergesa berjalan mendahului Baekhyun untuk melihat siapa kiranya yang berkunjung ke apartemennya. Salah satunya jelas adalah Yoora sebab Chanyeol sangat mengenali sepatu perempuan yang berada di samping sepatu milik pria asing di apartemennya, karena sepatu itu adalah sepatu pemberiannya.

Baekhyun mengikuti langkah Chanyeol, dan benar saja.. di depan mereka Yoora tampak berbicara pelan pada seorang pria paruh baya yang membelakangi mereka.

"Appa?" Tubuh Baekhyun menegang, bagaimana tidak? Setau dia, ayah Chanyeol sama sekali belum pernah bertemu dengannya secara langsung, dan lagipula keadaan Baekhyun saat ini juga tidak atas sepengetahuan pria yang menjadi ayah kandung Chanyeol itu.

"O-Oh Chanyeol, kau sudah pulang?" Itu Yoora, yang terlihat begitu gugup menyambut kedatangan mereka.

Baekhyun diam menunduk di belakang Chanyeol, sedangkan Chanyeol masih juga diam tak mengeluarkan suara apapun, bahkan hanya untuk menjawab pertanyaan basa-basi Yoora.

Tuan Park melangkah maju dengan perlahan, seiring dengan Chanyeol yang memundurkan langkah untuk mendekat pada Baekhyun. Pria itu lantas menggenggam tangan Baekhyun yang sudah terasa dingin.

"Apa yang appa lakukan disini?" Chanyeol dapat merasakan genggaman tangan Baekhyun padanya semakin mengerat sesaat setelah Chanyeol melemparkan tanya tersebut pada ayahnya.

Tuan Park sama sekali tak mengindahkan pertanyaan Chanyeol. Pria paruh baya itu terus melangkah mendekati Chanyeol dan Baekhyun. Hingga tepat saat kakinya telah sampai di depan Baekhyun yang masih setia menunduk pria itu menghentikan langkahnya. Matanya fokus memandang wanita yang tangannya tengah di genggam oleh putranya, terutama pada perut wanita itu.

Di belakang sana, Yoora tengah meremat jemarinya sendiri. Sedikit banyak ia juga meruntuki kebodohannya yang menyebabkan ayahnya mengetahui tentang keadaan Chanyeol dan Baekhyun.

Tuan Park menuntun dagu Baekhyun supaya menegakkan wajahnya. Mata Baekhyun tampak sudah berkaca-kaca saat ia berhasil bertatapan dengan ayah Chanyeol.

"Kau Baekhyun?" Suara tegas tuan Park terdengar.

"Maafkan saya tuan—" semuanya terjadi begitu cepat, baik Chanyeol maupun tuan Park dengan sigap menahan tubuh Baekhyun yang hendak membungkuk pada pria paruh baya itu.

"Kau tidak perlu seperti ini nak" Tuan Byun membantu Baekhyun untuk menegakkan badannya. "Jangan takut padaku, aku tidak akan memarahi ataupun menyalahkanmu, sungguh" Di belakang Yoora sudah tidak mampu lagi menahan air matanya. Setidaknya ia lega sebab apa yang ayahnya lakukan tidak seperti apa yang ia bayangkan sebelumnya.

Begitupula Baekhyun, air mata wanita itu telah luruh. Malu, sedih, rasa bersalah lebih mendominasi.

"Jaga cucuku dengan baik, terimakasih sudah bersedia mengandungnya selama ini, dan maaf appa baru bisa mengunjungimu" Chanyeol mendongakkan kepalanya guna menghalau liquid yang menumpuk di pelupuk matanya.

"Tuan?"

"Appa, panggil appa.." Baekhyun semakin banyak mengeluarkan air matanya.

"Appa" Dan tuan Park dengan lembut memberikan usapan lembut pada puncak kepala Baekhyun.

"Pergilah beristirahat, appa akan segera pulang" Yoora menghampiri Baekhyun dan mengajak wanjta yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri itu menuju lantai dua apartemen Chanyeol. Ia tau jika ayahnya membutuhkan ruang untuk berbicara dengan Chanyeol.

.

.

Plaakk!

Satu tamparan keras mengenai wajah Chanyeol. Pria tampan itu hanya diam menerima tamparan serta tatapan penuh amarah yang di berikan ayahnya.

"Yang aku ingat aku tidak pernah mengajarimu untuk menjadi bajingan Park Chanyeol!"

Di dalam kamar, Baekhyun berjengkit keras mendengar suara teriakan tuan Park serta sebuah suara tamparan yang ia yakin telah pria paruh baya itu berikan pada Chanyeol.

"Hey.. jangan dengarkan.. hm? Tenanglah.. everything will be fine, B." Yoora membawa Baekyun ke dalam pelukannya. Tangan wanita itu sibuk memasang headphone pada ponselnya, dan memilih playlist yang menurutnya tepat.

"Pakai ini hm? Baby tidak boleh mendengar suara-suara seperti itu" Yoora memasangkan headphone itu pada Baekhyun, kemudian menuntun Baekhyun untuk berbaring.

Di bawah sana, suara kemarahan tuan Park masih terdengar begitu keras, begitu pula suara barang-barang yang sepertinya sengaja di lemparkan.

"Putuskan hubunganmu dengan Soojung segera! Jika tuan Jung mengetahui tentang berita ini mau di taruh mana wajahku ini Park Chanyeol?!" Beberapa memar terlihat sudah menghiasi wajah Chanyeol. Seumur hidupnya, ini adalah pertama kalinya tuan Park menghajar Chanyeol. Pria paruh baya itu benar-benar merasa kecewa yang sangat mendalam pada satu-satunya putra kebanggaannya itu.

"Apa kau sadar apa yang telah kau lakukan?! Selain menghianati Soojung kau juga menghamili seorang wanita yang jelas-jelas saat itu telah menjadi calon istri rekan kerjamu sendiri Park Chanyeol!" Beberapa butir air mata nyatanya telah lolos dari mata pria paruh baya itu. Seorang pria paruh baya yang terkenal dengan ketegasannya kini telah berhasil menangis kembali untuk putranya. Perasaan pria dengan rambut yang sudah mulai memutih itu terasa di remat-remat mengingat dosa besar apa yang di lakukan putra satu-satunya. Mengingat bagaimana wajah sendu seorang wanita yang nyatanya telah terlalu banyak di sakiti oleh putranya. Yaa, tuan Park sebenarnya sudah ingin bersujud pada Baekhyun saat melihat mata berkaca-kaca milik wanita itu tadi.

"Appa benar-benar kecewa terhadapmu Park Chanyeol!" Setelahnya, pria paruh baya itu pergi meninggalkan apartemen Chanyeol. Menyisakan Chanyeol yang berlutut memukuli dadanya sendiri dengan isakan serta air mata yang sepenuhnya luruh.

Yoora berlari menuruni anak tangga dan segera merengkuh tubuh Chanyeol saat ia telah sampai di tepat di hadapan adiknya. Wanita itu ikut bersimpuh dengan isak yang tak lagi bisa ia tahan, terlebih melihat beberapa lebam di wajah Chanyeol dan juga darah di sudut bibir adiknya itu.

"Aku begitu jahat padanya noona.. ak— aku menggoreskan luka terlalu dalam padanya" suara Chanyeol terpotong-potong, pria itu menangis di dalam dekapan kakaknya, seakan tengah mengadu pada sosok yang sejak dulu seperti pengganti ibu untuknya. Hanya Yoora wanita yang selalu mendekapnya saat ia terpuruk, atau saat mimpi buruk sekedar mampir di dalam tidurnya.

"Aku mencintainya.. aku sangat mencintainya, tetapi aku selalu memberikan luka untuknya, noona aku sangat berdosa pada Baekhyunku" Yoora sama sekali tidak bisa mengeluarkan kata-katanya. Wanita itu hanya terus memeluk tubuh bergetar adiknya dengan kepala yang mendongak memandang bilik pintu kamar Chanyeol dimana Baekhyun tengah tertidur disana.

"Apa yang harus aku lakukan noona?" Yoora melepas pelukannya pada tubuh Chanyeol dan segera menangkup wajah adiknya itu. Sampai kapanpun, baginya Chanyeol akan tetap menjadi adik kecil kesayangannya. Adiknya yang tidak akan ragu untuk mengadu padanya jika ia tengah kesakitan. Adiknya yang dengan jujur akan mengaku padanya tentang kenakalan apa yang sudah ia lakukan.

"Dengar, dengarkan noona Chanyeol" Yoora menarik nafas panjang dan menghapus air matanya sendiri. "Ikuti kata hatimu.. ikuti apa yang hatimu katanya Chanyeol-ah. Jika kau mencintai Baekhyun, raih dia, perjuangkan dia, jadikan dia satu-satunya untukmu, hm? Kau mengerti?" Chanyeol mengangguk berkali-kali dan Yoora segera merengkuh kembali adiknya.

Mungkin jika orang melihat, adiknya akan tampak seperti pria lemah yang begitu mudah mengeluarkan air mata. Namun bagi Yoora, Chanyeol adalah seorang pria hebat yang bahkan ia tidak takut untuk mengakui jika dirinya bersalah, sebab bagi Yoora, air mata seorang pria adalah air mata paling tulus yang pernah ada.

.

.

Baekhyun terbangun dengan sebuah lengan kekar melingkar posesif pada tubuhnya. Wanita itu lantas membalikkan badan untuk melihat wajah pria yang tengah memeluknya. Rasa terkejut serta cemas mendominasi saat matanya menangkap beberapa lebam yang bersarang di wajah tampan pria yang di cintainya.

"Ini pasti sakit kan?" Mata Baekhyun kembali berkaca-kaca, perlahan jemarinya menyentuh luka di sudut bibir Chanyeol.

"Ini tidak sakit sama sekali" Chanyeol membuka kedua matanya dan bersitatap dengan hazel meneduhkan milik Baekhyun. "Baekhyun, maafkan aku" Baekhyun terperanjat dalam diam, matanya sudah memanas sejak tadi sebab rasa berasalah dan juga cemas terhadap Chanyeol, dan di tambah pula ketika melihat Chanyeol yang tiba-tiba meneteskan air mata saat mengucap kalimat maaf untuknya.

"Chanyeol?"

"Aku begitu banyak menggores luka untukmu.. aku terlalu sering menyakitimu" Chanyeol benar-benar menangis layaknya seorang anak kecil yang tidak mendapat mainannya. Pria itu tak lagi menahan suara isakan maupun suara tangisnya. Chanyeol benar-benar mengeluarkan semua suara tangisannya, meraung seakan tombak takam telah menancap tepat pada ulu hatinya sehingga menghasilkan rasa sakit yang luar biasa.

"Aku mencintaimu Baekhyun, ampuni aku" Baekhyun tak lagi mampu menahan, wanita itu tak lagi menahan luruh air matanya. Dadanya bagai di himpit rubuan ton baja, sesak luar biasa saat mengingat seberapa rumit hubungannya dengan satu-satunya pria yang memiliki hatinya.

"Aku bersalah padamu, sayang. Aku begitu jahat padamu.. untuk itu aku mohon ampun" Chanyeol tak berhenti untuk terus memohon pengampunan pada wanita yang sejujurnya sangat ia cintai teramat sangat.

"Aku telah lama memaafkanmu.. jangan tersakiti seperti ini Park Chanyeol, aku telah lama menerima keadaan ini, tak apa" wanita itu segera memeluk tubuh Chanyeolnya, mencoba untuk mencari ketenangan untuk meredakan perasaan sesak pada rongga dadanya.

Malam itu, dua hati yang telah lama saling mencinta telah merasakan berjuta-juta persakitan yang bersarang cukup lama di dalamnya. Berusaha saling menguatkan dengan dekap hangat, menyakinkan jika mereka tidak boleh menyalahkan takdir yang menbuat hubungan keduanya begitu rumit.

.

.

Ibarat musim yang terus berganti, nyatanya waktu tak pernah mengizinkan penghuninya untuk terlarut dalam satu titik.

Hari demi hari telah berganti, minggu-minggu telah terlewati, dan disinilah ia berada saat ini.

Chanyeol berlari dengan pakaiannya yang sudah basah akan keringat. Dasi yang di pakainya sudah hampir terlepas. Tak menghiraukan beberapa orang yang menatapnya penuh heran di sepanjang koridor rumah sakit itu, Chanyeol terus mengerahkan seluruh tenaganya untuk harapan segera sampai di ruangan yang menjadi tujuannya.

Setengah jam yang lalu, dia mendapatkan telepon dari Yoora yang mengatakan jika Baekhyun di bawak ke rumah sakit setelah air ketubannya pecah. Dan saat itu pula, nyawa Chanyeol terasa di tarik secara paksa dari raganya. Cemas, bahagia, haru, dan beberapa perasaaan lain campur aduk memenuhi rongga dadanya.

Pria itu bahkan tak sempat membungkuk atau sekedar mengucap maaf pada neberapa orang yang tak sengaja tertatabrak tubuhnya. Di dalam ingatannya hanya wajah ada nama Baekhyun, Baekhyun dan Baekhyun. Dan tepat ketika matanya menangkap keberadaan Yoora, Kyungsoo dan Sehun di depan sebuah ruangan bersalin di rumah sakit itu, jantungnya terasa berdetak ratusan kali lebih cepat dari biasanya.

"Masuklah Chan, Baekhyun menunggu di dalam" mendengar apa yang dikatakan Sehun, Chanyeol segera mendorong pintu ruangan itu dan masuk ke dalamnya.

Seorang perawat menahanhya saat ia ingin mendekati Baekhyun yang sudah terbaring di brankar bersalin yang juga tengah mengalihkan pandangan tepat padanya. Bahkan wanita itu masih bisa menyambutnya dengan sebuah senyuman yang selalu berhasil menggetarkan hati Chanyeol.

Chanyeol menerima pakaian khusus yang diberikan perawat itu padanya dan segera memakainya. Dengan tergesa ia mendekati Baekhyun yang tampak masih tersenyum meski dengan ringisan kesakitan yang sangat jelas ketara pada wajah cantiknya.

"Kau berlari?" Chanyeol menjawab pertanyaan Baekhyun dengan sebuah anggukan. Pria itu sudah menggenggam tangan Baekhyun dan memberikan kecupan-kecupan berulang kali.

"Apa sangat sakit?" Mata Chanyeol sudah terlihat berkaca-kaca.

"Tidak, aku sangat tidak sabar ingin segera melihatnya" Baekhyun memberikan usapan lembut dengan ibu jarinya pada punggung tangan Chanyeol.

"Kau pasti bisa sayang, aku disini, bersamamu hm?" Baekhyun hanya bisa mengangguk sebab kontraksi hebat kembali ia rasakan.

Chanyeol sudah terlihat menegang, namun tangannya tak sedikitpun melonggarkan genggamannya pada tangan Baekhyun.

Sepanjang proses persalinan Baekhyun yang langsung di pimpin oleh dokter kandungan Baekhyun sendiri yaitu dokter Minseok, Chanyeol tak henti membisikkan kata-kata cinta untuk Baekhyun. Pria itu setia menggenggam satu tangan Baekhyun sedangkan tangan lain ia gunakan untuk menyeka keringat Baekhyun.

Hingga ketika suara tangis bayi menggema di ruangan itu, tubuh Chanyeol terasa kehilangan kekuatannya. Bahkan seorang suster dengan sigap memegang pundaknya saat pria itu terlihat kesusahan menompang berat badannya sendiri.

Dua orang perawat membawa bayi yang baru saja di lahirkan Baekhyun untuk segera di bersihkan, sedangkan beberapa tengah sibuk memasang alat bantu pernafasan pada Baekhyun.

Chanyeol mengalihkan pandangannya kembali pada Baekhyun setelah ia mengumpulkan kembali tenaganya sesaat. Pria itu mengecupi seluruh wajah wanitanya dan berulang kali mengucapkan terimakasih serta kalimat cinta yang di balas Baekhyun dengan senyuman manisnya.

"Kami akan membersihkan tubuh Baekhyun terlebih dulu Chanyeol-ah, kau bisa menunggu di luar dan menemui Baekhyun kembali saat kami sudah memindahkannya di ruang rawat" Chanyeol mengangguk mengerti akan kalimat dokter Minseok. Pria itu kembali memberikan kecupan pada kening Baekhyun dan segera keluar dari ruangan itu.

Di depan sana, terlihat Sehun, Yoora, Kyungsoo dan juga Jongin yang entah sejak kapan sampai saling berbagi pelukan bahagia.

Chanyeol berjalan gontai ke arah kursi tunggu dan mendudukkan diri disana. Mengabaikan Yoora dan lainnya yang memandang bingung padanya, pria itu kembali menangis tersedu-sedu. Beberapa orang yang berada tak jauh dari sana bahkan sampai ikut memperhatikan Chanyeol.

"Chanyeol-ah, apa yang terjadi?" Yoora mendekati Chanyeol dan duduk berjongkok di hadapan adiknya itu. Ia genggam tangan Chanyeol yang terasa bergetar begitu hebat.

Jongin dan Sehun saling pandang dalam kebingungan. Tangisan Chanyeol benar-benar kencang, bukan lagi isakan kecil. Bahkan bahu pria itu sampai naik turun dalam getar.

"Chanyeol ada apa?!" Yoora sedikit meninggikan suaranya sebab Chanyeol yang tak kunjung menjawab pertanyaannya.

"Wajahnya begitu pucat tadi hiks, dia pasti kesakitan. Keringat hhh banyak. Me—ka menggunting disana sini hiks. Jahit—. —sakit. Baekhyunku" satupun dari mereka tak ada yang menangkap dengan utuh apa yang di ucapkan Chanyeol, sebab kalimatnya terpotong-potong oleh isak tangis pria itu.

Sehun berjalan ke arah Chanyeol dan mendudukkan duri di samping pria yang sempat ia benci teramat dalam. Kemudian tangannya membawa tubuh Chanyeol yang masih bergetar ke dalam dekapannya. Membuat Jongin ingin menangis melihatnya.

"Sudah, tidak apa.. Baekhyun itu perempuan kuat" Sehun menengangkan Chanyeol dengan beberapa kalimat penyemangat.

Cukup lama Chanyeol menangis dengan beberapa racauan tak jelas yang di dominasi oleh cerita tentang banyangan pria itu tentang seberapa sakitnya Baekhyun ketika memperjuangkan putri meraka tadi.

"Putrimu sudah bisa di lihat, tidakkah kau ingin melihatnya?" Sehun mengatakannya saat keadaan Chanyeol sudah lebih tenang. Yoora mengusap air matanya, wanita itu tengah berada di dalam pelukan Jongin.

Pria itu lantas merapikan penampilannya, menghapus sisa air matanya dan segera berjalan menuju kamar kecil untuk sekedar mencuci wajah sebelum menuju ruangan khusus bayi.

.

.

Pernahkah kalian merasakan perasaan berdebar di saat kalian akan bertemu seseorang yang kalian kagumi untuk pertama kali? Yaa, seperti itulah perasaan Chanyeol saat ini.

Yoora, dan Jongin mengikutinya di belakang, sedangkan Sehun dan Kyungsoo memilih untuk menunggu Baekhyun di pindahkah di ruang rawat sebab keduanya juga mengerti jika tidak akan baik jika mereka semua masuk ke ruangan bayi berlima sekaligus.

Di dalam sebuah box bayi yang terdapat nama Byun Baekhyun seorang bayi mungil terlihat berkedip-kedip dengan mulut yang menguap kecil menampilkan gusi merahnya.

Dan disinilah Chanyeol, terpaku dalam diam memandang paras seorang bayi yang baru saja di lahirkan.

Pria itu jatuh cinta..

Pria itu seakan merasakan cinta pertama lagi. Rasanya percuma dia membasuh wajahnya sebab saat ini air matanya kembali luruh.

Yoora menutup mulutnya, menahan pekikan serta isak harunya.

"Hay sayang.. ini papa" dan tapat saat Chanyeol mengucapkan kalimat itu baik Chanyeol sendiri, Yoora maupun Jongin sama-sama meneteskan air mata harunya.

"Ini papa" Rasanya ingin mengulangi dua kata itu berulang kali. Putrinya.. hasil buah cintanya bersama Baekhyun kini sedang menatapnya dengan manik jernihnya yang sangat jelas itu adalah miliknya.

Bibir mungil dan juga bibir tipis milik Baekhyun berada disana.

Dalam hati Chanyeol tengah bertekad.. dia akan memperjuangkan keluarganya.

Chanyeol akan mengabdikan hidupnya untuk Baekhyun dan putrinya. Chanyeol tengah mengucap janjinya, jika setelah ini.. hanya ada Baekhyun dan putri cantik mereka dalam hatinya.

"Papa berjanji, papa akan memperjuangkan mama. Papa sangat mencintaimu nak" Chanyeol memberikan kecupan lembut pada pipi kemerahan milik putrinya.

.

.

Suasana haru belum menghilang, terlebih saat Chanyeol membawa putri meraka ke ruang rawat Baekhyun. Wanita itu terlihat begitu bahagia melihat putrinya. Namun disaat bersamaan pula Chanyeol kerap menangkap sorot asing dari hazel milik wanitanya.

Sehun dan Jongin sudah pulang lebih dulu setelah cukup lama menemani Baekhyun disini. Dan Kyungsoo serta Yoora sedang berada di kantin untuk makan siang.

"Di kamarku, di atas nakas aku meninggalkan sesuatu yang harus aku berikan padanya, bisakah kau mengambilnya untukku Yeol?" Baekhyun mengalihkan padangannya dari putri kecilnya yang sibuk meminum asi darinya. Sesekali wanita itu akan mengeryit merasakan geli serta sedikit sakit pada puting dan juga dadanya, sebab ini baru pertama untuknya.

"Kau ingin aku mengambilnya sekarang?" Chanyeol menjawabnya, namun matanya masih fokus pada wajah putri mereka serta tangannya yang memainkan tangan mungil bayi itu.

"Yaa, bisakah?"

"Aku akan mengambilkannya untukmu, dan juga beberapa bajuku" Baekhyun mengangguk, wanita itu memejamkan mata saat Chanyeol mengecup bibirnya dan memberikan beberapa lumatan disana.

Chanyeol mengambil jasnya dan segera meninggalkan ruang rawat Baekhyun. Namun tepat saat ia akan menutup pintu dari luar, suara Baekhyun kembali terdengar.

"Chanyeol!"

"Yaa?" Chanyeol mengurungkan niatnya untuk pergi, menunggu Baekhyun menyelesaikan kalimatnya.

"Aku sangat mencintaimu, ingat yaa?!" Chanyeol tidak tau dengan apa yang terjadi pada dirinya, sebab untuk sekedar menjawab pernyataan Baekhyun pun Chanyeol tak bisa. Pria itu seakan kehilangan isi kepalanya dan hanya bisa berjalan gontai meninggalkan rumah sakit tempat Baekhyun di rawat.

.

.

Soojung meminum minumannya tanpa jeda. Entah sebab apa ia merasa sangat gugup. Ia sudah mendengar kabar tentang Baekhyun yang sudah melahirkan. Dan saat ia berniat mengunjungi Baekhyun tadi Chanyeol tiba-tiba menghubunginya dan meminta untuk bertemu.

"Kau sudah lama?" Dan pria yang di tunggunya akhirnya tiba.

"Tidak oppa" Soojung menatap wajah Chanyeol, dapat ia lihat raut bahagia dari wajah pria itu.

"Soojung" hingga suara rendah Chanyeol ia dengar, jantungnya kembali bertalu dengan cepat. Entah sebab apa gadis itu merasakan perasaan takut saat ini.

"Bisakah oppa tidak mengatakannya?" Air matanya tiba-tiba menetes. Entah bagaimana ia merasa jika dia tau apa yang akan Chanyeol sampaikan.

"Maafkan aku" Chanyeol memegang satu telapak tangan Soojung.

"Bukankah oppa sudah berjanji padaku?" Chanyeol tidak tega melihat wajah Soojung yang sudah di penuhi derai air mata saat ini. Gadis itu begitu baik, dan seharusnya Chanyeol tidak menyakitinya seperti ini. Tetapi disana, ada dua malaikatnya yang main yang lebih membutuhkannya.

"Putriku membutuhkanku, maafkan oppa Soojung-ah" dan tangis Soojung sepenuhnya pecah saat itu juga.

Chanyeol bangkit untuk merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya. "Maafkan oppa" berulang kali ia meminta maaf pada gadis yang selama satu tahun lebih menjadi kekasihnya itu.

"Maafkan aku oppa, maaf jika aku belum bisa menjadi kekasih yang baik selama kita menjalin hubungan"

"Tidak sayang.. oppa yang seharusnya meminta maaf"

"Berjanjilah untuk bahagia oppa, jangan sia-sialan Baekhyun eonni" dan pada akhirnya, apa yang tidak di takdirkan bersama maka tidak akan bersama.

Hari ini, Chanyeol telah memilih untuk melepaskan satu malaikatnya, dan memperjuangkan dua malaikat lain yang di hadiahkan Tuhan untuknya.

.

.

.

Chanyeol memasuki kamar Baekhyun, menyalakan lampu dan bergegas menuju arah nakas yang ada disana. Matanya menangkap sebuah kalung yang tegeletak di atas sepucuk surat yang ia yakin Baekhyunlah yang menulisnya.

Hatinya berdebar lagi dengan begitu cepat. Ia mengambil perlahan surat itu dan menyimpan kalung dengan bandul tetesan embun itu pada sakunya.

Perlahan ia membaca bait demi bait tulisan Baekhyun.

.

.

"Jaga papa untuk mama hm? Sayang, mama sangat mencintaimu.. Jihan adalah hadiah terindah yang mama miliki" Baekhyun mengecup berkali-kali wajah cantik putrinya yang kini sudah tertidur lelap.

Wanita itu berulang kali memukul dadanya sendiri untuk menghilangkan sesak yang bersarang.

Sebab inilah yang seharusnya ia lakukan..

Sekali lagi ia menyimpan wajah cantik milik putrinya, sebelum berlalu dari sana dengan perlahan.

Sebuah senyum cantik menghiasi wajahnya.

Baekhyun menoleh kebelakang satu kali, melihat punggung Yoora dan Kyungsoo yang terlihat berjalan ke ruangannya..

"Selamat tinggal, Park Chanyeol"

.

.

Untuk cinta pertamaku, Park Chanyeol.

Masih sangat lekat di ingatanku bagaimana telapak hangatmu menuntunku dengan begitu sabar.. Laki-laki pertama yang mau merengkuhku dalam dekapan dan perlindungannya..

Chanyeol, aku masih sangat ingat saat kau berkata padaku jika aku hanya perlu menyambut tanganmu dan kau akan menuntunku untuk menatap lurus padamu.. Aku masih sangat ingat bagaimana Tuhan begitu baik padaku dengan mengirimkan malaikat sekaligus cahaya untuk hidupku yang gelap..

Sayang, takdir kita begitu rumit dan itu karena diriku. Aku mencintaimu, dan aku telah berjanji kita akan bahagia sampai akhir hidup kita di Dunia.

Park Chanyeol, terimakasih untuk cahaya dan warna yang kau berikan padaku, aku akan membawanya dalam dekapanku setiap waktu.

Park Jihan.. bukankah itu adalah nama yang cantik? Jaga dia, dia adalah hadiah terindah yang kau berikan padaku. Dan sekarang aku menitipkan hadiah itu untuk kau jaga.. dia yang akan menemanimu..

Chanyeol, sejak kau telah memutuskan kepada siapa akhirnya kau akan membangun duniamu aku sudah menentukan pilihanku. Aku sudah mengatakan padamu bukan? Jika aku sudah memutuskan jika kita akan bahagia sampai maut memisahkan.. maka aku akan menepati janjiku..

Berbahagialah sayang..

Aku mencintaimu..

(Byun Baekhyun)

.

.

Dunia Chanyeol runtuh saat itu juga. Air matanya berlomba-lomba keluar dari matanya.

"Tidak Baekhyun, aku telah memilihmu sayang.. kay tidak akan kemana-mana" Chanyeol dengan kasar segera berlari keluar kamar. Yang menjadi tujuannya saat ini hanyalah satu. Rumah sakit..

Ia tidak boleh terlambat.

"Ku mohon sayang" pria itu membabi buta membelah jalanan kota Seoul. Tak memperdulikan umpatan demi umpatan pengguna jalan lain yang di berikan untuknya.

Hingga matanya menangkap nyala ponselnya, nama Yoora tertera disana.

"Chanyeol! Baekhyun hiks Baekhyun"

Tuutt tuutt...

"Sial" Chanyeol memutus sambungan telepon Yoora sebab ia sudah tau apa yang terjadi.

Suara dering telepon kembali terdengar dengan nama Jongin disana.

Chanyeol mengangkatnya dan suara Sehunlah yang terdengar.

"Sungai Han Yeol, aku sedang menuju kesana bersama Jongin, Kyungsoo juga menuju kesana" Persetan dengan pemikiran tentang bagaimana Sehun mengetahui keberadaan Baekhyun di sungai Han. Chanyeol segera memutar kemudinya dan menuju tempat yang Sehun sebutkan.

Mereka tiba hampir bersamaan. Keempatnya memutuskan untuk berpencar menelusuri tepi sungai Han.

"Baekhyun!" Hingga jeritan histeris Kyungsoo menarik perhatian ketiga pria yang ada disana. Wanita itu berteriak histeris memandang sesosok wanita yang berdiri di tepi jembatan Sungai Han.

"Baekhyun! Tidak sayang!" Chanyeol, Jongin serta Sehun berlari tergesa menuju jembatan yang letaknya cukup jauh dari tempat mereka saat ini. Mata mereka terus mengawasi Baekhyun yang masib terlihat disana. Namun beberapa bohon yang sengaja di tanam di tepi sungai sempat menghalangi mereka.

Chanyeol berlari sekuat tenaga, pria itu bahkan sempat akan terserempet mobil saat kakinya berhasil menginjak jalan raya.

Dan tepat saat mereka sampai di tempat Baekhyun berdiri tadi, Kyungsoo sudah kehilangan kesadarannya di dalam tangkapan Jongin.

Sehun berdiri mematung, Baekhyunnya, adiknya sudah tidak ada disana.

Hingga baik ia dan Jongin tak lagi bisa menghalagi Chanyeol yang sudah terjun ke bawah.

"CHANYEOL!" Sehun dan Jongin berteriak bersamaan memanggil nama Chanyeol. Sehun memantapkan dirinya sendiri sebelum ikut menerjunkan dirinya. Meninggalkan Jongin yang hampir mati lemas melihat dua sahabatnya sekaligus menceburkan diri ke sungai besar itu.

"Chanyeol kau bahkan tidak bisa berenang" air mata laki-laki itu telah sepenuhnya luruh. Ia mendekap tubuh Kyungsoo yang masih tidak sadarkan diri, sedangkan beberapa pengguna jalan lain tampak sibuka menyisihkan mobil mereka setelah mendengar suara sirine.

Beruntung pihak kepolisian serta tim penyelamat segera datang. Beberapa dari mereka sudah terjun untuk membatu Sehun dan Chanyeol yang terlihat sudah tak sadarkan diri.

Suasana begitu mencekam, semuanya terjadi begitu cepat. Baekhyun, Chanyeol. Sehun.

.

.

Keadaan rumah sakit tempat Yoora barada begitu ramai. Ruang gawat darurat rumah sakit itu seketika sibuk ketika seorang laki-laki yang beberapa dari mereka ketahui adalah seorang pengusaha muda sukses serta adik ipar dari salah satu dokter ternama di rumah sakit ini terlihat terbaring lemah di brankar yang di dorong beberapa petugas medis.

Yoora melepas kasar pelukan suaminya yang sebelumnya berusaha menenangkannya saat menangkap keberadaan Jongin dan Kyungsoo serta Chanyeol yang berada dalam keadaan yang tidak pernah terpikir oleh Yoora.

Sehun memutuskan untuk tinggal di sungai Han, menunggu hasil pencarian Baekhyun disana yang di lakukan oleh tim sar.

.

.

Siwon segera masuk ke dalam Emergency Room dan ikut menangani keadaan Chanyeol. Sedangkan seorang gadis yang baru tiba disana di buat kebingungan dengan keadaan yang ada. Bukankah seharusnya mereka berbahagia sebab kelahiran putri Baekhyun dan Chanyeol. Hingga saat matanya menangkap tubuh pria yang sedang sibuk di pasangkan berbagai alat dari pintu kacaEmergency Room itu, Soojung menutup mulutnya dengan tangis yang mulai tak dapat di tahan. Apa yang terjadi?

Di dalam, tubuh Chanyeol berkali-kali menolak saat Siwon menempelkan alat kejut jantung padanya.

"Tidak! Chanyeol! Jangan seperti ini. CHANYEOL!" Siwon terus memompa tubuh adik iparnya dengan wajah yang sudah memerah. Ia tak peduli lagi dengan beberapa perawat ataupun dokter lain yang berusaha menghentikannya. Maupun pada suara elektrokardiogram yang sudah berbunyi nyaring memanjang, tanpa ada jeda lagi. Menunjukkan jika detak jantung itu sudah berhenti.

"Chanyeol-ah! Ku mohon jangan seperti ini! Yoora menunggumu di luar bersama yang lain. Chanyeol anakmu juga menunggumu!" Siwon masih meracau tak jelas di depan tubuh Chanyeol yang memucat.

"Chanyeol-ah, dengarkan aku! Jihan sudah kehilangan Baekhyun, kau tak boleh meninggalkannya Juga! CHANYEOL-AAHHHH" Siwon menyerah, laki-laki yang menjadi suami dari kakak Chanyeol itu kini menghamburkan tubuhnya di atas Chanyeol dan menangis kencang.

Sedangkan mereka yang di luar Emergency Room sama-sama terdiam tak bisa mendengar apa yang terjadi di dalam sana karena pintu kaca kedap suara yang membatasi mereka.

Namun mereka, Yoora, Jongin, Kyungsoo dan Soojung dapat melihat dengan jelas bagaimana kesibukan yang di lakukan orang-orang di dalam sana pada tubuh Chanyeol yang terbaring di brankar.

Hingga saat mereka melihat Siwon menangis memeluk tubuh Chanyeol dan juga seorang dokter lain yang berusaha memenangkan Siwon di dalam sana,

Yoora seketika menjerit histeris memanggil nama adiknya, bersamaan dengan Jongin yang juga berteriak berlari ingin membuka pintu kaca yang menghalangi mereka.

"Chanyeol-ah! Adikku! Tidak, TIDAK! PARK CHANYEOL!" Yoora berlari berusaha masuk namun Soojung yang juga tengah menangis berusaha tetap kuat untuk menenangkan Yoora.

"PARK CHANYEOL! TIDAK HYUNG! HYUUUUNG!" tak berbeda dengan Yoora yang terus berteriak memanggil nama Chanyeol dalam raungan tangisnya. Bahkan pria itu memanggil Chanyeol dengan sebutan Hyung, terakhir kali Jongin memanggil Chanyeol seperti itu adalah saat mereka baru beberapa bulan masuk JHS dulu.

Jongin kini tengah bersimpuh di lantai akibat Kyungsoo yang memeluknya dengan erat. Laki-laki berkulit tan itu meronta berusaha untuk lepas dari pelukan Kyungsoo untuk segera berlari ke arah Chanyeol yang masih di baringkan di dalam dengan dokter dan beberapa perawat yang mengelilingi tubuhnya tampak menunduk terdiam.

Dan puncaknya adalah ketika Siwon keluar untuk memeluk tubuh Yoora, bersamaan dengan hilangnya kesadaran Yoora saat itu juga.

.

.

Di sebuah padang rumput indah dengan dendalion yang berterbangan bersama langit senja, seorang laki-laki dengan baju serba putihnya berdiri menatap surya yang sudah tampak kehilangan warnanya.

Sebuah senyum pedih tampak menghiasi bibirnya, dengan pandangan kosong menatap benda langit tersebut.

"Papa~" hingga suara seorang anak perempuan terdengar olehnya.

"Chanyeol, sayang" dan juga suara seorang wanita yang teramat sangat ia rindukan.

"Papa" Kemudian berganti lagi menjadi suara anak kecil. "Papa jangan tinggalkan Jihan" hingga suara terakhir seorang anak kecil itu berganti menjadi suara-suara lain. Ada suara perempuan, suara laki-laki tua, ada juga suara Jongin yang terdengar bereteriak-teriak memanggil namanya.

Tut tut tut..

"Dokter! Pasien kembali"

.

.

.

.

Aku mengenal seorang gadis. Dia, dia sangat cantik dengan senyum teduhnya yang selalu menyambutku. Aku akan memberikan apapun untuk melihatnya bahagia. Hingga ketika satu malam dia tersenyum kala aku memeluknya dalam tidur. Dia berkata jika kami akan bahagia bersama sampai kehidupan kami di dunia telah berakhir. Tapi aku takut. Aku takut jika suatu saat aku harus meninggalkan dunia ini sendirian dan aku harus meninggalkan dia di dunia sendirian.

Aku tau bahwa aku sedang menunggu diriku mengakhiri perjalanku. Aku menyimpan semua tentangnya untuk ku kenang selamanya, senyum indahnya, matanya yang bersinar, dan ketika dia menyandarkan kepalanya di pundakku, menyaksikan langit yang mulai menguning.

Aku pikir kematianku suatu hari nanti lah yang menghancurkan kebahagiaanku. Aku pikir, usainya perjalanan hidupku lah yang aku takutkan. Dan aku bertanya apakah itu benar-benar kematianku yang akan menghancurkan hal-hal yang kucintai? Dan aku salah—"

"—itu adalah miliknya, kepergiannya"

"Baekhyunku~"

.

.

.

.

END