Disclaimer : GS/GSD ©Sunrise

Catatan: Italic untuk flashback dan monolog dalam benak. "Italic" dan 'Italic' untuk percakapan dalam benak.


Gadis itu memaksanya sparring pagi ini, menyeretnya dengan paksa dari asramanya ke dojo dan melampiaskan kekesalannya dengan mencoba memukulinya dengan pedang kayu. Ia tahu kemana serangkaian kejadian pagi itu akan mengarah, jadi ia hanya diam saja saat gadis itu mulai meneriakinya, mengungkit-ungkit hasil ujian hunter terakhir mereka, memaki-makinya sebagai bentuk tersirat dari rasa iri, sambil terus berusaha memukulinya dengan pedang kayu.

"Aku membenci mereka, Heine.. Aku sangat membenci mereka."

Heine sudah akan menanggapinya namun mengurungkannya. Ia membatalkan kuda-kudanya, meletakkan pedang kayu latihannya di lantai lalu berjalan mendekati gadis berambut hitam jelaga itu. Si gadis melunak.

"Apa kau membenci mereka juga, Heine?" ujarnya perlahan sembari mencoba mengatur nafas.

Hunter berambut orange itu tidak menjawab dan hanya memandang penuh empati mata kelabu gadis itu.

"Mereka semua monster. Mereka semua harus dibasmi, Heine. Aku akan membunuh mereka semua... walau harus mempertaruhkan nyawa-"

"Meer.." Heine meraih jemari gadis itu lalu menggenggamnya erat. "Kau hanya lelah. Kau hanya ingin semuanya kembali normal-"

"Omong kosong, Heine!" Gadis itu, Meer Campbell, menarik tangannya dari genggaman Heine. "Kau tidak akan pernah memahami apa yang aku rasa. Kau tidak pernah melihat keluargamu, teman-temanmu, orang-orang yang kau kenal dibantai didepan matamu! Kau, seorang anggota khusus! Seorang Red Hunter sepertimu tidak akan tahu bagaimana sulitnya membunuh seorang vampire! Kau sama saja seperti Athrun! Kau tidak akan mengerti! Kau tidak akan pernah mengerti betapa muaknya aku!"

"Heine... Mereka tidak mengijinkanku berburu," tambahnya kemudian. "Kau yang meminta mereka untuk menunda misi pertamaku, bukan?"

"Apa itu yang membuatmu kesal?"

Meer tertawa kosong. "Kesal? Kau tahu betapa kerasnya aku berusaha agar dapat berburu di luar! Tapi apa yang kau lakukan? Kau menahanku!"

"Aku tidak menahanmu, aku hanya berusaha melindungimu. Kau belum siap bertempur di luar sana-"

"Kalau begitu berhentilah melindungiku, Heine! Kau hanya membuatku merasa terbebani!" Meer melempar pedang kayu yang ia gunakan kearahnya lalu berjalan pergi. Heine tidak mengejarnya, ia hanya memandangi pundak gadis itu menjauh.

...


Malam itu malam purnama pertamanya berburu tanpa pengawasan-tanpa supervisi dari siapapun. Biasanya ia hanya mengekor pada hunter yang lebih tua, menjadi asisten mereka, atau hanya memburu vampire-vampire muda yang berkeliaran secara individual Ia merasa bebas dan siap. Ia merasa harus membunuh vampire malam ini, terlebih setelah kejadian tidak menyenangkan dengan Meer pagi tadi.

Ia sedang mengawas tanpa tujuan, berjaga di daerah pengawasannya saat matanya menangkap sesuatu yang tak biasa di gang kecil gelap diantara dua rumah.

'Gadis kecil berkeliaran di malam hari bukanlah hal yang lumrah.. Yah, walau bocah ingusan sepertinya dengan senjata tajam dibalik jubah bisa dibilang lebih tidak lumrah lagi, tapi tetap saja..,' pikirnya.

"Hey…" sapanya lembut. Hunter muda berambut orange itu berjongkok menghampiri sang gadis kecil yang meringkuk ketakutan dibalik tumpukan kardus. "Kamu kenapa?"

Gadis itu tampak ketakutan, matanya yang seperti binar api meredup karena rasa takut. Hunter muda itu, Heine, memandanginya dengan seksama kemudian menyadari penyebab ketakutannya. Gadis kecil itu seorang vampire.

Tapi ia begitu cantik, gadis itu tampak begitu murni dan tidak berbahaya. 'Usianya mungkin baru sepuluh... rasanya tidak mungkin vampire cilik itu membunuh manusia,' begitu pikirnya dalam hati. Gadis itu membuatnya kehilangan alasan untuk membunuh.

"Sembunyi disini," katanya kemudian,"kamu akan aman. Aku akan melindungimu." Melindungi, adalah janji yang sangat berat. Jika supervisinya tahu tindakannya ini, dia akan dikeluarkan dari organisasi, dia akan dihukum, atau yang lebih parah dia mungkin akan dibunuh karena tindakannnya. Tapi gadis vampire itu...

Heine tersenyum padanya.

Heine mendengar suara langkah kaki-yang berasal dari hunter pemburu gadis itu. Ia beranjak menghampirinya. "Oi, Kugai!"

"Hm. Apa kau lihat seseorang ke sini?"

"Tidak," jawabnya,"aku nggak lihat siapapun dari tadi."

"Kamu kira aku bohong?" jawabnya untuk menutupi kebohongannya.

"Tidak, hanya saja kau tak pantas berada di area perburuan macam ini."

"Kenapa memangnya? Toh aku juga sudah resmi jadi anggota. Aku cuma mau lihat kalian berburu."

"Kau ini baru saja jadi anggota, jadi belum boleh keluar tahu? Lagipula kau masih empat belas tahun. Masih terlalu muda untuk berburu."

"Seingatku kamu hanya lebih tua sebulan dariku, Kugai," jawab Heine. "Lagipula aku mendapat nilai baik saat kelulusan. Aku masuk kedalam anggota Red, kau tahu."

Kugai mencibirnya, "Sesukamulah. Ya sudah. Aku harus berburu. Kuberitahu ya, baru saja ada vampire kabur ke sekitar sini. Kalau kau melihatnya, segera bunuh!"

"Oke, oke. Kita berpencar saja…"

"Hm, ya. Sampai jumpa." Heine menunggu beberapa saat, memastikan Kugai sudah cukup jauh dari pandangan sebelum kembali kepada gadis vampire itu lagi.

"Hei," bisiknya.

Ia mendekati gadis itu,dan tidak dapat menahan dirinya untuk menepuk pelan kepala si gadis vampire. Vampire kecil hanya bisa meringkuk ketakutan, Heine tahu tindakannya membelai rambutnya justru malah mengintimidasinya.

Ia lalu melepas kalung Haumea merah miliknya dari lehernya dan meletakkannya di dekat kaki si gadis vampire.

"Anggap saja itu jimat dariku. Jangan mati ya…" ujarnya sebelum menghilang pergi.

...


Heine memandang Hunter berambut biru itu dengan penuh keterkejutan, " Arnold, apa yang-"

Hunter berambut biru itu tak mengacuhkannya dan sibuk mengemasi barang-barangnya dengan terburu-buru. Ia melepas jubah merahnya yang penuh sobekan dan noda darah dari tubuhnya dan membuang crossbow beserta daggernya ke lantai. Ia lalu melemparkan sesuatu kepada Heine. "Ambil ini. Simpan. Jadilah ini pengingat bagimu. Aku harus pergi. "

"Tunggu!" Heine menahan lengan Arnold. "Kau mau kemana?!"Ia menghalangi langkah teman satu asramanya itu, raut kebingungan tergambar jelas di wajahnya.

Arnold balas memandangnya dengan sedih. "Suatu saat kau akan mengerti. Sampai saat itu tiba, jaga Athrun dan Meer."

...


"Aku sangat menginginkan pendant itu Heine. Menjadi anggota Red,itu tujuanku. Sama sepertimu. Kau tahu apa isi pendant anggota Red? Darah vampire. Itu bisa jadi sangat berguna. Aku dengar darah vampire dalam Haumea anggota Red bisa jadi obat bagi orang yang sedang sekarat dan bisa menjadi racun bagi vampire lainnya. Mungkin kita bisa menjadikannya senjata massal, mungkin kita bisa mengobati Stellar dengan itu. Kau menyukai Stellar, bukan?"

Heine mengangkat alis, kemudian tertawa. Aku tidak menyukainya. Aku menyukaimu, Meer.

Namun hunter berambut orange itu tidak menyuarakan isi pikirannya dan hanya diam, dengan sabar mendengarkan celotehan Meer.

"Kau bisa menggunakan Haumeamu, kau tahu. Untuk Stellar. Kau selalu menengoknya, bukan?Aku merasa iba padanya.. juga pada Hawk.. dia masih tampak begitu terpukul. Aku dengar dia memutuskan untuk berburu sendiri."

"Hm.. Kasihan, Lunamaria.. Dia hanya menyiksa dirinya sendiri dengan menjadi single hunter," tanggapnya sambil lalu dengan mengedikkan bahu. Gadis berambut gelap di sisinya tertawa halus.

"Komentar macam apa itu? Dasar tidak berperasaan.. Makannya kau begitu pelit, tidak mau memberikan pendantmu."

"Haumea ini bukan milikku, Meer."

"Eh? Lalu milik siapa?"

"Ini milik Arnold..."

"Arnold? Punyamu kemana?" Meer meraih Haumea Heine lalu menyentuhnya dengan kedua tangannya. "Kalau begitu pendantmu boleh untukku?"

"Pendantku..."

'Anggap saja itu jimat dariku. Jangan mati ya...' Heine teringat pada si gadis vampire kecil.

"Pendantku hilang saat aku berburu."

Meer mendesah kecewa. "Yaah... sayang sekali... Eh, tapi kenapa Arnold memberikannya padamu? Aku juga tidak melihatnya belakangan ini.. Kau tahu dia kemana? Aku mendengar banyak kabar buruk tentangnya.. katanya dia-"

"Berkhianat. Arnold sudah menghianati kita, Meer. Karenanya dia sudah tak pantas lagi menggunakan Haumea ini."

"Suatu saat kau akan mengerti, Heine."

Mengerti apa?

Kau tidak membuatku mengerti, Arnold.

...


Ia telah gagal dalam , seorang vampire tunggal, dengan perawakan tinggi, rambut panjang kelabu dengan sorot mata biru kelabu sewarna merkuri. Vampire itu sangat kuat, kekuatannya menekan batas kemampuannya sebagai Red Hunter. Tapi ia akan hidup, ia akan menang, ia tahu itu.

Sang vampire sepertinya juga mengetahui potensi bahaya yang dimiliki Heine. Oleh karena itu, vampire itu menggunakan metode keji untuk menjatuhkannya.

Vampire itu mengincar Meer, partnernya.

Ia mengecoh Meer, merebut dagger dari tangan gadis itu, lalu menusukkannya ke pinggang kiri hunter muda itu. Seakan tak puas, sang vampire menusuk perut Meer sekali lagi sebelum melempar tubuh Meer ke arah Heine. Dengan seringai penuh kemenangan, ia melompat kabur ke atas atap bangunan terdekat, meninggalkan Heine yang panik mencoba menghentikan perdarahan Meer.

"Meer! Meeeeeer!"

"Hei... heine... Heine... aku.. aku gagal... Hei-"

"Tidak, tidak Meer... Kau tidak gagal, aku akan melindungimu. Kau akan selamat, oke? Kau dengar aku? Kau akan hidup, aku ada disini. Aku akan melindungimu. Meer!"

"Athrun.. Heine, sampaikan padanya...maaf... suka.. aku... menyukai-"

"Meeeer!"

'Aku menyukaimu, Heine.'

Namun ia tak pernah mendengar kata-kata terakhir Meer.

...


"Sebagai hukuman atas kelalaian dalam menjalankan tugas sehingga mengakibatkan cedera fatal yang berujung kematian pada partner, kau diturunkan dari posisimu. Senjata dan segala perlengkapanmu kami sita dan kau kami pindah tugaskan ke Orb seorang diri."

Ia hanya mendengarkan keputusan Dewan dengan tatapan kosong tanpa pembelaan. Ia juga tak bergeming saat suruhan dewan mengambil paksa Haumea Arnold yang melingkar di lehernya.

Meer, maafkan aku. Aku telah mengingkari janjiku.

...


Athrun menghampirinya seusai sidang. Ia tahu apa yang akan kawan hunternya itu katakan, dan ia tak peduli. Dukanya terlampau dalam dan Athrun tidak akan bisa memahaminya.

"Heine... aku turut berbela sungkawa-"

"Tidak perlu."

Athrun mencoba meraih pundaknya namun ia menepisnya."Hei-"

"Kau tahu apa kata-kata terakhir Meer?" ungkapnya dingin.

"Meer menyukaimu."

Athrun terdiam.

"Athrun, apakah kau tidak sedikitpun merasa kehilangan?"

"Heine.. aku tahu perasaanmu."

"Tidak. Kau tidak. Pertama Arnold, kemudian Meer. Kau tahu apa yang mereka katakan? Arnold memintaku menjagamu. Meer bilang ia tentangmu, dan lihat... Lihat dirimu. Apa yang kau lakukan?!"

Heine menerjang Athrun lalu memukulinya dengan brutal.

Tindakannya itu baru bisa dihentikan saat empat orang suruhan Dewan berhasil mengekangnya.

...


"Pemuda ini terguncang atas kematian rekannya. Ia tidak akan mampu berburu dengan kondisi kejiwaan seperti ini."

"Kalau begitu, buat dia lupa. Dia harus bisa berburu. Aku dengar dia hunter muda berbakat yang amat mahir di lapangan."

"Tapi, Ketua Dewan, ia sudah cukup lama bekerja dengan rekannya tersebut. Kita tidak bisa menghapus ingatannya selama itu, dia bisa-"

"Berapa lama?"

"Dua tahun. Kami sudah memasangkan keduanya selama lebih dari dua tahun dilapangan dan-"

"Lakukan."

"Tapi, Ketua-"

"Lakukan. Buat dia lupa. Aku ingin dia sudah berburu lagi dalam seminggu."

Suruhan Dewan itu tidak berani membantah. Ia bergegas memanggil seseorang dengan jubah hijau gelap masuk ke dalam ruangan tempat dimana Heine duduk diam mematung dengan tangan yang terikat ke lengan kursi.

"Kau bisa mulai," perintah sang Ketua Dewan.

Sosok berjubah itu mengangguk, lalu menyentuh dahi Heine. Mengetahui apa yang akan dilakukan pria berjubah itu kepadanya, Heine berontak dan mengamuk, namun sang suruhan Dewan menahannya dari samping. "Kau harus melupakan Meer Campbell, segala kejadian tentangnya kau tak akan ingat. Seumur hidupmu, kau tak akan ingat."

'Meer. Aku membenci mereka. Aku bersumpah aku akan memusnahkan mereka semua. Vampire yang sudah membunuhmu-'

"Kau akan melupakan semuanya."

'Tidak! Tunggu! Meer-'

Memorinya tentang Meer, tentang pesan Arnold, tentang Haumea merah miliknya dan gadis vampire berkelebat cepat di benaknya.

Satu persatu, kelebatan ingatan itu hilang digantikan kehampaan.

Dan benak Heine saat itu menjadi gelap sehingga satu-satunya yang tertinggal padanya adalah kebencian mendalam.

'Aku membenci mereka. Aku bersumpah aku akan memusnahkan mereka semua. Vampire!'


Kira Yamato bergegas memacu motor sportnya. Ibunya menyusulnya dibelakang, sebelum berpisah jalan di persimpangan.

"Ibu tunggu kalian di perbatasan. Ayah akan menemui kita disana."

Vampire berambut coklat itu hanya mengangguk singkat dari balik helmnya.

Ia sudah setengah jalan menuju tempat adiknya berada saat dengingan yang memekakkan bergema di benaknya.

Distress signal.

Gema peringatan tersebut membuatnya oleng sesaat sebelum akhirnya ia bisa kembali mengendalikan motornya.

Serbuan panggilan silih berganti dalam benaknya, membuatnya pening. Ia mengenali salah satunya, lalu mencoba merespons.

"Dearka-"

"Kau dimana, bodoh?! Perintah evakuasi segera dari Kepala Rumah Kecil," teriak pemuda itu dalam benak Kira.

"Aku tidak bisa-," balasnya kemudian. Adikku.. Cagalli mungkin dalam bahaya..

"Apa katamu?! Bodoh. Sudah terlambat-Tuan Siegel terbunuh, barusan Miguel melapor. Tidak ada gunanya kau kesana."

Kira mencelos. "Apa?!"

"Aku tidak bisa mengontak Lacus, dia masih berada di Rumah Kecil," tambah Dearka kemudian. Kira dapat mengidentifikasi rasa panik dalam suaranya.

"Tunggu, Dearka. Lacus-"

Sebuah teriakan kembali bergema dalam benaknya, kali ini begitu keras sehingga membuatnya limbung dan terjatuh dari motornya.

"Kira!"

Teriakan itu begitu jelas, begitu keras, sampai Dearka pun dapat mendengarnya.

"Teriakan itu-Lacus.. " Dearka tidak melanjutkan, tubuhnya bergidik ngeri membayangkan penyebab teriakan Lacus.

"Dearka," ujarnya lemah. Ia bangkit berdiri, tangannya gemetar akibat impact yang ditimbulkan teriakan tersebut tetapi dipaksanya tubuhnya untuk kembali menaiki motornya. "Aku harus ke Rumah Kecil. Aku mohon bantuanmu. Cagalli sedang bersama Miriallia, bisakah kau menjemputnya?"

Dearka butuh beberapa saat untuk meresponsnya sebelum efek teriakan yang sama hilang darinya. "Tunggu, apa?! Kau biarkan adikmu dan gadisku berkeliaran dalam keadaan seperti ini diantara kumpulan para hunter lapar? Kira kau idiot, dimana mereka?!"

"Di-" Kira mengirimkan prakiraan lokasi Cagalli pada Dearka melalui benaknya. "Tolong bawa Cagalli ke tempat aman."

Dearka mendesah. "Affirmative. Berdoalah kita tepat waktu. Sana pergi. Tunjukkan kegunaanmu sebagai seorang Atha, calon penerus glossator. Jangan mati atau aku akan membangkitkanmu kembali dan membunuhmu lagi."

Kira mengangguk lemah.

"Doakan kami, doakan kita semua."

Lacus, aku harap kau baik-baik saja.


Subuh menjelang ketika Mwu La Flaga berhasil menyusup kedalam markas hunter di barat daya Onogoro, tak begitu jauh dari perbatasan wilayah kekuasaan ayahnya, Uzumi Nara Atha. Ia tak menemui banyak rintangan. Hanya sedikit hunter yang berjaga, entah karena sisanya sedang berburu diluar atau karena tempat tersebut bukanlah pusat koordinasi mereka.

Glossator muda itu memukul jatuh hunter penjaga sebelum masuk memeriksa ke ruangan-ruangan di dalam markas, mencoba mencari informasi.

Nihil.

Ia sudah akan membakar tempat itu ketika indranya menangkap kedatangan seseorang. Ia mengejarnya ke luar, ke dalam lahan kosong penuh semak belukar. Hunter itu mengelak darinya dengan sesekali menembakkan crossbow dari balik jubahnya. Mwu memaki kecil lalu membalasnya dengan bidikan revolvernya. Merasa terpojok, hunter itu terus berlari namun keberuntungannya pupus saat ia menemui tebing di jalan akhirnya.

"Kau sudah tidak bisa lari lagi sekarang," ancam Mwu.

Hunter itu tertawa, suara tawa yang anehnya terdengar familiar di telinga Mwu. Hunter misterius itu lalu menyingkap jubahnya, menampakkan wajah seorang pria muda yang terlihat lebih muda dari Mwu. Rambut putih keperakannya yang sepundak tergerai menutupi mata coklatnya.

Mwu tercekat. "Kau-"

Svan Cal Bayang.

"Apa kabar, Mwu," sapa pemuda itu dingin. Mwu menggeleng lalu tertawa, menolak keterkejutannya. "Tak kusangka kau masih hidup, Svan. Tak kusangka selama ini.. kau menjual kaummu sendiri kepada mereka?!"

"Kalau ya, apa pedulimu Mwu? Kau telah gagal sebagai glossator. Kau dan keluargamu."

Mwu menggeram. "Kami tidak gagal. Kau yang berkhianat!"

Ia lalu maju menyerang Svan. Vampire berambut perak itu mengelak, mencoba melindungi diri. Tapi Mwu bukanlah tandingannya, Mwu berhasil menjatuhkannya dan memukulinya bertubi-tubi.

"Penghianat sepertimu... kau tahu apa hukumanmu, bukan?"

"Kau tidak berhak, Mwu. Kau tidak-"

"Oh ya, tentu saja aku berhak. Ini tugasku sebagai seorang Atha, sebagai seorang glossator."

Svan tertawa-tetapi tawanya terdengar aneh karena mulut dan hidungnya tersumbat darah. "Kau tak berhak menghakimiku. Kau tidak bisa."

"Siapa yang bilang aku tak bisa?" Ia mengambil dagger yang tersemat di pinggang Svan lalu mengarahkan dagger digenggamannya itu sehingga menempel erat di leher Svan. "Aku akan dengan senang hati mewakili untuk mengirim penghianat sepertimu langsung ke Neraka."

"Silahkan. Toh yang bertanggung jawab akan ini bukan hanya aku. Aku hanya menererima kehormatan tertinggi untuk membunuh langsung Talia dengan kedua tanganku. Tugasku sudah selesai, kalaupun harus mati sekarang-peranku sudah kumainkan."

"Katakan Svan, sebelum aku mencabut nyawamu, dimana sang Penerus?!"

Svan terkikik. "Kau tak boleh tahu. Aku akan menyimpan rahasia kecilku sampai ke neraka. Kau boleh menanyaiku jika kau menyusulku ke sana."

"Kau! Dia ada pada mereka kan?!" bentak Mwu.

Svan tidak menanggapinya, ia tertawa lagi. Ia tertawa begitu keras sampai tersedak darah dari hidungnya sendiri. "Bunuh aku Mwu. Toh kau juga akan segera mati. Ini sarang Hunter. Para sekutu dermawanku akan segera datang dan menghabisimu. Dan tak lama lagi, kakakmu beserta keluarganya dan si idealis Siegel itu juga akan mati karena kawan-kawanku tahu dimana mereka harus memburu keluargamu sekarang. Ini kejatuhan kita. Mati sekarang ditanganmu atau mati nanti akan sama saja buatku."

"Sialan." Mwu menusuk Svan, dalam amarahnya ia membunuh vampire berambut perak itu dengan sekali gerakan.

Ia menyesali tindakannya sedetik kemudian. Dengan jijik dihisapnya sedikit darah dari leher Svan namun terlambat. Pemuda itu sudah mati. Mwu tidak mendapatkan apapun. Hanya rasa getir penyesalan yang dirasakannya.

Vampire pirang itu tidak lama berdiam diri. Kematian Svan seakan menjadi alarm bagi para sekutunya. Para Hunter datang menyergapnya.

Mwu menghabisi mereka sekejap dalam kemurkaannya.

"Dasar tikus kotor tolol. Kalian pikir bisa menjatuhkanku dengan mengeroyokku? Aku menjabat sebagai glossator bukan tanpa alasan," umpatnya.

Ia menyesap darah salah seorang hunter penyergap di waktu terakhirnya. Apa yang ia dapati begitu mengerikan.

Keluarganya dalam bahaya.


Cagalli tahu mereka tidak akan bisa lari jauh. Tidak dengan kondisi Miriallia dipapahannya, dengan luka tusuk anak panah di kaki dan tangannya.

Setelah mempertimbangkan dengan singkat, Cagalli berhenti. Dibantunya Miriallia duduk bersandar pada tembok bangunan terdekat. "Milly.. Milly dengar. Aku harus kembali. Kau akan lebih aman disini. Hubungi seseorang."

Vampire berambut coklat itu menahan tangannya, "Jangan! Cag!"

Cagalli menggeleng. "Aku akan baik-baik saja. Kau harus pergi, oke? Panggil bantuan." Ia mengecup singkat dahi Miriallia. Kau harus hidup, kau harus selamat.

"Cag!"

Gadis pirang itu tidak mengindahkannya dan berlari pergi.

"Cagalli!"

Miriallia mencoba merangkak mengejarnya namun jatuh tersungkur.

"Bodoh, bodoh! Milly, kamu tidak berguna!" Ia menggigit bibirnya, mencoba menahan isak tangis. Dirundung rasa putus asa, ia memutuskan untuk mengikuti apa yang diperintahkan Cagalli. Ia memanggil bantuan.

"Dearka-"


Satu tarikan crossbow Heine dan nyawa Athrun melayang, beruntung, Ahmed menarik dan mengekang lengan Heine, membelokkan arah anak panah disaat-saat terakhir.

"Kau!" Bentak Heine murka yang kemudian berubah menjadi teriakan kesakitan saat Ahmed menggigit keras lehernya, menyadap darah yang keluar dari lehernya, meminumnya dengan rakus untuk memulihkan luka-lukanya.

"Zala, lari! Lindungi Nona Atha dan Nona Haww!" perintahnya sebelum kembali menghisap darah Heine. Athrun segera bangkit berdiri mengikuti perintah Ahmed.

Tak ingin lawannya lolos, Heine berusaha sekuat tenaga membebaskan diri dari Ahmed. Disikutnya wajah Ahmed untuk menyingkirkannya dari lehernya. Ahmed melepaskan gigitannya, kesempatan itu dimanfaatkan Heine untuk menembak jatuh Athrun tepat di punggung-menembus ke dada. Athrun tersungkur.

"Athrun!"

Ahmed mencelos, bukan hanya karena Heine berhasil menumbangkan Athrun, melainkan karena Cagalli dengan bodoh dan gegabah memutuskan untuk kembali, dan berteriak.

"Nona, pergi!"

Ia mencoba menahan hunter berambut orange itu lagi untuk memberi waktu pada Cagalli.

"Tapi, Athrun-" Ia mendekati Athrun dengan gemetar. "Dia bisa mati."

"Kalau begitu ubah dia!"

"A-aku.."

"Cepat nona, aku tak bisa selamanya menahan hunter ini. Kalian harus lari! Cepat ubah dia!" paksa Ahmed. Vampire Penjaga itu menahan keras tubuh Heine yang terus berontak.

Merasa tak memiliki pilihan lain, Cagalli menggigit pergelangan tangannya lalu meminumkannya kepada Athrun, disaat yang bersamaan digigitnya juga pergelangan tangan Athrun.

"Athrun, maaf. Maafkan aku.." bisiknya pada Athrun.

...


AN :Saya beberapa kali mencoba update dan kena blokir Internet +.. beruntung saya dapat pencerahan dari teman-teman saya dan bisa update lagi. Saya sempat kepikiran untuk mem-post ulang seluruh fic saya di tumblr, tapi saya nggak bisa sign up #curhat saya punya akun wattpad, mungkin akan saya post ulang di sana juga.. Mohon maaf atas keterlambatan update kali ini..

Yup, chapter kali ini episode specialnya Heine. Plus ada Sven.. kenapa Sven? Karena dia unyu dan punya bakat terpendam untuk jadi jahat.. haha.. Di chapter depan akan ada full Asucaga Scene dan akan saya bahas KirLac juga. Terimakasih banyak sudah meluangkan waktu untuk membaca :D 3

Special thanks to:

Nafidah, echi. Zala, nawdblume, popcaga, Amai Yuki, Dandeliona96

Mohon maaf apabila ada typos, kesalahan dalam penulisan istilah, nama, dan gelar :D. Saran, kritik, komentar dalam bentuk apapun amat berarti buat saya.

Salam hormat, Ofiai.