Semua rencana yang tersusun rapi taunya langsung melebur hancur dengan kehadiran Chanyeol seperti itu. Tidak ada rencana kerja part time dan mulai menjelajah kehidupan mandiri yang telah Baekhyun rencanakan hari lalu, yang ada hanyalah Baekhyun yang dijemput kembali oleh si tumpuan hidup yang sebenarnya, Park Chanyeol.
Itu bukan musibah, sebenarnya adalah anugrah.
Tapi bagaimana Baekhyun harus menerimanya begitu aja, lalu gengsinya harus dibawa kemana?
Setelah acara kelulusan mereka berakhir, Baekhyun di seret Chanyeol segera keluar dari perataran sekolah dan dibawa masuk ke dalam mobil. Baekhyun meronta menyerukan penolakan namun sekali lagi Park Chanyeol adalah Park Chanyeol si bebal.
"Tidak mauuuuu~ Yak! Apa yang kau lakukan, turunkan akuuuuu~" Baekhyun menjerit membahana. Chanyeol tanpa aba-aba menggendongnya, memanggul tubuhnya seperti karung beras dan memukul pantatnya pula disana.
Baekhyun malu luar biasa, beberapa yang tersisa pada halaman sekolah menarik perhatian mereka kepada Baekhyun dan si mungil itu berubah cepat layaknya kepiting rebus dalam gendongan itu.
"Park Chanyeol turunkan akuuuu! Aku membencimu, turunkan aku~" Rengek Baekhyun.
"Aku juga mencintaimu Baekhyunie sayang." Balas Chanyeol dalam kekehan. Pintu mobil ia buka dan ia masukkan tubuh Baekhyun pada sisi kemudi.
"Biarkan aku mengambil barang-barangku dulu." Tahan Baekhyun ketika Chanyeol hendak menutup pintu.
"Barang-barangmu sudah duduk manis di bagasi sayang, jadi jangan banyak alasan dan jadilah anak baik." Chanyeol menyempatkan diri mengusap rambut Baekhyun sekali sebelum menutup pintu setelahnya. Baekhyun berdecih, mulutnya komat kamit melontarkan sumpah serapah tanpa suara kepada lelaki tinggi itu.
Chanyeol tersenyum lebar, benar bersenang hati akan hal itu. Kaki panjangnya ia bawa menuju sisi mobil yang lain kala sebuah sapaan menghentikan tungkainya segera.
Di belakangnya Kris datang mendekat. Chanyeol melihatnya terkejut bersamaan dengan memudarnya senyum dari bibir lelaki Park itu.
"Bolehkan kita bicara sebentar?" Kris bertanya dengan sejuta harapan terselip dari raut wajahnya. "Ada yang ingin kutanyakan padamu." Mata tajamnya yang serupa akan milik Sehun itu melirik pada mobil Chanyeol, lalu pada Baekhyun yang menatap mereka berdua penasaran.
Chanyeol mengetahuinya dan ia perlahan beringsut, setengah berandar pada kaca jendela mobil sebenarnya alibi menghalangi mata Kris pada si mungil di dalam mobil. "Kupikir ini bukan saat yang tepat hyung," katanya menolak. "Ini sudah hampir sore dan aku harus sampai ke Seoul sebelum tengah malam. Bukankah hyung juga?"
Kris terlihat kecewa namun tak memiliki hak untuk memaksa.
"Ah, benar." Angguk Kris. "Tapi bisakah kita bertemu saat tiba di Seoul nanti?" Tanyanya kembali.
Chanyeol diam sesaat sebelum memberikan anggukan dengan senyum palsu ia sunggingkan, "tentu." Katanya. Ia lantas segera berbalik pergi masuk ke dalam mobil.
Kris masih berada pada tempatnya ketika mobil yang Chanyeol kendarai melesat pergi dari pandangannya.
...
"Apa yang kalian bicarakan?" Baekhyun bertanya sembari menatap sosok menjauh Kris melalui kaca spion. Ia beralih kepada Chanyeol kemudian dan ia dapati wajah kaku lelaki itu itu disana.
"Hanya sedikit basa-basi." Jawabnya singkat.
"Kalian rekan kerja?" Tanya Baekhyun kembali.
Mereka bukan tentu saja, namun jika Chanyeol mengatakan apa yang ada Baekhyun akan terus mengejar dirinya dalam pertanyaan yang lain.
"Ya," maka Chanyeol memilih untuk berbohong dan menutupi semuanya. Lagi.
"Ah, seperti itu." Guman Baekhyun. "Dunia sempit sekali, tidakkah? Siapa yang menyangka jika nyatanya kau dan Paman Kris rekan kerja sedang aku dan Sehun adalah teman sekamar." Ujar Baekhyun tertawa.
"Kau sepertinya dekat dengannya," Chanyeol berucap ragu.
"Siapa? Paman Kris?" Tanya Baekhyun memastikan. Chanyeol mengangguk pelan.
"Sebenarnya aku dekat dengan Bibi Sooyeon, kau tau bukan er... Paman Kris terlihat sedikit dingin," Baekhyun menyergit pelan dengan bayangan Kris melintasi ingatakannya. Sapaan singkat dengan senyum kaku yang aneh, Baekhyun bahkan bergetar pada pertemuan pertama mereka.
"Ah, seperti itu." Chanyeol lagi merespon pelan.
Baekhyun menatap lelaki itu sedikit bingung, perasaannya saja atau memang Chanyeol sedikit berbeda setelah pertemuannya dengan Kris. Mungkin mereka memiliki sedikit masalah dengan pekerjaan-terka Baekhyun. Maka ia tak ingin memperpanjang hal itu, lagipula Baekhyun tak ingin tau akan hal itu.
"Bangunkan aku saat sampai nanti." Tutup Baekhyun akhirnya. Ia memejamkan mata dan mulai mengarungi mimpi senjanya disana. Chanyeol tak menanggapi alih-alih masih dikuasai oleh seribu risau mendera dirinya.
...
Mereka sampai ketika malam nyaris telah berada di puncak.
Ini aneh, pikir Baekhyun karena menjadi kali pertama sejak setahun lebih berlalu ia menjadi sedikit asing dengan apartemen mereka. Chanyeol di sampingnya menyeret travel bagnya dengan tenang dengan satu lengan merangkul pundaknya dengan erat.
Pintu apartemen terbuka. Pemandangan yang serupa akan tahun lalu menyambut inderanya. Tak ada yang berbeda, sofa tamu mereka masih berada pada posisinya, foto-foto mereka masih melekat di dinding-tersebar banyak nyaris di setiap tempat. Semuanya masih sama dan itu menyadarkan Baekhyun betapa hidupnya tercipta disana. Ia tumbuh dan berkembang disana, bersama Chanyeol lelaki yang berdiri di belakangnya.
"Welcome home, baby..." Ucapan itu mengalun lembut.
Baekhyun berbalik badan dan tak mampu menahan senyum ketika bening itu bertubrukan disana. Chanyeol balas tersenyum, menunduk dan memberikan sebuah kecupan manis pada kening.
"Yeah, i'm home." Kekeh Baekhyun. Kedua lengan ia bawa menuju leher Chanyeol dan mengikatnya disana. Baekhyun berjinjit, meraih bibir tebal itu dan berpangut dalam ciuman.
Ciuman kerinduan yang sama besarnya mereka miliki bersama.
...
Inilah kehidupan yang seharusnya mereka miliki dan lalui bersama pula.
Rasanya seperti mimpi ketika Baekhyun terbangun dan Chanyeol-lah yang menyambut inderanya pertama kali. Wajah lelap lelaki itu masih tampan seperti hari lalu. Kelopak terpejam dengan belah bibir terbuka selalu menjadi favorite Baekhyun sepanjang paginya.
Baekhyun bisa menghabiskan waktunya sepanjang hari tanpa bosan menatapi paras tampan itu. Disela, Baekhyun juga suka menarikan jemarinya pada si pemilik lekuk sempurna; pada dagunya, pada belah bibirnya, pada tulang hidung dan garis kelopak matanya. Chanyeol akan terjaga, ia tersenyum sebagai respon benar menyukai perlakukan itu pada wajahnya.
Ia lantas membawa jemari Baekhyun pada bibirnya dan mengecup lentik itu dengan memuja. Suaranya terdengar kecipak sampai liur membasahi kulit tangan Baekhyun sampai kemana-mana.
Si mungil tidak merasa kesal atau sesuatu, alih-alih membawa kedua tangannya pada wajah Chanyeol dan memberikan sebuah ciuman lagi pada belah bibir itu. Chanyeol akan menyambutnya seperti biasa dan ciuman mereka berlanjut disana.
Kemudian berakhir ketika matahari mulai naik dan jadwal masing-masing menggema dalam ingatan. Di hari lalu Chanyeol akan menyiapkan sarapan mereka seperti biasa, Baekhyun menghampiri dengan seragam rapi lalu memulai sarapan mereka bersama.
Tapi sekarang Baekhyun sudah lulus, ia tak harus sibuk berbedah alih-alih berada di dapur kini, berganti menyiapkan sarapan. Chanyeol siap dengan setelan kantor rapi dan memuji Baekhyun dengan makanannya.
"Nanti kita makan siang bersama, oke?"
Chanyeol mengangguk sebelum meninggalkan pintu apartemen. "Aku akan menjemputmu." Katanya.
Namun Baekhyun menggeleng, "aku yang akan menemuimu di kantor lalu kita makan siang bersama setelahnya."
Bukan ide yang buruk. Chanyeol mengangguk lagi lalu beranak mengambil langkah pergi.
...
Chanyeol luput memikirkan tentang Kris yang akan menemuinya lagi di hari-hari selanjutnya. Pikirnya, Kris akan mengirim pesan terlebih dahulu namun taunya tidak bagaimana sosok jangkungnya malah terlihat di depan pintu ruangannya hari ini.
Chanyeol tak mampu mencegah dan disinilah mereka sekarang.
Kris masih bersama sejumput penasaran akan masa lalu yang tak ia ketahui. Tentang Yoora dan sosok anak yang hadir seperti yang wanita itu katakan padanya.
"Yoora Noona sudah meninggal." Namun kenyataan itu malah memutar apapun yang luput Kris pikirkan sebelumnya. Di depannya Chanyeol berujar dingin, wajah ramahnya berubah kecut seolah Kris adalah penyebab dari itu semua.
Kris menatapnya terkejut luar biasa dan taunya itu terlihat omong kosong bagi Chanyeol.
"Yoora... meninggal?" Tanya dalam keterperangahan itu pun tak lebih dari lakon semata, Chanyeol pikir Kris pasti tengah berpura-pura.
Namun tidak. Ada petir menyambar dalam kepalanya dan Kris nyaris melunglai tak mampu menahan tungkai menegak lebih lama.
"Aku tidak tau apa yang membuatmu begitu penasaran hyung, kupikir semuanya sudah berakhir. Bukankan seperti itu?" Chanyeol mendesah tak suka. "Hubungan kalian sudah berakhir sejak kau memutuskan menikah dengan wanita lain dan memilih meninggalkan Yoora noona. Kau memilih pilihanmu untuk pergi dan seharusnya kau tak harus kembali, tidak untuk hari ini atau kapanpun."
Ujaran ketus itu membuat Kris termangu. Itu benar, yang Chanyeol katakan adalah hal yang memang benar adanya,
"Jika kutau Yoora hamil aku takkan melanjutkan pernikahan itu." Itu terdengar seolah Kris ia hanya melakukan kesalahan kecil dan Chanyeol harus memahaminya.
"Yoora mengirimiku pesan mengatakan jika dia hamil anak kami. Aku segera pulang ke Korea hari itu juga tapi..." Kris menjeda sesaat. "Ibu kalian bilang jika Yoora sudah menikah dan pindah ke luar negeri bersama suaminya."
"Apa?" Chanyeol terkesiap.
"Aku datang beberapa kali dan meminta kontak Yoora tapi ibu kalian tak mau memberitau apapun. Jadi aku kembali ke Vancouver."
Chanyeol tak ingin menyimpulkan semua kesalahpahaman yang terjadi selama ini taunya berawal dari Jinhee. Chanyeol bisa saja tak mempercayai apa yang Kris katakan, lelaki itu membual. Yang ia katakan hanyalah dalih untuk semua kesalahan miliknya dulu. Maka tak seharusnya Kris menjadikan orang lain sebagai kambing hitam, terlebih itu adalah... Jinhee, orangtuanya.
Bagaimana bisa Chanyeol mempercayai semua itu? Bagaimana mungkin Jinhee melakukan semua itu. Chanyeol seharusnya menyangkali dan menyalak Kris untuk berhenti mengatakan omong kosong yang lain namun tak ia lakukan.
Ketertegunan merampas semua sarafnya. Chanyeol nyaris tak bergerak, ia nyaris seperti patung membisu seperti itu.
Melihat Chanyeol yang terdiam membuat Kris memiliki kesimpulannya sendiri.
"Itu semua tidak terjadi," Jinhee berbohong tentang Yoora yang telah menikah dan pindah ke luar negeri bersama suaminya. Yoora tidak pernah menikah, kenyataan tetap berada di Seoul bahkan saat Kris datang ke rumah mereka hari itu, Yoora berada disana. Mungkin Yoora mengetahuinya juga dan melihat kedatangannya namun ia menolak untuk bertemu.
"Yoora noona tidak lagi tinggal bersama kami saat Ibu tau dia hamil."
Namun apa yang Chanyeol katakan kemudian lagi mematahkan asumsi si hazel tajam itu.
Chanyeol berubah frustasi sedang jantungnya semakin bertalu di antara kenyataan yang baru saja ia ketahui hari ini. Chanyeol mengatupkan rahangnya keras dan mengusap wajahnya gusar.
"Yoora noona tidak pernah menikah dengan siapapun, dia menjalani semuanya sendiri." Suaranya perlahan bergetar. "Dia bahkan meninggal seorang diri saat-" Chanyeol tak mampu berucap. Kepalan tangannya ia gigit kuat seolah mampu menahan getaran rahangnya.
Kris tak harus bertanya jauh, kalimat selanjutnya yang akan Chanyeol katakan telah mampu ia terka.
"Lalu dimana dia sekarang?"
Dia-buah cintanya dengan Yoora... dimana dia sekarang?
Apakah dia hidup dengan baik selama ini, bagaimana dia melewati harinya selama ini? Kris menyimpan semua itu dalam degupan jantung berdebar. Ia memiliki beribu pertanyaan tentang, bagaimana rupa dia? Sehatkan dia? Itu sudah belasan tahun berlalu, apakah terlambat hanya untuk sebuah sapaan halo untuk aliran darah mereka?
Chanyeol diam dalam kalut miliknya sendiri. Kris berubah tak sabar, pundak tegang yang lebih muda ia remas kuat-memaksa Chanyeol menjawabi semua pertanyaan miliknya.
"Apakah dia... Baekhyun?" Tanya Kris lagi. "Dia Baekhyun... bukan?" Tuntutnya.
Baekhyun... itu kembali menyadarkan Chanyeol akan hal yang sempat luput ia pikirkan. Kris berada disini sekarang, dia telah kembali. Sosok orangtua biologis Baekhyun telah berada di depan mata dan apa yang akan terjadi setelah ini?
Chanyeol berubah egois hanya dengan memikirkan tentang Baekhyun yang membuka lengan suka cita menyambut orangtuanya itu. Kris akan membawanya pergi seperti yang akan ia lakukan dulu dan mengambil perannya sebagai orangtua kini. Baekhyun akan meninggalkannya, Baekhyun akan pergi darinya.
Chnyeol tak sadar ketika ego mulai membumbung tinggi. "Itu bukanlah hal yang penting lagi sekarang."
Kris tertegun, "apa?"
"Itu takkan bisa merubah apapun lagi."
Benarkah seperti itu?
"Pulanglah hyung, kembalilah pada kehidupanmu yang seharusnya." Chanyeol berbalik badan, hendak menuju kursinya kembali namun Kris menahannya disana.
"Dia benar Baekhyun, bukan?" Suara Kris berubah tinggi. "Jawab aku Chanyeol, Baekhyun adalah anakku bukan?" Cercanya kembali. "Park Chanyeol-" kejarnya.
"Baekhyun sudah menganggapmu tiada!" Sentak Chanyeol. "Akan sangat konyol jika kau tiba-tiba muncul seperti ini hyung. Maka... kumohon jangan lakukan ini untuknya." Pinta Chanyeol.
"Apa?" Kris hilang kata. Alisnya bertemu satu dan mulai menelaah maksud dari ujaran Chanyeol.
"Aku memiliki banyak pekerjaan yang harus kukerjakan, pergilah hyung." Namun Chanyeol mengindahkannya dengan berlalu menuju belakang mejanya dan mulai menyibukkan dirinya disana.
Kris tak segera beranjak pergi. Ia masih berada disana dan tak sadar ketika kesal mulai merayapi dirinya.
"Aku adalah ayahnya, mengapa kau harus menutupi hal itu darinya?" Kris menatap Chanyeol kecut dalam senyuman. "Tentu Baekhyun harus tau hal yang sebenarnya." Tandas pria dewasa itu. Chanyeol merasakan sarafnya menegang, pena diantara selipan jemarinya tak sadar ia tekan keras seolah hendak mematahkan benda itu menjadi dua bagian.
Kepalanya terangkat dan menatap Kris dalam tikungan pada keningnya.
"Itu bukan hal yang mudah-"
"Aku yang akan membuatnya menjadi mudah!" Sela Kris cepat. Ia berbalik badan menuju pintu tanpa peduli Chanyeol yang memaksanya berbalik kembali. Kenop pintu diraihnya dan menarik daun pintu itu terbuka.
Kemudian semuanya berhenti disana. Hazel tajamnya melebar, sama halnya akan Chanyeol yang berubah tercekat pada tempatnya. Bulatnya seolah akan melompat keluar berbanding terbalik dengan sosok yang berada di balik pintu sana.
"Baek... hyun-" Chanyeol seolah kehilangan seluruh udara dalam ruangannya. Baekhyun berada disana, entah sejak kapan mungkin mendengar semua pembicaraan mereka.
Anak itu cepat-cepat menarik senyum dan menyapa Kris dengan kaku.
"O-oh Paman Kris disini?" Sapanya. "Selamat siang Paman." Kepalanya ia anggukan sekali dan menapak masuk ke dalam ruangan itu, berjalan melewati Kris begitu saja.
Baekhyun kemudian menatap Chanyeol di balik punggung Kris, tanpa ekspresi dan itu membuat Chanyeol ketakutan. Kalutnya membumbung lagi, memenuhi keseluruh rongga dadanya dan Chanyeol benar lupa bagaimana seharusnya ia bernafas.
Semuanya berubah kosong, sunyi dengan tapak langkah menggema Baekhyun berdengung di dalam kepalanya. Anak itu menuju padanya dan otaknya mulai merangkai semua makian yang Baekhyun keluarkan padanya. Baekhyun akan memakinya, mengatakan betapa kejamnya semua kebohongan yang ia sembunyikan selama ini-Baekhyun akan membencinya dan lalu... akan meninggalkannya.
Namun yang terjadi bukanlah umpatan yang menderu. Belitan lengan kurus itu membungkusi tubuh tegang Chanyeol yang terasa. Kepalanya bersandar pada dada Chanyeol dan aroma shampoo dari helai halus hitam itu menusuk indera lelaki itu kemudian-benar menyadarkan ia seketika atas apa yang terjadi.
"Peluk aku." Bisikan itu terdengar sedetik berselang.
Chanyeol mengerjab. Sekali, dua kali sampai ia menyadari betul jika itu bukanlah ilusi semata.
Baekhyun berada di depannya, memeluknya. Ketakutannya melebur hilang dalam sekejab. Lengan kokohnya melingkari tubuh mungil itu dalam dekapan erat. Chanyeol mengangkat tubuh mungil itu pada dirinya sampai ujung kaki tak lagi menyentuh lantai dibawahnya.
Itu hanya hal kecil tapi Chanyeol seperti memiliki dunia tergenggam dalam tangannya. Dunianya adalah Baekhyun dan dia berada disini sekarang. Tanpa kata harus terucap tapi Chanyeol tau jika Baekhyun memilih dirinya dan takkan pernah meninggalkan dirinya.
Dan Kris melihat semuanya disana. Ia seperti keledai dungu tetap terpaku pada tempatnya dan membiarkan semua itu menyapa inderaya dengan Chanyeol yang membiarkan hazel mereka bertemu dengan sinar kemenangan kentara disana.
Rasanya menyakitkan, semuanya seperti menghempaskan Kris pada kejadian serupa. Sakitnya beruntun jatuh. Pelukan itu adalah penerimaan untuk Chanyeol dan penolakannya untuknya bukan?
Baekhyun benar menganggap dirinya telah tiada. Chanyeol benar... kehadirannya sekarang takkan bisa mengubah apapun yang telah terjadi.
Pun dengan darah yang mengalir sama... itu tidak memiliki arti apapun. Tidak pernah, takkan pernah terjadi.
...
Sooyen berada di dapur ketika Kris datang dan menariknya dalam pelukan. Wanita itu terkesiap dan bertanya tentang apa yang terjadi namun Kris membiarkan diam sebagai jawaban. Deru nafasnya berat dan Sooyeon memberikan usapan menenangkan pada punggung lebar itu berulang, sabar menunggu sampai patah kata itu menguar akhirnya.
"Aku menemukannya."
Ada detakan keras menggema, begitu keras sampai menghentak Sooyeon pada pijakannya. Gerakan tangannya terhenti sedang iris teduhnya melebar.
"Aku menemukannya Sooyeon." Ulang Kris lagi.
Kris mencarinya selama ini, di bulan pertama setelah pernikahan mereka Kris mengatakan semua yang terjadi. Tentang mantan kekasihnya, pesan yang kekasihnya kirimkan dan pencariannya dimulai hari itu.
Sudah belasan tahun berlalu dan Kris menemukannya hari ini. Sooyeon berubah bingung, haruskah ia merayakannya dan memberikan ucapan atau bealik tak menyukai semua itu?
Semuanya semakin membingungkan bagaimana berat nafas Kris terdengar kacau dan Sooyeon tau semuanya tidaklah semenyenangkan seperti yang ia bayangkan.
"Semuanya baik?" Sooyeon bertanya ragu.
Kris tak segera menjawab, lagi memeluk tubuh mungil itu semakin erat.
"Dia adalah Baekhyun."
Detakan jantung Sooyeon terpacu kembali. Baekhyun... Baekhyun... nama itu berputar dalam ingatan. Baekhyun...ie?
"Anakku dan Yoora adalah Baekhyun." Kris terpatah berucap.
Sooyeon mematung diam.
Ada banyak hal yang ingin Sooyeon tanyakan, tentang bagaimana Kris mengetahui semuanya, bagaimana ia menemukannya juga bagaimana bisa Baekhyunlah yang ia cari selama ini. Sebenarnya kebetulan seperti apa yang mereka miliki saat ini, takdir seperti apa yang mereka miliki selama ini?
"Dia menolakku Sooyeon." Namun ungkapan lain itu membuat Sooyeon terhenyak lagi. Kris melepas pelukan mereka kemudian dan membiarkan Sooyeon melihat rapuh gagah matanya selama ini. Lukanya terlihat sama akan belasan tahun lampau itu, itu masih kesedihan yang sama, kesakitan yang sama.
"Baekhyun menolak diriku."
Sooyeon hanya tak tau bagaimana harus bereaksi. Ia tak memiliki kata terbaik untuk mampu menenangkan lelaki yang menjadi suaminya itu. Maka pelukan hanyalah alibi lain untuk menutup kekurangan yang ia miliki.
...
Jingga berganti gelap malam dengan cepat. Keterdiaman masih menyertai mereka sedari tadi. Baekhyun hanya berujar sesekali, mengomentari menu makanan yang mereka nikmati dan disahuti Chanyeol dalam kelu.
Chanyeol menunggu, menunggu semua pertanyaan yang ia tau Baekhyun miliki dalam dirinya. Chanyeol memiliki semua jawaban itu dan ia akan menjawab semuanya.
Namun yang terjadi adalah Baekhyun yang palsu dengan semua tingkah seolah tak ada hal yang berarti terjadi. Ia masih bertingkah seperti Baekhyun kemarin, makan malam mereka berakhir dan ia merengek ingin berjalan-jalan sebentar sebelum pulang.
Chanyeol menyanggupi dan membiarkan punggungnya menumpu Baekhyun dalam gendongan. Diam masih mereka miliki dan Chanyeol pikir ia harus mengakhiri semuanya.
"Kau tak ingin bertanya sesuatu?" Lelaki tinggi itu bersuara pelan di hembus angin malam. Matanya memandang jauh ujung trotoar sana, sedetik terlewati hanyalah hawa nafas hangat Baekhyun menerpa kulit lehernya.
Si mungil itu tak segera menjawab, alih-alih malah mengeratkan pelukan lengannya pada leher Chanyeol.
"Aku menunggu kau mengatakan sesuatu." Jawabnya.
Chanyeol menarik nafas pelan, mulai berpikir dari mana ia harus memulai. Baekhyun di punggungnya menunggu dan Chanyeol pikir ia telah jatuh tertidur dalam kebosanan.
"Yoora noona memiliki kekasih bernama Kris," Chanyeol memulai pertama kali. "mereka menjalani hubungan beberapa lama sampai akhirnya putus karena Kris harus menikah dengan orang lain. Katanya ia tak memiliki pilihan selain menyanggupi permintaan orangtuanya dan membiarkan hubungan mereka berakhir seperti itu."
Desau angin malam berhembus dingin membuat Baekhyun semakin erat memeluk leher Chanyeol. Ia sedikit kedinginan dan mencari hangat lelaki itu membungkusi tubuh payahnya.
"Yoora noona mengirimkan pesan mengatakan pesan jika dia memilikimu, dia menunggu selama beberapa bulan tapi Kris tak pernah membalasnya. Dia tidak pernah datang maka Yoora noona menyerah untuk dirinya."
Kenyataan jika Kris datang namun Jinhee-lah yang menumbuk sekat mereka menyakiti Chanyeol kembali. Seharusnya Jinhee tak mengatakan omong kosong tentang Yoora dan pernikahan yang tak pernah ia miliki, seharusnya Jinhee mengatakan yang sebenarnya terjadi mungkin mereka memiliki jalan lain untuk merubah semuanya.
Ini tak hanya tentang Yoora sendiri, tapi juga Kris dan Baekhyun yang berujung menikmati semua hasil keegosian itu. Mustahil rasanya untuk memiliki kehidupan bersama namun setidaknya mereka memiliki hal yang lebih baik daripada ini.
"Yoora noona menyerah untuk Kris dan aku menutup kesempatan untuknya. Ketika Yoora noona tiada, maka aku pun menganggapnya sama seperti itu." Chanyeol tau dia menjadi satu dari semua orang yang paling egois di dunia, benci menutupi semua jalan pikirnya. Chanyeol masih terlalu muda saat itu namun ketika dewasa ia pun tak pernah menyesal pernah melakukannya. Ia tak pernah memikirkan apa yang akan terjadi di masa depan dengan keputusannya itu, sebenarnya lagi Chanyeol tak peduli. Namun kini semuanya mulai membuatnya goyah, ketakutan menyusupi pertahanannya dan Chanyeol mulai resah.
"Apa kau membenciku?" -Bagaimana jika Baekhyun membencinya, Baekhyun bahkan memiliki hak untuk melakukan hal itu.
Chanyeol tak pernah menakutkan sesuatu hal berlebih dalam hidupnya. Namun Baekhyun, tanpa sadar hidupnya selalu bertumpu kepada remaja itu. Hidupnya ada disana, lalu jika Baekhyun pergi bagaimana caranya Chanyeol melanjutkan hidupnya lagi.
Satu tahun seperti ia dalam neraka. Chanyeol melupakan banyak hal yang ia lewati, Chanyeol tak ingat bagaimana semua itu terjadi... sebenarnya lagi karena itu tidak berarti.
Semua berawalan dari kebodohannya sendiri, Tuhan memberi kesempatan kedua untuk merubah kesalahannya dan Chanyeol tau ia takkan memiliki ketiga apalagi ke empat untuk semua itu.
Baekhyun ada dalam hidupnya lagi. Wajah cantik lelaki itu merupakan hal pertama menyambut paginya dan menjadi pemandangan terakhir pula yang ia lihat sebelum mengarungi malam dalam mimpi. Lalu, bagaimana jika satu tahun lalu itu berulang kembali? Bagaimana jika kini Baekhyun sendiri yang memutuskan pergi dengan sejumput alasan benci karena ego berasal dari dirinya sendiri?
Baekhyun di belakangnya hanya diam dalam deru nafas. Kelopak mata terpejamnya perlahan terbuka. Iris beningnya menatap jauh akan pandangan Chanyeol sedang kedua lengan lagi membelit erat leher lelaki itu
"Aku tidak membencimu," lalu pelan suaranya menguar kemudian. Itu terdengar seperti bisikan namun mampu menghentikan langkah Chanyeol seketika. "walaupun aku memiliki alasan untuk membencimu tapi aku tetap tak ingin melakukannya."
Chanyeol mematung sedang mata mengerjab-mencoba menelaah apa yang baru saja dikatakan si mungil itu di belakangnya.
"Kau adalah hidupku, tanpamu bagaimana caranya aku tetap hidup?" Baekhyun menarik senyum pada tipisnya bersamaan dengan sebuah kecupan ia berikan pada pipi Chanyeol. "My everything, ayo kita hidup bersama selamanya."
Chanyeol hanya ketakutan sampai ia lupa kenyataan yang sebenarnya. Tentu saja... bagi Baekhyun, Chanyeol adalah segalanya. Pun bagi Chanyeol sendiri, Baekhyun adalah segalanya. Mereka hidup dalam dunia mereka sendiri, hari kemarin, hari ini, esok dan selamanya akan terus seperti itu.
"Aku mencintaimu Baekhyun."
Mereka tak hanya hidup dan memiliki dunia satu sama lain, tapi mereka juga memiliki cinta untuk satu sama lain. Hal besar apa yang bisa menggantikan itu semua?
Jawabannya, tidak ada.
Tidak untuk siapapun.
"Aku juga mencintaimu Chanyeol."
...
Namun terkadang semuanya tidaklah berjalan seperti apa adanya.
Ini bukan lagi mengenai Kris dan statusnya sebagai orangtua biologis Baekhyun. Itu bukan masalah bagaimana Baekhyun memilih Chanyeol dan benar mengabaikan kehadiran lelaki berhazel tajam itu.
Itu bukan berawal dari Baekhyun, namun Chanyeol yang memiliki poros putaran yang sama dalam dunia mereka.
Jinhee. Baekhyun terkadang lupa seperti apa besarnya rasa benci Jinhee padanya. Baekhyun memutuskan untuk mulai mengabaikannya dan menjadikan satu tahun dan semua hal yang ia ketahui tentang orangtuanya sebagai pelajaran. Ia memiliki Chanyeol dan itu lebih dari cukup.
Hanya saja panggilan sore itu memutar balikkan keadaan setajam pisau.
"Chanyeol bisakah kau datang ke rumah sakit? Ibumu mengalami hipertensi dan beliau berada di rumah sakit sekarang."
Seharusnya Baekhyun sadar jika ia pun masih berada dalam lingkupan poros yang sama.
Cocot: Akhirnya bisa apdet juga, seneng ga? Seneng bilang! Apdetnya ga telat cuman rada lama aja.
Seperti biasa thankchu chu chu much pembaca sekalian, yg repot2 ingetin di dm ig kalo aku punya ini buat tetep dilanjut makasih juga. Amnesiaku gagal mulu gegera kelen ih :3
Chap depan kita ketemu lagi mau?
