Untuk yang kesekian kalinya, Shion merapikan poni serta dandanannya di kaca kecil. Bibirnya mengerucut lucu, dan ia menoleh ke kanan, ke kiri. Mata ungu tua itu mencoba mencari sosok yang sudah tidak sabar ia temui.

Akhirnya hari minggu yang ia tunggu, tiba. Shion sudah mempersiapkan semuanya dengan matang. Karena hari ini dia akan menaklukkan laki-laki itu.

Gadis berambut pirang itu menghadap kaca besar dari etalase toko. Menampilkan dirinya yang memakai dress tanpa lengan berwarna merah fanta. Sepatu berpita berwarna merah dengan hak setinggi tiga senti. Rambut panjangnya ia gerai dan dibuat bergelombang.

Tidak hanya itu, hari ini ia memakai pelembab bibir dan maskara. Shion yakin, bahkan bukan hanya Kurama yang akan luluh dengan penampilannya saat ini. Semua laki-laki pasti akan berbaris meminta nomernya.

Mungkin dia sedikit terlalu percaya diri, tapi percayalah. Baru kali ini ia berpenampilan seperti seorang lady. Jika bukan demi Sang pujaan hati, mana mau Shion memakai dress dan sepatu tinggi seperti ini.

"Shion!"

Suara berat itu seperti lonceng di gereja. Membuatnya berkhayal tanpa ia pinta. Ketika dirinya bersanding dengan Kurama di depan gereja dengan sebuket bunga serta gaun pengantin.

Mata biru pemuda itu menatap aneh gadis di depannya. Gadis itu berbalik menatapnya, namun jelas pikirannya entah kemana. Kurama menghela nafas pelan, ia menjentikkan jarinya di depan Shion. Menyadarkan gadis itu dari mimpi siang bolongnya.

"Ah! Kurama-san..." katanya dengan rona merah di pipinya. "Terima kasih sudah mau datang."

"Hm... jadi, kau mau naik apa dulu?"

Shion tak lekas menjawab, atensinya sibuk memerhatikan penampilan pemuda di depannya. Laki-laki itu memakai jaket bomber army serta celana cino warna kopi. Rambut pirangnya terlihat sedikit basah, membuat wangi shampoo samar-samar tercium.

'Ah! sepertinya aku semakin jatuh...' batin Shion berbisik. Debaran jantungnya kian cepat dan wajahnya memanas.

Saat Kurama kembali menatapnya, Shion memalingkan wajahnya. Ia segera menunjuk ke sembarang arah. Sementara mata biru itu mengikuti arah telunjuk gadis itu.

Kurama meyerengit, "Yakin mau naik itu?" Shion mengangguk, masih menunduk. "Ya sudah, ayo!"

Pemuda itu melangkah dan Shion mengikuti di belakang. Masih berusaha menenangkan debaran jantungnya. Sampai ketika ia duduk, barulah ia menyadari sesuatu.

Mata ungunya mengerjap dan memerhatikan sekitarnya. Banyak anak kecil yang duduk sambil tertawa riang. Saat ini mereka berada di wahana Istana Boneka.

"Kenapa kita naik ini?"

"Ini pilihanmu, jenius." Di sampingnya, Kurama mendengus pelan. Tidak habis pikir dengan tingkah gadis itu. "Aku baru tahu, kalau kau suka yang seperti ini. Tidak disangka kau ternyata seperti gadis-gadis lainnya."

Shion berdecak pelan, haruskah laki-laki itu menyindirnya?

"Lupakan permainan ini, kita naik yang lebih menantang." Shion sudah berdiri dari tempatnya, berniat pergi. Namun tangannya ditahan Kurama dan lelaki itu membuatnya kembali duduk.

"Sudah terlanjur, nikmati saja."

"Tapi ini pasti membosankan!" Shion mengerucutkan bibirnya. Ia tidak peduli dengan boneka-boneka. Mereka sama sekali tidak menarik. "Aku lebih suka yang seram dan menantang."

"Sudahlah, kau tidak lihat antrian panjang itu?" Kurama mendekatkan dirinya dan berbisik pelan di telinga Shion. Tanpa menyadari kalau tindakannya membuat Shion terdiam dengan jantungnya mulai bergemuruh. "Jadi diamlah—kau kenapa?"

Shion menggelengkan kepalanya, "Ti-tidak, aku baik-baik saja."

"Yakin?" Mata biru laut itu terlihat sedikit khawatir saat melihat wajah Shion yang memerah.

"Aku baik-baik saja, sungguh!"

Kurama mengangguk paham, ia menghempaskan punggungnya dan menatap ke arah lain. Sementara itu Shion mencoba menenangkan detak jantungnya. Sejujurnya ia agak sedikit kesal, karena sepertinya apa laki-laki itu sama sekali tidak ada komentar apapun tentang dirinya. Tidakkah penampilannya ini seharusnya memukau dirinya?

Padahal Shion sudah menghabiskan waktu seharian untuk memilih baju yang menurutnya bagus. Ia bahkan rela pergi ke salon untuk membuat rambut lurusnya bergelombang. Dengan berharap laki-laki itu akan memujinya dan jatuh cinta padanya. Tapi nyatanya, kenapa justru jantungnya yang terus berdetak cepat dan bersemu?

Tidak sampai lima menit saat perahu mereka mulai bergerak memasuki wahana Istana Boneka. Dan Shion sudah menguap bosan, gadis itu sama sekali tidak tertarik dengan boneka. Ia lebih menginginkan sesuatu yang memacu ardenalin. Sementara itu di sampingnya Kurama sudah memasang raut antusias.

"Apa ini menarik?" tanya Shion membuat pemuda itu menatapnya.

Kurama mengangguk dengan senyuman, "Lumayan, aku selalu suka tentang sejarah. Dan melihat berbagai macam baju adat dari berbagai tempat, itu menarik."

Shion tersenyum kecil, ia merasa beruntung karena akhirnya laki-laki itu tersenyum. Setelah sekian lama akhirnya ia melihat lagi senyuman yang pernah Kurama perlihatkan saat pertama kali mereka bertemu.

"Apa ini membosankan untukmu?" kali ini giliran Kurama yang bertanya.

Gadis manis itu menggeleng, "Tidak terlalu, lagi pula tidak masalah selama kau menyukainya, Kurama-san."

Mata biru laut itu mengerjap, ada debaran aneh yang hadir di dadanya. "Kau yakin?"

Shion berdecak pelan, "Berhentilah mengatakan hal yang sama terus menerus!" gadis itu mengibaskan rambutnya pelan dan tersenyum, "Kalau kau merasa bosan, itu berarti kencan ini gagal. Dan aku tidak mau itu terjadi, karena aku ingin kau jatuh cinta padaku."

"...Kau, ternyata cukup menyeramkan." Kurama memundurkan dirinya spontan. Dan hal itu membuat Shion mendengus geli.

Keheningan kembali hadir di antara keduanya saat Kurama memerhatikan boneka-boneka yang terpajang rapi. Namun ia merasakan berat di pundaknya, membuat pemuda pirang itu menoleh. Kurama mendengus pelan saat ia mendapati Shion telah tertidur lelap.

"Kau jelas merasa bosan, masih saja berbohong." Tawa kecil keluar dari Kurama, remaja itu menutup bibirnya sebelum tertawa lagi saat melihat wajah polos Shion. "Astaga... dia benar-benar, pulas sekali lagi, tidurnya."

Mata biru laut itu tanpa sadar mulai memerhatikan lekuk garis wajah Shion. Mulai dari bulu mata gadis itu yang panjang, hidung mancungnya, sampai bibir tebal yang dipoles warna cheri. Kurama mengerjap, ia sontak berdehem pelan dan menutup separuh wajahnya. Matanya kembali beralih pada jejeran boneka saat degup jantungnya mulai tidak beraturan.

"Sadarlah Kurama. Kau di sini untuk membuat keadaan kembali tenang dan ini demi Naruto." Ucapnya pelan dan berulang kali, seakan itu adalah matra agar ia tak lupa apa tujuannya selama ini.

...

Shion menguap lebar begitu mereka turun dari kapal kayu. Di belakangnya Kurama memerhatikan sebelum mendengus geli. Gadis dengan rambut pirang itu berbalik dengan senyum cerahnya.

"Sekarang kita naik apa lagi?"

"Kali ini pilih yang tidak membuatmu bosan." Sindiran itu membuat bibir mungil itu mengerucut lucu. "Bilang tidak bosan, tapi tidur sudah kayak pingsan."

Shion berdecak pelan, ia melangkah mendekat dan tanpa segan meninju perut Kurama. Remaja pirang itu mengaduh dan memegang perutnya sebelum melotot pada Shion.

"Aish! Berhentilah memukulku!"

"Kau juga berhentilah menyindirku!" Shion meniup poni lalu bersedekap, "Mulai sekarang, semua baru dimulai. Kau mengerti?!" katanya lagi sambil menunjuk hidung Kurama.

Remaja pirang itu berdecak pelan, "Apanya yang baru dimulai? Memang ini game?"

Gadis itu kembali berdecak dan dengan santainya ia menarik kerah Kurama. Tanpa memedulikan protes Kurama, Shion menarik pemuda pirang itu untuk mengikuti langkahnya.

Mereka kini berada di barisan antrian menuju wahana Histeria. Permainan yang membawa mereka ke puncak setinggi beberapa ratus meter dan turun dengan kecepatan tinggi. Shion berjinjit mencoba memerhatikan seberapa lama antrian lagi sebelum mereka bisa menaiki wahana menegangkan itu.

Kurama menggelengkan kepalanya, ia lalu menahan kepala Shion agar gadis itu tidak lagi berjinjit atau melompat-lompat. Tentu saja setelahnya ia harus menahan nyeri di kakinya akibat Shion menendang tulang kakinya tiba-tiba.

Sungguh, Kurama berharap setidaknya gadis itu berhenti melakukan kekerasan padanya. Bukankah dia bilang kalau dia ingin membuat jatuh cinta padanya? Apa dengan kekerasan seperti yang ia lakukan, mampu meluluhkan hati dirinya?

Setelah akhirnya tiba giliran mereka, Shion duduk dengan semangat dan segera menekan sabuk pengaman di dadanya. Kurama duduk di sebelahnya dengan rasa malas, karena sebenarnya ia tidak terlalu suka hal-hal yang menegangkan.

Permainan dimulai, wahana Histeria mulai membawa mereka naik ke puncak. Suara orang-orang yang antusias terdengar samar. Mata biru lautnya melirik Shion, gadis itu tengah tersenyum lebar saat mendapati pemandangan laut di depan mereka. Kemudian Kurama baru menyadari sesuatu.

Shion, gadis itu memakai dress dan sabuk pengaman adanya di daerah dada sampai perut mereka. Jadi tidak ada berat di atas paha gadis itu. Bukankah setelah ini mereka akan turun dengan kecepatan tinggi? Itu artinya...

"Shion taruh tanganmu di atas pahamu!" seru Kurama cepat.

Gadis itu menoleh, menatapnya heran. Namun belum sempat ia mengerti maksud dari perkataan Kurama. Wahana Histeria kini meluncur turun dengan kecepatan tinggi.

"KYA! EH? UWAAA DRESSKU!"

Kurama segera memalingkan wajahnya, takut-takut matanya menangkap sesuatu yang tidak seharusnya ia lihat. Dengan rona merah yang sialnya hadir tanpa ia pinta. Sungguh, kenapa gadis itu memakai dress seperti itu sementara mereka pergi bukan untuk makan malam, tapi bermain di taman bermain.

"Aku sama sekali tidak mengerti jalan pikiran para perempuan." Gumam Kurama pelan.

...

Kurama menghentikan langkahnya, ia berbalik dan memandang sosok gadis dengan dress merah yang sedang berjongkok sembari menutup wajahnya. "Kau mau tetap di sana?"

"Jangan bicara padaku dulu!" sentakan dengan nada merengek itu terdengar.

Kurama melangkah mendekat dan ikut berjongkok. ia memerhatikan tingkah gadis itu. Shion menutup wajah dengan kedua tangannya, dan terus mengulang gerutuannya.

"Rok sialan! Aku tidak akan pernah lagi memakai rok!"

Melihat tingkah gadis itu, mengundang rasa geli di perutnya. Entah mengapa membuat sudut bibirnya tertarik, membentuk senyum geli. "Tidak mau pakai rok lagi?" tanya Kurama pelan.

"Tidak mau!" sahut Shion masih dengan wajah yang ditutupi.

"Jadi, selamanya pakai celana?"

"Seumur hidup aku akan pakai celana!"

"Menikah nanti juga pakai celana, bukan gaun?"

"Menikah nanti juga pakai cela—" Kurama hampir tertawa melihat Shion mengangkat wajahnya, dan menatapnya dengan mata ungu yang melebar. "Yang itu jangan!" pekiknya kemudian yang berhasil membuat Kurama tidak bisa menahan tawanya lagi.

Shion memerhatikan Kurama yang terbahak, lebih tepatnya terpesona dengan tawa lepas pemuda itu. Hal yang baru kali ini ia lihat setelah beberapa kali bertemu dengan Kurama. Wajah Shion memanas dengan rona merah di kedua pipi putihnya. Seharusnya dia kesal karena ditertawakan, namun hatinya malah merasa senang.

"Udah puas ketawanya?" tanya Shion setengah menyindir.

Kurama menyeka air mata yang keluar akibat ia terlalu banyak tertawa. Ia berdehem pelan namun senyum lebar menghias wajahnya. "Belum puas, sih sebenarnya."

Pelipis gadis itu berkedut mendengar jawaban Kurama. Shion segera berdiri dan berjalan melewati Kurama, sambil bersedekap. Ia pura-pura kesal dan membuat Kurama berlari menyusulnya. Namun entah hari ini memang hari sialnya atau apa. Tali sepatu merahnya putus dan membuatnya hampir tersandung. Jika bukan karena reflek cepat dari Kurama yang segera menahannya. Mungkin saat ini Shion harus merasakan sakitnya aspal.

"Ck, ini akibatnya kalau kau pakai sepatu tinggi begitu." Cetus Kurama saat melihat pergelangan kaki Shion terlihat merah. Ia melepaskan jaket bomber dan mengikatnya di pinggang Shion sebelum ia berjongkok dan memberikan punggungnya. "Ayo naik! Kita cari tempat duduk dulu."

Shion mengerjap, wajahnya merona saat menyadari apa yang Kurama lakukan. ia mundur selangkah, "Aku tidak mau digendong!" sahutnya keras kepala.

Kurama menoleh dengan tatapan malas, "Kamu mau jalan dengan kaki telanjang?"

"Enggak mau, sih..."

"Ya udah, cepetan naik."

Shion mengembungkan pipinya, rasa kesal dan juga malu ia rasakan. Bagaimana mungkin ia membiarkan Kurama menggendongnya. Tapi kalau ia berjalan kaki dengan kaki telanjang juga, itu memalukan.

Akhirnya dengan rasa terpaksa, Shion menurut. Ia membiarkan Kurama menggendongnya sambil mencari tempat duduk. Setelah menemukan kursi panjang, Kurama menurunkan Shion dan menyuruh gadis itu untuk diam di sana, sementara ia mencari toko yang menjual alas kaki.

Setelah beberapa menit berlalu, manik ungu tua Shion menangkap sosok Kurama yang berlari ke arahnya. Dengan sebuah kantung belanjaan yang bisa Shion tebak adalah alas kaki untuknya.

"Maaf menunggu lama," ujar Kurama begitu ia sampai di depan Shion. Ia lalu berjongkok dan mengeluarkan flat shoes berwarna merah dan menarik pelan kaki gadis itu. "Kemarikan kakimu, semoga saja muat."

Shion memerhatikan dalam diam, bagaimana laki-laki itu masih terengah-engah setelah berlari. Keringat yang turun dipelipisnya, serta raut seriusnya. Hal kecil itu cukup untuk membuat dada Shion berdebar pelan. Ia ingin tertawa rasanya, melihat Kurama yang terkadang bersikap dingin dan menjaga jarak dengannya. Namun meski begitu, laki-laki itu memerhatikannya dan menjaganya.

"Ah, untunglah muat. Kemarikan kakimu yang satu lagi."

Gadis dengan rambut pirang itu menurut dan bibirnya tertarik membentuk senyum manis. Pelan ia mengangkat tangannya, menyeka keringat dipelipis remaja pirang itu. Pelan dan penuh hati-hati, Shion menyeka peluh itu dan mendekatkan bibirnya ke telinga Kurama.

"Terima kasih." Bisiknya dan tersenyum dengan rona merah saat Kurama menatapnya.

Dan degupan itu kembali hadir, membuat Kurama segera memalingkan wajahnya. Ia berdehem pelan, mencoba mendapatkan suaranya kembali. "Tidak masalah," katanya lalu berdiri. Ia menunjuk sepatu flat shoes namun matanya malah memerhatikan ke arah lain. "Aku tidak tahu perempuan suka model yang bagaimana, jadi aku pilih yang simpel."

Shion mengangguk, ia memerhatikan kedua kakinya yang kini berbalut sepatu merah itu. "Aku suka, sangat suka. Terima kasih."

Pemuda pirang itu menggaruk tengkuknya, ia berbalik dan mulai berjalan. "Baguslah kalau suka." Lalu ia kembali menghampiri gadis itu, seakan baru menyadari Shion yang masih duduk manis di kursi panjang. "Kenapa masih duduk? Kau tidak mau main lagi?"

"Ah! aku masih mau main!" ujar Shion sambil beranjak dari duduknya.

"Bagus, ayo!" Kurama kembali melangkah dan Shion menyusul dibelakangnya.

Kurama menggaruk tengkuknya kembali. Perasaan gelisah dan tak nyaman dengan jantungnya yang berdebar masih ia rasakan. Membuatnya kebingungan denga dirinya sendiri. Sampai ia tidak menyadari sepasang mata coklat yang memerhatikan dari kejauhan.

"Itu... bukannya Naruto?"

...

Matahari sudah mulai turun dan mengubah langit menjadi senja. Kurama dan Shion berjalan beriringan dengan kesunyian. Tidak ada yang saling bicara selama perjalanan pulang. Meski hari ini mereka sama-sama menikmati waktu dengan bermain, dan terkadang bercanda satu sama lain.

Mata ungu tua itu melirik, memerhatikan sosok Kurama di sampingnya. Dalam hati, Shion berharap waktu akan terasa panjang dan hari ini tak pernah berakhir. Namun nyatanya, waktu berjalan lebih cepat dari yang ia inginkan. Membuatnya tidak rela untuk menyudahi kesenangan hari ini. Terutama ia tidak siap dengan apa yang akan terjadi setelah ini.

"Kita sudah sampai."

Kata-kata itu tidak ingin Shion dengar sekarang. Ia masih ingin di sini, di samping Kurama. Dan berharap masih bisa bersama laki-laki itu meski hari telah berganti. Kakinya seakan tertancap di tanah dan tak mampu bergerak walau sesenti pun.

Mata biru laut itu memerhatikan, saat tangan gadis itu meremas ujung gaun selututnya. Jika ia boleh jujur, ia merasa senang hari ini. Bersama dengan Shion hari ini terasa menyenangkan. Terkadang mereka bertengkar saat memutuskan wahana mana yang akan mereka naiki. Dan terkadang mereka bercanda, saat berkeliling dengan cemilan di tangan.

Dan semua itu, membuat Kurama merasa senang dan membuatnya hampir lupa, alasan ia menerima ajakan kencan Shion. Dan saat mereka berdiri di depan rumah Hyuuga, Kurama merasa seakan ditampar, dan dipaksa untuk sadar kembali.

"...Terima kasih untuk hari ini Shion." Ujar Kurama tulus. Dan ia berharap gadis itu mau menatapnya. "Aku harap, kau puas dengan kencan kita hari ini."

Gadis itu masih tidak mau menatapnya dan terdiam. "Aku sudah menepati janjiku, jadi aku harap kau juga melakukannya." Kurama berbalik dan berniat pergi. "Selamat tinggal."

Apa semua ini akan berakhir seperti ini? apa setelah melewati waktu bersama, laki-laki itu tetap teguh pada pendiriannya? Tanpa memberinya kesempatan untuk mengenalnya, dan apakah ia memang tidak menarik baginya, hingga tidak meninggalkan kesan apapun untuknya.

Shion meremas ujung gaunnya, hatinya sesak. Ia tidak mau ini berakhir. Ia tidak mau hanya menjadi teman. Ia ingin lebih, Shion ingin memilikinya, menjadikan Kurama miliknya. Dan setelah pergi bersamanya, Shion semakin serakah.

"Kurama-san!"

Kaki itu melangkah, berlari mengejar sosok laki-laki itu. Memanggil nama laki-laki itu dengan lantang dengan segenap perasaannya. Dan ketika laki-laki itu berbalik, Shion tidak perduli jika mungkin ia akan dibenci. Gadis manis itu mendaratkan kecupan dibibir pemuda itu.

Manik biru laut itu melebar, jelas terkejut bukan main dengan apa yang Shion lakukan. Saat kedua bibir itu menjauh, Kurama dapat melihat jelas wajah Shion yang sudah memerah. Namun pancaran mata ungu itu begitu teguh.

"Aku memang tidak mau ini berakhir. Aku menyukaimu, aku suka Kurama-san!" dengan segenap hati Shion mengatakannya. Meski kedua tangannya bergetar akan perasaan takut. Ia tetap ingin Kurama mendengar kesungguhan hatinya. "Karena itu, aku mohon... jangan memintaku untuk menjauh, atau melupakan perasaan ini. Aku mohon..."

Sekitar beberapa meter dari tempat mereka berdiri, seorang gadis dengan rambut hitam malam terpaku di tempat ia berpijak. Dengan sedikit linglung, ia memutuskan untuk bersembunyi di balik pagar rumah orang lain. Mata peraknya mengintip sebelum ia menyandarkan punggungnya.

Jantungnya berdetak cepat, dan agak menyakitkan baginya. Keterkejutan masih ia rasakan, membuat ia meremas ujung rok biru tua yang ia kenakan. Suara adik perempuannya terus terngiang di benaknya dan tidak mau lepas.

'Aku menyukaimu, aku suka Kurama-san!'

"Kurama? Bukankah laki-laki itu... Naruto-kun?" Hinata bergumam pelan, hatinya berkecamuk dengan perasaan yang tidak menentu. Dan saat kilas balik ketika mereka berdua berciuman, ada rasa sesak di dadanya. Perasaan yang tidak dimengerti Hinata.

"Naruto-kun..."

...

Suara bel sekolah berbunyi dengan keras, membuat para murid-murid segera keluar dari kelas mereka. Naruto menguap lebar begitu ia keluar kelas bersama teman-temannya. Ia bersama dengan Sasuke, sementara Shikamaru tidak masuk karena sakit.

Mereka berdua memutuskan untuk pergi ke kantin untuk makan siang di sana. Setelah sampai di kantin, dan memesan makanan. Keduanya duduk di tempat kosong dan saat mata biru laut itu menangkap sosok Hinata dan Sakura. Naruto berdiri dan melambai dengan cengiran lebar.

"Oi Hinata, Sakura!"

Manik perak itu mengerjap, langkahnya sontak terhenti dengan perasaan ragu. Sakura sudah membalas lambaian tangan Naruto dan berniat menghampiri. Namun Sakura berbalik begitu menyadari Hinata masih terdiam.

"Kenapa? Kau baik-baik saja Hinata?"

"A-aku..." Hinata kembali melirik sosok Naruto. Perasaan ragu itu masih ada, ia merasa hatinya sesaak saat melihat mata biru laut itu. ingatan malam itu kembali hadir, membuat Hinata segera berbalik. "Maaf, Sakura. Aku kembali ke kelas dulu!"

"Eh, Hinata?!"

Senyum Naruto lenyap dan berganti dengan tatapan cemas. Ia segera berdiri dan meninggalkan Sasuke. Tidak memedulikan sahabatnya yang memanggilnya. Naruto menghampiri Sakura yang berjalan ke arah mereka.

"Sakura, ada apa dengan Hinata?"

Gadis musim semi itu menggeleng, "Entahlah. Dia bilang dia harus kembali ke kelasnya. Mungkin ada yang ketinggalan." Sakura mendorong Naruto untuk kembali ke tempat Sasuke berada. "Nanti juga Hinata kembali, sudah kita duduk dan tunggu dia."

Meski Naruto menurut, namun hatinya tidak bisa tenang. Ia merasa Hinata bersikap aneh saat kedua mata mereka tidak sengaja bertemu tadi. Seakan gadis itu menghindarinya, dan Naruto tidak suka itu, dadanya sesak saat Hinata memalingkan wajahnya.

Sampai mereka selesai makan dan bel berbunyi, gadis rembulan itu tidak kembali. Hyuuga Hinata tidak kembali untuk berkumpul bersama mereka. Dan saat Naruto tidak sengaja berpapasan dengan gadis itu. Hinata mengabaikannya, menghindarinya. Dan rasanya sesak, sungguh...

Bel pulang berbunyi, dan dengan cepat Naruto menyambar tas dan berlari keluar kelas. Meninggalkan Sasuke yang menatap kepergiannya dengan heran. Naruto berlari di koridor yang masih lenggang karena murid-murid belum semuanya keluar kelas.

Suara teriakan iruka yang menyuruhnya untuk tidak berlari di koridor, ia hiraukan. Saat ini ada hal penting yang ada di benak Naruto. Ia ingin bertemu dengan Hinata, dia ingin bicara dengan gadis itu. dan Naruto tidak mau jika gadis itu terus mengacuhkannya.

Naruto menghentikan larinya, saat mata biru lautnya menangkap sosok Hinata di halaman sekolah. "HINATA!" remaja pirang itu sontak memanggilnya. Namun sepertinya Hinata tidak mendengarnya, karena gadis itu tetap berjalan.

Remaja pirang itu berdecak pelan, ia segera berlari. Berharap berhasil menyusul gadis itu. Dan saat ia berhasil menyusul Hinata, remaja itu menarik pelan lengan gadis itu. Dengan nafas terengah dan peluh mengalir pelan dipelipisnya.

"Hi-Hinata, a-aku..." Naruto mencoba menarik nafas sebelum ia kembali berujar. "Aku ingin bicara denganmu."

Pelan, gadis itu melepaskan genggaman Naruto. Tanpa menyadari, kalau apa yang ia lakukan, membuat hati Naruto seakan mencelos.

"Mau bicara apa?" tanyanya datar dan tidak menatapnya.

Manik biru laut itu menyanyu, "Kau bahkan tidak mau melihatku, Hinata?"

Suara itu pelan dengan nada sedih yang jelas bisa Hinata tangkap. Membuat dadanya berdesir menyakitkan.

"Apa aku melakukan kesalahan?" Naruto kembali bertanya, "Apa aku tanpa sengaja, menyakiti perasaanmu?"

"Kamu enggak salah, Naruto-kun." Hinata menyahut cepat, ia tidak sanggup mendengar suara sedih itu. Namun ia masih belum mampu menatap mata biru itu.

"Terus, kenapa kamu enggak mau menatapku? Kenapa menghindariku?"

Hinata semakin menunduk dan menggigit bibir bawahnya. Ia juga tidak tahu mengapa ia menghindar, ia hanya merasa. Saat ini Hinata tidak mampu melihat wajah Naruto. Terlebih saat ia mengingat perkataan adik sepupunya.

'Apa yang terjadi, kalau seandainya... kita menyukai orang yang sama?'

Hinata menggeleng pelan, menyukai orang yang sama? Apa itu artinya Hinata menyukai Naruto? Lalu, apa maksudnya dengan Shion yang memanggil Naruto dengan sebutan Kurama? Apa selama ini yang Shion ceritakan padanya, adalah tentang Naruto?

Remaja pirang itu mengernyit melihat gadis di depannya terdiam. Apa yang tengah dipikirkan gadis itu sampai membuat kedua keningnya berkerut dalam. Naruto berniat menepuk Hinata, menyadarkan gadis itu namun seseorang memukul punggungnya keras.

"Oi Naruto!"

Remaja pirang itu mengaduh, punggungnya terasa terbakar dan nyeri akibat pukulan dari temannya. Mata biru laut itu mendelik sengit dan menarik kerah laki-laki berambut coklat. Dalang yang membuat punggungnya nyeri.

"Apa yang kau lakukan, Kiba?!"

"Ha ha ha! Sakit, yah? Maaf deh. Habis dari tadi aku panggil kau, enggak nyahut sih."

Naruto berdecak pelan, "Aku lagi ada urusan dengan Hinata."

Kiba menoleh, dan tersenyum lebar saat ia melihat Hinata. Gadis manis itu tersenyum kikuk dan menunduk pelan. Remaja dengan gigi taring yang agak menyembul itu menyeringai. Ia menyikut pelan Naruto dengan kedua alisnya naik turun.

"Aku enggak nyangka, kalau ternyata kau itu playboy juga."

"Maksudmu apaan sih, Kiba?" saat ini Naruto sedang tidak ingin meladeni candaan konyol temannya itu.

"Jangan pura-pura bodoh deh, kemarin aku melihatmu jalan dengan gadis di taman bermain." Bisik kita sambil merangkul Naruto. "Dan sekarang kau mau ngedeketin Hinata? Punya nyali juga kau!"

Kening Naruto mengerut, ia melepaskan rangkulan Kiba dan menyahut kesal. "Gadis? Kapan aku jalan dengan gadis?"

Naruto yang tiba-tiba menyentak, menarik perhatian Hinata. Dan ia terkejut saat mendengar apa yang kedua laki-laki itu bicarakan.

"Gak usah ngelak, jelas aku ngeliat kamu bareng gadis dengan gaun merah selutut. Kalian terlihat serasi, loh, kalau menurut pendapatku."

"Kalau enggak percaya, ya sudah."

Tidak mau ambil pusing dengan perkataan Kiba. Remaja pirang itu menarik pelan tangan Hinata. Membawa gadis itu untuk meninggalkan Kiba dan sekalian mengantar gadis itu. Hinata hanya menurut, ia juga ingin memastikan sesuatu. Karena seingatnya, kemarin Shion pergi dengan gaun selutut berwarna merah.

Mata peraknya melirik sosok Naruto dan beralih ke tangannya yang digenggam pemuda itu. Hinata ingin memastikan apa Naruto, adalah laki-laki yang disukai adiknya. Dan ia ingin menghilangkan perasaan sesak di dadanya.

Mereka berdua sudah berjalan cukup lama, tanpa ada satupun yang berniat membuka suara. Naruto ingin bicara, ingin bertanya, namun ia merasa waktunya tidak tepat dan rasanya begitu sulit. Ia ingin tahu, mengapa Hinata bersikap aneh terhadapnya.

Dan tanpa Naruto sadari, mereka telah sampai di depan rumah Hinata. Gadis rembulan itu berhenti di depan rumahnya, dan memerhatikan sosok Naruto yang masih berjalan dengan mata lurus menatap jalanan.

"Naruto-kun!" panggil Hinata pelan.

Remaja pirang itu menoleh lalu berlari menghampirinya, "Ada apa? Kok berhenti? Ayo aku antar ke rumahmu." Senyum itu melebar, hingga membuat kedua mata itu menyipit.

Aneh...

Hinata merasa aneh, apa Naruto sedang berpura-pura? Apa laki-laki itu sengaja bertingkah seakan ia tidak tahu di mana rumah Hinata? Sementara Hinata jelas ingat, kalau remaja pirang itu pernah berdiri di depan rumahnya malam-malam.

"Ini rumahku, Naruto-kun." ujar Hinata sembari menunjuk rumah besar di samping kanannya.

Naruto menoleh dan matanya melebar, "Uwa! Rumahmu besar juga Hinata."

Bukan, seharusnya bukan itu respon yang ingin Hinata dengar. Ini benar-benar aneh, dan akhirnya gadis itu menatap wajah Naruto. Hinata menatap lekat-lekat wajah remaja di depannya. Dan entah mengapa, Hinata jadi tidak tahu lagi. Ia merasa sosok Naruto di depannya saat ini terasa kabur. Tidak jelas, dan membingungkan, seperti sebuah teka-teki yang baru ia ketahui ada di sana.

"Kurama."

Degh...

Dengan pelan, Naruto menoleh menatap Hinata. Ia mengerjap dan tertawa kecil, "Kau... bilang apa tadi?" dalam hati, Naruto berharap setengah mati kalau ia salah dengar.

Mata perak itu menatap lurus mata biru di depannya, "Apa kau kenal dengan Kurama, Naruto-kun?"

.

.

.

To be Continue...

An/ hallo~ saya kembali setelah dua minggu tidak ada kabar. Muhehehe maafkan saya yang gak bisa up kemarin-kemarin. Terlalu banyak urusan dan kelelahan serta ide yang mentok. Belum lagi kemarin saya berusaha menyelesaikan cerita lama, jadi yah... begitulah.. hehehe

Oke sebagai tanda maaf, chapter ini special. Karena chapter ini panjanganya hampir 4k, semoga kalian puas. Dan yah inilah konflik yang saya tunggu-tunggu, yeahhhh! Banzai!

Terima kasih yang sudah setia baca cerita ini, makasih yang udah follow, favorite, dan ngerivew cerita ini. Saya kira cerita ini bakal sepi, taunya rame juga. hehehe...

Oke, langsung aku bales para reader terkasih yang udah mau menyempatkan diri untuk ngerivew.

Abrar-san: etto... Hinata memang melihat sisi lain Naruto. Tapi itu bukan berarti Hinata langsung bisa ngebedain mana Naruto, mana Kurama, yah. Hinata memang sensitif dan bisa langsung menyadari hal-hal kecil. Tapi dia tetep butuh waktu dan bukti untuk tahu ada hal aneh di diri Naruto.

Ari-san untuk chapter ini gimana? Gak pendek2 amat kan yah... hehe

Uzumakilchie-san: Jadi, Kurama itu kepribadian lain dari Naruto. Kurama itu sosok yang Naruto inginkan. Sosok laki-laki seperti kakak yang bisa diandalkan, dewasa, dan tenang. Yah... mirip bapaknya gitu, si Minato. Cuma rada Tsundere.

Barabai-san: Etto... ini termasuk harem bukan sih? Aku sebenarnya gak mau bikin harem. Cuma kan setiap cerita, pasti ada rival, entah rival percintaan ataupun yang lain.

Yudi-san: akhirnya bisa update lagi, uhuhu maaf lama. Dan maaf bagian itu aku gantung hehe, biar kalian penasaran sama hubungan Kurama dan Shion.

Rengoku-san: siap, aku usahakan alurnya cepat berkembang.

Rifkiaabadi-san: hehe makasih untuk pengertiannya, *bow

Rikarika-san: makasih udah nganggep cerita ini bagus. Yah, gimana dong. Aku sengaja bikin karakter Shion itu nekat, jujur banget ama perasaannya, dan rada tsundere. Hehe... biar seru gitu.

Okelah, sekali lagi makasih yang udah mau ngikutin cerita ini. Sampai jumpa selasa depan. Moga aku bisa kembali up setiap minggu. Bye~