Chapter 14

The Crowned Prince

Ketika Ryo berbelok di lorong bawah tanah itu, ia berpapasan dengan Zendo. Tatapan mata Zendo begitu kelam, merah kelam, aura membunuh terpancar dari tubuhnya yang perkasa. Firasat Ryo benar-benar buruk kali ini. Ia mungkin telah melakukan kesalahan, tapi ia tak mau melakukan kesalahan lagi kali ini. Ini menyangkut nyawa Kuroro, pria yang dicintai Kurapika, gadis yang ia sukai. Ryo segera bergegas mencari Kurapika.

Satu pukulan keras di dagu Kuroro membuat gusi Kuroro berdarah, lalu satu pukulan lagi di perutnya membuat Kuroro memuntahkan darah kental. Tapi ekspresi pria itu tetap datar, tanpa emosi membuat Zendo semakin kesal. Lalu ia mematahkan tangan kiri Kuroro, wajahnya masih datar. Sekali lagi ia memukul kepala Kuroro dengan tongkat yang ada di ruangan bawah tanah itu, hingga membuat kepalanya berlumuran darah.

"brengsek kau! Apa sebenarnya yang telah kau lakukan pada Kurapika? Hingga ia tergila-gila padamu setengah mati! Kau itu pembunuh perampok yang hina, kau bahkan membunuh keluarganya, tapi dia tetap mencintaimu. Dasar iblis! Sebenarnya siapa kau? Dilihat dari sudut manapun, aku jauh lebih baik darimu, keparat!

Kuroro tersenyum sinis menanggapi nya dang berkata, "kasihan sekali kau"

Zendo semakin mendidih saja, mendengar hinaan langsung pria itu.

Kurapika terbelalak mendengar kabar dari Ryo. Ia segera menuju ruang bawah tanah, yang ia baru tahu bahwa ada ruangan tersembunyi di bawah tanah. Terdengar suara erangan bariton yang familier di telinga Kurapika, ia segera menuju sumber suara dan menemukan Zendo sedang menyiksa Kuroro, lengan kiri kuroro nampak bersudut aneh, kondisi nya sama dengan kaki kanannya, ketika Zendo hendak memukul Kuroro lagi, tangan Zendo dihentikan rantai Kurapika.

"kurapika!" seru Zendo, saat melihat Kurapika di sana dengan mata merah menyilaukan.

Kuroro memicingkan matanya karena menghindari dari yang mengalir agar tidak masuk ke matanya. Ia tersenyum melihat kekasihnya. Padahal Kuroro sudah menyiapkan senjata terakhirnya untuk melawan Zendo, Indoor Fish. Ia sedang mengumpulkan nen yang tersisa dan cukup untuk membentuk indoor fish yang cukup kut. Hatinya terasa tercekat melihat betapa pucat wajah Kurapika, wajah yang berkulit putih itu, kontras dengan lingkarandi sekeliling matanya yang indah berwarna scarlet. Rambutnya agak memanjang sekarang, ia benar-benar cantik, tapi juga mematikan.

"Jangan macam-macam Zendo! Aku tak segan melawanmu kalau kau menyentuh Kuroro lagi!"

"aku akan membunuh jahanam itu"

"kalau begitu, hadapi dulu aku!

"baiklah!"

Kurapika menarik rantainya dari Zendo dan membentuk rantainya dengan kekuatan penuh, emperor time, matanya yang indah berkilau sangat terang dan bercahaya, mengundang kekaguman tiga pasang mata di ruangan itu. Mereka bertarung sangat sengit, sudah bisa dipastikan Kurapikalah yang menang, saat Zendo terjatuh dengan serangan Dynamite Chain Kurapika yang mematikan. Zendo bahkan tak sanggup lagi untuk bergerak, tulang-tulangnya terasa remuk. Jika orang biasa menerima serangan itu, dia akan langsung mati seketika. Ia tak pernah menyangka kalau Kurapika sekuat itu. Lalu ia teringat cerita dari Ares, bahwa sekali dulu, Kurapika pernah berhasil menyegel nen Kuroro, meski dengan sedikit keberuntungan, tak akan mudah bagi siapapun menyentuh bahkan menyegel nen pimpinan Geneiryodan itu. Kurapika menghancurkan rantai belenggu Kuroro, Kuroro langsung ambruk ketika akhirnya belenggu itu terlepas. Kurapika menahan Kuroro, "Kuroro bertahanlah" kurapika memeluknya di pangkuannya. Ia membelai rambut kuroro yang menutupi dahinya, darahnya mengucur deras membasahi tangan Kurapika, Kurapika membuka lilitan kain di dahi pria itu.

Saat itu Shenron dan Ares muncul, karena salah seorang pengawal melihat keributan di ruang bawah tanah dan melaporkannya pada mereka. Shenron berang melihat putranya babak belur, terkapar di tangan sang putri mahkota. Tanpa pikir panjang ia segera menghunus pedang, dan mengarahkannya pada Kurapika. Ia telah kehilangan Chronos, putra tertuanya di tangan putra mahkota, dan ia pun tak mau kehilangan Zendo, meski itu berarti ia harus membunuh Kurapika sang putri mahkota, putri dari pembunuh anaknya yang juga telah menyebabkan istrinya tercinta meninggal.

"papa!" "Shenron!" teriak Ares dan dan Zendo bersamaan, Kuroro melihat Shenron yang mengayunkan pedangnya di belakang Kurapika, segera bergerak dengan sisa tenaga yang ia milikki. Ia menari Kurapika, menggantikan posisi Kurapika, hingga punggungnya lah yang menerima tebasan pedang itu, darah Kuroro Muncrat memerciki wajah Kurapika dan Shenron. Mata Kurapika terbelalak, Kuroro langsung tak sadarkan diri, darah menggenang dengan cepat.

"kuroro, kuroro!" Kurapika menangis hebat, ia membelai rambut Kuroro, hingga helaian rambut itu menyingkap dari dahinya, dan Ares serta Shenron pun terkejut, terbelalak melihat tanda di dahi itu. Kurapika segera mengeluarkan holy chainnya, mengobati Kuroro, Membuat orang-orang yang ada di ruangan itu takjub melihat kekuatan Kurapika yang diluar dugaan. Luka-luka di sekujur tubuh Kuroro menghilang, tulang-tulang yang patah telah kembali normal. Tapi Kuroro masih pucat dan dalam kondisi pingsan.

"Kuroro!" Kurapika mengguncang tubuh Kuroro di pangkuannya. Areslah yang pertama kali pulih dari syoknya dan menghampiri Kuroro, memeriksa denyut nadi pria itu yang melemah.

"shenron, bantu aku membawa Kuroro. Ryo panggilkan dokter kerajaan segera. Kurapika sembuhkan Zendo. Kuroro akan ku tangani. Jangan khawatir dia akan baik-baik saja"

Kurapika mengangguk, Ryo segera pergi, Shenron dan Ares menggotong Kuroro yang ditempatkan di kamar Kurapika.

"dia dehidrasi berat, dan meskipun luka-lukanya sembuh secara ajaib, ia telah kehilangan banyak darah, ia bisa mati kalau tidak cepat transfusi"

"darah ku sama seperti darahnya AB" kata Kurapika, dokter mengangguk, lalu meminta Kurapika berbaring disamping Kuroro, ia menusuk lengan Kurapika dengan jarum,lalu membentuk selang yang terbuat dari nennya, hingga darah Kurapika mengalir ke selang transparan itu, selang itu tersambung ke tangan Kuroro. Setelah selesai, Kurapika benar-benar merasa lemah, dan lesu. Kepalanya pusing, lalu iapun tak sadarkan diri. Walau bagaimanapun ia telah menggunakan emperor time, dan menyumbangkan darahnya untuk Kuroro.

"tak apa mereka harus cukup istirahat. Biarkan saja dulu" kata dokter yang bernama Giru itu, menjawab pertanyaan yang tak terucap di mata Ares dan Shenron. Lalu ia memasang alat infus ke lengan Kuroro, memasukkan cairan ke tubuhnya.

"sebaiknya kita biarkan dia istirahat"

Ares mengangguk. Lau mereka keluar kamar, menemui Shenron yang mnampak pucat menunggu dibalik pintu.

"yang mulia, pemuda itu.."

Ares mengangguk, "kita akan cari tahu setelah ia sadar"

Shenron pun mengangguk.

Sehari Kurapika tertidur, dan menemukan Kuroro di sampingnya, ia tersenyum lega dan bahagia, lalu membelai pipi pucat pria itu. Kemudian dengan ragu mencium keningnnya. Kemudian pergi dari kamarnya, karena ia merasa sangat lapar. Baik Ares, Zendo maupun Shenron tidak mengatakan apapun, membuat Kurapika merasa lebih baik. Sore harinya Kuroro sadar dan ia tersenyum begitu ia membuka mata dan melihat Kurapika duduk di sampingnya.

"kau idiot, seharusnya kau tidak melakukannya!"

"aku mati jika kau mati" sahut kuroro datar

"tapi kemungkinan besar kau pun akan mati waktu itu!"

"kematianku diinginkan orang banyak, tapi tidak dirimu"

"tapi aku tidak mau kau mati, kecuali di tanganku!" kurapika cemberut, dan kuroro tahu Kuroro merindukkan Kurapika yang cemberut seperti itu, hatinya terasa hangat.

"aku haus"

"tunggulah sebentar"

Kurapika mengambil minuman yang terletak di atas meja dan membantu Kuroro untuk meminumnya.

"aku lapar"

"ah nafsu makan mu bagus sekali untuk ukuran orang sakit sepertimu"

"aku tidak sakit"

"terserah kau saja" Kurapika tersenyum lalu berjalan keluar

"mau kemana?"

"kau ingin makan bukan?" lalu Kurapika keluar dan menemukan Ares dan Shenron di balik pintu

"dia sudah sadar?"

"sudah, kalian mau apa?" tanya Kurapika defensif

"aku ingin menemuinya"

"tidak, kau tidak boleh menemuinya kek! Kau pasti akan mencelakainya lagi"

"kau tidak percaya padaku?" tanya Ares

"aku percaya padamu kek, tapi tidak dengan dia! Dia hampir membunuh ku dan Kuroro" Kurapika menatap tajam Shenron, shenron hanya menatap dengan pandangan kosong pada Kurapika.

"hanya aku yang akan menemuinya" kata Ares

"baiklah kalau begitu"

Ares melangkah masuk, dan mendapati Kuroro sedang duduk melepas selang infusnya.

"kenapa kau melepaskannya?" tanya Ares

"aku sudah merasa lebih baik"

"ya, kau memang bukan sembarang manusia bukan?"

"yang mulia, aku akan menikahi Kurapika"

"memangnya siapa kau pikir dirimu?"

"aku Kuroro Lucilfer, leader Geneiryodan aka Phantom Troupe, grup kriminal ranking s"

"bagaimana aku tak menginzinkannya?"

"itu bukan masalah, aku hanya masih menghormati sebagai kakeknya. Jika kau tidak mengizinkannya, kami akan pergi dengan atau tanpa izinmu. Dan kami sanggup melakukannya."

"aku tahu" kata Ares datar, lalu ia memberikan selembar foto pada Kuroro. Kuroro menatap wajah di foto itu. Bagaimana ia bisa melupakan wajah itu? Pikir Kuroro, ia hanya tidak tahu apa hubungan pria di foto itu dengan dirinya. Pria itu berambut hitam bermata abu, pria yang sama dengan pria yang telah meninggalkannya di Ryuseigai. Hanya itu saja yang ia ingat, ia hanya berumur tiga tahun kala itu.

"kau kenal dia?"

"dari mana kau mengetahui pria ini?"

"aku anggap kau mengenalnya, namanya Maxi, dia adalah seorang jendral perang yang sangat loyal pad putraku. Putraku memberontak, karena tidak terima posisinya sebagai calon raja tergantikan oleh anak yang baru lahir dari istri seorang panglima, karena anak tersebut memiliki tanda suci titisan dewa perang, sekaligus bapak dari bangsa Kuruta. Anak yang memiliki tanda inilah yang berhak menjadi raja, karena jika seorang Kuruta lahir dengan tanda ini, maka kemampuannya melebihi kemampuan manusia biasa, bahkan memiliki kemampuan lebih daripada anak yang terlahir dengan mata merah. Setelah tiga tahun dalam perencanaannya melenyapkan anak itu, akhirnya putraku menyiapkan eksekusi dengan rapi, ia menculik dan membunuh anak itu bahkan tanpa jasad ditemukan. Ibu dari anak itu tak pernah percaya bahwa anaknya telah mati, karena belum melihat jasadnya. Dan akhirnya ibu anak itu meninggal, karena penderitan, tanpa istirahat, makan dan meminum. Tiap hari menangisi putranya bahkan mengabaikan Zendo adik dari anak itu. Setelah terbongkar putraku serta jendral Maxi melarikan diri ke Rukuso. Krysan putriku ikut melarikan diri bersama tunangannya jendral Maxi. Di sisi lain aku merasa bersalah karena tak bisa menghukum putraku, di sisi lain aku merasa lega karena aku tidak harus membunuh darah dagingku sendiri. Sampai aku mendapat kabar tentang pembantaian suku Kuruta di Rukuso, yang ternyata menyisakan satu orang yaitu cucuku, Kurapika. Sungguh ironis bukan? Secara tidak langsung, kau telah membalaskan dendam mu dengan membantai mereka."

Kuroro tersenyum miris lalu tertawa, terdengar suara piring dan sendok terjatuh, di sana Kurapika berdiri menjatuhkan sajian untuk Kuroro.

"apa maksudnya semua ini kek?"

"cucuku Kurapika, anak itu, calon raja yang memiliki tanda khusus itu adalah Kuroro Lucilfer. Tanda di dahinya itu"

Mata Kurapika terbelalak tak percaya.

"yang mulia bisa tinggalkan kami berdua?" pinta Kuroro ares mengangguk lalu pergi.

Sungguh ironis, benar kata kakekknya, bahwa secara tidak langsung, Kuroro telah membalaskan dendam, Kuroro telah membantai keluarganya, tapi ayah dan pamannya dulu yang telah berusaha menyingkirkan Kuroro, membuatnya terpaksa hidup di Ryuseigai yang keras. Tapi Kurapika sendiri masih tidak engerti, kalau begitu, Kuroro sebenarnya tahu bahwa ayah Kurapika yang telah 'membunuhnya' dulu. Lalu tiba-tiba sebuah kecupan lembut di bibir Kurapika, mengembalikannya ke alam sadar.

"Kuroro, aku masih belum mengerti, bukankah ayahku yang membunuhmu? Dan saat kau membantai keluargaku,kau pasti mengenal ayah ku bukan?"

"Entah tidak tega atau ia punya rencana lain, ayahmu sama sekali tidak membunuhku. Dia yang membawaku ke Ryuseigai dan membuangku di sana. Hanya sekeping memori dalam otakku yang berhasil menyimpan satu memori itu, yaitu wajah ayah mu yang menyiratkan rasa bersalah dan penuh penyesalan saat meninggalkanku di Ryuseigai. Aku tidak membencinya sama sekali, karena naluriku berkata bahwa sebenarnya ia tak ingin melakukannya. Di Rukuso bukan aku yang membunuhnya, tapi Uvogin, saat aku melihat mayatnya waktu itu, aku tidak tahu bahwa itu adalah ayahmu, aku langsung memeriksa apa dia masih hidup atau mati, tap matanya yang telah dicongkel, hampir mustahil ia selamat. Waktu itu aku pikir, aku tak akan pernah menemukan siapa diriku yang sebenarnya, siapa keluargaku dan kenapa pria itu membuangku, karena pria itu telah tewas. Aku pun membuang jauh-jauh keinginanku untuk mencari tahu. Sampai saat kita ditangkap dua penculik idiot itu"

"maafkan aku"

"maaf?"

"karena pamanku dan ayahku, kau.."

"aku dn gang ku yang telah membantai keluargamu. Maafkan aku, tapi sedikitpun aku tidak menyesalinya"

"bagaimana mungkin bisa kau tidak menyesalinya?" Kurapika mengernyitkan alisnya

"karena jika aku, tidak membantai mereka, aku taka pernah bertemu denganmu, kau tak akan memburuku. Hiduomu akan damai di rukuso. Kau akan menikahi orang yang ada di rukuso, pairo kah namanya? Kau akan memiliki keluarga dan suami yang normal"

Kurapika menghela napas kemudian tersenyum, "aku ingin memulai kehidupan ku yang baru dengan mu"

"keinginanmu terkabul" kuroro tersenyum, kemudian ia menutup jarak yang tersisa antara bibir mereka.


Akhirnya selesai juga ficnya, semoga kalian menyukainya. Maaf ya kalau ga puas sama endingnya. Tapi author mau bikin epilognya setelah chapter ini. Makasih buat support nya ya! Makasih banget yah! arigatou