Disclaimer :
Detektif Conan milik Aoyama Gosho
Catatan Penulis :
Terima kasih kepada GeeSouSan, uyab4869, Lala, Citra Zaoldyeck, Tika, dan Acchan48.
Selamat membaca dan berkomentar!
Aku Memilihmu
By Enji86
Chapter 14 – Kejahatan Kedua
Ai berbaring telentang di tempat tidurnya lengkap dengan selimut sampai dadanya sementara Shinichi berbaring miring di sebelahnya dengan tangan menumpu kepalanya. Ada guling diantara mereka berdua. Shinichi menatap Ai sambil tersenyum sedangkan Ai menatap Shinichi dengan geli. Dia tahu Shinichi sedang menggodanya. Kalau tidak, untuk apa Shinichi bertelanjang dada di depannya. Tapi sayangnya dia tidak akan tergoda. Dia sudah pernah melihat yang jauh lebih seksi daripada Shinichi.
"Hei Haibara," ucap Shinichi.
"Hmm," sahut Ai.
"Apa aku muda?" tanya Shinichi.
"Maksudmu?" Ai balik bertanya.
"Jawab saja," sahut Shinichi.
"Bukankah kau sudah tahu jawabannya? Kenapa kau bertanya padaku?" tanya Ai dengan kening berkerut sehingga Shinichi menjadi cemberut.
"Kau tidak akan membuat ini mudah bagiku, ya kan?" sahut Shinichi dengan bersungut-sungut sehingga Ai tertawa geli.
"Baik, baik. Aku akan melakukan seperti yang kau inginkan. Jadi apa yang harus kulakukan?" ucap Ai.
"Jawab saja pertanyaannya, oke?" ucap Shinichi.
"Oke," sahut Ai.
Senyum pun kembali menghiasi wajah Shinichi.
"Apa aku muda?" tanya Shinichi.
"Sepertinya belum ada uban di kepalamu jadi aku rasa jawabannya iya," sahut Ai sambil nyengir.
Shinichi hanya tertawa garing lalu melanjutkan pertanyaannya.
"Apa aku berprestasi?" tanya Shinichi.
"Kau Gubernur Tokyo jadi aku rasa iya," jawab Ai dengan kening berkerut. Dia mulai bertanya-tanya kenapa Shinichi mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini.
"Apa aku tampan?" tanya Shinichi sehingga mata Ai membesar.
Akhirnya Ai mengerti apa maksud Shinichi sehingga dia tertawa kecil. Dia kemudian bangkit dan mencium Shinichi.
"Apa ini berarti aku tipe pria idamanmu?" tanya Shinichi sambil nyengir setelah mereka selesai berciuman. Ai menjawabnya dengan ciuman lagi.
Setelah beberapa saat, Ai menghentikan ciuman mereka.
"Kau tahu, ini memang menyenangkan, tapi aku harus tidur untuk kecantikan," ucap Ai. Kemudian dia kembali berbaring dan bersiap untuk tidur.
"Tapi kau sudah cantik," ucap Shinichi dengan kening berkerut. Dia ingin lebih banyak ciuman.
"Aku tahu. Makanya aku harus mempertahankannya, kan?" ucap Ai sambil nyengir. Kemudian dia menguap dan memejamkan matanya.
Shinichi pun menghela nafas. Wanita ini bisa membuatnya gila kapan saja. Dia pun menatap wajah Ai yang sepertinya sudah tidur dan senyum kembali menghiasi bibirnya. Apapun itu, dia memang menyukai Ai dan dia yakin Ai memiliki perasaan yang sama, jadi semua itu tidak masalah, ya kan?
Sementara itu, seseorang yang berada di apartemen Ai menelepon Eri dan memberitahu bahwa Shinichi menginap di apartemen Ai. Eri menutup teleponnya dengan geram dan membantingnya ke tempat tidur.
"Like father, like son, huh?" ucap Eri dengan geram. Kemudian pikirannya berpindah pada Ai. "Wanita jalang itu belum kapok juga rupanya," gumamnya dengan penuh kemarahan. Dia pun kembali mengambil handphone-nya dan menelepon seseorang. "Kau harus melakukannya besok," ucapnya.
XXX
Ai berusaha keras menghentikan para preman yang sedang mengacak-acak dagangannya. Dagangan itu adalah tugas sekolahnya dan kalau dia tidak mencapai target dia bisa tidak lulus. Tapi Ai kalah jumlah dan kalah kuat. Salah satu preman itu mendorongnya sampai jatuh sebelum kembali menghancurkan kiosnya. Setelah semua hancur, dua orang preman menyeretnya ke arah sungai yang ada di dekat situ dan melemparkannya ke sungai dari atas pagar yang membatasi sungai dan tepi jalan.
Mata Ai membesar dalam ketakutan saat dia dilemparkan ke sungai karena dia tidak bisa berenang. Saat dia berusaha keras untuk tetap mengapung sambil berteriak minta tolong, dia mendengar para preman itu tertawa terbahak-bahak.
"Eat that, bitch," ucap salah satu preman itu.
Di dalam keputusasaannya, Ai bertanya-tanya kenapa hidupnya tidak pernah mudah. Ibunya sudah pergi untuk selamanya sebelum dia sempat mengenalnya. Ayahnya mengirimnya keluar negeri dan memberinya identitas baru sebagai tradisi keluarga jadi dia benar-benar putus kontak dengan ayahnya dan harus hidup sendiri di negeri orang. Ayahnya juga menuntutnya untuk menjadi yang terbaik di sekolahnya agar dia bisa kembali pulang. Belum lagi ninja guardiannya yang membencinya sehingga dia membebaskannya untuk pergi kemanapun yang dia inginkan. Dan jangan tanya tentang teman-teman sekolahnya. Mereka semua tukang bully karena mereka mengira dia dari keluarga biasa-biasa saja. Dan yang paling parah dari semuanya adalah Vermouth dan Rye. Dia benci mereka berdua. Tugas sekolahnya pun hampir membuatnya gila.
Ai merasa lemas. Mungkin memang sebaiknya begini. Mungkin saja dia bisa bertemu dengan ibunya dan berbahagia bersamanya, meskipun dia agak menyesal belum bertemu dengan Subaru lagi. Ya, hanya Subaru-lah satu-satunya orang yang menyayanginya di dunia ini.
Ai menutup matanya sementara dia mulai tenggelam. Lalu kesadarannya perlahan-lahan menghilang. Namun sebelum dia kehilangan kesadaran, dia merasa tangannya dipegang oleh seseorang. Orang itu lalu menariknya ke atas sampai ke permukaan sungai.
Ai merasa seperti sedang bermimpi ketika Rye menggendongnya dari sungai ke daratan. Mereka saling membenci satu sama lain jadi bagaimana mungkin Rye ada di sini dan menjadi pahlawan baginya.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Rye.
Ai hanya menjawabnya dengan anggukan. Rye mendudukkan Ai di jok sepeda motornya, lalu memakaikan Ai jaketnya yang tergeletak di dekat sepeda motornya.
"Aku akan mencari taksi lalu kita akan pergi ke dokter," ucap Rye. Namun ketika dia akan beranjak pergi, Ai memegang lengannya untuk menahannya.
"Aku ingin pulang," ucap Ai.
"Tapi...," ucap Rye.
"Terima kasih atas bantuanmu, tapi aku harus pulang sekarang," ucap Ai. Dia mencoba turun dari sepeda motor tapi Rye menahannya.
"Baik, baik. Tapi biarkan aku mengantarmu, oke?" ucap Rye.
Ai pun mengangguk dan Rye langsung naik ke sepeda motornya. Sebelum mereka melaju, Ai menyadari para preman yang tadi mengganggunya sudah bergelimpangan di dekat sungai.
"Berpeganganlah padaku. Kalau tidak, kau bisa jatuh," ucap Rye.
Dengan ragu-ragu Ai melingkarkan tangannya di pinggang Rye.
"Pegangan yang erat," ucap Rye lagi.
Ai pun mempererat pegangannya tapi Rye malah berseru kesakitan sehingga Ai refleks melepaskan pegangannya.
"Maaf tentang itu," ucap Rye dengan wajah datar saat dia menoleh ke Ai. Dia lalu memegang kedua tangan Ai dan melingkarkannya di pinggangnya.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Ai dengan khawatir. Dia punya dugaan bahwa para preman yang bergelimpangan itu ada hubungannya dengan Rye.
"Aku pikir kau sebaiknya mengkhawatirkan dirimu sendiri, Sherry. Mungkin kalau kau lebih pintar, kau bisa menyelamatkan dirimu sendiri daripada melakukan perlawanan yang sia-sia," sahut Rye dengan nada mengejek.
Ai pun tertegun sejenak sebelum akhirnya tertawa kecil. Jika ini adalah hari-hari mereka yang biasanya, Ai mungkin sudah berlari menjauh untuk menangis di suatu tempat karena ejekan Rye. Tapi kali ini dia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum, karena kata-kata Rye memang benar.
Rye pun ikut merasa heran terhadap reaksi Ai sehingga dia mengerutkan keningnya. Dia juga mengerutkan keningnya pada dirinya sendiri. Laki-laki dimana-mana selalu mengatakan hal-hal manis pada wanita yang disukainya, namun dia malah melakukan kebalikannya. Yah, dia memang patah hati saat dia tahu Ai berkencan dengan Gin makanya dia bersikap begini. Tapi sialnya, meskipun Ai sudah putus dengan Gin, dia tidak juga bisa mengubah sikapnya pada Ai.
Ketika Ai turun dari sepeda motor sesampainya di parkiran apartemennya, dia bisa melihat bahwa wajah Rye sebenarnya babak belur.
"Ayo masuk. Aku akan mengobatimu," ucap Ai.
"Aku baik-baik saja. Terima kasih," ucap Rye dengan sinis. Namun Ai memegang lengannya dan menatapnya dengan pandangan memerintah sehingga Rye mengerang dan turun dari sepeda motornya.
Ai mengobati Rye dalam diam. Sesekali terdengar suara erangan tertahan Rye, namun selain itu hanya ada keheningan. Ai pun bertanya-tanya bagaimana Rye bisa menahan semua ini, padahal memar bertebaran di sekujur tubuhnya. Lalu tanpa terasa, air mata jatuh dari matanya.
Ai pun kaget. Begitu juga dengan Rye.
"Ada apa? Apa kau merasa sakit? Aku sudah bilang agar kau pergi ke dokter, tapi kau keras kepala," omel Rye.
"Aku baik-baik saja. Aku hanya terbawa perasaan sepertinya," ucap Ai.
"Terbawa perasaan? Apa maksudnya itu?" tanya Rye dengan nada masih kesal.
"Kau terluka karena aku, makanya...," gumam Ai pelan sehingga mata Rye membesar. "Maaf," lanjut Ai sambil mengalihkan pandangannya.
Rye memegang kedua pundak Ai sehingga Ai kembali menatap Rye dengan agak terkejut.
"Jadi kau menangis karena aku terluka?" tanya Rye.
"Aku rasa begitu. Aku juga tidak mengerti kenapa," sahut Ai. Dan jantungnya pun berdebar saat Rye tersenyum cerah padanya. Dia tidak pernah melihat Rye tersenyum sebelumnya. Dia pun semakin kaget karena Rye memeluknya. Dia mencoba melepaskan diri tapi Rye memeluknya dengan erat.
"Kau tahu, aku ini laki-laki yang bodoh, makanya aku selalu bersikap buruk padamu. Tapi sejujurnya...," ucapan Rye terhenti. Dia benar-benar takut, namun ada suara lain di hatinya yang terus menyemangatinya karena dia mungkin tidak akan mendapatkan kesempatan ini lagi. Dia pun menguatkan dirinya.
Sementara itu Ai sendiri sudah berhenti meronta. Dia begitu bingung dan juga penasaran tentang apa maksud Rye dengan semua ini. Dia pun menunggu Rye melanjutkan perkataannya.
"Aku... menyukaimu, Sherry," lanjut Rye pelan.
Mata Ai pun terbelalak. Ini benar-benar gila. Mereka berdua saling membenci satu sama lain, jadi bagaimana bisa semua ini terjadi? Dia benar-benar tidak tahu bagaimana harus bereaksi jadi dia memilih diam.
Rye lalu melonggarkan pelukannya untuk menatap mata Ai. Salah satu tangannya memegang pipi Ai dan mengusapnya dengan lembut. Lalu dia mendekatkan wajahnya pada wajah Ai dan menempelkan bibirnya ke bibir Ai.
Ai terbangun dengan tiba-tiba dan langsung terduduk. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dia tidak mengerti kenapa dia harus mendapatkan mimpi itu. Dia menurunkan tangannya dan menoleh pada Shinichi yang masih tidur.
"Senyummu dan senyumnya selalu bisa melelehkan hatiku. Sayangnya, senyum itu tidak akan pernah jadi milikku," ucap Ai dalam hati dengan sedih.
Ai lalu bangkit dari tempat tidur dan keluar kamar. Tak lama kemudian, Shinichi terbangun karena mencium aroma kopi seperti yang terjadi di iklan-iklan kopi.
XXX
Kaito keluar ke balkon apartemennya sambil meregangkan badannya. Hari itu lumayan cerah. Akan menyenangkan kalau dia bisa berjalan-jalan ke taman bersama Ran. Mungkin itu bisa menghibur Ran yang sedang galau belakangan ini. Shinichi sudah berhenti menemui Ai, tapi Ran masih tidak bisa tenang.
Kaito menatap jalanan di bawahnya dan dia melihat Ai ada di sana berjalan sambil menenteng koper. Dia pun mengerutkan keningnya. Mau kemana Ai dan kenapa Ai membawa koper? Lalu sebuah mobil van berhenti di dekat Ai dan penumpang van itu menarik Ai dengan paksa agar Ai masuk ke dalam van. Setelah Ai masuk, van itu langsung tancap gas.
Mata Kaito pun terbelalak melihat kejadian itu. Tanpa pikir panjang, dia melompat dari balkon apartemennya di lantai 3 ke jalan. Dia memang kelihatan malas-malasan saat di desa ninja, tapi dia sebenarnya punya kemampuan ninja yang cukup mumpuni. Dia mendarat agak kurang mulus, namun dia tidak punya waktu untuk merasa kesakitan.
Kaito lalu mencegat seorang pengendara motor dan mendorong pengendara itu dari motornya sampai jatuh. Setelah itu, dia menaiki motor itu dan langsung tancap gas untuk mengejar van yang dinaiki Ai tadi. Van itu menghilang di kompleks pergudangan tua yang sudah tidak terpakai sehingga Kaito menjadi panik. Dia khawatir dia akan terlambat kalau harus memeriksa semua gudang yang ada disitu. Handphone-nya juga tertinggal di apartemen sehingga dia tidak bisa melacak Ai dengan GPS.
Saat Kaito sedang memutar otak, dia tiba-tiba teringat salah satu pelajaran di desa ninja bahwa ninja guardian itu terhubung dengan tuannya karena mereka terikat dengan perjanjian darah. Kalau itu benar, dia pasti bisa tahu lokasi Ai. Dia pun menutup matanya dan memusatkan konsentrasinya. Dia mulai putus asa ketika tiba-tiba dia merasakan sesuatu. Dia pun membuka matanya dan kembali mengendarai sepeda motornya. Dia memang tidak tahu kemana dia akan pergi, tapi dia merasa hatinya akan menuntunnya.
Kaito berhenti di depan sebuah gudang tua dan langsung masuk ke dalam dengan mendobrak pintu depan. Disana dia melihat Ai yang sudah tidak mengenakan sehelai benang pun dikerubungi beberapa orang lelaki. Satu diantaranya sedang memaksa Ai melakukan oral seks. Amarah langsung menguasai Kaito dan dengan hanya satu gerakan, para penjahat yang menatapnya dengan kaget tadi langsung terhempas dan jatuh bergelimpangan.
Kaito langsung menghampiri Ai sambil mengeluarkan jubahnya dari dalam bajunya. Pada awalnya Ai meronta saat dia mencoba memakaikan jubahnya pada Ai, namun setelah dia berhasil menyadarkan Ai bahwa dia adalah Kaito, bukan penjahat, Ai pun berhenti meronta dan mulai menangis. Tangis Ai begitu sedih dan Kaito merasa hatinya hancur berkeping-keping. Dia pun berlutut di depan Ai dalam diam dan air matanya jatuh tanpa bisa dia tahan.
Kaito pun akhirnya sadar bahwa dia tidak seharusnya membenci Ai. Seharusnya dia tetap melindungi Ai sebagai ninja guardian. Sudah menjadi tugas seorang kakak laki-laki untuk melindungi adik perempuannya, bukan? Satu-satunya orang yang harus dia benci adalah ayah mereka yang tidak mau mengakuinya sebagai anak dan membuangnya ke desa ninja. Lalu dengan teganya menugasinya menjadi ninja guardian adiknya yang akan menjadi pewaris bisnis ayahnya.
Kaito masih ingat bagaimana masa kecilnya yang tidak menyenangkan di desa ninja. Dia kerap di-bully karena tidak punya ayah. Tidak ada yang tahu siapa ayahnya, termasuk dirinya dan dia tidak bisa bertanya pada ibunya karena ibunya membencinya. Hingga suatu hari dia mendengar para tetua bergosip bahwa kemungkinan dia adalah anak dari tuan ibunya, yaitu ayah Ai karena hanya ayah Ai saja yang selalu bersama ibunya. Karena itulah Kaito berpikir bahwa ayah Ai adalah ayahnya yang tidak mau mengakuinya karena dia terlahir dari seorang ninja. Dan hal itu mendorongnya untuk membenci Ai juga.
Kaito terlonjak kaget ketika dia merasakan kehadiran orang lain di gudang itu. Dia pun menoleh dan melihat Subaru dan ibunya. Subaru dengan secepat kilat melewati Kaito dan menghampiri Ai dengan wajah cemas.
Ai menatap Subaru dengan berlinang air mata kemudian pingsan dan Subaru menangkapnya dengan sigap.
"Kalau sesuatu terjadi pada Ojou-sama, aku tidak akan memaafkanmu," ucap Subaru dengan dingin.
Kaito tidak menanggapi ucapan Subaru dan hanya diam saja sambil menatap Ai.
Subaru lalu bangkit sambil menggendong Ai.
"Chikage-san, aku akan membawa Ojou-sama pulang. Apa kau bisa mengurus ini semua?" tanya Subaru.
Chikage yang dari tadi hanya terdiam di tempatnya tersadar oleh kata-kata Subaru.
"Seharusnya aku yang akan membawa Shiho-sama pulang. Tapi kalau kau menginginkannya, kau bisa melakukannya. Aku akan mengurus yang disini," sahut Chikage sambil tersenyum kecil.
Chikage benar-benar terkejut melihat aksi Subaru karena Subaru terlihat sangat peduli pada Shiho. Banyak pertanyaan bermunculan dalam pikirannya, namun akhirnya dia memilih untuk mengacuhkannya karena itu bukan urusannya.
"Terima kasih banyak, Chikage-san," ucap Subaru. Lalu dia mengangguk dengan hormat pada Chikage sebelum meninggalkan gudang tua itu.
Chikage menghela nafas dan menatap Kaito yang masih berlutut dengan wajah masam. Dia sudah lama tidak bertemu Kaito dan melihat Kaito yang sangat mirip dengan ayah Kaito membuatnya semakin membenci darah dagingnya itu.
"Ibu...," ucap Kaito.
"Jangan bicara padaku. Subaru-kun sudah menceritakan semuanya. Hukuman berat sudah menunggumu," ucap Chikage dengan dingin.
"Kita sudah lama tidak bertemu tapi kenapa...," ucapan Kaito dipotong oleh Chikage.
"Kau hanya bisa membuatku malu, sejak dalam kandungan sampai kau sudah dewasa seperti ini. Tapi aku tidak heran, mengingat ayahmu adalah seorang bajingan," ucap Chikage tajam.
Mata Kaito terbelalak karena terkejut. Apa dia tidak salah dengar? Ibunya barusan mengatakan bahwa ayahnya adalah seorang bajingan? Sepanjang yang dia tahu, ibunya sangat menghormati Atsushi Miyano dan rela mati untuknya. Jadi kenapa sekarang ibunya bisa berkata begitu.
Kaito sudah akan membuka mulutnya lagi, tapi kemunculan kepala desa ninja dan beberapa ninja yang dikenal sebagai satpol PP ninja membuatnya mengurungkan niatnya.
"Aku benar-benar berharap banyak darimu, Kaito-kun, saat kau terpilih menjadi ninja guardian bagi Shiho-sama. Tapi akhirnya malah jadi begini, huh?" ucap Kepala Desa Ninja. Dia lalu menoleh pada para satpol PP ninja yang datang bersamanya. "Tangkap dia," ucapnya.
"Baik," ucap para satpol PP ninja itu secara serempak.
Kaito pun tidak melawan dan membiarkan dirinya ditangkap.
Sementara itu, Shinichi yang mendatangi apartemen Ai dengan gembira sepulang kantor menjadi panik ketika dia tahu bahwa Ai telah pergi dengan membawa semua barang-barangnya. Dia langsung pergi ke apartemen Kaito dan menggedor pintunya, tapi tidak ada yang membukakan pintu, yang berarti Kaito sedang tidak berada di apartemennya.
Shinichi pun menendang pintu apartemen Kaito dengan frustasi.
"Kenapa kau tidak percaya padaku, Haibara? Kenapa?" tanya Shinichi dalam hati dengan penuh kepahitan.
Bersambung...
Balasan komen...
GeeSouSan : semua pertanyaanmu pasti akan terjawab seiring berjalannya cerita. XD
uyab4869 : iya, penulis juga alhamdulillah sudah mulai punya waktu untuk menulis lagi. XD
Lala : nggak kok, cuma seminggu lebih sedikit. XD
Citra Zaoldyeck : semoga saja. XD
Tika : penulis juga berterima kasih karena kamu sudah menyempatkan diri mengikuti cerita penulis. XD
Acchan48 : sama-sama. XD
