.
This is SASUHINA story with slight NARUHINA
.
Naruto belongs to Masashi Kishimoto
I own nothing but the storyline neither I earn anything from this story.
Alternative universe, out of character, grammatical and typos ARE WARNED!
.
.
.
.
Bintang bertabur bebas tanpa penghalang malam itu. Semua terlihat sama, tak ada yang bersinar lebih terang dari yang lainnya. Bintang-bintang itu terlihat mengantuk dengan kilau redupnya yang tak menambah apapun kecuali kesunyian malam itu.
Meski terlihat sama, Sasuke tak juga ingin mengalihkan pandangannya dari atas sana. Berusaha membaca apa yang langit katakan tentang hatinya. Dan suara dalam dirinya berbisik bahwa lebih baik memang seperti ini. Ini adalah yang terbaik. Apapun yang terjadi, pada akhirnya Hinata memang dijanjikan untuk lelaki lain. Seorang pangeran. Suara maya itu berusaha meyakinkan Sasuke, namun tetap ia tak bisa mencegah Sasuke untuk memikirkan skenario-skenario lain yang berisikan 'bagaimana jika...'.
Bagaimana jika saat itu Sasuke yang ada disana? Seberapa gaduh sorak dan tepuk tangan yang akan mereka terima? Sasuke bahkan tak yakin akan ada satupun yang melakukannya. Semua hadiah yang tertumpuk di kamar Hinata. Semua restu yang diterima Hinata dan Naruto untuk pertunangan mereka. Bagaimana jika itu Sasuke? Seberapa besar perbedaan yang akan terjadi?
Tidak, Sasuke tidak marah kepada Hinata soal Naruto. Ia menghindari Hinata karena lagi-lagi terlalu terpapar oleh realita. Tentang dirinya, tentang Hinata, tentang dunia mereka. Sasuke tidak marah terhadap Hinata, satu-satunya yang ia benci adalah dirinya sendiri karena tak bisa menjadi sempurna untuk Hinata.
"Sasuke?" suara Kiba merambat mulus melalui udara. Sasuke melepaskan punggungnya dari pilar yang menahannya tanpa memutuskan untuk berdiri dan menengok ke arah Kiba. "Apa aku perlu melihat keadaan ratu?"
Sasuke menghela nafas kembali menyandarkan tubuhnya ke pilar di belakangnya. Matanya berpindah menatap lentera yang menerangi juga menghiasi halaman taman itu. "Aku akan snagat berterima kasih jika kau berkenan melakukannya."
"Baiklah," jawab Kiba hendak berbalik dengan keraguan. Belum sepenuhnya ia membelakangi Sasuke, ia kembali memfokuskan diri kepada temannya itu. "Kau baik-baik saja?"
"Kenapa tidak?" gumam Sasuke sebagai jawaban, matanya masih tetap terserap memandang kilau cahaya oranye yang dihasilkan lentera.
"Uhh... aku melihat tuan putri Hyuuga datang menemuimu semalam. Dan dia... berlari setelah itu. Aku tahu kau bersamanya untuk beberapa waktu. Apa semua baik-baik saja?"
"Semuanya baik-baik saja."
Kiba menghela nafas. "Baiklah. Tapi jika kau membutuhkanku... Sasuke, kau adalah sahabatku, aku akan membantumu jika kau merasa sesuatu berjalan di luar jalurnya."
"Jadi apa yang kau ingin dengar dariku?" Sasuke masih tak menatap Kiba.
"Bukan sesuatu yang tidak kau ketahui, kurasa," jawabnya. "Tapi apapun itu... berhati-hatilah," lanjutnya sebelum berjalan menjauh.
Suasana di halaman itu kembali senyap, hanya suara serangga-serangga yang menekankan adanya kehidupan malam itu. Waktu terus terulur tanpa ingin Sasuke ketahui hingga tiap detik yang berlalu perlahan memberikan beban di kelopak mata Sasuke.
Lalu tiba-tiba suara ringan langkah kaki seseorang terdengar, membuatnya kembali terjaga sepenuhnya. Sasuke melongokkan kepalanya kemudian berdiri karena tak dapat menemukan sumber suara itu dalam keadaan duduk. Sasuke membalik tubuhnya ringan hanya untuk kemudian berhadapan dengan wajah pucat Hinata. Mata mereka terkunci secara otomatis, dan mungkin jantung mereka berdebar dengan kecepatan yang sama saat itu.
Hinata masih cukup jauh darinya. Namun ia masih bisa melihat wanita itu menggigit bibir bawahnya yang bergetar.
"B-bagaimana?" kesunyian membuat bisikan Hinata cukup sampai ke telinganya.
Sasuke meneguk liurnya sendiri,"Apa?"
"Menghabiskan malam dengan... wanita-wanita itu?" Hinata tak bermaksud mengungkitnya, namun entahlah, ia merasa emosinya bergejolak tak wajar ketika melihat Sasuke.
"Maksudmu para pelacur itu?" balas Sasuke tanpa menarik sedikitpun otot wajahnya untuk berekspresi.
"Aku... tidak menggunakan kata itu karena aku juga... tidur denganmu. Itu artinya..." gumam Hinata sangat hati-hati dan setiap kata yang ia ucapkan memberikan rasa sakit yang tiba-tiba untuk Sasuke.
"Jangan pernah membandingkan dirimu dengan mereka!" potong Sasuke tajam.
"Kenapa tidak? Baik mereka atau aku sama saja berusaha memenuhi kepuasanmu, bukan? Kau mungkin melihatku seperti salah satu dari mereka juga," tidak! Hinata tahu Sasuke tidak seperti itu!
Sasuke menahan dirinya untuk tak memotong jarak di antara mereka, tangannya terkepal menurunkan tiap didihan di tubuhnya. "Kau memang memiliki pilihan untuk tak mempercayaiku."
Bohong.
Benar-benar kebohongan level semesta. Sasuke tak pernah dan tak mungkin menyamakan Hinata dengan wanita manapun, terlebih jika itu wanita panggilan. Pemikiran itu tak pernah sekalipun terlintas di benaknya, ia bahkan membenci dirinya sendiri karena telah membuat Hinata berpikir demikian. Tapi tidak sekarang, Sasuke tidak ingin menjelaskan apapun sekarang.
"Itu bukan lagi hal besar," ujar Sasuke lagi. "Kau sendiri telah memiliki lelaki lain, bukan? Oh, tunggu..." tatapan Sasuke ringan, namun tajam. "Apa yang aku pikirkan? Dia bukan lelaki lain. Aku lah lelaki lain itu. Kau terikat padanya bahkan sebelum kita bertemu."
"Aku tak menciumnya. Dia yang melakukannya," sanggah Hinata
"Kau membiarkannya."
"Memangnya apa yang harus aku lakukan? Pertama kali itu terjadi aku mendorongnya."
"Saat yang pertama kali, kau tidak berniat memberitahuku."
"Baiklah, aku minta maaf," ujar Hinata pelan. "Aku tak memberitahumu lebih awal karena aku takut kau bereaksi seperti sekarang ini."
Sasuke menghela nafas panjang, matanya menatap Hinata sendu. "Tidak ada gunanya kita membicarakan hal ini lagi. Kapan pernikahanmu berlangsung?" balas Sasuke, membelokkan topik tanpa ragu.
"Sasuke, kumohon jangan seperti ini," suara Hinata bergetar bersamaan dengan pandangannya mulai mengabur.
"Setidaknya kau bisa mundur, Hinata," Sasuke menurunkan nada bicaranya. Ia benci ini, ia benci saat dirinya memaksa hatinya sendiri untuk menjauhi Hinata. "Aku tidak pernah membayangkanmu bersama lelaki lain. Itu menyakitkan. Sangat."
"Itu artinya kau tahu bagaimana perasaanku melihatmu bersama wanita-wanita itu semalam."
"Demi Tuhan, aku tak melakukan apapun!" potong Sasuke cepat.
Dan Sasuke mengatakan yang sebenarnya. Ia tak melakukan apapun malam itu. Sasuke bahkan tak menyentuh mereka. Malam itu, Sasuke hanya ingin Hinata pergi dari tempat itu, pergi darinya. Itulah kenapa ia membiarkan wanita panggilan itu mengikutinya setidaknya sampai Hinata tak terlihat.
Hinata menatap Sasuke namun tak mengatakan apapun, karena ia tak tahu apa yang harus ia katakan.
"Aku bahkan tak menyentuh mereka. Karena aku tahu letak kesetiaanku," lanjut Sasuke berusaha bersuara sedatar mungkin.
"Kau seorang prajurit," bisik Hinata, senyum sendu muncul di wajahnya. "Tentu kau tahu benar tentang kesetiaan."
"Dan kau tidak mengetahuinya karena kau seorang bangsawan?" pertanyaan itu muncul seperti pernyataan saat Sasuke mengucapkannya.
Hinata melangkah cepat ke hadapan Sasuke dan tanpa peringatan memeluk Sasuke dengan melingkarkan lengannya di leher lelaki itu. Sedangkan Sasuke masih berusaha menjaga tangannya agar tak terangkat memeluk balik Hinata.
"Jangan katakan hal itu, Sasuke. Kumohon, aku mencintaimu," Hinata runtuh dan membiarkan dirinya menangis memeluk Sasuke. "Aku mencintaimu," bisiknya lagi di sela isakannya.
"Kenapa kau selalu kembali, Hinata?" bisik Sasuke rendah, terdengar lelah.
"Aku... akan terus kembali padamu," Hinata membenamkan wajahnya di dada Sasuke, membuat suaranya terdengar seperti gumaman. "Jangan buat aku menjauh. Kumohon. Aku... maafkan aku. Aku tidak akan... melakukannya lagi. Maafkan aku."
Pengakuan Hinata membuat Sasuke akhirnya bergerak untuk membalas pelukan Hinata. Sasuke menunduk, merebahkan pipi kirinya di kepala Hinata sambil menariknya lebih dekat, membuat keduanya dapat merasakan detak jantung masing-masing. Ia mencoba menjauh, menahan dirinya. Tapi sekarang, dengan Hinata di pelukannya, lagi-lagi ia lemah.
"Tidak. Jangan meminta maaf," bisiknya lagi. Melihat Hinata seperti itu membuatnya sesak. Kenapa Hinata memohon padanya? Kenapa Hinata mau melakukan hal itu untuknya?
"Aku tidak... bermaksud untuk menyakitimu."
Sasuke tak juga melepaskan Hinata, ia membiarkan Hinata terus menangis di pelukannya, berharap itu dapat menenangkan wanita itu. Sasuke baru melepaskannya dan mundur dua langkah saat mendengar gema langkah yang terburu-buru di salah satu lorong menuju ke arah mereka.
"Sasuke!"
Lee muncul dengan berlari setelah jarak Sasuke dengan Hinata sudah terpisah beberapa langkah. Fokus prajurit itu mengarah ke Sasuke sebelum menyadari kehadiran Hinata disana. Ia hanya menunduk sedikit ke arah Hinata kemudian kembali menghadap Sasuke.
"Ada apa?" jawab Sasuke, mencoba tenang dan tak terbawa suasana yang baru ia rasakan.
"Yang Mulia memintamu hadir di ruang pengadilan sekarang," ujar Lee serius.
"Kenapa? Apa yang membuatnya memerlukanku di ruang pengadilan selarut ini?" Sasuke menaikkan alisnya.
"Aku tidak tahu pasti. Tapi sebaiknya kau bergegas, beberapa sudah berada disana."
Sasuke melirik Hinata sesaat dan menemukan kebingungan yang juga muncul di wajahnya. "Baiklah, kau bisa kembali," ujar Sasuke pada Lee sebelum berjalan balik menuju ruangan pengadilan.
"Sasuke!" Hinata mencoba mengejar langkah lebar Sasuke. "Kurasa ini karena Neji."
"Apa lagi yang dia lakukan sekarang?" respon Sasuke tanpa menurunkan kecepatan langkahnya.
"Tunggu!" Hinata meraih lengan Sasuke, mencoba membuatnya berhenti. "Neji mengatakan padaku tadi pagi bahwa ia meminta Shion menikahinya."
Sasuke mematung mencoba menelan kata-kata Hinata. "A-apa?"
Hinata menjilat bibirnya ragu. "Mereka... Neji dan Shion..."
"Ya Tuhan!" Sasuke melarikan telapak tangannya ke kening dan menyapukan rambutnya ke belakang. "Kau bercanda, bukan?!"
"Tidak. Maksudku... jangan marah. Neji mencintainya dan Shion juga menyukai Neji... kurasa."
Sasuke masih berdiri terdiam menatap Hinata dengan mata terkejut pernuh ketidak percayaan. Menikah? Neji? Kegilaan apa lagi ini? Ia tak pernah menangkap sinyal tentang hubungan Shion dan Neji selain asumsi bahwa mereka saling membenci.
Sasuke menghela nafas dan kembali bergegas menuju ruang pengadilan yang sudah tak jauh lagi dari tempatnya berdiri tadi.
Ia mendengar teriakan berat milik pria bahkan sebelum memasuki ruangan. Dan saat ia menapakan kakinya di dalam. Matanya otomatis mencari Shion. Dan ia menemukan Shion saat itu juga, berdiri dengan wajah tanpa ekspresi yang terlihat tenang namun juga terlihat lelah dalam waktu yang bersamaan.
Berbeda dengan Neji yang berdiri beberapa langkah di hadapan Shion membelakangi wanita itu. Bahkan jika lelaki itu menutup wajahnya dan hanya memperlihatkan kedua matanya, Sasuke dapat mengetahui kejengkelan dan kemarahan yang lelaki itu rasakan.
Suasananya semakin mencekam dengan barisan pengawal masing-masing kerajaan yang siap melompat dengan pedang di tangannya atas antisipasi jika keadaan tak dapat lagi terkendali melihat tangan Neji yang kini sudah siap mengangkat pedangnya dalam jarak yang stabil.
"Apa kau tidak melihatnya?! Wanita itu telah merayu anakmu!" umpat raja Kumo kepada Hiashi. "Kau! Jika kau sebegitu inginnya menyentuh lelaki, kenapa tak merayu orang-orangmu yang tak berguna itu!" kini umpatan hinanya mengarah ke Shion.
Hal itu cukup membuat lapisan terakhir kesabaran Neji sobek. Ia mengangkat pedangnya dan melesat ke arah raja Kumo. Seruan terdengar saat para pengawal kerajaan Kumo yang hadir disana maju dan memposisikan diri di antara raja mereka dan Neji. Seorang pengawal dengan kostum yang agak berbeda maju dengan pedang terangkat ke arah Neji dan saat itulah Sasuke mengangkat pedangnya, memposisikan diri di dekat Neji dengan tangan menahan pedangnya kedepan, horizontal tepat di hadapan pengawal tadi.
"Mundur jika kau masih berharap kepalamu tetap tersambung di tubuhmu," gumam Sasuke tajam.
Sasuke mundur, menurunkan pedangnya dan berdiri di samping Neji setelah pengawal tadi menyerah dan mengikuti perintahnya. Neji meliriknya dan mengangguk kecil menyampaikan terima kasih secara non verbal lewat gerakan kecil itu. Dan untuk pertama kalinya, Sasuke merasa senang memihak Neji. Raja Kumo bertahan di belakang pengawalnya sedangkan Neji dan Sasuke berdiri, bertahan melindungi Shion.
"Hentika kegilaan ini!" suara Hiashi menggema di seluruh ruangan. "Berhentilah, Rai! Kau takkan mendapat kesempatan untuk menang melawan panglima Hyuuga dan Miroku!" geramnya. "Dan Neji! Mundur sekarang juga!"
"Tidak sebelum dia meminta maaf," desis Neji di sela gemertuk giginya.
"Tidak perlu menunggunya untuk itu," Shion bersuara. Ia meletakkan tangannya di bahu Sasuke, mengisyaratkan untuk mundur. "Dia tidak akan berhenti. Dia tak ingin Hyuuga dan Miroku menyatu dalam aspek apapun. Sejak awal dia juga tak menginginkan kesuksesan perundingan ini. Bukankah begitu, Yang Mulia?" ujar Shion tenang namun menantang.
Raja Kumo masih diam, namun tetap mencoba memojokkan Shion dengan tatapannya dari belakang pengawalnya. "Jika kau tetap akan melaksanakan pernihakan putramu dengan dia, aku pastikan kau membuat Kumo berbalik menjadi musuhmu!" ujarnya kepada Hiashi yang masih dapat menahan ekspresi geramnya.
"Kau tidak akan berani melakukannya."
"Oh, kau yakin begitu? Tapi aku berani untuk memutuskan hal itu. Jadi hentikan kegilaan putramu dan aku takkan berbalik melawan kerajaanmu!"
"Cobalah. Aku akan senang menyambutmu," Neji mendesis tajam.
..
...
..
Hinata tahu sesuatu terjadi terhadap Neji ataupun yang lainnya. Ia menyadari ada perkara tak ringan mengingat ia jarang atau bahkan tak melihat Neji, Sasuke, Shion bahkan Naruto berkeliaran di istana beberapa hari terakhir. Tapi lagi, Hinata bahkan tidak tahu apa ia ingin mengetahui masalah yang mereka coba selesaikan sekarang. Karena mungkin semua itu hanya kekacauan akibat afeksi dadakan Neji terhadap Shion. Hinata benar-benar tak terlalu memikirkannya, ia hanya menemukan dirinya tak begitu mempedulikan situasi sekitarnya.
Sekarang yang ia butuhkah hanyalah kue jahe, dan dapur pastinya merupakan surga untuk menemukan makanan itu sekarang. Ia tak peduli seberapa larut saat itu dan tetap berjalan menuju dapur. Entah apa yang membuatnya berpikir bahwa meminta pelayan mengambilkannya bukanlah hal yang benar. Hinata menginginkan kue jahe itu dan ia ingin mengambilnya sendiri.
"Hinata."
Sebuah suara menghentikan langkahnya dan saat itu juga, ia memiliki penyesalan kecil telah keluar dari kamarnya meskipun ia belum mengetahui siapa yang memanggilnya.
Hinata memutar kepalanya. "Naruto?" responnya skeptikal setelah melihat Naruto menuju ke arahnya dan berhenti beberapa langkah dari tempatnya. "Apa yang lain masih di dalam ruang pengadilan?"
Naruto menjilat kecil bibirnya kemudian mengusap pelan lehernya sendiri. "Tidak. Semuanya sudah dibubarkan."
Hinata berkedip. "Maksudmu masalahnya sudah terselesaikan?"
"Aku tidak mengatakan hal itu," Naruto menggeleng pelan. "Hanya saja... apa kau benar-benar tidak mendengar apa yang sedang terjadi?"
Hinata mengangkat bahu sekejap. "Kau pasti tahu politik bukan areaku di istana ini."
Naruto mengangguk kecil, mengerti apa yang Hinata maksudkan. "Kami akan kembali ke Uzumaki besok. Aku, ayah dan orang-orang kami."
"Apa? Apa perundingannya sudah selesai? Secepat ini?"
"Tidak. Bukan itu," ujar Naruto pelan. "Ayahku memutuskan untuk kembali dan... mencoba melepas aliansi Uzumaki dengan Hyuuga."
"Apa? Maksudmu?" Mata Hinata kembali melebar. Ia mungkin tak tahu banyak tentang politik tapi ia cukup sadar bahwa pemutusan aliansi merupakan gerbang utama menuju perang. Hinata tak memiliki pilihan lain selain menginginkan Naruto menjelaskan semuanya. Ia merasa kue jahe bisa menunggu untuk sesaat. "Apa yang sebenarnya terjadi? Kukira kalian membicarakan jalan damainya."
Naruto menatap Hinata beberapa saat sebelum menghembuskan nafas panjang yang lelah. "Aku... mencoba meyakinkan ayahku, Hinata. Untuk pertama kalinya, aku mencoba menghentikannya. Tapi dia sependapat dengan kerajaan lain bahwa Hyuuga dan Miroku tidak akan membawa pengaruh yang baik jika terikat atas pernikahan. Hal itu akan mengancam diplomasi kerajaan lain dengan Hyuuga, termasuk Uzumaki. Kau tahu bukan jika Neji dan Shion... uhh... intinya ayah juga tak menginginkan pernikahan mereka."
"Jadi ini semua karena mereka?!"
"Pernikahan antara pemimpin Miroku dan putra mahkota Hyuuga... kau pasti sadar jika ini terjadi cepat atau lambat kerajaan kalian akan bersatu dan kau pasti dapat melihat ancaman bagi kerajaan lainnya. Kami tidak membutuhkan dua kerajaan utama bersatu dalam monarki yang sama, Hinata."
Perut Hinata mendadak tak nyaman membayangkan apa yang Naruto katakan. "Ayahmu melepaskan aliansi bahkan sebelum Hyuuga dan Miroku benar-benar terikat?"
"Hmm," Naruto bergumam mengiyakan. "Bahkan jika itu mengundang perang."
"Tidak mungkin..." gumam Hinata tak sadar.
"Dua kerajaan besar yang bersatu bukanlah berita baik bagi kerajaan sekelilingnya."
Hening sejenak sebelum Hinata membuka mulutnya. "Jadi kau akan pergi besok?"
Naruto tak lekas menjawab.
"Naruto?"
Naruto mengambil satu langkah mendekati Hinata dan meraih tangan Hinata. Dalam kejut, kepala Hinata terangkat, matanya otomatis terkunci dalam tatapan Naruto. Naruto mengusap pelan punggung tangan Hinata yang kini digenggamnya sembari mencondongkan diri mendekat, mengusir setiap ruang yang memisahkan mereka.
Sebelum benar-benar tak ada ruang di antara mereka, Hinata menarik tangannya dan mundur selangkah, menciptaka jarak baru. Naruto membeku sebagai respon dan kembali menegakkan dirinya.
"Maaf."
"Itu... bukan salahmu," gumam Hinata. "Hanya saja... entahlah, kupikir aku hanya tak bisa bersamamu, Naruto."
Naruto merendahkan pandangannya, mengangguk pelan. "Aku mengerti. Aku memang benar-benar brengsek."
Kening Hinata berkerut atas apa yang Naruto katakan. Tidak. Bukan itu maksudnya. Ia tak lagi melihat Naruto sebagai Naruto yang dulu biasa ia lihat. Hinata mengangkat tangannya, telapaknya menyentuh pipi Naruto ringan.
"Aku senang mengetahui kau bukanlah lelaki seperti yang awalnya kau tampakkan. Kau lelaki yang luar biasa, Naruto. Aku dapat melihatnya sekarang dan aku yakin... seseorang akan melihatnya juga. Kau pernah merasakan apa itu cinta. Terkadang, orang yang kau cintai memutuskan untuk meninggalkanmu untuk melihatmu bahagia, dan kekasihmu..." Hinata mengambil nafas sejenak. "Dia melepaskan hidupnya, untukmu. Dia hanya ingin kau bahagia, Naruto."
"Aku tahu," gumam Naruto singkat.
"Jika... jika saat itu kau datang dengan dirimu yang sebenarnya saat kita pertama bertemu. Aku mungkin... akan jatuh cinta padamu. Tapi tidak sekarang."
Ujung bibir Naruto terangkat, kepalanya menggeleng pelan. "Kau benar-benar menghancurkan hatiku, kau tahu," senyumnya lebar. "Kau menakjubkan. Ini nasib burukku mungkin karena tak bisa mengerti dirimu yang sebenarnya sejak awal. Mungkin memang benar terlalu terlambat untuk mengubah apapun," tambah Naruto.
"Hmm, kurasa begitu," Hinata tersenyum, jemarinya mengusap pipi Naruto pelan.
"Jika aliansi ini berakhir. Itu artinya kau juga terbebas dariku."
Hinata tahu seharusnya ia merasa senang, namun sesuatu membuatnya tak dapat tersenyum. Ia menghela nafas kemudian menarik tangannya kembali dari wajah Naruto. "Entahlah... maksudku, perjodohan ini terdengar seribu kali lebih baik daripada gagasan untuk perang."
"Tidak, Hinata. Kau pantas mendapatkan yang lebih baik," Ujar Naruto. "Lagipula tak ada lagi yang bisa kita lakukan. Neji benar-benar keras kepala."
"Dia selalu begitu."
"Jika saja kau bisa meyakinkannya bahwa obsesinya terhadap Shion membawa bahaya kepada kita semua."
"Aku tidak yakin dia akan mendengarkanku. Dia bahkan tak menghiraukan siapapun yang mengancamnya. Jika ayahmu dan yang lainnya merupakan sebuah ancaman baginya, dia akan melakukan apapun untuk memastikan kalian berhenti menghalangi jalannya. Dia akan meyakinkan semua orang bahwa dia bisa menjadi raja terkuat yang pernah ada di tujuh kerajaan. Dia memiliki ambisi yang begitu gila."
Naruto menghela nafas panjang. "Aku tidak meragukannya. Kerajaanmu bahkan dengan bangganya memiliki pangeran mahkota sebagai kepala pasukan. Itu menunjukkan betapa kuat dan beraninya kalian. Hyuuga benar-benar sempurna, kau tahu. Jika Neji melambangkan kekuatan untuk kalian... kau, kau melambangkan keindahannya."
Hinata menggerakkan bola matanya, kemanapun asal bukan mata Naruto setelah merasakan aliran darah yang deras berpusar di pipinya. "Aku harap perjalananmu besok lancar."
"Dan aku berharap kau selalu dalam tiap keberuntunganmu, Hinata."
"Tapi kau akan tetap membujuk ayahmu, bukan?"
"Aku akan melakukannya untukmu," Naruto memamerkan deretan giginya sebelum berjalan melewati Hinata.
..
...
..
"Neji!" panggil Hinata setelah melihat figur kakaknya di ujung koridor.
Hinata mempercepat langkahnya mendekati Neji untuk kemudian menyadari ada orang lain disana. Hinata berkedip menyadari keberadaan Shion sebelum matanya menangkap sosok Sasuke yang terlihat lelah.
"Apa yang terjadi?" tanya Hinata setelah kembali menatap kakakknya.
Neji hanya mengangkat bahunya ringan. "Aku senang pernihakanmu dibatalkan."
"Naruto mengatakan padaku bahkan perang mungkin akan terjadi. Dan itu tak lebih baik dari apapun!" ujar Hinata tajam kemudian berbalik menghadap Shion. "Dan kau! Apa pernikahanmu dengan kakakku masih terlihat begitu penting jika itu mengacam banyak orang?!"
Shion tetap diam, pandangan bingungnya terlempar ke arah Neji.
"Berhenti menyalahkannya, Hinata," potong Neji. "Walaupun kerajaan lain menolaknya, aku tak yakin mereka akan menerima tawaran untuk menyerang kita. Mereka masih membutuhkan Miroku dan Hyuuga."
"Tetap saja..."
"Hinata," nada bicara Neji berubah menjadi benar-benar serius. "Kau seharusnya berbahagia untukku."
"Aku senang kau bahagia, Neji. Demi Tuhan!" Hinata menahan dirinya agar tak berteriak. "Tapi kau seharusnya memikirkan konsekuensi atas apa yang kau putuskan!"
"Kenapa kau seperti ini?" balas Neji. "Kau pikir aku akan membiarkan orang lain memutuskan apa yang harus kita lakukan? Tidak, Hinata. Dan pikirkanlah lagi, aku baru saja membebaskanmu dari pernikahanmu dengan lelaki brengsek itu. Kau seharusnya senang, bukan berteriak menuduh orang lain atas apapun."
"Itu karena aku perduli akan apa yang akan terjadi pada kerajaanku!" lempar Hinata jelas sebelum berbalik dan berjalan menjauhi kakaknya, mengabaikan tiap panggilan yang dilayangkan Neji.
Hinata berjalan cepat kemanapun, ia tak peduli kemana kakinya melangkah. Ia hanya terlalu malas untuk memikirkan hal itu, terlalu malas untuk memikirkan apapun. Hinata memperlambat langkahnya seiring ia merasakan nafasnya memberat. Rasa panas yang tak nyaman membungkus dirinya, membuatnya tak memiliki pilihan lain selain bersandari di dinding terdekat yang bisa ia raih. Bibirnya terbuka, membantu hidungnya mengisi paru-paru yang seakan mengering.
"Yang Mulia?" seorang pelayan muncul dan menyapanya seketika ia memasuki lorong dimana Hinata berada. "Anda baik-baik saja?"
Hinata mengangkat kepalanya dan mencoba menatap pelayan itu dengan mata hampir tertutup. Dan hal terakhir yang ia sadari sebelum semuanya menghitam adalah pekikan panik dan langkah terburu-buru pelayan tadi.
..
...
..
Semua kedai dibuka hari itu, di celah malam itu, dengan bantuan lentera untuk menerangi sebagian area yang cahayanya juga menarik nyamuk-nyamuk dan serangga malam lainnya. Sasuke dapat melihat banyak merpati bertengger di atap bangunan, ia juga dapat mendengar pekikan gagak-gagak yang saling bersautan menembus malam.
Sasuke masih cukup terpukau atas kegiatan dan kesibukan pasar malam itu. Teman-temannya sudah terpencar ke segala penjuru mencari apapun yang mereka butuhkan dan Sasuke, ia masih disana, berdiri di pinggiran salah satu dinding bagungan paling tepi, menatap orang-orang yang tanpa lelah mengarumi keramaian itu.
Sasuke jarang memasuki area kependudukan atas keinginannya sendiri. Dan malam itu, ia berada disana karena tak memiliki pilihan lain atas tarikan teman-temannya yang memintanya ikut serta. Tapi mungkin keluar adalah ide bagus. Ia bisa memanfaatkannya untuk menghirup udara segar setelah proses pengadilan yang dua hari menguras pikiran dan jiwanya.
Sasuke tak memiliki pilihan lain selain tetap terjaga dan memastikan keselamatan Shion, tapi di setiap saat juga, pikirannya lagi-lagi tak mau berhenti mencari Hinata. Saat dimana raja Uzumaki mengatakan akan menggagalkan pernikahan Hinata dan Naruto, Sasuke hampir tak dapat menahan rasa bahagianya. Namun kemudian ia sadar, jika bukan Naruto, maka pengeran lain akan mengklaim Hinata.
Sasuke selalu berpikir realistis, meski begitu, ia tak tahu sampai kapan ia bisa menahan perasaannya sendiri. Momen dimana ia memastikan pernikahan Hinata dan Naruto dibatalkan, yang ia inginkan hanyalah berlari menemui Hinata. Ia ingin mengatakan pada wanita itu bahwa semua akan baik-baik saja sekarang. Tapi tentu ia tidak bisa melakukannya, tidak bisa mengatakannya. Tidak saat Hyuuga bahkan Miroku tengah berada di batas tepi menemui peperangan.
"Nak?"
Suara parau seorang perempuan membuatnya menengok. Dan dalam remang malam Sasuke melihat sosoknya. Seorang wanita tua yang mungkin sudah memasuki masa pikunnya nampak. Rambutnya putih dan abu-abu, kerutan di wajahnya semakin tajam saat ia tersenyum. "Apa yang kau coba temukan?"
Sasuke tersenyum sebelum membungkuk sebagai pernghormatan pada wanita tua itu. "Bukan apa-apa, Nyonya."
Tangan wanita tua itu meraih lengan Sasuke dan menepuk-nepuk perlahan. "Diberkatilah kau," ujarnya lagi sebelum kembali merapatkan diri di meja dengan pernak-pernik dan alat rumah lainnya. "Ada yang kau inginkan, Nak?" tanya wanita tua itu setelah menyadari mata Sasuke melihat-lihat barang di atas mejanya.
"Apa itu?" Sasuke menunjuk salah satu rantai kecil polos berwarna perak yang menjejer di atas meja.
"Ini?" wanita tua itu menyentuh tepat pada item yang Sasuke maksud. "Gelang kaki. Untuk yang kau sayang."
Sasuke melepaskan pandangannya dari benda itu, diam-diam menggigit bibir dalamnya. Hanya mengangguk kecil sebagai respon atas jawaban pendek wanita tua itu.
Sasuke melewatkan senyum lebar saat wanita tua itu mengambil gelang kaki tadi. "Ini, ambil lah."
"Uh, tidak, terima kasih. Aku tidak membawa uang saat ini."
Wanita tua itu mendekat kemudian meraih tangan Sasuke dan meletakkan gelang kaki itu dalam genggaman Sasuke. "Untuk prajurit yang selalu melindungi anak-anak dan cucu-cucuku. Ambil lah."
Sasuke membiarkan gelang itu tergeletak di telapak tangannya namun tak serta merta menggenggamnya. "Aku... tidak bisa menerima ini."
"Aku memaksa. Terima lah," ujar wanita tua itu dengan senyum penuh di wajahnya.
Butuh beberapa detik sebelum tangan Sasuke mengepal ringan menggenggam rantai ringan itu. Sasuke mengangkat kepalanya, memberi senyum balik kepada wanita tua itu. "Terima kasih."
..
...
..
Ia seharusnya menjauh. Ia seharusnya pergi. Ia seharusnya membiarkan semua berjalan seperti biasanya, seperti seharusnya. Tapi sekarang, disanalah ia. Berdiri di hadapan pintu ganda ruangan Hinata dengan hati yang terasa begitu bising dan ramai.
Pintu itu terbuka dan figur seorang pelayan terlihat. "Yang Mulia memperbolehkan Anda masuk," gumamnya dengan kepala tertunduk. "Tapi Yang Mulia baru saja pulih, jadi lebih baik Anda tak memintanya keluar."
"Pulih? Pulih dari apa?"
Jeda pendek tercipta sebelum pertanyaan Sasuke terjawab. "Yang Mulia, uh... sempat tidak sadarkan diri pagi tadi."
Sasuke melangkah cepat ke dalam setelah pelayan tadi berlalu dan bergegas menuju ruang kamar dan menemukan Hinata berdiri di balkon membelakanginya.
"Hinata," panggilnya serak, seakan ragu.
Hinata membalikkan tubuhnya sebelum berjalan masuk. Ia berhenti di samping ranjangnya dan berdiri bersandar di salah satu tiang ranjang.
"Kukira kau tak mau lagi bicara denganku," ujar Hinata dengan senyum kecil.
"Kau pingsan pagi ini?" balas Sasuke, sama sekali respon yang berbeda jalur dengan apa yang Hinata lontarkan sebelumnya.
Hinata melepaskan kontak matanya dengan Sasuke, jemarinya menyapu bagian kecil rambutnya yang menghalangi pandangannya. "Kenapa kau disini?"
"Aku..." Sasuke mengambil gelang kaki yang semalam ia dapatkan dari saku celananya, namun hanya menggengamnya, tanpa menyodorkannya kepada Hinata. "Aku..." gumamnya ragu tak menyadari Hinata yang memperhatikannya dan menyadari rantai perak di tangannya.
"Apa itu?"
Sasuke menelan salivanya sendiri, giginya terbenam di bibir bawahnya, tangannya tanpa sadar terangkat mengusap tengkuknya. Sungguh, ia merutuki dirinya sendiri yang benar-benar tidak dapat melakukan hal-hal romantis dengan benar. "Ini..." mata Sasuke menatap gelang di telapak tangannya. "Mereka bilang ini gelang kaki."
"Dan mengapa kau membawanya kemari?" Hinata menahan senyumannya melihat tingkah kikuk Sasuke.
"Lupakan saja. Aku... aku harus pergi."
"Apa kau tidak merasa senang mendengar Naruto dan aku tidak akan menikah?"
"Itu belum dipastikan."
"Jadi kau lebih suka jika aku menikahinya?"
Sasuke diam sejenak, lisan dan raga. "Hinata..." panggilnya.
"Untuk siapa kau bawa gelang itu?" potong Hinata cepat.
"Ini... untukmu," gumam Sasuke pelan, terlalu pelan hingga Sasuke sendiri tak percaya ia dapat menjadi selemah itu.
"Lalu kenapa tidak kau pakaikan itu padaku?"
Pandangan Sasuke terangkat menatap Hinata yang saat itu tak lagi dapat menahan senyumannya. Kemudian ia memaksakan kakinya mendekati Hinata. Sasuke berhenti selangkah di hadapan Hinata, atau bahkan mungkin kurang dari selangkah di hadapan Hinata. Ia kemudian perlahan berlutut masih dengan gelang kaki itu di genggamannya.
Hinata sedikit menyisingkan gaunnya saat tangan Sasuke meraih kakinya untuk menyematkan gelang itu. Dan saat itu, sungguh Sasuke hampir dapat mendengar detak jantungnya sendiri saat ujung jemarinya menyentuh permukaan kulit Hinata. Dengan perlahan ia melingkarkan gelang itu di pergelangan kaki Hinata dan menyatukan pengaitnya. Sasuke mengusap ringan pergelangan kaki Hinata, tersenyum melihat gelang itu melingkar disana. Sasuke mendongakkan kepalanya menatap Hinata, ia tak melewatkan senyum kecil juga merahnya wajah wanita itu.
"Ini sangat indah," gumam Hinata tanpa menurunkan sedikitpun lekukan di bibirnya saat Sasuke kembali berdiri. Matanya tak juga lepas dari rantai kecil yang kini melingkari pergelangan kakinya.
"Tidak seindah dirimu,"Sasuke meraih kedua pipi Hinata, mengangkatnya agar menatapnya kemudian memberikan kecupan singkat juga ringan di bibir wanitanya itu.
"Aku tidak akan melepaskannya," balas Hinata sembari melingkarkan lengannya di tubuh Sasuke dan menyandarkan sisi kepalanya di dada lelaki itu.
"Kau memiliki banyak perhiasan yang lebih bernilai dari itu," gumam Sasuke.
Hinata tak merespon kalimat terakhir Sasuke. Sasuke hanya menyadari wanita itu menghela nafas panjang di dalam pelukannya.
"Sasuke."
"Hmm?"
"Aku... ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu," suara Hinata terdengar seperti gumaman, efek pelukan Sasuke.
"Ada apa?"
"Tapi... sebelum itu apa kau mau... kau mau menemaniku tidur malam ini?"
Sasuke sedikit menarik tubuhnya mencoba menatap Hinata dengan satu alis menukik penuh tanya. "Tidur? Maksudmu... tidur?"
Hinata tertawa kecil kemudian mengangguk. "Hanya tidur," ujar Hinata memperjelas.
Sasuke mengangguk-angguk, melihat dengan samar Hinata yang melepaskan pelukannya dan duduk di tepi ranjang.
Sasuke melepaskan ikatan sabuk pedang di pinggangnya, sepatunya kemudian kemeja yang ia kenakan dan tanpa menunggu izin Hinata merebahkan dirinya sendiri di salah satu sisi ranjang Hinata. Tangannya meraih Hinata yang masih terduduk dan menariknya mendekat, membuat wanita itu ikut merebah di sampingnya untuk kemudian ia kurung dalam pelukannya.
"Apa yang ingin kau katakan padaku?"
Jeda cukup lama tercipta, namun Sasuke tak memaksa Hinata untuk cepat menjawabnya. Mereka memiliki waktu yang cukup panjang malam itu.
"Jika... jika aku mati nanti... apa kau akan melupakanku? Apa kau... masih akan memikirkanku?"
Rahang Sasuke mengeras mendengar pertanyaan itu. Tidak. Bukan Hinata yang seharusnya mempertanyakan hal itu. Jika nantinya ia harus berdiri bersama Shion di medan pertempuran, ia lah yang seharusnya menuntut jawaban dari Hinata atas hal itu.
"Hinata..." Sasuke membuka suara. "Jika aku memintamu untuk pergi bersamaku, apa kau mau melakukannya?"
Hinata mengangkat kepalanya, menatap wajah datar Sasuke. "Apa... yang kau katakan?"
"Bersama Neji di sisinya, Shion tak lagi membutuhkanku. Aku tak percaya mengatakan hal ini, tapi aku yakin Neji bisa dipercaya," Sasuke menyapukan jari-jarinya di rambut Hinata. "Dan saat semuanya membaik, apa kau... mau menjabat tanganku dan pergi bersamaku?"
Hinata tersenyum kemudian kembali membenamkan wajahnya di dada Sasuke. "Tentu. Bawa aku kemanapun kau mau, Sasuke."
Sasuke dapat mendengar rasa senang dalam jawaban Hinata. Ia juga tak dapat membohongi dirinya dengan menjawab bahwa ia tak puas dengan jawaban itu. Namun Sasuke tahu semuanya takkan berjalan semudah saat ia mencoba mengatakannya.
"Sasuke," suara Hinata kembali menariknya keluar dari lamunannya.
"Hmm?"
"Aku..." Hinata menghentikan dirinya sendiri. Ragu dengan apa yang ingin ia ucapkan selanjutnya. "Aku..." ulangnya dengan bibir sedikit bergetar.
"Ada apa, Hinata?"
"Tidak," pada akhirnya Hinata menggeleng di pelukan Sasuke. "Hanya saja... aku mencintaimu."
..
to be continued...
..
.
Aaaannnnddd after this... 3 chapter to go! Yeay! Please keep looking forward to it *bow
Tebar bunga buat reviewers, favoriters, followers juga readers... thank you so much
See yaww...
*psstt, and dont forget follow meh on wp :v
