[SONGFIC]

Cold Rain – 4Minutes

LeoN

Hakyeon, Taekwoon

VIXX

Yaoi/BL

T

Hurt/Romance

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Ini request FF dari [Hakyeon Jung], maaf ya KaYeon karena lama baru dibikin. Baru kelarin hiatus wkwk, bukan hiatus sih sebenernya, tapi kembali dari meratapi nasibnya LeoN. Sempet nggak ada semangat buat bikin FF LeoN lagi, tapi yah lumayan lah sekarang ada semangat walapun masih sering down.

Btw, untuk SongFic selanjutnya nggak akan aku post disini, tapi akan pindah ke Wattpad, jadi kalau masih ada yang mau request tetep bisa, tapi akan aku post di Wattpad. Follow aja akun jee_jung. Untuk yang Love Wishes tetep aku lanjut di FFN sampai tamat. Dan itu adalah story terakhir sebelum aku bener-bener pindah ke Wattpad.

Oke, cusss aja yah. Happy reading!

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Dosa dari cinta yang manis, aku tahu rasa dari perpisahan.

Karena aku tak tahu tentang cinta, dan aku hanya mempercayai orang-orang itu.

Aku perlahan menjadi lebih gila dengan kebohongan yang hangat itu.

Hujan turun tepat pada waktunya, hujan yang dingin turun.

Air hujan yang jatuh menenggelamkan kesedihan.

Suara tangisku terbentuk dalam hatiku

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Kemasi barang-barangmu!" bentak seorang pria tampan dengan tinggi diatas 180 itu tengah melotot pedas kepada mantan istrinya yang beberapa jam lalu telah resmi bercerai dengannya di pengadilan.

Seorang pria dengan tubuh mungil yang tengah menangis berlutut didepan Pria dingin itu hanya mampu terdiam dengan tubuh bergetarnya.

"Aku tidak ingin melihat wajah murahanmu lagi! Enyah segera mungkin!"

"Maaf….hiks maaf"

Pria tinggi dengan nama lengkap Jung Taekwoon itu hanya mampu berdecak sebal dan segera pergi meninggalkan mantan istrinya yang masih berlutut di lantai teras rumah. Rumah tangga yang mereka jalani selama 5 tahun berakhir dengan sebuah penghianatan yang dia dapatkan. Selama 5 tahun dia sudah memberikan semua kasih sayang, cinta dan kesetiaan kepada satu-satunya pria yang sangat dia cintai. Namun, semuanya hanya sebuah kebohongan, Taekwoon tidak menyangka bahwa istrinya itu berselingkuh dengan pria lain yang bahkan sudah sangat dia percayai.

Pernikahan mereka berakhir disini, berakhir disebuah persidangan dengan selembar surat cerai yang sudah sah dimata hukum. Mereka benar-benar memutus hubungan yang telah mereka jalin, menghapus ikatan untuk selamanya.

.

.

.

.

.

"Hyung"

"…"

"Taekwoon Hyung?"

"…"

Braaaaaaakkkkk

"Ya Jung!"

Taekwoon tersentak ketika seorang pria dengan jaket kulit hitam nyentriknya menggebrak meja café tepat didepannya. Taekwoon hanya menghelas nafasnya lelah dan kembali melamun.

"Kau masih memikirkannya?" pria itu duduk didepan Taekwoon dan mengangkat tangannya memanggil pelayan café.

"Aku tidak menemukannya"

"Café latte satu" ucapnya pada pelayan wanita tersebut dan kembali focus pada sahabat karibnya yang telah dia anggap bak saudara. "Mungkin dia pidah ke Luar Negeri"

Taekwoon menangkup wajahnya lelah dengan kedua tangannya. "Tidak ada tanda dia meninggalkan Korea"

"Ini sudah 3 tahun Hyung. Tidak mungkin orang lenyap begitu saja dari dunia. Atau jangan-jangan dia…."

Taekwoon mengangkat wajahnya dengan kedua mata tajam yang menyorot tepat kedua mata sahabatnya itu. "Jika kau mengucapkan kata-kata itu, akan ku robek mulutmu Kim!"

Seorang pria dengan nama Kim Wonshik itu meneguk paksa air liurnya yang hampir tersangkut ditenggororkan.

Melihat sahabatnya yang mulai bungkam, Taekwoon kembali menangkup wajahnya dengan lesu. "Seharusnya dulu aku mempercayainnya"

"Ini pesanan anda Tuan"

Wonshik mengangguk dan tersenyum pada pelayan tersebut. "Penyesalan selalu datang terakhir Hyung. Kau juga tidak tahu yang sebenarnya, jika hal sama terjadi padaku, aku juga akan marah"

"Tapi seharusnya aku memastikannya. Bukan memperburuk"

"Nah, itu memang kesalahanmu" Wonshik menenguk perlahan cangkir coffe nya. "Jika kau mencintainya, kau seharusnya tetap memegangnya erat"

Taekwoon menatap keluar café, menatap beberapa orang yang lalu lalang didepannya. Kedua mata tajamnya berubah menjadi sendu ketika hujan mulai turun perlahan dan menjadi amat deras, membuat seluruh orang yang sedang berjalan kaki segera berlarian menuju tempat berteduh.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Air mata mengalir terus menerus dikedua pipiku.

Aku menghapus air mata yang bercampur dengan tetes air hujan.

Aku sendiri, aku tak dapat hidup tanpamu.

Tak ada kehidupan, tanpamu terasa berat.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Taekwoon berlari begitu cepat menerobos guyuran air hujan yang turun begitu deras. Dia bahkan tidak peduli dengan beberapa orang yang memandangnya aneh, dia tidak peduli jika nanti dia akan terkena flu, atau jatuh dan meninggal. Dia tidak peduli terhadap hal yang akan menimpa fisiknya. Dia hanya ingin bertemu dengan seseorang yang telah dia hancurkan hatinya.

Nafas yang tersetal membuatnya harus berhenti sejenak sebelum dia benar-benar kehabisan nafas, dinginnya hujan membuat seluruh tubuhnya mati rasa dan darahnya membeku, namun dia tetap kembali berlari menuju tujuan hidupnya.

Taekwoon berhenti disebuah rumah yang teramat kecil. Dia mengatur nafasnya agar kembali normal dan berjalan perlahan memasuki rumah tersebut. Rumah yang dulunya sering dia kunjungi tersebut, kini tampak asing baginya. Dia tak tau apa yang membuatnya berubah, rumah yang dulunya terlihat rapi, namun kini terlihat tak terawat, bahkan terlihat seperti rumah kosong.

"Hakyeon-ah" panggil Taekwoon seraya melihat kesekeliling ruangan. Taekwoon menghembuskan nafasnya berat ketika dia menatap sebuah bingkai foto dirinya dan Hakyeon yang jatuh berantakan dilantai. Jatungnya berdetak tak beraturan, perasaannya menjadi tidak terkontrol, dia segera berlari mengambil bingkai itu dan mengusap lembut Hakyeon dalam foto tersebut. Foto yang sudah sangat lusuh dan berdebu, bahkan gambarnyapun sudah terlihat memudar.

Bibir Taekwoon bergetar, tangan yang tengah mengusap foto itupun bergetar. Air matanya turun perlahan membashi wajahnya. "Hakyeon-ah!" Taekwoon berdiri dengan tetap menggenggam foto tersebut. "Cha Hakyeon! Keluarlah, aku tau kau disini" Taekwoon berjalan perlahan menuju sebuah pintu yang tidak jauh darisana. "Maafkan aku, aku tau aku salah. Aku salah Yeon~" Tangan Taekwoon menyentuh permukaan pintu tersebut. Namun, dia hanya mendapatkan keheningan disana. "Hakyeon-ah, kumohon keluarlah sayang"

Taekwoon hanya mampu menundukan kepalanya disaat dia tidak mendapatkan jawaban apapun. Perlahan tangan Taekwoon turun hendak menyentuh gagang pintu tersebut. "Hakyeon-ah"

Pintu tersebut dibukannya perlahan, namun kedua mataya hanya mampu menangkap kamar yang begitu sepi dan kotor. Kamar yang terlihat berantakan dan dipenuhi debu. Kening Taekwoon berkerut, dia tidak menemukan Hakyeon sama sekali disana.

GREEEK

Taekwoon sontak memutar badannya ketika mendengar pintu depan terbuka. Dirinya segera berlari berharap orang itu adalah Hakyeon. Namun, sayang sekali, yang dilihat adalah segerombolan orang berbaju putih dan seorang lagi dengan jas hitam elegannya. Kedua sorot mata Taekwoon menjadi sangat dingin, giginya tergretak menahan emosi. "Mau apa kau disini?! Oh, aku tau, kau yang membawa Hakyeon pergi kan?! KEMBALIKAN HAKYEON KU!"

Pria berjas itu tampak menghela nafasnya lelah, dia menoleh pada beberapa orang berbaju putih dibelakangnya. "Bawa dia. Jangan sampai terluka" ucap pria itu dan dia mendahului pergi dari sana.

"Aku sedang bicara dengamu, brengsek!" Taekwoon mulai emosi dan mengejar pria itu, namun, di ditahan oleh beberapa orang berbaju putih tersebut. "Lepaskan aku! Kalian tidak tau siapa aku, hah?! Lepas, sialan!" Taekwoon berusaha meronta, melepas tangan yang tengah ditahan erat oleh orang-orang tersebut. "Ya! Kembali kau! Kembali kesini, Lee Wongeun! Kembalikan Hakyeon ku! Ya!"

Taekwoon terus meronta berusaha melepaskan diri, namun tiba-tiba kepalanya pusing dan dia merasa mengantuk, hingga pandangannya yang mengarah pada Wongeun yang tengah masuk kedalam mobil memudar menjadi kegelapan.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Di langit malam yang tak berperasaan, hujan turun, sepanjang hari.

Air mata diwajahmu, sempurna.

Kedua tanganmu yang menepuk lenganku.

Luka yang serupa denganmu yang mengukirku seperti tato.

Cinta seperti apa yang membuatku menangis?

Apa bagusnya dirimu yang membuatku lelah dan kesulitan?

Aku sangat merindukanmu sebesar aku membencimu.

Aku membencimu sebesar aku merindukanmu.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Berapa lama lagi?" Tanya Hakyeon yang tengah terbaring lesu di sebuah kamar rumah sakit. Dia dengan bantuan selang pernafasan dan segala macam alat yang menempel ditubuhnya hanya mampu berdoa kepada Tuhan agar dia bisa menutup matanya tampa rasa sakit sama sekali.

"Setengah jam lagi" jawab seorang Dokter yang dengan setianya duduk seraya menggenggam erat tangan Hakyeon. Terlihat kedua mata sembab nan merah dikedua mata Dokter tersebut.

"Taekwoon…..masih belum bisa dihubungi?" Tanya Hakyeon kembali dengan suaranya yang mulai melemah.

Dokter itu menggenggam tangan Hakyeon semakin erat, dia meletakan tangan mungil yang mulai dingin itu dipipinya dan menciumnya sesaat. Kepala Dokter tersebut menggeleng perlahan.

Mendapat reaksi sang Dokter, Hakyeon tersenyum lemah. "Mungkin dia masih marah padaku, Wongeun-ie"

"Hiks …. hiks …" Wongeun mengusap paksa air mata yang keluar dimatanya. Dia hanya mampu menundukan kepalanya tanpa mampu menatap kedua mata Hakyeon.

"Padahal ….. aku ingin sekali ….. mendengar suaranya ….. untuk, terakhir kali" Tangan Hakyeon terangkat dan menyentuh lembut tangan Wongeun yang tengah menggenggam tangannya. "Jangan salahkan dirimu"

Wongeun mulai menatap perlahan Hakyeon yang sekarang tengah memberinya senyum perih itu. "Seharusnya hiks …. seharusnya kau mengatakan yang sebenarnya, Hyung. Hiks"

Hakyeon menggelengkan kepalanya dengan lemah. "Dia …. Taekwoonku …. akan sulit melepaskanku ….. jika dia tahu semua ini"

"Aku, akan mencoba menghubunginya kembali"

Hakyeon tersenyum lembut. "Terimakasih, Wongeun-ah"

Wongeun merogoh ponsel disakunya dan mencoba menghubungi Taekwoon untuk berpuluh-puluh kalinya. Masih belum dijawab, Wongeun tidak putus asa dan tetap mencoba menghubungi Taekwoon, dengan tangannya yang tidak melepas sama sekali genggaman pada tangan rapuh Hakyeon.

Hakyeon terus menahap Wongeun yang tengah berusaha menelepon dengan raut wajah berharapnya. Dia sungguh ingin mendengarkan suara Taekwoon sebelum dia pergi.

Wongeun menghela nafasnya, dia kembali mencoba menelepon Taekwoon. Tetap tidak diangkat, dan terus dia lakukan seperti itu.

Waktu terus berjalan, sisa batas waktu Hakyeon semakin sedikit, sudah 20 menit Wongeun mencoba menghubungi Taekwoon, namun, tidak mendapat respon apapun.

"Sudah" pinta Hakyeon dengan suara lemasnya. Kedua mata Hakyeon bahkan sudah terlihat lesu dan benar-benar pucat. "Tidak apa-apa" ucap Hakyeon seraya menurunkan ponsel Wongeun dari tangannya.

"Tapi, Hyung…"

Kepala Hakyeon menggeleng lemas. "Tidak apa-apa"

Wongeun hanya mampu terdiam, dia menatap jam di dinding yang mulai menunjukan pukul 10 malam. Tiba-tiba raut wajahnya terlihat terkejut, dia mulai mengambil ponselnya kembali dan mengetikan sesuatu. Dia menatap Hakyeon yang mulai memejamkan matanya. "Hyung ….. " Wongeun berusaha membuat Hakyeon tetap terjaga. "Jangan tutup matamu"

"Aku lelah, Wongeun-ie, biarkan aku tidur"

"Tidak! Jangan dulu, tunggu sebentar. Taekwoon Hyung akan segera menghubungimu"

Mendengar ucapan itu membuat Hakyeon kembali membuka matanya walau dengan susah payah. Karena dia sudah mulai terlihat tidak sanggup lagi bertahan.

DRRRTTTTT DRRRRTTTTT DRRRTTTTT DRRRTTTT

Sebuah ponsel di nakas meja, tiba-tiba bergetar. Ponsel milik Hakyeon yang mendapat panggilan dari Taekwoon segera diangkat Wongeun dan diberikannya pada Hakyeon. Tangan Wongeun membantu memegangkan ponsel yang dia letakan ditelinga Hakyeon.

"Halo!Hakyeon-ah?! Apa-apaan kau ini!"

Hakyeon tersenyum begitu bahagia ketika mendengar suara orang yang sangat dia sayangi. "Taek … woon-ah"

"….., ada apa dengan suaramu?"

Hakyeon kembali tersenyum, dia merasa bahwa Taekwoon masih menyimpan sedikit rasa untuknya.

"Kau, aku beritahu ya. Mau kau pergi kemanapun, aku tidak peduli. Dan beritahu pada kekasihmu itu, untuk berhenti menghubungiku!"

"Aku ….. maaf Woon"

"…"

"Maaf, tidak bisa menemanimu ….. seumur hidupmu. Maaf ….. membuatmu terluka. Maaf ….. membuatmu begitu …. membenciku. Maaf ….. karena aku harus pergi."

"Aku sudah bilang, aku tidak pedul…."

"Aku tau …. tapi, aku hanya ingin ….. mendengar suaramu, untuk …. Yang terakhir kalinya"

"Ck, kau terdengar seperti akan mati" Suara Taekwoon terdengar parau.

Hakyeon tersenyum dengan buliran air mata yang mulai mengalir. "Hiks …. Maaf Woon-ie. Hiks … Sejak pertama ….. pertemuan kita, sampai … saat ini. Cintaku …. tetap sama. Aku …. mencintaimu, sayang" ucap Hakyeon yang terakhir kalinya sebelum kedua matanya benar-benar tertutup rapat. Wongeun langsung berdiri dan menekan tombol darurat didekar Kasur.

"Hyung! Hakyeon Hyung!"

"Hakyeon?! Won…Wongeun, ada apa dengannya?" suara Taekwoon masih terdengar karena panggilan mereka yang belum terputus.

"Dokter!" beberapa perawat masuk kedalam kamar.

"Berikan Defibrilator! Cepat!"

"Ya! Wongeun! Apa yang terjadi?" Taekwoon berusaha bertanya dengan paniknya ketika di terus mendengar suara kepanikan orang-orang ditelepon.

"Naikkan!" Wongeun memberikan kejut jantung, berharap ada keajaiban. "Sekali lagi"

Jantung Hakyeon tersentak keatas, namun tetap saja, jantungnya masih tidak mau berdetak.

Wongeun menghela nafas dan duduk dengan lemasnya. "Cha Hakyeon, waktu kematian Jum'at, 10.10 malam"

"Ya! Lee Wongeun!"

Wongeun yang sadar akan suara Taekwoon, segera mengambil ponsel dan menjawab teriakan panic Taekwoon. "Hakyeon Hyung, baru saja meninggal"

.

.

.

Taekwoon terduduk diam dengan terus menatap hujan melalui jendela di kamarnya.

GREEEEKK

Sebuah pintu terbuka, tampak Wonshik yang membawa nampan berisi makanan dan diletakannya di meja. "Hyung, makanlah. Besok kita akan mencari Hakyeon Hyung kembali" ucap Wonshik dengan sendu.

"….."

"Aku letakan disini. Jangan lupa dimakan"

"….."

Wonshik menghela nafas lelahnya dan keluar meninggalkan Taekwoon yang masih duduk dalam diam. Kedua mata Taekwoon memerah, bibirnya bergetar. Dia mengangkat kakinya, menekuknya dan memeluknya erat. Air matanya mengalir, Taekwoon menangis terisak.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Kata-katamu yang menusuk tiada akhir.

Angin berhembus tajam seperti pisau.

Kau yang meninggalkan luka di hatiku.

Mengikuti suara hujan yang jatuh di tempat kosong itu, aku menangis tiada henti.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

BUUUUUGGG

"Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?!" Taekwoon memukul telak Wongeun disaat dia telah selesai menghadiri pemakaman Hakyeon dan melihat Wongeun dengan baju hitamnya berdiri disana, ditempat parkir.

"Dia tidak ingin kau tau, dia hanya memberikanku ini, untukmu" Wongeun berdiri seraya mengusap darah diujung bibirnya dan memberikan ponsel milik Hakyeon untukknya.

Tangan Taekwoon yang hendak mengambil ponsel itu bergetar begitu hebat. Nafasnya terus berhembus dengan tidak tenang.

"Dia sangat mencintaimu Hyung. Hingga akhir hayatnya" ucap Wongeun yang langsung meletakan ponsel Hakyeon ditangan Taekwoon dan pergi meninggalkan Taekwoon.

Taekwoon membuka ponsel Hakyeon. Disana tidak ada apapun, semua hanya berisi file masa lalu, namun dia menemukan sebuah pesan video yang akan dia kirimkan pada Taekwoon, namun menjadi sebuah draft.

Taekwoon pun membuka file tersebut dan menontonnya dengan perasaan yang tidak enak.

Di video itu langsung melihatkan Hakyeon yang tengah duduk bersandar di Kasur Rumah Sakit.

"Hai Taekwoon" Hakyeon tersenyum canggung menatap kamera. "Ini mungkin terlihat tidak nyaman, tapi, aku hanya ingin memberikan kenangan terakhir untukmu." Hakyeon menghela nafas sesaat sebelum menatap kamera kembali. "Maaf, tidak memberitahumu sebelumnya. Mungkin sekarang saat kau menonton ini, aku sudah terkubur ditanah." Hakyeon terkikih sendiri. "Aku hanya akan menjelaskan kebenaranya. Aku tidak berselingkuh dengan Wongeun, dia adalah sahabat hidup dan matiku, dia Dokter ku, dia yang membuatku bertahan selama ini. Jadi, jangan pernah kau membenci dirinya. Yang pantas untuk dibenci adalah aku, karena semua ini adalah keinginanku. Maaf, aku tidak ingin kau tau apa yang terjadi padaku, aku tidak ingin kau semakin sulit melepasku ketika aku meninggalkanmu"

Taekwoon menjeda video tersebut. Dia berusaha mengatur nafasnya yang tak beraturan, air matanya terus mengalir deras setiap dia menonton video itu. Dadanya terasa sangat sakit dan perih, rasanya benar-benar sangat menyakitkan ketika di harus mengetahui semua ini disaat Hakyeonnya sudah pergi darinya. Taekwoon menghapus air matanya, menghembuskan nafasnya dan mulai menekan tombol play kembali.

"Aku harap sekarang kau tidak begitu sulit melepasku. Sebenarnya benar-benar menyakitkan ketika kita harus bercerai, aku hanya berharap kau begitu membenciku, namun, kau malah menceraikanku. Mungkin aku yang terlalu bodoh. Maaf, Taekwoon-ie, membuatmu sulit selama ini. Aku tau kau sangat kecewa dan marah padaku. Tapi, aku bersumpah, hanya kau orang yang ku cintai, hanya dirimu, percayalah, hmm"

"Aku tau hiks aku tau Hakyeon-ah hiks"

"Maaf Taekwoon-ie, aku harus pergi. Maaf karena tidak bisa menepati janjiku untuk selalu disisimu, namun, aku akan selalu melihatmu dari atas nanti. Selamat tinggal Taekwoon, aku sangat berharap kau tidak mengalami kesulitan, dan segera temukanlah kebahagiaanmu. Aku mencintaimu"

Video tersebut berakhir. Taekwoon meremas ponsel itu dengan isakan tangisnya. Dia memukul dadanya yang terasa tersayat. Dia begitu bodoh, dia begitu jahat terhadap Hakyeon. Taekwoon menangis semakin terisak, suaranya bahkan terdengar begitu serak.

"Aaaaaahhh, Hakyeon-ah hiks ….. Aaaahh hiks hiks Hakyeon-ah" Taekwoon meremas rambut kepalanya dengan begitu erat. "Aaaaaahaahh hiks hiks aaaaaahhh hiks hiks kembali hiks aaaaaahhhh hiks hiks Hakyeon-ah"

.

.

.

.

.

"Hyung"

Taekwoon menoleh perlahan pada Wongeun yang memakai baju putih identitasnya dengan beberapa suster dibelakangnya.

"Biar kita periksa dulu ya" Wongeun membimbing Taekwoon yang tengah berdiri memandang keluar jendela untuk kembali menuju ke Kasur.

"Hakyeon…..dimana? Hakyeon-ku dimana?" Tanya Taekwoon yang panic menoleh kesana kemari.

Wongeun tersenyum lembut seraya mendudukan Taekwoon perlahan di Kasur. "Hakyeon Hyung sedang pergi sebentar. Dia akan kembali"

Taekwoon menggelengkan kepalanya dengan panic. "Tidak! Dia tidak akan kembali" Taekwoon meremas tangan Wongeun. "Aku mau bertemu Hakyeon~! Aku …. mau bertemu dengannya, Dokter hiks" Taekwoon mulai menangis dan meronta berusaha pergi.

"Tenang Hyung. Hakyeon Hyung akan kembali" Wongeun berusaha menahan tubuh Taekwoon. "Berikan obatnya" pinta Wongeun pada suster disana.

"Hakyeon-ah! Hiks aku ingin bertemu Hakyeon~! Hakyeo-ah~~ aaaaaahhhh hiks Dia tidak akan kembali hiks hiks, aku mau pergi bersamanya, aaaaahhh hiks, Hakyeon-ah"

Wongeun mulai menyuntikan obat pada tangan Taekwoon. "Tenanglah Hyung. Hakyeon Hyung akan kembali. Tenanglah."

Obat itu mulai bereaksi, Taekwoon mulai terlihat tenang dan mengantuk. Namun, sesaat bibir nya tersenyum manis saat dia melihat sosok yang begitu dirindukannya berdiri disana. Dia melihat Hakyeonnya tersebut padanya tepat didepannya.

"Tidak apa-apa, Hakyeon Hyung, selalu berada disisimu" ucap Wongeun yang mulai menyelimuti tubuh Taekwoon dan pergi meninggalkan Taekwoon.

Disana, Hakyeon duduk seraya mengusap lembut rambut Taekwoon. "Aku selalu bersamamu, sayang. Aku mencintaimu" seketika bibir Taekwoon tersenyum dalam tidurnya bersama dengan kehadiran Hakyeon disana.

End

.

.

.

.

.

.

Okeeee wkwkw untuk Songfic yang selanjutnya akan di post di Wattpad, jadi jangan lupa follow akun jee_jung yah. Kalau ada yang mau request lagi silahkan, dan untuk yang belum dibikinin tunggu yah, karena saya baru keluar dari hibernasi panjang.

N-nyeooooong~~~~