Selamat Membaca!
Sorry for typo guys ^^
.
.
Sebelumnya di Adventurous Dream 13…
TOK TOK TOK.
"Ada tamu?" tanya Chen.
"Biar aku yang membukanya,"
CEKLEK
DEG
"Hun-ah?!"
Semua yang sudah sadar dalam rumah itu mendengar nama yang selama ini mereka rindukan lantas meninggalkan ruang makan dan menuju ke depan.
"Lay..Noo..Noona"
Lay segera saja menghambur ke pelukan adik kecilnya yang ia rindukan itu. Apalagi mengingat Sehun memanggil namanya, ia rasa setengah tenaganya tak terbuang sia-sia.
"Hun-ah, aku meridukanmu" isak Lay.
"Aku juga Noona, sudah lama sekali tidak bertemu denganmu. Ternyata kau masih mengenaliku dan Noona juga tak berubah,"
"Benar. Hanya beberapa hari tetapi rasanya seperti bertahun-tahun,"
Sehun mengerutkan keningnya bingung, "beberapa hari?"
"Ya, kau pergi 5 hari yang lalu…" Lay terdiam. Ini sesuatu yang aneh, pikirnya.
"Aku bertemu denganmu saat umurku 5 tahun kan, Noona?" tanya Sehun.
Lay terdiam, sepertinya Sehun hanya mengingat kenangan saat ia kecil. Ini buruk. Pikirnya.
"Hunn-ah!" Xiumin langsung menghambur ke pelukan Sehun, yang lain mengikuti mendekat pada Sehunn.
"Ka..kalian–"
"Akhirnya kau kembali Hun-ah!" ucap Chen senang.
"Selamat datang!" Chayeol memberikan senyum khasnya.
"La..Lay Noona, si..siapa mereka?"
.
.
Adventurous Dream
14
.
.
Ruang tengah rumah itu terasa tegang sekarang. Sehun yang mengunjungi dunia mimpi adalah sesuatu yang membahagiakan, tetapi bagimana jika kembali tanpa ingatan? Itu sesuatu yang lebih dari kata buruk. Selepas makan tengah malam mereka memutuskan untuk berkumpul bersama, menceritakan apa yang telah terjadi.
"Mianhae," Sehun menundukkan kepalanya.
"Gwaenchanha Hun-ah, sangat tidak memungkinkan bila tidak terjadi sesuatu padamu saat kembali ke dunia nyata. Kau sudah sangat lama tinggal di sini," Suho memberikan senyum terbaiknya pada adik kecilnya itu.
"Benar. Kau bisa kembali ke tubuhmu tanpa kurang fisik dan dapat kembali ke dunia mimpi pun kami sudah sangat bersyukur," ucap Xiumin.
"Kami tahu perjuanganmu. Terima kasih sudah kembali Hun-ah" Lay tersenyum sambil menggenggam tangan Sehun.
"Tapi ini semua menyiksaku, aku terus merasakan sakit di kepalaku dan selalu melihat bayangan-bayangan asing dalam kepalaku. Haruskah aku mencoba mengingatnya?"
"Lakukan secara bertahap Hun-ah, kami yakin kau pasti akan mengingat lagi" Lay menyemangatinya.
"Terima kasih semua," ucap Sehun tersenyum. Ia bersyukur bertemu dengan orang-orang yang baik.
"Ah ya, apa Luhan ada di sini?" tanya Sehun.
"Kau mengingatnya?" tanya Suho terkejut.
"Aku mendapat ingatan saat aku kecil. Luhan adalah sahabat kecilku. Dimana dia?" Sehun terlihat tidak sabar.
"Benar, kau tidak mengingatnya" lirih Suho.
"Aku mengingat Luhan, Hyung" bantah Sehun.
"Bukan. Maksudku kau tak mengingat apa yang terjadi pada Luhan,"
Dirinya bagai tak bernyawa saat ini, apa sesuatu yang buruk terjadi pada Luhan? Tidak mungkin kalau– "ap..apa yang terjadi?" tanya Sehun tegang, napasnya seperti tercekat.
Mereka menunduk tidak berani menatap Sehun. Mereka mempertimbangkan apakah sebaiknya Sehun harus tahu.
"Ada apa sebenarnya? Apa kalian bisa menjelaskannya padaku tentang semua apa yang aku lupakan?" pinta Sehun. Matanya terlihat sangat terpukul. Sehun merasa sudah mengetahui segalanya di mimpinya, ternyata itu bukan apa-apa.
"Baiklah akan aku ceritakan" Suho angkat bicara. Ini adalah pilihan yang terbaik.
"Kami tidak tahu tepatnya, kami hanya tahu jika Luhan dibawa dan diculik oleh Black Side. Kapan Luhan dibawa oleh mereka juga kami tidak tahu. Luhan diculik sebagai sandera untuk memancing agar kami menyerahkan Baekhyun. Seperti yang kita tahu, sebelumnya kau juga tahu bahwa Baekhyun bukan dari kelompok kita, ia adalah pengikut Black Side–"
"Tapi itu dahulu," tambah Chanyeol.
"Ya benar. Sekarang Bakehyun ada di pihak kita. Kami semua menyusun rencana untuk menyelamatkan Luhan tetapi tidak berencana menyerahkan Baekhyun pada mereka. Terjadilah peperangan kecil di sana membuat kami semua terluka. Luhan kembali ke tangan kami dengan keadaannya yang mengenaskan."
"Luhan.. ternyata ia juga diinginkan untuk dibunuh. Kami tidak tahu alasannya, dan Luhan dalam keadaan pemulihan karena ia diracun, untungnya racun tersebut tidak banyak terserap ke darahnya" ucap Lay.
"Mwo?!" Suho, Chanyeol, dan Chen berteriak tak percaya. Mereka memang belum mengetahui perihal Luhan menjadi incaran selain Baekhyun karena mereka tidak sadarkan diri lebih awal.
Serpihan ingatan muncul di benak Sehun. Ia memejamkan matanya.
..
Sesosok makluk yang tidak ia ketahui berada bersamanya dan Luhan.
Sosok itu menyeringai lalu membawa Luhan dari pandangannya.
"Lu Tidak!"
"TIDAAKKK!"
..
Sehun memegangi kepalanya yang sedikit sakit.
"Hun-ah! Gwaenchanha?" tanya Xiumin khawatir.
"Aku melihat.." Sehun memejamkan matanya, mencoba mengingat wajah yang baru saja muncul di pikirannya. "Itu.. seseorang membawa Luhan tepat di depanku dan.. Aghh! Siapa dia?!" Sehun merasa frustasi karena tak mengenali siapa sosok yang membawa Luhan.
"Jangan dipaksakan Hun-ah," Lay memeluk Sehun menenangkannya.
"Aku.. aku benar-benar tidak berguna karena Luhan diculik tepat di depan mataku" Sehun mulai terisak. "Aku.. hiks,"
"Gwaenchanha Hun-ah gwaenchanha. Ini bukan salahmu," Lay menepuk pungguk Sehun dengan lembut.
"Jadi, dimana Luhan?" tanya Sehun lemas.
"Ada di kamarmu, di sana" tunjuk Suho pada salah satu pintu yang ada di dekat ruang tengah.
Sehun bangkit dari duduknya, "aku ingin melihat Luhan," ucapnya lalu ia meninggalkan mereka di sana. Mereka menatap sedih pada adik mereka.
"Hyung, apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Chanyeol pada Suho.
"Sebenarnya, aku ingin meminta maaf pada kalian. Maaf karena aku tak bisa melindungi kalian, bahkan aku sudah tidak sadarkan diri sebelum semuanya berakhir." Suho menundukkan kepalanya. Ia merasa bersalah.
"Ini bukan salahmu Hyung, kita semua adalah yang ingin menolong Luhan. Jadi kita sudah seharusnya saling tolong menolong," ucap Chen.
"Benar Suho-ya, jangan salahkan dirimu sendiri. Luhan juga sudah selamat, begitu juga Baekhyun, ia masih bersama kita" Lay tersenyum.
"Bisa kalian jelaskan mengapa Luhan menjadi sasaran selain Baekhyun?" tanya Suho.
Lay mengangguk, "saat itu salah satu pengikut mereka, perempuan bermata besar berniat membunuh Baekhyun, bahkan Bakehyun sudah terjebak dengan kekuatannya. Tiba-tiba perempuan itu berteriak bahwa Yifan harus membunuh Luhan sekarang. Saat itu api sudah melayang menuju Luhan tetapi–"
"Laki-laki Black Side itu melindungi Luhan?" sela Suho.
Lay dan Baekhyun mengangguk, "Jongin menyelamatkan Luhan," jawab Lay.
Suho memegangi kepalanya yang terasa berdenyut, "ada apa ini sebenarnya?" gumam Suho lalu menghela napas berat. "Lay-ah bisa ikut aku sebentar?" pinta Suho.
Lay merasa gugup saat ini, entah mengapa di matanya Suho terlihat sangat frustasi akan banyak hal. Ia mengangguk dan mengikuti kekasihnya itu dari belakang.
Mereka sampai di kamar mereka, Suho segera saja mengunci pintunya dan menyuruh kekasihnya itu untuk duduk di ranjang.
"Wa-wae Suho-ya?" tanya Lay.
Suho melipat tangannya di dada dan melihat keluar jendela, "aku benar-benar kecewa padamu Lay-ah" ucapan Suho sukses membuat jantung Lay serasa tak berdetak. Lay hanya terdiam menunduk tak berani menatap kekasihnya itu. "Mengapa kau melakukan itu?! Itu membahayakan jiwamu!" ucap Suho degan nada tinggi membuat Lay terkejut.
"Mi-mianhae.. jongmal mianhae,"
"Apa kau tak memikirkan bagaimana perasaanku jika terjadi sesuatu padamu?" tanya Suho frustasi.
"Bukan Suho-ya, bukan itu. Aku tidak bisa membiarkan Hun-ah terus seperti itu, aku tidak bisa-" jawab Lay lemah, ia mencoba menahan isakannya.
"Kau bisa membantunya, tapi tidak dengan mengorbankan dirimu!" bentak Suho kemudian ia menyesalinya ketika mendengar isakan kecil kekasihnya.
"Hiks.. Hun-ah adalah adikku, aku menderita melihatnya menderita hiks.." Lay menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, ia menangis.
Suho merasa dirinya cukup keterlaluan, jadi ia duduk di samping Lay dan memeluknya erat, "mianhae hm? Aku keterlaluan," ucap Suho sambil mencium puncak kepala kekasihnya.
Lay mengangguk, "aku hiks.. aku juga minta maaf karena membebani pikiranmu," Lay meremat kuat baju yang Suho kenakan.
"Lain kali jangan lakukan itu Lay-ah, kau hampir membunuhku ketika aku tahu ramuan yang kau buat tidak ada di sana," mohon Suho.
Lay melepaskan pelukannya dan menatap Suho, "bukan Xiumin yang memberitahumu?" tanya Lay.
"Mwo? Xiumin juga tahu?" Suho terkejut.
Lay mengangguk, "jangan salahkan Xiumin,"
Suho tersenyum lalu mengangguk, "Xiumin adalah sahabatmu yang paling setia, aku tidak mungkin menyalahkannya," ia kembali merengkuh Lay dalam pelukannya.
.
.
"Luhanie," gumam Sehun. Ia melihat sahabat kecilnya itu terbaring lemah di ranjang.
"Mengapa aku harus melihatmu terus menutup mata? Kapan kau membuka matamu," Sehun menatap Luhan sedih.
Luhan membuka matanya tepat saat Sehun menatap matanya yang semula tertutup. "Hun-ah," ucap Luhan lemah.
"Lu..Luhanie? Kau sadar?" wajah Sehun terlihat senang karena Luhan seperti mendengar pertanyaannya.
"Mi..mianhae" ucap Luhan.
"Wae? Mengapa kau meminta maaf, kau tak salah apapun Lu," Sehun menggenggam tangan Luhan.
"Aku mengingkari janjiku,"
Janji? Pikir Sehun. Apa Luhan pernah menjanjikan sesuatu padanya? Sehun merasakan kepalanya kembali berdenging.
..
"Lu,"
"Ya?"
"Berjanjilah kau akan tetap bersamaku,"
"Tentu saja, aku akan selalu bersamamu,"
..
Sehun mencoba melawan sakit di kepalanya. Serpihan memori itu kembali datang. Ya, Luhan pernah berjanji padanya. "Bahkan aku merasa mati pun aku tidak akan pantas, setelah apa yang kau alami Lu," ucap Sehun sendu.
Air mata Luhan keluar tanpa izin, Luhan mengingat masa-masanya di dalam sel yang dingin dan berdebu itu, ia mengingat bagaimana Kyungsoo selalu menyiksanya.
"Sst.. Lu, uljima" bisik Hun sambil mengecup punggung tangan Luhan guna menenangkannya.
"Aku..hiks..aku takut Hun-ah" isak Luhan.
Sehun mengusap air mata Luhan, "gwanchanha, aku ada di sini. Mianhae Lu," ucap Sehun menenangkan. Ia merasa sangat tersakiti melihat bagaimana Luhan mengalami trauma dengan apa yang terjadi padanya.
"Hiks.." Luhan meringkuk memeluk lengan Sehun.
"Gwaenchanha," Sehun terus membisikkan kata-kata penenang.
Tak lama Luhan kembali tertidur, pelukannya pada lengan Sehun mulai mengendur. Sehun membenarkan posisi tidur Luhan dan menyelimutinya kembali. Ia keluar dari sana.
"Hun-ah? Bagiamana dengan Luhan?" tanya Lay.
"Luhan sudah sadar, ia sudah kembali tidur,"
"Mengapa kau tak memberitahu kami?"
"Mianhae, aku khawatir Luhan mengingat apa yang terjadi padanya jika banyak orang di sana,"
Mereka yang ada di ruang tengah menghela napas lega. Setidaknya mereka tahu bahwa Luhan sudah lebih baik.
"Baiklah, sebaiknya kita istirahat," ucap Suho. Yang lain menyetujuinya dan masuk ke kamar masing-masing.
"Hun-ah, kau bisa tidur dengan Suho. Aku akan bersama Luhan," tawar Lay.
"Sepertinya aku akan menjaga Luhan saja. Noona tidurlah," tolak Sehun.
"Aku mengerti," lalu Lay menyusul Suho ke kamar mereka.
.
.
Keesokannya, rumah itu terlihat ramai hari ini. Dimana Baekhyun kali ini kembali mendapat tugas untuk memasak ditemani Chanyeol yang hanya bisa merusuh hingga teriakan nyaring Baekhyun terdengar di seluruh penjuru rumah.
Seharusnya ini sudah menjadi makan siang karena Baekhyun dan Chanyeol tidak juga menyelesaikan masakan untuk sarapan itu. Hal itu membuat Baekhyun benar-benar gerah karena selain dirinya merasa lapar ia juga merasa akan mendidih tiap kali kekasihnya itu memperlambat pekerjaannya.
"Chanyeol-ah! Jangan masukan semua agghh!" heboh Baekhyun.
Chanyeol melihat padanya dengan polos, "ah? Bukankah sama saja?"
"Ish! Kita akan membuat 2 hidangan berbeda dengan satu bahan! Sudahlah kau duduk saja!" kesal Baekhyun, ia mencoba menyelamatkan sebagian dagingnya yang baru saja dimasukkan Chanyeol.
"Kalau begitu aku akan memotong wortel ini untukmu," ucap Chanyeol dengan senyuman bodohnya.
"ANDWAEE!" teriakan Baekhyun membuat Chanyeol menutup kedua telinganya yang seketika langsung saja berdenging.
"Araseo araseo!" Chanyeol menyerah membantu Baekhyun dan memutuskan untuk menunggu Baekhyun di meja makan. Kemudian ia mengingat sesuatu yang mengerikan tentang kekasihnya.
"Baek–"
"Apa?!" sahut Baekhyun ketus tanpa melihat pada Chanyeol di sana.
"Baek, kau harus melihatku jika aku sedang berbicara padamu," suara Chanyeol terdengar serius kali ini.
Baekhyun menarik napasnya berusaha untuk tidak meledak, ia akan berbalik tapi ternyata Chanyeol sudah di belakangnya merengkuh pinggangnya dari belakang membuat pergerakannya terhenti. Channyeol menelusupkan kepalanya dari sebelah leher Baekhyun membuat Baekhyun merinding.
"Baek," panggil Chanyeol, Baekhyun menanggapinya dengan gumaman. Tiba-tiba Baekhyun merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya, jantungnya berdegup tak beraturan hingga ia merutuki dirinya sendiri karena khawatir Chanyeol bisa mendengarnya.
CUP
Chanyeol memberikan kecupan singkat di bibir Baekhyun, tubuhnya yang terlalu tinggi untuk Baekhyun tentu saja memudahkannya meraih bibir mungil kekasihnya itu. Mata Baekhyun membulat seketika, ia merasa kehabisan oksigen. Ia dan Chanyeol adalah sepasang kekasih, jadi mungkin saja jika Chanyeol menciumnya bukan?
Baekhyun merasa dirinya tidak beres, panas dingin menjalari tubuhnya. Ia bergerak gelisah di pelukan Chanyeol.
"Chan–"
"Baek, kenapa kau terus saja berbicara dan bahkan berteriak? Yifan bisa mendengarmu," ucap Chanyeol akhirnya. Baekhyun hanya bisa terdiam.
"Aku.. sudah tidak mempedulikannya," jawab Baekhyun. Secara perlahan Baekhyun tidak lagi merasakan sakit yang dahulu Yifan berikan padanya. Bahkan ia sudah tidak peduli lagi apa Yifan mendengarnya atau tidak. Baginya, kenangan bersama Yifan adalah sebuah kenangan yang tidak harus merusak hidupnya.
Ia kini mencintai kekasihnya saat ini, walaupun belum mencintai sepenuhnya tetapi ia merasakan nyaman setiap di dekatnya dan juga merasakan sebuah kasih sayang yang selama ini ia inginkan.
Chanyeol mengeratkan pelukannya pada Baekhyun, ia menghirup aroma buah dari rambut kekasihnya, "aku akan selalu bersamamu," gumam Chanyeol pelan membuat Baekhyun semakin yakin bahwa Chanyeol adalah yang terbaik baginya. Baekhyun berbalik dan memeluk erat laki-laki yang menjadi kekasihnya itu.
Mari kita tinggalkan pasangan Chanbaek itu. Di sebuah ruang khusus, Lay sedang membuat ramuan ditemani Xiumin. Lay mencampurkan beberapa serbuk berwarna merah ke dalam botol yang berisi cairan kuning lalu menutupnya dan mengguncangnya sedikit.
Lay mengangkat botolnya, "aku harap ini berhasil," gumam Lay.
Xiumin menutup buku tebal yang sedaritadi mereka gunakan dan mendekat pada Lay, "apa sudah selesai?" tany Xiumin.
Lay mengangguk senang, "Tapi kita harus memperbanyaknya, ini hanya sebagian kecil. Sebelum itu kita harus mencoba ini,"
"Bagaimana cara mencobanya?" tanya Xiumin.
"Seseorang yang terkena sihir. Orang itu akan memuntahkan darah hitam jika sihir di tubuhnya hilang," jawab Lay. Xiumin menatap Lay penuh arti, begitu juga Lay, mereka berdua seperti bermain dengan telepati mereka untuk berkomunikasi.
"Kajja," ajak Xiumin kemudian mereka tertawa bersama.
Xiumin dan Lay menghentikan langkah mereka ketika keduanya hendak memasuki dapur. Mereka sedikit bersembunyi di balik lemari.
"Mwoya? Apa yang mereka lakuakan?" tanya Lay terkejut. Xiumin hanya terkikik melihat betapa polosnya wajah Lay sekarang.
"Kau ini sudah tua masih saja terkejut melihat yang seperti itu" kekeh Xiumin.
Lay memukul lengan Xiumin, "mataku bisa iritasi jika melihat mereka berciuman seperti itu" gerutu Lay.
"Apa kita ganggu mereka, atau–"
"Kita lakukan nanti saja," usul Lay yang tiba-tiba tertawa.
"Wae?" selidik Xiumin.
"Jangan ganggu pasangan itu" kekeh Lay.
"Araseo," angguk Xiumin terkikik. Tapi kemudian Xiumin berteriak dari tempat persembunyiaannya denga Lay, "BAEKHYUN-AH, APA MAKANAN SUDAH SIAP?"
"Micheoso?!" bisik Lay tajam.
Xiumin terkikik melihat Chanyeol dan juga Baekhyun gelagapan di dapur sana, mereka dengan cepat melepaskan tautan bibir mereka. Xiumin bisa melihat Baekhyun yang mengatur napasnya terlebih dahulu, "SEBENTAR LAGI EONNIE," teriak Baekhyun.
"Ayo tinggalkan mereka," ucap Xiumin masih tertawa geli.
"Dasar! Tidak dirinya, tidak kekasihnya, mereka sama-sama suka menjahili yang lain" kekeh Lay melihat kelakuan abstrak sahabatnya itu.
.
.
[Di pedalaman hutan]
Setelah terjadi penyerangan di markas mereka, Black Side melarikan diri jauh ke pedalaman hutan. Mereka merasa kalah karena kehilangan satu anggota mereka Jongin dan juga kehilangan kesempatan untuk membunuh Baekhyun.
"Yifan!" Kyungsoo beranjak dari tempatnya mendekati Yifan yang sedang duduk di depat api. Yifan tak menanggapinya, ia masih tetap menatap api.
"Jawab aku berengsek!" kesal Kyungsoo.
"Bisakah kau tidak membuatku pusing sekarang?" ucap Yifan datar.
Kyungsoo duduk di samping Yifan, "apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Kyungsoo.
"Aku belum memikirkannya,"
"Apa benar Jongin masih hidup?" tanya Kyungsoo menundukkan kepalanya. Dirinya tak mau terlalu berharap bahwa Jongin masih ada, tapi hatinya terus menjerit menginginkan Jongin ada di sampingnya.
Setelah kemarin mereka meninggalkan Jongin di sana, mereka pikir Jongin sudah tak bernyawa. Ternyata dugaan mereka salah, Yifan mendengar Kai mengatakan sesuatu untuk menyelamatkan Suho dkk itu.
"Kenapa dia begitu bodoh hanya karena manusia itu," ucap Yifan. "Aku tidak tahu apa ia masih hidup sekarang,"
Kyungsoo mengepalkan tangannya, "jika Jongin–" Kyungsoo menghirup udara dengan bergetar dan dengan cepat menghapus air matanya yang hampir mengalir, "tidak. Aku akan membunuh mereka semua bagaimapun keadaan Jongin!" geramnya.
Yifan menoleh pada Kyungsoo, "jika Jongin memintamu bersamanya, berarti kau akan meninggalkan kami?" sinisnya.
Kyungsoo terdiam. Ini sebuah pertanyaan yang membuatnya bimbang, apa ia harus memilih antara cinta dan tujuannya?
"Anggap saja kau akan meninggalkan kami," ucap Yifan lalu bangkit hendak mendekati isterinya di salah satu pohon yang kini mereka gunakan sebagai tempat tinggal.
"Kau tidak tahu mengenaiku Yifan!" ucap Kyungsoo tajam.
"Kalau begitu kau juga, kau tak mengetahui apapun tentangku!" Yifan berlalu meninggalkan Kyungsoo dalam keheningan.
Yifan dan Kyungsoo, keduanya bertemu di dunia mimpi sejak lama. Mereka memiliki tujuan masing-masing yang tidak mereka ungkapkan. Mereka hanya membantu untuk satu hal, memusanahkan siapapun yang ada di dunia mimpi, itu perjanjian mereka. Apa yang selanjutnya akan terjadi setelah semua menghilang dari dunia mimpi, mereka saling tak memberitahu karena itu artinya mereka harus pergi dengan jalan masing-masing. Yifan dengan tujuannya dan Kyungsoo dengan tujuannya.
Kyungsoo menatap langit malam yang seolah menyinggungnya, tidak ada satupun bintang disana seperti tak ada siapapun disisinya sekedar untuk menghiburnya. Matanya mulai berair, tak lama air mata yang sekian lama ia tahan merembas jatuh dari pelupuk matanya. Hatinya terasa sangat sesak mengingat bagaiamana orang yang ia cintai tak diketahui keadaannya.
'Aku membutuhkanmu, Jongin-ah.. apa kau tak bisa melihatku sebentar saja? Aku merindukanmu, aku harap kau baik-baik saja' gumam Kyungsoo dalam hatinya, dirinya terus terisak di hening malam sambil memeluk lututnya.
'Aku pasti bisa, aku harus bertahan!'
Dan di sana Kyungsoo tertidur bersandar di badan pohon tanpa melupakan hatinya yang tersiksa.
.
.
Luhan dan Sehun sudah memutuskan untuk kembali ke dunia nyata hari ini. Kondisi Luhan juga sudah membaik dalam beberapa hari. Sehun baru saja kembali dari dunia nyata, setiap pagi ia harus kembali ke tubuhnya agar tak membuat para eomma di sana cemas. Luhan yang belum siuman saja sudah membuat rumah itu mencekam, apalagi jika Sehun juga tidak terbagun.
Luhan juga sudah mengetahui bagaimana keadaan Sehun yang kehilangan ingatannya. Tapi Luhan tak tahu jika Sehun hanya mengingat dirinya karena ingatan masa kecil Sehun yang terungkap. Lay sebelumnya memberitahu Sehun agar dirinya tidak memberitahu Luhan ingatannya itu. Alasannya, Lay belum bisa memacahkan bagaimana bisa Luhan juga melupakan kenangan masa kecilnya bersama Sehun. Ia merasa ingatan masa kecil itu adalah sesuatu yang berbahaya.
"Bagaimana keadaanmu Lu?" tanya Suho. Kini mereka semua sedang berkumpul di ruang tengah.
"Sudah lebih baik," jawab Luhan tersenyum. "Terima kasih sudah menolongku,"
"Gwaenchanha Lu, bahkan apa yang kami lakukan tidak bisa disebut meyelamatkanmu," lirih Suho.
"Maksud Oppa?" tanya Luhan.
"Banyak hal yang sudah terjadi beberapa hari ini. Kau tahu, Jongin benar-benar mempertaruhkan nyawanya untukmu," jawab Suho.
"Jongin? Kai?!" tanya Luhan terkejut.
Baekhyun mengangguk, "di detik-detik terakhirmu," sambung Xiumin.
Sehun merasakan sesak didadanya, ia benar-benar tidak berguna di saat seperti ini. Mengapa ia harus kehilangan ingatannya seperti ini, mengapa bukan ia yang mengorbankan dirinya untuk Luhan, mengapa orang lain yang melakukannya. Banyak kalimat-kalimat penyesalan bermunculan di kepalanya. Sehun menundukkan kepalanya sembari mendengar kata-kata yang membuatnya semakin tercabik. Tangannya terkepal erat, apa dirinya akan kehilangan Luhan?
"Di-dimana Kai?" tanya Luhan lemas. Sehun masih bergeming di tempatnya, tak memandang siapapun.
"Ia ada di ruang intensif," jawab Lay, "aku akan mengantarmu," tawarnya.
"Ne eonnie," Luhan bangkit dari duduknya dan mengikuti kemana Lay membawanya.
Sehun menghempaskan tubuhnya sambil menghembuskan napas beratnya, ia sungguh tersiksa dengan ketidaktahuan ini. Yang lain menatap Sehun iba, mereka tahu apa yang terjadi pada Sehun sangatlah berat. Sehun memukuli kepalanya berkali-kali sambil memejamkan matanya menahan seluruh kekuatannya agar tak menangis.
"Hun-ah, jangan seperti ini," Suho menahan tangan Sehun yang terus digunakan untuk memukul kepalanya.
"Aku– hhh benar-benar tak berguna," lirih Sehun lalu ia bangkit dari duduknya dan keluar dari rumah.
"Aku akan menemaninya," Xiumin hendak menyusul Sehun tetapi Suho menahannya.
"Biarkan ia sendiri, ia butuh menenangkan diri," ucap Suho.
"Chen-ah, mau ke mana?" tanya Suho.
"Hanya berjalan-jalan sebentar mencari angin," jawab Chen lalu ia keluar dari sana untuk mencari Sehun. Ia tidak mungkin bisa berdiam diri seperti itu.
.
.
[Ruang Intensif]
Luhan masuk ke dalam ruangan yang tak terlalu luas itu, ruangannya hanya cukup untuk satu tempat tidur, nakas, dan kursi. Ia masuk tanpa meminta Lay menemaninya, ia ingin menemui Jongin sendiri.
Luhan menatap tubuh tak berdaya Jongin. Tubuhnya terdapat bekas-bekas kehitaman dari luka bakarnya, kepalanya pun diperban, tak hanya kepala, kaki, tangan, dan dadanya dibalut perban putih yang mennyakitkan di matanya.
Luhan mengingat bagaimana Jongin berjanji menyelamatkannya. Jika tahu seperti ini, ia tidak akan pernah mau diselamatkan, ia tak mau orang lain menderita karenanya, apalagi sampai harus merenggang nyawa. Entah apa yang harus ia lakukan seandainya Jongin sadar nanti. Ia takut tak bisa membayar hutangnya.
"K-kai, kenapa kau bodoh sekali" bisik Luhan sendu.
"Kau tidak harus mengorbankan dirimu seperti ini, aku tidak hiks.. aku tidak tahu harus berbuat apa untukmu hiks.." isak Luhan, ia masih berdiri memandangi tubuh Jongin.
"Tapi.. gomawo, aku harus tetap berterima kasih karena menolongku bukan?" Luhan menghapus air matanya.
"Aku harap kau cepat pulih dan berteman denganku," ucap Luhan terseyum lalu keluar dari sana setelah membereskan air matanya.
.
.
"Hei!" sapa Chen ketika menemukan Sehun duduk di tempat terakhir kali mereka bersama. Dugaannya tepat karena Sehun masih kemari saat menenangkan pikirannya.
Sehun gelagapan dan menghapus cepat air matanya, "a-ah, Chen Hyung" balas Sehun.
Chen terus memerhatikan Sehun, ia tahu Sehun habis menangis, atau ia datang saat Sehun sedang menangis?
"Aish mengapa disini sangat banyak debu!" gerutu Sehun sambil tertawa, ia menghapus air matanya yang menggenang.
"Benar, disini memang berdebu," kekeh Chen.
"Hun-ah kau tahu? Ini adalah tempat favoritmu," Chen memberitahu.
"Benarkah? Aku tidak ingat itu, aku hanya melangkah dan ternyata menuju ke sini,"
Chen tertawa lalu menatap ke langit yang kelabu, "apa sangat sulit?" tanyanya.
"Untuk?" Sehun balik bertanya.
"Tidak mengingat apapun,"
Sehun mengangangguk, "aku seperti seseorang yang membebani dan yang paling ku benci.. aku tidak bisa melindungi Luhan" Sehun menundukkan kepalanya.
Chen menepuk pundak Sehun pelan, "Yah tidak bisa melindungi orang yang kita sayangi memang menyiksa, apalagi ada orang lain yang melindunginya. Bersemangatlah! Kau pasti mendapatkan ingatanmu kembali," Sehun menoleh pada Chen yang tersenyum padanya.
"Gomawo Hyung," ucap Sehun balas tersenyum tipis.
"Gwaenchanha, bahkan dahulu kita memang tidak dekat," kekeh Chen.
Sehun mengerutkan keningnya, "be-benarkah?"
Chen mengangguk dan tersenyum mengingat terakhir kali Sehun tak terbuka dengannya, "kau benar-benar menyebalkan kau tahu?!" Chen mengusak rambut Sehun hingga berantakan.
"Yak!" pekik Sehun kesal sambil menepis tangan Chen.
Chen tertawa, "kau memang menyebalkan tetapi kau selalu kami sayang Hun-ah. Cepatlah pulih," Chen menepuk punggung Sehun dan meninggalkannya sendiri kembali.
Sehun tersenyum memandang punggung Chen yang semakin menjauh. Ia merenungi perkataan Chen sebelumnnya, tidak bisa melindungi orang yang kita sayangi memang menyiksa. Sehun mengepalkan tangannya penuh tekad dan berjanji akan berusaha yang terbaik untuk memulihkan ingatannya. Ia harus bisa melindungi Luhan, orang yang ia sayangi, tidak, orang yang ia cintai sejak lama.
.
.
[Dunia Nyata]
Luhan perlahan membuka matanya, ia bisa melihat langit-langit kamar yang asing di penglihatannya.
"Ini dimana?" gumam Luhan. Lalu ia melihat sekelilingnya dan menyadari bahwa itu bukanlah kamarnya, tangannya tertancap jarum infus yang membuat kulitnya terasa gatal. Ia melepas selang oksigen yang bertengger di hidungnya dan melepas jarum infusnya dengan sekali tarik, Luhan tidak menyukai jika kulitnya harus ditusuk jarum-jarum menyebalkan itu.
"Lu-Luhanie?!" seseorang masuk ke kamar yang ditempatinya dan terkejut mendapati dirinya siuman. Sosok itu mendekat dan barulah Luhan tahu bahwa itu adalah Heechul eomma, "Luhanie syukurlah!" isak Heechul sambil memeluk erat Luhan. "Terima kasih sudah bertahan," ucap Heechul.
"Eo-eomma, aku sesak," rengek Luhan saat Heechul terlalu menindihnya.
"A-ah mian," Heechul tersenyum sambil mengusap air matanya.
"Mama, eodi?" tanya Luhan.
"Aku akan menghubunginya sebentar," Heechul dengan tergesa keluar dari kamar untuk menghubungi Victoria dan Zhoumi.
Luhan tersenyum mendapati seseorang lainnya berdiri di ambang pintu sambil menatapnya, "Hun-ah," panggil Luhan. Sehun mendekat lalu membantu Luhan untuk duduk.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Sehun.
Luhan menenglengkan kepalanya ke kanan, kiri, atas bawah seperti melakukan perenggangan serta menggerakkan tubuhnya ke kanan-kiri, "sangat baik–" lalu ia mendekat berbisik pada Sehun, "dan...aku sudah dirawat dengan baik di dunia mimpi, gomawo," lanjutnya.
Sehun tersenyum, ia bersyukur bahwa Luhan baik-baik saja. Ia suka melihat bagaimana Luhan tesenyum padanya, Sehun menikmati masa-masa saat Luhan tersenyum padanya.
"Hun-ah," panggil Luhan. Tapi Sehun tak membalasnya, ia masih menatap Luhan. "Hei, Sehun-ah?" Luhan mengibaskan tangannya di wajah Sehun.
"A-ah, ne? Butuh sesuatu?" tanya Sehun terkejut.
"Mwoya? Kau tidak senang aku kembali?" tanya Luhan curiga.
"A-ani, aku sangat senang Lu. Hanya saja–"
"Wae?" tanya Luhan penasaran. Menurutnya Sehun terlalu diam belakangan ini, ia melihat Sehun seperti tertekan dan banyak pikiran.
"Aku merindukanmu," ucap Sehun tersenyum, ia meraih tangan Luhan dan mengusapnya lembut. "Aku benar-benar takut kehilanganmu,"
Luhan merona mendengar ucapan Sehun yang menurutnya sangat manis. Apa selama lupa ingatan, sikap Sehun seperti ini. "Aku juga merindukanmu kalau kau ingin tahu," balas Luhan menunduk.
"Sepertinya aku lebih merindukanmu," kekeh Sehun.
"Sepertinya begitu," Luhan mengedikkan bahunya.
"Luhan-ah," Heechul masuk bersama Jinki. Kedua orangtuanya sedang di perjalanan pulang. Heechul terlihat bingung melihat anaknya menggenggam tangan Luhan.
"A-ah eomma, aku baru berkenalan dengan Luhan," Sehun memberitahu. Ia berdiri dan mempersilakan Jinki untuk memeriksa keadaan Luhan.
Jinki mengambil selang infus yang Luhan lepaskan begitu saja, "kau yang melakuaknnya Nona Lu?" tanya dokter itu.
Luhan tertawa, ternyata dokternya itu masih mengingat kebiasaannya, "Dokter tahu aku tak menyukai itu," jawab Luhan.
"Kau belum berubah ternyata," kekeh Jinki. "Baiklah, mari saya periksa"
Jinki melepas stetoskopnya dan berbalik menghadap Heechul dan Sehun. "Nona Lu baik-baik saja, ia seperti hanya pingsan selama beberapa hari ini. Saya akan resepkan vitamin untuknya," ucap Jinki.
"Baik Dok," ucap Heechul.
"Kau Sehun-ah, bagaimana perkembanganmu?" tanya Jinki beralih pada Sehun.
"Saya baik-baik saja Dok, hanya saya belum mendapatkan ingatanku kembali"
"Dok, apa Sehun bisa kebali mengingat?" tanya Luhan.
Jinki memiringkan duduknya, "semua itu tergantung pada usaha Sehun sendiri untuk mengingatnya," ia melihat pada Sehun, "jika tekadmu kuat untuk mengingat pasti kau akan kembali mengingat dengan cepat. Jangan terlalu dipaksakan, lakukan perlahan"
Heechul merasakan dadanya berdebar. Ia takut jika Sehun akan mengetahui semuanya dengan cepat, ia takut jika kehilangan Sehun untuk kedua kalianya. Ia menyentuh lengan Sehun lembut, "iya Sehun-ah, lakukan perlahan dan jangan terlalu memaksakan dirimu. Eomma takut kau kembali sakit," ucap Heechul sedikit bergetar.
"Gwaenchanha eomma, aku akan baik-baik saja, percayalah" Sehun menenangkan eomma-nya yang terlihat khawatir itu. Ia tidak tahu jika ketakutannya dan ketakutan eommanya berbeda.
"Ah ya, dimana Zhoumi dan Victoria?" tanya Jinki.
"Mereka masih dalam perjalanan,"
"Kalau begitu sampaikan salamku pada mereka. Aku tak bisa berlama-lama karena harus ke luar kota," pamit Jinki.
"Baik Dok, mari saja antar," Heechul menepuk bahu Sehun mengisyaratkan untuknya menjaga Luhan sebentar. Sehun hanya mengangguk.
"Hun-ah," Luhan mengisyaratkan agar Sehun mendekat padanya, lalu Sehun mendekat dan duduk di pinggir ranjang. Luhan meraih tangan Sehun dan menggenggamnya, "aku akan membantumu mengingat. Yah walaupun aku tidak terlalu lama mengenalmu, tapi aku memiliki sedikit kenangan kita berdua" ucap Luhan sungguh-sungguh.
Sehun menunduk mendengar ucapan Luhan, "aku percaya kau akan membantuku Lu," ucap Sehun.
"Apa yang kau pikirkan Hun-ah?" tanya Luhan ia tidak mengerti mengapa Sehun muram seperti ini.
"Kau," jawab Sehun. Luhan menatap Sehun bingung. "Aku takut kehilanganmu, aku takut kau meninggalkanku,"
Luhan terdiam, ia tak mengerti ketakutan Sehun terhadapnya. Dengan ingatan yang terbatas, Sehun memang memiliki banyak ketakutan. Tapi apa yang mendasari ketakutan Sehun terhadapnya? "Mengapa aku harus meninggalkanmu?" tanya Luhan memberanikan bertanya.
Sehun menatap Luhan tepat di matanya, "aku tidak akan bisa menyimpan ini darimu, jadi aku akan memberitahumu"ucap Sehun membuat Luhan semakin penasaran.
"kau tahu, aku bukanlah orang yang menyelamatkanmu Lu. Aku..aku takut jika kau–" Sehun kembali menundukkan kepalanya. "Mengapa aku seperti anak kecil? Aku tidak boleh egois bukan" lanjutnya.
Luhan merasakan jantungnya berdebar. Ternyata ketakutannya dan Sehun adalah sama. Sehun takut kehilangannya karena Jongin dan dirinya takut kehilangan Sehun karena Jongin. "Tidak Hun-ah. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Kai, aku berhutang budi padanya, hanya sebatas itu. Percayalah padaku," Luhan mencoba mencari mata Sehun agar melihat padanya.
Sehun mengangkat kembali kepalanya, "mianhae Lu, mianhae.." lirih Sehun sambil mengeratkan genggamannya pada Luhan.
"Gwaenchanha," balas Luhan tersenyum.
.
.
Kediaman keluarga Lu kini terasa menyenangkan. Luhan yang sudah kembali sadar membuat mereka bersyukur dan suasana rumah kembali seperti semula. Mereka kini sedang makan malam bersama. Nyonya Lu tak henti-hentinya memeluk anak semata wayangnya.
"Mama, biarkan aku makan. Kenapa Mama terus memelukku," protes Luhan.
"Mama merindukanmu Lu," ucap Victoria.
"Baba tolong Luhan. Aku juga malu Sehun terus melihat, jangan peluk aku seperti anak kecil" rengeknya.
"Mama ingin memelukmu," Victoria tetap keras kepala. Luhan memutar bola matanya jengah, Mamanya ini benar-benar. Hal itu membuat yang lainnya tertawa melihat tersiksanya Luhan.
"Yeobo, biarkan Luhan makan. Ia baru saja pulih, nanti kau bisa tidur dengan Luhan dan memeluknya semalaman," usul suaminya. Benar saja, Victoria melepaskan pelukannya pada Luhan.
"Gomawo Baba tampan," ucap Luhan sambil berkedip genit.
"Luhan benar-benar pulih dengan cepat," ucap Heechul senang.
"Tentu saja eomma, aku yang terbaik bukan" kekeh Luhan.
"Hm, kau yang terbaik. Oh ya kau ingin apa? Daging atau ayam?" tanya Heechul.
"Daging saja eomma," jawab Luhan. Tiba-tiba Luhan merasakan sesuatu di kepalanya, ia merasa seperti dejavu. Ia pernah mengalami ini sebelumnya.
"Lu, gwaenchanha?" tanya Mama-nya.
"Apa ada yang sakit?" tanya Baba-nya.
"Lu?" Mamanya memanggil dengan wajah khawatirnya.
"A-ah ani, hanya aku merasa seperti deavu," ucap Luhan tertawa.
"Hah, kau membuat kami khawatir saja," ucap Victoria.
Luhan menyengir, "mianhae,"
Sehun menatap Luhan sendu, 'sebenarnya apa yang mmebuatmu melupakan ingatan masa kecil kita Lu?' gumam Sehun dalam hatinya.
.
.
to be continued-
.
.
Annyeong Anyeoongg :D
Gimana nih chapter ini? Apakah memuaskan? Semoga gak mengecewakan juga ya hehehe. Maaf kalo rada nganeh ^^ kkkk. Makasi buat yang masih ngikutin cerita ini dan makasi yang udah review yaampun aku senang karena review chapternya bertambah huhu :')
Balasan Review
#misslah: Waah kalo itu sih udah liat dari pas rilis kkkk. Semuanya ganteng yuhuuu :) apalagi suaminya buncan iya gak? kkk *terusbuncanlemparponicantik xD Seneng deh kalo dibilang seru hihi, makasi reviewnya :)
#knightwalker314: Terimakasih sudah selalu mendukung ^^ dan terima kasih reviewnya :) tunggu chapter selanjutnya ya ^^
#OhDeer07: bukan lagi, sampe kejang liatnya kkkk *maafkanlebay xD dan maaf balesnya disini hehe :) lagi ada masalah sedikir disini hehe
#LuVe94: Akhirnya ya hehehe hmm ada gak ya.. ada aja kali ya kesian uri Jonginie :( Ini ada sedikit HUHAN moment-nya semoga mengobati kangenmu, eh tapi chapter depan lebih ada moment-nya hihi. FIGHTING! Cinta HUNHAN hehe :*
#sarahachi: iyanih kamu kemana aja :( kkk udah di lanjut nih ^^ FIGHTING! Terimakasi reviewnya hehe..
..
Oke tunggu chapter selanjutnya ya
Review jangan lupa ^^
Gamsahamnida *loveforHUNHAN yeayy!
