Prince Hadhi ESP

Present

A fanfiction

"60 Days"

.

.

.

"Apalah maumu kasih, kau pilih diriku didalam hidupmu. Nyatanya kulihat kini tak bisa kau coba untuk setia. Sudah cukuplah sudah, ku memberikan waktu. Kau selalu tak bisa mencoba untuk setia. Masihkah aku diingkan? Masihkah aku didambakan?

Masih ada waktu untukmu.

Bersamamu akankah kujalani hidup?"

.

.

.

This

Is

A

Twelfth Story

.

.

.

Enjoy the Story

.

.

.

"Bukan maaf yang seharusnya keluar dari mulutmu itu, Yeol. Aku hanya butuh suatu kepastian darimu" Ungkap Baekhyun sedikit kecewa dengan jawaban yang diberikan Chanyeol.

"Maafkan aku, Baek"

Baekhyun menghela nafasnya berat, "Sudahlah, Aku lelah" Bakhyun beranjak dari sana, kakinya melangkah memasuki kamar Chanhyun.

"Maafkan aku, Yeol. Baekhyun mungkin sudah terlalu sakit atas sikapku padanya" ucap Kyungsoo menyesal saat Baekhyun sudah memasuki kamar Chanhyun.

Chanyeol tersenyum, "Mungkin dia juga lelah dengan sikapku dan juga terlalu banyak menyakitinya. Maafkan aku juga karena sudah memasukkanmu kedalam kehidupan rumah tanggaku, Soo."

Kyungsoo pun ikut tersenyum, "Aku juga yang salah, dari awal seharusnya aku tahu jika kau sudah menjadi milik Baekhyun. Mungkin hanya sebuah hasrat sesat saja, aku merasa tidak enak dengan Baekhyun. Oiya, aku boleh bertemu dengannya, Yeol?"

"Untuk?"

"Aku ingin berbicara saja dengannya, boleh?"

Chanyeol mengangguk, "Boleh, silahkan masuk. Mungkin dia sedang berada dikamar Chanhyun"

Kyungsoo melangkahkan kakinya menuju kearah sebuah kamar dengan pintu yang dipenuhi tempelan bergambar kartun-kartun lucu. Kyungsoo mengetuk pintu itu perlahan.

"Baek, ini aku Kyungsoo. Apa aku boleh masuk?"

"Ada apa?" sahut Baekhyun

"Aku boleh masuk atau tidak?"

Pintu itu pun perlahan terbuka, memperlihatkan wajah sembab yang masih dijejaki tetesan air mata. "Ayo masuk, Soo"

Kyungsoo pun memasuki kamar dengan suasana Baby Blue, dia mendekati sebuah keranjang bayi. Didalamnya ada seorang bayi laki-laki yang sedang tertidur pulas.

"Dia mirip denganmu, Baek" gumam Kyungsoo sambil mengelus lembut pipi ChanHyun.

Baekhyun mengambil salah satu kursi disana dan duduk disalah satu sisi keranjang bayi, "Dia anugerah terindah, yang dihadirkan tuhan untukku, Soo."

"Baek ... "

"Hmmm"

"Aku minta maaf"

Baekhyun meatapa kearah sahabatnya itu, "Maaf untuk semua hal yang kau lakukan selama ini padaku, Soo?"

Kyungsoo mengangguk sambil menatap lantai, dia tak berani menataplangsung kedua mata Baekhyun. "Maafkan aku, Baek. aku tidak bermaksud untuk menyakiti hatimu dan juga menghancurkan kehidupan rumah tanggamu. A—aku.."

Perkataan Kyungsoo tercekat, buliran bening mengalir jatuh membasahi kedua pipinya. "Maafkan keegoisanku selama ini, Baek. aku ... hiks... aku ... "

Baekhyun melihat bahu Kyungsoo yang terguncang hebat segera mendekap tubuh sahabatnya itu, mengelus lembut sambil menepuk-nepuk punggungnya untuk memberikan ketenangan. "Aku pernah bilang padamu, kau tidak perlu meminta maaf. Tidak ada yang perlu disalahkan disini. karena ini bukan salah siapa-siapa, Soo. Ini hanya masalah hati, dan cinta yang bertemu diwaktu yang tidak tepat"

Kyungsoo melonggarkan pelukan Baekhyun, kini dia berani menatap kedua netra sendu itu. "Hatimu itu terbuat dari apa, Baekhyun-ah? Kau begitu sabar dan selalu mengalah. Padahal hatimu selalu dilukai, Baek"

Baekhyun tersenyum lembut, dihapuskannya jejak air mata Kyungsoo dengan ibu jarinya. "Entahlah, Soo. Mungkin aku terlalu menyayangi kalian berdua, suamiku dan juga sahabatku. Kalian berdua begitu berarti dalam hidupku. Aku sebenarnya ingin marah pada kalian, aku ingin memusuhi kalian tapi itu tidak bisa kulakukan. Padahal, aku sudah cukup lelah dengan perlakuan kalian berdua dibelakangku."

"Maafkan semua kesalahku, Baek. kau boleh marah padaku, kau juga boleh memusuhiku. Karena memang aku yang salah"

Baekhyun menggelengkan kepalanya, "Sudah terlambat jika kau meminta maaf saat ini, Soo. Memang aku tidak marah pada kalian, tapi waktuku untuk bersama Chanyeol sudah habis. Enam puluh hari itu sudah berlalu, kami pernah berjanji jika waktu enam puluh hari itu tidak mengubah segalanya maka kami akan berpisah"

"Jangan gila, Baek. Chanyeol sangat mencintaimu."

"Dan juga mencintamu, Soo"

"Tapi Baek, Tidak bisakah ada kesempatan untuk kalian bersatu kembali? Pikirkan kembali keputusanmu itu, Baek. Atau jika memang itu bukan untuk cinta kalian, berpikirlah itu untuk Chanhyun. Dia pasti membutuhkan sosok orang tua, Baek"

Hati Baekhyun mencelos seketika saat nama Chanhyun disebut oleh Kyungsoo, dia tidak pernah berpikir akan itu. ya, Baekhyun tidak pernah berpikir sejauh itu akan dampak jika dia berpisah dengan Chanyeol nantinya.

"Itu sudah keputusan kami berdua, Soo. Jika hari itu tiba, kau bisa dengan tenang memiliki Chanyeol seutuhnya"

"Tidak, Baek. ini—"

"Ini sudah menjadi keputusanku dan Chanyeol, sebelum enam puluh hari itu berakhir aku selalu berharap Chanyeol bisa berubah dan kembali seperti dulu lagi. Agar pernikahan kami bisa kembali utuh dan bahagia. Tapi, kenyataannya tidak seperti apa yang aku harapkan, Soo"

"Tapi, Baek ... "

"Sudahlah, Soo. Kau tidak perlu kau pikirkan hal itu, biar aku saja dan Chanyeol yang memikirkannya"

"Tapi semua ini terjadi karena aku, andai saja aku tidak menggoda suamimu dan ... " Kyungsoo menghela nafasnya berat, pikirannya melayang saat dia dan Chanyeol saling berbagi cinta yang begitu hangat dan mendalam. Rasa sesal itu kembali mencuat, mencambuki setiap bagian hati Kyungsoo. "Andai aku tidak masuk kedalam rumah tangga kalian, mungkin ini semua tidak akan berakhir seperti ini"

Baekhyun memegang pundak Kyungsoo, "Tidak apa-apa, Soo"

"Baek, kau jangan salah pamah lagi ya pada Chanyeol. Dia sudah benar-benar berubah."

"Tapi waktu tak bisa diubah"

.

.

.

.

"Membicarakan apa saja dengan Kyungsoo?" tanya Chanyeol saat memasuki kamar Chanhyun, Kyungsoo sudah pamit pulang beberapa menit yang lalu.

"Banyak"

Chanyeol meduduki kursi disebelah Baekhyun, "Contohnya?"

"Ya banyak"

"Misalnya?"

"Banyak"

"Kau itu kenapa sih, Baek? jutek sekali denganku"

"Masa? Biasa aja ah, perasaan"

Chanyeol mengusap lembut rambut Chanhyun, "Baek, apa kita akan benar-benar becerai?"

Baekhyun menghela nafas perlahan, "Seperti yang aku katakan dulu padamu"

"Tak bisakah kau menariknya kembali, Baek?"

"Aku sudah berulang kali memberimu kesempatan untuk kembali, Yeol. Tapi, kesempatan-kesempatan itu selalu kau abaikan. Seakan-akan itu adalah hal yang tidak penting bagimu. Dan sekarang, saat semuanya sudah benar-benar berakhir kau bilang aku harus menariknya kembali, maaf aku tidak bisa"

Chanyeol menatap Baekhyun, netranya menatap dalam netra suaminya itu. "Apakah tidak ada kesempatan untukku kembali lagi, Baek?"

"Apakah ada kesempatan aku untuk terluka kembali, Yeol?"

Chanyeol mengerutkan keningnya, sepertinya dia agak bingung dengan pertanyaan Baekhyun. "Aku akan berusaha memperbaiki semua, Baek"

"Semua yang kau perbaiki, kau hancurkan kembali, Yeol"

"Kali ini aku akan bersungguh-sungguh, Baek"

"Aku bukanlah seperti seorang anak kecil yang sedang menangis lalu akan dia jika diberikan permen. Aku lelah, Yeol"

Chanyeol mengenggam jemari Baekhyun, "Baek, tolong berikan aku kesempatan kembali"

Sejenak Baekhyun melihat kearah Chanhyun, "Aku sudah lelah, aku ingin mengakhiri lelah ini dan aku ingin segera menyembuhkan luka dihatiku"

"Baek"

"Sudahlah, Yeol." Baekhyun beranjak dari kamar Chanhyun, keluar menuju kamarnya sendiri.

Chanyeol hanya bisa menatap kosong pintu yang tertutup itu, kemudian dia beralih menatap Chanhyun. Dikecupnya lembut kening bayi itu, "Apakan Appa terlalu kejam, sayang? Sampai-sampai Eomma tidak mau memberi Appa kesempatan untuk kembali, eumm?"

"Emmm..." Chanhyun hanya menggumam saja, tentu saja Chanhyun masih terlelap dalam tidurnya, Chanyeol hanya tersenyum melihat bayi laki-laki itu.

"Doakan Appa ya sayang, semoga Appa bisa membuat Eomma mengurungkan niatnya dan membatalkan perceraian itu." Chanyeol membetulkan selimut yang kini sudah tak berbentuk itu dan menyelimuti kembali tubuh mungil Chanhyun. Chanyeol memposisikan tubuhnya senyaman mungkin dikursi empuk itu, mungkin malam ini dia akan tidur dikamar Chanhyun.

Tanpa sepengetahuan Chanyeol, ternyata Baekhyun diam-diam mendengarkan semua apa yang Chanyeol bicarakan pada Chanhyun dari balik pintu kamar Chanhyun. Diasana dia diam termangu sambil berusaha menahan suara isakannya dengan tangannya sendiri.

"Maafkan aku, Yeol. Aku hanya tak ingin terluka kembali"

.

.

.

"Apa keputusanmu, Baek?"

Baekhyun menghentikan kegiatan mengetik laporan dilaptopnya saat sebuah pertanyaan keluar dari mulut sahabatnya, Kai. Pagi ini Baekhyun kembali keaktivitasnya seperti biasa, "Aku belum tahu"

"Enam puluh hari sudah berlalu, dan kau belum tau apa keputusanmu, Baek? seharusnya kau itu—"

"Jangan memikirkan aku, Baek." terdengar suara Kyungsoo diambang pintu kantor, secara otomatis Baekhyun dan Kai pun melihat kearahnya. Kyungsoo berjalan mendekat kearah Kai dan Baekhyun. "Aku sudah menghentikan kebodohanku selama ini. Aku memang salah sudah ada ditengah kalian berdua dan menghancurkan semuanya, aku minta maaf, Baek"

"Tidak usah meminta maaf berkali-kali padaku, Soo. Aku sudah memaafkanmu."

"Jangan bercerai dengan Chanyeol, Baek. aku mohon"

"Aku—"

"Aku rasa, ucapan Kyungsoo ada benarnya juga. Jika kau memang memaafkan Kyungsoo, kenapa kau tidak bisa memaafkan Chanyeol dan memperbaiki semuanya, Baek?"

"Aku butuh waktu, Kai"

"Akan aku bantu, Baek. biar bagaimana pun ini semua kesalahanku. Aku akan membantu untuk memperbaiki semuannya, Baek"

Baekhyun menggelengkan kepalanya, "Tidak perlu, Soo. Tidak ada yang perlu diperbaiki lagi. Semua memang sudah berakhir."

Kyungsoo mendekat dia berlutut didepan Baekhyun

"Kyungsoo, apa-apaan kau ini, bangun"

Kyungsoo menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku tidak akan berdiri dn akan terus meminta padamu untuk tetap bersama Chanyeol dan jangan pernah bercerai dengannya, aku mohon"

Kai yang melihat itu ikut berlutut dihadapan Baekhyun, Kyungsoo yang melihatnya mengerutkan dahinya.

"Kai kau—"

"Jika satu permohonan maaf dari sahabatmu tidak cukup membuatmu berubah pikiran, maka aku akan memohon padamu atas nama sahabat, aku mohon jangan berpisah dari Chanyeol tetaplah bersamanya. Aku tahu dia memang pernah menyakiti dan melukai perasaanmu sampai pernah berniat untuk menikah kembali tapi tidak bisakah kau memberinya kesempatan, Baek? walaupun aku tau kau berulang kali memberinya kesempatan. Namun, coba kau pikirkan lagi, Baek. cobalah berpikir untuk Chanhyun"

Baekhyun diam, dia tidak tau lagi apa yang harus dikatakan. Hatinya sendu, melihat dua sahabatnya berlutut didepan dirinya memohon agar dirinya tidak berpisah dari Chanyeol.

"Maafkan aku, Soo, Kai." Baekhyun beranjak pergi keluar kantor meninggalkan Kyungsoo dan Kai berdua disana.

Kyungsoo menghela nafas berat, "Semua ini gara-gara aku, Kai. Aku... aku.. hiks ... "

Kyungsoo terisak, bahunya terguncang. Kai nyang melihat itu, merengkuh tubuh Kyungsoo masuk kedalam dekapannya. Kyungsoo agak kaget dengan perlakuan yang diberikan, namun hatinya terasa begitu hangat dipeluk Kai seperti ini.

"Kai.."

"Aku mencintaimu"

Kyungsoo tercekat, jantungnya terpacu hebat. "Kai..."

"Aku sudah pernah bilang padamu kalau aku mencintaimu, jangan acuhkan aku lagi, sudah terlalu sakit saat aku tau kau berhubungan dengan Chanyeol"

"Maafkan aku, Kai. Aku benar-benar tidak bermaksud menyakitimu."

Kai melonggarkan pelukannya, ditatapnya dalam penuh kelembutan netra Kyungsoo. "Aku mencintaimu"

"Jangan duakan dia, Kai"

Kai mengerutkan keningnya, "Dia? Siapa?"

"Kekasihmu yang tempo hari kau bawa kemari itu, si wanita berambut blonde"

Kai tertawa, "Krystal maksudmu?"

"Oh jadi namanya Krystal, dia cantik."

Kai menggelengkan kepalanya, dia mengacak sayang rambut coklat milik Kyungsoo. "Dia adikku, dia baru saja pulang dari Amerika. Kau mengira dia itu kekasihku? Hahahaa"

"Habis, kalian itu terlihat serasi"

"Kau cemburu?"

"Ti—tidak, Si—siapa bilang aku cemburu, aku hanya—"

Kai menangkup kedua pipi Kyungsoo, "Aku mencintaimu"

Kyungsoo terkekeh, "Mau sampai berapa kali kau akan berbicara seperti itu"

Kai tersenyum simpul, "Sampai kau menerima pernyataan cintaku, Soo"

Kyungsoo menarik dasi Kai, kecupan lembut mendarat mulus dibibir Kai. "Apa itu cukup?"

"May I tasted Again, darling?"

"Sure, Cause I'm yours, my Handsome"

.

.

.

Baekhyun berkali-kali menghela nafas berat, pikirannya kacau saat ini. Disisi lain dia tidak ingin mengakhiri pernikahannya. Namun, disisi lain juga dia tidak ingin kembali terluka untuk yang kesekian kalinya. Baekhyun memejamkan matanya sejenak, merasakan desirang angin menerpa wajahnya. Kicauan burung ditaman rumah sakit menambah ketenangan jiwa Baekhyun saat ini. Terasa ponsel Baekhyun bergetar, ada sebuah E-mail masuk. Baekhyun segera membukanya.

HandsomeBoyKris

Subject : Hai, Baekhyun

Apa kabar?

Semoga kau baik-baik saja, sudah lama ya kita tidak bertemu...

Aku sekarang ada di China, aku mengurus perusahaan milik ayahku disini.

Bagaimana dengan rumah tanggamu?

Jemari Baekhyun dengan cekatan membalas e-mail itu,

To : HandsomeBoyKris

From : ByunBaekhyun

Aku baik-baik saja Kris...

Wahh, selamat ya, semoga sukses dan jangan luma main lagi kekorea ya :)

Aku akan bercerai...

Tidak butuh waktu lama, Kris pun membalas...

From : HandsomeBoyKris

To : ByunBaekhyun

Bercerai?kenapa?

Baekhyun menghela nafas sejenak, kemudia dia pun kembali membalas E-mail Kris...

To : HandsomeBoyKris

From : ByunBaekhyun

Mungkin memang sudah tidak bisa dipertahankan lagi, Kris.

Kris pun membalas cepat.

From : HandsomeBoyKris

To : ByunBaekhyun

Apa kau masih mencintainya

To : HandsomeBoyKris

From : ByunBaekhyun

Jika ditannya seperti itu, pastinya aku masih mencintainya Kris. Sampai detik ini pun perasaannku tak akan berubah padanya.

Baekhyun menunggu beberapa saat, tidak secepat tadi Kris membalas Email-nya. Kali ini agak sedikit lama.

From : HandsomeBoyKris

To : ByunBaekhyun

Seharusnya kau mengikuti apa kata hatimu, Baek.

Bukan mengikuti emosi sesaatmu.

Aku tahu, kau pernah disakiti dan terluka atas semua perbuataanya selama ini padamu. Tapi, setidaknya jika memang masih ada jalan dan kesempatan kenapa tidak kau berikan padanya, Baek?

Cobalah, cinta itu akan menuntun kalian untuk kembali bahagia, cinta juga yang membuat kalian bersatu dalam pernikahan selama dua tahun ini, bukan?

Jangan menyesali apa yang akan kau ambil nanti, biarkanlah orang lain menyesal dengan apa yang dia perbuat padamu tapi jangan pernah membuatmu bersikap seperti mereka juga, Baek.

Tolong pikirkan lagi maksud ucapanku.

Baekhyun tidak membalas email dari Kris, entah kenapa perasaannya begitu ringan saat ini ketika membaca email dari Kris tadi.

"Mungkin mencoba lagi tidak akan salah, iya mencoba memberikan kesempatan pada Chanyeol mungkin tidak ada salahnya" gumam Baekhyun sendiri.

"Baekhyun-ah" sebuah teriakkan dari kejauhan memanggil namanya, Baekhyun menoleh. Ternyata itu Chanyeol yang sedang melambaikan tangannya sambil menggendong Chanhyun.

"Ma ma ma ma" Gumam Chanhyun sambil menepuk-nempukkan kedua tangannya. Baekhyun tersenyum melihat bayi laki-laki itu. Baekhyun pun beranjak dari duduknya lalu menghampiri tempat diama Chanyeol dan Chanhyun yang sedang berdiri disamping mobil sport Chanyeol.

"Baekhyun-ah, AWASSSS!"

Ssebuah benda besi yang melaju kencang berhasil menghempaskan tubuh Baekhyun ke aspal, tubuh itu berguling berlumuran darah. Chanyeol berlari menghampiri tubuh bersimbah darah itu.

"Baekhyun-ah, bangun,, bertahanlah ... tolonggg ... " Chanyeol panik bukan kepalang, Chanhyun terus menangis dalam gendongannya.

Baekhyun tersenyum lirih, "Chanyeol, suamiku,. Maafkan aku yang pernah menyakitimu selama ini."

"Kau ini bicara apa, Tolong jangan bicara seperti itu, Baek. kau bisa bertahan, tolong bertahanlah" Tangis Chanyeol pecah sudah, niatnya untuk menjemput Baekhyun pulang berubah menjadi petaka.

Perlahan tangan gemetar peluh darah itu memegang pipi bayi laki-laki yang masih saja menangis itu, "Chanhyun-ah, sudah jangan menangis sayang Umma tidak apa-apa. Chanhyun harus berjanji pada Umma, untuk menjadi anak yang pintar ya"

"Kau harus tetap hidup Baekhyun-ah demi aku, demi anak kita, Jebbal."

Lagi-lagi Baekhyun tersenyum, dia tidak menghiraukan rasa sakit dikepala dan seluruh tubuhnya itu, "Tapi kau harus tetap hidup untukku dan juga anak kita."

"Bakhyun-ahh ... hikss... Baekhyun-ah ... "

Netra coklat itu perlahan menutup mengaburkan seluruh pandangan, "Park Chanyeol, Park Chanhyun, Aku mencintai kalian."

.

.

.

© Prince Hadhi ESP

Ended ?

.

.

.