Judul : My imagination is my Love
Chapter : 14
Author : Kakashy Kyuuga
Disclsimer : Naruto punya om Masashi ^_^
Genre : hurt, romance and fantasy
Pairing : Naruhina
Hinata POV
PUSING!
Itulah yang ku alami saat ini, tak henti-hentinya telingaku berdengung mendengar suara baritonnya.
"ATNARA ADA DAN TIAAADAAA—," nyanyinya dengan volume kandas, hingga terbatuk-batuk karenanya.
Dia memang hiperaktif, tapi liat-liat waktu juga dong!Saat ini tengah malam, apa dia tidak tahu yang namaya jam malam? Mana suaraya cempreng dan kacau liriknya.
"Kyuubi-kun, ini sudah waktuya tidur. Apa Kyuubi-kun tidak capek bernyanyi sedari tadi?" kataku setengah mengeluh mendengar suara parau karena berteriak menyanyikan lagu Utopia Seraya menutup telingaku dengan bantal.
"Katanya, mau menghabiskan waktu bersama. Kenapa Hinata-chan malah tiduran aja!" kata Kyuubi terdengar protes seraya mendekatiku.
Kenapa dia protes? Seharusnya yang protes itu aku, bukannya dia. Dia bahkan jelas-jelas sudah mengganggu waktu tidurku.
"Ayolah~, Hinata-chan~" rengek Kyuubi menggoyang-goyang tubuhku. Heeemmm—, tentu saja aku tak bisa merasakan tangannya hanya sensasi dingin yang kurasakan.
"Tapi, aku capek Kyuubi-kun. Bagaimana kalau besok kita habiskan waktu bersama?" tawarku.
"Eeuummm—. Besok?" tanyanya dengan pose sedang berpikir keras.
"Iya, besok kita ke Konohaland."
"Konohaland?" katanya lagi dengan membelakan matanya.
"Aku jamin, kita akan bersenang-senang disana." bujukku.
"Janji yah," katanya memasang mimic serius, seolah aku ini seorang pendusta.
"Iya, aku janji. Tapi biarkan aku istirahat, besok kita akan menghabiskan banyak energy di Konohaland."
"Yosh! Istirahatlah Hinata-chan, aku jamin besok adalah hari yang paling berkesan dalam hidupmu," aku hanya tersenyum mendengar kata-katanya. Ada bersamamu saja itu sudah menyenangkan bagiku.
Perlahan mataku terasa berat dan semuanya menggelap, ada beberapa ocehan Kyuubi yang tak sempat aku dengar, tapi yang pasti kata-katanya terdengar aneh bagiku.
HInata POV end.
Normal POV
Jam 6 pagi, awan cumulus seolah tak ingin membiarkan sinar matahari merembes melewati dinding pertahananya. Suara gemuruh kilat seakan membelah bumi, angin seolah ingin menerbangkan isi bumi. Sungguh awal pagi yang mengerikan, seakan semua kegiatan di pagi ini enggan bermula.
Eeettt—tunggu, ini adalah saat dimana Naruto dan Hinata akan menghabiskan waktu bersama, kenapa cuacanya seperti itu?!
Okey, kita mulai pagi yang cerah ini dengan kecerian dari sang pemilik senyum mentari. Dialah Kyuubi aka teman imajinasi putri Hinata kita.
"Ayolah~ Hinata-chan," rengek Kyuubi dengan manjanya karena lama menunggu.
"Iya, Kyuubi-kun. Aku sudah selesai kok," jawab Hinata dari dalam kamarnya. Suara pintu dibuka menampilkan sosok anggun nan cantik Hinata.
"Hi-Hinata-chan, kau sangat cantik," Kyuubi terpesona melihat Hinata.
"Te-terima kasih, Kyuubi-kun," balasH inata tak kalah terpesoa dengann pujian Kyuubi.
"Hehe~, kita pergi yuk," kata Kyuubi seraya berbalik dan menuju pintu keluar.
Selama dalam perjalanan menuju Konohaland Hinata bayak berdiam diri, dia hanya mendengar ocehan Kyuubi tentang apa yang dia lihat selama dalam perjalanan mulai dari hal yang kecil hingga hal yang tak perlu diurusi dia komentari. Hinata hanya mengelus-elus dadaya.
"Bagaimaa kalau dia benar-benar nyata? Apa yang akan terjadi pada orang-orang ini?" batin Hinata merasa kasihan dengan orang-orang yang dia komentari, senadainya mereka bisa mendengar kata-kata Kyuubi mugkin mereka sudah dikepung.
"Tsk, dasar pelit! Apa sih yang ada dalam pikiran mereka, sampai satu sen pun mereka enggan memberikanya pada orag tua itu!" kata Kyuubi saat melihat seorang pengemis yang terbilag sangat tua dan dekil duduk ditepi jalan seraya menadahkan tanganya pada orang-orang yang melewatinya.
"Sudalah Kyuubi-kun, kita tidak bisa memaksa mereka untuk melakukannya."
"Tidak bisa Hinata-chan, mereka tidak boleh seperti itu. Mereka juga harusya peduli pada orang-orang disekeliling mereka!" kata-kata Kyuubi makin tegas membuat dia menjadi sosok yang berbeda.
"Kau benar, Kyuubi-kun. Mungki bukan hari ini. Mungkin besok mereka akan berubah," kata Hinata seraya mengeluarkan uang dari dompetya. "Jika kita ingin merubah orang lain, lebih baik kita memulainya dari diri kita dulu," lajut Hinata seraya memberikan uangnya pada pengemis itu.
"Kau terlalu baik Hinata, aku takut orang akan menggunakan kebaikan mu untuk hal jahat" kata Kyuubi.
"Aku senang bisa membantu orang lain," balas Hinata seraya terseyum tulus pada Kyuubi.
"Kalian sepasang kekasih, yah?" baik Hinata maupun Kyuubi terkejut setegah mati mendengar pertanyaan dari pengemis itu.
"Si-siapa yang kakek maksud?" tanya Hinata memastikan maksud pertanyaan si kakek pengemis.
"Kalian berdua," jawab si kakek menunjuk Hinata dan Kyuubi. Kyuubi dan Hinata saling pandang tak percaya.
"Kakek bisa melihat dia?" tanya Hinata tak percaya seraya menunjuk Kyuubi. Si kakek mengangguk pelan, sementara Kyuubi terlihat gugup.
"Tapi, dia adala imajinasiku. Kenapa kakek bisa melihatya?" tanya Hinata lagi.
"Teman imajinasi?" tanya si kakek pada diri ya sendiri dengan gaya berpikir.
"Sudalah, Hinata. Ayo kita pergi," kata Kyuubi seraya berjalan menjauh dari si kakek.
"Ah, baiklah. Sebelumya, maafkan kami kek," Kata Hinata seraya membungkuk dan menyusuli Kyuubi.
"Teman imajinasi? Fufufuuu~," kata kakek itu seraya tertawa misterius.
Sementara itu ditempat Hinata.
"Apa kau tak merasa aneh dengan kakek tadi, Kyuubi-kun?" tanya Hinata masih penasaran dengan kakek tadi.
"Aku rasa kakek tadi adalah orang gila. Mana ada orang lain bisa melihat imajinasi orang lain," balas Kyuubi malas atau lebih tepatnya dia mencoba mengalihkan pemikiran Hinata.
"Iya, ya. Mana ada hal seperti itu," lanjut Hinata setelah pikiranya dan pikiran Kyuubi sepakat tentang kakek tadi.
"Syukurlah~," inner Kyuubi tedengar lega.
Konohaland terlihat di depan mata mereka.
"Welcome to KONOHALAND!" teiak Kyuubi begitu dia berdiri tepat dibawah gerabang masuk Konohaland. Untungnya tak ada yang bisa melihat atau mendengarnya, jika iya mereka akan mengklaim dirinya adalah salah satu pasie RSJ.
"Ayo, masuk Kyuubi-kun," ajak Hinata.
"Hinata, ayo kita naik yang itu," kata Kyuubi penuh semangat menunjuk rollercoaster begitu mereka tiba di wahana-wahana permainan.
Hinata hanya bisa pasrah mengikuti kemana kaki Kyuubi membawanya pergi menikmati wahana-wahana yang memancing adrenalinya. Meski begitu dia tetap tenang, karena Kyuubi selalu saja membuat dia merasa tenang dan nyaman meski mereka menaiki wahana yang mengerikan.
"Kau tak usah takut, ada aku yang akan menjagamu. Percayalah padaku," kata Kyuubi dengan senyum mentarinya meyakinkan Hinata bahwa dia akan baik-baik saja.
Itulah mengapa Hinata tak berhenti menaiki wahana-wahana yang dinaiki Kyuubi, karena dia yakin selama ada Kyuubi di sampingnya dia aka baik-baik saja.
Di markas kepolisian.
Diruang pertemuan, Sikamaru, Neji, Shino, Sai, Kiba dan Sasuke duduk mengelilingi meja panjang didepan mereka.
"Mereka beraksi kembali," kata Kiba membuka pembicaraan diantara mereka.
"Dari iformasi yang didapat organisasi itu bernama akatsuki, beranggotakan 10 orang dengan keahlian yang berbeda-beda. Diantaranya adalah Deidara si ahli bom," tambah Neji.
"Semetara ini kita belum tahu dimana target ledakan mereka," kata Sasuke.
"Bentuk tim dibawah pimpinan kalian dan berpencar mencari informasi, kita hanya punya waktu 12 jam dari sekarang," perintah Shikamaru dan dibalas anggukan oleh teman-temanya.
Kita kembali ke pasangan yang lagi kelelahan di Konohaland.
Waktu menunjukan pukul 16:30 waktu setempat.
"Hyaaaaa~! Aku capek Hinata-chan," kata Kyuubi napasnya tersengal-sengal karena kecapean, keringat membasahi rambut dan wajahnya membuat dia terlihat makin ehem-tampan-ehem.
"I-iya, Kyuubi-kun. Aku juga capek," tambah Hinata yang merona wajahnya meliahat kondisi Kyuubi yang kelelahan dan berkeringat membuat dia makin tampan di mta Hinata.
"Kita ke ramen ihciraku, yuk Hihata-chan," tawar Kyuubi, Hinata sedikit terkejut mendengar tawaran Kyuubi.
"Ya, maaf deh Hinata-chan. aku lupa kemarin Hinata chan hampir mati gara-gara makan ramen. Kalau begitu sekarang kita mau kemana lagi?" lanjut Kyuubi yang mengerti tatapan Hinata.
"Aku ingin menjenguk Naruto-san," kata Hinata membuat Kyuubi mengerutkan keningnya.
"Katanya, mau menga habiskan waktu bersamaku. Tapi kenapa sekarang Hinata-chan malah memikirkan Naruto?!" ada cemburu dalam suara Kyuubi.
"Kenapa berkata seperti itu? Kita kan masih punya banyak waktu, masih ada malam ini, masih ada besok. Kita masih bisa meghabiskan waktu bersama, iya kan?" Kyuubi terdiam, wajah yang cemberut makin suram.
"Aku hanya ingin mengabiskan waktu bersama Hinata chan, aku ingin membuat kenangan bersama Hinata-chan. kenangan yang tak bisa aku lupakan, dan aku ingin Hinata chan selalu mengingtaku."
"Kau kenapa Kyuubi-kun, kau berkata-seola kau akan pergi?" tanya Hinata mulai merasa ada yang salah dengan Kyuubi.
"Hinata-chan, jika aku bisa. Aku ingin terus bersama mu. Aku tidak ingin melupakan saat-saat bersamamu, atau melupakamu," seakan tak pduli dengan pertanyaan Hinata Kyuubi membuat Hinata makin bingung .
"Kau mau pergi?" tanya Hinata menyadarkan Kyuubi dari igauanya. Dia trediam cukup lama kemudian menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.
"Maaf Hinata-chan, tadi itu aku lagi mempraktekan adengann yang aku lihat semalam di televise" kata Kyuubi dengan tawa lima jari dan tampang watadosnya.
"Kyuubi! Kau membuatku takut tau!" geram Hinata sedikit maja, hal itu membuat Kyuubi makin tersenyum lebar.
"Kenapa melihatku dengan senyum seperti itu?" tanya Hinata begitu melihat melihat senyum nakal Kyuubi.
"Kau terlihat lucu saat manja seperti itu, Hinata-chan," wush! Serentak rona merah memeuhi wajah Hinata membuat dia makin meggemaskan.
"Hahaha~ kau makin lucu dengan waja sepeti itu, Hnata-chan," tawa Kyuubi makin lebar.
Masih di markas besar kepolisian.
Di ruang kerja Neji. Sasuke masuk dan duduk disamping Neji yang masih sibuk didepan komputernya.
"Tak biasanya ke ruangaku," kataNeji begitu Sasuke duduk di sampingnya.
"Apa Hinata—."
"Jangan coba-coba dekati dia," Neji memotong kata-kata Sasuke dengan tekanan pada nada bicaranya.
"Kau masih saja seperti itu pada Hinata, aku tidak akan meyakitinya."
"Latas mau kau kemana kan Sakura?" tanya Neji tapa megalikan matanya dari layar computer.
"Kami suda pu—," Sasuke menahan kata-kataya saat pintu ruangan Neji dibuka.
"Kenapa kau disini, Sasuke-san?"tanya Sai saat dia melihat Sasuke ada di dalam ruangan Neji.
"Ada apa, Sai?" tanya Sasuke balik tanpa menjawab pertanyaan Neji.
"Kita akan segera bergerak," jawab Sai dengan memberikan seulas seyum pada dua sosok yang terkenal dengan tampang stoic mereka.
"Baiklah, terimaksih Neji atas waktuhya," kata Sasuke seraya beranjak dari tempat duduknya tanpa menunggu jawaban dari Neji. Dia tahu Neji tidak akah menjawabnya.
Kita ke rumah sakit.
Hinata berjalan pelan menyusuri lorong-lorong rumah sakit yang akan membawanya ke ruangan Naruto, disana sudah ada Sakura da Ino serta Khusina baasan. Hinata merasa suasana rumah sakit terlalu sepi, padahal ada bahyak orang yang berlalu lalang di lorog-lorog dengan kesibukan masing-masing.
"Kenapa Kyuubi malah pergi? Tadi dia bilag mau menemaniku menjenguk Naruto," keluh Hinata dalam perjalanan menuju ruangan Naruto.
Hal yang sama saat dia pertama tiba di ruangan Naruto, dia melihat sosok misterius itu lagi. Sosok itu masih sama dengan yang dia lihat satu minggu yang lalu dia masih menatap kedalam ruangan Naruto. Rasa penasaran kembali memenuhi hati dan pikiran Hinata, dia segera mempercepat langkahnya mendekati sosok itu, bayangan tiang masih sama menutupi sebagian wajahnya membuat Hinata sulit utuk mengenalinya.
"Si-siapa kamu?" tanya Hinata begitu dia sudah dekat dengan sosok itu.
"Eh, Hinata-chan~," Hinata terbelak kaget mendengar suara yang tak asing lagi baginya.
"Ky-Kyuubi-kun?!" tanya Hinata antara percaya dan tidak saat dia melihat pemuda berambut pirang jabrik bermata biru safir dan tiga goresan kembar di kedua pipinya yang sedari tadi ditutupi bayangan tiang itu terlihatt jelas di bawah cahaya lampu.
"Aku sudah lama menuggu Hinata chan disini," lagi sosok itu yang ternyata adalah Kyuubi membuat Hinata tak habis pikir.
"Apa selama ini yang aku lihat adalah Kyuubi?" inner Hinata tak habis pikir.
"Kenapa kau melihatku seperti itu, apa ada yang salah dengan ku?" tanya Kyuubi karena tatapan Hinata membuat dia salah tingkah.
"Kenapa kau selalu berdiri di depan ruangan Naruto?" tanya Hinata membuat Kyuubi terbelak kaget.
"Sial!" batin Kyuubi.
"Selalu? Ini baru pertama kalinya aku berdiri disini, ini karena aku tak ingin kehilangan waktu bersama Hinata-chan makanya aku menuggu duluan disini," elak Kyuubi sambil memberikan jurus mautnya yaitu senyum mentarinya.
"Mungkin saat itu orang yang berbeda," akhirya Kyuubi menghela napas lega.
"Kau benar Hinata-chan, saat itu mungkin orang lain yang kamu lihat," tambah Kyuubi terseyum lega.
"Kau tak masuk?" tanya Hinata saat dia akan masuk keruangan Naruto.
"Eum—," Kyuubi tampak berpikir keras, "Sebaiknya aku menunggu disini saja, aku khawatir akan menganggu kalian," kata Kyuubi mencoba meyakinkan Hinata.
"Baikla, kalau begitu. Aku tak akan lama, setelah ini kita akan ke taman kota. Mau tidak?" tanya Hinata mengenai tawarannya.
"Benarkah? Baiklah kalau begitu," balas Kyuubi dengan wajah berbinar-binar.
Kita tinggalkan Kyuubi yang lebih memilih menunggu di luar, sekarag kita intip dalam ruangan Naruto.
"Baasan, kenapa telapak tangan kanan Naru-chan tak bisa dibuka. Apa tanganya mengalami kelainan?" tanya Ino pada Khusina.
"Entahlah, sejak awal kecelakaan tangan kanannya sudah seperti itu," jawab Khusina tanpa menglihkan matanya dari layar televise.
"Itu tidak ada pengaruhya sama kondisi Naruto, itu bisa jadi adalah kebiasaanya saat tidur," Sakura mencoba mejelaskan mengapa tangan kanan Naruto tak bisa dibuka.
"Iya, Ino-chan. Semuanya akan baik-baik saja," kata Hinata menenangkan Ino yang agak panikan.
Waktu masih menari dengan perasaan-perasaan pengguna waktu, waktu terus berputar hingga dia mecapai batasnya.
Sekarag waktu menunjukan pukul 20:00 waktu setempat. Saatnya pamit pada Khusina baasan, sekarang saat pulang dan mengabiskan waktu malam ini dengan Kyuubi.
"Hinata-chan~," paggil Kyuubi dengan lebaynya begitu dia melihat Hinata keluar dari gerbang rumah sakit. "Aku sudah tidak sabar bermain dengan Hinata-chan ditaman, ayo cepat-cepat, Hinata-chan," entah kenapa Kyuubi terlihat makin aneh, kenapa dia tiba-tiba jadi tidak sabaran, dan kekanak-kanakan.
"Iya, ayo kita pergi," kata Hinata seraya melangkah pergi di ikuti Kyuubi dengan iringan nyayian tak jelasnya.
"Sepertinya ada yang aneh dengan Kyuubi, tapi apa?" batin Hiata memikirkan tingkah Kyuubi yang aneh.
"Hei, nak,"
"Kyaaaa!" spotan Hinata teriak karena kaget.
"Kenapa harus teriak sih!" bentak pemilik suara tadi, napasnya terdengar berburu dengan detak jantungnya.
"Kakek?!" Hinata terkejut dobel saat dia melihat kakek pengemis tadi menghampirinya.
"Dia masih mengikutimu?" tanya Kakek itu seraya memasukan sebungkus roti kedalam bajunya.
"Siapa?" tanya Hinata balik.
"Itu, pemuda berambut pirang tadi," kata kakek itu seraya melihat-lihat sekitar Hinata. "Ternyata dia sudah pergi,"
"Maksud kakek Kyuubi?"
"Aku tidak peduli siapa namanya, yang jelas kau harus berhati-hati dengannya," kata kakek dengan mimik seirus.
"Kenapa kek?" tanya Hinata tak mengerti.
"Dia bu—," kata-kata kakek itu terputus
"Woi! Kakek jelek, awas kau. Beraninya kau mencuri rotiku!" teriak seorang laki-laki sangar mendekati mereka sambil mengancugnkan parangnya.
"Sial, aku terkejar!" gerutu kakek tadi seraya berlari meniggalkan Hinata yang masih terbengong-bengong.
"Hinata, kakek itu kenapa?" suara Kyuubi yang muncul tiba-tiba manyadarkan dia kembali.
"Oh, tidak ada apa-apa," jawab Hinata tenang.
"Apa dia suda menyadarinya?" batin Kyuubi.
Sekarang di markas besar kepolosian.
"Shikamaru, kami mendapat informasi dari Kiba dan Shino kalau Deidara sekarang sedang beraksi ditaman" lapor Neji.
"Saat ini mereka hanya menggunakan Deidara utuk megoceh keadaan. Neji, perintahkan Sasuke dan Sai segera menyusul ke taman!" peritah Shikamru.
"Baik!"
Kembali lagi di taman.
Angin sepoi-sepoi menyapa wajah kedua pemuda dan pemudi yang tengah duduk disalah satu kursi di taman, Hinata memandang nanar kesekelilingnya. Dia kembali teringat saat masih bersama Gaara, di taman ini mereka banyak meghabiskan waktu bersama, di taman ini mereka saling berbagi kasih bersama.
Gaara, apa kau lihat apa yang Hinata lakukan sekarang? Sekarang dia sudah kembali seperti Hinata yang kau kenal, dia adalah Hinata yang kau cintai. Dia sekarag bersama seseorang yang kau harapkan bisa menjaganya, menemaninya, menghiburnya, jadi kau tak perlu cemas lagi, sekarang istirahatlah dengan tenang disana.
"Waaa~~. Ramainya, taman ini. Apa Hinata-chan sering main disini?" tanya Kyuubi yang takjub melihat suasana taman yang ramai.
"Iya, aku sering main kesini," jawab Hinata.
"Kalau begitu, sering-seringlah ajak aku main kesini juga," kata Kyuubi dengan riangnya tanpa peduli pada air muka Hinata yang sudah berubah.
"Kalau bisa, aku tidak ingin melupaka hari ini," kata Kyuubi dengan semagat. "AKU TIDAK INGIN MELUPAKAN HINATA-CHAN!" teriak Kyuubi membuat Hinata terlonjak kaget.
"Kau kenapa, Kyuubi-kun?" tanya Hinata heran dengan tingkah Kyuubi.
"Aku sedang bahagia, Hinata-chan," jawab Kyuubi dengan tersenyum lebar.
DUUAAARRR!
Suara ledakan terdengar tak jauh dari tempat mereka. Kyuubi segera melompat hendak melindungi Hinata dari ledakan namun tubuhnya malah menembus tubuh Hinata dan jatuh ke tanah, sementara Hinata terlihat syok, sebagaian nyawanya seperti ikut menghilang bersama ledakan tadi, dia masih berdiri menatap kosong pada kobaran api didepan matanya. Suasana disekitar mereka kacau balau, banyak korban yang berjatuhan karena ledakan tadi.
"Hi-Hinata—," suara Kyuubi terdengar bergetar melihat Hinata syok melihat tubuh-tubuh yang tebakar didepanya.
Kyuubi berdiri dan meraih tangan Hinata, namun kembali gagal. Dia mencoba menyadarkan Hinata dari syoknya, namun gagal juga.
"Aaaakkkhhh!" teriak Kyuubi frutasi karena tak bisa melakukan apa-apa untuk menyadarkan Hinata. Kyuubi menjatuhkan dirinya, dia terlihat terpukul dan untuk pertama kalinya dia mengutuk dirinya yang sekarang tak bisa melakukan apa-apa untuk Hinata.
"Hinata, sadarlah—, aku mohon," ritih Kyuubi.
"Kyuubi-kun, aku-aku takut!" suara Hinata bergetar, pipi porselennya telah basah oleh air matanya
"Tenang Hinata, jangan takut. Aku janji aku akan melindungimu," kata Kyuubi mencoba menenangkan Hinata.
"Kyuubi-kun," Hinata meraih tangan Kyuubi, dia semakin terisak saat tangannya tak menyetuh tangan Kyuubi. "Hiks, hiks, hiks~. Kyuubi-kun~," hati Kyuubi serasa hancur bagai di bom atom mendengar tangis Hinata.
"Lihatlah, ada seorag gadis yang terisak sendirian," suara bariton dari seorang membelakan mata Kyuubi dan Hinata terkejut setengah mati.
"Yea, Sasori no danna. Dia lumayan, dari matanya dia adalah seorang Hyuuga," balas seorang lagi.
Kyuubi menoreh pada asal suara itu, dia melihat dua orang pemuda seusianya berdiri disamping tumpukan korban ledakan.
"Apa kau tau arti dari seni? Nona Hyuuga?" tanya pemuda berambut pirang dikucir dan menyisahkan separu rambutnya menutupi sebelah mataya.
"Jangan kasar pada seorang putri, Deidara," tambah sosok cute dengan rambut merahnya.
"Diamla kau, Sasori no danna. Kau tahu apa tentang seni?"
"Seni itu cairan yang biasanya kau keluarkan saat bangun tidur itukan?" pertanyaan Sasori menampilkan perempatan di dahi Deidara.
"Itu AIR SENI, alias KENCING!" teriak Deidara memekakkan anak telingan.
"Terserah," balas Sasori malas. Dan kembali menatap Hinata.
"Hinata, larilah!" kata Kyuubi pada Hinata.
"A-aku tak bisa bergerak," balas Hinata, kakinya terasa berat. Tubuhya serasa mati.
Sasori dan Deidara mulai mendatangi Hinata.
"Hinata, aku mohon. Larilah!"
"Kau mau kemana. Tuan putri, Hyuuga?" kata Deidara seraya mecekik leher Hinata.
"Woi! Lepaskan Hinata-chan!" teriak Kyuubi seraya memukul-mukul tubuh Deidara namun pukulanya selalu saja melewati tubuh Deidara.
"Kyuubi-kun—," ritih Hinata melihat Kyuubi memukul Deidara yang dipukul tenang-tenang saja tanpa merasa tergaggu dengan mahluk yang tegah menganiyayanya dengan pukulan.
"Apa dia kekasimu? Kalau begitu, bilang dia datang dan jemput dirimu!" Kata Deidara saat dia mendengar nama yang sama tadi sambil tersenyum serigai lebar.
"Woi! Brengsek! Lepaskan Hinata-chan! Pengecut! Bajingan! Lepaskan dia, atau kau akan menyesal!" maki Kyuubi tanpa berhenti memukul-mukul Deidara hingga lelah dengan sedirinya.
"Kyuubi-kun, tolong aku," ritih Hinata yang tak bisa apa-apa dalam gengaman Deidara.
"Sudalah, ayo kita bawa dia!" kata Sasori megakhri kegiatan memukul Kyuubi.
"Bawa? Woi, mau dibawa kemana Hinata-chan?!"
"Em, sepertinya mereka sudah datang," tambah Deidara melihat beberapa orang datang mendekat.
"Lepaskan dia!" suara seseorang tepat dibelakang Deidara mengagetkan mereka yang ada disitu.
"Sasuke?kau—," kata Kyuubi begitu mengenalinya.
"Oh, rupanya orang kiriman kepolisian, Sasori no danna," kata Deidara dengan tenang tanpa takut akan mulut pistol yang menempel di kepalanya.
"Kau datang untuk menyelamatkan tuan putri? Sugguh kisah yang romatis," tambah Sasori tanpa ekspresi.
"Jangan lupakan aku, dollyman, bisik Sai dengan mulut pistol yang menepel di kepala Sasori.
"Jangan main-main denganku!" geram Sasuke karena merasa diremehkan.
"Sasuke! Tologlah Hinata, aku mohon!" pinta Kyuubi meski dia tau Sasuke tak mendengarnya.
"Sa-Sasuke-san—," panggil Hinata, membuat Sasuke seperti terbakar hatiya melihat Hinata disiksa seperti itu.
"Ku bilang lepaskan dia," perintah Sasuke lagi dengan menekan mulut pistol ke kepala Deidara.
"Kau tak dengar apa katanya?!" tambah Sai penuh penekanan. Deidara membalas dengan seringai jahat kemudian,
"Kalau begitu, ambil dia," kata Deidara seraya mendorong Hinata kedepan, tepat di kobaran api yang masih menyala akibat ledakan tadi. Sasuke dan Sai yang melihat itu sempat terkecoh, namun Sai segera sigap menangani kedua buronan itu. Sementara sasuke berlari mengejar Hinata.
"Kyaaaa~," teriak Hinata saat tubuhnya melayang mendekati kobaran api yang tak jauh darinya.
"HINATA!" seru Kyuubi dan Sasuke bersamaan dan berlari menagkap tubuh Hinata. Saat itu Kyuubi yang berada di depan Hinata tiba duluan dan siap utuk menangkap tubuh Hinata.
"Kyuubi~kun~," dengan gaya slow motion Hinata jatuh di pelukan Kyuubi.
"Apa kau baik-baik saja, Hiata-chan?"
Kilat membelah langit dan suara deburan ombak memecah di batu karang. Itu adalah sekilas gambaran background saat Kyuubi menyadari bahwa bukan dirinya yang menangkap tubun Hinata.
"Te-terima kasih. Sasuke-san," kata Hinata malu-malu, itu terlihat karena rona merah di kedua pipinya.
Kyuubi terpaku melihat adegan di depanya. Wajahnya tersirat cemburu. "Bahkan di saat seperti ini aku tak bisa jadi pahlawannya!" kata Kyuubi dengan wajah cemberut.
plok! Plok! Plok!
"Sugguh pemandangan yang indah, sang pangeran datang menyelamatkan tuan putrinya. Fufufu~," kata Deidara dengan serigai jahatya.
"Jangan bergerak, bregsek!" kata Sai tetap focus pada kedua orang didepanya, dia segera mengeluarkan borgol untuk membprgol kedua bandit itu.
"Woi. Aku bilang padamu ya! Sasuke bukan pangeran Hinata!" kata Kyuubi tak mau kalah pada Deidara.
"Sayangnya, kami masih membutuhkan tuan putri," kata Sasori seraya menggerakan jari telunjuk dan jari tengahnya sebelum Sai memborgol tanganya, seketika tubuh Hinata yang masih berada dalam pelukan Sasuke dalam sekejap terbang kearah Sasori.
Sai terkejut tiba-tiba saja kepulan asap mengepungnya.
Sasuke tak meyadarinya tak menyangka rencana mereka, belum dalam hitungan detik setelah Hinata lepas dari pelukan Sasuke ledaka kecil mengelilingi mereka.
"Sampai ketemu lag,i" dari balik kepulan asap Deidara masih sempat mengucapka salam, begitu kepulan asap menipis Hinata pun ikut meghilag hanya tinggal Sai dalam keadaan pingsan.
"HINATA-CHAN!" panggil Kyuubi, namun tak ada jawaban sama sekali dari Hinata maupun dua bajingan tadi.
"Kemana mereka pergi!" geram Sasuke karena dia gagal meyelamatkan Hinata.
"Kau memag pecundag, Sasuke! Apa gunaya kepitaran yang kau miliki jika hanya mengadapi mereka berdua kau tak mampu!" Kyuubi memuntahkan kemarahanya pada Sasuke yang tak tahu menahu akan keberadaan diriya.
"Aku tak bisa berdiam diri seperti ini! Aku harus melakukan sesuatu," kata Kyuubi seraya berjalan meniggalkan Sasuke yang masih terpuruk.
"Aku harus menemui kakek itu, dia pasti tahu caranya," Kyuubi teringat pada si kakek pengemis yang juga bias melihatnya. Dia berharap kakek itu bias menolongnya. Kyuubipun berjalan ke tempat dimana dia dan Hinata bertemu dengan kakek tadi.
….
Seorang kakek dengan tampang mesum tengah mengintip di sebuah rumah. Gelagatnya sangat mencurigakan, dari dalam rumah itu terdengar suara tawa beberapa orang perempuan.
"Huuaaammm—mangga-mangga manis yang masih segar," gumam kakek itu tak jelas.
"Apa yang kau lakuka kakek tua!" kakek itu terlojak kaget hingga membuat dia setengah berteriak akibatya suara tawa dari dalam rumah itu ikut berhenti di susul suara lain. "Siapa itu?"
"Meooonnnggg, kuuciiinngg!" kata kakek itu menirukan suara kucing.
"Bukan kucing. Tapi kakek-kakek mesum!" teriak orang yang mengagetkannya.
"Dasar bodoh! Mereka tak akan bisa mendengar teriakanmu, percuma sampai pita suaramu di ganti dengan toa juga gak bakalan ada yang dengar!"kata kakek itu seraya membawa Kyuubi mejauh dari rumah itu dengan malasnya, karena kesenahganya telah dirusak oleh penampakan lain.
"Apa yang kau lakukan disini, mana gadis indigo itu?" tanya kakek itu lagi.
"Namaku, kyuubi. Aku kesini karena aku butuh bantuan anda," terang Kyuubi pada Kakek.
"Meminta bantuanku? Setela kau bilang aku kakek tua yang gila?! Tidak, aku tidak mau!" kata kakek bersikers.
"Ini karena HInata dan kakek saja yang bias melihatku," terang Kyuubi.
"Yah, bukannya aku mau menyombangkan diriku. Aku memang seorang pertapa, dan aku sering berhubungan dengan hal-hal gaib. Apa yang bisa ku bantu untuk mu?" kata si kakek dengan tampang dibuat-buat berwibawa.
"Ini karena gadis indigo itu," kata Kyuubi memasang wajah memelas.
"Gadis indigo itu? Dia kenapa?" tanya kakek mesum itu sedikit tertarik.
"Dia di culik."
"UAAAPAAAA?" kaget kakek itu kelebayan.
"Biasa aja kale, kek," balas Kyuubi sweetdrop.
"Lalu apa yang mau kau lakukan?" tanya kakek penuh selidik setelah dia bisa mengatur kekagetannya, dia penasaran dengan apa yang bisa dilakukan oleh mahluk ini.
"Aku ingin menolongnya, tapi tidak tahu bagaimana caranya," cerita Kyuubi penuh aura putus asa.
"Kau sebenarnya sudah terhubung dengannya saat pertama kali kalian bertemu, kau bisa merasakan keberadaannya itu karena kalian terhubung. Kenapa kau tak mencoba merasakannya?" jelas si kakek mesum.
"Itu sama saja bohong, kalau hanya bisa merasakan keberadaannya tapi tak bisa meyelamatkannya percuma saja, kek," Kyuubi mulai pundung di sudut kota (woi, kejahuan). Si kakek mau tak mau ikutan sedih, ini karena gadis indigo itu adalah orang pertama yang memberikannya uang selama dia beralih profesi menjadi pengemis.
"Ada satu cara, tapi itu beresiko," kata si kakek memasang mimic seirus.
"apa itu?" taya Kyuubi penasaran dan kembali semangat.
"Kau tau, kau bukan mhaluk imajiasinya. Kau memiliki tubuh asli, kenapa kau tak kembali saja ke tubuh aslimu. Bukanya ini adalah batas waktumu?" pertanyaan si kakek mesum menyadarkan Kyuubi akan statusnya.
"Kau benar kek," kata Kyuubi dengan matap.
"Apa kau suda siap dengan resikonya?"
"Aku selalu siap demi menyelamatkan Hinata-chan," kata Kyuubi dengan gaya ala super hero rambut pirangnya bergoyang ditiup angin manambah kesan kool pada sosoknya. "Oh, ya kakek. Terimakasi atas batuannya. Aku harus pergi menolong Hinata-chanku" pamit Kyuubi seraya berjalan pergi meninggalkan kakek mesum yang menatap heran pada sosok Kyuubi.
"Dasar, anak muda pada kasmaran pasti halang rintang tak diperdulikan," gumam kakek mesum. "Woi, tetap semagat ya!"
"Yosh! Kakek genit!" perempatan seketika mendarat di dahi kakek mesum itu medengar panggilannya barusan.
"Dasar bocah sialan! Namaku Jiraiya! Kau baru saja menghacurkan reputasiku~!" teriak kakek mesum dengan alaynya.
Semetara itu di taman Kyuubi berdiri di bekas ledakan terakhir yang menyebabkan menghilangnya Hinata.
"Hinata, kau dengar aku?" kata Kyuubi mencoba menghubungi Hinata lewati telapati.
"Hinata kalau kau dengar aku, jawablah," batin Kyuubi kembali dalam posisi mode konsentrasi.
"Kyuubi-kun, tolong aku," inner Kyuubi menangkap suara Hinata.
"Teruslah bicara, dengan begitu aku bisa menemukan lokasimu," kata Kyuubi berusaha tenang seraya membuka matanya dan berjalan mengikuti arah datangnya suara Hinata.
"Kyuubi-kun, aku takut," kata suara Hinata didalam pikiran Kyuubi.
"Tak usah khwatir, aku akan menolongmu. Akukan sudah berjanji aku akan menjaga dan melindungimu," bisik Kyuubi pelan namun penuh percaya diri dia melangkah menuju sebuah gedung yang tak jauh darinya.
"Aku percaya padamu Kyuubi-kun," mata biru safir Kyuubi terbuka. Memperlihatkan tekad yang bulat.
"Tunggulah Hinata-chan. aku hampir tiba," kata Kyuubi seraya menembus tiap dinding yang dilewati.
"Aaaaakkkhhh!" suara rintihan Hinata memacu darah Kyuubi memenuhi kepalanya, dia segera berlari menuju ruangan dimana Hinata disekap.
"Hinata-chan!" panggil Kyuubi saat tiba disebuah ruangan yang temaram dan berbau apek.
"Kyuubi-kun, kau datang," kata Hinata dalam pikirannya.
Mata Kyuubi terbelak saat dia meliat sosok Hinata yang terikat dengan pipi lebam dan mulutnya dibekam, Kyuubi geram dan megacak rambut piranganya sendiri, dia benar-benar frutasi karena tak bisa berbuat-apa-apa untuk menyelamatkan Hinata dalam tubuh seperti ini. Dia membuang dirinya dan berlutut didepan tubuh Hinata.
"Hinata chan, maafkan aku! Maafkan aku yang lemah ini! Maafkan aku yang hanya bisa berjanji! Maafkan aku Hinata!" kata Kyuubi meratapi kekuranganya dan tubuhnya yang trasparan semakin menipis.
"Kau kenapa bicara seperti itu, Kyuubi-kun?" inner Hinata, air matanya tak tertahankan saat dia menyadari tubuh Kyuubi kian menghilang.
"Aku arus pergi, ini adalah batas waktuku."
"Kyuubi-kun, jangan pergi. Aku mohon, jangan pergi," inner Hinata dengan linangan airmatanya.
"Maafkan aku, Hinata-chan. Aku harus pergi. JIka aku bisa, aku ingin menyimpan kenangan kita dihari ini dalam ingatanku selamanya" Kyuubi menatap Hinata dengan tatapan kosong.
"Kyuu- aku tau kau bukan seorang pembohong, kau pernah bilang padaku kau tidak akan pergi selama aku masih membutuhkanmu, kenapa kau malah pergi disaat aku masih membutuhkanmu untuk mengisi ruang hatiku yang kosong ini?!" kata Hinata.
"Aku ada karena hatimu yang merasa kosong setelah kematian Gaara. Kini di hatimu telah ada orang lain, jadi urusanku dengan mu sudah selesai," kata Kyuubi yang sedari tadi kosong pada Hinata. Sebenarnya didalam hatinya yang terdalam dia merasa berat untuk meninggalkan Hinata.
"Tidak, Kyuubi-kun. Jangan pergi," Hinata mencoba menahan Kyuubi.
"Aku punya satu permintaan padamu, Hinata-chan. Tetaplah hidup demi aku," kata Kyuubi setelah tubuhnya makin menipis.
"Aku tidak tahu, apa aku bisa melakukannya," ratap Hinata begitu tubuh Kyuubi benar-benar menghilang dari pandanganya.
"Aku percaya kau bisa melakukakya," suara Kyuubi masih tedenganr jelas di telinga Hinata
"KYUUBI-KUN!" panggil Hinata dalam hatinya.
Kenapa? Kau juga pergi Kyuubi-kun?! Kau JAHAT! Kau pembohong!
Batas waktu telah habis, ini adalah batas waktuku. Ini adalah batas waktu yang kita miliki bersama, batas waktu yang indah dalam kenangan yang akan abadi dalam ingatan. Meski sulit utuk merangkainya. Tapi aku yakin batas waktu ini bukanlah akhir dari kisah kita kan, Hinata-chan? Jika kau percaya Tuhan dengan segala Kebesaran-Nya, maka kau juga harus percaya akan Kekuasaan-Nya membuat keajaiban.
Sugguh di batas waktu ini, aku benar-benar menikmatinya.
TBC…
