Couple Cracks

.

.

Pojokan author :

Baiklah, okelah, rasanya author sudah kehilangan rasa humor dalam diri author, bersiap-siaplah untuk aura romance untuk chapter selanjutnya. Terima kasih kalian sudah pengertian.

.

.

Festival bencana.

.

.

Bel berbunyi dengan nyaring dan bergema ke seluruh penjuru sekolah. Suasana yang awalnya tenang berubah menjadi riuh rendah. "Baiklah pelajaran hari ini cukup sampai disini, kalian pasti sudah menantikannya kan?" tanya Anko-sensei dengan bibir tersenyum lebar, binar kesenangan anak sekolah bisa menular juga.

"Hai sensei!" jawab mereka dengan semangat.

"Jangan lupa ujian minggu depan, setelah itu-"

"FESTIVAL SEKOLAH!!!" teriak mereka semangat.

"Baiklah, sampai jumpa di festival."

Rin segera melirik ke arah Karin yang duduk disampingnya, "Menyenangkan ya?" tanyanya pada Karin.

"Apa?" Karin malah bingung. Ni anak ko bisa seneng kaya gini, festival sekolah itu merepotkan. Sebelum ujian ada persiapan. Lalu saat ujian kalau terlalu semangat bisa – bisa nilai anjlok semua. Apanya yang menyenangkan coba?

"Karin?!" teriak Rin, apa dia tak bisa melihat rencana yang tertulis didahinya. Rencana besar!

"Hai, semuanya tenang!" Teriak ketua kelas sudah berdiri didepan papan tulis, "jadi seperti biasa, kita akan diskusikan apa yang akan kita buat difestival nanti? Baiklah kita akan memulai votingnya."

Suasana kembali riuh dengan usulan-usulan yang datang dari anggota kelas. Hinata memeluk bukunya erat sembari berjalan kembali ke ruangannya. Masa indah anak SMA, batin Hinata ikut bergejolak. Biasanya kalau ada festival sekolah maka ada banyak pernyataan cinta.

Wajah Hinata langsung memerah, kyaa! Teriakan batinnya bergitu bersemangat, sampai-sampai dia berjalan sembari melompat lompat. Tunggu, dia bukan lagi gadis SMA! Tunggu kenapa bahasannya tentang cinta, uy author?!

"Hinata, kau yang terbaik!" ucap Naruto dalam imajinasi Hinata, ah tidak mungkin. Hinata langsung heboh sendiri.

Setelah mengetahui dia mencintai suaminya sendiri, langkah selanjutnya apa? Menurut Gaara dia harus say I love you pada Naruto. Bagi Hinata segini sudah puas, tapi kalau begini terus, tidak mungkinkan? Kalau anak SMA, pasti harus ada, pernyataan. Ya pernyataan.

"Aku suka padamu~" gumam Hinata. Iih ko malu-maluin, Hinata belum pernah menyatakan cinta sih. Jadinya super malu.

"Eh?" Gai sensei yang datang dari lorong samping langsung melihat kearah Hinata kebingungan. "Kau bilang sesuatu Hinata-sensei?" tanya Gai sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dia mendengar kata suka kan? "Ah aku sangat malu sekali. Tapi kau sudah menikah dengan Naruto sensei. Tidak bisa, kalau dilanjutkan akan jadi hubungan yang tidak sehat. Bala bala bala llalallalal(racauan gay sensei)"

Heh? Astaga keceplosan plus salah sasaran. "Gai-sensei? Gai?" uh mana sulit disela lagi, mulutnya sudah seperti rangkaian lokomotif kereta yang tak habis-habis. Tinggalkan saja dia Hinata, tentu saja. Menghadapinya cuman bikin sakit kepala.

"Hinata-sensei mau kemana? Bagaimana dengan jawabanku?" teriak Gai sensei melihat Hinata meninggalkannya.

Hinata berbalik sembari menyilangkan tangannya didada dan menggumam "Mati saja sana"

"Dia pasti malu. Harus segera aku jawab dan tentu saja jawabannya adalah tidak." Ucap Gai sembari menangis, "Aku lebih menjunjung persahabatan kami daripada cinta sesaat ini. Maaf Hinata sensei Huaaa!"

"Siapa?" tanya beberapa murid yang mendengar suara tangisan Gai sensei.

"Engga" ucap Hinata segera menutup pintu ruang UKS, takutnya monster hijau itu mengikutinya sampai UKS. Namun adegan diatas ranjangnya membuat Hinata lebih ketakutan. "A-apa yang kalian lakukan diruang UKSku?!" jerit Hinata. "Masa depan kalian masih panjang, dunia tak semanis ehem-ehem belaka! Kalian perlu uang, uang didapat dari bekerja, bekerja butuh pengalaman, biaya hidup mahal. Kalian uhuk ohok!!"Ceramah Hinata sampai nafasnya terputus-putus dan batuk-batuk, pita suaranya sampai terasa terbakar. Ujian apa ini Kamisama?!

"Silahkan sensei," ucap Rin sembari menyerahkan botol berisi air minum.

"Terima kasih" ucap Hinata langsung duduk dan meminumnya.

"Baiklah silahkan dilanjut marahnya" ucap Rin kembali ke posisi awal. Diranjang ada Sasori, kemudian Rin naik keatas tubuhnya. Tangan kiri tak sengaja menarik ke atas kaos Sasori dan tangan kanan terkepal berada dipipi Sasori.

Sementara itu, sebelah lutut Sasori naik, menyingkap sedikit rok Rin, tangan kiri mencengkram rahangnya dan tangan kanan menahan tangan kiri milik Rin.

"Sial kenapa kita harus mengulang adegan ini?" tanya Sasori menatap wajah Rin kesal. Ini tak seperti yang Hinata sensei bayangkan. Sungguh! Si Rin ini yang memulai, mereka bertengkar karena siapa yang boleh menggunakan ranjang ini? Itu saja.

"Kalian!" jerit Hinata lagi, "Apa yang kalian lakukan?!"

"Karena ini menyenangkan" bisik Rin kemudian menjawab pertanyaan Hinata sensei. "Kami baru saja mau ber-cin-"

"DAME!!" sela Hinata.

"Kenapa? Kami remaja sehat kok Hinata sensei,"

Kalau menjerit lagi, pita suara Hinata bisa rusak karena mereka berdua. "Setidaknya gunakan k*m ini" saran Hinata, ah sudahlah dia menyerah saja, toh kawan-kawannya dulu banyak yang sudah ehem-ehem diumur para muridnya ini.

Wajah keduanya langsung memerah, dengan cepat Sasori menyingkirkan Rin dari atas tubuhnya. Wajahnya dia sembunyikan dibalik kerah bajunya yang kusut.

"Hinata sensei, apa harus segamblang itu?" tanya Sasori.

"Kenapa? Aku sudah terbiasa melakukan ini (maksudnya melakukan sosialisasi seperti ini). Pencegahan lebih baik daripada memikirkan rasa malu" nasehat Hinata.

"Bisa singkirkan itu" ucap Rin, kepalanya tidak menoleh sedikitpun kearah Hinata yang masih menyodorkan barang safetynya.

"Kalian tidak jadi melakukannya?" tanya Hinata polos.

"Mana mungkin kami melakukannya!" teriak mereka berasamaan. Tangan Sasori segera merampas safety itu dari tangan Hinata dan melemparkannya kedalam tong sampah.

"Kenapa?" lagi Hinata bertanya.

Keduanya langsung menepuk jidat, "Mana mungkin kan?"

Karena terlihat masih penasaran, Rin menghela nafas, sementara Sasori sibuk membuka kaos kaki yang dirembesi darah di bagian jempolnya. "Begini ya Hinata sensei, kalau sensei mau melakukannya dengan Naruto-sensei, apa kalian akan senang kalau kami menonton seperti yang Hinata sensei lakukan barusan?"

"Souka… apa kalian ingin sensei meninggalkan tempat ini? Apa kalian akan pacaran setelahnya?" tanya Hinata girang. Loh Hinata ini tidak punya pendirian ya? Tadi ngelarang sekarang malah ngedukung, habis mungkin saja mereka saling men-cin-ta-i..

Gubrak!

"Mustahil menjelaskannya pada sensei" ucap Sasori sembari bangun, alihkan saja perhatiannya dengan. "Kuku jempolku sepertinya patah sensei"

"Kenapa tidak bilang dari tadi. Harus segera dirawat" ucap Hinata panik, darah! Cepat!

"Lihat, lebih baik jangan dijelaskan" ucap Sasori pada Rin yang masih setia mengelus kepalanya.

"Sensei, laporan rencana kegiatan klub memasak untuk festival ada diatas meja" ucap Rin.

"Hm, baiklah akan sensei baca nanti" jawab Hinata sembari mengobati luka Sasori.

Seringai jahil langsung tercetak diwajah Rin. "Sensei begitu berpengalaman soal ehem-ehem, kalau begitu bagaimana rasanya ehem-ehem sama Naruto sensei?" tanya Rin.

Glek! Belum sampai sejauh itu. Hinata baru mau menyatakan cinta. Baru mau… loh.

"Gyaaaaa!" teriak Sasori kesakitan, "Sensei!!!"

oOo

Akhirnya setelah penantian panjang, kerja keras, darah dan keringat. Festival sekolah akhirnya dibuka untuk umum!! Hinata hampir – hampir menjerit saking senangnya. Seminggu tanpa tidur memperhatikan dan membantu klub memasak ternyata membuahkan hasil. Café maid akhirnya dibuka dengan antrian tak terduga.

"Ah Aku ingin sekali mampir ke sana~" ucap Hinata sembari mengigit kukunya, tidak bisa dia harus siaga, siapa tau ada yang terluka, contohnya. Kenapa?!

"Nee-sama!" teriak Nagato sembari membuka pintu diikuti pasukannya, "festivalnya menyenangkan" tambah Nagato yang sudah memeluk berbagai makanan yang dia beli.

"Enak banget ya jadi kalian? Hiks" tanggap Hinata nelangsa. Bagaimana dengan dia coba? Hanya menatap dinding putih dan mendengarkan suara-suara tawa anak-anak diluar sana. Batinnya, terluka.

"Nee-sama!!" teriak mereka khawatir.

"Aku tidak butuh simpati kalian" ucap Hinata merajuk. Sial! Airmatanya sudah diujung pula. Huhuhu otou-san!!!

"Nee-sama! Serahkan UKS ini pada kami" tiba-tiba saja Konan berbicara. "Pergilah dan lihat festivalnya!"

"Hountou?" tanya Hinata dengan wajah tak percaya. Wajah mendungnya berubah cerah.

Semuanya mengangguk, "Serahkan pada kami!" kalau Nee-sama sampai menangis, bisa malu-maluin mereka dong, masa mantan guru preman nangis gara-gara ga bisa lihat festival budaya? Ga bermartabat sekali.

Wajah Hinata semakin berseri-seri. Sungguh, dari hatinya yang terdalam dia ingin mengucapkan banyak terima kasih! Dengan semangatnya Hinata merentangkan tangan untuk memeluk semua anak didiknya.

Ah~ para calon suster pria segera terbawa suasana dan ikut merentangkan tangan, jarang-jarang Nee-sama mereka khilaf diri seperti ini.

"Terima kasih konan-chan!" teriak Hinata segera memupuskan harapan mereka dengan memeluk satu-satunya wanita digeng mereka.

'Sial, Konan!' umpat mereka.

Bunga-bunga bertebaran setelah satu-satunya perawat sekolah SMA ini lewat, pandangan cinta, takjub dan memuja langsung mengarah pada Hinata, kemudian pernyataan cinta bertebaran dimana-mana seolah Hinata membagi energi pernyataan cintanya pada semua orang yang dia lewati.

Rumor dengan cepat menyebar dan Hinata mulai kesulitan berjalan maju saking banyaknya orang yang tadinya memandang, berdesakan minta salaman. Perlahan aura bunganyapun memudar kemudian padam.

'Aku hanya ingin pergi melihat festival dengan tenang' batin Hinata menyalami pria gemuk terakhir dihadapannya. Belum juga sampai di café anak didiknya Hinata sudah lelah.

"Sensei, sedang apa disini?" tanya seekor, bukan apa itu pokem*n?

Hinata harus sampai mengeluarkan kacamata bacanya dan melihat siapa yang bertanya. "Rin" seru Hinata.

"Mau mampir dan coba jadi anak SMA lagi sensei?" ucap Rin cepat sembari membuang papan bertuliskan 'cobalah kostum cosplay kelas 2-a'. idenya mengalir dengan deras seperti hujan badai. Luar biasa. "Karin, aku membawa pasien!" teriak Rin masuk ke dalam kelasnya dan segera mendekati Karin kemudian berbisik mengenai rencananya.

"Tidak boleh, aku kan sensei kalian?" tolak Hinata sembari meronta-ronta tadinya cuman Rin yang narik, ko Karin ikut-ikutan sih. "YADA!"

"Nurut bentar napa sensei, ini waktu yang pas untuk berduaan bareng Naruto sensei tahu!" ucap Rin.

Tubuh Hinata segera berhenti meronta dan memasrahkan tubuhnya diseret. "Berdua?"

"Tenang saja, kami akan membantu semaksimal kami" ucap Rin memberikan jempolnya pada Hinata.

Tak lama dalam ruang ganti baju, Rin menyodorkan pakaian seragam SMA pada Hinata, sementara diluar terjadi keributan kecil.

"Kenapa coba harus aku?" ucap ketus Shion, yang kini hanya berbalut kain ditubuhnya, sedang asyik-asyiknya menjadi asisten Naruto sensei, seseorang tiba-tiba saja menculiknya ke kelas 2-a dan mereka beramai-ramai melucuti pakaian cosplay SMAnya. Dari dok* Dok* horror cl*b.

"Sudah. Sudah. Kau tahukan dia milik siapa" tenang Karin, Shion ini kalau marah serem tau. Dasar si Rin itu seenaknya.

"Pokonya aku mau bayaran yang setimpal." Tolak Shion dengan mencak-mencak. Kesempatan langka dan dia harus mengalah. Dia baru mau menyatakan cinta pada Naruto-sensei untuk yang ke-100 kalinya.

Dengan wajah, aku tahu maumu Rin menepuk bahu Shion dan memberinya selembar kertas berisi foto. "Bagaimana?!" tanyanya dengan wajah kau yakin pasti puas.

"AKH!" Shion harus sampai menutup hidungnya namun tetap saja darah menyembur dari hidungnya dan dia pingsan dengan bahagia. "Mantaps"

"Apa yang kau berikan Rin?" tanya anak-anak kelas penasaran.

Sembari menyelipkan foto itu digenggaman Shion, Rin hanya tersenyum misterius. "Kalau kuberi tahu, kalian bakal bernasib sama dengan Shion." Ucapnya. "Oke, angkut dia ke UKS"

"Apa yang terjadi?" tanya Hinata sembari keluar kamar ganti. Tatapan murid – muridnya membuat dia risih. "aku sebaiknya ganti lagi"

"JANGAN! SENSEI COCOK SEKALI!" teriak mereka mencegah Hinata kembali ke kamar ganti.

"Beneran masih cocok?" tanya Hinata tak percaya.

Mereka segera mengangguk serempak.

oOo

Naruto mengetuk-ngetuk tangannya pada jam yang dia kenakan dengan tidak sabar, kemana asistennya pergi? Setelah diculik makluk kampret, anak klub memasak itu. Shion tak juga kembali.

"Maaf menunggu lama!" ucap Rin sembari menyeret Shion yang malu-malu kucing. "Tadi banyak yang kami bicarakan sih" dustanya.

"Shion, kau tahu kan pekerjaan kita masih banyak?" tanya Naruto, ah sial. Padahal dia ingin istirahat bersama Kyuubi didalam ruangannya. Kenapa kepala sekolah itu seenaknya memberi perintah padanya?! Menyuruhnya mengawasi seluruh rangkaian acara bersama Shion sebagai perwakilan dari OSIS? Itukan kerjaannya wakil kepala sekolah!!

Percuma saja mengeluh, Naruto hanya perlu mengecek seluruh kelas dan klub melaksanakan festival sesuai dengan proposal mereka saja.

"Ayo Shion." Ucap Naruto segera berjalan kembali.

Shion memeluk papan kerjanya dan menggeleng kuat pada Rin.

"Tenang saja. Sana pergi, nikmati kedekatan kalian selama seharian ini" semangat Rin sembari mendorong tubuh Shion untuk mengikuti Naruto sensei. "Berjuanglah Hinata sensei" bisik Rin.

Iya, benar. Sekarang ini yang menjadi asisten Naruto, adalah Hinata. Entah darimana si Rin ini bisa memikirkan kalau Hinata dan Shion itu mirip. Hanya warna mata dan rambutnya saja yang berbeda. Hanya perlu ditambah wig dan lensa kontak, voila Hinata berubah menjadi Shion.

Hinata menghela nafas panjang, setidaknya dia sering berkeliling menjadi pengawas dari OSIS waktu SMA dulu. Hinata mengetuk papan kerjanya, tinggal 10 lagi.

"Selamat datang, Sensei." Ucap dua orang berkostum malaikat maut

"Rumah hantu ya?" ucap Naruto,

"Silahkan dinikmati" ucap mereka sembari mendorong Naruto masuk.

Asu! Naruto padahal mau mundur namun dengan cepat tubuhnya didorong masuk. Ruangannya gelap dengan penerangan yang minim. Naruto gemetaran dari pangkal kakinya sampai ujung rambut. Sial, dia tidak suka rumah hantu.

Sebuah tangan meraih pundak Naruto, "Ampuni saya" bisik Naruto dengan takut melihat kebelakang. Harga dirinya, Naruto harus bisa menutupi "Kau yakin mau menyentuhku ya? Murid-,"

Tapi yang dilihat Naruto hanya Shion yang memperlihatkan papan kerjanya. Souka, mereka harus segera bekerja dan Naruto bisa leha-leha didalam kantornya.

Baru saja melangkah, suara jeritan lansung terdengar, hatinya berjerit untuk mundur, tapi logika Naruto pantang melaksanakannya. Dengan gagah berani Naruto melangkah lagi. "Tumben kau tidak banyak bicara." Tanya Naruto memecahkan rasa takutnya sendiri.

"Se-sebenarnya-" suara Hinata langsung terpotong dengan kerangka tangan yang tiba-tiba nemplok dibahunya "KYAA!" teriaknya sembari berlari dan bersiap menerjang Naruto.

HUP! SET! GUBRAK!

Tanpa sadar Naruto mempraktekan ilmu berkelitnya lagi pada Hinata yang langsung terjatuh dengan wajah mendarat mulus dilantai.

"Jangan jadikan ini sebagai kesempatan" ucap Naruto menutupi rasa takutnya. "Kita sedang bekerja."

Berkali-kali Hinata berteriak, berkali-kali pula Hinata harus berciuman dengan lantai, menabrak properti dan berguling-guling.

"Akhirnya selesai juga" ucap Naruto sembari melangkah melewati para malaikat maut. Rasanya dia terbebas dari rasa takut sekarang. Rumah hantunya benar-benar tidak seram.

"Terima kasih telah berkunjung" ucap mereka.

Sementara itu Hinata keluar dengan wajah, rambut dan seragam kusut. Kedua tangan Hinata menepuk bahu makluk berpakaian malaikat maut yang sedang berjaga. "Lain kali, kalian akan kubuat merasakan bagaiman rasanya didalam sana" ucap Hinata terdengar seperti kutukan.

"Tujuan berikutnya?" tanya Naruto pada Hinata, tapi tak ada jawaban dari makluk yang setia mengikutinya sejak tadi pagi ini. "Shion?" tanya Naruto memutar tubuhnya.

Hinata dengan cepat merapikan seluruh tubuhnya. Hinata mencoba tersenyum dan bersemangat, tidak masalah. Naruto memang seperti itu pada fansnya. Dia suka berkelit dan bersikap dingin. Walau dirumah, dimanapun Naruto memang seperti itu sih! Ya Kamisama, Hinata harus bagaimana?

Bertanya tanya soal hal itu, terlintas senyum kepuasan dari seluruh kelas 2-a yang mendukungnya hari ini, Hinata harus menikmatinya seperti anak SMA pada umumnya. "Hai, sensei. Selanjutnya kelas dilantai 3" ucap Hinata.

Rasanya menyenangkan meski seperti ini. Sesekali Hinata dengan berani menatap Naruto yang sedang berbicara padanya, bibirnya memang seksi abis. Kerutan didahinya ketika ada yang menganggu fikirannya. Semuanya seperti mimpi bagi Hinata bisa bicara sangat dekat apalagi sampai bisa memandang wajah Naruto sedekat ini.

Kesenangan ini akan segera berakhir saat Hinata menceklis kelas terakhir. Dan sepertinya kelas ini cukup ramai pengunjung. Didalam papan yang digantung diatas pintu terdapat tulisan "Nyatakan atau terima tantangan kami!"

"Nyatakan?" Gumam Hinata sembari mengikuti Naruto masuk.

"Ah! Dan tamu spesial kita akhirnya hadir!!" ucap MC diatas panggung. Pakaian layaknya maid itu membuatnya sedikit bersinar. "Selamat datang Naruto-sensei! Dan terima kasih Shion-san!"

Hinata langsung menunjuk dirinya sendiri, terlalu terhanyut dia jadi terbiasa dipanggil Shion. Sementara Naruto disampingnya hanya memutar mata bosan padahal hatinya kesal setengah mati.

"Silahkan duduk dikursi kehormatan!!" ucap MC menunjuk Kursi kosong disebelah panggung.

Wajah Naruto langsung masam, si teme pantat ayam itu sudah nangkring disana, dengan wajah puas. "Sedang apa kau disini? Pergi sana. Kau sudah terlalu tua untuk menganggu festival anak-anak" ucap Naruto galak.

"Jangan seperti itu, Naruto sensei." Balas Sasuke sembari menyisir rambutnya. "Aku tamu undangan disini"

Dengan malas Naruto duduk, ah dalam waktu 5 menit Naruto pastikan akan segera keluar dari sini.

"Tahun ini, sangat menarik sekali. Karena penyataan cinta terlarang untuk kedua sensei kita ini bersaing ketat!!"

"KYAA!!" jerit para siswi.

"Tahun lalu, Naruto sensei memenangkan dosa cinta tertinggi dengan selisih 10 poin dari pesaingnya, Sasu-sensei!!"

"KYAA!!"

"Nah mari kita lihat hasil tahun ini. Masih ada 1 orang lagi yang akan mengakhiri pertikaian mereka dan hasilnya- OH ASTAGA!!" jerit MC "Hasilnya seri!! 99-99"

"KYAAA!!" jerit para murid dengan semangat.

"Sial" gumam Naruto, padahal dia pengen banget kalah pamor.

"Tenang saja, ada satu orang penentu bukan?" ucap Sasuke, padahal dalam hati dia ingin sekali memukul Naruto yang lagi-lagi mengalahkan pamornya. Huh padahal dia sudah menikah, tapi dia masih juga dikerubuti layaknya kue manis.

Dengan aura gelap Naruto memegang dahinya, "Aku bermaksud untuk mengalah" ucap Naruto.

"Sebelum penentuan dilakukan. Tahun ini ada dosa cinta yang tak terduga." Ucap si Mc mencoba membuat pensaran, "yak inilah!!"

Dan nama Hinata langsung terpampang dari balik tirai yang ternyata tidak dibuka seluruhnya. Dengan angka 150 orang yang menyatakan cinta untuk Hinata.

"Selain itu kami juga menerima banyak cendramata untuk Hinata sensei" tangan si Mc langsung menunjuk bertumpuk-tumpuk hadiah disudut lain ruangan. "Baiklah, mari kita mulai acara penentu ini."

"KYAAA!"

"Dan penentu kita adalah…… Miiko Shion, sekretaris paling populer dan paling dikagumi satu sekolah, yang jika kau menyatakan cinta padanya maka hadiahnya adalah tamparan cinta, uuh sungguh mengairahkan bukan?"

"Luar biasa!" teriak para siswa. Sebagian besar dari mereka pernah merasakan tamparan cinta Miiko Shion.

Miiko Shion, dapat disebut sebagai fans Hybrid. Dia pernah menyatakan cinta pada keduanya, dengan jumlah sama dan metode yang sama, tugasnya menganalisa bagaimana reaksi keduanya terhadap serangan bertubi-tubi dari LOVE POWER. Sejauh ini, Sasuke sensei hampir terjatuh, tapi untuk Naruto-sensei dia masih LURUS.

Tunggu dulu, Hinata langsung blingsatan sendiri, melihat harapan yang ditujukan padanya. "Ti-tidak mungkin kan?" tanyanya pada diri sendiri.

"Ayo Shion!" teriak MC menyuruh Hinata naik ke panggung.

Bukannya mendekat, Kaki Hinata malah melangkah mundur. "Aku belum siap!" teriak Hinata tapi beberapa tangan sepertinya setuju menyeretnya menaiki panggung.

"Hohoho Sekertaris kita sepertinya malu-malu. Apa kau sudah mengetahui siapa yang kau sukai Shion? Tahun lalu kau menyatakan untuk keduanya."

Hinata mengangguk cepat, yang dia dengar diantara rasa malunya hanya kau sudah mengetahui siapa yang kau suka? Malu-malu Hinata melirik kursi kehormatan, aura lebih baik kau jangan memilih aku dipancarkan oleh Naruto sementara pesaingnya malah sibuk menggoda siswi yang memberinya segelas air.

"Nah sekarang nyatakanlah cintamu!!"

Tunggu! Baru Hinata mau protes, dia sudah ditinggal diatas panggung sendirian. Segera suasana menjadi hening. Hinata mendekatkan mic kearah bibirnya.

Dugdudug. Jantungnya berpacu dengan hebat. "Hmm-" ucap Hinata, oke tenangkan dirimu, kau bisa. Kau bisa menyatakan cinta padanya! "Aku- aku- aku-"

Perasaan Naruto tidak enak, dia harus kabur atau dia akan terjebak disini dan harus memberikan pidato kekalahan maupun pidato kemenangan dihadapan para pecinta dirinya. Selain itu pernyataan terakhir harus dijawab langsung oleh si penerima penyataan cinta.

"Ano tunggu Naruto sensei!" teriak Hinata tanpa sadar, habis Naruto terlihat akan meninggalkan tempat ini.

"Aku – aku mau ke-ke" kenapa Naruto malah jadi gagap seperti ini sih?

"Aku menyukai Naruto sensei!!"

NGIIIIINX!

"Aaaa!" hampir semua manusia disana menutup telinga dengan ekspresi kesakitan. Terlalu keras. Terlalu keras.

Naruto menghela nafas panjang, sial dia tak bisa kabur dari situasi ini.

"OHO PERNYATAAN YANG TIDAK TERDUGA! SHION MEMILIH NARUTO-SENSEI. Nah sensei seperti tahun kemarin, kau wajib menjawab pernyataan cintanya." Ucap MC.

Wajah Hinata langsung berubah kaget, "A-apa? Tidak apa-apa tidak dijawab juga" tolak Hinata, dia belum siap menerima jawabannya.

"Tapi ini sudah peraturan, Miiko Shion" ucap Mc, lah diakan tahun kemarin nonton, yah yang pasti ditolak sih. Tapi dia juga wajib menerimanya. Semua siswi menerima jawaban yang sama dari Naruto sensei. Satu kata yang langsung dan nyelekit.

"Tidak!" ucap Naruto dengan wajah datar dan dingin.

"Naru-sensei~" elu para siswa. Kalau pernyataan seorang diri, Naruto sensei bakal menjawab sembari ngeles tapi kalau langsung dihadapan publik dia menjawab sesuai dengan perannya yakni guru kedisiplinan.

"Hiks" heh? Heeeh? Kenapa Hinata malah menangis seperti ini? Dia tahu jawabannya pasti tidak. Itu karena Hinata adalah siswa. "Bagaimana dengan Hinata-sensei?" tanya Hinata, benar ini bukan tentang Shion dan Naruto tapi tentang dirinya dan Naruto. Bodoh. Kenapa Hinata bisa lupa.

"S-shion, sebaiknya kita akhiri semua ini" bisik si MC melihat aura tidak mengenakan dari Naruto.

"Semua orang tahu, kau dan Hinata sensei menikah tanpa saling kenal."

"Oh jadi kalian semua tahu?" pertanyaan yang lebih terdengar seperti pernyataan yang dilontarkan pada semua murid yang ada disana.

Serempak semuanya tak berani memandang Naruto sensei, dalam hati mereka mengumpat kelakuan Shion yang tak seperti biasanya.

"Oi Shion, sebaiknya jangan katakan apapun lagi." Ucap Mc mencoba menghentikan Hinata.

"Jawab aku, sensei! Bagaimana perasaanmu pada Hinata sensei. Harusnya kau menjawab sama seperti pada semua siswa disini, daripada kau menyakitinya dengan hanya menikahinya saja." Tantang Hinata, tidak. Dia tidak bermaksud untuk mengatakan itu. Sungguh, kenapa? Padahal dia sudah bahagia dengan hanya tinggal berdua. Kenapa dia jadi tamak?

Wajah Naruto menggelap. "Apapun yang kurasakan. Itu bukan urusanmu." Ucap Naruto sembari menahan amarah yang siap meledak. Berani sekali seorang murid mempertanyakan hubungan senseinya sendiri. Naruto memang belum sampai tahap itu namun dia pasti akan melangkah sampai kesana.

Hinata menatap Naruto dengan cepat. "itu berarti kau tidak-"

Dalam sepersekian detik wajah Naruto berubah kaget. Kaget karena dia mendengar kata kau yang terucap dari bibir Shion, sementara Hinata menanggapi keterkejutan Naruto sebagai jawaban kalau Naruto memang tidak mencintai Hinata.

"Siapa kau?" tanya Naruto. Kesadaran yang dia dapatkan akhirnya, karena orang yang bersamanya sepanjang waktu bukanlah Shion yang asli.

.

.

.

.

TBC…

Eits epilog sedikit

"Oh astaga, aku sepertinya hampir menyentuh surga" ucap Shion sembari memegang keningnya. "Si Rin itu sungguh- Fotonya!!" dengan panik Shion meraba seluruh tubuhnya yang ajaibnya sudah berseragam normal kembali.

"Ketemu" ucapnya senang, tunggu sebaiknya dia menutup mata kemudian berhitung,

1

3- CRASH! Ah tingkat kemesumannya meningkat 100% hanya dengan foto ini. "Ehehehehehe sensei" ucapnya sebelum pingsan kembali.

"Apa kalian mendengar suara aneh barusan?" tanya Pain menghentikan aksi mengikir kuku-kukunya. Kemudian menunduk dari kursinya karena kikirnya jatuh.

Tubuhnya langsung bergidik ngeri, melihat pemandangan horor dari bangsal siswa yang tadi diarak ke UKS. Kepalanya menyentuh lantai dengan darah bercucuran dari hidung dan wajahnya malah nampak puas "Ah sial kita punya pasien kejiwaan dibangsal siswa" ucap Pain kembali menarik tubuhnya ke atas.

"Sebaiknya abaikan saja"

"Tunggu Nee-sama kembali saja"

"Panggil ambulan"

"Untuk RSJ (rumah sakit jiwa) atau RSU (rumah sakit umum)?"

Hmmm, dan akhirnya mereka hanya diam sembari memikirkan ambulan mana yang harus dipilih.

Sementara itu, foto yang baru dilihat Shion untuk kedua kalinya terjatuh ke lantai dan memperlihatkan wajah Naruto yang sedang mengupil nikmat.