I Like it Hot and Fast (and Yummy)
Daruma Shi
Genre : gourmet, drama, romance, humor
Please enjoy and keep in mind that I do not reap any economical benefits from this act. What I solely reap are the satisfaction of growing into a better writer and people's reviews.
.
.
.
.
.
.
Chapitre quatorze : meeting with dem boiz
.
.
.
.
.
"Bumi, apa maksudnya tadi?!"
Mai terlihat panik, begitu pula dengan Berwarld yang bingung. "Ya begitu." Jawab Bumi dengan wajah bingung. Kenapa Mai terlihat begitu panik, bahkan melebihi panik Bumi? "Kenapa kau tenang-tenang sajaa? Ini Razak lho yang kita bicarakan! Razak! Razak Abdul Kahar. Kalau kamu lupa dia jelas bukan tandingan kamu."
Omongan Mai ada benarnya juga. Bumi meringis karena kejujuran duri yang dilemparkan Mai. "Jangan anggap aku cupu-cupu amat lah," ujar Bumi, sedikit kesal karena kepercayaan Mai yang hampir tidak eksisten, "Begini-begini juga aku jago masak, tahu."
"Jago masak saja tidak bakalan bisa menutupi lubang yang kau miliki jika berhadapan dengan Razak." Ucap Mai, mengucek-ucek rambutnya yang berwarna hitam lurus. Matanya yang seperti kucing menatap Bumi, eksotik. Bumi hampir tenggelam dalam mata itu. "Bagaimana jika kau kalah? Lagipula apa yang Razak pikirkan, menantang dirimu yang jelas-jelas cuma handkitchen?"
"Mungkin aku tidak pernah cerita, tapi dulu saat di Indonesia, aku adalah saucier andal. Dan cukup terkenal, pula." Bumi kepikiran dengan pak Hatta. Mungkin karena pak Hatta pula Razak menantangnya. Mungkin Razak adalah salah satu dari mereka—orang-orang yang penasaran dengan anak didik Hatta Gibran yang terkenal. Kalau begitu, ya sudah. Menghadapi orang-orang seperti ini juga adalah makanan sehari-hari untuk Bumi. Bumi menatap jam dinding, hampir satu jam namun orang yang ditunggu tidak juga datang. Melihat wajah tidak sabaran Arthur dan France, serta wajah datar Lovino, Bumi mau tidak mau mengantisipasi kedatangan orang tersebut…
Tiba-tiba pintu restoran terbuka dan perhatian orang-orang teralihkan. Pria dengan tinggi sekitar enam kaki dan beberapa inci segera menyerap seluruh pandangan orang-orang. Mata hijaunya dia perlihatkan kepada seluruh restoran dan rambutnya ditata stylish melawan gaya gravitasi. Sontak jeritan memuja dan bisikan excited terdengar. "Ya, akhirnya datang juga orang sial ini." Lovino maju dan menarik kerah orang tersebut. "Seperti yang kalian tahu… dia Abel Van Kornwill. Critique masak dari Belanda."
Siapa yang tidak kenal Abel Van Kornwill? Bicaranya tajam dan sebelas dua belas dengan Arthur dalam mengkritik makanan. Di usianya yang tergolong belia, dia memiliki program TV kuliner sendiri. Jujur, namanya semarak dikumandangkan di penjuru dunia kuliner.
"Jadi? Kau sudah diberitahukan oleh si Frog kan soal fighting event? Lebih baik kau cepat beritahu apa temanya, karena hari sudah malam." Arthur komplain.
"Boleh aku tahu siapa saja pesertanya?" tanya Abel, mata hijau bekunya memandang milik Arthur yang berwarna hijau lush. Dalam diam, Razak maju ke depan, sementara Bumi melangkah ragu-ragu. Dia paling tidak suka ditaruh di bawah spotlight.
Mata Abel berganti-gantian men -scan Razak dan Bumi. "Mereka berdua saudara?" tanya Abel akhirnya. Jelas Razak dan Bumi menolak dengan ekspresi wajah yang jijik sekali. Siapa juga yang mau saudaraan sama upil satu ini, pikir Bumi dengan keji. Francis menjawab bahwa mereka berdua bahkan tidak saling kenal sebelum datang ke Restauran ini. Abel hanya menaikkan alisnya yang luka dan memandang Bumi dalam-dalam.
Bumi mengerutkan dahi.
Abel segera membuang matanya dan mulai bicara. "Tangan dominan milikmu." Ucap Abel meminta tangan Bumi. Bumi segera memberikan Abel tangan kanannya. Abel mengelus permukaan kulit Bumi dengan halus. Beberapa menit kemudian Abel menaruh tangan Bumi di sisi tubuh Bumi. "Jadi kalian berdua saucier?"
Razak menaikkan alis, dan Bumi terlihat kaget. "Ya, benar."
"Baiklah kalau begitu. Namaku Abel Van Kornwill, dan aku yang akan bertanggung jawab atas tema fighting event kali ini." Dengan satu gerakan cepat, Abel mengalihkan perhatiannya ke Bumi dan Razak, "Kalau begitu aku ingin kalian membuat sebuah hidangan, tidak full-course, umami." Abel berkata, mata gorgeousnya memandang Razak dan Bumi bergantian. "Tema kali ini, Umami."
Mata Bumi menajam, tangannya mengepal.
Abel kemudian memandang Francis, seolah-olah menyuruh Francis mengatakan sesuatu. Francis mengangguk dan maju selangkah, berdeham. "Perlu diberi tahukan pada kalian berdua, Abel disini orang yang sibuk dan dia benci ketidakefektifan. Waktu adalah uang untuknya, (iya, dia memang pelit) dan dia, mengkopi perkataannya, tidak akan membiarkan uangnya terbuang sia-sia hari ini. Jadi sungguh disayangkan, aku harus memotong tontonan hari ini… karena Abel tidak ingin menunggu kalian berdua memasak selama satu jam. Buang-buang waktu, kata Abel." Francis berkata seolah-olah dia adalah juru bicara Abel. Abel melempar pandangan mematikkan pada Francis yang sepertinya tidak mempermasalahkannya. Kalau saja pelototan bisa membunuh, Francis sudah mati tiga kali dan bangun dari kubur untuk dibunuh lagi.
Orang-orang berbisik-bisik bingung. "Yak, hari ini kalian sudah melakukan semuanya dengan baik! Operasi semut, dimulai!" Francis membubarkan khalayak yang tidak puas dengan hasil konklusi dengan paksa. Orang-orang menggumam namun tetap menaikkan bangku dan bersih-bersih. Hanya Razak dan Bumi yang terdiam di tempat, tidak yakin harus berbuat apa.
"Oi, kemari." Lovino memanggil Razak dan Bumi menuju kantor Francis. Bumi merasa seperti hendak dieksekusi mati.
Di dalam, ketiga orang penting restoran plus Abel berdiri menjulang di hadapan Bumi dan Razak. Bumi mengerutkan dahi bingung, apakah sekarang mereka akan diberikan briefing atau apa?
Tanpa banyak bacot, Abel memperlihatkan Razak dan Bumi sebuah kartu satin yang tidak lain tidak bukan adalah suatu undangan pernikahan. Dilihat dari kartu undangan tersebut, jelas yang akan menikah adalah orang kaya. "Undangan… pernikahan?" bisik Bumi.
"Aku benci melakukan ini di khalayak ramai. Kalian… lakukan semua yang kalian bisa disini." Mata Abel menantang pada Razak dan Bumi, jemarinya mengetuk undangan tersebut. "Adakan stand di upacara pernikahan ini. Stand makanan Perancis yang kalian buat sendiri. Tidak usah khawatir, aku mengenal wedding planner-nya. Jangan buat aku kecewa dengan masakan kalian." Abel kemudian memberikan dua undangan pernikahan ke Bumi dan Razak, masing-masing satu.
Bumi hanya bisa bengong sementara tangannya menyedekap undangan pernikahan.
"Sekarang pergilah, aku ada bicara tiga lawan satu dengan mereka." Abel mengusir Bumi dan Razak secara halus. Mereka berdua keluar dengan patuh. Seberempatnya mereka di dalam kantor Francis, Arthur mulai meledak.
"what the bloody hell was that? Kau tidak boleh seenaknya saja melakukan hal ini."Arthur terlihat tidak setuju dengan kelakuan Abel. "Kau dari dulu tidak berubah ya. Sangat tradisionil sekali." Abel menyeringai mengejek, membuat perempatan di dahi Arthur semakin berdenyut.
"Pernikahan siapa yang baru kau hancurkan, Abel? Aku harap kau tahu kalau mereka berdua sama-sama trainee. Aku sendiri heran dengan maksud Razak menantang Bumi. Kalaupun Razak menang, dia tidak bakalan dapat apapun selain posisi Bumi sebagai handkitchen. Benar-benar deh." Lovino menggelengkan kepala, namun tetap tidak peduli. Baginya Abel adalah walking enigma, pemikirannya terorientasi pada kerapihan dan cinta uang. Lovino yakin spontanitas Abel kali ini semata-mata supaya dia mendapatkan lebih banyak keuntungan dari fighting event, kalau tidak dia tidak bakal setuju untuk jauh-jauh datang ke Perancis.
"Aku tidak datang kesini dengan cuma-cuma, maaf." Satu kecurigaan Lovino pun terbukti. "Kalian tahu bukan kalau ada yang lebih penting daripada fighting event ecek-ecek ini… itu adalah pernikahan Anri. Kalian belum mendapat surat undangannya?" Wajah bloon Arthur dan Lovino menggambarkan jawaban pertanyaan Abel.
"Tunggu, tunggu… Anri… dia menikah?!" Lovino terlihat syok sekali. Wajar, dia dulu sempat suka dengan Gadis berwajah moe tersebut. "Ya, begitulah." Abel hanya mengangguk-angguk. "Kalau tidak salah, bukankah Anri menggunakan jasa restoran ini? Francis tidak memberi tahu kalian?"
Arthur melebarkan mata dan menatap Francis yang memalingkan wajahnya merasa bersalah.
"Jadi pernikahan Anri itu pernikahan yang kemarin kita rencanakan makanannya? Seriusan?!" Arthur terlihat syok sekaligus impressed. Anri lebih muda dibandingkan Arthur… kapan Arthur bisa menikmati matrimonial bliss, nobody's really sure.
"Bentar." Lovino menyipitkan mata dan menatap Abel. "Siapa yang jadi pengantin prianya?"
Abel mengerutkan dahi. "Yakin bertanya begitu? Si Carriedo yang jadi pengantin prianya."
.
.
.
.
.
.
.
.
"Bumi."
Suara halus itu membuat Bumi berbalik, matanya yang hitam indah terbelalak dengan penuh kebahagiaan. Bumi kecil suka sekali menonton ayahnya memasak, apalagi ketika beliau melakukan sulap aneh yang keren itu…
"Lagi! Ayah, lagi dong!"
Sang Ayah yang lebih tinggi dibandingkan Bumi mengangkat Bumi ke kursi tinggi dan tertawa sebelum melakukan sauté yang sangat sempurna. Mata Bumi melebar dengan penuh antisipasi ketika dengan slow motion bahan-bahan makanan itu kembali jatuh ke sauteuse dengan lembut. Setelah beberapa saat, scrambled eggs with paprika sudah tersedia di depan Bumi. Bumi melahapnya dengan penuh semangat. "Anak ayah pinter banget, makan paprikanya lahap… masih mau nambah?" tanya sang Ayah mengelus kepala Bumi sayang "Ung! Aku masih mau masakan ayah! Ayah keren banget… Kalau sudah gede Bumi mau kayak ayah!"
"Apa? Bumi mau jadi kayak ayah, hmmm? Mau jadi koki juga yaaa?" hidung mancung milik sang Ayah menggelitik leher Bumi dan Bumi menjerit kegelian, kursinya bergoyang-goyang mengerikan kalau saja sang Ayah tidak menahannya supaya tidak terjatuh. "Kenapa nggak jadi polisi aja, biar nangkepin koruptor?"
"Nggak mau ah, kalo jadi polisi ntar capek lari-lari melulu!" bantah Bumi dengan kekanakan, pipinya merah seperti buah persik.
"Kalo jadi Dokter?" Sang Ayah mengusap minyak yang jatuh dari sisi bibir Bumi lembut.
"Nggak mau, aku kan nggak suka bakteri Ayaaaaah!" Bumi mencubit leher sang Ayah. "Dokter tuh payah! Kerjaannya nusuk-nusuk orang pake pisau, operasi melulu!"
"Dokter enggak payah ya!" tiba-tiba Dara muncul, matanya besar tidak terima profesi pilihannya dicemari oleh sang kakak. "Koki tuh yang payah! Uh… payahnya karena… karena…"
"Payah kenapa?" tantang Bumi, senang berada di atas angin.
"Uh… hu… huweeee! Pokoknya Dokter enggak payaaaah!"
Dan sore itu dipenuhi dengan tawa riang sang Ayah, tangisan Dara, dan suara ibu mencoba mendiamkan Dara dengan memberikan stetoskop mainan pada Dara.
.
.
.
.
.
"Ayah, kenapa sih Ayah jadi Koki?"
Sang Ayah tersenyum ketika malam harinya, saat seluruh keluarganya tertidur, ternyata kakak si Bungsu masih belum terlelap. Dia duduk di samping ranjang Bumi dan Dara, takut membangunkan Dara yang puas menangis berjam-jam digoda Kakaknya. Kamar yang temaram membuat suasana menjadi tenang dan misterius. Bumi merapikan selimutnya ketika sang Ayah menaikkan alis, tidak senang dengan gaya tidur Bumi yang berantakan.
"Ayah bukan Koki, Bumi. Ayah itu saucier." Ucap sang Ayah, mengajarkan Bumi perkataan Perancis.
"So—sosyer? Apa tuh yah?" Bumi menutup matanya, menikmati setiap elusan sang Ayah yang tidak henti-hentinya membuat Bumi terbuai.
"Pokoknya enak deh. Kalau Bumi sudah besar, Bumi mau jadi kayak Ayah?"
"Iya, aku mau kayak Ayah."
"Kalau gitu, sini ayah kasih tahu sebuah rahasia…"
Mata sang Ayah berubah serius ketika bibirnya mendekati bibir Bumi, dan bisikannya membuat mata Bumi melebar—
PIP. PIP. PIP.
Mata Bumi terbuka lebar, liur menghiasi pipinya pertanda dia pulas sekali tidurnya. Ketika dia menegakkan kepalanya, selembar kertas menempel di pipinya berkat liur ajaib Bumi, dan Bumi menggaruk kepala menatap coretan abstrak di kertas itu.
Serius, sekarang jam sepuluh malam dan hampir sebulan lagi dia bakalan face-to-face dengan seorang pria Melayu menyebalkan. (kenyataan bahwa Bumi sendiri peranakan Melayu tidak membantu sama sekali.) dan dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan.
Di sekitarnya coret-coretan konsep masakan terlihat berserakan dan Bumi berada di tengah-tengah hamburan kertas dengan konyol. Dia sudah mengerahkan seluruh yang dia mampu namun tetap saja pikirannya melanglang buana jauh entah kemana. Bumi berterima kasih pada Abel karena paling tidak membuat tema menjadi lebih jelas dibandingkan jika Francis yang membuat temanya…
[cinta. Tema macam apa itu?]
Bumi teringat ketika tangan kekar Abel menyentuh tangannya dan dengan cepat berasumsi bahwa dia adalah seorang saucier, yang mana hal yang impresif. Mungkin Abel mengetahuinya lewat otot tangan dominan Bumi yang berkembang lebih dibandingkan tangan non-dominannya. Karena kerjaan saucier adalah melempar makanan dengan penggorengan yang kadang-kadang besarnya tidak kira-kira, jelas memiliki tangan yang fit bukanlah pilihan namun tuntutan. Bumi jadi ingat pertama kali dia memegang santeuse…
Rasanya seperti terbang.
Bumi memandang ke langit-langit yang didekor dengan dahsyat.
Tadi apa yang kuimpikan, ya?
Sebelum Bumi bisa menggali ingatan lebih jauh, handphone Bumi bergetar dengan syahdunya. Bumi memandang sms yang tiba-tiba datang tersebut. Pengirimnya Feliciano… sedang apa dia malam-malam begini mengirim message?
.
.
.
From : Feliciano
Lagi apa, Ragazza(1)?
.
.
.
From : Bumi
Brainstorming
.
.
.
From : Feliciano
Oh ya? Sedang mencari ilham untuk sesuatu? Semangat ya~
.
.
.
From : Feliciano
Btw kalau sedang tidak ada kerjaan, bagaimana kalau kamu ikut sekarang? Aku mau memperkenalkan kamu pada induk semangmu di masa depan nanti.
.
Seketika Bumi langsung semangat. Feli memang berjanji akan mempertemukan dirinya dengan induk semang apartemen Bumi. Bumi sudah melihat apartemen yang Feli sudah carikan dan Bumi merasa bisa pindah kapanpun yang dia inginkan. Dia hanya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk bilang bahwa dia sudah bisa mandiri. Lagipula dia sudah punya uang dan dia jelas tidak ingin merepotkan Elizaveta dan Roderich lebih jauh lagi.
Tapi kalau sekarang sudah malam sekali, Bumi pikir. Dan dia juga membalas seperti itu.
Feliciano membalas berikutnya, aku sudah di depan rumahmu~
Bumi mengerutkan dahi dan segera berjalan menuju pintu dan melihat mobil Feliciano yang berwarna familiar. Bumi hanya menggelengkan kepala tidak habis pikir. Walau sekarang sudah masuk musim semi, tetap saja udara menggigit, jadi Bumi meraih cardigan-nya dan memakainya di sekitar pundak. "Feli? " Bumi menyapa si Kembaran Malaikat dengan terburu-buru. Entah berapa lama Feli sudah berada di luar.
"Hai, Bumi! Aku dan induk semangmu berada di sekitar sini, jadi kukira aku akan mampir, ve~" Feli menyapa Bumi dengan semangat, lingkar aneh yang menghadap ke koordinasi yang aneh pula naik turun dengan naifnya. Bumi hampir menarik sehelai rambut tersebut kalau saja perhatiannya tidak tertarik ke pria di samping Feli. Dua orang pria dengan wajah yang berbeda namun sama-sama rupawan berdiri di samping Feliciano. Yang satu bermata biru dan berambut blonde, tinggi dan berotot. Wajahnya tenang dan rapih jika dibandingkan dengan pria yang lebih pendek di sampingnya. Pria itu bermata merah darah dengan baying-bayang stroberi dan rambut putih platina. Apakah rambutnya diwarnai? Bumi melihat tangan si Pirang maju untuk meraih tangannya. "Yang ini namanya Luddie, ve~ yang itu Gil! Luddie, Gil, ini Bumi, manis kaan?" Feliciano memperkenalkan satu sama lain. Bumi mengerutkan dahi, tidak satuju dipanggil manis.
"Kau benar, dia manis." Yang bermata merah sepertinya minta disundut.
"Nama saya Ludwig Beilshcmidt. Dia kakak saya, Gilbert. Kami berdua mendengar kamu ada niatan untuk pindah?" tanya Ludwig, si cowok ganteng yang kelihatannya seksi kalau pakai tanktop, berkata lembut. Bumi mengangguk, "Tapi saya masih belum yakin bisa pindah dalam waktu dekat… ah, apa lebih baik kita masuk saja? Udara cukup dingin sekarang." Tawar Bumi pada ketiga tamunya tersebut.
"Aku menolak. Aku tidak mau bertemu dengan si Tuan Besar Sialan di dalam." Gilbert langsung menolak dengan wajah yang terpuntir sedemikian rupa. Bumi menaikkan alis. "Dia memang memiliki sedikit history dengan Rode, biarkan saja." jelas Ludwig setelah menyikut kakaknya. Bumi mengangguk, walau sepertinya agak tidak bisa membayangkan ada orang yang membenci Roderich yang sedemikian lembutnya. Sepertinya Ludwig dan Gilbert mengenal tuan rumahnya.
"Apa anda mau melihat foto apartemennya dulu?" tanya Ludwig kemudian.
"Tidak, saya percaya dengan pilihan Feli. Lagipula saya benar-benar tidak pilih-pilih kok. Cukup ada pemanas, air, tidak suka mati lampu dan tidak bocor saat hujan, saya pasti bakal senang sekali tinggal di apartemen anda." Kata Bumi.
"Semua itu ada di apartemen kami, tenang saja. Kira-kira kapan kamu bisa datang melihat-lihat?" tanya Ludwig kemudian. "Kita harus menekan kontrak terlebih dahulu."
"Anda benar. Bagaimana jika akhir minggu ini? Saya kosong hari itu." Bumi mendekat ke arah Ludwig. Sepertinya Ludwig yang lebih bertanggung jawab di antara mereka berdua.
"Kau benar. Kau bisa datang ke apartemen kami." Gilbert tiba-tiba menyosor. "Aku dengar kamu koki. Bagaimana kalau kamu membayar sedikit gratitude kepada kami dan memasakkan makan malam akhir minggu nanti?"
"Kak!" Ludwig mengerutkan dahi tidak setuju akan kelakuan sang Kakak yang begitu tidak sopan. "Apa? Aku senang kok kedatangan cowok manis kayak dia. Hei, kau ini bi atau straight? I don't mind playing at the other team for you, fyi." Gilbert mendekati Bumi dan tersenyum predator. Bumi langsung mundur tiga langkah. "Gil… kamu menakuti Bumi, ve." Feli yang biasanya tersenyum-senyum saja bahkan terlihat tidak senang dengan kelakuan Gilbert.
"I'm batting at my own game. Even if I did play on the other team, I won't even spare my ball for you. Sorry for bursting your little bubble." Bumi meretaliasikan dengan cukup menusuk. Gil langsung bersiul dan Ludwig bahkan menelan kembali senyumnya. "Feisty. I quiet like him. Jadi bagaimana? Mau datang dan memasak untuk kami di akhir minggu?" Gilbert bertanya, tangannya melingkari pundak Bumi. Bumi mencoba untuk melepaskannya namun tak bisa, tangan Gilbert terlalu kekar.
"Jangan memaksanya, Kak. Lagipula hari itu kau harus datang ke Rumah Sakit." Ucap Ludwig, datar.
"Aku tidak sakit apa-apa." Ucap Gilbert bingung.
"Ya, tapi kau harus memeriksakan kepalamu. Kau terdengar bodoh sampai-sampai aku takut kau kena aneurism."
"WEST, KAAAAU—"
"Tidak apa, akhir minggu terdengar oke. Aku akan datang hari itu untuk melihat-lihat."ucap Bumi sambil tersenyum kecil. "Apa itu tidak mengganggu jadwalmu sama sekali?" tanya Ludwig. "Jangan karena omongan egois orang tidak bertanggung jawab ini schedule-mu jadi rusak total." Sementara di belakang Gilbert protes karena di panggil tidak bertanggung jawab.
"Tapi tolong jangan terlalu terganggu jika saya membawa pekerjaan," ucap Bumi teringat akan tugasnya sebulan lagi. "Saya akan datang akhir minggu nanti."
Setelah beberapa saat bertukar sopan santun, Feli dan Ludwig duluan masuk ke atas mobil Feli. "Oi, manis!" Gil memanggil Bumi. "Akhir minggu nanti, bagaimana kalau kamu sekalian jalan-jalan dengan kami?"
"…Kami?" Bumi mengerutkan dahi. Sudah terlalu malam dan dia mengantuk, jelas sekali dia tidak bisa mencerna lebih jauh omongan Gil.
"Ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan." Gilbert menyeringai. "Aku senang denganmu. Kuharap kita bisa terus keep in contact…" Gilbert tiba-tiba berbisik di telinga Bumi yang langsung merah sekali, "I really don't mind playing with your hot body, though."
Dan dengan Gil mengacak rambut Bumi dan berbalik meninggalkan Bumi sendirian.
Bumi bengong parah.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
JRENG JRENG. YE LIBUR YE YE LIBUR.
Aaaaaahhhhh akhirnya lebih banyak pemeran hetalia muncul disini hiks hiks. Buat SEME IDAMAN (your acc name crack me up) SELAMAT KARENA ANDA ORANG PERTAMA YANG MENJAWAB NETHERE YAAAASSSS
SEME IDAMAN… anda berhak menjadi salah satu pemeran di ff ini… sebutkan nama anda (Indonesia kalo bisa) dan nanti anda bakalan saya ikut sertakan menjadi salah satu karakter di I Like It Hot and Fast! YESSHHHH
(Hadiah ga mutu)
TT-TT
By the way ini saya ngetik malam banget jadi kalo ada typo….. {{{MAAFKAN}} {{HAHAHAHA}}
Pojok balesin comment haiya haiya haiyaaatttt :
Forever-tsundere : UYE ADA YANG REVIEW XDDD makasih udah review~ HAHA SAYA SUKA HARUKA SIH tapi mungkin Cuma cameo doang disini dia tuh… jangan jangan panggil author-san plis ;-; panggil Daruma atau Shi ajaaa ;-; ah nggak jangan gitu JADI ENAK KAN HAHAHA [[[ditabok]]]/ Alhamdulillah Bumi bisa bikin anda nggak sebel…. OKE HAHA tapi mungkin momen LoviBumi rada lama ya :""""sip sip sip makasih sekali lagi yaaa/pindanglicious : UAH gapapa kok GAPAPA :""''"" HAHAHA HOT JELETOT KENAPA WA BACANYA KAYAK NAMA CABE. CABE JELETOT HAHA. :""" disini lovino nya Cuma dikit karena aku lagi marah sama dia [lah] LOH TAR DULU KOK LOVINO X RIN DARIMANA TUH SHIP DARI MANA. BUMI X LOVI FOREVAH [LAH APAAN SIH LU] emang rada kepengaruh novel inter sih yang meg cabot :")) YEAH MEG CABOT TAUGHT ME THAT SO WAI NOT UGHAHAHAHA SIP MAKASIH DAH REVIEW~/Freeze112 : UWAAA MAKASIH UDAH REVIEW SANGATTT iya emang banyak yang ngincer Bumi di luar sana :""" Lovinonya tsundere banget PENGEN TABOK IGH./TanpaNama : saya senang banget kalo ada silent rider merusak tradisi mereka jadi silent reader di ff saya… makasih banget buat TanpaNama :" tenang aja saya emang nggak konsisten update tapi saya nggak ada niat ngedrop ff ini… sayang sekali bukan Scotland karena saya gak tertarik sama chara dia :""" mungkin di berikutnya anda akan beruntung? xDD makasih udah review, TanpaNama!/AnonAnon : you came you came YOU CAME YOU CAME OMG. YEAH LEGE ARTIS YEAH YEAH I'LL MADE IT WITH SO MUCH ART YOU DUN HAFTA WORRY NOT. AAAAH OMG Yash yash YAAASH this is rlly incoherent but maba's life is just [[[[thumbs down]]]]] I'm not meanie :{{ and yeah sebenarnya sempet mikir mau ganti Alfie aja tapi gajadi HAHA. BJOD FTW HAHAHA makasih sudah menyempatkan diri untuk datang, shishou m(_ _)m/seme idaman : ANDA BENAAARRR sekarang anda bisa kasih tahu ke saya nama OC anda? Atau nama anda? Karena anda menang jadi salah satu karakter ff saya {apaan sih lu} yaashhh smooth kill is da bomb. Sip sip entah kenapa saya senang ditunggu {apaan} MAKASIH UDAH REVIEW BEIBEH/Sabila Foster : KYAAAAAAA HAI JUGA HAHAHAHA AKU GAK KUAT KALO SAMPE 50 YANG ADA AKU BIKIN LEMON EKSPLISIT KALO SAMPE CHAP SEGITU [[[ketauan busuknya]]]/ . Girlz : yoh vro. IYAA NETHER HAHA sayang dia gajadi tukang minta makanan BU T CLOSE HE'S A CRITIQUE HAHA. BUMI SHOCKU DAKARA HAHAHA OMG ANATA WA NIHONJIN DESU YO NE. KANPEKI NIHONGO IS KANPEKI DAWA HAHA. Sip sip SIP SIP INI UDAH ADA FS LHO HAHA/ kuroi uso : MISS YOU TOO! Emang Razak antagonis… awalnya doang [lho kok spoiler] BENARRR dia adalah Netherrrr hahahahaha ngga papa anda benar sekali kok sayangbukan yang pertama [apaan] /Tomochi : HAHAHA YASH I think so too I was thinking that maybe Berwarld was such a closet perv because I think he would do [this] and [that] with tiino? Like… he's really a pervert lmfao YEYEYE BENER DIA ADALAH SI TULIP DARI JEMBATAN ANCOL HAHA. Saya mau nistain nethere tapi terlalu banyak yang harus saya nsitain jadi… mungkin saya tidak bakal bisa menistai dia dengan akdar tinggi…/JenIchi Kamine : Yey! Ini sudah update lho…Razak nggak homo Cuma suka cowok HAHAHA makasihdah review~/Black Fox : Yappp benar sekali dia adalah netherland! Makasih banyaak udah review…!/Misaki Younna : HAHA SAYA MENUNGGU ANDA REVIEW LHO. I think so too I think he was a closet perv like REALLY not a coming-out perv. His image prevents him from coming-out HAHA. Mungkin, usul anda akan saya masukkan ke dalam kantung…./Wei Lien Lu : saya juga gak sabar [ketauan gak ada ide] haha ada Feli, Elizaveta, sama Roderich kok yang tahu kalo Bumi itu betina HAHA. Oke oke aku akan berusaha rajin update! Makasih Wei~/Harukichi Ajibana : YAAA BENAR SEKALI ANDA DIA ADALAH NETHERE karena yang demanding nethere banyak sekaliii haha gak papa ya ampun ternyata kamu silent reader? Pantes saya baru liat namanya lurking around xDDD makasih banyak udah mau review yaaa saya ngehargain banget sayanggg Xddd/gaga : ma-makasih udah setia nungguin ya…. Ini udah up0date lho? Saya juga udah naikin frekuensi fs nya disini walau sulit huhuhuhuks MAKASIH UDAH REVIEW~/Tamagoch : …mu-mungkin kamu belum membrowse semua tag hetalia…. ._. Makasih udah review! Razak memang lelaki ular… [lho] nggak, Razak punya alasan kok… dia sebenernya orang baik lho!
