Chapter 14 update !

Author : Yey, hari ini Naruto resmi berumur 16 tahun di Fic ini tentunya.

Minna, terima kasih atas dukungannya selama ini.

Dukungan kalian sangat membuat Author bersemangat untuk tetap melanjutkan fic ini

Well, Happy Reading~

Fandom :

Naruto

Disclaimer :

Masashi Kishimoto

Author :

MC Shirayuki

Genre :

Romance / Hurt / Comfort

Rating :

T

Pairing :

Uchiha Sasuke and Namikaze Naruto

Warning :

AU, Typo, OOC, Gaje

DON'T LIKE ? DON'T READ !

Uchiha Sasuke : 16 tahun

Namikaze Naruto : 16 tahun

Akasuna Sasori : 17 tahun

Uzumaki Kyuubi : 16 tahun

Nara Shikamaru : 16 tahun

Hyuuga Neji : 16 tahun

Inuzuka Kiba : 16 tahun

Sabaku Gaara : 16 tahun

Chapter 14 : A Gift From Sasuke

Waktu menunjukkan pukul 19.00. Di sebuah kamar dengan nuansa serba putih, terdapat sebuah ranjang yang di lapisi sprei berwarna putih di tengah pinggir, sebuah jendela besar di sebelah kanan ruangan, sebuah sofa berwarna putih berada di sebelah kiri ruangan, sebuah kulkas berukuran besar berada tak jauh dari sofa, sebuah TV berada di seberang ranjang. Terdapat 2 orang di dalam ruangan itu. Seorang wanita yang mempunyai rambut ikal panjang sepinggang berwarna blonde dan mata berwarna sapphire yang sedang berbaring di atas ranjang tersebut dengan kondisinya yang lemah dan seorang laki-laki yang mempunyai rambut berwarna merah dan mata berwarna cokelat muda yang sedang duduk di sofa sambil menatap wanita tersebut dengan intens. Hanya ada keheningan di dalam ruangan tersebut.

"Hm… nona Naruto ?" Perkataan pemuda tersebut memecah keheningan. Lalu, pemuda tersebut berdiri dan berjalan perlahan menuju Naruto.

"Ada apa Sasori ?" Naruto perlahan menoleh kearah Sasori.

"Apa aku boleh pulang kemansion sebentar ? aku baru ingat, ada sesuatu yang tertinggal."

"Tentu saja boleh. Kenapa aku harus melarangmu ?"

"Apa tidak apa-apa jika aku tinggal ?" Sasori menatap intens Naruto dengan tatapan sangat khawatir.

Naruto perlahan menggerakkan tangan kirinya kearah tangan kanan Sasori lalu memegangnya dengan lembut. Dapat Sasori rasakan kulit Naruto yang begitu halus sedang memegang pergelangan tengan kanannya. Rasa dingin menjalar melalui sentuhan yang Naruto berikan. Namun, Sasori sama sekali tidak merasa risih. Sebaliknya, dia sangat menikmatinya.

"Sasori, kamu terlalu khawatir padaku. Aku tidak apa-apa." Naruto tersenyum tipis.

Sasori membalas senyuman Naruto. "Kalau begitu aku pulang dulu."

Perlahan Naruto melepaskan pegangan tangannya. "Ya, hati-hati."

Sasori berjalan perlahan keluar dari kamar tersebut dan menuju tempat parkir yang berada di luar gedung rumah sakit. Sasori berjalan menuju sebuah mobil sport berwarna hitam. Dengan cepat dia masuk kedalam mobil tersebut. Dia memakai sabuk pengaman, memasukkan kunci mobilnya, menyalakan mesin mobilnya dan melaju pergi menuju mansion. 10 menit kemudian, terdengar suara ketukan pintu kamar rawat Naruto.

Tok, Tok, Tok

Mendengar suara ketukan pintu, Naruto menoleh kearah pintu yang berada di pojok kiri ruangan tersebut. "Ya, silahkan masuk"

Krieet

Pintu tersebut terbuka sedikit.

"Na-Naruto…?"

"Suara itu… apa mungkin…"

Seorang laki-laki perlahan membuka pintu kamar rawat Naruto seluruhnya dan berjalan masuk. Saat Naruto melihat siapa yang datang, dia menjadi sangat senang. Sosok laki-laki yang mempunyai rambut berwarna dark blue dan mata berwarna onyx tersebut bertabrakan tatapan dengan Naruto.

"Sasuke…"

"Sasuke datang. Ternyata dia datang. Aku sangat senang dia mau datang."

"Naruto, bagaimana keadaanmu ?" Sasuke berbicara pelan sambil berjalan menghampiri Naruto.

"Keadaanku sudah membaik." Naruto tersenyum.

Perlahan, tetepan Sasuke menjadi sendu. "Naruto, maafkan aku ya. Tidak seharusnya aku marah-marah padamu. Padahal tanpa catatan pun, kita masih dapat mengingat-ingat apa isi dari catatan itu." Sasuke berkata lirih.

Perlahan Naruto menggerakkan tangan kirinya kearah tangan kanan Sasuke dan memegangnya. Persis seperti yang ia lakukan kepada Sasori. Lalu Naruto menatap Sasuke lekat-lekat, kemudian tersenyum. "Sasuke, kamu tidak perlu meminta maaf kepadaku. Ini memang salahku. Aku sangat ceroboh. Maafkan aku ya. Sekarang, kamu jangan sedih lagi."

Rona merah terlukis indah di wajah Sasuke. Jantung Sasuke berdegup lebih kencang. Sasuke mengalihkan pandangannya ke kiri bawah. Tepatnya kearah lantai. Dia merasa tak sanggup untuk menatap Naruto sekarang. Sasuke memejamkan matanya sejenak dan menarik nafas dalam-dalam kemudian membuangnya. Dia membuka matanya kembali, dan mengalihkan perhatiannya kearah Naruto. Walau rona tipis masih setia berada di pipinya.

"Ah iya, hari ini hari ulang tahunmu kan ?"

Naruto sangat terkejut. "U-ulang tahun ? oh, iya… aku sampai lupa. Aku saja tidak ingat kalau hari ini ulang tahunku. Sasuke tahu dari mana ?"

"Kamu tahu hari ini hari ulang tahunku ?" Naruto menatap lekat-lekat Sasuke.

Sasuke yang melihat tatapan Naruto, menjadi gugup. "Ba-bagaimana ini ?! A-apa yang harus aku katakan ? aku tidak mungkin berkata kalau aku hanya mengingat hari ulang tahunnya saja diantara seluruh teman-teman." Sasuke berpikir untuk mencari alasan yang tepat.

"Tentu. Sebagai seorang ketua, aku harus tahu hal yang berkaitan dengan seluruh anggotaku."

Mendengar perkataan yang terlontar dari mulut Sasuke membuat tatapan Naruto menjadi sedikit sendu. Seorang ketua ? hahaha… Naruto tertawa miris di dalam hatinya. Jawaban Sasuke benar-benar masuk akal. Seorang ketua harus dapat memahami setiap anggotanya. Padahal Naruto ingin sekali Sasuke mengingat hari ulang tahunnya sebagai teman. Sebagai teman ? entahlah… Naruto begitu bingung dengan pikirannya saat ini. Entah kenapa dia merasa sangat sedih dan kecewa. Dia tak tahu alasannya kenapa. Namun rasa sesak tersebut benar-benar menganjal hatinya. "Begitu ya… jadi dia mengingat ulang tahunku hanya sebagai hal yang harus diingat oleh seorang ketua, aku terlalu berharap dia mengingat ulang tahunku sebagai seorang teman."

"Oh, begitu rupanya…" Naruto berkata lirih.

Sasuke mengambil sebuah kotak kecil berwarna merah dengan pita berwarna silver dari saku kemejanya. Dia memberikan kotak itu kepada Naruto. "Ini, hadiah dariku untukmu. Sebagai ucapan selamat ulang tahun dan sebagai permintaan maaf dariku."

Naruto menatap kotak yang berada di tangan kanan Sasuke lekat-lekat. Mencoba menerka-nerka apa isinya. Lalu Naruto mengambil kotak tersebut dan tersenyum kearah Sasuke. "Terima kasih" Naruto membuka isi kotak itu. Seketika wajahnya menjadi merona.

"Sebuah cincin ? Sasuke memberiku sebuah cincin ? kenapa perasaanku menjadi sangat bahagia ? apakah ini hanya mimpi ?" Naruto menatap lekat-lekat cincin pemberian dari Sasuke. Memang bukan cincin yang terbilang mewah. Hanya sebuah cincin yang terbuat dari silver dengan berlian berbentuk bintang di atasnya.

"Sini, biar aku yang pakaikan di jarimu."

Naruto memberikan cincin itu kepada Sasuke. Lalu Naruto menggerakan tubuhnya dan mengambil posisi duduk. Kemudian, Sasuke memasangkan cincin itu di jari manis tangan kiri Naruto. Wajah Naruto menjadi merah padam, dan jantungnya berdegup dengan sangat kencang.

"Wah, ternyata sangat pas sekali ukurannya, dan cincin itu terlihat sangat indah di jarimu." Sasuke memuji sambil tersenyum.

Naruto mengalihkan pendangannya kearah lain "A… i-itu… terima kasih…" Naruto berkata dengan gugup.

Suasana menjadi hening seketika. Di antara Sasuke dan Naruto tidak ada yang membuka suara. Sasuke menatap Naruto lekat-lekat di saat Naruto sedang melihat kearah jari manisnya untuk melihat cincin pemberian dari Sasuke.

"Manisnya…"

Lalu tatapan Sasuke perlahan bergerak kearah bibir Naruto. Diperhatikannya dengan seksama bibir tipis tersebut. Memang saat ini warna bibir tersebut pucat, tidak semerah biasanya. Namun, entah kenapa saat Sasuke memandang bibir tersebut, dia seakan terhipnotis olehnya. Perlahan namun pasti, Sasuke menggerakkan tangan kanannya dan meraih dagu Naruto. Perlahan Sasuke menggerakkan dagu tersebut kearahnya. Naruto sangat terkejut. Wajahnya kali ini benar benar merona dan terasa panas. Kini, tatapan mereka saling beradu. Memancarkan kehangatan yang sangat mendalam satu sama lain. Sasuke menarik dagu Naruto dan mengeliminasi jarak di antara bibir mereka. Seakan terhipnotis, Naruto perlahan memejamkan matanya dan merasakan sesuatu yang lembut dan hangat menyentuh bibirnya. Kini bibir mereka saling bertautan, memberikan kehangatan satu sama lain dalam sebuah ciuman. Bukan sebuah ciuman yang menuntut, namun hanya sebuah ciuman lembut yang menyalurkan kasih sayang. Naruto dapat merasakan nafas hangat Sasuke yang menyapu wajahnya. Begitu juga sebaliknya, Sasuke dapat merasakan nafas hangat Naruto yang menyapu wajahnya.

"A-apa yang sedang aku lakukan sekarang ?! Ke-kenapa saat Sasuke menciumku aku tidak menolak atau melawannya ? Kenapa ? Seakan-akan aku seperti terhipnotis oleh tatapannya ? Hangat… aku dapat merasakan nafasnya yang hangat di wajahku."

"Lembut… bibirnya sangat lembut. Entah kenapa saat aku melihatnya, seakan anggota tubuhku ingin bergerak walaupun otakku tidak memerintahkannya. Sebenarnya ada apa denganku ? Walaupun dulu aku menyukai Sakura, namun aku tidak pernah kehilangan kendali seperti ini. Tapi, entah kenapa sekarang rasanya aku tidak dapat mengontrol anggota tubuhku. Tidak ! aku harus menghentikan ini !"

Lalu Sasuke melepaskan pangutan bibirnya. Terlihat wajah Naruto yang merona dengan nafas yang sedikit tesengal-sengal. Sasuke menutup mulutnya dengan punggung tangan kanannya dan mengalihkan pandangannya kearah lain, sementara Naruto menoleh kearah lain untuk mengalihkan perhatiannya dari Sasuke. Saat ini, baik Sasuke maupun Naruto tidak tahu harus berekspresi, bersikap dan berbicara seperti apa. Karena merasa tidak nyaman dengan kondisi yang tidak nyaman seperti ini, Sasuke akhirnya mengumpulkan keberaniannya untuk berbicara.

"Oh iya, aku belum mengerjakan PR. Naruto, maaf ya… aku harus segera pulang." Sasuke bergegas mengalihkan wajahnya dari Naruto pulang untuk menutupi ekspresinya yang merona dan ingin tersenyum itu. Dia merasa tak sanggup lagi jika harus berada di sana lebih lama dari ini. Melihat wajah Naruto yang begitu manis, dia bisa bertindak di luar kehendaknya.

Naruto menoleh kearah Sasuke dengan Ragu. "I-iya, te-terima kasih sudah datang." Naruto melambaikan tangannya pelan.

Sasuke berjalan keluar dari kamar rawat Naruto dan pulang. Sementara Naruto hanya terdiam dengan wajah yang sangat merona. Kejadian barusan terus berputar-putar di dalam pikiran Naruto, walaupun Naruto sudah mencoba dengan sangat keras untuk menyingkirkannya. Pikirannya terus terbayang akan tatapan Sasuke, sentuhan Sasuke dan ciuman Sasuke. Akhirnya, karena terus gagal untuk membuang sosok Sasuke dari pikirannya, Naruto menyerah, dia tidak tahu harus berbuat apa lagi. Dia merasakan tubuhnya panas. Jantungnya berdegup dengan sangat kencang. 15 menit kemudian, Sasori kembali.

Tok, Tok, Tok

"Nona, aku sudah kembali. Maaf ya agak lama." Sosok Sasori muncul dari balik pintu.

Naruto tidak berkata apa-apa, dia masih melamun dengan tatapan yang kosong dan wajah yang merona. Sasori yang melihat Naruto mematung menjadi khawatir.

"Kenapa nona diam saja ? Wajah nona memerah, apa dia bertambah sakit? aku jadi khawatir kepadanya."

"Nona ? Nona bertambah sakit ? wajah nona memerah." Sasori menghampiri Naruto dan mendekatkan wajahnya ke wajah Naruto. Sasori sedikit membungkuk dan menatap lekat-lekat wajah Naruto dari jarak yang sangat dekat. "Nona ?" Perlahan Sasori medekatkan keningnya ke kening Naruto hingga kening mereka bersentuhan satu sama lain. Naruto yang tersadar, sangat terkejut ketika melihat wajah Sasori yang begitu dekat dengan wajahnya.

"Waaa… wajah Sasori dekat sekali…"

"Tidak panas. Tapi, kenapa wajah nona berwarna merah ? hm, apa mungkin…" Sasori berpikir.

Sasori menjauhkan keningnya dari kening Naruto. Dia menegakkan tubuhnya kembali. "Oh iya nona, tadi sewaktu aku pulang ke-mansion sebentar, apa ada yang datang menjenguk nona ?"

"I-iya, tadi ada" Naruto berusaha mengontrol sikapnya.

"Siapa ?" Tanya Sasori penasaran.

"Sasuke"

"Sasuke datang ? wajar saja nona menjadi seperti itu. Ada keperluan apa dia datang kesini ?"

Sasori mengalihkan perhatiannya kearah lain. Seketika ekspresi Sasori berubah menjadi ekspresi mengintimidasi. Dia tidak ingin Naruto melihatnya saat ini. Melihatnya yang sedang memasang ekspresi seperti ini. Namun, sesaat kemudian, ekspresinya kembali seperti semula. Kemudian dia mengalihkan perhatiannya kearah Naruto. "Apa dia datang untuk memarahi nona lagi ?"

"Tidak. Tadi itu… dia… dia hanya menjengukku dan… memberiku hadiah."

Sasori terkejut dengan penuturan Naruto. Hadiah ? Sasuke memberikan Naruto hadiah ? Dari mana Sasuke tahu kalau hari ini ulang tahunnya Naruto ? "Hadiah ? Maksud nona hadiah untuk hari ulang tahunmu ?"

"Kamu juga tahu ?" Naruto sedikit terkejut. Sasuke tahu kalau hari ini ulang tahunnya. Sasori juga ternyata masih ingat kalau hari ini adalah hari ulang tahunnya.

Sasori tersenyum kecil. "Tentu saja, aku tidak akan pernah lupa hari ulang tahun nona. Padahal tadi aku ingin memberikanmu kejutan, tapi ternyata sudah bukan menjadi kejutan lagi…" Sasori berkata lirih.

Perkataan Sasori terputus akibat jari Naruto yang kini menyentuh bibirnya. Mata Sasori membulat. Dia sangat terkejut dengan apa yang telah dilakukan oleh Naruto. Kemudian dia mengalihkan pandangannya kearah Naruto. Dilihatnya Naruto yang tengah tersenyum lembut kearahnya.

"Ssstt… jangan dilanjutkan lagi. Hanya dengan mengetahui bahwa kak Sasori menyadari kalau hari ini adalah hari ulang tahunku, aku sudah sangat senang. Kak, aku sayang kepadamu… bagaimanapun, kamu yang telah melindungiku selama ini… kamu yang telah menemaniku yang sedang berada di dalam kesepian selama ini… kamu yang selalu membuatku tersenyum… kamu yang selalu membuatku dapat tertawa lepas…" Naruto berkata dengan lirih. "Ka-kamu…" Bulir-bulir air mata perlahan mengalir di pipinya. Air mata yang dengan bersusah payah ditampungnya, akhirnya meluap juga.

Sasori yang melihat Naruto menangis, tanpa berpikir panjang segera sedikit membungkuk dan menggerakkan kedua tangannya untuk mendekap Naruto kedalam pelukannya. Sasori tidak memeluk Naruto dengan terlalu erat. Dia takut jika dia memeluknya dengan erat, keadaan Naruto semakin memburuk. Dan ia tidak menginginkan hal tersebut. Dapat di rasakan oleh Naruto, hembusan nafas hangat Sasori di perpotongan lehernya. Nyaman. Hanya kata itu yang selalu terlintas di pikirannya ketika Sasori memeluknya. Saat Naruto masih kecil, Sasori selalu memeluknya apabila dia sedang menagis atau bersedih. Dan pelukan hangat tersebut mampu membuat hati Naruto menjadi tenang.

"Nona…"

"Naruto. Panggil aku Naruto. Kumohon… hanya untuk hari ini saja… Biarkan kita bersikap seperti adik-kakak… hanya untuk hari ini…" Naruto berkata dengan suara yang parau.

"Baiklah…" Sasori tersenyum kecil dan terdiam sejenak. "Naruto, sudah jangan menangis lagi… aku akan selalu ada di sampingmu. Bersamamu selalu…" Sasori mengelus lembut kepala Naruto.

"Terima kasih kak… terima kasih atas semua perlakuanmu selama ini padaku."

"Jadi, kamu jangan bersedih lagi. Semua yang aku lakukan hanya untukmu. Karena kamu adalah adik yang paling kusayangi…" Perlahan, Sasori melepaskan pelukannya. Dia menatap intens mata Naruto. Sasori menggerakkan tangan kanannya, dan menggunakan punggung jari telunjuknya untuk menghapus jejak air mata di sudut mata Naruto. Dia tersenyum.

"Iya" Naruto mengusap matanya menggunakan kedua punggung tangannya.

"Ini, hadiah dariku untukmu." Sasori mengeluarkan sebuah kotak berwarna emas dengan pita berwarna silver dari saku jas yang dipakainya. Lalu dia memberikan hadiah itu kepada Naruto. "Selamat ulang tahun yang ke 16, Naruto. Semoga nona diberkati Tuhan dan selalu hidup bahagia." Sasori tersenyum tulus.

"Terima kasih, kak Sasori." Naruto membalas senyuman Sasori.

~ 2 Days later

Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 07.10. matahari sudah menampakkan rupanya, membagikan cahaya dan kehangatannya untuk dunia. Di Konoha International High School, tepatnya di ruang OSIS, para anggota OSIS sudah berada di ruang OSIS. Termasuk Naruto dan Sasori yang sudah kembali masuk ke sekolah. Sasuke belum datang, sementara Naruto hanya terdiam duduk di kursinya sambil memandang terus jari manis tangan kirinya. Tepatnya kearah cincin yang diberikan oleh Sasuke. Kyuubi yang sekilas melihat Naruto menjadi penasaran.

"Naruto"

"Ya, ada apa ?"

"Kamu melamunkan apa ?"

"Ah, bukan apa-apa" Naruto tersenyum gugup seperti menyembunyikan sesuatu.

Kyuubi yang melihatnya jadi bertambah penasaran. Kyuubi melihat kearah cincin yang dipakai Naruto. "Itu… cincinmu ?"

"Iya."

"Dari siapa ?"

"Dari Sasuke."

"Sasuke memberikan sebuah cincin untuk Naruto ? apakah Sasuke menyatakan cintannya kepada Naruto ? Tidak mungkin !" Kyuubi berkata dalam hati dengan perasaan yang bercampur aduk.

"Huh, Sasuke membuatku kesal saja." Sasori berkata dalam hati.

"Oh…"

Sasori dan Kyuubi menjadi kesal mendengarnya. Sementara, anggota OSIS yang lain hanya memasang telinga mereka dengan sangat baik untuk mendengar percakapan Naruto dan Kyuubi yang terkesan pelan. 5 menit kemudian

Ceklek

Pintu ruang OSIS terbuka. Menampilkan sosok seorang pemuda berambut dark blue dan bermata onyx. Pemuda tersebut berjalan masuk kedalam ruang OSIS. Seketika seluruh tatapan mata yang ada di dalam ruangan tertuju kepada pemuda tersebut.

"Astaga, Sasuke !" Shikamaru langsung berteriak.

"A-apa ?!" Sasuke sangat terkejut dan langsung menoleh kearah Shikamaru.

"Kamu PDKT ya ?!" Neji membuka suara.

"Kamu diam-diam menghanyutkan…" Gaara membuka suara.

"Sebenarnya kamu itu menukjukkan benci untuk menyembunyikan cinta ? atau benci yang menjadi cinta ?" Kiba membuka suara.

"Kesempatan dalam kesempitan." Sasori menggerutu.

"A-apa-apaan kalian ?! apa maksud kalian ?!" Sasuke menjadi bingung dengan perkataan dari teman-temannya yang berlangsung secara bertubi-tubi dan cepat sehingga membuat Sasuke kesulitan untuk mencerna satu-persatu perkataan mereka.

Neji berkata, "Sudahlah… jangan terus berpura-pura…"

Gaara berkata, "Iya. Kamu suka sama Naruto kan ? mendekati Naruto secara diam-diam dengan cara berpura-pura tidak menyukainya."

"Dasar licik." Sasori menggerutu lagi.

Sasuke yang mulai dapat mencerna kearah mana percakapan Sasori dan yang lainnya, seketika wajahnya merona. Naruto yang sudah mengetahui arah pembicaraan teman-temannya, dari tadi hanya menundukkan kepalanya untuk menutupi wajahnya yang kini sudah merah padam. Sementara, Kyuubi merasakan rasa perih pada hatinya. Dia tidak dapat menerima semua perkataan teman-temannya. Dia sangat tidak menyukai ekspresi merona Sasuke saat ini. Dia sangat tidak menyukainya.

Kiba berkata, "Naruto, jangan mau sama Sasuke ya…"

Gaara berkata, "Iya, dia itu…"

Sasuke menjadi kesal dan berkata, "Apa ?! aku apa ?! kalian jangan membicarakanku yang tidak-tidak ya ! Awas kalian !"

"Wah, dia marah…" Shikamaru tersenyum mengejek.

"Berarti benar. Dia suka kepada Naruto." Neji memejamkan matanya dan mengangguk pelan.

"Tolong ! ada bocah yang mengamuk." Sasori sengaja membuat Sasuke kesal.

"Aku bukan bocah !"

Seperti biasa, di mulailah pertengkaran tidak berguna di ruang OSIS. 2 jam kemudian, di mulai pelajaran olahraga khusus untuk para anggota OSIS. Saat satu-persatu anggota OSIS mulai pergi keruang ganti baju, Kyuubi yang masih berada di dalam ruangan melihat Naruto meletakkan cincinnya di dalam sebuah kotak dan memasukkannya kedalam tas.

"Kyuubi, aku duluan mengganti baju ya."

"Ya"

Naruto pergi keruang ganti baju. Kini hanya ada Kyuubi di ruang OSIS. Tanpa membuang-buang waktu, dia langsung menghampiri tas Naruto dan mencari kotak termpat cincin dari Sasuke diletakkan. Lalu, setelah dia menemukan kotaknya, dia membukanya dan mengambil cincinnya. Setelah mengambil cincin Naruto, Kyuubi bergegas keruang ganti baju wanita.

"Tidak dapat di duga… sangat mudah mengambilnya. Aku pikir akan sulit karena dia akan memakai cincin itu terus. Tapi ternyata dugaanku salah." Kyuubi tersenyum licik sesaat sebelum ekspresinya berubah menjadi datar kembali.

2 jam kemudian, setelah pelajaran olahraga selesai, seluruh anggota OSIS kembali keruang OSIS.

"Hah… capeknya…" Sasori langsung duduk di kursinya, menyenderkan tubuhnya di kursi dan kakinya diselonjorkan.

"Iya… kita harus keliling lapangan 100 putaran." Gaara duduk di kursinya sambil mengambil botol minumnya yang berada di dalam tasnya.

"Dan masih banyak lagi." Shikamaru menambahkan.

Seluruh anggota OSIS mulai pergi keruang ganti untuk berganti pakaian. Setelah kembali dari ruang ganti, Naruto mengambil kotak tempat cincinnya dan membukanya. Betapa terkejutnya Naruto ketika tidak menemukan cincinnya di dalam kotak cincinnya.

"Cincinku hilang ! ba-bagaimana bisa hilang ?! Tadi sebelum pelajaran olahraga aku meletakkannya di sini karena aku takut hilang. Tapi ternyata sekarang hilang di dalam tasku. Aku harus mencarinya !" Seketika tubuh Naruto terasa bergetar, jantungnya berdetak lebih cepat dan keringat mengalir dari pelipisnya.

Naruto menoleh dan melihat kearah Kyuubi yang sedang merapikan baju olah raganya. "Apa mungkin…" Naruto menatap Kyuubi lekat-lekat dan kemudian mengelengkan kepalanya cepat. "Tidak ! aku tidak boleh berprasangka buruk padanya."

Kyuubi yang merasa seperti diperhatikan, menghentikan aktivitasnya sebentar, menoleh dan menatap datar Naruto. "Ada apa ?"

Naruto menggeleng pelan "Tidak. Tidak ada apa-apa…" Naruto tersenyum.

"Oh, ya sudah…" Kyuubi kembali pada rutinitas sebelumnya.

"Hahaha… aku yakin kamu tidak akan pernah menaruh prasangka buruk pada orang lain. Karena aku sudah mengenal sikapmu sejak dulu. Huh, sungguh sikap yang sangat lemah. Dan mudah untuk dihancurkan…" Kyuubi tersenyum licik.

Saat istirahat kedua, Kyuubi sedang berjalan di sebuah lorong sambil membaca sebuah buku. Karena tidak memperhatikan sekitar, Kyuubi tidak menyadari adanya Ino yang tak sengaja bertemu dengannya.

"Hai Kyuubi"

Kyuubi berhenti melangkah. Dia menutup buku yang sedang dibacanya. Lalu perhatiannya teralihkan kearah Ino. "Hai" Kyuubi berkata dengan wajah dan suara yang datar.

"Bagaimana, apa ada yang kamu lakukan untuk membuat Sasuke membenci Naruto ?"

"Ada"

"Apa ?"

"Aku mengambil cincin yang diberikan oleh Sasuke"

"Wah, wah… tidak di sangka-sangka… Kyuubi sangat cerdik. Dia benar-benar pilihan yang sangat tepat untuk di jadikan bonekaku."

"Wah, kamu memang pintar. Hm… bagaimana kalau kita buat Sasuke menjadi salah paham ?"

Kyuubi menjadi sedikit tertarik dengan perkataan Ino. "Caranya ?"

Ino menoleh kekiri, kedepan dan kebelakang. Secara tidak sengaja, Ino menangkap sosok seseorang. Seketika Ino tersenyum licik. "Kebetulan sekali. Sasuke ingin berjalan menuju sini. Rencananya adalah, aku sedang berbicara kepadamu seolah-olah aku menemukan cincin ini di taman setelah dibuang oleh seseorang. Ayo mulai."

"Baik"

Sasuke berjalan hampir mendekati Kyuubi dan Ino, dengan samar-samar dia sudah mulai dapat mendengar percakapan mereka.

"Kyuubi, coba kamu lihat ini." Ino menunjukkan sebuah cincin berwarna silver dengan berlian berbentuk bintang di atasnya.

"Cincin yang bagus." Kyuubi menanggapinya dengan datar.

"Sabar… Sabar… Semua ini demi rencanaku. Aku harus sabar menghadapi anak ini. Karena, bagaimanapun aku membutuhkannya sekarang."

"Tadi saat aku berada di taman, aku melihat di ruang OSIS ada seseorang yang melemparkan sesuatu yang berkilau. Aku tidak dapat melihat dengan jelas karena ukurannya yang kecil. Lalu karena aku penasaran, aku mencarinya. Aku sangat terkejut saat mengetahui benda tersebut adalah sebuah cincin yang sangat indah ini."

"Siapa yang membuangnya ?"

"Aku tidak tahu siapa. Tapi melihat ciri-cirinya yang memiliki rambut panjang berwarna Cokelat tua, siapa pun pasti dapat menduga bahwa itu adalah seorang perempuan. Padahal cincinya bagus. Terdapat berlian yang berbentuk bintang di atasnya."

Perlahan, Sasuke mulai tak dapat mendengar percakapan mereka dengan jelas.

"Cincin yang mereka sedang bicarakan tadi… ciri-cirinya sama seperti cincin yang aku berikan kepada Naruto. Apa mungkin… dia membuang cincinku karena masih marah kepadaku ?."

Sasuke berjalan dengan kepala yang di tundukan. Sekarang pikirannya sedang kosong. Dia seperti tak tahu kemana dia harus berjalan. Lalu, tiba-tiba dia menabrak seseorang.

BRUK

"Ma-maaf… Eh, Sasuke ?"

Terdengar suara yang sangat familiar di telinga Sasuke.

"Naruto ?" Sasuke memandang kearah Naruto.

"Bagaimana ini ?! apa aku harus memberitahukan kepadanya kalau cincin yang diberikan olehnya hilang ? Dia pasti akan benci kepadaku. Tapi kalau aku tidak bilang yang sesungguhnya, dia pasti akan lebih membenciku. Apa yang harus aku lakukan sekarang ? aku benar-benar tidak tahu…"

"Apa dia masih marah kepadaku ? Apa benar dia membuang cincin yang diberikan olehku ? Apa sebenarnya dia membenciku ?"

"Sasuke, maaf…"

"Untuk apa ?"

"Cincin darimu hilang…" Naruto berkata lirih.

"Cincinnya hilang ?! Ta-tapi tadi…"

"Tidak apa-apa"

"A-aku sungguh-sungguh minta maaf. Padahal, cincin itu diberikan olehmu." Tatapan Naruto menjadi sendu.

"Iya, tidak apa-apa." Sasuke mengelus kepala Naruto.

Naruto tersentak. Dia menatap Sasuke. "Kamu… tidak marah kepadaku ?"

"Aku tidak marah kepadamu. Sekarang, aku mau pergi dulu" Sasuke berdiri dan berjalan perlahan menjauh dari Naruto.

"Ekspresi Sasuke… terlihat sangat sedih. Aku… aku… benar-benar hanya bisa membuatnya kecewa. Aku bodoh… Aku bodoh… Aku hanya dapat menyusahkannya saja." Naruto masih diam terduduk di lantai dengan perasaan yang bercampur aduk.

"Apa Naruto berbohong kepadaku ? Tapi mengapa hatiku berkata bahwa dia jujur kepadaku ?" Sasuke berjalan dengan hati dan pikirannya yang saling berdebat untuk mendapatkan kebenaran.

Sementara di tempat lain, di salah satu lorong sepi yang lumayan gelap karena kurang mendapatkan pencahayaan, terdapat seseorang yang sedang berdiri sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya. Dia sedang tersenyum licik.

"Hahaha… aku sangat yakin hatimu terasa sangat sakit bukan ? tapi, tenang saja… aku akan membantumu untuk menghilangkan rasa sakit itu. Dengan memisahkannya darimu tentunya… hahaha…" suara tawanya menggema di lorong tersebut.

Thanks for read

Mind to review ?