Semua yang hidup, pasti akan mati. Jongin percaya, jika akan ada kehidupan lain setelah orang-orang meninggalkan dunia ini.
Hari yang berkabung dengan latar belakang pemakaman dan suasana langit mendung. Orang-orang di sana menundukan kepala mereka. Ada yang menangis terisak, ada pula yang menangis dalam diam.
Mereka mencoba untuk tabah dengan kenyataan yang Tuhan berikan. Terbaring di bawah sana jasad seorang ibu, Seorang istri, seorang nenek, seorang sahabat, Juga seorang bibi yang penuh kasih.
Sehun menoleh ketika merasakan pundaknya ditepuk dari belakang. Ketika ia menoleh, ayahnya tengah tersenyum ke arahnya. Walau teramat sulit, namun ada ketabahan yang luar biasa tersirat di wajah tua itu.
Lelaki yang sudah memasuki usia kepala lima itu berjalan mengikuti langkah pelayat yang sudah lebih dulu meninggalkan area pemakaman. Hingga menyisahkan sepasang insan yang tengah menatap nanar ke arah makam basah itu.
"Aku.. Aku turut berduka" kata Jongin.
Namja berkulit pucat itu menoleh. Dimana sosok kekasih manisnya tengah berdiri di samping kirinya. Sehun tampaknya enggan untuk bergeming, melihat bagaimana kondisinya saat ini. Jongin pun akan selalu berada di sana menemani sang kekasih.
Dia (Sehun) Bukan laki-laki yang cengeng. Karena sudah sewajarnya ia menangis ketika wanita yang paling ia kasihi telah berpulang setelah sekian lama bergelut dengan penyakit kankernya.
"Terimakasih" ucapnya, seperti bisikan angin di sore hari.
Harusnya Jongin tinggalkan saja Sehun di sana sendirian. Tapi pemuda manis itu tidak akan tega membiarkan orang yang ia cintai berada dalam kesedihannya seorang diri.
"Kau sudah melihat betapa lemahnya aku hari ini" ujar Sehun.
Melihat wajah yang selalu menatapnya dengan tatapan 'maafkan aku' membuat Oh Sehun jadi semakin bersalah. Meski ia tahu tatapan itu tidak akan pernah berubah, karena memang begitulah adanya.
"B.. Bukan begitu" Jongin berkata, mencoba pula untuk menjelaskan. "Setiap orang berhak untuk menangis"
Sehun tahu jika akhir-akhir ini dia terlalu terbawa oleh perasaannya sendiri. Sedari satu minggu yang lalu ibunya harus dirawat di rumah sakit Hingga pada akhirnya ibunya meninggal dunia.
Namun Jongin tahu jika hal ini adalah lumrah terjadi. Oh Sehun adalah seorang putra tunggal, dan ia sangat dekat dengan ibunya sejak kecil.
Jongin tidak terlalu terkejut ketika namja 26 tahun itu memeluk tubuhnya. "Berbagilah jika kau mau" ia berkata, seolah mengulangi perkataan namja itu bebera waktu yang lalu.
Sehun menutup kedua matanya sejenak. Rasanya ada keringanan ketika ia memeluk tubuh ramping Itu.
"Aku terlalu memikirkan banyak hal akhir-akhir ini" kata Sehun.
Ia sedikit melonggarkan pelukannya demi menatap maniks bulat sang kekasih.
"Apa?" Jongin bertanya.
Lelaki itu berdehem pelan. Dan berkata, "Sebaiknya kita ke mobil. Ku rasa sebentar lagi akan turun Hujan"
Jongin mengangguk, membenarkan. Ia membiarkan Sehun menggandeng tangannya keluar area pemakaman. Dalam diam ia memperhatikan wajah tegas itu.
'Dia hanya mencoba untuk terlihat lebih tabah' pikir Jongin.
.
.
.
No edit..
No bashing..
Gak suka? Gak usah baca!
.
.
.
.
Pagi hari di apartemen Oh Sehun. Terhitung dua hari setelah meninggalnya Nyonya Oh. Selama dua hari pula Jongin berada di apartemen kekasihnya hanya untuk menghibur pria itu dari kesedihan.
Terkadang ia akan mengungjungi Oh Seungsoo di rumahnya. Yang katanya, calon mertuanya itu memutuskan untuk tinggal di luar negeri saja demi menghapus rasa sedihnya atas kepergian sang istri.
Meski masih terlihat ceria, tidak menutupi wajah Haowen dari kesedihannya. Bocah itu terkadang akan melamun, mengingat masa-masa dimana neneknya masih berada bersamanya.
Bocah yang malang, pikir Jongin. Diusia yang masih sangat belia Haowen harus merasakan kehilangan dua yeoja yang sangat ia kasihi. Pertama ibu kandungnya, kedua neneknya. Dan hal yang harus dilakukan Jongin saat ini adalah membantu anak itu lepas dari kesedihannya.
"Selamat pagi, mama baru" suara cempreng Haowen membuat Jongin tersenyum.
Anak itu sering sekali memanggilnya dengan sebutan mama baru. Yang entah darimana dia dapatkan julukan aneh itu.
Jongin terkekeh ketika melihat anak itu meminum susunya dengan rakus. Haowen suka sekali susu vanilla. Minum susu di pagi hari adalah suatu kebiasaan yang tidak pernah absen dari aktivitasnya sebelum berangkat sekolah.
"Pagi"
Suara rendah Sehun mengintrupsi interaksi keduanya. Dimana namja tampan itu sudah siap pergi ke kantor dengan pakaian yang Jongin siapkan Untuknya.
"Hari ini mau makan apa?" tanya Jongin.
Namja itu menaikan satu alisnya. Dan bertanya. "Apa yang kau masak pagi ini?"
"Pancake" katanya. "Tapi jika kau mau yang lain aku bisa menyiapkannya lagi"
Sehun menolaknya secara halus. Lagipula dia tidak mau membuat Jonginnya kerepotan dengan keinginannya yang mungkin saja cukup merepotkan.
.
.
.
"Dimana cucuku?" Yunho terlihat keheranan ketika tidak mendapati Jongin berada di rumahnya.
Suasana makan malam hanya ada Kyungsoo, Yuan, dan juga Jenny. Tanpa seorang Kim Jongin di antara mereka. Hal ini tentu saja membuat Yunho bertanya-tanya.
"Jongin menginap di rumah pacarnya" Kyungsoo menjawab dengan jujur.
Lantas Yunho yang mendengarnya sedikit tidak suka. "Kau membebaskan dirinya menginap dan melakukan sesuatu diusia yang belum legal?"
"Aku hanya mencoba untuk tidak mengekang dirinya, Ayah" kata Kyungsoo, mencoba untuk menjelaskan.
Lagipula ada banyak remaja yang jauh lebih muda dari Jongin sudah hidup bebas dengan pacar-pacar mereka di luar sana. Dengan membebaskan Jongin untuk memiliki waktu bersama pacarnya, menurut Kyungsoo itu bukanlah hal yang perlu dibesar-besarkan lagi. Malahan di merasa bersalah telah mengukung Jongin dengan banyaknya peraturan kolot sejak anak itu tumbuh remaja.
"Ku rasa usia Jongin juga sudah cukup untuk memiliki seorang kekasih" Yuan menimpali.
Yunho mengangguk pelan."Aku mengerti" katanya. "Hanya saja aku sangat khawatir jika ada sesuatu yang terjadi padanya"
"Ayah" Kyungsoo menyebut nama sang ayah. "Jangan khawatir! Oh Sehun bukan pria kurang ajar yang tidak bertanggung jawab"
"Ku harap begitu" Yunho berkata lirih.
"Mungkin aku terlalu takut cucuku kenapa-kenapa"
Kyungsoo tertawa kecil mendengarnya. "Jongin tahu mana yang benar dan mana yang salah"
.
.
.
Kris mondar mandir sebentar. Membuat Jongin yang melihatnya jadi jengah sendiri. Apa sih yang dilakukan hantu itu? Jongin bertanya dalam hati.
"Kris"
Pria itu menoleh, berhenti dan menatap Jongin dalam diam. Jongin mulai mencurigai jika ada sesuatu yang tidak beres di sini.
"Apa yang kau lakukan?"
'Berpikir' jawabnya cukup singkat.
Jongin tahu Kris memang aneh. Tapi melihat namja itu gelisah, adalah sesuatu yang perlu dipertanyakan lagi. "Memikirkan apa? Apa aku bisa membantumu?"
Pertanyaan Jongin membuatnya kembali berhenti. Ia bergumam-gumam tak jelas. Untuk selanjutnya ia melayang mendekati Jongin yang sedang duduk di sofa besar single dengan sebuah buku di tangannya.
'Eh, Jongin'
"Hm?"
'Apa kau senang tinggal bersama Oh Sehun?'
Memangnya apa yang membuatnya tidak senang? Sehun pria yang bertanggung jawab, dan sangat mencintai dirinya. Bersama Oh Sehun tentu saja membuat Jongin betah Untuk berlama-lama.
"Tentu saja" ia menjawab enteng.
Kris nampak berpikir sebelum akhirnya ia bersuara. 'Kalau begitu kau benar-benar sangat mencintai, ya'
"Kau ini kenapa sih?" Jongin menatapnya malu-malu. "Tentu saja aku mencintainya"
Lalu mengapa aku masih ada di sini, Kris bertanya dalam hati. Ini sangat aneh. Seharusnya dia sudah bisa menikmati kehidupan setelah kematiannya di alam yang seharusnya. Meski sebenarnya dia merasa berat untuk meninggalkan Jongin setelah sekian lama mereka bersama.
"Kau tidak apa-apa, kan?" Jongin bertanya, menatapnya cemas.
Kris terkejut melihat wajah Jongin yang cukup dekat dengan wajahnya. 'Ah.. Tidak..Maksudku, iya.. Tidak ada apa-apa. Aku baik-baik saja, kau lihat kan?'
Jongin menarik napas pelan. "Kalau ada sesuatu harusnya kau katakan saja padaku"
'Hm?'
"Siapa tahu saja aku bisa membantumu" kata Jongin.
Ia melirik jam di ponselnya. Ketika ia sadar, ia harus segera menyiapkan makan siang karena sebentar lagi Haowen pulang dari sekolahnya.
.
.
.
Minho datang ke rumahnya pukul 10 Malam. Membuat Kyungsoo terkejut bukan main mana kala mendapati namja itu menekan bel rumahnya di tengah malam dalam keadaan kacau.
Ia ingin bertingkah egois. Membiarkan Minho dalam keadaan mabuk berada di luar dan kedinginan. Bisa saja ia begitu, karena juga tidak ingin para tetangganya menggosipkan dirinya yang bukan-bukan.
Tapi Kyungsoo adalah Kyungsoo. Seorang yeoja baik hati yang tidak akan membiarkan siapapun dalam kesulitan. Maka selanjutnya ia berusaha memapah tubuh jangkung itu masuk ke dalam rumahnya.
Pria itu terus meracau tak jelas. Wajahnya yang tampan terlihat kacau dengan aroma muntahan dan alkohol yang menjadi satu.
.
.
.
.
Malam yang lainnya, Jongin duduk bersandar ranjang yang sama dengan Oh Sehun. Namja yang saat ini berstatus kekasih pertama di dalam hidupnya.
Terkadang pula, Jongin masih sering berpikir. Apa ini sebuah mimpi? Andai memang begitu, ia tidak merasa keberatan jika tidak pernah dibangunkan dari mimpi indahnya ini.
Ia merasa, bertemu dengan Oh Sehun dan putranya adalah suatu anugerah tersendiri yang diberikan Tuhan Padanya.
"Apa masih lama?" Tanya Jongin, seraya mengintip layar laptop sang kekasih.
Pria itu mengangguk pelan. "Jika kau mengantuk, kau tidur duluan saja"
Tangan besarnya itu terulur untuk mengusap rambut Jongin dan mendekatkan kepala pemuda manis itu ke arahnya.
Jongin dengan manja bersandar di bahu tegap itu, dan menikmati kecupan di kepalanya.
Dia sadar bahwa dia bukanlah orang yang manja. Namun hanya dengan satu sentuhan Oh Sehun, dia bisa menjadi seperti ini. Meleleh seperti keju di atas panggangan, atau apapun.
"Kenapa aku merasa kau seperti Haowen sekarang?"
"Mwo?"
Lelaki tampan itu terkekeh. Telunjuknya menyentuh hidung Jongin yang mungil dan pas dengan wajahnya yang manis. Jongin mulai merasa risih, manakala Sehun mulai mencubiti hidungnya.
"Sehun, jangan seperti itu!" rengeknya.
Persis sekali Haowen, pikir Sehun.
30 menit berlalu. Sehun menoleh ke samping. Dan mendapati Jonginnya tengah bersandar dengan wajah mengantuk. Dia jadi merasa bersalah telah membuat beruang manisnya itu menunggu dirinya cukup lama.
Setelah menyimpan data-datanya, ia menekan opsi shut down dan meletakan benda persegi panjang itu di atas nakas.
"Kenapa kau tidak tidur, hm?" tanyanya.
Tangannya menangkup pipi gemuk itu dan memberikan sedikit usapan di sana.
"Kau belum tidur" jawabnya, dengan suara parau.
Oh Tuhan.. Betapa sangat Sehun mencintai pemuda manis ini. Sungguh! Jika hidup bersama Kim Jongin adalah suatu dosa yang tidak termaafkan, Sehun rela menjadi seorang pendosa untuk menikmati dosa-dosa terindah bersama Jongin.
"Maafkan aku, bear" bisiknya.
Ia mencium bibir bervolume itu dan memberikan sedikit lumatan di sana. Ciuman mesra yang selalu Sehun berikan padanya. Membuat Jongin sedikit melenguh. Lidahnya mulai bermain mengikuti irama yang dimulai oleh lidah sang dominan.
"Kau indah, Jongin" Ucapnya, seraya menghapus sisa saliva di sudut bibir Jongin.
Wajah manis itu bersemu mendengarnya. Pikirannya mulai kacau ketika memikirkan apa yang akan terjadi setelah ini. Apakah Sehun akan mengajak dirinya bercinta seperti pasangan-pasangan lain yang sudah resmi berpacaran?
Entah kenapa Jongin jadi salah tingkah sendiri. Sepertinya dia sama sekali belum siap untuk melanjutkan ke tahap berikutnya sebelum ikatan sah menyatukan mereka.
"Kau takut ya?" tanya Sehun.
Jongin buru-buru merebahkan tubuhnya dan menutupi wajahnya dengan selimut tebal. Sehun tidak boleh melihat wajah paniknya yang bercampur malu.
Sebagai seorang namja yang pernah menikah. Seks adalah kebutuhan yang mutlak dalam kehidupan dewasanya. Tetapi Sehun pikir, yang dia hadapi saat ini bukanlah seorang wanita dewasa atau pun namja manis dewasa yang siap untuk menampung benihnya.
Usia 20 masihlah sangat muda. Jongin bahkan baru merayakan ulang tahunnya beberapa waktu yang lalu. Dan Sehun merasa brengsek kalau ingat dia yang terlalu sibuk dengan bisnisnya sampai tidak bisa merayakan ulang tahun beruang manisnya itu.
"Sayang" bisiknya.
Ia ikut membungkus kepalanya di balik selimut tebalnya. Menyinari tubuh keduanya dengan blitz ponselnya di tengah-tengah kegelapan.
Jongin berbalik ketika Sehun memintanya untuk berbalik.
Pria itu tersenyum tipis dan membuat Jongin semakin terjatuh ke dalam pesona tampan itu. Entah mengapa dia jadi semakin iri dengan sang kekasih.
Mengapa dia masih bisa tersenyum? Sementara beberapa hari yang lalu ibunya baru saja meninggal. Meski Jongin tahu Sehun berusaha untuk menjadi kuat dan tabah. Ini sama sekali tidak adil rasanya.
Sehun menyingkap selimut yang menutupi tubuh mereka. Tanpa sepengetahuan Jongin. Lelaki tampan itu mengambil sesuatu dari laci nakasnya.
Gerak-geriknya yang seperti seorang pesulap dengan berjuta-juta trik itu membuat Jongin penasaran. Dirinya bahkan meminta Jongin memilih salah satu dari kedua tangannya yang terkepal.
Jongin berpikir jika Sehun adalah pria aneh berwajah tampan. Yang sayangnya membuat banyak orang terpaku akan pesonanya.
'Yak, apa sih yang mereka lakukan' Kris yang baru saja memasuki kamar itu menggerutu sebal. Dia mengira Jongin dan Sehun hendak melakukan sesuatu berbau mesum. Jadinya dia musti keluar lagi karena tidak mau merasa iri? Entahlah.
"Ini" kata Jongin.
Sehun tersenyum jahil. Mirip Haowen ketika anak itu berhasil menjahili orang-orang dewasa di sekitarnya.
Tangan kanannya yang terkepal pun terbuka. Dan sebuah permen mint yang entah darimana ia dapatkan berada di atas telapak tangannya.
"Ambilah" titah Sehun.
Jongin menurut dan tersenyum ketika membaca tulisan di belakang bungkus permen itu.
'Will You Marry Me?' begitulah tulisannya.
Jongin diminta untuk segera memakan permen itu. Ia pun menurut dan mulai membuka permennya. Tapi ketika ia hendak memasukan permen itu ke dalam mulutnya, Sehun dengan cepat mengambil permen itu dan memasukannya ke dalam mulutnya sendiri.
Lantas Jongin mengernyitkan keningnya, aneh. Dan lagi-lagi layaknya seorang pesulap Sehun menyodorkan kepalan tangannya dan meminta Jongin untuk memilih sebagai jawabannya.
"Aku pilih dua-duanya" Kata Jongin.
"Mana bisa begitu"
"Tentu saja bisa"
"Dasar kau ini" Sehun mencibir kesal.
Jongin tertawa pelan. Orang jahil itu musti dijahili kan?
Tapi perkiraan Jongin salah. Sehun malah tersenyum jahil yang membuat Jongin berpikir pasti ada sesuatu yang disembunyikan pria itu darinya.
"Kalau aku pilih yang kanan pasti jawabannya TIDAK" gumam Jongin.
"Memangnya kau mau menolak aku, ya?"
"Menurutmu bagaimana, Mr Oh?"
Sehun mendengus. "Hey, aku ini kan tampan"
Jongin tertawa kecil mendengarnya. Dasar kepedean. Meskipun Sehun tampan, mana mau Jongin memujinya secara terus terang begitu.
"Eennie meenie Mynie mo" Jongin bersenandung lucu.
Tangannya berhenti di kiri. Dan dengan pasti ia menyentuh kepalan tangan kiri Sehun.
Sehun membuka tangan kirinya dan sebuah permen (lagi-lagi permen) dengan tulisan 'Yes I do'
Namja itu meminta Jongin untuk mengarahkan tulisan itu ke arahnya. Selanjutnya meminta Jongin untuk memakan permen mint itu..
Jongin tidak menurut. Karena dia pikir pasti Sehun akan mengambil permen itu darinya dan memakannya. Tapi melihat Sehun yang memasang tampang memohon Jongin pun akhirnya menurut.
Selanjutnya yang terjadi Sehun bergerak cepat meraih jemari tangan kanan Jongin dan memasangkan sesuatu di jari manisnya. Yang membuat Jongin membulatkan kedua matanya. Wajahnya bersemu manis sekali.
"S.. Sehun"
Namja itu mengambil permen itu dan memasukannya ke dalam mulutnya lagi. Kemudian merangkum wajah Jongin dengan senyum terpatri di wajahnya.
"Aku sudah tahu jawabannya" ia berkata pelan.
Jongin mengangguk. Meski sekalipun ia memilih kepalan tangan kanan Sehun pasti begini jugalah akhirnya. Dia tidak akan pernah bisa menolak seorang Oh Sehun.
"Maaf tidak bisa romantis seperti yang lain" ucapnya.
Jongin menggeleng, pipinya sembab dan membuat Sehun yakin, bahwa Jongin terharu dengan tingkahnya.
"Kau membuat ku menjadi orang paling egois, Sehun" sahutnya.
"Kenapa begitu?"
"Hiks.. Karena kau membuatku selalu ingin berseru Bahwa akulah orang yang paling beruntung di dunia ini"
Sehun terkekeh mendengarnya. Ia menghapus lelehan air mata itu dan membawa Jongin ke dalam ciuman mesra.
Manisnya permen di mulut Sehun membuat Jongin seperti adiksi. Ciuman mesra itu perlahan menjadi ciuman liar yang memabukan kedua belah pihak.
"Eunghh"
Sehun kembali merebahkan Jongin dan mengukung pemuda itu di bawahnya.
Ia menyudahi ciuman itu setelah Jongin memukul pelan dadanya, yang pertanda dia membutuhkan oksigen.
Ia pandangi wajah manis itu dengan tatapan memuja. Bohong kalau dia tidak merasa hasratnya naik ketika melihat tubuh ramping berbalut piyama biru muda di bawahnya ini. Nyatanya Oh Sehun begitu mencintai Jongin hingga ia harus menahan hasratnya pada tubuh itu. Ia hanya tidak mau melukai hati Jonginnya yang polos dan rapuh.
Akulah yang paling beruntung memilikimu, Kim Jongin-Oh Sehun..
.
.
.
Tbc
.
.
.
Omake :
Kyungsoo meletakan seikat bunga lily di atas makam sambil berdoa yang baik-baik di dalam hatinya.
"Apa kau selalu kemari?" Minho bertanya dengan nada parau.
"Ya" jawabnya, tanpa menoleh ke arah namja itu.
Angin di sore hari membelai lembut pipinya yang mulus. Seolah menyapa kedua orang itu dengan ramah.
"Aku bahkan tidak pernah ingat kapan terakhir kalinya berkunjung kemari"
Kyungsoo berbalik badan. Mendapati wajah Minho yang ditekuk seperti itu membuat hatinya terenyuh.
"Seseorang yang sudah meninggal bukan berarti harus dilupakan" yeoja itu berkata.
Siapa sih yang tidak tahu Kim Minho? Putrs kedua Kim Siwon dengan istri keduanya yang kini lebih memilih untuk menetap di Paris dan bergelut dengan bisnis fashion-nya.
Sementara Kyungsoo yang hidup dengan penuh kasih sayang sejak ia kecil. Meski ia tidak punya seorang ibu. Minho malah sejak kecil harus ditekankan dan dilatih untuk menjadi seorang pewaris perusahaan keluarganya yang kaya raya itu.
"Aku bahkan selalu mengajak Jongin ke makam ibuku di Busan"
"Busan?"
Kyungsoo mengangguk pelan. "Kami akan menempuh perjalanan dua jam ke sana. Lelah sih, tapi Jongin bukan anak yang mudah mengeluh lelah saat jalan-jalan"
"Dia sangat mirip denganmu" ujar Minho.
Kata-katanya membuat Kyungsoo terdiam dan menatap Minho tepat di mata.
"Apa maksudmu?"
Minho tersenyum tulus. "Meski dia anak kakakku. Tapi kau yang merawatnya, dan aku sangat yakin untuk berkata jika dia lebih mirip denganmu dibanding Junmyeon noona"
"Kau sudah tahu rupanya" gumam Kyungsoo.
Apalagi yang harus disembunyikan? Kyungsoo sadar betul jika tak ada celah baginya untuk menyembunyikan sesuatu dari seorang Kim Minho.
"Mau sampai kapan kau terus begini? Bersembunyi dan membuat hatimu terluka. Apa kau tidak lelah?"
Orang-orang yang tidak kenal siapa Kyungsoo sebenarnya. Pasti akan mengira dia adalah yeoja jalang yang telah melahirkan seorang anak tanpa suami. Nyatanya dia hanyalah seorang gadis baik hati, dimana ia harus merasakan cintanya tak terbalas. Dan harus mengasuh anak sahabatnya sendiri yang memang terlahir dari hubungan terlarang.
Minho tidak bisa menyalahkan Kyungsoo begitu saja. Dari semua kebodohan yang telah Kyungsoo lakukan, kakaknya jauh lebih bodoh lagi.
"Kau tidak mengerti" ucap Kyungsoo.
"Lantas dibagian mana yang tidak aku mengerti?"
Minho menyentuh bahu sempit itu. "Kau selalu menyakiti dirimu sendiri"
Setiap orang berhak untuk menentukan jalannya sendiri. Tapi jalan yang telah Kyungsoo ambil itu terlalu beresiko dan bodoh menurut Minho.
"Apa dengan begini pria brengsek itu membalas perasaanmu?"
Kyungsoo membulatkan kedua matanya. Darimana Minho tahu mengenai rahasia yang selalu ia sembunyikan dari orang lain? Bahkan si brengsek itu pun tidak tahu apa-apa tentang ini.
"Aku.. Aku tidak"
"Jangan mencoba untuk berdalih!" Minho berseru. "Jelas aku tahu apa yang terjadi yang sayangnya terlambat untuk ku ketahui"
"Begitu ya" Kyungsoo tertawa meski wajahnya sembab. Ia menghapus air mata di wajahnya dengan asal. "Kau sudah tahu, dan apa yang akan terjadi selanjutnya pasti kau akan menang"
Minho menggelengkan kepalanya. "Aku tidak akan melakukan apapun. Jangan khawatir!" pintanya.
Kyungsoo mencoba mencari kebohongan di mata itu. Tapi nihil! Minho bersungguh-sungguh, namun Kyungsoo malah mencoba untuk berhati-hati. Minho itu Siwon saat namja itu muda. Pintar dan licik!
"Aku tidak memintamu untuk percaya padaku. Tapi ketahuilah, jika apa yang ingin ku lakukan saat ini adalah melindungi keponakanku" Kata Minho. 'Dan juga dirimu'
Minho sebenarnya adalah pria yang baik. Hanya saja dia egois dan keras kepala. Dia ingin selalu menjadi seorang pemenang dalam setiap permainan yang ia mainkan. Dan satu-satunya orang yang selalu berhasi mengalahkan Minho adalah Kyungsoo. Yeoja yang selalu mengalah di Setiap permainan yang ia mainkan.
...
'Di.. Dia mencintaiku'
Suan mengangguk pelan.
Kris melihat kedua tangannya yang makin lama makin terlihat transparan. Suatu Hal yang akan terjadi ketika missi-missi yang ia jalani Terselesaikan dengan sempurna.
Hal yang baru ia sadari beberapa hari ini selama ia merenung seorang diri. Tubuhnya akan semakin transparan dan pada akhirnya ia bisa dengan mudahnya melanjutkan kehidupan barunya di alam yang semestinya dia berada.
'Lalu apa yang harus ku lakukan sekarang?'
Suan tidak menjawab. Melainkan hanya tersenyum dan membuat namja tampan itu kebingungan parah.
'Hanya kau yang tahu apa yang harus kau lakukan, Kevin'
Siapa itu Kevin?
Kris memanggil nama sang senior ketika yeoja paruh baya itu memilih untuk menghilang begitu saja. Meninggalkan dirinya dalam kebingungan seorang diri.
Kevin..
Kevin..
Kevin..
Nama itu mengingatkan dirinya dengan sesuatu..
Seperti mesin waktu yang berjalan begitu cepat. Memori-memori yang pernah hilang dari ingatannya sebagian terekam begitu saja. Membuat dirinya panik luar biasa.
'aku hamil'
'B.. benarkah'
Tangisan seorang bayi, senyum ketulusan seorang ibu, dan juga sebuah kecelakaan mobil yang telah merenggut nyawanya.
Saat itulah ia tersadar..
"He's my son"
.
.
.
Tbc
.
.
.
A/N
Hallo.. Thx ya buat yg udh ngeluangin wkt buat baca dan review ff gaje ini. Gimana? Ah.. Gak usah dijawab deh.. Pasti sebagian ada yg bilang 'Basi ah, ceritanya udh ketebak' makanya Joy cuma diem wkt kalian tanya tanya soal ini. Well.. Sebenarnya alur cerita ini tuh sejatinya cuma ngungkapin jati diri Jongin. Dan Kenapa dikasih judul perfect future husband. Itu karena Jongin yg punya kisah hidup yang menyedihkan itu pada akhirnya bisa bahagia sm calon suami kecehnya. Yah, emg gak ada sangkut pautnya sih ya. Duh asli ini gaje bgt.. Tapi gpp lah ya, buat ngeramein ff Hunkai aja sih. Siapa tau aja masih ada yg berminat baca*lol.
Q : Apa hubungannya Omake Minho dan kyungsoo yang bla..bla..bla..
Me : Gak ngerti sih maksud pertanyaannya apa Tapi semoga jawabannya bisa di mengerti y, sunbaenim.. Jadi kenapa ada alur yg nyeritain Minho n Kyungsoo itu tuh memang ada sangkut pautnya sama cerita ini. Ya kalo memang membosankan itu hak masing-masing readers ya mau berkomentar apa^^
Q: Ini si Kris lupa ingatan atau gimana sih?
Me : cuma lupa ingatan setengahnya aja sih ya. Ada sebagian memori yg sengaja dihilangkan buat ngejalanin misinya itu. Bingung? Sama, Joy juga hehehe
