Walau Yoongi menyuruhnya untuk kirim pesan bahwa ia sampai di rumah dengan selamat, nyatanya Taehyung tak langsung lakukan. Dia takut dan khawatir, sampai-sampai bingung hendak lakukan apa. Dia ingin beri kabar padanya, barangkali Yoongi disana khawatir menunggu... Tetapi, dia tidak ingin Yoongi hanya menjawab, ya, kemudian mengakhiri percakapan. Lelaki itu bilang untuk jangan cari dan hubungi dia lagi... Mana bisa? Mereka berpisah dengan ketakutan dan insiden yang buruk, mana bisa Taehyung bersikap seolah semua berjalan baik-baik saja sedangkan di kepalanya penuh bayangan Yoongi terkapar mengenaskan di rumah dengan patah tulang di mana-mana. Itu mengerikan...

Yoongi hyung: [Kenapa tak kirim sms?]

Ini sudah lima belas menit sejak Yoongi sms dia... Taehyung tak berani balas.

Yoongi hyung: [Apa sudah sampai rumah?]

Yoongi hyung: [Jimin tak angkat telpon. Dimana kau?]

Lelaki ini gigih sekali. Dia betul-betul perhatian untuk menanyakan keadaan Taehyung, padahal jelas lelaki itu yang lebih terluka... secara harfiah. Taehyung meringis ngilu, jika Yoongi masih bisa kirim sms, apakah itu artinya dia baik-baik saja? Apakah jari-jari Yoongi masih berfungsi? Kalau memang iya, syukurlah... tapi Taehyung tak puas jika tak lihat sendiri, dan Yoongi jelas tak setuju dengan kedatangannya menjenguk.

Yoongi hyung: [Kau berani abaikan aku, ya...]

"Aaaaah hyuuuung, bukan gitu..." huhuhu. Soalnya aku takut.

Baru saja dia merengek, Yoongi menelpon. Taehyung jangan ditanya lagi. Dia terjungkal dan kepalanya terantuk meja sampai bunyi buk-nya keras sekali, tapi dia lebih berdebar karena Yoongi sepertinya marah karena dia abaikan pesan Yoongi. Ini menakutkan... Apakah Yoongi akan mengomel di telpon dan betul-betul putuskan hubungan? JANGAN! Taehyung masih amat-amat suka dia dan berniat untuk jadikan dia pacar, huhuhu... hyung, kau menyeramkan...

Akhirnya dia melewatkan 3 missed calls...

Taehyung, kau dalam masalah besar!

Yoongi hyung: [Jawab telpon atau aku tak akan temui kau lagi.]

APA?! JANGAN BEGITU, DONG HYUNG! ini hanya isi kepalanya saja yang bersua. Aslinya sih Taehyung tak berani teriak-teriak apalagi di depan Yoongi. Akhirnya Yoongi menelpon lagi, setelah berperang batin agak lama, Taehyung mengangkat panggilan dan memejamkan mata mengantisipasi amukan Yoongi yang akan menjadi doa sebelum tidur.

["Kamu dimana?"]

Suaranya dalam, tenang, tetapi khawatir... dia terdengar manis sekali. Taehyung jadi membuka mata saking terkejutnya. Dia kira Yoongi akan teriak dan mengumpatinya, tetapi lelaki ini betul-betul lembut di telpon. Taehyung buka bibir dengan gemetar, "A-Aku takut... hyung,,, jangan marah. Aku tak mau berhenti bertemu dan bicara dengan hyung,"

["Dasar bodoh,"] Yoongi mendengus keras disana. ["Tadi itu hanya gertakan. Supaya kau mau pergi dan tidak merepoti aku melawan tiga babi itu. Kalau kau disana, akan sangat menyusahkan. Aku tak hanya memukul mereka tapi harus lindungi kau juga. Lebih baik kau pulang,"]

"Yoongi hyung,,,"

["Maaf kalau membuatmu takut."]

Taehyung mengangguk walau Yoongi tak lihat. "Nggak apa-apa... Malah, aku yang harus minta maaf karena merepotkan. Apa hyung baik-baik saja? Lukanya bagaimana, hyung?" ia berusaha tak menangis saat ini. Membayangkan Yoongi mengompres tubuhnya yang memar dan nyeri bermain-main di kepalanya, dan ia betul-betul khawatir. "Aku mau bertemu..."

["Nggak perlu."] Yoongi batuk sebentar, ["Apa kau sudah di rumah?"]

"Hyuuuung,"

["Apa kamu sudah di rumah?"] dia bertanya lebih lembut namun penuh tekanan.

Akhirnya, Taehyung mengalah. Dia mengangguk lagi dan berkata, "Ya, hyung. Aku sudah di rumah sejak tadi... Aku baik-baik saja, selamat sampai di rumah. Dan sudah makan malam. Jimin sedang pergi dengan Ayahnya, jadinya aku sendiri... di rumah dengan Ibu... Hyung, jangan serius soal putus hubungan dan larangan mencarimu. Aku nggak mau,"

["Kenapa?"]

"Aku khawatir... hyung belum jawab pertanyaanku. Apa hyung baik-baik saja?"

Yoongi menghela, ["Selamat tidur, Taehyung."]


Ambition

..

Park Jimin x Kim Taehyung ǁ Min Yoongi x Kim Taehyung

[MinV] vs [TaeGi-YoonV]

..

I will run to reach you!


Pada dasarnya, Taehyung tak bisa sembunyikan apa-apa dari Jimin. Jadi dia ceritakan apa yang terjadi kemarin dengan Yoongi. Wajah Jimin tak terbaca, tapi sekilas ia terlihat marah dan khawatir. Itu wajar, siapa yang akan senang jika gebetannya hampir dibawa babi? "Terlepas dari Yoongi yang mungkin babak belur, aku bersyukur kamu nggak apa... Betulan tak ada luka, 'kan?"

Taehyung menggeleng, "Tapi aku khawatir sama Yoongi hyung,,,"

"Aku juga," ia berdeham malu. "K-Karena dia 'kan sudah menolongmu! Ya! aku khawatir, karena dia sudah baik menjagamu saat aku tak ada. Beruntung dia punya otot yang kuat dan berguna untuk tonjok begundal itu, paling tidak tindakannya menyuruhmu lari itu ada benarnya."

Walau mereka berdua sering bertengkar, karena mereka itu rival, tapi pada kenyataannya jika itu menyangkut tentang Taehyung yang hendak terluka atau dalam keadaan bahaya jelas para lelaki itu tak akan tinggal diam. Jimin mungkin akan lakukan hal yang sama jika itu terjadi. Kali ini ia beruntung Taehyung pergi dengan Yoongi; dia tak dapat bayangkan jika Taehyung berkeliaran sendirian dan bertemu tiga lelaki itu... sungguh, mengerikan rasanya.

"Kamu mau temui Yoongi?"

Taehyung menoleh dengan binar matanya, "Tumben?"

"Hitung-hitung balas budi karena sudah lindungi kamu."

"Hehehe, sayang jimin, deh." Lelaki itu menarik Jimin ke dalam satu pelukan.

Jimin sih senang sekali, hehehe. "Pake banget, gak, sayangnya?"

"Sayang, pake banget,"

.

.

"Udah, ih... dilepas dong tangannya..."

Jimin merengut dan masih menautkan jemarinya dan milik Taehyung. Padahal tadi ia ingin mengantar Taehyung bertemu Yoongi karena lelaki manisnya seharian tak tenang oleh rasa khawatir, tapi Sungjae dengan bangsatnya menyuruh dia kerjakan tugas yang ia lewatkan saat sakit kemarin. Padahal dia pikir, akan sangat berbahaya jika Taehyung pergi sendirian. Bersama Yoongi saja, masih ada yang berani goda dan tarik dia, apalagi sendirian. Keindahan paras Taehyung ini 'kan dahsyat sekali, siapa yang tak suka dia bahkan sekadar melirik untuk terkagum-kagum?

"Tunggu aku selesai, deh, ya?" Jimin bernegosiasi.

"Selesainya jam berapa?"

Bibir tebalnya ia gigiti, menjawab ragu. "Malam, sih... Soalnya kata Sungjae masih harus kerjakan tugas kelompok untuk pertemuan minggu keempat. Aarrgh, tapi Tae, aku nggak bisa biarkan kamu pergi sendirian. Kalau ada yang menggodamu lagi, bagaimana?" bukannya dia overprotektif juga, tetapi Taehyung ini memang tidak bisa dipercayai untuk pergi sendiri. Dia suka tersesat dan dia hanya menikmati perjalanan, tidak merasa panik saat tersesat. Malah senang jalan-jalan, makin jauh, nanti dia tak tahu sampai mana. Kalau diculik 'kan bahaya, makanya Jimin dan keluarganya selalu berusaha carikan Taehyung teman jalan.

"Tidak apa, astaga... aku hanya ke rumah Yoongi hyung."

"Jangan sampai tersesat,"

"Nggak, lah." Taehyung tertawa kecil. "Sudah sering kesana masa bisa tersesat, sih. Kamu tidak perlu takut gitu, aku bisa jaga diri. Kalau ada yang macam-macam aku bisa teriak dan lari. Tenang saja, Jiminiiii. Udah, ih, malu dilihatin Sungjae tuh... Dia udah capek nungguin kamu, sana buruan kerjain tugasnya."

Jimin merengut. Lagi-lagi karena Sungjae! Ugh!

.

.

Taehyung sudah sampai di rumah Yoongi, tetapi pintunya terkunci. Lampunya juga tak menyala. Jendela tertutup rapat. Sepertinya tidak ada orang di rumah. Mungkin Yoongi bekerja, Yoonji sedang ada kelas tambahan. Taehyung berdiri bingung di depan sana, tidak tahu harus kemana. Dia ingin melihat Yoongi, tapi tak tahu dimana Yoongi bekerja saat siang hari. Dia kan dipecat dari minimarket, pekerjaan buruh cuci piring dan pelayan di restoran dikerjakannya malam hari. Taehyung tak tahu lokasi pekerjaannya yang lain, huhuhu.

"Oppa?"

"Loh, Yoonji?" dia tersenyum tipis saat adik Yoongi berlari padanya.

Perempuan itu menenteng dua plastik hitam besar. Sepertinya dia habis belanja sepulang sekolah. Sebagai lelaki, Taehyung bantu bawakan dua-duanya. Dia 'kan ingin terlihat keren di mata calon adik iparnya, ekhem, modus kan boleh ya. "Oppa ngapain disini?"

"Apa Yoongi hyung baik-baik saja? Tulangnya ada yang patah, nggak?"

"Eh?" Yoonji merengut sambil berpikir sebentar, sampai akhirnya mengerti. "Ahhhh, ya. Bajingan kecil itu memang biasa cari masalah. Dia pulang dengan langkah terseok, wajah biru dan luka terbuka dimana-mana. Kupikir rumahku kemasukan zombie. Dia lelaki yang gila, Oppa. Tapi aku terbiasa melihat itu, jadi aku tak ambil pusing." Kemudian dia membuka pintu, "Masuk dulu. Sampai lupa aku tidak persilahkan. Nanti kita kelepasan bicara sampai malam kalau yang dibahas itu Yoongi si tukang berkelahi."

Taehyung diam saja dan mengikuti Yoonji ke dapur. Sejujurnya dia agak kaget karena Yoonji terbiasa sekali memanggil kakaknya dengan sebutan bajingan. Dia tak menyangka perempuan secantik dia bisa juga berlaku kasar pada kakaknya sendiri. Kalau dia jadi Yoongi sih mungkin Yoonji sudah dia marahi. "Lelaki payah itu tak pernah ceritakan bagaimana dia mendapat luka. Dia hanya memanggilku kemudian suruh aku rawat lukanya. Menyebalkan, ya? Kau sih tak akan mengerti."

Segelas air sirup disuguhkan. Mereka duduk bersisian. "Yah, walau sebetulnya aku khawatir juga. Mungkin aku terlihat kasar dan kurang ajar dengan menyebutnya bajingan tadi. Maaf kalau kau kaget, Oppa." Ia lirik Taehyung yang nyengir lucu. "Terlepas dari tingkah menyebalkannya, dia tetap kakakku. Satu-satunya keluarga yang aku punya. Di dunia ini, aku hanya percaya dia, aku hanya berani taruhkan nyawa dan kepercayaanku padanya. Yoongi memang cuek dan dingin, tapi dia adalah lelaki yang sayang padaku, dia perlakukan aku lembut sekali seperti bayi. Yah... dia kan memang rawat aku sejak bayi. Semua hal yang ada di dunia ini, diajari olehnya. Aku bisa bicara saja karena Yoongi yang ajari. Orangtua konyol kami 'kan minggat, jadi aku sayang sekali pada kakakku walau dia suka terlibat masalah... "

Taehyung menghela napas. Kakak beradik ini lucu juga.

"Memangnya Yoongi berkelahi karena apa?"

"Aku." Ia bernapas kacau, menunduk kesal. "Karena dia lindungi aku. Kami hanya jalan-jalan dan ngobrol, lalu datang tiga orang berbadan sebesar kudanil dan ajak Yoongi ribut. Dia pakai aku sebagai ancaman, juga tarik-tarik aku dan berkata akan main denganku," ia memejamkan matanya kala mengingat kejadian kemarin. "Dan Yoongi hyung marah, sepertinya. Karena dia pakai nada tinggi padaku dan suruh aku lari... Aku nggak mau, tapi hyung menyeramkan saat itu jadi aku ikuti saja apa katanya."

Kemudian tawa kecil lepas dari bibir Yoonji. "Dia memang suka berlagak keren gitu. Pasti dia terlihat seperti oppa-oppa di drama yang lindungi pacarnya, deh." Lalu terbahak lebih kencang karena menurutnya Yoongi pasti tampak konyol. Taehyung tersenyum malu, karena memang seingatnya Yoongi waktu itu drama sekali. Tapi karena kemarin terdesak, ia tak perhatikan bagaimana lelaki itu jadi drama. "Yah, bagaimana lagi... soalnya Taehyung kan cantik,"

Orang ketiga yang tak bisa ia marahi saat memujinya cantik... selamat, Yoonji!

"Jangan begitu," wajahnya hangat dan memerah. "Kamu lebih cantik."

"Bercanda, ya?! Wajah duplikat orang jelek seperti Yoongi dibilang cantik?! Berarti kau bilang Yoongi itu cantik, loh! Wah, Taehyung memang luar biasa." Ia menepuk bahu Taehyung keras sekali sampai empunya kaget. "Dengar, ya. wajah begini tuh bukannya cantik tapi amit-amit,"

"Tapi Yoongi hyung tampan..."

Lantas Yoonji berhenti tertawa. Wajahnya datar tetapi jelas ia terkejut. Sebab Taehyung juga sama terkejutnya dengan ucapannya sendiri. Apa-apaan itu tadi, astaga?! Kenapa ia malah buka kartu dan biarkan Yoonji menerka... Dia yakin Yoonji bukan perempuan bodoh soal cinta, lihat saja tatapan mata menganalisa itu, tentu perempuan cantik itu mengerti maksud Taehyung. Sedetik kemudian ia memainkan alisnya jenaka dan menggoda Taehyung, "Eaaaa, jadi kau suka dengan kakakku? Yang betul? Yoongi si gila bekerja itu?!"

"Aaaah, Yoonji!" dia malu, sumpah.

"Ouuu, begitu," perempuan itu manggut-manggut. "Kok bisa, sih, kau suka lelaki cuek macam dia? Memang apa bagusnya dia, coba? Kenapa tidak denganku saja, ha?"

Taehyung menutup wajahnya yang terbakar, "Sudah, ah."

"Apa kalian sudah jadian?"

"Yoonji!"

"Sepertinya belum, Yoongi bodoh soal asmara." Kemudian ia menatap penasaran, "Tapi kalau ciuman, kayaknya sudah? Eh, atau belum?"

Blush. Hah. Mana ada. "Aaaaa, Yoonji! Nggak, lah! Belum!"

"Ouuuu, belum... Berarti mau, dong, ya?"

Duh, anak ini senang sekali menggoda dia, sih!

"Seru banget. Ngobrolin apaan, sih."

Keduanya sontak menoleh ke sumber suara. Taehyung yang langsung berdiri, "Yoongi hyung!"

"...apa."

.

.

"Nih. Minum dulu," gelas mug itu besar. Terbuat dari tanah liat dan tak punya sudut-sudut maupun linea yang rapi. Dari tekstur (dan analisa sebagai seorang seniman abal-abal) Taehyung menduga mug ini buatan tangan sendiri.

Mata bulatnya melirik Yoongi yang duduk di sisinya. Bersila dan memandang langit gelap. Di tangannya juga memegang mug yang serupa, warnanya hijau lumut. Ada beberapa bagian yang retak di mug miliknya, dan ia melihat gambar love dan kupu-kupu. Positif, mug ini buatan sendiri. Lucu sekali. "Yoonji buatkan milikku dan aku buatkan miliknya," ujar Yoongi.

"Apanya?"

"Mug-nya," ia mengangkat mug miliknya, "Kau melihatnya sejak tadi. Apa itu semacam insting seorang pekerja seni karena melihat sesuatu yang indah?"

Lelaki cantik itu tertawa, "Mungkin. Kelihatannya kalian punya memori indah bersama. Gambar Yoonji bagus juga, dan uhmmm kenapa hyung hanya mewarnai polos dan menulis nama? Tidak ada gambar-gambar lucu?" ia memerhatikan gelas dalam genggamannya. Yoongi menoleh untuk menjawab, "Aku nggak pandai gambar. Daripada bikin jelek, lebih baik tak ku gambar."

"Seni itu bukan soal bagus atau tidaknya, hyung. Tapi keberanian mengekspresikan perasaan, hyung tahu, kan, ada lukisan bergaya abstrak. Bagi sebagian besar orang, gambar itu hanya kumpulan warna secara acak dan buruk rupa. Tetapi bagi beberapa mata, dia bisa tangkap perasaan yang tercurah di tiap goresan tinta. Ini bukan soal keindahan untuk dilihat, karena keindahan visual itu sejatinya subyektif... tergantung bagaimana mata tiap individu,"

Ketika menyangkut soal seni dan lukisan, Taehyung akan kerasukan dan berbicara panjang lebar. Dia tak ragu ungkapkan apa yang ada di dalam kepala dan hatinya. Taehyung bukan orang yang naif untuk merasa minder. Hanya karena teman-teman mengejeknya yang hanya pandai melukis, menertawakan ia yang tidak ambil jurusan bisnis, kedokteran, atau psikologi; persetan. Prinsip dalam hidup yang diyakini Taehyung adalah; lakukan apa yang kau suka. Sesederhana itu.

"Kau kelihatan keren kalau begitu," Yoongi memuji.

Wajah Taehyung memerah dan nyaris meledak. Senyum ia kulum susah payah. Dia merasa malu dan senang sekali. Jarang-jarang Yoongi memujinya, dan ini akan jadi hal yang Taehyung ingat sampai mati. Uhm, lebay, sih... tapi biarlah. "Omong-omong, bagaimana teatermu? Sudah mulai latihan?"

"Iyaaa. Aku nggak dapat peran wanita, kok!"

"Oh. Baiklah," Yoongi terkekeh. Kirain, kan. "Lalu jadi apa?"

"Lelaki tunarungu dan tunawicara yang berusaha menggapai mimpi." Ada hela napas yang halus dari belah bibir Taehyung. Ia memandangi langit yang gelap dan bertaburan bintang. "Namanya Kwon Hansung. Dia miskin, hidup bersama nenek petani di desa kecil, tapi bahagia karena neneknya sering bacakan dongeng. Dia diajari membaca meski dia tak dapat dengar, neneknya juga ajari ia bicara dengan bahasa isyarat. Huffft, itu salah satu hal yang sulit untukku. Mempelajari bahasa isyarat dalam waktu singkat bukan hal mudah, hyung." Kemudian ia tersenyum lebar berusaha menguatkan dirinya sendiri, "Tapi bermain peran itu menyenangkan!"

Yoongi mengangguk, meminum teh-nya yang masih panas perlahan. "Aku belajar sedikit bahasa isyarat saat aku bekerja di toko buku. Kalau senggang, aku baca beberapa buku. Kayaknya aku masih ingat sedikit," ia menggerakkan jemari kurusnya, "Ini pesawat. Mobil. Kalau senang begini, lalu makan tuh, ehmm, oh begini – " dia beritahu Taehyung beberapa kata dalam bahasa isyarat yang pernah ia pelajari lewat buku.

Rasanya mengagumkan karena Yoongi mengajarinya. Lelaki ini tahu banyak hal walau tak ambil sekolah tinggi. Itulah mengapa jaman sekarang sebetulnya, sarjana banyak jadi pengangguran. Lelaki ini selain tampan, cerdas pula... bagaimana Taehyung tak jatuh hati.

Antusiasme Taehyung mengikuti gerakannya menjadi hal yang lucu untuk Yoongi, jadi ia terkekeh spontan dan mengajarinya perlahan. Sesekali memperbaiki gerakan Taehyung yang salah. Jadi ada banyak momen ketika kulit mereka bersentuhan. Walau hanya ujung-ujung jari, rasanya tetap mendebarkan. Taehyung berkali-kali lirik Yoongi yang tampak serius mengajarinya, dan dadanya... jangan ditanya lagi; meletup-letup!

"Nih, coba tebak." Yoongi gerakkan tangannya. Taehyung menerka.

"Aku nggak tahu. Jawabannya apa, hyung?"

"Yah, payah." Yoongi mengusak rambut, "Ini populer, tahu. Artinya; I Love You."

Seolah bumi berhenti berputar pada porosnya, saat itu pula rasanya bumi berguncang hebat sekali. Taehyung merasa berat pada seluruh tubuhnya hingga kepalanya pusing dan jantungnya seperti tak ada fungsinya lagi. Mana detaknya ia tak tahu, tak jelas. Hanya satu hal yang jelas; bahwa dia terkejut saat Yoongi katakan itu. Mungkin Yoongi memang hanya katakan arti dari isyarat yang barusan dilakukannya, tetapi TAEHYUNG KAN TETEP BAPER DIGITUIN!

Orang normal mana yang tenang kalem adem ketika gebetan bilang i love you dengan tatapan tajam dan wajah ganteng? Ha? Jantung Taehyung saja rasanya seperti mau loncat!

Wajahnya blank. Otaknya konslet. Jantungnya mungkin sudah terjun ke lambung.

Hyung... jangan bikin aku baper...

"H-Hyung,,,"

Yang bikin kesal, Yoongi hanya beri reaksi datar. "Apa?"

"Matamu..." Taehyung langsung alihkan pandangan. "J-Jangan tatap aku begitu,"

"Kenapa?"

"N-Nggak..."

Sebetulnya, Taehyung terlihat lucu dan konyol saat ini. Yoongi hanya lirik dia yang masih pasang wajah blank dan wajah memerah. Dia mendengus geli dan menahan tawa dibalik teh panasnya. Dia ingin menggoda lelaki itu, dan reaksi yang didapatnya sesuai dengan ekspektasi. Taehyung memang lucu dan menggemaskan seperti anak anjing... "Kau malu?"

"E-Eh?" dia menoleh dengan wajah yang lebih masak.

Yoongi tersenyum kecil, "Kamu malu karena aku bilang i love –"

"STOOOOOP!" Tangan besar Taehyung menutup mulut Yoongi. Jantungnya sudah tidak karuan lagi berdegup-degup, dan lebih baik lelaki itu diam daripada buat Taehyung pingsan disini. Ada banyak kemungkinan buruk yang terjadi jika Yoongi terus-terusan menggodanya, dan tentu Taehyung tak mau dirinya terlihat lebih konyol lagi. Mimisan, misalnya? "S-Sudah... Anggap saja tadi bukan apa-apa,,, l-lagipula memang bukan apa-apa, kan?"

Ambil napas, buang. "Kan hyung hanya ajari aku apa artinya –"

"Kalau memang itu mewakili perasaanku bagaimana?"

"Apa?"

Mereka terdiam seperti mencari wangsit. Yoongi tak langsung menjawab ke-tidakpekaan Taehyung atas apa yang diucapkannya barusan. Lelaki itu tenggelam dalam jernihnya bola mata lelaki cantik yang ada di hadapannya ini. Seolah dia terjun bebas dari tebing batu ke dalam lautan luas dengan air biru lantas berenang dan menyelam seperti duyung. Indah dan menenangkan. Sungguh efek yang dahsyat; padahal ini hanya tatapan mata. Yoongi lagi-lagi tak dapat menahan diri untuk bergejolak di dalam dadanya. Meletup-letup tanpa secuil pun ia minta, organ dalam tubuhnya bereaksi tanpa kendali, dan itu terjadi hanya karena ia memandangi seluruh wajah Taehyung yang memantulkan cahaya rembulan.

Apa memang Taehyung secantik ini? Atau Yoongi yang baru sadar?

Butuh total satu menit dua belas detik hingga akhirnya Taehyung berkedip dan memutus kontak mata yang menguras jiwa dengan tawa yang hambar dan renyah. "J-Jangan bercanda, ah, hyung. Itu nggak lucu, kayaknya kepala hyung juga –"

"Kalau aku bilang; aku tertarik padamu, bagaimana?"

Mulut Taehyung sepenuhnya bungkam. Kehabisan peluru memutar balik ucapan Yoongi. Pun dengan otak yang kosong melompong. Nyatanya, meski ia ingin drama percintaanya berjalan mulus dan progresif, ketika Yoongi menjadi seperti ini padanya Taehyung tak siap... Separuh hatinya berbisik kalau Yoongi ini tak sungguh-sungguh.

Masa iya, sih? Tidak mungkin, kan...

Walau tak dapat dibohongi kalau dia senang sekali jika memang Yoongi serius dengan apa yang diucapkannya, tetapi sungguh, ia masih tak dapat percaya satu pun kata yang diucapkan lelaki pujaannya... rasanya masih mengganjal, entah bagian mana yang salah dari ini. "Taehyung,"

"Y-Ya... hyung..." sial, suaranya bergetar.

Kacau, Taehyung! Kau kacau!

"Ah, bagaimana ini?" Yoongi mengusak rambutnya lagi dan tersenyum pada Taehyung. Senyum yang seketika meluluhkan Taehyung seperti cokelat leleh. Manis dan mendebarkan, jarang sekali lelaki itu tersenyum begitu. Biasanya dia hanya akan tersenyum kecil atau terkekeh geli karena tingkah konyolnya. Tetapi kali ini senyumnya berbeda, manis dan menggoda.

Sedangkan di sana, Taehyung ketar-ketir. "A-Apanya, hyung?"

"Hatiku," dia mendengus menahan tawa. "Sepertinya aku menyukaimu?"

APA?!


To be continue!


a/n:

ehehehehe. Apaan nih endingnya gak banget, lol maapin aku!

Aku mumet dengan tugas kuliah, penelitian, dan uang yang makin gak kerasa cepet banget abisnya padahal ga dipake foya-foya. Sumpah ya, aku 90% ngeluarin uang buat makan doang dan cepet banget abisnya like,,, wtf? Kembalikan kehidupan sekolah-ku, huhuhuh

Intinya, maapin kalo alurnya makin gajelas. Karena ini ringan, jadi:

Aku gamau ribet mikirin alur

Ini selingan di kala aku senggang, jadi hanya 2-3k words per chapter

Tema tiap chapternya ringaaaan sekali,

Mungkin akan lama menemukan klimaksnya... maafkan aku

Oke deh. Sampai ketemu di lain chapter!

p.s. follow donk ig dan wattpad aku: minvcake

p.s.s. kepada hyesang-nim, kenapa kamu gak pernah balas dm ku:(