[REMAKE] Katie Ashley – The Proposition #2
.
.
.
Disclaimer: cerita sepenuhnya milik Katie Ashley, terjemahan indonesia dari buku aslinya sepenuhnya milik LoveReads.
.
versi HunHan yang saya remake, memiliki alur dan bahasa yang sedikit berbeda dari novel aslinya, TETAPI tetap tidak merubah inti ceritanya. alur, pemakaian bahasa, dan nama tokoh ada yang saya ubah. ff ini dibuat hanya untuk kesenangan semata. tidak ada unsur lain didalamnya.
.
luhan1220
.
.
.
The Proposal
.
.
Mata Luhan terbuka saat bibir Siwan membeku. Sebuah teriakan tercekik terdengar dari tenggorokkannya saat ia mendorong tubuh Siwan agar menjauh. Ya Tuhan, Luhan menyebutkan namanya. saat gairah yang murni dan menggebu – gebu dengan Siwan, Luhan memanggil nama Sehun. air mata penuh rasa malu mengancam dirinya. Luhan jatuh tak berdaya dibawah kaki Siwan, menangis dan merasakan sesuatu yang menusuk hatinya membuat air mata terus jatuh membasahi pipinya.
.
.
.
Chapter 13
.
.
.
.
.
"Luhan."
"Ya Tuhan, maafkan aku! Aku benar – benar minta maaf!" Luhan berteriak dengan tangisan yang sangat memilukan di pendengaran Siwan. Saat air mata tak berhenti membasahi pipinya, ia menarik dirinya dari Siwan, mencoba untuk berdiri dan melarikan diri karena ia tidak berani menatap wajahnya.
"Hentikan itu, dan lihat aku!" perintah Siwan.
Luhan mengalihkan pandangannya yang tak berdaya kewajahnya. "Kumohon, biarkan aku pergi."
Keterkejutan membanjiri dirinya saat Siwan menariknya dalam pelukan yang erat. "Aku tidak membencimu, jadi kau seharusnya tidak membenci dirimu sendiri."
Ia menyentakkan kepalanya dan menatap Siwan dengan tidak yakin. "Aku baru saja menyebut nama pria lain yang mematahkan hatiku saat aku menciummu." Siwan tersenyum dan menyampirkan sehelai rambut di wajah Luhan ke telinganya. "Aku. . . aku memang mencintainya, mencintainya setengah mati, tapi aku takut membiarkan diriku sendiri merasakannya."
"Aku akui, terkadang Sehun membuatku marah sampai aku ingin menghajarnya. Tapi dia mencintaimu, Luhan. Ia telah meninggalkan pekerjaan dua minggu terakhir untuk mencoba mendapatkan perhatianmu."
"Tapi ia bahkan tidak pernah mengucapkan kata – kata itu. Setiap kali ia mencoba, ia selalu mendapat gangguan dan kemudian ia tidak pernah berusaha lagi."
Siwan menyentuh dagu Luhan dengan jarinya dan memaksanya untuk menatap matanya. "Aku ingin kau berfikir tentang ini, mana yang kau pilih. Kata – kata yang diucapkan laku ditarik dengan mudahnya, atau kau lebih memilih tindakan yang telah ia lakukan?"
Sebuah gambaran perilaku Sehun selama seminggu terakhir terlintas dibenaknya. Sehun telah mempertaruhkan pekerjaanya untuk merawatnya. Belum lagi, telah memasak semua yang diinginkan Luhan, keluar tengah malam hanya untuk membeli sesuatu yang ia mau, memijat kakinya sambil menonton film – film yang Sehun sendiri pun tidak tertarik untuk melihatnya, tetapi Sehun melakukannya, hanya untuk membuatnya bahagia, dan selalu memeluknya saat dirinya merasa putus asa.
Siwan tersenyum. "Aku tidak tahu kenapa Sehun tidak bisa mengucapkannya, tapi aku yakin dia sangat mencintaimu." Tangan Siwan menyentuh dengan lembut perut Luhan. "Dan dia juga mencintai anaknya."
Sebuah isakan menembus dada Luhan, dan ia tidak bisa menahan air matanya. Memeluk Siwan dengan erat. "Mengapa kau selalu bersikap begitu baik padaku? Seharusnya kau marah besar dan melempar kursi atau meja, menyebutku wanita penggoda dan sesuatu seperti itu."
"Tidak, dimataku kau wanita yang luar biasa."
Hati Luhan menghangat, lalu mencondongkan tubuhnya mencium pipi Siwan dengan lembut. "Kau telah menyadarkanku. Perasaanku padamu tidak pernah terlepas dari kenyataan bahwa aku mencintai Sehun, amat sangat mencintainya. Dan terima kasih untuk semuanya"
"Kalau begitu, temui dia dan katakan sekali lagi padanya, Luhan." Luhan menganggukinya dan memberikan ciuman terakhir dipipinya sebelum mencari kunci disaku mantelnya. Siwan melambaikan tangan sebelum bergegas menuruni tangga teras dan menuju ke mobilnya.
.
.
.
Jari – jari Luhan bergetar saat membuka pintu depan rumah Sehun. Ragu – ragu, melangkah memasuki rumah dan kegelapan menyelimutinya saat Luhan melewati ruang tamu. Hidungnya mengkerut melihat kaleng – kaleng bir mengotori meja.
Luhan melepaskan mantelnya, lalu sesuatu yang hangat dan berbulu menyentuh kakinya. "Ah, vivi, apa kau menungguku pulang?" Luhan mengulurkan tangannya untuk menggaruk belakang telinganya. "Dimana Daddy?"
Vivi menggonggong dan kemudian melangkah ketangga. Dengan kejadian terakhir yang telah terjadi tadi, Luhan tidak terlalu terkejut, Sehun tidak tidur dikamarnya sendiri. Menaiki tangga satu per satu, lalu mengendap – endap menyusuri lorong kamar tamu. Cakar vivi bergemelatak dibelakangnya. Saat sampai didepan pintu, Luhan menoleh pada vivi. "Tetap disini, vivi."
Vivi dengan enggan membaringkan dirinya untuk tetap berada diluar kamar. Luhan tersenyum padanya. "Bagus."
Tangannya bergetar membuatnya sulit untuk membuka pintu. Dengkuran pelan Sehun terdengar olehnya saat ia melangkah kedalam kamar yang lebih gelap. Sehun benci tidur dikamar yang gelap, lampu tidur yang ada diatas nakas menerangi langkah Luhan melintasi kamar. Luhan duduk disebelahnya. Sehun tidur terlentang, selimut teronggok di pinggangnya.
Saat Luhan menatapnya, Luhan bertanya dalam hati bagaimana ia bisa berpikir menginginkan pria lain. Rasa malu membuatnya bergidik saat ia membayangkan bagaimana mencium Siwan ketika semua yang ia inginkan hanyalah bibir Sehun dan sentuhan tangannya. Sama seperti Sehun yang berusaha mengingkari perasaanya pada Luhan dengan membawa wanita asing kerumahnya, tidak ada satupun yang Luhan lakukan dengan Siwan dapat menghilangkan perasaan cinta yang sebenarnya untuk Sehun.
Akhirnya, hanya ada dua cinta di kehidupan Luhan, Joongki dan Sehun. Luhan mengusap pipi Sehun dengan punggung tangannya. Tersenyum karena menyadari bagaimana wajah Sehun terlihat sangat tampan ketika tertidur.
Ketika Sehun tidak terbangun karena sentuhannya, Luhan membungkuk dan mencium bibirnya. Luhan bangun dan menatap wajah tidurnya. "Aku mencintaimu, Oh Sehun. aku selalu mencintaimu, dan selalu akan mencintaimu. Aku minta maaf karena menyakiti hatimu." Bisiknya.
Sehun merengut dalam tidurnya, tangannya mengepal selimut. "Lu. . . Lu kumohon. . . aku. . . aku mencintaimu."
Jantung Luhan tersentak dan kemudian berdetak lagi. Tangannya menyentuh dada dan mengusapnya dengan pelan, rasa sakit membakarnya. Sehun menyebut namanya. Entah bagaimana, entah dibawah alam sadarnya, Sehun benar – benar menginginkan Luhan, dan Sehun mengatakan kata – kata yang sudah lama ingin didengarnya. Saat ini, yang Luhan inginkan tidak lebih dari bercinta dengan Sehun dan benar – benar memantapkan perasaan mereka satu sama lain.
Luhan menciumnya lagi, tapi Sehun masih tetap tertidur nyenyak. Menggigit bibirnya, Luhan tahu cara yang harus ia lakukan untuk membangunkannya. Dengan membungkuk Luhan mulai mencium jejak lembab didada telanjang Sehun. ketika sampai di pinggang celana dalamnya, Sehun tetap tertidur. Luhan menarik celananya kebawah, ia mengambil kejantanannya dengan tangannya. Jari – jarinya bekerja diatasnya dan kejantanannya mulai membesar. Sehun bergeser ditempat tidur, tapi nafasnya tidak berubah.
Saat Luhan menyelipkan kejantanannya masuk kedalam mulutnya, pinggulnya menarik mundur. Lalu sebuah erangan bergemuruh di dada Sehun. "Luhan," gumamnya dan Luhan berhenti. Jantungnya berhenti saat ia menyadari Sehun masih tertidur dan menyebut namanya.
.
.
.
Sehun berusaha mengguncang dirinya sendiri untuk keluar dari mimpinya. Sekali lagi, malam – malamnya dipenuhi dengan Luhan. Hari – harinya dipenuhi dengan berkembangnya perasaanya yang sakit dan sekarang ia bahkan tersiksa dalam mimpinya. Secara fisik malam ini terasa menyakitkan saat ia benar – benar bisa merasakan bibir Luhan dibibirnya, menggerakan kejantananya keluar masuk dari mulut Luhan yang hangat.
Sehun menggeram. "Luhan." Gumamnya. Ya Tuhan, Sehun sangat menginginkan Luhan. Ia ingin memeluknya dan menenggelamkan dirinya ke dalam diri Luhan. Ia ingin mendengarkan Luhan berteriak menyebut namanya lagi seperti sebelumnya. "Luhan, aku membutuhkanmu."
"Aku ada disini sayang, dan aku tidak ingin apapun selain bercinta denganmu."
Mata Sehun tersentak terbuka. Ia menyadari ia tidak sendirian di atas tempat tidur. Ini bukan mimpi tentang Luhan. Ia benar – benar ada dan mengangkangi dirinya sementara mulut dan lidahnya ada diatas bagain ereksinya. "Tidak, tunggu." Kata Sehun parau.
Ketika Luhan menjilat lalu menghisapnya, Sehun menjatuhkan kepalanya ke bantal. Sial, ini sudah begitu lama. Pinggulnya ia gerakkan tanpa sadar, menyodokkan kajantanannya lebih dalam kemulutnya.
Tidak, tidak, tidak.
Sehun tidak bisa melakuan ini. Hubungan mereka dimulai karena seks, dan ia tidak ingin memulainya kembali dengan cara yang sama. Sekarag adalah saatnya melakukannya dengan cinta yang murni dan indah. Sehun mendorong dirinya sendiri ke posisi duduk. "Tidak, Luhan, Jangan." Mata Luhan melirik dari kejantanan Sehun kematanya dengan terkejut. Sehun menggelengkan kepalanya. "Aku tidak ingin melakukan ini."
Luhan menarik dirinya dengan sangat kasar, hingga Sehun mengernyit saat gigi Luhan menggores batang kejantanannya. Sehun mencoba meraih bahunya, tapi Luhan berdiri darinya dengan cepat sehingga Sehun tak bisa meraihnya. Luhan lari masuk ke kamar mandi dan membanting pintu.
Sehun memejamkan matanya, menghembuskan nafasnya berat. Mengapa ia tampak berbakat untuk mengacaukan segala sesuatunya disetiap saat ia berada bersama Luhan? Sehun menjauhkan selimut dan bergegas ke kamar mandi. Ia bisa mendengar Luhan menangis. Saat meraih gagang pintu, Sehun mendapati pintu itu terkunci. "Lu, maafkan aku. Kau salah paham, aku bersumpah."
Saat Sehun berkata seperti itu, Luhan menangis semakin kencang. Sehun mengetuk pintu kayu dengan kepalan tangannya dengan sangat keras, hingga tangannya terasa sakit. "Luhan, kumohon bisakah kau membuka pintunya dan biarkan aku menjelaskan semuanya?"
"Bagaimana mungkin aku bisa salah paham? Kau berkata tidak ingin tidur denganku!" jeritnya diantara isakan tangis seperti paku yang terdorong masuk kehati Sehun.
"Lu, apa pernah aku tidak menginginkanmu setiap waktu dalam hubungan kita? Kau selalu membuatku terangsang hanya dengan bersamamu didalam ruangan yang sama."
Tangisan Luhan bertambah kencang. Sehun menggaruk – garuk rambutnya yang acak – acakkan dengan tangannya, ia menggeleng – gelengkan kepalanya dengan keras. "Jadi kau benar – benar ingin membuatku melakukannya dengan cara seperti ini? Mengenakan celana pendek dengan kejantananku yang mengeras hasil dari mulutmu yang sialan nikmat itu, sementara kau menangis didalam kamar mandi?"
"Kumohon. . . tinggalkan aku sendiri."
"TIDAK! AKU TIDAK AKAN MENINGGALKANMU SENDIRI. AKU INGIN BERSAMAMU, LUHAN. AKU INGIN BERSAMAMU DISETIAP WAKTU, DAN SETIAP HARINYA!" saat jantung Sehun berdetak lebih cepat, ia menarik nafas dengan sedikit tak beraturan. Ini saatnya. Sekarang atau tidak selamanya.
"Dan tahukah kau mengapa? Karena aku mencintaimu! Kau mendengarnya? AKU MENCINTAIMU, XI LUHAN! Aku mencintaimu sepenuh hatiku. Jika aku jujur dengan diriku sendiri, mungkin aku telah mencintaimu sejak malam pertama di O'Malley. Aku hanya tidak bisa mengatakannya hingga saat ini."
Keheningan bergema kembali didiri Sehun. "Percayalah padaku. Ini terjadi bukan karena aku tidak menginginkanmu tetap menghisap milikku. Ini terjadi karena aku tidak ingin kita bercinta sampai aku mengatakan padamu bagaimana perasaanku yang sebenarnya padamu, Luhan. Meskipun dokter berkata kita bisa melakukannya, aku tidak ingin berhubungan seks denganmu. Aku ingin bercinta denganmu, Lu." Sehun menatap pintu tertutup itu.
Mengapa Luhan tidak mengatakan sesuatu? Mengapa Luhan tidak membuka pintu dan berlari kepelukannya? Bukankah ia sudah mengatakan apa yang ingin Luhan dengar?
"Semuanya telah menajdi gila karena Appa dan kau dan juga si brengsek Siwan yang mencoba mencurimu dariku dan membuatku gila karena cemburu. Aku sangat, sangat menyesal aku tidak mengatakan padamu bahwa aku mencintaimu di hari itu di dermaga. Bahkan sebelum kau mengatakannya padaku, aku tahu bagaimana perasaanku, dan itu benar – benar membuatku ketakutan. Aku merasa perasaanku padamu terlalu cepat dibandingkan dengan Qian empat tahun kebersamaan kami."
Ketika Luhan tetap tidak berkata apapun, tenggorokan Sehun terasa terbakar saat air mata memenuhi matanya. Sial, Sehun tak pernah ingin menangis didepan Luhan. Sehun menempelkan dahinya dipintu. "Kumohon, Lu. Aku sangat mencintaimu sampai terasa sakit. Aku merasakanmu di jiwaku. Kumohon. . . aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku ingin bersamamu disetiap menit hari – hariku. Aku ingin menikah denganmu dan hidup bersamamu. Aku ingin membesarkan Haowen dan menjadi keluarga. Kumohon. . . kumohon katakan padaku kau ingin bersamaku selamanya."
Ketika pintu mulai terbuka, Sehun harus menahan tangannya di kusen pintu agar tak terjatuh kedepan. Luhan berdiri didepannya, dengan mata melebar, mulut menganga, air mata, dan maskara hitam mengalir dipipinya. Luhan berjalan perlahan kearahnya. "Katakan sekali lagi."
Sebuah isakan tersedak ditenggorokan Sehun. "Aku mencintaimu."
"Oh, Sehun." Luhan menangkup wajah Sehun dengan tangannya, menghapus air mata yang mengalir di pipinya dengan ibu jarinya. Luhan mencium bibirnya dan memberinya ciuman yang lembut. Saat Luhan menarik dirinya, ekspresinya campuran dari kebahagiaan dan penyesalan. "Aku minta maaf untuk malam ini dan menyakitimu karena Siwan. Jauh di lubuk hatiku, aku tak akan pernah berhenti mencintaimu. Aku marah dan benci dan juga patah hati atas semua yang pernah kau lakukan padaku. Tapi meskipun aku ingin membencimu, aku tak pernah bisa menghilangkan perasaanku padamu dengan cara memulai suatu hubungan dengan pria lain, aku tidak bisa."
Luhan menyentuh pipi Sehun dengan tangannya. "Aku bersumpah padamu bahwa hatiku akan selalu menjadi milikmu." Luhan memberikan sebuah ciuman yang lama sebelum ia menarik dirinya. "Dan seharusnya aku tidak pernah pergi dengan Siwan malam ini. Itu adalah kebodohanku yang mencoba mempertaruhkan nasibku sendiri. Disamping itu, Siwan tidak pernah memberiku seperti yang telah kau berikan, kau membuat mimpiku jadi kenyataan dengan memberikan Haowen. Kenyataannya adalah aku jatuh cinta padamu melebihi semua yang bisa aku bayangkan. Dan sekarang aku tahu kau mencintaiku lagi–"
Isakan tangisnya memotong ucapannya. Sehun dengan lembut menghapus airmata Luhan dari pipinya. Ia tidak tahan melihatnya menangis. "Aku sungguh – sungguh ingin menikah denganmu, Lu. Tapi aku ingin melamarmu dengan cara yang benar, bukan dengan setengah telanjang dan kejantanan yang sekeras kayu. Aku ingin meminta ijin pada Hankyung, dan aku ingin berlutut dengan satu kaki dan meletakkan cincin dijarimu. Kau layak mendapatkan itu, dan aku ingin kau mengalaminya."
"Se–Sehun."
"Aku berjanji."
"Oh Tuhan, kau membuatku sangat, sangat bahagia!" Luhan menangis, memeluk leher Sehun. Sehun mengayunkan badan Luhan, memeluknya dengan erat. "Aku mencintaimu, aku mencintaimu, aku mencintaimu." Gumam Luhan ditelinga Sehun.
"Aku juga mencintaimu."
Luhan menggeliat melawannya, dan saat Sehun melonggarkan pelukannya, Luhan menatapnya dengan pencampuran agresif antara cinta dan gairah dimatanya. "Bercintalah denganku Sehun."
"Apa itu yang kau inginkan? Karena tidak ada hal lain yang ingin ku lakukan didunia ini."
Luhan menggesekkan pinggulnya pada Sehun. "Aku menginginkanmu lebih dari apapun didunia ini."
Tangan Sehun memegang resleting dipunggung Luhan. Ia membukanya dengan sangat pelan. Luhan menggoyangkan badannya, mencoba dengan cepat melepaskan gaunnya. "mengapa kau begitu lama?"
Sehun terkekeh. "Aku tidak menyadari kau begitu ingin cepat ku telanjangi."
"Aku ingin dekat denganmu sedekat yang aku bisa. Aku perlu merasakan kulitmu di kulitku. Lalu aku tahu semua ini nyata. . . kita akan benar – benar menyatu ditempat dimana kita memulainya."
Dengan erangan, Sehun menyentakkan tali gaunnya terbuka, membiarkannya bergelung dilantai. Sehun membuka kaitan branya dan melemparkannya. Saat tatapan kelaparan Sehun memandang payudara Luhan, ia menjilat bibirnya sediri sebagai antisipasi. "Ini hanya aku atau–"
Luhan memutar mataya. "Cara untuk meruntuhkan seluruh momen."
"Maaf, tapi aku tak bisa tidak memperhatikannya bahwa mereka. . . tampak lebih besar."
"Ya, dan mungkin mereka bisa bertambah besar lagi. apa kau tidak ingat aku pernah mengatakannya padamu?"
"Itu pasti terlewatkan dalam pikiranku." Dengan seringainya. "Percayalah padaku, aku bukannya komplain."
"Aku tidak berpikir kau akan komplain." Sehun mencium sepanjang pipinya dan menggigit lehernya sementara tangannya menangkup dan meremas payudaranya yang membesar. Bibir Sehun mencium bibir Luhan sambil membelai tubuhnya sampai nafas Luhan menjadi terengah – engah dibibirnya. Sehun melepaskan ciuman mereka untuk menghisap salah satu puting Luhan. Sementara itu, Luhan mulai menggesekkan dirinya pada ereksinya. "Aku ingin dirimu sekarang, Sehun. kumohon." Kata Luhan terengah – engah.
"Ini sudah terlalu lama bukan?" gumam Sehun di payudaranya.
"Oh~ ya." Seru Luhan. Menyodorkan pinggulnya melawan tangan Sehun saat tangannya terbenam dibawah pinggangnya. Ibu jari Sehun menyelip masuk ke karet pinggang celana dalam Luhan lalu menariknya turun ke pahanya. Saat celana dalamnya menggantung dilutut, Luhan menendangnya lepas dan Jari – jarinya kemudian berjalan ke boxer pendek Sehun untuk melepaskannya.
Berdiri telanjang bersama, mereka saling menatap mata satu sama lain. "Aku pikir kita akan melewatkan foreplay-nya."
"Mmm, hmm." Gumam Luhan sambil menjalankan tangannya ke dada telanjang Sehun.
Sehun menjatuhkan dirinya sendiri keatas tempat tidur. Dengan memegang tangan Luhan, Sehun menariknya ke badannya. Luhan mengunci matanya pada mata Sehun pada saat ia bangkit untuk mengangkanginya. Saat kehangatan diantara kakinya menutupi kejantanan Sehun, Sehun mengarang. "Lilitkan kakimu disekitarku dengan erat sayang."
Luhan mematuhinya dengan cepat, dan kemudian Sehun mendorong dirinya bersama ketengah tempat tidur. Kemudian tangan Sehun mulai menggali diantara kaki Luhan, membuat dirinya merintih. Saat Sehun menyodorkan jarinya ke inti Luhan, ia merasakan cengkraman dinding – dinding vaginanya menjepit jarinya. "Aku hanya ingin memastikan kau siap untukku."
"Aku selalu siap untukmu, sayangku."
Sehun menaruh kedua tangannya dipinggang dan dengan lembut mengangkat Luhan. Sehun lalu mengarahkan kejantanannya diantara lipatan basahnya. Saat Luhan dengan perlahan meluncur kebawah kejantanan Sehun, Sehun memberikannya ciuman lembut disepanjang tulang selangkanya. Setelah semua miliknya tenggelam di lubang vaginanya, Sehun gemetar dengan kenikmatan. "Ya Tuhan, aku rindu rasanya berada di dalamnya."
Ketika Sehun mengangkat kepalanya, Luhan tersenyum padanya. "Aku merindukan setiap inchi dirimu juga."
"Kau telah menyentuh egoku."
"Aku pikir kita pasangan yang cocok dan pas."
"Ya, kecuali untuk perut ini yang sedikit menghalangi."
Sehun menyingkirkan helaian rambut panjang Luhan dari wajahnya. "Jangan pernah berfikir Haowen sebagai penghalang. Ia akan selalu menjadi tali yang mengikat kita bersama. Ia adalah cinta kita yang tumbuh didalam dirimu. Ia mungkin bukanlah alasan mengapa aku jatuh cinta padamu, tapi ia adalah alasan mengapa aku mendapatkan kesempatan lainnya di kehidupanku." Sehun memberikannya ciuman yang mendalam dan lama.
"Kau telah menyelamatkanku, Luhan."
Air mata menggenang dimata Luhan. Dan dadanya naik turun karena nafas yang berat seperti ia sedang mencoba menjaga emosinya yang meluap – lupa diluar kendali. "Oh Sehun." Luhan menangkup wajah Sehun dengan tangannya. "Aku sangat mencintaimu." Gumamnya dibibir Sehun, dengan menindih dari dadanya ke dada Sehun, Luhan mulai mengangkat pinggulnya saat Sehun menyodok pinggulnya. Luhan terengah – engah perlahan ditelinga Sehun, mengguncangnya pelan membuatnya semakin dalam dan semakin dalam. Saling membungkus bersama, mereka tetap saling menatap.
.
.
.
Dua minggu kemudian. . .
Bunyi dering ponselnya membangunkan Luhan dari tidur lelapnya. Meraba – raba meja disamping tempat tidurnya, Luhan akhirnya berhasil mendapatkan ponselnya. Ibu jarinya menekan tombol penjawab dan menempelkan ponselnya di telinganya "Halo?" Luhan menjawab parau.
"Lu!" Baekhyun menjerit sebelum menghilang dalam isak tangis.
Luhan langsung terbangun seakan – akan ia telah meminum beberapa cangkir kopi. "Baek, ada apa?"
Diantara isak tangisnya, Luhan hanya mengira – ngira beberapa hal yang menyebabkan Baekhyun sampai menangis. "Choi Minho. Pedamping pria. Keracunan alkohol setelah pesta lajang. Masuk kerumah sakit. Perubahan mendadak untuk semua pedamping mempelai. Acara pernikahan kacau!"
Luhan menarik dirinya keposisi duduk. "Baek, tarik nafas dalam – dalam dan tenang, oke? Pernikahanmu tak akan kacau hanya karena seorang pedamping pria dengan bodohnya membuat dirinya mabuk berat sampai masuk kerumah sakit."
"Tapi kami telah berlatih segala sesuatunya dengan tujuh pedamping pria lainnya. Pengaturan pemotretan semuanya akan kacau!"
"Tak adakah teman Chanyeol yang lain atau kerabat yang dapat menggantikan seorang Minho dan mengenakan tuksedo-nya?"
"Aku tidak tahu! Lagi pula siapa yang dapat mengenakan dengan pas tuksedo seorang Minho sebesar 183cm?!"
Luhan menoleh dibalik bahunya kearah Sehun yang tertidur nyenyak, dan sebuah ide muncul dikepalanya. "Um, yah, Sehun punya tuksedo." Ada jeda yang lama. "Kau masih disana?"
"Kenapa aku tidak terkejut."
Luhan menghela nafasnya." Dengar, aku tahu Sehun bukan salah satu orang favoritmu, tapi–"
"Tidak, tidak, kau benar. Kita tidak punya banyak pilihan, dan Chanyeol sebenarnya menyukai dia."
"Oh, aku senang setidaknya salah satu dari kalian menyukai ayah dari anakku."
"Kau tahu aku menyukainya. . . aku hanya tidak menyukainya seperti dulu."
"Jadi kau mau aku memberitahunya untuk berpakaian dan bersiap untuk bergabung dengan pedamping mempelai pria yang lain siang ini?"
"Ya, aku sangat senang dan terhormat bila dia bersedia berada disini."
"Hahaaha~ yeah, kau terdengar sangat menyukai tentang yang satu ini."
"Kkkk~ aku akan berusaha saat aku menemuinya, oke?"
"Baiklah kalau begitu. Sampai ketemu nanti."
"Bye."
Setelah Luhan menutup teleponnya, ia menyusup kembali kedalam selimut. Merapat ke tubuh hangat Sehun, Luhan membungkuk dan mencium bibirnya. "Bangun, sayang."
Sehun meringis walaupun matanya tertutup. Luhan menciumnya lagi. "Lu?" Sehun mendesah disela – sela bibirnya.
Luhan menyundulkan keningnya keleher Sehun, pahanya dikaitkan kepaha Sehun. mengira itu sebagai sebuah undangan, Sehun mengalungkan lengannya dipinggang Luhan dan menariknya keatas untuk menungganginya. Luhan menggelengkan kepalanya. "Whoa, cowboy, apa yang kau pikir kau lakukan?"
Sehun nyengir kearahnya. "Kupikir kau lebih cocok sebagai cowgirl dengan posisi seperti ini."
"Hahaha~ ya kau tahu cowgirl ini siap menunggangimu." Saat Sehun merengut, Luhan menambahkan. "Setidaknya tidak saat ini. Aku mau meminta sesuatu."
"Apa itu?"
Luhan lalu menceritakan semua yang ia bicarakan dengan Baekhyun. Saat selesai, Sehun menghela nafasnya dengan keras. "Maksudmu dia benar – benar menginginkanku di pernikahannya?"
"Tentu saja."
Sehun memberikan pandangan ragu. "Kau yakin?" saat Luhan menganggukan kepalanya dengan antusias, Sehun menyeringai padanya. "Xi Luhan, kau benar – benar pembohong terburuk didunia."
"Dengar, Chanyeol benar – benar menyukaimu, dan Bekhyun juga selalu menyukaimu. Dia hanya masih sulit untuk memaafkanmu." Jawaban Luhan menimbulkan erangan dari sehun. "Apakah itu artinya kau akan melakukannya?
"Tentu saja aku akan melakukannya."
"Terima kasih, terima kasih, terima kasih." Jawab Luhan sambil mencium pipi dan bibir Sehun. "Kau akan membuat Baekhyun sangat bahagia dengan melakukan ini. Dia berpikir hari bahagianya telah kacau. Tak ada seorangpun wanita yang mau ada sesuatu sekecil apapun yang salah dihari pernikahannya. Maksudku, ini seharusnya menjadi hari yang paling membahagiakan dihidupnya, kan?"
Pandangan Sehun menerawang jauh. "Mungkin aku harus menghubungi Baekhyun dan mengatakan padanya aku akan melakukannya. Kau tahu, aku ingin berusaha memperbaiki semuanya."
"Itu ide yang bagus."
Sehun mencium bibir Luhan dengan lembut, sambil mengelus punggungnya. "Kau pergi mandi dulu, aku akan bergabung sebentar lagi."
"Aku punya firasat cowboy ini akan berharap untuk ditunggangi sampai matahari terbenam selama kita mandi?"
Sehun menjatuhkan kepalanya keatas bantal dan tertawa terbahak – bahak. "Hahaha~ pergilah dan biarkan aku bicara dengan Baekhyun."
"Baik, baik." Luhan menggerutu dan memanjat turun dari tubuh Sehun. apapun yang Sehun katakan padanya, itu membutuhkan beberapa saat untuk melakukannya. Luhan baru saja keluar dari shower saat Sehun masuk ke kamar mandi.
"Semua baik – baik saja?" Luhan bertanya, sambil membungkus rambutnya dengan handuk. Saat Sehun tidak menjawab, ia menangkap refleksi Sehun di cermin kamar mandi. Sehun sedang menyikat gigi, tetapi bibirnya membentuk senyuman lebar. "Sehun, kau mendengarkanku?"
Sehun meludahkan pasta gigi dalam mulutnya. "Hah?"
"Aku menanyakanmu bagaimana hasil percakapan kalian?"
Sekali lagi, sebuah senyuman lebar tersungging dibibirnya. "Berjalan dengan amat sangat baik."
Luhan menatap Sehun curiga saat ia mengeringkan tubuhnya. "Baiklah, bagus. Aku sennag mendengarnya, kau dan Baekhyun kembali berteman adalah jawaban dari doaku."
"Lu, bukan aku yang belum bisa berteman kembali dengannya. Maksudku, aku mendapat serangan di kejantananku, Demi Tuhan!"
"Aku tahu bukan kau yang tidak bisa menerimanya kembali." Luhan mencium bahu telanjang Sehun. "Itu sebabnya aku sangat bangga padamu karena sudah berbesar hati untuk memperbaiki segalanya."
"Kau bangga padaku?"
"Mmm-Hmm." Melihat Sehun menyeringai, Luhan memukul bokongnya. "Sekarang cepatlah bersiap, Tuan. Emosi Baekhyun hari ini seperti menginjak lapisan es yang tipis. Terlambat datang adalah hal terakhir yang kita butuhkan."
"Kupikir kau akan berdandan bersama dengannya."
"Memang." Luhan melirik teleponnya dimeja rias. "Sial, sebaiknya aku bersiap. Aku seharusnya sudah ada di spa dalam tiga puluh menit. Maukah kau menjadi seorang kekasih sejati dan membawakan gaunku ke gereja?"
"Tentu saja." Saat ia bersandar untuk mencium Luhan, mulut Sehun beraroma mint.
"Terima kasih." Luhan bergumam disela – sela bibirnya.
"Aku mencintaimu." Ucap Sehun saat ia menarik diri, dengan hidung yang masih menempel satu sama lain.
"Aku lebih mencintaimu." Jawab Luhan sambil tersenyum bahagia bersamanya, dan menyatukan bibirnya kembali.
.
.
.
Setelah pagi hari yang mewah di spa mendapatkan facial dan pijitan, rambut dan wajah seluruh pedamping pengantin telah selesai dirias. Luhan tidak dapat menahan tawa pada penampilan lucu Baekhyun menggunakan pakaian ketat ditambah riasan wajah yang lengkap dengan kerudung dan tiara yang berkilau.
Baekhyun menatap kebawah dirinya sendiri. "Apa? Kau tidak berpikir ada yang salah dengan penampilan ini, kan? Aku berani bertaruh, aku dapat berjalan ke supermarket seperti ini. Sudahlah~ ayo, kita harus membawa bokong kita ke gereja."
"Hanya kau yang bisa mengucapkan kata bokong dan gereja dalam satu kalimat yang sama."
"Kau tahu, aku mencintai mulut kotorku."
"Aku selalu mencintai apapun tentangmu, sahabatku."
Baekhyun mengangkat tangannya. "Jangan ada komentar sentimentil seperti ini lagi, Lu. Aku tak mau riasanku rusak."
"Hahahaa~ Baik, baik, aku akan menjadi orang yang paling dingin seharian ini, senang?"
"Sangat. Sekarang ayo!"
Luhan dan Baekhyun, bersama seluruh pedamping mempelai menuju gereja. Setelah masuk kedalam ruang persiapan, mereka sibuk membantu Baekhyun mengenakan gaunnya. Luhan mundur dan memperhatikan Baekhyun, janji yang semula terucap terlupakan saat air mata memenuhi matanya.
"Kau terlihat menakjubkan!"
Baekhyun menudingnya. "Lu, kau sudah berjanji!"
"Aku tidak dapat menahannya. Hormon kehamilan ini yang membuat emosiku semakin menggila!"
"Ugh, kau benar – benar harus menghentikan produksi air matamu atau kau akan membuatku ikut menangis, dan semua make-up tahan air ini tidak akan berguna."
"Baik, aku akan mengenakan gaunku."
"Bagus, dan sementara kau sibuk dengan gaunmu, pikirkan tentang hal – hal menjijikan, atau orang – orang yang membuatmu kesal– apapun selain yang membuatmu menangis."
Luhan meletakkan tangannya pada pinggangnya. "Tidakkah kau berpikir orang – orang akan bertanya kenapa pedamping wanitamu yang perutnya sangat besar memasang tampang 'persetan denganmu' diwajahnya?"
"Hahahaa~ selama kau tidak menangis, kita akan baik – baik saja."
"Kau benar – benar tidak dapat dipercaya."
Luhan menggerutu seraya memasuki ruang ganti. Gaun merah maroon tergantung didalam tas digantungan yang dimana Sehun sudah mengantarkannya beberapa saat sebelumnya. Luhan mengenakan dan setelah itu berusaha bergulat dengan resletingnya, Luhan kembali ke kamar utama untuk mencari bantuan. Taehyung, adik perempuan Baekhyun yang berumur enam belas tahun, dengan senang hati membantunya.
Luhan sedang memperhatikan bayangannya di cermin saat sebuah ketukan tersengar. "Ini Sehun." sebuah suara memanggil. Taehyung terkikik lalu berlari untuk membuka pintunya. Saat Sehun memasuki ruangan, pandangannya langsung menyapu ruangan untuk mencari Luhan, ketika ia menemukannya, wajahnya berbinar. "Kau terlihat sangat cantik."
Luhan tersenyum lebar. "Terima kasih." Menatap kearah gaunnya, ia menggelengkan kepalanya. "Sebenarnya, saat ini aku merasa seperti lumba – lumba."
"Percayalah padaku, sayang, kau sama sekali tidak terlihat seperti itu." Saat Luhan memberikannya pandangan ragu, Sehun mengedipkan matanya. "Dan aku pasti memiliki gairah yang besar karena ingin melahapmu saat ini juga." Luhan memukul lengan Sehun dengan main – main saat Baekhyun muncul di hadapan mereka.
"Dan bagaimana denganku? Tidak ada pujian untuk sang mempelai wanita?"
Tanpa perlu menarik nafas, Sehun tersenyum kearahnya. "Kau adalah gambaran kesempurnaan yang luar biasa dalam balutan warna putih yang akan membuat nafas Chanyeol berhenti disaat dia melihatmu."
"Kau sangat pandai merayu Big Daddy."
Sehun mencondongkan badannya dan mencium pipi Baekhyun. "Itu kebenarannya."
"Aku akan menerima sanjungan itu kalau begitu."
"Aku sangat senang dapat menjadi bagian dari semua ini."
"Aku juga." Jawab Baekhyun dengan mengedipkan matanya.
Mulut Luhan melongo melihat keduanya berbincang terlebih lagi saat Baekhyun juga membalas mencium pipi Sehun. apa yng terjadi dengan Baekhyun? Apakah karena Sehun bersedia membantu dan menyelamatkan hari besarnya cukup untuk membuat Baekhyun memaafkan sehun untuk semua kesalahan yang telah ia lakukan?
"Apa kau membutuhkan sesuatu?" tanya Luhan pada Sehun.
"Aku hanya ingin memeriksamu, melihat bagaimana perasaanmu, tapi lebih dari semuanya, aku ingin menikmati kecantikanmu yang mempesona."
"Ya Tuhan, itu manis sekali!" Taehyung menjerit sementara pedamping mempelai yang lain menganggukan kepalanya.
Bibir Sehun membentuk seringai sombong pada apresiasi mereka saat Luhan memutar matanya. "Yang benar?"
"Hahaha~ sebenarnya, ini saatnya pada pedamping mempelai difoto."
"Ck! Menyebalkan."
Sehun menempatkan tangannya dipundak Luhan, ekspresinya berubah serius. "Aku mungkin tadi hanya becanda, tapi aku memang benar ingin memeriksamu."
Hati Luhan menghangat pada keseriusan Sehun. "Aku baik – baik saja."
"Cobalah untuk tidak terlalu banyak berdiri hari ini."
"Sehun!" protes Luhan.
"Aku serius, Lu."
"Aku sudah diizinkan untuk kembali berkerja dan semua kegiatan normal lainnya sejak dua minggu yang lalu, ingat?"
"Tapi bukan berarti kau bisa bergerak sepanjang waktu, sayang. Ditambah lagi kau telah melakuakn gladi bersih dan pesta lajang ini, kau memaksakan dirimu."
Sebenci apapun Luhan untuk mengakuinya, dia memang kelelahan. "Oke, oke, Tuan Oh. Begitu kita selesai difoto, aku akan duduk dan menjaga kakiku sampai upacara dimulai."
Senyum puas memenuhi bibir Sehun. "Bagus." Sehun menyapukan anak rambut yang ikal dari wajah Luhan. "Tapi. . . sisakan setidaknya satu dansa diresepsi untukku, oke?"
Perut Luhan megang saat Sehun menyebutkan kata resepsi. Tidak hanya ia akan bernyanyi diupacara nantinya, tapi Baekhyun telah memintanya untuk bernyanyi selama dansa pertama Baekhyun dan Chanyeol setelah menjadi suami istri. Sehun pasti telah menperhatikan kekhawatiran Luhan sebab ia menariknya kedalam pelukannya. "Demam panggung?"
Luhan menelan ludah pahit ditenggorokannya. "Sedikit."
"Kau akan terdengar menakjubkan. Kau selalu begitu."
"Kuharap begitu." Jawabnya parau.
Sehun menjauh untuk menangkup wajah Luhan di genggamannya, lalu membawa bibirnya ke bibir Luhan, menciumnya lembut dengan getaran yang menenangkan maupun menyenangkan menyebar mulai dari ujung kepala Luhan turun sampai keujung kakinya.
"Tidak! Tidak, tidaak! Kalian jangan mulai! Kau akan merusak dandanan Luhan sebelum pengambilan gambar!" teriak Baekhyun protes. Sehun mengerang disela – sela bibir Luhan sebelum ia memisahkan diri darinya. "Hati – hati Big Daddy, aku mungkin menemukan tas yang lain untuk memukulmu lagi."
Sambil menggelengkan kepalanya, Sehun hanya terkekeh mendengar candaan Baekhyun. "Ingatkan aku untuk memberitahu Chanyeol untuk tetap waspada saat kau kesal dan mengayunkan sebuah tas itu sangat berbahaya!"
Luhan tidak berhenti terkejut oleh senda gurau keduanya sehingga dia hanya mengikuti dibelakang mereka berjalan ketempat upacara.
Semua berlangsung dengan cepat hingga tiba saatnya upacara dimulai. Luhan mengambil tempatnya didepan Taehyung dan melihat kearah keramaian tamu yang datang. Melihat melalui bahunya, Luhan melihat Baekhyun mengambil lengan ayahnya. Ayah Baekhyun membungkuk dan mencium pipinya. "Kau akan selalu menjadi gadis kecilku."
.
.
.
Luhan duduk dengan para tamu pesta pengantin dimeja utama dibawah lampu – lampu gantung yang bercahaya. Ia tidak bisa percaya betapa indah semuanya mulai dari pengaturan bunga hingga patung – patung esnya. Keluarga Baekhyun dan Chanyeol benar – benar total untuk acara resepsi ini.
Setelah mengosongkan piringnya, Sehun memperhatikan Luhan yang bermain dengan makanannya. "Haowen akan kelaparan jika kau tidak makan." Kata Sehun sambil mengelap mulutnya dengan serbet.
"Aku akan makan setelah selesai bernyanyi. Hal terakhir yang aku inginkan adalah muntah karena gugup dihari penting Baekhyun dan Chanyeol." Melihat pandangan skeptis Sehun, ia menambahkan. "Aku janji setelah selesai, aku akan makan semua makanan, termasuk beberapa potongan kue pengantinnya!"
Sehun menyesap sampanyenya sebelum menganggukkan persetujuannya. "Kapan kau akan bernyanyi?"
"Setelah pidato."
"Oh."
"Um, sepertinya lebih cepat dari perkiraanku." Balasnya, menunjuk ke arah kakak Chanyeol dan pembawa acara yang berdiri dengan memegang mic ditangannya. Luhan memperhatikan Sehun yang bergerak – gerak gelisah dikursinya, dan beberapa kali tangannya bergerak dari paha kearah saku jasnya.
Saat Luhan memandangnya dengan bertanya – tanya, Sehun melihatnya. "Maaf."
Setelah pembawa acara selesai dengan pidatonya, Luhan merasa kupu – kupu diperutnya mulai berubah menjadi bebatuan. Sekali lagi, Sehun menjadi gelisah dikursinya. "Jangan bilang kau gugup karena aku?" bisik Luhan ditelinga Sehun
"Oh, Um, ya aku rasa aku tertular rasa gugupnya." Gumamnya.
"Dan sekarang waktunya dansa pertama bagi pengantin wanita dan pria sebagai suami istri."
Luhan mengernyit. "Oh Ya Tuhan, ini saatnya."
"Tunjukkan pada mereka, sayang."
"Terima kasih banyak."
Dengan percaya diri Luhan memegang mic dan menatap kearah para tamu undangan. "Tujuh tahun yang lalu, mantan tunanganku berkata 'Hei, aku rasa kau akan menyukai pacar teman sekamarku. Dia benar – benar manis. Tapi lebih dari itu, dia juga benar – benar gila dan lucu'."
Luhan tersenyum sementara para tamu tertawa. "Aku tahu pertama kali bertemu dengan Baekhyun, kalau ucapan Joongki memang benar. Dan kami menjadi sahabat. Aku juga menyayangi Chanyeol. Aku benar – benar beruntung bisa memanggilnya sahabatku selama bertahun – tahun ini, Baekhyun dan Chanyeol sudah menjadi bagian hidupku dalam saat senang maupun susah." Luhan melihat mata Baekhyun berkaca – kaca. "Tidak ada kata – kata yang bisa mewakili betapa bahagianya aku untuk mereka, saat mereka memulai kehidupan baru sebagai suami istri. Aku berharap dan berdoa agar Tuhan memberkati dan selalu menghujani mereka dengan hari – hari yang menyenangkan."
Band mulai memainkan musiknya dan Luhan mulai bernyanyi. Ia mencurahkan hati dan jiwanya kedalam lagu tersebut, dan ketika Luhan menyelesaikan nada terakhirnya, ia tahu kalau ia telah berhasil.
Gemuruh tepuk tangan terdengar disekeliling Luhan, menariknya keluar dari penghayatan dan kembali ke panggung, ia tersenyum terhadap reaksi yang diterimanya. "Terima kasih banyak."
Saat Luhan menyerahkan mic pada pembawa acara, pria itu memuji. "Bukankah itu sangat menakjubkan?"
Tepuk tangan kembali terdengar, membuat pipi Luhan semakin merona. ia segera beranjak turun menuju kursinya disebelah Sehun.
"Berapa banyak dari kalian yang ingin mendengarkan Luhan menyanyikan lagu yang lain?" siulan dan teriakan mengiringi pertanyaan tersebut.
"Sepertinya mereka ingin pengulangan, sayang." Ucap Sehun dengan seringai menggodanya.
Luhan menggelengka kepalanya. "Aku sudah bernyanyi dua kali. Mereka akan berpikir kalau aku mencari perhatian atau semacamnya." Protes Luhan.
"Tidak kalau mereka yang memintamu."
Suara pembawa acara memotong mereka. "Sehun, kenapa kau tidak naik kesini dan kita lihat apakah kau bisa meyakinkan Luhan agar bernyanyi untuk kita?"
Saat Sehun mulai berdiri, Luhan memegang lengan bajunya. "Tidak, Sehun." bisiknya.
Sehun tersenyum meyakinkan. "Aku tidak mengerti bagaimana bisa kau menjadi penyanyi profesional dalam waktu semenit, dan kemudian menjadi takut untuk tampil."
"Itu hanya sisi dari sifat meurotikku yang manis." Balasnya dengan mengerucutkan bibirnya.
"Begini saja, ambil nafas yang dalam, dan aku akan membuat alasan kalau kau terllau lelah untuk bernyanyi dengan kondisimu yang sekarang."
"Terima kasih banyak." Gerutunya.
Sehun melangkah naik keatas panggung dan mengambil mic dari pembawa acara. Ia menatap kearah penonton ."Hmm, aku seharusnya berada disini entah untuk memohon pada Luhan agar mau bernyanyi untuk kalian atau untuk meminta maaf atas namanya." Sehun melirik kearah Luhan. "Tapi. . . harus kuakui kalau alasan sebenarnya aku berada disini tidak ada kaitannya dengan itu semua."
Bisikan terdengar dari arah penonton. "Aku berdiri disini sebagai seorang pria yang berbahagia. Aku memiliki cinta dari seorang wanita cantik dan calon bayi yang sehat. Tapi bahkan itupun tidak cukup. Menyaksikan komitmen pada upacara hari ini, membuatku menginginkan apa yang Baekhyun dan Chanyeol miliki." Ucapan "Aww~" terdengar disekeliling ruangan. "Jadi. . . hanya ada satu pertanyaan yang ingin kutanyakan pada Luhan saat ini."
Saat Sehun melangkah kearahnya, Luhan merasa tidak percaya. Sehun menaruh mic diatas meja, meraih saku jasnya, dan mengeluarkan kotak beludru hitam ditangannya. Mata Luhan membesar saat melihat kotak itu terbuka dan memperlihatkan sebuah cincin berlian bersinar. Saat Sehun memegang cincin tersebut dijarinya, ia berlutut dengan satu kaki didepan Luhan.
"Xi Luhan, malaikat pemaaf, cinta dalam hidupku dan ibu dari anakku, maukah kau membuatku menjadi pria yang paling berbahagia dimuka bumi ini dan berkata kalau kau akan menikah denganku?"
"Oh, Ya Tuhan." Gumam Luhan, airmata mengalir dari mata rusanya saat tangannya membekap mulutnya. "Oh, Ya Tuhan." Ulangnya.
"Ini bukanlah respon yang kuharapkan." Goda Sehun.
Airmatanya semakin deras saat Luhan mengalungkan tangannya di leher Sehun. "YA! YA! YA! Aku akan menikah denganmu Sehun!" Ruangan kembali meledak dengan tepuk tangan. Luhan mendekatkan bibirnya kearah Sehun, untuk menciumnya. Sata Sehun mencoba memperdalam ciuman mereka, Luhan menarik diri untuk menghujani ciuman di pipi, hidung, kening Sehun, dan akhirnya ia kembali mencium bibirnya.
Sehun melepaskan pelukan mereka dan memegang tangan kiri Luhan. Jemarinya mengusap lembut tangannnya, sebelum menyelipkan cincin dijarinya. "Selesai, sekarang kita resmi bertunangan." Luhan terkikik sebelum menarik kemeja Sehun dan menariknya kembali kearahnya. Luhan menciumnya penuh hasrat, dan Sehun tertawa dibibirnya. "Lu, kau tentu masih ingat kalau kita masih berada diruangan yang penuh dengan orang, bukan?"
Luhan memikik lalu menarik diri, tawa terdengar disekitar mereka. "Itu adalah jawaban sempurna, kalian setuju, bukan?" teriak Sehun.
"Ya!" teriak Kris dari mejanya.
Luhan menutupi wajahnya karena malu. Untungnya, pembawa acara menghampiri mereka dan mengambil kembali mic-nya. "Bagaimana dengan sebuah lagu untuk pasangan yang baru menikah dan pasangan yang baru bertunangan?" tanyanya.
"Tidak! Aku tidak ingin mengambil semua perhatian dihari bahagia Baekhyun." protes Luhan.
"Sayang, Baekhyun dan Chanyeol sudah tahu tentang hal ini. Itu alasan kenapa aku menelponnya."
"Benarkah?" luhan melirik kearah Baekhyun yang berdiri dengan senyuman lebar dilantai dansa. Ketika Luhan menaikkan alisnya penuh tanya, Baekhyun mengangguk dan meniupkan sebuah ciuman padanya. Melihat kearah Chanyeol, yang tersenyum dan mengacungkan jempolnya sebagai tanda persetujuan.
"Oke kalau begitu, ayo berdansa."
Sehun llau menariknya kelantai dansa. Saat tangannya melingkari leher Sehun, Luhan melirik kearah cincinnya. "Kau suka?"
"Ini sangat indah."
Sehun berseri – seri. "Aku tidak yakin apa yang kau suka, jadi Kris membantuku untuk memilihnya."
"Benarkah?"
Sehun mengangguk "Dia punya selera yang bagus." Senyum lebar terukir diwajahnya. "Tentu saja, setiap kali aku mengambil cincin yang murah, Kris selalu mengingatkanku tentang masalalu kita."
Lagupun berakhir "Baiklah semuanya. Sekarang waktunya untuk memotong kue. Paakah ada yang mau bertaruh kalau Chanyeol akan berlumuran krim dalam waktu dua detik?" tawa mengikuti pertanyaan dari si pembawa acara.
Setelah kue dipotong dan semua orang kenyang, Luhan kembali lagi kelantai dansa dengan Sehun. saat mereka bergerak mengikuti musik, Sehun tersenyum kearahnya. "Jadi calon Nyonya Oh, kapan kita akan menikah?"
Luhan memiringkan kepalanya untuk berfikir. "Meskipun aku tidak mau memakai gaun pengantin dalam keadaan hamil, tapi aku ingin kita menikah sebelum Haowen lahir."
"Apa kau mau seperti ini?" tanya Sehun, menunjuk ke sekeliling ruangan pesta yang mewah.
Luhan mengernyitkan hidungnya. "Aku sudah merencanakan yang seperti ini bertahun – tahun yang lalu." Sehun menegang saat Luhan mengenang pernikahannya dengan Joongki. "Aku mau sesuatu yang sederhana dengan keluarga dan teman terdekat." Luhan melirik kearah Sehun. "Kita bisa menikah digerejaku dan mengadakan resepsi di pegunungan. Bagaimana?"
"Dan kita akan mengatur upacaranya dengan singkat dan khidmat."
"Oke, kedengarannya bagus. Lalu kita bisa mengadakan resepsi di lumbung, apakah kau setuju?"
"Yang aku pedulikan hanya dimana kau berkata 'saya bersedia' dan menjadi istriku." Sehun mengecup bibirnya dengan lembut, tapi ketika lidah Luhan menyentuh bibirnya dan menempelkan tubuhnya pada Sehun. sehun menarik diri "Apa kau mencoba memulai sesuatu denganku, nona Xi?"
Tanpa mengalihkan perhatiannya dari Sehun, Luhan menganggukkan kepalanya. "Bawa aku keatas."
"Kau bercanda?"
"Apa kau mau aku memohon?"
"Luhan."
"Sehun." mulainya dengan manis. "Apakah kau mau membawaku ke kamar kita dan bercinta denganku sampai aku pingsan karena kelelahan?"
Matanya membesar memandang Luhan seakan Luhan sudah gila. "Aku tidak percaya kau baru saja berkata seperti itu."
"Apa kau lebih ingin aku berbicara dan berkata 'tolong bawa aku keatas dan setubuhi aku sampai aku pingsan karena kelelahan'?" godanya.
"Kau membunuhku, Lu. Benar – benar membunuhku."
"Maka lakukan sesuatu untuk itu."
"Bukankah kita harus tetap disini sampai Baekhyun dan Chanyeol pergi?"
"Aku rasa tidak." Luhan menyikutnya dengan main – main. "Pergi kesana dan bilang kau ingin membawa tunanganmu keatas untuk merayakan pertunanganmu."
Sehun cemberut kearah Luhan. "Kau seharusnya merayakan pernikahan, bukan pertunangan."
"Baiklah, biar aku saja yang lakukan." Luhan membimbingnya keluar dari lantai dansa.
"Setidaknya kerumunan sudah mulai berkurang."
"Apa yang kau khawatirkan?"
"Aku hanya tidak ingin membuat Baekhun dan Chanyeol marah. Mereka sudah mau memaafkan dan berbaik hati untuk membiarkanku melamarmu dihari penting mereka."
Saat mereka berjalan mendekat, Baekhyun sedang menjilati krim di pipi Chanyeol yang dia lempar sebelumnya. Luhan mendekat dan berbisik padanya. Baekhyun tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya. Sehun memandang Chanyeol dengan tatapan putus asa yang dibalas dengan kedipan oleh Chanyeol. "Aku mengerti kawan."
Luhan menarik tangan Sehun. "Baiklah, Big Daddy, kau bisa membawaku keatas dan menikmatiku sekarang."
"Kalau saja aku tahu dengan meletakkan cincin di jarimu akan membuatmu senakal ini, aku sudah melakukannya dari dulu."
.
.
.
TBC
.
.
.
5 September 2016
Haloo~ ketemu lagi di chapter 13. Yeyeye~
Bagaimana? Bagaimana? Aku tahu chapter kemaren Luhan-nya bikin keciwii, hiks. Tapi sekarang udah sweet yaa, uuh akhirnya HunHan moment jugaaa, aku rinduu~
Oiya, Buat readers yang baru review ampe panjaaaaang" banget dan bacanya marathon. It's oke. Lagian aku seneng baca review kalian kkk~ gomawooo. Muaacchhh :*
Maaf gak bisa balas review satu – satu yaa, aku menghargai itu dan aku baca semuanya. Seneng juga kalau kalian masih nunggu ff ini update. Terima kasih. *cium lembut*
Oiya, satu lagi. ff ini sebentar lagi mendekati ENDing yaa, kkk~
See you on next chapter
Special thanks to:
Arifahohse | keziaf | BiyuXiao | Kim124 | lyn | Guest | daebaektaeluv | Asmaul | Wenxiuli12 | Selenia Oh | rly | anggrek hitam | Angel Deer | Oh Hee Ra | Byunkkaeb | huang nana taoris hnt | sherly Oh | OohDinda | danactebh | kajedetroll | D1 | wardatul | han7 | shosasmh | HunHanKai | xi noe roel | taneptw307 | devitailsz | ziarll | chenma | yehethun | Xopeceye77 | cici fu | Juna Oh
.
BIG THANKS FOR YOU GUYS
I LOVE YOU ALL
MUACH
.
.
.
with love, apricaa
