"Tenang saja. Pada akhirnya, kau yang akan memutuskan pilihan yang aku beri padamu, Luhan. Bukankah kau lebih nyaman dipanggil Luhan daripada dipanggil Lunar?"

Setiap detik yang berlalu dalam kediaman yang dibuat Luhan‚ terasa begitu lama. Luhan mengalihkan pandangan ke arah lain karena takingin Ara terlibat perasaannya terlalu lama yang terlihat dari kilatan mata. Perasaan rindu yang mendalam pada kehidupannya sebagai Luhan‚ juga perasaan rindu yang melilit hatinya akan sosok Sehun yang jauh disana.

"Pertama. Kau sudah menyelesaikan tugasmu."

Luhan menatap Ara sejenak. Namun kemudian dirinya menatap kakinya setelah melihat Ara yang begitu lembut menatapnya. "Aku tahu. Aku sudah kembali lagi ke Neverland soalnya." sahutnya pelan.

Senyum milik Ara mengembang kecil. "Kalau sudah selesai‚ seharusnya kau masih berada di bumi."

Luhan mengerjap. Namun tak berkata apa-apa dalam kebingungannya.

"Peri tak memiliki rasa rindu‚ Luhan. Rindu itu datang pada saat mereka ditugaskan menjadi manusia. Dan kini kau merindukannya." Ara berkata tanpa menghilangkan senyumannya yang membuat Luhan malu ketika meliriknya. "Kau bukan lagi peri setelah menyelesaikan tugasmu."

"Tugasku? Selesai?" tanya Luhan sayup di kalimat terakhir. Luhan mengernyit dan berusaha untuk mengingat-ingat. "Tapi‚ kenapa bisa?"

Ara tersenyum. Tak memberi penjelasan lebih pada pertanyaan Luhan. Ara mengambil langkah mendekati Luhan yang terlihat masih mengingat-ingat tentang dirinya yang berada di bumi. Ketika bahunya ditepuk beberapa kali oleh Ara‚ perhatian Luhan teralihkan. Luhan menunduk menghindari mata indah milik Ara yang memperhatikan wajahnya masih dengan senyuman.

"Kau tak menyadarinya‚ ya?" tanyanya. Luhan menggeleng pelan sebagai jawaban. "Carilah lagi dibumi. Takakan ada lagi batasan waktu untukmu setelah ini. Aku juga tidak akan memberimu tanda akan kesalahanmu lagi. Kau bebas."

Luhan tak menyangka. Ingin rasanya ia bertanya lebih jauh pada Ara tentang apa yang perempuan itu maksud‚ namun tiba-tiba Ara telah membuatnya bungkam dengan cahaya dari tangan Ara yang berada dibahunya. Cahaya itu menyilaukan‚ lamat-lamat menenggelamkannya‚ dan membawanya pergi dari Neverland.

A Letter For Little Fairy

13. Hai‚ Luhan

Langkah kaki di koridor kampus saat itu terdengar keras. Kyungsoo‚ si pemilik sepatu yang menciptakan langkah kaki dengan suara yang terdengar keras itu terlihat begitu santai. Hanya ada beberapa mahasiswa disekitar koridor pagi ini. Sengaja saja Kyungsoo berangkat pagi-pagi untuk bersantai ria di kampus. Di rumah begitu membosankan karena hal-hal tertentu yang takingin Kyungsoo pikirkan.

Melewati koridor‚ Kyungsoo memilih untuk mengunjungi kafetaria kampus. Disana suasana begitu tenang dengan beberapa mahasiswa senior yang terkadang mampir untuk mengisi perut. Lumayan juga untuk cuci mata selain untuk menemui Baekhyun‚ pikir Kyungsoo kegelian.

Begitu masuk ke dalam kafetaria yang tidak terlalu luas itu‚ Kyungsoo langsung menangkap sosok Baekhyun yang kemudian melambaikan tangan padanya. Kyungsoo tersenyum dan menghampiri Baekhyun.

"Menunggu lama?" tanya Kyungsoo mendudukkan diri di kursi kosong yang tersisa.

"Tidak juga. Baru saja datang." jawab Baekhyun seadanya seraya menggidikkan bahu sekilas.

"Chanyeol mana? Kau tidak bersamanya hari ini?" tanya Kyungsoo kemudian. Dahinya berkerut ketika melihat senyum Baekhyun luntur setelah pertanyaan refleks itu terlontar. Kyungsoo bertanya lagi. "Ada apa?"

Baekhyun menggeleng. "Tidak ada apa-apa." jawabnya pelan. Baekhyun melipat bibirnya ke dalam untuk membasahinya‚ lalu menyambung. "Aku sedang ada sedikit masalah dengannya. Tapi aku tidak apa-apa. Jangan dipikirkan dan jangan bahas ini lagi‚ ya?"

"Oh." Kyungsoo mengangkat bahunya sejenak. "Baiklah." sahutnya. Kyungsoo takingin lagi bertanya lebih lanjut‚ dan takingin membuat Baekhyun merasa teringat tentang masalahnya dengan Chanyeol kali ini. Jarang sekali pasangan itu bertengkar. Dan baru kali ini Kyungsoo melihat Baekhyun begitu tertekan. Baekhyun juga seperti sedang tidak ada mood untuk menceritakannya pada Kyungsoo. Maka dari itu Kyungsoo memilih untuk diam.

"Jadi untuk apa kau meminta bertemu?" tanya Kyungsoo mengubah topik pembicaraan.

"Sudah dengar kabar dari Sehun?" tanya balik Baekhyun. Ia tersenyum setelah Kyungsoo menggeleng kecil padanya. "Aku kira Sehun su―eh‚ bukankah itu Jongin?"

Kyungsoo memundurkan kepalanya tidak mengerti. Lalu dirinya menoleh ke belakang‚ tepat mengikuti pandangan Baekhyun yang katanya melihat Jongin. Dan benar saja‚ Kyungsoo menemukan laki-laki itu sedang berbicara dengan seorang perempuan di luar sana. Mereka terlihat akrab‚ dan lagi-lagi Kyungsoo merasa jantungnya memanas. Kyungsoo berbalik‚ dan menarik napas panjang untuk mendinginkan dadanya yang terasa panas sekali.

Kyungsoo mulai merasa hidup di bumi ini‚ ia memiliki tubuh yang besar. Saking besarnya dia‚ maka semakin sempitlah bumi ini. Sialan‚ Kyungsoo membatin geram. Kenapa pula dirinya selalu berada disatu lingkungan yang sama dengan lingkungan yang ada Jongin nya?

"Apa perlu aku menceritakan tentang Luhan padanya juga?"

Kyungsoo langsung menatap Baekhyun dengan cepat. Gumaman perempuan bermata sipit itu sempat terdengar pelan di telinganya dan membuatnya sedikit terkejut.

"Luhan?" Kyungsoo menyuarakan pikirannya. Ia menatap Baekhyun yang balas menatapnya dan kembali bertanya. "Apa yang kau maksud dengan Luhan?"

Baekhyun tiba-tiba tersenyum lebar. "Luhan ditemukan." jawabnya dengan nada senang. Tapi kemudian raut wajahnya berubah ketika ia mengatakan‚ "Tetapi Luhan sekarang berada di rumah sakit karena mengalami kecelakan. Itu‚ kecelakaan beruntun lusa lalu."

Mata bulat Kyungsoo makin membulat. "Apa?" serunya terkejut. Suaranya yang kencang membuat beberapa pasang mata menatapnya risih. Namun Kyungsoo sama sekali mengabaikannya. "Kau bilang apa? Kecelakaan?"

"Kau sama sekali tidak tahu‚ eh?"

Kyungsoo menggeleng ribut‚ panik. Perempuan itu berdiri dengan cepat‚ lalu menarik tangan Baekhyun untuk ikut dengannya. "Ayo ke rumah sakit. Aku ingin melihatnya sekarang."

.

.

.

"…Sehun kehilangan jejak Luhan dan ia berlari menuju sungai untuk mencarinya. Bukankah begitu‚ Sehun?"

Si pemilik nama yang baru saja disebut‚ melirik wanita yang sedang bercerita pada Kyungsoo dan Baekhyun. Sehun tahu kalau Kim Jung Ah sedang berkilah untuk menutupi siapa Luhan sebenarnya pada kedua perempuan yang beberapa menit yang lalu ini datang untuk menjenguk Luhan.

"Mungkin kalian tidak bisa menemukan Luhan saat itu. Bibi juga tidak tahu kenapa. Luhan belum sadar dari masa kritisnya."

"Astaga…" Baekhyun menggumam pelan dengan gelengan pelan di kepala. "Bukankah kau bilang kalau Luhan hanyut disungai?" tanyanya pada Sehun.

"Enak saja. Telingamu sudah rusak kelihatannya." sahut Sehun. "Aku bilang kalau Luhan hilang di sungai. Bukan hanyut disungai."

"Mungkin kau kehilangan jejak Luhan saat itu‚ Sehun." Kyungsoo menambahi‚ merasa setuju dengan apa yang diceritakan Kim Jung Ah sebelumnya.

Sehun mendesis‚ dan takingin membalas apapun karena Kim Jung Ah menatapnya penuh arti.

"Aih… Aku benar-benar mengkhawatirkannya karena tiba-tiba menghilang masuk ke hutan." kata Baekhyun pelan. Ia memijat pangkal hidungnya. "Tapi‚ kenapa Luhan tiba-tiba masuk ke hutan?" tanyanya pelan entah pada siapa.

"Mana aku tahu." Sehun yang menjawab dengan gidikan bahu ringan. Ia melipat lengannya di depan dada ketika Baekhyun memicing jengkel padanya. Sehun tidak perduli. "Aku pergi. Ada kelas yang harus aku datangi hari ini." ujarnya. Dan kemudian pergi menjauh hingga menghilang dari jarak pandang ketiga wanita beda generasi itu.

"Sehun kenapa‚ sih?" tanya Kyungsoo pada Baekhyun. Sebelumnya perempuan itu menyenggol lengan Baekhyun dengan sikunya.

"Mana aku tahu." sahut Baekhyun mengikuti cara bicara Sehun tadi. Kyungsoo mendesis.

"Mungkin Sehun tertekan tentang Luhan yang belum sadar dari masa kritisnya." jawab Kim Jung Ah atas pertanyaan Kyungsoo. Ia tersenyum pada Kyungsoo dan Baekhyun yang menatapnya. "Sudah‚ jangan dipikirkan. Lebih baik kalian kuliah. Kalian bisa menjenguk Luhan nanti lagi."

Baekhyun dan Kyungsoo mengangguk hampir bersamaan. Kemudian mereka berdua berpamitan pada Kim Jung Ah‚ dan pergi ikut menyusul Sehun.

.

.

.

"Kau tak menjenguknya di rumah sakit? Aku pikir kau perlu tahu keadaannya meskipun sebenarnya kau sedang mencoba untuk taklagi ikut campur dalam urusan Sehun dan Luhan."

Karena kalimat yang dilontarkan Baekhyun lewat telepon tadi siang‚ mengantarkan kaki Jongin untuk melangkah di kawasan rumah sakit malam ini. Jongin butuh berpikir berulang kali untuk menemui perempuan itu. Sejujurnya Jongin masih belum siap untuk bertemu dengan Luhan. Bisa saja seluruh rasa sayang yang dia coba untuk buang‚ kembali lagi karena melihat wajah Luhan yang damai dalam tidur di masa kritis. Selain itu juga akan ada Sehun. Meskipun mereka berdua secara tidak langsung sedang mencoba untuk membangun persahabatan kembali‚ mungkin Sehun juga sedikit masih ada rasa tidak suka ketika dia dekat-dekat dengan Luhan.

Namun pada akhirnya‚ sekarang Jongin sudah berada didepan ruangan tempat Luhan dirawat.

Jongin meragu melihat pintu yang berada di depannya itu. Merasa kepercayaandirinya menciut setelah melihat sosok Sehun yang duduk disebelah ranjang Luhan dari kaca di pintu. Sehun terlihat begitu sabar menunggu Luhan untuk bangun‚ dan dada Jongin terenyuh melihatnya.

Melihat mereka‚ Jongin teringat Hyojung. Apa kabar perempuan itu sekarang di alam sana? Apakah sedang sedih melihatnya yang tengah menatap orang lain yang―mungkin― saling mencintai itu?

Jongin menghela napas. Sebelah tangannya terangkat dan terketuk pada permukaan pintu dengan pelan. Tiga kali. Lalu dirinya melihat sosok Sehun berdiri dan mendekati pintu. Sempat Jongin lihat kilat terkejut dari mata Sehun ketika pandangan mata mereka bertemu.

"Masuklah." kata Sehun setelah membuka pintu. Ia menggeser tempatnya berdiri agar Jongin bisa masuk ke dalam ruangan itu. "Aku keluar kalau begitu." sambungnya. Sehun keluar tanpa mendengar persetujuan Jongin yang tertahan di ujung lidah.

Jongin kembali menghela napas melihat kepergian Sehun. Jongin menunduk‚ lalu beralih pada Luhan yang terbaring di ranjang.

Astaga. Betapa sakitnya hati Jongin melihat perempuan itu dalam keadaan yang buruk begini.

Jongin mengais seluruh oksigen yang tersisa dan menghembuskannya perlahan. Dengan pelan‚ tangannya mendekat untuk menggenggam tangan Luhan. Namun begitu melihat pergerakan jemari Luhan‚ pergerakan Jongin berhenti. Jongin melirik kelopak mata Luhan yang sama sekali tak menunjukkan tanda bahwa mata itu akan terbuka. Jongin mendesah kecil. Baru saja dia tertipu dengan pergerakan kecil Luhan.

"Hai‚" sapanya sayup. Enggan dirinya untuk kembali menggenggam tangan Luhan. "Lama tak melihatmu rasanya begitu aneh untukku." Jongin mendudukkan diri seraya berbicara. "Kau menghilang secara tiba-tiba dan membuat semua orang uring-uringan mencarimu. Sebenarnya kau kemana?"

Pertanyaan yang takakan ada tanggapan. Percuma.

"Luhan. Jujur saja aku merindukanmu." bisiknya melanjutkan. "Namun Sehun lebih merindukanmu daripada aku. Bagus‚ ya. Kau sudah berhasil membuat aku dan Sehun kelimpungan menahan rasa rindu padamu." Jongin terkekeh di akhir kalimat. Kembali ia memandangi Luhan. Tanpa sadar senyumlah yang terukir di wajahnya.

Luhan masih sama. Luhan yang sudah lama tak dilihatnya‚ kini masih terlihat begitu cantik. Hanya saja beberapa bagian tubuhnya yang diperban sedikit membuatnya berbeda. Jongin ingat bagaimana cara Luhan tersenyum dan tertawa karenanya. Jongin juga ingat bagaimana cara Luhan menangis karenanya. Semua itu berputar lagi di otaknya. Membuat Jongin mengusap wajahnya yang terasa kusut dan kembali memandang Luhan. Apakah perlu Jongin melupakan seluruh kenangannya bersama Luhan‚ merelakan semua itu pergi bersama perasaannya terhadap perempuan ini?

Iya. Untuk kebahagiaan perempuan ini.

"Luhan." panggil Jongin pelan. "Ada yang ingin aku katakan padamu. Tentang aku‚ kau‚ dan Sehun. Aku tidak perduli kau mendengarnya atau tidak. Tapi yang penting aku sudah mengatakannya padamu."

Jongin mengais oksigen lagi. Kali ini lebih banyak dari yang sebelumnya.

"Aku melepasmu." berat rasanya Jongin mengatakan kalimat pendek itu. "Terbanglah tinggi ke alam bebas sana. Aku tak akan mengurungmu dan aku minta maaf soal itu." Jongin menggigit bibir bawah kecil. "Aku benar-benar melepasmu‚ untuk Sehun." lanjutnya berat. Namun ia tersenyum ketika mengatakannya.

Setidaknya perasaannya sudah terasa lebih baik dari yang sebelumnya.

.

.

.

Sehun mendengarnya‚ dan ia merasa begitu jahat. Pada Jongin‚ pada Luhan‚ pada hidupnya. Tidak bisakah ia bersikap lapang dada terhadap perasaan kedua manusia itu? Tidak bisakah ia mengubur perasaannya dalam-dalam bila tahu Jongin dan Luhan masih ingin bersama-sama dahulu?

Tetapi malam itu‚ Luhan mengaku bahwa perempuan itu mencintainya. Jika memang itu benar‚ kenapa Luhan menatap Jongin saat Baekhyun menyanyikan lagu dimalam api unggun. Untuk apa Luhan mengatakan bahwa ia mencintainya? Untuk membuat Sehun lebih baik karena perasaannya terhadap perempuan itu terbalas?

Sehun menghela napas berat. Kepalanya terasa pening tiba-tiba. Sehun menyandarkan tubuhnya pada dinding yang dingin. Rasa dingin itu menjalar dari tulang punggung menuju ubun-ubunnya. Sehun memejamkan mata sejenak‚ lalu menatap langit-langit rumah sakit kemudian. Tak pernah terbayangkan mengapa rasa cinta yang saling tak terbalas ini terasa begitu rumit.

Sehun menyukai Luhan yang―dulu― masih menyimpan harapan pada Jongin. Lalu Hyojung pernah berharap pada Jongin yang masih memiliki hubungan dengan Luhan waktu itu. Seperginya Hyojung‚ giliran Kyungsoo yang memiliki harapan yang sama pada Jongin.

Sialan. Kenapa Tuhan begitu mudah membuat perasaan manusia jungkir balik hanya dengan satu rasa yang katanya begitu berarti itu?

"Sehun‚"

Laki-laki yang sedang melamun itu‚ tersentak kecil. Menoleh‚ Sehun melihat kakaknya yang menatapnya bingung. Ia menjauhkan punggung dari dinding dan memilih untuk duduk di kursi panjang yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri.

"Kau tidak pulang?" tanya Sehyun sambil mengikuti adiknya. Ia duduk disebelah Sehun kemudian. "Sudah sehari ini kau menemaninya."

Sehun tidak menjawab. Jemarinya bermain-main‚ dan Sehyun tahu kalau laki-laki ini enggan untuk menjawab pertanyaan itu.

"Keadaannya masih sama seperti kemarin. Belum ada tanda-tanda dia bangun dari masa kritis."

"Apa Luhan bisa melewati masa kritisnya?" tanya Sehun tidak sabar. Ia mulai menatap kakaknya yang sedikit terkesiap karena pertanyaan itu.

Namun tiba-tiba Jongin keluar dari ruang perawatan Luhan. Kedua kakak beradik itu menoleh pada Jongin yang baru saja menutup pintu ruang perawatan Luhan.

"Aku pulang‚ Sehun."

"Kenapa hanya sebentar?" tanya Sehun‚ berbasa-basi.

Jongin tersenyum. "Aku hanya ingin mengatakan apa yang ingin aku katakan padanya."

"Oh. Baiklah."

Jongin mengangguk. Ia tersenyum untuk menyapa Sehyun dan pergi dari sana.

Sehun kembali menatap kakaknya yang menatap kepergian Jongin. Ketika Sehyun beralih pada Sehun‚ kening perempuan itu berkerut. "Kenapa?" tanyanya pada Sehun. Namun adiknya itu malah mendengus. Sehyun menatap bingung adiknya. Hendak ia bertanya‚ namun Sehun segera bersuara‚ "Lupakan saja."

.

.

.

Malam ke tujuh. Saat itu Sehun datang dan menemani Luhan lagi. Masih dengan kesendiriannya‚ Sehun menatap Luhan yang masih terlihat sama. Keesokan hari setelah Jongin menjenguk Luhan waktu itu‚ keadaannya semakin membaik. Hanya tinggal menunggu kapan hari bangunnya Luhan dari masa kritis saja.

Detik demi detik berlalu‚ berubah menjadi menit dan berganti jam. Satu jam menemani‚ Sehun merasa bosan. Maka ia memain-mainkan ponsel untuk mengusir kebosanannya. Satu setengah jam berlalu‚ dan Sehun mulai mengantuk. Beberapa kali ia menguap‚ namun Sehun berusaha untuk tetap terjaga. Tepat setengah jam kemudian‚ Sehun tertidur dilipatan kedua tangannya.

Tidak berapa lama‚ Sehun mengerjap‚ lalu terbangun. Ia melirik Luhan yang masih menutup kedua kelopak matanya. Sehun menarik napas dan menghembuskan perlahan. Memejamkan mata lagi‚ Sehun menyerah pada kantuknya. Ia memperbaiki posisi lengannya sebagai bantal‚ dan memulai tidur kembali.

Namun Sehun lagi-lagi membuka mata karena mendengar hembusan napas Luhan yang terdengar lelah. Ketika Sehun melihatnya‚ Luhan masih tetap tertidur. Sehun melirik tangan Luhan disebelah lengannya. Takada pergerakan kecil dari jemarinya lagi.

Sehun mulai memperhatikan. Beberapa menit ke depan‚ pergerakan kecil itu ada lagi. Sehun menegakkan tubuh melihat jemari Luhan bergerak-gerak dengan jangka waktu lima detik‚ tidak seperti biasanya. Lalu Sehun menahan napas‚ ujung mata Luhan bergerak-gerak. Sebelah tangan Sehun terulur untuk bersiap-siap menekan tombol merah jikalau Luhan sadar. Dan benar saja‚ Luhan benar-benar membuka mata. Refleks Sehun menekan tombol merah itu dua kali untuk memanggil dokter di malam yang begitu larut ini.

Mata Luhan mengerjap‚ Sehun takbisa mengais oksigen melihat manik cokelat yang waktu itu berubah-ubah warnanya. Kemudian mata Luhan bergerak tidak fokus ke segala arah. Pandangan perempuan itu berhenti pada sosok Sehun yang memperhatikan disebelahnya. Laki-laki itu terlihat takjub. Keajaiban apa lagi ini?

Seorang dokter dan beberapa perawat datang ketika Sehun ingin mengeluarkan suara. Sehun mengambil langkah untuk keluar‚ memberi kesempatan tim medis untuk memeriksa keadaan Luhan.

Sehun benar-benar tidak percaya. Luhan sadar‚ dan dialah orang pertama yang melihatnya. Menatap maniknya yang bening. Dan mereka sempat bersitatap untuk beberapa detik.

Astaga. Jantung Sehun berulah tidak jelas. Berdetak mendobrak rusuknya dengan keras.

Sehun masih berusaha untuk menenangkan gejolak-gejolak itu ketika dokter yang memeriksa Luhan‚ keluar. Sehun menghampiri dokter tersebut‚ lalu bertanya tentang keadaan Luhan.

"Keadannya baik. Kau boleh masuk‚ tapi jangan membuatnya kesulitan. Dia masih butuh menyesuaikan diri dengan kondisi tubuhnya." jelasnya seraya tersenyum. Sehun berterima kasih‚ dan setelah itu si dokter dan para perawat keluar dari ruang perawatan Luhan.

Sehun masuk dengan kadar ketidakpercayaan yang tinggi. Matanya langsung tertuju pada sosok Luhan yang mengerjap pelan di ranjang sana. Napas Luhan terdengar begitu teratur‚ membuat Sehun harus menahan senyum lebar pada perempuan yang kini melirik dan menatapnya itu.

Mereka saling bersitatap. Dari Sehun memiliki jarak yang jauh dengan Luhan‚ sampai Sehun berada tepat disebelah Luhan. Mata Luhan terus mengikuti pergerakannya. Sehun duduk dikursi yang ada‚ dan takbisa berakata apa-apa. Hanya keheningan yang ada. Bahkan sampai dua menit selanjutnya‚ mereka berdua tetap pada suasana itu.

Takbetah dengan keheningan yang membuat seluruh kerinduannya tak tersampaikan‚ Sehun bersuara‚ "Hai‚ Luhan." dengan pelan.

Luhan menutup matanya sejenak‚ dan membukanya dengan pelan. Ketika garis pipinya ditelusuri jemari laki-laki ini‚ saraf di punggungnya terasa menggelitik. Napas Luhan tersendat. Ulu hatinya ikut menggelitik‚ jantungnya berdebar tak menentu menatap mata cokelat yang terasa familiar baginya. Debaran jantung serta rasa-rasa menggelitik itu membuat mata Luhan terasa pedih entah karena apa. Satu detik kemudian‚ setetes air mata mengalir melewati pangkal hidung dan jatuh merembes ke bantal. Luhan tak mengerti mengapa efek laki-laki ini begitu dahsyat padanya.

"Kenapa menangis?" suaranya terdengar menggetarkan hati Luhan. Membuat Luhan terasa sakit dan senang secara bersamaan.

Luhan mengerjap. "Kau…" suaranya yang dirindukan Sehun terdengar sangat serak dan bergetar kecil. "…siapa?"

Sehun menutup bibir yang hendak menyahut kalimat Luhan. Dunia berhenti berputar. Sakit.

.

.

.

"Luhan sadar? Luhan sadar?" Kyungsoo bergumam diantara keterkejutannya. Ia mengerjap beberapa kali‚ lalu menatap Sehun yang terlihat begitu diam dibangku depan ruang perawatan Luhan. "Serius?"

"Kalau tidak percaya‚ lihat saja." Sehun menyahut datar. Ia melirik ke arah lain ketika sadar bahwa Kim Jung Ah dan kakaknya sedang menatapnya tidak jauh dari tempatnya sekarang ini. Sehun menghembuskan napas pelan. "Masuklah." lanjutnya pada Kyungsoo.

Kyungsoo mengangguk tanpa sadar dengan atmosfir keruh dari Sehun yang sedari tadi menyelubungi koridor ini. Perempuan bermata bulat itu masuk ditemani dengan Sehyun yang menawari diri untuk menemaninya. Tinggal Sehun dan Kim Jung Ah yang berada diluar ruang perawatan Luhan saat ini.

Kim Jung Ah terlihat menghela napas pelan memandang Sehun yang duduk dengan pandangan kosong disana. Larut malam‚ sekitar pukul dua belas malam‚ Sehun mengabari bahwa Luhan sadar. Peristiwa ini seperti pernah dialaminya. Saat Luhan kembali karena diberi kesempatan‚ Sehun lah orang pertama yang tahu bahwa Luhan sadar. Saat itu‚ hanya ada Sehun yang menemani. Lalu tiba-tiba Sehun memberi kabar yang lain bahwa Luhan sadar. Dan begitu diperiksa‚ Luhan mengalami amnesia dan Sehun sungguhan terpuruk.

Jung Ah tahu bagaimana rasanya menjadi Sehun. Maka ia mendekati Sehun dan menepuk pundak laki-laki yang sudah dianggapnya anak kandung sendiri itu dengan hangat. Ia tersenyum pada Sehun yang menoleh padanya.

"Kejadian ini pernah terjadi sebelumnya‚ benar?" Jung Ah masih tetap tersenyum ketika berbicara dengan nada menghibur. "Luhan akan ingat semuanya lagi. Percayalah‚ Luhan yang dulu pasti kembali."

Luhan hilang ingatan‚ lagi. Kecalakan beruntun itu membuat tubuh Luhan terpontang-panting di dalam taksi yang dinaikinya. Kepalanya banyak membentur benda keras‚ membuat saraf ingatannya terganggu dan akhirnya Luhan amnesia. Begitulah kata Sehyun yang memeriksa Luhan untuk menjelaskannya pada Sehun. Penjelasan dokter sebelumnya tentang kronologi bagaimana Luhan bisa hilang ingatan sama sekali takbisa dicerna oleh Sehun.

Sehun menghela napas. "Aku mencoba untuk percaya." sahutnya pelan. Ia menunduk‚ menatap jemarinya yang saling bertaut. "Kalau Luhan tidak hilang ingatan‚ apakah ia bisa mengingatku setelah kembali dari Neverland?"

Kim Jung Ah terdiam. Ia taktahu harus menjawab apa. Sebab cara Luhan kembali dengan caranya kembali dulu‚ benar-benar berbeda.

"Kau hanya perlu meyakinkan Luhan tentang dirimu. Sama seperti apa yang kau lakukan dulu padanya." ujar Jung Ah menasehati.

Sehun menatap Jung Ah yang tersenyum lembut padanya. Senyum yang mengingatkannya pada sosok ibu yang telah lama pergi. Senyuman itu membuat Sehun ikut tersenyum. Setidaknya hatinya terasa sedikit lebih ringan setelah berbicara kecil dengan Kim Jung Ah.

Sosok Baekhyun dan Chanyeol yang datang dari belakang tubuh Kim Jung Ah‚ membuat Sehun menengok pada mereka. Baekhyun terlihat tergesa-gesa menghampirinya‚ sedangkan Chanyeol dengan tenang mengekor pada Baekhyun dibelakangnya. Sehun berdiri bersama Kim Jung Ah yang menyadari jarak Baekhyun yang semakin dekat. Perempuan itu terengah-engah saat berhenti melangkah tepat di depan Sehun dan Kim Jung Ah.

"Luhan sadar kan?" tanyanya langsung. Entah pada Sehun atau pun pada Kim Jung Ah.

"Ya. Luhan sadar." Kim Jung Ah yang menjawab. Sedangkan Sehun hanya mengangguk kecil sebagai tanggapan. "Kalian masuk saja. Di dalam sudah ada Kyungsoo."

"Sehun tidak masuk?" tanya Chanyeol yang baru saja bergabung. Ia melihat Sehun yang menggeleng dengan senyuman kecil kemudian.

"Ayo cepat masuk. Aku sudah benar-benar tidak sabar ingin melihatnya lagi." kata Baekhyun pada Chanyeol. Ia menarik lengan Chanyeol menuju pintu. Hendak ia membuka pintu itu‚ namun tiba-tiba pintu itu sudah dibuka oleh Kyungsoo dari dalam. Baekhyun tersentak kecil melihat Kyungsoo yang keluar dengan wajah murung. "Kyungsoo‚ ada apa?" tanyanya pada Kyungsoo.

Kyungsoo menatap Sehun. "Kenapa kau tidak bilang kalau Luhan hilang ingatan?" tanyanya serak.

Baekhyun ikut menatap Sehun. Laki-laki itu membuang wajah dan pergi begitu saja. Menyisakan lima orang didepan ruang perawatan Luhan yang terdiam karena fakta itu.

.

.

.

Hari ketiga setelah sadar‚ Luhan terlihat semakin baik. Keceriaannya kembali dalam sekejap. Senyum serta tawanya kembali menghiasi hari-hari Kim Jung Ah‚ Sehyun‚ maupun teman-temannya yang datang menjenguk. Ia sudah mulai hafal‚ sedikit-sedikit. Perempuan bermata bulat yang sering melontarkan canda tawa saat ia bosan di rumah sakit itu bernama Kyungsoo. Kalau Baekhyun‚ Luhan hanya hafal dengan suara tawa dan suaranya saat berbicara panjang lebar. Lalu laki-laki yang tingginya minta ampun itu namanya Chanyeol. Kemudian seorang perempuan manis yang sering memeriksanya itu namanya Sehyun eonnie. Dan Kim Jung Ah adalah bibinya yang selalu menemaninya setiap hari.

Kecuali laki-laki itu. Laki-laki yang pertama kali dilihatnya saat ia sadar. Luhan belum melihatnya lagi sampai sekarang. Luhan ingat bahwa nama laki-laki itu adalah Sehun. Sehyun yang memberitahunya sekaligus memberitahu kalau Sehun adalah adiknya‚ dan sahabat dari Luhan. Jujur‚ Luhan takingat apapun soal Sehun setelah ia sadar. Yang ia ingat hanyalah debaran jantung dan sensasi menggelitik dari organ-organ dalamnya saat laki-laki itu menyentuh permukaan kulitnya dengan lembut.

Luhan menghela napas. Pikiran tentang laki-laki bernama Sehun itu berputar lagi. Akhir-akhir ini Luhan selalu memikirkannya. Dan kadang membuatnya pusing sendiri.

Suara pintu yang terbuka membuat perhatian Luhan teralihkan. Luhan menoleh pada sumber suara dan terkejut sendiri. Laki-laki yang berada dipikirannya sekarang masuk ke ruang perawatannya dengan tenang. Sehun‚ laki-laki itu membuatnya melipat bibir ke dalam ketika ia datang mendekat dengan kursi roda kosong yang didorongnya. Luhan menatap Sehun dan kursi roda itu bergantian. Ketika Sehun mendongak padanya‚ Luhan melirik ke arah lain. Entah mengapa jantungnya berulah lagi.

"Bibi bilang kau ingin keluar dari kamar untuk melihat taman rumah sakit."

Luhan mengerjap mendengar suara itu. Rasanya aneh. Debarannya makin menjadi-jadi dan Luhan tak ingin berbicara untuk menyahut kalimatnya.

"Bibi tidak bisa kesini. Ia memintaku untuk menemanimu." ujar Sehun. Laki-laki itu makin mendekati Luhan yang duduk di ranjang. Sehun memindahkan kantung infus Luhan di tiang yang lain‚ lalu berkata. "Tidak apa-apa kan kalau aku yang menemanimu?"

Luhan melirik Sehun. "Ya." jawabnya serak seraya mengangguk. Ia membiarkan Sehun menggendongnya dan mendudukkannya di kursi roda tersebut. Jantungnya berhenti berdetak ketika ia mencium aroma tubuh Sehun dari jarak yang begitu dekat.

Sehun mendorong kursi roda tersebut untuk keluar dari ruang perawatan Luhan kemudian. Mereka melewati koridor yang cukup ramai siang ini. Mereka sama sekali tak bercakap-cakap selama perjalanan. Hanya hening yang tersisa.

Sesampainya ditaman‚ Sehun memilihkan tempat yang teduh untuk Luhan. Tepatnya dibawah sebuah pohon besar yang ada bangku maple untuk dua orang. Ia berhenti mendorong kursi roda‚ membiarkan Luhan menikmati suasana taman‚ dan mendudukkan diri di bangku maple tersebut. Sesekali Sehun melirik ekspresi Luhan yang beberapa diantaranya disukai Sehun.

Luhan terlihat tenang. Senyumnya terukir begitu manis dimata Sehun. Sehun begitu merindukan perempuan ini. Namun sekarang ia hanya bisa apa? Pura-pura untuk tak memiliki rasa karena Luhan yang hilang ingatan?

"Namamu Sehun kan?"

Lamunan Sehun buyar. Ia mengerjap pada Luhan yang menatapnya dengan senyum di wajah. Astaga… Sehun takbisa menahan diri untuk tak mencubit pipi itu.

Sehun hanya mengangguk sebagai jawaban.

"Sehyun eonnie yang memberitahuku."

Aku tahu.

"Selain Sehyun eonnie‚ bibi Kim juga bilang kalau kau bersahabat denganku dari kecil." Luhan berusaha untuk tak terlalu memperlihatkan gejolak-gejolak aneh didadanya. Ia melipat bibir‚ lalu menatap Sehun lagi. "Apa itu benar?"

"Hm." Sehun menggangguk kecil. Sakit rasanya karena Luhan hanya tahu bahwa hubungan mereka hanya sebatas sahabat. "Dari umur empat tahun." Sehun menjelaskan ketika tahu bahwa Luhan ingin melontarkan pertanyaan berupa‚ "Sejak kapan kita bersahabat?"

Luhan mengagguk-angguk kecil. Matanya memandang ke arah lain. Bersama Sehun siang ini membuatnya merasa nyaman. Entah karena apa‚ Luhan tidak tahu. Padahal Sehun yang sekarang terlihat begitu diam. Berbeda sekali dengan Sehun yang menyapanya dengan lembut waktu itu. Saat itu Sehun terlihat begitu perhatian. Sekarang‚ keheningan selalu mendominasi mereka. Dan Luhan juga tidak bermasalah dengan hal itu.

Luhan melirik Sehun lagi. Laki-laki yang kini sedang menyandarkan punggung disandaran bangku itu‚ kini terlihat begitu menawan. Sehun yang tersinari cahaya matahari dari celah-celah daun yang bergerak karena angin‚ membuat Luhan tak bisa mengerjap.

Sebenarnya Sehun ini siapa sampai ia bisa seaneh ini ketika bersamanya? Luhan jengkel sendiri karena pertanyaan semacam itu terputar diotaknya secara terus-menerus.

Luhan mengerjap untuk mengakhiri keterpesonaannya terhadap Sehun walaupun enggan rasanya. Ia berdeham kecil‚ membuat Sehun menoleh padanya‚ dan Luhan salah tingkah sendiri. Luhan menarik napas dan menghembuskannya perlahan sebelum berani melirik Sehun kembali.

Sehun tahu kalau Luhan sedang salah tingkah. Diam-diam ia tersenyum. Karena ternyata hati takbisa lupa ketika ingatan pun telah lupa pada memori.

"Kau…" Luhan berdeham lagi. "Aku tak pernah melihatmu lagi setelah malam itu. Kau kemana saja?" tanyanya serak‚ juga enggan. Ia berharap Sehun taktahu tentang kegugupannya saat bertanya soal itu padanya.

"Aku ke kampus. Ada banyak tugas." kilah Sehun tenang. Ia tersenyum kecil dan balik bertanya. "Kenapa? Kau mencariku?"

"Ti-tidak." Luhan menggeleng dan segera membuang wajah ke arah lain. Sempat ia memutar otak untuk mencari-cari alasan. Setelah itu‚ ia berkata‚ "Seharusnya kau juga menjengukku bersama Baekhyun dan Kyungsoo."

Sehun hanya tersenyum‚ tidak menjawab lebih. Kemudian ia melipat bibir kedalam setelah menarik napas dalam-dalam. Ia bertanya‚ "Kakimu bagaimana?"

"Kata Sehyun eonnie‚ besok kakiku baru bisa dipasang platina." jawab Luhan. Pandangannya menerawang‚ lalu dirinya cemberut.

Ketika melihat ekspresi itu‚ Sehun tak dapat menahan diri untuk mencubit pipi Luhan‚ lagi. Astaga‚ betapa rindunya ia pada perempuan ini. Pada segala ekspresi dan juga suara jengkelnya.

"Apa rasanya akan sakit sekali?" lanjut Luhan bertanya.

Sebelah alis Sehun terangkat samar. "Sebelumnya kau pernah patah tulang dikaki. Kakimu juga sudah pernah diberi platina. Dan kau menangis seharian karena hal itu." ceritanya. Ia tertawa kecil‚ memandang Luhan yang cemberut karena ceritanya‚ lalu berhenti tertawa. "Aku serius."

"Aku tidak secengeng itu!"

"Kau bahkan takingat apa saja yang terjadi dimasa lalu sekarang ini‚ Luhan."

Rengutan di wajah Luhan luntur. Ia tidak berkata apa-apa lagi untuk menyahut kalimat Sehun. Kenyataan bahwa ia hilang ingatan karena kecelakaan itu membuatnya bungkam. Sehun ini sahabatnya‚ tentu Sehun tahu apa saja yang menjadi kebiasaan‚ sifat‚ dan sikapnya dimasa lalu. Tidak mungkin laki-laki ini berbohong jika dilihat dari raut wajah dan sorot matanya tadi.

Luhan menggigit bibir bawah kecil. Dadanya bergemuruh lagi‚ kali ini rasanya nyeri dan sakit sekali. Ia melihat Sehun yang duduk disebelahnya dengan pandangan menerawang jauh ke langit biru sana. Mata Luhan terasa pedih‚ ulu hatinya menggelitik sakit. Rasa sakit ini sama seperti rasa sakit yang pernah ia rasakan saat bangun dari masa kritis‚ saat melihat Sehun untuk pertama kali setelah sadar.

Ini rasa apa? batinnya bertanya-tanya soal itu. Luhan menyentuh dadanya‚ dan merasakan betapa keras dan cepat debaran jantung yang terasa begitu sakit itu. Ia yang tak tahu tentang perasaan ini‚ hanya mampu diam.

"Sekarang kau tidak perlu mengingat-ingat masa lalumu yang hilang‚ Luhan." Sehun bersuara tiba-tiba‚ dan mengagetkan Luhan yang larut dalam pemikiran ini. Luhan menatapnya‚ dan merasa lebih sakit melihat senyum tipis Sehun. Debaran jantungnya yang terasa sakit itu menghilang tiba-tiba saat Sehun mengusap puncak kepalanya dengan lembut. Luhan mengerjap sembari mendengarkan Sehun yang berkata‚ "Tidak apa-apa. Kau akan ingat sendiri suatu saat nanti. Datanglah padaku kalau kau sudah ingat‚ oke?"

Luhan mengangguk. Seolah menjanjikan permintaan kecil Sehun yang berdampak besar untuknya nanti.

.

.

.

To be continued…


Haihai. Maaf aku buat HunHan punya cobaan lagi :3 maafkan daku. Untuk ke depan. Mungkin aku bakal buat cerita yang complicated. Maaf ya kalo nanti bingung sama ceritanya‚ pusing sendiri mikirin alurnya‚ dll. Aku juga lagi nyoba hal-hal baru. Dan ff ini sebagai percobaannya wkwk. :3

Aku bakal jawab pertanyaan-pertanyaan kalian di chapter kemaren dan sebelum-sebelumnya nih.

Eiya. Kemaren ada yang bilang kalo ff ini mirip sama drakor My Love Come from The Star sama MV nya SM The Ballad yg Miss You. Jujur‚ kalo yg drakor itu emang aku terinspirasi dari sana. Tapi kalo yg MV nya SM The Ballad‚ aku malah nggatau MV nya kyk gimana :v

Ada yang minta aku update seminggu dua kali? Eum... Maaf‚ ya. Aku nggabisa :'( kenapa? Bukannya sok sibuk atau apa‚ tapi aku bisanya update seminggu sekali :'( aduh maafkan daku karena buat kalian nunggu.

Pertanyaan yang sering kelupaan buat jawab. FF ini Happy Ending kan? Jawabannya‚ liat aja dulu deh. :3

Siapa itu Yeom Hae In? Aku jelasin di chapter 14 deh. Haein itu sebenarnya tokoh baru yang ngga aku sengaja :3 bingung? Ya sama :v

Trus‚ pertanyaan ini bikin aku gatel banget buat jawab. :3 Pertanyaannya: Thor‚ kenapa ngga naikin cetak aja ceritanya?

Alah-alah :3 aku masih belum punya keberanian yang cukup buat naikin cetak beberapa karyaku. Meskipun sebenernya juga pengen :3

Trus‚ kenapa juga aku ngga gabung ke Event HunHan dg cerita ini? Aku pikir-pikir dulu‚ ya. Soalnya pendapat setiap orang tentang sebuah cerita itu ngga sama.

Bagus itu relatif‚ jelek itu juga relatif. Jadi biarkan aku konsentrasi sama jalan cerita dulu. :3

Dan hei‚ hei. Ada yang dengar kabar tentang KaiStal? Tahu nggak? Aku sempet kehilangan mood buat bikin moment KaiSoo di chapter 14. Apalah ini berita itu menggemparkan hatiku dan hati Kyungsoo :')

Yasudah. Ini sudah terlalu panjang :') review?