Ng, chapter ini pendek banget dan sama sekali nggak ada angst-nya—kalo menurut saiia =_=" karena, goal-nya ntar di chapter akhir.. ^^ Gomen ne~ Oh iya, ngomong-ngomong, di akhir chapter ini ada sedikit kata-kata gaje... karena berhubung saiia masih amatir, maaf kalau kesannya malah jadi abal... TT_TT *pundung*

Yakk! Langsung saja~

2 chapter terakhir, nih~! ^^

Ini dia chapter 14! Happy reading~!


The Truth About Forever

~*Kebencian Membuatmu Kesepian*~


Summary:

Seberapa berharga, sih, satu detik itu? Tik. Sebentar saja dia langsung berlalu.

Tik. Satu detik pergi lagi.

Tak ada harganya.

Tapi tunggu sampai kau sadar waktumu hampir habis. Tik.

Kau ingat selama ini jarang beramal. Tik.

Kau teringat mimpi-mimpi yang tak sempat kau wujudkan. Tik.

Kau sadar tak cukup menyayangi keluarga dan teman-temanmu.

Tik. Tik. Tik.

Kau panik, takut menyia-nyiakan lebih banyak waktu lagi.

Toushiro merasa demikian ketika divonis tak akan berumur panjang. Tapi bukannya memanfaatkan waktu yang tersisa sebaik-baiknya, dia malah diam-diam pergi ke Karakura. Kedatangannya ke sana tak lain untuk balas dendam kepada orang yang dianggapnya bertanggung jawab atas semua ini. Bahkan kalau perlu mati bersama.

Saat itulah cinta datang. Memberi pengharapan, membuatnya merasakan sedikit kebahagiaan di dalam kelam hidupnya. Dan sekarang, keputusan ada di tangan Toushiro. Manakah yang akan dipilih Toushiro? Karena cinta dan benci tak akan pernah akur.

Main Pair: HitsuRuki

Genre: Angst/Romance

Rate: T

Warning: AU; OOC, soalnya banyak chara yang saling tangis-menangisi(?); miss typo bertebaran di mana-mana; cuma cerita dari sebuah novel yang menurut saiia bagus, jadi saiia cuma ingin kalian baca cerita ini, buat yang udah pernah baca, nggak baca fic ini nggak apa-apa kok, tapi kalo emang mau baca, silakan...

Disclaimer:

BLEACH © Kubo Tite

THE TRUTH ABOUT FOREVER © Orizuka

Saiia? Cuma mempublikasikan kok! TT_TT

Enjoy, please!

RnR!


Chapter #14

WILL WE MEET AGAIN?


Semalaman, Toushiro dan Rukia tidak bisa tidur. Malam itu adalah malam terakhir Toushiro berada di kost ini, sekaligus malam terakhir Toushiro di Karakura. Rukia dan Toushiro sama-sama duduk bersandar di dinding pembatas kamar mereka, merenung di kamar masing-masing.

Dan pagi ini, Toushiro sudah siap untuk berangkat ke stasiun. Sedangkan Rukia masih ada di kamarnya. Dia bercermin dan mendapati wajah muramnya. Rukia menghela napas, lalu mencoba untuk tersenyum. Rukia tidak boleh terlihat sedih di hadapan Toushiro. Rukia harus terlihat kuat.

Rukia kemudian keluar kamar dan mendapati Toushiro sedang berjongkok memakai sepatu. Seketika itu juga, Rukia ingin menangis, tetapi berusaha ditahannya.

Toushiro menoleh, dan dalam sekali melihat Rukia, dia bisa menyimpulkan bahwa gadis yang kini dicintainya itu juga tidak bisa tidur, sama seperti dirinya. Rukia nyengir melihat Toushiro.

"Keretanya pukul 8, ya?" tanya Rukia. Toushiro mengangguk. Dia sudah selesai mengikat sepatunya, lalu berdiri.

"Masih ada waktu," ujar Toushiro setelah melirik jam tangannya. "Ke atas, yuk?"

Rukia mengangguk, mengikuti Toushiro naik ke lantai tiga. Rukia sangat sedih melihat punggung Toushiro. Seolah Toushiro akan pergi dan tidak akan kembali lagi. Seolah dirinya tak akan bisa lagi memeluk tubuh pria itu, menatap lekat-lekat mata emerald-nya, serta menikmati senyuman yang tersungging di wajah rupawannya. Dia juga pasti akan sangat merindukan suara Toushiro. Benarkah semua akan berakhir hanya sampai di sini saja? Apakah dia tidak akan bisa bertemu dengan pria yang dicintainya itu lagi?

Rukia segera menggeleng kuat-kuat, berusaha menyingkirkan kemungkinan-kemungkinan yang baru saja dipikirkannya. Dan berusaha untuk berpikir positif. Semua akan baik-baik saja... Ya, setidaknya semua masih baik-baik saja...

"Rukia," kata Toushiro sambil berbalik. Wajah tampan Toushiro tampak serius, dan Rukia tahu akan ada pembicaraan yang tidak menyenangkan. "Lo tau, kan, gue bakal balik lagi," lanjutnya seolah bisa membaca pikiran-pikiran paranoid Rukia.

Rukia mengangguk pelan. Toushiro menghela napas, lalu bersandar pada pagar pembatas.

"Semalem gue berpikir... ternyata gue yang sekarang ini terlalu menyedihkan," kata Toushiro. "Nggak ada satu pun dari diri gue yang bisa dibanggain. Gue sama sekali nggak berguna."

"Itu nggak bener," sanggah Rukia. Toushiro menggeleng.

"Gue emang nggak berguna, Rukia—setidaknya untuk saat ini. Dan, gue yang sekarang ini nggak bakal punya kepercayaan diri untuk ada di samping lo," kata Toushiro lagi. Toushiro lalu menatap Rukia dalam-dalam. "Rukia, gue bakal meraih cita-cita gue."

Rukia mengerjap-ngerjapkan matanya tak percaya.

"Kalo gue udah jadi sutradara, dan lo udah jadi penulis best-seller, ayo kita ketemu lagi," kata Toushiro lagi, dan pada detik berikutnya, setitik air mata jatuh ke pipi Rukia. Rukia cepat-cepat menghapus air mata itu, lalu tersenyum manis.

"Kalo gitu, janji, ya? Kalo kita udah sama-sama meraih cita-cita kita, kita ketemu lagi," ujar Rukia sambil mengacungkan jari kelingkingnya. Toushiro menyambut jari mungil Rukia itu dengan mengaitkan jari kelingkingnya pada jari Rukia. Toushiro tersenyum simpul, kemudian meregangkan tubuhnya.

"Uwaah... Gue pasti kangen banget sama tempat ini," kata Toushiro lalu cepat-cepat nyengir pada Rukia yang cemberut.

Tiba-tiba, Toushiro melihat sebuah taksi berhenti tepat di depan kost-nya.

"Ah, taksi pesanan Yoruichi-ba-san," kata Rukia. "Katanya dia yang bayarin buat nganterin kamu ke stasiun."

"Hah? Kenapa pake pesen taksi segala, sih?" tanya Toushiro bingung.

"Tanya Oba-san, dong," kata Rukia. "Ng... aku antar ke stasiun, ya?"

Toushiro menatap Rukia, lalu mengacak rambut hitamnya.

"Nggak usah. Gue nggak mau liat tampang jelek lo pas nangis," kata Toushiro membuat Rukia cemberut.

"Siapa juga yang bakal nangis?" balasnya membuat Toushiro tertawa. Rukia terdiam beberapa saat sambil memain-mainkan jarinya. "Toushiro... Ntar jangan lupain aku, ya."

"Jangan bego lo," kata Toushiro sambil menjentik kening Rukia. Yang benar saja! Mana mungkin dia bisa melupakan gadis yang sekarang berada di urutan paling atas dalam daftar orang-orang paling penting dalam hidupnya?

Toushiro melepas headphone besar yang sejak tadi melingkar di lehernya, dan kemudian memakaikannya pada Rukia. Dia juga menyerahkan iPod-nya pada Rukia yang terlihat bingung. "Nih, pegang. Ntar gue ambil lagi waktu gue balik ke sini, jadi jangan dirusakin."

Rukia menatap bingung iPod di tangannya.

"Bener nggak apa-apa, Toushiro? Bukannya ini penting?" tanya Rukia.

"Iya ini emang penting, ini suara hati gue," kata Toushiro sambil nyengir. "Makanya gue pinjemin. Ntar harus di dengerin."

Rukia mengangguk. Tak berapa lama, Yoruichi—sang ibu kost—memanggil dari bawah. Toushiro dan Rukia segera bergerak turun. Ternyata di bawah, semua penghuni kost yang lain serta keluarga sang empunya kost sudah menunggu. Toushiro menatap Yoruichi beserta Urahara dan Yachiru—suami dan anak Yoruichi, juga Renji dan Ishida yang sudah nyengir padanya.

"Kami denger kalo hari ini lo mau pindah," kata Renji. "Kok cepet banget, sih, Toushiro? Gue belum sempet ngajak lo muter-muter Karakura, lho."

"Lain kali aja kalo gue ke sini lagi, Abarai," kata Toushiro.

"Kamu bakal ke sini lagi, Hitsugaya-san?" tanya Ishida. Toushiro mengangguk.

"Lain kali kalau ke sini lagi, kau harus makan bersama kami, karena kalau tidak, kau tidak boleh masuk," kata Urahara membuat Toushiro tersenyum.

"Terima kasih, Urahara-san," kata Toushiro.

"Wah, baru kali ini, lho, kita lihat Hitsugaya-san senyum," kata Yoruichi yang langsung dibenarkan oleh semua yang ada di sana. Toushiro melirik Rukia yang sudah nyengir.

"Ya sudah, itu taksinya udah nunggu. Rukia ikut nganter nggak?" tanya Yoruichi.

"Nggak, Oba-san, Toushiro nggak mau," kata Rukia sementara Toushiro tersenyum kaku pada Yoruichi yang terlihat bingung.

"Yoruichi-san, terima kasih untuk taksinya, seharusnya Anda tidak perlu repot-repot," kata Toushiro.

"Ah, nggak apa-apa, Hitsugaya-san. Lagi pula uang kost kamu, kan, masih sisa banyak," canda Yoruichi membuat semuanya tertawa. Toushiro lalu memasukkan tasnya ke dalam taksi.

"Semuanya, terima kasih karena sudah menerima saya dengan sangat baik," ujar Toushiro sambil membungkuk hormat, mulai berpamitan, lalu melirik Rukia. "Saya pasti akan ke sini lagi."

Semua orang yang ada di sana pun mengangguk sambil tersenyum. Toushiro masuk ke dalam taksi dan membuka jendelanya. Toushiro menatap Rukia yang sudah tidak tersenyum. Sesungguhnya, berat rasanya bagi Toushiro untuk meninggalkan Rukia.

"Eh, awas lho, ya, jangan sampe bukunya nggak terbit-terbit," kata Toushiro membuat Rukia cemberut.

"Kamu juga, jangan sampai filmnya nggak jadi-jadi," balas Rukia tak mau kalah, membuat Toushiro terkekeh. Toushiro lalu terdiam sebentar.

"Jaga diri lo, ya, Rukia," kata Toushiro kemudian sambil tersenyum lembut. Suaranya kali ini sungguh berbeda dari suara Toushiro biasanya, suaranya kali ini terdengar sangat lembut dan sarat akan kasih sayang. Pancaran matanya yang sedikit sendu juga seolah menggambarkan kerinduan yang dalam.

"Kamu juga. Jaga kesehatan, ya. Minum obat yang teratur," ujar Rukia. Toushiro mengangguk.

Toushiro menatap mata violet Rukia sebentar, lalu menghela napas. Dia pasti akan sangat merindukan mata indah itu. Dan sekarang, sudah saatnya bagi Toushiro untuk pergi. Toushiro menatap ke sopir taksi, memberinya sinyal untuk berangkat.

"Dadaaah~!" seru Yachiru, membuat semua orang serentak melambai pada Toushiro—seolah-olah dikomando. Toushiro balas melambai singkat, lalu menatap Rukia yang tersenyum padanya.

Taksi sudah bergerak perlahan, tetapi Toushiro belum juga menutup jendelanya. Rukia menatap taksi yang mulai bergerak menjauh, lalu—tanpa disadarinya—Rukia sudah berlari mengejar taksi itu. Toushiro yang melihatnya melalui kaca spion, langsung melongok dari jendela.

"Toushiro!" seru Rukia sambil terus berlari. "Kita pasti ketemu lagi, kan?"

"Pasti!" sahut Toushiro, dan Rukia berhenti berlari. Rukia melambai-lambaikan tangannya sambil tersenyum, sementara taksi yang ditumpangi Toushiro berbelok.

Toushiro menghempaskan tubuhnya ke jok. Toushiro tidak tahu apa yang sudah diperbuatnya ini benar atau tidak, tetapi Toushiro percaya, Rukia pasti akan bisa bertahan.

"Pacar, ya, Tuan?" tanya supir taksi menyadarkan Toushiro dari lamunannya. Toushiro menatapnya bingung sesaat, lalu mengangguk.

Supir taksi itu mengangguk-angguk paham.

"Pacaran jarak jauh, ya, Tuan?" tanyanya lagi, dan Toushiro hanya menjawabnya dengan anggukan lagi. "Tenang saja, Tuan. Sekarang, kan, pulsa telepon banyak yang murah. Jadi telepon-teleponan saja."

Toushiro hanya tersenyum simpul tanpa menjawab. Toushiro tidak akan menelepon Rukia, karena kalau dia melakukan itu, Toushiro akan melupakan semuanya dan kembali pada Rukia. Oleh karena itu, Toushiro akan menahan diri sampai dia benar-benar mencapai cita-citanya. Dengan begini, dia akan lebih bersemangat dan lebih cepat untuk bertemu Rukia.

Toushiro berharap Rukia akan melakukan hal yang sama dengannya. Namun, yang lebih Toushiro inginkan adalah, Rukia dapat mendengarkan iPod-nya.


Kereta jurusan Karakura-Seireitei berjalan tenang di antara persawahan. Dan di dalam kereta itu terdapat Toushiro yang tengah duduk sambil melihat ke luar jendela dengan pandangan menerawang. Saat itu, dia tengah memikirkan suatu hal yang ia rasa telah dilupakannya. Sesuatu yang seharusnya dilakukannya sebelum kembali ke Seireitei.

Tiba-tiba, ponsel yang ada di sakunya bergetar. Sebuah nama yang tertera di layar ponselnya langsung membuat dirinya teringat akan satu hal penting yang baru saja berusaha diingatnya. Kurosaki Ichigo. Ya, setelah kejadian yang menimpa Toushiro dan Kusaka kemarin, Toushiro jadi lupa memberi tahu tentang kepulangannya ke Seireitei pada Ichigo.

"Ya, Kurosaki?" jawab Toushiro pada dering ketiga tanpa mengucap salam.

"Oi, lo ke mana aja, Toushiro? Udah lama nggak ada kabar," tanya Ichigo di seberang.

"Gue balik ke Seireitei hari ini, Kurosaki," ujar Toushiro to the point.

"Apa? Lo balik hari ini? Kenapa nggak ngomong-ngomong sama gue dulu, sih?" tanya Ichigo dengan nada sedikit kesal.

"Sori, gue lupa," jawab Toushiro kalem.

"Astaga... bisa-bisanya, ya, lo...," gumam Ichigo. "Oh ya, kalo lo balik sekarang, terus Kusaka..."

"Gue udah ketemu sama dia kemarin," ujar Toushiro singkat.

"Terus... lo nggak...," kata Ichigo, dari nada bicaranya bisa dirasakan ada sedikit kekhawatiran di dalam suaranya.

"Dia juga kena penyakit yang sama, Kurosaki," kata Toushiro membuat Ichigo yang ada di seberang telepon terkesiap kaget. "Lo pikir, apa yang bisa gue perbuat pada orang yang juga sama terpuruknya dengan gue—yang bahkan baru tau hal itu waktu gue bilang kalo gue sakit?" Toushiro balas bertanya sambil mendengus getir.

"Jadi... dia baru tau kalo dia sakit waktu lo kasih tau tentang penyakit lo ke dia kemaren?" tanya Ichigo tak percaya.

Toushiro hanya diam saja, tak berusaha untuk menjawab pertanyaan sahabatnya itu.

"Terus, lo sekarang di mana?" tanya Ichigo lagi, sepertinya sedang berusaha mengalihkan topik pembicaraan setelah mengerti kalau teman semasa SMA yang sedang diteleponnya itu tidak ingin membahas tentang Kusaka lebih jauh lagi .

"Gue udah ada di kereta. Baru aja jalan lima belas menit yang lalu," jawab Toushiro.

"Oh..." Ichigo mengangguk paham di seberang. "Terus... cewek itu gimana?"

Toushiro terdiam sejenak. "Rukia... Dia tetep di Karakura," jawab Toushiro setelah mengerti siapa yang dimaksud Ichigo tadi. "Emang kenapa? Lo berharap, dia gue bawa ke Seireitei?"

"Yah, siapa tau, kan?" jawab Ichigo cuek. "Oh iya, gue juga bakal pindah ke Seireitei dalam waktu dekat ini, Toushiro."

"Hah? Ngapain?" tanya Toushiro bingung. "Terus, kuliah lo gimana?"

"Gue udah dapet kerjaan bagus di sana," jawab Ichigo santai. "Ah, gue, kan udah sampai semester akhir, dan gue juga udah ngerjain skripsi sampai tahap terakhir, udah hampir beres. Begitu urusan skripsi beres dan gue lulus kuliah, gue langsung pindah ke Seireitei."

"Oh, gitu," respon Toushiro pendek.

"Ng, ya udah, deh, Toushiro. Jaga diri lo, ya! Sampai ketemu di Seireitei."

"Ya," ujar Toushiro sambil memutus sambungan telepon.

Lalu, Toushiro pun membuang pandangannya ke luar jendela, pemandangan sawah yang menghijau masih membentang. Nampaknya, kereta masih melintasi persawahan. Pemandangan di luar jendela bergerak cepat seiring dengan laju kereta. Semua itu seolah membuat semua memori terputar kembali di otaknya.

Toushiro jadi teringat saat-saat dia pergi meninggalkan rumahnya di Seireitei dan segera naik kereta menuju kota Karakura hanya karena Ichigo meneleponnya dan mengatakan kalau dia melihat Kusaka berkeliaran di sekitar Universitas Karakura, saat itu hanya ada satu hal dipikirannya, yaitu menemukan sumber dari segala permasalahan yang dialaminya.

Lalu saat di mana dia pertama kali bertemu dengan Rukia, kejadian-kejadian yang pernah dialaminya bersama gadis manis itu, pertemuannya kembali dengan teman-teman masa SMA-nya—Ichigo dan Momo, saat akhirnya dia bisa memercayai Rukia, hingga kejadian kemarin, saat dia hampir saja membunuh Kusaka, tetapi malah menemukan kenyataan yang jauh lebih pahit.

Toushiro benar-benar tidak mengerti, kenapa Tuhan membuat benang takdirnya begitu rumit, saling membelit satu sama lain. Kenapa penderitaannya terasa begitu panjang dan seolah tiada habisnya. Lalu tanpa sadar, Toushiro mendengus dan tersenyum getir. Penderitaannya yang panjang seolah sangat kontras dengan waktu hidupnya di dunia yang kian pendek.

Entah kesalahan apa yang telah diperbuatnya sampai-sampai Tuhan menghukumnya dengan cobaan yang terus-menerus mengalir di sisa-sisa umurnya yang singkat.

Tapi, kini semuanya telah usai. Sekarang, sudah saatnya Toushiro untuk melanjutkan hidupnya, kembali berusaha menggapai cita-citanya, dan menganggap semua pahit hidup yang pernah ia rasakan sebagai sebuah pelajaran berharga. Toushiro tak ingin lagi menyia-nyiakan detik-detik terakhir hidupnya. Dia ingin berjuang di lima tahun sisa hidupnya. Seperti yang sudah dijanjikannya pada gadis yang ia cintai.



Namun, sayang sekali, Shiro.

Sepertinya, Tuhan justru sangat menyayangimu, jauh dari yang pernah kau bayangkan.

Sampai-sampai, Ia sangat merindukanmu dan ingin kau segera kembali ke sisi-Nya.

Oleh karena itu—seperti yang sudah kau ketahui—waktumu tinggal sebentar lagi.

Dan mulai sekarang...

Baiklah, sudah saatnya countdown, Shiro...

..5..

Tik.

..4..

Tik.

..3..

Tik.

..2..

Tik.

..1..

...


Continued on the chapter 14


Hhoho~*ketawa gaje* Sungguh ending yang aneh =_=" Maaf kalo beberapa di antara author-tachi dan reader-tachi yang merasa kalo chapter ini gaje~*bungkuk-bungkuk* TT_TT Mulai bagian Shiro naik kereta sampai akhir chapter itu asli buah pikiran abal saiia (apalagi yang bagian paling akhir itu, ya ampu~n, ngawur total =_=")... Soalnya, cerita aslinya, chapter ini pendek banget... Bagi yang udah baca novel aslinya pasti ngerasa aneh... TT_TT*jedukin kepala ke tembok*ampun deh~*

.

Okke~! Sekarang saatnya untuk balas review... ^^

.

~* Rizu Auxe09 yang lagi males log in*~

Hhehe~ iya, Nee~! ^^ Ini udah update~ Makasih udah review, Rizu-nee~!

.

~* Azalea Yukiko *~

Ah, maaf soal typo chapter kemaren, ya~! ^^ Maklum, saiia nggak sempat ngedit =_=" Sankyu buat review-nya~ ^^

.

~* Quinsi Vinsis *~

Iya, dan gara-gara kemarin saiia update-nya hari Rabu, sekarang jadi ada perubahan hari update =_=" Sekarang update-nya tiap hari Rabu, Nee. ^^ Kok bisa kambuh, sih, Nee? Padahal saiia rasa, waktu adegan itu sama sekali nggak ada unsur sho-ai-nya, lho~! Hhehe~ Wow~ Quinsi-nee emang hebat~! Rahasianya apa, Nee, kok bisa sukses?*coba cari ilmu dari yang berpengalaman*dijitak* Eh? Lagu anak TK? Saiia malah baru denger kalau ada lagu yang kayak begitu~ =_=" Thanks review-nya, Nee~! ^^

.

~* Namie Amalia *~

Hhaha~ Udah dapet novelnya, ya? Katanya kemaren waktu nyari nggak ketemu? ^^ Ya, di sini nggak ada—dan nggak akan ada—adegan berdarah~! Hhehe~ Dan, makasih udah review, Namie-san~! ^^

.

~* ZeiraIncOol *~

Iya, biar dia juga merasakan sakitnya Toushiro... ^^ Ini udah update~! Sankyu buat review-nya, Zeira-san~!

.

~* Intan SasuSaku *~

Setelah baca chapter ini malah semakin keliatan kalau sad ending, kan? Hhehe~ ^^ Maaf, ya, saiia udah pikirkan gimana nanti ceritanya kalo happy ending dan sad ending... Dan kalau happy ending, saiia yakin, pasti nanti ada yang ngerasa kalau akhir ceritanya ngegantung... Gomen ne, Intan~! ^^ Tapi, fanfic ini nggak akan berakhir IchiRuki, kok~ Makasih udah review, Intan~! ^^

.

~* Zheone Quin *~

Hhaha~ Kita liat chapter depan aja, ya~ ^^ Yakk, betul banget, tuh~! Say no to drugs~!*teriak pake toa*ala orang mau demo ke Senayan* Iya, ini udah update~! ^^ Makasih review-nya~!

.

~* runavi *~

Ending-nya? Diliat di chapter depan aja, ya~ ^^ Sankyu udah review~ ^^

.

~* sava kaladze *~

Di ini, kita emang bisa aja merubah ending dari cerita aslinya, tapi saiia ngerti kenapa author novel itu lebih memilih sad ending daripada happy ending... Karena, ya~ itu dia—seperti yang sudah jelaskan di atas... Maaf, ya, Sava~ Tapi, makasih udah mau review, Sava~! ^^

.

~* Jee-ya Zettyra *~

Hhehe~ Mari kita liat di chapter mendatang~! ^^ Iya, ini udah lanjut~ Makasih buat review-nya ~! ^^

.

~* aya-na rifa'i *~

Hhaha~ iya~ ini juga udah saiia update sambil duduk manis di pangkuan Akang Hyourinmaru(?)... ^^ Thanks udah review, Ay-san~!

.

~* eSSha Kuroki *~

Ini udah update, eSSha~ ^^ Sankyu, ya, udah review~!

.

~* aRaRaNcHa *~

Dilihat di chapter depan aja, ya~! ^^Okke~ Ini udah update~ Makasih udah review~! ^^

.

~* Bed wetter-livi *~

Iyya, chapter kemaren emang banyak typo-nya...*pundung* Sankyu buat review-nya~! ^^

.

~* Ninomiya Icha yang nggak log in *~

Ini udah update~! Makasihudah review, Icha~! ^^

.

~* Yuuki Kosuke *~

Karena gejala-gejala dia kena penyakit HIV belum muncul... Terima kasih review-nya~! ^^

.

~* Mii Saginomiya yang lagi gak log in *~

Iya, Hitsu udah pulang ke Seireitei... Sankyu udah review, Mii-chan~! ^^

.

~* Yumemiru Reirin *~

Iya~ Makasih buat review-nya~! ^^

.

~* Ririn Cross *~

Iya~ ^^ sama-sama~! Sankyu buat review-nya, Ririn~! ^^

.

~* HitsuNina-9124024 *~

Kalau untuk chapter ini, kamu nggak perlu bawa tisu... ^^ karena chapter ini emang kurang greget~(saiia akui itu ^^) Ah, saiia juga mau aja, gantiin~ hhoho... Trims review-nya.. ^^

.

~* Erika Kaoru *~

So sorry~! But, I don't want to change the real ending of this story~ ^^ But, thanks for your review, Erika-san~ ^^

.

~* Deathberry Kuchiki *~

Ini udah update~ Sankyu udah review, Ruru-san~ ^^

.

Sekian balasan review-nya~! ^^ Nah, sekarang saatnya kita kembali berpisah... Sampai ketemu di final chapter a.k.a chapter 15, ya, minna~! ^^

Jaa nee~

Review, please~~