WARN: TERDAPAT SCENE NC DI CHAPTER INI! SEBAIKNYA BACA KETIKA SUDAH BERBUKA ATAU SAAT SAHUR DAN LEBIH BAIK LAGI KETIKA SEHABIS LEBARAN.


Semua orang yang berada dalam ruangan itu membungkuk hormat ketika pimpinan perusahaan mereka tiba ditempat, pria berumur yang memiliki jabatan paling tinggi itu duduk dengan nyaman di kursi kebesarannya kemudian diikuti oleh seluruh jajaran staff yang bekerja di perusahaan tersebut.

"Selamat pagi semua, bisa segera kita mulai meeting nya?" ujar pria itu tanpa basa-basi dan seluruh bawahannya yang berada disana langsung mempersiapkan berkas-berkas mereka untuk diulas ketika rapat berlangsung

"Seperti yang kalian ketahui. Sederet boyband bentukan kita, telah memberikan keuntungan pada perusahaan sebesar 34 Milyar Won dari hasil penjualan album dan lain-lainnya, ini membuktikan bahwa perusahaan kita cukup bergengsi di dunia industri musik Korea"

Pria itu berdehem sebentar, kemudian melanjutkan "Sebuah sumber mengatakan bahwa salah satu Boyband kita, Super Junior merupakan pencetus dari Hallyu wave yang sekarang menjalar ke berbagai penjuru dunia, ini jelas memberikan peluang yang lebih besar untuk kemajuan perusahaan kita"

Para staff beserta jajarannya sibuk mengetik di laptop masing-masing ataupun menyimak slide yang ditampilkan, dengan khidmat mereka mendengarkan setiap kata yang keluar dari pimpinannya tersebut.

"Aku sudah memutuskan untuk segera mendebutkan calon Girlband kita, yang aku yakini dapat mengikuti jejak keberhasilan Super Junior, dan selagi kita meraup keuntungan dari grup rookie ini, aku ingin sebagian dari kalian yang telah ditunjuk, menyaring bakat-bakat diluar sana untuk kita jadikan 'penghasil keuntungan' kita selanjutnya"

Pria itu menyerigai, ia merebahkan punggungnya di kursi empuk tersebut sambil telunjuknya mengisyaratkan seseorang untuk maju kearahnya "Kim Yewon, bagaimana hasil pengamatanmu selama ini? Kau sudah menemukan calon yang aku inginkan?"

"Tentu, Sajangnim" wanita muda itu menyahut, "Sajangnim meminta calon berparas visual dan memiliki bakat yang mumpuni, saya sudah menemukannya"

"Tidak!" pria itu menyahut yang seketika membuat seisi ruangan berjengit, "Kita bisa menemukan calon yang berbakat dimana saja, tapi tidak dengan yang memliki paras visual. Mereka benar-benar langka"

"Maaf Sajangnim, tapi bukankah kita bisa memerintahkan mereka untuk operasi plastik" salah satu dari staff nya memberikan pendapat dan pria itu menggeleng keras

"Setelah mereka debut, banyak fans yang akan mencari tahu wajah predebut idolanya. Aku tidak ingin mengulangi kesalahanku dengan membuat kebijakan harus melakukan permak wajah dahulu sebelum debut, calon yang kita cari ini harus benar-benar alami" pria itu kemudian menghela napas

"Lagipula, aku juga tidak akan membuat Boyband baru kita ini hanya berisi visual. Hanya dia yang bersuara emas yang dapat masuk di dalamnya"

Yewon meneguk ludah, dalam hati ia merutuki sikap semaunya yang dimiliki si atasan. Jika begini apakah usahanya selama ini akan sia-sia untuk mencari si calon bakat. Lagipula dijaman ini wajah bisa diperbaiki dengan polesan make up, dan rata-rata usia member grup rookie mulai dari 17 tahun keatas, seharusnya masih mempertahakan kepolosan wajah mereka, dan ketika usia 20 tahunan maka agensi akan mendesak mereka untuk berparas mature.

"Jadi, Nona Kim Yewon. Kau bisa memenuhi permintaanku?" tanya si tua itu kemudian

"Ya, Sajangnim. Saya akan mengusahakannya" Yewon membungkuk sopan, walau dalam hati ia merasa sangat jengkel

Dan ia tidak tahu jika di kesempatan berikutnya, dia menemukan calon bakat visual yang diinginkan Bos nya, Oh Sehun. Salah satu harapan Kim Yewon agar anak itu debut dibawah naungan agensinya bekerja.

.

.

.

Damn I'm Manly Oh Sehun!

Chapter 13

We meet again

By: HunHan SeRaXi

.

.

Selalu saja begitu, Sehun suka sekali meraup bibirnya secara mendadak. Membuat Luhan blank dan terlambat untuk merespon permainan lidah kekasihnya. Ia refleks memejamkan mata, menikmati sensasi lidah Sehun menggelitik bagian dalam mulutnya, mengabsen setiap sudut giginya hingga mengajak Luhan beradu lidah ataupun saling membelit satu sama lain. Sehun dapat merasakannya, kulit pipi Luhan begitu halus hingga ia ketagihan untuk selalu menempelkan hidungnya disana. Sedangkan Luhan sibuk mencengkram kuat belakang tengkuknya hingga pada akhirnya kepalan tangan si mungil memaksa dirinya untuk melepas penyatuan bibir.

Luhan mengatur napas pasca ciuman tadi, Sehun terkekeh melihat kepolosan wajah Luhan yang begitu lucu saat tengah ngos-ngosan. Ia belai surai lebut kekasihnya sedangkan tangan yang lain ia gunakan untuk mengusap bekas lelehan saliva mereka yang tertinggal didagu Luhan. Sambil menunggu napas Luhan kembali normal, Sehun melepaskan jaket yang ia kenakan dan memakaikannya ke tubuh Luhan. Saat itulah tubuh Luhan terlihat tenggelam dalam jaket ukuran XXL milik Sehun.

"Sudah baikan?, ayo kembali ke asrama karena udara semakin dingin"

Tangannya langsung digenggam oleh Sehun, Luhan menaatapnya dalam dan ia tersenyum. Ia ikuti langkah lelaki itu menuju kamar asramanya. Teman-temannya saat ini mungkin sudah mabuk atau bahkan menggagahi pasangan masing-masing dikamar asrama Chanyeol. Dan Luhan memilih untuk tidur dikamar kekasihnya malam ini.

"Sehun, apa kau tidak merasa dingin?" Luhan berujar ditengah langkah mereka

"Tidak, jika kau menghangatkan tubuhku setelah ini"

Kontan pipi Luhan memerah, kekasihnya ini begitu mesum walaupun ia menyukainya. Satu cubitan pada perut Sehun ia daratkan sambil memanyunkan bibir "Kau mesum, aku membencimu!"

"Aku juga mencintaimu" dan Sehun langsung mendaratkan satu kecupannya di pipi Luhan, dengan tangan yang merengkuh pinggang kecilnya. mereka saling beratatapan kemudian tertawa bersama.

Brakk...

Sehun langsung mengukung Luhan setelah pintu asrama terkunci, ia persempit jarak diantara mereka hingga napas masing-masing begitu terasa. Degupan jantung Luhan tidak dapat ia kendalikan, Sehun begitu gagah dan tampan dijarak sedekat ini, begitupula Sehun yang memancarkan tatapan napsu disaat kontak mata mereka. Kedua tangan Sehun memeluk Luhan dengan sempurna, semakin ia dekatkan wajahnya hingga bibir keduanya kembali menyatu, mengecap bibir atas dan bawah bergantian secara lembut, singkat, kemudian Sehun yang melepaskannya.

"Mau bermain malam ini?"

Luhan membuang muka, nampak begitu jelas semburat merah disekujur tulang pipinya. Si cantik tersenyum malu-malu kemudian mengangguk.

"Owhh..."

Luhan memekik kaget ketika Sehun tiba-tiba menggendong tubuhnya ala bridal style. Kontan ia kalungkan kedua tangannya dileher Sehun agar tidak jatuh. Kekasih tampannya itu membawa tubuhnya menuju kearah kasur kemudian merebahkannya dengan diikuti tindihan tubuh gagah Sehun diatasnya.

Sehun menelusuri lekuk wajah ayu Luhan, ia kecupi gemas seluruh komponennya mulai dari dagu, kedua mata, pelipis, pipi kanan dan kiri Luhan, dagu, dan yang terakhir bibir ceri menggoda Luhan. Sehun menggumam serak yang terdengar seksi bagi Luhan "Hanya sebut namaku ketika percintaan kita, sayang"

"Agghh..."

Lagi-lagi Sehun menggoda ujung hidung Luhan dengan menjilatnya, melompati bibirnya kemudian mengigiti gemas dagu si cantik. Lalu ia sesapi tulang selangka Luhan yang tercetak jelas sambil sesekali hidungnya menghisap aroma lembut di ceruk lehernya. Satu tangan Sehun merayap dibalik kaos yang dikenakan Luhan, menyentuh ujung kecoklatan yang selalu sensitif ketika ia rangsang, dan benar saja, Luhan membusungkan dadanya hingga garis S Line tersebut nampak begitu jelas.

"Sehunhh..." Luhan hanya mampu mendesahkan nama Sehun agar si kekasih semakin bersemangat mengerjai tubuhnya. Suaranya parau dengan pandangan sayu, Luhan begitu cantik dimata Sehun.

Sehun beralih membuat tanda cinta disekitar area telinga Luhan, menjilat-jilat sampai akhirnya menggigit kasar hingga tanda kemerahan samar terbentuk disana. Ia merasakan rambutnya tertarik kuat oleh jemari Luhan, namun Sehun tidak memperdulikannya. Ia tiup telinga kanan Luhan hingga si pemilik merasa geli.

"Luhan, ingat baik-baik. Meskipun kita berpisah hatiku akan selalu untukmu" bisiknya lirih

Luhan kontan membuka matanya, ia bawa pandangannya tepat bersinggungan dengan tatapan elang Sehun. Setelah mengucapkan kata itu, seperti ada sebilah pisau yang menohok tepat di ulu hatinya. Luhan kemudian merespon pernyataan Sehun "Apa maksudmu? Kenapa berkata seperti itu?"

Ibu jari Sehun mengusap pipi Luhan, ia mengakhiri kontak mata mereka dan memandang kearah lain "Kau tahu jika aku begitu kalut saat ini, aku ingin terus bersamamu tapi tidak akan lama lagi aku akan—"

"Hentikan! Kenapa kau membahas ini ditengah percintaan kita?!" Luhan membentak marah, namun dalam hatinya ia juga mengkhawatirkan hal yang sama.

"Maafkan aku—"

"Tolong jangan bahas itu, kau juga tahu kalau aku juga mencintaimu" Luhan menitikkan air matanya, ia berpikir apakah Sehun sengaja mengajaknya bercinta karena setelah ini mereka akan berpisah. Hatinya terus mengutuk Sehun, kenapa kekasihnya ini berlaku begini padanya.

"Maaf, aku tahu apa yang kita rasakan sekarang. Meskipun kau mengatakan tidak apa-apa tapi aku tetap tidak tega meninggalkanmu sendiri disini, terlalu berbahaya. Dan juga aku..."

Sehun tidak mampu melanjutkannya, dalam hatinya terus berkecamuk. Ia kemudian menghela napas "Lu, aku berjanji akan membuatmu lolos dalam audisi bulan depan"

Luhan mengernyit, ia menatap Sehun penuh tanya "Bagaimana bisa?"

"Hanya relakan aku pergi dan semuanya akan selesai"

Mereka terdiam sejenak, sampai kemudian Luhan menyuarakan ketidakpahamannya "Aku tidak mengerti apa yang kau katakan"

"Jangan dipikirkan sekarang, sayang. Tapi ingat aku memiliki janji padamu"

Tanpa mengindahkan protes Luhan, Sehun langsung menyambar perpotongan lehernya lagi. Menyesap-nyesap dengan kuat hingga Luhan mendesah parau dibawahnya. Ia selipkan satu tangannya kebawah punggung Luhan mengisyaratkan kekasihnya untuk bangun dan Luhan melakukannya. Ia lucuti seluruh kain yang melekati Luhan, begitu juga dengan Sehun yang dibantu tangan-tangan mungil Luhan hingga keduanya sama-sama polos tak berbusana.

Sehun mencecap bulatan kecoklatan di dada Luhan, si cantik refleks membusungkan dadanya memberikan akses lebih pada Sehun agar semakin menyesap putingnya, punggung sampai Luhan membentuk lengkungan khas, dan perlahan tangan Sehun merambat turun meremas kuat bongkahan pantat kenyal Luhan.

"Ngghh...Akhh... akhh..."

Luhan frustasi, ia balas perbuatan Sehun pada tubuhnya dengan memijat pelan gundukan diantara selangkangan kekasihnya yang sedikit mengeras, tangan-tangan nakalnya terus memberikan rangsangan hingga Sehun mengumpati Luhan, si cantik mengembangkan senyum kemenangan. Ia merunduk mengecupi kepala penis Sehun, dengan telaten ia mengurut batang panjang tersebut, semakin lama semakin cepat hingga akhirnya ia masukkan batang tersebut kedalam mulutnya.

"Mmhh... Terus ahh..."

Diatas sana, Sehun pening bukan main. Ia melihat kepala Luhan yang naik turun dibawahnya, sangat menggemaskan sekaligus intim, apalagi decakan-decakan yang sengaja Luhan keraskan untuk membakar libidonya. Ia tidak kuat lagi, lantas menarik paksa kepala Luhan agar melepaskan kulumannya. Ia rebahkan lagi tubuh Luhan, sambil memerintah "Kulum jariku, sayang"

Luhan menurut, ia kulum jari-jari Sehun sampai ia tersentak ketika merasakan sesuatu lunak dan basah mengitari sekitar lubang anusnya. Ia jadi tidak fokus, penetrasi yang Sehun lakukan di anusnya membuat Luhan kalang kabut, bagaimana analnya digelitik hingga lidah laknat tersebut berusaha menerobos lubang sempit miliknya.

"Sehun... Hentikan.."

Sehun menarik jarinya dari mulut Luhan, ia raih sebuah bantal dan memposisikan dibawah panggul agar ia mudah ketika menggenjotnya nanti. Sedangkan Luhan sudah pasrah ketika kaki-kakinya dibawa melingkari pinggang Sehun, ia kembali mendelik nikmat tatkala jari-jari yang ia kulum tadi mulai masuk dalam analnya, begitu mudah karena licin oleh salivanya. Menerobos semakin dalam hingga menemukan titik nikmatnya, Sehun gencar-gencarnya menusuk titik tersebut hingga ia bosan dan menggantinya dengan sesuatu yang lebih besar.

"Agghhhh...!"

Spontan Luhan mencakar lengan Sehun, rasanya begitu sakit walaupun ia sudah pernah melakukannya, setitik air matanya muncul di permukaan, namun ia tetap membiarkan Sehun melanjutkan pekerjaannya. Hingga dirasa napas Luhan mulai teratur, Sehun menggerakkan pinggulnya maju mundur dan menikmati wajah Luhan yang pasrah dibawah kungkungannya.

"Akh... Akhh.. Akh..."

Semakin lama rasa sakit tersebut tergantikan dengan sebuah erangan kenikmatan, Luhan memberanikan diri membuka matanya dan menatap mata lawannya intens, mereka tersenyum ditengah kegiatan panas ini, sampai Sehun kembali menyatukan bibirnya. Dibawahnya, genjotan Sehun juga semakin cepat, Luhan dibuat sampai kewalahan. Meski ekspresinya nampak menikmati, namun pikiran Luhan melayang jauh, ia terus berpikir apakah percintaan mereka akan jadi momen terakhir sebelum Sehun meninggalkannya?.

"Sehun, aku ingin ganti posisi!"

Sehun menyerigai, Luhan mulai bangkit dan duduk membelakangi Sehun. Dibelakangnya Sehun juga membantu Luhan untuk kembali menjebloskan penisnya dalam anal berkerut Luhan. Setelah penisnya tertancap sempurna, Luhan menggerakan tubuhnya sendiri keatas dan bawah. Sehun juga melakukannya dengan pinggul mereka yang bergerak berlawanan arah hingga mengakibatkan kepala penisnya menabrak prostat Luhan telak.

Mata Luhan mengabur, sensasi ini begitu membuatnya lemas. Hingga pada akhirnya Sehun yang bergerak sendiri dibelakang, dan tanpa Sehun sadari, Luhan diam-diam menangis. Ia sudah menduga bahwa ini adalah kenangan terakhir mereka sebelum keduanya berpisah tidak lama lagi. Mati-matian ia menggigit bibirnya agar tidak menyuarakan isakan yang nanti akan membuat Sehun khawatir.

Dibelakangnya, Sehun sudah terbakar oleh gairahnya sendiri. Ia kecupi punggung berkeringat Luhan atau sekedar melukis tanda cinta disana. Tangan satunya ia pergunakan untuk mengocok penis mungil Luhan yang dirasa sebentar lagi akan sampai. Ia juga menggoda puting Luhan hingga berulangkali kekasihnya itu menunduk nikmat dan mendesah parau.

"Akkh... Aku sampai eunghh..."

Selang beberapa menit pasca orgasme nya, Luhan kembali dihentak-hentak karena Sehun sedang mencari pelepasannya. Mau tak mau Luhan dibuat bergerak lagi, mengikuti tempo sang dominan yang mengoyak analnya dengan tempo semakin cepat. Prostatnya dihantam keras-keras hingga 7 tusukan terakhir Sehun mampu mengeluarkan hasratnya didalam Luhan. keduanya menetralkan deru napas masing-masing, ia jilat punggung Luhan yang nampak basah karena keringat kemudian ia balik hingga kekasihnya menghadap kearahnya.

Sehun menelusuri wajah Luhan, dan ia tertegun mendapati mata memerah kekasihnya "Kau habis menangis?"

"Tidak!" bantah Luhan tegas

Ia dekap tubuh Luhan sambil mengusap punggungnya sayang "Maafkan aku jika ada sesuatu yang membuatmu sedih"

Luhan tidak mampu berkata-kata, pada akhirnya ia hanya diam dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Sehun sampai kemudian ia terlelap menuju alam mimpi. Sehun yang menyadari napas teratur Luhan langsung membaringkannya dan membenahi selimut Luhan, ia posisikan dirinya disamping si mungil sambil menyisir suarai lembutnya, lama-kelamaan ia juga mengantuk dan sebelum menyusul Luhan ke alam mimpi, ia daratkan satu kecupan tepat di bibir Luhan.

"Kuharap rasa sedihmu berkurang ketika terbangun nanti" gumam Sehun diikuti pejaman kedua matanya

...

Hari yang Luhan takutkan tiba. Ia memandang Chanyeol beserta teman-temannya yang sibuk bersiap-siap untuk meninggalkan asrama, sebagai teman sekamar Luhan turut membantu Chanyeol untuk mengemasi barangnya semalam, dalam hati kecilnya Luhan merasa iri, Chanyeol akan menjadi seorang trainee di agensi ternama apalagi ia bersama kekasihnya, sedangkan ia harus menetap disini, menunggu bulan depan untuk gilirannya audisi walau peluangnya kecil. Luhan menghela napas, lagi-lagi ia menyesali masa lalunya, padahal ia sudah berpikir itu tidak ada gunanya tapi tetap saja—

"Luhan, kau tidak ingin mengantar Sehun? Dia sudah berada di gerbang bersama ibunya"

Luhan terhenyak dari lamunannya, ia bergegas mengikuti Chanyeol setelah lelaki jangkung itu menyadarkannya. Sampai langkahnya berhenti di gerbang, ia melihat Bibi Sooyoung yang tidak henti-hentinya tersenyum, lalu ia dekati wanita itu sambil membungkuk hormat.

"Halo Bibi, lama tidak berjumpa" sapanya ramah

"Luhan?! aku mencarimu tadi, bagaimana kabarmu?" Sooyoung menyahut antusias, ia amat merindukan Luhan

"Aku baik, bagaimana dengan Bibi? Dan juga, dimana Paman Siwon dan Minho Hyung?" Luhan balik bertanya, namun ia malah mendapati Sooyoung mendengus

"Aku sudah sehat lagi, dan kedua laki-laki itu Akhh-... selalu saja sibuk dengan urusan kantor" Sooyoung berdecak, ia kemudian berujar dengan suara yang dilirihkan "Kudengar kau tidak mendapati kesempatan ini ya? Aku turut sedih mendengarnya, kau pasti kesepian karena teman-temanmu selangkah lebih dekat dengan impiannya. Tapi, aku akan menyemangatimu. Jangan patah semangat, Luhan! Hwaiting!"

Saat itulah Luhan tersenyum, mendapat semangat dari Bibi Sooyoung seperti mendapat suntikan energi tersendiri. Luhan mengangguk semangat, ia pasrah ketika dipeluk sayang oleh Sooyoung. Wanita ini sudah ia anggap seperti Ibunya, sampai pelukan keduanya terlepas ketika Sehun menginterupsi kegiatan mereka.

"Ibu, aku berangkat"

Mendengar itu Luhan meneguk ludah, ia memaksa hati kecilnya untuk melepaskan Sehun. Di depan ia menampilkan senyum cantiknya namun didalam hati ia tidak rela jika mereka berpisah. Ia menyaksikan bagaimana Sooyoung memberikan dukungan serta pelukan hangatnya kepada putra yang ia cintai. Hingga akhirnya Sehun menghampirinya, jarak mereka hanya tinggal sejengkal.

"Luhan, mari kita bertemu lagi disana"

Air matanya tidak mampu ditampung, ia menangis dalam diam. Didepannya Sehun mengerti akan perasaan Luhan, ia usap lelehan air mata tersebut dengan ibu jarinya. Sampai akhirnya Sehun mempertemukan bibir mereka, melumatnya pelan nan lembut hingga Luhan terbuai sesaat. Namun ia harus menerima jika itu hanya berlangsung singkat, kekasihnya harus segera pergi.

"Aku menunggumu"

Itulah ucapan terakhir Sehun yang terus berdengung dalam memorinya, ia tatap punggung lebar Sehun yang semakin menjauh. Luhan menunduk, meremas jari-jarinya yang tidak bersalah. Hingga ia merasakan sebuah usapan lembut pada punggungnya, ia menoleh dan disampingnya Bibi Sooyoung sedang tersenyum padanya.

"Aku awalnya terkejut kalian berciuman, tapi tidak apa-apa. Aku merasa senang, kau jangan sedih ya, Luhan. Telepon Bibi jika ingin berkeluh kesah"

Luhan tersentak pada awalnya, ia lupa ketika mereka berciuman masih ada Sooyoung disana. Namun ia dibuat lega ketika Sooyoung mengatakan tidak apa-apa, ada setitik pencerahan dalam hubungan mereka jika Sooyoung telah merestuinya.

"Terimakasih, Bibi" Luhan spontan memeluk Sooyoung dengan erat, dan wanita itu membalasnya dengan usapan sayang pada belakang rambutnya.

...

Esoknya, Luhan bingung harus bagaimana. Sejujurnya ia belum terbiasa dengan kondisi mendadak ini. Jika biasanya pagi-pagi sekali ia berebut kamar mandi atau sekedar sarapan dengan Chanyeol, namun kali ini ia tidak mendapati si tiang disekitarnya. Ia mengembuskan napas, seharusnya ia senang karena menguasai tempat ini sekarang, tapi tanpa kegaduhan dengan Chanyeol seperti biasanya, ia merasa ada sesuatu yang hilang.

Rasa kehilangannya bertambah ketika ia melangkah keluar dari asrama, biasanya Sehun akan menunggunya di depan kamar dan mereka berjalan bersama menuju kelas. Dan kali ini ia terpaksa berjalan sendiri sampai langkahnya terhenti tepat di bangkunya, biasanya ia melihat tingkah konyol 3 sekawan yang selalu membuat keributan dikelas. Dan sekrang mereka pergi, semuanya terasa sepi. Tidak ada Baekhyun dan Kyungsoo juga yang menyapanya sebelum ia masuk ke kelas sepeti sebelum-sebelumnya.

Luhan duduk dibangkunya dengan tenang, ia sedang menyusun jadwal latihan mandirinya untuk persiapan menghadapi audisi bulan depan, diselembar kertas kosong ia tulis kegiatan yang akan ia lakukan, lalu kemudian membagi jam nya. Ia tidak memberikan waktu istirahat untuk dirinya sendiri kecuali pada malam hari selama 8 jam, itupun hanya untuk tidur. Sedangkan untuk waktu pribadinya sepeti makan dan mandi, ia hanya membatasi maksimal 5 menit. Dan keseluruhan waktunya ia gunakan untuk latihan mandiri.

Ia mengambil napas dalam dan mengembuskannya, lalu menyemangati diri sendiri "Luhan, Jiayou!"

Sekarang tidak ada lagi kata malas, Luhan benar-benar serius untuk saat ini sampai waktu audisinya. Ia dengar dan perhatikan apa yang guru itu ajarkan, mencatatnya, dan mempelajari lagi setelahnya. Tidak hanya dikelas, ia akhir-akhir ini juga sering keluar terakhir dari ruang dance, akting, modeling, ataupun musik. Waktu istirahatnya juga sering tersita untuk berbagai macam latihan, tidak peduli para penggemarnya terus menguntit dirinya sepanjang hari, masa bodoh dengan mereka.

Dan Luhan pun menyadari, kenapa laki-laki misterius itu tidak nampak lagi dihadapannya?.

Luhan menggelengkan kepalanya, apa yang ia pikirkan tadi? Kenapa malah mencari laki-laki itu, ia malah bersyukur laki-laki itu lenyap dari hadapannya. Netranya melirik jam dan langsung berjengit menyadari waktu makan siangnya kurang 5 menit lagi. Persetan dengan fase pendinginan, ia langsung melesat ke kantin dan makan makanan yang tersisa.

"Luhan, mari bergabung bersama kami!" Sera berujar lantang, namun Luhan hanya memberikan gelengan

"Tidak, terimakasih. Nikmati makan siang kalian"

Luhan mengambil tempat duduk lain, mengabaikan gadis-gadis itu yang menatapnya heran. Ia makan dengan terburu-buru sampai tersedak, sontak hal tersebut membuat Sera dan teman-temannya khawatir, begitu juga dengan kumpulan si penguntit diujung sama. Namun Luhan langsung menenggak air putih, tidak sampai beberapa detik ia lanjutkan kembali acara makannya, dan kegiatan tersebut selesai dalam kurun waktu kurang dari 2 menit.

"Whoa... Daebak!" Yerin menatap Luhan takjub, mereka saja santai-santai meskipun waktu istirahat tinggal beberapa menit lagi.

"Apa Luhan sunbae sedang dikejar anjing, atau bagaimana? Kenapa terburu-buru sekali" Yujin juga memandangnya heran, tidak biasanya ia melihat Luhan seperti itu

"Aku kasihan dengannya, kenapa staff sialan itu memisahkan OTP kita, sih!" sedangakan Sera berdecak jengkel, namun ketiganya masih fokus menatap setiap pergerakan Luhan

Si objek utama mereka berlari untuk mengembalikan nampan, ia lalu kembali dan masih menyempatkan diri untuk menghampiri gadis-gadis tersebut, yang otomatis membuat ketiganya jadi kaget "Maaf, aku tidak bermaksud mengabaikan kalian, tapi aku punya kesibukan sendiri, sekarang. Jadi, selamat tinggal semuanya"

Sehabis mengucapkan itu, Luhan langsung kembali ke ruang ganti. Menyisakan ketiga gadis tersebut yang menatapnya tidak percaya, mereka dibuat bungkam dengan sikap aneh Luhan hari ini. Sebagai ketua geng, Han Sera. Ia mulai berdiskusi dengan kawanannya, selanjutnya mereka menemukan hipotesa awal jika Luhan ingin menyusul Sehun di YM Ent. dan mereka juga menyimpulkan jika Luhan mendadak terburu begitu karena jadwal latihan mandirinya yang padat. Sehingga mereka sebagai pendukung Luhan, Sera membuat suatu keputusan.

"Karena Sehun tidak ada, ayo kita gantikan tugas Sehun untuk menjaga Luhan! jangan sampai sasaeng busuk itu mengganggu 'rusa kita' latihan"

"Baik, ketua!" sahut keduanya serempak

.

.

.

Terhitung sudah setengah bulan ia menjalankan semua ini, rasanya Luhan ingin berhenti namun tekadnya terlanjur kuat. Dua hal yang membuatnya harus berhasil dalam audisi itu: pertama, janjinya kepada sang Mama, dan kedua adalah Sehun. Laki-laki itu yang membuat semangatnya terus ada, terkadang Sehun juga menelponnya ditengah malam, bercerita tentang hari-harinya yang begitu sulit menjadi trainee. Gemblengan pelatih YM Ent. lebih keras daripada guru killer disekolahnya dan hal tersebut awalnya membuat Luhan bergidik, namun ia juga menyadari bahwa YM Ent. sukses menjadi agensi ternama di Korea, mungkin karena cara pelatihan mereka yang keras pada trainee-trainee nya.

Luhan melirik jam, seharusnya ia kembali ke asrama. Namun kakinya melemas usai latihan dance 4 jam nonstop. Jangankan itu, bahkan Luhan hampir kehilangan suaranya karena terus dipaksa menyanyi. Apalagi ia terus mempelajari acapella dengan nada-nada tinggi yang membuat kedua rahangnya kebas. Sejujurnya ia lelah, ingin sekali beristirahat barang sehari. Namun kesempatan terakhir yang ia miliki lebih berarti daripada yang lain, biar ia sakit tapi pantas menjadi seorang trainee di agensi ternama.

Kembali ia tatap ponselnya, sesekali ia ingin curhat lagi dengan Lao Gao. Tapi ia berpikir kembali bahwa itu tidak ada gunanya, Luhan mengembuskan napas. Ia mulai beranjak keluar dari ruang dance menuju asramanya. Dan ditengah jalan, ketika ia melewati mading. Ia melihat sebuah brosur yang terpajang rapi disana, sebuah audisi yang diselenggarakan oleh pihak YM Ent. Luhan lantas tersenyum dan ia berdo'a bahwa ia akan jadi salah satu yang terpilih dari sekian ribu pendaftar nantinya.

"Sehunna, tidak lama lagi aku akan menyusulmu disana" gumamnya menyemangati diri sendiri

...

Lagit terlihat muram sore ini, sang surya enggan menampakkan dirinya. Guyuran air yang deras dari atas langit gelap mengakibatkan sekitar kawasan Seoul basah total. Hawa dingin bertambah menjadi dua kali lipatnya. Situasi seperti ini membuat orang-orang mengeratkan selimutnya sambil menyesap coklat panas. Namun lain halnya dengan mereka yang sedang dilatih disebuah gedung agensi, biarpun udara semakin mendingin mereka tidak dapat merasakannya, seluruh tubuhnya memanas dengan keringat yang bercucuran.

Sehun mengatur napasnya sehabis bergerak aktif 2 jam penuh, ia memandang ke jendela untuk melihat sekitar gedungnya yang diguyur hujan. Dia sangat lelah, baik fisik maupun mental. Entah mengapa ia sering melakukan kesalahan akhir-akhir ini, pelatihnya itu sampai dibuat jengah. Padahal ia sudah merasa melakukannya dengan benar. Ia hanya mampu diam jika si pelatih menegurnya kala itu. Dan biasanya Yewon Noona datang untuk menengahi mereka.

Ia segera tersadar ketika seseorang duduk disampingnya, itu Yewon Noona. Orang yang habis ia pikirkan tadi "Kau lelah? Ayolah, jangan patah semangat!"

Yewon mengangkat satu kepalan tangannya sambil tersenyum, wanita itu sangat baik dan perhatian padanya. Berulangkali ia diberi sebotol minuman isotonik atau sekedar makan siang bersama. Seharusnya Sehun merasa tidak pantas, namun wanita itu memaksanya karena beralasan ia kesepian. Ya, kesepian karena terhalang jarak oleh kekasihnya, Luhan.

"Terimakasih, Noona" Sehun menjawab sekenananya

"Apa kau masih sering dimarahi oleh pelatih Kim?" Yewon memandang kasihan kearahnya

"Hmm... tidak, aku mungkin sering tidak fokus sampai melakukan kesalahan yang tidak kusengaja" jawabnya sambil menunduk, ia lelah ditatap begitu oleh Yewon karena ia mendengar beberapa trainee lainnya memandangnya sirik.

"Sebenarnya apa yang membuatmu tidak fokus, Huh..?" cetus Yewon kemudian, dia menyilangkan tangannya di dada

"Euhmm... itu, aku merindukan seseorang"

Yewon berdecih kemudian, ia tersenyum kecut. Tidak menyangka calon artisnya ini bisa-bisanya merindukan seseorang sedangkan dirinya berjuang ekstra untuk menjadi 'bintang panggung' namun Yewon hanya mengusap punggung remaja itu sambil memberikan kalimat penenang "Aku tahu ini memang sulit, tapi kau harus bisa melewatinya. Hanya fokus kejar targetmu saat ini, itu saja"

Sehun teringat sesuatu, ia ingin sekali mengutarakannya pada Yewon. Tapi ia rasa hal ini tidak pantas, namun ia terlanjur berjanji. Sehun menghela napas yang akhirnya akan mengatakan itu "Yewon Noona, audisi akan dilaksanakan lusa, kan?"

"Ya, kenapa?" Yewon menyahut

"Sahabatku akan mengikuti audisi ini, namanya Xi Luhan. Dapatkah Yewon Noona meloloskannya?"

Setelah mengucapkan itu, Sehun merasa gugup. Yewon tidak merespon apa-apa yang membuat Sehun jadi tidak enak hati. Namun ia berjengit kala Yewon mengatakan sesuatu "Astaga, jarang sekali aku menemukan seorang trainee yang begitu peduli pada sahabatnya. Sepenting apakah dia?, Soal lolos dan tidak, itu tergantung tim penilai. Kau ingat kata pelatih Kim 'hanya dia yang menawan, berbakat, dan bersuara emas yang dapat bergabung disini'."

Sehun memejamkan matanya sesaat, ia pasrah. Bisa lolos menjadi seorang trainee memang tidak mudah. Apa yang Yewon Noona katakan memang benar, ia seharusnya tidak meminta hal itu. Tapi hatinya jadi tidak puas, Yewon tidak dapat memberikan kepastian, sedangkan ia begitu berharap Luhan dapat bergabung bersamanya disini.

"Semoga Tuhan masih mengijinkan kita bersama" do'a nya dalam hati

...

Sudah keberapa kalinya ia menarik napas lalu mengembuskannya, jantungnya bertalu cepat, ia merasakan kegugupan luar biasa hingga sekujur telapak tangannya mendingin. Dalam hatinya ia yakin mampu melewati hari ini, yaitu hari istimewa yang mana ia akan mengikuti sebuah audisi di agensi paling ternama di Korea. Sudah lama sekali ia menantikan hari ini tiba, walaupun dilanda rasa lelah dan kurang istirahat beberapa minggu yang lalu hanya untuk persiapan audisi ini.

Ditangannya sudah ada beberapa lembar dokumen yang nantinya akan diminta, Luhan bahkan sudah mempersiapkan ini jauh-jauh hari. Ia sedikit berjinjit untuk melihat antrian didepan sana, pesertanya bisa dipastikan mencapai ribuan, dan untung saja Luhan datang pagi-pagi sekali. Namun ternyata sudah banyak yang berkumpul disana mulai dari fajar. Ia harus menerima jika ia berada diurutan 110, dan bisa dipastikan ia akan menunggu sampai siang bahkan sore.

Satu pesan masuk diterima ponselnya, dan Luhan lekas membaca.

From: Sehunnie

'Jika kau sudah selesai, temui aku di cafe depan agensi. Aku menunggumu ^^'

Luhan menarik sudut bibirnya ketika membaca pesan tersebut. Sehun menunggunya disana, satu bulan tidak bertemu membuatnya rindu bukan main. Bagaimana keadaan kekasihnya? Apakah dia menikmati harinya disini tanpa dirinya. ia simpan pertanyaan itu nanti ketika ia selesai, dan Luhan mengetikkan "Ya! Do'a kan aku lancar, Sehunnie :* " kemudian ia tekan send.

Keduanya asik berbalas pesan sampai berlanjut, hingga Luhan menyadari gilirannya telah tiba. Ia meminta Sehun untuk berhenti dan lekas menonaktifkan ponselnya. Dengan keyakinan penuh, ia memasuki ruang tersebut. disana terdapat 3 tim penilai, termasuk Manager Yewon disana.

Cepat-cepat ia serahkan dokumen yang diminta, dan ketiga orang dihadapannya membaca tulisan tersebut sekilas. Luhan terus menatap mereka sampai salah seorang memintanya untuk bernyanyi. Luhan mulai menyanyi, seperti biasanya dengan memperhatikan tinggi rendah nada yang benar. Tim penilai memperhatikannya dalam diam sambil sesekali membaca dokumen yang ia bawa.

Hal itu berlanjut hingga tahap akhir, ia diminta untuk menari. Dan Luhan melakukannya, sedang orang dihadapannya tetap memperhatikan setiap gerakan yang ia ciptakan. Sebenanrnya Yewon-lah yang menatap remaja itu intens, ia teringat kata-kata Sehun waktu itu. Lalu dia bergumam "Jadi dia yang bernama Luhan? awalnya ku kira mereka bersaudara. Tapi disini tertulis ia berasal dari China, cukup menarik!"

"Suaranya cukup lembut, terdengar menenangkan ditelinga. Dia berwajah manis meskipun laki-laki. Sangat lugu dan polos, tubuhnya yang mungil membuatnya lincah dalam bergerak. Akan sangat cocok jika dipasangkan dengan Sehun kelak" batin Yewon

Diam-diam Yewon mengulum senyum, ia akan mempersatukan dua anak ini.

Musik mulai berhenti, dan Yewon yang memberikan tepukan tangan pertama untuk Luhan. Anak itu kemudian membungkuk hormat pada mereka bertiga.

"Terimakasih" ujarnya dengan formal

"Kau sudah bekerja keras. Kami akan mendiskusikan apakah kau layak diterima disini atau tidak. Hanya tunggu saja, apabila kau gagal jangan patah semangat. Kesempatan akan selalu ada" Yewon menyuarakan nasehatnya

"Ya, saya permisi"

Hatinya sungguh lega saat ini. Seluruh bebannya selama satu bulan belakangan kandas sudah, dia dapat menghirup udara dengan tenang. Walaupun dia masih digantung karena tidak tahu apakah dirinya lolos atau tidak, tapi yang pasti ia sudah menunjukkan yang terbaik tadi.

Luhan melangkahkan kakinya lebar-lebar ke sebuah cafe yang Sehun maksud, ia menoleh ke bangku belakang paling pojok. Punggung lebar kekasihnya nampak begitu jelas dimatanya, ia ingin segera menghampirinya namun ia memiliki rencana, dengan langkah pelan ia dekati Sehun dan Hup..! ia berhasil menutup kedua mata kekasihnya dari belakang.

"Coba tebak siapa?" suara Luhan mendayu manja ditelinga Sehun

Yang matanya tertutup itu sontak tersenyum, ia menggenggam tangan Luhan yang menutupi kedua matanya, kemudian menarik tanpa melepas genggaman tangan mereka. "Lama tidak bertemu, kau merindukanku?" sapanya untuk pertama kali.

Saat itu juga ia merasa tubuhnya diterjang, untung saja dibelakangnya ada meja hingga ia tidak jadi jatuh karena dorongan kuat Luhan. Si mungil terisak pelan, ia memeluk punggungnya dengan erat "Tentu saja, apa kau betah tinggal disini tanpaku? Apakah kau tidur dengan baik? Apa mereka berlaku baik padamu? Bagaimana keadaan Chanbaek dan Kaisoo? Mereka bahagia?" tanya Luhan bertubi

Sehun melepaskan pelukannya, ia mengambil kesempatan dengan mengecup singkat bibir Luhan "Duduklah, lalu kau boleh bertanya sampai puas"

Luhan duduk tepat didepan Sehun, kekasihnya itu memesan dua buah cup bubble tea. Setelahnya ia atensikan seluruh perhatiannya pada Luhan. "Bagaimana audisinya? Lancar?"

"Ya, aku tidak merasa gugup sedikitpun" matanya membentuk eye smile

"Bagus" Sehun mengasak rambut Luhan

Seorang pelayan datang dengan membawa dua buah cup bubble tea, pelayan itu menunduk maaf kemudian sambil berujar "Maaf. Choco bubble tea hanya tinggal satu. Saya akhirnya mengambil acak. Yang ini rasa taro. Semoga anda menyukainya"

"Tidak apa-apa, biar ini untukku" sahut Luhan yang membuat pelayan itu lega

"Terimakasih untuk traktirannya, Sehun" Luhan mengucapkan itu sebelum menyedot bubble tea nya. selang beberapa menit menikmati minuman tersebut, ia akhirnya bergumam "Ini enak, lainkali ayo kita mampir kesini lagi"

"Apapun untukmu" Sehun menyahut, hatinya menghangat bisa melihat Luhan duduk kembali dihadapannya sambil menyeruput minuman

Ia ingin mengutarakan sesuatu, namun hal tersebut tertahan karena ia melihat jam yang menunjukkan waktu istirahatnya sudah habis. Sial, Sehun masih ingin berlama-lama dengan Luhan. bahkan kurang dari 1 jam pertemuan mereka, namun Sehun harus meninggalkan Luhan. Karena jika sampai ia terlambat, pelatih Kim akan menegurnya kembali yang ujungnya malah membuat Yewon Noona berdebat dengan laki-laki itu.

"Luhan sayang, maafkan aku. Waktu istirahatku sudah habis. Aku harus segera kembali"

Luhan meneguk ludahnya kasar, tiba-tiba ia merasakan denyutan sakit dihatinya. Mereka masih sebentar dan Sehun akan meninggalkannya lagi, walaupun tidak rela namun mulut manisnya mengatakan sebaliknya.

"Kembalilah Sehun. Terimakasih atas waktunya, Saranghae" Luhan membuat tanda love sign dengan wink mautnya

Sehun memaksakan senyum, ia hampiri Luhan hingga tangannya menggapai pinggang si mungil. Menyatukan kedua bibirnya sekilas, dengan mata terpejam. Sangat menikmati walau hanya beberapa detik.

"Aku juga mencintaimu, selamat tinggal"

Luhan mengembuskan napas, semakin lama punggung lebar Sehun semakin menjauh dari tempatnya berdiri. Ia gerakan telunjuknya untuk mengusap sisian bibir, bekas ciuman Sehun masih terasa jelas, dan Luhan akan mengenangnya.

...

Kedua kakinya berjalan mondar-mandir tanpa henti, terus-menerus ia melihat letak jarum jam berada. Ia gesekkan kedua tangannya sehingga menimbulkan sensasi hangat, hari ini terasa menegangkan sehingga tangannya terus berkeringat. Didepannya sudah ada laptop yang siap menampilkan notif email dari YM Ent.

Kurang semenit lagi, Luhan akhirnya duduk didepan laptopnya. Ia menyatukan kedua tangan sambil memejam, merapalkan do'a pada sang Kuasa semoga ia lolos audisi kali ini. Ia embuskan napas, dengan gemetar telunjuknya menghidupkan laptop tersebut. Sambil menunggu ia terus melafalkan do'a dalam hatinya.

"Tuhan, jangan buat aku gagal audisi kali ini. Amen"

Ia memeriksa beberapa pesan yang masuk, tidak ada satupun dari YM Ent. Lagi-lagi ia hembuskan napas. Sekitar 15 menit kemudian, ia menerima sebuah email dari YM Ent. seketika Luhan bersiap, jantungnya bertalu cepat lagi. Ia menarik napas kemudian mengembuskannya. Dilanjut dengan mengarahkan kursor untuk membuka pesan tersebut.

Nama: Xi Luhan

Tanggal lahir: 20 April 1990

Asal sekolah: Seoul Academy Music School

Kewarganegaraan: China

Selamat, anda dinyatakan lolos dalam audisi YM Ent. keterangan lebih lanjut...

"Whoaaaa!"

Luhan selebrasi, dia diterima! Astaga, benarkah itu? Ia baca lagi pesan tersebut dan benar, ia diterima. Sungguh ia tidak menyangka usahanya selama sebulan penuh akhirnya terbayarkan. Mama, Lao Gao, Sehun, dan juga teman-temannya akan bahagia mendengar kabar ini. Buru-buru ia ambil ponselnya dan berniat memberitahukannya pada sang Mama.

"Mama, aku lolos audisi huweee..." ujarnya menggebu

"Benarkah? Hebat, anak Mama" disana Mama Luhan juga memekik heboh, ia terlalu bahagia mendengar kabar tersebut

Dan inilah yang Luhan harapkan, menapakkan kaki di gedung agensi YM Ent. adalah impiannya. Sebentar lagi ia akan bertemu Sehun dan teman-temannya, berjuang bersama, hingga mereka debut dan sukses menjadi artis. Ia dongakkan kepalanya, melirik setiap sisi ruang yang ia lewati hingga ia berhenti tepat disebuah pintu. Orang-orang didalam telah menanti mereka (Yang lolos audisi) semua.

Mereka –termasuk Luhan juga, membungkuk hormat pada seluruh orang yang berada didalam. Mereka adalah pelatih sekaligus trainee yang berhasil lolos dalam amplop keberuntungan sebelumnya. Disana, Sehun terfokus menatap Luhan, saat ini ia sulit untuk tidak tersenyum. Rasanya ia ingin menghampiri Luhan lalu mendekapnya erat, membisikkan kata selamat untuknya.

"Mereka telah berhasil lolos audisi, dan berhak menjadi trainee sama seperti kalian. Mari berjuang lebih giat lagi, karena saingan kalian semakin banyak. Semangat semuanya!" ucap pria itu, yang tadinya mengantar mereka ke ruangan ini

"Kalian semua duduk! Mulai perkenalkan diri kalian satu-persatu" titah pria tersebut

Matanya menemukan Sehun disana, otomatis bibirnya tersenyum cantik. Hati Luhan terasa menggebu, ia bahagia bukan main. Kini ia dan Sehun tidak akan terpisah jarak lagi. Menyudahi acara tatapan mereka, Luhan menoleh kesamping. Sebentar lagi adalah gilirannya. Saat gadis itu selesai perkenalan, ia mulai berdiri ditengah dan memperkenalkan dirinya.

"Halo semuanya, namaku Xi Luhan. aku berasal dari China, kemampuanku adalah menyanyi. Senang bertemu dengan kalian semua"

Trainee lain yang melihatnya memberi tepukan tangan, beberapa dari mereka berbisik-bisik 'kenapa gadis itu memakai setelan pria?' dan mereka tidak tahu jika yang dibicarakan memang seorang pria.

Luhan duduk kembali dengan tenang, pandangannya kedepan menatap seorang laki-laki tinggi berambut pirang yang akan memperkenalkan dirinya. ketika laki-laki itu berbalik, Luhan sungguh dibuat tercekat

DEG

"Bukankah dia..." Luhan melotot tidak percaya sampai bibirnya membungkam

'Jika aku melepas masker ku, kau mungkin akan mengingatku, Luhan'

'Mungkin setelah ini, kita akan membuat kesalahan kedua yang lebih besar'

Sebuah ingatan yang tidak ingin Luhan ingat selamanya, bayangan buruk tersebut selalu menghantuinya. Ia bersyukur ketika laki-laki itu lenyap dari hadapannya sebulan ini. Dan ia tidak menduga bahwa laki-laki tersebut mampu menyusulnya sampai kesini.

"Perkenalkan namaku Wu Yifan, biasa dipanggil Kris. Aku berasal dari China tapi aku pernah tinggal di Kanada. Of course, I'm good in english. Kemampuanku yang paling menonjol adalah rapp"

'Astaga, dia tampan sekali!'

'Kyaaa aku akan mencoba mendekatinya'

'Kurasa dia berpeluang besar untuk di debutkan'

Beberapa trainee wanita memekik heboh saat Kris memperkenalkan dirinya. Tentu hal tersebut tidak berpengaruh pada Luhan, justru ia malah mematung dengan meneguk liur kasar.

'Jadi namanya Kris?' gumam Luhan, ia baru tahu jika nama laki-laki yang menghantuinya selama ini adalah Wu Yifan atau Kris.

Kris melirik Luhan, seringai setannya langsung muncul. Bisa dipastikan si Rusa itu terperangah sekarang. Dia pikir ia mudah dikalahkan? Tidak! Untuk lolos dalam audisi ini adalah hal yang mudah baginya. Ia menoleh kearah lain, Sehun terlihat biasa saja. Kris tertawa dalam hati, pasti Luhan tidak berani menceritakan tentangnya kepada Sehun. Berbanding terbalik dengan Luhan yang ketakutan sekarang. Pria bodoh itu tidak akan menyadari jika lawannya untuk memperebutkan Luhan sudah dekat.

"Permainan akan segera dimulai, Oh Sehun. Bersiap-siap lah..."

Kris kembali ke tempatnya, ia sengaja memilih duduk tepat disamping Luhan yang kebetulan kosong. "Hai cantik, kau terkejut? Senang bisa bertemu denganmu lagi, dan ohh... kita berada di agensi yang sama"

"Sialan kau Kris!" umpat Luhan, tanpa sedikitpun menoleh ke sampingnya

"Akhirnya kau menyebut namaku, sayang" Seringai Kris semakin lebar

TBC


Kalo aku update pas gini itu artinya ff ini ga akan hiatus meskipun puasa, dan scene NC bisa saja muncul kapan saja. Maaf updatenya ngaret. Dan ff ini angsung up tanpa di cek lagi. maaf jika ada typo. fyi ini tinggal beberapa chap lagi sebelum END. Pantengin terus ya ^^