Author notes:
Akhirnya bisa update.
Terimakasih pada: Hwarang Kurasaki, Riztichimaru, haniya Kuchiki, Avia chibi chan, Ararancha, Aya-na-rifai, Ruki Yagami, Yuu Ika, Zangetsuichigo13, So Chand LP, Yuki Ssme, Magical snow nazuna, Sarsawaray20, Jee Ya Zettyra, The 1st, Rukia Rizkamala, Zheone Quin,Bl3achto4ro dan readers2 lain...
Aku ga sangka warna mata bisa bikin penasaran wkwkwkwkwkkk...
...
...
...
IN A VERGE OF A LOVE
Pairing: Ichiruki or byakuruki ..let time decides
Disclaimer: Tite Kubo , the one and only.
Chapter 14
What is coming back?
Yokohama.
Panas matahari yang sudah mulai tinggi menghangatkan wajah Ichigo yang sedang tertidur pulas. Ia tersentak bangun oleh panasnya. Dikerjapkannya mata coklatnya berkali-kali, otaknya mencoba mereka-reka di mana dirinya sekarang. Ia tidak tidur di ranjang kamarnya, tapi di atas sebuah futon. Dipandanginya sekeliling kamarnya, hanya sebuah kamar sederhana dan itu bukan kamarnya.
Ia ingat.
Ia sedang berada di rumah yang ia sewa dengan Rukia di Yokohama.
Ichigo tersenyum. Rukia. Ia berada satu rumah dengan Rukia-nya dan ini bukan di Soul Society.
Diliriknya jam tangannya dan begitu melihatnya, ia setengah melompat dari tempat tidur. Ia ada jadwal tes masuk universitas Yokohama dalam waktu yang kurang dari 30 menit lagi! Cepat-cepat ia masuk kamar mandi dan membersihkan diri.
Tak sampai sepuluh menit Ichigo sudah siap dengan kemeja biru lengan pendek dan celana jeansnya. Ia ingin terlihat rapi, terlihat dewasa dan terlihat pantas sebagai mahasiswa. Walaupun dia tidak yakin akan ada wawancara, akan tetapi tidak ada salahnya jika ia mempersiapkan diri secara penampilan.
Tampan juga diriku, Ichigo membatin. Ia tersenyum di depan cermin.
Rukia pasti tidak menyangka aku bisa setampan ini, pikirnya lagi.
Tiba-tiba ia tersadar. Ia belum melihat Rukia.
Ia mengetuk pintu kamar di sebelahnya. Satu kali, dua kali, tiga kali, namun tidak ada jawaban.
Didorongnya pintu geser kamar itu dan agak heran mendapati kamar itu lengang. Rukia tidak ada di sana.
"Rukia? Rukia?"
Ichigo celingukan ke sekeliling rumah. Dapur tidak ada. Ruang tamu tidak ada. Di mana ya Rukia, tanya Ichigo dalam hatinya. Apa ia keluar rumah?
Ichigo melirik jamnya dan tersentak. Jam 9 kurang 15 menit! Tanpa pikir panjang ia segera berlari ke luar rumah menuju universitas Yokohama yang letaknya tidak tdak terlalu jauh.
...
...
...
Suatu tempat di Soul Society. Waktu yang sama.
Rukia terbangun perlahan dari lelapnya tidur yang membuai. Tubuhnya terasa lemas, tapi di sisi lain juga terasa relax. Ini pasti efek dari kelelahan yang ia rasakan setelah seharian melakukan perjalanan dari Karakura ke Yokohama dan berbenah rumah barunya dengan Ichigo.
Rukia membelalakkan matanya. Rumah barunya dengan Ichigo?
Kamarnya ini agak besar dengan dinding berwarna pualam dan beberapa perabotan yang kelihatannya bukan perabotan murahan seperti rumah yang disewanya dengan Ichigo di Yokohama.
Yokohama? Itu di dunia kan?
Rukia tersentak dan terlonjak dari futonnya yang tebal.
Ini bukan Yokohama!
Energi spiritual yang besar.
Aroma yang ia kenal.
Ini Soul Society, bukan Yokohama!
Pantas saja badannya merasa sangat relax.
Rukia segera berdiri. Ia sedikit kaget melihat yukata yang dikenakannya, bukan baju yang terakhir ia kenakan saat ia akan tidur. Ini bukan gigainya, ini jiwanya. Siapa yang membawanya kemari? Apa Ichigo yang membawanya kemari?
Rukia keluar dari kamar itu melalui pintu samping. Pintu itu membawanya ke beranda yang berhadapan langsung dengan sebuah taman kecil di luar rumah. Bunga krisan aneka warna sedang berkembang dengan indahnya. Kuning, ungu, putih dan merah muda bercampur baur menciptakan keindahan tersendiri buat mata yang melihatnya.
"Sudah bangun, Rukia?"
Sebuah suara yang dikenal Rukia menyadarkannya dari aktifitas mengagumi bunga krisannya.
Ia berbalik dan mendapati seorang pria tegap dengan rambut merah tergerai panjang menyunggingkan senyuman lebar seraya merentangkan tangannya—pemuda itu memeluknya.
"Renji?"
Renji melepaskan pelukannya dan tertawa lebar.
"Tempat apa ini?"tanya Rukia penasaran.
Renji melihat sekelilingnya dengan tatapan bangga,"Ini rumahku, Rukia."
Rukia terpana,"Rumahmu? Aku tak tahu kau punya rumah."
Renji memandang Rukia dengan mata coklatnya. Mata itu terkadang berkilat merah. Kilat yang muncul setiap ia berusaha bersikap serius.
"Ini rumahku. Rumah yang aku beli dari kerja kerasku menabung gajiku sebagai fukutaicho. Yah bukan di Seireitei sih, ini di sisi utara . Aku kemari hanya kalau ingin beristirahat saja, selebihnya aku tinggal di rumah dinas fukutaicho divisi 6," Renji menatap rumahnya dengan bangga,"Aku laki-laki. Aku harus punya rumah sendiri. Kelak aku ingin menikah dan punya anak toh. Aku harus punya rumah untuk hidup bersama mereka."
Rukia tersenyum. Renji sahabatnya sedari kecil. Siapa sangka pemuda cuek dan temperamental itu punya pemikiran jauh ke depan.
"Aku tidak tahu kau berniat menikah,"canda Rukia,"Kupikir kau cuma tertarik pada pertarungan. Ternyata bisa juga kau menyukai wanita."
Renji mencibirkan bibirnya.
Rukia menatap wajah Renji lekat-lekat. Rambut merahnya yang tergerai, tidak pernah ia lihat sebelumnya. Rambut itu membingkai wajahnya dengan sempurna. Ia terlihat berbeda.
"Aku tidak pernah melihatmu menggerai rambut. Ternyata kau tidak jelek,"kata Rukia.
Wajah Renji sumringah,"Hehehehehe...akhirnya kau mengakui juga kalau aku tampan."
"Aku bilang kau tidak jelek, bukan tampan."
"Sama saja."
"Tidak sama, Renji."
"Sama, Rukia. Cuma beda istilah."
Rukia menggeleng-gelengkan kepalanya—malas berdebat.
Tiba-tiba ia tersadar akan ketidakhadiran seseorang. Di sini hanya ada ia dan Renji. Di mana Ichigo?
"Renji, kenapa aku bisa ada di sini. Di mana Ichigo?"
Wajah Renji mendadak tegang. Ia tahu cepat atau lambat Rukia akan bertanya. Bagaimanapun juga tadinya Rukia memang sedang bersama Ichigo kan?
"Kurosaki ada di dunia. Tidak di sini."
Rukia tersentak kaget. Wajahnya memucat. Kalau Ichigo ada di dunia, kenapa ada di sini? Bukankah mereka tadinya masih di Yokohama?
"Apa maksudmu? Kenapa aku di sini?"
Renji menelan ludah. Kerongkongannya terasa kering. Mata violet Rukia menatapnya tajam—menuntut penjelasan.
"Aku membawamu kemari. Kurosaki ada di rumah di mana aku menjemputmu,"jawabnya parau.
"Kenapa kau lakukan itu? Nii-sama yang menyuruhmu? Kenapa bisa kau temukan kami? Ya Tuhan, Ichigo pasti khawatir!"suara Rukia terdengar mulai cemas.
Ditatapnya Renji sangat—sangat tajam.
"Jelaskan padaku, Abarai Renji."
Renji menggigit bibir bawahnya—kebiasaannya kalau sedang bingung. Ia melirik Rukia lagi dan langsung tahu gadis di hadapannya sedang cemas, marah dan kesal.
"Iya...iya...aku jelaskan. Kuchiki taicho tidak menyuruhku. Aku yang sengaja mencarimu ke dunia. Tadinya aku ke Karakura dan pergi ke rumah Kurosaki, tapi nihil. Aku mencoba menyisir Karakura, tapi sama sekali tidak menemukan jejak reiatsu kalian. Aku sudah mengira pasti Urahara ada di belakang kalian. Lalu aku ke tempatnya. Yahh...sedikit kepintaranku dibantu sake, bisa membuka mulutnya dan membuatku bisa melihat keberadaan kalian di mesin detektor reiatsu miliknya. Aku ke Yokohama dan kulihat kalian berdua. Kau dan Kurosaki. Saat kalian tidur, aku bawa kau pulang kemari. Aku menjemputmu kembali ke Soul Society," Renji menjelaskan panjang lebar.
"Kau tidak menjemputku. Kau menculikku!"
"Tidak, aku membawamu pulang. Itu tidak menculik, Rukia."
"Saat aku tidak sadar..Renji! Itu namanya menculik."
"Kurosaki menculikmu. Aku tidak."
"Kau...!"Rukia mendengus dan membuang wajahnya dari tatapan Renji,"Paling tidak ia membawaku dalam keadaan sadar,"desisnya.
Keduanya terdiam.
Suasana hening untuk beberapa saat. Hanya terdengar suara nafas Renji yang berat dan suara nafas Rukia yang masih memburu karena emosi yang ia rasakan.
"Kenapa kau lakukan ini?"suara Rukia memecahkan keheningan itu.
Renji tak langsung menjawab. Ia menundukkan wajahnya. Sulit sekali mengatakan apa yang ada di hatinya. Sulit sekali. Lebih sulit daripada mencapai bankai pertamanya.
"Aku...aku...aku...sulit sekali mengatakannya, Rukia."
"Paksa dirimu."
Lagi-lagi Renji menarik nafas panjang. Membiarkan udara segar masuk ke dalam paru-parunya, mengalir salam tiap aliran darahnya dan memberikannya sedikit kekuatan untuk mengatakan apa yang ada di otaknya.
"Aku cemburu pada Ichigo,"tukasnya cepat dengan wajah kesal.
Rukia terpana. Tidak menyangka akan mendengar jawaban seperti itu dari mulut Renji. Ia sudah mempersiapkan diri mendengar jawaban yang menyangkut Byakuya—model jawaban apapun yang ada hubungannya dengan Byakuya. Akan tetapi tidak dengan jawaban seperti yang didengarnya barusan.
"Kau...cemburu... pada...Ichigo?"tanya Rukia terbata-bata.
Renji mendengus. Kesal.
"Ya."
"Tapi kenapa?"
"Bodoh, kau tanya kenapa? Kau tahu kan perasaanku padamu? Aku pernah meneriakkannya keras-keras padamu. Jangan bilang kau lupa."
Rukia masih ingat kejadiannya—saat ia akan menemui Matsumoto di Divisi 10, Renji mencegatnya dan mengatakan apa yang ia rasakan padanya. dengan gamblang. Untung saja ada Hitsugaya taicho saat itu, jadi ia bisa keluar dari situasi yang tidak mengenakkan itu.
"Aku ingat, tapi aku pikir kita sudah selesai. Kau tidak apa-apa aku menikah dengan Nii-sama kan?"
"Membiarkanmu menikah tidak sama dengan tidak apa-apa kau menikah, Rukia. Aku membiarkanmu menikah dengan Kuchiki taicho, tapi bukan berarti aku baik-baik saja. Aku tidak baik-baik saja!"
Rukia menggenggam kedua tangannya dengan erat. Ia geregetan. Ingin sekali meninju sahabatnya ini dan berteriak: Jangan tambah masalahku, Babon!
"Aku benci kepengecutanku tidak berani mengatakan perasaanku dari awal. Aku benci kenapa kau mau menikahi Kuchiki taicho. Aku benci statusku sebagai fukutaicho pria yang mencintaimu. Aku benci kenapa Kurosaki biang onar itu...lebih berani dariku merebutmu! Aku benci, aku benci...aku benci diriku,"seru Renji berapi-api.
Rukia tertunduk. Speechless. Renji adalah sahabatnya. Satu-satunya orang yang mengenal dia sejak masa-masa sulitnya di Rukongai. Masa-masa di mana sepotong roti sisa adalah makanan paling mahal dan mandi di sungai adalah hal yang paling menyenangkan. Tapi Renji adalah Renji, seorang sahabat baginya. Sangat penting dalam hidupnya, tapi tidak bisa menyeberangi batas antara cinta seorang sahabat dan cinta seorang perempuan kepada seorang laki-laki.
Rukia meraih kedua tangan Renji dan menggenggamnya dengan erat. Tangan mungilnya terasa tenggelam di dalam tangan besar Renji. Didekatkannya kedua tangan pemuda berambut merah ke wajahnya. Tangan itu hangat sekali. Rukia tersenyum perlahan.
"Renji, jangan benci dirimu. Itu perbuatan bodoh. Kau sahabatku, orang yang sangat aku sayangi. Tapi mengertilah...aku tidak pernah ingin kehilangan dirimu sebagai sahabat."
Renji memandangi Rukia. Mata coklatnya berkilat merah—khas dirinya jika ia sedang serius. Disentuhnya pipi Rukia dengan lembut.
"Rukia..."
"Jika kita terlibat cinta dan gagal...aku takut kita tidak akan pernah kembali sebagai sahabat. Itu yang paling kutakutkan. Aku ingin selamanya bebas menyayangimu sebagai sahabat."
Renji tersenyum lalu merengkuh Rukia ke dalam dekapan tubuh kekarnya. Ia menghirup aroma bunga semerbak dari tubuh Rukia. Aroma magis yang membiusnya—bukan cuma ia seorang, tapi juga Ichigo dan Byakuya. Mereka bahkan siap mengadu nyawa untuk mencium aroma itu seumur hidup mereka.
"Aku ini bodoh ya, Rukia?"
Rukia melepaskan pelukan dan mendongakkan kepalanya, menatap wajah Renji yang tinggi di atasnya.
"Heh?"
Renji menundukkan kepalanya menatap mata violet Rukia.
"Aku selalu mendapat tempat di hatimu yo Rukia..."
"Selalu Renji..."
"Aku tidak perlu berebut hatimu dengan Kurosaki dan Kuchiki taicho yo Rukia."
Rukia menggelengkan kepalanya.
Renji tertawa,"Janji kau selalu menyayangiku?"
"Pasti, Sahabatku...pasti."
"Maukah kau memaafkanku karena menculikmu?"
"Nah, akhirnya kau ngaku juga. Kau memang menculikku, Bodoh!"
Renji mengelus rambut hitam Rukia. Rambut gadis itu begitu halus—tidak panjang tapi indah. Rukia tersenyum manis sekali. Ia memang selalu menyayangi Renji.
"Boleh aku tanya sesuatu?"
"Silakan."
"Siapa yang kau cintai, Kuchiki taicho atau Kurosaki?"
Rukia melepaskan pelukan Renji. Senyumnya menghilang. Wajahnya mendadak serius—ia berpikir keras. Rukia tidak pernah membicarakan perasaannya terhadap kedua pria itu pada siapapun. Hanya pada Ichigo seorang ia mengatakan perasaannya.
"Kau mau mengetahuinya?"Rukia bertanya sambil mencoba meyakinkan dirinya sendiri akan memberitahu Renji atau tidak.
Renji mengangguk.
"Nii-sama adalah pria paling sempurna yang pernah kutemui. Tampan, terhormat, sopan dan kuat. Ichigo sebaliknya tidak begitu. Ia bersemangat, kadang-kadang kasar, menyebalkan, tidak romantis, emosional...mereka bagaikan langit dan bumi."
Rukia melemparkan pandangan ke arah bunga-bunga krisan yang bermekaran. Ia membayangkan wajah Ichigo dan Byakuya bergantian dalam benaknya. Yang satu begitu karismatik, sedangkan yang satunya penuh dengan aura petualangan. Keduanya menarik dengan cara mereka sendiri.
"Jika Nii-sama mencintaiku sebelum aku bertemu Ichigo, aku pasti akan jatuh cinta padanya. Benar-benar jatuh cinta padanya..."Rukia tertunduk,"Tapi hal itu tidak terjadi kan? Hatiku sudah terpaut dengannya sejak pertama kali aku memberikan kekuatan shinigamiku kepadanya. Mau aku lari kemanapun juga, aku tak kan bisa mengingkarinya. Kami disatukan oleh ikatan kuat yang tak terlihat."
Renji menyeringai. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal berkali-kali,"Beruntung sekali bocah pembuat onar itu. Aku memang sudah kalah langkah."
Rukia menepuk dahi Renji,"Hei...sudah kubilang kan kau punya tempat istimewa di hatiku? Kau, Ichigo dan Nii-sama punya tempat berbeda di dalam hatiku dan semuanya tetap spesial."
"Iya iya..."Tiba-tiba Renji terkesiap seakan ingat akan suatu hal,"Kalau begitu sebaiknya kau segera kembali pada si Jeruk! Berada di sini sama saja mengembalikanmu pada kakakmu. Aku yakin bukan itu yang kau mau kan?"
"Bagaimana kabar Nii-sama?"
"Terakhir kali kulihat, ia patah hati dan mabuk-mabukan."
"Ya Tuhan Nii-sama..."Rukia menunjukkan wajah khawatir.
"Diculik mempelai wanita saat pernikahan jelas bukan hal favoritnya, Rukia. Kuchiki selalu hidup dalam keteraturan dan rencana. Jelas ia terguncang, tapi ia pria dewasa. Ia harusnya mampu melalui ini semua. Well, it's all up to him."
Rukia tertunduk. Ia merasa bersalah untuk yang kesekian ratus kalinya dalam kurun waktu seminggu terakhir. Ia tidak pernah ingin menyakiti Byakuya. Ia menyayangi pria itu dan sudah siap mengorbankan cinta sejatinya. Akan tetapi cinta sejatinya yang tak sanggup mengorbankan dirinya. Ichigo adalah tipe yang selalu berkorban untuk kebahagiaan orang di sekitarnya, tapi entah mengapa kali ini ia tidak mau mengalah.
"Kau mau kembali sekarang, Rukia? Aku bisa mengembalikanmu lewat senkaimon, meski agak riskan. Setelah kaburnya Ichigo dan dirimu, senkaimon benar-benar diawasi. Hanya senkaimon jalur khusus taicho atau seperti yang dibuat orang sepintar Urahara saja yang sulit dilacak."
Rukia tidak menjawab. Ia malah duduk di atas teras dan memandangi bunga krisan aneka warna. Pikirannya masih melayang pada keadaan Byakuya. Ia sungguh tak tahan memikirkan keadaan buruk pria itu. Byakuya adalah orang yang selalu melindunginya, akan tetapi ia malah membuat hati pria itu kecewa.
"Bisa aku tinggal sebentar di rumahmu ini, Renji? Aku ingin menenangkan diri, setelah itu baru kau bisa kembalikan aku ke dunia,"pinta Rukia—tetap memandangi taman kecil Renji.
Renji hanya mengangguk, meski ia tahu Rukia tidak bisa melihat anggukannya. Ia mengambil tempat duduk di sebelah Rukia. Berada di samping gadis yang selalu ia kasihi ini—meski hanya sesaat—sangat berharga untuknya.
...
...
...
Karakura. Toko Urahara.
Ichigo menghambur masuk tanpa mengucapkan salam sepatah katapun. Ia masuk begitu saja. Hampir menendang pintu dengan kakinya jika saja pintu itu dikunci. Urahara, Yoruichi, Tessai, Ururu dan Jinta yang sedang menyantap makan malam terkaget-kaget melihat perilaku Ichigo yang jauh sekali dari sikap cool yang biasanya ia tunjukkan.
Ichigo terengah-engah. Nafasnya hampir putus. Menempuh jarak Yokohama-Karakura dengan kereta api selama beberapa jam plus lari hampir di setiap langkah yang ia buat jelas melelahkan. Akan tetapi, ia tidak sanggup membuang waktu terlalu lama. Ia terlalu takut hal yang ia takutkan terjadi.
"Kurosaki kun, apa yang terjadi? Kau bahkan tidak mengetuk pintu,"tegur Urahara dengan wajah keheranan.
Yoruichi mengangguk,"Seperti sedang dikejar anjing." Yoruichi yang bisa mengubah diri menjadi menjadi kucing tidak suka anjing dan dalam pemikirannya, kondisi Ichigo sekarang terlihat seperti orang yang habis dikejar makhluk yang menurutnya menakutkan itu.
"Di...ma..na...Ru..ki..a..?"tanya Ichigo terbata-bata. Ia masih berusaha mengatur nafasnya.
Ururu menyodorkan segelas air putih yang langsung disambar Ichigo. Ia meminum habis seluruh isi gelas dalam waktu beberapa detik. Dengan sigap, Ururu mengisi gelas itu dengan air yang kedua dan air itu pun habis dalam waktu beberapa detik saja.
Ichigo melayangkan pandangan berterimakasih pada Ururu.
"Di..mana...Rukia?"tanyanya lagi pada Urahara.
Urahara menghentikan aktivitas makannya. Ia menatap Ichigo dengan serius. Sangat serius.
"Rukia san hilang?"
Ichigo menganggukkan kepalanya berkali-kali,"Aku tadi pagi bangun kesiangan dan ia sudah tidak ada. Aku pikir ia mungkin sedang pergi keluar sebentar, mungkin menjelajah kota. Saat aku kembali dari kampus, ternyata ia tetap tidak ada. Firasatku benar-benar tidak enak. Aku tidak merasakan reiatsuniya sama sekali. Aku takut sekali, Urahara. Aku benar-benar khawatir. Aku yakin kau tahu ia di mana."
Urahara menyeringai. Anak ini datang ke tempat yang tepat. Ia tahu segalanya.
"Kau yakin kau mau melakukan ini LAGI?"
Ichigo mengangguk.
"Yakin mau kembali lagi ke Soul Society?"
Ichigo mengangguk. Apa ada jawaban lain?
"Kurasa kali ini tidak akan semudah sebelumnya, Kurosaki kun."
Ichigo mengangguk untuk yang kesekian kalinya.
"Apapun demi Rukia."
Urahara tersenyum,"Tidak takut dengan resikonya?"
Pertanyaan terakhir ini tidak dijawab Ichigo dengan anggukan. Ia menggeleng tanpa ragu.
"Jangan lupa Urahara...aku Kurosaki Ichigo."
Urahara tersenyum lebar. Ia sunguh-sungguh suka pemuda pemberani ini.
...
...
...
Soul Society. Kantor Divisi 6.
Kuchiki Byakuya duduk di kursinya. Di hadapannya terdapat beberapa tumpuk kertas kerja dan laporan yang menumpuk selama ia beristirahat. Ia sudah merasa jauh lebih baik sejak Renji mampir ke Kuchiki Mansion tempo hari. Ia harus bangkit dari keputusasaan. Terima kasih untuk Abarai Renji.
Sebuah ketukan halus terdengar di pintu ruangannya.
Sosok yang hadir di pintu sangat mengejutkannya, karena tidak pernah ia mengira sosok itu akan hadir di ruangannya.
Kurotsuchi Mayuri tersenyum lebar.
"Kuchiki taicho...apa kabar?" tanyanya dengan seringai aneh khasnya.
Byakuya langsung bangkit dari tempat duduknya. Terheran sesaat, tapi cepat menguasai diri.
"Mayuri taicho, angin apa yang membawa anda ke sini?"tanya Byakuya dingin.
"Kepedulianku pada dirimu, tentu saja,"jawabnya dengan nada sedikit mengejek. Ia melayangkan pandangannya ke sekeliling kantor Byakuya yang sangat rapi dengan perabotan yang berkelas. Dasar bangsawan, katanya dalam hati.
"Langsung saja. Ada apa?"
Mayuri tersenyum sinis. Memang tidak mudah menghadapi bangsawan dingin dan tinggi hati seperti Kuchiki Byakuya, ia membatin.
"Aku ingin membantumu."
"Apa aku minta bantuanmu?"
"Tidak sih, tapi kalau aku tidak membantumu, kau akan menyesal."
Byakuya mendengus. Ia memang tidak terlalu suka pada ilmuwan aneh ini.
"Aku tahu di mana Kuchiki Rukia."
Byakuya tertegun. Wajahnya yang tadi dingin langsung mencair mendengar nama itu disebut. Sikapnya yang tadi tegang langsung berubah.
"Rukia?"
Mayuri mengangguk,"Ya, aku tahu keberadaannya. Alatku berhasil mendeteksi keberadaannya."
"Tolong beritahu aku."
Mayuri menyeringai mendengar kata tolong keluar dari mulut bangsawan itu. Indahnya kata seperti itu keluar dari mulut Byakuya. Hal yang sangat jarang terjadi.
"Ia tidak jauh. Tidak sejauh yang kau pikir."
Byakuya mengangguk, siap mendengarkan penjelasan Mayuri.
Mayuri tersenyum penuh arti. Ia sungguh tak sabar menyaksikan drama lain yang akan terjadi di Soul Society. Menyaksikan pertarungan berdarah antara Kuchiki Byakuya dan Kurosaki Ichigo adalah bahan riset yang amat sangat menarik buat seorang Mayuri.
End of this chapter.
a
